DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Berita Mingguan 21 November 2009

Filed under: News — dedewijaya at 1:31 am on Saturday, November 21, 2009  Tagged ,

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

LEE STROBEL BERASOSIASI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG BERBAHAYA
Lee Strobel, penulis terkenal akan beberapa buku apologetika yang dipakai luas, termasuk The Case for Christ, adalah seorang “injili,” dan asosiasinya dengan penyesat-penyesat memberikan peringatan yang nyaring. Pada bulan Januari 2010 ia dijadwalkan untuk berbicara di konferensi Break Forth di Kanada bersama dengan William Paul Young, penulis dari buku The Shack, dan Leonard Sweet, seorang perenung New Age. Lighthouse Trails mengobservasi, “[Walaupun banyak orang mengagumi karya Strobel di masa lampau,] sama sekali tidak mengherankan bahwa dia ikut serta dalam acara Break Forth. Dia mendukung pelayanan anaknya yang bersifat sangat emerging/kontemplatif, yaitu Metamorpha, dia tampil berkali-kali di Crystal Cathedral milik Robert Schuller selama tahun-tahun ini, dan dia terus memiliki koneksi dengan Gereja Saddleback dan Willow Creek, jadi membedakan antara yang benar dan salah bukanlah sesuatu yang menjadi perhatian utama Strobel” (”Why Are Joel Rosenberg and Frank Peretti Appearing With New Age/New Spirituality Sympathizers, ” Lighthouse Trails, 9 Nov. 2009). Orang yang akan berbicara bersama dengan Strobel nanti, Paul Young, menggambarkan Allah sebagai seorang wanita dan mengklaim bahwa Dia tidak menghakimi dosa atau mengirim siapapun ke neraka. Leonard Sweet mempromosikan kerohanian New Age yang universal (semua orang selamat) yang dia sebut New Light dan “kesadaran Kristus.” Dia menggambarkan konsep ini dengan kata-kata “persatuan antara manusia dengan Allah” yang adalah “hal utama dalam semua agama dunia” (Quantum Spirituality, hal. 235). Dia mengatakan bahwa hal yang sama dialami oleh Mohammad, Musa, dan Krishna. Dia mempromosikan Matthew Fox, M. Scott Peck, dan Ken Wilber, orang-orang New Age yang percaya keilahian manusia. Sweet mengatakan bahwa kemanusiaan perlu belajar kebenaran kata-kata Thomas Merton, seorang imam Katolik-Budha, “kita memang sudah satu” (Quantum Spirituality, hal. 13). Alkitab memperingatkan kita bahwa adalah tidak mungkin bergandengan tangan dengan orang-orang seperti ini dalam sebuah pelayanan tanpa mengambil bagian dalam kejahatan mereka (2 Yoh. 8-11).

ATURAN! HUKUM!
Ketika sebuah tim senam SMA baru-baru ini gagal mempertahankan gelar mereka di pertandingan karena pelatih mereka melanggar aturan, respons terhadap kejadian itu menceritakan banyak sekali hal. Respons berkisar dari “ya kami mengerti dan menerima aturan” hingga “kami spesial dan tidak perlu diikat oleh aturan konyol seperti itu.” Pada akhir pekan tanggal 7-8 November, SMA Northwest dari kota Shawnee Mission, Kansas, mundur dari peringkat pertama menjadi peringkat ketiga setelah salah satu pelatih mereka secara tidak pantas mempertanyakan sebuah keputusan penilaian juri, dan protes yang tidak pantas itu mengakibatkan tim tersebut terkena penalti satu poin. Direktur bidang atletik sekolah tersebut, Richard Grinage, mengakui bahwa sang pelatih bertindak berlawanan dengan peraturan. Pelatih yang bersangkutan sendiri tidak menyesal, dan dia berkata, “Kami adalah tim yang paling kuat dan memiliki nilai tertinggi yaitu 103.9, dan gagl karena suatu peraturan yang tidak pernah dijalankan selama 30 tahun ini; kami akhirnya mendapat nilai 102.9 dan urutan tiga” (”Sometimes It’s Better to Just Keep Your Mouth Shut,” Homeschool.rivals. com, 11 Nov. 2009). Menjelaskan tentang tujuan dari peraturan tersebut, Becky Oakes dari Federasi Nasional Asosiasi Negara Bagian mengatakan bahwa “membiarkan seorang pelatih untuk selalu mempertanyakan seorang wasit bisa merusak alur acara bagi para atlit dan kompetisi ini.” Ini adalah hal yang wajar. Pertandingan harus memiliki peraturan. Hidup harus memiliki hukum. Dan jika hukum dilanggar sementara tidak ada penalti, maka hukum telah dihancurkan dan anarki berjaya. Inilah mengapa sang Allah Pencipta yang mahakudus menghukum pelanggaran terhadap HukumNya, dan ini berarti bahwa kita semua pantas menerima hukumanNya yang adil, karena kita semua orang berdosa. Tetapi dalam kasihNya yang besar Ia telah menyediakan jalan keselamatan bagi mereka yang bersandar pada AnakNya Yesus Kristus di kayu salib. Kasih Allah yang tak dapat terselami ini tidak dapat dimengerti di luar dari kemahakudusanNya yang tidak dapat ditawar. Injil tidak dapat dimengerti lepas dari Hukum.

KEBAKTIAN UNTUK BINATANG PELIHARAAN
Sebagian gereja di AS kini menyediakan kebaktian untuk binatang, dan percaya bahwa mereka memiliki jiwa. Gereja Covenant Presbyterian di Los Angeles belakangan ini memulai kebaktian untuk anjing, yaitu kebaktian sekitar 30 menit yang diperlengkapi dengan tempat tidur anjing, pembagian makanan anjing, himne tentang anjing, dan doa untuk anjing (baik yang masih hidup maupun sudah mati). Gembala Sidang Tom Eggebeen berharap bahwa hal ini akan “menghangatkan kembali koneksi gereja tersebut dengan komunitas, menyediakan penghiburan bagi mereka yang tua, dan mungkin menarik penyembah-penyembah baru yang gila tentang teman berkaki empat mereka” (”Gone to the Dogs,” AP, 8 Nov. 2009). Eggebeen mengatakan bahwa “ketika kita mencintai seekor anjing dan anjing mencintai kita, itu adalah bagian dari Allah.” Laura Hobgood-Oster, profesor agama di Universitas Southwestern, menemukan 500 gereja yang memiliki berkat khusus untuk binatang dan ada sekitar enam yang menyediakan kebaktian untuk binatang peliharaan. Ada satu di pinggiran kota Boston yang bernama Woof `n Worship. Salah satu yang menghadiri kebaktian anjingnya Eggebeen mengatakan, “Saya tidak punya anak, jadi binatang peliharaan saya adalah anak-anak saya.” Sebenarnya, walaupun binatang bisa menjadi suatu berkat, karena Allah menciptakan mereka bagi manusia, mereka bukanlah anak-anak dan mereka tidak punya jiwa yang kekal. Mereka tidak punya kesadaran akan Allah, dan ketika mereka mati, maka mereka mati.

BANYAK DI KALANGAN BAPTIS INDEPENDEN YANG BERKOMPROMI
Peringatan berikut ini diedit dari sebuah khotbah oleh Gembala Sidang Terry Coomer, pendiri dan direktur dari pelayanan For Love of the Family. “Sejujurnya, saya sangat kaget ketika saya berbicara dengan para pemimpin Kristen dan gembala-gembala. Baru-baru ini saya berbincang dengan seseorang tentang sebuah Sekolah Alkitab yang dia pimpin. Dia memberitahu saya bahwa dia mau mengubah banyak hal. Dia berbicara mengenai musik yang benar, standar pakaian yang benar, pendirian yang benar tentang Alkitab, semua hal-hal yang sangat terpuji. Namun demikian, para pemimpin dan guru-guru di Sekolah Alkitab ini dalam kehidupan pribadi mereka melakukan semua hal yang dia akui secara pribadi sebagai hal-hal yang salah. Saya mau bertanya kepada anda, bagaimana mungkin seseorang mempertahankan standar tentang pakaian kalau dia sendiri tidak memiliki standar itu? Bagaimana seseorang dapat berprinsip melawan musik Southern Gospel jika ia membiarkan musik itu di gerejanya dan mengizinkan orang-orang yang mempromosikan musik tersebut untuk berkhotbah? Bagaimana mungkin seseorang mengambil sikap mempertahankan Alkitab ketika ia percaya semua jenis teks itu baik? Jawabannya adalah dia tidak mungkin bisa, dan dia mengizinkan hal-hal ini dalam gerejanya karena hal-hal itu menarik bagi daging. Roma 6:12 mengatakan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. ” Kebangkitan rohani tidak mungkin terjadi di suatu gereja atau suatu bangsa selama kehidupan para pemimpinnya diatur oleh “keinginan daging.”…. Saudara, kebutuhan yang sebenarnya pada hari ini bukanlah program tambahan, tetapi kehidupan nyata Kristiani yang kudus. KITA MEMILIKI BANYAK SEKALI BANYAK SEKALI KOMPROMI HARI INI. Gereja kami berprinsip untuk melawan semua hal yang disebutkan di atas dan tidak akan berkompromi. Ini bukan berarti kami menjadi orang-orang tertentu sebagai musuh, namun ada hal-hal yang saya tidak dapat dan tidak boleh ikut serta dalamnya atau mengecilkannya dengan berkata bahwa itu hanyalah masalah beda pendapat. Jika seseorang memiliki keinginan yang nyatan untuk berubah dan ia meminta tolong, kami menolong mereka dan menyediakan informasi, tetapi anggapan bahwa saya harus membiarkan para tukang kompromi berkhotbah di gereja saya demi menolong mereka atau sebagai suatu gerakan politik dari pihak saya, itu adalah omong kosong. Banyak yang melakukan hal ini dengan alasan bahwa orang-orang yang mereka undang belum mengerti isu-isu tersebut. Namun tidak, sobat, mereka adalah orang-orang yang berkompromi, dan jika kamu mengundang mereka untuk berkhotbah atau berasosiasi dengan mereka dalam pelayanan, maka kamu ikut serta dalam gaya hidup mereka `dalam keinginan daging.’ Ini adalah kesalahan serius yang menghancurkan semangat rohani dalam gereja-gereja kita, dalam jemaat, sekolah Alkitab, dan anak-anak. Kita sedang mengajari mereka bahwa tidak masalah menghidupi keinginan daging dan kehidupan yang berkompromi. Ini adalah pelanggaran Firman Tuhan yang nyata dan memalukan dan adalah dosa ketidaktaatan yang disengaja. Kita perlu ingat bahwa suatu hari, mungkin hari ini, kita akan berdiri di hadapan Allah dan memberikan pertanggungan jawab atas cara kita menjalani hidup ini. Titus 2:11-12 berkata, ” Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.”

Injil yang Lain

Filed under: INJIL — dedewijaya at 1:25 am on Saturday, November 21, 2009

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia (Galatia 1:8)

Iblis memberitakan Injil? Ah masa sih. Mungkin itulah reaksi kebanyakan orang Kristen jika ditanya mengenai hal ini. Tetapi, rasul Paulus di abad pertama tidak menganggap remeh keikutsertaan Iblis dalam pemberitaan Injil – yang tentunya adalah untuk mengacaukannya.

Ketika orang-orang percaya di Galatia disusupi oleh pengajar-pengajar palsu yang isi beritanya bahwa keselamatan memerlukan sunatan, Paulus sangat marah dan sedih. Ia tahu bahwa berita keselamatan (Injil) adalah berita terpenting di bumi ini, dan adalah satu-satunya harapan bagi manusia berdosa. Memberitakan Injil yang menyimpang adalah bagaikan memberikan harapan dan pertolongan palsu. Oleh sebab itulah Paulus mengucapkan anathema yang keras terhadap barangsiapa yang mengabarkan “injil” yang lain, yang bukanlah Injil sejati.

Tetapi, yang menarik adalah, Paulus mengantisipasi adanya malaikat yang memberitakan Injil yang salah atau palsu! Malaikat seperti apakah yang akan memberitakan injil yang palsu? Tentunya bukan malaikat-malaikat Tuhan, tetapi malaikat jenis lain, yaitu malaikat yang telah memberontak kepada Tuhan – alias iblis dan Setan.

Mengapakah Paulus menyinggung malaikat di perikop ini? Bukankah orang di Galatia mendengar injil yang palsu dari manusia? Memang benar. Tetapi, Paulus yang memiliki mata rohani dapat dengan jelas melihat bahwa penginjil-penginjil palsu itu hanyalah dipakai oleh iblis. Jika iblis ingin menyebarkan injil yang palsu, ia tidak perlu datang secara pribadi dalam rupa yang menakutkan, tetapi lebih sering ia akan memakai manusia untuk melakukannya. Hati-hati! Iblis memberitakan “injil.” Tetapi orang kristen harus waspada bukan saja terhadap penampakan yang mengerikan, melainkan juga terhadap usaha-usaha manusia untuk menyuguhkan injil yang berbeda, karena hal inipun adalah pekerjaan iblis.

Lalu, mengapa Paulus tidak menyebut setan atau iblis saja? Mengapa ia memakai istilah malaikat? Selain memakai manusia untuk menyebarkan injil palsu, terkadang iblis juga langsung turun tangan dalam “pemberitaan injilnya.” Contoh yang sangat klasik adalah klaim Joseph Smith, bahwa ada malaikat bernama Moroni yang memberikan kepadanya wahyu dalam lempengan emas.

Dari lempengan emas itu muncullah Kitab Mormon yang menjadi acuan umat Mormon. Anehnya, lempengan emas yang diberikan oleh “Moroni” kepada Smith tidak pernah dilihat oleh satu orangpun. Mengingat bahwa Kitab Mormon sangat bertentangan dengan Alkitab, dapat disimpulkan bahwa ini adalah kasus “malaikat memberitakan injil”. Tetapi, apakah “Moroni” muncul dalam bentuk mengerikan? (Jika memang benar Smith melihat penampakan). Kemungkinan besar tidak. Jika iblis ingin berpura-pura memberitakan injil, maka ia tidak akan muncul sebagai tokoh hitam legam yang berekor trisula. Sebaliknya, ia akan muncul sebagai malaikat terang (2 Kor.11:14).Pengajaran Paulus adalah:jangan terkecoh oleh penampilan, kredensial, pamor, titel, atau kedudukan dari orang yang memberitakan Injil, tetapi telitilah isi Injil yang diberitakan dan cocokkanlah dengan Alkitab.

Injil yang benar adalah injil yang sempit. Tidak ada banyak jalan menuju surga, bahkan hanya ada satu. Paulus dengan yakin menjadikan Injil yang ia beritakan sebagai satu-satunya jalan. Tentu bukan Paulus yang menciptakan atau mengonsepkan injil ini, tetapi iamendapatkannya langsung dari Yesus Kristus. Sebagai wahyu yang datang dari Allah, maka pengajaran rasul Paulus adalah otoritatif dalam segala aspek, terutama keselamatan.Oleh sebab itulah Paulus mengutuk injil-injil lain yang tidak sama dengan apa yang ia ajarkan. Pengajaran rasul Paulus ini juga dimiliki oleh setiap orang percaya di dalam Alkitab. Untuk mengetahui apakah injil yang diberitakan itu benar atau tidak, maka bandingkanlah dengan Alkitab.

Injil Tentang Manusia

Sangat penting bagi manusia untuk mengetahui kondisi dirinya yang sebenarnya. Pernyataan Yesus bahwa “bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat. 9:12) sangat benar. Dan orang yang tidak menganggap dirinya sakit tidak akan mencari tabib. Oleh sebab itulah, di dalam Injil yang benar selalu diberitakan bahwa manusia sudah rusak oleh dosa. Manusia perlu mencari seorang Juruselamat karena ia adalah seorang berdosa yang akan dihukum.

Sebaliknya, injil yang palsu akan menyangkal atau menyelewengkan pengajaran ini. Pada abad ke-19, Jonathan Edwards memicu suatu kebangunan rohani dengan khotbahnya yang terkenal dengan judul “Sinners in the hand of an angry God.” Dalam khotbahnya itu, ia menjelaskan dengan gamblang pemberontakan manusia yang keji terhadap Allah dan konsekuensi yang sedang mengancam.

Tetapi, hari ini, banyak gereja yang merasa risih untuk membawakan khotbah yang demikian “keras.” Situasi kekristenan sedemikian parah, sehingga gereja-gereja tidak berani lagi dengan lantang memproklamirkan manusia sebagai makhluk yang jatuh ke dalam dosa, penuh dengan kejahatan dan akan masuk neraka karena dosa-dosanya. Bahasa seperti itu dianggap terlalu “negatif” dan menyinggung perasaan orang.

Trend ini ditopang oleh perkembangan dunia sekuler. Psikologi modern yang dipelopori oleh ateis-ateis seperti Freud, Jung, dll., telah sepakat untuk mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Dalam lingo psikologi, manusia tidak memiliki dosa, tetapi mereka memiliki “problem,” atau “penyakit.” Permainan kata yang licik ini mengalihkan kesalahan dari si pendosa kepada hal-hal lain (keadaan, perlakuan masa kecil, dsb.), dan mengurangi konotasi negatif dari kondisi manusia (memiliki problem terdengar lebih positif daripada memiliki dosa).

Selain pengaruh dari psikologi sekuler, pandangan bahwa “manusia itu baik,” juga dipromosikan oleh gerakan New Age. Gerakan yang merupakan campuran dari mistik timur dan okultisme ini bahkan mengajarkan bahwa semua manusia pada intinya adalah allah.

Semua masalah terjadi karena tidak merealisasikan ke-ilahian sendiri, atau kurang self-esteem (harga diri). Tentu dengan mind-setting seperti ini, pengajaran Alkitab tentang kebobrokan manusia berdosa tidak mendapat tempat. Herannya, banyak orang “kristen”dan gereja yang menelan semua ini bulat-bulat.

Jadi, jika manusia tidak lagi dipresentasikan sebagai orang berdosa yang akan masuk neraka, lalu injil seperti apakah yang diberitakan? Keselamatan macam apakah yang ditawarkan? Memang, kontradiksi ini akhirnya memicu kepada banyak injil yang sesat.

Bukannya memberitakan Injil Yesus Kristus yang menyelamatkan orang berdosa dari hukuman neraka, kini banyak gereja yang menawarkan injil sosial. Gereja tidak lagi dilihat sebagai institusi yang didirikan Yesus untuk pekabaran Injil keselamatan, tetapi lebih sebagai organisasi religius yang bertugas untuk membantu umat manusia secara sosial.

Kontribusi gereja terhadap lingkungan dalam aspek sosial, ekonomi dan politik dinilai lebih penting ketimbang penginjilan. Padahal berapa juta dus indomie dijatuhkan kepada rakyat Aceh tidak akan menolong mereka ke Sorga jika tidak memberitakan Injil yang benar kepada mereka.

Peran Yesus sebagai juruselamat juga diinterpretasi ulang. Jika manusia tidak lagi dianggap sebagai makhluk berdosa yang perlu diselesaikan dosanya, lalu keselamatan seperti apakah yang ia perlukan? Percaya atau tidak, banyak pihak yang mengajarkan bahwa Yesus menyelamatkan manusia dari pandangan yang buruk tentang dirinya sendiri. Yesus diklaim datang ke dunia untuk memberi contoh tentang pandangan diri yang baik. Yesus mengklaim diri sebagai Allah, dan ia adalah manusia pertama yang menyadari keilahian dirinya.

Para penginjil palsu ini mengajarkan bahwa semua manusia juga seperti Yesus, tetapi masing-masing perlu merealisasikannya. Justru, mereka berkilah, pandangan ortodoks bahwa manusia penuh dosa telah banyak merusak harga diri manusia dan justru berlawanan dengan contoh dan teladan Yesus.

Injil yang demikian tentu hanya akan membawa manusia makin jauh di dalam cengkeraman dosa. Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa manusia perlu menyadari dulu kondisinya yang berdosa. Untuk itulah hukum Taurat diberikan, yaitu agar manusia sadar bahwa ia tidak sanggup melaksanakan segala perintah Allah sehingga memerlukan seorang Juruselamat. Iblis tahu, bahwa jika manusia tidak mengakui dosa-dosanya, maka ia tidak akan beroleh selamat, sehingga berbagai injil palsu telah bermunculan yang mengajarkan kebaikan manusia.

Injil Tentang Surga dan Neraka

Salahsatu komponen yang penting dalam Injil yang benar adalah konsep yang benar tentang surga dan neraka. Alkitab mengajarkan surga dan neraka sebagai tempat ke mana manusia akan pergi setelah meninggal. Surga adalah tempat yang indah, penuh dengan kesenangan, dan disebut juga sebagai “rumah Bapa,”karena merupakan tempat tahta Allah. Neraka, di lain pihak, adalah juga sebuah tempat, yang penuh dengan siksaan, terpisah dari Tuhan, dan memiliki api yang tidak padam dan ulat yang tidak mati.

Tidak cukup bagi manusia untuk menyadari bahwa ia berdosa, tetapi ia juga harus mengetahui konsekuensi dari dosanya itu. Ia harus tahu bahwa dosa membawa manusia kepada maut,yaitu neraka, dan ia harus paham situasi neraka sebagaimana diberitahu oleh Alkitab.

Dalam usahanya untuk menggagalkan keselamatan manusia, aspek ini juga telah banyak diselewengkan oleh Iblis. Dalam injil versi Iblis, surga dan neraka tidaklah sama dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Iblis menyediakan banyak alternatif,tetapi tidak ada satupun yang sesuai dengan firman Tuhan. Kata kelompok Saksi Yehova manusia tidak akan ke Sorga melainkan langit baru dan bumi baru.

Makin hari makin banyak orang kristen yang tidak percaya bahwa neraka adalah suatu tempat yang nyata. Ada yang menyatakan bahwa neraka hanyalah suatu perumpamaan, suatu alegori kehidupan setelah kematian. Orang yang tidak pecaya Yesus, mereka menjelaskan, akan ada dalam suasana terpisah dari Tuhan, dan itulah yang dimaksud dengan neraka. Jadi, neraka menurut pandangan ini adalah sebuah situasi, bukan suatu tempat.

Para penganutpandangan ini berargumen bahwa Allah yang maha kasih tidak mungkin menghukum orang di dalam suatu lautan api. Atau, mereka mengatakan bahwa hukuman tidak akan berlangsung untuk selama-lamanya.

Sebagian menambahkan suatu konsep purgatory, yaitu tempat penghukuman sementara, di mana “dosa-dosa dibakar” dan sesudah genap, maka orang tersebut dapat masuk surga. Ada gereja yang mengajarkan bahwa seseorang dapat lebih cepat keluar dari purgatory bila ada yang mendoakannya, sehingga timbullah praktek berdoa bagi orang mati, atau menyumbang kepada gereja agar keluarganya yang telah meninggal didoakan.

Semua ini adalah pelencengan yang serius terhadap Injil yang benar. Jika manusia tidak jelas tentang neraka, maka pada intinya ia tidak dapat diselamatkan, karena ia tidak tahu ia diselamatkan dari apa. Ditambah lagi jika ia tidak tahu ia akan diselamatkan ke mana. Surga tidak lagi dimengerti oleh banyak orang sebagai suatu tempat. Semua ini tentunya bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Terkutuklah mereka, karena mereka telah mengajarkan injil yang lain, yang tidak sesuai dengan firman Allah.

Injil Tentang Yesus

Puncak dari serangan Iblis ialah pengajaran tentang Yesus yang palsu. Sungguh, dengan semakin banyaknya penyesatan, orang kristen harus semakin spesifik dan berhati-hati dalam berterminologi. Pada masa lalu, istilah “percaya pada Yesus” sudah menjamin bahwa seseorang adalah sungguh Kristen. Tetapi, kini tidak lagi, karena banyak sekali “Yesus” yang ditawarkan iblis.

Serangan yang paling sering dilakukan adalah terhadap keilahian Yesus.Sejak zaman rasul-rasul dalam bentuk gnostik, hingga abad pertengahan dalam bentuk Arianisme, bahkan hingga ke zaman modern ini dalam bentuk Saksi Yehova, New Age, dll., semuanya menolak keilahian Yesus yang setara dengan Allah Bapa. Padahal, kepercayaan yang satu ini demikian krusial untuk keselamatan manusia. Bagi kelompok-kelompok ini, percuma saja Alkitab dengan tegas dan berulang kali menyebut Yesus sebagai Tuhan dan Allah, mereka akan berkelit dan menjelaskan semuanya dengan dalih-dalih mereka. Tetapi, kutuk ada di atas mereka, karena mereka menarik orang ke dalam neraka.

Serangan-serangan juga dilancarkan terhadap aspek-aspek kehidupanYesus, mulai dari kelahiran hingga kebangkitanNya. Kelahiran perawan Yesus dipertanyakan oleh para Liberal, walaupun doktrin ini jelas diajarkan oleh Alkitab dan penting untuk mempertahankan bahwa Yesus tidak berasal dari manusia dan tidak mewarisi sifat-sifat dosa manusia. Belakangan ini, muncul juga teori yang mengatakan bahwa Yesus pergi ke India untuk belajar dari para guru Hindu di sana dari umur 12 tahun hingga kembali ke Palestina pada umur 30 tahunan. Teori yang tidak berdasar ini beredar karena rumor yang dikembangkan seorang biksu di India.

Walaupun tidak ada bukti sama sekali, tetapi para pendukung pandangan ini menyebarluaskannya dan dengan cepat diterima oleh para penentang kebenaran.

Serangan terhadap kebangkitan Yesus adalah serangan terhadap inti dari Injil dan kekristenan itu sendiri. Paulus sendiri mengatakan bahwa, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (I Kor. 15:14). Yang mengherankan adalah, orang-orang yang mengaku diri kristen (baca: liberal), yang tidak mengakui kebangkitan Yesus. Ada puluhan “ahli theologi kristen” berkumpul dalam Jesus Seminar, dan menyangkal kebangkitan Yesus. Ini adalah injil Iblis yang membawa manusia kepada hukuman kekal.

Jadi, jelas bahwa iblis turut memberitakan injil. Injil yang ia beritakan tidak membawa kepada keselamatan tetapi kepada kebinasaan. Orang kristen sebaiknya berhati-hati karena injil palsu itu ada di mana-mana bahkan di dalam gereja dan di kalangan kekristenan itu sendiri.

**dr. Steven Liauw, M.Div., adalah dokter tamatan UI, dan juga seorang penginjil dengan gelar M.Div. tamatan GRAPHE. Dr. Steven adalah Purek Akademis STT GRAPHE

Sumber: PEDANG ROH Edisi 42 Tahun X Januari-Februari-Maret 2005

Setan Mengusir Setan

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:20 am on Saturday, November 21, 2009  Tagged , ,

KIS.19:13-20

Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu,mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: “Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.”

Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa. Tetapi roh jahat itu menjawab: “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?” Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. Hal itu diketahui oleh seluruh penduduk Efesus, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, maka ketakutanlah mereka semua dan makin masyhurlah nama Tuhan Yesus. Banyak di antara mereka yang telah menjadi percaya, datang dan mengaku di muka umum, bahwa mereka pernah turut melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu. Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di depan mata semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak. Dengan jalan ini makin tersiarlah firman Tuhan dan makin berkuasa

Asal Usul Iblis & Setan

Ketika Tuhan Yesus hadir di dunia sekitar dua ribuan tahun lalu, salah satu hal yang sering dilakukanNya ialah mengusir roh-roh jahat. Ia adalah Tuhan pencipta langit dan bumi dengan seluruh isinya. Bahkan roh-roh jahatpun ciptaanNya,karena roh jahat tadinya adalah malaikat ciptaanNya. Tetapi karena mereka mengikuti Lucifer, malaikat terang itu, membangkang akhirnya kepada mereka diberi sebutan baru yaitu roh-roh jahat, iblis, dan setan.

Dalam Alkitab kata setan (satanos) berbentuk tunggal sehingga ditafsirkan bahwa itu adalah menunjuk kepada lucifer sendiri. Dan kata iblis (demons) berasal dari kata daimonion berbentuk jamak. Dan roh-roh jahat yang dalam bahasa Inggris sering disebut evil-spirits. Pada dasarnya semuanya berasal dari malaikat yang memberontak kepada Allah bersama Lucifer.

Tujuan Tuhan Mengusir Iblis

Ia bukan Tuhan pencipta langitdan bumi jika tidak sanggup mengusir iblis. Tuhan Yesus membuktikan bahwa ia pencipta malaikat, dan semua malaikat takluk kepadaNya, bahkan malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa pun masih harus tunduk, kalau tidak akan segera dikirim ke neraka sekalipun sebelum tiba waktu yang telah ditetapkan (Luk.8:28, Mat.8:29).

Tanpa iblis menyadari, mereka telah melakukan kesalahan besar, karena mungkin mereka berpikir untuk menghalangi pekerjaan Kristus sehingga mereka banyak merasuki orang-orang saat itu.Namun sebaliknya justru fenomena tersebut dibalik untuk meninggikan Kristus karena roh-roh jahat yang ditemuiNya semuanya diusirNya. Dengan tindakan ini Ia membuktikan kemahakuasaanNya karena hanya ada satu pribadi yang lebih berkuasa dari Lucifer. Dalam peristiwa bertengkar dengan Lucifer penghulu malaikat Mikhael tidak berani menghardiknya dengan kata-kata kasar (Yud.1:9). Sementara itu berkali-kali iblis datang tersungkur, memohon-mohon agar tidak menghukum mereka sebelum waktu yang telah ditetapkan (Mat.8:29).

Para ahli Taurat dan orang Farisi seharusnya tahu bahwa yang sedang berhadapan dengan mereka adalah Pribadi yang memiliki kuasa lebih dari malaikat. Namun mungkin karena iri dan tidak bisa menerima latar belakang kemanusiaanNya yang terlahir dalam keluarga miskin, maka tidak bisa terima bahwa Ia adalah Allah yang maha tinggi.

Sikap demikian oleh Kristus dikategorikan “menghujat Roh Kudus,” jika nanti setelah hari Pencurahan Roh Kudus mereka masih belum bisa menerima fakta yang mereka saksikan (Mrk.3:29).

Jadi, tujuan tindakan pengusiran iblis atau roh-roh jahat yang dilakukan Kristus bukan agar tidak ada iblis lagi di wilayah Palestina, karena kalau ini tujuanNya, tinggal diperintahkan agar semua roh jahat menyingkir dari Palestina. Tetapi sesungguhnya telah ditetapkan hari penghukuman atas mereka, dan pengusiran roh-roh jahat dari tubuh orang-orang yang dijumpai hanyalah untuk menunjukkan bahwa Yahweh hadir di tengah tengah umatNya.

Alkitab mencatat dalam Ibr.2:14-15, “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka,supaya oleh kematian-Nya, Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”

Ayat-ayat Alkitab tersebut di atas memberitahukan bahwa oleh kematian Kristus iblis telah dikalahkan. “Maut” yang adalah senjata utama iblis untuk menakut-nakuti orang telah dilenyapkan. Dan sejak kematian Kristus di kayu salib, tidak ada orang yang bisa dirasuki iblis tanpa atas keinginan atau persetujuan orang tersebut (I Yoh.3:8). Iblis telah dikalahkan, dan pemberitaan Injil adalah pengumuman atas kemenangan Kristus dan kekalahan iblis. Seperti Jepang ketika dikalahkan sekutu, penduduk jajahan perlu mendengar pengumuman pengakuan kalah Hirohito dan tidak perlu takut pada tentara Jepang lagi.

Tujuan Rasul Mengusir Iblis

Para Rasul, sebagai murid Kristus yang langsung menyaksikan kemenangan itu adalah pemegang otoritas langsung Tuhan Yesus untuk menyebarkan berita kemenangan Tuhan atas kuasa maut (iblis). Mereka melakukan tindakan pengusiran, itu bisa dilihat sebagai penertiban perlawanan sporadis sisa-sisa kekuatan iblis, sambil menunjukkan bahwa mereka adalah Rasul Kristus.

Orang yang kerasukan dan terusir iblis dari tubuhnya belum tentu terselamatkan jiwanya, karena keselamatan jiwa tetap mengharuskan pertobatan dari dosa dan pengakuan iman kepada Yesus Kristus. Sebaliknya orang-orang yang terselamatkan jiwanya oleh pertobatan dan iman kepada Kristus sudah pasti secara jasmani akan terlepas dari ikatan iblis.

Rasul-rasul melakukan pengusiran iblis utamanya adalah untuk menunjukkan bahwa mereka adalah murid Tuhan yang menjabat Rasul dalam susunan pejabat jemaat lokal seperti yang Rasul Paulus daftarkan dalam Efesus 4:11. Mereka adalah dasar (fondasi) gereja dan Kristus adalah batu penjuru dari dasar itu (Ef.2:19-20).

Rasuk Setan Atau Sakit Jiwa?

Apakah Tuhan memerintahkan kita mengadakan upacara pengusiran iblis pada masa kini? Hal pertama yang harus difahami ialah bahwa sesudah kematian Kristus di kayu salib,tidak ada orang yang dirasukiiblis tanpa keinginan atau persetujuannya.

Banyak orang tidak sanggup membedakan antara kerasukan dengan psikotik atau over-stress. Mereka yang main Jailangkung, para dukun, atau yang meminta kekebalan, orang-orang yang belajar ilmuhitam,dan yang melakukan berbagai aktivitas okultis, adalah orang-orang yang kerasukan roh jahat. Sedangkan yang ngamuk, ngomong sendiri, tertawa sendiri, menjerit-jerit, omong bahasa atau suara lain, dan berbagai tindak-tanduk tidak normal, itu bukan kerasukan iblis, melainkan gangguan jiwa.

Sering terjadi dimana orang yang sakit jiwa atau over-stress ditengking oleh “pendeta” yang tidak dapat membedakan kerasukan dan sakit jiwa. Bahkan sesungguhnya banyak “pendeta” memasukkan roh (jelas bukan Roh Kudus) ke dalam tubuh orang yang didoakan mereka dengan menyuruh mengosongkan diri dan menepuk jidat orang tersebut hingga yang bersangkutan tumbang. Tindakan demikian kalau bukan menghipnotis adalah memasukkan iblis ke dalam diri sang korban.

Sikap Orang Kristen Terhadap Roh Jahat

Dalam Injil Yohanes 8:31-32 menyatakan, “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebenaran apakah yang memerdekakan kita? Dan dimerdekakan dari apa? Adalah pertanyaan-pertanyaan yang layak dikumandangkan.

II Tim.3:15-16 memberitahukan kita tentang manfaat Alkitab. Salah satunya ialah menyatakan kesalahan. Kesalahan apakah yang bisa menyebabkan seseorang perlu dimendekakan? Tentu adalah konsep-konsep yang bisa membelenggu orang itu. Yang terutama dari semuanya ialah firman Tuhan yang menyatakan bahwa Yesus Kristus telah menanggung semua (segala) dosa manusia di kayu salib ( Yoh.1:29, Ibr.2:9, IYoh.2:2), dan jika seseorang bertobat dan percaya bahwa semua dosanya (dulu, sekarang, hingga yang terakhir akan dibuatnya) telah tertanggung di kayu salib, yaitu bahwa Kristus telah menggantikannya dihukum atas semua dosanya, dan ia kini sedang menggantikan Kristus hidup, maka ia terlepas dari semua kutuk (Gal.3:13), dan terlepas dari intimidasi iblis.

Setelah mengetahui hal yang paling utama ini, selanjutnya orang tersebut tinggal tetap dalam firman ini, maka ia benar-benar adalah murid Tuhan dan melalui semakin belajar Alkitab maka ia akan mengenal semakin banyak kebenaran dan tentu kebenaran itu akan memerdekakan dia. Misalnya ia jadi tahu bahwa Roh Kudus telah masuk ke dalam hatinya sejak saat ia percaya (Ef.1:13), maka ia dimerdekakan dari banyak “pendeta” yang mau melakukan doa pelepasan, karena tidak ada lagi yang perlu dilepaskan sejak Roh Kudus masuk ke dalam hatinya. Dan ia juga akan dimerdekakan dari “pendeta” yang mau menumpangkan tangan yang katanya untuk membaptisnya dengan Roh Kudus karena Roh Kudus telah ada di dalam hatinya.

Jika kita bertemu dengan seseorang yang sakit jiwa maka dia perlu ditenangkan dengan obat dan setelah tenang ia diberitakan firman Tuhan. Apalagi bertemu dengan orang yang dirasuki iblis (berbagai dukun, dan orang-orang yang pernah mengundang roh), mereka perlu diberitakan Injil pada saat mereka tenang. Beda psikotik dengan kerasukan ialah psikotik perlu ditenangkan dengan obat sedangkan kerasukan akan tenang sendiri. Psikotik tidak sadar diri sedangkan kerasukan itu sadar diri atau setidaknya akan ada waktu ia akan sadar diri.

Tuhan mau pada zaman kita, yaitu zaman sesudah tidak ada Rasul, tidak mengusir iblis dengan tengking-tengkingan, melainkan mengusir dengan berita Injil. Kalau iblis keluar dari seseorang karena ditengking, dan orang tersebut tidak menyambut Injil, maka iblis akan kembali membawa tujuh temannya (Mat.12:45). Sedangkan mengusir dengan pemberitaan Injil yang alkitabiah, ketika Injil diterima maka secara otomatis roh jahat pasti meninggalkan tubuh orang tersebut. Inilah yang Tuhan katakan kebenaran yang memerdekakan.

Injil Keselamatan dari Allah telah selesai dituliskan, dan ia adalah kekuatan Allah (Rom.1:16, I Tes.1:5). Keadaan kita berbeda dari keadaan Tuhan Yesus dan Rasul-rasul. Tuhan Yesus memakai kuasa ilahinya sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi untuk mengusir iblis. Sedangkan Rasul-rasul memakai kuasa Yesus Kristus yang diberikan kepada mereka untuk mengusir iblis. Kita diberikan kuasa Injil untuk mengusir iblis dari seseorang dengan cara memberitakan Injil kepadanya.

Dari perikop bahasan kita tentang anak-anak Skewa yang memakai nama Yesus mengusir iblis memperlihatkan kita bahwa nama Tuhan Yesus bukan jimat. Anak-anak Skewa tidak boleh mempergunakan nama Tuhan Yesus sebagai jimat.

Lebih mengagetkan lagi ialah bunyi ayat 18, “banyak di antara mereka yang telah menjadi percaya, datang dan mengaku di muka umum, bahwa mereka pernah turut melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu.” Perbuatan apa? Mengusir iblis dengan nama Yesus Kristus! Kalau itu terjadi pada saat sebelum mereka menjadi orang Kristen, tentu tidak menjadi soal karena sekarang mereka telah menjadi percaya. Sangat mungkin mereka menjadi sadar bahwa mereka tidak memiliki otoritas untuk mengusir iblis, melainkan memberitakan Injil.

Banyak “pendeta” mengajar jemaatnya bahwa sejak mereka percaya maka mereka memiliki kuasa Allah (Yoh.1:12). Padahal maksud ayat ini adalah mendapat hak atau posisi sebagai salah satu anak-anak Allah, bukan memiliki kuasa ilahi. Kalau seseorang memiliki kuasa ilahi, maka ia sudah menjadi Allah.

Ketika seseorang menjadi salah satu dari anak-anak Allah, tentu iblis tidak bisa merasukinya bahkan yang bukan orang Kristen saja iblis tidak bisa sewenang-wenang merasukinya.

Dan ia juga harus mengerti bahwa ia tidak diberikan wewenang untuk hadik-menghardik iblis, karena tindakan hardik-menghardik, Mikhael saja tidak berani melakukannya terhadap Iblis (Lucifer) (Yud.1:9).

Anak-anak Allah diberi satu senjata yang sangat ampuh untuk melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia, dan roh-roh di udara dengan perlengkap senjata yang disediakan (Ef.6:1016).

Ada enam macam perlengkapan, dan hanya satu yang bersifat menyerang, yaitu PEDANG ROH yang adalah FIRMAN TUHAN. Lima macam yang lain bersifat bertahan, tetapi pedang jelas bukan untuk bertahan melainkan menyerang.

Beritakanlah Injil yang alkitabiah maka semua penguasa dunia akan takluk. Jika seseorang menerima Injil, maka dia dilepaskan atau dimerdekakan. Dunia ini dikuasai iblis yang sesungguhnya telah kalah. Kita diperintahkan Tuhan yang menang untuk mengumumkan kemenanganNya, tidak perlu tengking-tengkingan. Kalau orang-orang yang diperbudak oleh iblis mendengar dan menerima berita pelepasan mereka, maka mereka akan diselamatkan atau dimerdekakan. Hanya orang yang telah diselamatkan oleh Injil yang benarlah yang dapat membebaskan orang dengan Injil yang benar. Menengking-nengking iblis tanpa mengerti Injil yang benar itu bagaikan setan mengusir setan, dan bisa disebut anak-anak Skewa abad 21.***DL

Sumber: PEDANG ROH Edisi 42 Tahun X Januari-Februari-Maret 2005

Dukun Mau Beli Gelar Rasul

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:15 am on Saturday, November 21, 2009  Tagged ,

Kis.8:9-23

Seorang yang bernama Simon telah sejak dahulu melakukan sihir di kota itu dan mentakjubkan rakyat Samaria, serta berlagak seolah-olah ia Seorang yang sangat penting. Semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: “Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar.” Dan mereka mengikutinya, karena sudah lama ia mentakjubkan mereka oleh perbuatan sihirnya…Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: “Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.” Tetapi Petrus berkata kepadanya: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.”

Siapapun yang membaca perikop Alkitab terkutip di atas, pasti merasa geli dengan sikap Simon si tukang sihir atau nama bekennya sekarang Simon illusionis. Menurut catatan Alkitab, ia telah lama berlagak sebagai orang hebat dan telah memukau banyak orang di kota Samaria.

Sejak muncul Filipus, ketenarannya menurun. Terlebih lagi setelah kedatangan Petrus dan Yohanes, posisinya tersingkir jauh sekali. Perasaannya hampir mirip dengan perasaan kalangan pesulap, aktris atau aktor, olah ragawan, bahkan penginjil dan pendeta yang haus puja-puji orang. Kelompok profesi tersebut di atas rentan terpancing untuk meningkatkan popularitas diri dengan cara apa saja jika suatu ketika merasa sudah mulai ditinggalkan pengagum.

Simon merasa perlu meng-upgrade dirinya dari tukang sihir menjadi “rasul” dengan jalan pintas. Simon ini bukan orang asing dalam jemaat Samaria, melainkan orang yang telah bergabung menjadi anggota (ayat 13), bahkan aktif sekali ke gereja.

Tetapi jelas Simon menggabungkan diri bukan karena bertobat, melainkan karena kagum melihat mujizat yang dilakukan oleh Filipus yang lebih hebat darinya. Penulis pernah mendengar ada dukun yang menjadi Kristen karena gagal menyantet pendeta, karena kagum pada kehebatan ilmu yang dimiliki sang pendeta, ia menjadi Kristen. Kalau dalam ilmu hitam, sebenarnya ia berguru kepada sang pendeta karena ilmunya masih kalah.

Ada banyak orang yang datang ke gereja, bahkan menyerahkan diri untuk dibaptis seperti Simon karena kagum pada pendeta pembuat mujizat. Mereka tidak tahu tentang doktrin keselamatan dan tidak pernah bertobat, melainkan kagum pada kuasa “Yesus” yang digembar-gemborkan sang pendeta.

Sesungguhnya inilah sebabnya pada akhir zaman ini Tuhan tidak memakai mujizat untuk memberitakan Injil, melainkan hanya untuk mengukuhkan kemesiasanNya. Dan Ia memberitahukan kita bahwa pada akhir zaman iblis akan menjadikan metode ini sebagai metode primadonanya untuk menghimpun masa dan menyesatkan mereka (Mat.24:2328).

Pada masa awal kekristenan, yaitu masa sebelum proses pewahyuan ditutup, Allah pernah memakai mujizat sebagai tanda peneguhan Injil yang diberitakan mereka (Mrk.16:20). Simon tukang sihir adalah hasil penginjilan dengan mujizat, yaitu Kristen tanpa pertobatan. Tentu ada yang sungguh-sungguh bertobat, namun sangat sedikit karena orang yang datang bukan mencari kebenaran melainkan ingin melihat dan merasakan mujizat. Tentu bukan monopoli metode mujizat saja yang akan menghasilkan Kristen tanpa pertobatan. Masih ada banyak, misalnya dengan menggembar-gemborkan berkat materi, memakai artis dan selebritis lain untuk memukau hadirin. Semua metode ini rentan menghasilkan Kristen tanpa pertobatan, karena tidak menonjolkan kebenaran.

Kristen-kristen tanpa pertobatan tersebut pada umumnya akan terlibat juga dalam pelayanan sebagaimana Simon tukang sihir terlibat pelayanan di jemaat Samaria. Siapakah yang bisa tahu kesungguhan pertobatan mereka kalau bukan seorang Rasul.

Sama halnya dengan Kristen-kristen tanpa pertobatan zaman sekarang tidak ada yang tahu kondisirohanimereka.Yang terlihat oleh mata jasmani manusia hanyalah hal-hal yang terekspresi keluar melalui kehidupan mereka.

Sudah menjadi Kristen,tetapi tetap masih bisa melakukan hal-hal okultis, masih sangat gemar hal-hal okultis bahkan bersaksi dengan berkobar-kobar hal-hal yang kalau menurut Rasul Paulus disebut saja seharusnya malu, misalnya pernah bunuh orang, menyantet orang, menangkap roh orang dan lain sebagainya. Seharusnya orang yang telah bertobat akan sungguh-sungguh menyesal karena telah melakukan semua itu dan berubah total sehingga tidak mau menyebut-nyebut hal-hal demikian lagi. Coba dibayangkan kalau seorang play-boy bertobat lalu ia disuruh menceritakan pengalaman cara-cara ia memperlakukan wanita di atas ranjang.

Itukan tidak masuk akal sama sekali. Tetapi biasanya mereka dijadikan komoditas oleh “pendeta gadungan” untuk bersaksi sebelum ia berkhotbah atau untuk menyemarakkan suasana kumpulan Kristen tanpa pertobatan yang suka mendengar kesaksian daripada mendengarkan khotbah doktrinal.

Mengamati sikap Simon tukang sihir yang mau membeli kuasa kerasulan, penulis jadi teringat pada banyak pelayan Tuhan jaman sekarang yang gila jabatan dan gila hormat. Ada yang merebut jabatan orang dengan cara menjilat dahulu dan kemudian setelah memiliki posisi, sang pemimpin yang tadinya sangat berjasa padanya ditendang. Ada banyak kisah gembala jemaat yang dikudeta oleh penginjil atau majelis yang tadinya adalah orang yang sangat disayang oleh korbannya

Membeli kuasa kerasulan juga merupakan kasus yang hampir sama dengan yang banyak terjadi belakangan ini.Ada yang kuliah saja tidak pernah, tiba-tiba di depan namanya sudah memakai gelar doktor. Ada juga yang mendapatkan S.Th. saja oleh belas kasihan karena pelajaran-pelajaran utama tidak memenuhi standar, namun tiba-tiba bukan hanya satu gelar doktor melainkan lebih.

Tindakan membeli gelar ini tujuannya tentu supaya kedengaran lebih keren, atau lebih dihormati, atau lebih berwibawa. Simon tukang sihir juga berpikiran sama, setelah ia melihat Petrus dan Yohanes sedemikian dihormati oleh Filipus, padahal Filipus saja sudah sangat terhomat di pandangan Simon. Mungkin ia berpikir kalau ia memiliki kuasa seperti Petrus, maka berarti ia telah di atas Filipus.

Demikian jugalah banyak orang memandang gelar pendidikan. Padahal jika memiliki gelar S.Th. (Sarjana Theologi) namun tidak memiliki pengetahuan setingkat itu seharusnya adalah keadaan yang memalukan. Apalagi berani-berani menyandang gelar doktor tanpa memiliki pengetahuan doktor. Bukankah lebih baik tanpa gelar doktor namun memiliki pengetahuan doktor daripada sebaliknya?

Apakah yang ada di benak Simon tukang sihir ketika ia menawarkan duit kepada Petrus untuk membeli kuasa kerasulan? Untuk sekedar bergaya? Bisa jadi, terbukti hari ini juga banyak orang Kristen bahkan “pelayan Tuhan” yang sangat mementingkan gaya.

Banyak orang Kristen tidak berusaha hidup secukupnya melainkan sampai berhutang karena besar pasak daripada tiang hanya karena mau ikut-ikutan bergaya. Padahal firman Tuhan dengan tegas mengajarkan agar kita tidak berhutang (Rom.13:8).

Tetapi bisa jadi Simon tukang sihir ingin memakai kuasa itu untuk mencari duit. Ada banyak “pelayan Tuhan” sempat membuat orang kaya trauma kedatangan pelayan Tuhan di kantornya karena kerjanya hanya meminta sumbangan dan menjilat-jilat untuk mendapatkan sumbangan. Dan ada yang memakai posisinya untuk menggaruk keuntungan dengan menggembar-gemborkan bahwa ia memiliki kuasa untuk memberkati orang, atau memberikan doa berkat.

Penulis pernah mendengar cerita dari seseorang bahwa keponakan seseorang berpacaran dengan seorang “penginjil” muda. Dan ketika ia melihat “penginjil” tersebut yang adalah pacar keponakannya gonta-ganti pacar, tante ini coba menegur sang “penginjil” tersebut. Tetapi jawaban yang sangat mengagetkan dari “penginjil” tersebut ialah, “kamu jangan macam-macam, nanti saya kutuk kamu!”

Simon tukang sihir ingin memiliki kuasa yang bisa dipakai untuk menunjukkan siapa dia, bahkan bisa mengutuk orang yang menegurnya. Orang-orang demikian, seandainya memiliki kuasa, sudah jelas bukan kuasaTuhan melainkan kuasa iblis yang memang bersifat destruktif, egois dan jahat.

Seorang Kristen dari latar belakang Muslim bercerita bahwa seorang “pendeta” membawanya ke suatu pelayanan dan menjadikan latar belakang pertobatannya sebagai bumbu khotbahnya dengan bercerita bahwa setelah didoakannya ada jarum berjatuhan dari tubuhnya. Pada perjalanan pulang si Kristen baru itu berkata, “pak Pendeta, dari tubuh saya kan tidak ada jarum berjatuhan, mengapa bapak bercerita yang tidak ada?” Tetapi jawab pendeta itu, “saya sengaja mengsugesti mereka.” Konyol, bukan? Banyak orang tidak menyadari bahwa sebenarnya ada banyak “Simon” ilusionis gentayangan di pelayanan kekristenan. Bahkan mereka telah menjadikan mimbar sebagai tempat pertunjukan mereka. Tangan mereka sengaja digetar-getarkan, suara mereka juga digetar-getarkan atau mungkin digetar-getarkan oleh roh sihir dan isi kesaksian mereka banyak yang bohong belaka. Bahasa lidah mereka jelas bukan dari Tuhan, karena mereka tidak malu-malu menyelenggarakan acara belajar atau latihan berbahasa lidah.

Karena terindoktrinasi bahwa yang belum bisa berbahasa lidah (ngeroh) itu belum memiliki Roh Kudus, maka sebagiannya memang kerasukan roh (pasti bukan Roh Kudus), dan sebagian lagi ikut-ikutan agar terdengar ngeroh, hebat, dan dianggap punya Roh Kudus, harus berusaha mengucapkan sesuatu yang orang lain tidak mengerti.

Pembaca yang dikasihi Tuhan, tulisan ini dimaksudkan agar orang Kristen mewaspadai “Simon” ilusionis abad ke-21. Hal tersulit namun terpenting untuk dilakukan pada akhir zaman ialah mendeteksi para “Simon” ilusionis berpraktek di gereja-gereja. Terutama pada zaman ketika menjadi Kristen tidak akan kehilangan kepala kita melainkan akan mendapatkan nama. Apalagi kalau menjadi Kristen dikatakan akan mendapat berkat, menjadi kaya dsb..

Pertama Petrus menyatakan bahwa “hati Simon tidak lurus di hadapan Allah” (ayat 21). Kemudian Petrus menyatakan bahwa hati Simon telah seperti empedu yang pahit (23), dan terjerat dalam kejahatan. Simon tukang sihir dari Samaria ternyata aktif di gereja.

Siapapun yang digembalakan, atau terjerembab ke dalam kumpulan “Simon” ilusionis ini pasti akan binasa, karena Petrus berkata bahwa Simon akan binasa kalau ia tidak segera bertobat. Bertobatlah, bukan marah karena marah akan semakin mengukuhkan diri anda benar-benar “Simon” tukang sihir abad- 21.***DL

Sumber: PEDANG ROH Edisi 42 Tahun X Januari-Februari-Maret 2005

Demo Tuhan dengan Doa Puasa

Filed under: FUNDAMENTAL, RENUNGAN — dedewijaya at 1:09 am on Saturday, November 21, 2009  Tagged ,

Ibadah Puasa

Pada zaman P.L., atau lebih spesifik lagi sejak Taurat diturunkan hingga Yohanes Pembaptis tampil (Luk16:16, Mat.11:14), Allah memerintahkan bangsa Israel mendirikan ibadah simbolik untuk mengingatkan segala bangsa tentang janji Allah untuk mengirim Juruselamat.

Pada zaman ibadah simbolik, manusia beribadah dengan simbol. Domba yang disembelih menyimbolkan Sang Juruselamat, dan penyembelihannya menyimbolkan penghukuman atas dosa. Rituil ibadah dalam Bait Allah seluruhnya bersifat simbolik, atau bersifat bayangan (Ibr.10;1, Kol.2:16-17).

Pada zaman tersebut ibadah dilakukan secara lahiriah. Manusia diperintahkan menyembah secara lahiriah, dan segala sesuatu yang bersifat lahiriah seperti berdoa sambil sujud, berpuasa, semua dihitung sebagai ibadah. Intinya, segala sesuatu yang terjadi di dalam hati harus diekspresikan ke dalam bentuk luar yang terlihat oleh mata manusia.

Tujuan perintah ini ialah untuk mengingatkan manusia akan rahasia illahi yang masih tersembunyi pada saat itu (Kol.1:26). Rahasia Disingkapkan Akhirnya, setelah tiba waktu yang ditetapkan Allah (Gal.4:4) maka Allah menyingkapkan rahasia yang tersembunyi berabad-abad (Kol.2:26), yaitu kedatangan hakekat yang telah disimbolkan (disembunyikan) berabad-abad, yaitu Anak Allah menjadi manusia, menanggung dosa seisi dunia. Sejak pengumuman tentang kedatanganNya yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, maka genaplah tujuan seluruh ibadah simbolik lahiriah dalam P.L.. Itulah sebabnya Kristus berkata kepada wanita Samaria,“tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yoh.4:23).

Menyembah dalam roh dan kebenaran itu bukan seperti dukun lagi kesurupan dan berbahasa lidah, melainkan menyembah secara inside, artinya dengan hati dan roh bukan dengan tubuh jasmaniah. Dan tidak ada batasan ibadah yang bersifat lahiriah karena sejak ibadah itu bersifat inside dari dalam hati, maka tidak ada sesuatu yang bersifat lahiriah atau seremonial yang menandainya dan membatasinya.Tiap-tiap saatdalam hidup kita adalah ibadah, bukan pada saat datang ke gereja atau pada saat sedang nungging menyembah.

Sejak Yohanes mengumumkan kedatangan Mesias (Yoh.1:29), genaplah sudah seluruh rangkaian ibadah simbolik dengan segala simbol dan berbagai aturan yang mengikutinya, karena inti/hakekat yang disimbolkan telah tiba. Rahasia illah yang tersimpan berabad-abad dinyatakan di dalam Kristus Yesus. Itulah sebabnya sekarang kita boleh makan daging babi, dan murid-murid Tuhan tidak mengikuti aturan ahli Taurat dalam hal cara makan dan lain sebagainya (Mat.15:2, Mrk.7:5).

Murid Tuhan Tidak Puasa

Dan pasti akan mengagetkan banyak “pendeta” yang kurang baca Alkitab bahwa murid-murid Yesus tidak berpuasa. Dalam Luk.5:33 Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Nada sengit dari kalangan Farisi ini mencerminkan bahwa mereka tidak menyimak makna ibadah simbolik Perjanjian Lama. Mereka tidak tahu bahwa Yesus adalah Mesias yang menjadi pusat seluruh ibadah simbolik P.L. (Luk.24:44), dan kini kehadiranNya telah menggenapkan seluruh ibadah simbolik P.L..

Ibadah simbolik P.L. adalah ibadah yang harus terlihat oleh mata jasmani. Tidak cukup berdoa di dalam hati, melainkan harus disertai dengan tubuh yang disujudkan ke tanah. Dan sebagai simbol seseorang bisa tahan nafsu atau sangat serius maka ia harus berpuasa. Daging babi dan daging berbagai binatang khusus dipakai untuk menyimbolkan kenajisan, bahkan penyakit kusta yang hari ini kita ketahui akibat virus, dipakai untuk menyimbolkan kutukan.

Ibadah simbolik di Bait Allah harus diikuti oleh semua bangsa di muka bumi sebelum kedatangan Mesias karena di dalamnya terkandung janji Juruselamat bagi semua umat manusia. Tuhan sangat marah melihat para pedagang yang berkomplot dengan para imam memakai halaman Bait Allah yang semestinya dikhususkan kepada bangsa non-Yahudi, dipakai untuk menukar uang dan lokasi binatang korban. Tindakan mereka menyebabkan bangsa non-Yahudi tidak memiliki tempat untuk datang kepada Tuhan. Kemarahan Tuhan terhadap para pedagang bukan untuk melestarikan ibadah simbolik di Bait Allah, melainkan kecewa terhadap kesaksian orang-orang Yahudi.

Mestinya melalui mereka bangsa lain akan turut mengantisipasi kedatangan Mesias, namun sikap orang Yahudi yang tidak welcome telah menyebabkan sangat sedikit bangsa non-Yahudi memahami makna ibadah simbolik dan bersiap hati mengantisipasi kedatangan Mesias dan diselamatkan.

Tuhan Yesus berusaha merubah mereka dari beribadah secara simbolik ke ibadah secara hakekat. Tetapi sangat sulit karena ibadah simbolik telah dilakukan ratusan bahkan ribuan tahun. Gambarannya adalah seperti seorang pada usia dua puluhan meninggalkan kepada karyawannya dua puluh kilogram emas dan berpesan agar ia menjaganya dan tidak boleh mengijinkan siapapun menyentuh emas itu. Karena lama sekali tuannya tidak datang, sehingga setelah dua puluh tahun kemudian, karyawannya tidak mengenalnya lagi dan tidak memperbolehkannya menyentuh emasnya, padahal ia sendiri pemiliknya dan dialah yang menyuruh karyawan tersebut menjaganya.

Jadi karena saking lama ibadah simbolik diperintahkan dan dilaksanakan oleh bangsa Yahudi, sehingga ketika Allah sendiri datang, dan bermaksud menghentikannya karena yang disimbolkan telah tiba, malah mengalami kesulitan. Karena kesal, Tuhan Yesus sampai berkata, “Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat.12:8, Mrk.2:28, Luk.6:5). Ia berhak menetapkan aturan untuk menguduskan hari Sabat sebagai sebuah simbol ketaatan dan kehormatan kepada Allah, dan Ia juga berhak untuk mengatakan “kini tidak perlu lagi” karena simbol ketaatan dan kehormatan bisa dilakukan dengan bentuk hal lain, kini yang penting adalah hakekatnya.

Tetapi orang Yahudi tidak bisa terima. Mereka masih tetap mau memegang teguh peraturan hari Sabat, dan juga tetap mau menyelenggarakan doa puasa, sebagaimana hingga hari ini oleh sebagian orang Kristen juga. Sangat sulit bagi sebagian orang untuk memahami bahwa kita kini dalam zaman beribadah secara hakekat, secara hati, secara inside, bukan secara lahiriah apalagi perut.

Tanpa Faktor Jasmani

Pada zaman ibadah hakekat ini tidak ada kebenaran bahwa kalau perut kita dikosongkan maka Allah akan lebih mendengarkan doa kita atau ibadah kita lebih sejati. Kalau demikian maka berarti unsur isi perut turut mempengaruhi terjawabnya doa, atau khasiat ibadah. Ada juga yang menyertai doa puasa dengan doa semalam suntuk, dan sesudahnya tidur sehari suntuk.

Penulis sangat kuatir tindakan demikian terpengaruh oleh konsep asceticism Buddhisme, yang intinya menyakiti diri untuk menimbulkan belaskasihan dari Allah, yang dalam dunia psikologi disebut suffering-hero.

Ada yang menyela dengan berkata, “bukankah Yesus malam-malam berdoa di atas gunung?” Betul, itu karena Yesus tidak ada waktu untuk berdoa di siang hari, bukan doa semalam suntuk lalu tidur sehari suntuk.

Intinya, tidak ada ibadah yang mengandalkan faktor jasmani, atau tidak ada faktor jasmani yang mempengaruhi sikap Tuhan karena kini kita beribadah dengan hati, bukan dengan badan apalagi dengan perut. Jika manusia duniawi menuntut pemerintahan duniawi dengan mogok makan dan berbagai demonstrasi dan pemerintah mereka terpaksa mendengarkan mereka, namun tidak demikian dengan Allah pencipta langit dan bumi. Ia tidak terpengaruh oleh faktor luar manusia. Ia memberi kita hak untuk berdoa, dan akan mendengarkan doa orang yang hatinya percaya dan tulus kepadaNya.

Doa Puasa Yang Alkitabiah

Lalu mengapakah Tuhan Yesus mengatakan, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa” (Mat.17:21). Bukankah Yesus sendiri mengajarkan doa puasa dalam perikop Alkitab tersebut?

Memang benar, Tuhan tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh berpuasa, apalagi berdoa. Yesus berkata, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.Demikianjuga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik” (Lu.5:34-39).

Ketika murid-muridNya dikritik karena tidak berpuasa, Yesus menjawab si pengritik bahwa muridNya akan berpuasa, yaitu pada saat mereka betul-betul perlu berpuasa. Jadi, Tuhan mengajarkan doktrin baru tentang puasa, yaitu puasa bukan sebuah ibadah seremonial melainkan karena ada keperluan. Murid-muridnya akan berpuasa pada saat situasinya menuntut mereka berpuasa, yaitu pada saat Sang Mempelai diambil dari mereka. Selaras dengan Mat.17:21 bahwa dalam peperangan rohani dengan iblis, seseorang harus sungguh-sungguh serius, dan tentu keseriusan yang lebih dari mencari makan adalah tindakan yang sangat serius.

Intinya, puasa bukan sebuah ibadah sebagaimana pada zaman P.L., melainkan akibat dari sedemikian seriusnya perhatian seseorang terhadap sebuah masalah sehingga iamengabaikan makanan. Kasus Matius 17:14-21, yang bisa kita lihat juga dalam Mrk.9:14-29, dengan perbedaan dalam Injil Markus tidak dikatakan harus berpuasa tetapi hanya berdoa. Namun tidak mengapa karena sesungguhnya yang Yesus ingin tekankan ialah diperlukan keseriusan. Orang yang membawa anaknya tidak serius karena tidak bertemu Tuhan melainkan hanya muridNya sehingga kecewa dan kurang percaya kemampuan murid Yesus, sementara itu para murid juga tidak serius dan tidak percaya diri. Bahkan orangtua penderita menghina Tuhan dengan berkata, ‘jika engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” -Bukankah sangat jelas keraguan dan ketidakseriusannya?

Jadi, bukan berarti murid-murid kekurangan kuasa, seperti baterai sudah kurang daya dan perlu di-strom dengan doa puasa agar kemampuan arus listriknya bertambah. Doa puasa yang alkitabiah ialah yang terjadi secara spontan, atau tidak terjadwal, karena ada sesuatu yang lebih serius dari makan,sama sekali bukan ibadah seremonial, atau bentuk asceticism, atau tindakan “pengecasan” iman kekristenan.

Tuhan berkata bahwa pengajaran ini bagaikan anggur baru, dan tidak boleh ditaruh ke dalam kirbat (kantong) yang lama karena anggur baru akan mengoyakkan kantong lama. Penulis sadar bahwa banyak “kirbat lama” akan terkoyak hatinya ketika membaca tulisan ini. DanTuhanjuga berkata bahwa yang sudah biasa minum anggur lama (doktrin lama) tidak suka anggur baru (doktrin baru). Tetapi jika kita ingin menjadi sempurna, atau ingin hidup keagamaan kita lebih benar dari hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, maka kita harus menerima anggur baru. Sebab kata Tuhan, “jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat.5:20).

Sumber: PEDANG ROH Edisi 43 Tahun X April-Mei-Juni 2005

Doa Bapa Kami

Filed under: FUNDAMENTAL, RENUNGAN — dedewijaya at 1:01 am on Saturday, November 21, 2009

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin.] (Mat.6:9-13)

“Doa Bapa Kami” adalah doa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus untuk diajarkan kepada murid-muridNya. Di Indonesia, karena mengikuti tradisi Belanda dan Gereja Katolik, menyebutnya Doa Bapa Kami, sedangkan di Inggris dan Amerika menyebutnya Doa Tuhan (The Lord’s Prayer).

Untuk memahami Doa Bapa Kami, seseorang harus memahami beberapa hal. Pertama seseorang harus memahami bahwa kedatangan Tuhanyang pertama sesungguhnya adalah penggenapan janji Allah untuk mendirikan Kerajaan Daud yang tak berkesudahan yang kini kita menyebutnya Kerajaan Seribu Tahun (Kis.1:6-7). Seluruh pemberitaan dan pengajaran bagian awal pelayanan Tuhan difokuskan untuk tujuan tersebut. Kata Tuhan, jika bangsa Yahudi menerima Yohanes maka ia adalah Elia (Mat.11:13-14) yang berarti juga pasti akan menerima Yesus sebagai Mesias. Kata “jika” (ei) pada ayat 14 memiliki arti yang sangat penting. Kata ini mengandung unsur “kemungkinan”. Ayat ini bisa dimengerti hanya jika seseorang memahami hakekat “kehendak bebas” (free will) yang Allah berikan kepada manusia.

Tanpa memahami bahwa Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia sejak penciptaannya, tidak mungkin dapat mengerti kata if atau ei pada Matius 11:14. Kedua, Ternyata bangsa Yahudi tidak menerima Elia sehingga ia menjadi Yohanes Pembaptis. Penolakan terhadap Elia sama artinya dengan penolakan terhadap Sang Mesias yang diperkenalkannya. Dengan demikian maka Kerjaan Seribu Tahun atau Kerajaan Daud yang dijanjikan ditunda sehubungandengan penolakan bangsa Yahudi terhadap raja mereka.

Ketiga, menurut kitab Daniel, sebelum memasuki Kerajaan Daud atau Kerajaan Seribu Tahun, bangsa Yahudiakan memasuki satu masa yang disebut masa kesusahanYakub atau masa penganiayaan bangsa Yahudi.

Dinubuatkan dalam kitab Daniel pasal 9:27 bahwa itu adalah suatu kesusahan yang belum pernah terjadi. Jadi, khotbahTuhan Yesus dibukit dalam Matius pasal 5 hingga 7 adalah khotbah mengantisipasi pendengarNya untuk memasuki masa kesusahan selama 7 tahun. Jika sebagian besar bangsa Yahudi mengakuiNya sebagai Mesias yang berarti menerima Dia sebagai Raja, maka Yesus tetap akan disalibkan sesuai dengan nubuatan kitab P.L. dan pengikutNya akan mengalami penganiayaan selama 7 tahun oleh pemerintahan Romawi yang adalah pemerintahan dunia saat itu.

Tetapi kenyataan yang kita dapatkan adalah bahwa bangsa Yahudi menolak Yohanes dan menolak Mesias mereka. Untuk itu Rasul Paulus menjelaskan bahwa karena penolakan bangsa Yahudi, maka anugerah keselamatan dialihkan kepada bangsa non-Yahudi. Namun untuk memahami makna khotbah Tuhan Yesus dibukit yang tercatat dalam Matius 5 hingga 7, seseorang mutlak memahami tentang eschatology Yahudi.

Masa dimana kita sedang di dalamnya tidak terdapat dalam eschatology Yahudi. Bermodalkan back-ground knowledge inilah seseorang akan lebih memahami tentang Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami adalah sebuah pola yang Tuhan ingin diikuti oleh para muridNya dalam mengantisipasi penganiayaan yang akan mereka alami jika sebagian besar bangsa Yahudi menerimaNya. Ketika doa ini diajarkan, Yesus Kristus belum ditolak oleh bangsa Yahudi. Suasana saat itu ialah suasana mengantisipasi penganiayaan.

Khotbah Di Bukit yang tercatat dalam Injil Matius pasal 5 hingga 7 sesungguhnya adalah pengumuman Tuhan tentang karakter (5:1-16), undang-undang (5:17-48), dan prinsip-prinsip (6:1-7:29) kerajaanNya. Jadi “Doa Bapa Kami” termasuk dalam prinsip-prinsip Kerajaan Seribu Tahun yang Tuhan ajarkan kepada murid-muridNya untuk membekali mereka dalam memasuki masa penganiayaan 7 tahun sebagaimana dinubuatkan Daniel (Dan.9:27).

Keempat, Doa Bapa Kami adalah sebuah bagan doa, bukan doa hafalan seremonial yang harus di hafal dalam kebaktian. Kekristenan tidak memiliki mantra untuk dihafalkan yang jika dilakukan maka akan adakhasiatgaibnya. Ibadah Perjanjian Baru adalah ibadah didalam roh dan kebenaran, yaitu ibadah dengan hati. Pada hari Minggu kita tidak datang menyembah Tuhan di gereja, melainkan datang berjemaat. Kita menyembah Tuhan dengan hati kita, dan tidak terbatasi oleh waktu, tempat bahkan sikap tubuh kita. Pada Minggu pagi kita datang berjemaat, bernyanyi, berdoa, mempelajari kebenaran firman Tuhan, bukan untuk menyembah. Banyak orang Kristen tidak memahami ibadah sejati Perjanjian Baru. (Silakan baca buku Tata Cara Ibadah Yang Alkitabiah penerbit: GRAPHE)

Doa Bapa Kami adalah sebuah bagan doa yang Tuhan ajarkan kepada murid-murid-Nya. Sama sekali bukan untuk dihafalkan dan diucapkan seperti para dukun menghafal mantra, melainkan sebuah bagan yang point-pointnya sangat indah. Tiap-tiap kata, apalagi kalimat, mengandung makna yang sangat dalam. Misalnya, di dalam doa manusia, hal terpenting ialah posisinya dan posisi Sang Pencipta. Apa hubungannya dengan Sang Pencipta? Siapakah, atau dipanggil sebagai apakah Sang Pencipta itu?

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu

Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya memanggil Allah sebagai Bapa. Ia memberikan kepada mereka posisiNya (sonship) dengan mengajar mereka memanggil Bapa. Yudaisme tidak biasa memanggil Allah sebagai Bapa, walaupun berkali-kali para nabi mengungkapkan kerinduan Allah menjadi Bapa mereka. Mereka banyak kali memanggil-Nya Yahweh, atau Elohim. Tetapi Yesus mengajar murid-muridNya memanggil Bapa, suatu hubungan yang sangat intim. Yesus membawa pengajaran baru, bahwa setiap orang yang menyambutNya sebagai Mesias berhak memanggil Allah sebagai Bapa. Pencipta langit dan bumi adalah Bapaku, itulah sebabnya aku menyampaikan isi hatiku kepadaNya.

Dikuduskanlah namamu. Kekudusan nama Bapa adalah keinginan yang luhur dari seorang anak. Tanggung jawab utama anak ialah menjaga nama baik Bapa. Dalam meminta apapun kepada Bapa, jangan melupakan tanggung jawab untuk menjaga kekudusan namaNya. Bahkan dalam keadaan

apapaun, termasuk dalam penganiayaan, dalam kelaparan, nama baik Bapa harus dijaga. Jangan sampai ada yang menyangkal atau mencuri karena semua itu akan menghinakan nama Bapa.

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga

Orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias adalah orang yang merindukan Kerajaan Sorga. Terlebih lagi jika mereka dalam situasi penganiayaan, maka doa memohon kedatangan Kerajaan Sorga akan semakin dikumandangkan. Khotbah Yohanes Pembaptis adalah “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.3:2). Demikian juga thema khotbah Tuhan Yesus, “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.4:17).Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah orang-orang yang penuh harap akan kedatangan Kerajaan Sorga.

Orang benar akan semakin terhimpit dan akan semakin menemui kesulitan terutama ketika orang jahat semakin berkuasa. Kalau orang baik lebih kuat dan berkuasa,damailah bumi, namun sebaliknya jika orang jahat lebih kuat dan bekuasa maka suramlah bumi. Setiap orang kudus di muka bumi pasti akan sangat merindukan kedatangan Kerajaan Sorga yang penuh damai.

Jadilah kehendakmu di bumi seperti di Sorga. Setiap orang yang telah diselamatkan, yang memiliki kepastian masuk Sorga, dan yang sangat merindukan suasana sorgawi, harus sering mengucapkan dan menghayati kata-kata tersebut dalam doa. Ketika Kerajaan Sorga turun, yaitu kehadiran Kerajaan Daud, maka saat itu di bumi akan seperti di Sorga. Pada saat itu Mesias, singa muda dari Yehuda, Putra Daud akan memerintah selama-lamanya.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Jika mayoritas bangsa Yahudi menerima Yohanes sebagai Elia (Mat.11:14), yang berarti juga menerima Yesus sebagai Mesias, maka Kerajaan Romawi pasti akan memerangi mereka karena dengan meninggikan Mesias mereka akan dinilai memberontak. Pada tahun 70 AD pernah terjadi pemberontakan tetapi bukan dipimpin oleh Mesias. Jenderal Titus dari Roma datang mengepung kota Yerusalem sehingga penduduknya kelaparan berat.

Itulah sebabnya Sang Mesias dalam mengantisipasi pengikutnya yang jika mayoritas YahudimenerimaNya maka mereka akan menghadapi kesusahan berat, berdoa untuk makanan yang dibutuhkan tiap-tiap hari.

Lucu sekali jika hari ini, orang Kristen yang telah memiliki makanan untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, asal bunyi, menghafalkan doa ini tanpa memahami maknanya. Alangkah bagusnya kalau kata “kami” diganti dengan “orang miskin” atau nama seseorang yang kita tahu ia susah, daripada mengucapkan doa asal bunyi tanpa makna.

Makanan adalah kebutuhan yang paling utama dari kehidupan manusia. Ketika Tuhan mengajarkan bagan doa ini kepada murid-muridNya, Ia sedang mengantisipasi mereka memasuki masa penganiayaan tujuh tahun menjelang kedatangan Kerajaan Sorga ke bumi.

Pada saat itu betul-betul makanan hari lepas hari sangat penting, bukan tabungan di bank. Sekali lagi bagan doa ini tidak dimaksudkan untuk upacara seremoial, melainkan sebuah pola doa. Kapankah dalam doa seseorang ia meminta kebutuhan diriNya?

Tentu setelah ia tahu jelas siapa dia dan siapa Sang Pencipta. Dan tentu setelah ia merindukan kedatangan Kerajaan Sorga dan senantiasa menjaga kekudusan nama Bapa.

ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Tuhan Yesus pada Mat.18:21-35 dalam menjawab pertanyaan Petrus tentang berapa kali ia harus mengampuni saudara yang bersalah kepadanya, menceritakan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang tidak mau menghapus hutang saudaranya padahal ia telah menerima penghapusan hutangnya dari raja. Ketika raja mendengar tindakan kejamnya terhadap saudaranya maka raja pun marah dan membatalkan pengampunannya.

Bukankah sejak kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus semua dosa kita telah diampuni? Benar! Lalu mengapakah kita diajar berdoa memohon ampun? Hal yang perlu diperhatikan pertama ialah bahwa semua dosa kita ditanggung Tuhan Yesus sehingga di hadapan Allah Bapa kita adalah orang-orang kudus.Tetapi kita harusmengerti bahwa setiap kali kita jatuh ke dalam dosa, maka kita bersalah kepada Tuhan Yesus, Pribadi penanggung dosa kita.

Kedua, orang yang mendapat pengampunan Allah sepatutnya akan sangat rela mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Orang Kristen lahir baru bisa jatuh ke dalam dosa tetapi tidak memiliki sifat dosa. Membenci, mendendam adalah sifat dosa, bukan jatuh ke dalam dosa. Marah adalah tindakan dosa yang seketika (punctiliar), tetapi membenci atau mendendam bersifat terus menerus (linear). Itulah sebabnya dalam I Yoh.2:9,11, 3:15, 4:20 dikatakan bahwa orang yang membenci saudaranya tidak memiliki Allah. Dan kalau marah jangan sampai matahari terbenam karena itu akan berubah menjadi benci.

Selaras dengan perumpamaan yang dikatakan Tuhan kepada Petrus, Tuhan mengajar muridNya bahwa orang yang masih membenci saudaranya belum memiliki jaminan pengampunan Sang Raja. Atau sesungguhnya ia baru mendengar bahwa hutangnya telah diampuni namun belum memilikinya di dalam hatinya.

Tuhan mau ketika murid-muridNya berdoa terdapat ekspresi perubahan hati. Ketika seseorang dihapuskan hutangnya sebanyak sepuluh miliar, sepatutnya ia tidak menuntut saudaranya yang berhutang kepadanya hanya sepuluh juta karena pengampunan Sang Raja yang amat besar itu telah merubah hatinya. Tuhan mau dalam doa kita terdapat ekspresi sifat hati kita yang telah berubah. Setiap kali seorang murid berdoa, ia harus selalu ingat bahwa ia berbicara kepada Pribadi yang telah mengampuni semua dosanya dan ia harus juga telah mengampuni orang-orang yang bersalah kepadanya.

janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat

Bukankah Yakobus berkata bahwa Allah tidak mencobai dan dicobai? (Yak.1:13). Benar sekali, Allah tidak memiliki keinginan daging, dan juga tidak memiliki ambisi, bahkan tidak memiliki pikiran jahat. Hanya pada pribadi-pribadi yangmemiliki tendensi negatif tersebutlah yang bisa dicobai. Dan Allah juga tidak mencobai karena Allah tidak memiliki keingin menjatuhkan anak-anakNya. Pohon pengetahuan yang baik dan jahat di taman Eden hanya sebuah fasilitas bagimanusia yang diciptakan dengan kebebasan berpikir untuk mengimplementasikan kebebasannya dan membuktikan kesetiaannya. Untuk memahami kalimat tersebut di atas dengan baik, seseorang harus memahami bahwa doa ini untuk mengantisipasi masa kesusahan Yahudi (kepicikan) selama tujuh tahun.Kata “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” bisa diartikan “jangan membiarkan kami dicobai atau dianiaya”. Sebab anak kalimat berikutnya “lepaskanlah kami dari pada yang jahat” memberi penerangan tentang pencobaan yang dimaksudkan pada induk kalimatnya, ialah hal-hal yang jahat yang akan terjadi selama tujuh tahun. Artinya, Allah akan menjatuhkan hukuman atas dunia ini, dan karena hukumanNya termasuk bencana alam dan lain sebagainya, maka sulit bagimuridNya yang tinggal bersama-sama dengan orang jahat untuk dibedakan.

Kata “membawa kami” tidak perlu diartikan dengan tindakan seperti seorangmembawa anaknya untuk disuntik dokter. Sama seperti kata Tuhan “jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk.14:26). Ketika ada dua orang menuntut kita mengasihinya lebih dari yang lain, maka ketika kita memilih salah satu maka yang satunya biasanya menilai keputusan itu membencinya. Kata “membawa ke dalam pencobaan” bisa diartikan tidak menghindarkannya dari pencobaan atau membiarkannya dicobai.

Kita tahu bahwa ketika Tuhan menulahi Mesir Ia memang pernah membedakan kelompok Yahudi dari orang Mesir. Tetapi itu sangat tergantung pada jenis malapetakanya. Kalau gempa bumi, mungkin sulit untuk membedakan rumah anak Tuhan dan rumah orang jahat yang kebetulan letaknya bersebelahan. Lagi pula waktu di Mesir orang Yahudi tinggal di tempat yang terpisah dari orang Mesir.

Namun sekali lagi ini adalah bagan doa, dimana kini kita tahu bahwa dunia suatu hari pasti akan dihukum. Bahkan kita tahu Indonesia suatu hari akan (sedang?) dihukum atas dosa diskriminasi, dan dosa perkosaan, pembunuhan yang tidak pernah diusut dan diadili. Adalah tepat jika bagan doa yang Tuhan ajarkan terdapat point memohon agar Tuhan menghindarkan atau melepaskan kita dari cobaan kejahatan. Bahkan Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, kalau bisa cawan penderitaan salib berlalu dariNya. Tetapi tetap kehendak Bapa yang diutamakan. Kita berdoa kiranya Bapa melepaskan kita dari pencobaan, namun jika karena hukuman yang harus dijatuhkan terhadap orang-orang disekitar kita yang efeknya akan merembes ke kita, maka kita meminta Bapa memberi kekuatan kepada kita untukmenanggungnya. Bahkan sekalipun kita tidak akan masuk ke dalam penganiayaan 7 tahun karena kita telah diangkat, namun tetap boleh berdoa agar Tuhanmenghindarkan kita dari yang jahat.

Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

Kalimat ini pada Critical Text tidak ditemukan oleh sebab itu Lembaga Alkitab Indonesia menempatkannya dalam kurung. Tetapi kalimat ini ada dalam Textus Receptus karena sesungguhnya ada pada naskah asli tulisan Matius. Kalimat doxology ini jelas ada karena terdapat di banyak manuskrip kuno. Dan kalau itu dihilangkan terkesan putus di tengah jalan, atau belum diakhiri. Secara logika kita tahu bahwa dalam pekerjaan penyalinan ulang, lebih besar kecenderungan mengurangi daripada menambahi. Untuk itu seharusnya LAI tidak menaruh tanda kurung pada kalimat tersebut.

Kalimat tersebut di atas merupakan cetusan sikap hati yang menyembah. Dan juga terkandung di dalamnya sikap hati yang pasrah kepada Tuhan setelah menaikan permohonan doa kepadaNya. Pengakuan bahwa Allahlah yang empunya kuasa merupakan pengakuan penyerahan kepada kehendakNya. Biarlah Tuhan yang empunya kuasa yang melaksanakan kehendakNya dengan segenap hikmat dan kuasaNya.

Jangan berdoa dengan sikap memaksa Tuhan. Atau menganggap Tuhan semacam kuasa gaib yang pasif, yang kalau kita memenuhi semua persyaratan yang ditetapkanNya, atau bahkan menyebut barang yang kita minta dengan detail maka akan mendapat. Ada yang berdoa dengan suara membentak-bentak, ada yang berdoa dengan sikap mengklaim Tuhan seperti mengklaim asuransi.

Baiklah kita berdoa dengan sikap hati menyembah, seperti anak berbicara kepada Bapa yang baik, yang penuh kasih. Contohlah pola doa yang Tuhan ajarkan kepada kita. Tentu kita boleh berdoa dengan pola kita sendiri. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan ialah sikap hati kita. Berdoalah dengan hati, bukan dengan mulut yang asal bunyi, atau yang dihafalkan dalam prosesi upacara seremonial, karena bukan untuk itu Doa Bapa Kami ini Tuhan ajarkan. Ia mengajarkan sebuah pola doa, yang kalau kita mau berdoa kita bisa mengikuti bagan doa ini.

Dan tentu boleh dengan bebas memakai kata-kata kita sendiri. Amin. Artinya sungguh. Setiap doa harus diucapkan dengan sungguh, bukan dengan asal bunyi atau semacam hafalan.***

Sumber: PEDANG ROH Edisi 43 Tahun X April-Mei-Juni 2005

Menjejak Balik Benih GRAPHE Setelah Tertanam 10 Tahun

Filed under: FUNDAMENTAL, RENUNGAN — dedewijaya at 12:54 am on Saturday, November 21, 2009

Setelah melayani Tuhan sekitar enam tahun di sebuah gereja di Jakarta, akhirnya pada tahun 1993 Dr. Suhento Liauw memutuskan untuk berhenti menghabiskan waktu hidupnya secara sia-sia. Beliau memutuskan keluar untuk membangun pelayanan yang benar-benar berdasarkan Alkitab. Ada teman yang menganjurkan untuk menyewa ruko dan langsung memulai jemaat baru. Sekalipun domba sepatutnya mengikuti gembala bukan tetap tinggal di kandang, Dr. Liauw memandang bahwa tindakan membawa sebagian jemaat keluar untuk memulai jemaat baru kurang etis.

Akhirnya Dr. Liauw memutuskan untuk melanjutkan studi ke USA,Tabernacle Baptist Theiological Seminary, agar memiliki pengetahuan yang cukup untuk pelayanan ke depan yang pada waktu itu belum ada kepastian kota bahkan negaranya. Setelah mendapatkan visa, Dr. Liauw sekeluarga berangkat pada tanggal 30 Juni 1993 menuju Singapore, California, Denver, Chicago, Northfolk, dan akhirnya tiba di Virginia Beach,dijemput oleh Misionari Tom Crawford untuk dibawa menginap di Greathope Baptist Church. Mereka sekeluarga sempat berbakti beberapa minggu di gereja tersebut bahkan setelah mendapatkan apartment di dekat Tabernacle Baptist Church.

Selain berbakti di Greathope Baptist Church Dr. Liauw sekeluarga juga kadang-kadang berbakti di Tabernacle Baptist Church. Menyaksikan kegairahan gereja-gereja tersebut dalam pengutusan misi ke negara lain, memberitakan Injil, dan membangun jemaat, timbul dalam diri Dr. Liauw untuk kembali Indonesia setelah menyelesaikan studi nanti.

Hampir dalam setiap kebaktian dikhotbahkan tentang keselamatan dan tentang pemberitaan kabar keselamatan kepada orang yang belum diselamatkan (heathen).

Suatu hari Dr. Liauw membuka-buka Yellow Pages dan mendapatkan Chinesse Baptist Church. Di gereja tsb. mereka bukan hanya bertemu dengan para Chinesse bahkan seorang Indonesia Chinesse yang pernah tinggal di Kalapa Gading, Irene. Tetapi ternyata mereka digembalakan orang kulit putih yang memegang doktrin Injili. Dr.Liauw dan keluarga dikagetkan dengan baptisan yang disaksikan mereka yang dilakukan dengan percik. Baptist Church tetapi membaptis orang dengan percik, sungguh heran. Mereka terang-terangan mengindikasikan keinginan mereka agar Dr. Liauw menjadi gembala mereka.

Secara kemanusiaan sebenarnya terbuka kesempatan bukan hanya bisa mendapatkan green-card, bahkan bisa langsungmengajukan citizenship sehubungan dengan jabatan Gembala dari Chinesse Baptist Church. Menurut undang-undang di USA, seseorang atau organisasi boleh mempekerjakan warga negara lain atas pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh warga USA. Chinesse Baptist Church tinggal membuat pernyataan bahwa mereka tidak bisa mendapatkan Pastor yang bisa berbahasa Chinesse sekaligus berbahasa Inggris. Tetapi karena dorongan untuk kembali ke Indonesia sedemikian besar maka yang dipikirkan hanyalah setelah selesai akan kembali untuk membangun jemaat alkitabiah di Indonesia.

Akhirnya Dr. Liauw memutuskan tidak berbakti di gereja tersebut lagi. Selain doktrinnya tidak alkitabiah, Gembala mereka juga merasa Dr. Liauw akan merebut posisinya. Dan mereka dibesuk oleh diaken dan yang lain-lain. Dan Irene membocorkan keinginan jemaat agar Dr. Liauw yang menggembalakan jemaat tersebut dimasa yang akan datang. Gembala kulit putih yang membaptis percik itu bukan gembala ideal kami, demikian ngaku Irene. Karena tidak ada gembala Tionghoa yang memegang doktrin Baptis yang bersedia menjadi gembala kami maka kami terpaksa menerimanya. Sebelumnya gereja kami belum pernah membaptis dengan percik, ngakunya.

Dr. Liauw dengan halus menolak karena merasa hanya terpanggil untuk kembali ke Indonesia membangun gereja alkitabiah. Dan mereka sekeluarga menyerahkan diri menjadi anggota jemaat Tabernacle Baptist Church. Setelah setahun belajar dan mendengarkan kesaksian para misionari yang silih berganti datang memberikan presentasi di hadapan mahasiswa tentang kebutuhan Injil di ladang misi, maka keinginan Dr. Liauw untuk pulang ke Indonesia membangun gereja alkitabiah semakin kuat. Rasanya sangat malu, jika orang-orang Amerika rela meninggalkan negeri mereka untuk memberitakan Injil di Asia (Indonesia), masakan orang Asia yang jauh lebih memahami kultur Asia malah tidak mau pulang. Sesungguhnya benih jemaat GRAPHE di Indonesia tumbuh di Amerika. Benih itu disiram terus dengan khotbah-khotbah di chapel yang selalu mendorong mahasiswa pergi memberitakan Injil. Khotbah-khotbah Dr. Rod Bell, Sr. juga telah menyebabkan benih itu semakin siap di tanam, apalagi ditambah dengan mission conference (kebaktian misi) yang setahun sekali diadakan untuk menghimbau jemaat menyumbang pekerjaan misi sekaligus menghimbau orang muda pergi ke ladang misi.

Pada beberapa bulan pertama Dr. Liauw dan Istri (Lie Lin) beserta putra pertama (Steven) dan putra bungsu (Andrew) sempat stress karena ternyata di kalangan Fundamentalis tidak dikenal yang namanya sponsor untuk orang sekolah theologi. Semua mahasiswa harus bekerja secara part-timer. Dr. Liauw dan keluarga tidak keberatan untuk bekerja, namun sebagai orang asing mereka tidak diperbolehkan untuk bekerja. Mereka sempat berpikir, bagaimana kalau uang yang dibawa habis sementara kuliah belum selesai.

Tetapi Tuhan nyatakan dengan berbagai cara bahwa Ia menyertai mereka sehingga yakinlah mereka bahwa keputusan mereka adalah kehendak Tuhan. Tuhan meyakinkan mereka melalui hal-hal yang ajaib. Sejak mereka berhenti berdoa untuk sponsor, melainkan mengucap syukur atas kasih karunia Tuhan, maka Tuhan membuka mata mereka bahwa Ia menyertai mereka. Berkali-kali mereka membuka pintu apartment dan mendapatkan kotak (kardus) yang berisikan berbagai keperluan rumah tangga hanya dengan tulis for Suhento’s family. Terlalu banyak kasih karunia yang telah mereka alami, dan rasanya tidak cukup untuk menceritakan semuanya dalam artikel yang terbatas ini.

Sekalipun TabernacleBaptist Theological Seminary tidak terlalu besar, namun dosennya cukup banyak. Dr. Thomas Strause adalah dekan Akademik dan seorang theolog yang sangat terkenal di kalangan Fundamentalis. Beberapa kali beliau tampil di TV melakukan debat terbuka dengan berbagai kalangan. Dr. Liauw menyadari kepintaran dan kemampuan akademik beliau sehingga memanfaatkan kesempatan untuk belajar sebanyak mungkin darinya. Pelajaran disampaikan selain melalui kelas pagi juga kelas malam dari jam 18.00 hingga jam 21.15. Karena memakai Sistem Kredit Semester yang penuh dan tersedia kelas pagi maupun malam, maka terbuka peluang untuk belajar secara cepat bagi yang rajin.

Bahkan juga disediakan kelas Summer (musim panas) dan kelas Winter (musim dingin) bagi yang tidak mau libur. Akhirnya setelah mengikuti kelas pagi maupun malam, dan kelas Summer maupun Winter selama dua tahun penuh, dan berhasil mempertahankan Thesis di hadapan enam orang doktor yang menguji beliau selama kurang-lebih tiga jam, akhirnya beliau berhak menyandang gelar Doktor of Religious Education (DRE).

Setelah diwisuda, selanjutnya dalam pikiran Dr. Liauw adalah kembali ke Indonesia untuk memulai pelayanan yang betul-betul berlandaskan Alkitab dan berjalan sesuai dengan Alkitab tanpa kompromi. Sebelum pulang Dr. Liauw beserta keluarga sempat berkendaraan ke Woshington DC untuk melihat ibukota USA dan melihat-lihat Bob Jones University di South Carolina, karena selama dua tahun belajar siang-malam tidak pernah jalan-jalan.

Ketika berangkat pulang, mereka sempat berhenti di California dan menginap di rumah Pak Kuna. Lulu Kuna mentraktir mereka sekeluarga ke Diysneland dari pagi hingga jam 24.00 malam. Dan Yen Ling membantu mereka mendapatkan visa ke Taiwan. Di Taiwan disambut oleh teman-teman hamba Tuhan yang berasal dari Jakarta, dan dibelikan durian karena telah dua tahun tidak makan durian. Mereka jalan-jalan di Tai Pe selama tiga hari.

Dari Tai Pe mereka berangkat ke Hongkong. Ternyata berita kedatangan mereka ke Hongkong telah diketahui oleh orang Kristen Indonesia Hongkong, dan kebetulan Rabu malam ada persekutuan doa sehingga Liauw diminta berkhotbah. Beberapa majelis berkata bahwa kedatangan Dr. Liauw adalah kehendak Tuhan dan merupakan jawaban Tuhan atas doa mereka karena telah bertahun-tahun mereka berdoa untuk seorang gembala jemaat. Mereka menjamu keluarga Dr. Liauw dan memintanya menjadi gembala bahkan akan mendaftarkan Steven dan Andrew ke International School. Mereka berkata bahwa segalanya telah tersedia termasuk pastori untuk keluarga gembala.

Namun Dr. Liauw tetap teguh menjawab bahwa akan kembali ke Indonesia. Mereka menyangka telah ada gereja besar di Jakarta yang lebih dulu meminta Dr. Liauw. Mereka sangat kaget ketika mendengar bahwa belum ada jemaat bahkan nanti tiba di Jakarta baru akan memulai jemaat. Mereka membujuk amat sangat, sehingga keluarga Dr. Liauw hampir menjadi orang Hongkong.

Akhirnya tiba di Jakarta Minggu malam 18 Juni 1995. Dan dalam satu minggu menyiapkan kebaktian pertama pada tanggal 25 Juni 1995 di kantor Pak John Efendi. Sejak hari itu tantangan demi tantangan menghadang jemaat yang hanya belasan orang itu. Dalam dua tahun pindah enam kali karena tidak ada dana untuk membeli bahkan tidak ada dana untuk mengontrak tempat kebaktian. Orang-orang yang pernah meminjamkan tempat antara lain; John Efendi, Rusli Karman, Lie I Tju, Budiarto, Gemindo, dan terakhir di pinjamkan oleh Yohanes yang kemudian gedungnya dibeli oleh GRAPHE. Kasih karunia Tuhan patut direnungkan, terutama disaat GRAPHE hampir sepuluh tahun, satu dekade.***

Sumber: PEDANG ROH Edisi 43 Tahun X April-Mei-Juni 2005

Berita Mingguan 14 November 2009

Filed under: News — dedewijaya at 12:51 am on Saturday, November 21, 2009
Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

PEMBUNUHAN MASSAL DI MARKAS MILITER AMERIKA ADALAH TINDAKAN TERORISME ISLAM
Walaupun sebagian pejabat-pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh media mencoba untuk menyalahkan hal-hal lain, jelas bahwa pembunuhan massal yang dilakukan oleh Nidal Malik Hasan terhadap 13 orang, dan melukai 31 lainnya, di Markas Militer Fort Hood, Texas, adalah sebuah tindakan terorisme Islam. Hasan berteriak “Allahu Akbar” (”Allah Maha besar”) sebelum meulai menembak, dan salah seorang tetangganya berkata bahwa Hasan memberikan kepadanya sebuah Quran jam 9 pagi hari itu sebelum ia berangkat ke markas dan ia berkata, “Saya akan melakukan pekerjaan baik bagi Allah” (”For Hood Gunman Had Told US Military Colleages That Infidels Should Have Throats Cut,” Telegraph, London, 8 Nov. 2009). Hasan memberitahu beberapa orang temannya bahwa “orang-orang tidak percaya” (kafir) seharusnya dipotong lehernya dan bahwa mereka seharusnya dibakar. Sebelumnya, masih di musim panas yang baru lalu ini, ia menyoraki penembakan mati seorang perekrut Little Rock Army oleh seorang Muslim (”The Military’s Blunders,” New York Post, 7 Nov. 2009). Dalam sebuah ceramah di Walter Reed Army Medical Center (dia bekerja di situ sebelum dipindahkan ke Fort Hood pada bulan Juli tahun ini), Hasan mengeluarkan unek-uneknya bahwa “orang-orang yang tidak percaya harus dipenggal kepala dan dituangkan minyak mendidih ke kerongkongan mereka.” Ketika ditugaskan di Walter Reed, Hasan menghadiri mesjid Dar al-Hijrah berbarengan dengan dua orang yang termasuk teroris peristiwa 11 September (”Fort Hood Shooting: Texas Army Killer Linked to September 11 Terrorists,” The Telegraph, 7 Nov. 2009). Imam yang menjabat saat itu adalah Anwar al-Awlaki, yang sekarang tinggal di Yemen. Charles Allen, mantan pembantu-sekertaris bagian intelijen di Departemen Homeland Security, menggambarkan dia sebuah “seorang pendukung al-Qaeda yang menargetkan orang-orang Muslim USA dengan ceramah-ceramah online yang bersifat radikal mendukung serangan-serangan teroris.” Val Finell, seorang dokter angkatan darat yang belajar bersama dengan Hasan, mengatakan bahwa dia dan teman-teman lain mempertanyakan kesetiaan Hasan terhadap Konstitusi USA dan komitmennya terhadap pertahanan Amerika (”Officials: U.S. Aware of Hasan Efforts to Contact al Qaeda,” ABC News, 9 Nov. 2009). Dr. Finnel mengatakan bahwa kebanyakan perwira tidak mengajukan komplian karena “takut seolah-olah diskriminasi terhadap seorang tentara Muslim” (”Fort Hood Gunman Had Told US Military Colleagues,” The Telegraph, 8 Nov.) Hal ini mengekspos kebodohan “sikap harus benar secara politis” yang telah melanda militer USA, yang kini lebih semangat untuk menyenangkan para feminis, aktivis lingkungan, orang-orang Muslim, dan para pengacara, daripada melakukan tugasnya untuk melindungi Amerika dari semua musuh. Namun demikian, akar permasalahannya bukanlah kelemahan pihak militer; akar permasalahannya adalah kesesatan dan sikap penakut dari para pengkhotbah bangsa tersebut (USA), yang menolak untuk memproklamirkan takut akan Allah dengan berani dan tanpa kompromi. Sebagai hasilnya, bangsa ini telah kehilangan hikmat dan kuasanya. Jadi, solusinya, dari pihak orang-orang percaya, adalah utuk tidak berfokus pada politik atau menenggelamkan diri ke dalam talkshow-talkshow konservatif di radio; solusinya adalah berfokus pada kesalehan, dalam kehidupan pribadi kita dan dalam gereja-gereja kita. “Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka” (2 Taw. 7:14).

PARA EKUMENIS MERAYAKAN ULANG TAHUN “PERSETUJUAN TENTANG PEMBENARAN”
Tanggal 31 Oktober yang lalu, berbagai gereja-gereja liberal yang ekumenis merayakan ulang tahun kesepuluh penandatanganan “Joint Declaration on the Doctrine of Justification” (Deklarasi Bersama tentang Doktrin Pembenaran). Wakil dari Gereja Roma Katolik dan Federasi Dunia Lutheran menandatangani dokumen tersebut tanggal 31 Oktober 1999, dan Konsili Methodis Sedunia menandatanganinya pada tahun 2006. Banyak orang-orang Injili yang “tertipu” telah memuji deklarasi tersebut, dan mengklaim bahwa Roma kini setuju dengan para “Protestan” mengenai doktrin ini, tetapi pada kenyataannya Roma sama sekali tidak mengalah dalam hal apapun dalam deklarasi yang di rancang dengan sangat pintar tersebut. Dokumen ini mempertahankan Injil sakramental Roma yang sesat dalam segala seginya, yaitu bahwa pembenaran adalah IMPARTASI (pemberian) hidup yang baru kepada orang berdosa sehingga dia dimampukan untuk mengenal dan mencari Allah, dan ini adalah sebuah PROSES yang mulai dari baptisan dan memerlukan pekerjaan baik dan partisipasi dalam sakramen-sakramen gereja. Poin nomor 11 dalam Deklarasi Bersama itu berbunyi, “Pembenaran. …terjadi saat penerimaan Roh Kudus dalam baptisan…” Konsili Trent mengutuki semua orang yang berani mengatakan bahwa pembenaran adalah hanya melalui iman dan hanya karena kasih karunia oleh penebusan Kristus yang sempurna, dan deklarasi ekumenis ini sama sekali tidak menarik kembali kutukan itu satu iotapun. Perhatikan pernyataan berikut ini dari sesi keenam konsili Trent: “Jika ada orang yang mengatakan bahwa iman yang membenarkan tidak lain adalah keyakinan akan belas kasihan ilahi, yang mengampuni dosa demi Kristus, atau bahwa keyakinan ini sajalah yang membenarkan kita, BIARLAH DIA ANATHEMA” (Canons Concerning Justification, Canon 12). Jika Gereja Roma Katolik tiba-tiba setuju dengan orang-orang non-Katolik yang percaya Alkitab bahwa keselamatan hanyalah karena kasih karunia melalui iman dalam pengorbanan Kristus yang sempurna dan mencukupi TANPA PEKERJAAN ATAU SAKRAMEN ATAU BAPTISAN ATAU KEIMAMATAN, maka ia akan mengutuki sendiri para pausnya yang terdahulu. Untuk informasi lebih banyak lagi mengenai hal ini silakan lihat artike-artikel berikut dalam di www.wayoflife. org: “Liberal Lutherans and Roman Catholics Agree to Deny the Gospel” dan “How the Roman Catholic Church Denies Salvation by Grace Alone.”

PEKAN RAYA PERCERAIAN DI PARIS MENARIK RIBUAN ORANG
Paris menjadi tempat paling pertama di Perancis yang mengadakan pekan raya perceraian tanggal 7-8 yang lalu, dan kira-kira 4000 orang ikut serta. Di Perancis, hampir satu dari setiap dua pernikahan berakhir dengan perceraian, dan pekan raya “New Start” diadakan untuk memberikan pelayanan bagi pangsa pasar yang besar ini. Orang-orang yang hadir dapat berkonsultasi dengan pengacara dan peramal kartu tarot, mengunjungi spesialis-spesialis remodeling, membukukan janji dengan ahli-ahli bedah plastik, dan meningkatkan rasa percaya diri mereka dengan para pelatih rasa percaya diri. Seminar-seminar tersedia yang bertajuk mulai dari “Bagaimana cara merayu kembali partner anda dengan metode Gestalt,” hingga “Bertemu di Web.” Brigitte Gaumet, organizer dari pekan raya tersebut mengatakan bahwa dia mendapat ide ini setelah Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menceraikan istri kedua segera setelah mendapatkan jabatan. “Bagi saya,” dia berkata, “hal itu memperjelas bahwa perceraian sudah kehilangan stigma dan bahwa hal itu adalah hal yang lazim” (”Paris New Fair Targets Divorce Market,” AP, 9 Nov. 2009). Perceraian selalu adalah sebuah tragedi, dan walaupun ia adalah realita dalam dunia yang terkutuk oleh dosa ini, dan kadang-kadang tidak dapat terhindarkan, perceraian seharusnya tidak boleh pernah didukung atau dirayakan. Hancurnya pernikahan di seluruh dunia adalah tanda dari akhir zaman: “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” (Maz. 2:1-3).

BINTANG FILM MEROBEK IMAMAT 18:22 DARI ALKITAB-ALKITAB
Ian McKellen, seorang bintang film Inggris yang populer memerankan tukang sihir Gandalf dalam “Lord of the Rings,” mengatakan dalam sebuah wawancara dengan majalah Detail bahwa ia merobek Imamat 18 dari Alkitab-Alkitab di kamar-kamar hotel. McKellen, seorang homseksual mengatakan, “Saya tidak bangga karena merusak buku itu, tetapi pilihannya adalah apakah saya menghilangkan halaman itu atau saya membuang seluruh Alkitabnya” (”Ian McKellen Rips Leviticus,” Popeater.com, 2 Nov. 2009). Pada kenyataannya, seluruh Alkitab menghukum homoseksualitas. Hal ini sudah mulai sejak kitab pertama Alkitab, yaitu dengan penetapan pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita sebagai konteks yang diperbolehkan secara ilahi untuk hubungan seksual. Allah tidak membuat seorang Hasan bagi Adam, Dia membuat seorang Hawa. Kitab terakhir dalam Alkitab juga melanjutkan serangan terhadap homoseksualitas. Yohanes mengatakan bahwa mereka yang masuk ke dalam lautan api termasuk “orang-orang keji” (Wah. 21:8), dan homoseksualitas adalah salah satu hal yang dinyatakan keji dalam Firman Tuhan. Suatu jalan penyelamatan yang mulia telah disediakan bagi manusia melalui pengorbanan Anak tunggal Allah, tetapi mereka yang merobek halaman-halaman tertentu dari Firman Allah dan dengan demikian menyangkali kekudusan dan penghakiman adil Allah atas dosa, tidak akan mendapat bagian dalam kasih karunia dan belas kasihanNya. Kamu tidak mungkin selamat kecuali kamu mengakui bahwa kamu orang berdosa yang memerlukan keselamatan.

Demo Tuhan Dengan Doa

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 12:42 am on Saturday, November 21, 2009

Supaya tuntutan mereka didengarkan, para mahasiswa dari berbagai universitas mengumpulkan teman mereka sebanyak mungkin menuju gedung DPR. Mereka membawa berbagai spanduk, bahkan pengeras suara untuk memastikan keinginan hati mereka terdengar.

Rakyat Ukraina beramai-ramai turun ke jalan memprotes hasil pemilu yang mereka nilai curang. Hasilnya luar biasa yaitu pemilu ulang sehingga jago mereka keluar sebagai pemenang. Lawannya tidak berani berbuat banyak, mau tidak mau harus menyerahkan kekuasaan kepada yang paling banyak pendukungnya.

Setelah pembunuhan Hariri (mantan PM Libanon), rakyat Libanon turun ke jalan menuntut Perdana Menteri mundur dan pasukan Syria ditarik dari Libanon. Mereka berhasil karena jumlah rakyat yang turun ke jalan sangat signifikan.

Bahkan kita semua tentu masih ingat bahwa Suharto diturunkan oleh demo mahasiswa besar-besaran di gedung DPR. Seorang yang telah berkuasa lebih tiga puluh tahun, yang ditakuti oleh para lawan politiknya, dan yang keinginan hatinya tidak boleh dibantah, akhirnya tunduk kepada permintaan para mahasiswa yang berdemo.

Pungut Konsep Duniawi

Mungkin karena hal-hal tersebut di atas, maka sejumlah “pendeta” mendapat ide untuk mengadakan National Prayers Conference atau acara doa dengan jumlah orang besar-besaran. Sudah berulang kali kita mendengar digelarnya acara rally doa dengan berbagai tema di Senayan, di Monas dan berbagai tempat.

Bagi seorang yang biasa berpikir kritis, tentu akan timbul pertanyaan, apakah dengan jumlah orang berdoa yang banyak maka Tuhan akhirnya seperti Suharto atau presiden Syria akan tunduk kepada permintaan mereka? Mereka membayangkan Tuhan seperti seorang penguasa otoriter yang angkuh, apalagi Tuhan dikatakan mahakuasa yang tentu lebih dari presiden manapun. Jadi agar Ia mau mendengar maka diperlukan pendoa yang sebanyak-banyaknya?

Sungguh sangat mengherankan penulis karena para “pendeta” yang telah mempunyai nama besar pun ternyata memiliki konsep doa yang sifatnya demo Tuhan. Apakah karena belakangan ini marak demo-demoan di berbagai belahan dunia sehingga timbul ide mendemo Tuhan? Atau saking putus asanya mereka menghadapi berbagai persoalan dan tidak terjawabnya doa sehingga turut mengiyakan konsep demo Tuhan dengan doa yang mengandalkan jumlah pendoa.

Apakah Tuhan akan mendengar dan menjawab doa karena didoakan oleh jumlah orang yang sangat banyak? Kalau bagi penulis tindakan demikian adalah hasil penyusupan iblis sebagai penasehat ke dalam kekristenan. Hasil yang akan segera diperoleh ialah digelarnya tablik akbar sebagai tandingan. Kaum Muslim akan merasa seolah-olah mereka akan dikalahkan oleh orang Kristen. Mereka pasti akan berusaha bukan saja menggelar tablik akbar, bahkan lebih dari itu. Mereka akan mendirikan islamic center di berbagai daerah, melakukan perlawanan yang lebih gigih dan lebih militan di berbagai lini kehidupan rakyat Indonesia.

Proyek Mercusuar

Pada masa lalu sering kita dengar gembar-gembor tentang berbagai visi antara lain, kasih melanda Jakarta, kasih melanda Indonesia dan berbagai slogan yang terdengar merdu di kuping orang Kristen, namun tidak demikian di kuping kaum Muslim.

Ada orang yang sangat senang dengan proyek glamor tanpa merenungkan efeknya terhadap seluruh kekristenan di Indonesia. Menyelenggarakan KKR besar-besaran di Istora Senayan hingga mengerahkan ratusan bus serta mengkoordinasi orang Kristen berbagai gereja untuk hadir. Hasilnya adalah digelarnya acara tandingan berupa berbagai tablik akbar silih berganti. Sang “pendeta” memang mendapat nama besar melalui acara demikian, dan akan terdengar sangat populer. Namun betulkah ada jiwa yang sungguh-sungguh diselamatkan oleh khotbah yang disampaikan di tengah hiruk-pikuk manusia yang sedemikian banyak? Ada yang menjawab, tentu ada! Tetapi bagimana jika dibandingkan dengan efek negatif yang dihasilkannya?

Khusus di negara dengan Muslim mayoritas bahkan negara Muslim terbesar di dunia, bijaksanakah seseorang mencari popularitas diri sambil mengorbankan seluruh kekristenan dan pelayan-pelayan Tuhan yang tulus di pelosok-pelosok? Tidakkah tindakan demikian telah membangunkan harimau tidur, dan telah memicu militansi, bahkan sikap memblokir kekristenan di segala bidang dengan kuasa pemerintahan yang dimiliki mereka?

Berlomba mengadakan KKR dengan jumlah pengunjung yang banyak, membangun gedung yang lebih tinggi, jumlah jemaat yang lebih banyak hingga dijuluki gereja terbesar di Indonesia, Asia Tenggara, bahkan terbesar di dunia, semuanya berbau materi, jasmani dan duniawi.

Mereka berkhotbah tentang kesombongan sementara itu kesombongan mereka sendiri semakin memuncak dan diserukan dari atas mimbar. Betulkah Tuhan menghendaki gereja terbesar, tidakkah Tuhan lebih suka ada gereja di mana-mana sekalipun kecil? Yang membutuhkan gedung termegah atau tertinggi itu Tuhan atau pendeta yang gila popularitas?

Kecil Tetapi Banyak

Secara manusia kita semua memiliki keinginan untuk dikenal, disanjung, dipuji bahkan diagung-agungkan. Tetapi sejak diselamatkan, atau dilahirkan kembali, Tuhan perintahkan agar kita berusaha melawan keinginan itu. Usaha demikian disebut menyangkal diri. Kata Tuhan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23). Gereja yang terlalu besar tentu tidak efektif untuk digembalakan.

Ia hanya efektif untuk dibanggakan atau untukmeninggikanego.Dari segi keefektifan penggembalaan maupun dari keefektifan fungsi penjangkauan keluar atau bersaksi keluar, tentu gereja kecil yang ada dimana-mana jauh lebih efektif daripada satu saja yang besar. Lebih baik banyak batangan lilin kecil yang tersebar di setiap ruangan bahkan setiap sudut rumah daripada sebatang lilin yang besar

di sebuah ruangan saja. Indonesia bagaikan sebuah rumah besar yang banyak kamar tetapi diliputi kegelapan. Supaya semua ruangan mendapat bagian sinar kebenaran, Tuhan bagaikan tuan pemilik rumah menghendaki adanya sinar di setiap sudut rumah, sedangkan pembantunya yang nakal dan egois menghendaki hanya ada sebuah lilin yang besar di kamarnya saja.

Membangun gereja terbesar di Indonesia, atau terbesar di Asia Tenggara, atau terbesar di seluruh Asia bahkan terbesar di seluruh dunia, adalah efek ego (diri) yang sangat tinggi. Sifat ini terdapat pada para pemimpin dunia yang tentu tidak dilahirbarukan di dalam Tuhan. Mereka berlomba membangun gedung tertinggi di negara mereka masing-masing. Padahal terhadap anak-anak Tuhan yang telah lahir baru Tuhan perintahkan agar kita menyangkal diri.

Bagi Kristen-bayi apalagi Kristen KTP, membangun gedung gereja terbesar di dunia akan terdengar sangat mulia bahkan sangat menggairahkan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kebanggaan, kemashyuran, ketenaran nama gereja, bukan keefektifan pemberitaan Injil. Sesungguhnya bagi Tuhan maupun rasul-rasul, gedung gereja tidak ada artinya sama sekali. Mereka berbakti dirumah-rumah (Flm.1:2), dan tersebar di mana-mana.

Sampai saat seluruh rasul pulang ke Sorga (+ 100 AD) tidak tercatat ada gedung gereja yang besar atau jemaat terbesar di Asia Kecil atau Timur Tengah. Mereka tidak membanding-bandingkan ukuran sebuah jemaat dan tidak berusaha membangun sesuatu yang bersifat materi, jasmani dan duniawi karena bukan itu yang dipertandingkan melainkan efektifitas pemberitaan Injil dan pengajaran kebenaran.

Mereka berusaha keras agar di tiap-tiap kota, atau desa ada gereja. Tidak bisa dipungkiri bahwa ukuran sebuah jemaat yang efektif ialah antara lima puluh hingga dua atau tiga ratus orang. Jika terlalu kecil sangat dikuatirkan tidak akan sanggup membiaya kehidupan Gembala Jemaat apalagi melaksanakan tugas penginjilan dan pengutusan pembangunan jemaat baru. Tetapi jika terlalu besar tentu akan sulit digembalakan, bahkan akan sulit bagi Gembala Jemaat untuk mengenal tiap-tiap anggota jemaatnya. Intinya, yang diutamakan bukanlah ukuran sebuah jemaat tetapi terdapat jumlah jemaat yang banyak dan tersebar di mana-mana. Khusus di negara mayoritas Islam, ukuran jemaat yang besar pasti akan menimbulkan kedengkian yang sudah pasti akan diikuti dengan semua tindakan negatif. Hasil akhirnya adalah kerugian di pihak kekristenan secara keseluruhan.

Jemaat Adalah Tubuh Kristus

Anti-Kristus pasti akan menguasai dunia sebagaimana telah dinubuatkan dalam kitab Daniel pasal 2 yang digambarkan dengan patung dalam mimpi Nebukadnezar. Kerajaan anti-Kristus disimbolkan pada bagian kaki yang terdiri dari besi campur tanah liat.

Demikian juga dalam kitab Wahyu pasal 13 diberitahukan bahwa anti-Kristus dengan simbol 666 akan menguasai dunia sehingga semua manusia tunduk kepadanya. Satu pemerintahan dunia (one world governement) dan satu ekonomi dunia (one world economy) serta satu agama dunia (one world religion) adalah tujuan akhir anti-Kristus dalam memerangi Sang Pencipta. Dengan terkumpulkannya seluruh kekuasaan ke dalam tangannya, baik politik, ekonomi maupun agama, maka ia akan memaksa setiap manusia menyembahnya sebagai Allah. Ini adalah final-goal anti-Kristus.

Sebelum mempersatukan seluruh agama menjadi satu agama dunia yang dikendalikannya, tentu ia harus mempersatukan kelompok-kelompok dari masing-masing agama. Sudah pasti ia akan mempersatukan kekristenan kebawah satu organisasi yang memiliki kewenangan untuk menindak. Agar orang Kristen tidak menolak untuk disatukan melainkan antusias untuk disatukan, anti-Kristus menghembuskan Doktrin Gereja Universal yang percaya bahwa tubuh Kristus itu satu dan meliputi kekristenan(gereja) secara universal.

Artinya satu tubuh terdiri dari seluruh gereja (kekristenan) diseluruh dunia. Dengan konsep ini semua pemimpin gereja akan berusaha keras untuk menyatukan seluruh gereja ke bawah sebuah organisansi. Menurut Michel de Semlyen dalam bukunya All Roads Lead to Rome, (Bucks, England: Dorchester House Publication) semua gereja akan masuk kembali ke dalam genggaman vatikan. Menurutnya, Gereja Roma Katolik dengan ordo Jesuitnya telah bekerja secara rahasia menggalakkan gerakan ekumene untuk mempersatukan seluruh gereja dan menggiring mereka masuk kembali ke dalam Gereja Roma Universal (Catolic/Am). Kelihatan sekali terutama oleh orang yang memiliki ketajaman mata rohani bahwa ada gerakan dengan kuasa yang besar untuk menggeser gereja-gereja menuju persatuan organisasi dan akan berakhir menjadi satu gereja dunia. Ingat, konsep Gereja Roma Katolik adalah hanya ada satu gereja, sedangkan yang tersebar di mana-mana adalah perpanjangan atau bagian dari gereja yang satu itu. Itulah sebabnya mereka hanya memiliki satu doktrin, satu kebijakan dan satu pemimpin tertinggi.

Tetapi berkat kasih karunia Tuhan masih ada orang yang memahami bahwa gereja yang Tuhan inginkan adalah gereja lokal bukan gereja universal. Tiap-tiap gereja lokal adalah tubuh Kristus, bukan seluruh kekristenan. Sangatlah berbeda antara konsep Gereja Universal dengan konsep Gereja Lokal baik secara theologis maupun dalam praktikalnya. Gereja Universal akan mendorong ke penyatuan seluruh gereja karena meyakini hanya ada satu gereja atau tubuh Kritus yang terdiri dari gabungan seluruh gereja. Sedangkan konsep Gereja Lokal akan mendorong independensi tiap-tiap gereja lokal karena menyakini bahwa tiap-tiap gereja lokal, masing-masing adalah tubuh Kristus.

Doa Yang Paling Menyebalkan Hati Tuhan

Dari konsep gereja universal yang percaya bahwa tubuh Kristus adalah gabungan seluruh gereja, telah menyebabkan diadakannya doa ramai-ramai gabungan semua gereja. Mereka bahkan tidak peduli pada perbedaan doktrin tiap-tiap denominasi yang terlibat dalam acara doa bersama. Padahal di dalam kumpulan doa itu ada yang doktrinnya saling bertentangan. Ada yang percaya bahwa Yesus itu hanya sekedar manusia dan ada yang percaya bahwa Ia adalah Allah. Ada yang percaya bahwa keselamatan hanyalah melalui percaya namun juga ada yang percaya bahwa keselamatan perlu ditambah dengan sunat, dan berbagai perbuatan manusia. Mereka tidak peduli pada perbedaan,yang penting adalah kumpul ramai-ramai untuk berseru kepada Tuhan. Seolah-olah Tuhan akan mendengarkan mereka karena mereka memintanya secara beramai-ramai terlepas dari doktrin yang mereka imani.

Kalau menurut akal sehat penulis, doa ini adalah doa yang paling menyebalkan hati Tuhan. Bayangkan, di dalamnya ada orang yang percaya Alkitab tidak ada salah dan ada yang percaya Alkitab penuh salah. Ada yang percaya bahwa Maria bunda Allah dan ada yang percaya Maria manusia biasa yang harus bertobat dan percaya kepada Yesus. Intinya, kumpulan yang tidak satu iman atau tidak percaya pada satu doktrin sebagaimana seharusnya sebuah tubuh Tuhan (Ef.4:12-13).

Ini semacam doa yang dilakukan oleh nabi Baal ketika mereka berhadapan dengan Elia, yaitu mengandalkan jumlah pendoa.

Mungkinkah para pendoa ramai-ramai di Senayan menyangka bahwa Tuhan mau tidak mau akan mendengarkan doa mereka karena jumlah mereka sangat banyak? Semua orang yang masih memiliki akal sehat pasti mengerti bahwa tidak mungkin Tuhan terpengaruh oleh doa sistem demonstrasi ini.

Doa Yang Paling Didengar Tuhan

Doa yang pasti didengar Tuhan adalah doa yang dinaikan oleh jemaat lokal alkitabiah. Jemaat lokal alkitbiah adalah tubuh Tuhan. Mungkinkah tubuh Tuhan meminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kepala?

Dan mungkinkah permintaan tubuh kepada kepala tidak didengar? Doa jemaat lokal alkitabiah adalah permohonan tubuh kepada kepala. Ini adalah doa yang paling menyenangkan hati Tuhan, dan tentu yang paling didengar.

Doa jemaat lokal alkitabiah hanya mungkin dilaksanakan oleh jemaat yang alkitabiah, dan sebuah jemaat bisa menjadi jemaat alkitabiah kalau jemaat tersebut sangat mementingkan pengajaran (doktrin), karena yang bisa menyebabkan sebuah jemaat menjadi alkitabiah adalah doktrinnya alkitabiah.

Tuhan berkata, “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Ayat ini telah disalahtafsirkan oleh banyak kalangan. Mereka berpikir bahwa kalau sendirian Tuhan tidak ada, jadi semakin ramai maka kehadiran Tuhan akan semakin mantap. Tafsiran demikian telah melecehkan kemahahadiran Tuhan. Padahal yang Tuhan maksudkan pada ayat ini adalah jemaat lokal yang adalah tubuhNya. “Dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu”, inilah jemaat lokal, tubuh Tuhan, bukan sekedar hadir.

Permohonan tubuhnya, atau doa jemaat yaitu doa yang dinaikkan pada saat orang kudus berjemaat, adalah doa yang paling didengar Tuhan, bukan yang dilakukan beramai-ramai di Monas,apalagi yang digabungkan dengan berbagai umat yang berbeda imannya.

Dalam doa dua atau tiga orang atau doa jemaat, yang diutamakan adalah kesehatian, maka doa diucapkan oleh seorang dan diaminkan oleh semua orang yang mendengarkan. Namun oleh para pemimpin yang tidak faham arti kesehatian, malah disuruh buka suara bersama-sama sehingga masing-masing mengucapkan doanya. Ini jelas bukan doa yang sehati melainkan masing-masing hati. Seharusnya seorang memimpin, dan yang lain mengaminkan kata-kata yang diucapkan.

Sedangkan mengenai doa pribadi kita dapatkan petunjuk Tuhan agar itu dilakukan di dalam kamar (Mat.6:6), bukan di dalam gua. Hati-hati, biasanya di dalam gua ada banyak iblis. Jangan-jangan iblis melakukan tipu muslihat dengan menjawab doa anda.

Ada juga yang membangun kamar khusus untuk berdoa dan melarang orang lain memasukinya dengan menganggap kamar itu tempat maha kudus. Tindakan ini jelas sesat karena pada zaman sekarang tidak ada tempat kudus dan tempat tak kudus. Semua tempat sama, karena kita beribadah dengan hati dan menyembah hakekat bukan simbolik sehingga tidak terikat pada waktu, tempat, bahkan postur tubuh. Kita hidup di zaman beribadah dalam roh dan kebenaran (Yoh.4:23). Pada zaman ini kita beribadah dengan hati.

Rasul Paulus meminta jemaat-jemaat yang didirikannya, maupun pribadi-pribadi, mengingatnya di dalam doa. Pada saat jemaat maupun pribadi berdoa, pokok doa yang didoakan pasti selalu tersimpan di dalam hati dan itu bukti kasih dan jalinan persekutuan orang-orang kudus. Dan Tuhan senang jika ada kasih dan persekutuan di antara anak-anakNya yang percaya pada doktrin yang sama yang tentu menanggung penderitaan dan menikmati kebahagiaan bersama.

Pada doa pribadi yang terpenting adalah hati, bukan tempat, dan pada doa jemaat lokal, yang terpenting adalah seberapa benar jemaat itu dihadapan Tuhan. Dan kalau kita berbicara tentang benar berarti menyangkut pengajaran atau doktrin yang dipegang dan diajarkan oleh jemaat tersebut, bukan jumlah anggota jemaatnya. Ingat, gereja yang benar, bukan gereja yang besar!***

95 DALIL ALKITABIAH

Filed under: DOKTRIN GEREJA — dedewijaya at 1:21 am on Friday, November 13, 2009  Tagged


1

Percaya bahwa Tuhan Tritunggal adalah Pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya dalam enam hari biasa/literal yang terdiri dari dua puluh empat jam (Kej.1 &2; Perhatikan Kel 20:9-11).

2

Percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan Tuhan menciptakan dua makhluk yang berkepribadian, diberi kemampuan berpikir, serta kehendak bebas, menurut Rupa dan Gambar Tuhan YHWH atau Jehovah yaitu Malaikat dan Manusia. Tuhan tidak ingin disembah oleh Robot melainkan oleh pribadi yang berkehendak bebas. Mereka bisa memilih menaati atau menentangNya. Jika dari hati mereka yang bebas timbul pilihan menaati Tuhan, itulah kenikmatan bagi Sang Pencipta.

3

Percaya bahwa Tuhan menempatkan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan Baik-Jahat di Taman Eden sebagai simbol alternatif bagi mereka. Jika mereka mau bersikap positif terhadap Tuhan, mereka bisa mengekspresikan dengan memakan buah Pohon Kehidupan. Namun jika mereka memilih bersikap negatif terhadap Tuhan, mereka akan mengekspresikan dengan memakan buah Pohon Pengetahuan Baik-Jahat. Kehendak bebas yang diberikan Tuhan kepada para Malaikat dan Manusia adalah Ketetapan Tuhan dan tidak bisa diubah karena Tuhan tidak bisa menyangkal diriNya (II Tim 2:13). Sebagai pribadi, alias bukan robot, tentu memiliki resiko. Dan sekalipun ada resiko kita tetap lebih senang menjadi pribadi daripada diciptakan sebagai robot.

4

Percaya bahwa terjadi Kejatuhan Malaikat dan Manusia. Dalam hati 1/3 jumlah para Malaikat timbul niat jahat terhadap Tuhan, dan mereka ingin menghancurkan Tuhan. Tentu mereka akan dihukum dan sebelum penghukuman dijatuhkan, untuk membedakan mereka dari malaikat yang masih setia, para malaikat pemberontak diberi sebutan baru yaitu iblis. Mereka tahu ada makhluk lain yang berakal budi yaitu Manusia, yang bisa dihasut untuk memihak mereka. Hawa dihasut sehingga lebih percaya pada perkataan iblis daripada perkataan Tuhan, sehingga memakan buah Pengetahuan Baik-Jahat, sehingga timbul DOSA. Adam pun ikut berdosa dengan memakan buah tersebut. Inilah Momen Kejatuhan Manusia ke dalam DOSA. Mereka lebih percaya iblis daripada Tuhan

5

Percaya bahwa 1/3 malaikat pemberontak bersama Lucifer, yang disebut iblis, TIDAK DIAMPUNI DOSAnya karena setiap Malaikat itu berdosa dari dirinya sendiri, berdosa di Tempat Yang Maha Kudus/Sorga/Tahta Hadirat Tuhan. Juga karena Para Malaikat diciptakan sekaligus (Tanpa REGENERASI) berbeda dengan Manusia yang diciptakan tidak sekaligus (bersamaan dalam satu waktu) alias manusia lewat REGENERASI (kelahiran).

6

Percaya bahwa manusia diciptakan sesuai dengan Rupa dan Gambar Tuhan YHWH atau Jehovah (Kej 1:29; 5:1; 9:6), bukan hasil evolusi. Percaya bahwa setiap orang yang dilahirkan dari keturunan Adam dan Hawa telah menempati/mewarisi POSISI orang berdosa atau Natur (sifat hati) yang berdosa karena Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan, (Rom.3:10,23).

7

Percaya bahwa Sebelum Adam dan Hawa tidak ada manusia yang diciptakan Tuhan (Pre-Adamic), Menolak Tegas adanya teori manusia Pra-Adam yang terdiri dari Tubuh dan Jiwa.

8

Percaya bahwa Manusia adalah suatu Pribadi ciptaan Allah yang diberi kemampuan berpikir, kesadaran diri, kehendak bebas, dan ketika jatuh dalam dosa, hanya kehilangan Kemuliaan Allah dan hubungan/komunikasi dengan pencipta. Manusia tetap mempunyai kehendak bebas. (Kej 3:22, 11:6)

9

Percaya bahwa Manusia berdosa tidak bisa masuk Surga, karena Surga adalah Tempat yang Maha Kudus. Manusia berdosa tidak bisa menghampiri Tuhan karena Tuhan adalah Pribadi yang Maha Kudus. Karena manusia lebih percaya perkataan iblis maka ia akan dihukumkan bersama-sama dengan iblis. Hukumannya ialah mati sebagaimana kata Tuhan bahwa jika mereka makan buah Pengetahuan Baik-Jahat, maka mereka akan mati.

10

Percaya bahwa jika Manusia ingin masuk Surga, maka DOSA manusia HARUS DISELESAIKAN.

11

Percaya bahwa HANYA ada satu cara untuk membereskan dosa yaitu dengan Penghukuman. Dosa tidak dapat dihapus atau tidak dapat diselesaikan dengan perbuatan baik, ritual ibadah dan berbagai kerajinan keagamaan atau usaha manusia. Jika manusia bisa menyelesaikan DOSA, maka itu berarti manusia akan masuk Surga oleh JASAnya. Usaha manusia tidak mungkin menyelesaikan DOSA manusia. Alkitab mengajarkan bahwa DOSA hanya dapat diselesaikan dengan PENGHUKUMAN. Roma 6:23 “Upah DOSA adalah MAUT.” Inilah INTI PERBEDAAN antara Kekristenan dengan semua agama di muka bumi. Hampir semua agama mengajarkan cara Penyelesaian Dosa yang intinya adalah usaha manusia. Namun Alkitab mengajarkan bahwa DOSA diselesaikan dengan penghukuman. Ini sesuai dengan sifat Tuhan yang MAHA ADIL dan MAHA KUDUS, yang harus menghukum DOSA.

12

Percaya bahwa Tuhan begitu Mengasihi Manusia karena Tuhan Maha KASIH, dan dosa hanya dapat diselesaikan dengan PENGHUKUMAN, berarti manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya. Untuk itu Tuhan berjanji akan mengirim JURUSELAMAT, yang lahir dari seorang Dara/perawan yang akan sanggup menghancurkan kepala ular (penyataan simbolik: mengalahkan iblis)

13

Percaya bahwa Hanya ada SATU CARA untuk Menyelamatkan manusia dari PENGHUKUMAN, yaitu dengan mengirim JURUSELAMAT yang akan dihukumkan sebagai pengganti manusia berdosa, tegasnya DOSA hanya dapat diselesaikan melalui PENGHUKUMAN (II Kor.4:23, Rom.6:23).

14

Percaya bahwa Manusia yang berdosa mampu merespon terhadap berita Injil, sehingga Aktivitas penginjilan adalah KEHARUSAN. Mati secara rohani bukanlah mati seperti mayat yg tidak bisa merespon berita Injil. (Kis 2:37, 8:36-37)

15

Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang diperanakkan oleh Roh Kudus, lahir dari anak Dara/Perawan Maria (Mat 1:23). Yesus Kristus adalah Tuhan sejati dan manusia Sejati, Satu Pribadi (One Person) dengan dua sifat/natur: Ilahi dan Insani (Mat 1:18-20; Yoh 1:1,2,14). Percaya Yesus Kristus telah mati (mat 27:45-56; Mrk 15:33-41; Luk 23:44-49; Yoh 19;28-30; I Kor 15:3), diutus untuk menanggung dosa semua manusia (1 Yoh 2:2), tinggal dirahim bumi 3 hari 3 malam (Mat 12:40; Yun 1:17). Bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci (1 Kor 15:4-5), Naik ke Surga (Kis 1:6-9) dan Yesus akan datang Kembali (Maranatha) sebagai Hakim dan Raja.

16

Dosa manusia yang belum memiliki kesadaran diri (bayi), bahkan dosa Adam hingga dosa manusia terakhir telah ditanggung oleh Tuhan di kayu salib (Yoh.1:29, Ibr.2:9, I Yoh.2:2). Sehingga Bayi yg matiPASTI MASUK SURGA karenasudah ditebus oleh Darah Yesus. (2 Sam 12:23)

17

Percaya bahwa kepada manusia yang telah memiliki kesadaran diri dan melakukan dosa atas kesadaran diri diserukan untuk bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat untuk mendapatkan pengampunan dosa atau pengaplikasian anugerah keselamatan (Mat.4:17, Yoh.3:16, Ef.1:7, Kol.1:14). Keselamatan itu Anugerah/Kasih Karunia, melalui Iman kepada Yesus Kristus (Ef 2:8-10).

18

Percaya bahwa Setiap Manusia yang hidup pada masa sebelum Kelahiran Yesus, Diselamatkan karena Bertobat dan Percaya kepada JURUSELAMAT yang AKAN DATANG (Percaya janji Tuhan mengirim JURUSELAMAT) yang disimbolkan dengan Korban Sembelihan Hewan di Mezbah.

19

Percaya bahwa Setiap Manusia yang hidup setelah Kelahiran Yesus, Diselamatkan karena Bertobat dan Percaya kepada JURUSELAMAT yang SUDAH DATANG. Bertobat artinya mengakui diri berdosa dan telah menyesali dosa. Percaya bahwa diri anda yang seharusnya dihukumkan tetapi Sang Juruselamat TELAH dihukumkan menggantikan anda.

20

Percaya bahwa tidak ada jalan keselamatan lain selain Injil Yesus Kristus karena siapapun yang berada di luar Kristus akan menanggung hukuman atas dosa dirinya. Tidak ada satu manusia pun bisa masuk Surga tanpa percaya kepada Yesus Kristus dari Adam hingga manusia terakhir (Yoh.14:6, Ibr.8:6, I Tim.2:5).

21

Percaya bahwa setiap orang yang tidak pernah dengar Injil tetap akan masuk Neraka.

22

Percaya bahwa Injil yang murni adalah Injil yang tidak ditambahkan dengan percaya kepada Maria, upacara baptisan, kerajinan ibadah dan apa saja (Gal.1:8, 5:3-4). Dan tidak menekankan kesuksesan duniawi atau yang mengurangi aspek seruan bertobat (I Kor.15:19).

23

Percaya bahwa Iman yang Menyelamatkan ialah kita percaya bahwa YESUS KRISTUS telah DISALIBKAN untuk MENANGGUNG semua DOSA kita. Atau seseorang percaya dengan segenap hati bahwa Yesus telah MENGGANTIKANnya disalibkan dan kini ia sedang menggantikanNya hidup, Memahami kondisi diri sebagai orang berdosa yang tidak berdaya, yang akan masuk ke Neraka, serta menyesali dosa-dosanya, dan mengucap syukur atas kasih Yesus kristus yang rela dihukumkan menggantikannya. (Rm 10:9-10).

24

Percaya bahwa orang yang telah diselamatkan tidak akan kehilangan keselamatannya karena terjatuh ke dalam dosa. Tetapi yang bersangkutan harus tetap tinggal di dalam kasih karunia Yesus Kristus atau tetap Beriman sampai Mati dan tidak menyangkal Tuhan (Rom.11:22, I Kor.15:2, II Kor.6:6, II Tim.2:12, Yak.5:19, I Yoh.2:24,27, II Yoh 9).

25

Percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, atau Kebangkitan orang mati atau Kebangkitan Tubuh untuk menuju kepada Kehidupan Kekal atau Kematian Kekal.

26

Percaya bahwa ada Surga bagi orang yang bertobat serta menerima Kristus sebagai Juruselamatnya, dan ada Neraka bagi orang yang menolak anugerah Allah. Percaya bahwa Surga, Neraka dan Kerajaan Seribu Tahun ADA dan Benar-benar NYATA

27

Percaya bahwa Alkitab adalah Otoritas Satu-satunya (Sole Authority) bagi Iman dan Praktek hidup orang Kristen. (II Tim 3:14-17, Mzm 119:105)

28

Percaya bahwa Alkitab, dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21, adalah satu-satunya firman Allah yang tidak ada salah. Di luar Alkitab tidak ada firman Allah baik tertulis maupun lisan.

29

Percaya bahwa Alkitab bersifat kanon tertutup. Kitab Wahyu 22:21 adalah firman Allah yang terakhir. Sesudah Wahyu 22:21 dituliskan, maka Allah telah menghentikan proses pewahyuan dan juga menghentikan semua karunia yang berhubungan dengan pewahyuan (yaitu bahasa lidah/roh, nubuat, menafsirkan bahasa lidah, I Kor 13:8-10).

30

Percaya dalamdoktrin Alkitab yaitu Alkitab diwahyukan secara Verbal Plenary Inspiration (VPI) dan Dijaga tanpa salah sedikitpun atau Verbal Plenary Preservation (VPP). (Mzm 12:7, Mat 24:35, Mrk 13:31, Luk 21:33).

31

Percaya bahwa Alkitab adalah Absolut Innerancy dan Biblical Infallibility yaitu 66 Kitab Kanon yg terdiri dari 39 Kitab PL dan 27 Kitab PB adalah Kitab-kitab yang diseleksi oleh Roh Kudus melalui jemaat mula-mula.

32

Percaya bahwa gereja apapun yang memiliki/Mengajarkan Otoritas di Luar Alkitab atau Extra biblical Authority adalah Menambahi Firman Tuhan.

33

Percaya bahwa penafsiran Alkitab yang benar adalah literal-grammatikal-historikal. Penerapan cara penafsiran alegoris hanya kalau secara akal sehat cara literal-grammatikal tidak mungkin diterapkan.

34

Percaya bahwa 2 Kategori ajaran sesat: Keluar dari Alkitab dan Salah Menafsirkan Alkitab. Ini bisa terjadi juga ketika seseorang menambah atau mengurangi ajaran Alkitab. (Wahyu 22:18-19)

35

Percaya bahwa setiap orang percaya harus menggabungkan diri ke dalam salah satu gereja lokal untuk membentuk tubuh Kristus serta bertumbuh di dalam Kristus (Ef.4:11-16).

36

Percaya bahwa hanya ada 2 Tujuan Besar Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia yaitu Pertama, Untuk menyelamatkan manusia yang berdosa dan Kedua, setelah mereka diselamatkan, sambil menunggu kedatanganNya menjemput mereka, Ia mengharuskan mereka membentuk Jemaat/Gereja. Organisasi yang hanya menginjil namun tidak membentuk/mendirikan Jemaat, hanya melakukan separuh Perintah Tuhan. Dan orang Kristen yang Taat harus melakukan keseluruhan Perintah Tuhan.

37

Percaya bahwa pada masa Perjanjian Baru, Gereja Lokal adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK). I Tim 3:15

38

Percaya bahwa gereja harus terpisah total dari negara dan pemerintah dan gereja tidak boleh terlibat politik praktis (Mat.22:21).

39

Percaya bahwa Orang Kristen sebagai Warga Negara boleh berpolitik, tetapi Gereja/Jemaat Lokal tidak boleh berpolitik, misal: gereja mengadakan acara politik seperti Doa Politik, dll.

40

Percaya bahwa manusia atau Negara yang menghukum orang atas dasar kepercayaannya adalah sama dengan melarangnya memercayai sesuatu yang diyakininya dan hal ini jelas melanggar HAM.

41

Percaya bahwa gereja yang benar adalahgereja yang bersifat lokal bukan yang bersifat universal/katolik/am (Ef.1:1), dan otonomi penuh, tidak tunduk kepada kuasa apapun bahkan kuasa alam maut (Mat.16:18).

42

Percaya bahwa tubuh Tuhan Yesus itu bukan seluruh kekristenan, melainkan tiap-tiap gereja lokal (Ef.1:23). Percaya bahwa Doktrin Gereja Lokal adalah Alkitabiah, sedangkan Doktrin Gereja Universal tidak Alkitabiah.

43

Percaya bahwa hubungan satu gereja lokal dengan gereja lokal lain bukan sebagai atasan dan bawahan (vertikal) melainkan sebagai sahabat dan saudara (horisontal).

44

Percaya bahwa Tuhan hanya mendirikan gereja lokal dan gereja lokallah yang mendirikan yayasan, sekolah dan berbagai sarana pemberitaan Injil. Parachurch yang alkitabiah adalah yang didirikan gereja lokal serta tunduk kepada gereja lokal(Mat.16:18).

45

Percaya bahwa Konsep Keluarga Alkitabiah adalah Suami mengasihi Istri dan Istri tunduk kepada Suami sama seperti Kristus mengasihi Jemaat dan Jemaat Tunduk kepada Kristus.

46

Percaya bahwa Tuhan telah menghentikan jabatan IMAM dan praktek keimamatan (pemberkatan oleh “pendeta“ pada akhir kebaktian, pemberkatan nikah, dll) untuk Gereja/Jemaat perjanjian Baru. Setiap orang Percaya adalah IMAM atas dirinya sendiri. Dan Yesus kristus adalah IMAM BESAR AGUNG yang menjadi perantara Allah dan Manusia berdosa. (1 Pet 2:9)

47

Percaya bahwa jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada dan telah dihentikan sejak wahyu terakhir diberikan kepada Rasul Yohanes di Pulau Patmos, dan kini tinggal sebagai jabatan pengajar firman: Penginjil/Evangelis, Gembala=Gbl / Penatua= Pnt/ Penilik Jemaat=PJ (bukan Pendeta/Pandita), dan Pengajar/Guru Jemaat=GJ (1 Tim 3:1, Ef 4:11) serta sebagai jabatan pelayan jemaat/pelayan “meja”, Diaken=Dkn (bukan Majelis). (Kis 6:1-7; 1 Tim 3:8).

48

Percaya bahwa wanita tidak dipanggil untuk mengajar, berkhotbah dan memimpin laki-laki dewasa dalam Kebaktian Umum atau Pertemuan Jemaat (I Tim.2:12-13, I Kor.14:34,37). Wanita bisa menginjil, mengajar dan berkhotbah pada Persekutuan Pemuda, Remaja, Kaum Wanita/Ibu, dan Sekolah Minggu alias mengajar anak Playgroup sampai Mahasiswa dan pelayanan lain yang bukan di Kebaktian Umum. Prinsip ini seiring dengan sebagaimana istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri (Ef.5:22-27, 1 Kor 11:10). Penundukan ini sebagai kesaksian bagi para malaikat karena mereka (perempuan menaati perintah Tuhan) seperti Gereja Tunduk kepada Kristus dan Kristus mengasihi JemaatNya. Dalam hal ini, yang kita bicarakan adalah masalah Gereja / masalah spiritual/rohani, dan tidak ada hubungannya dengan dunia sekuler atau pemerintah, Wanita boleh menjadi Presiden, Direktur, Menteri, dll.

Percaya bahwa apa yang ditulis oleh Paulus kepada gereja adalah wahyu Tuhan (perintah Tuhan), bukan budaya masa lalu. (I Kor 14:37 Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah PERINTAH Tuhan)

49

Percaya bahwa baptisan tidak menyelamatkan melainkan hanya salah satu upacara yang diperintahkan untuk dilaksanakan oleh gereja lokal. Dan baptisan yang benar adalah baptisan yang dilakukan terhadap orang yang sudah lahir baru (orang benar), dimasukkan ke dalam air (cara yang benar), dan oleh gereja yang benar (doktrinnya benar) (Mrk.16:16, Mat.28:19, Rom.6:3-4). Baptisan tidak diperuntukkan bagi bayi/anak kecil karena belum bisa mengaku percaya dengan kesadaran sendiri, juga baptisan bukan pengganti sunat dalam PL.

50

Percaya bahwa hanya ada dua upacara yang diperintahkan (Ordinansi, bukan Sakramen) untuk dilaksanakan oleh gereja lokal, yaitu upacara baptisan selam (Mat 3:16, Mrk 1:10, Yoh 3:23, Kis 8:36-39) dan upacara perjamuan Tuhan (bukan Perjamuan Kudus). Kedua-duanya tidak esensi untuk keselamatan melainkan hanya untuk mengingat akan kematian dan kebangkitan Tuhan yang menyelamatkan alias Simbolis/Peringatan(Mat.3:11, Mat 28:19, I Kor.11:23-26, Yoh 6:63).

Istilah ”Perjamuan Kudus” dapat menyebabkan orang Kristen bisa salah paham dalam memahami maknanya. Seperti sebagian orang Kristen percaya, jika kita mengikuti Perjamuan Kudus, maka kita akan menjadi Kudus. Ini Konsep Mistik. Demikian juga dengan istilah Sakramen.

51

Percaya bahwa Konsep Family Altar adalah Salah karena kita tidak lagi hidup dalam masa Keimamatan Ayah (zaman antara Adam sampai Taurat diturunkan)

52

Percaya bahwa Hukum Taurat sudah diGENAPkan bukan dibatalkan dan seluruh paket Ibadah Simbolik yang terkandung dalam hukum Taurat sudah selesai tugasnya.

Percaya bahwa Paket Ibadah Simbolik/Jasmaniah/Rituil (seperti nama Jehovah, aturan hari Sabat/Sabtu, makanan yang diHARAMkan, Penyakit Kusta yang menyimbolkan Kutukan, Ritual Ibadah di Bait Suci) semuanya telah selesai tugasnya, karena yang DISIMBOLKAN telah TIBA (Anak Domba Allah yaitu Yesus Kristus).

53

Percaya bahwa ibadah yang bersifat lahiriah dengan berbagai ritualnya telah digantikan dengan ibadah Hakekat dalam roh dan kebenaran. Tidak ada simbol lahiriah (tidak ada keterikatan pada postur tubuh, waktu maupun tempat) dalam ibadah selain keteraturan dan kesopanan (Yoh.4:23-24, I Kor.14:40).

54

Percaya bahwa Keimamatan Harun telah dihentikan dan kini setiap orang Percaya adalah IMAM, bahkan Imamat yang Rajani (1 Pet 2:9). Tidak boleh ada jabatan imam atau praktek keimamatan. Tidak boleh memberkati orang atau diberkati orang. Zaman Family Altar sudah selesai. Tidak boleh ada yang angkat tangan di akhir kebaktian untuk memberkati orang, karena itu adalah praktek keimamatan. Dan yang benar adalah Peneguhan Nikah bukan PEMBERKATAN Nikah. Gereja/Jemaat Lokal berfungsi sebagai Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran menggantikan posisi bangsa Israel.

55

Percaya bahwa segala syair lagu pujian harus ditujukan kepada Allah dan sesuai dengan kebenaran Alkitab. Segala musik yang terindah hanya bagi Tuhan. (Kol 3:16, Why 7:12, Mat 26:30). Jika Musik di Gereja anda tidak bisa dibedakan dengan Musik Dunia, maka ada 2 kemungkinan: Gereja semakin Duniawi atau Dunia semakin Rohani.

56

Percaya bahwa dalam Alkitab Tidak ditemukan Penumpangan Tangan untuk PEMBERKATAN dalam Perjanjian Baru. Penumpangan Tangan untuk Pengukuhan Jabatan (Gembala, Penginjil, Pengajar/Guru Jemaat dan Diaken) sebagai bentuk Restu/Approve atas nama Jemaat. (Kis 6:6, 13:3; 1 Tim 4:14, 2 Tim 1:6).

57

Percaya bahwa perpindahan anggota jemaat adalah cerminan kebebasan berpikir dan memutuskan.

58

Percaya bahwa Satu-satunya Alasan Alkitabiah yang berkenan kepada Tuhan untuk Pindah Gereja adalah Karena Mendapatkan Gereja yang Lebih Benar atau Lebih Alkitabiah. Tuhan akan sangat bahagia karena muridNya ternyata sangat cinta kebenaran.

59

Percaya bahwa Tidak boleh ada Satu orang pun yang belum lahir baru menjadi anggota gereja/jemaat Tuhan. Orang-orang yang belum Lahir Baru harus diInjili dengan sungguh-sungguh dan jika mereka betul-betul Lahir Baru, mereka baru boleh menjadi anggota Jemaat, karena Jemaat/Gereja adalah kumpulan Orang Percaya.

60

Percaya bahwa anggota jemaat harus menjalani kehidupan kekristenan yang memuliakan nama Tuhan, yang sopan, teratur, dan kudus (Ibr.12:14).

61

Percaya bahwa hari pengangkatan orang percaya (rapture) terjadi sebelum masa penganiayaan (pretribulation). Dan penampakan Kristus terjadi sebelum Kerajaan Seribu Tahun (Premillennium/Premilenialisme). Di Akhir Masa Kerajaan 1000 Tahun penduduknya dan orang-orang yang tidak percaya akan diadili. Setiap orang percaya akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, dan akan bersama Tuhan selamanya (Why 20, Rm 5:9, 1 Tes 1:10, 4:15-17, Yoh 14:1-3).

62

Percaya Prinsip Alkitab: Koin dengan Kedua Sisinya yaitu Tuhan Berdaulat 100% (sepenuhnya) dan Manusia Bertanggung Jawab 100% (sepenuhnya). Pengajaran yang terlalu menekankan pada salah satu aspek akan cenderung menyebabkan pengajaran menjadi ekstrim kanan (Calvinisme) maupun ekstrim kiri (Arminianisme).

63

Percaya bahwa sebuah gereja lokal harus dipimpin oleh Gembala–Laki-Laki atau Pria sesuai syarat Alkitab: Suami dari satu istri, seorang kepala keluarga yang baik, bukan peminum….dst (1 Tim 3:1-6, Tit 1:5-9)

64

Percaya bahwa seorang Diaken harus Laki-laki atau Pria yang sudah menikah, Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik, memiliki Iman yang Benar dan Moral yang Baik…dst, perhatikan juga syarat bagi istri seorang Diaken. (1 Tim 3:8-12)

65

Percaya bahwa Gereja Lokal dimanapun juga harus menjaga dirinya dan setia kepada ajaran Alkitab, dan harus memisahkan diri dari orang-orang yang tidak seasas atau sedoktrin (prinsip SEPARASI yang Jelas), harus memisahkan diri dari keduniawian, tidak kompromi dengan dunia, pengajaran/doktrin yang salah (Rm 16:17, Tit 3:10, II Tes 3:6, Mzm 97:10, 119:63, I Tim 4:16) karena Kristus menuntut gereja yang murni, tidak bercacat cela menjelang Maranatha sehingga menjadi mempelai wanita yang layak bagiNya (1 Kor 1:8, Ef 1:4, 2 Tim 2:15).

66

Percaya bahwa Tuhan Tritunggal: Bapa, Anak/Putra/Firman dan Roh Kudus. Ketiganya Esa. Sesuai dengan ajaran Alkitab (1 Yohanes 5:7-8, Mat 3:13-17; 28:19, Ul 6:4, 2 Kor 13:13)

67

Percaya Roh Kudus adalah oknum ketiga Tuhan Tritunggal, sama dan sederajat dalam sifat dan karakter dengan Bapa dan Anak/Putra. Roh Kudus diutus sebagai Penolong (Parakletos) disebut Roh Kebenaran (Yoh 14:16-17,26 ; 16:13), menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 6:8-11), menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran, Mendiami/tetap tinggal di setiap hati orang yang Lahir Baru (Ef 1:13-14). Roh Kudus akan menghasilkan buahNya di dalam semua orang yang Percaya, dan yang dipimpin olehNya (Gal 5:22,23; Kol 1:10,12)

68

Percaya bahwa hamba Tuhan yang melayani, berhak mendapatkan “upah” atau kehidupan dari pelayanannya. Dan Jemaat harus mendukung hamba Tuhan dengan persembahan dan persepuluhan. Agar dia tidak mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga fokus dalam melayani Tuhan dan Jemaat (1 Kor 9:13-15; Mal 3:6-10, Kis 6:4).

69

Percaya bahwa Sistem Penggajian Gembala yang Alkitabiah adalah Gembala hanya boleh mengambil sebelas persepuluhan yang masuk atau sistem 11/10.

70

Percaya bahwa Gereja harus melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus. Ini adalah tanggung jawab Gereja Lokal, dan juga tanggung jawab setiap orang percaya, untuk memberitakan Injil Keselamatan yang MURNI kepada semua orang, sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, tidak boleh kompromi dengan hal-hal duniawi di dalam memberitakan Injil. Percaya bahwa kuasa Roh Kudus akan memimpin dan menuntun kita untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah (Mat 28:19-20).

71

Percaya bahwa Tuhan berkuasa melakukan mujizat, dan setiap orang bisa mengalami mujizat sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Luk 1:37). Apa yang terjadi secara supranatural harus sesuai dengan kehendakNya.

Tidak percaya jika ada seorang yang mengklaim dirinya memiliki kuasa untuk melakukan mujizat, lalu orang-orang mencari si “hamba Tuhan,” yang katanya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Hal ini tidak beda dengan Dukun.

72

Percaya bahwa nama Tuhan dalam Alkitab bukanlah Tuhan, TUHAN, ALLAH, Allah, Ilah, GOD, LORD, Lord, dll, namun nama Tuhan adalah YHWH/JHVH (Jehovah/Yahweh, huruf J bisa dibaca J atau Y, huruf V bisa dibaca V atau W) dan YESUS yang berarti YHWH Penyelamat (ingat ayat: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama YHWH!), Mat 21:9, 23:39, Mrk 11:9, Luk 13:35; 19:38; Yoh 12:13, Mat 1:21, Luk 1:31, Kej 2:4; 4:1, 26, Kel 3:15. Nama Tuhan yang baru dalam kitab Wahyu akan kita ketahui setelah Tuhan datang kembali (Wahyu 3:12).

73

Percaya bahwa Tuhan semua agama, TIDAK SAMA. Yesus semua agama TIDAK SAMA, sehingga setiap orang patut tahu Tuhan mana yg anda percayai dan Yesus mana yang anda Percayai.

74

Percaya bahwa Kesatuan yang Alkitabiah adalah yang Tidak Mengkompromikan KEBENARAN/DOKTRIN/PENGAJARAN. Gerakan Ekumene adalah tidak Alkitabiah.

75

Percaya bahwa Tidak ada satu orang pun yang BERHAK membaptis seseorang ke dalam Roh Kudus selain YESUS KRISTUS. “Pendeta” manapun yang mencoba membaptiskan seseorang ke dalam Roh Kudus adalah SESAT dan DURHAKA (merebut wewenang Yesus).

76

Percaya bahwa Alkitab tidak pernah mengajarkan tentang API PENYUCIAN, Doa untuk atau kepada orang yang telah mati, Maria sebagai Co-Redemption, Paus sebagai Wakil Kristus di bumi, Keselamatan karena Baptisan, Perbuatan Baik, Melakukan Sakramen, dll.

77

Percaya bahwa Alkitab memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk menikah atau tidak menikah. Gereja tidak boleh mengharuskan seseorang untuk tidak menikah (hidup selibat).

78

Percaya bahwa Pengajaran MISKIN adalah DOSA, SUNGGUH SESAT, yang Benar: Miskin bisa disebabkan karena dosa (misal: Kemalasan) dan sebaliknya Pengajaran KAYA adalah BERKAT, Sungguh Menyesatkan, karena ada orang Kaya yang mendapatkan kekayaan dengan Cara-cara berdosa, misal: Korupsi, ke dukun/roh2 gunung Kawi, menipu orang lain, dll. Gereja Alkitabiah adalah gereja yang tidak terlalu/selalu menekankan Sukses Materi, namun menekankan Kebenaran Pengajaran Alkitab. Hal-hal lain sesuai janji Tuhan akan ditambahkan (kekayaan, jabatan, dll) alias bukan esensi utama namun hanya Alat/Sarana untuk Memuliakan Tuhan dan Menjadi Berkat bagi sesama. Mat 6:33, I Tim 6:10

79

Percaya bahwa TIDAK setiap/semua Doa PASTI dikabulkan Tuhan sama seperti kita percaya bahwa tidak semua (Penyakit) orang disembuhkan Tuhan.

80

Tidak Percaya bahwa Alkitab mengajarkan DILUAR GEREJA TIDAK ADA KESELAMATAN (EXTRA NULLA SALUS EKKLESIAM). Pengajaran Cyprian (AD 200-258) ini yang tercatat sebagai orang yang mempromosikan konsep keselamatan oleh Gereja. Ia menasehatkan agar semua gereja menggabungkan diri ke dalam Gereja Universal (KATOLIK) dengan Slogannya yang terkenal DILUAR GEREJA TIDAK ADA KESELAMATAN (EXTRA NULLA SALUS EKKLESIAM). Sejak saat itu dimulai suatu gerakan untuk menggiring semua gereja otonom (independen) ke dalam Gereja Roma Katolik dengan indoktrinasi bahwa TIDAK ADA KESELAMATAN DI LUAR GEREJA ROMA KATOLIK.

Tidak cukup dengan itu akhirnya disusunlah Pengakuan Iman Rasuli yang salah satu pointnya Gereja yang Kudus dan Katolik (Am, Universal). Ini Pengajaran yang MENYESATKAN dan TIDAK ALKITABIAH. Satu Kesalahan Fatal Pengakuan Iman Rasuli adalah adanya pernyataan bahwa GEREJA itu HARUS KATOLIK.**

81

Percaya bahwa Hal yang tidak direformasi oleh dan menjadi Kesalahan Terbesar Bapak-Bapak Reformator adalah tidak mereformasi Doktrin Gereja (Ekklesiologi), karena fokus mereka waktu itu pada Doktrin Keselamatan.

82

Percaya bahwa pengajaran berlebihan tentang Arti dan Fungsi Minyak Urapan dapat mengarah kepada Sekte/Bidat baru.

83

Percaya bahwa istilah yang benar adalah Peneguhan Nikah, bukan pemberkatan nikah. Istilah “Pemberkatan Nikah” dipakai Gereja Roma Katolik karena mereka menempatkan pernikahan sebagai salah satu sakramen (upacara kudus) gereja. Gereja Alkitabiah hanya mengenal dua ordinansi (Upacara yg diperintahkan) yaitu Baptisan Selam dan Perjamuan Tuhan. Dalam Gereja Alkitabiah tidak ada jabatan imam yg berwenang memberkati, itulah sebabnya tidak dibenarkan memakai istilah Pemberkatan Nikah. Upacara yg dilakukan gereja alkitabiah dalam hal pernikahan ialah mengukuhkan atau meneguhkan pernikahan 2 anggota jemaatnya di hadapan Tuhan dan di hadapan sidang jemaatNya serta berdoa memohonkan kasih karunia Tuhan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Berkat Tuhan bagi mereka selanjutnya tentu bergantung pada sikap hati mereka kepada Tuhan, bukan pada penumpangan tangan dari imam atau pendeta yang melakukan praktek keimamatan.

84

Percaya Kelahiran Yesus bukanlah tanggal 25 Desember adalah ALKITABIAH.

85

Percaya bahwa Yesus disalibkan dan mati hari Rabu Petang dan Bangkit Hari Sabtu Petang/Minggu, sesuai dengan 3 Hari 3 Malam, 3 x 24 jam=72 jam, adalah ALKITABIAH. Yesus disalibkan dan mati hari Jumat adalah TIDAK ALKITABIAH dan hanya menurut Tradisi secara umum.

86

Penginjilan kepada orang yang sudah mati (Penginjilan Alam Roh) adalah MENYESATKAN dan Tidak ALKITABIAH.

87

Percaya bahwa orang yang telah mati tidak perlu didoakan, kepercayaan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal (Doa untuk Arwah) adalah Tidak Alkitabiah. Doa yang benar untuk anggota keluarga almarhum yang masih Hidup.

88

Percaya bahwa orang Kristen yang mati harus dikuburkan atau dikembalikan ke tanah, dan bukan diKREMASI/dibakar. Firman Tuhan mengatakan demikian. (Pkh 12:7). Semua tokoh Alkitab dikuburkan dengan layak. Pembakaran identik dengan Penghukuman Tuhan atau tradisi Penyembahan Berhala dalam suku-suku bangsa.

89

Percaya bahwa Hukuman Mati adalah Alkitabiah yang dilakukan Pemerintah sebagai alat Tuhan.

90

Percaya bahwa Sikap menghakimi adalah Alkitabiah. Sifat penghakiman yang dilarang Tuhan adalah menghakimi dengan Kemunafikan, Menghakimi menurut ukuran manusia (Yoh 7:24, 8:15, Mat 7:1-5). Sifat penghakiman yang diperbolehkan adalah Penghakiman oleh Negara (Ul 16:18), Penghakiman oleh Jemaat Lokal/Gereja (Mat 18:15-17, I Kor 5:12, 6:2-3), Penghakiman terhadap Berbagai Pengajaran/Doktrin dengan Alkitab (Mat 24:4-5, II Tes 3:14, Gal 1:9, II Tim 4:2).

91

Percaya bahwa semua makanan adalah HALAL jika diterima dengan ucapan syukur dan doa. Tidak ada makanan yang haram lagi, karena paket ibadah Simbolik sudah berakhir (Mat 15:11, 19-20, I Tim 4:1-5, Mrk 7:19).

92

Percaya bahwa di Akhir Zaman ini, Iblis & Para Pengikutnya (Nabi Palsu, Guru Palsu, Mesias Palsu) semakin bekerja giat dan semakin aktif “Memberitakan Injil” Palsu untuk menyesatkan Sebanyak Mungkin Orang (Mat 24:4-5, I Kor 12:3, Gal 1:6-7).

93

Percaya bahwa AntiKristus akan mempersatukan politik, ekonomi, dan agama serta menguasainya (Wah.13:11-18). AntiKristus akan muncul dari Eropa Bersatu.

94

Percaya bahwa Iblis sedang giat bekerja untuk melakukan Penyatuan Gereja dan Penyatuan Agama menjadi One World Religion (Satu Agama Dunia) dibawah One World Government (Satu Pemerintah Dunia) yang akan dipimpin oleh AntiKristus.

95

Percaya PRINSIP DELAPAN/OKTA SOLA yaitu

-SOLA GRATIA (Hanya karena Anugerah/Kasih Karunia saja kita diselamatkan, Ef 2:8-10),

-SOLA FIDE (Hanya karena IMAN saja kita diselamatkan, 1 Petrus 1:9, Ef 28-9, Yud 1:3, Ibrani 3:14, II Tim 4:7, 2 Tim 3:15),

-SOLA SCRIPTURA (Hanya karena Kitab Suci/Alkitab saja 2 Tim 3:15),

-SOLA AUTOGRAPHA (Hanya karena Naskah Asli Alkitab saja-yg sudah musnah-TANPA SALAH sedikitpun),

-SOLA APOGRAPHA (Hanya Naskah Salinan MT-Masoretic Text untuk PL bahasa Ibrani dan TR-Textus Receptus untuk PB bahasa Yunani-Tanpa SALAH SEDIKITPUN),

-SOLA SIDO (Hanya Pujian/Musik yang Terindah bagi Tuhan), Rm 15:9, Mrk 14:26, Ef 5:19, Kol 3:16.

-SOLA/Solus CHRISTOS (Hanya lewat Tuhan Yesus Kristus kita diselamatkan) Kis 4:12, yang semuanya bermuara pada

-Solideo Gloria (Segala Kemuliaan HANYA bagi Tuhan). Rm 11:36, Mat 6:13

Keterangan:

** Tetapi hingga saat konsili di Nicea (tahun 325 AD) belum muncul pengakuan iman tertentu yang berlaku secara universal, yang tepat dengan kata-kata yang sama, dan diperintahkan oleh otoritas universal yang sama.

But until the time of the Council of Nicen there does not appear to have been any one particular creed which prevailed universally, in exactly the same words, and commended by the same universal authority (Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, John McClintock & James Strong, Grand rapids: Baker book House, 1981, Vol II, p 559)

Kutipan tersebut membuktikan bahwa Pengakuan Iman ”Rasuli” (PIR) yang digembar-gemborkan oleh Gereja Roma Katolik dan dipungut Gereja Protestan, serta di-beo-kan oleh Gereja-gereja Injili sesungguhnya bukanlah Pengakuan Iman yang disampaikan oleh Para Rasul. Jelas sekali bahwa pada zaman Para Rasul belum dikenal istilah THE HOLY CATHOLIC CHURCH atau Gereja Yang Kudus dan Am (KATOLIK), yang terdapat dipengakuan iman tersebut. Bahkan pernyataan gereja Yang Kudus dan Am itu sangat mustahil karena gereja tidak mungkin Kudus jika ia bersifat KATOLIK. Gereja akan Kudus kalau bersifat OTONOM dan LOKAL serta Menerapkan Disiplin Gereja dengan Ketat.

——————————0000———————————————

Suatu Gereja bisa disebut Gereja yang Alkitabiah meski ada satu atau beberapa point berbeda, misal 68, karena tidak terlalu esensi.

Beberapa poin yang lain penulis masukkan untuk mencounter beberapa pengajaran gereja yang tidak Alkitabiah alias menyimpang.

File :: Dede Wijaya

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

berbagai sumber:

Rahasia Ilahi dari Kekal Hingga Kekal, by Suhento Liauw, DRE, Th.D

www.graphe-ministry.org Pengakuan Iman GBIA Graphe

buku Pdt.Daniel Arianto, M.Th, Sbg Hamba Tuhan saya sudah memberitahu Saudara.

49 Kritik thd Gembala dan Gereja, Dede Wijaya

www.wayoflife.org (Ribuan Artikel) dikelola DR. David Cloud

Next Page »