DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Mengapa MEMILIH PERUBAHAN?

Filed under: POLITIK — dedewijaya at 1:17 am on Wednesday, July 1, 2009

Keberhasilan SBY yang paling hebat adalah pencitraan dirinya oleh Fox (dari 2004 s/d 2009) namun fakta menunjukkan:

1.     SBY tidak pernah membuka mengapa sebagian besar janjinya pada saat kampanye pilpres tahun 2004 tidak di penuhi.

2.     Pemberantasan Korupsi Pilih Kasih dan yang bayar upeti masih bebas merdeka dan dalam tekanan. Juga Maling-maling BLBI yang telah merugikan keuangan Negara dalam jumlah besar, tak satupun yang ditangkap.

3.     Rakyat miskin saat ini menurut standar UMR adalah 80%, menurut standard World Bank (US$2 per hari per KK) adalah 49%, Info: standar kemiskinan pada zaman pak Harto adalah Rp. 300.000 per bulan per KK kalau itu diterapkan saat ini maka 30% rakyat Indonesia masih dibawah garis kemiskinan.

4.     Anggaran TNI per tahun hanya 35 Trilyun atau 1% APBN, (Singapura 4,4 miyar USD). SBY bukan militer aktif tetapi pensiunan militer namun tidak cinta negara dan NKRI. Setiap tahun minimal 15 Milyar dollar kerugian negara akibat pencurian Ikan, penyelundupan dan illegal logging. Dalam 4 tahun terakhir tercatat 25 kecelakaan oleh karena alutsista yang tidak memadai utk operasional. Saat ini hanya 50% alutsista operasional.

5.     Selisih ekspor thd impor per tahun rata2 USD 25 Milyar (semenjak jaman pak Harto sampai sekarang, namun aneh cadangan devisa per oktober 2008 hanya 50 Milyar dan sebagian adalah hutang).

6.     Menilai kekayaan sumber daya alam, energy dan mineral Indonesia. Sebetulnya krisis keuangan dunia tidak perlu berpengaruh thd ekonomi nasional. Namun pertumbuhan ekonomi saat ini menunjukkan Indonesia masih akan menjadi 10 negara termiskin sampai  25 tahun mendatang.

7.     Standar IMF & World Bank untuk pertumbuhan ekonomi 1% dibutuhkan 5 Milyar USD yang akan menciptakan 400 ribu lowongan pekerjaan. Menurut ekonomi kerakyatan dengan 5 Milyar US dollar dapat diciptakan 15 juta lowongan pekerjaan baru di sektor agriculture.

8.     Bank BUMN seharusnya memberikan kredit kepada petani dan UKM namun yang terjadi sebaliknya. Salah Satu bank BUMN baru2 ini memberi kredit kepada sebuah proyek properti mewah Rp. 19,9 Trilyun. Uang siapakah itu?

a.     BRI ada Rp. 31 Trilyun deposit namun yang disalurkan ke desa hanya 2 Trilyun, sebagain di taruh di SBI, Pemerintah (rakyat) yang bayar bunganya. Sebagian lagi untuk proyek2 di perkotaan. Masalahnya deposannya adalah petani dan rakyat di desa. Ini sadis yang luar biasa. Petani bekerja mati2an utk dapat menabung, sulit utk mendapatkan pinjaman, namun uang simpanannya dipakai oleh orang kaya, atau rakyat lagi yang membayar bunga SBI untuk bank dimana ia menaruh simpanannya.

Jadi sekelompok kecil orang Indonesia yang sudah kaya akan menjadi lebih kaya dan yang miskin tetap miskin selamanya. Jurang perbedaan si miskin dan si kaya semakin melebar jauh. Ini bertentangan dengan Kasih Kristus.

Di negara manapun juga di seluruh dunia, orang tua, janda, yatim piatu ditanggung oleh negara, Yayasan2 membantu. Menurut UUD 45 juga demikian. Namun apa yang terjadi di Indonesia? Sebagian besar penyandang sosial di tampung dan ditanggung oleh yayasan-yayasan dan negara hanya membantu sekali sekali dan sangat kurang.

9. Sehari-hari penyuluhan, pendidikan dan penegakan hukum dalam lalulintas sangat minim, sehingga kekacauan semakin menjadi.

10. Pembebasan lahan untuk kepentingan umum  (masyarakat luas dan arus ekonomi) sebagian besar gagal.

11. Dan banyak lagi, misalnya, penyelenggaraan dan pelaksanaan pemilu yang biayanya lebih besar dari anggaran per tahun TNI namun paling buruk sepanjang sejarah NKRI, ironinya: KPK (yang sangat pilih kasih) dibanggakan oleh SBY tapi KPU dianggap seolah terpisah dari SBY (proses pencitraan)

12. KWI (Konferensi Waligereja Indonesia, Organisasi Aras Nasional Katolik) dalam suratnya kepada Para Capres&Cawapres meminta agar 151 PERDA berbau SYARIAH dibatalkan. Dalam 5 tahun Pemerintahan SBY, sudah ada 66 Perda Syariah baru muncul diberbagai daerah dan Provinsi di tanah air. Ini bukti bahwa SBY tdk punya keberanian terhadap manuver PKS yg mendukung beliau di Pilpres 2004 lalu.

Dalam kasus STT setia, SBY jelas tidak peduli terhadap mahasiswa  yang sampai saat ini masih di tenda2.Pengurus STT telah menempuh jalur hukum dengan melaporkan ke Polisi, namun ketika tidak ada tindak lanjut maka mereka menemui Walikota hasilnya nihil, lalu mereka menemui Gubernur, hasilnya nihil, lalu menemui Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono hasilnya nihil.

Kasus pencabutan IMB HKBP Depok tidak akan terpecahkan selama SBY memerintah (!)

13. Iklan2 Politik SBY di Televisi hanyalah menunjukkan sisi positif yg telah dicapai namun tdk berimbang, contoh Penurunan BBM 3x diumumkan SBY namun kenaikan BBM 3x diumumkan oleh Wapres Jusuf Kalla dan Mentri2. SBY terkesan rendah hati dan santun, namun tampaknya itu hanya Pencitraan belaka.

14. Di Medan beredar brosur Black Campaign Istri Boediono seorang Katolik, yang diakui oleh si penyebar, Adi Zein Ginting karena suruhan dari seorang Tim Sukses SBY, caleg DPR terpilih Partai Demokrat Abdul Wahab Dalimunthe. (masih diproses Bawaslu, ikuti berita TV)

15. Iklan2 yg berusaha mempengaruhi opini publik agar memenangkan SBY dalam satu putaran saja, jelas menunjukkan ketakutan dan penggiringan opini publik, hal ini juga karena harga minyak Dunia sedang beranjak naik, yg akan membuat pusing SBY jika Pilpres 2 putaran, apakah akan menaikkan BBM lagi. Kampanye Pilpres SATU PUTARAN SAJA, hanya membuktikan bahwa SBY tidak yakin akan kekuatannya untuk menang satu Putaran sehingga perlu diteriak2kan di Iklan2 TV dan Koran dg alasan sepele menghemat 4 Trilyun yg kita tahu uang inipun mengalirnya juga di dalam negeri, sehingga pertumbuhan ekonomi juga tumbuh.

16. Salah satu Tim Sukses JK-Win berani bersumpah, bahwa dia mendengar dari seorang Tim Sukses SBY, bahwa polling sms yg memenangkan SBY karena mereka membeli pulsa 20 juta dan menggunakan mesin untuk mengirim otomatis sehingga suara polling sms SBY-Boediono naik.

17. Pakar2 ekonomi menilai Kemiskinan dan Pengangguran meningkat dan SBY dinilai gagal dalam perbaikan ekonomi, baca buku2 & tonton wawancara Kwik Kian Gie, Faisal Basri, Hendry Saparini, dll

18. Prestasi SBY dalam hal pemberantasan Korupsi tidaklah sangat luarbiasa, karena Keppres pembentukan KPK ditandatangani Presiden Megawati, dan dijalankan Keppresnya pada masa SBY oleh KPK yg diketuai Antasari Azhar yg ingin membuktikan AA tdk lah seburuk dugaan orang2 yg meragukannya.

SBY gagal total dalam menyejahterakan bangsa dan negara dan berhasil penuh dalam pencitraan dirinya sebagai presiden yang sukses.

Ini baru pengamatan umum saya. Dilapangan kita bisa lihat pengamatan para pakar yang lebih akurat dan lebih panjang daftarnya, namun sayang tidak ada Public Relationnya yang sekaliber Fox (milik Malarangeng cs) .

Akhir2 ini banyak pejabat atau pimpinan BUMN yang dipasang oleh SBY yang adalah masih ada hubungan keluarga atau kroni.

SBY amat sangat kuat karena: Ia berhasil menguasai seluruh aparat birokrasi, didukung keuangan dari kaum pengusaha (Budha) keturunan Tionghoa dan konglomerat hitam (ada kasus tapi dijadikan sapi perahan dengan imbalan keamanan), ia memiliki orang2 yang aktif dalam pencitraan dirinya (Fox milik Kel. Malarangeng) , Ia mau didikte oleh IMF dan World Bank untuk senantiasa berhutang dan membasmi ekonomi kerakyatan. Ia didikte untuk melindungi kepentingan asing di NKRI. Padahal kepentingan itu dilindungi oleh UU selama tidak merugikan Bangsa dan Negara tanpa harus didikte.

Menurut saya SBY adalah yang terburuk dari ketiga Pasangan Capres Cawapres karena sampai hari ini dia tidak punya solusi yang konkrit dan realistis bagi masalah2 diatas.

Mari berjuang untuk mencegah hal itu, jadi sekali lagi ABS (Asal Bukan SBY). Anda bisa memilih JK-Win atau Mega-Pro.

Jika demikian, Lalu anda memilih siapa?

Jawabannya“Lihat sepatu saya, JK Collection”

Saya pribadi lebih memilih pasangan JK-Win yg saya nilai lebih realistis dan sudah terbukti JK berani pasang Badan dalam Negosiasi dg pihak asing yg diakui oleh Kwik Kian Gie dan beberapa tokoh nasional.

JK pernah marah besar 2 kali kepada Boediono (terkait dg Proyek Pengadaan LISTRIK untuk rakyat dan soal Blanket Guarantee, baca di web koran Kompas),

Saya meyakini, Politik pencitraan SBY selama 5 tahun terakhir sangat berhasil dan memikat Kaum Tionghoa dan umat Kristiani serta rakyat Indonesia, apalagi dengan diangkatnya Boediono ahli ekonomi sbg Cawapres SBY tentu menyenangkan bagi para pengusaha dan kaum Tionghoa yg mungkin jarang mendengar paparan Kwik Kian Gie tt sepak terjang Boediono cs dalam kebijakan2nya yg sering didentikkan dg Pemimpin Gang “Mafia Barkeley” oleh mereka yg kritis untuk menjaga Kedaulatan SDA dan Harta Kekayaan Negara di banyak BUMN.

Banyak orang Tionghoa dan umat Kristiani yg memilih Partai Demokrat dalam PEMILU Legislatif 9 April lalu.

Bagi Tim Sukses SBY-Boediono dan bagi SBY sendiri, lawan berat SBY adalah JK. Jika JK-Win yg maju putaran ke-2, maka Para pendukung Mega-Pro akan mendukung JK-Win, namun jika Mega-Pro yg menang, maka sebagian pendukung JK-Win akan beralih ke SBY-Boediono karena elite Golkar tdk satu kata satu pandangan. Peneliti CSIS Sunny Tanuwidjaja menyatakan, bila pilpres terjadi dua putaran, maka ekspektasi publik akan lebih kepada lawan SBY. “Jadi kalau JK yang masuk putaran dua, maka JK akan lebih solid didukung oleh pemilih Mega-Prabowo. Tapi kalau Mega yang masuk, maka dukungan yang didapat Mega dari JK-Wiranto tak akan signifikan karena terpecah ke SBY,” pungkasnya. Jadi menurut saya, Jika anda pro PERUBAHAN, maka anda memilih JK-Win atau Mega-Pro kurang lebih sama saja untuk putaran kedua.

Saya memprediksi SBY dan JK akan maju dalam putaran ke-2 Pilpres mendatang. JK yang tahu bahwa banyak masyarakat yg meragukan kemampuannya, sedang giat2nya kampanye untuk mendapatkan suara terutama di luar Pulau Jawa yg masyarakat pemilihnya berjumlah 40%, dan saya pribadi menilai usaha JK ini cukup membawa hasil dengan meningkatnya elektabilitas JK dalam polling2 dan pendapat masyarakat, juga setelah masyarakat sedikit banyak tahu tt Track Record JK dalam banyak wawancara maupun Debat. Meski ada berita FPI katanya mendukung JK-Win, namun FPI tdk membuat kontrak politik apapun, mereka mau agar masyarakat Islam mendukung JK karena SBY-Boediono dinilai menganut Ekonomi Neolib, isu istri Boediono Katolik, pro Barat.

PKS jelas sudah membuat kontrak politik yg berisi 10 butir kesepakatan dg SBY, dan tentunya SBY akan memberikan 4 pos Mentri kepada PKS selaku Partai Koalisi, 3 Mentri kepada PAN, 2 Mentri kepada PKB, dan 2 Mentri kepada PPP. PKS meminta posisi dalam kabinet al.: Menteri Pendidikan, Menteri Pertanian (melanjutkan saat ini). Tujuan PKS sederhana saja mengislamkan seluruh Indonesia. SBY tidak pernah berdaya menahan mereka, banyak usulan PKS disetujui SBY. Tanpa suara PKS SBY tidak akan menjadi presiden tahun 2004. Platform PKS adalah syariat Islam dan SBY selalu setuju.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Agus Purnomo, mengatakan bahwa, SBY sudah membagi-bagi kursi menteri kepada para parpol pengusung sekaligus mitra koalisinya.

Menurutnya, setiap partai pendukung akan mendapat jatah kursi yang jumlahnya proporsional sesuai jumlah perolehan kursi di DPR RI. Cara menghitung adalah dengan membagi perolehan jumlah kursi partai di DPR dibagi 560 (jumlah total kursi DPR) dikalikan jumlah menteri. Nanti akan ketemu jatah menterinya berapa.

Contoh: PKS mendapat 57 kursi dibagi 560 dikalikan jumlah menteri dalam kabinet (36 menteri) totalnya PKS akan mendapat jatah 3-4 menteri.

Yang menarik, ternyata pembicaraan antar partai pendukung SBY tidak sebatas jumlah kursi yang menjadi jatah partai pendukung. Soal nama pun sudah diplot.

Maka tetap saja koalisi pelangi akan terjadi di Kabinet mendatang sekiranya SBY menang. Ini patut diwaspadai juga apalagi PKS jelas mau mendirikan Negara Syariah dg manuver2 Perda2 Syariahyg tentunya akan semakin banyak dan mengharapkan jabatan Mentan, Mendiknas, dll yg berpotensi memperbesar kapasitas dan gerak serta kekuasaan mereka menuju ambisi NSRI (Negara Syariah Republik Indonesia) atau NII (Negara Islam Indonesia) dan bukan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yg berBhinneka Tunggal Ika.

Ingatlah, NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah HARGA MATI dan tdk boleh disingkirkan dari Bumi Pertiwi atau Indonesia akan BUBAR!

Satu hal patut diwaspadai yaitu penggunaan kekuasaan untuk memperkaya bisnis keluarga besar atau sanak saudara yg bisa dilakukan semua kandidat Capres-cawapres jika terpilih. Isu ini mungkin berpeluang besar melanda SBY, JK, dan Prabowo Subianto, mengingat mereka dan keluarga besarnya memunyai bisnis.

Kita berdoa supaya kehendak Tuhan yang terjadi dan bukan kehendak manusia, namun sesuai dengan prinsip ora et labora, dengan ketulusan dan kebijaksanaan yang kita miliki, kitaberdoa agar ada solusi untuk permasalahan bangsa dan negara. Sudah cukup air mata rakyat Indonesia kini saatnya bergerak, bekerja dan berjuang disertai dengan doa dan puasa agar kesejahteraan bangsa ditingkatkan oleh anugerah Tuhan melalui orang2 pilihanNya.

Seruan bagi umat Kristen “Bangkitlah bagi Indonesia.” Jangan jadi penonton atau komentator saja alias No Action Talk Only (NATO)

Himbauan kepada masyarakat yg memunyai hak pilih dalam Pilpres untuk sebuah PERUBAHAN yg lebih baik, untuk memilih JK-Win atau Mega-Pro. Isu CHANGE lebih kuat dibanding CONTINUITY, jadi PRO RAKYAT LEBIH CEPAT LEBIH BAIK.

Baca juga makalah seminar George Junus Ajidjondro, Baca juga buku Kwik Kian Gie, “INDONESIA MENGGUGAT JILID II?”

Dari tiga pasangan Capres-Cawapres, tentu mereka bukanlah yg terbaik, namun tetap kita dapat memilih yg lebih baik dari tiga pasangan tersebut. INDONESIA MEMILIH???

Kiranya Tuhan memberkati Indonesia. Siapapun Presidennya, semoga yg terbaik bagi bangsa ini.

Sumber Pustaka:

http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=2206&Itemid=34 (Diakses 26 Juni 2009)

http://www.inilah.com

Email milis Omega S,a/n Jaringan Kasih Kristus bagi Kemakmuran Rakyat Indonesia dg penambahan disana-sini dari saya.

NB: Tulisan di atas tidak berimbang karena penulis tidak menceritakan keberhasilan2 pemerintahan SBY, yg tentu ada cukup banyak sisi positifnya juga. Satu contoh, sosok SBY disegani dalam dunia Internasional dan mendapat predikat 1 dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia menurut majalah TIME. Namun karena penulis Pro-CHANGE maka lebih menilai sisi negatif atau kelemahan pemerintahan Incumbent. Tahun 2004 penulis memilih SBY dalam Pilpres. Tahun 1999 pro Megawati. Tampaknya 2009 akan memilih 1 atau 3.

MENGURANGI KEJENUHAN PEMILU DG MENGURANGI JUMLAH PARTAI PESERTA PEMILU

Filed under: POLITIK — dedewijaya at 1:04 am on Wednesday, July 1, 2009

Please Vote my Blog at SINI

Dalam 2 periode PEMILU mendatang yaitu 2014 dan 2019, maka hendaknya para anggota DPR yg membuat UU PEMILU lebih memikirkan efektivitas PEMILU dan juga belajar dari PEMILU2 sebelumnya yg sangat banyak partai. Hal ini jika terus terjadi, akan membuat kejenuhan dan muncul apatis masyarakat karena mumet dan bingung dalam memilih karena begitu banyaknya partai dan juga begitu banyaknya nama Caleg dalam kertas suara.

Mari berkaca pada PEMILU 1999 ada 48 Partai, 2004 menjadi 24 Partai, namun sayang 2009 kembali menjadi 44 Partai (38+6). Asumsinya pada 2014 akan ada 9 Partai langsung lolos ditambah 10 Partai Baru dg asumsi aturan semakin diperketat untuk Parpol peserta PEMILU.

Misal jumlah Parpol 2014 ada 20, maka dg aturan ET dan EP yg dinaikkan, akan tersaring kira-kira 6-8 partai saja.

Misal jumlah Parpol 2019 ada 8 Partai yg langsung lolos, aturan Parpol baru peserta PEMILU semakin dipersulit, atau tdk boleh lagi menjadi Peserta PEMILU karena 8 Partai saja yg lolos ET dan EP, maka tentunya dari 8-10 Parpol peserta PEMILU 2019, tinggal 3-5 Parpol saja.

Untuk itu semoga dalam 2 kali PEMILU lagi, maka tahun 2024, kiranya hanya akan ada 5-7 Parpol saja. Jumlah ini ideal dalam Kekuatan di Parlemen.

Agar Partai semakin menyusut maka ET partai dinaikkan menjadi 5%, misal dari 170 juta Pemilih setara dg 8,5 juta suara, EP jumlah kursi DPR 5% atau setara dg 28 kursi DPR dari total 560 kursi DPR.

Bagaimana dg jumlah Calon Presiden?

Maksimal jumlah calon Presiden sebaiknya hanya 5 calon saja, dg asumsi 2 putaran, selesai. Hitung-hitungannya adalah:

Syarat mencalonkan Capres adalah 20% suara Pemilu Legislatif, misal 170 juta maka setara 34 juta dan 15% jumlah kursi di DPR setara dg 84 kursi.

Sehingga didapat maksimal 5 calon Presiden. Idealnya tentu 2 calon saja.

Atau Peraturan sekarang sudah cukup baik 25% suara PEMILU LEGISLATIF atau 20% jumlah kursi DPR sehingga maksimal hanya ada 4 calon saja.

Mari dengungkan ke anggota DPR yg baru menjabat Oktober nanti. Persulit aturan mendirikan Partai Baru, sehingga mendirikan partai bukan asal meramaikan PEMILU dan buang2 uang serta bikin pusing rakyat karena buanyak partai, meminimalisir partai gurem dan partai jadi2an hanya karena ambisi berkuasa semata.

Belajar dari negara Demokrasi seperti USA yg sudah hampir 300 tahun, ideal 2 partai, 2 capres. Yaitu partai Demokrat dan Republik, di Inggris ditambah dg partai Buruh.

THE PRE-TRIBULATION RAPTURE

Filed under: AKHIR ZAMAN — dedewijaya at 1:37 am on Wednesday, June 24, 2009

Please Vote my Blog at SINI and SINI


FBIS News Service, 23 Juni 2009

Updated June 24, 2009 (first published May 2, 2003) (David Cloud, Fundamental Baptist Information Service, P.O. Box 610368, Port Huron, MI 48061, 866-295-4143, fbns@wayoflife.org; for instructions about subscribing and unsubscribing or changing addresses, see the information paragraph at the end of the article) –

The following is enlarged from the Way of Life Advanced Bible Studies Course UNDERSTANDING BIBLE PROPHECY (third edition, March 2009). This thorough and practical course enables the student to understand and enjoy Bible prophecy. It deals with the interpretation of prophecy, dispensationalism, the covenants, the kingdom of God, the nations in prophecy, and Messianic prophecy. A large section is devoted to “a prophetic overview of the future,” detailing the Bible’s prophecies that have not yet been fulfilled. Other sections deal with the prophecies of Ezekiel, Daniel, and Revelation. 219 pages, $9.95

_____________________________

The word “rapture” does not appear in the Bible, but it is a term used to describe the catching away of the saints of 1 Thessalonians 4:13-18. The term “caught up” in 1 Th. 4:17 is also translated “pluck” (Jn. 10:28), “take by force” (Acts 23:10), and “pulling [out of the fire]” (Jude 23). It refers to a forceful seizing and a snatching away. It is used of the Spirit of God snatching away Philip after the conversion of the Ethiopian eunuch (Acts 8:39). This is exactly what Christ will do to the New Testament believers before the onslaught of the Great Tribulation.

Notes on 1 Thessalonians 4:13-18:

1. The Rapture is (1) a resurrection of the dead in Christ (v. 14-16), (2) a catching up and translation of the living New Testament saints (v. 17).
2. The dead in Christ are with Him in heaven (v. 14).
3. The Rapture is the believer’s hope (v. 13). It is what we are looking forward to.
4. The Rapture is certain. (a) It is as sure as Christ’s resurrection (v. 14). (b) It is the word of the Lord (v. 15).
5. The Rapture is a comfort (v. 18). If this translation did not occur until the end of the torments of the Great Tribulation, it certainly would not produce solace for the Christian standing on this side of the Tribulation.
6. The Rapture is before the day of the Lord’s wrath (5:1-5, 9).

This event is also described in 1 Corinthians 15:51-58.

1. The Rapture is a mystery that was not revealed in the Old Testament (v. 51). The Old Testament prophets taught about the resurrection, but they did not teach that some would be caught up without dying. The translation of the New Testament saints will involve an instantaneous change from morality to immortality. Those believers living at that hour will never see death.

2. The translation of the church-age saints is said to be a source of comfort and encouragement (1 Co. 15:58). Again, if this translation did not occur until the end of the torments of the Great Tribulation, it would not be a comfort.

Among those who believe in a literal Rapture of church-age saints, there are three general positions. All of these pertain to the timing of the Rapture in relation to the Great Tribulation. The three views are (1) Pre-tribulational, meaning the church-age saints will be raptured before the Great Tribulation. (2) Mid-tribulational (also called Pre-wrath Rapture), meaning the church-age saints will go through the first half of the Tribulation. (3) Post-tribulational, meaning the church-age saints will go through the entire Tribulation period.

THE EVIDENCE FOR THE PRE-TRIBULATION RAPTURE

For the following reasons we are convinced the Bible teaches a Pre-tribulational Rapture. In the following study, we are using the term “church” in a general, institutional sense:

1. CHURCH-AGE BELIEVERS ARE PROMISED SALVATION FROM WRATH (1 Th. 1:9-10; 5:1-9; Rom. 5:9; Rev. 3:10).

The Great Tribulation is expressly called the day of God’s wrath. Today the Lord is withholding His anger; He is seated upon a throne of grace, but the day approaches when He will take the seat of judgment. Then “the day of his wrath” will be upon all the world (Ps. 110:5; Isa. 13:6-13; Rev. 6:16-17). It is true that in every century, Bible-believing churches have been subjected to persecution, but this is quite different from the Great Tribulation. The general persecutions of the saints are caused by the wrath of wicked men and the devil, whereas the seven-year Tribulation is a period especially pertaining to God’s wrath (Rev. 6:16-17; 14:10). Some feel that the church will not be saved out of the time of wrath, but will be saved through it. This cannot be true, since the Bible clearly reveals that those who are on earth during the Great Tribulation will not be delivered from wrath but will be overcome (Rev. 13:7). The Scriptures that promise church-a ge believers deliverance from wrath must refer to salvation out from the very presence of the wrath. Concerning the Great Tribulation, we are told that “as a snare shall it come on all them that dwell on the face of the whole earth” (Lk. 21:35). Therefore, church-age believers must either be physically removed from the earth, or they will be involved in the day of wrath. God promises removal. “… I also will keep thee from the hour of temptation, which shall come upon all the world, to try them that dwell upon the earth” (Rev. 3:10). This verse does not say that God will keep the church age saints through the temptation but from it.

2. THE HOLY SPIRIT IS TO BE REMOVED BEFORE THE TRIBULATION (2 Th. 2:1-8).

In other passages of the Bible, the Holy Spirit is said to be the restrainer of sin (Ge. 6:3; Is. 59:19). The Holy Spirit came into the world in His present dispensation at Pentecost (Acts 2), when He came to empower the church for the Great Commission (Acts 1:8). He will remove the church-age believers before the time of God’s great wrath. This does not mean the Holy Spirit will not be present in the world at that time. He is God and is omnipresent. It means that He will not be present in the same sense that He is in this age.

3. CHURCH-AGE BELIEVERS ARE PROMISED MANSIONS IN HEAVEN (Jn. 14:1-3).

When the Lord Jesus returns to the earth at the end of the Tribulation, He sets up His Messianic kingdom. If the Rapture occurred at the end of the Tribulation, the promise to church-age believers pertaining to Heaven would not be fulfilled. Church-age believers are a heavenly people with a heavenly hope (Eph. 1; Ph. 3:20; Col. 3:1-3). Some dispensationalists teach that the church-age saints will live in heaven during the millennium. I believe they will live both in heaven and in earth. Jesus promised the apostles that they would reign with Him over Israel (Matt. 19:28).

4. THE TRANSLATION OF CHURCH-AGE SAINTS IS SAID TO BE IMMINENT (it could happen any time) whereas the Second Coming is said to be preceded by specific signs.

Christ taught this (Matthew 24:42, 44; 25:13; Mark 13:33). Paul taught it (Phil. 4:5; Titus 2:12-13). James taught it (Jam. 5:8-9). And Peter taught it (1 Pet. 4:7). The early Christians were living in expectation of Christ’s return (1 Th. 1:9-10). The apostle Paul instructed the church at Thessalonica that they did not need to heed signs and times, because the New Testament believer has been promised redemption from the “day of darkness” that shall overcome the whole world (1 Th. 5:1-9). The church is not waiting for the appearing of the Antichrist, but for the redemption of the Son of God.

5. THE CHURCH IS A MYSTERY UNREVEALED IN THE Old TESTAMENT (Eph. 3:1-11).

The New Testament church has no part in the chronology of events foretold by the Old Testament prophets. They clearly foretold the first coming of Christ, His miraculous birth, life, death, resurrection, and ascension. The same prophets described Christ’s Second Coming in glory, preceded by a time of unprecedented worldwide tribulation, and followed by the establishment of the glorious Messianic kingdom centered in Jerusalem. But these prophets did not see the present church age–“which in other ages was not made known unto the sons of men, as it is now revealed unto his holy apostles and prophets by the Spirit” (Eph. 3:5).

Between the first and second coming, there is a time gap that was not seen by the Old Testament prophets. This gap is the church age. The prophets did not see that Israel would be set aside temporarily while God called out from among all nations a special body of people. After He has accomplished this purpose and the fullness of the Gentiles is come in, God will restart Israel’s prophetic clock and will fulfill all Old Testament prophecies in relation to His ancient chosen nation. “… blindness in part is happened to Israel, until the fulness of the Gentiles be come in” (Rom. 11:25).

The Great Tribulation deals with Israel, not with church-age believers. This present mystery period will end with the removal of the church-age believers from the earth; and the Lord will then take up His plan for the nation Israel as He fulfills the Old Testament prophecies of the time of Jacob’s trouble, the coming of Messiah in glory, the regathering of the remnant, and the establishment of the Messianic kingdom.

6. THERE ARE EVENTS INTERVENING BETWEEN THE TRANSLATION AND RESURRECTION OF THE CHURCH AND THE SECOND ADVENT.

According to 1 Cor. 15:51, EVERY saved person will be translated at the Rapture. Yet Mat. 25:31-46 shows that when Jesus returns to the earth at the Second Advent He will find many true believers in their natural bodies. There must, then, be a period of time between the Rapture of the church-age saints and the Second Coming to allow for these folk to be saved. It is reasonable to believe that this period is the seven years of the Great Tribulation.

7. THE BOOK OF REVELATION SHOWS THAT THE CHURCH IS NOT ON EARTH DURING THE TRIBULATION.

(a) The church is not seen on earth in chapters 4-18.

(b) The witness for God in the earth during the Tribulation is Israel, not the church (Rev. 7).

(c) The prayers of the saints in Revelation 8 are prayers for judgment. Only Israel prayed such prayers. The church-age saints are instructed to pray for her enemies, not against them (Lk. 9:51-56). These prayers of Revelation are those of the Psalms and are based on God’s promise to Abraham to curse those that cursed Israel (Gen. 12:1-3).

(d) The scorpion-like creatures of Revelation 9 are given freedom to hurt all earth-dwellers except those Jews who were sealed by the angel of Revelation 7; if church-age believers were on earth, they would be subject to this horrible judgment of God.

(e) Revelation 10 identifies the events of Revelation 4-18 with those foretold by Old Testament prophets–the days of the Great Tribulation, the “day of the Lord.” The church age was never in the view of these Old Testament prophecies; it was an unrevealed mystery. The church has a different purpose and program than national Israel. It is Israel that is in view in Old Testament prophecy and in Revelation 4-18.

(f) The ministry of the two witnesses of Revelation 11 identifies them with national Israel and with Old Testament prophecies of the “day of the Lord.” The two witnesses minister from Jerusalem, Israel’s capital. The churches have no such capital, her hope being heavenly, not earthly (Col. 3:1-4; Phil. 3:17-21). The two witnesses are clothed in sackcloth, typical of Old Testament Israel, not New Testament believers. Nowhere are the churches seen in sackcloth. They are told, rather, to “rejoice in the Lord alway: and again I say, Rejoice” (Phil. 4:4). The church-age believer’s judgment is forever past, and he is to keep his mind centered in the heavenlies where, in position, he is seated eternally victorious with Christ (Eph. 2:5-10). Revelation 11:4 identifies the two witnesses with Old Testament prophecy. Zech. 4:3, 11, 14 is a prophecy of Israel, not the church. Further, the two witnesses call down judgment upon their enemies in Rev. 10:5 -6. Jesus rebuked his disciples for desiring to do just this and instructed the church-age believer to pray for the well-being of his enemies, not for their destruction (Lk. 9:54-56; Rom. 12:14, 17-21).

(g) The devil persecutes Israel, not the church, during the Tribulation (Rev. 12). There can be no doubt that the woman in this chapter is identified as national Israel. Verse 5 shows the woman bringing forth Christ; it is obvious that Jesus was brought forth by Israel, not by the churches (Isa. 9:6-7; Rom. 9:5). Also, the symbols of Rev. 12:1-2 recall familiar Old Testament typology of Israel. She is referred to as a woman (Isa. 54:5-7). The sun and moon and the 12 stars of verse 2 remind us of Joseph’s dream regarding Israel (Gen. 37:9). The words of Rev. 12:2 are almost an exact quote from Micah 5:3, again referencing Israel’s delivery of the Messiah. These symbols are not used in the New Testament of the churches.

THE ATTACK ON THE PRE-TRIBULATIONAL RAPTURE

The doctrine of the pre-tribulational rapture is under severe attack today. Consider some examples from the emerging church:

Brian McLaren mocks the “fundamentalist expectations” of a literal second coming of Christ with its attendant judgments on the world and assumes that the world will go on like it is for hundreds of thousands of years (A Generous Orthodoxy, p. 305). He calls the literal, imminent return of Christ “pop-Evangelical eschatology” (Generous Orthodoxy, p. 267) and the “eschatology of abandonment” (interview with Planet Preterist, Jan. 30, 2005, http://planetpreterist.com/news-2774.html). McLaren says that the book of Revelation is not a “book about the distant future” but is “a way of talking about the challenges of the immediate present” (The Secret Message of Jesus, 2007, p. 176). He says that phrases such as “the moon will turn to blood” “are no more to be taken literally than phrases we might read in the paper today” (The Secret Message, p. 178).

Jonny Baker of Grace in London, England, rejects dispensationalism as “escapology theology” and “advocates that Christians need to invest themselves in the current culture, not live on hold until time runs out” (Emerging Churches, pp. 78, 79).

Tony Jones says that the emergent church, in contrast to the dispensational viewpoint, is characterized by “an eschatology of hope” (An Emergent Manifesto of Hope, p. 130). He says: “What I mean is that the folks who hang around the emerging church tend to see goodness and light in God’s future, not darkness and gnashing of teeth. While that may seem obvious to some followers of God, pop theology today is facing the other way. … Those novelists and the theologians who provide them their material take the view that we’re in a downward spiral, and when things ‘down here’ become bad enough, Jesus will return in glory. But those of us represented in this book take the contrary view. God’s promised future is good, and it awaits us, beckoning us forward” (p. 130).

N.T. Wright, who has a great influence on the emerging church, warns that the doctrine of an imminent rapture is dangerous because it interferes with kingdom building and environmental activities. “If there’s going to be an Armageddon, and we’ll all be in heaven already or raptured up just in time, it really doesn’t matter if you have acid rain or greenhouse gases prior to that. Or, for that matter, whether you bombed civilians in Iraq. All that really matters is saving souls for that disembodied heaven” (“Christians Wrong about Heaven, Says Bishop,” Time, Feb. 7, 2008).

Tony Campolo says: “I mean all of this stuff [about the imminent coming of Christ and a literal Tribulation] comes out of not only fundamentalism. It comes out of dispensationalism, which is a weird little form of fundamentalism that started like a hundred fifty years ago. … I think that we need to challenge the government to do the work of the Kingdom of God, to do what is right in the eyes of the Lord. That whole sense of the rapture, which may occur at any moment, is used as a device to oppose engagement with the principalities, the powers, the political and economic structures of our age” (“Opposition to women preachers evidence of demonic influence,” Baptist Press, June 27, 2003).

Mark Driscoll refers to the pre-tribulational rapture as “pessimistic dispensationalism” (Listening to the Beliefs of Emerging Churches, p. 146). He has said that “eschatology-minded Christians” are not welcome in his church.

THE IMPORTANCE OF THE PRE-TRIBULATIONAL RAPTURE

The doctrine of the pre-tribulational rapture is not a peripheral one. As we have seen, Christ, Paul, James, and Peter taught that the return of Christ was imminent and was to be expected at any time (Mat. 24:44; Phil. 4:5; Jam. 5:8-9; 1 Pet. 4:7). The early Christians lived in expectation of Christ’s return the literal fulfillment of the prophecies. “For they themselves shew of us what manner of entering in we had unto you, and how ye turned to God from idols to serve the living and true God; And to wait for his Son from heaven, whom he raised from the dead, even Jesus, which delivered us from the wrath to come” (1 Thessalonians 1:9-10).

The doctrine of a pre-tribulational Rapture is a great motivator for purifying one’s personal Christian life.

1. It encourages the believer in trials and persecutions. “Then we which are alive and remain shall be caught up together with them in the clouds, to meet the Lord in the air: and so shall we ever be with the Lord. Wherefore comfort one another with these words” (1 Thessalonians 4:17-18).

2. It keeps the church’s focus on the Great Commission (Mat. 28:18-20; Mk 16:15; Lk. 24:44-48; Acts 1:8). It teaches us that preaching the gospel, winning people to Christ, and establishing churches as the pillar and ground of the truth is the most urgent matter. D.L. Moody had it right when he said: “I look upon this world as a wrecked vessel. God has given me a lifeboat and said to me, ‘Moody, save all you can.’”

3. It motivates us to be busy in the Lord’s work (1 Cor. 15:58).

4. It motivates us to live obedient lives (1 Jn. 3:1-3; 1 Th. 5:4-7).

5. It motivates us to separate from evil (Tit. 2:13-14).

6. It keeps believers on the outlook for heresy and apostasy (2 Timothy 4:3-4; 1 John 2:24-28).

The Antichrist’s One World Economy

Filed under: AKHIR ZAMAN — dedewijaya at 10:55 pm on Wednesday, June 17, 2009

translated by Mrs. Krista Ang

The Cause of Crisis in US

The world was shocked when several US financing companies went bankrupt since this would impact other financing companies, even the banking sector. The first impact was the crash of stock prices in Dow Jones Index. Henry Paulson, US Finance Minister, immediately devised a US$700 billion bailout plan. When the first proposal was rejected by the Congress, the fall of stock prices was even worse. So Paulson, who was back up by George W. Bush, stated that if US Congress was not willing to accept this proposal, not only US but also the whole world would experience a severe economic crisis. Finally, the Congress had no option but to approve this bailout plan.

Indonesian financial analyst, Christianto Wibisono, stated in 13 October 2008 Suara Pembaruan Newspaper that US financial crisis was not caused by George W. Bush, but by the lifestyle of Americans who tend to spend much more than what they actually earn. Many people are still unaware that although the world is temporarily saved by the US$700 billion bailout, the credit card crisis is still looming ahead. It is estimated that US credit card debt reached US$1 trillion. We in Indonesia are also being encouraged to use credit card and make credit card debt as part of our lifestyle.

So why could this US financial crisis happen? The answer is because the world relied heavily on US democracy system and free market economy. All people wanted to deposit their money in US. Even the third world countries’ corruptors put their money in US banks! This made US banks experienced what was called over-liquidity (too much money), so they offered low interest rates. Due to excess of funds, they offer loans easily to housing financing companies. Because the easiness of getting funds out of banks, many financing companies made unwise decisions in order to achieve their target of loan granted. So, without proper customer feasibility study, they granted housing loans to people who actually could not afford it. On the other hand, the customers who were used to live on loans, without due consideration, greedily grabbed this opportunity to buy big and expensive houses. Finally, the amount of non performing loans increased so much that many financing companies went bankrupt. This problem created a severe impact to the banks that loaned money to these companies. If the amount involved was small, its influence would be limited. But because the amount reached billions of dollars, it became not only national but also an international problem.

Lucifer’s Heroin

Credit card debt became a common thing not only in US but in the whole world. People with credit card tend to purchase anything without further thought since “buy now, pay later” becomes their motto. Older generations used to advise their children to save money. But today, people are used to owe money, sometimes even until several levels. Banks that issue credit cards wish that the credit card holders spend as much as they can and only pay the minimum amount because they cannot afford to pay in full, since this will generate high interest income for the banks.

People living at the end of the age are so pampered with technology. Technology itself is not evil or wrong. Using hand phones is of course more convenient than using monolog phones that must be connected through wire. Other technological inventions also add more to our comfort. But this comfort is not for free. It has a price and it is not cheap. To buy it, people need much money so they must work hard to afford it. Those who are not patient enough to wait can use credit card to buy it even if they don’t enough money yet.

So, through technological advancement and “buy now, pay later” principle, people can fill their houses with all the technological gimmicks through debt. This kind of lifestyle has spread to most, if not all, people of this age. People no longer give second or third thought when buying things. With credit cards, they still have one month lag time and also the minimum payment facility.

Every country with free market economy encourages its citizens to be economic human beings. They work so hard day and night to get money in order to buy material things that they scarcely have enough time for their family or their church. They go to work so early in the morning and go home so late at night. This financial chaos in US is only Lucifer’s test case to see how panic people would be when facing financial problems. He will hold this power to cause all people to worship him. This chaos in the end will lead to the unitization of world economy under one monetary policy. Nancy Pelosi urged George W. Bush to invite all G8 countries to sit down together to discuss joint actions to solve this economic problem. This crisis will ultimately lead the world to one single economic policy.

The US presidential election could be a test to Americans. Would they prefer economy to Christian virtues? Apparently Americans will choose the candidate who is able to lead them to economic welfare rather than family values based on Christian virtues. Americans cannot afford to face an economic hardship after enjoying economic welfare for so long. They don’t really know how to save money or to survive an economic crisis. After all, finding jobs has never been difficult before. Why do they need to save money?

So, the moral of the US president candidate is no longer important. The most important thing is whether he can lead US to economic improvement. Therefore, it is not surprising if one day Lucifer comes in the open and state his position against biblical Christians, people will still choose him. Lucifer will be fully back up by the homosexuals, people from all religions, untruthful Christians, Hollywood movie stars who practice free sex, and other communities. Lucifer has been successful in offering “heroin” in the form of leisure living and freedom to borrow money. He knows for sure that most people will die without him.

No One Can Sell and Buy

In Revelation 13:16-17, it is written that “And he causeth all, both small and great, rich and poor, free and bond, to receive a mark in their right hand, or in their foreheads: and that no man might buy and sell, save he that had the mark, or the name of the beast, or the number of his name.” In your opinion, what are the factors that will enable Lucifer to control the world economy, to the point where no one can buy or sell without his permission? There must have been a monetary unitization so the monetary authority for the whole world is held by one ruler.

Lucifer will be successful in unitizing the world politics so that one world government is established. It is possible to have one federation country with 200 states. US will become one state, and so will Indonesia and China. The world president must be a very prominent person and will be elected by all people in the whole world. Don’t you know that we have already had a World Parliament? And do you know that in October 2008 Indonesia has proposed Agung Laksono as a candidate for the chairman of the world parliament?

We are heading toward one world economy and one world monetary policy. We have already had World Bank and International Monetary Fund (IMF) which help many countries to solve their financial problems. Can you now see that a global anti-Christ government which was revealed by God in Nebuchadnezzar’s dream as a great image whose feet were made of iron and clay is now being formed?

Revelation chapter 13 which was quoted above told us that anti-Christ would rule the world and control the economy so that no one can sell and buy without his permission. Many people reading Revelation chapter 13 were shocked by the number of the anti-Christ, 666, while unaware that they themselves were in the program.

The Kingdom of Iron and Clay

Nebuchadnezzar dreamed dreams, and it was recorded in Daniel chapter 2. There was almost a slaughter in the Babylonian Kingdom because no one was able to interpret the dreams of the great king. However, since those dreams came from God, only God could reveal the meaning, and this was done through Daniel. We were told that the head of the image made of gold represented the Babylonian Kingdom at that time. It was also said that after this kingdom, four more kingdoms would emerge before another kingdom symbolized by a rock rolling down from a mountain destroyed them. Because after 2,600 years have passed after Daniel got this revelation, it is very easy for us today to understand that the breast and arms made of silver were actually the Median-Persian Kingdom that came after Babylonia, the belly and thighs made of bronze were actually the Greek Kingdom with its “Alexander the unGreat” and the legs made of iron were actually the Roman Empire (European Union) that crucified Jesus Christ.

So what does the kingdom of iron and clay actually mean? It is surely not Singosari or Sriwijaya (Indonesian local kingdoms before Indonesia became an independent country), or England. Since the Roman Empire collapsed, there has been no other kingdom or government as global as it was. Because this fifth kingdom was described as made of iron and clay, then the iron must be Europe, which was the identity of the fourth kingdom. Now the question is, what is represented by the clay?

It appears that the financial crisis happening today is the process of the forming of the “clay.” Christianto Wibisono and other economists view that through this crisis, US will be more “damaged” and China will be more “triumphant.” Don’t forget that the Arabian countries (Islamic countries) are not affected by this crisis. Media Indonesia Newspaper on its 13 October 2008 issue stated that Saudi Arabia planned to construct a building complex which height was more than 1 Km and cost about US$26.7 billion.

Can it be that what was meant by the “clay” was actually China which is very famous for its ceramic? Or could it be that the clay was actually the Arabian countries (Islamic countries) or the combination of both? If the “iron” represented the Western world (Europe), can it mean that the “clay” was the Eastern World (the combination of China, Arab, etc.)? So will the whole world unite like iron mixed with clay? Let us wait for the final event. It can be that you will experience it.

He Will Infiltrate the Church

Chapter 13 of Revelation is being fulfilled and the antichrist with the 666 sign is forming itself. The fifth kingdom that is the iron and clay mix which was described in the image of Nebuchadnezzar’s dream, is revealing itself. The real antichrist is actually a person who claims himself to be Christ. The word “anti”is a Greek preposition which means against someone by impersonating the person against whom he is fighting. So antichrist is against Christ by claiming himself as Christ or in other words, antichrist is a phony Christ. Christ in Greek has the same meaning with Messiah in Hebrew. So, the antichrist will come not from the leaders of other religions, but from Christians.

He will preach about Christ according to his version, and he will call himself as the Anointed One, which is the meaning of the word “Christ.” He calls himself or his office as the replacement of Christ. Before the main antichrist comes, he will send his spies pretending as Christians to all churches. He will tell everyone not to talk about doctrines, because in the absence of the teaching of true doctrines will make his covers more secured. He will lead the churches to lower the moral standards and introduce pop music as Christian songs. He will concoct a doctrine, in which everyone who will go to heaven has been chosen before the world was made, so eliminates the need to spread the Gospel. He will lead all churches to one institution. In his book, All Roads Lead to Rome, Michael de Semlyen declared the Roman Catholic Church as the final station of antichrist.

He will unite the world under one power, and all economic policies will also under his. But those are not the ends but mere tools, since the deepest desire of Lucifer is to be worshiped not only by human beings, but also by God, his Creator (Matthew 4:9). He will unite the churches in his clutch and proclaim himself as Christ. This will happen after he gives a quasi power to his disciples to perform miracles in the name of “Christ” (which is himself), and at the same time he will destroy pure Christian doctrines, moral, and motivation (the three measures of flour) with yeast.

Advice for Christians

Beware, be wise, and pay attention to the doctrines because doctrines were the differentiating factors between one religion and another. If you don’t like to learn about doctrine, then you will not be able to differentiate one church with another, and slowly but sure, you will not be able to differentiate one religion with another. Examine the teachings of each church, and differentiate one teaching with another. Learn carefully to make sure that you accept only the most biblical and logical teachings. Don’t be amazed only with one doctrine, but each doctrine of one church must be harmonious with others of the same church. Don’t forget to compare the teachings of GRAPHE with those of other churches’. Should you have any questions, feel free to email us at church@grapheministry.org or gits@grapheministry.org. The true teachings will allow all who hear them to examine them. Delicious food can only be offered but not forced to be eaten. Make sure that you join a biblical church while we are waiting the second coming of our Lord, because the Lord once said sardonically, “. . . when the Son of man cometh, shall he find faith on the earth?” He is pessimistic to find true faith when he comes again. It must be that true faith is being eroded by churches with false doctrines.

Does it mean that you can still use credit to buy a car or a house? Of course you can, but you have to make sure that the amount of the installment is within your affordable range. Can you still use Credit Card? Of course! But control your spending. Try to be content with what you have, and save as much money as you can to anticipate troubled days. We have to help other Christians who are proved to be faithful, not just pretending to be, as a proof that we are brothers in Christ.

DISIPLIN ANAK

Filed under: LOVE — dedewijaya at 6:11 am on Monday, June 8, 2009

Amsal 3:11-12; 13:24; 15:20; 17:21, 25; 19:18; 22:6, 15; 23:13-14; 29:15, 17.

Kitab Amsal adalah manual pendisiplinan anak dari Tuhan. Kita telah melihat bahwa kitab ini dituliskan bagai “anakku” dan “anak-anakku.” Kitab ini berisi banyak sekali petunjuk untuk membantu orang tua mendidik anak-anak, dan juga menunjukkan mereka bagaimana caranya menerapkan rotan pendisiplinan ketika diperlukan. Ada lebih banyak informasi yang benar tentang membesarkan anak dalam satu kitab kecil Amsal ini dibandingkan semua buku “psikologi anak” yang pernah ditulis. Saat ini kita tidak akan membahas pendidikan anak secara umum, tetapi secara khusus tentang pendisiplinan anak dan pemakaian rotan.

1. ALASAN UNTUK MELAKUKAN DISIPLIN ANAK

Rotan atau tongkat adalah obat yang keras. Apakah memang diperlukan? Alkitab tidak membiarkan kita menebak-nebak mengapa kita perlu mendisiplinkan anak-anak kita dengan cara yang keras.

ALASAN PERTAMA UNTUK DISIPLIN ADALAH SIFAT DARI ANAK (”Kebodohan melekat pada hati orang muda,” Amsal 22:15).

Ia memiliki sifat orang berdosa dan secara alami akan tidak taat dan mengikuti jalan kebodohan dari pada jalan hikmat (Ams. 22:15). Filosofi dan teknik pendidikan anak yang benar dimulai dengan mengerti sifat dari seorang anak. Psikologi anak modern dimulai dengan ide bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan mencoba untuk mengembangkan kebaikan dasar itu. Alkitab mulai dengan poin bahwa manusia memiliki sifat jatuh dalam dosa dan bermaksud untuk membawa mereka kepada pertobatan dan kelahiran kembali melalui instrumen Hukum Allah dan Injil Yesus Kristus, dan memacu mereka kepada pertumbuhan rohani melalui alat-alat seperti persekutuan, penyerahan diri, ketaatan, dan pemisahan.

Alasan lain untuk disiplin adalah karena apa akan terjadi jika seorang anak tidak didisiplinkan.

Anak-anak yang tidak mendapat didikan disiplin yang benar akan berlanjut dalam arah kebodohan yang secara alami ia miliki (Ams. 22:15). Kebodohan hanya dapat diusir dengan pendidikan yang saleh dan penerapan tongkat didikan.

Anak-anak yang tidak didisiplinkan dengan benar akan mendatangkan duka dan malu kepada orang tuanya (Ams. 17:21, 25; 29:15). Tidak banyak hal yang lebih menyakitkan dan membuat putus asa para orang tua dibandingkan seorang anak yang menyimpang dan memberontak.

ALASAN LAIN KITA HARUS MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA ADALAH KARENA APA YANG AKAN TERJADI JIKA SEORANG ANAK DIDIDIK DENGAN BENAR

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar akan berjalan di jalur hikmat dan bukan kebodohan (Ams. 22:6)

Janji Allah dalam Amsal 22:6 adalah bahwa anak yang dididik sedemikian rupa, tidak akan menyimpang dari didikan tesebut dan dari jalan yang benar ketika dia menjadi dewasa. Ini tidak berarti bahwa anak yang dididik sedemikian tidak akan pernah memberontak terhadap didikannya dan tidak pernah menyimpang. Hanya berarti bahwa jika ia memberontak, ia akan bertobat dan kembali kepada hikmat “ketika ia tua.” Juga tidak berarti bahwa setiap anak yang dididik sedemikian rupa akan menjadi hamba Kristus yang berapi-api, karena kita tahu bahwa tingkat dedikasi seseorang kepada Kristus adalah masalah keputusan pribadi. Tetapi kita yakin bahwa ayat ini memang berarti bahwa seorang anak yang dididik sedemikian tidak akan tersesat dan menolak kasih karunia Yesus Kristus dan iman kepada Allah yang hidup. Allah berkata tentang Abraham: “Sebab Aku telah mengenal dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya” (Kej. 18:19). Kita tahu bahwa anak Abraham, Ishak, berjalan menurut jejak iman ayahnya dan tidak berpaling kepada berhala-berhala.

Ada sebagian orang yang tidak percaya bahwa Amsal 22:6 adalah sebuah janji, tetapi kita tidak dapat mengerti bagaimana mungkin ini bukan suatu janji, dan suatu janji yang sedemikian menguatkan bagi orang tua yang secara serius mendidik anaknya. Tetapi, bagaimana denagn orang tua yang sepertinya membesarkan anaknya dalam jalan Kristus, tetapi mereka memberontak dan pergi kepada dunia, dan tidak pernah berhubungan dengan Kristus? Kita semua mungkin pernah tahu kasus-kasus yang demikian. Apakah artinya Amsal 22:6 bukanlah sebuah janji yang sejati? Jawaban saya terhadap tantangan seperti ini adalah bahwa ada banyak cara orang tua Kristen dapat gagal walaupun tampak dari luar mereka membesarkan anaknya dengan benar, dan kegagalan-kegagalan tersebut dapat menghancurkan efek dari pendidikan mereka. Kurangnya kasih, keduniawian, kemunafikan, tidak memakai tongkat didikan, dan mengasihi dunia adalah lima hal utama yang dapat “merusakkan kebun” sehingga buah dari rumah tangga itu pahit, bukannya manis, dan pendidikan anak-anak gagal.

Setelah orang tua yang bijaksana melakukan yang terbaik untuk mendidik seorang anak dalam jalan yang seharusnya, maka imannya bukanlah pada pendidikan yang ia berikan, tetapi kepada Allah penuh belas kasihan dan karunia yang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil sesuai dengan rencanaNya (Rom. 8:28).

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar luput dari neraka (Ams. 23:13-14, terjemahan Indonesia “dunia orang mati”). Ayat ini mengandung janji yang berharga, dan tentunya Firman Tuhan dapat dipercaya.

Tentunya ini tidak berarti, bahwa seorang anak dapat diselamatkan di luar Injil Yesus Kristus. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa orang yang percaya pada Kristus memiliki hidup yang kekal, dan mereka yang tidak percaya dalam Kristus tidak akan melihat hidup (Yoh. 3:36). Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus yang beragama bahwa kecuali seorang dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah (Yoh. 3:3).

Apa yang diajarkan oleh Ams. 23:13-14, dalam terang kebenaran Perjanjian Baru, adalah bahwa orang tua Kristen berhikmat yang mendisiplinkan anak-anaknya dengan benar dan mengajarkan pada mereka Injil, akan memiliki sukacita melihat mereka diselamatkan. Hal ini mirip dengan janji dalam Kis. 16:31, ketika Paulus dan Barnabas memberitahu kepala penjara Filipi, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau DAN SEISI RUMAHMU.” Keluarga seseorang tidak secara otomatis diselamatkan ketika ia sendiri diselamatkan, tetapi dengan percaya pada Kristus, seorang individu berada dalam posisi siap memaparkan keluarganya kepada Injil.

Disiplin yang benar dan pemakaian tongkat didikan mempersiapkan anak untuk keselamatan dengan cara mengajar padanya pertobatan dari dosa dan hormat kepada otoritas.

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar akan memberikan ketentraman dan sukacita kepada orang tuanya (Ams. 29:17). Hal ini seharusnya menjadi motivasi yang kuat bagi para orang tua untuk melakukan apapun yang perlu dilakukan demi mendidik anak mereka dalam jalan Tuhan. Tidak ada yang dapat lebih menentramkan hati orang tua Kristen dan menyukakan mereka selain tahu bahwa anak-anak mereka berjalan dengan Kristus, dan tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk itu.

2. CARA YANG BENAR PENDISIPLINAN ANAK

DISIPLIN HARUS DIMULAI AWAL (Ams. 13:24; 19:18). Kata “pada waktunya” Amsal 13:24 berarti sejak awal. Lihat Kejadian 26:31 dan 2 Tawarik 26:15. Disiplin harus dimulai sejak seorang anak dapat mengerti apa yang hendak dikomunikasikan oleh orang tuanya, dan ini biasanya dalam bebarapa bulan pertama. Jika disiplin tidak dimulai awal, maka bisa menjadi terlambat, dan anak tidak anak merespon dengan benar. Sang anak harus didisiplinkan “selama ada harapan.” Waktu yang terbaik untuk mendidik seorang remaja adalah ketika dia masih kanak-kanak.

DISIPLIN HARUS DIPAKAI DALAM KONTEKS PENDIDIKAN YANG BENAR (Ams. 22:6)

Koreksi dan penggunaan tongkat hanyalah sebagian kecil dari pendidikan seorang anak. Orang tua harus melancarkan program pendidikan penuh waktu untuk mendidik seorang anak dalam jalan yang seharusnya, dan dalam konteks pendidikan yang demikian, jika seorang anak tidak mau taat, maka ia harus dikoreksi dengan tongkat. Tetapi bukan hanya pengoreksian seorang anak yang akan membuat dia berjalan di jalan yang benar ketika ia dewasa, tetapi adalah mendidik dia dalam jalan tersebut, dan ini termasuk semua yang terlibat dalam pendidikan, contohnya, mengembangkan hubungan yang dekat dengan dia, mengajarinya Alkitab, membangun dalam dirinya karakter yang bermoral, menjangkau hatinya dengan kebenaran, mendidik dia tentang bahaya-bahaya yang menantinya di dunia, dll.

Pendidikan harus membawa seorang anak dalam jalan yang benar. Ia harus diajar “dalam jalan yang patut baginya.” Hal ini tidak mengacu pada jalan alami seorang anak, tetapi kepada jalan Tuhan. Kata Ibrani yang diterjemahkan “didiklah” (hanak) berarti “mempersempit.” Hal ini mengacu pada tindakan mempersempit jalan seorang anak sehingga berpadanan dengan jalan Allahyang sempit dan membatasinya dengan Firman Allah sehingga ia tidak masuk ke jalan yang lebar yang menuju kepada kebinasaan (Mat. 7:13-14).

DISIPLIN HARUS MEMPERGUNAKAN TONGKAT DENGAN EFEKTIF (Ams. 23:13-14, 24; 29:15).

Tongkat disebut empat kali dalam Amsal dalam hubungannya dengan disiplin seorang anak. Benda ini adalah instrumen disiplin yang patut dalam Alkitab. Sebuah tongkat bukanlah tangan orang tua, dan juga bukan ikat pinggang, bukan cambuk, juga bukan sebuah tinju, bukan tempelengan, bukan tendangan, bukan makian, juga bukan ancaman. Kamus Webster tahun 1828 mendefinisikan sebuah `tongkat’ (rod dalam bahasa Inggris) adalah “cabang atau batang panjang dari tumbuhan kayu manapun; sebuah cabang, atau akar dari semak-semak….” Lihat Kej. 30:37 dan Yer. 1:11. Generasi Amerika yang dulu menyebut tongkat ini “tree switch.” Nenek dari pihak ibu saya menggunakan rotan dari pohon-pohon yang tumbuh sekitar rumah dia di Florida tengah, dan rotan-rotan itu sedemikian efektif sehingga semua anak-anaknya menyatakan iman dalam Kristus saat dewasa dan semua memiliki keluarga yang sukses tanpa perceraian.

Tongkat tidak boleh ditahan-tahan (”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya,” Ams. 13:24). Ini berarti takut menggunakan tongkat.

Tongkat tidak digunakan ketika ia ditinggalkan sama sekali. Banyak orang tua yang menggantikan tongkat dengan trik-trik manipulasi psikologi. Alkitab mengatakan bahwa orang tua yang demikian sebenarnya tidak mengasihi anak-anak mereka.

Tongkat tidak dipakai dengan semestinya ketika ia tidak diterapkan ketika seharusnya dipakai. Ada orang tua yang sudah mulai menggunakan tongkat didikan dengan benar, tetapi kemudian mereka mengendur. Ada juga yang memakai tongkat sesekali, tetapi mereka tidak melakukannya dengan konsisten setiap kali hal itu diperlukan. Jangan tertipu. Firman Allah berkata, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya…” Ada banyak hal yang akan menggoda orang tua untuk tidak menggunakan tongkat, seperti tangisan anaknya (Ams. 19:18), keletihan fisik, ketidaksabaran dengan kemajuan disiplin yang pelan, interferensi dari teman maupun keluarga yang bermaksud baik tetapi salah, dan frustrasi mental, tetapi jika tongkat tidak digunakan ketika seharusnya ia digunakan, anak tidak akan mendapat disiplin yang patut.

Tongkat tidak digunakan dengan seharusnya ketika ia tidak digunakan kepada sebagian anak-anak. Cukup sering terjadi bahwa orang tua lebih tegas terhadap anak pertama dibandingkan anak-anak yang lahir setelahnya. Cukup sering bagi orang tua yang mendapat anak pada umur lanjut untuk tidak menggunakan tongkat.

Tongkat harus digunakan ketika anak itu memberontak (Ams. 22:15; 23:13). Tongkat yang alkitabiah adalah tongkat pengoreksian. Tongkat tidak boleh dipakai semata-mata karena orang tua frustrasi dengan sang anak; ia dipakai untuk mengoreksi seorang anak yang menolak untuk mendengarkan perintah-perintah dan instruksi verbal. Ia dipakai untuk menekankan pentingnya ketaatan yang sejati dan yang cepat. Ia dipakai untuk mengoreksi ketidaktaatan dan pemberontakan.

Tongkat harus dipakai dengan kekuatan yang cukup agar memberikan koreksi pada anak (Ams. 23:13). Tongkat adalah untuk tujuan memukul. Seharusnya ada rasa sakit, dan seharusnya rasa sakitnya cukup untuk menyampaikan pesan yang diinginkan dan menghasilkan penyerahan hari yang nyata. Jika tongkat telah dipakai tetapi anak masih tetap dalam ketidaktaatan, maka artinya ia belum dipakai dengan kekuatan atau persistensi yang cukup. Orang tua sering gagal dalam poin yang satu ini. Mereka menggunakan tongkat sedikit, tetapi tidak cukup untuk membawa hasil yang diinginkan, dan mereka lalu berpikir bahwa metode ini tidak bekerja. Problemnya bukan pada tongkat; problemnya adalah penyalahgunaannya, dan penggunaan yang inkonsisten dan setengah hati. Saya masih ingat teman Kristen yang memiliki seorang anak lelaki dua tahun yang ekstra besar dan ekstra pemberontak. Ibunya akan “merotan” dia dengan memberikan beberapa pukulan pada popoknya yang tebal dengan tangannya, dan anak itu secara literal tertawa dan berlanjut pada kenakalan dan pemberontakannya. Tidak heran, ketika anak itu mendekati umur remaja, ia tidak dapat dikendalikan lagi. Penggunaan yang alkitabiah akan tongkat tentunya dapat menghentikan pemberontakan yang menakutkan itu dari awalnya dan menyelamatkan keluarga tersebut dari banyak sakit hati dan juga menyelamatkan anak itu dari banyak kesedihan. Kebodohan yang terikat pada hati seorang anak harus diusir, dan hal ini memerlukan kekuatan yang benar, dan ketetapan yang teguh dan ketekunan yang mantap (Ams. 22:15).

Tongkat harus dipakai daripada memberikan perintah dan ancaman berulang-ulang. Banyak orang tua yang masuk ke dalam perangkat memberitahu anaknya “jangan” berulang kali, dan memperingatknnya dan mengancamnya, daripada dengan tenang dan cepat dan konsisten menggunakan tongkat untuk mendidik anak agar taat pada perintah yang pertama. Jika ia tidak taat setelah SATU perintah, ia harus dipukul dengan rotan hingga ia taat. Jika ia diberikan banyak perintah sebelum ia dipukul dengan rotan, maka sebenarnya ia diajar untuk TIDAK taat, dan ia sedang mendidik orang tuanya, bukan sebaliknya. Ia belajar bahwa orang tuanya tidak benar-benar sepenuh hati ketika mereka memberinya perintah, atau bahkan ketika mereka memperingatkannya, karena mereka membiarkan dia melakukan banyak aksi ketidaktaatan.

DISIPLIN HARUS DILAKUKAN DENGAN ALASAN YANG BENAR DAN DENGAN SEMANGAT YANG BENAR (Ams. 3:11-12; 13:24: 22:6).

Jika orang tua tidak memiliki motivasi dan semangat yang benar ketika menggunakan tongkat, maka ia tidak akan berhasil dan dapat menghasilkan kebalikan dari ketaatan yang saleh. Motivasi yang benar adalah keinginan untuk mendidik anak tersebut, sehingga ia akan berada di jalan yang benar, dan semangat yang benar adalah semangat mengasihi. Jika motivasi dan semangatnya adalah amarah, atau dendam, atau iri hati, atau frustrasi, atau keinginan untuk mencelakai atau hal-hal kedagingan lainnya, tongkat akan lebih berbahaya daripada bermanfaat. Saya menyesal saya tidak mengerti hal-hal ini dengan lebih baik ketika saya masih orang tua muda dan anak-anak saya masih kecil, tetapi kini saya memahaminya karena kasih karunia Allah, dan saya mendorong para orang tua muda untuk melaksanakan disiplin anak dalam semangat yang benar. John G. Paton, misionari tersohor ke kepulauan Hibrida Baru, yang menderita amat sangat demi Kristus dan memenangkan banyak pemburu manusia kepada Kristus, dalam biografinya menggambarkan pendidikan dan disiplin yang ia terima sebagai seorang anak. Ia tumbuh besar di rumah tangga yang bahagia tetapi sangat rohani, dan disiplin sangat efektif dalam hidup setiap dari sebelas anak di rumah tangga itu. Setelah menggambarkan bagaimana keluarga menghabiskan hari minggu mereka dan bagaimana anak-anak dengan hati-hati diajarkan doktrin Alkitab sepanjang minggu, dan bagaimana ayahnya menggunakan tongkat didikan ketika diperlukan, ia mengamati: “Tentu saja, jika orang tua tidak saleh, dan tulus, dan penuh kasih, – jika seluruh kejadian itu dari kedua pihak hanyalah sekedar suatu pekerjaan, atau lebih buruk lagi, sesuatu yang munafik dan palsu, – hasilnya pastilah jauh berbeda! Tuhan kiranya menolong rumah tangga di mana semua hal ini dilakukan hanya dengan kekuatan semata dan bukan dengan kasih!” (John G. Paton: Missionary to the New Hebrides, 1891).

DISIPLIN SEHARUSNYA DILAKUKAN SAMBIL BERPIKIR TENTANG KEKEKALAN (”maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu,” Ams. 22:6; “engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati,” Ams. 23:14).

Orang tua tidak boleh berpikiran pendek. Dengan memikirkan masa depan, orang tua dapat melihat melampaui air mata sang anak dan melampaui keletihan dan ketidaksabarannya sendiri, melihat kepada hari saat anak telah dewasa dan bahkan melampaui itu kepada hari sang anak meninggalkan dunia ini dan masuk ke surga atau ke neraka.

(Disadur dari Way of Life Ministry)

NATAL BULAN JUNI

Filed under: HARI BESAR KRISTIANI — dedewijaya at 6:09 am on Monday, June 8, 2009
Jika ada yang bertanya, mengapa merayakan Natal di bulan Juni, artikel berikut dapat memberikan jawabnya.

Natal Tanpa Salju, Tetapi Ada Domba di Padang dan Para Gembala

Sebelum Constantine berhasil menjadi kaisar Roma, orang Kristen sangat dianiaya. Kaisar-kaisar Roma sebelumnya tidak puas sekedar dihormati sebagai kaisar. Mereka menuntut dihormati sebagai Tuhan. Tentu orang Kristen tidak bisa memberi penghormatan kepada manusia sebagai Tuhan. Maka timbullah iri hati di dalam para kaisar sehingga mereka membenci orang Kristen.

Kaisar Nero adalah yang paling gila dan paling membenci orang Kristen. Saking gilanya, ia ingin menikmati api unggun sambil menggubah syair. Timbul ide untuk membakar kota Roma sebagai api unggun raksasa sambil menggubah syair dan lagu. Ketika pembakaran terjadi, rakyat yang kehilangan rumah menjadi marah, dan mereka menuju istana untuk melawan kaisar. Namun dengan penuh percaya diri, ia tampil dan memfitnah bahwa orang Kristenlah yang membakar kota Roma.

Tuduhan ini betul-betul dimakan oleh penduduk Roma yang tidak pakai otak. Dan sejak saat itu (+ AD 65) orang Kristen dianiaya secara intensif di seluruh Roma. Rumah dan tanah mereka direbut, demikian juga dengan harta bergerak mereka. Orang Kristen yang statusnya diketahui tetangga harus segera menyembunyikan diri. Sedangkan yang belum diketahui statusnya harus pintar berkamuflase.

Selanjutnya satu demi satu kaisar bertindak serupa sampai Constantine menang dan naik tahta. Malam sebelum peperangan dahsyat untuk memperebutkan tahta ia melihat suatu penglihatan. Kalau ia benar melihat penglihatan, tentu bukan dari Tuhan karena proses pewahyuan telah berhenti. Setelah kemenangannya ia mengumumkan bahwa ia menjadi orang Kristen. Sangat mungkin ia menyadari bahwa orang Kristen telah menjadi mayoritas sehingga demi politik, daripada memusuhi orang Kristen lebih baik memanfaatkan mereka.
Ketika iblis menghantam kekristenan dari luar, kekristenan semakin berkembang, dan kemurnian motivasi, kebenaran doktrin, serta keagungan moral kekristenan bersinar bagaikan lampu sorot jutaan watt. Orang Kristen semakin bertambah sekalipun tanpa gedung untuk kebaktian. Tentu mereka tidak berkumpul untuk berdoa seperti orang Kristen di Jakarta berkumpul untuk berdoa di Senayan, apalagi bercita-cita untuk mendirikan gedung gereja besar (menara Babel).

Ketika Constantine menjadi kaisar, sepertinya iblis ubah taktik, dari menyerang dari luar, menjadi menyerang dari dalam. Edict of Milan diumumkan Constantine pada tahun 313, yaitu sepuluh tahun setelah ia naik tahta (303). Isinya adalah harta orang Kristen yang pernah dirampas harus dikembalikan. Kaisar mengumumkan bahwa dirinya menjadi Kristen sekalipun ia tidak mau dibaptis sampai saat mendekati ajalnya.

Karena kaisar menjadi Kristen, maka semua penjilat ikut-ikutan menjadi Kristen. Bahkan para pelayan kuil pun tanpa bertobat segera menjadi Kristen. Tentu kebe-basan berjemaat dan berbakti yang diberikan sangat disyukuri orang Kristen yang telah menderita berabad-abad. Namun penyimpangan doktrinal tidak bisa dihindarkan. Mulai saat itu dibangunlah gedung-gedung gereja yang megah, lagi pula dibuatlah patung-patung tokoh-tokoh Alkitab. Ditetapkan juga hari-hari raya kekristenan.

Tanggal 25 Desember adalah hari raya penyembahan dewa matahari. Karena pada tanggal itu posisi matahari berada tepat di garis lintang selatan, dan Eropa pada puncak musim dingin, sehingga mereka sangat mengharapkan musim panas. Tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari tanda setia dewa matahari untuk menggeser posisi matahari kembali ke Eropa, sehingga musim semi akan segera tiba. (Silakan membacanya di berbagai Encyclopedia).
Sejak saat itu perayaan untuk dewa matahari, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Desember digeser menjadi perayaan untuk misa Yesus. Termasuk ditetapkannya hari penyaliban yang sebenarnya hari Rabu bukan hari Jumat.

Lalu Kapan Kristus Lahir?

Sumber yang tak terbantahkan ialah Alkitab. Dalam Injil Lukas 1:10 memberitahukan kepada kita bahwa pada saat Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis, mendapat undian bertugas sebagai imam untuk masuk ke Bait Suci, di luar seluruh umat berkumpul. Dalam hukum Taurat ditetapkan hanya tiga hari raya dimana orang Israel berkumpul semua di Yerusalem. Yang paling menonjol tentunya adalah hari Paskah yang jatuh pada sekitar bulan Maret-April (bulan pertama Yahudi). Di Lukas 1:26, dikatakan bahwa Gabriel mendatangi Maria pada bulan keenam. Bulan keenam disini bisa mengacu pada bulan keenam orang Yahudi, atau bulan keenamnya kehamilan Elizabeth. Atau bisa saja kedua hal di atas kebetulan sama, yaitu jika Zakaria memang bertugas pada bulan pertama orang Yahudi. Sepertinya hal itulah yang terjadi.

Jika Yohanes Pembaptis dikandung pada sekitar bulan Maret-April, dimana Luk 1:26 berkata pada bulan ke-enam malaikat datang kepada Maria di Nazaret, berarti Yesus Kristus mulai dikandung pada sekitar bulan September-Oktober. Selanjutnya sebagaimana biasa (alamiah) Maria mengandung Yesus Kristus selama sembilan bulan sehingga perkiraan yang lebih alkitabiah adalah Yesus Kristus dilahirkan pada sekitar bulan Juni-Juli.
Jadi, inilah keterangan Alkitab yang kita peroleh untuk menjejaki saat kelahiran Yesus Kristus. Orang Kristen alkitabiah harus lebih percaya pada keterangan Alkitab daripada tradisi dan segala informasi lain yang terkontaminasi serta bias.

Secara Akal Sehat

Alkitab juga memberi keterangan kepada kita bahwa pada saat menjelang kelahiran Kristus Kaisar Agustus memerintahkan sensus. Tentu Tuhanlah yang menggerakkannya untuk mengeluarkan perintah itu karena Nabi Mikha telah menulis bahwa Mesias akan lahir di kota Betlehem (Mik. 5:1). Tanpa perintah sensus mungkin Kristus akan dilahirkan di kota Nazaret. Dan hal ini akan menjadi masalah besar.

Sistem sensus zaman kuno tersebut mengharuskan setiap orang kembali ke kota atau kampung kelahirannya. Perintah ini akan menyebabkan pergerakan manusia dalam jumlah besar. Dan ternyata tidak bisa diwakilkan atau hanya kepala rumah tangga saja yang datang. Maria dalam keadaan hamil tua ternyata harus mengikuti sensus.
Masuk akalkah Tuhan menggerakkan kaisar Agustus memerintahkan sensus pada musim dingin (Desember)? Betapa sulitnya orang zaman itu melakukan perjalanan di musim dingin. Bahkan beberapa kali rasul Paulus menghentikan perjalanannya karena terhalang musim dingin.

Sekalipun katakanlah bahwa kaisar Agustus itu sinting, mungkinkah ia rela menanggung resiko dibenci oleh rakyat seluruh kekaisarannya karena memerintahkan orang untuk kembali ke kota kelahirannya pada musim dingin? Secara akal sehat rasanya sulit untuk percaya bahwa sensus itu dilakukan pada bulan Desember. Dan sangatlah masuk akal kalau sensus itu dilaksanakan pada musim panas atau menjelang musim panas yaitu sekitar bulan Juni atau Juli.

Keterangan lain dari Alkitab ialah adanya penggembalaan domba di padang rumput pada saat Kristus dilahirkan. Seharusnya mereka yang di wilayah empat musim tahu persis bahwa pada bulan Desember itu musim dingin dan tidak ada padang rumput yang menghijau, melainkan layu bahkan tempat tertentu tertutup salju. Ketika penulis berada di Virginia, USA, sungguh telah menyaksikan bahwa pada tanggal 25 Desember tidak ada padang rumput, bahkan tidak ada orang yang berjalan di luar rumah. Kalau kita lihat peta, posisi Israel hampir sama dengan posisi Virginia. Memang, di kota Betlehem secara geografis tidak sering terjadi salju. Tetapi, tetap saja kenyataannya, sangat tipis kemungkinan ada domba yang bermalam di padang terbuka pada musim dingin.

Kapankah mulai ada aktivitas penggembalaan? Tentu setelah musim semi, saat itu rumput tumbuh dengan subur. Terlebih setelah memasuki musim panas setelah matahari menyinari rumput-rumput. Bagi gembala saat itu tidak terlalu dingin untuk berada di padang rumput. Itulah sebabnya dari keterangan Alkitab tentang keberadaan para gembla dapat dipastikan itu di bulan Juni-Juli.

Mengenai Orang Majus

Siapakah orang Majus yang dari Timur itu? Saking ingin diperhitungkan nenek moyangnya terlibat, ada pendeta Tionghoa yang menafsirkan orang Majus itu dari Tiongkok. Waw, jauh sekali. Padahal pada zaman itu belum tentu saling tahu menahu keberadaan masing-masing antara orang di Tiongkok orang di Timur Tengah.

Mereka melihat bintang. Mengapa mereka tahu bahwa bintang itu sebuah tanda kelahiran raja Yahudi? Dari pada menafsir secara liar, apakah ada bagian Alkitab yang bisa menjelaskan hal ini?

Dalam kitab Bilangan tercatat seorang nabi yang bernama Bileam. Apakah ia nabi dari Allah yang benar? Kelihatannya begitu, karena ia takut akan Allah dan memang ada komunikasi antara Bileam dengan Allah.

Ingat, pada zaman sebelum Taurat diturunkan, adalah zaman keimamatan ayah. Pada zaman itu tiap-tiap ayah adalah imam bagi keluarganya. Ada banyak ayah yang keimamatannya tidak berfungsi dengan baik dan ada ayah yang aktivitas keimamatannya melampaui keluarga-nya sehingga menjadi imam komunitas seperti ayah mertua Musa, Yitro. Ayub diperkirakan hidup pada zaman itu, dan ia berfungsi baik sebagai imam bagi keluarganya.
Bileam termasuk dalam kategori Yitro dan Ayub, demikian juga mertua Yusuf yang di Mesir. Mereka adalah orang-orang yang masih percaya pada Allah yang benar namun dengan pengertian yang sangat minim karena belum diturunkannya wahyu tertulis yang bisa menjadi patokan kebenaran yang sifatnya definit dan permanen.

Dalam kitab Bilangan pasal 24:17, Tuhan memelintir mulut Bileam sehingga ia mengucapkan firman yang bukan kutuk melainkan nubuatan tentang kedatangan Sang Mesias. Katanya, “Aku melihat dia (Mesias) tetapi bukan sekarang; Aku memandang dia tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab dan menghancurkan semua anak Set.

Ingat, Bileam adalah seorang yang dihinggapi Roh Allah. Kata-katanya diterima sebagai kebenaran terlebih oleh orang Moab. Pastilah apa yang telah terjadi antara Balak dan Bileam menjadi buah bibir turun-temurun. Sangatlah gampang untuk menafsirkan nubuatan Bileam bahwa nanti akan datang seorang pemimpim bangsa Yahudi yang memiliki kemampuan membinasakan semua anak Set. Nubuatan Bileam mengenai seorang yang akan datang, “aku melihatnya tetapi bukan sekarang,” Seorang pemimpin yang kelahirannya ditandai dengan bintang.

Sangatlah masuk akal untuk menafsirkan bahwa orang Majus dari Timur itu adalah orang Moab yang telah sangat terkesan dengan nubuatan Bileam, orang yang semua perkataannya sangat mereka hormati. Lagi pula Bileam sendiri tentu lebih terkesan lagi karena ia rasakan sendiri bagaimana ia terkendali secara illahi dalam mengucapkan nubuatan tersebut.

Ia pasti akan mengulanginya dan menegaskannya kepada masyarakat bahwa jika mereka melihat bintang yang ajaib maka itu sebuah pertanda kelahiran seorang raja Yahudi yang akan menguasai seluruh dunia. Terhadap dia lebih baik kita mengantar upeti daripada mencari gara-gara.

Orang Majus dari Timur sesungguhnya adalah orang Moab yang jarak perjalanannya tidak sampai berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Kelihatannya perjalanan mereka hanya dalam hitungan hari atau paling-paling hitungan minggu. BERARTI PERJALANAN MEREKA ITU DI SAAT MUSIM PANAS.

Tentu beberapa hari sesudah melahirkan, Maria sudah pindah dari kandang ke rumah. Karena sesudah mendaftarkan diri, banyak orang telah pulang ke kota masing-masing lagi sehingga sudah ada tempat. Dan ketika orang majus datang Yusuf dan Maria sudah tinggal di rumah bukan di kandang lagi.

Tidak masuk akal untuk berlama-lama di Betlehem karena rumah mereka ada di Nazaret. Jadi tidak mungkin orang Majus datang terlalu lama setelah kelahiran Yesus. Mereka paling-paling menunggu keadaan Maria pulih dari melahirkan. Gembala yang telah mendapat kabar dari malaikat tentu sudah bercerita kemana-mana. Namun mungkin reputasi mereka hanyalah gembala sehingga masyarakat tidak percaya sepenuhnya.

Ketika orang Majus datang secara rombongan dan waktunya sore-sore karena perjalanan dari Yerusalem, agak menyita perhatian masyarakat, sehingga mereka mulai percaya pada keajaiban kelahiran putra Maria. Namun tentu sulit bagi sanak famili mereka untuk menerima bahwa bayi itu adalah Mesias. Dan kini datang rombongan orang asing menyembah dan memberi hadiah.

Tanpa mereka sempat bertanya-tanya atau mewawancarai Yusuf dan Maria, malamnya malaikat perin-tahkan agar mereka segera berangkat ke Mesir. Besoknya mereka tidak melihat pasangan itu lagi, dan celakanya datang pasukan Herodes untuk membunuh bayi mereka dari dua tahun kebawah.

Diambilnya patokan dua tahun kebawah tentu hanya karena Herodes tidak mau kecolongan lagi. Bisa juga karena ia tidak percaya keterangan orang Majus yang telah membohonginya. Semua fakta ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak dilahirkan pada bulan Desember melainkan sekitar Juni-Juli. Tidak ada salju, melainkan para gembala dan domba. Memang, ada penafsiran lain yang memungkinkan tentang waktu kelahiran Yesus, karena Alkitab tidak mengatakan secara persis sekali, tetapi yang jelas Yesus tidak dilahirkan pada bulan Desember.

PENGALAMAN MENGIKUTI CIBFEST 2008

Filed under: News — dedewijaya at 2:21 am on Friday, May 22, 2009
Dunia Kristiani di Indonesia mendapatkan satu kompetisi baru dalam dunia maya yaitu Kompetisi Blog Kristen Christian Indonesian Blog Festival tahun 2008. Tepatnya april tahun lalu saya join dan mengikuti kompetisi para Blogger Kristen. Dengan mengajukan dua blog yaitu dedewijaya dan dedewijaya, saya berpikir dengan dua blog mungkin peluang saya lebih besar untuk memenangkan salah satu kategori dari 4-5 kategori yang dilombakan.

Dua minggu terakhir, posisi saya masih di Peringkat 1 dalam Kategori Vote Terbanyak. Untuk kategori yang lain blog saya tdk masuk, misal Kategori Blog Baru 2008, karena saya sudha buat blog tahun 2006/2007, dll. Banyak juga kesaksian dari para pemenang. Rata-rata pemenang mendapatkan IPOD. Satu pemenang memang sudah lama berencana ingin membeli IPOD, namun oleh orang tuanya belum terlaksana. Eh, ternyata dia dapat IPOD lewat Lomba ini. Terjawab sudah keinginannya dan doanya dikabulkan Tuhan.

Gara-gara ikut Lomba CIBFEST ini, saya dianggap Blogger Nasional papan atas :) hahahaha, benar juga setidaknya bertahan 2 Minggu diperingkat satu. Banyak teman gereja dan teman2 penulis, yang juga turut mendukung memberi Vote. Karena dari para voter pun memperebutkan hadiah IPOD juga. Jadi keduanya diuntungkan baik Blogger maupun Voter.

Saya ingat, bagaimana saya berusaha melakukan perbaikan dalam perwajahan di blog saya demi supaya enak dilihat. Saya juga mulai menaruh HIT COUNTER pada April 2008 dan Puji Tuhan sekarang sudah mencapai angka yg cukup oke dech.

Sampai di situ sajakah? Oh tidak, CIBFEST hadir kembali tahun ini dalam CIBFEST 2009. Semua peserta CIBFEST 2008 otomatis akan terdaftar di CIBFEST 2009 ini. Nah bagi anda yg belum punya Blog, jangan kuatir, segera buat Blog Kristen anda dan daftarkan diri anda di CIBFEST 2009 ini.

Siapa tahu anda juaranya lho?! Sekiranya tdk juara, tdk usah kecewa, minimal anda sudah berkarya dan blog anda menjadi dikenal oleh teman2 seantero dunia, khususnya umat Kristen Indonesia. Tunggu apa lagi, Buruan men/women, ketik: Dede spasi THE MASTER kirim ke 888. Rebut hadiah uang senilai 1 juta bagi 3 pemenang. Hehehe serius amat sich :) hahahaha.

(penulis menerima email pemberitahuan dari pihak CIBFEST, asyik:) )

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 5-Ending)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:26 am on Monday, April 20, 2009

B. Ayat-Ayat Alkitab yang Disalahgunakan Kalvinis

Dalam usaha mereka untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, Kalvinis mencoba untuk memakai berbagai ayat Alkitab. Kita akan melihat, apakah ayat-ayat yang mereka pakai sungguh mengajarkan premis dasar Kalvinisme.

1. Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.

Jawab: Kesalahan Kalvinis adalah tidak memperhatikan konteks dan juga mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Jika Allah menentukan tangan orang dalam suatu kasus pembunuhan tidak disengaja, apakah berarti Allah menentukan segala sesuatu? Sama sekali tidak. Kalau memperhatikan konteks, justru perikop ini membuktikan sebaliknya! Jika membaca dari ayat 12-13, ada dua jenis pembunuhan yang Tuhan diskusikan. Di ayat 12, Tuhan mengatur tentang pembunuhan yang disengaja: “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Barulah di ayat 13, ada aturan tentang pembunuhan yang tidak disengaja.

Coba dipikir dengan baik-baik, dan baca ayat 12 dan 13 dalam satu konteks. Orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya, artinya tangannya ditentukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!

Apakah ini membuktikan Allah menetapkan segala sesuatu? Sama sekali tidak! Ayat 12 dan 13 sedang menjelaskan perbedaan dua kasus. Pembunuh di ayat 12, harus dihukum mati, karena membunuh dengan sengaja. Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!

2. Daniel 11:36 “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi.” Ada Kalvinis yang ingin memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Allah menetapkan dosa. Raja dalam Daniel 11:36 ini (antikristus), jelas melakukan dosa. Kalvinis lalu mengambilfrase “apa yang telah ditetapkan akanterjadi,” untuk membuktikan bahwa dosa itu telah Allah tetapkan.

Jawab: Kalvinis melihat ayat ini dari kacamata bias doktrinnya sendiri. Padahal, jika dibaca secara normal, justru ayat ini mengajarkan bahwa perbuatan si raja jahat ini tidak ditentukan. Bagian awal ayat ini berkata, “raja itu akan berbuat sekehendak hati.” Apakah ini kurang jelas? Perbuatannya berasal dari kehendak dia sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung.

3. Kisah Para Rasul 4:27-28 “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dansuku-suku bangsa Israelmelawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Ini adalah perwakilan dari beberapa ayat lain, tentang kematian dan penyaliban Yesus, yang Kalvinis pakai. Argumen mereka cukup jelas, yaitu bahwa penyaliban Yesus telah Allah tentukan. Ini, bagi Kalvinis, membuktikan bahwa Allah menetapkan terjadinya dosa.

Jawab: Sekali lagi, Kalvinis membaca ayat ini dengan presuposisi doktrin mereka. Oleh karena itu mereka mendapatkan Allah menetapkan dosa disini. Padahal Allah yang mahakudus benci kepada dosa, masakan merencanakan dan mengharuskan dosa? Kalau ayat ini dibaca dengan netral, sama sekali tidak mengajarkan Kalvinisme. Ayat ini berbunyi: “telah berkumpul….bangsa-bangsa….. untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula.” Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).” Ada perbedaan antara dua kalimat tersebut.

Kehendak untuk menyalibkan Yesus berasal dari manusia itu sendiri, tidak pernah ditetapkan oleh Allah. Mereka punya pilihan untuk menerima Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyalibkanNya. Allah yang mahatahu, memasukkan kehendak manusia-manusia jahat ini dalam rencana penyelamatanNya, sehingga Ia menentukan bahwa Yesus memang akan mereka salibkan. Jadi, Allah tidak menetapkan mereka harus menyalibkan Yesus. Allah tahu mereka mau menyalibkanNya (darikehendak mereka sendiri), dan Allah memutuskan, dalam kuasa dan kehendakNya, agar kemauan mereka tercapai, dan Yesus disalibkan.

Sebuah ilustrasi dapat membantu memberikan contoh dalam kehidupan nyata. Kepolisian Jakarta telah lama berusaha membongkar jaringan perampok toko emas. Suatu ketika, mereka mendapatkan info akurat (foreknowledge), bahwa para perampok akan beraksi di toko tertentu. Karena ingin menangkap para penjahat secara basah, para polisi memutuskan untuk tidak menghalangi niat para perampok, melainkan memasang jebakan. Akhirnya para perampok beraksi, dan di tengah perampokan mereka, mereka ditangkap oleh polisi. Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi. Para polisi pun punya kemampuan untuk membatalkan perampokan, misalnya dengan menempatkan banyak penjaga ekstra ditoko itu. Namun, untuk tujuan tertentu (menangkap basah para perampok), para polisi sengaja membiarkan para perampok untuk melakukan kejahatan mereka. Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan. Tetapi, jelas bukan polisi yang menetapkan mereka untuk merampok. Demikianlah, Allah mempergunakan kejahatan manusia, untuk tujuanNya sendiri. Pembaca silakan melihat lagi bagian pembahasan bagaimana Allah mengendalikan sejarah tanpa menentukan tindakan manusia.

4. Matius 10:29-30 “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Menurut Kalvinis, ayat ini mendukung konsep bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Jawab: Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan, bahwa non-Kalvinis percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Tetapi ini berbeda dengan menentukan segala hal. Banyak ayat yang Kalvinis kutip hanya menyatakan bahwa Allah menetapkan hal ini dan hal itu, tetapi tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

Bahwa jumlah rambut di kepala kita diketahui oleh Tuhan, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menetapkan segala tindakan kita. Diperlukan lompatan logika yang luar biasa untuk bisa menyimpulkan hal seperti itu dari ayat ini. Hidup matinya pipit berada di tangan Tuhan. Saya sungguh mengaminkan hal ini! Jangankan pipit, hidup matinya manusia pun ada di tangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menentukan segala pikiran, tindakan, dan keputusan manusia.

5. Yeremia 4:28 “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Saya akan mengutip argumen Asali dari ayat ini:

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.42

Jadi, Asali mengatakan bahwa ayat ini membuktikan pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Asali juga menyatakan bahwa jika Tuhan bernubuat tentang sesuatu hal, berarti hal itu sudah Ia tentukan lebih dahulu.

Jawab: Ayat ini sama sekali tidak membuktikan bahwa semua pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Kalau seorang dosen berkata, “Seluruh kelas akan berkabung karena ujian yang akan saya berikan, sebab aku telah mengatakannya, aku telah merancangnya, aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Apakah ini membuktikan bahwa semua pengetahuan dosen itu berasal dari penentuannya? Tentu tidak!

Tentu ada banyak hal yang Allah tentukan, dan Allah tahu akan hal-hal itu. Ada banyak nubuat yang memang berasal dari ketentuan Tuhan. Tetapi tidak kurang juga nubuat yang tidak berasal dari ketentuan Tuhan, melainkan Tuhan memberitahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Contohnya, dalam 1 Samuel 23:12, Allah menubuatkan apa yang akan orang-orang Kehila lakukan jika Daud tinggal di Kehila. Pada kenyataannya, Daud tidak tinggal di Kehila, jadi itu bukanlah penentuan Tuhan. Nubuat (pengetahuan) ini bukanlah sesuatu yang Allah tentukan dulu!

6. Efesus 1:11 “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya, diartikan oleh Kalvinis untuk mendukung premis mereka bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Jawab: Ayat inisama sekalitidak mengatakanbahwa Allahmenentukansegala sesuatu. Jikalau dikatakan bahwa “Allah bekerja di dalam segala sesuatu,” maka non-Kalvinis sama sekali tidak akan protes, karena itulah bunyi ayat ini. Allah memang bekerja dalam segala sesuatu. Segala tindakan dan keputusan manusia, haruslah melalui izin Allah, apakah dapat tercapai atau tidak. Seperti sudah diilustrasikan, seseorang bisa saja berniat untuk membunuh. Maksud pembunuhan tersebut tidak Allah tetapkan melainkan keluar dari hati orang yang jahat itu. Tetapi, Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah bisa menggagalkan niat pembunuhan itu, atau Allah bisa membiarkan niat pembunuhan itu untuk melaksanakan rencanaNya. Allah bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya! Ayat ini sama sekali tidak harus mendukung bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu.

Catatan Kaki

1 John Gill, A Body of Doctrinal and Practical Divinity (Paris: Baptist Standard Bearer, 1987), hal. 174.

2 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

3 Louis Berkhof, Systematic Theology, hal 100, dikutip oleh Asali.

4 David S. West, dalam “The Baptist Examiner Forum II,” The Baptist Examiner, 18 Maret 1989, hal. 5.

5 Timothy Tow dan Jeffrey Khoo, Theology for Every Christian (Singapura: Far Eastern Bible College, 2007), hal. 42.

6 Philip Melanchton, dikutip oleh Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination (Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1932), hal. 15.

7 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 234.

8 R. C. Sproul, Chosen by God, hal. 26-27.

9 Arthur Pink, The Sovereignty of God, revised ed. (Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1961) hal. 147.

10 Ibid., hal. 249.

11 Edwin H. Palmer, The Five Points of Calvinism, enlarged ed., Grand Rapids: Baker Book House, 1980, hal. 82.

12 Asali, ibid.

13 Adalah kebiasaan Kalvinis, untuk mengelompokkan semua orang yang bertentangan dengan dirinya sebagai “Arminian.” Ini adalah taktik tentunya. Dengan demikian, mereka hanya perlu menjelek-jelekkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Arminian. Orang akan ngeri dengan “Arminianisme,” dan mengaku Kalvinis hanya agar tidak disebut Arminian. Padahal, kelompok Non-Kalvinis berasal dari berbagai spektrum. Banyak yang memiliki pengajaran yang berbeda dengan James Arminius.

14 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 44.

15 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396, dikutip oleh Asali.

16 Benjamin Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

17 Webster’s New World Dictionary, ed. 3, New York: Simon & Schuster, 1988, s.v. free will.

18 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

19 Asali, ibid.

20 Charles Spurgeon, dikutip dari Budi Asali.

21 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 45.

22 Kita akan melihat di bagian berikutnya bahwa sebenarnya logika Boettner (dan Kalvinis) salah di sini. Kemahatahuan Allah tidak harus berarti bahwa Ia menentukan segala sesuatu.

23 Suatu doktrin yang juga ditentang oleh Kalvinisme. Tetapi lihat 1 Yoh. 2:2, Ibrani 2:9, Yoh. 1:29, dll.

24 Asali, ibid.

25 Ini hanyalah cetusan praktis dari Kalvinisme. Sebenarnya, yang paling sentral adalah: Kalvinisme hanya akan membuat manusia untuk berharap, “Semoga saya termasuk orang pilihan.”

26 Webster’s New World Dictionary, s.v. sovereign.

27 Kata “sovereign” juga tidak ditemukan dalam KJV.

28 Tentu kehendak bebas manusia berbeda dengan kehendak bebas Allah. Kehendak bebas Allah tidak dihalangi oleh apapun juga selain sifat-sifat Allah sendiri. Kehendak bebas manusia, selain dihalangi oleh sifat-sifat manusia itu sendiri, juga dapat dihalangi oleh kehendak bebas pribadi lain. Misalnya, penjahat yang dipenjara bisa saja ingin lepas, tetapi ia dihalangi oleh tembok yang dibangun oleh orang-orang lain.

29 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 42.

30 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396.

31 Sekilas sepertinya kata “pasti” dan “harus” adalah sinonim. Tetapi ada perbedaan konotasi antara kedua kata ini.

32 Louis Berkhof, Theologi Sistematika, diterjemahkan oleh Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), vol. 1, hal. 192.

33 William Lane Craig, The Only Wise God (Grand Rapids: Baker Book House, 1987), hal. 74.

34 Terjemahan literal. Dalam ITB, “foreknowledge” diterjemahkan “rencana,” memperlihatkan bahwa para penerjemah ITB telah dipengaruhi oleh Kalvinisme.

35 Pink, The Sovereignty of God, hal. 57.

36 Sekali lagi penerjemah ITB menunjukkan bias Kalvinis mereka. Dalam ITB, ayat ini berbunyi “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula.” Padahal, kata “dipilih” berasal dari proegno (mengetahui sebelumnya), dan semua terjemahan Inggris yang kompeten menerjemahkannya sebagai “foreknew” atau “foreknow” atau “know before.”

37 Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

38 James Arminius, The Works of James Arminius, diedit oleh James Nichols dan William Nichols (Grand Rapids: Baker Book House, 1986) vol. 2, hal. 160.

39 Charles Hodge, Systematic Theology (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1989), vol. I, hal. 547.

40 Oleh LAI diterjemahkan “rencanaNya,” yang tidak berdasar sama sekali. Terjemahan Bahasa Inggris dengan konsisten memakai “foreknowledge,” yang baiknya diterjemahkan “pra-pengetahuan” Tuhan.

41 James O. Wilmoth dan David S. West, dikutip dalam Laurence M. Vance, The Other Side of Calvinisme (Vance Publications: Pensacola, Florida, 2002), rev. ed., hal. 276.

42 Asali, ibid.

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 4)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:25 am on Monday, April 20, 2009

D. Allah yang Mengendalikan Sejarah

Tidak ada orang yang benar-benar percaya pada Alkitab yang akan meragukan bahwa Allah maha berdaulat. Demikian pula tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti kebenaran dapat meragukan bahwa Allah mengontrol sejarah. Perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis sebenarnya bukanlah masalah apakah Allah berdaulat atau tidak. Perselisihan juga bukan pada poin apakah Allah mengendalikan sejarah atau tidak. Baik Kalvinis maupun non-Kalvinis percaya akan hal-hal tersebut. Permasalahannya adalah, apakah Allah yang berdaulat harus menentukan segala tindakan makhlukNya? Apakah Allah mengendalikan sejarah dengan cara menentukan segala tindakan makhlukNya?

Kita sudah melihat di bagian yang lebih awal, bahwa tidak ada suatu hal pun dalam definisi “kedaulatan” yang mengharuskan Allah untuk menentukan segala tindakan makhlukNya. Ide ini tidak inheren dalam makna “kedaulatan,” melainkan adalah suatu pilihan filosofis dari kaum Kalvinis. Lalu bagaimana dengan pengendalian atas sejarah?

Banyak sekali bukti dan contoh kasus dalam Alkitab, bahwa Allah memegang kendali penuh atas perjalanan sejarah. Nubuat-nubuat yang terdapat dalam Alkitab adalah salah satu contoh kendali Tuhan. Pada saat yang sama, Allah tidak menentukan tindakan-tindakan makhluk-makhlukNya, karena terbukti Ia masih meminta pertanggungan jawab makhluk-makhluk itu. Lalu, bagaimanakah Tuhan mengendalikan sejarah?

Pertama, walaupun Allah tidak menentukan segala sesuatu, tetapi Ia menentukan banyak hal. Jelaslah bahwa Allah yang menentukan semua hukumalamyang berlaku. Segala tindakan penciptaan Allah adalah keputusanNya sendiri. Banyak Kalvinis berpikir, bahwa karena non-Kalvinis menentang penentuanAllahatas segala sesuatu, maka kami tidak percaya Allah menentukan apa-apa. Ini tidak benar! Saya percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Yang tidak Allah tentukan adalah keputusan-keputusan makhluk-makhluk yang berkehendak bebas. Mengapa Allah tidak menentukannya? Karena Allahlah yang pada awalnya menentukan mereka berkehendak bebas, yang berarti Allah ingin mereka sendiri yang memutuskan. Namun saya percaya bahwa hal-hal lain di luar kehendak bebas makhluk ciptaan Tuhan, ditentukan oleh Tuhan. Penulis Amsal mengakui kebenaran ini dengan pernyataan berikut: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Ams. 16:33). Bukan hanya jatuhnya undian, saya percaya bahwa setiap tetes hujan yang turun, diatur oleh Tuhan untuk mengenai titik tanah yang tertentu, baik itu melalui hukum alam maupun intervensi khususNya. Setiap batu yang berguling, Tuhan tentukan trayektorinya, baik melalui hukum alam maupun intervensi khususnya. Hal-hal ini tidak berkaitan dengan kehendak bebas makhluk ciptaan, dan Allah memang menentukan hal-hal ini. Dengan jalan demikian, kita bisa memahami salah satu cara yang Tuhan pakai untuk mengendalikan sejarah, tanpa menentukan keputusan manusia. Kita melihat bagaimana undian telah Tuhan pakai sepanjang sejarah untuk mengendalikan jalannya sejarah (kisah Yunus, juga Nebukadnezar di dalam Yeh. 21:18-22).

Kedua, walaupun Allah tidak menentukan keputusan manusia, Allah menentukan apakah keputusan itu bisa sampai atau tidak. Alkitab selalu menyuruh manusia untuk memilih yang baik, menentukan yang benar, dan memutuskan secara bertanggung jawab. Ini adalah bukti implisit bahwa Allah tidak menentukan itu semua bagi manusia. Manusialah yang membuat berbagai keputusan bagi dirinya sendiri. Namun demikian, Allah dapat menentukan apakah keputusan manusia itu akan sampai atau tidak. Seseorang bisa saja memutuskan untuk membunuh temannya. Itu adalah keputusannya sendiri. Jika kita percaya bahwa Allah mahakudus, dan juga percaya bahwa manusia bertanggung jawab, kita tidak dapat mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, Tuhan menentukan apakah keputusan orang tadi untuk membunuh akan terlaksana atau tidak. Tuhan bisa mengintervensi dengan berbagai cara. Orang itu bisa saja terkena serangan jantung atau tertimpa kecelakaan sebelum sempat melaksanakan niatnya. Intinya, Tuhan bisa memastikan bahwa niatnya tidak kecapaian. Oleh sebab itulah penulis Amsal berkata, “Banyaklah rancangan dihati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21). Bukan berarti bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Justru ayat ini mengajarkan bahwa rancangan dalam hati tiap individu adalah rancangan dia sendiri. Itu keputusannya! Tetapi, Allah bisa mengintervensi sehingga niatnya tidak kesampaian, melainkan rencana Tuhan yang jadi!

Jadi, jelaslah bahwa segala sesuatu adalah atas izin Tuhan, tetapi bukan segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan. Ada perbedaan antara mengizinkan sesuatu dengan menetapkan sesuatu. Mengizinkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari pihak lain. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Allah mengizinkan dosa (untuk sementara waktu), dan Allah tidak bertanggung jawab atas dosa. Tetapi, jika Allah menentukan harus ada dosa, maka Allah bertanggung jawab akan dosa.

Berdasarkan pemahaman ini, kita juga mengerti mengapa Tuhan selalu melihat hati, lebih daripada hal-hal eksternal. TuhanYesus berkata bahwa: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Niat dan pikiran berzinah adalah keputusan orang itu, Tuhan tidak menentukannya. Tetapi belum tentu ada kesempatan dan peluang bagi dia untuk melakukan zinah itu. Walau dia tidak pernah berzinah secara fisik, di hadapan Tuhan dia sudah berzinah, karena Tuhan tahu pikiran dan niatnya. Dalam kondisi dan dengan peluang yang tepat, dia tentunya sudah berzinah.

Walaupun Allah tidak menentukan tindakan dan keputusan manusia, Allah senantiasa melakukan berbagai intervensi, agar rencanaNya jadi. Allah tidak pernah menentukan agar orang-orang Sodom menjadi sangat jahat. Itu adalah keputusan mereka. Tetapi, Allah mengintervensi agar kejahatan mereka tidak merusak rencanaNya. Tuhan menghancurkan Sodom dengan hujan belerang. Kita perlu mengucap syukur karena Allah kita mengendalikan sejarah dan senantiasa turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Ketiga, rencana Allah dan intervensi yang Allah lakukan bekerja sama dengan kemahatahuan Allah. Kalvinis sering memakai kasus penyaliban Yesus Kristus untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan bahkan dosa. Hodge mengajarkan bahwa “Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan, Alkitab mengajarkan dosa ditentukan lebih dulu merupakan pengajaran Alkitab.”39

Tentu tidak ada orang Kristen yang menyangkal bahwa Allah sudah merencanakan penyelamatan melalui kematian AnakNya, sejak kekekalan bahkan. Ada banyak ayat yang mengajarkan tentang rencana Tuhan ini. Petrus pernah berkhotbah tentang Yesus: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, 40 telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23). Apakah ini berarti Allah menentukan tindakan orang-orang Israel yang menyalibkan Yesus? Sama sekali tidak ! Ini adalah asumsi Kalvinis. Kalau anda tidak memiliki bias Kalvinis, anda tidak akan mendapatkan dari ayat-ayat ini bahwa Allahlah yang membuat mereka menyalibkan Yesus! Justru ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja sama dengan kemahatahuanNya.

Orang Israel menyalibkan Yesus atas dasar keinginan mereka sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Allah, karena Allah mahatahu. Tuhan memutuskan untuk datang ke dalam dunia dalam waktu yang tepat dan dalam kondisi yang tepat. Dan Allah tahu apa tindakan manusia dalam tiap kondisi. Oleh karena itu, Allah dapat merencanakan penyaliban Kristus, tanpa memaksa manusia atau menentukan pilihan manusia. Dengan kata lain, Allah tahu bahwa jika Kristus lahir di zaman tertentu, lalu mengajarkan pengajaran-pengajaran yang benar, lalu melakukan segala yang Kristus lakukan, maka para tua-tua dan imam-imam akan berniat untuk membunuh Yesus. Niat itu sama sekali tidak ditentukan Allah, melainkan adalah keputusan dan tanggung jawab manusia. Yang Allah tentukan adalah bahwa niat mereka bisa tercapai dalam kondisi dan waktu yang tepat, dan mereka berhasil menyalibkan Yesus. Jadi, Allahtidak menentukan dosa terbesar dalam sejarah,Allah mengizinkannya. Dengan kata lain, niat dosa manusia, yang datang dari manusia itu sendiri, Tuhan pergunakan untuk maksud dan tujuan Tuhan!

Hal ini bisa menjawab pertanyaan, mengapa Allah mengizinkan dosa? Tuhan memiliki maksud dan tujuanNya sendiri. Walaupun dosa tidak disebabkan oleh Tuhan, dan tidak ditentukan oleh Tuhan, tetapi untuk sementara waktu Tuhan membiarkan dosa. Selalu ada tujuan dibaliknya. Dalam kasus penyaliban Yesus, kita melihat bagaimana Allah menggunakan dosa manusia untuk justru mendatangkan keselamatan. Sama sekali bukan Tuhan yang menentukan dosa itu, melainkan Tuhan “memelintir dosa itu” untuk tujuanNya. Dalam kasus Yusuf dan saudara-saudaranya, Yusuf bisa mengambil kesimpulan: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merekarekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 50:20). Dari ayat ini, sama sekali tidak ada indikasi bahwa kejahatan kakak-kakak Yusuf adalah atas penentuan Tuhan. Justru ayat ini mengajarkan konsep yang kita bahas di bagian ini, bahwa dengan kemahatahuanNya dan kemahakuasaanNya, Tuhan memperhitungkan dosa sedemikian rupa dalam rencanaNya, agar dosa itu memainkan peran dalam rencana Tuhan.

Untuk mengulangi sekali lagi, kejahatan manusia dan Iblis tidak Tuhan tentukan. Namun, kejahatan mereka Tuhan izinkan, dan Tuhan pakai untuk maksudNya yang baik. Oleh karena itulah dalam Wahyu dikatakan: “Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi” (Wah. 17:17).

Sebagai kesimpulan, saya dapat mengatakan bahwa Allah yang berdaulat tidaklah perlu menentukan segala sesuatu. Lebih lanjut lagi, karena Allah mahatahu, karena Ia adalah Pencipta, karena Ia mahakuasa, Ia tidak perlu menentukan pilihan-pilihan manusia agar dapat mengendalikan alam semesta ini.

E. Kedaulatan Mana Yang Lebih Agung?

Kalvinis banyak menggunakan konsep “kedaulatanAllah” untuk menakut-nakuti non-Kalvinis. Seolah-olah hanya Kalvinis-lah yang percaya dengan sungguh-sungguh akan kedaulatan Tuhan. Seolah-olah, jika Tuhan tidak menentukan segala sesuatu, maka Tuhan kehilangan kendali atas alam semesta ciptaanNya.

Tetapi kita telah melihat, bahwa tidak benar demikian. Definisi “kedaulatan” itu sendiri sama sekali tidak memerlukan penentuan atas segala sesuatu. Kita juga telah melihat bagaimana Allah tetap memegang kendali atas segala sesuatu, walaupun Ia memberikan kehendak bebas pada manusia. Pertanyaan yang muncul justru adalah sebagai berikut: Kedaulatan versi mana yang lebih agung? Kedaulatan Allah versi Kalvinis, di mana Allah menentukan segalanya? Atau kedaulatan versi Alkitab, di mana ada kehendak bebas manusia (yang tidak ditentukan Allah)?

Manakah yang lebih hebat dan agung, (1) bahwa rencana Allah terlaksana karena Allah menentukan segala sesuatu, atau (2) bahwa rencana Allah terlaksana walaupun banyak makhluk bebas yang menentangNya, namun tetap rencanaNya yang menang? Manakah yang lebih hebat, berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang segala aspeknya anda tentukan, atau berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang terdiri dari pribadi-pribadi bebas lainnya? Manusia dan Iblis dalam skema Kalvinis, telah ditentukan oleh Allah segala pikiran dan tindakan mereka. Bahwa lalu segalanya berjalan sesuai dengan rencana Allah tidaklah mengherankan. Yang kita herankan adalah justru jika segalanya ditentukan Allah, mengapa masih terjadi banyak dosa dan kekacauan. Jika seseorang berhasil mengendalikan 100 robot yang dia buat, untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini bukan hal yang mengagumkan. Toh segalanya tinggal di program. Tetapi, ketika seorang guru berhasil mengendalikan 100 siswa untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini adalah suatu hal yang hebat. 100 siswa ini bisa menentang atau mengikuti keinginan guru tersebut. Jadi, kedaulatan mana yang lebih hebat dan agung? Kedaulatan di mana semuanya sudah ditentukan, atau kedaulatan di mana ada makhluk-makhluk bebas, bahkan banyak yang menentang Allah, tetapi pada akhirnya semuanya sesuai dengan rencana Allah?

Jikalau saya mengambil ilustrasi sebuah permainan catur, konsep Kalvinis dapat digambarkan dengan seorang yang bermain catur sendirian. Dia menggerakkan buah-buah putih dan juga buah-buah hitam. Dia menentukan segala sesuatu. Serangan musuh, dia yang tentukan, tangkisannya juga dia yang tentukan. Bisa saja pemain solo ini melakukan acting, dan seolah-olah memerankan dua orang yang sedang bertarung. Tetapi pada dasarnya, dialah yang menentukan setiap langkah. Jikalau permainan ini berakhir dengan kemenangan bagi pihak yang dia pilih, maka tidak ada seorangpun yang perlu kagum. Ini adalah hal yang mendasar. Jika anda menentukan segala sesuatu maka hasil akhir pastilah sesuai keingian anda, ini adalah hukum alam.

Bandingkan dengan konsep yang Alkitabiah. Kembali ke ilustrasi catur, kali ini ada seorang grandmaster yang hebat sekali, melawan pemain yang riil. Lawannya benar-benar berniat mengalahkan sang grandmaster, dan sama sekali tidak ada kolusi. Kolusi saja tidak ada, jadi sang grandmaster sama sekali tidak menentukan langkah-langkah musuhnya. Namun, kemampuan dan penguasaan sang grandmaster begitu jauh di atas lawannya, sehingga ia dapat membaca semua gerakan lawannya itu. Ia benar-benar mengendalikan permainan. Ia menyerang dan bertahan sesuai keinginannya. Bahkan ia memakai gerakan-gerakan musuhnya untuk kepentingannya sendiri. Musuhnya mungkin menggerakkan buah caturnya untuk menyerang, tetapi sang grandmaster tahu, bahwa justru langkah itu bisa dipakai dalam rencananya sendiri.

Dalam kisah mitos Cina, ada seorang pecatur yang legendaris. Kehebatannya terkenal ke mana-mana sehingga raja pun ingin menjajalnya. Jeleknya, raja ini punya sifat yang sombong. Dia merasa dirinya paling hebat dan mestinyamampu mengalahkan siapapun. Namun demikian, raja tidak mau pecatur legendaris ini mengalah daripadanya. Oleh karena itu, dia membuat suatu peraturan. Sang grandmaster catur tidak boleh kalah dari padanya, dan jika kalah maka sang grandmaster akan dibunuh.

Pertandingan catur antara raja melawan grandmaster pun di mulai. Sebenarnya mudah bagi sang grandmaster untuk mengalahkan raja yang sombong itu. Tetapi si grandmaster tahu sifat raja itu. Kalau dia menang, maka raja yang sombong ini pasti akan membunuhnya juga. Sedangkan kalau dia kalah, maka raja telah mengeluarkan titah untuk membunuhnya. Akhirnya, setelah berpikir, pecatur hebat itu memutuskan untuk mengendalikan permainan sedemikian rupa, sehingga hasil akhir adalah remis. Pada awalnya, raja tidak sadar, karena permainan sang grandmaster seolah-olah serius. Karena penasaran, raja mengulangi permainan berkali-kali dan hasilnya selalu remis. Akhirnya setelah semua permainan berakhir remis, raja itu sadar betapa hebat pecatur itu sebenarnya. Pecatur itu dapat mengendalikan hasil-akhir dari permainan, walaupun raja berusaha keras untuk mengalahkannya!

Memang, ilustrasi catur tentu tidak sempurna untuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan ciptaanNya. Tetapi, konsep Kalvinis bahwa Allah menentukan segala sesuatu, tercermin pada kasus seorang pecatur yang bermain sendirian. Sama sekali tidak ada keagungan! Dan jika pada akhirnya manusia dan malaikat memuji dan menyembah Allah, atas dasar penentuan Allah, ini pun tidak memuaskan. Manusia saja tidak akan puas jika dipuji-puji oleh komputer atau robot yang telah diprogram. Itulah sebabnya Allah menciptakan makhluk yang bebas, yang serupa dan segambar dengan Dia, yang dapat membuat keputusan atas dasar dirinya sendiri. Makhluk-makhluk yang bebas ini, membawa kemuliaan kepada Allah pencipta mereka, ketika mereka atas keputusan mereka sendiri menyembah dan memuji Allah.

Kedaulatan mana yang lebih agung? Skema mana yang lebih menunjukkan kehebatan dan kekuasaan Allah atas ciptaanNya? Pecatur yang bermain sendirian dan menentukan segala sesuatu sendiri? Oh, teman-teman Kalvinisku, tidak dapatkah anda melihat, bahwa Kalvinisme justru membuat kedaulatan Allah menjadi tidak agung sama sekali?

VI. Pengajaran Alkitab

Walaupun sudah cukup banyak ayat-ayat yang kita lihat dalam pembahasan sejauh ini, bagian ini akan secara spesifik membahas berbagai ayat yang berhubungan dengan kedaulatan Tuhan, kebebasan manusia, dan apakah Tuhan menentukan segala sesuatu atau tidak.

A. Alkitab Mengajarkan Bahwa Allah Tidak Menentukan Segala Sesuatu

Ada banyak alasan dari Alkitab, mengapa Allah tidak mungkin menentukan segala sesuatu. Mari kita perhatikan satu persatu alasan-alasan di bawah ini.

Pertama, Allah sendiri menyatakan bahwa Dia tidak menentukan segala sesuatu! Mengenai praktek penyembahan berhala dan pengorbanan anak yang ditiru oleh orang Israel dari bangsa-bangsa sekitar mereka, Allah berkata: “Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku” (Yer. 19:5). Jikalau Tuhan tidak pernah memerintahkannya, dan bahkan tidak pernah timbul dalam hati Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan menentukannya? Mustahil! Justru dosa yang sangat biadab ini muncul dari hati manusia yang jahat, bukan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa hal ini tidak pernah timbul dalam hatiNya! Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!

Kedua, sifat Allah yang mahakudus tidak memungkinNya menentukan dosa! Poin ini telah dibahas sebelumnya, jadi hanya akan disinggung sekilas saja. Allah yang “kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3) dan yang “membenci kefasikan” (Maz. 45:8), tidak mungkin menetapkan dan mengharuskan adanya kefasikan dan dosa.

Ketiga, Allah tidak bermain sandiwara! Berbicara melalui Yesaya kepada kaum Israel, Tuhan berkata, “Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau ditempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes. 45:19). Nyatanya, banyak keturunan Yakub yang tidak mencari Tuhan! Apakah Tuhan menentukan mereka untuk tidak mencariNya, lalu memberi perintah untuk mencariNya? Itu sandiwara! Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bermain seperti itu. Tuhan tidak menetapkan ketidakpercayaan Israel. Jelas, Tuhan tidak menetapkan segala sesuatu.

Keempat, jika Allah menentukan segala sesuatu, manusia tidak bertanggung jawab! Inijuga telah dibahas dibagian sebelumnya. Tentang Yudas, Tuhan Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!” (Luk 22:22). Kalvinis sering salah mengartikan kata “telah ditetapkan,” dan menyimpulkan bahwa pengkhianatan Yudas ditetapkan oleh Allah. Tetapi ayat ini tidak berkata bahwa tindakan Yudas ditetapkan Tuhan. Ayat ini mengajarkan bahwa adalah ketetapan Allah agar Yesus diserahkan dan disalibkan. Silakan lihat lagi bagian pembahasan tentang bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah. Melalui kemahatahuan dan intervensi Allah (kelahiran Yesus, dll), Tuhan tahu bahwa imam-imam kepala akan memutuskan untuk membunuh Yesus. Hal ini Tuhan pakai dalam rencanaNya bagi keselamatan manusia. Jadi, penyaliban Yesus memang adalah menurut rencana dan maksud Allah. Allah bukan menetapkan maksud jahat manusia, Allah menetapkan bahwa maksud jahat mereka boleh terlaksana! Tuhan bukan menetapkan bahwa Yudas akan menjual Yesus, tetapi Tuhan menetapkan bahwa niat jahatnya itu dapat terlaksana, sesuai rencana Tuhan. Jika Tuhan yang menetapkan Yudas untuk menjualnya, dan Yudas tidak punya pilihan lain, maka di manakah keadilan perkataan Yesus: “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Kelima, Alkitab mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dirinya sendiri! Daud berkata kepada Salomo: “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Taw. 28:9). Salomo diperintahkan untuk beribadah dengan rela hati. Kerelaan hati mengimplikasikan bahwa tindakan itu adalah atas dasar keinginan sendiri, bukan dipaksa atau ditentukan oleh orang lain. Kerelaan hati yang telah ditentukan oleh Tuhan adalah konsep yang kontradiktif. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kerelaan seseorang (e.g. Ezra 7:13; Hakim 5:2).

Ada juga ayat-ayat tentang kehendak manusia. Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal didalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Apakah Tuhan telah menetapkan kehendak kita, lalu menyuruh kita untuk meminta sesuai dengan “kehendak” yang telah ditetapkan itu? Apakah ini tidak terdengar aneh bagi anda? Pembacaan Alkitab yang normal, dan pengalaman hidupsehari-hari memberitahu kita bahwa kehendak kita sungguh adalah kehendak kita sendiri, bukan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Kalvinis juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini, keputusan-keputusan manusia seolah-olah adalah keputusannya sendiri. Hanya saja, menurut mereka sebenarnya keputusan itu telah ditetapkan dalam “dekrit rahasia” Allah. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang memberitahu para Kalvinis “rahasia” ini, karena sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

Keenam, Alkitab mengajarkan bahwa doa dapat mengubah keadaan! Kebanyakan orang Kristen yang berdoa, percaya bahwa doanya dapat membawa perubahan dalam dunia ini. Tetapi, jika segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, maka bagaimana mungkin doa dapat membawa perubahan? Oleh sebab itulah, James O. Wilmoth, seorang Kalvinis, berkata: “Kita tahu bahwa Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi. Ia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan maksud kehendakNya sendiri. Sulit untuk merekonsiliasi doa dengan kehendak Allah yang tidak berubah.” David West berkata, “Doa tidak mengubah apapun, doa juga tidak mengubah Allah atau pikiranNya.”41

Bandingkanlah dengan ayat-ayat Alkitab seperti berikut:

Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali roti tidak kumakan dan air tidak kuminum karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. (Ul. 9:18-20)

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 3)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:24 am on Monday, April 20, 2009

B. Tidak Konsisten Secara Praktis

Walaupun penerapan Kalvinisme yang konsisten akan membawa seseorang kepada Fatalisme, tetapi pada kenyataannya mayoritas Kalvinis bukanlah Fatalis. Tidak peduli betapa tidak mampunya para Kalvinis menjelaskan bagaimana manusia bisa bebas dalam skema theologi mereka, toh banyak Kalvinis tetap mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab. Asali berkata: “Tetapi seperti saudara sudah lihat, sekalipun saya percaya dan mengajarkan kedaulatan Allah / penentuan Allah, tetapi saya tidak mengajarkan untuk hidup secara apatis / acuh tak acuh dan tak bertanggung jawab!”24

Terhadap hal ini, saya justru mengucap syukur. Hal ini adalah apa yang dapat kita sebut ketidakkonsistenan yang menguntungkan (felicitous inconsistency). Artinya, jika Kalvinis konsisten dengan premis dasar mereka, mereka akan menjadi Fatalis yang tidak memiliki inisiatif sama sekali. Tetapi untunglah mereka tidak konsisten di sini! Sehingga walaupun teori mereka menuntut kehidupan yang menghalalkan segala sesuatu atau yang sama sekali tidak berinisiatif, namun pada prakteknya mereka berfungsi rata-rata sama dengan manusia lain pada umumnya.

Bahwa banyak Kalvinis yang masih berfungsi normal, bukan berarti Kalvinisme tidak bermasalah. Di bagian Pendahuluan, kita sudah melihat contoh orang atheis. Jika atheisme benar, maka penerapannya secara konsisten akan membuat manusia menjadi tidak bermoral sama sekali. Nyatanya, banyak orang atheis yang masih bermoral (moral relatif), malah banyak menyumbang sana sini untuk acara-acara kemanusiaan. Apakah itu berarti atheisme membangkitkan moralitas? Sama sekali tidak! Moralitas yang ditunjukkan seorang atheis adalah sisa-sisa kebenaran ilahi yang sudah sedemikian terpatri dalam sanubari manusia, sehingga sulit untuk dihilangkan begitu saja. Walaupun dalam pikirannya dia menolak Allah (dan juga sebagai konsekuensinya menolak segala aturan moral), tetapi hati nuraninya belum bisa menerapkan itu dalam perilakunya. Atheismenya belum sempat mengikis habis kebenaran ilahi universal bahwa manusia bertanggung jawab kepada Pribadi di atasnya.

Demikian juga dengan Kalvinisme. Bahwa masih banyak Kalvinis yang hidup secara bertanggung jawab, bukanlah karena Kalvinisme membangkitkan rasa tanggung jawab bagi para pemegangnya. Sebaliknya, Kalvinisme yang konsisten memimpin kepada Fatalisme. Justru di sini para Kalvinis melakukan ketidakkonsistenan yang menguntungkan! Rasa tanggung jawab dalam diri seorang Kalvinis adalah kebenaran ilahi universal yang sudah terpatri dalam sanubarinya, dan yang belum sempat dikikis habis oleh Kalvinisme yang dianut secara intelektual.

Sebenarnya, Kalvinisme yang konsisten sama sekali tidak adekuat untuk dijadikan pedoman praktek kehidupan manusia. Saya akan mencoba untuk memperlihatkan kelemahan Kalvinisme dalam praktek hidup sehari-hari. Sebelumnya saya mengajak pembaca untuk mengingat bahwa Kalvinisme percaya;

1. Allah telah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan dan pikiran manusia, dalam dekrit rahasia di kekekalan lampau

2. Manusia pasti melakukan seperti yang Allah dekritkan, tidak dapat menyimpang dari itu.

Untuk menghindari Fatalisme, Kalvinis berkata: “Jangan hidup berpedomankan kepada ketetapan rahasia Allah, itu adalah rahasia. Hiduplah berpedomankan kepada Firman Allah!” Saya senang ketika siapapun juga mengajarkan umat untuk hidup berpedomankan kepada Firman Allah. Tetapi, sambil Kalvinis menghimbau umatnya untuk hidup sesuai Firman Tuhan, premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah seruan tersebut. Seseorang yang mempercayai premis dasar Kalvinisme dengan serius, walaupun dihimbau untuk taat Alkitab, akan bergumul dengan pikiran-pikiran berikut:

1. “Walaupun saat ini saya seolah-olah dapat memilih untuk taat Firman Tuhan atau untuk membangkang, sebenarnya pilihan saya sudah ditentukan oleh Tuhan sejak kekekalan.”

2. “Kalau saya membangkangi Firman Tuhan, saya akan dihukum. Tetapi kalau misalnya Tuhan memang sudah menetapkan saya untuk membangkang, saya tidak bisa melawan itu. Semoga Tuhan tidak menetapkan saya untuk membangkang!” Apakah pembaca dapat melihat, bahwa Kalvinisme yang diimani secara konsisten menimbulkan suatu harapan yang aneh: “Semoga saya bukan telah ditetapkan untuk membangkang!”25

3. Ketika melakukan introspeksi, atau mengilas kembali masa lalu, seorang Kalvinis sah-sah saja berpikir demikian: “Apa yang tadi saya lakukan memang bertentangan dengan Firman Tuhan. Saya sungguh menyesal…..Tetapi, bukankah itu sudah ditentukan Tuhan? Artinya, saya tidak mungkin taat tadi. Guru Kalvinis saya mengajarkan bahwa apapun yang terjadi didunia tidak lepas dari ketetapan dan rencana Tuhan. Apa saya perlu menyesali suatu rencana Allah dalam hidup saya? Saya rasa saya tidak perlu menyesal lagi, saya hanya perlu terima saja bahwa Allah telah menentukan bahwa tadi saya tidak taat dalam hal ini.” Apakah menurut pembaca skenario ini terlalu mengada-ada? Coba renungkan, bukankah premis dasar Kalvinisme berpotensi untuk menimbulkan pikiran-pikiran seperti demikian? Kepercayaan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu juga tidak dapat secara adekuat mengajari orang percaya perihal doa dan penginjilan. Jika Allah sudah menentukan segala sesuatu, maka doa-doa kita sama sekali tidak mengubah sesuatu apapun. Demikian juga dengan penginjilan. Seiring dengan doktrin Unconditional Election juga (yang belum dibahas), Allah sudah menentukan siapa yang masuk Surga dan siapa yang masuk neraka. Kalau begitu, usaha penginjilan orang percaya tidak akan menambahi atau mengurangi hal ini.

Bukan berarti Kalvinis tidak mengajariorang untuk berdoa atau menginjil. Mereka berkata bahwa orang percaya perlu berdoa dan menginjil karena itu adalah perintah Allah bagi kita. Namun seberapa efektifkah seruan ini jika dibandingkan dengan konsep Alkitab bahwa doa kita benar-benar mengubah situasi? Seberapa efektifkah seruan Kalvinis untuk menginjil karena itu adalah keharusan, dibandingkan seruan untuk menginjil karena usaha penginjilanmu membuat perbedaan bagi jiwa-jiwa yang terhilang?

Tidak usah jauh-jauh, kita bisa melihat ilustrasi seorang salesman. Katakanlah ada dua salesman di dua perusahaan berbeda. Perusahaan pertama memberi gaji tetap kepada salesman mereka. Jadi, berapapun hasil penjualan sang salesman, gajinya sama. Sebaliknya, di perusahaan kedua, salesman diberi gaji tetap yang kecil, tetapi insentif yang besar untuk setiap penjualan yang dia hasilkan. Menurut anda, salesman mana yang akan lebih tinggi penjualannya? Saya rasa saya tidak perlu menjawab lagi, anda sudah mengerti. Itulah sebabnya hampir semua perusahaan kini memakai sistem yang kedua.

Dapatkah pembaca memahami, bahwa seruan Kalvinis untuk berdoa, menginjil, ataupun bentuk ketaatan lainnya, diperlemah oleh premis dasar mereka sendiri? Saya sama sekali tidak menyangkal bahwa Kalvinis masih berdoa. Saya tidak meragukan bahwa ada Kalvinis yang menginjil. Tetapi mereka berdoa dan menginjil, bukan karena mereka Kalvinis (because of their Calvinism), melainkan walaupun mereka Kalvinis (in spite of their Calvinism). Jika ada Kalvinis yang rajin menginjil, saya mengucap syukur untuk hal itu. Tetapi kerajinannya menginjil bukanlah karena ia seorang Kalvinis. Kalau dia bukan Kalvinis, dia bisa lebih rajin lagi menginjil. Mungkin ada Kalvinis yang berkata, “Kalvinisme tidak melemahkan semangat saya menginjil.” Terlepas dari benar tidaknya pernyataan dia, apakah dia yakin bahwa semua Kalvinis yang lain tidak melemah, padahal premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah semangat menginjil?

V. Kedaulatan Allah yang Alkitabiah

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk melihat kedaulatan Allah yang Alkitabiah, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan “kedaulatan.” Webster menjelaskan bahwa kata “sovereign” (Indonesia: berdaulat), memiliki arti:26

1 above or superior to all others; chief; greatest; supreme 2 supreme in power, rank, or authority

3 of or holding the position of a ruler; royal; reigning 4 independent of all others 5 …

1 Di atas atau superior dibanding semua yang lain; pemimpin; yang terbesar; tertinggi 2 tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas 3 memegang posisi seorang penguasa; rajani; bertahta 4 independen terhadap semua yang lain 5 …

Jadi, dapat kita lihat bahwa “kedaulatan” berhubungan dengan “kuasa,” “pemerintahan” dan “otoritas.” Dari definisi “kedaulatan” tidak ada suatu keharusan bahwa pribadi yang berdaulat menentukan segala sesuatu. Berikut ini kita akan menggali beberapa hal berhubungan dengan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia.

A. Kedaulatan Allah Konsisten Dengan Sifat-SifatNya

Allah adalah pribadi yang mahakuasa dan maha berdaulat. Tidak ada orang Kristen lahir baru yang meragukan kedua sifat Allah tersebut. Walaupun demikian, satu hal yang perlu diingat, kedaulatan dan kekuasaan Allah tidak berarti Allah tidak dibatasi. Memang, tidak ada suatu hal pun atau suatu makhluk pun yang dapat membatasi Allah di luar dari Allah sendiri. Tetapi, Allah dibatasi oleh sifat-sifatNya sendiri. Walaupun Allah mahakuasa dan berdaulat, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat Allah lakukan. Sebagai contoh, Allah tidak dapat berdosa, bukan karena halangan dari luar, tetapi karena itu bertentangan dengan sifatNya yang mahakudus. Allah tidak bisa membuat diriNya sendiri tidak eksis, karena sifat Allah adalah mahaada. Sekali lagi, kemahakuasaan dan kedaulatan Allah akan selalu konsisten dengan segala sifatNya yang lain.

Manusia patut mengucap syukur bahwa Allah bukan saja mahakuasa dan maha berdaulat, tetapi juga mahakasih, mahaadil, mahakudus, dan maha penyayang. Oleh karena itu, segala sesuatu yang Allah perbuat melalui kuasa dan kedaulatanNya, pastilah mencerminkan kasih, keadilan, dan kekudusanNya. Jika Allah hanya mahakuasa dan maha berdaulat, tanpa disertai sifat kasih dan kudusNya, maka Allah tidak lebih dari Saddam Hussein yang omnipotent! Bagi pribadi yang demikian, semakin banyak kuasanya, justru semakin berbahaya. Tentu, kalau Allah benar-benar tidak mahakasih atau benar-benar tidak mahakudus, kita tidak bisa protes, karena Dia toh adalah Allah yang menciptakan kita. Kita hanya tinggal tunggu nasib saja! Tetapi puji syukur, Allah menyatakan diriNya dalam Alkitab, dan Ia menyatakan diriNya sebagai Allah yang mahakudus dan mahakasih.

Karena kedaulatan Allah pastilah konsisten dengan sifat-sifatNya yang lain, maka Allah tidak mungkin menetapkan dosa. Kalau Allah menetapkan dosa, maka Allah adalah sumber dosa dan penyebab dosa. Ini tidak mungkin terjadi karena Allah adalah mahakudus. Kalau ada satu sifat Allah yang paling banyak disinggung dalam Alkitab, maka pastinya bukanlah kedaulatanNya, melainkan kekudusanNya. Dalam Alkitab (Indonesia Terjemahan Baru), kata “kudus” dan turunannya, muncul 1008 kali dalam 878 ayat! Sebaliknya, kata “daulat” dalam segala bentuk tidak dapat ditemukan dalam Alkitab Indonesia.27 Kata “kuasa” hanya muncul 562 kali, sudah termasuk segala jenis “kuasa,” bahkan kuasa kejahatan sekalipun. Sedangkan tidak mungkin ada “kekudusan” kejahatan. Setiap kali kata “kudus” dipakai secara positif, pastilah berbicara mengenai Allah atau hal-hal (benda maupun pribadi) yang berkaitan dengan Allah atau yang dikhususkan untuk Allah. Ini pun belum menghitung penggunaan kata “suci.” Jangan salah! Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa Allah maha berdaulat. Pemazmur berkata, “Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri” (Maz. 66:6-7). Tetapi, manusia tidak ada hak sedikit pun, demisuatu definisi “kedaulatan”yang salah, membuat Allah sebagai pribadi yang menetapkan, mendekritkan, danmerencanakansegala dosa yang ada, yang adalah pelanggaran terhadap kekudusanNya!

Ketika Yesaya diizinkan untuk melihat takhta Tuhan, dia menyaksikan para Serafim saling berteriak, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.” Penglihatan akan kekudusan Tuhan begitu melanda dan melingkupi Yesaya, sehingga ia menganggap dirinya celaka karena dosa-dosanya. Minimal 2600 tahun setelah Yesaya, Rasul Yohanes, dalam penglihatannya akan masa depan, melihat kata-kata yang sama tentang kekudusan Tuhan masih dinyanyikan di hadapan takhta Allah (Wah. 4:8). Apakah kita harus percaya, bahwa Allah yang sedemikian Maha Kudus, yang tidak memperbolehkan dosa sekecil apapun untuk menghampiri takhtaNya, ternyata adalah pribadi yang menyebabkan segala dosa yang pernah ada? Ini tidak kurang dari penghujatan! Ini adalah skandal! Oh, wahai teman-temanku Kalvinis, mengapakah anda tidak dapat melihat hal ini?

B. Allah Menciptakan Makhluk dengan Kehendak Bebas

Jika Allah tidak menetapkan adanya dosa, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: kalau begitu dari manakah datangnya dosa dan kejahatan? Bukankah di masa kekekalan lampau hanya ada Allah saja? Kalau pada mulanya hanya ada Allah, bukankah berarti segala sesuatu berasal dari Allah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab jika kita mengerti bahwa Allah selain menciptakan berbagai benda dan hal, juga menciptakan makhluk-makhluk yang Dia berikan kehendak bebas. Manusia adalah salah satu makhluk yang Dia berikan kehendak bebas tersebut. Allah jelas memiliki kehendak bebas, itu adalah salah satu sifatNya. Oleh karena itu, ketika Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupaNya, manusia mewarisi sifat-sifat Allah sampai tingkat tertentu. Manusia sadar diri, manusia memiliki perasaan, manusia dapat berkomunikasi, dan manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Allah.28

Banyak pihak yang mencoba untuk mengadu “kedaulatan Allah” dengan “kehendak bebas manusia.” Mereka merasa bahwa kalau manusia memiliki kehendak bebas, maka manusia bisa memilih untuk menentang Allah, dan itu berarti Allah tidak berdaulat penuh. Tetapi ini adalah logika yang salah. Ingat bahwa kehendak bebas manusia diberikan oleh Allah sendiri. Apakah Allah yang berdaulat itu tidak boleh memutuskan untuk memberikan kehendak bebas kepada salah satu ciptaanNya? Seseorang yang berdaulat tidak berarti ia harus menentukan segala sesuatu. Seorang raja yang paling berdaulat sekalipun, memiliki hak untuk mendelegasikan banyak hal kepada bawahannya. Ia bisa berkata kepada seorang pegawainya: “Coba kamu yang kendalikan seluruh pasukan kita.” Walaupun pengendalian pasukan adalah hak raja, tetapi raja memutuskan untuk membiarkan pegawainya yang mengendalikan. Kita bisa juga katakan bahwa sang pegawai mengendalikan pasukan berdasarkan otoritas yang diberikan raja padanya. Raja yang tidak boleh mendelegasikan apapun, melainkan harus menentukan segalanya, justru dia bukanlah raja yang berdaulat!

Demikianlah kita lihat Allah yang adalah raja atas seluruh alam ciptaan, Ia mendelegasikan kepengurusan laut dan bumi kepada manusia. Dan Ia pula yang memberikan kepada manusia kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk memilih suatu tindakan atau sikap. Dengan kehendak bebas itu, manusia bisa memilih dari banyak pilihan tindakan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Jelas pertimbangan-pertimbangan manusia dipengaruhi oleh banyak hal di sekelilingnya, tetapi tidak ditentukan oleh apapun selain dirinya sendiri. Jadi, tidak ada pertentangan antara “kedaulatan Allah” dengan “kebebasan manusia,” karena Allah secara berdaulat memberikan kepada manusia kemampuan untuk memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Dengan kata lain, kebebasan manusia adalah kebebasan yang diberikan oleh Allah. Karena Allah yang memberikan kebebasan tersebut, maka Allah juga membiarkan manusia untuk memilih sendiri, dan tidak menentukan segalanya bagi manusia. Di sinilah perbedaan pandangan Alkitab dengan pandangan Kalvinis. Ada Kalvinis yang menolak bahwa manusia punya kehendak bebas. Kalvinis-Kalvinis lain di satu sisi menerima kehendak bebas manusia, tetapi di sisi lain menyatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Menurut saya, jenis Kalvinis yang pertama lebih jujur pada premis dasar mereka. Nah, apa kata Alkitab?

Alkitab penuh dengan bukti implisit maupun eksplisit bahwa manusia diciptakan dengan kehendak bebas. Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa Allah ada. Kedua fakta ini diterima secara implisit dan sudah dianggap benar oleh para penulis Alkitab. Setiap kali ada himbauan dalam Firman Tuhan, itu adalah bukti implisit bahwa manusia dapat memilih. Setiap kali para penulis Alkitab memaparkan argumen, itu adalah bukti bahwa mereka mencoba untuk menyodorkan pertimbangan-pertimbangan kepada intelek para pembaca, agar pembaca membuat keputusan yang benar. Ini adalah bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Bahkan Allah sendiri berkata: “Marilah, baiklah kita berperkara” (Yes. 1:18). Tuhan berusaha untuk meyakinkan manusia agar memilih yang baik. Ini adalah bukti kuat bahwa Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia. Tetapi, bukankah Tuhan itu berdaulat dan dapat menentukan apa yang akan dipilih oleh manusia? Benar! Tetapi Tuhan yang berdaulat itu telah memutuskan untuk membiarkan manusia yang memilih sendiri. Dan Tuhan konsisten dengan keputusanNya, sehingga Ia hanya akan meyakinkan manusia, bukan menentukan bagi manusia. Tentu manusia akan mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan Tuhan suatu hari.

Bahkan kisah pencobaan di taman Eden pun merupakan bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Perintah Tuhan kepada manusia untuk tidak makan dari buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat adalah bukti bahwa minimal ada dua pilihan! Dan fakta bahwa Tuhan sangat marah dan kecewa saat Adam dan Hawa makan buah itu, membuktikan bahwa Tuhan tidak menetapkan demikian. Hanya seorang yang telah dicuci otak oleh Kalvinisme yang dapat menyimpulkan dari Kejadian pasal 2 dan 3, bahwa Allah telah menetapkan Adam untuk jatuh ke dalam dosa!

Alkitab penuh dengan bukti implisit akan kehendak bebas manusia. Namun Alkitab juga mengandung pernyataan-pernyataan langsung tentang kehendak manusia tersebut. Ada banyak ayat tentang “kehendak manusia.” Yonatan pernah berkata kepada Daud demikian, “Apapun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu” (1 Sam. 20:4). Tuan dalam perumpamaan Yesus membuat pernyataan yang sangat menarik: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?” (Mat. 20:15). Ayat-ayat ini membuktikan bahwa keputusan manusia mengalir dari hatinya sendiri bukan ditentukan oleh pribadi lain. Kalvinis ingin agar kita percaya bahwa telah terjadi suatu sandiwara kosmik yang besar, tanpa disadari oleh para pemainnya. Manusia mengira ia menentukan keputusan-keputusannya sendiri, dan Alkitab pun mengacu kepada kehendak hati manusia, tetapi suatu hari nanti akan nyata bahwa ternyata kehendak hati itu telah ditentukan Tuhan! Satu-satunya yang kurang dari skenario ini adalah dukungan Alkitab. Anda tidak akan menemukan satu petunjuk pun dari Alkitab bahwa Allah telah menentukan segala keputusan, perasaan, dan tindakan manusia. Sebaliknya, dalam kasus-kasus tertentu, justru Allah yang mengikuti kehendak manusia. Demikianlah pemazmur mengumandangkan kebenaran ini: “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka” (Maz. 145:19). Apakah kita harus percaya, sebagaimana pengajaran Kalvinis, bahwa Allah menentukan dulu kehendak orang-orang itu, lalu membiarkan orang-orang itu merasa bahwa mereka berkehendak dari diri mereka sendiri, dan lalu menyatakan bahwa Dia mengikuti kehendak mereka? Saya tidak percaya bahwa Allah menipu kita dengan sandiwara kosmik seperti itu! Itu bertentangan dengan kesaksian Alkitab! Kalau Allah menentukan segala sesuatu, maka adalah olok-olok bagi Allah untuk menyuruh manusia memilih. Tuhan, melalui Yosua, pernah menantang orang Israel: “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos. 24:15). Bukankah ini semua suatu sandiwara besar jika ternyata Tuhan telah menentukan siapa yang akan memilih Dia, dan siapa yang memilih ilah lain? Bukankah olok-olok jika kemudian Tuhan memarahi mereka yang melaksanakan ketetapanNya sendiri untuk memilih ilah lain? Bukankah bertentangan dengan keadilan Tuhan jika kemudian Tuhan menghukum orang-orang yang tidak dapat berbuat lain daripada rencana rahasiaNya? O, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah engkau melihat, betapa Kalvinisme menjatuhkan karakter Tuhan?

C. Kemahatahuan yang Benar-Benar Mahatahu

Kalvinis menganggap bahwa kemahatahuan Allah adalah benteng yang kuat bagi doktrinnya. Mereka mengumandangkan bahwa jika seseorang menerima kemahatahuan Allah, maka ia harus juga percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Boettner bahkan berkata: “Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu.”29

Kita sudah melihat di bagian sebelumnya, bagaimana Kalvinis mengkaitkan kemahatahuan Allah dengan doktrinnya. Berikut ini saya kutip lagi penjelasan dari bagian sebelumnya:

Walaupun Non-Kalvinis mempercayai Allah mahatahu, Kalvinis memiliki pengertian yang lain tentang kemahatahuan. Kalvinis percaya bahwa jika Allah mahatahu, berarti Allah menentukan segala sesuatu. Logika Kalvinis berjalan seperti ini:

“Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu mahatahu (1Sam 2:3 - “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu”), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu” (Budi Asali).

Saya akan memperjelas lagi dengan mengambil suatu contoh kasus imajiner, yaitu seorang bernama Budi yang suatu hari tertentu memilih untuk memakai baju merah. Allah sudah mengetahui bahwa Budi akan memakai baju merah pada hari itu. Pengetahuan Allah akan hal ini sudah sejak kekekalan lampau. Dan, pengetahuan Allah tentu tidak dapat salah atau gagal, karena Ia Allah dan Ia Mahatahu. Jadi, menurut filosofi Kalvinis, Budi tidak memiliki pilihan lain. Kalau Budi pada hari itu memilih baju biru, maka pengetahuan Allah menjadi salah, dan ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, walaupun tampaknya seolah-olah Budi menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih baju merah dari berbagai pilihan berwarna-warni baju di lemari, menurut Kalvinis sebenarnya Budi sudah ditetapkan untuk memilih baju merah, dan bahwa Budi tidak bisa memilih baju warna lain karena Allah sudah tahu dia akan pilih merah, dan pengetahuan Allah tidak bisa salah.

Lebih lanjut lagi, Kalvinis mengajarkan bahwa Allah mahatahu karena Allah telah menetapkan segala sesuatu! Kita sudah mengutip Shedd yang berkata, “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.”30

Di sinilah letak kesalahan dari Kalvinisme. Mereka membuat suatu asumsi filosofis bahwa:

1. Allah mengetahui lebih dahulu sama dengan Allah menentukan lebih dahulu

2. Pengetahuan Allah menyebabkan hal yang diketahui untuk terjadi

Padahal, tidak ada dukungan Alkitab, dukungan logis, ataupun dukungan praktis untuk asumsi tersebut. Dalam dunia nyata, bukanlah pengetahuan seseorang akan peristiwa yang membuat suatu peristiwa terjadi. Adalah peristiwa yang menimbulkan pengetahuan. Untuk menyederhanakan, kita mulai dengan contoh pengetahuan manusia pada umumnya (pasca-kejadian / post-knowledge). Misalnya kemarin terjadi gempa bumi di Surabaya. Saya yang di Jakarta, setelah membaca koran, menjadi tahu akan peristiwa tersebut. Tentu tidak ada seorangpun yang cukup gila untuk menegaskan bahwa karena saya tahu akan peristiwa tersebut, maka sayalah yang telah menyebabkan/menentukan terjadinya gempa bumi.

Nah, hal yang sama dapat kita lihat dalam hal pengetahuan awal Allah (pra-kejadian / fore-knowledge). Memang ada perbedaan dalam hal waktu mengetahui. Allah mengetahui sebelumnya, sedangkan manusia mengetahui setelahnya. Tetapi, kita masih berurusan dengan hal yang sama, yaitu pengetahuan! Dan bagaimanakah hubungan “pengetahuan” dengan “peristiwa”? Sebagaimana dalam post-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya, demikian juga dalam fore-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya. Perbedaannya hanyalah dari sudut waktu. Dalam postknowledge, pengetahuan terjadi setelah peristiwa, dalam foreknowledge, pengetahuan terjadi sebelum peristiwa. Tetapi, dalam kedua-duanya, “pengetahuan” tidak menyebabkan “peristiwa,” melainkan sebaliknya.

Tetapi bagaimanakah “peristiwa” dapat menyebabkan “pengetahuan” yang sudah ada sebelum peristiwa itu? Bagi manusia memang tidak mungkin, tetapi Allah berada di luar waktu. Istilah “fore” dan “post” knowledge adalah demi memudahkan manusia untuk mengerti, karena manusia berada dalam waktu. Allah berada di luar waktu. Allah melihat

garis waktu bagaikan seseorang yang berada ditempat tinggimemperhatikan banyak kendaraan di jalanan yang panjang. Sedangkan manusia yang berada di dalam waktu, bagaikan salah satu mobil di jalan tersebut, yang sedang “menjalani waktu.” Kapanpun sebuah peristiwa terjadi dalam garis waktu, Allah tahu akan peristiwa itu, bahkan di luar dari waktu.

Jadi, urutan logis (bukan urutan kronologis) yang terjadi adalah:

1. Allah memutuskan untuk memberikan kehendak bebas pada manusia (di luar waktu)

2. Allah menempatkan manusia dalam garis waktu (dalam waktu)

3. Manusia memilih dengan kehendak bebasnya (dalam waktu)

4. Allah tahu pilihan manusia tersebut (di luar waktu)

Kita lihat bahwa fakta Allah mengetahui suatu tindakan manusia, bukan berarti Allah menentukan tindakan tersebut. Manusialah yang menentukan tindakannya, dan Allah tahu akan tindakan itu. Foreknowledge Allah dapat saya ilustrasikan dengan rekaman video. Misalnya saya merekam sebuah pertandingan sepakbola. Lalu saya mempertunjukkan rekaman itu kepada teman saya yang tidak sempat menonton. Bagi dia, seolah-olah hasil rekaman saya itu terjadi “live” karena dia belum tahu apa yang terjadi. Bagisaya, seolah-olah saya punya “foreknowledge”akan pertandingan itu. Kalau teman saya tidak tahu bahwa itu adalah rekaman (menyangka sedang menonton “live”), maka dia akan heran bahwa saya bisa mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Saya bisa menceritakan alur permainan, keputusan wasit, gol-gol yang tercipta pada menit yang tepat, cidera yang terjadi, dan lain sebagainya. Tetapi, setinggi apapun kekaguman dia pada kehebatan pengetauan saya, tidak mungkindia berpendapat bahwa “pengetahuan” sayalah yang menyebabkan semuanya terjadi seperti yang saya katakan. Juga tidak ada orang waras yang akan mengatakan bahwa saya tahu apa yang terjadi karena saya telah menentukan semua itu. Faktanya adalah, walaupun saya sudah “tahu” apa yang terjadi, tetapi “peristiwa” itulah yang membuat saya tahu, bukan “pengetahuan” saya yang menimbulkan “peristiwa.”

Dalam kasus Allah, pengetahuanNya adalah sempurna dan tidak mungkin salah. Oleh karena itu, apapun yang Allah ketahui lebih dahulu, PASTI terjadi. Saya mengaminkan pernyataan ini! Tetapi tidak berarti Allah telah menentukannya. Walaupun segala sesuatu sudah PASTI, segala sesuatu TIDAKLAH HARUS.31 Kalau segala sesuatu itu HARUS, berarti manusia tidak punya pilihan. Ini adalah konsep Kalvinis, bahwa Allah mengetahui dengan cara menentukan. Tetapi Allah telah memberi kebebasan bagi manusia. Manusia itu memilih, dan Allah tahu akan pilihan itu. Bukan Allah yang memilih bagi dia, tetapi Allah tahu pilihan dia.

Sebagai ilustrasi, saya ambil contoh lagi tokoh Budi yang memilih warna baju. Dalam konsep Kalvinis, Allah menentukan Budi untuk memilih baju merah. Ia tidak punya pilihan yang riil sebenarnya. Dari sudut pra-pengetahuan Allah, tindakan Budi sudah PASTI sekaligus HARUS. Tetapi dalam konsep Alkitabiah, Tuhan tidak menentukan bagi Budi. Budi benar-benar punya pilihan, apakah merah atau biru. Karena Budi memilih Merah, Allah tahu akan hal itu (di luar waktu). Sehingga, sebelum Budi memilih pun, dari sudut pra-pengetahuan Allah, sudah PASTI dia memilih merah. Tetapi Budi TIDAK HARUS memilih merah. Kalau Budi memilih biru, maka pengetahuan Allah menjadi “Budi akan memilih biru.” Sekalilagi, maka sejak kekalsudah PASTI Budimemilih biru, walaupun ia TIDAK HARUS memilih biru.

Jadi kita lihat, “peristiwa” pemilihan oleh Budi, menyebabkan “pengetahuan” Allah akan pilihan Budi, walaupun pengetahuan (di luar waktu) itu sebelum peristiwa (dalam waktu).

Gagal untuk memahami perbedaan antara PASTI dan HARUS, menyebabkan pernyataan seperti berikut dari Berkhof: “Telah ditentukan bahwa orang Ibrani harus menyalibkan Yesus.” 32 Ini adalah posisi Kalvinis, manusia HARUS melakukan yang sudah ditetapkan. Tetapi seperti telah kita lihat, jika mereka “harus,” berarti mereka tidak bisa dan tidak boleh melakukan yang lain. Itu berarti mereka tidak bebas dan tidak bertanggung jawab. Seorang non-Kalvinis yang Alkitabiah dapat mengatakan: “Berdasarkan pra-pengetahuan Tuhan yang sempurna dan tak dapat salah, orang-orang Ibrani PASTI menyalibkan Yesus, tetapimereka TIDAK HARUS menyalibkanNya.” Artinya, orang-orang Ibrani bisa saja memilih untuk tidak menyalibkan Yesus. Opsi itu riil dan terbuka bagi mereka! Tetapi Tuhan tahu dengan pasti pilihan mereka, sejak kekekalan.

William Lane Craig memberikan pengertian yang sangat baik sekali tentang hubungan antara kemahatahuan Allah dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia: “Dari pra-pengetahuan (foreknowledge) Allah tentang suatu aksi yang bebas, seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa aksi itu akan terjadi, bukan bahwa aksi itu harus terjadi. Agen yang melakukan aksi tersebut memiliki kekuatan untuk menahan diri (dari aksi tersebut), dan jika agen tersebut melakukan seperti itu, maka pra-pengetahuan Allah tentunya menjadi berbeda. Agen-agen (pelaku-pelaku) tidak bisa berlaku sedemikian rupa sehingga Allah mengetahui mereka melakukan suatu tindakan, namun mereka tidak melakukan tindakan itu. Tetapi ini bukanlah suatu batasan terhadap kebebasan mereka. Mereka bebas untuk melakukanatau tidak melakukan, dan yang mana pun yang mereka pilih, Allah akan sudah mengetahuinya. Karena pengetahuan Allah, walaupun secara kronologis adalah sebelum aksi tersebut, namun secara logis adalah setelah aksi tersebut dan ditentukan oleh aksi itu. Oleh karena itu, pra-pengetahuan ilahi dan kebebasan manusia tidaklah saling bertentangan.”33

Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pengetahuan Allah berasal dari penentuan Allah. Ini hanyalah suatu asumsi dasar Kalvinisme. Pink berusaha untuk menggunakan Kisah Para Rasul 2:23 untuk membuktikan asumsi Kalvinisme tersebut.

Him, being delivered by the determinate counseland foreknowledge of God, ye have taken, and by wicked hands have crucified and slain:

Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.34 Pink bersikukuh bahwa pra-pengetahuan Allah didasarkan pada dekrit-dekrit Allah, dan meminta kita untuk “perhatikan urutannya: pertama adalah maksud Allah (dekritNya), dan kedua pra-pengetahuanNya.”35 Berdasarkan urutan ini, Pink mengajarkan bahwa dekrit Allah menyebabkan Allah tahu. Tetapi ini logika yang kacau. Hanya karena “maksud” lebih dulu disebut dari “pra-pengetahuan,” sama sekali tidak membuktikan bahwa yang satu mendasari yang lain. Bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebut “pra-pengetahuan” duluan? Roma 8:29 berbunyi: “Sebab semua orang yang diketahuiNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”36 Ayat ini justru mengajarkan bahwa prapengetahuan Allah menjadi dasar dari penentuanNya. Artinya, Allah menentukan berbagai hal dalam dunia, bukan secara sembarangan, tetapi berdasarkan hal-hal yang Allah ketahui.

Mazmur 139, salah satu pasal yang paling indah menggambarkan kemahatahuan Tuhan, tidak mendukung sama sekali konsep Kalvinis. Dalam Mazmur ini, Daud menjelaskan:

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Kata-kata Daud sama sekali tidak mencerminkan bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan. Justru sebaliknya! Tuhan “menyelidiki” dan “mengenal” Daud. Ini berarti Tuhan tidak menentukan pikiran-pikiran Daud. Kalau Tuhan menentukan pikiran Daud, maka tidak perlu lagi “diselidiki”! Tuhan juga “memeriksa” Daud. Semua kata-kata yang dipakai menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas (diciptakan Tuhan demikian), dan menentukan pikiran dan pilihannya sendiri. Tetapi pengetahuan Tuhan sedemikian hebat, sehingga hal-hal yang paling rahasia pun, yang hanya ada dalam pikiran Daud, adalah terbuka bagi pengetahuan Tuhan!

Saking hebatnya pengetahuan Tuhan, Daud berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (139:6). Ini sangat kontras dengan konsep Kalvinis. Sekali lagi saya mengutip Shedd: “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” Saya rasa prapengetahuan ala Kalvinis sama sekali tidak mengesankan. Kalau perlu menentukan dulu, baru bisa tahu, itu saya juga bisa, bahkan anak-anak juga bisa! Sekali lagi, sama sekali tidak ada yang spektakuler mengenai pengetahuan yang harus menentukan dulu untuk bisa tahu. Coba kita perjelas dengan ilustrasi sehari-hari.

“Saya adalah seorang dosen, dan tentunya memiliki kuasa untuk menentukan banyak hal di dalam kelas. Suatu hari, saya memutuskan untuk memberikan ujian mendadak kepada para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak siap untuk ujian tentunya kaget sekali. Mungkin pula ada yang protes. Tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak akan terkesan bila saya mengatakan, ‘saya sudah tahu bahwa hari ini akan ada ujian.’ So what!!?? Ya jelaslah sang dosen tahu, toh dia yang memutuskannya! Sebaliknya, bila ternyata salah satu mahasiswa, karena kepintarannya menganalisa gerak-gerik, pola mengajar, dan pola pikir saya, ternyata dapat mengetahui bahwa akan ada ujian mendadak hari itu, maka itu adalah pengetahuan yang cukup spesial.”

Tidak mungkin Daud terkesan dan berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” jika ternyata pengetahuan itu adalah karena suatu penentuan. Bahkan bisa dipertanyakan, apakah “pengetahuan karena penentuan” bisa disebut sebagai keMAHAtahuan. Sebagaimana telah dikutip sebelumnya, Warfield mewakili para Kalvinis untuk menjelaskan tentang pengetahuan Allah: “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri.”37 Mengetahui kehendak sendiri sama sekali tidak ajaib! Pribadi yang hanya tahu apa yang telah ia tentukan, sebenarnya bahkan tidak masuk kategori mahatahu. Kalvinis, karena semangat mereka mempertahankan premis dasar “Allah menentukan segala sesuatu,” justru malah menyerang kemahatahuan Tuhan sendiri!

Arminius, tokoh yang paling banyak diserang oleh Kalvinis, justru memiliki pandangan tentang kemahatahuan yang jauh lebih baik. Tentang Allah, Arminius menegaskan:

“Ia tahu segala hal yang mungkin, apakah mengenai kapabilitas Allah ataupun makhluk; dalam kapabilitas aktif maupun pasif; dalam kapabilitas tindakan, atau imajinasi, atau ucapan: Ia tahu segala sesuatu yang dapat eksis, dalam hal hipotesis apapun: Ia tahu hal-hal lain di luar diriNya, baik yang harus maupun yang tergantung, baik atau buruk, umum atau khusus, masa depan, masa kini dan masa lampau, agung ataupun tercela: Ia tahu hal-hal yang substansial maupun segala jenis yang tak disengaja; aksi dan emosi, modus dan keadaan segala hal; kata-kata dan perbuatan eksternal, pikiran-pikiran internal, pertimbangan-pertimbangan, maksud rencana, dan keputusan-keputusan, dan entitas akal budi, apakah kompleks atau sederhana.”38

James Arminius justru mengakui kemahatahuan Tuhan yang lebih komplit daripada Kalvinis. Secara tradisional, umat Kristiani percaya bahwa Allah tahu segala sesuatu, termasuk apa yang disebut “middle knowledge.” Allah memiliki “middle knowledge,” yang berarti bahwa Allah bukan hanya tahu semua apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tetapi Allah juga tahu semua yang MUNGKIN terjadi. Jadi, walaupun Allah sudah tahu tentang perzinahan Daud dengan Batsyeba, dan segala konsekuensinya, misalnya kekacauan keluarga Daud karena contoh buruk yang ia berikan, dan juga pemberontakan anaknya dan penasihatnya, Allah juga tahu, apa yang akan terjadi jika saja Daud tidak berzinah dengan Batsyeba! Allah tahu tentang semua konsekuensi, semua pilihan orang-orang lain disekitar Daud, jika saja Daud memilih untuk melakukan hal lain! Jadi, Allah bukan saja tahu apa yang benar-benar terjadi, Allah bahkan tahu tentang segala kemungkinan! Itulah sebabnya, dalam Alkitab, banyak sekali referensi tentang pengetahuan Allah “jika” sesuatu hal terjadi, padahal hal tersebut tidak terjadi. Contoh:

Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (Mat. 11:21-24)

Pernyataan Tuhan Yesus ini adalah contoh yang sangat baik. Tirus, Sidon, dan Sodom tidak bertobat. Oleh karena itu tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa Allah menentukan mereka bertobat. Namun, Tuhan tahu, bahwa jika dikota-kota itu terjadi mujizat-mujizat tertentu, mereka tentunya telah bertobat. Ini adalah salah satu perikop yang membuktikan bahwa Tuhan bukan hanya tahu hal-hal yang Ia tentukan! Ia tahu segala kemungkinan. Ia tahu apa yang makhluk akan lakukan dalam segala kondisi dan situasi. Perikop lain yang mengilustrasikan kebenaran ini ada dalam kitab 1 Samuel:

Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah akudengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” (1 Sam. 23:9-12).

Pada waktu itu, Daud sedang bersembunyi dari Saul di sebuah kota bernama Kehila. Saul rupanya mendapat kabar bahwa Daud berada di sana, dan Saul berniat untuk membawa pasukan dan mengepung Daud di Kehila. Namun rencana itu bocor ke telinga Daud, sehingga Daud bertanya kepada Tuhan: “Apakah orang-orang Kehila akan menyerahkan aku kepada Saul?” Tentu pertanyaan iniadalah dengan asumsibahwa Daud terus berada di Kehila. Pada kenyataannya, Daud akhirnya segara keluar dari Kehila. Walaupun demikian, Tuhanbisa tahu dengan pasti, bahwa jika Daud berada di Kehila, orang-orang kota itu akan menyerahkan Daud kepada Saul. Ini adalah suatu kondisi hipotetis, dan tidak pernah terjadi. Tetapi demikianlah kemahatahuan Tuhan, sedemikian ajaib, sehingga Ia tahu segala kemungkinan dan Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh makhluk-makhlukNya dalam segala jenis kondisi. Jelaslah bahwa Tuhan bukan hanya tahu apa yang Ia tetapkan! Tuhan bukan hanya tahu apa yang menjadi kehendakNya sendiri!

Kalau mau direnung-renungkan, pernyataan Warfield bahwa “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri,” sebenarnya adalah pengakuan Kalvinis bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas! Dengan satu kalimat ini, Warfield menerangkan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Kalvinis, tidak pedulibetapa gigihnya mereka berusaha menyangkalinya, yaitu bahwa segala “kehendak” makhluk adalah sebenarnya “kehendak Allah.” Tanpa sadar (atau mungkin dengan sadar), Warfield menegaskan bahwa makhluk tidak memiliki kehendak sendiri, melainkan dikendalikan oleh “kehendak Allah.”

Jadi, usaha Kalvinis untuk memakai kemahatahuan Allah untuk mendukung premis dasarnya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu, justru membawa dua dampak. Pertama, ia semakin memperlihatkan posisi Kalvinis sebenarnya, bahwa manusia hanyalahpion-pionpintar yang melakukansegenap “dekrit Allah” sambilberpikir danmerasa bahwa ia melakukannya atas keinginan sendiri. Kedua, ia justru memperlemah kemahatahuan Tuhan sendiri. Oh, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah kalian melihat, bahwa “allah” yang hanya bisa tahu apa yang ia tentukan, dan hanya tahu kehendaknya sendiri, bukanlah Allah yang Mahatahu dalam Alkitab?

Next Page »