DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

MISTERI PENGKHIANATAN AHITOFEL TERHADAP DAUD

Filed under: Religion — dedewijaya at 8:11 am on Friday, May 26, 2006

Misteri Pengkhianatan Ahitofel
terhadap Daud

Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian:
"Ahitofel ada di antara orang-orang yang
bersepakat dengan Absalom," maka berkatalah Daud:
"Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN."

Kisah Alkitab yang satu ini menjadi misteri bagi kita, masih berkaitan dengan kisah Raja Daud.

Dalam Alkitab kita tahu Daud menjadi Raja Israel dan memerintah selama 40 tahun lamanya (7 tahun atas suku Yehuda, 33 tahun atas seluruh Israel). Namun kita mungkin belum pernah mendengar mengenai tokoh Ahitofel. Siapakah Ahitofel? Ada apa dengan Ahitofel? Dia adalah penasihat Raja Daud yang sangat setia, yang kemudian memberontak kepada Raja Daud dan ingin membunuh Raja Daud. Mengapa tiba-tiba ia berubah setia kepada Raja Daud dan ingin menghabisi Raja Daud dengan tangannya sendiri? Kisah Ahitofel ini sangat menarik untuk kita perhatikan dan ada hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini.
Pada zaman Raja Daud memerintah, Israel memperoleh kemenangan demi kemenangan atas musuh-musuhnya. Tidak ada kekuatan asing yang mampu mengalahkan bangsa Israel pada zaman pemerintahan Raja Daud karena Tuhan menyertai Daud, hamba-Nya. Namun akibat dosa perzinahan yang Daud lakukan, Alkitab mengisahkan begitu banyak masalah yang menimpa Daud dan keluarganya serta bangsa Israel.

Alkitab mengisahkan tentang pemberontakan Absalom, putra Daud, pada masa pemerintahan Daud hampir berakhir, serta kesedihan yang dialami Daud ketika putra yang dikasihinya, Absalom mati terbunuh yang suka memberontak terhadap ayahnya.
Absalom adalah putra ketiga yang lahir bagi Daud sebagai hasil perkawinannya dengan Maakha, anak perempuan Talmai, Raja Gesur. Kisah ini telah sering dikhotbahkan dari atas mimbar untuk memperingatkan kita akan konsekuensi dari kesombongan dan ambisi buta yang kita lihat dalam penghakiman Allah yang tidak dapat dielakkan atas pemberontakan Absalom beserta kematiannya.

Banyak pengkhotbah telah memperingatkan para orang tua tentang sikap Daud yang karena puas diri, gagal mendisiplin anak kesayangannya yang pada waktu itu sedang berkembang menjadi seorang laki-laki yang sombong dan angkuh. Alkitab mencatat bahwa ”Absalom menyediakan baginya sebuah kereta serta kuda dan 50 orang yang berlari di depannya”  (2 Samuel 15:1) dan membangkitkan pemberontakan terhadap ayahnya dengan cara mengumbar janji kepada bangsa Israel bahwa ia akan memerintah sesuai dengan kehendak mereka bila ia menjadi raja atas Israel. Ketidaksediaan Daud untuk mengatasi pemberontakan anaknya yang makin menjadi-jadi pada akhirnya membuahkan pemberontakan Absalom yang menentang kekuasaannya, pelarian diri Daud dari Yerusalem, dan peperangan yang pahit melawan para pemberontak.
Akhirnya, saat yang tragis pun tiba ketika Daud mendengar berita tentang kemenangan yang diraih oleh pasukan yang setia kepadanya atas para pemberontak tersebut. Ia berseru dengan cemas, ”Selamatkah Absalom, orang muda itu?” (2 Samuel 18:29). Ketika hamba-hamba raja pada akhirnya memperoleh keberanian untuk berterus terang kepadanya, mereka menyatakan bahwa Absalom sudah mati. Raja Daud yang merasa sangat kehilangan anak kesayangannya menangis dengan getir. Maka terkejutlah raja dan dengan sedih ia naik ke anjung pintu gerbang lalu menangis. Dan beginilah perkataannya sambil berjalan: "Anakku Absalom, anakku, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom, anakku, anakku!" (2 Samuel  18:33).

Ditengah kegiatan pemberontakan itu Alkitab mencatat bahwa, ”Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo itu, penasihat Daud, dari Gilo, kotanya. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom” (2 Samuel 15:12). Ahitofel telah melayani Raja Daud dengan setia selama beberapa dekade sebagai penasihat atau perdana menterinya. Nasihat-nasihat Ahitofel yang penuh hikmat sangat bermanfaat bagi Raja Daud. Kitab Samuel memberitahukan kepada kita bahwa Ahitofel dianggap sebagai penasihat yang brillian. ”Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom”( 2 Samuel 16:23).

Bahkan ketika Daud mendengar bahwa penasihat dan sahabat yang dipercayainya telah mengkhianatinya, ia begitu takut akan bahaya yang dapat ditimbulkan Ahitofel sehingga ia berdoa, ”Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN” (2 Samuel 15:31).

Bertahun-tahun sebelumnya, Raja Daud telah menubuatkan suatu nubuatan ganda dalam Kitab Mazmurnya. Nubuatan itu menguraikan tentang pengkhianatan yang akan dilakukan oleh sahabatnya, Ahitofel. Namun kata-kata Daud juga menubuatkan pengalaman Yesus yang dikhianati oleh sahabat dan murid-Nya, Yudas Iskariot, seribu tahun kemudian. ”Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Mazmur 41:10).
Mengapa Ahitofel, penasihat kepercayaan Daud, segera ikut dalam pemberontakan Absalom melawan kekuasaan ayahnya setelah seumur hidupnya mengabdikan diri kepada Daud? Selain itu, mengapa Ahitofel meminta persetujuan pangeran muda itu agar ia secara pribadi diperkenankan untuk memimpin pasukan pemberontak itu untuk segera menyerang dan membunuh Raja Daud sebelum raja dapat melarikan diri? Berkatalah Ahitofel kepada Absalom, ”Izinkanlah aku memilih dua belas ribu orang, maka aku akan bersiap dan mengejar Daud pada malam ini juga. Aku akan mendatangi dia, selagi ia lesu dan lemah semangatnya, dan mengejutkan dia; seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia akan melarikan diri, maka aku dapat menewaskan raja sendiri” (2 Samuel 17:1-2). Akhirnya mengapa Ahitofel menasihati Absalom untuk secara terang-terangan berhubungan seks dengan istri-istri ayahnya di atas istana? ”Lalu jawab Ahitofel kepada Absalom: "Hampirilah gundik-gundik ayahmu yang ditinggalkannya untuk menunggui istana. Apabila seluruh Israel mendengar, bahwa engkau telah membuat dirimu dibenci oleh ayahmu, maka segala orang yang menyertai engkau, akan dikuatkan hatinya." Maka dibentangkanlah kemah bagi Absalom di atas sotoh, lalu Absalom menghampiri gundik-gundik ayahnya di depan mata seluruh Israel” (2 Samuel 16:21-22).

Jawaban atas misteri besar ini terdapat dalam beberapa bagian Alkitab PL yang sering kali tidak dibaca oleh para pembaca Alkitab karena daftar nama-nama yang tertera dalam pasal tersebut sepertinya hampir tidak ada sangkut pautnya dengan diri kita. Akan tetapi, jawaban bagi teka-teki mengenai motif Ahitofel ini sesungguhnya terdapat dalam firman Allah dan jawaban ini mengandung suatu pelajaran yang sangat penting yang patut disimak oleh setiap pengikut Kristus. Untuk menemukan jawaban bagi misteri dari pengkhianatan yang melingkupi pemberontakan Absalom, kita perlu meninjau kejadian di mana Daud berzina dengan Batsyeba, istri cantik milik Uria orang Het itu hampir tiga puluh tahun sebelumnya.

Alkitab mencatat bahwa ketika Daud seharusnya berada di medan tempur, memimpin tentaranya memerangi musuh,  ia malah berada di istananya di Yerusalem. ”Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem” (2 Samuel 11:1). Kesalahan Daud yang pertama adalah ia tidak berada di tempat yang Allah tentukan baginya, yakni berfungsi sebagai raja yang memimpin bangsanya dalam memerangi musuh. Seraya fakta-fakta menguak tabir misteri Alkitab ini, kita juga mendapati bahwa Batsyeba bukanlah orang asing bagi raja.
Alkitab menerangkan tentang Batsyeba bahwa ia adalah ”Putri Eliam” dan ”istri Uria orang Het” (2 Samuel 11:3). Bagian lain yang penting dari Kitab Samuel memuat daftar dari pahlawan-pahlawan militer terkemuka yang menjaga dan mengiringi Daud dalam sekian banyak peperangan yang dilakukannya terhadap Saul, orang-orang Filistin, dan banyak bangsa lain yang memusuhinya. Daftar dari ke-37 ”pahlawan” gagah perkasa yang mengiringi Daud menunjukkan bahwa ”Uria, orang Het” dan ”Eliam, anak Ahitofel orang Gilo” merupakan bagian dari pasukan khusus yang berperang bagi raja ini (2 Samuel 23:34, 39). Sekarang kita mulai bisa memahami apa yang terjadi dibalik kisah Alkitab yang terkenal ini. Uria, orang Het, suami Batsyeba, dan Eliam, ayah Batsyeba, bukanlah orang-orang asing bagi Daud. Mereka adalah sahabat yang selama bertahun-tahun telah bahu-membahu berperang melawan musuh.

Batsyeba adalah istri Uria, pengawal Daud yang setia, dan anak Eliam, seorang pengawal setia lainnya. Daud melihat Batsyeba ketika ia sedang mandi karena Uria dan istrinya tinggal di rumah yang letaknya dekat dengan istana Daud. (Rumah tersebut kemungkinan besar telah dihadiahkan Daud kepada Uria sebagai tanda penghargaan atas pengabdiannya yang setia selama bertahun-tahun). Kemungkinan besar Batsyeba, Uria, dan ayah Batsyeba yaitu Eliam, telah menghadiri pesta-pesta kerajaan di istana Daud.

Bila ditinjau dari fakta-fakta Alkitab yang telah diabaikan selama berabad-abad ini, kisah dosa Daud dengan Batsyeba akan kelihatan jauh berbeda dari gambaran yang kita miliki selama ini. Ketika Daud berzina dengan Batsyeba, ia mengambil istri Uria, seorang sahabat yang setia, dan putri dari seorang sahabat lainnya. Kemudian ketika perempuan itu mengandung, Daud berusaha untuk membuat Uria mengunjungi istrinya supaya tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana perempuan itu mengandung. Ketika Uria tidak mau mengunjungi istrinya, Daud mengadakan persekongkolan dengan bawahannya, jenderal Yoab, untuk membunuh Uria, guna menutupi pengkhianatan dan perzinaan yang memalukan itu. Beberapa waktu kemudian, Nabi Natan datang kepada Daud dan menyatakan murka Allah atas dosa-dosa perzinaan dan pembunuhan yang telah dilakukannya. Natan memperingatkan bahwa Daud akan mengalami peperangan selama sisa hidupnya sebagai penghukuman bagi dosa-dosanya. Selanjutnya nabi itu menubuatkan bahwa ”engkau telah memberikan peluang yang besar kepada musuh-musuh Tuhan untuk menghina serta menghujat Tuhan, maka anak yang lahir bagimu itu akan mati” (2 Samuel 12:14, FAYH). Di sepanjang sejarah nubuat ini digenapi.

Kisah ini berlanjut. Perhatikan dengan saksama bahwa 2 Samuel 23:34 memberitahukan kepada kita bahwa Eliam, ayah Batsyeba, adalah anak Ahitofel, penasihat Daud. Dengan demikian, Ahitofel, perdana menteri Daud, adalah kakek dari Batsyeba. Setelah Daud berbuat dosa dengan Batsyeba dan membunuh Uria, pasti banyak orang di istana maupun para tentara yang tahu bahwa Daud adalah ayah dari anak yang dilahirkan oleh Batsyeba setelah kematian suaminya. Orang-orang pada zaman itu tahu bahwa lama kehamilan seorang wanita adalah sembilan bulan dan oleh sebab itu Raja Daud pastilah ayah dari anak yang dikandung oleh Batsyeba, janda yang kemudian dinikahinya itu.

Sebagai penasihat istana Daud, Ahitofel pasti sangat marah ketika mengetahui bahwa rajanya telah merenggut kehormatan cucu perempuannya dan membunuh Uria, suami cucunya, yang sama-sama bertugas sebagai tentara dengan putranya, Eliam (ayah Batsyeba). Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk membalas dendam pada saat itu. Jika ia memarahi raja, nyawanya bisa-bisa melayang. Oleh karena itu, ia diam saja, menyembunyikan keinginan-keinginannya untuk membalas dendam selama bertahun-tahun sampai ia melihat adanya suatu kesempatan untuk menghancurkan Raja Daud. Orang-orang Arab mempunyai suatu pepatah yang menyatakan, ”Bahwa seseorang yang berusaha membalas dendam sebelum 40 tahun berlalu, telah bertindak buru-buru.”

Akhirnya setelah puluhan tahun menunggu, Absalom, putra Raja Daud yang suka memberontak, bangkit menentang  ayahnya yang sudah lanjut usia. Ini merupakan kesempatan bagi Ahitofel untuk membalas dendam atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan Daud terhadap keluarganya pada tahun-tahun sebelumnya. Ia menggabungkan diri dengan komplotan Absalom dan menawarkan diri untuk membunuh Daud secara pribadi. Akhirnya, kita dapat mengerti nasihat Ahitofel yang janggal kepada Absalom untuk berhubungan seks dengan gundik-gundik Daud sebagaimana raja telah mempermalukan cucunya. Demikian pula, ketika Daud melarikan diri dari Yerusalem, seorang laki-laki bernama Simei mengutuki raja dan melemparinya dengan batu sambil berkata, ”Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah” (2 Samuel 16:8). Ketika pengawal Daud ingin membunuh orang ini, raja melarang mereka, dan menyatakan bahwa orang itu benar dan bahwa Allah telah menyuruhnya untuk mengutuki raja. Itu berarti, Raja Daud maupun pengikut-pengikutnya tahu benar mengapa Ahitofel turut serta dalam pemberontakan Absalom.

Ayat-ayat ini menyediakan beberapa petunjuk dan bukti yang akhirnya menolong kita untuk membuka tabir misteri pengkhianatan Ahitofel kepada Daud. Yang lebih penting lagi, petunjuk-petunjuk yang terserak dalam bagian-bagian Alkitab PL ini menyediakan suatu bukti yang sangat kuat mengenai kebenaran dan kejujuran laporan Alkitab tentang kehidupan Raja Daud. Tidak ada orang yang menulis sebuah cerita seperti ini dalam bentuk fiksi mau serta merta dapat menyembunyikan petunjuk-petunjuk ini sedemikian rupa sehingga misteri tentang motif pengkhianatan Ahitofel tidak bisa ditemukan selama ribuan tahun. Sekarang Anda tahu jalan cerita selanjutnya!

Daud menyesal akan dosanya dan bertobat. Akhirnya kita mengetahui dalam 2 Samuel 17 bahwa nasihat Ahitofel digagalkan. Lalu berkatalah Absalom dan setiap orang Israel: "Nasihat Husai, orang Arki itu, lebih baik dari pada nasihat Ahitofel." Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN mendatangkan celaka kepada Absalom (2 Samuel 17:14). Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri. Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya (2 Samuel 17:23). 

Kita melihat akhir hidup Ahitofel yang menyedihkan karena Ahitofel merasa malu dan telah gagal dalam usahanya membunuh Raja Daud dan akhirnya memilih jalan yang juga dipilih Yudas Iskariot yang juga berkhianat yaitu bunuh diri karena penyesalan dan rasa malu serta merasa impian dan visinya telah gagal. Absalom dikisahkan mengalami kekalahan dan mati di bunuh oleh Yoab. Sangat disayangkan bukan?!

Jadi Alkitab tidak membeberkan secara terbuka motivasi dari pengkhianatan yang tidak masuk akal ini, seolah-olah alasannya sudah sangat jelas bagi orang-orang yang hidup pada masa itu, sehingga tidak perlu diterangkan lagi.

Akan tetapi, seseorang yang dengan jujur mencatat suatu urutan-urutan kejadian masa kini biasanya sering tidak menuliskan motif dari tindakan-tindakan seseorang karena motif tersebut sangat jelas bagi si penulis maupun bagi orang-orang yang hidup pada waktu kejadian-kejadian tersebut berlangsung.

Adanya bukti-bukti yang saling bersesuaian sebagaimana yang kita temukan dalam analisis ini memberikan bukti yang sangat kuat bahwa dokumentasi Alkitab adalah suatu catatan yang saksama dan dapat dipercaya mengenai kejadian-kejadian yang dipersoalkan.



1 Comment »

30

   Adiiiii

September 18, 2008 @ 11:54 pm

Hii..
pagi ini aku aga penasaran aja… Ahitofel Vs. Husai
n blog ini membantu melihat siapa Ahitofel n kenapa dia berlaku spt itu…

thanks

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.