DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Siapakah ”anak-anak Allah” dalam Kitab Kejadian 6?

Filed under: Religion — dedewijaya at 5:12 am on Monday, May 8, 2006

Kitab Kejadian pasal 6:1-7 berkata:
6:1. Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
6:2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
6:3. Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”
6:4. Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
6:6. maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
6:7 Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Pada waktu itu, hanya ada Set dan Kain dan anak-anak lain dari Adam dan Hawa. Set dan istrinya mempunyai anak bernama Enos. Set bagi Adam dan Hawa seperti pengganti Habel, orang yang Benar itu. Jadi Set pun bagi Adam dan Hawa seperti Habel, Benar di hadapan Allah.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak-anak Allah dalam Kej 6 ini adalah malaikat-malaikat yang telah jatuh dalam dosa dan menjadi pengikut Lusifer/Iblis, yaitu yang ”tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka” (Yud 6). Pendapat ini keliru. Kita tahu bahwa malaikat-malaikat itu adalah makhluk roh yang tanpa kelamin, jadi tidak mungkin mempunyai pengalaman seksual atau bisa kawin, serta tidak mungkin pula mempunyai anak. Ada penafsir yang berpendapat bahwa malaikat-malaikat jahat itu memakai tubuh manusia, sehingga ia sanggup melakukan perkawinan.

Hal ini mustahil dilihat dari sudut psikologi maupun fisiologis. Kita tahu betapa antara badan/tubuh, jiwa dan roh terjalin suatu hubungan yang erat sekali, dan tak dapat dipisahkan. Sebab roh, jiwa dan tubuh dijadikan bersama-sama, dan dipersatukan dalam satu ’KEPRIBADIAN MANUSIA’. Itulah sebabnya mengapa segala rangsangan terhadap tubuh adalah juga pengalaman jiwa. Bila malaikat-malaikat itu hanya mengambil tubuh manusia saja, lalu mendiaminya untuk beberapa waktu lamanya, maka pemakaian demikian tidak dapat menyebabkan mereka turut merasakan apa yang dialami oleh tubuh, karena mereka dengan tubuh manusia itu tidak dapat dipersatukan dalam satu kepribadian.

Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia menjadi Juruselamat manusia, Ia tidak hanya diberi tubuh manusia lalu didiami-Nya untuk beberapa waktu lamanya. Dengan cara demikian Ia tak menjadi manusia yang sepenuhnya, karena bukan penjelmaan yang sesungguhnya. Anak Allah tidak hanya mengambil badan manusia melainkan juga SIFAT-SIFAT manusia. Dan untuk itu Ia harus diperanakkan. Jadi sekiranya anak-anak Allah dalam Kej 6 adalah malaikat-malakait berdosa, maka satu-satunya jalan bagi mereka untuk dapat menjadi manusia dan kawin serta mempunyai anak adalah dengan diperanakkan atau mengalami kelahiran sebagai manusia yang sungguh-sungguh manusia, yaitu dengan jalan inkarnasi dan dengan dilahirkan oleh ibu-ibu manusia tapi tanpa ayah manusia. Ini tentu mustahil!. Hanya Allah yang bisa yaitu Pribadi Yesus Kristus.

Kej 5:6-7 ”Pada waktu Set berumur 105 tahun, ia mendapat anak laki-laki, namanya Enos. Setelah itu Set masih hidup 807 tahun lagi dan mendapat anak-anak lain.”
Kej 4: 25-26 Adam dan istrinya mendapat seorang anak laki-laki lagi. Kata Hawa, “Allah telah memberi aku anak laki-laki sebagai ganti Habel, yang telah dibunuh oleh Kain.” Sebab itu Hawa menamakan anak itu Set. Set mempunyai anak laki-laki yang diberi nama Enos. Pada zaman itulah orang mulai menyebut nama TUHAN bila menyembah.
Jadi mulai zaman Enos, orang mulai menyebut nama TUHAN bila menyembah. Antara kejatuhan dan air bah keadaan moral manusia merosot sekali. Kej 3 menguraikan tentang kejatuhan manusia. Kej 4 tentang Kain dan semua keturunannya. –anak-anak manusia-. Kej 5 tentang Set dan semua keturunannya –anak-anak Allah-, Keturunan Set inilah yang disebut ”anak-anak Allah”. Sedangkan ”anak-anak manusia” adalah keturunan dari Kain dan beberapa anak Adam lainnya.
Dalam pasal 6, kedua garis keturunan itu bertemu dan bercampur, dengan akibat-akibat moral yang menyedihkan.

Pasal 7 tentang hukuman air bah yang dramatis dan mengesankan. Pemisahan kedua garis keturunan itu adalah mutlak; percampurannya merupakan bencana. Lalu Allah turun tangan dengan dahsyat; hukuman tak dapat dielakkan lagi, datnglah banjir besar, menghukum dosa dan menyelamatkan keturunan yang saleh. Inilah ajaran Alkitab pertama yang menyatakan betapa pentingnya orang Percaya memisahkan diri dari dosa dunia dan jangan berkompromi. Allah senantiaasa menghendaki supaya keturunan yang rohani itu ’keluar dan memisahkan diri’.

Jadi yang dimaksud dengan ”anak-anak Allah” bukanlah para malaikat pemberontak yang mengikuti jejak Lusifer/Iblis, namun ”anak-anak Allah” ialah keturunan Set, -pengganti Habel yang mati dibunuh Kain-, anak dari Adam dan Hawa.



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.