DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

MORE ABOUT CHIP

Filed under: News — dedewijaya at 4:22 am on Friday, June 9, 2006

Kini sebuah perkembangan teknologi telah menciptakan tanda spesial yang ditanam di bawah kulit tangan dan dahi yang disebut microchip, kabarnya microchip telah dipatenkan wah… luarbiasa! Dunia mau tidak mau telah masuk dalam era teknologi biochip. Dilihat dari aspek ekonomi, bisnis teknologi memang benar-benar menguntungkan, mempermudah manusia melakukan transaksi yang lebih canggih seperti halnya ATM (Automatic Teller Machine), Credit Card, atau sebagai ID card lainnya. Yang pasti teknologi ini memanjakan, sekaligus memprotek manusia dari segala penipuan teknologi komputer yang selama ini merupakan kejahatan teknologi yang sulit dilacak oleh siapa pun.

Teknologi Mikrochip
“Setiap orang di dunia ini akan diberi tanda dan didata dengan sistem identifikasi universal dalam rangka mencegah imigrasi gelap.” usul ini disampaikan Pascal Smet, perwakilan dari Negara Belgia dalam pertemuan meja bundar para menteri di PBB. Agaknya usul ini sudah disetujui oleh PBB untuk dilaksanakan, mengingat fungsinya yang sangat baik. Selain maksud pendataan, microchip dapat difungsikan sebagai alat pembayaran. Seiring dengan perkembangan zaman-kalau Anda menyadarinya-sarana alat pembayaran menjadi semakin sederhana. Dahulu alat pembayaran berupa uang tunai dalam bentuk uang kertas maupun logam. Buah pengetahuan yang dimakan manusia menyebabkan manusia menemukan cara lain, mengingat dengan membawa uang tunai, sangat riskan terhadap perampok. Ditemukanlah kartu ATM yang serasa membawa uang tunai. Kini, kartu ATM tidak hanya dapat difungsikan sebagai alat pembayaran di supermarket atau toko dengan cara menggesekkan kartu di alat tertentu.

Sifat manusia yang tidak pernah puas, membuat manusia berupaya menemukan teknologi terbaru. Mulai dipikirkanlah cara agar tidak hanya data keuangan saja yang dapat dibawa, tetapi juga data-data lain, seakan-akan dunia ini berada dalam genggaman tangan. Juga dipikirkan bagaimana cara menemukan orang yang hilang.

Setelah menghabiskan biaya penelitian sebesar 1,5 juta dollar Amerika, akhirnya ditemukanlah teknologi terbaru yang dapat mengakomodir banyak kepentingan itu. Microchip ini panjangnya sekitar 7 mm, dengan diameter 0,75 mm. Sekalipun ukurannya sebesar satu butir beras, kemampuannya tak dapat diragukan. Chip ini mampu menyimpan berlembar-lembar informasi, sejarah, riwayat kerja, catatan kejahatan, riwayat kesehatan, dan data keuangan Anda.

Unit pengirim dari Mikrochip ini mengeluarkan sinyal digital dan terdiri dari letupan pada interval tertentu, 85 data bit. Ia juga mengeluarkan sinyal analog. Chip ini digunakan sebagai transponden sinyal-sinyal untuk memberikan informasi vital dan juga berfungsi sebagai penanda lokasi. Chip ini telah diuji dan ditanamkan pada personel militer, kurir pemerintah dan orang-orang perusahaan. Benda ini telah digunakan dalam Perang Teluk.

10 Tips Selamat Dari Gempa

Filed under: News — dedewijaya at 3:26 am on Friday, June 9, 2006

Tipgem_hot1

JAWABAN.com - Bagaimana jika gempa bumi dahsyat terjadi di kota tempat tinggal Anda? Bagaimana cara menyelamatkan diri dan keluarga Anda? Apakah Anda mempunyai cukup pengetahuan mengenai gempa? Dimanakah tempat yang aman?

Jangan kuatir, simak saja tips berikut ini. Sepuluh tips dalam keselamatan gempa bumi oleh Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI) :

1. Hampir semua orang yang hanya “menunduk dan berlindung” pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus Anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk. Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika Anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan Anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika Anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, Anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, Anda tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya. Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka & meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Doug Copp menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas. (joe)

Sumber: milist/Doug Copp

NARNIA

Filed under: Film — dedewijaya at 3:15 am on Friday, June 9, 2006

Sekuel Kedua Narnia Ditunda

JAWABAN.com - Sekuelnarnia1

Tanggal rilis sekuel “The Lion, The Witch, and The Wardrobe” telah ditunda sampai beberapa bulan mendatang. Sementara itu, “Prince Caspian” saat ini dijadwalkan akan dirilis pada musim panas 2008 mendatang, kata jurubicara Disney, yang berada di belakang proyek tersebut. Sutradara Andrew Adamson membutuhkan perpanjangan waktu untuk membuat spesial efek dalam proyek tersebut, tambahnya.

Film pertama dari seri tersebut, diadaptasi dari buku karangan CS Lewis, telah menjadi film hits di box office internasional, yang menduduki posisi teratas selama beberapa minggu.

“Prince Caspian” sebelumnya diharapkan dapat mengikuti film pertamanya dengan rilis Amerika Serikat yang tampil untuk Natal 2007.

“The Lion, The Witch, and The Wardrobe” telah menjadi film live paling sukses Disney sepanjang masa, yang meraup kurang lebih 742 juta dollar di seluruh dunia. Pada awal tahun ini, film tersebut bersaing dalam peringkat dengan “King Kong” di puncak box office. Tilda Swinton, Dawn French dan Ray Winstone juga ditampilkan dalam peran-perannya.(fis)

Sumber: bbc

The Judas We Never Knew

Filed under: News — dedewijaya at 1:58 am on Friday, June 9, 2006

Majalah Christianity Today, Week of April 3

The Judas We Never Knew
Disgraced disciple actually conspired with Jesus, according to newly released Gospel of Judas. Should we believe it?

by Collin Hansen | posted 04/06/2006 04:30 p.m.

Yudas yang Jarang Kita Tahu
Murid yang dipermalukan ini sebenarnya berkomplot dengan Yesus, menurut Injil Yudas yang dipublikasikan baru-baru ini. Perlukah kita percaya itu?

The Gospel of Judas debuted Thursday in Washington, D.C. What’s the Gospel of Judas, you ask? Well, it’s not a gospel. And it’s not written by Judas. But it’s still important, if not the most important nonbiblical text discovered during the last 60 years, as a National Geographic Society executive told The New York Times.

Injil Yudas dipublikasikan Kamis di Washington, D.C. Apa itu Injil Yudas, tanyamu? Baiklah, Ini bukan sebuah Injil. Dan ini tidak ditulis oleh Yudas. Namun ini masih penting, jika bukan nonbiblical teks yang paling utama ditemukan sepanjang 60 tahun terakhir , sebagai dilansir National Geographic Society kepada Koran New York Times
The text, a copy of the document written during the second century, reveals some big news. Turns out Judas wasn’t the renegade disciple who betrayed Jesus and committed suicide after remorse overwhelmed him. No, this Judas was just doing what Jesus told him to do. Jesus explained to Judas that he would “exceed all of [the disciples]” by getting Jesus crucified.

Teks ini, suatu kopi dari dokumen tertulis sepanjang abad kedua, mengungkapkan beberapa berita besar. Putaran ke luar Judas bukan murid pengkhianat yang mengkhianati Yesus dan melakukan bunuh diri setelah penyesalan meliputi dia. Tidak, Yudas ini hanya melakukan apa yang Yesus katakan padanya untuk diperbuat. Yesus menjelasakan pada Judas bahwa ia akan ” melebihi semua murid” dengan cara Yesus disalibkan.

Well, that sure would change things. If it were true. This “news” isn’t what makes the Gospel of Judas significant. Rather, thanks to this text, we can further confirm what we already know about Gnostics—those pesky heretics condemned by early-church leaders like Irenaeus. Don’t get confused by mentions of Jesus and Judas. This is no Christian text. The Gospel of Judas did not circulate until about 150 years after Jesus died. Let’s put it this way: This new text tells us nothing more about Jesus’ relationship with Judas than does Jesus Christ Superstar.

Hal ini pasti akan mengubah berbagai hal, jika benar. “Berita” ini tidak membuat Injil Yudas penting. Melainkan, karena teks ini, kita dapat lebih lanjut mengkonfirmasikan apa yang kita telah pahami tentang bidat Gnostik-Yang disalahkan oleh para pemimpin Gereja mula-mula seperti Irenaeus. Jangan dikacaukan oleh sebutan Yesus dan Yudas. Ini bukan teks Kristen. Injil Yudas tidak beredar sampai sekitar 150 tahun setelah Yesus meninggal. Teks baru ini tidak menceritakan pada kita hal-hal lebih jauh tentang hubungan Yesus dengan Yudas dibanding dengan film Jesus Christ Superstar

Until the release of the Gospel of Judas and other Gnostic texts discovered decades ago near Nag Hammadi in Egypt, we learned about Gnosticism mostly through the polemics of Christian apologists. Now thanks to the Gospel of Judas, we can further verify two major Gnostic teachings. According to many Gnostic teachers, Jesus either did not actually appear in the flesh, or he at least wanted to shed his skin as soon as possible. Jesus longed to return to the spirit world. Judas helped make that happen. (”You will sacrifice the man that clothes me,” the “spiritual” Jesus tells Judas in this document.) Also, Gnostics believed only a select few would truly apprehend the knowledge of heaven. The Gospel of Judas teaches that only Judas, Jesus’ favorite disciple, fully understood.

Sampai dipublikasikannya Injil Judas dan teks lain Gnostik yang ditemukan beberapa dekade lalu dekat Nag Hammadi di Mesir, kita mempelajari sekitar Gnosticism kebanyakan melalui polemik dari Para Apologis Kristen . Sekarang karena Injil Judas, kita dapat lebih lanjut memverifikasi dua Pengajaran Gnostik (artinya “pengetahuan”) yang utama. Menurut banyak Pengajar Gnostik Yesus tidak benar-benar menyatakan diri dalam daging, atau ia sedikitnya ingin menanggalkankan tubuhNya secepat mungkin. Yesus rindu kembali ke dunia roh/mistik. Yudas membantu membuat itu terjadi. (” Kamu akan mengorbankan orang yang berpakaian aku,” Yesus “yang rohani” menceritakan pada Judas dalam teks ini.) Juga, Kaum Gnostik percaya Hanya sedikit orang terpilih yang akan sungguh-sungguh mengerti pengetahuan dari surga. Injil Judas mengajarkan bahwa hanya Judas, murid favorit Yesus, secara penuh memahami ini.

Christian belief contrasts sharply with Gnosticism. Fully God and fully man, Jesus endured birth in a manger and death on a Cross. He shared in our humanity, “so that by his death he might destroy him who holds the power of death” (Heb. 2:14). This message is not restricted to a few who will ascertain gnosis (knowledge). The gospel “is the power of God for the salvation of everyone who believes: first for the Jew, then for the Gentile” (Rom. 1:16).

Kepercayaan Kristen berlawanan tajam dengan Gnosticism. Yesus yang sepenuhnya Allah dan manusia, mengawali kelahiranNya di palungan dan mati di atas Salib. Ia berbagi dalam kemanusiaan kita, “supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;” (Ibrani 2:14). Pesan ini tidaklah terbatas pada beberapa orang yang akan mendapatkan gnosis (pengetahuan) saja. Injil ” adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. (Rm 1:16).

Nevertheless, some claim the Gospel of Judas and other Gnostic texts throw orthodox Christianity into doubt. “As the findings have trickled down to churches and universities,” New York Times reporters John Noble Wilford and Laurie Goodstein wrote, “they have produced a new generation of Christians who now regard the Bible not as the literal word of God, but as a product of historical and political forces that determined which texts should be included in the canon, and which edited out. For that reason, the discoveries have proved deeply troubling for many believers.”

Meskipun demikian, beberapa klaim Injil Judas dan Teks Gnostik lain melemparkan Kekristenan kaum ortodox ke dalam keraguan. ” Sebagai penemuan sudah menyebar luas hingga ke gereja dan universitas,” Wartawan New York Times, John Noble Wilford dan Laurie Goodstein menulis, ” mereka sudah memproduksi suatu generasi baru orang-orang Kristen yang sekarang peduli Alkitab bukan sebagai Firman harafiah dari Tuhan, tetapi sebagai produk paksaan politis dan historis yang menentukan teks yang mana harus dimasukkan dalam Kanon, dan mana yang perlu dikeluarkan dari Kanon. Karena alasan itu, penemuan itu sudah terbukti, sangat mengganggu bagi banyak orang Percaya.”

Who are those troubled believers? We’re not sure, because Wilford and Goodstein apparently didn’t talk to any of them. Karen King and Elaine Pagels revive their Gnosticism act. We also meet James Robinson, a jilted scholar who wrote a book on the Gospel of Judas without having access to the text. The Times doesn’t mention that Robinson believes the Gospel of Judas tells us nothing about the historical Jesus or Judas.

Siapa Orang Percaya yang terganggu? Kita tak yakin, sebab Wilford dan Goodstein kelihatannya tidak berbicara dengan satupun dari mereka. Karen King dan Elaine Pagels menghidupkan kembali Hukum/aturan Gnosticism. Kita juga bertemu James Robinson, seorang sarjana yang menulis suatu buku tentang Injil Yudas tanpa mempunyai akses pada teks itu. Koran Times tidak menyebutkan bahwa Robinson percaya Injil Yudas tidak menceritakan sesuatupun pada kita tentang sejarah Yesus atau Yudas
I talked with Darrell Bock of Dallas Theological Seminary hours before he was scheduled to lecture at Princeton, Pagels’s employer. He explained some peculiarities about the group that gave us the Gospel of Judas. Turns out these “Cainite Gnostics” earned their moniker rehabilitating disgraced biblical figures, including Cain, the Sodomites, and Judas.

Aku berbicara dengan Darrell Bock dari Dallas Theological Seminary beberapa jam mengenai agama sebelum ia dijadwalkan untuk memberi kuliah di Princeton, karyawan Pagels. Ia menerangkan beberapa keanehan tentang penggolongan yang memberikan kita Injil Yudas. Berdasarkan “Cainite Gnostics” yang didapat, mereka merehabilitasi figur/tokoh Alkitab yang memalukan, mencakup Kain, kaum Sodom, dan Yudas.

Bock also pointed out that Scripture does include some contrasting perspectives on Judas. Mark portrays Judas as a bumbler, just like the other disciples who misunderstood Jesus’ teaching. Writing later, John explains Judas differently. Judas exploits his position as treasurer to steal from the till, and Jesus calls him a “devil” (John 6:70).
According to Bock, the balance of Scripture indicates Judas expected a different type of Messiah. Disappointed, he turned in Jesus, whom he considered a threat to the Jewish nation. “Judas is a reflection of anyone who ends up rejecting Jesus,” Bock said. “It’s a tragic story—not something to shake your finger at, but something to be sad about.”

Bock juga menunjukkan bahwa Kitab Suci/Alkitab memasukkan beberapa perspektif yang kontras tentang Judas. Markus melukiskan Yudas sebagai bumbler, seperti halnya para murid lain yang salah mengerti pengajaran Yesus. Penulisan kemudian, Yohanes menjelaskan Yudas dengan cara yang berbeda. Yudas memanfaatkan posisinya sebagai bendahara untuk mencuri, dan Yesus menyebut dia “setan” (Yohanes 6:70). Menurut Bock, keseimbangan Kitab Injil menandai bahwa Yudas mengharapkan jenis Mesias yang berbeda. Dikecewakan, ia berpaling ke Yesus, yang ia pertimbangkan akan jadi ancaman bagi Bangsa Yahudi. “Yudas adalah suatu cerminan seorang yang berakhir dengan menolak Yesus,” kata Bock. ” Ini kisah tragis, bukan sesuatu yang menunjuk kepadamu , tetapi tentang suatu kisah sedih.”

Much more tragic and sad than rehashing an old debate about the legitimacy of orthodoxy.
Collin Hansen is an associate editor of Christianity Today.

Jauh lebih tragis dan sedih dibanding pembicaraan kembali sebuah debat lama tentang hak kekuasaan/legitimasi dari Ortodoksi.
Collin Hansen adalah seorang editor Christianity Today.
—————————————————————————————–