Apakah Perjanjian Allah dengan Nuh menjadi gagal karena Banjir Tsunami?
Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” (Kejadian 9:8-11)
Kita mengetahui bahwa dalam sejarah pernah terjadi air bah atau Banjir Besar pada masa silam. Beberapa tahun lalu, tepatnya pada akhir Desember 2004 tanggal 26 pukul 8 hingga 9 pagi terjadi gempa bumi disertai badai besar Tsunami yang menyebabkan terjadinya Banjir Besar atau banjir Bandang yang memporak-porandakan provinsi Aceh di Indonesia dan beberapa daerah di negara lain di Asia Selatan seperti India, Pakistan, dan lainnya. Juga di Asia Tenggara seperti Thailand. Apa relevansinya dengan kisah Banjir Besar pada zaman Nuh? Ada kaitannyakah?
Banyak orang Kristen berkata bahwa dengan terjadinya Banjir Tsunami, Allah kembali menghukum umat manusia yang berdosa namun beberapa dari mereka yang berkata demikian merasa jika begitu Allah mengingkari sumpah-Nya kepada Nuh dan keturunannya untuk tidak mendatangkan Banjir Besar lagi dalam sejarah umat manusia. Bagaimana kita orang Kristen berusaha memahami dan menjelaskan hal ini? Apa benar Allah melanggar janji-Nya? Bukankah Dia Allah yang Setia akan Janji-janji-Nya? Jika demikian Kejadian 9:11 tidak berlaku lagi pada zaman ini?
Mari kita simak dan ikuti kisah air bah atau banjir besar pada zaman Nuh. Dalam sejarah bangsa-bangsa dan catatan-catatan kuno yang masih ditemukan, tak dapat disangsikan lagi bahwa suatu banjir besar memang pernah benar-benar terjadi di bumi ini. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah banjir besar itu meliputi atau menenggelamkan atau menutupi seluruh muka bumi ini? Jika ya, Allah pasti melanggar sumpah dan janji-Nya yang telah Dia meteraikan dengan tanda ’busur awan’ atau kita kenal dengan tanda ’pelangi’. Namun apakah benar demikian?
Ada 3 fakta penting yang perlu menjadi perhatian kita dalam menyikapi hal ini, yaitu:
1. Alkitab tidak mengatakan dengan pasti bahwa air bah itu meliputi atau menutupi seluruh muka bumi. Kata ”bumi” yang berulang kali dipakai dalam Alkitab tidak selalu berarti ”seluruh bumi”, karena kata ”eretz” yang diterjemahkan ”bumi” seringkali hanya berarti daerah atau negara saja.
”Banjir itu terus melanda selama 40 hari, dan air menjadi cukup tinggi sehingga kapal itu dapat mengapung. Air semakin tinggi, dan kapal itu terapung-apung pada permukaan air. Air itu terus bertambah tinggi, sehingga tergenanglah gunung-gunung yang paling tinggi. Air terus naik sampai mencapai ketinggian 7 meter di atas puncak-puncak gunung. TUHAN membinasakan segala makhluk yang hidup di bumi ini: Manusia, burung dan binatang darat baik kecil maupun besar. Yang tidak binasa hanyalah Nuh dan semua yang ada bersama-sama dengan dia di dalam kapal itu. Air itu tidak kunjung surut selama 150 hari.” (Kej 7:17-24, Alkitab LAI BIS).
2. Janganlah air bah pada zaman Nuh disamakan dengan banjir-banjir pada zaman Prasejarah, yang kisahnya sampai kepada kita melalui geologi. Endapan yang meliputi seluruh muka bumi menunjukkan adanya banjir-banjir besar; tapi endapan itu bukanlah bekas air bah pada zaman Nuh yang masa berlangsungnya hanya pendek saja, sekalipun andaikata air bah pada zaman Nuh meliputi seluruh muka bumi. Yang diutarakan geologi adalah mengenai banjir-banjir pada zaman Kej 1:2. dan banjir-banjir ini juga yang dimaksud dalam 2 Ptr 3:6.
3. Ketika segenap keturunan Adam dibinasakan oleh air bah, maka ada satu orang dengan keluarganya ’mendapat kasih karunia di mata Tuhan… Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela diantara orang-orang sezamannya; dan Nuh hidup bergaul dengan Allah’ (Kej 6:8-9). Nuh diselamatkan bersama keluarganya; ingatlah bahwa ia adalah tokoh yang penting. Nuh adalah orang ke-10 dalam silsilah Mesianik, yang akan melahirkan Juruselamat Dunia yaitu Yesus Kristus; bila telah genap waktunya (Gal 4:4).
Jadi jelas bahwa Allah tidak membinasakan seluruh muka bumi lagi dengan air bah. Air Bah yang merupakan Banjir Besar pada masa Nuh hidup, telah membinasakan umat manusia di seluruh tempat dimana manusia hidup pada masa itu, sehingga disebut Banjir Global. Banjir Tsunami bukan banjir global seluruh bumi, namun hanya Banjir Lokal atau Regional sebagai peringatan Allah bagi manusia untuk berbalik dari jalan-jalannya yang jahat dan takut akan Dia.