Kota Pelajar Menjelang Pudar
Universitas di Jogja sepi peminat
Harumnya Kota Jogja sebagai Kota Pelajar mulai luruh. Pamornya yang lekat dengan deretan sekolah berkualitas, biaya hidup murah, serta kenyamanan dan keamanan terjamin, kini telah bergeser.
Hampir semua kota di Indonesia punya julukan masing-masing. Bogor Kota Hujan, Surabaya Kota Pahlawan, dan Jogja Kota Pelajar. Namun, identitas Jogja sebagai Kota Pelajar pelan-pelan mulai luruh. Boleh jadi kelak namanya menjadi: Jogja d/h Kota Pelajar.
Tanda-tanda surutnya pamor Jogja alias Yogyakarta sebagai Kota Pelajar sudah menggejala sejak empat tahun silam, seiring menguatnya otonomi daerah. Pelajar lulusan sekolah menengah yang mendaftar ke pendidikan tinggi di kota ini pun menurun parah. "Turunnya mencapai 17% hingga 18%," ujar Baskoro Aji, Kepala Bidang Bina Program Dinas Pendidikan Provinsi DIY.
Banyak daerah mampu membangun perguruan tinggi sendiri dan menahan putra daerahnya hijrah ke Jogja. "Mereka tak ke Jogja pun tak apa-apa, karena fasilitas kuliah di kota mereka sudah tersedia," ujar Jacobus Sunaryo, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Jogja.
Belum cukup, anggapan bahwa Jogja adalah kota dengan biaya hidup murah, pelan-pelan, mulai luntur. Kasus-kasus narkoba dan kumpul kebo pun menjadi pertimbangan serius para orang tua melepaskan anaknya kuliah di kotanya Sultan Hamengkubuwono X ini.
Hal tersebut ditambah parah dengan melemahnya ekonomi masyarakat dan menumpuknya sarjana pengangguran. Itu sebabnya, tren pendidikan bergeser pada diploma tiga. "Tidak harus S-1 untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, lulusan D-3 pun mampu!" tandas Khoirudin Bashori, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Pada kenyataannya, penurunan peminat kampus Jogja bukan hanya melanda universitas, melainkan juga akademi, lembaga pendidikan kejuruan (LPK), dan politeknik. Seorang sumber KONTAN bilang, penurunan jumlah mahasiswa di Jogja mencapai 20% ketimbang tahun lalu. Kalau ditelusuri lebih jauh, tampak bahwa beberapa fakultas seperti teknik, sejarah, pertanian, dan biologi mengalami kejenuhan. Sejak tahun lalu, tercatat 12 fakultas dari seluruh universitas di Jogja tutup karena sepi peminat. "Ekonomi manajemen atau akuntansi trennya juga menurun," kata Khoirudin.
Membagi sepiring kecil kue
Hitung-hitungan bisnis pendidikan tak bisa dilepaskan dari pasar. Di Jogja ada sekitar 136 perguruan tinggi yang siap menampung 30.000 mahasiswa baru setiap tahun. Angka ini bisa membengkak atau menciut, seiring kapasitas universitas. "Pasar untuk bisnis pendidikan ini besar. Jogja potensial untuk itu," tegas Baskoro.
Wajar. Bisnis pendidikan ini bak bakpia legit yang harus dibagi untuk banyak orang. Sebut saja, universitas besar yang sudah eksis berdiri, universitas yang baru muncul, akademi, politeknik, sekolah tinggi, hingga lembaga kursus. "Kampus kecil harusnya diberi kesempatan untuk berkembang," tegas Baskoro.
LPK Alfabank adalah contoh salah satu lembaga pendidikan yang tetap bertahan meski jumlah pendaftar tergerus setiap tahun. Selain mengajarkan administrasi perbankan, lembaga ini memberi kursus setahun untuk desain grafis, internet, dan program Excel. "Tahun ini hanya menerima 50 mahasiswa saja, berkurang dibanding dengan tahun lalu. Soalnya, saingannya banyak!" ujar sumber KONTAN yang namanya enggan muncul di koran ini.
Jangankan LPK Alfabank, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang merupakan salah satu universitas besar di Jogja pun kecolongan mahasiswanya sekitar 5% hingga 10%. Meski masih dalam angka yang wajar, Khoirudin waspada. Jika ini dibiarkan berlarut-larut, angka kekurangan mahasiswa di kampusnya juga akan membengkak.
Toh, promosi perguruan tinggi swasta tak sekencang dulu. Maklum, UGM sudah mengubah statusnya menjadi PT BHMN alias perguruan tinggi badan hukum milik negara. Alhasil, universitas negeri ini juga mengandalkan uang kuliah dari mahasiswanya. Nah, di titik inilah perguruan tinggi negeri dan swasta impas. Keduanya sama-sama berstatus mahal. "Perguruan tinggi swasta harus bersaing dengan UGM yang giat memperbanyak program studi!" kata Jacobus.
Sebenarnya, kalau dari hitungan omzet, perguruan tinggi tak bisa dibilang bangkrut. Baskoro mengatakan tahun ini pendaftar beberapa jurusan justru melonjak 5% hingga 7% ketimbang tahun lalu. "Peminat program ekstensi meningkat, dan diminati oleh pekerja, pegawai negeri, dan lulusan sekolah menengah," terang Jacobus. Dalam dua atau tiga tahun ke depan, Jogja meraup sebanyak mungkin mahasiswa yang berminat menggeluti bidang keilmuan tertentu. "Misalnya, bidang pariwisata, perhotelan, kesehatan, banyak peminatnya," sambung Khoirudin.
Hitungan ini sejalan dengan program Dinas Pendidikan Provinsi DIY yang ingin mengembalikan citra Jogja sebagai Kota Pelajar. Malah, menurut perkiraan Baskoro, Jogja cukup potensial untuk mengundang mahasiswa untuk melanjutkan studi pascasarjana, atau S-2. "Semoga tahun 2020 Jogja kembali berkibar seperti dulu," kata Baskoro penuh harap.
Nasib ratusan perguruan tinggi swasta maupun negeri di Jogja ini memang tak bisa digantungkan pada siapa pun. Lepas dari urusan pamor Jogja sebagai Kota Pelajar, persaingan setiap perguruan tinggi akan menjadi lebih kompetitif. Artinya, yang betul-betul bermutu saja yang bisa bertahan, yang tidak bermutu gulung tikar. "Lima tahun lagi akan banyak perguruan tinggi yang akan gulung tikar. Mungkin hanya akan tinggal 60%-nya saja," ramal Jacobus.
Ditinggal Anak Kos
Beberapa pengusaha kos-kosan di Jogja gigit jari. Seiring menurunnya lulusan sekolah menengah yang menuntut ilmu di Jogja, kos-kosan ikut menuai sepi. Soewardijo, misalnya. Pengusaha kos-kosan di kawasan Demangan, Jogja, ini tak urung menggeser pasar buat kos-kosannya. Dulu, 18 kamar miliknya dihuni oleh mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Jogja, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Islam Indonesia yang kebetulan berada di satu wilayah yang tak berjauhan. "Karena sekarang kampusnya menyebar dan pindah ke lain lokasi, mahasiswa yang kos juga berkurang," tutur Soewardijo.
Di saat yang bersamaan, beberapa pekerja wanita yang bekerja di pusat perbelanjaan di kawasan Demangan membutuhkan kamar sewa. Jadi, kamar yang patokan tarifnya Rp 125.000 per bulan ini pun diisi oleh mereka.
Kondisi serupa juga terjadi pada kos-kosan milik Prayitno. Keluar masuknya anak-anak kos di rumahnya lantaran orang tua mulai membeli properti untuk anak-anaknya yang menguras ilmu di Jogja. "Anak pertama masih kos. Begitu datang anak kedua, mulai kontrak rumah. Setelah datang anak ketiga, beli rumah!" cetus Prayitno.
Jadi, 16 kamarnya pun menjadi berkurang penghuninya dari hari ke hari. Biasanya, kamar yang kosong baru terisi kembali setelah tiga bulan. Tapi, Prayitno emoh memasang iklan untuk kamar kosongnya. Ia memilih promosi lisan untuk mengundang mahasiswa baru.
Lagi pula, mengongkosi kos itu tak lagi semurah dulu. Setidaknya, 16 kamar milik Prayitno harus dibiayai sekitar Rp 800.000 per bulan untuk menggaji pembantu, ongkos listrik, dan air. "Makanya, bisnis kos di Jogja itu bukan lagi untuk kaya, tapi kaya saudara!" tandasnya, sambil tergelak.
Femi Adi Soempeno, Aprillia Ika TABLOID KONTAN