Bagi para usahawan, beda lagi dech. Mereka mengartikan dirinya telah sukses jika berhasil mendapatkan keuntungan / laba, usaha mengalami peningkatan, permintaan pasar naik, mempunyai properti pribadi bisa rumah, tanah, deposito, anak perusahaan, saham dan lain-lain.
Nah lalu, apa arti sukses bagi seorang pendeta atau hamba Tuhan? Mau tahu? Bagi sebagian Pendeta yang hidup dan melayani di kota-kota metropolis di zaman ini, sukses itu diartikan dengan memiliki gedung gereja yang aduhai besar dan mewahnya dengan jumlah jemaat ribuan hingga laksa, punya gereja cabang di mana-mana baik dalam maupun luar negeri. Punya jemaat yang setia memberi perpuluhan dan berbagai macam persembahan lainnya. Jika mau ditambah tentu masih banyak lagi, misal punya yayasan, sekolah, radio dan televisi, punya sekolah tinggi teologi (STT), panti asuhan, perusahaan, dan sebagainya. Tentu tidaklah salah jika hal-hal ini menjadi bagian dari kriteria sukses seorang pendeta / hamba Tuhan. Namun apakah hanya ini?
Bagi para orang tua, sukses dalam keluarga diartikan dengan memiliki anak-anak dengan pendidikan tinggi, ekonomi mapan, dan keluarga yang rukun.
Ya, arti sukses begitu beraneka ragam ditinjau dari berbagai jenis orang dan profesi yang ada. Namun, apakah ada kriteria sukses yang mencakup semua jenis profesi dan jabatan dalam kehidupan ini? Dan apa pula pandangan Alkitab tentang Makna Sukses sesungguhnya dihadapan Allah? Marilah kita melihat beberapa ayat Alkitab tentang Harta. Mengapa tentang harta? Karena dunia melihat kacamata SUKSES dari berapa banyaknya harta benda yang dipunyai seseorang.
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (Matius 6:19-21)
Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:21-22, baca juga Markus 10:21-22, Luk 18:22)
Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Lukas 12:15,21,33-34)
I Timotius 6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.
II Timotius 1:14 Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Ibrani 10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.
Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. (Yakobus 5:3).
I Yohanes 3:17 berkata: Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
Tentulah, ayat-ayat ini sangat dihindari untuk dikhotbahkan di kalangan para pendeta yang menganut Teologi Sukses. Jim Baker, salah satu pencetus Teologi Sukses, dalam hidupnya, akhirnya menyadari dan menarik kembali ajarannya tentang Teologi Sukses.
Salahkah jika kita mengartikan sukses dengan melihat berapa banyak harta benda yang kita miliki? Tentu tidak bukan? Masalahnya adalah dalam Alkitab jelas mengatakan janganlah HATI kita terikat pada HARTA (dengan lain kata HIDUP yang berPUSAT pada HARTA BENDA DUNIAWI). Yesus tegas memerintahkan para murid dan semua pendengarnya, bahwa kita mesti mengumpulkan harta di Surga, yang bernilai kekal.
Musa adalah contoh orang yang berani meninggalkan segala kemewahan Mesir yang sudah berada dalam tangannya. Ibrani 11:26 berkata, Ia (Musa) menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Paulus menganggap memberitakan Injil Kristus sebagai hal yang terutama dalam segala usaha kehidupan yang dia lakukan. Kita tahu Paulus pun bekerja untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan perjalanan misinya dengan bekerja sebagai tukang pembuat tenda (TENTMAKER).