Mendidik calon pemimpin
Dalam catatan sejarah Israel kita bertemu dengan seorang raja muda
yang bebal. Bukan bodoh dalam arti intelektual, melainkan bodoh
karena ia memilih mendengar nasihat yang keliru. Rehabeam, putra Salomo, memilih mendengar bujukan anak muda sebayanya untuk ikut-ikutan gaya hidup nikmat yang serba instan. Ia menolak
nasihat para tua-tua yang memiliki pengalaman hidup yang memadai untuk menjalankan roda pemerintahan yang berkenan pada Allah dan dihormati rakyatnya (ayat 1Raj. 12:1-14; band. Ams. 29:12). Akibatnya, pemberontakan dan perpecahan.
Berkaca dari peristiwa sejarah di atas, kita diingatkan oleh Amsal
bahwa sikap keras kepala dan bebal yang menolak pengajaran yang
benar, akan merugikan diri sendiri (ayat 1). Berkanjang terus
dalam kejahatan akan menjerat dan membinasakan diri sendiri (ayat 5,6) Demikian pula, sikap bebal seperti itu merugikan orang lain
(ayat 2, 4, 8). Sebaliknya, orang yang bijaksana mau mendengarkan
ajaran dan nasihat. Orang seperti itu akan menjadi pemimpin yang
membawa kesejahteraan untuk rakyatnya. Ia pasti disenangi oleh
rakyatnya, dalam versi demokrasi masa kini, dia pasti dipilih
kembali oleh rakyat untuk memimpin. Tetapi juga Tuhan akan
berkenan dengan kepemimpinannya (ayat 14).
Itu sebabnya, kita perlu mendidik anak-anak muda bukan hanya dengan nasihat, tetapi kalau perlu dengan disiplin dan teguran keras.
Memang apa yang diupayakan gereja pada masa kini, menanamkan
pendidikan moral kristiani kepada generasi muda mendapatkan
tantangan tersendiri dari moralitas dunia yang permisif. Kita
akan dikatakan tidak demokratis, mengebiri hak azasi kaum muda,
dan ketinggalan zaman. Namun, masa depan bangsa dan negara kita adalah tanggung jawab kita sebagai warga negara yang baik. Sumber nasihat kita harus pada firman Tuhan dan bersandarkan kuasa
Kristus yang bisa mengubahkan hati yang keras dan bebal. Dan
jangan lupa kita harus menjadi teladan buat anak-anak muda kita!
1. Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran,
akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.
2. Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi
jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat.
3. Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi
siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta.
4. Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi
orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya.
5. Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan
kakinya.
6. Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang
benar akan bersorak dan bersukacita.
7. Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik
tidak mengertinya.
8. Pencemooh mengacaukan kota, tetapi orang bijak meredakan
amarah.
9. Jika orang bijak beperkara dengan orang bodoh, orang bodoh
ini mengamuk dan tertawa, sehingga tak ada ketenangan.
10. Orang yang haus akan darah membenci orang saleh, tetapi
orang yang jujur mencari keselamatannya.
11. Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang
bijak akhirnya meredakannya.
12. Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya
menjadi fasik.
13. Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata
kedua orang itu bersinar.
14. Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya
tetap kokoh untuk selama-lamanya.
15. Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang
dibiarkan mempermalukan ibunya.
—————————————————————————-
15. Si lintah mempunyai dua anak perempuan: "Untukku!" dan
"Untukku!" Ada tiga hal yang tak akan kenyang, ada empat hal yang
tak pernah berkata: "Cukup!"
16 Dunia orang mati, dan rahim yang mandul, dan bumi yang tidak
pernah puas dengan air, dan api yang tidak pernah berkata:
"Cukup!"
17 Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu
akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali.
18. Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal
yang tidak kumengerti:
19 jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan
kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan
seorang gadis.
20 Inilah jalan perempuan yang berzinah: ia makan, lalu menyeka
mulutnya, dan berkata: Aku tidak berbuat jahat.
21 Karena tiga hal bumi gemetar, bahkan, karena empat hal ia
tidak dapat tahan:
22 karena seorang hamba, kalau ia menjadi raja, karena seorang
bebal, kalau ia kekenyangan makan,
23 karena seorang wanita yang tidak disukai orang, kalau ia
mendapat suami, dan karena seorang hamba perempuan, kalau ia
mendesak kedudukan nyonyanya.
24. Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat
cekatan:
25 semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan
makanannya di musim panas,
26 pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di
bukit batu,
27 belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris
dengan teratur,
28 cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga
ada di istana-istana raja.
29. Ada tiga binatang yang gagah langkahnya, bahkan, empat hal
yang gagah jalannya, yakni:
30 singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur
terhadap apapun.
31 Ayam jantan yang angkuh, atau kambing jantan, dan seorang
raja yang berjalan di depan rakyatnya.
32 Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir,
tekapkanlah tangan pada mulut!
33 Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau
hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan,
pertengkaran timbul.
from: http://www.sabda.org/