MENJADI PEMIMPIN SEJATI
Menjadi
seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, banyak orang muda yang mengalami
kesulitan ketika diberi tanggung jawab untuk mengorganisasikan suatu sistem.
Akan tetapi banyak pula yang menganggap memimpin adalah hal yang mudah, tak
ubahnya seperti layaknya seorang bos yang menerapkan otoritas pada bawahan,
cukup dengan memberi job description
yang harus dikerjakan, membuat bawahan agar mematuhi aturan/kebijakan yang
berlaku dalam company tersebut, dan
membuat bawahan tidak bersuara (tidak melakukan aksi protes/menyuarakan
hak-haknya yang dapat merugikan bos dan company).
Banyak tokoh Alkitab yang
bisa kita teladani kepemimpinannya diantaranya: Musa, Yosua, Yesus Kristus,
Paulus, dan para hakim, para Nabi, Raja Daud, dan lain-lain. Memimpin adalah salah satu Karunia Roh. I Korintus 12:28 Dan Allah telah menetapkan beberapa
orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai
pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk
menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata
dalam bahasa roh.
Para profesional
muda mengganggap bahwa tingkat pendidikan, jabatan/posisi yang mereka duduki
saat ini sudah menunjukkan bagaimana hebatnya kepemimpinan yang mereka
terapkan. Banyak orang salah
kaprah mengatakan bahwa manajer adalah seorang pemimpin. Manajer benar adalah
seorang pimpinan akan tetapi belum tentu manajer adalah seorang pemimpin.
Banyak manajer yang ditakuti oleh bawahan dan banyak juga manajer yang bertangan besi dalam memimpin
sehingga acapkali kita mendengar label
dari bawahan untuk bosnya seperti : bos macan, bos harimau, bos bertangan besi,
bos berkicau, bos berwajah hantu, dan lain sebagainya. Mungkin anda memiliki labeling lain buat pimpinan anda di perusahaan.
Mengapa banyak labeling-labeling yang muncul yang kadangkala menjadi bahan
lelucon/humor segar dikalangan bawahan?? Atau mungkin malahan si “ bos “ merasa
bangga dengan labeling yang dia
peroleh, yang membuat dia merasa ditakuti oleh bawahan dan menjadi orang yang
hebat yang dapat membuat orang lain tak berani berkutik dihadapannya.
Menjadi
seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, untuk memimpin sekelompok orang saja yang
terdiri dari grup kecil 3-4 orang, tidak semua orang dapat melakukannya.
Menyatukan berbagai perbedaan sudut pandang, pola pikir, dan karakter
masing-masing orang bukanlah hal yang mudah seperti melipat tangan atau
menendang sebuah bola. Banyak benturan yang akan terjadi selama proses
penyatuan berbagai perbedaan tersebut, disinilah dibutuhkan seorang pemimpin.
Dapat kita bayangkan betapa sulitnya memimpin grup kecil apalagi dalam lingkup
yang lebih luas seperti company atau
bahkan sebuah negara.
Abad 21 ini diwarnai dengan
banyaknya sistem dan kompleksitas dalam setiap bidang kehidupan, birokrasi yang
panjang dan bertele-tele juga menjadi semakin kompleks. Efisiensi dan
efektivitas sudah jarang kita temui dalam aspek kehidupan kita. Di abad ini
kita semua membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menciptakan tidak hanya kuantitas
tetapi juga kualitas yang dapat memberikan nilai tambah yang lebih dalam aspek
kehidupan umat manusia. Hal ini menjadikan wacana yang tak pernah habis untuk
dibicarakan. Sosok pemimpin bagaimana yang menjadi idaman dan bagaimana kriteria
pemimpin yang ideal.
Kriteria Seorang Pemimpin
Pimpinan yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi beberapa
kriteria, yaitu memiliki :
- Pengaruh
Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang mendukungnya
yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini menjadikan sang
pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang
pemimpin. John C Maxwell, penulis buku-buku kepemimpinan pernah berkata: Leadership
is Influence (Kepemimpinan adalah soal PENGARUH). Mother Teresa dan Lady Diana adalah contoh Kriteria
seorang Pemipin yang punya Pengaruh.
- Kekuasaan/power
Seorang pemimpin umumnya diikuti
oleh orang lain karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan
yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi
pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan
orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu
mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang
bersifat simbiosis mutualisme,
dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.
Percaya atau tidak, hubungan antar
manusia di dunia ini pada dasarnya dilandasi oleh hubungan bisnis yang saling
menguntungkan, hubungan cinta antara pria dan wanita sekalipun didasari atas
prinsip ini. Pria merasa mendapat sosok idaman yang dia cari yang mampu
memenuhi kekurangan dan mengisi berbagai kelemahannya, sementara si wanita
merasa dilindungi dan dipenuhi semua kebutuhannya oleh si pria, sehingga si
wanita merasa aman berada di dekat pria. Dapat dibayangkan apabila
masing-masing dari pria/wanita tidak mendapat hal yang dia butuhkan/inginkan
malahan merasa dirugikan maka hubungan cinta tersebut tidak akan berjalan lama.
Setulus apa pun cinta yang diucapkan,
seiring dengan berlalunya waktu hubungan tersebut akan mengalami keretakan dan
tidak akan menghasilkan kebahagiaan.
- Wewenang
Wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan kepada pemimpin
untuk menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan.
Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan oleh pimpinan apabila sang
pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab
dengan baik, sehingga bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu
campur tangan dari sang pemimpin.
- Pengikut
Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaaan/power, dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila
dia tidak memiliki pengikut yang berada dibelakangnya yang memberi dukungan dan
mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka pemimpin
tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak dapat
dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.
Hal-hal yang disebutkan di atas adalah kriteria yang setidaknya pasti kita
jumpai pada seorang pemimpin. Lalu bagaimana menjadi seorang pemimpin yang
ideal? Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk membahas hal tersebut perlu kita
pahami terlebih dahulu apa itu pengertian Pemimpin. Pemimpin berasal dari akar
kata pimpin. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “Pimpin” mempunyai
pengertian bimbing atau tuntun, sedangkan pemimpin adalah orang yang memimpin.
(Memimpin : memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun,
menunjukkan jalan, dsb), mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb),
memandu, memenangkan paling banyak, melatih (mendidik, mengajari, dsb). KBBI, Edisi kedua, Balai Pustaka : Depdikbud)
Dari pengertian memimpin kita banyak sekali menjumpai kata kerja/verb. Berarti dalam pengertian memimpin
lebih banyak bersifat aktif dan
bukan pasif. Disini dapat kita lihat pemimpin harusnya adalah seorang yang
proaktif yang menjadi perintis/pionir bagi orang-orang disekitarnya. Bukan
sebaliknya menunggu bawahan untuk bersifat proaktif dalam menyelesaikan
pekerjaan dan menyelesaikan sisa pekerjaan bawahan yang belum beres. Lalu
bagaimana kriteria seorang pemimpin yang ideal?
Ketika saya menulis artikel ini saya teringat kepada kisah Alkitab tentang
Nasehat Yitro kepada Musa untuk
mengangkat para pemimpin di bawah Musa untuk membantunya mengatasi dan
menyelesaikan setiap masalah bangsa
Israel
yang meminta pengadilan daan
putusan Musa. Hal ini mengilhami saya pertama kali bagaimana menjadi seorang
pemimpin yang ideal. Kisahnya bisa kita baca dari
Keluaran 18:13-27, kita perhatikan nasehat Yitro:
Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik
seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik
bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan
ini terlalu berat bagimu, takkan
sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. Jadi sekarang dengarkanlah
perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau.
Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Kemudian
haruslah engkau mengajarkan kepada
mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada
mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. Di
samping itu kaucarilah dari seluruh
bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat
dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di
antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang,
pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka
harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah
dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka
sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka
bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian
dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya,
dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya." Musa
mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang
dikatakannya.
Saudara, kita melihat bahwa Yitro menasehatkan
setidaknya ada 5 hal yaitu:
1. Pekerjaan Musa Overloaded (Terlalu Berat)
2. Mewakili Bangsa Israel di hadapan Tuhan
3. Mengajarkan ketetapan-ketetapan dan keputusan,
memberitahukan bangsa itu apa yang harus mereka lakukan.
4. Mencari dan memilih orang-orang yang berintegritas
Tinggi dan menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin sesuai dengan kapasitas
dan porsi tanggung jawab.
5. Bangsa Israel akan Menjadi Puas.
Yitro adalah Mertua Musa yang bijaksana yang
akhirnya mengenal Allah yang disembah Bangsa Israel. Lalu kata Yitro:
"Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir
dan dari tangan Firaun. Sekarang aku
tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah
menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini
telah bertindak angkuh terhadap mereka." Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban
sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk
makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah. (Kel 18:10-12). Yitro adalah Bapak Manajemen pertama di dunia yang pernah tercatat dalam sejarah
Alkitab dan diakui oleh dunia modern. Satu
prinsip utamanya adalah kemampuan untuk mendelegasikan tugas dan tanggung jawab
yang tidak mungkin sanggup dilakukan oleh satu orang (single fighter) kepada orang-orang lain yang berintegritas dan
ahli. Dalam kepemimpinan apapun, prinsip ini tidak oleh dilupakan
(Kemampuan Mendelegasikan).
John C. Maxwell, seorang ahli kepemimpinan dan mengajarkannya dalam
buku-buku bermutunya dan lewat VCD-VCD Kepemimpinan. Seorang Pria yang
mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik dan memberi transfer ilmu dan
juga nilai-nilai yang berharga bagi setiap orang di dunia dan mempunyai visi Menghasilkan Sejuta Pemimpin di seluruh
dunia (One Million Leader). Dari ilmu yang saya dapatkan, pengalaman, dan
juga apa yang saya saksikan pada diri seorang pemimpin saya
merangkum setidaknya ada 4 hal yang dapat dijadikan kriteria sebagai pemimpin
yang ideal. Dan untuk selanjutnya sebutan pemimpin ideal ini saya ganti menjadi
pemimpin sejati.
Pemimpin Sejati
Pemimpin sejati, ketika kata tersebut
muncul dibenak saya, saya membayangkan seseorang yang luar biasa seperti dosen
saya tersebut, para pakar kepemimpinan seperti Kenneth Blanchard dan
Spencer Johnson, Zig Ziglar, Stephen R Covey, Michael Angier, (Alm) Norman Vincent
Peale dan bahkan pemimpin dunia yang luar biasa dan telah banyak berdedikasi
serta melakukan hal-hal yang berani yang jarang terpikirkan atau dilakukan
manusia pada umumnya. Pemimpin sejati adalah seorang pemimpin yang dinanti-nantikan
oleh setiap orang.
Empat Kriteria Pemimpin Sejati yaitu:
- Visioner: Punya Tujuan Pasti dan Jelas serta Tahu Kemana
Akan Membawa para pengikutnya. Tujuan Hidup Anda adalah Poros Hidup
Anda. Andy Stanley dalam bukunya Visioneering,
melihat pemimpin yang punya visi dan arah yang jelas, kemungkinan berhasil/sukses
lebih besar daripada mereka yang hanya menjalankan sebuah kepemimpinan. - Sukses
Bersama: Membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk Sukses bersamanya. Pemimpin
sejati bukanlah mencari sukses atau keuntungan hanya bagi dirinya sendiri,
namun ia tidak kuatir dan takut serta malah terbuka untuk mendorong
orang-orang yang dipimpin bersama-sama dirinya meraih kesuksesan bersama. - Mau Terus Menerus Belajar dan Diajar (Teachable and Learn continuous )
Banyak hal yang harus dipelajari oleh seorang
pemimpin jika ia mau terus survive sebagai pemipin dan dihargai oleh para
pengikutnya. Punya hati yang mau diajar baik oleh pemimpin lain ataupun bawahan dan belajar dari pengalaman
diri dan orang-orang lain adalah penting bagi seorang Pemimpin. Memperlengkapi
diri dengan Buku-buku bermutu dan Bacaan/Bahan yang positif juga Bergaul akrab
dengan para Pemimpin akan mendorong Skill kepemimpinan akan meningkat.
- Mempersiapkan Calon-calon Pemimpin Masa
depan.
Pemimpin Sejati bukanlah orang yang hanya
menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri bagi generasi atau saat
dia memimpin saja. Namun, lebih dari itu, dia adalah seorang yang visioner yang
mempersiapkan pemimpin berikutnya untuk regenerasi di masa depan. Pemimpin yang
mempersiapkan pemimpin berikutnya barulah dapat disebut seorang Pemimpin
Sejati. Di bidang apapun dalam berbagai aspek kehidupan ini, seorang Pemimpin
sejati pasti dikatakan Sukses jika ia mampu menelorkan para pemimpin muda
lainnya.
"Hadiah terbesar yang diberikan oleh
kehidupan adalah kesempatan untuk bekerja keras dalam pekerjaan yang layak
dilakukan." –Theodore Roosevel
(www.kabarindonesia.com)
Dede Wijaya, Penulis buku Pesona Alkitab