DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Beberapa Koreksi Pengajaran yg Salah

Filed under: Religion — dedewijaya at 4:20 am on Monday, March 31, 2008
Yang BENAR:

Gereja dan Negara terpisah dengan jelas.
”Perjamuan
Tuhan” dan bukan Perjamuan Kudus yang mengajar perjamuan berkhasiat
menguduskan (gereja Roma Katolik dan Doktrin salah Transubstansial dan
Konsubstansial Luther). Perjamuan Tuhan adalah Upacara menjadi
peringatan akan Yesus! (I Korintus 11:24, 25)

”Baptisan Air” dan bukan Baptisan Kudus
Baptisan
Anak tidak dibenarkan karena syarat orang dibaptis adalah percaya
dengan segenap hati, dan tidak boleh diwakilkan. Tertullian, Bapak
Gereja Abad II adalah orang pertama yang menentang Praktek Baptisan
Bayi. Namun ia tidak sanggup membendung arus yang begitu deras seorang
diri. Praktek ini semakin berkembang. Penyebab lain baptisan bayi ialah
penyimpangan doktrin tentang GEREJA LOKAL. Gereja waktu itu mentolerir
ide penyatuan gereja dan negara. Konsep negera Kristen melahirkan
konsep masyarakat suci. Setiap warga negara adalah warga gereja dan
sebaliknya. Penyatuan gereja dan negara mensyaratkan setiap bayi yang
lahir segera dibaptis untuk memasuki masyakarat suci (Sacral Society)
agar mendapat kepastian keselamatan. Karena ada kebutuhan membaptis
bayi maka cara yg lebih aman adalah cara memercik atau meneteskan air
ke atas kepala sang bayi. Ini disebut Rantisan (Rantiso) dan bukan
baptisan (Baptiso=BAPTISM)

Atas nama siapa dibaptis? Baptisan
menjadi sah jika diatasnamakan pada salah satu dari Allah Tritunggal
atau ketiga-tiganya. (Kis 2:38; 10:48, 19:5, Mat 28:19-20). Bukti ini
memberitahukan kita bahwa nama komposisi otoritas tidak menjadi
persoalan pada masa itu.

Cara Baptis yang Alkitabiah bukan
dengan mengibarkan Bendera (Bala Keselamatan) , Percik (Katolik dan yg
sepaham dengannya), namun BAPTIS (Cara selam ke dalam air).

Pembaptisan ulang terhadap mereka yang belum menerima Baptisan yang Benar adalah tindakan Alkitabiah.
Yang berhak membaptis dengan Roh Kudus hanya Tuhan Yesus (Matius 3:11)

Istilah yang Benar adalah Ordinan (Upacara yg diPerintahkan) dan bukan SAKRAMEN (Upacara yg menguduskan) .
Penilik (Bishop) = Penatua (Presbiter) = Gembala (Pastor). Ini jabatan yg sama artinya.
Jabatan Rasul dan Nabi sudah tidak ada sejak Wahyu 22:21 Final.
Jabatan
yang diperlukan Gereja Lokal saat ini (Pejabat Gereja) adalah Gembala,
Penginjil, dan Pengajar atau GURU dan Diaken (bukan Majelis) yaitu
pelayanan kepada jemaat yg tidak bersifat pengajaran.
Tiap-tiap Misionaris harus berada di bawah satu Gereja Lokal bukan di bawah sebuah badan Misi (mission board).
Syarat
semua Pejabat Gereja adalah bukan seorang yang baru bertobat (I Tim
3:7) SUAMI dari SATU ISTRI (I Tim 3:2, 12) dan bukan ISTRI dari SATU
SUAMI. Maka jelas semua jabatan Gereja hanya untuk Pria. Hal ini tidak
menutup kesempatan bagi wanita untuk melayani Tuhan, melainkan hanya
untuk memangku jabatan gereja. Tuhan menghendaki GerejaNya dipimpin
laki-laki bukan sebaliknya. Kalau dalam rumah tangga telah ditetapkan
bahwa suami adalah kepala istri, bagaimana mungkin istrinya kemudian
menjadi Gembala di dalam Jemaat Tuhan untuk menggembalakan suaminya?
Bagaimana mungkin istrinya bertindak sebagai pemimpin yang mengatur ini
dan itu di dalam Jemaat Tuhan, sedangkan suaminya duduk mendengarkan
pengajaran dengan patuh?

PRINSIP DASAR: Suami mengasihi istri dan istri tunduk pada suami.
Ketika
hal-hal demikian dikemukakan, seringkali orang akan mengemukakan kasus
adanya keluarga yang suaminya bego dan istrinya pintar. Namun kita tahu
bahwa Tuhan tidak mungkin setuju bahwa struktur yang telah
ditetapkannya itu dirombak hany karena ad asejumlah kecil keluarga yang
berada dalam kondisi istimewa. Sekalipun ada seorang istri yang
supergenius, perintah firman Tuhan bahwa suami mengasihi istri dan
istri tunduk kepada suami itu tetap harus dipatuhinya. Dan sekalipun
ada wanita yang supergenius di gereja, perintah bahwa yang memimpin dan
mengajar Jemaat itu adalah laki-laki tetap harus dihormati. Beberapa
ayat yaitu I Timotius Pasal 2:11-15,

2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15
Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia
bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala
kesederhanaan.

Paulus dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak
mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah laki-laki. Alasan yg
dikemukakan bukan masalah pendidikan, melainkan masalah struktural. Ini
menunjuk pada POLA DASAR yg ditetapkan Allah kepada Adam dan Hawa.

Kondisi
seseorang yang memberi diri untuk dibaptis ialah bertobat dan percaya
kepada Kristus. Atau dengan kata lain telah dilahirbarukan. Dalam
Alkitab tidak ada indikasi bahwa seseorang harus mengikuti katekisasi
sekian bulan dulu untuk memenuhi persyaratan dibaptis. Pengajaran
dilakukan setelah ia menjadi anggota gereja. Sesuai dengan I Korintus
5:12, kita tidak punya wewenang menghakimi orang-orang yang ada di luar
jemaat, karena hanya setelah mereka sudah berada dalam jemaatlah kita
punya wewenang untuk menghakimi, mengajar serta mendisiplinkan mereka.
Urutannya sesaui dengan Matius 28:19-20,
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada
akhir zaman."

Asal Anda Tahu

Filed under: News — dedewijaya at 11:22 pm on Monday, March 24, 2008
Saya
kumpulkan berbagai info menarik, lucu, aneh, dan misterius berikut ini.
Saya cari bahannya pakai Google dengan kata “weird things”, “amazing
facts”, dll. Males ah nulis sumber kutipan di sini. Lagian, ini bukan
info ilmiah, meskipun mungkin benar-benar terjadi. Kalau gak percaya,
buktiin sendiri aja ya…

1.Kalau
Anda perhatikan film Benhur, ada salah satu adegan yang di latar
belakang tampak mobil sedan berwarna merah dan si Henson (pemeran
Benhur) mengenakan jam tangan.
2. Perpustakaan Indiana University ambles
sedalam 1 inci tiap tahun karena para perancangnya tidak memperhitungkan banyaknya buku yang akan disimpan di gedung tersebut.
3.111.111.111 x 111.111.111 = 12.345.678.987. 654.321
4.Pada empat langkah pembukaan permainan catur, dari salah satu sisi saja, ada 318.979.564. 000 kemungkinan.
5.Bom
pertama yang dijatuhkan Sekutu di Berlin pada waktu Perang Dunia II
telah menewaskan satu-satunya gajah di kebun binatang Berlin .
6.Madu adalah satu-satunya jenis makanan yang tidak akan basi.
7.Di
Inggris, pada tahun 1400an diberlakukan undang-undang, seorang suami
tidak boleh memukul istrinya dengan tongkat yang ukurannya lebih besar
daripada ibu jari, dari sinilah muncul istilah “rule of thumb”.
8.Korek api ditemukan sebelum rokok.
9.Typewriter adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang dapat ditulis dengan satu baris tuts di keyboard.
10.Taumatawhakatangiha ngakoauauotamate apokaiwhenuakit anatahu adalah sebuah nama bukit di Selandia Baru.

Tentang Manusia
1.Kita tidak akan pernah dapat mencium atau menjilat siku kita.
2.Tidak mungkin Anda bersin dengan mata terbuka.
3.Gerakan Bruce Lee terlalu cepat, sehingga ketika dibuat film, harus diperlambat. Hal ini kebalikan dengan film-film sekarang.
4.Charlie Chaplin pernah menjadi Juara III dalam kontes mirip Charlie Chaplin.
5.Albert
Einstein tidak lulus tes masuk ke Swiss Federal Polytechnical School
pada tahun 1895, baru tahun berikutnya dia lolos dan diterima.
6.Pria dapat membaca huruf kecil lebih baik daripada wanita. Wanita dapat mendengar lebih baik.
7.Wanita
berkedip dua kali lebih banyak daripada
pria.
8.Lebih dari separoh orang Amerika, hidup tidak lebih dari 50 mil dari tempat kelahirannya.
9.Pasangan yang pertama kali tampil di layar kaca di ranjang adalah Fred dan Wilma Flintstone.
10.Persentase penduduk Amerika yang berangkat kerjanya berjalan kaki ada di Alaska.
11.Ketika membaca pesan terakhir ini, Anda sudah mencoba mencium siku Anda, tetapi gagal kan? Hehehe

Tentang Binatang
1.Jika kalajengking ditetesi minuman keras, dia akan marah
dan menyengat dirinya
sendiri sampai mati.
2.Sama-sama tanpa air, tikus dapat hidup lebih lama dibanding unta.
3.Seekor
kecoa dapat hidup selama 9 hari tanpa kepala. Kecoa juga merupakan
binatang yang tahan terhadap radiasi, sehingga kalau ada perang nuklir,
kecoalah yang paling banyak selamat.
4.Seekor semut dapat mengangkat barang yang berbobot 50x berat badannya, dan menarik barang yang beratnya 30x berat badannya.
5.Seekor singa bisa berhubungan kelamin 50 kali dalam sehari.
6.Babi dapat menikmati orgasme selama 30 menit (tau deh ngukurnya
bagaimana).
7.Seekor kucing betina bisa melahirkan 20.736 anak kucing dalam empat tahun (waduh, efektif banget to ya hubungan badannya?).
8.Makhluk hidup yang menikmati seks hanyalah lumba-lumba dan manusia (lha bagaimana dengan babi tadi?)
9.Hyena
lebih didominasi kaum betinanya. Bahkan klitoris mereka berukuran
sangat menonjol, dan dapat berereksi. Sialnya lagi, hal ini ditujukan
untuk menakut-nakuti hyena jantan! (Lah, terus ML sama siapa dong kalau
cowoknya ditakut-takuti dan diusir?)
10.Kelelawar selalu terbang ke kiri setelah keluar dari dalam gua.
11.Gajah adalah satu-satunya binatang yang
tidak dapat melompat.
12.Sapi dapat berjalan menaiki tangga, tapi tidak menuruninya.
13.Semua beruang kutub kidal lho.
14.Ayam bisa terbang tidak lebih dari 13 detik.
15.Seekor siput dapat tidur tiga tahun lamanya.
16.Usia capung hanya 24 jam.
17.Kupu-kupu merasakan makanan dengan kakinya.
18.Mata burung unta lebih besar daripada otaknya.
19. Kata “butterfly” berasal dari kata “flutterby”.
20.Emu dan kanguru tidak dapat berjalan mundur.
21.Berang-berang bisa menahan (tidak ber-)nafas di dalam air selama 45 menit.
22.Burung terkecil di dunia adalah humming bird, karena beratnya hanya 1 ons.
23.Yang bergaris-garis pada tubuh harimau bukan cuma bulunya, tetapi juga kulitnya.
24.Rusa kutub memakan lumut karena mengandung zat yang membuat tubuh mereka tidak membeku.
25.Burung
pelatuk (ingat Woody Woodpecker?) dapat mematuk 20x per detik. Mereka
tidak akan mengalami pusing, karena otaknya dilindungi bantalan udara
(mirip airbag pada mobil jaman sekarang kali ya?).
26..Badak
adalah binatang terkuat di dunia, karena dapat mengangkat beban yang
850x berat badannya (manusia aja paling cuma kuat membawa 2x berat
badannya ya?). Semut mampu mengangkat 50x berat badannya.
27.Kadal
(yang suka memangsa serangga memakai lidahnya) memiliki lidah sepanjang
tubuhnya. Kedua matanya dapat melihat dua objek yang berbeda dan
sama-sama fokusnya.
28.Semut
bulldog hitam dari Australia adalah semut paling berbahaya di dunia,
karena dapat menyengat dan menggigit pada saat bersamaan dan keduanya
mengandung racun mematikan (dan sudah ada korban manusia).
29.Armadillo,
sloth, dan opossum (semuanya sejenis tupai) menghabiskan 80% waktu
hidupnya untuk tidur (enak bener ya?). Musang juga mirip, karena tidur
20 jam sehari. Sedang seekor siput bisa tidur selama 3 tahun.
30.Gajah dapat mencium aroma air sejauh 3 mil (1 km lebih).
31.Jantung landak berdenyut 300x dalam semenit, sedang jantung ikan paus biru hanya berdenyut 6x semenit.
32.Masih
ikan paus biru: suaranya paling keras dibanding binatang lainnya, dan
lidahnya cukup lebar sehingga dapat untuk berdiri 50 orang.
33.Di Amerika, ada
lebih banyak sapi
dibanding manusia.
34.Bintang laut tidak mempunyai otak (lah, kenapa kita sering mengumpat “otak udang” ya?).
35.Ikan emas dapat mengingat hanya sekitar 2-3 detik saja (yah, lebih baik dibanding bintang laut ya?)
36.Lebih banyak orang mati karena tak sengaja menelan gabus botol sampanye dibanding karena sengatan laba-laba beracun.

Semoga informasi diatas bermanfaat untuk kita semua :-)

 

from: smr_GKPJ


 

PESAN PASKAH BAGI SEMUA

Filed under: News — dedewijaya at 11:12 am on Sunday, March 23, 2008

Buddy_jesus

Bangun, Bangun Oi,
YESUS SUDAH BANGKIT!
YESUS SUDAH BANGKIT!
Td waktu I pergi kekuburnya, eh batunya udah
terguling n tinggal kain kafan dan kain peluh yg ada.

Trus ketemu malaikat dan Yesus yg I kira tukang kebun
kuburan. Yesus pesan sama gue gar kasih tahu ke
elu-elu sekalian, pesannya dia suruh kita pd kumpul di
gereja.

Dia akan jumpai kita sbg murid-muridNya di
gereja. Jgn lupa kasih tahu murid2 yg lain ya. Zaman
kan udah canggih, jd forward z pesan ini ke
teman-teman lu. Deal or no Deal? Oh ya MET PASKAH Coi!

OH DUNIA…! (gaya perkataan Budi Anduk)
Sambutlah YESUSMU YG SUDAH BANGKIT SBG ALLAH &
JURUSELAMAT Pribadimu. GBU

THE FALLEN ADAM AND ANGEL

Filed under: News — dedewijaya at 12:40 am on Saturday, March 15, 2008

THE FALLEN ADAM AND ANGEL

Dalam SEMINAR yang diadakan Rabu dan Kamis selama dua hari ini, diangkat tema The Fallen Adam and Angel yang membahas mengenai Doktrin Manusia, Dosa dan Kejatuhan Malaikat, Pendeta Aiter, S. Kom, M. Div yang berasal dari GRII Palembang, diundang menjadi pengajar dan pembawa seminar dalam Program Intensif (Progsif) Runtut Doktrinal yang diselenggarakan oleh STRIJ (Sekolah Teologi Reformed Injili Jakarta) di Jogjakarta. Lewat seminar ini ingin mengajar mengenai manusia dan dosa dalam pendekatan antroplogis Alkitabiah serta mengajak mengerti keindahan dan kehormatan diri yang tercipta, terbatas, dan tercemar. Acara seminar ini diikuti lebih kurang 50 peserta dari berbagai gereja di Jogja, bahkan ada beberapa pendeta dan diaken dari gereja lain sebut saja Pdt. Pringgosekardjo dari Gereja Kasih Karunia (GKK), yang merupakan tokoh kristiani penting dan terpandang di Jogja. Banyak acara besar berupa KKR dan Seminar di Alun-alun Keraton Jogja dapat terlaksana karena lobi Beliau yang dekat dengan kalangan Keraton dan Sri Sultan HB X. ada juga dari GKI Gejayan, GKJ, GBI Aletheia dan GKKK Jogja. Malah dari anak-anak, remaja, pemuda dan orang tua bercampur baur menjadi satu mengikuti seminar ini. Bertempat di gedung JBN yang sering menjadi tempat seminar Bisnis dan Presentasi, Tentulah sangat nyaman dengan ruang berAC, gedung yang terletak di jalan Yos Sudarso 21 Jogjakarta ini tampak megah berdiri.

Dihari pertama, (05/03), meski hujan, namun tidak mengurangi antusias keinginan peserta untuk hadir mengikuti dan membayar seminar dengan kontribusi Rp 40.000,00. Sebagian peserta memang sudah rutin mengikuti seminar-seminar yang diadakan setiap bulan oleh STRIJ di Jogja. Pdt. Aiter mengupas Kejadian 1:26-27, dan Kejadian pasal 3 yang sangat menarik perhatian para peserta karena merasa dibukakan mengenai rahasia Firman Tuhan. Kej 1:27 ada 3 kata “Cipta” yang melambangkan bahwa oknum Bapa, Putra dan Roh Kudus bersama-sama dalam Peristiswa Penciptaan dan ketiga Pribadi ini saling berelasi. Perbedaan penciptaan manusia dengan malaikat yaitu bahwa para malaikat langsung diciptakan sekaligus dan banyak, sedang manusia diciptakan dua orang yaitu Adam dan Hawa dan diberi kemampuan reproduksi. Malaikat juga diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diciptakan untuk berelasi dan mempunyai Pribadi. Menarik bahwa menurut Pdt. Aiter, semua kebebasan harus ada larangan, inilah yang namanya kebebasan. Dalam larangan Allah kepada manusia untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat, Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan hidup dan matinya sendiri (dan ternyata kecenderungan hati manusia adalah melakukan sesuai apa yang dirinya mau). Ketika Adam dan Hawa sudah makan buah itu, mereka tahu dirinya telanjang dan bersembunyilah mereka dari Allah padahal waktu itu hari sejuk. Bertanyalah Allah, mengapa tugas yang Kuperintahkan kepadamu tidak engkau lakukan. Disini Allah meminta pertanggungjawaban manusia. Mengapa manusia bersembunyi? Karena ada Tuhan. Selanjutnya kita tahu bahwa Adam menyalahkan Allah karena telah menciptakan Hawa, Hawa menyalahkan Allah karena Allah menciptakan Ular yang memerdayai dirinya (Kej 3:1). Kita tahu ular atau Lucifer itu sudah lebih dahulu berdosa dihadapan Allah. Dapat kita simpulkan bahwa, manusialah yang paling bertanggungjawab atas dosa yang dirinya perbuat. Iblis atau ular adalah factor atau alat pemicu saja.

Pada bagian ini Pdt. Aiter ingin mendorong setiap peserta untuk ikut dalam peperangan rohani dan pertandingan iman. Pertandingan Iman sudah dimulai sejak waktu persiapan sampai masuk pada peristiwa pertandingan di hari H pertandingan. Latihan sudah diperhitungkan dalama pertandingan. Inilah proses pembentukan Tuhan. Peserta banyak yang bertanya baik dalam sesi seminar maupun waktu jam istirahat.

Dihari kedua, (06/03), sayang tidak ada sesi Tanya jawab karena Pdt. Aiter merasa kekurangan waktu untuk menjelaskan banyak hal. Namun seusai acara, para peserta tampak bertanya dan berbicara dengan Pdt. Aiter. Dikisahkan mengenai dari 12 murid Yesus ada dua murid yang dipakai Iblis yaitu Yudas Iskariot yang menjual Yesus dan Simon Petrus yang dipakai Iblis untuk menggagalkan rencana Allah mengenai penyaliban Yesus. Kita melihat bahwa dua murid ini adalah masing-masing Pemimpin dan Bendahara Yesus. Maka, patut diperhatikan di zaman ini, Iblis juga dapat memakai Pemimpin Gereja dan Bendahara Gereja untuk mengagalkan rencana Allah dan merusak umat Allah. Sejak zaman rasul Paulus hingga akhir zaman akan ada banyak pekerja Palsu, Guru-Guru Palsu, Hamba Tuhan Palsu.

Mari perhatikan perkataan Paulus dalam II Korintus 11:12-14: “Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.”

Berbahagialah hamba yang didapati Tuannya, setia dalam melakukan pekerjaannya!

MANUSIA DICIPTAKAN Menurut GAMBAR dan RUPA ALLAH

Filed under: Religion — dedewijaya at 12:10 am on Thursday, March 13, 2008

Alkitab menggambarkan keadaan mula-mula manusia
dengan memakai ungkapan “menurut gambar (Tselem) dan rupa (Demuth) Allah” (Kej
1:26-27;5:1;9:6; I Kor 11:7; Yakobus 3:9). Nah apakah arti Gambar dan Rupa
Allah itu?

Kesamaan itu bukan KESAMAAN JASMANI

Allah adalah Roh sehingga tidak memiliki
anggota-nggota tubuh seperti manusia. Beberapa orang menggambarkan Allah
sebagai manusia yang agung dan luhur, namun pandangan semacam ini salah. Mazmur
17:15 mengatakan, ”… pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.”
Namun ayat ini tidak memakusdkan keadaan jasmaniah; lebih tepat kalau dikatakan
bahwa ayat ini menurut konteksnya berbicara mengenai persamaan dalam kebenaran
(baca I Yohanes 3:2-3). Musa telah melihat ”rupa Tuhan” (Bil 12:8), walaupun
wajah Allah tidak dapat dilihat (Kel 33:20). Sekalipun manusia tidak memiliki
kesamaan jasmaniah dengan Allah karena Allah tidak memiliki tubuh jasmaniah,
manusia memang memiliki kesamaan tertentu karena manusia diciptakan dalam
keadaan sehat walafiat, tidak ada bibit-bibit penyakit apapun di dalam dirinya,
dan tidak bisa mati. Pada mulanya Allah merencanakan supaya manusia makan dari
tumbuh-tumbuhan saja (Kej 1:29), tetapi kemudian Ia mengizinkan daging hewan
untuk dimakan (Kej 9:3). Menarik untuk diperhatikan bahwa ketika Allah
mengizinkan manusia memakan daging, Allah sama sekali tidak memberikan
peraturan mengenai hewan haram dan hewan halal meskipun perbedaan antara yang
haram dan yang halal sudah diketahui (Kej 7:2). Peraturan itu diberi kemudian
untuk mengatur perilaku satu bangsa saja dan hanya berlaku untuk jangka waktu
tertentu (Imamat 11; Markus 7:19; Kisah 10:15; Roma 14:1-12; Kolose 2:16)

 

Kesamaan yang dimaksud dengan Gambar dan Rupa Allah yaitu:

 

Kesamaan itu adalah Kesamaan Mental

Charles Hodge pernah mengatakan,

Allah adalah Roh, jiwa manusia adalah roh juga.sifat-sifat hakiki dari
roh ialah akal budi, hati nurani dan kehendak. Roh adalah unsur yang mampu
bernalar, bersifat moral, dan oleh karena itu juga berkehendak bebas. Ketika
menciptakan manusia menurut gambarNya, Allah menganugerahkan kepadanya
sifat-sifat yang dimilikinya sendiri sebagai roh. Dengan demikian manusia
berbeda dari semua makhluk lain yang mendiami bumi ini, serta berkedudukan jauh
lebih tinggi daripada mereka. Manusia termasuk golongan yang sama dnegan Allah
sendiri sehingga ia mampu berkomunikasi dengan Penciptanya. Kesamaan sifat
antara Allah dan manusia ini…juga merupakan keadaan yang diperlukan untuk
mengenal Allah dan karen aitu merupakan dasar dari kesalehan kita. Bila kita tidak
diciptakan menurut gambar Allah, kita tidak dapat mengenal Dia. Kita akan sama
dengan binatang-binatang yang akhirnya binasa.

Pernyataan Hodge ini dikuatkan
oleh Alkitab. Dalam pengudusan, manusia “terus-menerus diperbaharui untuk
memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol 3:10). Tentu
saja, pembaharuan ini dimulai pada saat kelahiran baru terjadi, tetapi
dilanjutkan dalam pengudusan. Bahwa manusia diberi kemampuan intelektual yang
tinggi tersirat dalam perintah untuk mengusahakan taman Eden serta
memeliharanya (Kej 2:15), juga perintah untuk menguasai bumi beserta segala
isinya (Kejadian 1:26, 28), dan dalam pernyataan bahwa manusia memberi nama
kepada segala binatang di bumi (Kej 2:19-20). Kesamaan dengan Allah ini tidak
dapat dihapus, dan karena kesamaan tersebut memungkinkan manusia memperoleh
penebusan, maka kehidupan manusia yang belum dilahirkan baru juga berharga (Kej
9:6; I Kor 11;&; Yak 3:9).

 

Kesamaan itu adalah kesamaan Moral

Jadi kesamaan itu terdapat dalam sifat rasional
manusia dan dalam persesuaian moralnya dengan Allah. Hodge mengatakan,

Manusia adalah gambar Allah, sehingga membawa dan mencerminkan kesamaan
ilahi di antara penghuni-penghuni lain di bumi, karena manusia itu roh, unsur
yang cerdas dan berkehendak bebas; dan oleh karena itu sudah sepantasnya
manusia ditetapkan untuk menguasai bumi. Inilah yang biasanya disebut….
sebagai gambar Allah yang hakiki dan bukan yang insidental.

Bahwa manusia memiliki kesamaan semacam itu dengan
Allah sudah jelas dalam Alkitab. Bila dalam pembaharuan manusia baru itu
diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya (Efesus 4:24), maka pastilah tepat untuk menyimpulkan bahwa pada
mulanya manusia memiliki baik kebenaran maupun kekudusan. Koteks Ke 1 dan 2
membuktikan hal ini. Hanya atas dasar inilah manusia dapat bersekutu dengan
Allah, yang tidak dapat memandang kelaliman (Habakuk 1:13)

 

Kesamaan itu adalah kesamaan Sosial

Sifat Allah yang sosial itu didasarkan pada kasih
sayangNya. Yang menjadi sasaran kasih sayangNya adalah Oknum-Oknum lain di
dalam KetritunggalanNya. Karena Allah memiliki sifat sosial, maka Ia
menganugerahkan kepada manusia sifat sosial. Akibatnya, manusia senantiasa
mencari sahabat untuk bersekutu dengannya. Pertama-tama, manusia menemukan
persahabatan ini dengan Allah sendiri. Manusia ”mendengar bunyi langkah TUHAN
Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk” (Kej 3:8).
Hal ini menyatakan secara tak langsung bahwa manusia berkomunikasi dengan Allah
Penciptanya. Allah telah menciptakan manusia untuk diriNya sendiri, dan manusia
menemukan kepuasan tertinggi dalam persekutuan dengan Tuhannya. Akan tetapi,
disamping itu Allah juga menganugerahkan persahabatan manusiawi. Ia menciptakan
wanita, karena sebagaimana dikatakanNya sendiri, "Tidak baik, kalau
manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang
sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Jelaslah bahwa manusia diciptakan dengan sifat
sosial, sebagaimana Allah mempunyai sifat sosial. Kasih dan perhatian sosial
manusia bersumber langsung dari unsur ini dalam watak manusia.

 

Genesis 1:26

And God said,
Let us make man in our image, after our likeness: and let them have dominion
over the fish of the sea, and over the fowl of the air, and over the cattle,
and over all the earth, and over every creeping thing that creepeth upon the
earth.

 [In
our image, after our likeness]
What is said above refers only to the body
of man, what is here said refers to his soul. This was made in the image and
likeness of God. Now, as the Divine Being is infinite, he is neither limited by
parts, nor definable by passions; therefore he can have no corporeal image
after which he made the body of man. The image and likeness must necessarily be
intellectual, his mind, his soul, must have been formed after the nature and
perfections of his God. The human mind is still endowed with most extraordinary
capacities, it was more so when issuing out of the hands of its Creator. God
was now producing a spirit, and a spirit, too, formed after the perfections of
his own nature. God is the fountain whence this spirit issued, hence, the
stream must resemble the spring which produced it. God is holy, just, wise,
good, and perfect; so must the soul be that sprang from him: there could be in
it nothing impure, unjust, ignorant, evil, low, base, mean, or vile. It was
created after the image of God; and that image, Paul tells us, consisted in
righteousness, true holiness, and knowledge, Eph 4:24; Col 3:10. Hence, man was
wise in his mind, holy in his heart, and righteous in his actions. Were even
the word of God silent on this subject, we could not infer less from the lights
held out to us by reason and common sense. The text tells us he was the work of
‘ELOHIYM (OT:430), the Divine Plurality, marked here more distinctly by the
plural pronouns US and OUR; and to show that he was the masterpiece of God’s
creation, all the persons in the Godhead are represented as united in counsel
and effort to produce this astonishing creature.

Gregory Nyssen has
very properly observed that the superiority of man to all other parts of
creation is seen in this, that all other creatures are represented as the
effect of God’s word, but man is represented as the work of God, according to
plan and consideration: "Let US make MAN in our IMAGE, after our LIKENESS.
See his Works, vol. i., p. 52, c. 3.

[And let them
have dominion] Hence we see that the dominion was not the image. God created
man capable of governing the world, and when fitted for the office, he fixed
him in it. We see God’s tender care and parental solicitude for the comfort and
well-being of this masterpiece of his workmanship, in creating the world
previously to the creation of man. He prepared everything for his subsistence,
convenience, and pleasure, before he brought him into being; so that, comparing
little with great things, the house was built, furnished, and amply stored, by
the time the destined tenant was ready to occupy it.

It has been
supposed by some that God speaks here to the angels, when he says, "Let us
make man, but to make this a likely interpretation these persons must prove:

1. That angels
were then created.

2. That angels
could assist in a work of creation.

3. That angels
were themselves made in the image and likeness of God.

If they were
not, it could not be said, in OUR image, and it does not appear from any part
in the sacred writings that any creature but man was made in the image of God. See the note on Ps 8:5

(from Adam
Clarke’s Commentary, Electronic Database. Copyright (c) 1996 by Biblesoft)

 

Gen 1:26-30

 

In our image (selem), after our likeness
(demut).
Though these two synonyms have separate meanings, there is here
seemingly no effort to present different aspects of God’s being. It is clear
that man, as God made him, was distinctly different from the animals already
created. He stood on a much higher plateau, for God created him to be immortal,
and made him a special image of His own eternity. Man was a creature with whom
his Maker could visit and have fellowship and communion. On the other hand, the
Lord could expect man to answer him and be responsible to him. Man was
constituted to have the privilege of choice, even to the point of disobeying
his Creator. He was to be God’s responsible representative and steward on the
earth, to work out his Creator’s will and fulfill the divine purpose. World
dominion was to be granted to this new creature (cf. Ps 8:5-7). He was
commissioned to subdue (kabash), "tread upon") the earth, and to
follow God’s plan in filling it with people. This sublime creature, with his
unbelievable privileges and heavy responsibilities, was to live and move in
kingly fashion.

(from The
Wycliffe Bible Commentary, Electronic Database. Copyright (c) 1962 by Moody
Press)

 

Genesis 1:26-28

The creation

We have here the
second part of the sixth day’s work, the creation of man, which we are, in a
special manner, concerned to take notice of, that we may know ourselves.
Observe,

I. That man was
made last of all the creatures, that it might not be suspected that he had
been, any way, a helper to God in the creation of the world: that question must
be for ever humbling and mortifying to him, Where wast thou, or any of thy
kind, when I laid the foundations of the earth? Job 38:4. Yet it was both an
honour and a favour to him that he was made last: an honour, for the method of
the creation was to advance from that which was less perfect to that which was
more so; and a favour, for it was not fit he should be lodged in the palace
designed for him till it was completely fitted up and furnished for his
reception. Man, as soon as he was made, had the whole visible creation before
him, both to contemplate and to take the comfort of. Man was made the same day
that the beasts were, because his body was made of the same earth with theirs;
and, while he is in the body, he inhabits the same earth with them. God forbid
that by indulging the body and the desires of it we should make ourselves like
the beasts that perish!

II. That man’s
creation was a more signal and immediate act of divine wisdom and power than
that of the other creatures. The narrative of it is introduced with something
of solemnity, and a manifest distinction from the rest. Hitherto, it had been
said, "Let there be light," and "Let there be a firmament,"
and "Let the earth, or waters, bring forth" such a thing; but now the
word of command is turned into a word of consultation, "Let us make man,
for whose sake the rest of the creatures were made: this is a work we must take
into our own hands." In the former he speaks as one having authority, in
this as one having affection; for his delights were with the sons of men, Prov
8:31. It should seem as if this were the work which he longed to be at; as if
he had said, "Having at last settled the preliminaries, let us now apply ourselves
to the business, Let us make man."
Man was to be a creature different from all that had been hitherto made. Flesh
and spirit, heaven and earth, must be put together in him, and he must be
allied to both worlds. And therefore God himself not only undertakes to make
him, but is pleased so to express himself as if he called a council to consider
of the making of him: Let us make man. The three persons of the Trinity,
Father, Son, and Holy Ghost, consult about it and concur in it, because man,
when he was made, was to be dedicated and devoted to Father, Son and Holy
Ghost. Into that great name we are, with good reason, baptized, for to that
great name we owe our being. Let him rule man who said, Let us make man.

III. That man was made in God’s image and
after his likeness,
two words to express the same thing and making each
other the more expressive; image and likeness denote the likest image, the
nearest resemblance of any of the visible creatures. Man was not made in the
likeness of any creature that went before him, but in the likeness of his
Creator; yet still between God and man there is an infinite distance. Christ
only is the express image of God’s person, as the Son of his Father, having the
same nature. It is only some of God’s honour that is put upon man, who is God’s
image only as the shadow in the glass, or the king’s impress upon the coin.
God’s image upon man consists in these three things:-

1. In his nature and constitution, not
those of his body (for God has not a body), but those of his soul.
This
honour indeed God has put upon the body of man, that the Word was made flesh,
the Son of God was clothed with a body like ours and will shortly clothe ours
with a glory like that of his. And this we may safely say, That he by whom God
made the worlds, not only the great world, but man the little world, formed the
human body, at the first, according to the platform he designed for himself in
the fulness of time. But it is the soul, the great soul, of man, that does
especially bear God’s image. The soul is a spirit, an intelligent immortal
spirit, an influencing active spirit, herein resembling God, the Father of
Spirits, and the soul of the world. The spirit of man is the candle of the
Lord. The soul of man, considered in its three noble faculties, understanding,
will, and active power, is perhaps the brightest clearest looking-glass in
nature, wherein to see God.

2. In his place and authority: Let us
make man in our image, and let him have dominion. As he has the government of
the inferior creatures, he is, as it were, God’s representative, or viceroy,
upon earth; they are not capable of fearing and serving God, therefore God has
appointed them to fear and serve man. Yet his government of himself by the
freedom of his will has in it more of God’s image than his government of the
creatures.

3. In his purity and rectitude. God’s
image upon man consists in knowledge, righteousness, and true holiness, Eph
4:24; Col 3:10. He was upright, Eccl 7:29. He had an habitual conformity of all
his natural powers to the whole will of God. His understanding saw divine
things clearly and truly, and there were no errors nor mistakes in his
knowledge. His will complied readily and universally with the will of God,
without reluctancy or resistance. His affections were all regular, and he had
no inordinate appetites or passions. His thoughts were easily brought and fixed
to the best subjects, and there was no vanity nor ungovernableness in them. All
the inferior powers were subject to the dictates and directions of the superior,
without any mutiny or rebellion. Thus holy, thus happy, were our first parents,
in having the image of God upon them. And this honour, put upon man at first,
is a good reason why we should not speak ill one of another (James 3:9), nor do
ill one to another (Gen 9:6), and a good reason why we should not debase
ourselves to the service of sin, and why we should devote ourselves to God’s
service. But how art thou fallen, O son of the morning! How is this image of
God upon man defaced! How small are the remains of it, and how great the ruins
of it! The Lord renew it upon our souls by his sanctifying grace!

IV. That man was
made male and female, and blessed with the blessing of fruitfulness and
increase. God said, Let us make man, and immediately it follows, So God created
man; he performed what he resolved. With us saying and doing are two things;
but they are not so with God. He created him male and female, Adam and Eve-Adam
first, out of earth, and Eve out of his side, ch. 2. It should seem that of the
rest of the creatures God made many couples, but of man did not he make one?
(Mal 2:15), though he had the residue of the Spirit, whence Christ gathers an
argument against divorce, Matt 19:4-5. Our first father, Adam, was confined to
one wife; and, if he had put her away, there was no other for him to marry,
which plainly intimated that the bond of marriage was not to be dissolved at
pleasure. Angels were not made male and female, for they were not to propagate
their kind (Luke 20:34-36); but man was made so, that the nature might be
propagated and the race continued. Fires and candles, the luminaries of this
lower world, because they waste, and go out, have a power to light more; but it
is not so with the lights of heaven: stars do not kindle stars. God made but
one male and one female, that all the nations of men might know themselves to
be made of one blood, descendants from one common stock, and might thereby be
induced to love one another. God, having made them capable of transmitting the
nature they had received, said to them, Be fruitful, and multiply, and
replenish the earth. Here he gave them,

1. A large
inheritance: Replenish the earth; it is this that is bestowed upon the children
of men. They were made to dwell upon the face of all the earth, Acts 17:26.
This is the place in which God has set man to be the servant of his providence
in the government of the inferior creatures, and, as it were, the intelligence
of this orb; to be the receiver of God’s bounty, which other creatures live
upon, but do not know it; to be likewise the collector of his praises in this
lower world, and to pay them into the exchequer above (Ps 145:10); and, lastly,
to be a probationer for a better state.

2. A numerous
lasting family, to enjoy this inheritance, pronouncing a blessing upon them, in
virtue of which their posterity should extend to the utmost corners of the
earth and continue to the utmost period of time. Fruitfulness and increase
depend upon the blessing of God: Obed-edom had eight sons, for God blessed him,
1 Chron 26:5. It is owing to this blessing, which God commanded at first, that
the race of mankind is still in being, and that as one generation passeth away
another cometh.

V. That God gave
to man, when he had made him, a dominion over the inferior creatures, over the
fish of the sea and over the fowl of the air. Though man provides for neither,
he has power over both, much more over every living thing that moveth upon the
earth, which are more under his care and within his reach. God designed hereby
to put an honour upon man, that he might find himself the more strongly obliged
to bring honour to his Maker. This dominion is very much diminished and lost by
the fall; yet God’s providence continues so much of it to the children of men
as is necessary to the safety and support of their lives, and God’s grace has
given to the saints a new and better title to the creature than that which was
forfeited by sin; for all is ours if we are Christ’s, 1 Cor 3:22.

(from Matthew
Henry’s Commentary on the Whole Bible: New Modern Edition, Electronic Database.
Copyright (c) 1991 by Hendrickson Publishers, Inc.)

 

Gen 1:24-31

The image of God consists, therefore,
in the spiritual personality of man, though not merely in unity of
self-consciousness and self-determination, or in the fact that man was created
a consciously free Ego; for personality is merely the basis and form of the
divine likeness, not its real essence. This consists rather in the fact, that
the man endowed with free self-conscious personality possesses, in his spiritual
as well as corporeal nature, a creaturely copy of the holiness and blessedness
of the divine life. This concrete essence of the divine likeness was shattered
by sin; and it is only through Christ, the brightness of the glory of God and
the expression of His essence (Heb 1:3), that our nature is transformed into
the image of God again (

Col

3:10; Eph 4:24).

 

A likeness to the angels cannot be
inferred from Heb 2:7, or from Luke 20:36. Just as little ground is there for
regarding the plural here and in other passages (Gen 3:22; 11:7; Isa 6:8;
41:22) as reflective, an appeal to self; since the singular is employed in such
cases as these, even where God Himself is preparing for any particular work
(cf. Gen 2:18; Ps 12:5; Isa 33:10). No other explanation is left, therefore,
than to regard it as pluralis majestatis,-an interpretation which comprehends
in its deepest and most intensive form (God speaking of Himself and with
Himself in the plural number, not reverentiae causa, but with reference to the
fullness of the divine powers and essences which He possesses) the truth that
lies at the foundation of the trinitarian view, viz., that the potencies
concentrated in the absolute Divine Being are something more than powers and
attributes of God; that they are hypostases, which in the further course of the
revelation of God in His kingdom appeared with more and more distinctness as
persons of the Divine Being. On the words "in our image, after our
likeness" modern commentators have correctly observed, that there is no foundation
for the distinction drawn by the Greek, and after them by many of the Latin
Fathers, between eikoo’n (NT:1504) (imago) and homoi’oosis (NT:3669)
(similitudo), the former of which they supposed to represent the physical
aspect of the likeness to God, the latter the ethical; but that, on the
contrary, the older Lutheran theologians were correct in stating that the two
words are synonymous, and are merely combined to add intensity to the thought:
"an image which is like Us" (Luther); since it is no more possible to
discover a sharp or well-defined distinction in the ordinary use of the words
between tselem (OT:6754) and d¦muwt (OT:1823), than between b¦ and k¦. tselem
(OT:6754), from tseel (OT:6738), lit., a shadow, hence sketch, outline, differs
no more from d¦muwt (OT:1823), likeness, portrait, copy, than the German words
Umriss or Abriss (outline or sketch) from Bild or Abbild (likeness, copy). b¦
and k¦ are also equally interchangeable, as we may see from a comparison of
this verse with Gen 5:1 and 3. (Compare also Lev 6:4 with Lev 27:12, and for
the use of b¦ to denote a norm, or sample, Ex 25:40; 30:32,37, etc.) There is
more difficulty in deciding in what the likeness to God consisted. Certainly
not in the bodily form, the upright position, or commanding aspect of the man,
since God has no bodily form, and the man’s body was formed from the dust of
the ground; nor in the dominion of man over nature, for this is unquestionably
ascribed to man simply as the consequence or effluence of his likeness to God.
Man is the image of God by virtue of his spiritual nature. of the breath of God
by which the being, formed from the dust of the earth, became a living soul.

(Note: "The breath of God became the soul of man; the soul of man
therefore is nothing but the breath of God. The rest of the world exists
through the word of God; man through His own peculiar breath. This breath is
the seal and pledge of our relation to God, of our godlike dignity; whereas the
breath breathed into the animals is nothing but the common breath, the
life-wind of nature, which is moving everywhere, and only appears in the animal
fixed and bound into a certain independence and individuality, so that the
animal soul is nothing but a nature-soul individualized into certain, though still
material spirituality."-Ziegler.)

 

"And they
(’aadaam (OT:120), a generic term for men) shall have dominion over the
fish," etc. There is something striking in the introduction of the
expression "and over all the earth," after the different races of
animals have been mentioned, especially as the list of races appears to be
proceeded with afterwards. If this appearance were actually the fact, it would
be impossible to escape the conclusion that the text is faulty, and that chayat
(OT:2416) has fallen out; so that the reading should be, "and over all the
wild beasts of the earth," as the Syriac has it. But as the identity of
"every creeping thing that creepeth upon the earth" (h’rts (OT:776))
with "every thing that creepeth upon the ground" (h’dmh) in v. 25 is
not absolutely certain; on the contrary, the change in expression indicates a
difference of meaning; and as the Masoretic text is supported by the oldest
critical authorities (LXX, Sam., Onk.), the Syriac rendering must be dismissed
as nothing more than a conjecture, and the Masoretic text be understood in the
following manner.

(from Keil &
Delitzsch Commentary on the Old Testament: New Updated Edition, Electronic
Database. Copyright (c) 1996 by Hendrickson Publishers, Inc.)

SUKA, SAYANG & CINTA

Filed under: LOVE — dedewijaya at 2:16 am on Wednesday, March 12, 2008

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keogoisanmu sendiri
Saat kau MENYAYANGI  seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri
Saat kau MENCINTAI  seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya "bolehkah aku menciummu?"
Saat kau MENYAYANGI  seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya "bolehkah aku memelukmu?"
Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangganya.

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "sudahlah, jangan menangis"
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya mengangis di
pundakmu sambil berkata "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama.

SUKA adalah saat kau melihatnya maka kau akan berkata "ia sangat cantik dan menawan
SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihat dari hatimu dan bukan matamu
CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata "Buatku dia adalah anugrah terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku"

Pada saat orang yang kau SUKA menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau bicara lagi padanya
Pada saat orang yang kau SAYANG manyakitimu, engkau akan menangis untuknya
Pada saat orang yang kau CINTAI menyakitimu, kau akan berkata "Tak apa dia hanya tak tahu apa yang dia lakukan.

Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu
Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH
Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA  dengan setia dan tulus.

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan
SAYANG adalah kau akan menenmaninya disaat dia membutuhkan
CINTA  adalah kau akan menemaninya disaat bagaimanapun keadaanmu
Images

SUKA adalah hal yang menuntut
SAYANG adalah hal yang memberi dan menerima
CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.

APA YANG SEHARUSNYA DAN YANG TIDAK SEHARUSNYA DILAKUKAN OLEH PENDETA

Filed under: News — dedewijaya at 7:44 am on Sunday, March 9, 2008

APA YANG SEHARUSNYA DAN YANG TIDAK SEHARUSNYA
DILAKUKAN OLEH PENDETA

(Do’s and Don’ts for the Pastor)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell Alih Bahasa Wisma Pandia,
Th.M.

Editor Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Apa yang Seharusnya Dilakukan Oleh
Pendeta

 

Di dalam Kehidupan Pribadinya

 

1. Berusahalah untuk tetap memelihara hubungan yang erat bersama
dengan keluarga anda. Berikanlah waktu yang berkualitas untuk mereka.
Tempatkanlah istri dan anak-anak sebagai prioritas yang utama.

2. Buatlah sebuah keyakinan, sebagai tempat yang utama, bahwa
anda akan menikahi seorang wanita yang baik, seseorang yang memiliki
kualitas untuk menjadi seorang istri pendeta yang baik.

3. Milikilah sebuah waktu dan hari yang khusus bagi istri dan
anak-anak anda untuk menikmati kebersamaan.

4. Ambillah waktu untuk berdoa, untuk sendirian bersama Tuhan.
Milikilah saat teduh bersama Tuhan. Beritahukan kepada jemaat tentang
skedulnya agar yang lain dapat dilakukan dalam waktu yang sesudahnya.
Bawalah semua hal kepada Tuhan di dalam doa. “Berdoalah dengan
tidak henti-hentinya” (1 Tes. 5:17).

5. Milikilah komitmen setiap hari kepada Tuhan. Ambillah sebuah
perlengkapan rohani kedalam diri anda setiap hari. Apakah anda
bertumbuh dalam anugrah dan pengetahuan di dalam Allah.

6. Milikilah sebuah contoh kehidupan orang Kristen yang baik
dalam segala hal di hadapan semua orang. Kontribusikanlah dengan
lebih, lebih daripada sekedar persepuluhan.

7. Jadilah seorang yang cermat dan memiliki etika dalam setiap
urusan yang dilakukan. Milikilah catatan keuangan yang baik, dan
membayar tagihan tepat waktu.

8. Jadilah orang yang dapat dipercayai dan tempat orang
bergantung.

9. Jadilah orang yang tepat waktu di dalam setiap janji yang anda
buat.

10. Milikilah selalu sikap yang positif. Jangan pernah mengikuti
perasaan diri yang cenderung bersikap negatif, jadilah orang yang
suka mengalah. Dan lihatlah selalu sisi positif dari setiap masalah.

11. Biarkanlah pikiran selalu terbuka terhadap ide-ide yang baru,
tetapi menjadi lambatlah untuk mengikuti hal-hal iseng yang bersifat
murahan.

12. Perlihatkanlah antusiasme dan kewaspadaan.

13. Jagalah kekuatan dan kesehatan fisik. Hal itu akan membuat
perbedaan yang besar antara kemenangan dan kekalahan di dalam pelayan
anda.

14. Usahakanlah mengontrol kesehatan anda secara rutin.

15. Periksalah untuk melihat apakah pernafasan anda sangat baik.
Nafas yang bau dari seorang pendeta merupakan sebuah hal yang buruk.

16.  Ambillah sedikit waktu setiap minggunya untuk memulihkan
diri dan menyegarkan mental, emosi dan kekuatan spiritual.

17. Berpakaianlah dengan pantas setiap waktu, terutama pada hari
Minggu dan selama hari-hari biasa.  Berpakaian yang bersih,
rapi, necis dan sesuai dengan style.

18. Berpakaianlah sesuai dengan kebiasaan yang wajar, tidak
terkesan menonjol, dan warna terang serta gaya yang berlebihan.

19. Jika hal itu tepat, milikilah perasaan yang nyaman untuk
memakai pakaian kasual.

20. Usahakanlah kuku anda
kelihatan bersih dan bila perlu gunakanlah pembersih tangan untuk
menjaga agar tangan anda kelihatan bersih. Usahakan rambut anda
bersih, teratur dan disisir. Jangan mengabaikan sepatu anda;
usahakanlah selalu agar tetap berkilat dan tumit yang tidak menonjol.
Pakailah kaus kaki yang sesuai dengan warna sepatu dan pakailah kaus
kaki yang berwarna hitam saat anda berada di atas panggung.
Perhatikanlah bahwa anda memiliki kerah yang bersih, jas yang rapi
serta celana panjang yang rapi serta disetrika.

21. Penampilan terbaik
yang harus diperlihatkan setiap hari adalah sebuah kecerdasan, dan
senyum yang lebar. Dunia membutuhkan hal itu.

22.  Seimbangkan
pembelajaran anda dengan tanggung-jawab pastoral; terutama milikilah
waktu untuk belajar.

23. Berilah kepada diri
anda waktu yang cukup dalam mempersiapkan khotbah.

24. Berusahalah untuk
menjadi seorang pelajar setiap hari dalam kehidupan anda.

25. Bacalah biografi dari
orang-orang besar termasuk yang dari sekuler, sebaik anda dalam
membaca sejarah gereja.

26. Pelajarilah literatur
klasik, tetapi diatas semuanya, pelajarilah Alkitab secara teratur.
Cara untuk melakukan ini adalah dengan mengkhotbahkannya secara
teratur dari kitab-kitab di dalam Alkitab.

27. Milikilah sebuah
perencanaan dalam membaca. Terbiasalah dengan literatur-literatur
yang hebat dengan cerita yang berhubungan dengan masalah seni dan
musik dan lain sebagainya. Hasil dari semuanya itu akan memiliki
dampak yang baik terhadap khotbah yang akan menjadi lebih kaya dan
menarik.

 

 

Di Dalam Pelayanan
Khotbahnya

 

1. Khotbahkanlah firman. Inilah yang
Allah sampaikan, yang harus kita lakukan (1 Tim. 3:16-4:2).

2. Berkhotbahlah seperti yang dilakukan oleh Paulus: Pertama
doktrin kebenaran Allah, lalu seruan praktikal yang didasarkan atas
kebenaran yang disingkapkan. Permohonan pragmatis kita harus selalu
datang dari tesis doktrin kita.

3. Sampaikan kebenaran Alkitab tidak masalah apakah itu popular
atau tidak. Kritik tetap akan datang dan ia tidak peduli terhadap
apapun yang dikhotbahkan. Jika hal itu hanya kritik dari manusia, itu
bukan merupakan suatu masalah.

4. Biarlah teguran terhadap kesalahan
dan ketidaksetiaan tidak berasal dari Allah.
Selalulah
melayani dan berkhotbah untuk menyenangkan Bapa surgawi kita.

5. Jangan pernah ragu terhadap kebenaran Alkitab. Khotbahkanlah
itu dengan semangat dan keyakinan. Jangan menjadi orang yang
sedang-sedang saja, jadilah seorang pengkhotbah yang hebat semampu
anda.

6. Jadilah benar dalam keyakinan anda, terhadap Allah, terhadap
diri anda sendiri. Jangan berkompromi terhadap diri anda sendiri.
Seorang pejabat denominasi berkata kepada saya ketika saya terpilih
menjadi presiden dari Southern Baptist Convention: “Criswell,
jangan pernah berusaha untuk berdamai dengan kaum liberal. Mereka
tidak akan menjadi seperti yang anda inginkan, tidak peduli terhadap
apa yang anda lakukan.” Saya belajar betapa berharganya peringatan
itu. Jika saya memiliki sehelai rambut liberal di kepala saya, saya
akan mencabutnya keluar.

7. Berikanlah prioritas utama dalam pelayan anda terhadap usaha
memenangkan jiwa dan persiapan khotbah.

8. Berkhotbahlah untuk sebuah putusan. Arahkanlah untuk sebuah
keputusan. Buatlah khotbah itu sendiri menjadi sebuah seruan yang
kuat terhadap Allah. Lakukanlah pekerjaan penginjilan.

9. Pergunakanlah tata bahasa dan pilihan kata yang indah.
Berhati-hatilah dalam pengucapan kata-kata anda. Mereka merupakan
sebuah wahana yang mengantarkan pesan anda.

10. Berkhotbahlah secara eksposisi sesering mungkin.

11. Ambillah keuntungan dari hari-hari yang khusus. Gunakan mereka
untuk menekankan pesan yang akan dibawa seperti ibu, negara kita,
berkat kita dari Allah, atau kematian,  atau kebangkitan.
Hari-hari khusus dapat menjadi sebuah batu loncatan besar jika kita
mengarahkan mereka untuk mengkhotbahkan kebenaran Allah.

12. Seorang pengkhotbah harus menjadi “Seorang yang handal
dalam mengajar”
(1 Tim. 3:2). Ini merupakan salah satu
kualifikasi terhadap panggilannya
. Mengajarlah di dalam khotbah
anda. Jemaat membutuhkan instruksi yang sesuai dengan kehendak Allah.

13. Gunakanlah ilustrasi yang tepat dalam khotbah anda. Mereka
akan menerangi sebuah khotbah dengan cahaya. Mereka merupakan jendela
dari surga yang dicurahkan dalam kebijakan dan pemahaman yang dari
Allah. Kebanyakan dari mereka timbul dari pengalaman pribadi. Jika
pendeta melayani bersama dengan jemaatnya. Maka dia akan memiliki
bermacam-macam ilustrasi terhadap kebenaran dari khotbahnya.

14. Buatlah Kristus Yesus sebagai pusat dari khotbah anda. Jika
Roh Kudus  bersama anda, muliakanlah Tuhan Yesus. Itu merupakan
pelayanan dan tugas dari Roh Kudus (Yoh. 16:13-14).

15. Milikilah selalu roh yang sederhana. Selubungilah diri anda
dengan kesederhanaan, sebagaimana anda melakukannya dengan penampilan
anda.

16. Doronglah jemaat agar berdoa untuk anda selama anda
berkhotbah. Doronglah mereka untuk mempelajari Alkitab mereka dan
bawalah mereka untuk melakukan ibadah penyembahan di dalam gereja.

17. Tampilkanlah dihadapan umum perhatian dan kasih terhadap
Alkitab di dalam kebiasaan memperlakukannya. Kami berusaha untuk
mengajarkan anak-anak agar peduli terhadap Alkitab mereka. Ketika
seseorang berdiri di depan mereka dan  dan menggulung Alkitabnya
atau melipatnya atau menyandangnya secara serampangan hal itu
bertentangan dengan perhatian yang penuh hormat, kita harus
memperlakukannya dengan kesan yang baik.

18. Biarlah sebuah khotbah diarahkan kepada sebuah pemahaman dan
ketetapan yang objektif. Jika anda berkhotbah tanpa tujuan maka hal
itu akan menjadi sebuah kesia-siaan.

 

 

Pendeta dan Ibadah
Gereja

 

1. Penampilan fisik dari gereja harus selalu diperhatikan
sebagaimana kita menjaga hati kita sebagai bait Allah. Gereja
harus selalu bersih, nyaman, indah
dan sebagai tempat kunjungan
yang kita inginkan.

2. Biarkan jemaat Minggu demi Minggu meletakkan bunga di gereja
untuk menghormati atau mengenang seseorang yang mereka kasihi.

3. Usahakan semua alat musik di gereja dirawat dengan baik dan
pada tempatnya.

4. Milikilah sebuah musik saat jemaat memasuki ruangan gereja,
setidaknya suara organ yang memainkan sebuah himne yang sudah
familiar.

5. Milikilah sebuah podium pribadi yang terlihat manis, menarik
perhatian, dan yang membesarkan Allah.

6. Hendaklah pendeta memiliki kesempatan untuk menemui setiap
pengunjung. Hal ini akan “membuat kesan bersahabat dan memberikan
pengaruh terhadap jemaat.”

7. Biarlah setiap ibadah menjadi sebuah ibadah yang penuh pujian.
Marilah kita bersama-sama memasyurkan namaNya (Mazmur 34:4).

 

Pendeta Dalam Melayani
Jemaat

 

  1. Berdoalah
    untuk setiap pergumulan dari kawanan domba anda.

2. Menjadi seseorang yang sensitif terhadap perasaan, kedukaan
dan kemuraman mereka.

3. Jadilah seorang pendengar yang empatik.

4. Milikilah kesempatan untuk berbagi waktu bersama mereka.
Bantulah sebisa mungkin untuk menghadapi dan memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dari keluarga-keluarga yang ada di dalam gereja.

5. Bersabarlah terhadap kegagalan dan kelemahan orang lain.

6. Kunjungilah keluarga setiap jemaat jika mungkin. Hargailah
kehadiran anak-anak kecil, jika mungkin panggillah mereka dengan nama
mereka.

7. Hal yang paling utama adalah untuk memimpin jiwa-jiwa yang
terhilang kepada Kristus bahwa seorang pendeta dapat meminta kepada
jemaatnya untuk mengasihi mereka secara pribadi.

8. Hargailah kerahasiaan anggota jemaat yang mencurahkan kepada
telinga pendeta segala persoalan mereka. Berdoalah untuk semua
masalah mereka, beritahu kepada Allah tentang hal itu, dan tidak ada
yang lain lagi.

9. Tulislah sebuah surat pengakuan dan penghargaan.

10. Berusahalah selalu untuk memuji dan mendorong orang lain.
Lihatlah kebaikan didalam diri mereka dan kuburkanlah hal-hal yang
buruk.

11. Dengarkanlah setiap anggota jemaat. Kadang kala mereka hanya
butuh orang untuk mendengarkan.

12.  Layanilah secara
berganti-ganti dan bukan dengan sikap profesional orang-orang yang
sakit dan kehilangan.
Beradalah dalam
kedukaan mereka, bukan karena anda dibayar untuk melakukannya tetapi
karena anda memang ingin untuk melakukannya.

13. Jadilah gembala yang baik. Ambillah waktu untuk mengunjungi
jemaat yang sakit di rumah sakit; hal itu akan sangat berarti bagi
orang yang sedang putus asa.

14. Dalam konseling bersama dengan wanita di gereja, yakinlah
bahwa sekretaris anda atau orang lain dekat di situ. Dalam suatu
kunjungan ke suatu rumah, ajaklah istri anda atau orang awam yang
baik bersama anda.

15. Ketika kematian datang ke dalam keluarga anggota jemaat,
usahakanlah untuk mengunjungi keluarga yang berduka tersebut.

16. Mintalah kepada Allah untuk memelihara anda dalam kasih yang
penuh simpati dan sensitivitas terhadap orang-orang yang membutuhkan
anda.

17. Perhatikan emosi anda! Seorang pendeta dapat melepaskan dalam
lima menit semua kemajuan dan perhatian dari pekerjaannya yang telah
dilakukan selama lima puluh tahun yang penuh prestasi dengan mencaci
maki seorang anggota staf atau anggota jemaat atau orang lain. Orang
yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan
kebodohannya…. Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman (Amsal
14:29; 15:1).

18. Ketika sebuah artikel muncul di surat kabar yang menonjolkan
prestasi dan keberhasilan dari salah satu anggota jemaat atau
sekolah, guntinglah artikel tersebut dan sebut surat yang penuh
penghargaan.

 

Dalam Pelayanan
Memenangkan Jiwa

 

1. Biarlah seorang pendeta menjadi pemimpin dalam setiap usaha
untuk memenangkan jiwa. Dia seharusnya jangan pernah meminta orang
untuk melakukan sesuatu sementara dia sendiri tidak melakukannya.

2. Pertahankanlah sebuah program yang sedang bejalan di gereja
yang menemukan prospek supaya jemaat dapat melakukan kunjungan. Hal
ini dapat dilakukan melalui sebuah sensus, informasi yang diperoleh
dari pengunjung gereja, dan beberapa cara lainnya. Tetapi gunakanlah
mereka dengan penuh semangat.

3. Hubungi orang-orang melalui telepon. Hal itu merupakan cara
yang jitu untuk mendekati prospek.

4. Latihlah semua jemaat dalam usaha untuk memenangkan jiwa dan
dalam pendisplinan.

5. Jadilah orang yang konsisten dan tekun di dalam usaha
memenangkan jiwa, jangan dengan mendadak dan angin-anginan, tetapi
sebagai sebuah materi dalam dedikasi yang panjang.

6. Biarlah pendeta melakukan kunjungan dengan anggota staf dan
orang awam lainnya di dalam gereja sesering mungkin.

7. Usahakan penginjilan sebagai program yang paling utama di
dalam gereja.

8. Kunjungan harus menjadi pertimbangan utama bagi pendeta
sebagai aktivitas yang paling penting di dalam gereja, dan lebih jauh
sebagai aktivitas yang dapat dilakukan dalam hari-hari biasa.

9. Jemaat harus dipimpin untuk mengadakan kunjungan secara
regular. Jika kita pergi maka yang terhilang akan datang.

10. Merupakan hal yang indah bagi pendeta untuk mengunjungi
jemaatnya, untuk mengenal mereka dengan keluarga dan memanggil mereka
dengan nama mereka.

11. Biarlah pendeta memperbanyak waktu kunjungan kepada jemaat.
Usahakan jemaat mendoakannya dengan perhatian yang serius,
mengingatnya senantiasa dalam doa permohonan.

12. Bangunlah sebuah kebijaksanaan tentang penerimaan anak-anak ke
dalam baptisan. Aturlah sebuah periode waktu untuk memberikan mereka
petunjuk dalam keanggotaan jemaat dan usia mereka untuk baptisan.
Secara pribadi saya memiliki aturan untuk tidak membaptis anak-anak
sebelum usia mereka mencapai sembilan tahun.

13. Biarlah pendeta memiliki sebuah kepastian untuk mengunjungi
setiap anak dan keluarganya sebelum dibaptis.

14. Para petobat baru dan anggota jemaat baru harus diterima ke
dalam gereja secara pribadi dan dengan keramahan. Buatlah setiap
orang merasa spesial. Ini akan menciptakan semangat kehangatan dan
persekutuan di dalam kehidupan gereja.

 

 

Pelayanannya Dalam
Mengadministrasi dan Mengorganisir Gereja

 

1.Biarlah
pendeta berdoa agar Allah membantunya untuk menjadi administrator
gereja yang baik. Dia membutuhkan semua kebijaksanaan dari seorang
pejabat ekskutif.

2. Rencanakanlah
sebuah program yang besar bagi gereja. Mimpikanlah mimpi yang baik
untuk jemaat dan percayalah bahwa Allah akan membawa mimpi anda itu
menjadi kenyataan.

3.Bangunlah
sebuah program yang seimbang untuk memenuhi semua kebutuhan jemaat
dan kerajaan Allah, ingatlah bahwa Sekolah Minggu merupakan alat
terhebat yang kita miliki dalam menjangkau orang-orang.

4.Kenalilah
sekolah Minggu secara pribadi dan pelayanan mereka. Berkunjunglah
dengan mereka di dalam pelayanan mereka kapan saja dan dimana saja
sebisa mungkin.

5.Harapkanlah
prestasi yang besar baik dari staf atau semua pemimpin yang ada di
gereja. Delegasikanlah tanggung-jawab kepada anggota staf dan
pemimpin gereja, harapkanlah mereka untuk melakukan pekerjaan mereka
dengan baik. Ketika kuasa dilimpahkan. Berdirilah dengan seseorang
yang melakukan tugas tersebut terutama ketika ada konfrontasi yang
diakibatkan ketidak-puasan diantara anggota. Berikanlah kebebasan
bagi pemimpin yang terpilih untuk menjalankan fungsinya.

6.Berikan
pujian kepada setiap orang. Orang-orang suka dipuji. Pujilah staf
anda dan pemimpin di depan umum. Dorong mereka untuk melakukan dengan
lebih kepada Yesus.

7. Biarlah
pendeta melakukan sentuhan terhadap setiap aktivitas gereja di dalam
beberapa cara. Biarlah dia berjaga-jaga terhadap setiap area dalam
kehidupan gereja dan mengetahui apa yang sedang terjadi.

8.Biarlah
pendeta bekerja, menetapkan dan memberi perintah tanpa memihak.
Adalah mudah untuk memperlihatkan sikap memihak kepada seseorang hal
itu berarti—kemampuan seseorang dalam memimpin—orang yang
memiliki banyak talenta—orang yang memiliki kepribadian yang
hangat, tetapi disana masih banyak orang lain yang butuh untuk
dihargai.

9.Bangunlah
sebuah Sekolah Minggu yang kuat. Sekolah Minggu merupakan tulang
punggung dari gereja. Sebagaimana Sekolah Minggu bertumbuh, demikian
pula gereja bertumbuh. Hal itu membutuhkan staf yang baik yang
memerlukan latihan kepemimpinan. Sebuah pelatihan yang berkelanjutan
sangat dibutuhkan. Doa mingguan, pembelajaran mingguan dan persiapan
mingguan merupakan hal yang penting.

Pendeta
harus menjadi seorang pendukung yang keranjingan terhadap Sekolah
Minggu dan sampaikan hal itu sesering mungkin, sebagaimana dia
memiliki banyak waktu untuk melihat program Sekolah Minggu. Mayoritas
jemaat kami, kebanyakan dari mereka dimenangkan kepada Allah melalui
Departemen Sekolah Minggu.

10. Biarlah pendeta secara istimewa mengambil keuntungan secara
besar-besaran dari pengalaman dari kelompok usia lima puluh hingga
enam puluh empat tahun. Ini merupakan sebuah waktu pencapaian, baik
secara finansial dan sosial, kepada sebuah kesepakatan yang besar.
Banyak orang-orang profesional dan memiliki kemampuan untuk menonjol
di lahan mereka. Kebanyakan dari mereka telah memiliki pertumbuhan
rohani dan telah memiliki aktivitas di dalam kehidupan gereja. Tidak
hanya dapat dikontribusikan kepada kebutuhan kepemimpinan tetapi juga
menjadi aset yang berharga untuk program keuangan dari gereja.

11. Libatkan setiap orang yang anda pikir mereka mampu  dalam
kesempatan melayani. Jadikan orang-orang percaya sebagai murid.
Latihlah mereka untuk tempat kepemimpinan dalam gereja. Organisasikan
mereka ke dalam lingkaran untuk memenangkan jiwa. Pertahankan hal itu
setiap tahunnya.

12. Rencanakan dan telurkan rencana yang telah dibuat untuk
pelayanan menjangkau keluar. Mari kita membangun pekerjaan kita jauh
dari tembok-tembok ruangan gereja.

13. Usahakanlah mengadakan pertemuan dengan pemimpin staf gereja
secara regular. Bertemulah dengan mereka secara pribadi dan lakukan
sesering mungkin. Biarlah menjadi sebuah catatan yang baik sebuah
semangat dari karakteristik kasih dalam hubungan antara pendeta
dengan staf pemimpin.

14. Kelilingilah diri anda dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan
dan pelayanannya.

15. Gunakan diaken dan komite diaken untuk membantu anda di dalam
pelayanan anda, terutama di dalam mengatur jemaat.

16. Gunakanlah waktu bersama orang, dimana Allah telah mengirim
mereka kepada anda; ajarlah mereka; jadikan mereka pelayan yang benar
bagi Allah, dan curahkanlah hidup anda bagi mereka.

17. Berdoalah selalu dan menyebutkan nama mereka yang telah
terpilih ke dalam persekutuan diaken, yang bekerja berdasarkan
ketetapan komite, dan semua orang yang mengajar dan melatih di
organisasi gereja.

18. Ekspresikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada para
pekerja anda. Banyak orang memberikan hidup mereka, talenta mereka
untuk pelayanan dan untuk Tuhan. Allah akan memberkati itu semua,
tetapi tentu saja perlu dorongan pendeta  kepada mereka untuk
mengekspresikan rasa terima kasih dan penghargaan.

19. Buatlah tujuan yang tertulis untuk setiap area dan divisi dan
departemen dalam gereja dan kaji setiap kemajuan berdasarkan tujuan
yang telah ditetapkan.

20. Pelihara dengan benar dan sungguh-sungguh, praktek bisnis dan
prosedur dalam setiap fungsi dari gereja. Tidak seharusnya ada
pertanyaan yang dibangkitkan sehubungan dengan integritas kita dalam
hal keuangan gereja.

21. Milikilah sebuah perpustakaan atau media center di
dalam gereja dan doronglah anggota jemaat untuk menggunakan materi
itu. Kehidupan mereka akan diperkaya. Guru dapat meningkatkan mutu
pengajaran mereka jika mereka menemukan dan menggunakan kegunaan dari
materi itu. Allah juga berbicara melalui media cetakan.

22. Bangunlah dengan pasti, tepat,  dengan penuh respek dalam
mengatur partisipasi dari orang-orang yang secara regular bekerja dan
aktif dalam ibadah.

23. Libatkanlah banyak pemimpin yang memiliki kapasitas di dalam
merencanakan program gereja. Hal itu akan menjadi prioritas utama
dalam perhatian mereka.

24. Jangan ragu-ragu untuk menggunakan sejumlah uang dalam
mendiskusikan metode bagaimana meningkatkan praktek administrasi
gereja dengan orang-orang yang memiliki kemampuan.

25. Kenalilah nilai dari prasekolah (Cradle Roll, Nursery dan
Pemula) dalam keseluruhan program gereja.

26. Doronglah orang-orang dewasa untuk mengajar anak-anak.
Bagaimana mungkin seorang anak yang tidak memiliki ayah Kristen
berhasrat untuk berhubungan dengan Bapa surgawi kita? Kecuali kita
membangun relasi mereka terlebih dahulu dengan ayah Kristen mereka.

27. Doronglah jemaat yang memiliki kemampuan untuk mengajar di
area anak-anak.

28. Ingatkanlah para pemimpin gereja terhadap anak-anak.
Seringkali mereka melupakan hal tersebut.

29. Tuntunlah jemaat untuk memenuhi setiap biaya kebutuhan
anak-anak di dalam anggaran tahunan.

30. Milikilah kelas untuk setiap umur dalam mempersiapkan mereka
dalam baptisan dan keanggotaan gereja.

31. Ingatlah bahwa wanita di dalam jemaat dapat memiliki sumber
daya yang luas dalam memberikan pertolongan jika mereka diolah dalam
sebuah kebiasaan yang positif.

32. Dihadapan setiap masalah, selalulah bertanya kepada diri anda
pertanyaan ini: Bagaimanakah Yesus dapat menangani situasi ini?

 

Kepemimpinan Pendeta
dalam Misi

 

1. Milikilah pikiran misi dan hati yang memiliki misi.
Sebagaimana pendeta demikian juga dengan
jemaat. Ketika pendeta memiliki ketetapan terhadap kebutuhan
orang-orang dan memimpin jemaatnya untuk memenuhi keperluan ini dalam
nama Tuhan, maka jemaat akan mengikutinya.

2. Usahakanlah dan milikilah sebuah semangat misi dalam gereja.
Hal ini harus dibangun di dalam diri pendeta terlebih dahulu lalu
dalam sebuah usaha yang dicurahkan dalam sebuah bagian program gereja
untuk mendukung pesan misi. Pemberian harus direpresentasikan sebagai
sebuah tugas tetapi sebagai sebuah keistimewaan yang menjadi upah
bagi diri sendiri (Kis. 20:35).

3. Doronglah misi pendidikan untuk setiap umur. Dukunglah lembaga
misi yang disponsori oleh gereja.

4. Milikilah perhatian terhadap Amanat Agung dari Tuhan kita
(Mat. 28:19-20; Kis. 1:8). Biarlah pendeta memimpin jemaat untuk
melakukan ketiga hal ini: menjadi murid, membaptis dan mengajar ke
seluruh dunia.

5. Pendeta harus familiar dengan program misi pendidikan termasuk
MWU dan Persaudaraan Kaum Pria untuk menyediakannya untuk keseluruhan
jemaat.

6. Pendeta harus mempromosikan misi melalui mimbar di dalam
khotbah dan cara yang alami yang memperlihatkan perhatiannya terhadap
misi. Misi tidak selamanya harus menjadi sebuah proyek, tetapi harus
dipromosikan sebagai sebuah bagian yang vital di dalam gereja.

7. Staf misi pendidikan harus menjadi bagian dari staf gereja
dengan garis besar dan tujuan yang diorganisasi oleh kehidupan
gereja.

8. Sediakanlah sebuah kesempatan (ibadah doa, penekanan misi
secara khusus dalam ibadah malam) dalam misi yang akan dibicarakan.

9. Sediakan kesempatan bagi anggota jemaat untuk saling berbagi
dalam sebuah kelompok besar yang berpengalaman dalam masalah misi.

10. Doronglah orang-orang muda untuk memiliki hati misi untuk
bekerja dalam gereja, dalam kota, dan setiap area yang jauh dari
rumah. Berikan orang-orang muda sebuah kesempatan untuk saling
berbagi pengalaman.

11. Doronglah misi yang didukung dengan mendokan para misionaris,
dengan mengunjungi misionaris untuk saling berbagi dalam program
gereja, dan dengan menyediakan doa khusus untuk misi, dengan
mensetting tujuan dari pemberian.

12. Pendeta harus mendorong anggota yang berhenti dari gereja
untuk berpartisipasi dalam tim misi dalam asosiasi program misionari
dan dalam Korps Pelayan Kristen (the Chriatian Service Corps).

13. Milikilah pengertian yang mendasar tentang kepentingan misi
pendidikan kepada anak-anak pra sekolah dan tingkatan usia muda.

14. Pelajarilah nama dan level usia dari tiap organisasi.

15. Pelajarilah tujuan dari organisasi.

16. Rencanakanlah untuk mengunjungi satu atau lebih dari
pertemuan, retreat atau pesta yang diselenggarakan oleh tiap kelompok
selama setahun.

17. Ambillah sebuah bagian yang aktif dalam pengenalan ibadah.

18. Akuilah sebuah prestasi khusus oleh sebuah kelompok dalam
ibadah minggu atau dalam ibadah doa Rabu malam.

19. Berikan keabsahan pada organisasi ini melalui mimbar dan juga
di dalam bulletin gereja.

20. Berikanlah perhatian kepada peristiwa khusus yang disponsori
oleh organisasi.

21. Dukunglah “Minggu Doa.”

22. Mintalah misionaris untuk berbicara dalam ibadah minggu.

23. Ekspresikan ungkapan terima kasih dihadapan umum dan secara
pribadi terhadap pemimpin sukarelawan dalam organisasi ini.

 

Pelayanan Pendeta di
Luar Gereja

 

1. Ada banyak tanggung-jawab denominasi yang diletakkan ke atas
pendeta di luar dari gereja lokalnya, misalnya:  asosiasi,
ketetapan denominasi, pendidikan, badan misi, konferensi dan
lain-lain. Anda dapat membantu semampu anda.

2. Dalam setiap cara yang mungkin, berusahalah untuk menjadi
pemimpin dalam komunitas. Ambillah keuntungan dalam setiap kesempatan
untuk membantu proyek komunitas yang berfaedah.

3. Usahakanlah sebuah persahabatan
dengan lembaga pelayanan lain  (dan juga Gereja lain) yang memiliki
iman yang sama.

4. Dengan melihat hubungan kita dengan denominasi lain, tidak ada
gereja yang mengisolasi dirinya sendiri. Tidak seharusnya untuk
berdiri dan tersisih dari komunitas Kristen.  Harus ada sebuah
hubungan persahabatan yang dibangun dengan denominasi Kristen lainnya
yang berbeda pandangan. Kita harus memiliki hati yang lembut dalam
penilaian kita terhadap yang lain dan kita harus abstain dalam bahasa
yang direfleksikan oleh motivasi dari mereka yang berbeda dengan
kita. Ada begitu banyak cara bagi kita untuk menolong dan membantu
orang-orang yang juga dipanggil dalam nama Tuhan kita. Gereja akan
dibangun dengan lebih efektif dalam karunianya sendiri dan kekuatan
rohaninya sendiri jika dapat bekerja sama dengan yang lainnya dan
terutama dengan mereka yang memiliki kesamaan dengan kita, seperti
denominasi kita sendiri.

Seorang
pendeta Jerman, Martin Niemoller, merupakan seseorang yang terkemuka
dalam kalangan Protestan selama Perang Dunia II.  Dalam tulisan
tentang politik dan penganiayaan terhadap kepercayaan Yahudi oleh
Nazi Jerman, dia berkomentar: “Di Jerman, orang-orang nazi datang
kepada Komunis, dan saya tidak berbicara dengan terus terang sebab
saya bukan Komunis. Lalu mereka datang kepada orang-orang Yahudi, dan
saya tidak berbicara dengan terus terang karena saya bukan Yahudi.
Lalu mereka datang kepada Trade Unionists, dan saya tidak berbicara
dengan terus terang sebab saya bukan Trade Unionists. Lalu mereka
datang kepada Katolik, dan saya merupakan seorang Protestan, sehingga
saya tidak berbicara dengan terus terang. Lalu mereka datang kepada
saya—tetapi pada waktu itu tidak ada seorangpun yang berbicara
dengan terus terang.”

5. Dalam hubungan kita dengan penerus kita setelah kita
meninggalkan pengembalaan gereja, harus diikuti oleh etika pelayanan
yang baik. Pendeta yang baru merupakan manusia Allah yang baru bagi
jemaat. Berdoalah untuk pelayanannya dan jangan merintangi dia.

Kembalilah
untuk pernikahan atau pemakaman atau untuk sebuah ibadah jika ada
undangan dari pendeta yang hadir. Tanpa undangannya jangan pernah
mencoba untuk masuk dalam kehidupan pengembalaan jemaat.

 

Yang Tidak Seharusnya
Dilakukan Oleh Pendeta

 

Secara Pribadi

 

1. Jangan pernah mengkompromikan firman Tuhan. Khotbahkanlah hal
itu dalam kuasa Roh Kudus.

2. Jangan buat alasan terhadap kebenaran Allah.

3. Jangan melakukan sesuatu yang mengganggu perasaan anda
terhadap kehendak Allah.

4.  Jangan meletakkan diri anda dalam sebuah pojok atau
hal-hal yang ditakuti oleh diaken, orang-orang kepercayaan atau
anggota jemaat yang berpengaruh. Jangan menjadi orang yang terlalu
dipengaruhi oleh orang-orang tertentu di gereja.

5. Jangan melupakan sahabat-sahabat anda.

6. Jangan menerima pemberian uang yang memberikan pengaruh buruk
terhadap kedudukan anda sebagai pendeta

7. Jangan kehilangan pandangan terhadap visi anda untuk
memenangkan jiwa.

8. Jangan membuat keputusan penting secara tergesa-gesa. Mintalah
pertimbangan kepada Allah dan nasihat yang bijaksana.

9. Jangan salurkan diri anda kepada hal-hal fisik dan emosional.
Anda akan menjadi lemah di atas mimbar jika anda melakukannya.

10. Jangan takut untuk mengakui kesalahan anda dan meminta maaf
atas kesalahan tersebut.

11. Jangan harapkan ucapan terima kasih.

12. Jangan mau berkecil hati oleh berbagai situasi.

13. Jangan menjadi orang yang berpikir negatif.

14. Jangan datang kepada sebuah ketetapan bahwa anda telah
memiliki semua jawaban. Jangan menganggap diri bahwa anda telah
memiliki solusi untuk setiap masalah.

15. Jangan datang kepada sebuah ketetapan bahwa anda memberitahu
Allah betapa terberkatinya Dia karena memiliki seorang pelayan
seperti anda.

16. Jangan lupakan keluarga anda.

17. Jangan abaikan yang sakit; jangan berpaling dari pelayanan
anda ke rumah sakit. Banyak masa ini merupakan sebuah kesempatan bagi
penginjilan untuk meraih semua keluarganya.

18. Jangan lupa berdoa untuk setiap kunjungan. Jemaat akan lebih
terberkati oleh doa perantaraan kita dari pada sebuah argumen dan
observasi manusia.

19. Jangan menjadi orang yang tidak peduli dan tidak dipercayai.

20. Jangan menerima kritikan yang bersifat destruktif.

21. Jangan menyalahkan orang lain atas kegagalan anda.

22. Jangan mencari kehormatan dari manusia. Pendeta tetap berdiri
atau jatuh di hadapan Allah dan bukan manusia.

23. Jangan mengkhianati kepercayaan orang-orang yang berbagi
dengan anda.

24. Jangan menjadi orang yang materialistik di dalam gaya hidup
anda.

25. Jangan biarkan diri anda jatuh ke dalam sikap
profesionalisme—pelayanan yang didasarkan karena anda dibayar untuk
itu, tetapi harus berasal dari kasih yang paling dalam bahwa anda
memang mau menolong secara tulus.

26. Jangan menjadi orang yang mendua hati.

27. Jangan berkecil hati akibat dari kegagalan orang lain.

28. Jangan berikan kepada iblis sebuah kesempatan untuk
menghancurkan pelayanan anda. Waspadalah ketika anda memberikan
konseling terutama terhadap wanita.

29. Jangan terlalu berharap terhadap keuntungan materi yang
diperoleh.

30. Jangan memperlihatkan masalah orang lain.  Jangan
sampai anda kehilangan temperamen anda—selalulah mengontrol diri
anda.
Anda merupakan pemimpin rohani.
Jangan membicarakan hal-hal yang negatif tentang anggota jemaat
kepada yang lainnya.
Jangan terganggu
tentang hal-hal sepele; waktu anda terlalu berharga. Jangan terganggu
dengan sikap oposisi atau kritik. Berdirilah dengan teguh; setiap
pemimpin mengalami hal itu. Hal itu memang diperlukan untuk membangun
diri.

31. Perhatikanlah pencobaan yang terlalu membanggakan diri di
dalam kemampuan anda melakukan sesuatu. Jangan berterima kasih
terhadap diri anda terhadap setiap kemenangan. Berterima-kasihlah
kepada Allah. Pujilah Dia untuk setiap kemenangan.

 

Dalam Organisasi

 

1. Jangan menjadi orang yang terpisah dari staf dan pemimpin
anda.

2. Jangan mencerca staf atau pemimpin anda di depan umum. Lakukan
hal itu secara pribadi, dan dengan penuh kasih serta anugrah.

3. Jangan mengkritisi lebih dari pada yang telah anda
perintahkan.

4. Jangan menjadi orang yang memiliki sikap diktator.

5. Janga menunjukkan apa yang menjadi favorit anda, termasuk
dalam staf, pemimpin atau anggota jemaat.

6. Jangan puji orang jika mereka tidak layak untuk
mendapatkannya.

7. Jangan menjadi seseorang yang suka melecehkan.

8. Jangan menjadi orang yang terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain
ketika anda tidak memiliki cukup waktu dalam mengurus kawanan domba
anda. Allah telah menetapkan anda menjadi gembala domba, jadi
setialah dalam melakukannya.

9. Jangan merasa bahwa anda harus melakukan kunjungan dengan
sendiri. Latihlah orang lain dan gunakan yang lain untuk membantu
anda dalam program kunjungan.

10. Jangan mengeluarkan dari sesuatu dari penekanan yang penting
hal-hal yang harus ditempatkan di Sekolah Minggu. Sebuah Sekolah
Minggu yang hebat akan memberikan keuntungan dalam setiap area dari
Kerajaan Allah.

11. Jangan menunda pembayaran bagi staf anda. Ada ungkapan yang
berbunyi, “Anda memperoleh atas apa yang anda bayar.”

12. Jangan memutuskan mata rantai dari komando yang telah disusun
di dalam stuktur gereja. Jangan biarkan orang-orang melampaui
pemimpin staf. Bekerjalah di dalam organisasi dan dengan para
pemimpin.

13. Jangan perlihatkan pertimbangan yang tidak semestinya kepada
satu divisi, departemen, pemimpin atau anggota. Hal itu harus
memerlukan diplomasi, taktik, doa dan kebijaksanaan. Untuk
meningkatkan kasih anda kepada tiap-tiap orang dengan kadar yang
sama.

14. Jangan membesar-besarkan masalah yang kecil.

15. Jangan melupakan bahwa anda adalah seorang pelayan.

16. Jangan pisahkan diri anda dari aktivitas komunitas dan
perhatian dari komunitas area.

 

Di Atas Mimbar

 

1. Jangan mengkhotbahkan khotbah yang sama secara berulang-ulang.

2. Jangan mengabaikan persiapan khotbah secara hati-hati dan doa
yang sungguh-sungguh. Jangan biarkan sesuatu mengganggu waktu untuk
belajar dan persiapan khotbah.

3. Jangan meremehkan kemampuan jemaat untuk belajar. Jika anda
mengajarkan firman sebagaimana anda mengkhotbahkannya, mereka akan
belajar dengan serius.

4. Jangan berbicara melampaui tingkat pemahaman jemaat.

5. Jangan meninggalkan mimbar terlalu lama. Kadang-kadang
beberapa saat juga sudah cukup.

6. Jangan berkhotbah melalui catatan jika mungkin.

7. Jangan melantur kesetiap tempat. Milikilah sebuah pemikiran
yang terarah, ekspresikan di dalam sebuah pesan yang terarah, raihlah
melalui sebuah tujuan yang terarah. Susunlah khotbah dengan baik.
Biarkan ia bergerak dengan logis dari tiap-tiap poinnya.

8. Jangan menjadi orang yang angkuh di atas mimbar. Di dalam
setiap cara dihadapan Allah perlihatkan kesederhanaan dan rasa
hormat.

9. Jangan mencoba untuk bertingkah seperti master sihir dalam
hal-hal spiritual. Merupakan pekerjaan Allah dalam membuat mukjizat.
Berikan semua pemikiran, rasa hormat, kemuliaan, pujian kepadaNya.
Agungkanlah Tuhan Yesus dan bukan diri anda sendiri.

10. Jangan lupa untuk saling berbagi dalam ibadah umum dengan
orang lain, baik di dalam mimbar dan melalui partisipasi pendengar.
Jangan berusaha untuk melakukan segala hal sendirian.

11. Jangan mencoba untuk menjadi orang lain. Jadilah diri anda
sendiri.

12. Jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih  dalam segala
hal dalam pujian kepada Tuhan. Biarlah ibadah umum memiliki nada,
keteraturan dan nuansa yang menyenangkan.

13. Jangan lupakan orang yang terhilang. Berkhotbahlah untuk
mereka. Jangan melupakan orang-orang yang memiliki luka di hati.
Mereka selalu hadir. Nyamankan dan kuatkanlah mereka. Jangan lupakan
orang-orang muda. Mereka merupakan harapan bagi masa depan. Jangan
lupakan orang-orang tua. Mereka telah membangun fondasi dimana kita
berdiri sekarang. Jagalah mereka selalu di hati anda, dalam doa, dan
dalam khotbah anda.

14. Jangan lupa untuk membawa sapu tangan anda ke atas mimbar.
Periksalah kantong anda untuk melihat apakah anda membawanya.

15. Jangan suka menonjolkan diri, Buanglah semua hal-hal masa lalu
yang buruk, usang, streotip, dan ekspresi yang menghabiskan tenaga.

16. Hindarilah gerak tubuh yang membingungkan.

17. Hindarilah mimik yang tidak sesuai dengan poin yang sedang
anda tekankan.

18. Jangan menjadi orang yang memiliki intelektual yang semu.

19. Jangan membuat janji pada Sabtu malam. Lebih baik untuk
persiapan esok hari.

20.  Jangan takut untuk melakukan ibadah yang tidak biasa.
Terutama  terhadap gereja yang sepi pada hari libur, ambillah
sebuah keuntungan dari situasi tersebut untuk menghadirkan sebuah
drama keluarga, program musik atau hal lainnya yang dapat membuat
orang tertarik.

21. Jangan membiarkan domba yang lapar datang pada saat ibadah dan
tetap lapar pada saat mereka meninggalkan ibadah.

22. Jangan membuat sebuah lelucon yang berhubungan dengan Tuhan
atau Roh Kudus di atas mimbar atau dimana saja.

23. Jangan permalukan orang lain dari atas mimbar.

24. Jangan ambil keuntungan dari jemaat melalui mimbar.

25. Jangan berkhotbah di dalam doa syafaat.

26. Jangan takut untuk berdiri demi kebenaran.

 

Spurgeon sungguh-sungguh
memiliki kewaspadaan terhadap ragam teologi  berseliweran dalam
agama-agama dunia. Dia tidak takut untuk bertempur melawan musuh. Dia
menerbitkan sebuah majalah bulanan, The Sword and the Trowel.
Judulnya diambil dari program Nehemia yang membangun kembali tembok
Yerusalem. Pedang mengindikasikan bahwa dia sedang bertarung dengan
musuh, sementara tajak menggambarkan pegangan yang menghancurkan
tembok kepercayaan-kepercayaan dunia.

27. Jangan berkecil hati oleh kelemahan pribadi. Kita semua
memilikinya. Kekuatan Allah justru sempurna di dalam kelemahan
manusia.

Musa
merupakan orang  yang tidak dapat berbicara

Yeremia
adalah orang yang penakut

Petrus adalah
orang berdosa dan mudah berubah pendirian

Paulus
memiliki duri dalam daging

Wesley adalah
orang yang kecil

Moody tidak
memiliki pendidikan

Whitefield
mengidap asma (dan dia meninggal akibat serangan asma setelah selesai
berkhotbah).

          
Adalah Allah “ Yang membuat ….pelayan-pelayanNya menjadi nyala
api (Ibrani 1:7).

 

Dalam Penginjilan

 

1. Jangan berkecil hati; anda akan memenangkan orang
sewaktu-waktu.

2. Jangan bicarakan hal-hal yang tidak bersifat relevan: usahakan
orang yang anda mau tobatkan untuk berhadapan muka dengan Yesus
Kristus.

3. Jangan berdebat atau memperlihatkan rasa jengkel; Allah adalah
kasih.

4. Jangan memonopoli pembicaraan; biarkan orang yang terhilang
berbicara tentang latar belakang, pengalaman dan semua masalahnya.

5. Jangan terlebih dahulu berbicara tentang gereja: Kristus
memiliki reputasi yang lebih baik ketimbang gereja anda.

6. Jangan menanyakan sebuah pertanyaan yang memperoleh jawaban
tidak pada sebuah pertanyaan; perolehlah jawaban iya dan iya, hingga
anda memperoleh jawaban kesediaan bagi Yesus.

7. Jangan merasa terdorong untuk menjawab setiap alasan;
bersaksilah untuk Kristus.

8. Jangan terjebak kedalam kunjungan bersifat sosial atau
sebuah ajakan hanya untuk mengunjungi gereja; usahakan untuk sebuah
keputusan untuk percaya kepada Kristus.

9. Jangan lupa untuk berdoa bagi kesungguhan seseorang setelah
dia mengambil keputusan untuk menerima Yesus.

10. Jangan lupa untuk mem-follow up. Jika anda
belum berhasil pada pertemuan pertama, anda harus mencoba dan terus
mencobanya lagi.

11. Jangan ragu-ragu untuk menekankan seruan untuk datang kepada
Yesus saat mengakhiri setiap khotbah dan setiap ibadah.

12. Jangan menjadi khawatir untuk setiap usaha yang baik.
Kadang-kadang kita akan memperoleh hasil
panen dan kadang kala tidak. Allah kadang-kadang ingin melihat apakah
anda sungguh-sungguh berketetapan untuk tugas memenangkan jiwa.

13. Jangan lupa memuji Allah untuk setiap jiwa yang anda
menangkan.

14. Jangan biarkan petobat baru untuk menerima pandangan dunia.
Peliharalah dia dalam pengajaran, pelatihan dan dorongan dalam setiap
usaha yang dapat dilakukan.

15. Jangan membaptiskan anak kecil sebelum mereka mencapai usia
sembilan tahun.

16. Jangan mengabaikan orang miskin, orang yang membutuhkan, orang
yang terbuang.
Kadang-kadang mereka adalah orang yang paling
siap untuk memberikan respon terhadap pesan injil keselamatan.