TIGA BAHAYA YANG MENGANCAM FUNDAMENTALISME
Abad
keduapuluh telah ditutup, dan dunia telah masuk ke era yang baru.
Dengan berlalunya tahun-tahun 1900an, Fundamentalisme minimal sudah
berumur 100 tahun. Dengan berlalunya selang waktu ini, telah berlalu
juga generasi pertama dan kedua Fundamentalisme. Hanya ada sedikit
saksi pertama gerakan Fundamentalisme yang masih hidup sampai
sekarang. Dan angka mereka yang menyaksikan munculnya gerakan New
Evangelicalism dan yang memperingatkan akan bahayanya juga makin
menurun. Bagi mereka yang masih tersisa, hari-hari pelayanan dan
kepemimpinan mereka hampir habis. Sebuah generasi baru sedang bangkit
ke barisan depan kepemimpinan Fundamentalisme. Kita harus bertanya,
"bahaya apa saja yang mengancam generasi baru ini?"
Walaupun pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai cara, paling
tidak ada tiga bahaya besar yang patut kita pertimbangkan.
I. Bahaya
Penganiayaan
Orang
kristen harus sadar bahwa pola pemikiran masyarakat telah berubah.
Negeri ini {USA (Red: dan di Indonesia)}, yang dibentuk untuk
melindungi kebebasan beragama, telah beranjak dari posisi toleransi
terhadap agama menjadi intoleransi. "Agama" dipandang
sebagai sesuatu yang baik hanya jika ia tidak menghambat
agenda-agenda sosial multiculturalism. Toleransi adalah nilai absolut
dari kultur ini, kecuali ketika mengenai nilai-nilai absolut dalam
agama.
Salah
satu karakteristik dari post-modernisme adalah bahwa ia bukan saja
memandang rendah nilai-nilai absolut atau berdebat dengan absolut,
namun ia menyerang keabsolutan dan mereka yang memegangnya. Ketika
Fundamentalisme mendeklarasikan posisinya, seperti tentang otoritas
penuh Alkitab (2 Tim. 3:16), dosa homoseksualitas (Roma 1:26-27), dan
kepemimpinan orang tua (suami) dalam rumah tangga (Ef. 6:1),ia akan
bertabrakan langsung dengan post-modernisme dan multikulturalisme.
Kita harus sadar bahwa moralitas, kebenaran, kejujuran dan karakter,
adalah kualitas-kualitas yang tidak lagi dihargai oleh
standar-standar hari ini. Dunia telah melupakan bahwa moralitas
pribadi menentukan kebijaksanaan publik. Slogan "live and let
live" ("hidup dan biarkan hidup") dari tahun 60-an
telah menjadi filosofi yang mendasar, kecuali ketika filosofi ini
berhadapan dengan Fundamentalisme. Ketika dipertemukan, maka tidak
ada tempat bagi absolutisme seorang Fundamentalis.
Apa
yang harus dilakukan ketika diperhadapkan dengan situasi ini? Kita
harus mendidik orang-orang muda kita untuk berdiri bagi Kristus
ditengah kebudayaan yang lepas haluan ini. Kita harus berkomitmen
untuk berdiri teguh di atas Firman dan berkhotbah ekspositori, agar
kita terhindar dari infiltrasi ide-ide palsu dari masyarakat yang
sesat. Dan kita harus menyiapkan diri terhadap gelombang penganiayaan
yang akan datang. Hanya karena kita tinggal di USA (terlebih di
Indonesia), tidak berarti bahwa kita aman dari penganiayaan. Seorang
teman saya berkata bahwa dia berpikir dia tidak akan pernah melihat
hari dimana ada seorang Kristen di Amerika yang akan dibunuh karena
imannya. Namun, sedih sekali, musim semi lalu kita melihat seorang
wanita muda di Colorado menjadi martir. Kadang kita lupa bahwa
Alkitab tidak pernah menjanjikan keamanan dari penganiayaan pada
mereka yang tinggal di Amerika Serikat (apalagi di Indonesia).
Memang, konstitusi kita menjaminnya, tetapi konstitusi itu hanya
sebaik orang-orang yang menginterpretasikan dan menerapkannya.
Gelombang
penganiayaan mungkin hanyalah sebuah titik kecil sekarang, tetapi ia
dapat dengan mudah berkembang menjadi tornado yang hebat.
II. Bahaya
Kesombongan
Generasi
Fundementalisme yang baru terancam oleh bahaya berpikir bahwa mereka
superior dibandingkan dengan para pendiri gerakan ini. Ada
kecenderungan untuk melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh
para pendahulu dan merendahkan mereka dan doktrin yang mereka
pertahankan. Ada bahaya bagi mereka yang berpikir bahwa dirinya telah
diterangi, sehingga melihat pergumulan masa lalu sebagai hal kecil.
Ketika pikiran seperti ini memegang seorang muda, ia ada dalam bahaya
membiarkan, atau bahkan mempromosikan suatu pergeseran dari
komitmen-komitmen awal gerakan ini.
Dalam
artikel Faith Pulpit (Mei/Juni 1996), Dr. Robert G. Delnay
mendiskusikan "Orang Kristen Generasi Ketiga". Ia berkata
bahwa "pada generasi yang ketiga, pentingnya penyampaian isu-isu
sentral menjadi semakin berkurang". Ia melanjutkan peringatannya
dengan berkata bahwa, "generasi ketiga dapat saja mengakhiri
semua cita-cita para pendiri". Trend-trend seperti ini mungkin
saja terjadi di dalam Fundmentalisme. Pemisahan personal dan gerejawi
(personal and ecclesiastical separation) dan eksposisi dan pembelaan
iman dapat menjadi masalah sepele jika seseorang tidak mengetahui
pentingnya mereka dan dasar Alkitabnya. Bahkan seseorang bisa saja
menolak seluruh pandangan itu dengan alasan bahwa "ia tahu lebih
baik". Ia mungkin bergumul dengan kesombongan masa muda dan
melihat diri superior atas mereka yang telah berkorban demi
pertumbuhan rohaninya.
Apa yang
harus dilakukan utuk menghindari pencobaan ini? Para pemimpin yang
ada pada akhir pelayanan mereka harus sadar bahwa mereka masih dapat
memberikan kontribusi. Mereka perlu meneruskan kepada orang-orang
yang lebih muda suatu pengertian akan pentingnya isu-isu yang
membentuk Fundamentalisme. Musa, sebagai contoh, mengulang sejarah
Israel bagi mereka untuk mengingatkan generasi baru bagaimana bangsa
itu dapat terbentuk (Ul. 1:5). Dalam artikelnya, Dalney berkata,
"mereka yang ingin menahan proses itu (proses toleransi) harus
melakukan pelayanan mengajar sejarah yang serius. Jika generasi yang
akan datang tidak mengetahui masa lalu mereka, mereka tidak akan
memiliki dasar yang kuat untuk menghargai atau mempertahankan
apa-apa". Walaupun kesalahan-kesalahan di masa lampau tidak
dapat dilupakan, namun jangan lupa pula akan kemenangan- kemenangan
dan kesuksesan yang telah dicapai. Fundamentalisme bukanlah gerakan
yang diwarnai hanya oleh kekalahan.
Generasi
yang lebih tua juga perlu mendidik, mempersiapkan dan kadang-kadang
menegur generasi berikutnya. Pendeknya, harus ada proses pemuridan.
Orang-orang yang akan mengisi posisi-posisi kepemimpinan atau yang
sedang dididik dalam kepemimpinan harus menerima proses pemuridan ini
dan tumbuh dengan sabar di bawahnya. Mereka harus belajar untuk
mengurangi sikap sebagai seorang kritikus masa lampau dan harus dapat
lebih menghargai keberhasilan mereka yang telah mendahuluinya. Poin
ini sungguh benar, terutama jika orang-orang muda telah bertumbuh
dibawah pelayanan orang-orang yang sekarang mereka kritik.
Orang-orang muda kita perlu merelakan diri diajar oleh
veteran-veteran, dan orang-orang tua harus rela memikul tanggung
jawab pemuridan itu. Generasi yang lebih muda harus menjadi batu
dasar (fondasi) dari iman dan penerapannya, sementara generasi yang
lebih tua harus terus mengeluarkan suara pada isu-isu penting.
III. Bahaya
Pluralisme
Generasi
berikutnya menghadapi godaan untuk menghindar dari kontroversi di
bawah samaran toleransi. Ada suatu sikap yang mengatakan bahwa yang
penting orang itu diselamatkan, dan perbedaan doktrin tidaklah
penting. Maksudnya ialah, bahwa selama seseorang telah dilahir
barukan, ia seharusnya membiarkan semua perbedaan itu dileburkan
dalam panci kekristenan. Namun peleburan seperti ini adalah
pluralistik. Pluralisme agama dapat didefinisikan sebagai penyerapan
banyak kepercayaan dan sistem-sistem agama ke dalam satu sistem,
walaupun kepercayaan-kepercayaan itu saling bertentangan dan tidak
konsisten satu sama lain. Seseorang bertanya, "Ketika nanti saya
berdiri di hadapan Kristus, apakah Ia akan benar-benar peduli dengan
semua perbedaan ini?" Jawabannya ialah, "ya", karena
mereka adalah bagian dari Firmannya yang diinspirasikan (2 Tim.
3:16-17), dan manusia harus bertanggung jawab atas itu.
Menjadi
seorang Fundamentalis bukanlah hanya memasang sebuah label. Ia adalah
suatu eksposisi yang teguh dan komitmen pada suatu posisi theologi,
dan, secara khusus, pada pemisahan personal dan eklesiatikal. Ia
adalah penerapan doktrin dalam semua aspek kehidupan. Sepertinya ada
sebagian orang, yang dalam usahanya mempromosikan suatu
Fundamentalisme yang lebih lunak dan kurang menyolok, yang telah
meninggalkan komitmen mereka pada deklarasi dan praktek-praktek
Fundmentalisme. Inti dari pluralisme adalah suatu upaya untuk menjadi
lebih relevan terhadap umat manusia sementara melupakan kesetiaan
pada Tuhan dan FirmanNya. Ketika seseorang menghadiri pertemuan
ekumenikal untuk kepemimpinan pria, ketika seseorang memakai
"Christian Rock" atau Contemporary Christian Music untuk
membangun komisi pemudanya, ketika seseorang tidak rela membela dan
mendeklarasikan pemisahan personal dan eklesiastikal, ia bersalah
atas pluralisme agama. Ia menggabungkan dunia dengan Firman dan
mengaburkan garis pemisah diantara mereka.
Apa
yang harus dilakukan jika berhadapan dengan pengaburan
distinktif-distinktif (perbedaan) seperti ini? Kita harus menyerukan
kebenaran Alkitab tentang pemisahan dan mengaplikasikan
kebenaran-kebenaran ini pada kehidupan sehari-hari kita. Kita harus
berkomitmen ulang pada kesucian di rumah maupun gereja. Kita harus
ingat, bahwa tujuan utama manusia dalam hidup ini adalah untuk
memuliakan Allah (I Kor. 10:31), dan kita harus membuat semua tujuan
yang lain sekunder terhadap tujuan yang satu ini. Jika kita tidak
menjelaskan rasionalisasi theologi ini, kita akan membesarkan satu
generasi yang tidak tahu sama sekali mengapa mereka Fundamentalis,
dan mengapa Fundamentalisme perlu dipertahankan.
Fundamentalisme
menghadapi tantangan baru di abad yang baru ini. Ketiga ujian ini
adalah bahaya penganiayaan, bahaya kesombongan, dan bahaya
pluralisme. Generasi berikutnya harus sadar akan jebakan-jebakan ini
dan mempersiapkan diri untuk menang atas semua tantangan.***
Disadur
oleh: Steven E. Liauw
Dari:
Majalah Front Line Majalah yang diterbitkan oleh Fundamentalist
Baptist Fellowship