DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

BINCANG-BINCANG SOAL ISU : “YESUS ITU ANAK ALLAH”

Filed under: ISLAMOLOGI — dedewijaya at 2:06 am on Tuesday, May 27, 2008

* Qs 4:171
Maha Suci Allah dari mempunyai anak,

* Qs 9:30
orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”.

Sebagai pengikut Kristus, Anda sampai kapanpun akan berkata “Yesus Kristus itu Anak Allah”, dan teman Muslim Anda sampai kapanpun akan selalu menyanggah Anda: “Yesus itu bukan Anak Allah” .

Masih mending Anda belum dimasukkannya dalam laknat Tuhan-nya seperti pada ayat di atas. Bintang-bincang Anda dengan teman Muslim ini tidak akan selesai, karena Anda dan teman Muslim tersebut masing-masing meyakini 2 hal yang berseberangan secara diametral dan tidak terjembatani.

Alkitab menyebut bahwa Yesus Kristus itu Anak Allah – ada 59x disebutkan – namun minimal ada 17 kali Qur’an membantah tegas bahwa Allah itu tidak beranak. Makin Anda memaksakan betulnya Anda dalam isu ini, makin yakinlah teman Muslim Anda akan merasa bahwa merekalah yang lebih betul!

Tarik-menarik begini sungguh melelahkan dan sia-sia. Maka carilah titik temu pemahaman Anda bersama dan hanya setelah itu, barulah Anda bisa beranjak lebih lanjut dalam diskusi yang menghasilkan (produktif).

Dan titik temu pemahaman bersama sesungguhnya dapat dimunculkan ketika kita secara kreatif mengajukan pertanyaan-balik, dengan pertanyaan kunci kepada dasar referensi mereka, bukannya referensi kita, sebagai berikut :

“Ya kami umat Kristiani memang mengimani secara tegas bahwa “Yesus Kristus itu Anak Allah”, dan kami tahu bahwa hal ini disanggah oleh Muslim. Namun kami tidak tahu apa dugaan kalian ketika mendengar kami berkata “Yesus Kristus itu Anak Allah”?. Menurut Anda “Anak Allah” yang macam apakah yang kami percayai itu?”

Percayalah, teman Anda akan terdiam sejenak! Tidak akan mudah baginya untuk menjawab pertanyaan-kunci Anda yang satu ini. Ia akan sedikit menghindar dan menjawabnya dengan mengaburkan substansinya. “Ya, kalian percaya ada Allah yang dipanggil Bapa, ada Allah yang dipanggil Anak atau Yesus itu?” Hal ini tentu tidak menjawab pertanyaan-kunci Anda. Tegaskan sekali lagi maksud Anda, menanyakan tentang pengertian Qur’an akan “Anak Allah” yang mereka tuduh sesat itu!

Anda jangan menjawab apa-apa sebelum pertanyaan-kunci Anda dijawab! Tidak bisa lain, ia (bersama Anda) harus menjawab dengan merujukkan ayat-ayat Qur’an tentang “anak Allah” atau “Allah yang beranak”.

* Qs 19:35
Tidak layak bagi Allah mempunyai anak.
* Qs 4:171
Maha Suci Allah dari mempunyai anak…
* Qs 72:3
Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.
* Qs 6:101
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri.

Perhatikan, semua ayat di atas ini merujuk kepada pemahaman Muslim bahwa maksud orang-orang Kristiani ini ketika menyebut “Yesus itu Anak Allah” adalah bahwa Allah mendapat Sang Anak dari hubungan badan (biologis) dengan seorang istri.

Kini Anda dapat berkata : “Ya, Maha Suci Allah dari yang mempunyai anak secara biologis. Bilamana Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian demikian, tentu hal itu merupakan penghujatan manusia kepada Allah. Kita pun sebagai umat Kristiani juga akan menolak keras pemahaman ‘Allah beranak yang menghasilkan Anak Allah dari hasil hubungan seksual’ macam ini!”

Ada celah baru yang mulai menguak… Keingin-tahuan teman Muslim menjadikan suasana hatinya untuk menerima informasi Anda yang jujur, dan tidak apriori ataupun balik menghujat/menuduh, dan menajiskannya. Merekapun akan mencoba bertanya :

“Jadi, bagaimanakah pengertian “Anak Allah” menurut versi keimanan Kristiani?”

Kini, anda mendapat peluang indah untuk menjernihkan salah-paham ini dalam suasana yang jujur dan bersahabat.

Penjelasan tentang “Anak Allah” :
Anda yakinkan kepada mereka “Tidak ada orang Kristiani manapun yang percaya bahwa Allah beranak dan diperanakkan” sebagaimana juga tertulis dalam Qur’an (Qs 112:3). Entah kepada lapisan masyarakat manakah ayat ini diberikan? Karena konsep “Anak Allah” dalam Kristianitas tidak pernah merujuk kepada sesuatu yang ragawi yaitu hasil dari hubungan seksual ‘Allah dengan istrinya’. Maha Suci Allah dari mempunyai anak hubungan biologis!

Itu sebabnya pengertian Anak dalam keimanan kristiani adalah total non-duniawiah, supra-natural/adikodrati, yaitu KELAHIRAN-INKARNATIF, dari Kalimat Allah yang disampaikanNya kepada Maryam
:

* Qs 4:171
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan- Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul- Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Isa Al-Masih adalah The-Word incarnated, yaitu Firman/Kalimat Allah yang Ilahi turun (nuzul) masuk kedunia (melalui Maria). “lahir” menjadi anak manusia!
Karena di sini ada unsur kelahiran, maka istilah “Anak” menjadi sebutan yang tepat sebagaimana yang diwahyukan Allah sendiri pada :

* Yohanes 1:1, 14
1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
KJV, In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God
TR (Textus Receptus) Translit Interlinear, en {pada} archê {permulaan} ên {ada} ho logos {Firman,} kai {dan} ho {itu} logos {Firman} ên pros ton {bersama} theon {Allah,} kai {dan} theos {Allah} ên {(Dia) adalah} ho {itu} logos {Firman.}

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
KJV, And the Word was made flesh, and dwelt among us, and we beheld his glory, the glory as of the only begotten of the Father, full of grace and truth.
Translit Interlinear TR (PB asli dalam bahasa Yunani), kai {adapun} ho {itu} logos {Firman} sarx {daging} egeneto {telah menjadi,} kai {dan} eskênôsen {berdiam} en {diantara} êmin {kita,} kai {(bahkan)} etheasametha tên {kita telah melihat} doxan autou {kemuliaanNya, } doxan {kemuliaan} ôs {sebagai} monogenous {Yang Tunggal/ Yang Unik} para {dari} patros {Bapa,} plêrês {penuh} charitos {dengan anugerah} kai {dan} alêtheias {kebenaran.}

Sebutan Isa sebagai Kalimatullah (Sang Firman) tidaklah sia-sia sebab maknanya ditampakkan dalam setiap kalimat yang keluar dari mulut Isa yang selalu adalah Wahyu. Untuk selalu berwahyu, Ia tidak pernah menunggu wahyu dari Jibril atau perantara lainnya, sebab Ia adalah Sang Firman itu sendiri. (Red- Baca: AKU BERKATA KEPADAMU di www.dedewijaya.co.cc)

Demi kebenaran yang kasat-mata, teman-teman Muslim perlu membuang jauh sangkaan-sangkaanny a yang total-keliru tentang pengertian sebutan “Anak Allah”, seolah-olah itu bikin-bikinan manusia, atau yang sering mereka tuduhkan bahwa pengertian ini asalnya dari ajaran Paulus.

Gelar “Anak Allah” sama sekali bukan bikin-bikinan manusia. Tidak samasekali! Istilah tersebut justru diumumkan langsung dari mulut Allah sendiri :

* Matius 3:17
lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
KJV, And lo a voice from heaven, saying, This is my beloved Son, in whom I am well pleased.
TR Translit, kai idou phônê ek tôn ouranôn legousa outos estin ho huios mou ho agapêtos en hô eudokêsa.

Istilah yang sama ini juga dinyatakan dari mulut Gabriel kepada Maria 2 kali :

* Lukas 1:32-35
1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
KJV, He shall be great, and shall be called the Son of the Highest: and the Lord God shall give unto him the throne of his father David:
TR, outos estai megas kai huios upsistou klêthêsetai kai dôsei autô kurios o theos ton thronon dabid tou patros autou

1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. ”
1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah
KJV, And the angel answered and said unto her, The Holy Ghost shall come upon thee, and the power of the Highest shall overshadow thee: therefore also that holy thing which shall be born of thee shall be called the Son of God.
TR Translit, kai apokritheis ho aggelos eipen autê pneuma agion epeleusetai epi se kai dunamis upsistou episkiasei soi dio kai to gennômenon agion klêthêsetai huios theou

Pernyataan Gabriel yang lebih dari satu kali menyatakan status “Anak” sekaligus memperlihatkan betapa Gabriel justru menampik (baca : mengkoreksi) kaitan “Anak Allah” itu dengan konsep-kedagingan / biologis (hasil hubungan suami dan istri) seperti yang ada dalam benak Maria tadinya, dan kini malahan terulang dalam benak penuduh dari kalangam Muslim pada umumnya.

Catatan : Mungkinkah Gabriel berdusta? Perlukah?
Karena ada kesenjangan wahyu Gabriel terhadap wahyu yang dibawa Jibril bagi Muhammad! Lukas 1:35 jelas menyatakan bahwa Gabriel telah mengkoreksi apa yang terlanjur salah dalam benak Maria tentang “ke-anak-an” (sonship) yang dimaksudkan Injil. Sementara Jibril dalam Qur’an justru berbalik dan terus berkutat dalam pemahaman “ke-anak-an” insani!

Bandingkan keduanya :
(1) “Bagaimana hal (melahirkan anak) itu mungkin terjadi, karena aku (Maria) belum bersuami?” (Lukas 1:34)
(2) “Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak padahal Ia tidak beristri” (Qs 6:101)

Gabriel berkata bahwa Anak Allah itu KUDUS, dan Jibril menyangkal/menafikan kedua-duanya :
(1) “Anak yang kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35)
(2) “Maha Suci Allah dari yang mempunyai anak…” ; “Tidak layak Allah mempunyai Anak” ( Qs 4:171 ; Qs 19:35 )



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.