DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

“TUJUH TAHUN” ATAU “TIGA TAHUN”?

Filed under: KONTRADIKSI ALKITAB — dedewijaya at 1:41 am on Thursday, May 15, 2008

Mana yg benar “Tujuh Tahun atau Seven Years” atau “Tiga Tahun”
pada ayat 2 Samuel 24:13 dengan I Tawarikh 21:12?

I Tawarikh 21:12 (Alkitab LAI)
21:12 tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.”

I Tawarikh 21:12 (KJV)
21:12 Either three years’ famine; or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee; or else three days the sword of the LORD, even the pestilence, in the land, and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel. Now therefore advise thyself what word I shall bring again to him that sent me.

2 Sam 24:13 Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata kepadanya: “Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.” (Alkitab terbitan LAI-TB)

2 Samuel 24:13 menurut Alkitab Indonesia (Indonesian Literal Translation):
Dan Gad datang kepada Daud, dan memberitahukannya, dan berkata kepadanya, “Akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di negerimu. Atau engkau akan melarikan diri dari hadapan musuh-musuhmu selama tiga bulan, dan mereka itu mengejarmu. Atau tiga hari tulah akan melanda negerimu. Sekarang pertimbangkanlah, dan lihatlah apa yang harus aku kembalikan kepada Dia yang mengirimkan perkataan kepadaku.””

2 Samuel 24:13 (KJV)
So Gad came to David, and told him, and said unto him, Shall seven years of famine come unto thee in thy land? or wilt thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee? or that there be three days’ pestilence in thy land? now advise, and see what answer I shall return to him that sent me.

Bobby, jika kita membandingkan Alkitab LAI dengan Alkitab KJV, NIV, dll. Untuk ayat I Tawarikh 21:12, kata “tiga tahun” disemua terjemahan Alkitab Indonesia dan Inggris sama semua, menulis “tiga tahun”

Yang berbeda adalah ketika di ayat 2 Samuel 24:13, dalam Alkitab King James Version (KJV), NASB (New American Standard Bible), NKJV (New King James Version), ASV (American Standard Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV, American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible Translation, World English Bible, Young’s Literal Translation, GOD’S WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh, Alkitab LAI Terjemahan Lama, Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs Ibrani: Masoretik Teks), Alkitab Indonesia ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia (IMTV=Indonesian Majority Text Version), semuanya menulis “Tujuh tahun” berbeda dengan Alkitab NIV, dll menulis “Tiga tahun”. Mana yang benar?

Jadi KJV, NKJV, ASV, NASB, dll dan Alkitab ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia IMTV, Alkitab LAI BIS menulis “seven years” atau “tujuh tahun”

Alkitab LAI terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) tahun 1985 menulis:
2 Samuel 24:13 Gad datang menghadap dan memberitahukan kepadanya perintah TUHAN itu, katanya, “Mana yang Baginda pilih: Negeri ini ditimpa bencana kelaparan selama tiga *Beberapa terjemahan kuno: tiga; Ibrani: tujuh.* tahun, atau Baginda lari dikejar-kejar musuh selama tiga bulan, atau negeri ini diserang wabah penyakit selama tiga hari? Putuskanlah sekarang apa yang harus kusampaikan kepada TUHAN.”

Disini LAI bijaksana dengan memberitahu bahwa dalam naskah Ibrani Majority Text (Kebanyakan Teks/naskah salinan/naskah Byzantine/Received Text) menulis “Tujuh Tahun”, meski LAI berdasarkan naskah salinan lain (Alexandrian/Minority/WH Text) menulis “tiga tahun” Jadi bagaimana?

Mengacu pada Text Byzantine/Majority/Received Text/Masoretic Text/MT yang diterima luas oleh semua kalangan Bapa Gereja zaman Reformasi dan semua kalangan Fundamentalis serta yg mengimani Alkitab tanpa salah sedikitpun dan dipelihara TUHAN, maka yang benar untuk ayat 2 Samuel 24:13 adalah “Tujuh tahun” sedangkan I Tawarikh 21:12 “Tiga tahun”. Apa yg tertulis dalam naskah Teks Kebanyakan yg diterima/teks yg dipelihara Allah, maka tetap seperti yg tertulis.

Lalu bagaimana, kan jadi berbeda? Satu menulis 7 tahun, ayat lain menulis 3 tahun? Mari kita bahas beberapa kemungkinan jawaban untuk hal ini.

Di situs di bawah ini mencoba memberi penjelasan itu: www.kjv-only.com
2 Samuel 24:13 and 1 Chronicles 21:12 “Could You Repeat The Choices?”

There are two accounts in the Old Testament of the same story of David taking a census of the Israelites, one in 2 Samuel 24 and the other in 1 Chronicles 21. God is displeased with David’s actions and offers him three choices as punishment. There is an interesting “problem” that arises when studying these passages, for the three choices of punishment do not match in each account in the KJV:
2 Samuel 24:13 (KJV) “So Gad came to David, and told him, and said unto him, Shall seven years of famine come unto thee in thy land? or wilt thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee? or that there be three days’ pestilence in thy land? now advise, and see what answer I shall return to him that sent me.”
1 Chronicles 21:12 (KJV) “Either three years’ famine; or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee; or else three days the sword of the LORD, even the pestilence, in the land, and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel. Now therefore advise thyself what word I shall bring again to him that sent me.”
What makes this “contradiction” interesting is that it is not a translational issue, but perhaps a copyist issue - the “contradiction” appears in the Hebrew that the KJV was translated from as well. However, the “contradiction” does not appear in the LXX (the ancient Greek translation of the Old Testament). This article is not an attempt to prove one or the other as correct, but to explain what’s going on here.
Here’s how the comparison looks in 3 popular versions, including the KJV:
Verse
KJV
NIV
NASB
2 Samuel 24:13
seven
three
seven
1 Chronicles 21:12
three
three
three

As you can see, the NIV does not contain the “contradiction”, as each verse has “three”. However, a footnote in the NIV shows us that this is because the translators of the NIV have chosen in this instance to follow the LXX instead of the available Hebrew manuscripts so as to eliminate the “contradiction”, noting that the LXX has “three” while the Hebrew has “seven”. I’m not sure whether they were correct or not, but as the KJV translators said, “doth not a margin do well to admonish the Reader to seek further, and not to conclude or dogmatize upon this or that peremptorily?”
Although we cannot be 100% certain, “three years” in 2 Samuel 24:13 may be correct for the following combination of reasons:
- it matches the 1 Chronicles 21:12 account.
- it fits the pattern of choices better: 3 years, 3 months, 3 days.
- it matches the LXX, which is older than the available Hebrew.
- the Hebrew letter Zayin, used for “seven”, may have been mistaken for the Hebrew letter Giymel, used for “three”, by a copyist somewhere down the line.
Of course, the last reason could be easily reversed (ie. perhaps Giymel is mistaken for Zayin). However, because of the first three reasons given, translating it “three” has more support.

Why then does the LXX have “three” while the Hebrew has “seven”? A few reasons are possible, although we can’t know for sure because we don’t have the Hebrew manuscripts used to produce the LXX:
- perhaps because the Hebrew originally had “three”, which was later unintentionally changed (after the LXX was produced) because of the Giymel/Zayin similarities.
- perhaps the Hebrew originally had “seven”, but the LXX translators thought they would “correct” the “contradiction”.
- perhaps the LXX translators accidentally mistook the Zayin as a Giymel, thus translating “seven” as “three”.
So, the issue is somewhat unresolved, due to our lack of the originals for comparison. Although there is a possibility that “seven” is the correct number, it seems the original most likely had “three”.
A thought-provoking side note…
A simple comparison of these two verses provides a good example of the same event and message given by someone, but by using different words. If one was to get really sticky over the issue of “inerrancy”, one would have to examine which words of the message were really the ones spoken by Gad:
Differences in what was spoken by Gad
2 Samuel 24:13 (KJV)
1 Chronicles 21:12 (KJV)
“famine come unto thee in thy land?”
“famine”
“before thine enemies”
“destroyed before thy foes”
“while they pursue thee”
“while that the sword of thine enemies overtaketh thee”
“three days’ pestilence”
“three days the sword of the LORD, even the pestilence”
[not preset]
“and the angel of the LORD destroying throughout all the coasts of Israel”
“now advise, and see”
“Now therefore advise thyself”
“what answer I shall return”
“what word I shall bring again”
Choices worded as questions
Choices worded as a list (not questions)
In other words, for 100% accuracy and inerrancy, did Gad say “they” or “sword of thine enemies”? Did he mention “destroy” in the second choice or not? Did he say “pestilence” or “sword of the LORD, even the pestilence”? Did he mention the “angel of the LORD destroying” in the third choice or not? Where the choices given as questions or not?
Did Gad say “pursue” or “overtake”? There is a big difference in meaning between those two words - one can be overtaken without being pursued, and one can be pursued without being overtaken.
If the KJV-only position is about the exact “words” of God, which “words” were really spoken by Gad in this event? I guess I’m pointing this out to make you think: what really is “inerrancy”? I realize this is “straining at (out?) a gnat”, but it at least shows that differing words can be used and still be considered “true”. Why can the KJV and Hebrew use differing words to tell of an event but another version is considered “in error” when it does the same thing?

www.kjv-only.com/2sam24_13.html

Kesimpulan:
2 Samuel 24:13 tetap “Tujuh Tahun” dan memang berbeda dengan I Tawarikh 21:12 tertulis ”Tiga Tahun”.

Saya dan semua orang Kristen yg memegang Naskah MT (Masoretik Teks untuk PL, bahasa Ibrani) dan TR (Textus Receptus untuk PB, bahasa Yunani) sebagai Naskah yg dipelihara Allah tanpa salah, maka mengacu yg benar tetap ”Tujuh tahun” pada ayat 2 Samuel 24:13 sesuai dengan Naskah asli MT (Naskah Asli Bhs Ibrani: Masoretik Teks), Alkitab King James Version (KJV), NASB (New American Standard Bible), NKJV (New King James Version), ASV (American Standard Version), CEV (Contemporary English Version) 1995, ERV, American KJV, DRB, Darby Bible Translation, Webster Bible Translation, World English Bible, Young’s Literal Translation, GOD’S WORLD TRANSLATION, Jewish Publication Society Tanakh, Alkitab LAI Terjemahan Lama (LAI-TL), Alkitab Indonesia ILT (Indonesian Literal Translation), Alkitab Indonesia (IMTV=Indonesian Majority Text Version), dan ”tiga tahun” pada 1 Tawarikh 21:12

Ada yang menjawab seperti ini:
The Hebrew text of 2 Samuel 24:13 reads “seven years of famine,” but the Greek translation of this text (the Septuagint) and the parallel text in 1 Chronicles 21:12 reads “three years of famine.” I am inclined to accept the “three year” option, especially since there seems to be some emphasis on the number three here: three years of famine; three months of defeat at the hand of their enemies; three days of pestilence at the hand of God.

Naskah asli Ibrani untuk ayat 2 Samuel 24:13 menulis, ”Tujuh tahun kelaparan” tetapi terjemahan Yunani dari Teks PL Ibrani (disebut Septuaginta) dan paralel dengan teks 1 Tawarikh 21:12 menulis ”Tiga tahun kelaparan.” Saya memutuskan untuk menerima pilihan ”Tiga Tahun,” khusunya sejak kelihatan disana ada beberapa penekanan angka pada angka tiga di sini: tiga tahun kelaparan, tiga bulan melarikan diri dari musuh, tiga hari penyakit sampar dari Tuhan.

Untuk jawaban ini, perlu kita diketahui Septuaginta adalah teks terjemahan dari Naskah asli Ibrani PL, Jadi Septuaginta bukanlah teks superior dari Naskah Ibrani. Jadi kita tetap berpedoman pada Naskah asli Ibrani PL (Masoretik Teks), yang menulis “Tujuh tahun kelaparan”

Jadi, kami dan banyak sarjana Alkitab memilih jawaban di bawah ini:

Answering The Atheist

October 7, 2001 / Volume 1, Issue 31
THE ATHEIST’S COMPLAINT:
How many years of famine were threatened? In 2 Samuel 24:13, we read, “So God came to David and told him, and said unto him, shall seven years of famine come unto thee in thy land? or will thou flee three months before thine enemies, while they pursue thee?…” However, 1 Chronicles 21:11 reads, “So God came to David, and said unto him, Thus saith the LORD, choose thee, either three years of famine or three months to be destroyed before thy foes, while that the sword of thine enemies overtaketh thee…”
Is there a contradiction?
RESPONSE:
Certainly, with a hurried look, 2 Samuel 24:13 and 1 Chronicles 21:11 seem to be contradictory. However, I would suggest that the questioner slow down and read the Scriptures more carefully (and in context), for these texts are in full agreement.
David’s choices of punishment for his sin before the Lord were:
- 1 - three years of famine;
- 2 - three months to be destroyed before his enemies;
- 3 - three days of pestilence in the land.
In the 1 Chronicles 21 account, these three choices are given to David. Notice, that the latter two choices are parallel in the 2 Samuel 24 account, but the first choice is different, both in the number of years mentioned and in the way the punishment is worded. The Lord there does not invite David to chose 3 years of famine, but rather asks, “…shall seven years of famine come unto thee in thy land?”

Dalam I Taw 21:11, ada tiga pilihan diberikan kepada Daud. Perlu diperhatikan, bahwa 2 pilihan terakhir sama dengan ayat 2 Samuel 24, namun pilihan pertama berbeda, baik dalam jumlah tahun yang disebutkan dan juga cara hukuman di tulis. Tuhan disini tidak mengundang Daud untuk memilih 3 tahun kelaparan, namun malah bertanya, “…akan datang tujuh tahun kelaparan kepadamu di negerimu?”

In 2 Samuel 21:1, it is written, “…there was a famine in the days of David three years, year after year; and David enquired of the LORD. And the LORD answered, It is for Saul, and for his bloody house, because he slew the Gibeonites.” Three years of famine had already occurred. Add to this the current year (the time which passed from 2 Samuel 21:1 to 2 Samuel 24:13), and then the three years of famine as recorded in 1 Chronicles 21:11, and you have seven years of famine.

Dalam 2 Samuel 21:1, tertulis, “Semasa Daud memerintah, terjadilah bala kelaparan hebat yang berlangsung selama tiga tahun penuh. Lalu Daud meminta petunjuk TUHAN mengenai hal itu, dan TUHAN berkata, “Bala kelaparan itu ialah karena kesalahan Saul dan keluarganya, mereka telah membunuh orang-orang Gibeon.”

Tiga tahun kelaparan sudah terjadi. Tambahkan tahun berjalan (waktu dari 2 Samuel 21:1 sampai 2 Samuel 24:13), dan kemudian tiga tahun kelaparan yang tercatat di I Tawarikh 21:11, dan akan kita dapatkan tujuh tahun kelaparan.

There is no contradiction.
Jadi, Tidak ada kontradiksi.

Sumber dari: http://www.lookinguntojesus.net/ata20011007.htm

Demikian jawaban dan klarifikasi atas pertanyaan.

http://dedewijaya.blogspot.com

Jika anda diberkati dengan artikel2 tersebut, jadikanlah blog diatas link di web atau blogger anda. Terimakasih. GBU

If you are cheerful, you feel good; if you are sad, you hurt all over
Happiness makes you smile; sorrow can crush you

Mari bergabung bersama milist : diskusi-alkitab@googlegroups.com

SERI DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH

Filed under: DOKTRIN ALKITAB — dedewijaya at 1:48 am on Wednesday, May 14, 2008

Gulungan di Laut Mati (

Dead
Sea

Scroll)

Bag 2

Pada tahun 1947 dunia kekristenan
dikejutkan dengan ditemukannya Dead Sea Scroll (DSS). Seorang bocah
Baduin yang berusaha mencari dombanya yang hilang tanpa sengaja memasuki gua di
Wadi

Qumran

,
sebelah Barat Daya laut Mati. Di dalam gua yang gelap, ia tersandung pada
gulungan benda yang panjangnya 2 kaki dan tebalnya 10 inci. Para gembala itu
menjualnya ke toko antik di

Bethlehem

yang membeli beberapa gulung, dan seorang Archbishop dari gereja Orthodox Syria
membeli sisanya. Beberapa orang ahli menelitinya dan menyimpulkan bahwa itu
tidak ada nilainya. Tetapi E.L Sukenik,
dari

Hebrew

University

di Yerusalem, mengenal
keunikan gulungan itu dan membeli tiga gulungan. Gulungan lain dibawa ke American School of Oriental Research,
diteliti oleh J.C Trever dan W.F. Albright, seorang arkeolog Alkitab, akhirnya
pada tahun 1948 menyadari bahwa itu adalah gulungan kitab-kitab PL.

Pada akhir tahun 1951 kembali di
sekitar gua-gua laut Mati, yaitu di gua Wadi Murabba’at ditemukan lagi gulungan-gulungan
lain diantaranya juga terdapat gulungan Teks masoretik. Pada tahun 1952
dilakukan eksplorasi yang lebih intensif dan di gua yang terletak di sebelah
Barat Khirbet Qumran ditemukan hampir keseluruhan kitab PL kecuali kitab Ester.

Adapun isi dari manuscripts (MSS) yang ditemukan di

Qumran

itu ada sebagian yang berbeda dari Teks masoretik
namun sama dengan Septuaginta (LXX). Tetapi lebih banyak kesamaannya dengan
Teks Masoretik daripada LXX. Kelihatannya
MSS yang ditemukan di Qumran itu adalah teks yang dipergunakan oleh pribadi,
bukan yang dipergunakan di Sinagoge, karena ada banyak catatan pinggir, dan
naskah tua yang diperkirakan sebelum Kristus, ternyata ada tambahan huruf hidup
(vokal).
Kita tahu bahwa naskah bahasa Ibrani sebelum para Baly ha-Masoret memasangkan huruf hidup
(vokal) naskah resmi yang dipakai di Bait
Allah dan sinagoge itu hanya terdiri dari huruf mati (konsonan) saja.
Jadi
kalau ada naskah sebelumnya yang terdapat selipan huruf hidup adalah naskah
pribadi yang dipakai di keluarga. Biasanya karena anak-anak mereka belum
terbiasa membaca tanpa huruf hidup, maka orang tua mereka membantu dengan
menambahi huruf hidup bagi mereka.

Kalangan Liberal menjadi kalang
kabut dengan ditemukannya Dead Sea Scroll (DSS), namun sebagian mereka
menjadikannya dasar untuk membangun Critical Texts (Teks Pengritik) untuk mendiskreditkan Teks Masoretik. Tetapi
kalangan Fundamental tetap yakin bahwa Teks
Masoretik
(MT) adalah teks terpercaya karena bukan hanya telah dikerjakan
dengan sangat hati-hati, bahkan sumber landasannya adalah naskah resmi yang
dipakai di sinagoge-sinagoge, bukan naskah pribadi yang telah banyak penambahan
dan pengurangan. Kita bisa memahami kalau sesuatu itu milik pribadi maka bisa
ditambah dan dikurangi seperti yang kita lakukan terhadap Alkitab kita hari
ini, dimana kita membuat catatan di pinggir dan menandainya dan lain
sebagainya.

Alkitab Bahasa Asli PB

Di dunia ini tidak ada tulisan
yang lebih terpelihara daripada naskah-naskah kitab PB. Allah memelihara
naskah-naskah itu melalui orang-orang percaya yang menyayangi naskah itu
sehingga mereka berusaha memilikinya dengan memperbanyaknya. Dengan cara
diperbanyak, maka Iblis tidak dapat memusnahkannya, dan sekaligus untuk menjaga
keotentikannya karena di kemudian hari kita dapat membanding-bandingkannya.

Kini telah tersimpan kurang lebih
3 ribu copy naskah PB tulisan tangan
dalam bahasa Yunani dalam bentuk fragment
dan 2 ribu copy dalam bentuk penjelasan
(telah ditambahkan berbagai penjelasan) untuk kebutuhan pembacaan tiap hari, 8
ribu manuscript dalam bahasa Latin,
dan sekitar 2 ribu terjemahan versi kuno. Tersedianya naskah-naskah kuno itu
telah menjamin sehingga pekerjaan mengedit sebuah kitab PB ke dalam bentuk buku
setelah kertas dan alat cetak ditemukan itu dapat dilakukan. Allah telah
memeliharanya dengan cara memperbanyak dan menyimpannya hingga manusia dapat
menjilidnya menjadi sebuah kitab pada saat manusia telah menemukan alat cetak
dan kertas.

Sesungguhnya naskah-naskah PB
dalam bahasa Yunani telah tersebar kemana-mana. Sesudah abad ketiga kelihatannya
bahasa Latin menjadi bahasa yang cukup penting, terutama disebabkan karena
pemerintahan Roma telah berlangsung cukup lama. Pada saat itu menurut
Agustinus, hampir setiap orang yang tahu 2 bahasa, yaitu Yunani dan Latin,
berusaha menerjemahkan kitab-kitab PB walaupun tidak lengkap. Itulah sebabnya kini
terdapat sekitar 8 ribu naskah kuno kitab PB dalam bahasa Latin. Secara resmi
pada tahun 382, Paus Damasus menunjuk Jerome
untuk menerjemahkan atau sebenarnya mengedit terjemahan-terjemahan tidak resmi
terhadap 4 Injil. Hasil revisi yang dikerjakan oleh Jerome itu kemudian dikenal
dengan Vulgate yang dalam bahasa
Latin itu berarti ‘umum,’ mungkin maksudnya dipakai untuk umum. Versi Vulgate dipakai secara resmi oleh Gereja
Katolik ratusan bahkan ribuan tahun.

Buku tertua dalam cetakan ialah buku dalam tulisan Tionghoa Diamond Sutra, yang dicetak pada tahun
868 dengan alat cetak kayu. Pada abad ke-11 orang Tionghoa meningkatkan
penciptaan alat cetak bergerak dengan tanah liat. Namun apa yang telah dicapai
di China tidak ada hubungannya dengan penemuan alat cetak di Eropa. Johannes Gutenberg adalah orang pertama
yang menemukan alat cetak pada tahun 1440 di benua Eropa.

Buku pertama yang dicetak
oleh percetakan Gutenberg ialah Alkitab versi Vulgate
yang cakap dalam ukuran folio, yang selesai pada
tahun 1456, yang terkenal dengan sebutan Gutenberg
Bible
.

Pada tahun 1502, persiapan pencetakan Alkitab bahasa Yunani dimulai dibawah
pimpinan Kardinal Ximenes dari Spanyol. Kitab PB dicetak paralel 3 bahasa,
yaitu Latin, Ibrani, dan Yunani LXX. Proyek ini dilakukan di kota Alcala yang dalam bahasa Latin disebut
Complutum sehingga Alkitab itu disebut Complutensian
Polyglot
. PB selesai pada tahun 1514 dan PL selesai 1517, namun belum
pernah beredar karena pada tahun 1520 baru diterima oleh Paus dan pada tahun
1522 baru dipublikasikan.

Sementara itu pada tahun 1515 seorang ahli bahasa yang bernama Desiderius Erasmus berusaha mengedit
kitab PB dalam bahasa Yunani dengan mendasarkannya pada lima manuscript
tradisional yang tersimpan di Basel dan menerbitkannya pada bulan Maret tahun
1516. Dengan demikian maka kitab PB
bahasa Yunani yang pertama dicetak adalah Complutension Polyglots
sedangkan
yang pertama terbit dan beredar di
masyarakat adalah edisi Desiderius Erasmus
. Tidak dapat dipungkiri bahwa
kitab PB ini telah memungkinkan Martin Luther menyadari kesalahan Gereja Katolik,
demikian juga dengan Bapak-bapak Reformasi yang lain.

Sangat disayangkan karena naskah yang dimiliki oleh Erasmus itu ternyata 6
ayat terakhir dari kitab Wahyu telah hilang sehingga ia menerjemahkannya
sendiri dari Vulgate ke bahasa Yunani. Namun kemudian setelah ia mendapatkan
naskah yang memiliki 6 ayat terakhir kitab Wahyu masih utuh, ia memperbaikinya pada edisi ke-2. Kemudian
setelah melihat Manuscript Codex 61
Erasmus memasukkan 1 Yoh 5:7,8 yang
dikalangan teolog disebut Johannen Coma.
Dan Luther menerjemahkan edisi ke-2 yang terbit 1519 dan yang telah
disempurnakan ini ke dalam bahasa Jerman. Penyempurnaan demi penyempurnaan
dilakukan setelah melihat naskah-naskah kuno dan membanding-bandingkannya
dengan Polyglot sehingga keseluruhannya Erasmus menerbitkan 5 edisi. Ingat,
dalam tiap perbaikan itu tidak ada penambahan atau pengurangan firman Tuhan,
melainkan memeriksa hasil karyanya dan membandingkannya dengan naskah-naskah
yang jumlahnya sekitar 3 ribu naskah
kuno
.

Rupanya menurut Robert Estienne
(yang lebih dikenal dengan Stephanus),
hasil kerja Erasmus masih perlu diperbagus lagi. Ia menerbitkan 4 edisi
berturut-turut tahun 1546, 1549, 1550, 1551, yang tiap edisinya terdapat
perbaikan-perbaikan yang tidak terlalu berarti, seperti penambahan judul
perikop dan lain-lain. Edisi ke-3 (1550) dari Stephanus ini dikenal dengan
sebutan Royal Edition (Edition Regia). Edisi ke-4 terbit tahun
1551 dengan dilengkapi pasal dan ayat sebagaimana kita pakai hari ini. Kita
patut berterima kasih kepada Stephanus yang telah menolong kita agar lebih
gampang mencari bagian firman Tuhan yang kita inginkan. Bayangkan kalau tidak
ada pasal dan ayat, pasti kita akan mengalami banyak kesulitan.

Theodore Beza, seorang yang tersohor di kalangan
Prostestan, juga menerbitkan kitab PB bahasa asli dalam ukuran folio dengan
memakai teks Stephanus sebagai
dasar. Ketenaran Theodore Beza turut mempopulerkan teks Erasmus dan Stephanus yang dipakainya sebagai dasar sehingga
kalangan reformasi memakai teks mereka sedangkan kalangan Katolik memakai
Polyglot.

 

Keluarga Elzevir, pemilik
penerbit berbagai buku klasik, ikut juga meramaikan penerbitan kitab PB bahasa
asli yang sangat digemari masyarakat yang baru mengalami reformasi itu. Pada
edisi ke-2 terbitannya tercantum tulisan ”Kini
anda memiliki teks yang telah diterima oleh semua kalangan, yang didalamnya
tidak ada penambahan maupun kesalahan.”

 

Akhirnya ungkapan Received Text atau Textum Receptum yang biasa disingkat TR, menjadi nama dari teks yang pertama diedit oleh Desiderius
Erasmus, diperlengkapi dan diperindah oleh Stephanus, dipromosikan Theodore
Beza dan keluarga Elzevir, diberikan kepada teks yang diterima dan dipakai di
kalangan orang-orang percaya yang telah dilahirbarukan di dalam Tuhan.
Teks
ini kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk ke dalam bahasa Inggris, King James Version (KJV), yang diterjemahkan pada tahun 1611 atas perintah raja Inggris yang
bernama James dan dikerjakan oleh lebih dari 50 ahli bahasa. Teks yang mereka
pakai sebagai dasar ialah Teks Stephanus
edisi 3 dan 4 dan edisi Beza terbitan 1598.

Masyarakat, terutama orang-orang yang telah lahir baru, sangat bersukcaita
atas tersedianya kitab suci dalam bentuk cetakan bahkan dalam bahasa mereka
yang dapat mereka miliki secara pribadi dengan harga yang relatif lebih murah
dari sebelumnya. Sebelumnya harga sebuah
Alkitab tulisan tangan yang rapi itu
sama dengan harga sebuah gedung berlantai dua di dekat London Bridge. Terkutuklah orang yang tidak menghargai firman
Tuhan yang ada ditangannya hari ini.

SERI DOKTRIN ALKITAB ALKITABIAH

Filed under: DOKTRIN ALKITAB — dedewijaya at 1:43 am on Wednesday, May 14, 2008

 

ALKITAB
BAHASA ASLI (bag 1)

Tiap-tiap orang Kristen pasti
mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) tentang Alkitab bahasa asli. Terlebih
ketika Alkitab terjemahan tidak menyelesaikan persoalan, maka timbul pikiran
untuk melihat Alkitab dalam bahasa aslinya. Alkitab bahasa asli adalah otoritas
puncak (final Authority) untuk menyelesaikan segala macam perdebatan teologia
maupun percekcokan doctrinal. Semua
Alkitab terjemahan hanya memuat kebenaran secara konsep (conceptual) bukan
kebenaran secara arti kata dan tata bahasa (literal and grammatical). Oleh
sebab itu jika melakukan pembahasan Alkitab secara etimologi, maka harus
kembali ke Alkitab bahas asli karena peralihan bahasa menyebabkan perubahan
bentuk kata dan juga susunan kalimat.

Patut disadari bahwa ada perbedaan antara
satu bahasa dengan yang lain. Ada bahasa yang banyak vocabularynya dan ada
bahasa yang sedikit. Kita tidak mengatakan bahwa Alkitab hasil terjemahan akan
salah atau kurang bermutu, tetapi hanya ada kekurangan dalam menyampaikan semua
ide penulis. Misalnya (agape) dan (fileo) dalam bahasa Indonesia kedua-duanya
tetap diterjemahkan dengan kata “kasih” saja.

Karena Allah mengilhamkan kebenaranNya dengan
bahasa manusia, maka pemakaian tiap-tiap kata dalam wahyu tertulisNya pasti
adalah yang dipilihNya secara khusus. Bahkan tata-bahasa yang dipergunakanNya
juga pasti yang sesuai dengan aturan tata-bahasa manusia pemakai bahasa itu
agar tidak menyebabkan kebingungan bagi penerima wahyu. Selanjutnya karena
Allah memakai bahasa Ibrani untuk penulisan kitab PL dan bahasa Yunani untuk
penulisan kitab PB, maka kitab PL yang bahasa Ibrani serta kitab PB yang bahasa
Yunani itu sangat penting setidaknya untuk dikenal oleh setiap orang Kristen,
apalagi seorang penyampai firman Tuhan.

Alkitab Bahasa
Asli PL

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kitab PL
orang Kristen itu berasal dari kitab suci orang Yahudi. Dalam bab mengenai
kanon telah kita bahas tentang jumlah kitab dan alasan kitab-kitab itu
dimasukkan ke dalam kanon. Jumlah kitab PL bertambah sesuai dengan berjalannya
waktu sampai nabi Maleakhi menuliskan pasal 4 ayat 6 yang jatuh pada kira-kira
400 tahun sebelum kedatangan Kristus.

Pada waktu kejatuhan Yerusalem ke tangan
Babilon, kelihatannya kitab-kitab PL yang sudah ada pada saat itu diselamatkan
oleh nabi Yeremia. Nabi Yeremia yang tahu persis apa yang akan terjadi
menyadari bahwa kitab suci jauh lebih berharga dari apapun. Nebukadnezar yang
tahu bahwa Yeremia menubuatkan kejatuhan Yerusalem sangat menghormati Yeremia.
Bahkan ia membiarkan Yeremia memilih apakah ia mau tinggal di Yerusalem atau
mau ikut ke Babel, dan akhirnya Yeremia memilih tinggal di Yerusalem (Yer
39:11-14, 40:4-5).

Sekembali dari pembuangan, orang Yahudi
mengalami kebangunan rohani. Mereka bukan hanya pergi ke Yerusalem 3x setahun,
bahkan mendirikan sinagoge di seluruh Israel. Keberadaan sinagoge itu bukan
hanya untuk kegiatan keagamaan, bahkan bermanfaat sebagai sekolahan membaca
bagi anak-anak. Keadaan ini menyebabkan dibutuhkannya kitab-kitab PL karena itu
adalah bahan bacaan satu-satunya. Keadaan ini juga sekaligus melestarikan kanon
kitab PL karena jumlahnya menjadi semakin banyak sehingga kalau yang satu
rusak, masih ada yang lain. Kini terkumpul sekitar 200 ribu naskah kuno dalam
bentuk fragment dalam bahasa Ibrani dan Aramik. Dengan cara demikian Allah
memelihara firmanNya, yaitu agar orang-orang di kemudian hari dapat
memperbandingkannya. Ada yang bertanya, “apakah kitab PL yang ada di tangan
kita masih asli?” Jawabannya, “tentu, karena ada kurang lebih 200 ribu fragment
yang terkumpul dan dibanding-bandingkan.

Ketika Alexander Agung mengalahkan dunia pada
abad ketiga sebelum kedatangan Kristus, bahasa Yunani menjadi bahasa
internasional. Satu abad kemudian, yaitu abad kedua sebelum kedatangan Kristus,
generasi muda Yahudi perantauan menjadi lebih fasih berbahasa Yunani sehingga
penerjemahan kitab PL ke dalam bahasa Yunani dirasakan sangat diperlukan.
Kemudian sebuah kitab terjemahan dihasilkan oleh 72 orang penerjemah, dan
disebut Septuaginta yang artinya 70, yaitu angka genap (dibulatkan) dari jumlah
penerjemahnya.

Akhirnya pada masa kehadiran Tuhan Yesus,
kitab PL yang beredar ada 2 macam, yaitu yang berbahasa Ibrani dan berbahasa
Yunani (Septuaginta). Selain terdiri dari 2 macam bahasa, juga ada versi yang
dipakai di sinagoge dan versi yang dipakai oleh pribadi di rumah. Versi
sinagoge disalin ulang dengan sangat teliti. Jika ditemukan 4 kesalahan, maka
dinggap rusak dan segera dimusnahkan. Mereka tidak menghendaki kehadiran
salinan yang ada kesalahan agar jangn sampai makin hari makin banyak salinan
yang salah.

Kemudian pada tahun A.D. 70 Sesudah Masehi,
terjadi penghancuran kota Yerusalem beserta Bait Allah. Orang Israel
terkocar-kacir dan tersebar ke mana-mana. Mereka kehilangan identitas sebagai
bangsa. Setelah melalui sebuah periode waktu yang agak panjang sebagian orang
Israel menyadari bahwa mereka perlu berbuat sesuatu agar identitas bangsa
mereka tidak terhilang sama sekali. Mereka menyadari bahwa kitab PL yang
terus-menerus dibacakan di sinagoge dan dalam keluarga masing-masing, maka
keyahudian mereka pasti tidak akan hilang.

Pada periode AD 70-900, sekelompok orang
Yahudi yang disebut Baly ha-masoret (master of tradition atau guru
adapt-istiadat) berusaha mengumpulkan salinan-salinan untuk memantapkan
eksistensi kitab PL. Perlu diketahui bahwa yang terbakar adalah yang ada di
kota Yerusalem, tetapi masih ada banyak salinan yang tersimpan di
sinagoge-sinagoge yang bisa dijadikan patokan. Alasan yang mendorong mereka
melakukan pekerjaan itu ialah karena salinan yang ada hanya tertulis dengan
huruf mati sedangkan generasi muda Yahudi yang sudah tersebar mengalami
kesulitan untuk membaca tanpa huruf hidup. Bagi yang lancar berbahasa Ibrani,
ia tidak membutuhkan huruf hidup, melainkan cukup dengan huruf mati (konsonan)
saja sudah bisa membaca dan mengerti artinya. Jadi kalau kalimatnya, “Musa
turun dari gunung Sinai” itu hanya ditulis “Ms trn dr gnng sn”

Jadi Baly ha Masoret itu berusaha
mengumpulkan salinan-salinan dan berusaha membubuhkan huruf hidup (vokal) agar
generasi yang kurang fasih berbahasa Ibrani bisa belajar membaca. Hasilnya
bukan saja iman Yudaisme mereka tetap terpelihara, bahkan bahasa Ibrani tetap
lestari sementara bahasa Mesir, Persia dan lain-lain musnah terkikis waktu.
Dengan demikian jati diri mereka sebagai orang Yahudi tetap terpelihara
sekalipun mereka tersebar ke segala penjuru dunia.

Dalam melaksanakan tugas yang sangat berat
itu para Baly ha masiret dibantu oleh ahli tata-bahasa (grammar) yang dalam
bahasa Ibrani disebut nag danim. Karena kita PL asli yang ditulis Musa, Daud,
Samuel, dll tidak memakai huruf hidup (vokal) dan juga tanpa tanda baca, maka
sulit dimengerti oleh generasi muda Yahudi maupun bangsa lain yang mempelajari
bahasa asli kitab PL. Para Baly ha masoret dan nag danim, orang-orang Yahudi
yang masih sangat fasih bahkan ahli dalam bahasa Ibrani itu, menolong memasang
huruf hidup dan tanda baca ke dalam teks yang tadinya hanya terdiri dari huruf
mati dan tanpa tanda baca.

Kesederhanaan teks yang ditulis jauh sebelum
Masehi itu tentu bukanlah suatu kesalahan karena perkembangan pengetahuan
bahasa pada saat itu Cuma hanya sampai pada tahap itu. Penambahan huruf hidup
dan tana baca itu sama sekali bukan menambahi firman Tuhan, melainkan hanya
menjadikan bunyi yang sudah ada ke dalam tanda baca. Misalnya, makan kalau dulu
ditulis mkn saja, maka sekarang ditambahkan dua huruf ’a’ sehingga menjadi
makan. Bahkan bahasa Indonesia pernah mengalami beberapa kali penyempurnaan.
Dulu Soekarno sekarang menjadi Sukarno. Dulu djangan sekarang menjadi jangan,
dan dulu tjepat sekarang menjadi cepat.

Para Baly ha Masoret dan nag danim yang hidup
sesduah AD 70 yang mengkuatirkan keimanan anak cucu bangsa Israel telah dipakai
Allah untuk memelihara kitab PL yang sangat dibutuhkan jemaat Perjanjian Baru.
Hasil karya mereka disebut Masoretic Text (Teks Masoretik) dipakai oleh baik
kaum Yahudi maupun orang-orang Kristen.

STANLEY DAN LIVINGSTONE

Filed under: PESONA ALKITAB — dedewijaya at 6:51 am on Sunday, May 11, 2008

Misionari
dan penjelajah Kristen yang terkenal, David Livingstone telah
menghilang tanpa jejak dalam suatu perjalanan ke daerah-daerah
pedalaman Afrika Tengah. Berita terakhir yang dapat dipercaya
mengenai ekspedisinya mengabarkan bahwa Livingstone menderita sakit,
tidak mempunyai persediaan bahan-bahan keperluan sehari-hari, dan
telah ditinggalkan oleh para penunjuk jalannya. Setelah lebih dari
satu tahun berlalu tanpa kabar dari Afrika, banyak orang Eropa
beranggapan bahwa ia telah hilang selamanya. Akan tetapi, satu
kelompok kecil pendukungnya di London merasa yakin bahwa mereka patut
mengirim suatu misi penolong untuk menyelamatkan putra Skotlandia
terbaik itu. Grup ini menyediakan perlengkapan bagi Henry M. Stanley,
seorang penjelajah yang ulung, untuk mengadakan suatu ekspedisi untuk
mencari dan menemukan Livingstone.

Stanley
berangkat dan menempuh suatu perjalanan yang sulit melintasi hutan
belukar dan sungai-sungai benua Afrika yang asing baginya untuk
mengetahui dimana David Livingstone berada. Pada awal perjalanannya,
Stanley membawa banyak koper besar, beberapa di antaranya berisi 73
buku favoritnya.
Buku-buku yang dijilid dengan karton tebal tersebut
beratnya 180 pon. Ketika ia dan orang-orang Afrika yang memikul
barangnya mulai diliputi keletihan setelah melakukan perjalanan yang
sulit melintasi hutan belukar sepanjang 300 mil, Stanley mulai
meninggalkan atau membakar buku-buku berharganya untuk menyalakan api
setiap malam (walaupun sebenarnya ia segan melakukannya). Seraya
mereka terus melintasi hutan, jumlah buku perpustakaan Stanley
menyusut sampai akhirnya tinggal satu buku saja, yakni Alkitabnya
yang berharga. Dengan pertolongan supernatural dari Allah, Stanley
akhirnya menemukan pelayan Allah yang mulia itu dan menyapanya dengan
kata-kata yang sudah tidak asing lagi, ”Kalau saya tidak salah,
Bapak adalah Dr. Livingstone?” Kedua penjelajah itu
berbincang-bincang mengenai iman pribadi mereka yang kokoh dalam
Yesus Kristus. Livingstone menceritakan kepada Stanley bagaimana
banyak suku telah bertobat dan menerima iman dalam Kristus walaupun
sebelum itu mereka telah terlibat dalam kanibalisme. Ketika kembali
dari perjalanannya yang amat mengesankan, Stanley melaporkan bahwa ia
telah membaca Alkitab kesayangannya dari Kejadian sampai Wahyu
sebanyak 3 kali selama perjalanan yang panjang itu.

Seraya
Anda membaca buku Tanda Tangan Allah ini dan menemukan
pelbagai hal yang menakjubkan, saya harap Anda juga merasakan getaran
sukacita yang saya alami ketika Tuhan memimpin saya untuk meneliti
tanda-tanda yang merupakan bukti luar biasa tentang inspirasi Kitab
Suci yang saya bagi kepada Anda dalam buku ini. Saya harap buku ini
dapat menjadi sumber yang memberikan manfaat besar bagi para gembala
jemaat maupun keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan dalam
menyediakan hasil-hasil penelitian terbaru yang membuktikan otoritas
firman Allah bagi mereka yang sedang mencari kebenaran Allah. Doa
saya adalah informasi yang saya bagikan dalam buku ini akan
memampukan banyak pembaca untuk memulihkan keyakinan mereka pada
Alkitab sebagai Firman yang diilhamkan Allah. Dengan demikian, mereka
kemudian dengan penuh kepercayaan dapat mempelajari Kitab Suci, dalam
pengetahuan bahwa Allah telah menyediakan bukti bahwa Alkitab adalah
benar-benar firman Allah karena tanda tangan-Nya tampak di seluruh
halamannya. Rasul Paulus menulis kepada semua orang Kristen sebagai
berikut, ”Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Dikutip
dari buku Tanda Tangan Allah, hal 20-21, Grant R, Jeffrey, YPI
Imanuel, Cetakan I, 1999. Buku yang sangat bagus berisi bukti-bukti
penelitian arkeologi dan penelitian Kitab Suci mengenai
Kebenaran-Kebenaran Alkitab.

MENGAPA HARUS YESUS?

Filed under: PESONA ALKITAB — dedewijaya at 6:42 am on Sunday, May 11, 2008

Beberapa ayat Kitab Suci
yang sangat Eksklusif menyatakan Yesus adalah satu-satunya Jalan
menuju Bapa (Allah) diantaranya yaitu:

Yohanes 14:6 Kata Yesus
kepadanya, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada
seorang pun yang datang kepada Bapa
, kalau tidak melalui Aku
[YESUS].”

Kisah Para Rasul 4:12
Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia
[YESUS], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang
diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Demikian 2 ayat dari
beberapa ayat yg jelas2 eksklusif dari Kitab Suci yang menyatakan
bahwa tidak ada keselamatan kecuali hanya lewat Yesus saja. Ayat
Yohanes 14:6 adalah perkataan/ucapan langsung Yesus sedangkan ayat
Kisah Rasul 4:12 diucapkan oleh Simon Petrus, pemimpin para
murid/rasul Yesus.

Sekiranya 2 ayat ini
tidak ada dalam Kitab Suci, maka orang Kristen tidak perlu giat
menjalankan Amanat Agung Yesus dalam Matius 28:19-20,

28:19 Karena itu,
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

28:20
dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu.
Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
akhir zaman."

Ini adalah perintah untuk
memberitakan Injil kepada seluruh suku bangsa di dunia dan menjadikan
semua suku bangsa di dunia sebagai murid Yesus. Siapakah murid Yesus?
Murid artinya pengikut, Kristen artinya pengikut Kristus. Kristus
(atau Mesias) adalah nama gelar Yesus. Jadi semua murid Yesus
pastilah Kristen. “Kristen” adalah sebutan dari kaum
kafir/penganiaya kepada semua orang yg mengikut ajaran Yesus Kristus.
Sebutan ini muncul pertama kali di kota Antiokhia.

Kisah
Para Rasul  11

11:26
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun
penuh, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah
murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

Kisah
Para Rasul  26

26:28
Jawab Agripa, "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang
Kristen
!"

I
Petrus  4

4:16
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka
janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama
Kristus itu.

Di
Kitab Suci ada 3 ayat yg menyebut kata Kristen. Raja Agripa, seorang
kafir yang tahu benar adat-istiadat dan ajaran agama orang Yahudi,
hampir saja percaya dan jadi Kristen oleh pemberitaan Injil yang
dilakukan Rasul Paulus dalam pembelaan dirinya dihadapan Raja Agripa.

Jadi
sebelum ada Katolik, Kristen sudah ada. Maka, ada sebutan Katolik
disebut Kristen Katolik, karena pada mulanya memang kata ”Kristen”
sudah ada dalam ayat Kitab Suci.

Nah
karena klaim dua ayat Eksklusif di atas, maka setiap orang yang
mengaku murid Yesus atau Kristen adalah wajib mengimani satu-satunya
cara dan jalan keselamatan atau satu-satunya cara/jalan menuju Surga
Sungguh-sungguh hanya lewat YESUS saja. Dengan kata lain di luar
YESUS tidak ada Jalan Keselamatan, Diluar Yesus tidak ada Jalan/Cara
menuju Surga. Demikianlah seseorang bisa disebut Kristen/murid Yesus.

Sekiranya
ada orang Kristen atau murid Yesus yang mengaku di luar YESUS ada
jalan keselamatan atau jalan keselamatan bukan hanya lewat YESUS,
dapat dipastikan dia bukanlah murid Yesus atau seorang Kristen.

Apakah
dengan demikian orang Kristen sombong? Tentu tidak karena memang
Kitab Suci mengajarkan demikian.

Siapapun
Anda, apapun agama atau keyakinan Anda, jika Anda meyakini sungguh
bahwa YESUS adalah SATU-SATUNYA Jalan menuju Allah, atau YESUS adalah
satu-satunya Jalan Keselamatan atau YESUS adalah satu-satunya Jalan
Menuju Surga atau YESUS adalah satu-satunya Tuhan dan Juruselamat
Dunia (Yoh 4:42, Filipi 3:20, I Tim 4:10, II Tim 1:10, Titus 1:4,
2:10, 13, II Petrus 1:11, II Petrus 3:18, Yudas 1:25, dll), maka Anda
pastilah orang Kristen/murid YESUS. Dan Anda pasti SELAMAT (Ada
JAMINAN KEKAL bagi Anda PASTI ke SURGA).

Sekiranya
tidak ada klaim Eksklusif dari Kitab Suci tentang KEUNIKAN YESUS
sebagai SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN atau SATU-SATUNYA JALAN MENUJU
SURGA, maka Anda atau siapapun boleh bebas memilih agama atau
keyakinan apapun. Atau sekiranya di Alkitab mengatakan ada banyak
jalan menuju Surga atau ada banyak jalan untuk sampai pada Allah,
maka Anda atau siapapun tidak perlu harus memilih YESUS atau tidak
perlu menjadi Kristen/murid Yesus. Namun jelas Kitab Suci menolak
semua kemungkinan ini.
Tinggal kita mau
mengamini dan mengimani ataukah kita menolaknya. Pilihan ada ditangan
anda dan saya selaku manusia yang punya kehendak bebas, percaya atau
menolak? Tuhan Yesus bukan Allah yang Otoriter kayak Diktator Hitler,
Musolini, dll yang suka memaksa orang harus percaya, harus terima
DiriNya sebagai SATU-SATUNYA JALAN. Anda dan saya bukan Robot
sehingga harus manut mutlak seperti apa maunya si Pencipta robot.
Jadi pilihan tetap ada ditangan Anda dan saya selaku manusia yang
punya kehendak bebas.

Apakah
masuk surga ditentukan oleh amal bakti atau perbuatan baik kita
kepada Allah? Kitab Suci dengan jelas membantah hal ini dalam Titus
3:4-8

3:4
Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan
kasih-Nya kepada manusia,

3:5
pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena
perbuatan benar yang telah kita lakukan
, tetapi karena
rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan
yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

3:6
yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita
melalui Yesus Kristus,
Juruselamat kita,

3:7
supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh anugerah-Nya,
berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

3:8
Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin
menegaskannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah
sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang
baik dan berguna bagi manusia.

Jadi
sangat jelas Kitab Suci menyatakan Keselamatan dan Surga tidak kita
peroleh karena usaha kita yaitu mengerjakan semua hal-hal yang baik
dan benar (amal ibadah yang saleh), namun KESELAMATAN atau SURGA itu
sungguh-sungguh ANUGERAH (Pemberian Cuma-Cuma) dari ALLAH semata,
tidak ditambah dengan PERBUATAN AMAL ibadah. Amal Ibadah itu hanya
menyatakan bahwa Anda sudah memperoleh Anugerah Allah dan membuktikan
bahwa Anda sudah diselamatkan atau anda sungguh Orang Percaya/murid
Yesus/Kristen. Amal Ibadah yg orang Kristen lakukan bukanlah syarat
agar dia bisa masuk surga atau agar dia bisa diselamatkan Allah.
Namun itu bukti dia sudah diselamatkan dan menerima ANUGERAH
KESELAMATAN Allah secara Cuma-Cuma melalui Penebusan yang dikerjakan
oleh Tuhan Yesus Kristus. Jadi amal ibadah/perbuatan baik selain
sebagai BUKTI sudah diselamatkan adalah juga berbicara mengenai
upah/pahala/hadiah yang akan diterima selama di dunia (Berkat Tuhan
di dunia) atau setelah di Surga nanti (Berkat Tuhan di Surga berupa
mahkota atau jabatan/posisi, dll, yang jelas jauh dari ”Surga yang
bersifat hedonisme”).

Mengapa
harus Yesus? Karena memang tidak ada JALAN/CARA LAIN yang olehnya
kita beroleh SELAMAT. Demikianlah hal yang dapat saya sampaikan
selaku seorang yang mengaku murid Yesus/orang Kristen.

Jika
anda merasa ragu dan mau bertanya/diskusi tentang hal ini, mari
bergabung di milist:
diskusi-alkitab@googlegroups.com.
Tuhan Yesus memberkati.

FORMULA BAPTISAN

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 3:34 am on Friday, May 9, 2008

Yang dimaksud dengan ‘formula baptisan’ adalah kata-kata yang diucapkan oleh pendeta pada waktu membaptis.

Dalam Kitab Suci formula baptisan ini hanya ada di satu tempat yaitu Mat 28:19 - ‘dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus’. Karena itu pada waktu pendeta membaptis, ia berkata: ‘Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Amin’.

Ada banyak orang yang berdasarkan ayat-ayat seperti Kis 2:38 Kis 8:16 Kis 10:48 Kis 19:5 (’dibaptis dalam nama Yesus Kristus / dalam nama Tuhan Yesus’) lalu mengubah formula baptisan, sehingga pada waktu membaptis mereka mengucapkan kata-kata: ‘Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Amin’.

Ini salah karena:

a) Kis 2:38 Kis 8:16 Kis 10:48 Kis 19:5 itu bukanlah formula baptisan.

Betul-betul tak masuk akal, kalau Yesus sudah memberikan formula baptisan dalam Mat 28:19, lalu rasul-rasul berani mengubahnya.

Kata-kata ‘dibaptis dalam nama Tuhan Yesus / Yesus Kristus’ hanya berarti:

· dibaptis berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus.

· dibaptis atas otoritas Tuhan Yesus.

b) ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus’ tidak sama dengan ‘Tuhan Yesus Kristus’!

Tanggapan saya:

Dibaptis paling gampang ikut perkataan langsung Tuhan Yesus yg ditulis dengan jelas oleh Matius/Lewi dalam Matius 28:19 dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Pengakuan Iman GBI, dan Pantekosta, biasanya membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Terhadap hal ini saya juga tidak keberatan. Kedua-duanya sah, dibaptis dalam “nama Yesus (banyak macamnya bisa dibaptis dalam nama TUHAN YESUS atau YESUS KRISTUS, atau TUHAN YESUS KRISTUS, TUHAN YESUS, KRISTUS YESUS, sama saja)”, atau
dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, atau juga sesuai dg Pengakuam Iman GBI dan Pantekosta:
membaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus yaitu dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Jadi orang-orang Kristen tidak perlu bingung,ikuti saja yang paling sederhana yaitu ikuti FORMULA BAPTISAN dalam Matius 28:19, dalam nama BAPA, ANAK dan ROH KUDUS. ini Jelas sesuai dengan perkataan Yesus, karena kutipan langsung kata-kata Yesus. sedangkan dalam Kisah Rasul, itu tidak ada yg kutipan langsung perkataan Rasul (atau artinya

Kata-kata ‘dibaptis dalam nama Tuhan Yesus / Yesus Kristus’ hanya berarti:

· dibaptis berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yesus.

· dibaptis atas otoritas Tuhan Yesus)

Demikian, jadi jangan bingung mana yg sah, dalan nama siapa. Kasihan kalo orang Kristen dari zaman Para rasul sampai hari ini dibingungkan dengan Formula Baptisan. Ada yang menggunakan ketiga macam cara penyebutan nama dibaptis dalam nama Yesus yaitu Aliran Jesus Only. Aliran Jesus only pasti bingung, mau pake nama YESUS saja, TUHAN YESUS saja, atau TUHAN YESUS KRISTUS saja, atau KRISTUS YESUS saja, dll, Sebaliknya orang Kristen tidak perlu ragu dan bingung, pakai saja ayat Matius 28:19.

dedewijaya.blogspot .com

SEBAIKNYA ANDA TAHU

Filed under: PESONA ALKITAB — dedewijaya at 2:11 am on Friday, May 9, 2008

Ada baiknya kita mengenal beberapa istilah dalam Alkitab untuk lebih memahami Alkitab. Mari kita simak satu per satu kata-kata berikut ini:

YESUS=Bentuk terjemahan dari nama Ibrani Yashua (Aram: Yeshua). Merupakan nama Yahudi yang umum, namun menjadi khusus ketika diberikan kepada YESUS Kristus (Ibrani: Yashua Ha Mashiakh). Nama ini merupakan turunan dari nama YAHWEH, yakni: ‘Yah’ ditambah dengan kata ‘Shua’ (artinya: Yang Menyelamatkan), sehingga Yashua berarti YAHWEH Yang Menyelamatkan. YESUS Kristus adalah Firman Elohim yang menjelma sebagai manusia dengan lahir melalui seorang perawan bernama Maria.

YAHWEH= Nama Diri Sang Pencipta, Elohim Yang Mahakuasa, yang secara terbuka dan gamblang diungkapkan kepada Musa sebagai Elohimnya Abraham, Elohimnya Ishak, dan Elohimnya Yakub (Keluaran 3:15). Di dalam Tenakh ditulis hwhy yang dikenal dengan istilah TETRAGRAMMATON (YHWH).

Roh Kudus= Kitab Suci memperkenalkan Roh Kudus sebagai satu Pribadi. Ia disebut juga Roh Elohim (Kej 1:2), Roh YAHWEH (Hak 13:25), Roh Tuhan YAHWEH (Yesaya 61:1 The Spirit of the Lord GOD), Roh Kristus (Rm 8:9), Roh YESUS Kristus (Fil 1:19), Roh Kebenaran (Yoh 14:17) dan Penolong (Penghibur, Perantara, Yoh 14:16). Ia dilambangkan dengan api, air, mata air, aliran sungai kehidupan, [air] anggur, nafas, merpati, dsb.

Kitab Suci= Kumpulan kitab-kitab dan surat-surat yang diterima dan dikanonisasi sebagai firman Elohim yang mengikat kehidupan umatNya. Terdiri dari 66 kitab, yakni 39 kitab PL dan 27 kitab PB. Aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani (sebagian besar), Aram, dan Yunani.

Elohim= Bentuk jamak dari El atau Eloah. Merupakan kata Ibrani yang dipakai oleh PL untuk menunjuk pribadi-pribadi ilahi yang disembah oleh manusia, baik Elohim Pencipta yang Maha Kuasa yang disebut di dalam Kej 1:1 maupun ’ilah lain’ dalam Kel 20:3.

Anak Elohim= salah satu gelar yang disandang oleh YESUS Kristus yang menunjukkan kedudukan dan hubunganNya dengan Elohim yang dengan begitu akrab Dia sapa ’Abba’ (Mrk 14:36)

Anak Manusia= terjemahan dari istilah khas Ibrani ben ’adam atau Aram bar’ enasya. Ini adalah salah satu sebutan yang paling sering digunakan oleh YESUS untuk menyebut Diri-Nya.

Baptis= berasal dari kata Yunani baptizo, yang berarti ’memasukkan (mencelupkan) sesuatu ke dalam air’. Akhirnya ini menjadi sebuah istilah dalam terminologi Kristiani yang menunjuk pada upacara permandian di dalam air sebagai tanda pertobatan dan percaya kepada YESUS Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan Tuhan dalam hidup seseorang.

Yohanes Pembaptis= Sepupu YESUS, karena ibunya, Elisabeth adalah sepupu Maria, ibu YESUS. Yohanes Pembaptis 6 bulan lebih tua dari YESUS. Ia diurapi degan ‘roh dan kuasa Elia’ untuk mempersiapkan jalan bagi YESUS Kristus (Lukas 1:17).

Sumber: Kitab Suci ILT (Indonesian Literal Translation), Yalensa, cetakan I, 2007.

Kesendirian yang Tiada Tara

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 9:15 am on Wednesday, May 7, 2008

 

(Refleksi atas Seruan Yesus di Kayu Salib)

From my brother : Ev. Hali Daniel Lie M.Th

Eli, Eli, Lama Sabakhtani

Pada detik-detik terakhir menjelang kematian-Nya di
atas kayu salib, Yesus berseru: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" (Matius 27
: 46). Seruan yang tercatat di dalam Injil Matius ini setengahnya
memakai bahasa Ibrani dan setengahnya lagi menggunakan bahasa Aram.
Agak berbeda sedikit, Injil Markus mencatat seluruh kalimat itu dengan
memakai bahasa Aram: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?" (Markus 15:34).
Makna sesungguhnya dari kalimat tersebut, sebagaimana yang
diterjemahkan langsung di dalam Alkitab, adalah "Allah-Ku, Allahku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Kalimat macam apakah ini gerangan?

Saudara-saudariku sekalian, apabila pada saat
dahulu seruan itu sedang diucapkan dari mulut Yesus, engkau berdiri di
bawah salib, pikiran apakah yang muncul? Bila telingamu mendengarkan
secara langsung: "Eli, Eli, lama sabakhtani?",
apakah yang terbersit di dalam sanubarimu? Andaikata engkau hidup
sezaman dengan Kristus pada waktu kalimat itu diucapkan: "Allah-Ku,
Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?", perasaan apakah yang timbul di dalam hatimu? Takutkah? Pilukah? Gemetarkah? Ibakah? Sedihkah? Kasihankah?

Ditinjau dari teologi sistematika kalimat itu
sangat kontroversial. Tidak tanggung-tanggung, persoalan Trinitas atau
Tritunggal diperdebatkan dengan hangat bahkan sangat mungkin
disangsikan keabsahannya. Mereka yang menolak doktrin Trinitas sering
memakai ayat ini sebagai dukungan. Bagi mereka, bagaimanakah mungkin
Sang Putra terpisah dari Sang Bapa? Bukankah Tritunggal: Bapa, Putra
dan Roh Kudus, tak terpisahkan satu sama lainnya?

Ditinjau dari teologi biblika, sumber dan latar
belakang teks ini dipersoalkan. Banyak penafsir mensinyalir kalimat itu
mengambil latar belakang seluruhnya dari Mazmur 22. Dengan membaca
Mazmur 22 maka kita tahu bahwa seruan Yesus sama dengan seruan Pemazmur
pada ayat 2a. Memang ada kesamaan konteks antara seruan Yesus dengan
seruan Pemazmur namun harus diakui juga zaman dan pergumulannya berbeda.

Dalam tulisan ini kita tidak hendak menyelesaikan
kedua persoalan di atas, baik dari teologi biblika maupun sistematika.
Kita akan lebih menyoroti pergumulan batiniah Yesus. Coba kita
renungkan kembali kalimat itu: Allah-Ku, Allahku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kristus bergumul dengan problem
ditinggalkan oleh Allah Bapa. Perasaan kesendirian muncul di dalam
diri-Nya.

Tidak ada yang menemaninya, termasuk Allah Bapa. Bapa pun sampai meninggalkan-Nya sendirian di kayu salib. Singkatnya, very very very alone….Timbul satu perasaan kesendirian yang tiada taranya. Biasakah engkau turut merasakannya?

Bagaimana tidak, sepanjang hidup-Nya Yesus
menunaikan tugas agung nan mulia? Dia mengajarkan kebenaran dan
keadilan. Dia mempraktekkan kebenaran dan keadilan. Tak sekalipun dalam
hidup-Nya Dia berbuat yang tak benar dan tak adil. Kini, apa hasilnya?
Air susu dibalas air tuba! Yesus harus mati begitu tragis, yakni dengan
penyaliban. Tidak adakah cara kematian lain yang lebih wajar dan
manusiawi? Dia harus mati dengan terhitung sebagai seorang penjahat
besar padahal tak satu kesalahan kecil pun yang pernah diperbuat-Nya.
Mengapa Allah Bapa sendiri tidak peduli pada-Nya? Mengapa Bapa
meninggalkan-Nya seorang diri?

Jangan lupa pula bahwa seruan itu diteriakan-Nya dengan suara nyaring.
Di satu pihak memang penyaliban itu sangat menyakitkan tubuh
jasmani-Nya. Terpaku, kehausan, darah sedikit demi sedikit mengalir
sebelum akhirnya habis. Akan tetapi, hati batiniah-Nyalah yang lebih
sakit, ditinggalkan seorang diri bahkan juga termasuk oleh Allah Bapa.
Betapa memilukan hati! Kesendirian yang tiada tara!

Satu Demi Satu Meninggalkan-Nya

Setelah memulai karya-Nya mengajar berkeliling,
banyak orang mulai mengikuti-Nya. Kelemahlembutan-Nya menyegarkan jiwa
banyak orang yang sedang merana. Penyembuhan penyakit, pengusiran
setan, mujizat demi mujizat membuat khalayak ramai berbondong-bondong
mengikuti-Nya. Namun, perlahan-lahan satu per satu mulai
meninggalkan-Nya.

Manakala Dia mengingatkan khalayak ramai akan segala
risiko mengikuti-Nya maka orang-orang mulai mengundurkan diri. Di taman
Getsemani, Dia bergumul seorang diri. Pada saat keringat-Nya mengalir
seperti darah, Petrus, Yakobus dan Yohanes, tiga orang yang menemani di
Getsemani, tidur terlelap. Justru di saat-saat hati-Nya amat sedih,
seperti mau mati rasanya, ketiga murid-Nya tidak mampu berjaga-jaga.
Yesus dibiarkan bergumul sendirian.

Sepanjang pelayanan sekitar tiga setengah tahun,
Dia disertai dua belas orang murid. Kedua belas orang murid itu selalu
mengiringi-Nya ke mana pun Dia pergi. Akan tetapi, salah seorang di
antara murid-Nya itu akhirnya mengkhianati-Nya. Yudas begitu tega
menjual Yesus dengan harga tiga puluh uang perak. Seorang guru
dikhianati oleh muridnya sendiri. Betapa pedih hati-Nya!

Salah seorang murid-Nya pernah bersumpah setia untuk
berbela-Nya sampai mati. Sumpah itu dibuktikan oleh sang murid, yakni
Petrus, dengan memotong telinga Malkhus, seorang perwira yang
menangkap-Nya. Namun, tidak lama berselang, sang murid menyangkal dan
mengutuk bahwa dia tidak pernah mengenal Yesus. Tidak
tanggung-tanggung, penyangkalan itu sampai dilontarkan tiga kali. Baru
tatkala ayam berkokok, Petrus menyadari dan menyesal atas
kepengecutannya. Pil pahit berupa penyangkalan dari Simon Petrus harus
ditelan-Nya. Bagaimana mungkin hati-Nya tidak hancur?

Sewaktu memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor
keledai, Dia disambut meriah. Khalayak ramai menghamparkan pakaian
mereka di jalan dan melambai-lambaikan daun. Salam kebesaran
dipersembahkan pada-Nya: Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan. Sambutan hangat itu begitu membesarkan
hati-Nya. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan, sebagian orang itu
kemudian berbalik menentang-Nya. Kali ini mereka mengganti sambutan
kehormatan itu dengan sumpah serapah. Maka terdengarlah teriakan
penghinaan: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Salibkan Dia! Awalnya Dia
diterima tapi akhirnya ditolak. Kembali Yesus ditinggalkan seorang diri.

Satu demi satu meninggalkan Yesus. Kesendirian-Nya
mencapai titik kulminasi pada saat Dia berseru:"Eli, Eli, lama
sabakhtani?" Allah Bapa di Surga pun meninggalkan-Nya. Dan jangan lupa,
seruan itu diucapkan dengan suara nyaring. Betapa sepi kesendirian-Nya
kala itu! Kesendirian yang tiada tara. Kesendirian itu sudah tak
tertahankan. Di kayu salib, menjelang kematian-Nya, Yesus merasakan
sunyi…, sepi…, sendiri ….

Sedang Sendiriankah Engkau Sekarang?

Saudara-Saudariku sekalian, apabila seseorang
berbuat kejahatan maka sangat wajar dia ditinggalkan orang. Massa akan
menghindarinya. Khalayak ramai akan mencaci makinya, menolaknya dan
menyumpahinya. Akan tetapi, sebaliknya, bagaimana terhadap orang yang
berbuat kebenaran dan keadilan?

Orang-orang yang mau teguh berpegang pada kebenaran
dan keadilan pun cepat atau lambat akan ditinggalkan khalayak ramai.
Sampai pada satu saat kelak, orang yang tetap bersiteguh bertahan dalam
kesetiaan pada firman Tuhan juga akan mengalami kesendirian. Satu demi
satu orang meninggalkannya. Satu demi satu teman-sahabat
meninggalkannya. Bahkan tak jarang, anggota keluarga sendiri pun akan
meninggalkannya.

Pernahkah engkau menghadapi kenyataan hidup seperti
itu? Setiap orang yang mau tetap berpegang teguh pada kebenaran dan
keadilan harus bersiap diri untuk menghadapinya. Kenyataan itu hampir
tak terhindari dan kenyataan hidup itu pasti akan engkau tempuh.

Pada saat-saat sedemikian, yang engkau rasakan
hanyalah sunyi…, sepi…dan sendiri…. Apa yang paling engkau
butuhkan bukanlah nasehat, penghiburan atau pengajaran doktrinal.
Cukuplah bilamana ada satu orang saja yang mau menemanimu, duduk
bersamamu dan bila perlu menangis bersamamu. Jika begitu beratnya
sampai satu orang pun tak ada yang bersamamu, engkau tetap harus
berdiri kokoh. Masih ada Allah yang akan bersamamu. Saudara-Saudariku
sekalian, bila oleh karena mempertahankan kebenaran dan keadilan,
engkau sampai ditinggalkan orang-orang, teman-sabahat, bahkan keluarga
sendiri, engkau harus bersiap hati merasakan kesendirian hidup itu.
Sesunyi-sunyinya, sesepi-sepinya, dan sesendiri-sendirinya, perasaaan
jiwamu saat itu, jauh lebih berat situasi-kondisi yang pernah dirasakan
oleh Yesus Kristus di kayu salib. Tetaplah ingat selalu ada satu pujian
yang mengatakan:

Allah mengerti, Allah perduli

Segala persoalan yang kita hadapi

Tak akan pernah dibiarkanNya

Kubergumul sendiri

Sebab Allah mengerti

YESUS LAHIR PADA MASA KAISAR AGUSTUS ATAU HERODES? HERODES YG MANA?

Filed under: KONTRADIKSI ALKITAB — dedewijaya at 4:19 am on Tuesday, May 6, 2008

Pertama-tama
ada baiknya kita baca dulu Matius Pasal 2 dan Lukas pasal 2 dan pasal
3. Jika sudah akan lebih mudah memahami dan menjawab pertanyaa.

Di Alkitab ada banyak orang yang disebut dengan Herodes (gelar/pangkat dalam pemerintahan) misalnya:
1. Herodes Agung, raja atas seluruh tanah Palestina (37-4 Sebelum Masehi).
Ialah
yang memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem,
pada masa tidak lama sesudah Yesus lahir. (Mat 2:1-23; Luk 1:5).
2. Arkhelaus, anak Herodes Agung, memerintah atas Yudea dan Samaria
( 4 Sebelum Masehi —6 Sesudah Masehi). Ia dipecat dan daerahnya dimasukkan
langsung ke dalam Kerajaan Romawi (Mat 2:22*).
3.
Herodes Antipas, anak Herodes Agung, raja wilayah atas Galilea (4
Sebelum Masehi —39 Sesudah Masehi), yang kemudian dipecat. Ia kawin
dengan Herodias, bekas isteri saudaranya (Luk 3:19). Dialah yang
membunuh Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12).
4. Herodes Agripa I, cucu
Herodes Agung, raja atas seluruh Palestina (41-44 Sesudah Masehi).
Dialah yang membunuh rasul Yakobus dan yang memenjarakan Petrus (Kis
12:1-25). Anak Herodes Agripa I ialah Agripa II

Nah Yesus dalam Matius 2:1
(“Sesudah
Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes
[yaitu Herodes Agung], datanglah orang-orang majus dari Timur ke
Yerusalem”)

Yesus berada dalam masa pemerintahan Herodes yang
bernama Herodes Agung (memerintah dari 37 sampai 4 Sebelum Masehi),
jadi Yesus lahir di akhir masa pemerintahan Herodes Agung (perhatikan
ayat Matius 2:22, Herodes Agung mati digantikan dengan Arkhelaus,
anaknya)

Matius 2:22 “Tetapi setelah didengarnya, bahwa
Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes [Herodes Agung],
ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah
Yusuf ke daerah Galilea.”
Lukas 2:1-2 berkata:
2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.

Lukas 3:1-2
3:1
Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika
Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah
Galilea [Herodes Antipas], Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan
Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,
3:2 pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.

Perhatikan Keterangan mengenai Kaisar dan masa memerintahnya dalam Kamus Alkitab:

Sejak
Agustus, raja atau kepala pemerintah Roma diberi gelar Kaisar. Yang
menjadi Kaisar pada zaman Perjanjian Baru berturut-turut ialah:
1.
Agustus (memerintah dari tahun 31 Sebelum Masehi —14 Sesudah Masehi
(SM), bandingkan Luk 2:1*), Yesus Kristus dilahirkan pada zaman
pemerintahannya
2. Tiberius (memerintah dari tahun 14-37 SM).
Yohanes Pembabtis (Luk 3:1) dan Yesus (Mat 22:17,21; Luk 23:2; Yoh
19:12,15) tampil di masyarakat pada zaman pemerintahannya.

3. Kaligula (memerintah dari tahun 37-41SM),
4.
Klaudius (memerintah dari tahun 41-54 SM), disebutkan berkaitan dengan
bencana kelaparan (Kis 11:28) dan pengungsian orang-orang Yahudi dari
kota Roma ( Luk 18:2*).

5. Nero, mungkin dialah yang disindir
dengan angka 666 dalam Wahyu (Wahyu 13:18), Nero (54-68 sesudah
Masehi), seperti termaktub di dalam Kis 25:10-12 ( Paulus) dan Filipi
4:22

6. Vespasianus (memerintah dari tahun 69- 79)
7.
Titus (memerintah dari tahun 79-81) yang pada tahun 70 memusnahkan kota
Yerusalem. Beberapa di antara mereka disembah seperti dewa dan
juruselamat dan diberi gelar kehormatan Kurios = Tuhan.

Jadi
jelas kiranya bahwa Yesus lahir di masa pemerintahan Kaisar Agustus dan
Raja Herodes Agung. Yesus lahir menjelang masa akhir pemerintahan Raja
Herodes Agung, perkiraannya yaitu Yesus lahir tahun 6 Sebelum Masehi
(berdasarkan data Matius 2:16, bayi-bayi yg mau dibunuh Herodes Agung
adalah bayi yg berusia 2 tahun ke bawah sesuai keterangan Orang-orang
Majus yg datang dan menyembah Yesus—jadi Yesus saat itu berusia 2 tahun
ke bawah). Herodes Agung mati tahun 4 Sebelum Masehi, maka kurangi 2
tahun, jadi kira-kira Yesus lahir tahun 6 Sebelum Masehi.

Jadi kesimpulannya Yesus lahir di masa pemerintahan Kaisar Agustus dan Raja Herodes Agung.
Dan
ketika Kaisar Tiberius, pengganti Kaisar Agustus, memerintah, Yesus
sudah besar (Lukas 3:1-2), kira-kira usia Yesus 30 tahun (berdasar data
Lukas 3:1-2), lebih muda 6 bulan dari Yohanes Pembaptis. Sesuai dengan
aturan PL bahwa Usia orang mulai mengajar/melayani adalah 30 tahun.

Demikian
setelah Herodes Agung mati, anak-anaknya menjadi Herodes di wilayah yg
beda-beda, bagi-bagi kekuasaan gitu dech. Arkhelaus jadi raja di Yudea
dan Samaria, sedang Herodes Antipas, jadi raja di Galilea.

Inti
jawaban pertanyaan yaitu perlu tahu siapa nama yg memerintah dan
periode tahun memerintahnya serta apa jabatannya apakah Kaisar, Herodes
atau lainnya. Maka terjawablah pertanyaan, tidak ada yg kontradiksi
dalam ayat-ayat Alkitab.

Demikian jawaban saya. Jika menemukan ”kontradiksi2” semacam ini, coba pahami lebih dulu perikop dan ayat-ayat Alkitabnya.

KEUNIKAN GELAR YESUS SEBAGAI

Filed under: DOKTRIN ALLAH — dedewijaya at 4:08 am on Tuesday, May 6, 2008

Yesus adalah Anak Allah (HUIOS THEOS) atau
PUTRA ELOHIM

Anak Allah dalam Perjanjian Lama
dipakai untuk bangsa

Israel

,
pemimpin

Israel

(keturunan Daud), para Malaikat, dan orang-orang yang setia. Dalam Perjanjian
Baru, “Anak Allah” ialah kedudukanNya dalam Allah Tritunggal, sebagai “Anak
Allah Bapa” (tunggal atau monogenes), yang menyatakan ke-Mesias-an Yesus,
kesupranaturalan Yesus yang dilahirkan dengan benih Ilahi (kandungan dari Roh
Kudus). Sebutan “Anak” bagi Tuhan Yesus, berarti Anak Allah adalah:
melaksanakan rencana Bapa dengan penuh ketaatan Anak kepada Bapa, sehingga
mempersembahkan hidupNya sebagai Korban. Anak Allah merefleksikan kehidupan
Ilahi atau sempurna, sehingga manusia mengenal Allah melalui Tuhan Yesus,
sebagai Anak Allah yang sejati. Gelar “Anak Allah” bagi Yesus berimplikasi
kepada orang percaya yang disebut “anak-anak Allah” (Yohanes 1:12)

Gelar “Anak Allah” bagi Yesus
sangat kuat oleh karena bukti internal dari Alkitab sendiri sangat banyak,
diantaranya:

  1. Laporan Alkitab, khususnya Injil Yohanes yang
         menyatakan mengenai kesatuan Anak dan Bapa (Yoh 5:19, 4:34, 6:38, 7:28,
         8:42), sebagai kesatuan yang menjelaskan ke-Allahan Yesus Kristus.
  2. Injil Yohanes juga menyatakan mengenai gelar “Anak
         Allah” dalam hubungan misi Anak adalah Misi Bapa. Misi keselamatan Yesus adalah meliputi
         kematian-Nya (Yohanes 12:23-24). Tuhan Yesus sendiri menyadari sepenuhnya
         mengenai tujuan misiNya, yaitu kematianNya (Yoh 2:4, 12:23, 27, 13:1,
         17:1). Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi dombaNya (10:11,15).
         Anak itu telah diutus oleh Bapa, Ia menaati perintah-perintah Bapa
         (15:10), Ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri (Yoh
         5:19-20), perkataanNya adalah perkataan Bapa (Yohanes 14:10; 17:8).
  3. Adanya bukti peristiwa dan penyataan Allah sendiri
         (Heavenly saying): ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan”
         (Mrk 11:11, 9:7); Penyataan Allah melalui penyataan Petrus (Mat 16:16).
  4. Pengakuan orang: Yohanes Pembaptis (Yoh 1:34),
         Natanael (Yoh 1:49), Marta (Yoh 11:27), semuanya mengaku bahwa Yesus
         adalah Anak Allah.
  5. Pengakuan orang kafir (Mrk 15:39), orang Yahudi
         menuduh Yesus yang mengklaim diri sebagai Anak Allah (19:7, bdg 5:17)
         bahkan ucapan roh jahat (Mrk 5:7).
  6. Perbuatan Tuhan Yesus menerangkan mengenai diriNya
         sebagai Anak (10:37, bdg 11:4) dan Yesus sendiri menerima gelar “Anak
         Allah” tersebut bagi diriNya (10:36) dengan kesadaranNya yang penuh bahwa
         Ia adalah Allah.
  7. Anak memiliki kuasa yang sama dengan Bapa, yaitu
         memberikan hidup (5:21). Bapa memiliki hidup dari diriNya sendiri,
         demikian juga Ia telah memberikan kepada Anak untuk memiliki hidup di
         dalam diriNya sendiri (5:26). Itulah sebabnya Yesus memberikan hidup yang
         kekal (3:35, 6:40,47, 10:10, 17:2); Ia pun berkata “Akulah kebangkitan dan
         hidup” (11:25).

 

Keunikan Yesus sebagai Anak Allah
dijelaskan oleh Yohanes dengan ungkapan “Anak
yang tunggal atau monogenes”
(Yoh 1:14, 18, 3:16,18). Hal ini merupakan
keunikan mengenai gelar Anak bagi Yesus. Dia secara hakiki adalah Anak yang
lebih dari seorang yang kuasanya diberikan untuk menjadi Anak Allah (Yoh 1:12,
12:36). Gelar Anak Allah bukanlah
gelar yang diberikan, atau bukan karena adopsi tetapi menghakikat dalam
diriNya. Gelar ini menyatakan
ke-Allah-anNya yang mutlak.

 
Anak Allah

Kamus Alkitab TB- Israel disebut anak Allah atau anak sulung
Allah (Kej 4:22-23; Hos 11:1). Demikian juga raja

Israel

, keturunan Daud (2 Sam 7:14;
Mzm 2:7). Tetapi kemudian terutama gelar untuk Yesus Kristus yang menyatakan
bahwa Ia berasal dari Allah dan melakukan kehendak Bapa-Nya, sehingga Ia adalah
orang kesayangan Allah.

BIS (Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari)- Dahulu kala seluruh bangsa

Israel

digelar "Anak Allah" (Kel 4:22),
begitu juga raja

Israel

keturunan Daud (2 Sam 7:14; Mzm 2:7), karena ia memerintah sebagai wakil Allah.
Tetapi kemudian gelar ini diberikan terutama sekali kepada Raja yang dijanjikan
oleh Allah; Ialah raja yang diharapkan datang pada akhir zaman. Dalam kitab
Roma 1:3-4 yang dimaksud dengan Anak Allah ialah Yesus, karena Yesus hidup
kembali dari kematian dan karena sejak Paskah, Yesus memerintah bersama-sama dengan
Allah. Dalam Markus 1:9-11, pada waktu Yesus dibaptis, Ia diakui sebagai Anak
Allah, ketika suara dari surga mengatakan kepada-Nya, "Engkaulah Anak-Ku
yang Kukasihi." Kata-kata itu sesuai dengan kata-kata dalam Mazmur
2:7. Matius 1:18 dan Lukas 1:35
menyatakan bahwa Yesus berada dalam kandungan Maria, seorang perawan, karena
kuasa Roh Allah.

Anak …; Gelar untuk Yesus

 KS.- [PB]

 a. Manusia, (Mat 8:20; 9:6; 10:23; 11:19;
12:8,32,40; 13:37,41;

  .Mat 16:13,27,28; 17:9,12,22; 19:28;
20:18,28; 24:27,30,37,39,44;

 .Mat 25:31; 26:2,24,45,64;
Luk 18:8; Yoh 1:51; 3:13-14; 5:27;

 .Yoh 6:27,53,62; 8:28; 9:35;
12:23,34; 13:31; Kis 7:56)

 b. Allah, (Mat 3:17; 4:3,6;
14:33; 16:16; 17:5; 26:63; 27:40,43;

 .Mr 1:1; 15:39; Luk 1:32; Yoh 1:34,49;
5:19-26; 10:36; 11:4,27;

 .Kis 9:20; 13:33; Rom 1:3,4,9; 5:10;
8:3; 1Kor 1:9; Gal 2:20; 4:4,6;

 .Ef 4:13; 1Tes 1:10; Ibr 1:2,5,8; 4:14;
5:5,8; 10:29;

 .1Yoh 2:22-24; 3:8; 4:9,10,14,15;
5:9-13)

 c. Daud, (Mat 1:1; 9:27; 12:23; 15:22;
20:30-31; 21:9,15; 22:42,45)

 Yesus adalah Anak Manusia (HUIOS
ANTHROPOS)

Gelar “Anak Allah” khususnya
dalam tulisan Yohanes adalah dipakai secara bersinonim dengan sebutan Anak
Manusia (1:49-51, 3:15, 5:26, 6:40,53). Gelar tersebut berlatarbelakang PL,
dimana istilah “be adam” (Ibrani), atau “bar ‘nasha” berarti manusia (Mzm 2:4,
Yeh 2:1, 3:1). Itu bisa berarti sebagai manusia yang diutus sebagai seorang
utusan Allah setelah mendapat visi dari Allah. Paralel yang paling dekat dalam
pemakaian PB ialah dari Daniel 7:13-14 yang menggambarkan mengenai “seperti seorang anak manusia” datang
dengan awan-awan dari langit. Dia adalah figur surgawi dan wakil Allah. Dan
abad pertama, istilah Anak Manusia digunakan sebagai satu gelar bagi Mesias (En
37-71; 4 Ez 13, Yoh 12:32,34).

Dalam Injil Sinoptik, gelar “Anak
Manusia” adalah satu ucapan yang hanya dipakai oleh Yesus sendiri.

Para

murid tidak pernah memakai gelar ini untuk menyebut
Tuhan Yesus. Sebutan Anak Manusia oleh Yesus sendiri berbeda dengan
sebutan-sebutan lain yang diberikan oleh murid-muridNya kepadaNya setelah
kebangkitan. Istilah “Anak Manusia” dipakai oleh Tuhan Yesus untuk
menghindarkan persepsi yang keliru tentang istilah Anak Allah yang lebih banyak
muatan MesianisNya. Karena, Yesus sendiri mengerti diriNya sendiri sebagai
Allah. Maka itu, penolakanNya terhadap penggunaan Mesias bagi diriNya ialah
bukan berarti Ia tidak menyadari bahwa diriNya adalah Mesias. Yesus lebih interes
dengan menggunakan gelar “Anak Manusia” daripada Mesias, karena gelar Mesias
telah dimengerti secara politis, telah didistorsikan dengan pengharapan
mesianis Yahudi yang kental dengan muatan politis.

Dalam Injil Sinoptik, gelar Anak
Manusia terbagi dalam 3 kelompok yaitu: Anak manusia dalam pelayanan di dunia,
Anak manusia dalam kehinaan dan kematian, Anak manusia datang dalam kemuliaan
apokaliptis untuk menghakimi manusia dan mentahbiskan Kerajaan Allah. Inilah keunikan Yesus karena gelar “Anak
Manusia” dikaitkan dengan tugas prerogatif Allah, yaitu mengampuni dosa
(Mrk
2:10), Anak Manusia yang menderita
(Mrk 14:16), Anak Manusia mempunyai
kuasa untuk menghakimi
(Yoh 5:27).

Yohanes mencatat bahwa ada 13
kali Yesus menyebut diriNya “Anak Manusia” Yohanes berbicara tentang Yesus yg
ditinggikan dari dunia dan di dalamnya melihat kemuliaan Yesus. Sebagaimana
ular ditinggikan… demikian juga Anak Manusia (3:14-15, 8:28). Namun peninggian
atau pemuliaan Anak Manusia adalah dengan jalan kematianNya (kontras dengan
pikiran orang Yahudi). Peninggian dalam kematianNya itu berarti menarik semua
orang datang kepadaNya (12:32). Peninggian ini juga adalah pemuliaanNya (12:23,
13:31). Anak Manusia menurut Yohanes adalah Anak manusia yang memiliki otoritas
ilahi, karena Allah telah menyerahkan kepadaNya semua kuasa untuk menjalankan
hukuman (Yoh 5:27). Dia adalah Hakim di Akhir Zaman. Anak Manusia turun dari
Surga dan yang naik ke Surga (Yoh 3:13), engkau akan melihat langit terbuka dan
malaika-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia (Yoh 1:51). Ungkapan ini
mengingatkan akan penglihatan Yakub (kej 29:10-15), dan dalam konteks pemikiran
Yohanes bahwa Yesus sebagai Anak Manusia yang telah datang untuk mengembangkan
komunikasi antara surga dan bumi. Jadi Anak Manusia adalah gerbang surga.
Dialah yang membawa hal-hal surgawi kepada manusia di dunia. Dan Dialah
satu-satunya yang naik ke Surga (Yoh 3:13)

Jadi tidaklah benar, apabila gelar “Anak Manusia” hanya menyatakan
kemanusiaanNya, namun juga menyatakan keilahianNya.
Pendapat ini
dikemukakan oleh Kim Syoon dalam bukunya yang berjudul “The Son of Man as the Son of God”

Sumber:
Teologia Abu-Abu, Pluralisme Agama, Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme
dalam Teologi Kristen Masa Kini, Pdt. DR. Stevri Indra Lumintang, Malang:
Gandum Mas, 2004.
Kamus Alkitab LAI dalam Software Alkitab.

. If you are cheerful,
you feel good; if you are sad, you hurt all over

.  Happiness makes you smile; sorrow can crush
you

 

« Previous PageNext Page »