25 Gejala-Gejala Kemerosotan Rohani
Artikel
berikut ini diambil dari Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 14
Mei 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.
Anda
tentu ingat ketika pertama kali Anda menjadi seorang Kristen,
bagaimana hati Anda terbakar dengan semangat yang kudus dan ucapan
syukur, dan Anda merasakan keharuan ketika membaca Firman Tuhan atau
menyanyikan pujian. Anda siap pergi ke bagian dunia yang terjauh
untuk memberitakan Injil, apapun yang terjadi. Akan tetapi tidak lama
semangat dan antusiasme itu mendingin. Anda tidak lagi bersemangat
seperti dulu. Anda mulai menyadari kelemahan dan kegagalan-kegagalan
Anda. Anda mulai merasakan perjuangan melawan dosa begitu sengit.
Anda tidak lagi merasa pantas dikirim sebagai
misionaris ke Tibet. Dan Anda merindukan pengalaman pertobatan
mula-mula itu sekali lagi dan untuk memperoleh kembali semangat itu,
karena nurani Anda dihentak dari mimbar ketika diingatkan lagi dan
lagi bahwa Anda sudah meninggalkan kasih yang mula-mula.
Saudara
yang terkasih, saya pikir Tuhan tidak sedang berbicara tentang kasih
mula-mula semacam ini dalam Wahyu 2:4. Pertama-tama, Ia sedang
berbicara kepada gereja, bukan kepada individu. Kedua, sementara kita
harus meratapi kurangnya semangat dalam diri kita dan keadaan hati
kita yang dingin, dan kurangnya keyakinan adalah dosa, saya berkata
bahwa adalah normal bagi setiap orang Kristen untuk melalui fase
pendinginan setelah kegembiraan yang mula-mula. Kasih mula-mula
seorang percaya yang baru seringkali lebih bersifat emosional
daripada dewasa. Ketika seseorang pertama menjadi Kristen, ia masuk
ke dalam semacam ketegangan rohani di mana realita kondisi rohaninya
sendiri menjadi kabur. Namun segera, realita mulai nyata dan kasih
yang didasarkan atas perasaan berangsur-angsur menghilang. Dalam
perumpamaan mengenai penabur, tanah berbatu memiliki pengalaman yang
sama, tapi kemudian terhilang. Di lain pihak, bagi seorang percaya
sejati, kasih yang didasarkan atas perasaan digantikan dengan kasih
yang dewasa, lebih kokoh, dan dalam, yang berakar dalam hati dan
didasarkan atas kehendak yang dikuduskan. Orang percaya yang dewasa
mengerti keterbatasannya dan kerusakan naturnya. Ia memandang salib
Kalvari dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang dikerjakan-Nya
untuknya, dan ia mendemonstrasikan kasihnya kepada Kristus dengan
berusaha menaati perintah-perintah-Nya setiap saat. Tapi pada
umumnya, ia tidak akan lagi memiliki semangat mula-mula yang tidak
stabil yang didasarkan atas emosinya.
Jadi,
cukup normal jika Anda tidak lagi memiliki semangat yang berapi-api
untuk ingin menginjili dunia. Tapi sebelum kita menjadi terlalu
nyaman, mari kita menyadari bahwa tidak semua kita yang telah
memiliki kasih yang dewasa kepada Tuhan dalam Kristus, berlanjut
dalam kasih itu dengan konstan. Dalam setiap orang yang telah
mengalami panggilan efektual, ada kerusakan yang tinggal sehingga
selalu ada kecenderungan untuk meninggalkan jalan Tuhan. Sisa
korupsi ini semakin dimatikan melalui pekerjaan pengudusan Roh Kudus.
Akan tetapi selama kita tinggal dalam daging, akan ada peperangan
yang berkelanjutan dan tidak dapat didamaikan: Daging bernafsu
melawan Roh, dan Roh melawan daging (Galatia 5:17). Peperangan ini
akan ada dan akan berakhir pada kemenangan yang final dan mutlak dari
Roh Kudus ketika kita meninggalkan tubuh dosa ini dan diangkat ke
dalam kemuliaan.
Akan
tetapi, pengalaman mengajarkan kita bahwa sangat sering, seorang anak
Tuhan, setelah masa awal yang penuh semangat dapat masuk ke dalam
sikap yang puas diri di mana pertumbuhan rohaninya berhenti atau
menurun. Kedurhakaan mulai bertambah sementara kasih kepada Kristus
menjadi dingin (bdk. Matius 24:12). Akhirnya, hati dikeraskan oleh
kebohongan dosa (Ibrani 4:11); dunia dan kenyamanan hidup sekarang
ini mulai menjadi lebih berprioritas daripada Kerajaan Allah dan
kebenaran-Nya (1 Yohanes 2:15; 2 Timotius 4:10); kepuasan yang saleh
digantikan oleh keserakahan dan kecemburuan; dan ibadah rohani yang
sungguh-sungguh digantikan oleh formalisme kosong dan kemunafikan (2
Timotius 3:5). Ketika ini terjadi, jiwa telah melangkah keluar dari
jalan hidup yang sempit dan mulai berjalan di atas jalan lebar yang
menuju kehancuran. Jiwa mulai kembali lagi ke jalan yang sesat. Dan
jika ia berlanjut dalam keadaan tidur rohani tersebut tanpa pulih
kembali, akan menjadi jelas bahwa ia tidak pernah menjadi anak Tuhan
yang sejati. Malah, mungkin bagi orang seperti itu untuk akhirnya
menyangkali imannya dan menjadi tidak peduli terhadap Injil. Tapi
celakalah orang seperti itu. Thomas Watson sungguhlah benar ketika ia
berkata bahwa “Ia yang jatuh ke belakang jatuh paling dalam ke
dalam neraka” (bdk. Ibrani 6:4-6; Matius 11:20-24).
Bagaimana
seorang anak Tuhan bisa mengalami kemerosotan sampai pada keadaan
yang begitu berbahaya? Tentulah karena dosa dan pengabaian atau
penyalahgunaan alat-alat kasih karunia. Tapi ini tidak terjadi
semalam. Biasanya ini terjadi melalui suatu masa kemerosotan, di mana
orang tersebut mungkin bahkan tidak sadar bahwa ia sedang mengalami
kemerosotan atau kekerasan rohani. Gejala-gejala kemerosotan rohani,
akan tetapi, mudah diidentifikasi; dan jika kita akan membahas
obatnya, kita harus mulai dari menyadari gejala-gejala ini. Apa saja
kalau begitu gejala-gejalanya? Perkenankan saya memberikan 25
gejala, beberapa agak tumpang tindih.
Harap diingat bahwa daftar ini tidak menyeluruh, tapi kalau lebih
banyak gejala menggambarkan Anda, mungkin Anda lebih merosot, dan
haruslah Anda lebih prihatin untuk kembali ke jalan yang menuju
hidup. Perkenankan saya menyarankan Anda membaca daftar ini disertai
doa, dengan pena di tangan untuk melingkari apa yang menggambarkan
Anda.
-
Ketika
Anda lebih memilih membaca suratkabar ketimbang Alkitab,
menghabiskan banyak waktu di hal yang satu tanpa merasa lelah, tapi
mengantuk di yang lain; dan lagi, pembacaan Alkitab dilakukan secara
rutinitas dan dengan terpaksa. -
Ketika
Anda memilih dan menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi
ketimbang membaca buku Kristen yang berarti. -
Ketika
Anda memilih kenyamanan daripada ketaatan, meskipun Anda tahu apa
yang dituntut oleh Firman Allah; atau ketika Anda tahu kewajiban
tertentu tapi menolak untuk melakukannya karena alasan apa pun. -
Ketika
Anda ingin melakukan sesuatu dalam gereja bukan karena kasih kepada
Kristus, tapi untuk menenangkan nurani yang bersalah atau supaya
dilihat sebagai orang yang saleh. -
Ketika
Anda berdoa hanya jika Anda punya waktu luang atau ketika Anda ingin
terlihat saleh oleh orang lain; dan lagi doa Anda mekanis dan umum. -
Ketika
dalam pengakuan dosa Anda, Anda tidak hanya mengecilkan keseriusan
dosa Anda dengan membenarkan tindakan-tindakan Anda, tapi gagal
meninggalkan dosa tersebut. -
Ketika
Anda suka mengkritik khotbah, mengeluh karena khotbah tersebut
terlalu bersifat teknis atau terlalu simpel; dan membenci ketika
khotbah tersebut menyingkapkan dosa Anda atau menusuk nurani
Anda—meskipun Anda tidak digerakkan olehnya. -
Ketika
Anda menganggap membosankan khotbah-khotbah yang berbicara tentang
kemuliaan Kristus atau keagungan Allah karena khotbah-khotbah
tersebut tidak secara langsung menjawab kebutuhan manusia; dan
ketika khotbah-khotbah tentang penderitaan Kristus tidak
menggerakkan Anda sama sekali. -
Ketika
Anda tertidur selama kebaktian bukan karena kelelahan fisik yang
beralasan seperti karena usia lanjut, pengobatan, atau karena
menjaga seorang bayi malam sebelumnya. -
Ketika
Anda berusaha menyenangkan manusia daripada Tuhan karena Anda
menginginkan pujian manusia yang dapat didengar oleh manusia yang
lain daripada pujian Tuhan yang tidak didengar manusia; atau ketika
Anda membenarkan kompromi munafik Anda atas nama diplomasi atau
menjaga damai. -
Ketika
Anda tidak mempedulikan janji dan komitmen yang telah Anda buat dan
siap untuk melanggar itu semua karena alasan yang paling ringan. -
Ketika
Anda lebih peduli dengan penampilan luar Anda daripada hiasan
tersembunyi manusia rohaniah Anda. -
Ketika
Anda merasa terancam oleh keketatan orang lain dan berusaha
membenarkan kelonggaran Anda dengan melabel orang itu ekstrim atau
legalistik. -
Ketika
Anda benci untuk dikoreksi, dan ketika nyata bahwa orang yang
menuduh Anda benar, Anda selalu punya alasan buat tindakan-tindakan
Anda. -
Ketika
Anda secara diam-diam merasa senang dengan jatuhnya orang-orang
percaya yang lain, ketimbang bersedih bersama-sama mereka. -
Ketika
Anda cepat menyalahkan orang lain atau menghakimi mereka ketika
konflik atau pertengkaran muncul, tapi tidak bersedia disalahkan
sedikitpun. -
Ketika
Anda merasa tidak nyaman berada di dekat mereka yang Anda anggap
lebih suci daripada Anda, tapi senang berada dekat mereka yang Anda
anggap kurang ketat dalam agama daripada Anda. -
Ketika
Anda sangat nyaman dalam percakapan duniawi atau percakapan yang
tidak berarti, tapi menjadi diam atau tidak nyaman dalam percakapan
keagamaan. -
Ketika
Anda memberi prioritas untuk mengejar hal-hal duniawi daripada
mengejar Kristus dan kebenaran-Nya, dan karena itu memilih kemajuan
karir meskipun Anda sepenuhnya sadar bahwa itu akan sangat berefek
terhadap devosi Anda kepada Kristus dan tujuan-Nya. -
Ketika
Anda dengan mudah dihambat dari ibadah Sabat; dan dengan diam-diam
merasa senang karena Anda punya alasan untuk diam di rumah, meskipun
alasannya mungkin sepele. -
Ketika
Anda absen dari pertemuan doa atau ibadah sore bukan karena
terpaksa, tidak mampu, atau kesulitan, melainkan karena pilihan
Anda. -
Ketika
Anda biasanya tepat waktu dalam pekerjaan atau janji-janji personal,
tetapi selalu lambat dalam kebaktian atau pertemuan-pertemuan
gereja. -
Ketika
Anda dapat mendiskusikan perbedaan antara supralapsarianisme dan
infralapsarianisme atau perbedaan antara kovenantalisme dan
dispensasionalisme, tapi muak untuk memberikan traktat kepada
seorang yang tidak percaya. -
Ketika
di bawah pukulan sementara dari Tuhan, Anda lebih peduli dengan
kesakitan dan kerugian Anda daripada menyelidiki apa yang mungkin
menjadi maksud Tuhan atas penderitaan Anda. -
Ketika
Anda harus dipaksa oleh seseorang untuk membaca daftar ini karena
Anda merasa bahwa subjek kemerosotan rohani tidak penting atau tidak
berkenaan dengan Anda; atau ketika Anda merasa bahwa daftar semacam
ini tidak realistis dan menuntut terlalu banyak dari seorang anak
Tuhan.
Saudara
yang terkasih, bagaimana dengan Anda? Kebanyakan dari kita, saya
percaya, akan gagal di poin-poin tertentu, paling tidak. Tapi jangan
putus asa. Masih ada harapan untuk mengatasinya jika Anda tidak
bersikap masa bodoh terhadap apa yang telah dinyatakan daftar ini
mengenai Anda. Berikutnya, kalau Tuhan menghendaki, kita akan melihat
beberapa pengobatan yang dapat kita aplikasikan bagi pengudusan kita.
Tapi untuk sekarang, tidakkah Anda ingin, yang terkasih, segera
berpaling kepada Tuhan untuk pertolongan dan pemulihan-Nya? Tuhan
telah berkata: “Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku” (Hosea
11:7); namun Ia juga berjanji: “Aku akan memulihkan mereka dari
penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab
murka-Ku telah surut dari pada mereka” (Hosea 14:4). Apa yang Tuhan
katakan tentang Gereja, Ia tentu katakan kepada setiap anak Tuhan
yang sejati. Karena itu, "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan
lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan
yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan"
(Yeremia 6:16a). Jangan menjadi seperti Israel dahulu kala, yang
digambarkan dalam akhir ayat ini, berkata, "Kami tidak mau
menempuhnya!" (Yeremia 6:16b). Amen.
Published
by Adi on 17 May 2008 at 11:23 AM.