DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB” (Bagian 3)

Filed under: ISLAMOLOGI — dedewijaya at 10:46 pm on Tuesday, June 3, 2008

3).
Kisah di Zaman Musa

Rupa-rupanya
kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah topik
favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa
perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian,
tidak sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling
inti dari Kisan Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH!

Padahal perayaan Paskah adalah event yang paling bersejarah,
menyentuh dan heroik bagi setiap orang Yahudi, yang dijadikan legenda
untuk dikisahkan kepada setiap anak cucu Yahudi turun-temurun. Lebih
dari itu Paskah wajib dirayakan setiap tahunnya, dengan segala tata
cara perjamuannya yang dibakukan! Dengan absennya kisah Paskah dalam
pewahyuan Quran, tidak heran bahwa orang-orang Yahudi di Mekah atau
Madina tidak dapat mengakui Muhammad sebagai nabi utusan Tuhan. Sebab
bagi mereka mustahil Allahnya Muhammad bisa sama dengan Tuhan mereka
jikalau Allah ini sampai 27 kali lupa mengisahkan inti kisah Kitab
Keluaran dalam 27 kali pewahyuanNya tentang perseteruan Musa vs
Firaun! Padahal Tuhan sendirilah yang memerintahkan kisah ini agar
tertanam dalam ingatan turun-temurun dalam Perayaan Perjamuan paskah
setiap tahun!

Seperti
diketahui, kisah Paskah dimulai dengan tulah yang ke-10 (dan Quran
hanya mencatat total 9 tulah), dimana Tuhan mendatangkan malapetaka
terbesar dengan mengirim malaikat kematian untuk mencabut nyawa anak
sulung dari setiap keluarga yang pintu rumahnya tidak diperciki darah
domba! Tuhan berkata:

Apabila
Aku melihat dara itu (ada di pintu), maka Aku akan lewat”. Itu
adalah vonis kematian yang dilewatkan Tuhan (luput) bagi rumah yang
bertanda darah kurban (Keluaran 12:13). Dan Alkitab menjelaskan
kepada kita bahwa ”Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang
harus datang” (Kolose 2:17), yaitu janji penebusan melalui darah
Yesus Kristus.

4). Kisah
di Zaman Daud

Sesekali,
tanyakanlah kepada teman Muslim, apa yang mereka ketahui tentang isi
Kitab Zabur (Mazmur) yang harus diimaninya. Mereka akan menjawab amat
minim dan kabur. Quran memang mengatakan daud membunuh Jalut (Daud vs
Goliat) tanpa menerangkan kejadiannya. Juga menyebutkan
karunia-karunia yang diberikan Allah kepada Daud, termasuk suara
merdu dan pandai bertasbih hingga besi-besi pun menjadi lunak
dibuatnya. Tetapi apakah ini isi Kitab Zabur yang islami yang Tuhan
turunkan kepada Daud, dengan maksud untuk diimani umatNya? Tetapi apa
relevansinya zabur yang harus diimani, bila janji dan ajaran Allah
yang diturunkan lewat nabi Daud itu praktis tidak dikenal oleh
Muslim?

Kitab
Mazmur (Zabur) telah berumur sangat tua, diteruskan hingga ke zaman
Yesus dan murid-muridNya yang Ia sendiri sering mengutipnya.
Diteruskan lagi hingga ke zamannya Muhammad dan selanjutnya. Tidak
ada yang merubah atau menggantikan teksnya. Mazmur (Kitab Zabur)
tidak berisi kisah perang Daud melawan Goliat seperti yang dianggap
teman Muslim! (Itu ada di kitab lainnya, Kitab nabi Samuel). Tetapi
Mazmur berisi 150 pasal kumpulan mazmur doa dan permohonan, pujian
dan nyanyian ucapan syukur, ratapan dan pengakuan dosa, mazmur Mesias
dengan makna nubuat!

Tanpa
kesadaran akan apa yang terucap dari mulutnya, namun Roh Tuhan telah
menuntun Daud bernubuat rinci tentang segala pernik kejadian yang
akan dijalani oleh seorang Mesias yang akan disalibkan demi
membebaskan umatNya, Mesias ini akan mengalami penghinaan,
penganiayaan. ”penusukan tangan dan kaki” (istilah nubuat daud
untuk penyaliban), dan mengalami kematian dan ditinggal oleh Roh
Tuhan, namun juga mengalami kebangkitanNya dari kematian! Semuanya
ini secara ajaib tergenapi oleh Yesus Mesias 1000 tahun sesudahnya
(Lihat Mazmur ps 2; 8; 16; 40; 41; 45; 68; 69; 89; 102; 110; 118,
khususnya 22:2, 7, 8, 17, 19). Bahkan teriakan ungkapan kematian
Yesus di atas kayu salib pun, terjadi persis seperti yang telah
dinubuatkan oleh Daud: ”Eli, Eli, lama sabakhtani?”. Ini suatu
pelukisan kematian-kurban yang tidak terhapuskan oleh klaim dan
koreksi dari ayat Kitab Suci manapun! Akhirnya, Tuhan konsekuen
menyerukan model penghakiman yang berlandaskan analogi-penebusan:

Bawalah
kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku
berdasarkan korban sembelihan!” (Mazmur 50:5).

5). Kisah
di Zaman Yesaya

Ada
satu kabar baik bagi teman Muslim yang belum tahu akan sosok nabi
Yesaya yang pernah hidup ditahun 700-an SM. Tuhan ”menurunkan”
kepadanya sebuah Kitab yang paling terkenal dengan nubuatan-nubuatan
yang terbukti benar. Bahkan pada awal mula pelayanan Yesus, kitab
inilah yang dibacakan Yesus di sebuah rumah ibadat. Di situ Yesus
memilih membaca pasal 61 dimana terdapat ayat-ayat istimewa yang
menubuatkan tentang diriNya! Nas ayat itupun dibenarkanNya secara
langsung bagi diriNya, bukan bagi orang lain (lihat Lukas 4:16-21),
dan ini sekaligus menggugurkan kalim Muhammad bahwa namanyalah yang
ada tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS 7:157). Keistimewaan kitab
ini bertambah ketika dunia sempat dikagetkan pada tahun 1947 dengan
penemuan utuh dari salinan naskah Dead Sea Scrolls di Qumran, yang
berpenanggalan sekitar 150 tahun SM! Maka naskah yang begitu kuno ini
segera dipakai untuk men-test kalau-kalau ada kesalahan salinan atau
pemalsuan pada salinan kitab Yesaya yang sudah kita punyai selama
ini. Ternyata penemuan ini saling bersesuaian dan membenarkan
keotentikan teks yang telah ada! Tak ada tangan-tangan usil yang
menjahili teks Alkitab seperti yang dituduh.

Selain
pasal 61 yang ayatnya sempat dibacakan Yesus, juga ditemukan gulungan
kitab Yesaya pasal 53, yang secara paradoxal mencatat berbagai janji
dan nubuat Tuhan tentang seorang Hamba yang Menderita sampai mati,
namun menjadi pendamai dan penyelamat bagi umat manusia yang jahat.
Hamba ini bahkan tercatat akan bangkit kembali dengan segala ”hadiah”
kemenangan-Nya! Kedengarannya seperti tak masuk akal. Itu sebabnya
pewahyuannya dimulai dengan bahasa yang skeptis: ”Siapakah yang
percaya kepada berita (wahyu) yang kami dengar…?”

Di sini
kita persingkat jumlah pembuktian dengan cukup mengutip hanya 3 ayat
saja:

Tetapi
dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh
karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi
kita ditimpakan kepadanya… Orang menempatkan kuburnya diantara
orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada diantara
penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu
tidak ada dalam mulutnya. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia
(tumitnya*) dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai
korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya. Umurnya akan
lanjut (akan bangkit, tidak mati seterusnya)” (Yesaya 53:5,9,10  *
lihat Kejadian 3:15).

Semua
”kemustahilan” teks nabi Yesaya yang rumit yang digaris-bawahi
ini terbukti benar pada kehidupan dan kematian Yesus 700-an tahun
kemudian! Naskah tua Qumran dari 7,5 abad sebelum Muhammad, sengaja
dipakai Tuhan di abad ke-20 untuk sekali lagi membenarkan nubuat
Yesaya tentang kematian-kurban seorang Mesias. Bila begitu dahsyatnya
kebenaran yang satu ini, atas alasan apa dan untuk apa kita harus
mati-matian menafikannya?

6). Kisah
di zaman nabi Yohanes (nabi Yahya)

Ada 6
pertanyaan dasar dan penting, ditujukan kepada teman Muslim yang
kurang acuh/kritis:

(a).
Adakah Anda pernah berpikir sejenak apa peran Nabi Yahya

seutuhnya menurut versi Quran?

(b).
Kenapa Nabi itu ditempatkan Tuhan sekurun-zaman dan
seladang-pelayanan dengan Yesus, yang sama-sama menyampaikan firman
Tuhan dan mendapatkan para pengikutnya yang berbeda?

(c).
Bergunakah misi kenabian Yahya (atau Yesus) ditengah-tengah kenabian
Yesus (atau Yahya)? Apakah misi keduanya tidak mampu disedot dan
diemban oleh satu nabi saja?

(d).
Apakah Tuhan begitu tidak efisien kerjaNya sehingga harus mengutus 2
nabi besar sekaligus dalam kurun angkatan yang sama, sekaligus
keduanya menuai kematian secara sia-sia dan terkesan kalah terhadap
musuh-musuh Tuhan (versi Quran)?

(e). Bila
versi Quran sebaliknya dari kesan-kesan ini, bagaimana caranya
menerangkan dari sumber-sumber Islam sendiri bahwa misi kenabian Isa
dan Yahya itu berkemenangan kedua-duanya?

(f).
Bagaimana penafsir Islam menggambarkan peran Jibril, yang harus
membagi dirinya diantara diri Isa (yang selalu diperkuat Jibril) dan
diri Yahya (yang bersama-sama Isa harus meneruskan wahyu Jibril
kepada angkatan yang sama). Dapatkah Jibril maha-ada, di Isa dan
Yahya pada satu saat yang sama?

Tidak
mudah bagi teman Muslim mana saja untuk menjawab pertanyaan dasariah
ini. Kenapa? Karena Quran justru mengosongkan 2 kesaksian penting
untuk apa nabi Yahya diutus khusus sekurun-waktu dan sepelayanan
dengan Yesus! (lihat dibawah ini).

Namun
Alkitab tidak mempunyai kesulitan sedikitpun untuk menjawab misteri
di atas. Justru kehadiran Yohanes sekurun dengan Yesus merupakan
pertanda Tuhan akan betapa maha-penting dan vitalnya sosok dan
pelayanan Yesus sehingga perlu didampingkan tambahan satu nabi besar
lainnya. Seperti yang diakui oleh Yohanes sendiri bahwa ia bukan
Mesias namun diutus mendahuluinya untuk menjadi corong suara yang
meluruskan dan mempersiapkan jalan bagi pengenalan jati-diri Yesus
Mesias dan misiNya: “Ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak
kamu kenal.”

Lalu
Yohanes memperkenalkan Sang Mesias lewat pewahyuan yang paling unik
(Yohanes pasal 1). Di sini, bukan Jibril membagi dirinya diantara
diri Isa dan Yahya (yang sama-sama harus menyampaikan wahyu Jibril
kepada angkatan yang sama), melainkan Roh kudus.

Dengan
peran khusus Yohanes dan posisi sentralnya yang dinyatakan sebagai
nabi terbesar (Yohanes 7:26), sedikitnya itu berarti bahwa dialah
bukti dan saksi Ilahi yang paling tinggi di dunia ini bagi Yesus
sebagai Mesias. Maksudnya, ia diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk
mengidentifikasikan jati-diri sang Mesias dengan tanda-ilahi (!),
yaitu Roh Kudus (seperti merpati) yang terlihat turun kepada
sosok-fisiknya Yesus Mesias. Dengan demikian, Yohanes menjadi
saksi-mata yang paling shahih, dekat dan langsung “menunjuk-hidung”
ke sosok Mesias, tanpa usah khawatir akan kesalahan dan kekeliruan
sosok akibat rentang generasi. Dia tidak bernubuat puluhan generasi
dimuka (seperti halnya dengan nabi-nabi lainnya) baru kemudian bisa
dicocokkan lagi nubuatnya oleh generasi belakangan dengan memberi
peluang tafsiran yang bisa salah-sosok. Yohanes sebagai
penunjuk-hidung yang paling absah, memberi dua kesaksian yang penting
bagi kemanusiaan, dalam Yohanes 1:34 dan 29:

Satu:
“aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan
tinggal di atasNya (Yesus)…aku telah melihatNya dan memberi
kesaksian: Ia inilah Anak Tuhan.”

Dua:
“Lihatlah (Dia) Anak Domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia.”

Perhatikan
dua kata-saksi langsung kepada Mesias, right now and here, ”inilah”
dan ”lihatlah”. Dua penyaksian yang berotoritas ini menunjuk
lurus kepada penyaliban Yesus sebagai
Anak
Tuhan yang menjadi korban tebusan bagi umat manusia!

(7).
Hardikan Yesus membuktikan Ia menjalani “kematian-kurban”

Apakah
maksud Yesus ketika ia berkata dalam Perjamuan Malam terakhirNya:
”Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” (Lukas
22:37). Itulah pernyataan seperti yang dikupas dalam 6 kisah-kisah di
atas, yang seluruhnya merujuk kepada Yesus dalam kematian-kurbanNya!
Bila pernyataan tersebut ditolak seseorang, maka Yesus tidak akan
segan menghardik si penolak itu dengan kata-kata yang terkeras:

”Enyahlah Iblis!”

Tidak peduli
orang tersebut adalah muridNya sendiri, tidak peduli bahwa murid ini
(atau orang-orang yang mengaku-aku menghormatiNya) sesungguhnya
bermaksud baik karena tidak menginginkan suatu kematian terkutuk
disalib itu menimpa diriNya. Simaklah apa yang terjadi pada Petrus
yang sesungguhnya beretiket baik bagi Gurunya:

Sejak
waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus
pergi ke Yerusalem dan menanggung
banyak
penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga
.
Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya:
”Tuhan, kiranya Tuhan menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali
takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada
Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab
engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang
dipikirkan manusia.” (Matius 16:21-23).

Ya,
bagi Yesus, menampik kematian-kurbanNya adalah menampik
perjanjianNya
yang paling awal,
rancanganNya
yang universal,
dan
karyaNya
yang paling
mahal yang dapat dibayarkanNya bagi umat manusia. Ia berkata,

Sebab
inilah darah-Ku,
darah
perjanjian
, yang
ditumpahkan bagi banyak orang
untuk
pengampunan dosa
.”
(Matius 26:28).



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.