BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB” (Bagian 4-Ending)
“Nubuat
Adikodrati” Ke Depan VS “Jejak KAKI” KEBELAKANG
Ucapan
nubuat yang tercatat, sekali ia digenapi, adalah merupakan bukti
adi-kodrati yang paling kokoh yang harus dipercaya. Nubuat-dan bukan
mujizat-merupakan testing
yang paling absah akan kebenaran suatu wahyu! Kenapa? Karena
sekalipun nabi-nabi palsu bisa bermujizat ala kadar, namun tak ada
satu makhluk pun yang tahu masa depan, apalagi mengontrol sejarah
untuk memenuhi apa yang ia sudah ucapkan! Nasibnya masa depan hanya
ada ditangan Tuhan! Itu sebabnya Tuhan sendiri menantang tuhan-tuhan
selainnya untuk membuktikan ”keilahian dirinya” dengan cara
bernubuat:
”Siapakah
seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya
dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu
kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka
memberitahukannya kepada kami!” (Yesaya 44:7)
”maka
Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu
menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau
berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung
tuanganku yang memerintahkannya.” (Yesaya 48:5)
Namun
untuk hal yang sepenting ini bagi suatu kebenaran, Muslim malah
membiasakan dirinya acuh dan asing terhadap nubuat. Quran praktis
tidak berisi nubuat adikodrati ke depan, melainkan sebaliknya banyak
didominasi dengan pengungkapan kisah-kisah masa silam. Sebagai contoh
saja, ayat yang diperbincangkan di sini, QS
4:157, adalah tipikal kisah pewahyuan
ke masa silam yang terlambat munculnya, bukan nubuat ke depan yang
harus dibuktikan dengan fakta-fakta masa depan.
Bagi
kebanyakan Muslim, ayat di atas dianggap sebagai ”wahyu koreksi”
terhadap kasus penyaliban Isa yang terlanjur diterima secara keliru.
Namun teman Muslim sering lupa bahwa sangkaan ”keliru” itu justru
pertama-tama harus diusutkan kepada ”kelirunya” Allah sendiri
dalam bertindak di abad pertama. Bukankah Allah dengan sengaja
menipu-daya umat yang menyaksikan penyaliban Isa?! Dan Allah jugalah
yang mengkelirukan Isa dengan seorang Isa gadungan, bagi umat israel?
Mari kita
saksikan apakah ”pengkoreksian” demikian itu kokoh sebagai hukum
pengkoreksi tuhan ataukah hanya sebuah klaim yang justru perlu
”ditafsir-ulang”.
1).
Absennya Novum
Anda
tidak akan memprotes suatu kasus yang telah berlalu 6 abad tanpa
menyodorkan bukti-bukti novum yang kuat dan absah (bukti silam yang
baru ditemukan). Jadi ”wahyu-koreksi” atas penyaliban/kematian
masa silam Isa, haruslah disertai dengan novum yang dapat menafikan
penyaliban, dan bukan dibenarkan dengan mengajukan klaim atau asumsi
baru. Bila Anda tidak percaya akan nubuat yang tidak tergenapi ke
depannya, bagaimana mungkin Anda malah percaya akan wahyu koreksi
silam yang tanpa novum ini (padahal kasus yang sudah lewat selalu ada
jejak bukti)?
2).
Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran?
Sebab
bilamana Allah begitu perlu untuk menegaskan bahwa sosok itu BUKAN
Isa, maka Allah setidaknya perlu (dan tentunya mudah) menegaskan
SIAPA sosok penggantiNya! Keabsahan satu koin tidak dibentuk oleh
satu sisi saja. Mengkoreksi sosok si-asli yang pergi (non-exist)
terhadap si gadungan yang tertinggal
(exist) itu bukanlah sebuah koreksi jikalau yang eksis itu justru
tidak ditampilkan sebagai bukti, malahan juga turut dikosongkan. Apa
yang mau dikoreksi kalau kedua obyek yang dipersoalkan itu justru
dikosongkan?
3).
Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?
Suasana
yang digambarkan dalam satu ayat Quran itu melebihi kekacauan manapun
yang pernah diwahyukan. Lihat betapa
bertubi-tubinya kata-kata kekacauan yang dilontarkan ke situ:
”…berselisih paham… …benar-benar dalam keragu-raguan…tidak
mempunyai keyakinan….persangkaan belaka….tidak (pula) yakin…”
Sangat
jelas Allah lewat ayat korektif ini bermaksud untuk memulihkan segala
kekacauan ini. Namun dengan metode pengkoreksian Allah yang aneh (6
abad terlambat, ketiadaan jati-diri sosok, tipu-daya), maka Allah
sebenarnya tidak menipisi, melainkan mempertebal keraguan dan
perselisihan yang ingin disingkirkan. Keraguan dapat ditepis dengan
menambahi bukti, bukan dengan ”pengkoreksian” yang malah
menambahi misteri.
4). Dan
siapa saksi-saksi-nya?
Siapa
selain Allah yang dapat diajukan sebagai saksi atas permainan
petak-umpet ini? Jibril? Maryam? Yahya? Serdadu Romawi yang
mengeksekusi? Isa sendiri? Tidak ada di kitab! Bila sebelumnya ada
tercium tipu-daya ini. Isa bahkan akan memprotes kepada Allah. Karena
hal itu melawan kodratnya yang kudus, selalu berkata benar. Kudus itu
tidak mau dan tidak bisa
bertipu-daya atau membiarkan dirinya menjadi bagian dan ajang dari
tipu-daya. Alkitab sama mengatakan, ”Ia (Yesus) tidak berbuat dosa,
dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (QS 19:19,34; Yohanes 8:46; 1
Petrus 2:22).
Yohanes
8:46 Siapakah
di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?
Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya
kepada-Ku?
1
Petrus 2:22 ”Ia
tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya”.
Jadi, apa
dan siapa yang telah dibuktikan dan dimantapkan oleh ayat pengkoreksi
yang satu ini? Atau apakah pembuktian korektif model ini dapat
dijadikan jurisprudensi untuk mengoreksi suatu perselisihan?
MUSTAHIL
ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA
Pewahyuan
silam ini, telah menempatkan murid-murid Isa, ibuNya, dll semua
menjadi korban, tertipu daya oleh cara Allah SWT mempergantikan Isa
dengan seseorang yang diserupakanNya secara tersembunyi. Ketertipuan
ini terus berjalan hingga diungkapkan oleh Muhammad (lihat rujukan QS
3:54).
Pertanyaan
kita yang paling elementer: ”Kenapa Allah baru merasa perlu
mengkoreksi di abad ke-7 untuk sebuah kasus besar dari abad ke-1?”
Kenapa kadaluarsa selama 6 abad? Membiarkan bermilyar manusia mati
dalam kesesatannya yang terlanjur ”menjunjung salib Yesus,”
karena belum sempat dikoreksi Allah? Salahkah ibu Maria, murid-murid
Yesus, dan bermilyar pengikutNya, jikalau mereka semua telah
mengimani penglihatan yang ”salah”, karena mata mereka telah
disesatkan oleh pembalasan tipu-daya Allah sendiri?
Cara
pembalasan Tuhan terhadap si penipu dengan menipu balik sipenipu itu,
sungguh tidak dikenal dalam Alkitab. Namun hal itu, diadopsi menjadi
bagian yang diwahyukan Quran, sehingga para penterjemah terkesan agak
rikuh dalam memilih dan memakai pelbagai istilah dan gaya yang saling
berbeda untuk menterjemahkan ”khairul maakiriin,” dalam kedua
ayat berikut ini (perhatikan teks bahasa aslinya).
”Dan
mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dan
Allah sebaik-baik (pembalas) tipu daya” (and Allah is the best of
schemers, Moh. Pickthall)
”Mereka
membuat tipu daya, tetapi Allah (juga) membuat tipu daya itu. Dan
Allah sebaik-baik pembuat tipu daya.” (and Allah is the best of
plotters QS 3:54; 8:30).
Dalam paham
Kristianitas, manusia menipu-daya karena hakekatnya jahat dan sumber
dayanya terbatas. Namun Tuhan yang berhakekat Mahakudus dan tidak
terbatas sumber dayaNya tidak harus terpaksa—bahkan tidak
bisa—membalas tipu dengan tipu, apapun kondisi dan alasannya!
Teroris bisa menyandera dan membunuh keluarganya polisi dengan golok,
namun polisi tidak bisa membalas membunuh keluarga si teroris,
apalagi dengan meriam yang menghancurkan pula tetangga, lalu berkata:
“Rasain lu, saya lebih canngih membunuh kalian, kan?.”
Kristianitas mengimani
Tuhan yang dapat melawan dan menghukum siapa dan apa saja dengan cara
yang tak terbayangkan manusia, namun tidak dapat melawan hakekat
diriNya yang “tidak berdusta dan tidak mungkin berdusta.” Dan
“Tuhan tidak dapat menyangkal diriNya” (Titus 1:2, Ibrani 6:18; 2
Timotius 2:13).
Tuhan tidak bisa
terang-terangan membela dan memberi kehormatan kepada Isa
setinggi-tingginya—dengan menghancurkan palang salib—sambil
mencangking dan menghajar semua musuhNya untuk berlutut di depan kaki
Isa! Namun Kuasa Kebenaran, dan Wibawa KehormatanNya memustahilkan
Dia secara sembunyi-sembunyi memilih menipu daya semua orang sambil
membiarkan diriNya dipaksa manusia bejad untuk menghentikan masa
dakwah nabiNya (Isa) secara prematur. Dengan dilenyapkannya Isa
disitu dan tamat riwayatnya entah bagaimana, bukankah sia-sia seluruh
prestasi kenabiannya?
Dan tamat pula seluruh
kepercayaan murid-muridNya akan kehebatan dan janji-janji Gurunya.
Melainkan menyisakan tercerai-berainya mereka dalam rasa ketakutan,
tidak mampu, dan percuma menginjili, karena toh sang Guru sendiri
sudah dikalahkan (lihat akhir dari pasal ini).
Kebanyakan Muslim
tidak mencoba untuk memahami bahwa sedari dahulu, Tuhan semesta alam
selalu merujuk kepada satu formula penyelamatan manusia, yaitu hidup
melalui kematian. Dan kematian Yesus itu mengalahkan MAUT bagi
umatNya!
Dulu harga kematian
disimbolkan oleh korban sembelihan anak domba; dan kini digenapi oleh
pengorbanan Anak Domba Tuhan dalam penyaliban Yesus. Apabila
kematian-kurban dari Yesus ini ingin “dibela” dengan cara
dihilangkan, maka Ia justru akan kehilangan segala-galanya!
(1). Hilang lenyap
Diri Isa, dari murid-murid yang dikasihiNya. Dilenyapkan
Tuhan entah kemana, tanpa pra-berita, tanpa pamit, tanpa saksi, tidak
terjejaki. Meninggalkan penginjilan secara prematur sebelum berbuah
(lihat butir 3).
(2).
Hilang lenyap Kalimat Isa, Injil dan ajaran Isa tidak terjaga di
dunia, padahal terjaga disisi Allah dan tergores kekal di Lauhul
Mahfuz di surga. Injil Isa Islami dibiarkan hilang lenyap dari dunia
entah kemana, tidak terjejaki, sehingga Cuma Injil Palsu karya Paulus
cs –lah yang tertinggal dan kini tersebar ke seluruh pelosok bumi
dalam 1000-an bahasa di dunia.
(3).
Hilang lenyap Misi Isa bersama dengan semua murid-murid awal Isa
(hawariyyin, para pengikut beriman),
Mereka tidak terjaga, terdesak kalah dan hilang semua, disapu oleh
murid-murid Paulus dengan ajaran sesatnya yang terus berjaya hingga
kini. Padahal Quran menjanjikan kemenangan bagi murid-murid Isa (QS
61:14);
“…Pengikut
(Isa) yang setia itu berkata:’Kamilah penolong-penolong agama
Allah…maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang
menang’ ”.
Tetapi
dimanakah Injil Isa dan para pengikut Isa (Islami) yang menang itu
sekarang? HILANG! Hilang segala-galanya disapu habis oleh kuasa
nabi-nabi palsu yang dapat melebihi Isa! Total kesia-siaan Isa ini
adalah konsekuensi sebab-akibat yang keras sekali, Muslim menolak
kematian-kurban Yesus Al-Masih di kayu salib! Muslim tahu bahwa Isa
adalah sosok yang digelar “Yang Terkemuka di dunia dan di akhirat”
dan “Tanda yang Besar bagi Semesta Alam”.
Jadi
silahkan Muslim kini memilih satu diantara dua: Isa yang kehilangan
segala-galanya (Keberadaan DiriNya, Kalimat, Ajaran & KaryaNya)
ataukah Isa yang tersalib dalam kematian-kurban demi memberikan kita
HIDUP yang KEKAL.
Sumber:
ISMAEL…, Saudaraku, Bincang-Bincang Tentang Tudingan dan Salah
Paham, Umar Tariqas, Reach Catalog, Jakarta, Cape Town. Penerbitan
awal dengan judul: :”Bagaimana Mengatasi Penolakan Muslim”, 2005,
Fitrah Eden.