DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

NAEK TOBING!

Filed under: JOKE / HUMOR — dedewijaya at 4:10 am on Tuesday, June 3, 2008

Tambah banyak SIHOTANG
Karena PANDAPOTAN terus MANURUNG!
SAGALA Mahal
TAMBUNAN kehidupan berat
SIMANJORANG miskin dan kaya makin BARASA
Tipis HARAHAP

Rakyat miskin sudah PANGARIBUAN
Anak-anak nangis MARPAUNG-PAUNG
Otak sudah SITOMPUL
Tapi masih diminta sabar SITORUS!
Keadaan makin GINTING
Kepala pusing ber BUTAR-BUTAR
Rambut nyaris POLTAK
Sementara Ada orang yang SIBARANI TAMBUNAN Minyak

Apa karena ke SILABAN Pemimpin Kita?
Sehingga berani SIMORANGKIR janjinya?

Tapi jangan SEMBIRING Menuduh?
Mungkin karena kurang HUTAGAOL?
Atau karena tekanan is HUTABARAT?

Oleh karena itu
Kita jangan saling SILALAHI satu satu sama lain
Saling ber NAINGGOLAN sesama anak bangsa
Atau saling ber OLOAN-OLOAN antar Kita!
Atau ber SITANGGANG dengan sesama

Saudara!
Kita harus SIADARI
Bangsa ini Ada di pinggir TOBING
POHAN-POHAN banyak ditebangin
Membuat hutan-hutan Kita GIRSANG
BATUBARA Kita diambilin…
PULUNGAN Trilyun ilang dilaut.

Kita butuh pemimpin yang Punya fikiran SIREGAR !
Kita harus PARAPAT Barisan !
Kita harus SIAGIAN!

Karena itu

Kita harus PANJAITAN Doa
Minta PARLINDUNGAN Tuhan
Agar selamat Dan hidup ARITONANG

Jangan Kita SIAHAAN-SIAHAAN kesempatan
Kita harus ber SITINJAK dari sekarang!!!

Jangan hiraukan kata-kata SITUMORANG-SITUMORANG!
Kita harus jadi bangsa yang TOGAR
Kita harus jadi bangsa yang SIBARANI !
SIMANGUNSONG masa depan

KABAN???
BUTEET DAH !!

Jadi KeSITOMPULANnya

HORAS BAH (Tidak Ada BeRAS makan gaBAH!)
Susah Bensin Yaa Jalan Kaki ….!

dari seorang saudara di milist:)

BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB” (Bagian 2)

Filed under: ISLAMOLOGI — dedewijaya at 1:54 am on Tuesday, June 3, 2008

KISAH
PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN

Jika
Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang
bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya
dengan Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib
serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun
eksternal. Itu sudah terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada
sanggahan yang layak. Namun bukti yang kita kupas dibawah ini akan
menambahi ekstra, yang akan memberikan perspektif baru kepada teman
Muslim. Sebab
kematian-kurban
memang eksis bagi
Mesias,
dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia.
Ia
sungguh telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya
sendiri, dan diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama!

Lihat,
Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam fauna
dan flora.
Keduanya tentu tidak bisa
memahami apa itu
“kematian-kurban.” Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya
secara bertahap dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan
darah yang harus ditumpah sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu,
Tuhan terus berjanji kepada manusia akan hal yang sama dari zaman ke
zaman lewat nabi-nabiNya.

Namun cukup
mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan nabi
yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari
itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari
wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan
jejak-jejak janji tersebut yang akan kita bicarakan dibawah ini.

1). Kisah
di zaman Adam

Simaklah
Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam ungkapan
yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula:

”Berfirmanlah
TUHAN kepada ular (si Iblis) itu:

Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara
keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan
meremukkan kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan
tumitnya (melukainya)’”

Tampak
sejak awal di T
aman Eden, kepada
Adam dan Hawa
telah dijanjikan
Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan
keturunannya dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya),
namun dengan mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini
adalah janji besar dari mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya
tidak dapat ditemukan dalam Quran.

Tidak
cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan,
yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan.
Ini kita temukan dalam ayat 21,

Kejadian
3:21

Dan
TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan
untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”

Tampak
bahwa Tuhan melakukan sebuah
penganugerahan
kasih
kepada Adam dan Hawa dengan
membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan (dosa)
mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat
daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7),
dikala Ia baru ”terluka hatiNya” oleh dosa pelanggaran Adam!
Bukankah itu suatu demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib?

Tuhan
tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip.
Cawat daun ”made in
Adam-Hawa”
itu tidak
absah
dimata Tuhan karena itu
adalah lambang
usaha
diri manusia
untuk
menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. Manusia tidak bisa
mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan kekudusan Tuhan
tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 pahala.
Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun
sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat!

Cawat
daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak
bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit ”
made-in-TUHAN”
yang secara hakiki mampu menutup/menebus dosa manusia!

Perhatikan
bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang
’cawat
daun
made in
Adam
,’ ”Lalu keduanya memakan
(buah pohon itu) maka kelihatanlah auratnya. Dan keduanya mulai
menutupi dari daun-daun surga.” (QS 20:121). Namun entah kenapa
Quran kembali mengosongkan apa yang justru
jauh
lebih esensial dari daun, yaitu ’cawat kulit made in TUHAN.’

Sejumlah
teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat
kulit ini justru tidak muncul dalam Quran?
Menjadi
pertanyaan yang tak terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang
mewahyukan berita yang asli? Mungkinkah ayat tentang ’cawat made in
TUHAN’ ini sengaja dipalsukan (ditambahkan) kepada Alkitab sejak
ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah Quran yang sengaja
mengosongkannya dengan alasan ”mengoreksinya”? Agaknya salah satu
harus siap divonis sebagai keliru: yang ”menambahi” atau yang
”mengosongi.”

Kulit
binatang muncul dari
penyembelihan
binatang
. Ada kematian berdarah di
sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol
korban-darah untuk ”cawat penutup dosa.” Korban darah binatang
ini telah memvisualisasikan sebuah
analogi
konsep kematian & penebusan

yang dirancang TUHAN demi menyelamatkan Adam serta seluruh
keturunannya. Hukum Musa berkata, ”
Nyawa
makhluk ada dalam darahnya…dan tanpa penumpahan darah (korban) tak
ada pengampunan”
(Imamat
17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa manusia tidak
bisa dilakukan oleh
cawat daun:
usaha-diri manusia
melainkan hanya
oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai
korban-penebusan.

2). Kisah
di Zaman Abraham

Kisah dari
pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan kematiannya
melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian 22:8
dan 13,

Tuhan
yang akan menyediakan
anak domba
untuk korban bakaran bagiNya

Abraham
mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai
korban
bakaran pengganti anaknya
.”

Sama
dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran
kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu,
dan
lebih gawat lagi, mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar
ini!
(Disini, kita tidak perlu masuk
dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar fokus
terpenting kita, yaitu
konsep
PENEBUSAN
—tidak mengabur).
Bagaimana duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh
seorang bapak yang sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah
yang dilakukan si anak sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik
sebuah teka-teki yang sangat misterius bahkan tak masuk akal ini?
Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan tidak kehabisan cara menguji,
sehingga harus terpaksa memilih cara yang melawan hukumNya. Dia
sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah anak (yang
sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini
tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam
sebuah pembunuhan keluarga nabi.

Banyak
teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian Allah
kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian,
mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan.
Mereka belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat
akan sebuah
konsep
penebusan yang dijanjikan Tuhan

bagi manusia, yang diperagakan lewat sebuah
tamsil
dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang anak
(anak Abraham). Demi keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua
orang berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu
diibaratkan sebagai anak Abraham yang harus disembelih, tetapi
diselamatkan Tuhan dengan sebuah tebusan
Anak
Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias
.
Agar perlambangannya tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk
mengkonfirmasikan hal tersebut ketika Yesus
secara
fisik
datang menghampirinya:

"Lihatlah
Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia”

(Yohanes 1:29).

Sesungguhnya
konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat Quran
37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu ”
kurban
yang besar/agung
” bagi tebusan sang
anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang oleh terjemahan tafsiran
yang apriori menjuruskan makna ”kurban” itu kepada pengertian
yang amat dipersempit, dipatok menjadi ”seekor binatang
sembelihan”, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks
kata-kata seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan
berikut ini:

Dan
Kami tebus anak itu dengan
seekor
sembelihan yang besar

(terjemahan Depag)

Dan
kami menebusnya dengan
sembelihan
yang besar
(terjemahan
Disbintalad)

We ransomed his son
with
a noble sacrifice (satu./sebuah kurban
agung/mulia, terjemah N.J. Dawood)

And We ransomed him
with
a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa,
terjemah Arberry)

Then We ransomed him
with
a tremendous victim (sebuah kurban yang
dahsyat, terjemah Mohammed Pickthall)

And We ransomed him
with
a great sacrifice (kurban yang besar/hebat,
terjemah Yusuf Ali)

Itu adalah gambaran
sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal
dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang
amat besar nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga
pewahyuan Quran sengaja memakai kata asli yang sama dengan salah satu
diantara 99 nama/asma Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung).

Wa fa dainaahu bi
dzibhin ‘azhiim.”

Jadi konteks dan makna
kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya sama
sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi sesamanya (yang
bersifat horizontal
) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan
sendiri secara “vertikal dari atas” yang menyediakan
(menganugerahkan tebusan keselamatanNya kepada manusia, dan bukan
manusia Abraham yang mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi
penebusan dari Cawat Kulit ‘made-in Tuhan’: sebuah
anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam). Teman Muslim
akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana
berikut ini di dalam keheningannya:

  1. Apa
    perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan?

Bila Tuhan hanya ingin
menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah cukup
melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan kurban. Ujian iman telah
berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: “STOP, jangan
bunuh anakmu!”

  1. Dan
    kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban?

Pakar Islam sulit
menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba mendalil logis
tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya: kenapa Allah
sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi? Itulah.
Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari
kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus
(untuk mengganti) kematian yang harus dikenakan kepada setiap manusia
(karena semua manusia itu berdosa).
Sebab Hukum Keadilan
Tuhan
tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia
berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum
KASIH Tuhan
kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan
nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius
20:28).

(Teologi Islam tidak
berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat
Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang
akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa
memperkosa
hakekat diriNya yang Maha-adil?

Ketika Tuhan tidak
menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan ketika
menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan
(“Kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam
kematian-kurban sebagai Penebus—Pembayar harga kematian—yang
mempertemukan Keadilan Tuhan dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap
Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya, karena Tuhan sendiri telah
membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al Masih, Kalimatullah
yang diinkarnasikan ke dalam dunia!)

  1. Dan
    bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru
    dianggap bernilai sangat ”agung-mulia” ketimbang yang dit
    ebusnya
    (manusia)?

Tak
ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi
dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus.
Kedua,
kecuali si penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah
kematian-kurban yang sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa,
pemenang,
 seperti
yang telah kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan
dahsyatnya korban kita jikalau itu hanya terbatas pada pemberian
sedekah di hari raya? Korban semacam ini tidak mempunyai
nilai-tebusan (atoning value),
kecuali nilai sosial dan religi.

SERI 4: BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”

Filed under: ISLAMOLOGI — dedewijaya at 1:49 am on Tuesday, June 3, 2008

(Bagian 1)

dan
karena ucapan mereka: “sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih….”
Padahala mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya,
melainkan orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka….”
(4:157).

“Tetapi (yang
sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya” (4:158).

“Dan mereka itu membuat
tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dari Allah sebaik-baiknya
tipu daya” (3:54).

Teman Muslim sering
mencoba mengkoreksi Anda agar kembali sadar dari kesesatan:

“Isa itu tidak dibunuh,
dan tidak disalib seperti yang kalian percayai. Ini adalah koreksi
dari Allah bagi kalian. Yang disalib adalah seorang Isa-Isa-an yang
disamarkan Allah kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Isa yang asli
telah diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke surga. Ketika
orang-orang kafir berkomplot untuk menipu daya Isa, mereka malahan
dibalas dengan tipu daya yang lebih canggih dari Allah.”

Menghadapi dua
koreksi: bahwa Isa tidak mati disalib, dan bahwa yang disalib itu
bukan Isa, tetapi “Isa-Isaan”; apa yang dapat Anda tanggapi?

Aneh, untuk peristiwa
yang justru dianggap sangat berbobot bagi para Muslim, ayat Surat
4:157 ini tampil tanpa diulang ditempat lain manapun, melainkan
diwahyukan secara solo, satu-satunya totally isolated. Padahal bagi
Muslim (tidak mesti bagi Quran) ayat ini dimaksudkan untuk
mengkoreksi suatu kesalahan fatal dari sekian miliar umat manusia
yang telah terlanjur sesat, dan berpotensi masuk neraka! Bandingkan
betapa beda seriusnya satu ayat solo ini terhadap keseriusan Quran
ketika mengulang-ulang ancaman akan siksaan api neraka dan laknat
Allah. Itu diperingatkan berulang hingga 783 ayat! Atau rata-rata 1
ancaman laknat dan siksa neraka setiap ayat Quran!

Dengan ayat solo yang
satu ini jelas bahwa Muslim tidak cukup mempunyai referensi untuk
membela kebenaran koreksinya. Satu ayat QS 4:157 itu tidak membukti,
jadi bagaiman mengkoreksi. Ia hany melemparkan
satu “asumsi”. Karena itu pakar Islam harus merekonstruksi
pelbagai kisah dengan teori-teori kemungkinan ini dan itu. Ada yang
menteorikan bahwa Isa-Isa-an yang disalibkan itu adalah Yudas
Iskariot. Ada yang bilang itu Barabas atau Simon dari Kirene. Sekte
Ahmadiyah mengklaim bahwa memang Isa-lah yang disalib, namun tidak
sampai mati melainkan hanya pingsan saja, yang menjadi sembuh didalam
kesejukan kubur-batu, yang akhirnya keluar dan minggat ke Kashmir dan
wafat di sana dalam usia 120 tahun setelah menikah dan hidup
sejahtera…

Ayat dan
dongeng yang mengikutinya bisa menjadi mitos, namun segera berbalik
menjadi salah satu ayat yang paling bermasalah dari seluruh Quran,
jikalau mereka mau sedikit saja menelusurinya. Tanganilah isu ini
dengan bijak. Lakukanlah cara ”warming up” dan bertanya dari
kejauhan:

”Kami
melihat Quran hanya menolak kematian Isa dalam satu ayat, namun
sebaliknya banyak ayat Quran justru mencatat tentang kematian Isa.
Seperti QS 5:117, 3:55, 4:159. Dan dalam Surat 19:33 kematian dan
bahkan kebangkitan Isa diakui Quran! Kita tidak bisa membayangkan ada
kematian atau kebangkitan terjadi di sorga. Maka kematian Isa dalam
ayat ini pastilah sebuah kematian/kebangkitan historis dalam satu
rangkaian siklus kehidupan di dunia:

”Dan
kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat
dan pada waktu aku dibangkitkan hidup kembali.”

Jadi kenapa
kalian bisa lebih yakin bahwa Isa tidak mati dibunuh?”

Dan
mereka akan memberi alasan dari segi perlindungan Tuhan terhadap para
nabiNya. Mereka menolak penyaliban isa karena beralasan bahwa Tuhan
pun pasti akan menolaknya juga. Isa adalah nabi yang amat suci dan
dekat dengan Tuhan dan terjaga/terpelihara (maksum) didalamNya; tidak
mungkin dia dibiarkan terhina, teraniaya dan terbantai begitu rupa
oleh manusia bejad. Dan tidak mungkin Tuhan menunjukkan kelemahanNya
dengan membiarkan pemaksaan keji ini oleh kaum najis…

Nah, dari
apa yang mereka gambarkan ini, Anda menangkap bahwa kematian Isa yang
mereka pikirkan adalah jenis Kematian Martir bagi Tuhan. Mereka tidak
mengenal Anak Domba Tuhan dalam Kematian Kurban bagi
pengikut-pengikutNya. Tidak sedikitpun mereka menafsirkan bahwa
kematian Isa itu ada kaitannya dengan pengorbanan dan penebusan bagi
dosa manusia. Disnilah Anda dapat melemparkan pertanyaan pancingan
Anda:

”Ya, Surat
An Nisaa ayat 157 ini menegaskan (tanpa menjelaskan) bahwa Isa tidak
mati dalam kematian-martir melawan musuh-musuh Allah. Sedangkan
kematian Yesus seperti yang kami maksudkan adalah kematian-kurban.
Anda tahu membedakan kematian martir dan kematian kurban?”

Mereka akan
tergoda, dan mempersilahkan Anda untuk menjelaskannya dari perspektif
Kristiani.

PENJELASAN
KEMATIAN YESUS

Pertama-tama
jelaskan bahwa kematian martir itu adalah kematian yang
mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari
musuh-musuh Tuhan hingga akhir hayatnya karena dibunuh. Kematian demi
kebenaran ini merupakan akibat paksaan yang tidak bisa dihindari lagi
kecuali menyangkal cinta kasihnya kepada Tuhan dan kebenaranNya. Ia
dibunuh dalam kemartiran, dimana Tuhanlah yang menjadi pusat
pembaktiannya.

Berbeda
dengan kematian-kurban dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri
untuk dikorbankan (masih bisa dihindari, tetapi ia merelakan) demi
kasih yang begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang
dikasihinya. Inilah sebuah kematian ”tukar guling” yang merupakan
win-win solution
(semua pihak diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya.

Kedua jenis
kematian disini total berlandaskan kasih, dan tidak diselewengkan
dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam atas
nama Tuhan atau ”perjuangan”.

”Dan
sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan
menyerahkan tubuhku untuk dibakar (mati sahid, dll), tetapi jika aku
tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”
Sebab, ”Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan
Tuhan.” (I Kor 13:13; Yak 1:20)

Quran
tampaknya tidak mengenal kematian-kurban. Namun bila Anda jeli,
sesungguhnya Surat 19:33 di atas tersirat nubuat Isa akan kematian
kurban bagi dirinya. Yaitu Isa bahkan akan tetap menemui
kesejahteraan (
perfect peace)
pada hari ia wafat, karena ia merelakan kematiannya dalam
damai-sejahtera yang sejati.

Untuk
melukiskan ujud kematian-kurban kepada teman Muslim, Anda dapat
memperlihatkan keseluruhan perikop Alkitab HAMBA TUHAN yang MENDERITA
dalam Yesaya 52:13 dst, 53:1-12. di situ kedatangan seorang Hamba
yang akan berkorban telah dinubuatkan sejak awal. Ia yang ”hamba”
akan menderita, dihina, dianiaya dan mati disalibkan sebagai korban
tebusan bagi umat yang seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya.
Ia sendiri berkata (Lukas 24:26):

”Bukankah
Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam
kemuliaanNya?”

Jadi,
berlainan dengan martir, kematian Yesus ini tak ada hubungannya
dengan emosi kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi,
melainkan justru ”iming-iming” membayar harga tebusan yang dapat
langsung menyelamatkan jiwa umatNya! Dan kematian-kurban ini
dinyatakan dalam bahasa Yesus sendiri:

”Akulah
gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi
domba-dombanya… Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali.
Tidak seorangpun mengambilnya (nyawa ini) daripadaKu, melainkan Aku
memberikannya menurut kehendakKu sendiri…” (Yohanes 10:11,17,18).

25 Gejala-Gejala Kemerosotan Rohani

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 1:34 am on Monday, June 2, 2008

Artikel
berikut ini diambil dari Buletin Pilgrim Covenant Church, tanggal 14
Mei 2000. Artikel ini ditulis oleh Pastor Lim Jyh Jang.

Anda
tentu ingat ketika pertama kali Anda menjadi seorang Kristen,
bagaimana hati Anda terbakar dengan semangat yang kudus dan ucapan
syukur, dan Anda merasakan keharuan ketika membaca Firman Tuhan atau
menyanyikan pujian. Anda siap pergi ke bagian dunia yang terjauh
untuk memberitakan Injil, apapun yang terjadi. Akan tetapi tidak lama
semangat dan antusiasme itu mendingin. Anda tidak lagi bersemangat
seperti dulu. Anda mulai menyadari kelemahan dan kegagalan-kegagalan
Anda. Anda mulai merasakan perjuangan melawan dosa begitu sengit.
Anda tidak lagi merasa pantas dikirim sebagai
misionaris ke Tibet. Dan Anda merindukan pengalaman pertobatan
mula-mula itu sekali lagi dan untuk memperoleh kembali semangat itu,
karena nurani Anda dihentak dari mimbar ketika diingatkan lagi dan
lagi bahwa Anda sudah meninggalkan kasih yang mula-mula.

Saudara
yang terkasih, saya pikir Tuhan tidak sedang berbicara tentang kasih
mula-mula semacam ini dalam Wahyu 2:4. Pertama-tama, Ia sedang
berbicara kepada gereja, bukan kepada individu. Kedua, sementara kita
harus meratapi kurangnya semangat dalam diri kita dan keadaan hati
kita yang dingin, dan kurangnya keyakinan adalah dosa, saya berkata
bahwa adalah normal bagi setiap orang Kristen untuk melalui fase
pendinginan setelah kegembiraan yang mula-mula. Kasih mula-mula
seorang percaya yang baru seringkali lebih bersifat emosional
daripada dewasa. Ketika seseorang pertama menjadi Kristen, ia masuk
ke dalam semacam ketegangan rohani di mana realita kondisi rohaninya
sendiri menjadi kabur. Namun segera, realita mulai nyata dan kasih
yang didasarkan atas perasaan berangsur-angsur menghilang. Dalam
perumpamaan mengenai penabur, tanah berbatu memiliki pengalaman yang
sama, tapi kemudian terhilang. Di lain pihak, bagi seorang percaya
sejati, kasih yang didasarkan atas perasaan digantikan dengan kasih
yang dewasa, lebih kokoh, dan dalam, yang berakar dalam hati dan
didasarkan atas kehendak yang dikuduskan. Orang percaya yang dewasa
mengerti keterbatasannya dan kerusakan naturnya. Ia memandang salib
Kalvari dan bersyukur kepada Tuhan atas segala yang dikerjakan-Nya
untuknya, dan ia mendemonstrasikan kasihnya kepada Kristus dengan
berusaha menaati perintah-perintah-Nya setiap saat. Tapi pada
umumnya, ia tidak akan lagi memiliki semangat mula-mula yang tidak
stabil yang didasarkan atas emosinya.

Jadi,
cukup normal jika Anda tidak lagi memiliki semangat yang berapi-api
untuk ingin menginjili dunia. Tapi sebelum kita menjadi terlalu
nyaman, mari kita menyadari bahwa tidak semua kita yang telah
memiliki kasih yang dewasa kepada Tuhan dalam Kristus, berlanjut
dalam kasih itu dengan konstan. Dalam setiap orang yang telah
mengalami panggilan efektual, ada kerusakan yang tinggal sehingga
selalu ada kecenderungan untuk meninggalkan jalan Tuhan.
Sisa
korupsi ini semakin dimatikan melalui pekerjaan pengudusan Roh Kudus.
Akan tetapi selama kita tinggal dalam daging, akan ada peperangan
yang berkelanjutan dan tidak dapat didamaikan: Daging bernafsu
melawan Roh, dan Roh melawan daging (Galatia 5:17). Peperangan ini
akan ada dan akan berakhir pada kemenangan yang final dan mutlak dari
Roh Kudus ketika kita meninggalkan tubuh dosa ini dan diangkat ke
dalam kemuliaan.

Akan
tetapi, pengalaman mengajarkan kita bahwa sangat sering, seorang anak
Tuhan, setelah masa awal yang penuh semangat dapat masuk ke dalam
sikap yang puas diri di mana pertumbuhan rohaninya berhenti atau
menurun. Kedurhakaan mulai bertambah sementara kasih kepada Kristus
menjadi dingin (bdk. Matius 24:12). Akhirnya, hati dikeraskan oleh
kebohongan dosa (Ibrani 4:11); dunia dan kenyamanan hidup sekarang
ini mulai menjadi lebih berprioritas daripada Kerajaan Allah dan
kebenaran-Nya (1 Yohanes 2:15; 2 Timotius 4:10); kepuasan yang saleh
digantikan oleh keserakahan dan kecemburuan; dan ibadah rohani yang
sungguh-sungguh digantikan oleh formalisme kosong dan kemunafikan (2
Timotius 3:5). Ketika ini terjadi, jiwa telah melangkah keluar dari
jalan hidup yang sempit dan mulai berjalan di atas jalan lebar yang
menuju kehancuran. Jiwa mulai kembali lagi ke jalan yang sesat. Dan
jika ia berlanjut dalam keadaan tidur rohani tersebut tanpa pulih
kembali, akan menjadi jelas bahwa ia tidak pernah menjadi anak Tuhan
yang sejati. Malah, mungkin bagi orang seperti itu untuk akhirnya
menyangkali imannya dan menjadi tidak peduli terhadap Injil. Tapi
celakalah orang seperti itu. Thomas Watson sungguhlah benar ketika ia
berkata bahwa “Ia yang jatuh ke belakang jatuh paling dalam ke
dalam neraka” (bdk. Ibrani 6:4-6; Matius 11:20-24).

Bagaimana
seorang anak Tuhan bisa mengalami kemerosotan sampai pada keadaan
yang begitu berbahaya? Tentulah karena dosa dan pengabaian atau
penyalahgunaan alat-alat kasih karunia. Tapi ini tidak terjadi
semalam. Biasanya ini terjadi melalui suatu masa kemerosotan, di mana
orang tersebut mungkin bahkan tidak sadar bahwa ia sedang mengalami
kemerosotan atau kekerasan rohani. Gejala-gejala kemerosotan rohani,
akan tetapi, mudah diidentifikasi; dan jika kita akan membahas
obatnya, kita harus mulai dari menyadari gejala-gejala ini. Apa saja
kalau begitu gejala-gejalanya? Perkenankan saya memberikan
25
gejala
, beberapa agak tumpang tindih.
Harap diingat bahwa daftar ini tidak menyeluruh, tapi kalau lebih
banyak gejala menggambarkan Anda, mungkin Anda lebih merosot, dan
haruslah Anda lebih prihatin untuk kembali ke jalan yang menuju
hidup. Perkenankan saya menyarankan Anda membaca daftar ini disertai
doa, dengan pena di tangan untuk melingkari apa yang menggambarkan
Anda.

  1. Ketika
    Anda lebih memilih membaca suratkabar ketimbang Alkitab,
    menghabiskan banyak waktu di hal yang satu tanpa merasa lelah, tapi
    mengantuk di yang lain; dan lagi, pembacaan Alkitab dilakukan secara
    rutinitas dan dengan terpaksa.

  2. Ketika
    Anda memilih dan menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi
    ketimbang membaca buku Kristen yang berarti.

  3. Ketika
    Anda memilih kenyamanan daripada ketaatan, meskipun Anda tahu apa
    yang dituntut oleh Firman Allah; atau ketika Anda tahu kewajiban
    tertentu tapi menolak untuk melakukannya karena alasan apa pun.

  4. Ketika
    Anda ingin melakukan sesuatu dalam gereja bukan karena kasih kepada
    Kristus, tapi untuk menenangkan nurani yang bersalah atau supaya
    dilihat sebagai orang yang saleh.

  5. Ketika
    Anda berdoa hanya jika Anda punya waktu luang atau ketika Anda ingin
    terlihat saleh oleh orang lain; dan lagi doa Anda mekanis dan umum.

  6. Ketika
    dalam pengakuan dosa Anda, Anda tidak hanya mengecilkan keseriusan
    dosa Anda dengan membenarkan tindakan-tindakan Anda, tapi gagal
    meninggalkan dosa tersebut.

  7. Ketika
    Anda suka mengkritik khotbah, mengeluh karena khotbah tersebut
    terlalu bersifat teknis atau terlalu simpel; dan membenci ketika
    khotbah tersebut menyingkapkan dosa Anda atau menusuk nurani
    Anda—meskipun Anda tidak digerakkan olehnya.

  8. Ketika
    Anda menganggap membosankan khotbah-khotbah yang berbicara tentang
    kemuliaan Kristus atau keagungan Allah karena khotbah-khotbah
    tersebut tidak secara langsung menjawab kebutuhan manusia; dan
    ketika khotbah-khotbah tentang penderitaan Kristus tidak
    menggerakkan Anda sama sekali.

  9. Ketika
    Anda tertidur selama kebaktian bukan karena kelelahan fisik yang
    beralasan seperti karena usia lanjut, pengobatan, atau karena
    menjaga seorang bayi malam sebelumnya.

  10. Ketika
    Anda berusaha menyenangkan manusia daripada Tuhan karena Anda
    menginginkan pujian manusia yang dapat didengar oleh manusia yang
    lain daripada pujian Tuhan yang tidak didengar manusia; atau ketika
    Anda membenarkan kompromi munafik Anda atas nama diplomasi atau
    menjaga damai.

  11. Ketika
    Anda tidak mempedulikan janji dan komitmen yang telah Anda buat dan
    siap untuk melanggar itu semua karena alasan yang paling ringan.

  12. Ketika
    Anda lebih peduli dengan penampilan luar Anda daripada hiasan
    tersembunyi manusia rohaniah Anda.

  13. Ketika
    Anda merasa terancam oleh keketatan orang lain dan berusaha
    membenarkan kelonggaran Anda dengan melabel orang itu ekstrim atau
    legalistik.

  14. Ketika
    Anda benci untuk dikoreksi, dan ketika nyata bahwa orang yang
    menuduh Anda benar, Anda selalu punya alasan buat tindakan-tindakan
    Anda.

  15. Ketika
    Anda secara diam-diam merasa senang dengan jatuhnya orang-orang
    percaya yang lain, ketimbang bersedih bersama-sama mereka.

  16. Ketika
    Anda cepat menyalahkan orang lain atau menghakimi mereka ketika
    konflik atau pertengkaran muncul, tapi tidak bersedia disalahkan
    sedikitpun.

  17. Ketika
    Anda merasa tidak nyaman berada di dekat mereka yang Anda anggap
    lebih suci daripada Anda, tapi senang berada dekat mereka yang Anda
    anggap kurang ketat dalam agama daripada Anda.

  18. Ketika
    Anda sangat nyaman dalam percakapan duniawi atau percakapan yang
    tidak berarti, tapi menjadi diam atau tidak nyaman dalam percakapan
    keagamaan.

  19. Ketika
    Anda memberi prioritas untuk mengejar hal-hal duniawi daripada
    mengejar Kristus dan kebenaran-Nya, dan karena itu memilih kemajuan
    karir meskipun Anda sepenuhnya sadar bahwa itu akan sangat berefek
    terhadap devosi Anda kepada Kristus dan tujuan-Nya.

  20. Ketika
    Anda dengan mudah dihambat dari ibadah Sabat; dan dengan diam-diam
    merasa senang karena Anda punya alasan untuk diam di rumah, meskipun
    alasannya mungkin sepele.

  21. Ketika
    Anda absen dari pertemuan doa atau ibadah sore bukan karena
    terpaksa, tidak mampu, atau kesulitan, melainkan karena pilihan
    Anda.

  22. Ketika
    Anda biasanya tepat waktu dalam pekerjaan atau janji-janji personal,
    tetapi selalu lambat dalam kebaktian atau pertemuan-pertemuan
    gereja.

  23. Ketika
    Anda dapat mendiskusikan perbedaan antara supralapsarianisme dan
    infralapsarianisme atau perbedaan antara kovenantalisme dan
    dispensasionalisme, tapi muak untuk memberikan traktat kepada
    seorang yang tidak percaya.

  24. Ketika
    di bawah pukulan sementara dari Tuhan, Anda lebih peduli dengan
    kesakitan dan kerugian Anda daripada menyelidiki apa yang mungkin
    menjadi maksud Tuhan atas penderitaan Anda.

  25. Ketika
    Anda harus dipaksa oleh seseorang untuk membaca daftar ini karena
    Anda merasa bahwa subjek kemerosotan rohani tidak penting atau tidak
    berkenaan dengan Anda; atau ketika Anda merasa bahwa daftar semacam
    ini tidak realistis dan menuntut terlalu banyak dari seorang anak
    Tuhan.

Saudara
yang terkasih, bagaimana dengan Anda? Kebanyakan dari kita, saya
percaya, akan gagal di poin-poin tertentu, paling tidak. Tapi jangan
putus asa. Masih ada harapan untuk mengatasinya jika Anda tidak
bersikap masa bodoh terhadap apa yang telah dinyatakan daftar ini
mengenai Anda. Berikutnya, kalau Tuhan menghendaki, kita akan melihat
beberapa pengobatan yang dapat kita aplikasikan bagi pengudusan kita.
Tapi untuk sekarang, tidakkah Anda ingin, yang terkasih, segera
berpaling kepada Tuhan untuk pertolongan dan pemulihan-Nya? Tuhan
telah berkata: “Umat-Ku betah dalam membelakangi Aku” (Hosea
11:7); namun Ia juga berjanji: “Aku akan memulihkan mereka dari
penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab
murka-Ku telah surut dari pada mereka” (Hosea 14:4). Apa yang Tuhan
katakan tentang Gereja, Ia tentu katakan kepada setiap anak Tuhan
yang sejati. Karena itu, "Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan
lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan
yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan"
(Yeremia 6:16a). Jangan menjadi seperti Israel dahulu kala, yang
digambarkan dalam akhir ayat ini, berkata, "Kami tidak mau
menempuhnya!" (Yeremia 6:16b). Amen.

Published
by Adi on 17 May 2008 at 11:23 AM.

Y E S U S K R I S T U S T U H A N K I T A

Filed under: PUISI & HIKMAT — dedewijaya at 12:47 am on Monday, June 2, 2008

Yang terbelenggu dosa dan terikat kuasa dosa
Engkau bebaskan dan merdekakan
Sebab Kasih setia-Mu yang begitu besar dan AJAIB
Untuk dunia yang terhilang
Sampai selama-lamanya tak pernah berubah, YA dan AMIN! (Baca Yohanes 3:16)

Dia yang akan melompat tinggi harus berlari dalam jarak yang jauh terlebih dahulu
(Sms Agustin)

Menariknya orang Kristen tidak terletak pada jabatannya, tetapi pada sifat dan hidupnya yang memberkati sesama
(Sms Agustin)

Kepopuleran Tidak ada gunanya, Masa Depan Bangsa adalah yang Terutama, mari kita dukung pemimpin bangsa, untuk membawa ke INDONESIA JAYA….INDONESIA BISA!!!
(Sms Seorang Sahabat)

btw puisi di atas ada yg mau lanjutkan? silahkan.

« Previous Page