KISAH
PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN
Jika
Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang
bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya
dengan Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib
serta kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun
eksternal. Itu sudah terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada
sanggahan yang layak. Namun bukti yang kita kupas dibawah ini akan
menambahi ekstra, yang akan memberikan perspektif baru kepada teman
Muslim. Sebab kematian-kurban
memang eksis bagi Mesias,
dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia
sungguh telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya
sendiri, dan diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama!
Lihat,
Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam fauna
dan flora. Keduanya tentu tidak bisa
memahami apa itu “kematian-kurban.” Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya
secara bertahap dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan
darah yang harus ditumpah sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu,
Tuhan terus berjanji kepada manusia akan hal yang sama dari zaman ke
zaman lewat nabi-nabiNya.
Namun cukup
mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan nabi
yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari
itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari
wahyu-wahyu yang diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan
jejak-jejak janji tersebut yang akan kita bicarakan dibawah ini.
1). Kisah
di zaman Adam
Simaklah
Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam ungkapan
yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula:
”Berfirmanlah
TUHAN kepada ular (si Iblis) itu:
’Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara
keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan
meremukkan kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan
tumitnya (melukainya)’”
Tampak
sejak awal di Taman Eden, kepada
Adam dan Hawa telah dijanjikan
Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan
keturunannya dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya),
namun dengan mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini
adalah janji besar dari mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya
tidak dapat ditemukan dalam Quran.
Tidak
cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan,
yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan.
Ini kita temukan dalam ayat 21,
Kejadian
3:21
”Dan
TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan
untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”
Tampak
bahwa Tuhan melakukan sebuah penganugerahan
kasih kepada Adam dan Hawa dengan
membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan (dosa)
mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat
daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7),
dikala Ia baru ”terluka hatiNya” oleh dosa pelanggaran Adam!
Bukankah itu suatu demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib?
Tuhan
tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip.
Cawat daun ”made in
Adam-Hawa” itu tidak
absah dimata Tuhan karena itu
adalah lambang usaha
diri manusia untuk
menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. Manusia tidak bisa
mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan kekudusan Tuhan
tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 pahala.
Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun
sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat!
Cawat
daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak
bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit ”made-in-TUHAN”
yang secara hakiki mampu menutup/menebus dosa manusia!
Perhatikan
bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang ’cawat
daun made in
Adam,’ ”Lalu keduanya memakan
(buah pohon itu) maka kelihatanlah auratnya. Dan keduanya mulai
menutupi dari daun-daun surga.” (QS 20:121). Namun entah kenapa
Quran kembali mengosongkan apa yang justru jauh
lebih esensial dari daun, yaitu ’cawat kulit made in TUHAN.’
Sejumlah
teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat
kulit ini justru tidak muncul dalam Quran? Menjadi
pertanyaan yang tak terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang
mewahyukan berita yang asli? Mungkinkah ayat tentang ’cawat made in
TUHAN’ ini sengaja dipalsukan (ditambahkan) kepada Alkitab sejak
ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah Quran yang sengaja
mengosongkannya dengan alasan ”mengoreksinya”? Agaknya salah satu
harus siap divonis sebagai keliru: yang ”menambahi” atau yang
”mengosongi.”
Kulit
binatang muncul dari penyembelihan
binatang. Ada kematian berdarah di
sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol
korban-darah untuk ”cawat penutup dosa.” Korban darah binatang
ini telah memvisualisasikan sebuah analogi
konsep kematian & penebusan
yang dirancang TUHAN demi menyelamatkan Adam serta seluruh
keturunannya. Hukum Musa berkata, ”Nyawa
makhluk ada dalam darahnya…dan tanpa penumpahan darah (korban) tak
ada pengampunan” (Imamat
17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa manusia tidak
bisa dilakukan oleh cawat daun:
usaha-diri manusia melainkan hanya
oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai
korban-penebusan.
2). Kisah
di Zaman Abraham
Kisah dari
pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan kematiannya
melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian 22:8
dan 13,
”Tuhan
yang akan menyediakan anak domba
untuk korban bakaran bagiNya”
”Abraham
mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban
bakaran pengganti anaknya.”
Sama
dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran
kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan
lebih gawat lagi, mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar
ini! (Disini, kita tidak perlu masuk
dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar fokus
terpenting kita, yaitu konsep
PENEBUSAN—tidak mengabur).
Bagaimana duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh
seorang bapak yang sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah
yang dilakukan si anak sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik
sebuah teka-teki yang sangat misterius bahkan tak masuk akal ini?
Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan tidak kehabisan cara menguji,
sehingga harus terpaksa memilih cara yang melawan hukumNya. Dia
sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah anak (yang
sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini
tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam
sebuah pembunuhan keluarga nabi.
Banyak
teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian Allah
kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian,
mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan.
Mereka belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat
akan sebuah konsep
penebusan yang dijanjikan Tuhan
bagi manusia, yang diperagakan lewat sebuah tamsil
dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang anak
(anak Abraham). Demi keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua
orang berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu
diibaratkan sebagai anak Abraham yang harus disembelih, tetapi
diselamatkan Tuhan dengan sebuah tebusan Anak
Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias.
Agar perlambangannya tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk
mengkonfirmasikan hal tersebut ketika Yesus secara
fisik datang menghampirinya:
"Lihatlah
Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia”
(Yohanes 1:29).
Sesungguhnya
konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat Quran
37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu ”kurban
yang besar/agung” bagi tebusan sang
anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang oleh terjemahan tafsiran
yang apriori menjuruskan makna ”kurban” itu kepada pengertian
yang amat dipersempit, dipatok menjadi ”seekor binatang
sembelihan”, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks
kata-kata seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan
berikut ini:
Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar
(terjemahan Depag)
Dan
kami menebusnya dengan sembelihan
yang besar (terjemahan
Disbintalad)
We ransomed his son
with a noble sacrifice (satu./sebuah kurban
agung/mulia, terjemah N.J. Dawood)
And We ransomed him
with a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa,
terjemah Arberry)
Then We ransomed him
with a tremendous victim (sebuah kurban yang
dahsyat, terjemah Mohammed Pickthall)
And We ransomed him
with a great sacrifice (kurban yang besar/hebat,
terjemah Yusuf Ali)
Itu adalah gambaran
sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal
dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang
amat besar nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga
pewahyuan Quran sengaja memakai kata asli yang sama dengan salah satu
diantara 99 nama/asma Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung).
“Wa fa dainaahu bi
dzibhin ‘azhiim.”
Jadi konteks dan makna
kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya sama
sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi sesamanya (yang
bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan
sendiri secara “vertikal dari atas” yang menyediakan
(menganugerahkan tebusan keselamatanNya kepada manusia, dan bukan
manusia Abraham yang mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi
penebusan dari Cawat Kulit ‘made-in Tuhan’: sebuah
anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam). Teman Muslim
akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana
berikut ini di dalam keheningannya:
-
Apa
perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan?
Bila Tuhan hanya ingin
menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), Allah cukup
melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan kurban. Ujian iman telah
berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: “STOP, jangan
bunuh anakmu!”
-
Dan
kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban?
Pakar Islam sulit
menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba mendalil logis
tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya: kenapa Allah
sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi? Itulah.
Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari
kematian seorang Al Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus
(untuk mengganti) kematian yang harus dikenakan kepada setiap manusia
(karena semua manusia itu berdosa). Sebab Hukum Keadilan
Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap manusia
berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum
KASIH Tuhan kini dapat berkata, “Anak Manusia memberikan
nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius
20:28).
(Teologi Islam tidak
berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT itu dapat
Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang
akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa
memperkosa hakekat diriNya yang Maha-adil?
Ketika Tuhan tidak
menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan ketika
menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan
(“Kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam
kematian-kurban sebagai Penebus—Pembayar harga kematian—yang
mempertemukan Keadilan Tuhan dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap
Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya, karena Tuhan sendiri telah
membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al Masih, Kalimatullah
yang diinkarnasikan ke dalam dunia!)
-
Dan
bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru
dianggap bernilai sangat ”agung-mulia” ketimbang yang ditebusnya
(manusia)?
Tak
ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi
dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus. Kedua,
kecuali si penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah
kematian-kurban yang sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa,
pemenang, seperti
yang telah kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan
dahsyatnya korban kita jikalau itu hanya terbatas pada pemberian
sedekah di hari raya? Korban semacam ini tidak mempunyai
nilai-tebusan (atoning value),
kecuali nilai sosial dan religi.