DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Pembahasan Point 1: BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL SUNGGUH MENYESATKAN

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 4:44 am on Friday, October 17, 2008

Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa BAPTISAN diberikan kepada mereka yang menanggapi/percaya berita INJIL . Contoh: Kepala penjara di Filipi, kita membaca, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.“ (Kisah Para Rasul 16:32). Ini menjelaskan mengapa seisi rumahnya dapat/boleh dibaptis—mereka semua telah cukup umur untuk mendengarkan Firman. Juga, Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”
8:37 Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”
8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Dalam PB, Baptisan segera menyusul setelah IMAN PRIBADI kepada Kristus digunakan. Dalam gereja mula-mula, TAK SATUPUN orang percaya yang tidak dibaptis. Semua orang Percaya DIBAPTIS sebagai suatu kesaksian terhadap iman mereka.

Surat Barnabas (sekitar tahun 120-130), berisi suatu pasal yang singkat tentang Baptisan Air, tetapi Hanya Baptisan Orang-orang Percaya. ”Kami turun ke dalam air penuh dengan dosa dan kecemaran, dan kami keluar dengan membawa buah dalam hati kami, ketakutan dan pengharapan dalam Yesus di dalam Roh”

Tertullianus, pemimpin gereja Afrika Utara (sekitar tahun 200), menandaskan bahwa anak-anak harus datang untuk dibaptis ketika mereka sudah DEWASA supaya mereka mengerti apa yang sedang mereka lakukan.”oleh karena itu, sesuai dengan keadaan dari watak seseorang, dan juga usianya, maka PENUNDAAN baptisan adalah LEBIH MENGUNTUNGKAN, khususnya dalam hal anak-anak kecil.” Tertullianus, yang berbicara menentang pembaptisan anak kecil, mengacu kepada orang tua baptis atau orang tua dari si Anak yang dibaptis sebagai MUDAH SEKALI membuat Janji-Janji yang GEGABAH ketika mereka mengatakan bahwa anak itu akan menjadi orang Kristen dalam kehidupannya kelak. ”Siapakah yang mengetahui apakah hal ini akan terjadi?” ia bertanya.

Jika membaca sejarah Baptisan Anak/Bayi dalam sejarah gereja, penuh dengan unsur MISTIK/SAKRAMENTAL—kalo Bayi/Anak itu mati pasti masuk surga karena sudah dibaptis, Baptisan Bayi/Anak untuk menghapus Dosa Asal dan politis (pembaptisan anak kecil menjadi mata rantai yang mempersatukan gereja dan Negara, setiap anak yang dibaptis menjadi orang Kristen dan anggota kerajaan Romawi sekaligus)

Karl Barth, teolog terkenal dari Swiss, mengakui bahwa motivasi sesungguhnya dibalik Baptisan Anak adalah KONSTANTIN-isme, yakni kesatuan gereja dan Negara. Ketika berbicara mengenai para Reformator yang berpegang pada Baptisan Anak Kecil, ia mengatakan,“Orang-orang pada waktu itu tidak mau melepaskan, karena cinta atau uang, keberadaan gereja Injili dalam bentuk corpus Christianum Konstantinian. Ketika gereja menghentikan pembaptisan anak kecil, gereja Rakyat dalam arti gereja Negara atau gereja Massa berakhir.“ Barth menjelaskan bahwa Alkitab mengajarkan gereja Kristen merupakan suatu minoritas; bila semua orang diikutsertakan didalamnya, maka akibatnya adalah kesakitan bukan kesehatan. Ia mengakhiri dengan berkata bahwa, ”sudah saatnya untuk mengumumkan bahwa suatu pencarian yang urgen untuk bentuk yang lebih baik dari praktik baptisan kita sudah lama dinanti-nantikan.”

Ulrich Zwingli, pengkhotbah dan reformator dari Zurich, mempunyai KERAGUAN YANG SERIUS tentang Pembaptisan Anak Kecil. Ia Mengaku, ”Tak ada yang lebih menyedihkan saya daripada bahwa saat ini saya harus membaptiskan anak-anak kecil karena SAYA TAHU HAL ITU SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN.” Ia menyadari bahwa pembaharuan yang menyeluruh dalam gereja akan berarti menghentikan kebiasaan itu. Ia mengatakan lagi,”Saya tidak menyinggung hal baptisan, saya tidak menyebutnya benar atau salah; jika kita harus membaptis seperti YANG TELAH DITETAPKAN oleh KRISTUS, maka kita TIDAK AKAN MEMBAPTIS seorang pun sebelum Ia MENCAPAI USIA yang memperlihatkan kebijaksanaan; karena DIMANAPUN TIDAK TERTULIS bahwa Pembaptisan Anak Kecil harus dilakukan.”

Namun sayangnya, Zwingli mengubah pikiran karena alasan keadaan politik waktu itu yang kuatir kacau (timbul gejolak sosial) karena gerakan Anabaptis (kelompok Kristen yang membaptis ulang) yang SANGAT TIDAK SETUJU dengen BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL karena pola Perjanjian Baru yaitu gereja terdiri atas orang-orang percaya yang dibaptis.

Dalam soal Baptisan Anak Kecil, Luther dan Zwingli berpihak pada Gereja Roma. Zwingli, misalnya, mengerti apabila ia sampai berpihak pada para Anabaptis, ia akan membangkitkan ketidaksenangan Negara. Ia berkata, ”Akan tetapi, jika saya sampai menghentikan praktik itu (Baptisan Bayi/Anak Kecil), maka saya khawatir saya akan kehilangan gaji tetap saya dari berkhotbah”. Tetapi terlebih penting, ia memandang para Anabaptis sebagai pengacau tatanan sosial.

Perkataan Luther agak tidak masuk akal tentang Baptisan Bayi/Anak kecil. Luther tidak menghentikan Praktik pembaptisan anak kecil. Luther juga menyetujui pemusnahan para Anabaptis. Luther terjepit ditengah-tengah topik tentang Baptisan Anak. Ia ingin berpegang pada dua doktrin yang bertentangan, yakni pembenaran oleh iman dan kepercayaan bahwa anak-anak kecil dilahirbarukan oleh Baptisan. Dalam suatu khotbah ia mengemukakan jika seseorang menganggap bahwa anak-anak kecil yang telah dibaptis itu tidak percaya, ia harus menghentikan perbuatan itu, ”supaya kita tidak lagi menghina dan menghujat kemuliaaan Allah yang mahatinggi dnegan tindakan gila-gilaan dan ketololan yang tidak beralasan.” Sungguh Ketidakkonsistenan dan Dilema bagi Luther.

Kelompok PAEDOBAPTIS (yang pro/melakukan praktik Baptisan Anak Kecil) mempunyai masalah. Beberapa anak ini ketika dewasa tidak memeluk iman Kristen, tetapi menjadi berandal. Untuk menghadapi dilema ini, upacara“masuk sidi“ ditetapkan supaya seorang anak dapat meneguhkan keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya. Paul K. Jewett menjelaskan bahwa perlunya praktik ini hanya dapat berarti salah satu dari dua hal: mujizat lahir baru yang dikerjakan lewat baptisan anak kecil itu DIBATALKAN ketika anak itu Dewasa/Akil Balik, atau Upacara masuk sidi“ itu adalah Pengakuan secara diam-diam bahwa anak itu sebenarnya TIDAK PERNAH DILAHIRBARUKAN.

Bagaimana dengan John Calvin? Seperti Zwingli, ia menemukan hubungan analogis antara tanda sunat dari Perjanjian Lama dan Tanda Baptisan dari Perjanjian Baru. Calvin mengakui bahwa Alkitab tidak pernah mencatat Pembaptisan seorang anak kecil.

Perbandingan Tanda SUNAT dan Tanda BAPTISAN, TIDAK TEPAT karena Perjanjian yang Baru berbeda sekali dengan perjanjian yang lama. Memang benar bahwa sunat secara rutin dijalankan dalam perjanjian Lama, baik yang beriman atau tidak. Sunat merupakan tanda dari berkat-berkat perjanjian yang hanya dapat diterima sepenuhnya oleh seorang anak apabila ia memiliki iman pribadi setelah ia cukup umur. (bagian ini belum selesai diketik)

Seperti Luther, Calvin bergumul dengan masalah bagaimana baptisan dapat berguna bagi seorang anak kecil yang tak dapat percaya. Ia mengatakan bahwa mungkin Allah sebelumnya telah melahirbarukan anak-anak kecil yang akan diselamatkan. Para kritikus mengatakan, jika hal ini benar, maka anak-anak tak akan dilahirkan “di dalam Adam“ melainkan “di dalam Kristus.“ Kesimpulan ini tidak diterima secara luas.

Calvin mengeluarkan teori yang lebih baik dari teori Mistik Baptisan Anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran kembali anak-anak kecil tetapi hanya bearti bahwa“benih-benih pertobatan terdapat di dalam anak-anak melalui pekerjaan yang rahasia dari Roh Kudus.“ Mereka dibaptis dalam iman dan pertobatan yang akan datang. Ini tidak berarti bahwa anak-anak yang tidak dibaptis harus diserahkan untuk kematian kekal jika mereka mati pada masa anak-anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran baru, tapi hanya berarti bahwa “benih-benih pertobatan“ itu ada.

Erwin W. Lutzer menyarankan Baca juga buku Paul K Jewett, Infant Baptism and the Covenant of Grace, Grand Rapids: Eerdmans, 1977. Karya ini memuat sejarah yang rinci tentang doktrin baptisan anak kecil dan menyimpulkan bahwa BAPTISAN ANAK KECIL, BERTENTANGAN dengan ajaran Perjanjian Baru. Buku ini sangat ilmiah. Buku ini menarik karena ditulis oleh seorang teolog perjanjian (Covenant Teolog), yang dididik untuk menerima Baptisan Anak Kecil. Ini merupakan bacaan yang perlu dibaca oleh barangsiapa yang menaruh minat pada doktrin yang controversial ini.

dirangkum dari buku Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005.
(ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?)

kesimpulan: BAPTISAN BAYI/ANAK SUNGGUH MENYESATKAN dan Para Gembala/Pendeta/ Penatua/Penilik Jemaat dan Gereja yg menerapkan PAEDOBAPTIS perlu bertobat dan mengubah KESALAHAN FATAL ini.

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Tidak ada Gereja yg Sempurna, itu benar. Ada Gereja Yang Lebih Benar, itu Benar.

Pembahasan point 4: Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 4:00 am on Friday, October 17, 2008

KRISTEN KANIBAL MEMAKAN DARAH DAN DAGING YESUS
Perdebatan Transubstansiasi, Konsubstansiasi, dan Peringatan (Simbolis)

Adalah sesuatu yang lebih menyedihkan, lebih patut ditangisi daripada kenyataan bahwa hal itu (Perjamuan Tuhan) harus dipergunakan sebagai pokok perselisihan dan perpecahan?“ Philip Melanchton mengajukan pertanyaan ini pada Agustus 1544. ia mempunyai cukup alasan untuk bersedih. Beberapa tahun sebelumnya, Martin Luther dan Ulrich Zwingli memperdebatkan Perjamuan Tuhan di Puri Marburg di Jerman. Diapit oleh beberapa kawan, Luther dan Zwingli duduk di ujung-ujung yang berlawanan dari sebuah meja yang panjang dikelilingi oleh para pengamat.

Luther menghadiri dengan berat hati dibawah tekanan yang semakin kuat untuk mempersatukan gerakan reformasi di Jerman dan Swiss. Kebijaksanaan menuntut suatu front bersama melawan oposisi yang semakin bertambah dari gereja. Jika Luther dan Zwingli dapat sepakat mengenai Perjamuan Tuhan, maka persatuan teologis dan politis di antara kedua Negara dapat tercapai.
Ternyata tidak demikian.

Luther berpegang teguh pada keyakinannya dan bahkan berpendapat bahwa orang-orang Swiss bukan saudara-saudara di dalam Kristus. Menurut sejarawan gereja, Philip Schaff, seusai perdebatan, Zwingli mendekati Luther dengan air mata berlinang-linang dan mengulurkan persaudaraan, tetapi Luther menolaknya. Konsili yang pertama berakhir tanpa membawa hasil.

Bila kembali pada permulaannya, kita dapat melihat bagaimana pelaksanaan Perjamuan Tuhan berkembang dalam sejarah pemikiran Kristen. Barulah kita akan mengerti dengan lebih jelas mengapa Luther dan Zwingli berbeda pendapat dengan gereja dan satu sama lain.

Perjamuan Tuhan di Perjanjian Baru

Bacalah kisah Perjamuan Tuhan (bukan Perjamuan Kudus, istilah YANG BENAR: PERJAMUAN TUHAN, karena Perjamuan tidak menguduskan) dalam PB dan Anda akan segera kagum dengan kesederhanaan peristiwa yang khusus ini:

26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 26:26-28)

Upacara ini kelihatannya tidak rumit dan tujuannya pun jelas. Tetapi Kristus memang berkata,“Inilah tubuh-Ku“ dan“Inilah darah-Ku.“ Jadi, sudah pasti timbul pertanyaan tentang arti dari perkataan ini.

Gereja mula-mula, yang mengikuti pola Kristus, mempunyai kebaktian yang sederhana. Yustinus Martir (sekitar tahun 100-165 M) di dalam Apologia, sebuah buku yang ditulis untuk membela kekeristenan, menuliskan bahwa uskup atau pemimpin gereja memulai kebaktian perjamuan Tuhan dengan doa pujian dan ucapan syukur yang diucapkan atas unsur-unsur perjamuan itu. Jemaat menjawab“Amin“, dan dilanjutkan dengan ciuman kasih persaudaraan, yang menunjukkan hati yang rukun kembali.

Sudah sepantasnya para bapa rasuli mulai menganggap tindakan Tuhan ini sangat penting. Dan karena Kristus melangsungkan upacara ini sesudah Ia dan murid-murid memakan jamuan Paskah, adalah wajar bagi gereja mula-mula untuk memperingati kematian Kristus sesudah makan bersama. Doa ucapan syukur (euchristia) akhirnya dikaitkan dengan Perjamuan itu sendiri. Kemudian itu diubah dari sebuah doa ucapan syukur yang sederhana menjadi doa penahbisan roti dan anggur.

Tetapi bagaimanakah pengertian orang mengenai unsur-unsur ini? Kutipan dari para bapa gereja akan menunjukkan bahwa Kristus dianggap hadir di dalam unsur-unsur itu. Ignatius dari Antiokhia (sekitar 115 M) mengatakan,“Ekaristi adalah daging Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang menderita karena dosa kita yang oleh kebaikan Bapa dibangkitkan dari antara orang mati.“ Dengan mendasarkan kesimpulannya pada Yohanes 6:54-58, Ignatius berbicara tentang Perjamuan Tuhan sebagai obat keabadian. Dengan memakan dan meminumnya kita menjadi pewaris hidup kekal.

Yustinus Martir mengatakan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dianggap sebagai roti dan anggur biasa,“tetapi sebagaimana Penebus kita, Yesus Kristus, dijelmakan oleh Firman Allah… demikian juga (unsur-unsur itu) adalah daging dan darah dari Yesus yang sama yang telah menjelma itu.“

Pada abad ketiga muncullah pemikiran bahwa Perjamuan Tuhan adalah sumber makanan rohani bagi mereka yang mengambil bagian dari Perjamuan itu. Tertulianus mengatakan,“Tubuh kita disegarkan dengan tubuh dan darah Kristus supaya jiwa juga dapat diberi makan oleh Allah.“

Bagaimanakah kita akan merangkum pengajaran tentang Perjamuan Tuhan selama abad kedua dan ketiga? Jaroslav Pelikan, dalam bukunya The Christian Tradition, terbitan University of Chicago Press, menuliskan bahwa Tak Seorang pun dari para bapa ortodox yang tercatat mengatakan bahwa kehadiran tubuh dan darah Kristus di dalam Ekaristi Hanyalah Simbolis (meskipun Klemens dan Origenes hampir melakukannya), juga tak seorang pun menetapkan bahwa substansi unsur-unsur itu telah diubah (meskipun Igantius dan Yustinus hampir mengatakan begitu). Kemudian ia menambahkan,“Dalam batas-batas dari kedua pandangan yang ekstrem inilah terdapat doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya.“

Doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya berarti bahwa tubuh dan darah Kristus entah bagaimana telah menyatu dengan unsur-unsur itu. Ketika Kristus diperingati dalam Perjamuan Tuhan, Ia hadir di antara umat-Nya yang mengambil bagian dalam penebusan. Sebagian menganggapnya sebagai memberi makan kepada tubuh; yang lainnya percaya bahwa itu adalah SIMBOLIS.

Misalnya, Agustinus, berbicara tentang roti dan nggur sebagai tubuh dan darah Kristus, tetapi pada saat yang sama dengan jelas ia membedakan antara lambang dan hal yang dilambangkan. Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa substansi itu sendiri tidak berubah. Baginya, memakan tubuh Kristus adalah Tindakan yang Simbolis. Berkhof menuliskan,“Ia menekankan aspek peringatan dari upacara tersebut dan menegaskan bahwa orang fasik, kendati mereka mungkin menerima unsur-unsur itu, tidak mengambil bagian dari tubuh. Ia bahkan menentang penghormatan yang bersifat takhayul/mistik yang diberikan terhadap upacara tersebut oleh banyak orang pada zamannya.“

Pada abad keempat, Ekaristi mulai dikenal sebagai MISA, dari bahasa Latin Misa, artinya“Membubarkan“. Kata ini menunjukkan kepada perkataan yang diucapkan oleh imam pada akhir perjamuan itu dan belakangan kepada seluruh upacara tersebut.

Ringkasnya, selama 8 abad pertama dari gereja, persetujuan umum mengarah pada pandangan yang realistis tentang unsur-unsur Perjamuan Tuhan itu: Kristus secara rohani hadir di dalam roti dan anggur. Mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan ialah memakan tubuh dan darah Kristus, tetapi bukan dalam arti harfiah/literal.

Transubstansiasi

Pada tahun 818 seorang rahib dari biara terkenal di sebelah utara kota Paris di Corbie, bernama Paschasius Radbertus, menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa unsur-unsur itu diubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Meskipun wujud unsur-unsur itu tidak berubah, suatu mujizat terjadi ketika imam-imam mengucapkan berkat-anggur dan roti betul-betul menjadi tubuh dan darah Kristus yang historis. Ia menegaskan bahwa wujud luar hanyalah selubung dan menipu pancaindera manusia.

Ajaran ini mendapatkan tantangan. Para teolog seperti Rabanus Maurus menjelaskan bahwa kepercayaan seperti itu mengacaukan lambang dengan hal yang dilambangkan. Pada tahun 1050 Berenger dari Tours menguraikan pandangan bahwa tubuh dan darah Kristus itu hadir tetapi bukan secara hakiki, melainkan dalam kuasa. Substansinya tetap tidak berubah; iman pada pihak orang yang menerima unsur itu diperlukan untuk mengaktifkan kuasa itu. Filsuf John Scotus sependapat dengan Agustinus bahwa unsur-unsur itu SIMBOLIS, dan bahwa mereka tetap TIDAK BERUBAH.

Ketika Martin Luther dan Ulrich Zwingli bertemu di Marburg, suatu diskusi yang sengit tak dapat dielakkan. Sebelumnya, Zwingli telah menulis bahwa Kristus tak mungkin hadir secara fisik di dalam Perjamuan Tuhan karena tubuh-Nya hanya dapat ada dalam salah satu dari tiga cara, sebagai tubuh jasmani, tubuh yang dibangkitkan, atau tubuh mistik. Kristus tak dapat hadir secara jasmani dalam unsur-unsur itu karena “daging sama sekali tak berguna“ (Yoh 6:63). Juga tubuh Kristus yang dibangkitkan tak dapat hadir karena perkataaan-Nya, “inilah tubuh-Ku“ diucapkan kepada para murid sebelum kebangkitan-Nya. Dan Kristus tak dapat hadir secara mistik karena tubuh mistiknya adalah gereja, yang tidak disebut sebagai sudah diserahkan kepada kematian. Melalui proses eliminasi ini, Zwingli menyimpulkan bahwa unsur-unsur itu hanya bersifat simbolis.

Sebagai jawaban, Luther telah menuliskan sebuah pamflet yang menjelaskan pandangannya tentang kehadiran Kristus yang sesungguhnya dalam sakramen. Ia berpendapat bahwa “tiap-tiap tabiat Kristus saling meresap dan kemanusiaanNya berpartisipasi dalam sifat-sifat keilahian-Nya“ Jika Allah hadir dimana-mana, Luther kemukakan, maka tubuh dan darah Kristus juga hadir dimana-mana dan mungkin hadir dalam sakramen. Ia ingin supaya perkataan Kristus diterima secara harfiah, meskipun ia menolak bahwa terjadi perubahan dalam unsur-unsur itu.

Selama perdebatan, tidak dikemukakan argumen yang baru, tetapi pertukaran pikiran itu memang menjelaskan pokok-pokok perdebatan itu.

Luther membentak, “Anggapan-anggapan dasar Anda adalah ini: pada hakikatnya Anda hendak membuktikan bahwa suatu tubuh tidak dapat berada di dua tempat sekaligus… Saya tidak mempersoalkan bagaimana Kristus dapat menjadi Allah dan manusia dan bagaimana kedua tabiat itu dipersatukan. Karena Allah lebih berkuasa dari semua akal kita, dan kita harus tunduk kepada FirmanNya. Buktikanlah bahwa tubuh Kristus tidak berada di tempat dimana Ia berada menurut Kitab Suci ketika Kristus mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku”

“Saya takkan mendengarkan bukti-bukti rasional. Bukti2 jasmaniah, alasan2 yang didasarkan pada prinsip2 geometris saya tolak sepenuhnya. Tuhan melampaui segala matematika, dan perkataan Tuhan harus dihormati dan dijalankan dengan khidmat. Tuhan sendiri yang memerintahkan, “Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku.“ Oleh karena itu saya meminta, bukti-bukti Alkitabiah yang sah yang bertentangan dengan ini.”

Pada saat ini, Luther menuliskan kata-kata, “Inilah tubuh-Ku“ di meja dengan kapur menutupinya dengan selembar kain beludru.

Zwingli membalas, ”itu prasangka, suatu praduga, yang mencegah Dr. Luther melepaskan pendiriannya. Ia menolak untuk mengalah sebelum suatu bagian Alkitab dikutip yang membuktikan bahwa tubuh dalam Perjamuan Tuhan itu bersifat kiasan.“

“Perbandingan bagian-bagian Alkitab selalu perlu. Meskipun tidak ada bagian Alkitab yang mengatakan, ‘inilah lambang tubuh itu’ kita masih memiliki bukti bahwa Kristus menolak gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Dalam Yohanes 6, Kristus menjauh dari gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Atas dasar ini jelaslah bahwa Kristus tidak memberikan diri-Nya dalam Perjamuan Tuhan dalam pengertian jasmaniah.”

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yohanes 6:53-56)

Kanibalisme tidak sesuai dengan ajaran umum Alkitab, maka tak mungkin Kristus memberi arti yang harfiah/literal pada perkataan ini. Lagi pula, dalam PL dengan jelas melarang minum darah (Im 17:10). Konsili gereja yg pertama di Yerusalem mengesahkan larangan ini (Kis 15:29).

6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Bagaimanakah kita akan memakan Kristus? Sama seperti ia hidup oleh hubungan-Nya dengan Bapa, demikian juga kita harus hidup oleh Dia. Kristus adalah makanan bagi jiwa. Ia adalah roti dan air bagi orang yang miskin secara rohani. Supaya kita tidak salah mengerti maksud-Nya, satu paragraf kemudian Kristus berkata, “rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna“ (ayat 63).

Perjamuan Tuhan seharusnya terutama menjadi saat perenungan dan penyembahan. Kendati kita dengan teguh harus menolak setiap tradisi yang menyesatkan. Kita harus memperingati kematian Yesus kita menurut cara yang telah ditetapkanNya. Dalam banyak gereja, Perjamuan Tuhan harus dikembalikan ke tempatnya yang penting. Jangan sekali-kali kita kehilangan rasa terpesona dan misteri perayaan ini pada masa yang penuh dengan khotbah-khotbah singkat dan agama populer.

Hak istimewa untuk ikut serta dalam Perjamuan Tuhan jangan sekali-kali dianggap sebagai sudah semestinya. Kita dapat membayangkan kegembiraan di Wittenberg pada hari Natal tahun 1521, ketika 2 ribu orang berkumpul di gereja Istana, dan Carlstadt, seorang rekan Luther, membagi-bagikan roti dan anggur kepada jemaat. Hak istimewa yang tidak dapat dinikmati orang-orang percaya selama beratus-ratus tahun telah dipulihkan kembali. Para Reformator menamakannya keimanan orang percaya.

Jika Melanchton hidup sekarang ini, ia mungkin tidak menangis karena pertentangan2 yang terjadi di sekitar Perjamuan Tuhan, tetapi ia mungkin berdukacita karena ketidakacuhan kita terhadap makna dan kepentingannya. Ini, juga, pantas ditangisi.

Sumber Pustaka:
Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005.
(ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?)

Buku ini Membahas Perdebatan:
Adalah Kristus itu Allah sejati?
Benarkah Kristus itu Manusia Sejati?
Benarkan Petrus itu Paus yang Pertama?
Pembanaran: Oleh Iman, Sakramen, atau kedua-duanya?
Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Perjamuan Tuhan?
Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Baptisan?
Berapa Kitab dalam Alkitab?
Predestinasi atau Kehendak bebas: Agustinus vs Pelagius, Calvin vs Arminius, Whitefield vc Wesley?
Dapatkah Seorang yg sudah Selamat Terhilang?

PERJAMUAN TUHAN

Transubstansiasi = Pandangan bahwa roti dan anggur dalam Perjamuan Tuhan adalah benar-benar menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Beberapa orang dengan ceroboh menumpahkan anggur di lantai gereja yang tidak terlampau bersih, padahal menurut Teori Transubstansiasi, anggur adalah Darah Kristus.

Jelas Transubstansiasi Tidak Alkitabiah karena ketika Kristus berkata INILAH TUBUHKU (Matius 26:26 hoc est corpus meum), berarti Kristus menunjuk kepada diriNya sendiri. Kata ADALAH benar-benar merupakan suatu bentuk ucapan retoris (dikenal dengan alloiosis) yang sebenarnya berarti “menandakan“ atau “mewakili“ dan tidak dimengerti secara harfiah. Juga menandakan cara yg Ia harapkan untuk diperingati oleh gerejaNya. Zwingli menulis bahwa seolah-olah Kristus mau berkata, “Aku mempercayakan kepada kamu suatu simbol penyerahan diri dan wasiat saya, untuk membangkitkan di dalam kamu pengingatan akan Aku dan kebaikanKu kepadamu sehingga ketika kamu melihat roti dan cawan ini, berbicara di dalam perjamuan malam peringatan ini, kamu boleh mengingat Aku yang diserahkan untuk kamu, seakan-akan kamu melihat Aku dihadapanmu seperti kamu melihat Aku sekarang makan bersama kamu.“

Perjamuan Tuhan adalah suatu peringatan akan penderitaan Kristus dan bukan suatu pengorbanan. Dalam surat Cornelius Hoen yang sampai juga ke Martin Luther dan Zwingli, Hoen mengemukakan bahwa kata est dalam hoc est corpus meum tidak boleh diterjemahkan secara harfiah sebagai “adalah“ atau “identik dengan“, tetapi sebagai significat, “menandakan.“ Contoh, ketika Kristus berkata, “Akulah Roti Hidup“ (Yohanes 6:48). Kristus dengan jelas tidak mengidentifikasikan diri-Nya dengan sepotong roti atau roti secara umum. Kata “adalah“ disini harus dipahami dalam arti metaforis atau in tropice. Nabi-Nabi Perjanjian Lama memang telah menubuatkan bahwa Kristus akan “menjadi daging (incarnatus)“—tetapi ini akan terjadi sekali, dan hanya sekali.“Tidak ada alasan nabi-nabi menubuatkan atau rasul-rasul mengkhotbahkan bahwa Kristus akan “menjadi roti (impanatus)“ setiap hari melalui perbuatan-perbuatan pendeta manapun yang menawarkan pengurbanan misa.“

Perhatikan dua hal berikut ini:
Pertama, Ide tentang Perjamuan Tuhan yang seperti sebuah cincin yang diberikan oleh seorang mempelai laki-laki kepada sang mempelai perempuan untuk meyakinkan kepadanya akan cintanya. Itu adalah suatu Jaminan—suatu ide yang menggema di seluruh tulisan Zwingli mengenai pokok itu.

Tuhan kita Yesus Kristus, yang berjanji berkali-kali untuk mengampuni dosa umatNya dan menguatkan jiwa mereka melalui Perjamuan Malam terkahir, menambahkan suatu jaminan untuk janji itu sekiranya masih terdapat ketidakpastian dari pihak mereka—sama halnya seperti seorang mempelai laki-laki, yang ingin meyakinkan sang mempelai perempuan (bila ia ragu-ragu), memberikan kepadanya sebuah cincin dengan mengatakan,“Ambillah ini, aku memberikan diri-Ku kepadamu.“ Dan ia, yang menerima cincin itu, percaya bahwa mempelai laki-laki itu adalah miliknya dan mempelai perempuan itu mengalihkan hatinya dari semua orang lain yang mencintainya, untuk menyenangkan suaminya, melekatkan dirinya kepada sang suami, dan hanya kepadanya saja.

Kedua, Tentang Peringatan akan Kristus di dalam ketidakhadiran-Nya. Dengan memperhatikan bahwa ungkapan Kristus “inilah tubuh-Ku“ secara langsung diikuti dengan kata-kata “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku,“ Hoen berpendapat bahwa rangkaian kata yang kedua itu dengan jelas menunjuk pada peringatan akan “seseorang yang tidak hadir (setidak-tidaknya tidak hadir secara fisik).“

Zwingli berpendapat bahwa Kitab Suci mempergunakan banyak kata kiasan. Jadi kata “adalah“ mungkin pada satu hal berarti “secara mutlak identik dengan,“ dan pada pokok yang lain berarti “mewakilkan“ atau “menandakan.“
Contoh, di seluruh Alkitab, kita menemukan kata-kata kiasan, yang dalam bahasa Yunani disebut Tropos, yaitu sesuatu yang bersifat metafora atau dipahami dalam pengertia yang lain, misal Yohanes 15 Yesus berkata “Aku adalah pokok anggur.“ Ini berarti bahwa Kristus adalah seperti sebatang pokok anggur ketika dipikirkan dalam hubungan dengan kita, yang terus-menerus melekat dan bertumbuh di dalam Dia dalam arti yang sama seperti cabang-cabang yang bertumbuh pada sebatang pokok anggur…Hal yang seupa dalam Yohanes 1 kita membaca, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang mengangkut dosa seisi dunia.“ Bagian pertama dari ayat ini adalah suatu kiasan karena Kristus bukanlah secara harfiah seekor domba.

Setelah membuktikan pemaparan teks demi teks dalam Alkitab, Zwingli menyimpulkan bahwa “Terdapat banyak sekali bagian dalam Kitab Suci dimana kata “adalah“ mempunyai arti “menandakan.“

Pertanyaan yang harus diajukan sehubungan dengan ini adalah
Apakah kata-kata Kristus dalam Matius 26,“inilah tubuh-Ku“ dapat juga dipahami secara metaforis atau intropice. Sudah cukup jelas bahwa di dalam konteks ini kata “adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah. Sebab itu, berikutnya adalah bahwa kata ini harus dipahami secara metaforis atau figuratif. Di dalam kata-kata “inilah tubuh-Ku,“ kata “ini“ berarti roti, dan kata “tubuh“ berarti tubuh yang telah dikurbankan sampai mati bagi kita. Karena itu, kata“adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah sebab roti bukanlah tubuh.

Dirangkum dari buku Sejarah Pemikiran Reformasi, Alister E.McGrath, BPK Gunung Mulia, cetakan ketiga, 2000, halaman 206-243

Konsubstansiasi = Pandangan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir dalam unsur Roti dan Anggur, tetapi unsur-unsur itu tidak berubah. Kesungguhan Kehadiran Kristus tanpa perubahan unsur-unsur.

Membicarakan Persatuan sambil meremehkan perbedaan-perbedaan DOKTRIN adalah mengorbankan KEBENARAN di atas mezbah impian khayal.