DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

NASIB AKHIR ORANG GILA/CACAT MENTAL dan MEREKA YANG TERPENCIL

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 11:22 pm on Thursday, October 23, 2008

Bagaimana Nasib orang Gila, masuk Sorga atau Neraka, bagaimana pula dengan orang di tempat terpencil yg tidak pernah mendengar Berita Injil? (bagian 2)

Nasib Orang Yang Sakit Jiwa (orang Gila)

Jika pembaca sekalian telah paham jalan logika alasan bayi yang meninggal pasti akan masuk Sorga, pasti tidak akan sulit untuk memahami bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik, dan meninggal dalam keadaan demikian, juga pasti akan masuk Sorga. Walaupun di dalam Alkitab tidak kita temukan ayat yang secara teknis menyatakan bahwa orang gila akan masuk Sorga, tetapi melalui pemahaman secara inferensial terhadap beberapa kebenaran yang saling menopang menuntun kita kepada kesimpulan bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik pasti akan masuk Sorga.

Pertama bahwa dosa seisi dunia sudah ditanggung Yesus Kristus, yang berarti semua orang telah menjadi benar di hadapan Allah, kecuali seorang yang setelah memiliki kesadaran diri dan kemampuan untuk memutuskan perkara rohani dengan kesadaran dirinya kembali berbuat dosa. Seseorang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil balik tidak tergolong ke dalam orang yang telah memiliki kesadaran diri melakukan dosa karena ia belum pernah memiliki kesadaran diri. Kondisi orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik adalah seperti seorang bayi. Jika bayi perlu dibaptiskan agar bisa masuk Sorga maka sepatutnya gereja demikian juga membaptiskan orang yang telah hilang ingatan agar ia diselamatkan melalui baptisan. Tetapi jelas itu bertentangan dengan kebenaran karena firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa oleh ketaatan seorang (Kristus) semua orang telah menjadi orang benar.

Kedua, syarat utama dan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan adalah melalui pertobatan dan iman yang benar. Rasul Paulus mengargumentasikan mata rantai proses penyelamatan dari pengutusan hingga orang tersebut percaya dan berseru kepada nama Tuhan (Roma 10:10-15). Dan pada ayat ke-2 dalam pasal yang sama Rasul Paulus menekankan iman yang berpengertian. Di dalam ibadah simbolik lahiriah tidak membutuhkan iman yang berpengertian. Seseorang hanya perlu mengikuti seluruh rancangan tata-ibadah lahiriah yang telah ditetapkan.

Ibadah di dalam roh dan kebenaran menuntut pengertian, karena dalam ibadah tersebut kita menyembah secara rohani dan secara kebenaran. Menyembah secara Kebenaran menuntut pemahaman, bukan sekedar ikut-ikutan. Orang yang telah hilang ingatan tidak bisa beriman secara rohani dan dalam kebenaran. Orang yang telah hilang ingatan adalah orang yang dikecualikan dalam tuntutan iman yang disertai pengertian.

Tetapi jika seseorang kehilangan ingatan pada umur sesudah menjadi akil-balik, maka jika ia meninggal ia akan masuk Neraka. Peristiwa kehilangan ingatan sesudah akil-balik adalah peristiwa berakhirnya anugerah baginya. Dapat dikatakan bahwa saat itu adalah saat ia meninggal secara rohani. Ketika kerohaniannya meninggal, jasmaninya ternyata masih berfungsi. Perbedaannya dengan orang normal adalah, orang normal meninggal sekaligus rohani dan jasmani, namun orang yang kehilangan kesadaran diri telah meninggal secara rohani namun masih tetap hidup secara jasmani.

Terhadap orang-orang yang kehilangan ingatan atau gila kita perlu berdoa atau berusaha secara medis agar ia bisa ingat kembali. Pada saat ia memiliki ingatan kembali, secepatnya ia diberitakan Injil yang benar agar ia bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Jika seseorang setelah bertobat dan beriman dengan benar, dan oleh satu dan lain hal ia hilang ingatan, maka kondisi barunya tidak akan mempengaruhi jaminan keselamatan yang telah diperolehnya. Misalnya seseorang yang pada masa mudanya telah bertobat dan percaya dengan segenap hati, bahkan sangat giat melayani, setelah tua menjadi pikun, bahkan mungkin dalam kepikunannya ia menyangkali Tuhan. Tindakannya yang dilakukan dengan tanpa memiliki kesadaran diri tentu tidak mempengaruhi pertobatan dan imannya yang telah dimilikinya pada saat ia dalam keadaan sadar penuh.

Orang Yang Hidup Terpencil
Berbeda dengan bayi dan orang yang hilang ingatan, mereka yang hidup di daerah terpencil tidak memiliki pemaafan atas keberadaan mereka yang sulit dijangkau Injil. Jika bayi-bayi mereka meninggal sebelum menginjak usia akil-balik, tentu bayi-bayi mereka akan masuk Sorga. Tetapi jika mereka bertumbuh hingga usia akil-balik dan melakukan dosa atas kesadaran mereka, maka mereka adalah orang berdosa bukan karena hubungan mereka dengan Adam dan Hawa, melainkan karena perbuatan mereka sendiri. Mereka adalah orang berdosa secara posisi maupun hati nurani, bahkan sedang membentuk karakter orang berdosa dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sebagaimana ketentuan undang-undang yang telah diumumkan Allah bahwa orang berdosa hukumannya adalah hukuman mati dan akan terpisah dari Allah yang mahasuci, maka tidak ada pilihan lagi bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil selain secepat mungkin memberitakan Injil kepada mereka. Mereka sangat membutuhkan Injil agar secepat mungkin menyelamatkan mereka dari kebinasaan kekal.

Rasul Paulus menyadari akan kebutuhan Injil yang urgen dari manusia-manusia yang tinggal di daerah terpencil sehingga ia bekerja segiat-giatnya (I Kor 15:10). Paham bahwa manusia yang tidak terjangkau oleh Injil akan mendapat pemaafan adalah tipu-muslihat iblis. Karena jika orang-orang yang tidak terjangkau Injil akan mendapat pemaafan maka lebih baik tidak pergi memberitakan Injil daripada pergi memberitakan Injil dan menyebabkan penolakan. Bukankah akan lebih aman membiarkan mereka tak terjangkau Injil agar mereka mendapat pemaafan? Kalau begitu untuk apakah Kristus perintahkan Amanat AgungNya, dan untuk apakah para Rasul bersusah payah memberitakan Injil hingga mengorbankan nyawa mereka? Kristus menyerahkan nyawaNya untuk menebus dosa seisi dunia, dan para Rasul menyerahkan nyawa mereka untuk menyebarkan berita penebusan tersebut.

Para rasul telah berjuang sedemikian rupa, mereka telah mengorbankan segala-galanya agar berita Injil sampai pada orang-orang yang hidup di zaman mereka. Mereka telah pergi ke tempat yang berpenduduk dimana saja yang diketahui mereka. Motivasi untuk melakukan itu hanyalah karena jika Injil tidak didengar orang-orang sezaman mereka maka orang-orang tersebut akan binasa. Tentu para Rasul tidak perlu sedemikian bergegas jika karena tidak mendengar Injil orang-orang tersebut bisa mendapat pemaafan.

Keselamatan telah tersedia bagi semua manusia, mulai dari Adam dan Hawa hingga manusia terakhir yang akan lahir. Adam dan Hawa beserta orang-orang sezaman mereka bahkan yang lahir jauh sesudah mereka akan diselamatkan jika mereka beriman pada janji Allah untuk mengirim Sang Juruselamat. Sementara menunggu Sang Juruselamat, Allah perintahkan mereka melakukan ibadah simbolik sederhana yaitu menyembelih seekor domba di atas mezbah.

Siapapun yang tidak antusias menjalankan dan mengajarkan ibadah simbolik ini kepada anak-cucunya, pasti akan menyebabkan mereka kehilangan jejak kebenaran. Tentu anak-cucu mereka akan melupakan janji Allah tentang pengiriman Juruselamat. Dan kalau anak-cucu mereka, misalnya anak-cucu Kain, tidak percaya pada janji Allah, dan mereka binasa, tentu tidak bisa menyalahkan Allah. Nenek-moyang mereka telah lalai memelihara dan meneruskan kebenaran keselamatan kepada mereka. Jika seseorang tidak melakukan ibadah simbolik yang ditetapkan Allah untuk menggambarkan Sang Juruselamat serta proses penyelamatannya, sudah tentu ia tidak beriman pada janji penyelamatan Allah. Mereka binasa bukan karena Allah tidak berusaha menyelamatkan mereka tetapi nenek moyang mereka telah berdiri di depan pintu Sorga untuk menghalangi mereka.

Kemurahan kasih karunia Allah telah ditunjukkanNya melalui membentuk sebuah bangsa dan mendirikan ibadah simbolik yang lebih besar melalui bangsa tersebut. Dengan ibadah simbolik yang besar dan dijaga oleh sebuah bangsa yang ditunjuknya, serta melalui berbagai fenomena misalnya mujizat-mujizat dan perkataan nabi-nabi untuk menunjukkan bahwa pada bangsa itu ada kebenaran penyelamatan yang diperlukan oleh semua bangsa. Harapan Allah agar umat manusia sekalipun berpencar, harus tetap ingat akan janji penyelamatan dari Allah dan mereka harus tetap berjaga-jaga menantikan berita kedatangan Sang Penyelamat ditengah-tengah bangsa Israel.

Tetapi bangsa-bangsa semakin hari semakin melupakan janji Allah. Sementara itu patut diakui bahwa bangsa Israel tidak berperan sebagai pengingat yang baik bagi bangsa-bangsa lain. Tercatat dalam Alkitab PL hanya sedikit sekali orang yang datang ke Israel untuk mengejar kebenaran rohani. Pada saat sang Juruselamat tiba, serombongan orang Majus datang dari Timur (Mat 2:1-16), dan Sida-sida dari Ethiopia (Kis 8:26-40). Sisa sebagian yang sangat besar tidak lagi mengingat akan janji Allah untuk mengirim Juruselamat.

Pada zaman PB Sang Juruselamat telah tiba dan telah melaksanakan proses penebusan, bahkan maut telah dikalahkan. Kalau pada zaman PL berita ibadah simbolik dipercayakan pada ayah dan bangsa Israel, pada zaman PB, Injil Keselamatan dipercayakan pada jemaat-jemaat lokal. Jemaat lokal adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengutus orang pergi memberitakan Injil. Tentu harus ada anggota jemaat lokal yang terpanggil sehingga ingin pergi memberitakan Injil. Keinginan hatinya disampaikan kepada jemaat dan melalui pendidikan serta berbagai kualifikasi yang harus dipenuhi, jemaat bisa mengutusnya pergi memberitakan Injil. Dalam argumentasi Paulus tentang jenjang-jenjang proses penyelamatan, penanggung jawab agar Injil diberitakan sehingga orang percaya dn diselamatkan ialah pihak yang mengutus (Rom 10:15). Pihak pengutus memegang peran inti dan utama, dalam hal ini tentu yang dimaksudkannya adalah gereja lokal sebagaimana pengalamannya ketika Roh Kudus memakai jemaat Antiokhia mengutus mereka untuk memberitakan Injil.

Dapat dikatakan bahwa kebinasaan orang-orang PL yang tidak melakukan ibadah simbolik dan semakin jauh dari kebenaran, pertama adalah kelalaian nenek moyang mereka untuk tetap memelihara bahkan memandang dengan penuh harap terus-menerus akan janji Allah. Mereka makin hari makin jauh dari tiang kebenaran. Kedua adalah kelalaian bangsa Israel dalam tugasnya sebagai penegak dan pemberita kebenaran untuk mengingatkan manusia pada janji penyelamatan dari Allah. Kelihatannya mereka terlalu memfokuskan diri pada penegakan kebenaran dan lalai sama sekali pada tugas pemberitaan kebenaran.

Sedangkan orang-orang zaman PB yang hidup di daerah terpencil binasa, pertama karena nenek moyang mereka, tidak tahu lagi mulai pada keturunan ke berapa, sama sekali tidak peduli pada kebenaran rohani, dan sama sekali tidak mengingat bahwa Allah akan menurunkan Juruselamat di Yerusalem. Mereka pergi jauh seolah-olah ingin menjauh dari Tuhan agar kehidupan mereka yang penuh dosa tidak terjangkau oleh kuasa Tuhan. Dalam kebudayaan berbagai bangsa telah dirasuki iblis sehingga penuh dengan unsur magis yang sangat menusuk hati Tuhan. Kedua, gereja-gereja sebagaimana bangsa Israel pada zaman PL telah gagal bertugas, bahkan ada banyak gereja yang tidak tahu tugas uatamanya lagi. Tugas utama gereja ialah menegakkan kebenaran dan memberitakan kebenaran. Penegakan kebenaran agar kebenaran akan lestari untuk generasi demi generasi, sedangkan pemberitaan kebenaran agar orang-orang zaman kontemporer bisa diselamatkan.

Yayasan-yayasan penginjilan dan berbagai para-church yang didirikan untuk memberitakan Injil hanya memahami tugas pemberitaan injil. Mudah-mudahan mereka juga paham akan tugas memelihara kebenaran Injil. Karena jika orang Kristen zaman sekarang tidak memelihara kebenaran Injil dengan pembangunan jemaat dan mengajarkan kebenaran doktrinal dengan setia, melainkan hanya memberitakan Injil saja, maka bukan hanya orang-orang hidup di daerah terpencil yang akan kehilangan kesempatan untuk mendengarkan Injil, bahkan setelah berjalannya waktu orang-orang yang tinggal di kota pun sudah tidak dapat mendengar injil yang benar lagi.

Pendirian gereja-gereja lokal dengan sistem penggembalaan yang alkitabiah adalah langkah pertama dan utama untuk mempertahankan kebenaran. Selanjutnya gereja lokal yang alkitabiah harus selalu memperhatikan doktrin daripada hal-hal yang bersifat perasaan. Jika sebuah gereja gagal menjaga kebenaran doktrin yang alkitabiah, maka gereja tersebut sekalipun hadir di tengah kota ataupun di tengah hutan tetap tidak ada faedahnya.

Setelah sebuah gereja dengan teguh mempertahankan kebenaran Injil yang diberitakannya, hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah aktivitas pengutusan penginjil untuk mendirikan jemaat lokal di mana saja. Gereja lokal adalah tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim 3:15). Satu-persatu gereja lokal alkitabiah didirikan dengan sistem pelipatgandaan (multiple) sehingga akhirnya muka bumi terpenuhi oleh gereja-gereja local yang alkitabiah.

Orang-orang yang kebetulan tinggal di daerah terpencil atau bahkan yang tinggal di kota besar, ditengah-tengah hutan beton, yang tidak pernah mendengar Injil Keselamatan, tidak memiliki alasan pemaafan atas ketidaktahuan mereka. Kebinasaan mereka adalah sesautu yang patut disayangkan. Itulah sepatutnya setiap orang Kristen lahir baru yang mengerti doktrin keselamatan yang alkitabiah tidak boleh tinggal diam membiarkan orang-orang yang tidak tahu tersebut binasa hanya karena orang-orang Kristen lahir baru bersikap egois dan apatis.

Sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang lebih indah dan lebih mulia daripada pergi memberitakan Injil. Roma 10:15 mengatakan, ”betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kata ”kedatangan” itu sesungguhnya tidak tepat, karena bahasa Yunani dibalik kata itu ialah ragal adalah kata benda, nominatif, maskulin, plural dari akar kata regel yang artinya adalah kaki. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tahun 1968 menerjemahkannya dengan benar, ”Alangkah eloknya segala tapak kaki orang yang membawa kabar kesukaan dari hal yang baik.” Saking tidak ada caranya lagi Rasul Paulus menggambarkan indahnya pekerjaan pemberitaan injil sehingga ia mengutip Yesaya 52:7 dan menyatakan bahwa ”telapak kaki” mereka lebih indah dari wajah bintang film Hollywood. LAI menerjemahkan kata bahasa ibrani Regel dengan kata kedatangan padahal seharusnya kaki.

Orang yang tidak mendengar Injil tidak bisa dimaafkan, mereka akan masuk neraka, dan kalau anda seorang Kristen lahir baru, engkau turut bertanggungjawab atas tiap-tiap jiwa yang masuk ke Neraka. Dan jika anda menunaikan tanggung jawab itu, yaitu memberitakan Injil Keselamatan kepada mereka, maka dihadapan Tuhan telapak kaki anda lebih indah daripada wajah bintang tercantik di Hollywood.***

Sumber: Doktrin Keselamatan Alkitabiah, halaman 89-97, DR. Suhento Liauw, Jakarta: Graphe International Theological Seminary (GITS), 2007.

Pembahasan Point 16 (Bayi yg mati PASTI MASUK SURGA karena sudah ditebus oleh Darah Yesus)

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 12:50 am on Thursday, October 23, 2008

NASIB AKHIR BAYI yang MATI

Kematian Kristus di kayu salib adalah penebusan (atonement) untuk seluruh umat manusia (Ibrani 2:9, I Yoh 2:2). Artinya dosa seluruh umat manusia (dari Adam hingga manusia terakhir), ditaruh ke dalam diri Yesus dan Ia dijatuhi hukuman. Itulah sebabnya hukuman atas diri Yesus adalah hukuman terberat (capital punishment), karena itu untuk dosa seisi dunia. Seseorang membunuh beberapa orang akan dijatuhi hukuman mati, bahkan membunuh separuh penduduk dunia pun tetap hanya dijatuhi hukuman mati. Yesus Kristus menerima hukuman mati atas dosa yang dilakukan oleh seluruh umat manusia.

Rasul Paulus berkata dalam Roma 5 bahwa oleh pelanggaran Adam semua manusia menjadi manusia berdosa, dan oleh ketaatan satu orang semua orang beroleh pembenaran (Roma 5:18-19). Karena koneksi kita dengan Adam, yaitu melalui kelahiran jasmani kita, maka kita menjadi orang berdosa dan siap menerima hukuman. Oleh Adam, semua umat manusia jatuh ke posisi orang berdosa. Yesus Kristus datang, dan Ia menempatkan diri ke posisi umat manusia yang berdosa dan menerima penghukuman. Sehingga oleh Yesus Kristus, apa yang diakibatkan oleh Adam terhadap seluruh umat manusia diselesaikan, yaitu dijatuhi penghukuman. Sehingga karena koneksi kita dengan Adam, bapa leluhur jasmani kita, semua manusia menjadi orang berdosa. Tetapi oleh koneksi kita dengan Kristus, yaitu melalui kelahiran kembali di dalam air dan roh, maka kita menjadi orang benar dan siap menerima pembenaran.

Kematian Kristus di kayu salib adalah tindakan pemusnahan kuasa dosa. Dosa selalu menuntut penghukuman, dan ia tidak berhenti menuntut sebelum hukuman dijatuhkan. Iblis akan selalu mengatakan bahwa Allah tidak adil dan tidak benar jika Allah tidak melaksanakan hukuman atas umat manusia yang berdosa. Ia akan menuduh Allah tidak menerapkan hukum, atau lebih buruk lagi menuduh Allah hanya omong kosong ketika mengumumkan undang-undang pertamaNya di taman Eden.

Setelah pelaksanaan hukuman, terlebih lagi setelah kebangkitan, sebagaimana Paulus mengatakan bahwa maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah sengatmu? (I Kor 15:54-55). Jadi, status manusia berdosa yang diperoleh dari hubungan kita dengan Adam telah dibereskan melalui penghukuman atas dosa yang ditanggung Yesus Kristus. Saya lebih memilih istilah“status orang berdosa“ daripada istilah“dosa asal atau dosa keturunan“ karena istilah yang lebih tepat adalah kita terima status orang berdosa dari Adam dan Hawa.

Nasib Bayi Yang Meninggal
Karena status orang berdosa yang diperoleh sebagai anak-cucu Adam bagi semua manusia berakhir sejak kematian dan kebangkitan Kristus, maka tidak ada alasan seorang bayi yang mati akan masuk neraka. Sebagaimana dalam Roma 5, status bayi sebagai orang berdosa disandang karena kejatuhan nenek moyangnya, yaitu Adam, an status bayi sebagai orang benar disandangnya karena kebenaran Sang Juruselamat, yaitu Kristus (Roma 5:18-19),

5:18 Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran banyak orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, banyak orang beroleh pembenaran untuk hidup.
5:19 Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar.

Jadi, bayi orang Kristen, orang Islam, Budha, atau bayi siapapun adalah orang berdosa karena ketidaktaatan Adam, kemudian mendapat pembenaran melalui ketaatan Kristus. Orang yang telah dibenarkan melalui ketaatan Kristus tidak ada alasan akan berada di Neraka. Orang yang akan berada di Neraka adalah orang yang mengandalkan kebenaran dirinya yang semua, atau kebenaran bohongan yang dibisikkan iblis kepadanya.

Dalam Roma 3:10,12,23 dikatakan bahwa semua orang TELAH BERBUAT dosa, pernah menyebabkan pertanyaan, dosa apakah yang DIBUAT oleh seorang bayi yang baru lahir beberapa jam? Jawabannya ialah, pertama sesungguhnya seorang bayi adalah orang berdosa, yaitu berada dalam status atau posisi orang berdosa, dan dalam hati atau nature yang berdosa. Kedua, segera setelah ia menjadi akil-balik maka ia akan segera aktif melakukan dosa sehingga akan membentuk karakter orang berdosa. Rasul Paulus menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa untuk menggambarkan bahwa semua manusia telah berstatus orang berdosa dan memiliki nature yang berdosa dan segera mencapai akil balik akan segera melakukan tindakan dosa sehingga mulai membentuk karakter orang berdosa. Status bayi yang berdosa dan nature-nya yang berdosa dihukumkan pada diri Kristus di kayu salib. Itulah sebabnya bayi tanpa perlu bertobat dan beriman, karena memang mereka belum bisa bertobat dan beriman, secara otomatis menerima anugerah yang diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus.

Tetapi jika seorang bayi bertumbuh menjadi dewasa dan mencapai umur akil balik, lantas ia berdosa atas kesadaran dirinya, maka mulai saat itu, ia mulai menyandang status orang berdosa, bukan lagi karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, melainkan karena pelanggaran dirinya sendiri. Ia berstatus orang berdosa, dan mengotori hatinya dengan dosa sehingga nature-nya menjadi nature yang berdosa, serta membangun karakter orang berdosa, bukan karena pihak lain melainkan karena dirinya sendiri. Orang demikian baru akan dihitungkan sebagai orang benar jika ia memutuskan dengan kesadarannya untuk bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat. Ketika ia bertobat (menyesali dosa dan bertekad meninggalkannya) dan percaya dengan segenap hatinya bahwa Yesus telah dihukumkan untuk menanggung seluruh dosanya, maka ia akan dihitungkan Allah yang maha kudus sebagai yang tak berdosa (orang kudus) di hadapan Allah Bapa.

Kepada orang berdosa yang telah akil-balik, pertobatan dan iman adalah syarat utama dan satu-satunya untuk dihitungkan sebagai orang benar di hadapan Allah. Status orang berdosa yang disandangnya berakhir ketika ia dilahirkan kembali di dalam Yesus Kristus. Tuhan memperkenalkan istilah dilahirkan kembali ketika berbincang-bincang dengan Nikodemus (Yohanes 3:3-5) bukan tanpa makna. Manusia menerima status orang berdosa dari kelahiran jasmaniah dan akan menerima status orang benar juga melalui kelahiran namun secara rohaniah. Ketika seseorang masih bayi, dalam kondisi belum bisa bertobat, dan tentu belum berdosa atas kesadaran dirinya, melainkan berstatus orang berdosa hanya karena hubungannya dengan Adam dan Hawa, kematian Kristus telah membenarkannya di hadapan Allah Bapa, tanpa perlu bertobat dan percaya yang belum bisa dilakukannya.

Itulah sebabnya Doktrin Keselamatan (Soteriology) yang alkitabiah memberi kepastian keselamatan bayi di hadapan Allah. Tuhan Yesus menegaskan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 19:14). Perkataan Tuhan Yesus adalah pernyataan kesimpulan teologi alkitabiah karena baik bayi yang meninggal di zaman Perjanjian Lama maupun yang meninggal di zaman Perjanjian Baru, semuanya akan mewarisi Kerajaan Sorga oleh ketaatan Kristus.

Lagi pula dalam Perjanjian Lama, I Raja-raja 14:13, terhadap Yerobeam, raja yang paling jahat di mata Tuhan, bayinya yang segera akan mati dikatakan oleh Tuhan ia tidak jahat,

Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel.

Yerobeam adalah seorang yang sangat jahat di mata Tuhan, karena ia memimpin bangsa Israel menjauh dari Allah dan mengajak mereka menyembah patung. Semua nggota keluarga Yerobeam yang telah mencapai umur akil-balik dihitung turut bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukan oleh Yerobeam kecuali bayinya yang belum akil balik. Sehingga pendapat Calvin bahwa bayi orang baik akan masuk Sorga sedang bayi orang jahat akan masuk Neraka dapat dipatahkan oleh pernyataan Allah terhadap bayi Yerobeam. Yerobeam jahat di mata Tuhan, bayinya adalah satu-satunya dalam keluarga Yerobeam yang baik di mata Tuhan. Karena allah calvinis memang kejam, dimana ia dikatakan memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Sorga serta memilih orang-orang untuk dimasukkan ke Neraka tanpa kondisi (unconditional-election), maka tidak heran jika allah yang sama juga akan memasukkan bayi yang tidak tahu apa-apa atas dasar dosa orang tuanya.

Contoh kasus Daud yang menghamili Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Anak itu ditulahi Tuhan untuk mati karena dilahirkan dari perbuatan jahat Daud. Penulahan itu sama sekali bukan untuk nasib akhir bayi tersebut melainkan agar ia mati secara jasmani sebagai sebuah penghukuman kepada Daud. Anak itu akan masuk Sorga sebagaimana kata Daud bahwa ia yang akan pergi kepada anak itu. Daud yakin bahwa suatu hari nanti dialah yang akan menyusul anak itu, dan tentu maksudnya ke Sorga. Jadi penulahan Allah terhadap bayi itu adalah sebagai hajaran Allah kepada Daud.

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
12:22 Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (II Samuel)

Dari peristiwa ini bahkan bisa kita simpulkan bahwa bayi yang dilahirkan secara tidak sah, bahkan dihasilkan dari perbuatan dosa pun akan masuk Sorga. Sama seperti bayi-bayi kota Betlehem yang dibunuh oleh Herodes. Mereka semua telah masuk Sorga. Peristiwa pembunuhan bayi-bayi itu adalah sebuah peristiwa yang diizinkan Allah untuk menghukum para orang tua yang mengabaikan kehadiran Sang Mesias di kota mereka. Allah yang maha adil dan maha kasih tidak mungkin membinasakan bayi-bayi di kota Betlehem yang tidak tahu apa-apa. Semua bayi yang terbunuh di Betlehem telah masuk Sorga karena sang Juruselamat mereka yang telah lahir di kota mereka akan dihukumkan untuk membereskan posisi mereka sebagai keturunan Adam yang berdosa.

Sesungguhnya demi sifat Allah yang maha adil dan maha benar, tidak mungkin ada satu orang pun yang akan dimasukkan ke Neraka oleh karena perbuatan orang lain (Adam dan Hawa), dan tidak ada satu orang pun yang akan berada di Sorga tanpa melalui penebusan Yesus Kristus. Dan tentu tidak ada seorang pun yang akan berada di Sorga oleh jasa seorang manusia lain selain jasa Kristus yang mati di kayu salib.

Sehubungan dengan kebenaran ini maka tidak dibenarkan untuk membaptiskan bayi. Bayi tidak perlu dibaptis karena bayi siapapun yang meninggal akan segera masuk Sorga tanpa melalui baptisan. Gereja Reform, Presbyterian, Lutheran, apalagi Katolik, telah membuat kesalahan yang amat besar. Tindakan mereka dalam membaptis bayi membuktikan pemahaman mereka tentang Injil Kristus tidak tepat. Gereja-gereja tersebut di atas ketika keluar dari Gereja Roma Katolik tidak memprotes Doktrin Gereja (ecclesiology) dari Gereja Roma Katolik yang sesat melainkan hanya memprotes Doktrin Keselamatannya (soteriology) saja. Tindakan kepalang tanggung tersebut telah menyebabkan pembaptisan bayi yang sangat bertentangan dengan Injil yang benar. Dan daripada bertobat dari kesalahan tersebut mereka malah mencari-cari pembenaran atas tindakan mereka yang salah itu. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa semua gereja yang mempraktekkan baptisan bayi sesungguhnya memiliki masalah pada Doktrin Keselamatan mereka.

Pasti ada yang bertanya, pada umur berapakah seseorang dihitung telah akil-balik? Jawabannya, tidak ada kepastian umur karena sangat tergantung pada banyak faktor, antara lain: kematangan mental, kecerdasan berpikir dan lain sebagainya. Masa akil balik tiap-tiap orang tidak sama. Pada zaman PL, zaman ibadah simbolik lahiriah, Allah menetapkan seorang laki-laki Yahudi mulai umur 12 tahun ke atas harus menghadiri ibadah ritual simbolik di Yerusalem. Dan Yesus di bawa orang tuanya ke Yerusalem pada saat berumur 12 tahun (Luk 2:42). Belum pasti umur 12 tahun adalah umur seseorang menjadi akil balik, tetapi berhubung pada zaman itu adalah zaman ibadah simbolik lahiriah, maka harus ada suatu ketetapan yang bersifat lahiriah yang membatasi saat seseorang diikutsertakan dalam ibadah lahiriah. Menurut pertimbangan pemimpin Yahudi dan mungkin telah melalui perjalanan ribuan tahun, mulai umur 12-lah seorang laki-laki diikutsertakan dalam ibadah. Tentu kini ketika kita berada dalam zaman ibadah roh dan kebenaran, seseorang bisa bertobat dan memahami kebenaran Injil lebih awal dari umur 12 tahun. Intinya, masa akil-balik adalah masa seseorang mulai memahami kebenaran rohani dan mulai mampu memikirkan dan membedakan antara benar dan salah, masa seseorang mulai bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya.

Bersambung ke Nasib Orang Yang Sakit Jiwa (orang Gila)-bagian 2

Sumber: Doktrin Keselamatan Alkitabiah, halaman 81-89, DR. Suhento Liauw, Jakarta: Graphe International Theological Seminary (GITS), 2007.

SIKAP TIDAK BERANI MENYATAKAN KEBENARAN DAN KETIDAKBENARAN adalah AKIBAT dari KETIDAKJELASAN.

SESEORANG TIDAK MUNGKIN BISA MENJADI ORANG KRISTEN YANG BAIK TANPA MENJADI ANGGOTA JEMAAT YANG BAIK itulah sebabnya setiap orang Kristen yang telah LAHIR BARU HARUS menjadi anggota dari sebuah jemaat yang ALKITABIAH.

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Tidak ada Gereja yg Sempurna, itu benar. Ada Gereja Yang Lebih Benar, itu Benar.

www.dedewijaya83.co.cc
http://dedewijaya.blogspot.com
http://www.sabdaspace.org/blog/dedewijaya
http://www.in-christ.net/blog/dedewijaya

Jika pembaca sekalian telah paham jalan logika alasan bayi yang meninggal pasti akan masuk Sorga, pasti tidak akan sulit untuk memahami bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik, dan meninggal dalam keadaan demikian, juga pasti akan masuk Sorga. Walaupun di dalam Alkitab tidak kita temukan ayat yang secara teknis menyatakan bahwa orang gila akan masuk Sorga, tetapi melalui pemahaman secara inferensial terhadap beberapa kebenaran yang saling menopang menuntun kita kepada kesimpulan bahwa orang yang hilang ingatan sebelum mencapai umur akil-balik pasti akan masuk Sorga.