DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Pembahasan Point 1: BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL SUNGGUH MENYESATKAN

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 4:44 am on Friday, October 17, 2008

Alkitab dengan gamblang menyatakan bahwa BAPTISAN diberikan kepada mereka yang menanggapi/percaya berita INJIL . Contoh: Kepala penjara di Filipi, kita membaca, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.“ (Kisah Para Rasul 16:32). Ini menjelaskan mengapa seisi rumahnya dapat/boleh dibaptis—mereka semua telah cukup umur untuk mendengarkan Firman. Juga, Sida-sida Ethiopia dalam Kisah Para Rasul 8:35-39

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.
8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”
8:37 Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”
8:38 Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.
8:39 Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

Dalam PB, Baptisan segera menyusul setelah IMAN PRIBADI kepada Kristus digunakan. Dalam gereja mula-mula, TAK SATUPUN orang percaya yang tidak dibaptis. Semua orang Percaya DIBAPTIS sebagai suatu kesaksian terhadap iman mereka.

Surat Barnabas (sekitar tahun 120-130), berisi suatu pasal yang singkat tentang Baptisan Air, tetapi Hanya Baptisan Orang-orang Percaya. ”Kami turun ke dalam air penuh dengan dosa dan kecemaran, dan kami keluar dengan membawa buah dalam hati kami, ketakutan dan pengharapan dalam Yesus di dalam Roh”

Tertullianus, pemimpin gereja Afrika Utara (sekitar tahun 200), menandaskan bahwa anak-anak harus datang untuk dibaptis ketika mereka sudah DEWASA supaya mereka mengerti apa yang sedang mereka lakukan.”oleh karena itu, sesuai dengan keadaan dari watak seseorang, dan juga usianya, maka PENUNDAAN baptisan adalah LEBIH MENGUNTUNGKAN, khususnya dalam hal anak-anak kecil.” Tertullianus, yang berbicara menentang pembaptisan anak kecil, mengacu kepada orang tua baptis atau orang tua dari si Anak yang dibaptis sebagai MUDAH SEKALI membuat Janji-Janji yang GEGABAH ketika mereka mengatakan bahwa anak itu akan menjadi orang Kristen dalam kehidupannya kelak. ”Siapakah yang mengetahui apakah hal ini akan terjadi?” ia bertanya.

Jika membaca sejarah Baptisan Anak/Bayi dalam sejarah gereja, penuh dengan unsur MISTIK/SAKRAMENTAL—kalo Bayi/Anak itu mati pasti masuk surga karena sudah dibaptis, Baptisan Bayi/Anak untuk menghapus Dosa Asal dan politis (pembaptisan anak kecil menjadi mata rantai yang mempersatukan gereja dan Negara, setiap anak yang dibaptis menjadi orang Kristen dan anggota kerajaan Romawi sekaligus)

Karl Barth, teolog terkenal dari Swiss, mengakui bahwa motivasi sesungguhnya dibalik Baptisan Anak adalah KONSTANTIN-isme, yakni kesatuan gereja dan Negara. Ketika berbicara mengenai para Reformator yang berpegang pada Baptisan Anak Kecil, ia mengatakan,“Orang-orang pada waktu itu tidak mau melepaskan, karena cinta atau uang, keberadaan gereja Injili dalam bentuk corpus Christianum Konstantinian. Ketika gereja menghentikan pembaptisan anak kecil, gereja Rakyat dalam arti gereja Negara atau gereja Massa berakhir.“ Barth menjelaskan bahwa Alkitab mengajarkan gereja Kristen merupakan suatu minoritas; bila semua orang diikutsertakan didalamnya, maka akibatnya adalah kesakitan bukan kesehatan. Ia mengakhiri dengan berkata bahwa, ”sudah saatnya untuk mengumumkan bahwa suatu pencarian yang urgen untuk bentuk yang lebih baik dari praktik baptisan kita sudah lama dinanti-nantikan.”

Ulrich Zwingli, pengkhotbah dan reformator dari Zurich, mempunyai KERAGUAN YANG SERIUS tentang Pembaptisan Anak Kecil. Ia Mengaku, ”Tak ada yang lebih menyedihkan saya daripada bahwa saat ini saya harus membaptiskan anak-anak kecil karena SAYA TAHU HAL ITU SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN.” Ia menyadari bahwa pembaharuan yang menyeluruh dalam gereja akan berarti menghentikan kebiasaan itu. Ia mengatakan lagi,”Saya tidak menyinggung hal baptisan, saya tidak menyebutnya benar atau salah; jika kita harus membaptis seperti YANG TELAH DITETAPKAN oleh KRISTUS, maka kita TIDAK AKAN MEMBAPTIS seorang pun sebelum Ia MENCAPAI USIA yang memperlihatkan kebijaksanaan; karena DIMANAPUN TIDAK TERTULIS bahwa Pembaptisan Anak Kecil harus dilakukan.”

Namun sayangnya, Zwingli mengubah pikiran karena alasan keadaan politik waktu itu yang kuatir kacau (timbul gejolak sosial) karena gerakan Anabaptis (kelompok Kristen yang membaptis ulang) yang SANGAT TIDAK SETUJU dengen BAPTISAN BAYI/ANAK KECIL karena pola Perjanjian Baru yaitu gereja terdiri atas orang-orang percaya yang dibaptis.

Dalam soal Baptisan Anak Kecil, Luther dan Zwingli berpihak pada Gereja Roma. Zwingli, misalnya, mengerti apabila ia sampai berpihak pada para Anabaptis, ia akan membangkitkan ketidaksenangan Negara. Ia berkata, ”Akan tetapi, jika saya sampai menghentikan praktik itu (Baptisan Bayi/Anak Kecil), maka saya khawatir saya akan kehilangan gaji tetap saya dari berkhotbah”. Tetapi terlebih penting, ia memandang para Anabaptis sebagai pengacau tatanan sosial.

Perkataan Luther agak tidak masuk akal tentang Baptisan Bayi/Anak kecil. Luther tidak menghentikan Praktik pembaptisan anak kecil. Luther juga menyetujui pemusnahan para Anabaptis. Luther terjepit ditengah-tengah topik tentang Baptisan Anak. Ia ingin berpegang pada dua doktrin yang bertentangan, yakni pembenaran oleh iman dan kepercayaan bahwa anak-anak kecil dilahirbarukan oleh Baptisan. Dalam suatu khotbah ia mengemukakan jika seseorang menganggap bahwa anak-anak kecil yang telah dibaptis itu tidak percaya, ia harus menghentikan perbuatan itu, ”supaya kita tidak lagi menghina dan menghujat kemuliaaan Allah yang mahatinggi dnegan tindakan gila-gilaan dan ketololan yang tidak beralasan.” Sungguh Ketidakkonsistenan dan Dilema bagi Luther.

Kelompok PAEDOBAPTIS (yang pro/melakukan praktik Baptisan Anak Kecil) mempunyai masalah. Beberapa anak ini ketika dewasa tidak memeluk iman Kristen, tetapi menjadi berandal. Untuk menghadapi dilema ini, upacara“masuk sidi“ ditetapkan supaya seorang anak dapat meneguhkan keputusan yang telah dibuat oleh orang tuanya. Paul K. Jewett menjelaskan bahwa perlunya praktik ini hanya dapat berarti salah satu dari dua hal: mujizat lahir baru yang dikerjakan lewat baptisan anak kecil itu DIBATALKAN ketika anak itu Dewasa/Akil Balik, atau Upacara masuk sidi“ itu adalah Pengakuan secara diam-diam bahwa anak itu sebenarnya TIDAK PERNAH DILAHIRBARUKAN.

Bagaimana dengan John Calvin? Seperti Zwingli, ia menemukan hubungan analogis antara tanda sunat dari Perjanjian Lama dan Tanda Baptisan dari Perjanjian Baru. Calvin mengakui bahwa Alkitab tidak pernah mencatat Pembaptisan seorang anak kecil.

Perbandingan Tanda SUNAT dan Tanda BAPTISAN, TIDAK TEPAT karena Perjanjian yang Baru berbeda sekali dengan perjanjian yang lama. Memang benar bahwa sunat secara rutin dijalankan dalam perjanjian Lama, baik yang beriman atau tidak. Sunat merupakan tanda dari berkat-berkat perjanjian yang hanya dapat diterima sepenuhnya oleh seorang anak apabila ia memiliki iman pribadi setelah ia cukup umur. (bagian ini belum selesai diketik)

Seperti Luther, Calvin bergumul dengan masalah bagaimana baptisan dapat berguna bagi seorang anak kecil yang tak dapat percaya. Ia mengatakan bahwa mungkin Allah sebelumnya telah melahirbarukan anak-anak kecil yang akan diselamatkan. Para kritikus mengatakan, jika hal ini benar, maka anak-anak tak akan dilahirkan “di dalam Adam“ melainkan “di dalam Kristus.“ Kesimpulan ini tidak diterima secara luas.

Calvin mengeluarkan teori yang lebih baik dari teori Mistik Baptisan Anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran kembali anak-anak kecil tetapi hanya bearti bahwa“benih-benih pertobatan terdapat di dalam anak-anak melalui pekerjaan yang rahasia dari Roh Kudus.“ Mereka dibaptis dalam iman dan pertobatan yang akan datang. Ini tidak berarti bahwa anak-anak yang tidak dibaptis harus diserahkan untuk kematian kekal jika mereka mati pada masa anak-anak. Baptisan tidak mengakibatkan kelahiran baru, tapi hanya berarti bahwa “benih-benih pertobatan“ itu ada.

Erwin W. Lutzer menyarankan Baca juga buku Paul K Jewett, Infant Baptism and the Covenant of Grace, Grand Rapids: Eerdmans, 1977. Karya ini memuat sejarah yang rinci tentang doktrin baptisan anak kecil dan menyimpulkan bahwa BAPTISAN ANAK KECIL, BERTENTANGAN dengan ajaran Perjanjian Baru. Buku ini sangat ilmiah. Buku ini menarik karena ditulis oleh seorang teolog perjanjian (Covenant Teolog), yang dididik untuk menerima Baptisan Anak Kecil. Ini merupakan bacaan yang perlu dibaca oleh barangsiapa yang menaruh minat pada doktrin yang controversial ini.

dirangkum dari buku Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005.
(ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?)

kesimpulan: BAPTISAN BAYI/ANAK SUNGGUH MENYESATKAN dan Para Gembala/Pendeta/ Penatua/Penilik Jemaat dan Gereja yg menerapkan PAEDOBAPTIS perlu bertobat dan mengubah KESALAHAN FATAL ini.

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

Tidak ada Gereja yg Sempurna, itu benar. Ada Gereja Yang Lebih Benar, itu Benar.

Pembahasan point 4: Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 4:00 am on Friday, October 17, 2008

KRISTEN KANIBAL MEMAKAN DARAH DAN DAGING YESUS
Perdebatan Transubstansiasi, Konsubstansiasi, dan Peringatan (Simbolis)

Adalah sesuatu yang lebih menyedihkan, lebih patut ditangisi daripada kenyataan bahwa hal itu (Perjamuan Tuhan) harus dipergunakan sebagai pokok perselisihan dan perpecahan?“ Philip Melanchton mengajukan pertanyaan ini pada Agustus 1544. ia mempunyai cukup alasan untuk bersedih. Beberapa tahun sebelumnya, Martin Luther dan Ulrich Zwingli memperdebatkan Perjamuan Tuhan di Puri Marburg di Jerman. Diapit oleh beberapa kawan, Luther dan Zwingli duduk di ujung-ujung yang berlawanan dari sebuah meja yang panjang dikelilingi oleh para pengamat.

Luther menghadiri dengan berat hati dibawah tekanan yang semakin kuat untuk mempersatukan gerakan reformasi di Jerman dan Swiss. Kebijaksanaan menuntut suatu front bersama melawan oposisi yang semakin bertambah dari gereja. Jika Luther dan Zwingli dapat sepakat mengenai Perjamuan Tuhan, maka persatuan teologis dan politis di antara kedua Negara dapat tercapai.
Ternyata tidak demikian.

Luther berpegang teguh pada keyakinannya dan bahkan berpendapat bahwa orang-orang Swiss bukan saudara-saudara di dalam Kristus. Menurut sejarawan gereja, Philip Schaff, seusai perdebatan, Zwingli mendekati Luther dengan air mata berlinang-linang dan mengulurkan persaudaraan, tetapi Luther menolaknya. Konsili yang pertama berakhir tanpa membawa hasil.

Bila kembali pada permulaannya, kita dapat melihat bagaimana pelaksanaan Perjamuan Tuhan berkembang dalam sejarah pemikiran Kristen. Barulah kita akan mengerti dengan lebih jelas mengapa Luther dan Zwingli berbeda pendapat dengan gereja dan satu sama lain.

Perjamuan Tuhan di Perjanjian Baru

Bacalah kisah Perjamuan Tuhan (bukan Perjamuan Kudus, istilah YANG BENAR: PERJAMUAN TUHAN, karena Perjamuan tidak menguduskan) dalam PB dan Anda akan segera kagum dengan kesederhanaan peristiwa yang khusus ini:

26:26 Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”
26:27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.
26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 26:26-28)

Upacara ini kelihatannya tidak rumit dan tujuannya pun jelas. Tetapi Kristus memang berkata,“Inilah tubuh-Ku“ dan“Inilah darah-Ku.“ Jadi, sudah pasti timbul pertanyaan tentang arti dari perkataan ini.

Gereja mula-mula, yang mengikuti pola Kristus, mempunyai kebaktian yang sederhana. Yustinus Martir (sekitar tahun 100-165 M) di dalam Apologia, sebuah buku yang ditulis untuk membela kekeristenan, menuliskan bahwa uskup atau pemimpin gereja memulai kebaktian perjamuan Tuhan dengan doa pujian dan ucapan syukur yang diucapkan atas unsur-unsur perjamuan itu. Jemaat menjawab“Amin“, dan dilanjutkan dengan ciuman kasih persaudaraan, yang menunjukkan hati yang rukun kembali.

Sudah sepantasnya para bapa rasuli mulai menganggap tindakan Tuhan ini sangat penting. Dan karena Kristus melangsungkan upacara ini sesudah Ia dan murid-murid memakan jamuan Paskah, adalah wajar bagi gereja mula-mula untuk memperingati kematian Kristus sesudah makan bersama. Doa ucapan syukur (euchristia) akhirnya dikaitkan dengan Perjamuan itu sendiri. Kemudian itu diubah dari sebuah doa ucapan syukur yang sederhana menjadi doa penahbisan roti dan anggur.

Tetapi bagaimanakah pengertian orang mengenai unsur-unsur ini? Kutipan dari para bapa gereja akan menunjukkan bahwa Kristus dianggap hadir di dalam unsur-unsur itu. Ignatius dari Antiokhia (sekitar 115 M) mengatakan,“Ekaristi adalah daging Juruselamat kita, Yesus Kristus, yang menderita karena dosa kita yang oleh kebaikan Bapa dibangkitkan dari antara orang mati.“ Dengan mendasarkan kesimpulannya pada Yohanes 6:54-58, Ignatius berbicara tentang Perjamuan Tuhan sebagai obat keabadian. Dengan memakan dan meminumnya kita menjadi pewaris hidup kekal.

Yustinus Martir mengatakan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dianggap sebagai roti dan anggur biasa,“tetapi sebagaimana Penebus kita, Yesus Kristus, dijelmakan oleh Firman Allah… demikian juga (unsur-unsur itu) adalah daging dan darah dari Yesus yang sama yang telah menjelma itu.“

Pada abad ketiga muncullah pemikiran bahwa Perjamuan Tuhan adalah sumber makanan rohani bagi mereka yang mengambil bagian dari Perjamuan itu. Tertulianus mengatakan,“Tubuh kita disegarkan dengan tubuh dan darah Kristus supaya jiwa juga dapat diberi makan oleh Allah.“

Bagaimanakah kita akan merangkum pengajaran tentang Perjamuan Tuhan selama abad kedua dan ketiga? Jaroslav Pelikan, dalam bukunya The Christian Tradition, terbitan University of Chicago Press, menuliskan bahwa Tak Seorang pun dari para bapa ortodox yang tercatat mengatakan bahwa kehadiran tubuh dan darah Kristus di dalam Ekaristi Hanyalah Simbolis (meskipun Klemens dan Origenes hampir melakukannya), juga tak seorang pun menetapkan bahwa substansi unsur-unsur itu telah diubah (meskipun Igantius dan Yustinus hampir mengatakan begitu). Kemudian ia menambahkan,“Dalam batas-batas dari kedua pandangan yang ekstrem inilah terdapat doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya.“

Doktrin tentang kehadiran yang sesungguhnya berarti bahwa tubuh dan darah Kristus entah bagaimana telah menyatu dengan unsur-unsur itu. Ketika Kristus diperingati dalam Perjamuan Tuhan, Ia hadir di antara umat-Nya yang mengambil bagian dalam penebusan. Sebagian menganggapnya sebagai memberi makan kepada tubuh; yang lainnya percaya bahwa itu adalah SIMBOLIS.

Misalnya, Agustinus, berbicara tentang roti dan nggur sebagai tubuh dan darah Kristus, tetapi pada saat yang sama dengan jelas ia membedakan antara lambang dan hal yang dilambangkan. Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa substansi itu sendiri tidak berubah. Baginya, memakan tubuh Kristus adalah Tindakan yang Simbolis. Berkhof menuliskan,“Ia menekankan aspek peringatan dari upacara tersebut dan menegaskan bahwa orang fasik, kendati mereka mungkin menerima unsur-unsur itu, tidak mengambil bagian dari tubuh. Ia bahkan menentang penghormatan yang bersifat takhayul/mistik yang diberikan terhadap upacara tersebut oleh banyak orang pada zamannya.“

Pada abad keempat, Ekaristi mulai dikenal sebagai MISA, dari bahasa Latin Misa, artinya“Membubarkan“. Kata ini menunjukkan kepada perkataan yang diucapkan oleh imam pada akhir perjamuan itu dan belakangan kepada seluruh upacara tersebut.

Ringkasnya, selama 8 abad pertama dari gereja, persetujuan umum mengarah pada pandangan yang realistis tentang unsur-unsur Perjamuan Tuhan itu: Kristus secara rohani hadir di dalam roti dan anggur. Mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan ialah memakan tubuh dan darah Kristus, tetapi bukan dalam arti harfiah/literal.

Transubstansiasi

Pada tahun 818 seorang rahib dari biara terkenal di sebelah utara kota Paris di Corbie, bernama Paschasius Radbertus, menerbitkan sebuah makalah yang menyatakan bahwa unsur-unsur itu diubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Meskipun wujud unsur-unsur itu tidak berubah, suatu mujizat terjadi ketika imam-imam mengucapkan berkat-anggur dan roti betul-betul menjadi tubuh dan darah Kristus yang historis. Ia menegaskan bahwa wujud luar hanyalah selubung dan menipu pancaindera manusia.

Ajaran ini mendapatkan tantangan. Para teolog seperti Rabanus Maurus menjelaskan bahwa kepercayaan seperti itu mengacaukan lambang dengan hal yang dilambangkan. Pada tahun 1050 Berenger dari Tours menguraikan pandangan bahwa tubuh dan darah Kristus itu hadir tetapi bukan secara hakiki, melainkan dalam kuasa. Substansinya tetap tidak berubah; iman pada pihak orang yang menerima unsur itu diperlukan untuk mengaktifkan kuasa itu. Filsuf John Scotus sependapat dengan Agustinus bahwa unsur-unsur itu SIMBOLIS, dan bahwa mereka tetap TIDAK BERUBAH.

Ketika Martin Luther dan Ulrich Zwingli bertemu di Marburg, suatu diskusi yang sengit tak dapat dielakkan. Sebelumnya, Zwingli telah menulis bahwa Kristus tak mungkin hadir secara fisik di dalam Perjamuan Tuhan karena tubuh-Nya hanya dapat ada dalam salah satu dari tiga cara, sebagai tubuh jasmani, tubuh yang dibangkitkan, atau tubuh mistik. Kristus tak dapat hadir secara jasmani dalam unsur-unsur itu karena “daging sama sekali tak berguna“ (Yoh 6:63). Juga tubuh Kristus yang dibangkitkan tak dapat hadir karena perkataaan-Nya, “inilah tubuh-Ku“ diucapkan kepada para murid sebelum kebangkitan-Nya. Dan Kristus tak dapat hadir secara mistik karena tubuh mistiknya adalah gereja, yang tidak disebut sebagai sudah diserahkan kepada kematian. Melalui proses eliminasi ini, Zwingli menyimpulkan bahwa unsur-unsur itu hanya bersifat simbolis.

Sebagai jawaban, Luther telah menuliskan sebuah pamflet yang menjelaskan pandangannya tentang kehadiran Kristus yang sesungguhnya dalam sakramen. Ia berpendapat bahwa “tiap-tiap tabiat Kristus saling meresap dan kemanusiaanNya berpartisipasi dalam sifat-sifat keilahian-Nya“ Jika Allah hadir dimana-mana, Luther kemukakan, maka tubuh dan darah Kristus juga hadir dimana-mana dan mungkin hadir dalam sakramen. Ia ingin supaya perkataan Kristus diterima secara harfiah, meskipun ia menolak bahwa terjadi perubahan dalam unsur-unsur itu.

Selama perdebatan, tidak dikemukakan argumen yang baru, tetapi pertukaran pikiran itu memang menjelaskan pokok-pokok perdebatan itu.

Luther membentak, “Anggapan-anggapan dasar Anda adalah ini: pada hakikatnya Anda hendak membuktikan bahwa suatu tubuh tidak dapat berada di dua tempat sekaligus… Saya tidak mempersoalkan bagaimana Kristus dapat menjadi Allah dan manusia dan bagaimana kedua tabiat itu dipersatukan. Karena Allah lebih berkuasa dari semua akal kita, dan kita harus tunduk kepada FirmanNya. Buktikanlah bahwa tubuh Kristus tidak berada di tempat dimana Ia berada menurut Kitab Suci ketika Kristus mengatakan, “Inilah Tubuh-Ku”

“Saya takkan mendengarkan bukti-bukti rasional. Bukti2 jasmaniah, alasan2 yang didasarkan pada prinsip2 geometris saya tolak sepenuhnya. Tuhan melampaui segala matematika, dan perkataan Tuhan harus dihormati dan dijalankan dengan khidmat. Tuhan sendiri yang memerintahkan, “Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku.“ Oleh karena itu saya meminta, bukti-bukti Alkitabiah yang sah yang bertentangan dengan ini.”

Pada saat ini, Luther menuliskan kata-kata, “Inilah tubuh-Ku“ di meja dengan kapur menutupinya dengan selembar kain beludru.

Zwingli membalas, ”itu prasangka, suatu praduga, yang mencegah Dr. Luther melepaskan pendiriannya. Ia menolak untuk mengalah sebelum suatu bagian Alkitab dikutip yang membuktikan bahwa tubuh dalam Perjamuan Tuhan itu bersifat kiasan.“

“Perbandingan bagian-bagian Alkitab selalu perlu. Meskipun tidak ada bagian Alkitab yang mengatakan, ‘inilah lambang tubuh itu’ kita masih memiliki bukti bahwa Kristus menolak gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Dalam Yohanes 6, Kristus menjauh dari gagasan [perjamuan] yang jasmaniah. Atas dasar ini jelaslah bahwa Kristus tidak memberikan diri-Nya dalam Perjamuan Tuhan dalam pengertian jasmaniah.”

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.
Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yohanes 6:53-56)

Kanibalisme tidak sesuai dengan ajaran umum Alkitab, maka tak mungkin Kristus memberi arti yang harfiah/literal pada perkataan ini. Lagi pula, dalam PL dengan jelas melarang minum darah (Im 17:10). Konsili gereja yg pertama di Yerusalem mengesahkan larangan ini (Kis 15:29).

6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
6:58 Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Bagaimanakah kita akan memakan Kristus? Sama seperti ia hidup oleh hubungan-Nya dengan Bapa, demikian juga kita harus hidup oleh Dia. Kristus adalah makanan bagi jiwa. Ia adalah roti dan air bagi orang yang miskin secara rohani. Supaya kita tidak salah mengerti maksud-Nya, satu paragraf kemudian Kristus berkata, “rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna“ (ayat 63).

Perjamuan Tuhan seharusnya terutama menjadi saat perenungan dan penyembahan. Kendati kita dengan teguh harus menolak setiap tradisi yang menyesatkan. Kita harus memperingati kematian Yesus kita menurut cara yang telah ditetapkanNya. Dalam banyak gereja, Perjamuan Tuhan harus dikembalikan ke tempatnya yang penting. Jangan sekali-kali kita kehilangan rasa terpesona dan misteri perayaan ini pada masa yang penuh dengan khotbah-khotbah singkat dan agama populer.

Hak istimewa untuk ikut serta dalam Perjamuan Tuhan jangan sekali-kali dianggap sebagai sudah semestinya. Kita dapat membayangkan kegembiraan di Wittenberg pada hari Natal tahun 1521, ketika 2 ribu orang berkumpul di gereja Istana, dan Carlstadt, seorang rekan Luther, membagi-bagikan roti dan anggur kepada jemaat. Hak istimewa yang tidak dapat dinikmati orang-orang percaya selama beratus-ratus tahun telah dipulihkan kembali. Para Reformator menamakannya keimanan orang percaya.

Jika Melanchton hidup sekarang ini, ia mungkin tidak menangis karena pertentangan2 yang terjadi di sekitar Perjamuan Tuhan, tetapi ia mungkin berdukacita karena ketidakacuhan kita terhadap makna dan kepentingannya. Ini, juga, pantas ditangisi.

Sumber Pustaka:
Teologi Kontemporer, Erwin W. Lutzer, Malang: Gandum Mas, Cetakan ketiga 2005.
(ALL ONE BODY-WHY DON’T WE AGREE?)

Buku ini Membahas Perdebatan:
Adalah Kristus itu Allah sejati?
Benarkah Kristus itu Manusia Sejati?
Benarkan Petrus itu Paus yang Pertama?
Pembanaran: Oleh Iman, Sakramen, atau kedua-duanya?
Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Perjamuan Tuhan?
Mengapa Kita Tak Sependapat Tentang Baptisan?
Berapa Kitab dalam Alkitab?
Predestinasi atau Kehendak bebas: Agustinus vs Pelagius, Calvin vs Arminius, Whitefield vc Wesley?
Dapatkah Seorang yg sudah Selamat Terhilang?

PERJAMUAN TUHAN

Transubstansiasi = Pandangan bahwa roti dan anggur dalam Perjamuan Tuhan adalah benar-benar menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Beberapa orang dengan ceroboh menumpahkan anggur di lantai gereja yang tidak terlampau bersih, padahal menurut Teori Transubstansiasi, anggur adalah Darah Kristus.

Jelas Transubstansiasi Tidak Alkitabiah karena ketika Kristus berkata INILAH TUBUHKU (Matius 26:26 hoc est corpus meum), berarti Kristus menunjuk kepada diriNya sendiri. Kata ADALAH benar-benar merupakan suatu bentuk ucapan retoris (dikenal dengan alloiosis) yang sebenarnya berarti “menandakan“ atau “mewakili“ dan tidak dimengerti secara harfiah. Juga menandakan cara yg Ia harapkan untuk diperingati oleh gerejaNya. Zwingli menulis bahwa seolah-olah Kristus mau berkata, “Aku mempercayakan kepada kamu suatu simbol penyerahan diri dan wasiat saya, untuk membangkitkan di dalam kamu pengingatan akan Aku dan kebaikanKu kepadamu sehingga ketika kamu melihat roti dan cawan ini, berbicara di dalam perjamuan malam peringatan ini, kamu boleh mengingat Aku yang diserahkan untuk kamu, seakan-akan kamu melihat Aku dihadapanmu seperti kamu melihat Aku sekarang makan bersama kamu.“

Perjamuan Tuhan adalah suatu peringatan akan penderitaan Kristus dan bukan suatu pengorbanan. Dalam surat Cornelius Hoen yang sampai juga ke Martin Luther dan Zwingli, Hoen mengemukakan bahwa kata est dalam hoc est corpus meum tidak boleh diterjemahkan secara harfiah sebagai “adalah“ atau “identik dengan“, tetapi sebagai significat, “menandakan.“ Contoh, ketika Kristus berkata, “Akulah Roti Hidup“ (Yohanes 6:48). Kristus dengan jelas tidak mengidentifikasikan diri-Nya dengan sepotong roti atau roti secara umum. Kata “adalah“ disini harus dipahami dalam arti metaforis atau in tropice. Nabi-Nabi Perjanjian Lama memang telah menubuatkan bahwa Kristus akan “menjadi daging (incarnatus)“—tetapi ini akan terjadi sekali, dan hanya sekali.“Tidak ada alasan nabi-nabi menubuatkan atau rasul-rasul mengkhotbahkan bahwa Kristus akan “menjadi roti (impanatus)“ setiap hari melalui perbuatan-perbuatan pendeta manapun yang menawarkan pengurbanan misa.“

Perhatikan dua hal berikut ini:
Pertama, Ide tentang Perjamuan Tuhan yang seperti sebuah cincin yang diberikan oleh seorang mempelai laki-laki kepada sang mempelai perempuan untuk meyakinkan kepadanya akan cintanya. Itu adalah suatu Jaminan—suatu ide yang menggema di seluruh tulisan Zwingli mengenai pokok itu.

Tuhan kita Yesus Kristus, yang berjanji berkali-kali untuk mengampuni dosa umatNya dan menguatkan jiwa mereka melalui Perjamuan Malam terkahir, menambahkan suatu jaminan untuk janji itu sekiranya masih terdapat ketidakpastian dari pihak mereka—sama halnya seperti seorang mempelai laki-laki, yang ingin meyakinkan sang mempelai perempuan (bila ia ragu-ragu), memberikan kepadanya sebuah cincin dengan mengatakan,“Ambillah ini, aku memberikan diri-Ku kepadamu.“ Dan ia, yang menerima cincin itu, percaya bahwa mempelai laki-laki itu adalah miliknya dan mempelai perempuan itu mengalihkan hatinya dari semua orang lain yang mencintainya, untuk menyenangkan suaminya, melekatkan dirinya kepada sang suami, dan hanya kepadanya saja.

Kedua, Tentang Peringatan akan Kristus di dalam ketidakhadiran-Nya. Dengan memperhatikan bahwa ungkapan Kristus “inilah tubuh-Ku“ secara langsung diikuti dengan kata-kata “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku,“ Hoen berpendapat bahwa rangkaian kata yang kedua itu dengan jelas menunjuk pada peringatan akan “seseorang yang tidak hadir (setidak-tidaknya tidak hadir secara fisik).“

Zwingli berpendapat bahwa Kitab Suci mempergunakan banyak kata kiasan. Jadi kata “adalah“ mungkin pada satu hal berarti “secara mutlak identik dengan,“ dan pada pokok yang lain berarti “mewakilkan“ atau “menandakan.“
Contoh, di seluruh Alkitab, kita menemukan kata-kata kiasan, yang dalam bahasa Yunani disebut Tropos, yaitu sesuatu yang bersifat metafora atau dipahami dalam pengertia yang lain, misal Yohanes 15 Yesus berkata “Aku adalah pokok anggur.“ Ini berarti bahwa Kristus adalah seperti sebatang pokok anggur ketika dipikirkan dalam hubungan dengan kita, yang terus-menerus melekat dan bertumbuh di dalam Dia dalam arti yang sama seperti cabang-cabang yang bertumbuh pada sebatang pokok anggur…Hal yang seupa dalam Yohanes 1 kita membaca, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang mengangkut dosa seisi dunia.“ Bagian pertama dari ayat ini adalah suatu kiasan karena Kristus bukanlah secara harfiah seekor domba.

Setelah membuktikan pemaparan teks demi teks dalam Alkitab, Zwingli menyimpulkan bahwa “Terdapat banyak sekali bagian dalam Kitab Suci dimana kata “adalah“ mempunyai arti “menandakan.“

Pertanyaan yang harus diajukan sehubungan dengan ini adalah
Apakah kata-kata Kristus dalam Matius 26,“inilah tubuh-Ku“ dapat juga dipahami secara metaforis atau intropice. Sudah cukup jelas bahwa di dalam konteks ini kata “adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah. Sebab itu, berikutnya adalah bahwa kata ini harus dipahami secara metaforis atau figuratif. Di dalam kata-kata “inilah tubuh-Ku,“ kata “ini“ berarti roti, dan kata “tubuh“ berarti tubuh yang telah dikurbankan sampai mati bagi kita. Karena itu, kata“adalah“ tidak dapat dipahami secara harfiah sebab roti bukanlah tubuh.

Dirangkum dari buku Sejarah Pemikiran Reformasi, Alister E.McGrath, BPK Gunung Mulia, cetakan ketiga, 2000, halaman 206-243

Konsubstansiasi = Pandangan bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir dalam unsur Roti dan Anggur, tetapi unsur-unsur itu tidak berubah. Kesungguhan Kehadiran Kristus tanpa perubahan unsur-unsur.

Membicarakan Persatuan sambil meremehkan perbedaan-perbedaan DOKTRIN adalah mengorbankan KEBENARAN di atas mezbah impian khayal.

49 KRITIK TERHADAP GEREJA DAN GEMBALA

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 9:36 am on Friday, October 10, 2008

1. Baptis Bayi/Anak adalah Tidak Alkitabiah
2. Pendeta/Penatua/Penilik Jemaat/Gembala Wanita dan Diaken/Majelis Wanita adalah Tidak Alkitabiah
3. Sistem Kepausan adalah Tidak Alkitabiah
4. Transubtansiasi dan Konsubstansiasi adalah Tidak Alkitabiah
5. Membaptis secara Percik atau dengan Bendera adalah Tidak Alkitabiah
6. Manusia diselamatkan hanya karena IMAN bukan karena Baptisan, Iman+Perbuatan, Iman+Baptisan, Iman+ ++ lainnya. Baptisan Tidak Menyelamatkan.
7. Arianisme (Kristen Tauhid dengan Gereja Jemaat Allah Global Indonesia=Gereja JAGI) dan Saksi Jehova (Saksi-Saksi Yehuwa) yang menolak Keilahian Yesus dan Tritunggal adalah Tidak Alkitabiah
8. GSPdI (Gereja Serikat Pantekosta di Indonesia) dengan mode Sabelian (Allah 1 Pribadi dalam 3 wujud) adalah Tidak Alkitabiah
9. Sistem Gereja Universal/Katolik/Am adalah Tidak Alkitabiah. Sistem Gereja Lokal adalah ALKITABIAH
10. Sistem Eskatologi Amilenialisme dan Postmilenialisme adalah Tidak Alkitabiah
11. Menafsirkan 6 hari Penciptaan sebagai bukan 6 hari biasa adalah Tidak Alkitabiah
12. Calvinisme dengan 5 Point TULIP-nya TIDAK ALKITABIAH
13. Predestinasi John Calvin adalah Tidak Alkitabiah
14. Gerakan Ekumene adalah Tidak Alkitabiah, Kesatuan yg Alkitabiah adalah Tidak Mengkompromikan KEBENARAN/DOKTRIN/PENGAJARAN
15. Verbal Plenary Inspiration (VPI) dan Verbal Plenary Preservation (VPP) dalam doktrin Alkitab adalah ALKITABIAH
16. Bayi yg mati PASTI MASUK SURGA karena sudah ditebus oleh Darah Yesus
17. Sekali Selamat Tetap Selamat adalah Tidak Alkitabiah. Beriman sampai Mati/Akhir PASTI MASUK SURGA. Jaminan Keselamatan Bersifat Kondisional/Bersyarat.
18. Kerajaan 1000 tahun, Surga dan Neraka adalah benar-benar Nyata.
19. Hanya ada dua Upacara/Ordinansi yang diperintahkan Tuhan yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan
20. Pewahyuan dan Nubuat dan semua karunia yg berhubungan dengan Pewahyuan (Bahasa Roh/berbahasa Lidah, Bernubuat, dan Pengetahuan, 1 Kor 13:8-10) sudah Tidak ada sejak Wahyu 22:21 selesai ditulis. Tidak ada Firman Allah lagi di luar Alkitab yang telah Kanon (Tidak ada ekstra biblical)
21. Wanita berkhotbah di Kebaktian Umum/Ibadah Raya/Ibadah apapun/Pertemuan Jemaat yang dihadiri Jemaat Dewasa (keluarga/yang sudah menikah) adalah Tidak Alkitabiah

22. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang percaya hari ini tidak terikat pada hukum Sabat, karena itu Gereja Advent yg mempertahankan hari Sabat, makanan dan minuman tertentu, Hukum Sunat adalah Tidak Alkitabiah. Pengajaran Advent mengenai hari Sabat tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab dan merupakan bagian dari kesalahan total mereka yg tidak dapat melihat perubahan dari sistem penyembahan simbolik di PL menjadi sistem penyembahan dalam Roh dan Kebenaran dalam PB atau Ibadah Hakikat.
23. Manusia adalah suatu Pribadi ciptaan Allah yang diberi kemampuan berpikir, kesadaran diri, kehendak bebas, dan ketika jatuh dalam dosa, hanya kehilangan Kemuliaan Allah dan hubungan/komunikasi dengan pencipta. Manusia tetap mempunyai kehendak bebas.
24. Manusia yang belum diselamatkan mampu merespon terhadap berita Injil, sehingga Aktivitas penginjilan adalah KEHARUSAN. Mati secara rohani bukanlah mati seperti mayat yg tidak bisa merespon berita Injil.
25. Gereja Lokal adalah Tiang penopang dan Dasar Kebenaran (TPDK)
26. Tuhan telah menghentikan jabatan IMAM dan praktek keimamatan (pemberkatan oleh “pendeta“ pada akhir kebaktian, pemberkatan nikah, dll) untuk Jemaat perjanjian Baru.
27. Konsep Familiy Altar adalah Salah karena kita tidak lagi hidup dalam masa Keimamatan Ayah (zaman antara Adam sampai Taurat diturunkan)
28. Istilah yg benar adalah Peneguhan Nikah, bukan pemberkatan nikah. Istilah Pemberkatan nikah dipakai Gereja Roma Katolik karena mereka menempatkan pernikahan sebagai salah satu sakramen (upacara kudus) gereja. Gereja Alkitabiah hanya mengenal dua ordinansi (Upacara yg diperintahkan) yaitu Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Dalam Gereja Alkitabiah tidak ada jabatan imam yg berwenang memberkati, itulah sebabnya tidak dibenarkan memakai istilah Pemberkatan Nikah. Upacara yg dilakukan gereja alkitabiah dalam hal pernikahan ialah mengukuhkan atau meneguhkan pernikahan 2 anggota jemaatnya di hadapan Tuhan dan di hadapan sidang jemaatNya serta berdoa memohonkan kasih karunia Tuhan untuk kehidupan rumah tangga mereka. Berkat Tuhan bagi mereka selanjutnya tentu bergantung pada sikap hati mereka kepada Tuhan, bukan pada penumpangan tangan dari imam atau pendeta yang melakukan praktek keimamatan.
29. Tidak ditemukan Penumpangan Tangan untuk PEMBERKATAN dalam Perjanjian Baru. Penumpangan Tangan untuk Pengukuhan Jabatan (Gembala, Penginjil, Guru Injil dan Diaken) sebagai bentuk Perestuan/Approve atas nama Jemaat
30. Tidak ada satu orang pun yang BERHAK membaptis seseorang ke dalam Roh Kudus selain YESUS KRISTUS. Pendeta manapun yang mencoba membaptiskan seseorang ke dalam Roh Kudus adalah SESAT dan DURHAKA (merebut wewenang Yesus)
31. Ajaran Katolik tentang API PENYUCIAN adalah TIDAK ALKITABIAH
32. Nama Pribadi TUHAN adalah YHWH (baca: YAHWEH)
33. Paus, Kardinal, Romo, Pastor boleh menikah dan suster Katolik boleh menikah adalah ALKITABIAH
34. Jabatan Nabi dan Rasul sudah tidak ada/dihentikan karena Pewahyuan sudah berhenti.
35. 2 Kategori ajaran sesat: Keluar dari Alkitab dan Salah Menafsirkan Alkitab
36. Pengajaran MISKIN adalah DOSA, SUNGGUH SESAT, yang Benar: Miskin bisa disebabkan karena dosa (misal: Kemalasan) dan sebaliknya Pengajaran KAYA adalah BERKAT, Sungguh Menyesatkan, karena ada orang Kaya yang mendapatkan kekayaan dengan Cara-cara berdosa, misal: Korupsi, ke dukun/roh2 gunung Kawi, menipu orang lain, dll
37. Tuhan Berdaulat 100% (sepenuhnya) dan Manusia bertanggung Jawab 100% (sepenuhnya) adalah ALKITABIAH
38. Setiap orang yang dilahirkan dari keturunan Adam dan Hawa mewarisi POSISI orang berdosa atau Nature (sifat hati) yang berdosa adalah ALKITABIAH
39. Hanya ada SATU CARA untuk Menyelamatkan manusia dari PENGHUKUMAN, yaitu dengan mengirim JURUSELAMAT untuk dihukumkan sebagai pengganti manusia berdosa adalah ALKITABIAH, tegasnya DOSA hanya dapat diselesaikan melalui PENGHUKUMAN
40. Pengajaran Cyprian (AD 200-258) yang tercatat sebagai orang yang mempromosikan konsep keselamatan oleh Gereja. Ia menasehatkan agar semua gereja menggabungkan diri ke dalam Gereja Universal (KATOLIK) dengan Slogannya yang terkenal DILUAR GEREJA TIDAK ADA KESELAMATAN (EXTRA NULLA SALUS EKKLESIAM). Sejak saat itu dimulai suatu gerakan untuk menggiring semua gereja otonom (independen) ke dalam Gereja Roma Katolik dengan indoktrinasi bahwa TIDAK ADA KESELAMATAN DI LUAR GEREJA ROMA KATOLIK. Tidak cukup dengan itu akhirnya disusunlah Pengakuan Iman Rasuli yang salah satu pointnya Gereja yang Kudus dan Katolik (Am, Universal). Ini Pengajaran yang SUNGGUH MENYESATKAN dan TIDAK ALKITABIAH.
41. Satu Kesalahan Fatal Pengakuan Iman Rasuli adalah adanya pernyataan bahwa GEREJA itu HARUS KATOLIK.

Tetapi hingga saat konsili di Nicea (tahun 325 AD) belum muncul pengakuan iman tertentu yang berlaku secara universal, yang tepat dengan kata-kata yang sama, dan diperintahkan oleh otoritas universal yang sama.

But until the time of the Council of Nicen there does not appear to have been any one particular creed which prevailed universally, in exactly the same words, and commended by the same universal authority (Cyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature, John McClintock & James Strong, Grand rapids: Baker book House, 1981, Vol II, p 559)

Kutipan tersebut membuktikan bahwa Pengakuan Iman ”Rasuli” (PIR) yang digembar-gemborkan oleh Gereja Roma Katolik dan dipungut Gereja Protestan, serta di-beo-kan oleh Gereja-gereja Injili sesungguhnya bukanlah Pengakuan Iman yang disampaikan oleh Para Rasul. Jelas sekali bahwa pada zaman Para Rasul belum dikenal istilah THE HOLY CATHOLIC CHURCH atau Gereja Yang Kudus dan Am (KATOLIK), yang terdapat dipengakuan iman tersebut. Bahkan pernyataan gereja Yang Kudus dan Am itu sangat mustahil karena gereja tidak mungkin Kudus jika ia bersifat KATOLIK. Gereja akan Kudus kalau bersifat OTONOM dan LOKAL serta Menerapkan Disiplin Gereja dengan Ketat.

42. Iman yang Menyelamatkan ialah kita percaya bahwa YESUS KRISTUS telah DISALIBKAN untuk MENANGGUNG semua DOSA kita. Atau seseorang percaya dengan segenap hati bahwa Yesus telah MENGGANTIKANnya disalibkan dan kini ia sedang menggantikanNya hidup, Memahami kondisi diri sebagai orang berdosa yang tidak berdaya, yang akan masuk ke Neraka, serta menyesali dosa-dosanya, dan mengucap syukur atas kasih Yesus kristus yang rela dihukumkan menggantikannya.
43. Kesalahan Terbesar Bapak-Bapak Reformator adalah tidak mereformasi Doktrin Gereja (Ekklesiologi).

44. Penginjilan kepada orang yang sudah mati (Penginjilan Alam Roh) adalah MENYESATKAN dan Tidak ALKITABIAH.

45. Yesus disalibkan dan mati hari Rabu Petang dan Bangkit Hari Sabtu Petang/Minggu, sesuai dengan 3 Hari 3 Malam, 3 x 24 jam=72 jam, adalah ALKITABIAH. Yesus disalibkan dan mati hari Jumat adalah TIDAK ALKITABIAH dan hanya menurut Tradisi secara umum.

46. Orang yang telah mati Dikuburkan adalah ALKITABIAH

47. Jika Musik di Gereja anda tidak bisa dibedakan dengan Musik Dunia, maka ada 2 kemungkinan: Gereja semakin Duniawi atau Dunia semakin Rohani.

48. Kelahiran Yesus bukanlah tanggal 25 Desember adalah ALKITABIAH.

49. Pengajaran Yesaya Paridji tentang Minyak Urapan adalah TIDAK ALKITABIAH.

SIKAP TIDAK BERANI MENYATAKAN KEBENARAN DAN KETIDAKBENARAN adalah AKIBAT dari KETIDAKJELASAN.

APAKAH PETRUS PAUS YG PERTAMA?

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 8:37 am on Friday, October 10, 2008

Perkataan Yesus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” telah menyebabkan badai perdebatan yang belum mereda selama berabad-abad. Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa kata-kata ini membuktikan Petrus telah dijadikan lebih unggul daripada rasul-rasul lainnya dan penghormatan ini telah dialihkan kepada paus-paus Gereja Katolik Roma. Dan kesimpulannya, ketika berbicara tentang takhta Petrus, yaitu ex cathedra, maka ia tidak mungkin bersalah.

Kewenangan Paus tidak lagi diterima secara serius oleh umat Katolik seperti dulu. Ketika ia berbicara mengenai keburukan Keluarga Berencana atau dosa perceraian, perkataannya sering kali tidak dihiraukan oleh banyak orang Katolik, khususnya di Amerika Serikat. Dewasa ini banyak orang yang menganggap dirinya orang-orang Katolik yang baik tidak sependapat dengan paus mengenai peran wanita di dalam gereja dan bahkan mengenai aborsi. Namun ajaran resmi Katolik Roma yang menyangkut kewenangan gereja dalam persoalan-persoalan seperti itu masih tetap berlaku.

Bagaimanakah gagasan kepausan ini muncul dan mengapa?

Suatu Permulaan

Tahun 452 SM, ketika Attila, orang Hun, memimpin pasukan berkudanya menuju Sungai Donau dengan maksud menguasai bagian barat dari Kerajaan Romawi. Serangan yang mendadak melintasi pegunungan Alpen membawanya ke Italia bagian utara. Ia bergerak terus menuju Roma sampai ia berjumpa dengan suatu delegasi Romawi, yang memohonnya untuk meninggalkan daerah itu. Ia baru saja hendak mengabaikan mereka ketika ia mendengar bahwa Leo, uskup Roma, ada diantara rombongan itu, sebagai Kerajaan Romawi. Mereka saling berhadapan, seorang raja asing dan seorang pemimpin gereja yang memerintah. Menurut beberapa sejarawan, Attila sudah memutuskan bahwa ia tak dapat meneruskan usaha penaklukannya karena memburuknya keadaan pasukannya disebabkan perjalanan kaki yang jauh. Bagaimanapun juga, ia menyetujui permintaan Leo untuk menyelamatkan ibu kota. Hal ini menjadikan Leo lebih ulung, bukan saja sebagai seorang pemimpin agama, tetapi juga sebagai seorang politikus.

Apakah sangkut-pautnya dengan perkembangan kepausan? Leo, yang dikenal dalam sejarah sebagai Leo Agung, memanfaatkan kepercayaan yang makin kuat bahwa perkataan Kristus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ dapat dipakai untuk para uskup Roma. Ini memberinya keunggulan dan wewenang yang ia butuhkan untuk memerintah.

Akan tetapi, mengapakah kehormatan ini harus diberikan kepada uskup Roma? Betapapun, gereja dimulai di Yerusalem, dan jemaat-jemaat penting lainnya terdapat di tempat-tempat seperti Antiokhia di Siria dan Efesus. Namun, ingatlah bahwa Roma adalah ibukota Kerajaan Romawi. Kota ini mempunyai kekuatan dan pengaruh politik, sebuah kota tempat orang-orang percaya mula-mula mendirikan sebuah gereja Kristen yang kuat. Beberapa perkiraan menetapkan jumlah orang-orang percaya di Roma sekitar 30 ribu orang. Di barat, baik gereja maupun kotanya tidak mempunyai saingan. Lagi pula, para penulis Kristen yang mula-mula mengatakan bahwa Petrus dan Paulus telah mendirikan gereja di Roma. Lalu timbullah pemikiran bahwa uskup Roma menjadi calon pengganti rasul-rasul tersebut.

Lalu kita harus memahami sesuatu tentang struktur gereja. Uskup-uskup bermunculan diberbagai bagian yang berbeda dari negeri itu, tetapi kadangkala mereka berkumpul bersama untuk bersidang dan mendiskusikan masalah-masalah gereja. Seperti yang dapat diduga, uskup dari gereja-gereja yang lebih penting mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Jadi beberapa uskup mulai menjalankan kekuasaan atas daerah-daerah geografis tertentu. Gerejka-gereja yaang lebih kecil mempunyai imam yang memberi laporan kepada uskup. Dengan demikian, Roma bertambah besar kewenangan dan kekuasaannya.

Akhirnya, semua ini mencapai puncaknya. Setelah Konstantinus menjadi kaisar pada tahun 312, ia memutuskan untuk memindahkan ibukota Kerajaan Romawi ke Roma Baru, yaitu Konstantinopel, sebuah kota yang ia namakan menurut namanya sendiri. Jadi, kekuatan politik beralih dari barat ke timur (Yunani ada di Timur dan melambangkan suatu garis pemisah di antara barat dan timur). Ketika Konstantinus mengatur Konsili yang terkenal pada tahun 325, maka itu diselenggarakan di Nicea, hanya beberapa mil dari Konstantinopel.

Persaingan di antara kedua kota itu berkembang. Suatu hari Kaisar dari Konstantinopel mengadakan sidang umum, seperti yang telah dilakukan oleh Konstantinus. Akan tetapi, ia mengundang uskup-uskup dari bagian timur kerajaan sedangkan uskup Roma diabaikan. Konsili ini menyelesaikan beberapa persoalan teologis, tetapi juga menyatakan bahwa wewenang uskup Konstantinopel berada pada peringkat kedua setelah uskup Roma karena Konstantinopel adalah “Roma Baru“.

Sementara itu, di “Roma Lama“, pernyataan ini ditafsirkan sebagai suatu tantangan terhadap wewenang uskup Roma. Maka pada suatu sinode pada tahun berikutnya di Roma, uskup-uskup barat menandaskan, “Gereja Roma yang kudus harus lebih diutamakan daripada gereja-gereja lainnya, bukan berdasarkan keputusan sinode, tetapi karena kepadanya telah diberi keunggulan oleh perkataan Tuhan dan Penebus kita di dalam kitab Injil ketika Ia berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”

Demikianlah, suasana teologis ketika Leo menjadi uskup. Secara politik, kekuasaan Roma mulai berkurang dan karena itu alasan lama mengenai keunggulan gereja Roma oleh sebab kekuasaan dan pengaruh Roma kurang berpengaruh. Tetapi ini tak menjadi soal. Sekarang Roma dapat menuntut keunggulannya berdasarkan keunggulan Petrus. Dan karena kemerosotan politis kota itu, maka uskup sanggup menjalankan kekuasaan yang lebih besar.

Leo benar-benar menyadari kedudukan tinggi yang telah ia warisi. Jadi, pada hari pelantikannya ia menegaskan bahwa jabatannya yang baru meninggikan “kemuliaan Rasul Petrus yang kudus… dalam takhtanya, kuasanya dilangsungkan dan kewenangannya bersinar.“ Kristus berjanji untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, dan inilah penggenapan perkataan-Nya. Leo adalah seorang pengkhotbah dan organisator yang baik. Ia mengambil banyak prinsip pemerintahan Romawi dan menerapkannya kepada gereja. Organisasi gereja dibakukan di seluruh kerajaan.

Meskipun Leo telah berhasil mencegah serangan Attila orang Hun, ia tidak sanggup mencegah kaum Vandal yang menyerang Roma pada tahun 455. Di pintu gerbang kota Roma, Leo bertemu dengan Gaiseric, raja orang Vandal, yang telah membawa pasukannya sampai ke sebelah utara sungai Tiber. Leo memohon belas kasihan, tetapi kaum Vandal menjarah Roma selama 14 hari. Mereka menjarah istana-istana, menahan tawanan politik dan bahkan anggota-anggota dari kaum aristokrat sebagai sandera politik. Dengan kapal-kapal yang sarat dengan harta benda dan manusia, kaum Vandal berlayar menuju Kartago.

Uskup Leo menghibur penduduk dan menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Oleh karena ia menjadi penengah kepada raja Vandal, suatu pembunuhan masal telah dihindari dan sebagian gereja-gereja terlindungi. Ia mengajak rakyat Roma untuk mengakui bahwa Allah telah melembutkan hati kaum barbar itu. Bruce Shelley dalam penelitiannya tentang sejarah gereja mengatakan bahwa Leo tidak menyebut dirinya dan ia tidak perlu melakukannya, meskipun ia telah menyelamatkan Roma untuk kedua kalinya. “Ia telah memakai gelar kafir yang kuno Pontifex Maximus, imam besar keagamaan di seluruh kerajaan, dan semua orang mengerti bahwa Leo-lah, bukan Kaisar, yang telah memikul tanggung jawab atas kota yang kekal itu. Petrus telah mulai berkuasa.“

Setelah melompat beberapa abad ke depan, kita kembali melihat persaingan yang terjadi antara uskup Roma dan uskup Konstantinopel. Kedua bagian gereja ini berpisah semakin jauh. Berabad-abad telah berlalu sampai suatu hari pada tahun 1054, ketika suatu kebaktian akan dimulai di gereja Himat Kudus di Konstantinopel, dua orang wakil dari gereja Roma muncul dan meletakkan suatu bula paus (suatu pengumuman resmi dari paus) di atas Altar. Uskup Roma, secara resmi mengucilkan uskup Konstantinopel. Akan tetapi, uskup Konstantinopel tidak gentar. Bula itu akhirnya dibuang di jalan ketika seorang diaken gereja itu mendesak utusan dari Roma untuk membawanya kembali. Jadi blok timur dari Kekristenan memisahkan dirinya dari Roma. Peristiwa ini menjelaskan adanya Gereja Ortodoks Timur, yang menguatkan banyak ajaran agama (meskipun dengan berbagai perbedaan yang penting), tetapi menolak untuk menerima kekuasaan Paus. (bersambung).

BERITA MINGGUAN GITS 27 SEPTEMBER 2008

Filed under: News — dedewijaya at 5:14 am on Wednesday, October 1, 2008

Berikut ini disadur dari Way of Life Ministry (GITS BULETIN)

LICINNYA JALAN EUTHANASIA
Licinnya jalan Euthanasia (tindakan membunuh seseorang karena diminta oleh orang tersebut) semakin nyata dari pernyataan berikut dari seorang pendukung euthanasia (menyebut diri “ethicist”) di Inggris. Dalam wawancara dengan Life and Work, majalah gereja Skotlandia, Baroness Warnock berkata, “Jika anda orang idiot, anda sedang menghamburkan hidup orang lain – hidup keluargamu – dan anda menghamburkan sumber daya National Health Service. Saya secara absolut setujut dengan argumen bahwa jika rasa sakit tidak dapat ditahan lagi, maka seseorang seharusnya diberi pertolongan agar dapat mati, tetapi saya merasa ada argumen yang lebih luas bahwa jika seseorang adalah beban untuk keluarganya, atau untuk negaranya, maka saya rasa mereka juga seharusnya diperbolehkan untuk mati…Saya rasa demikianlah keadaannya di masa depan, dan secara brutal, anda akan melihat orang-orang dengan izin khusus untuk membunuh orang lain” (”Dementia Patients Should Consider Ending Lives,” USA Today, 19 Sept. 2008). Alkitab memberikan kita tanggung jawab untuk mencukupi orang-orang yang kita kasihi, tetapi tidak pernah kita diberitahu bahwa kita punya hak untuk membunuh mereka! “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman” (1 Tim. 5:8). Adalah masyrakat yang sombong, bodoh, dan memberontak, yang berpikir bahwa mereka punya prerogatif Allah untuk mengakhiri kehidupan kapan pun mereka inginkan. Kematian bukanlah suatu kehormatan, dan juga bukanlah hak; kematian adalah hukuman Allah atas manusia yang berdosa. Namun demikian, kita memuji Dia, karena Ia tidak membiarkan kita mati tanpa pengharapan tetapi telah membuat jalan keselamatan melalui kematian AnakNya Yesus Kristus yang menggantikan kita. “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom. 6:23).

KECINTAAN MUSIK KRISTEN KONTEMPORER TERHADAP DUNIA
Alkitab mengatakan, “Janganlah kamu mengasihi dunia,” dan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,” tetapi Musik Kristen Kontemporer (Christian Contemporary Music) dengan berani melanggar hal ini. Perhatikan DecemberRadio (sebuah Grup musik “kristen”). Album mereka yang pertama di tahun 2006 memenangkan mereka penghargaan Dove Award for Rock Album of the Year, dan majalah Christianity Today menyebut mereka Best Band of the Year dan Best New Artist. Mereke mengaku sebagai orang Kristen dan berbicara mengenai Allah, tetapi Injil sama sekali tidak diberitakan dalam website mereka, dan sketsa biografi mereka hanya menyinggung dengan cepat masalah “menjadi Kristen,” atau “berserah pada Kristus,” tanpa ada detil apapun. Josh “menjadi Kristen” pada umur tujuh; Brian pada umur delapan; Eric pada umur enam. Bukan hanya mereka tidak memberikan kesaksian keselamatan yang jelas, mereka juga tidak menyinggung tentang gereja, meskipun Alkitab mengatakan bahwa gereja adalah keluarga Allah dan tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15). Mereka lebih banyak berbicara mengenai pengaruh-pengaruh musik mereka ketimbang hubungan yang menyelamatkan dengan Kristus. Mereka mendaftarkan Led Zeppelin, Herman’s Hermits, Rolling Stones Black Crowes, Tom Petty, Eric Clapton, Van Halen, Stevie Ray Vaugh, dan grup-grup rock berisik lainnya. Pada tanggal 21 April 2008, Josh Reedy dan Erik Miker dari grup DecemberRadio, diwawancarai oleh John DeBiase dari Jesus Freak Hideout. Pernyataan-pernyata an berikut mendemonstrasikan cinta mereka akan dunia. “Satu hal yang membuat kami semangat sebagai satu band, mengenai musik dan bermain live, adalah melihat Eric Clapton dan Stevie Ray Vaughan dan semua gitaris-gitaris hebat ini. Apa yang mereka lakukan. Apa yang dia perbuat dengan Cream. Dari mereka hingga Aerosmith, Tom Petty dengan lagunya `Runnin’ Down a Dream…..Saya sungguh berapi-api mengenai era musik tersebut. Ada yang spesial di sana….Hal- hal yang kami dengar ketika sedang tumbuh dewasa dari koleksi musik kuno ayah kami seperti Chicago dan Led Zeppelin menginspirasikan kami…..{Brian, gitaris kami] menghabiskan waktu di depan komputer hanya untuk mempelajari semua hal tentang Eric Clapton dan orang-orang ini. Ia mempelajari semuanya lalu menjadikannya miliknya sendiri.” Setelah saya diselamatkan dari latar belakang rock & roll / obat-obatan pada tahun 1973 saat berumur 23 tahun, Allah berbicara kepada saya dari Firman Tuhan (mis. Roma 12:2; Ef. 5:11; Yak. 4:4; 1 Yos. 2:15-17) dan menginstruksikan saya untuk membuang musik jahat masa lalu saya dan untuk menyanyikan pujian baru, yang berarti baru dalam hal sifatnya. Saya menolak rock & roll dunia yang kotor dan memberontak saat itu, dan saya menolaknya sekarang. Rasul Yohanes mendefinisikan dunia sebagai “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup.” Tidak ada lagi gambaran yang lebih tepat untuk rock & roll. Apa yang kurang dari “Christian rock” adalah rasa takut akan Allah. “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

BUKU PANDUAN MUSLIM TAHUN 1925 MENGATAKAN BAHWA BAIT DI BUKIT ADALAH MILIK YAHUDI
Sejak tahun 1990, telah terjadi kampanye Islam untuk mengingkari bahwa Israel pernah memiliki bait di Yerusalem. Kampanye “Temple Denial” ini dimaksudkan untuk membuat tidak sah klaim Israel terhadap kota tersebut. Dalam The Fight for Jerusalem, Dore Gold menggambarkan cepatnya penyebaran propaganda ini. “Temple Denial menyebar di sepanjang Timur Tengah seperti api liar mulai dari halaman-halaman editorial al-Jazirah di Arab Saudi hingga seminar-seminar internasional di UAE….Temple Denial menemukan tanah yang subur di universitas- universitas Arab, terutama yang memiliki perspektif Islam radikal, di mana pandangan ini membentuk generasi yang baru.” Gold memberikan banyak bukti bahwa ada bait Yahudi di Yerusalem dulu, termasuk kesaksian Josephus, relik Arch of Titus di Roma, dan berbagai benda yang telah ditemukan seperti plakat dari bait dan juga berbagai koin (lihat http://www.wayoflif e.org/fbns/ temple-denial- vs-archaeology. html) Kini ada bukti baru. Jewish Temple Institute belakangan ini mendapatkan sebuah salinan buku panduan tahun 1925 yang dipublikasikan oleh Supreme Moslem Council (Konsil Muslim Tertinggi), yang menyatakan sebagai berikut: “Identitasnya sebagai Bait Salomo tidak diragukan lagi. Ini juga merupakan tempat, menurut kepercayaan semua orang, di mana Daud membangun sebuah mezbah kepada Tuhan” (Arutz Sheva, 2 Sept. 2008). Di bulan Maret 2008, Israel Antiquities Authority (Otoritas Benda-Benda Antik Israel) mengumumkan untuk pertama kalinya dalam sejarah riset Arkeologi, bahwa peninggalan dari Bait Salomo telah ditemukan dekat dengan bait yang di Yerusalem (”First Temple Building Remains Found, Arutz Sheva, 17 Maret 2008). Penggalian yang dilakukan 2 tahun terakhir telah menyingkapkan “jalan yang besar dan bertiang dari abad kedua” yang terletak tepat di atas lapisan dari zaman Bait yang pertama, sehingga melindunginya dari jarahan pada masa-masa kemudian.

PARLIAMEN IRAN MENGESAHKAN UNDANG-UNDANG HUKUMAN MATI BAGI YANG MURTAD

Berikut adalah kutipan dari WEA Religious Liberty News, 22 Sept. 2008: “Bahwa murtad (meninggalkan Islam) adalah suatu tindakan yang sangat beresiko, bahkan urusan yang mematikan di negara Muslim manapun, bukanlah berita baru bagi mereka yang telah murtad ataupun para pengamat kebebasan beragama. Bahwa Komisi Tinggi PBB atas Pengungi (UNHCR) tidak selalu berpikir demikian adalah berita baru bagi banyak orang. Hukum Sharia Tradisional mengharuskan hukuman mati bagi orang-orang yang murtad, didasarkan pada Hadits (perkataan-perkataa n Muhammad) “Siapapun yang menukar agama Islamnya, bunuh dia” (Sahih Al-Bukhari, Vol. 9:57)…..Sebuah kebangkitan paham Sunni Wahabi yang didukung oleh keuntungan minyak Arab Saudi sejak akhir 1970an….Kini Iran sedang dalam proses mengeluarkan undang-undang untuk membuat kemurtadan dan tindakan mempromosikan kemurtadan (termasuk melalui internet), sebagai tindakan kejahatan hukuman mati, denagn alasan untuk menjaga “keamanan mental” negara…..Namun demikian beberapa tahun belakangan beberapa negara Barat mengembalikan orang-orang Iran Kristen yang mencari suaka, termasuk mereka yang “murtad, kembali kepada Iran, dengan alasan bahwa UNHCR mengklaim mereka tidak akan dianiaya. Tolong UNHCR mencamkan: Sebagaimana dilaporkan oleh Christian Solidarity Worldwide, “Parlemen Iran memungut suara hari Selasa [9 Sept] dan meloloskan rancangan undang-undang yang menjatuhkan hukuman mati bagi kemurtadan. RUU tersebut disahkan oleh 196 suara, 7 menentang, dan 2 abstain.” Khaleej Times (Dubai), pada bulan Juli, melaporkan bahwa RUU itu menyatakan mereka yang terbukti akan kesalahan tersebut `harus dihukum sebagai mohareb (musuk Allah) dan rusak di bumi.’ RUU itu juga hukuman dalam kasus-kasus seperti ini `tidak dapat diturunkan, ditunda, atau diubah.’ …..Pada tanggal 10 September, Compass Direct (CD) melaporkan bahwa dua orang Kristen Iran kini telah secara resmi dituduh “murtad.”

« Previous Page