DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

Berita Mingguan 01 November 2008

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:35 am on Saturday, November 1, 2008

GURU OBAMA MENGHORMATI LUCIFER
Saul Alinsky, seorang guru Barack Obama, menghormati Lucifer dalam bukunya “Rules for Radicals.” Di halaman depan bukunya ia mengatakan, “Jangan kita lupa untuk memberi penghormatan, minimal sekedar lambaian tangan, kepada radikal yang paling pertama….radikal pertama yang manusia kenal yang memberontak terhadap kemapanan dan melakukannya dengan sedemikian efektif sehingga ia setidaknya memenangkan kerajaannya sendiri.” Buku ini telah disebut sebagai “Alkitabnya golongan kiri jauh.” Alinsky, yang mati tahun 1972, adalah bapa pengorganisasi gerakan rakyat liberal di Amerika. Sementara bekerja untuk Proyek Developing Communities di Chicago selatan, Obama belajar dan mengajarkan metode-metode Alinsky (”A Common Ideological Touchstone,” The Washington Post, 25 Maret 2007). Di sanalah Obama belajar untuk membangkitkan ketidakpuasan masyarakat dan mengajari orang-orang yang “tidak punya” untuk mengambil dari orang-orang yang “punya.” Obama belajar sedemikian hebatnya, sehingga ia disebut “guru revolusi sosial yang tidak berdarah” (”Obama’s Alinsky Jujitsu,” American Thinker, 8 Jan. 2008). Alinsky adalah seorang atheis yang mengajarkan relativisme moral, yang mengatakan bahwa “standar moral haruslah elastis sehingga dapat ditarik ulur untuk mengikuti zaman,” dan ia mendorong murid-muridnya untuk “membenci dogma dan melawan definisi moralitas yang terbatas” (Rules for Radicals, hal. 30, 73). Ia mengajarkan bahwa tujuan menghalalkan cara dan memuji para pembunuh rakyat seperti Lenin dan Mao sebagai “pemimpin-pemimpin dunia yang hebat.” Sejak hari-harinya sebagai mahasiswa, Barack Obama telah berasosiasi secara intim dengan orang-orang berpandangan Marxisme, anarkis, teroris, dan rasisme, dan jika ia memenangi kursi kepresidenan Amerika, maka itulah hukuman Tuhan bagi Amerika karena kesesatan gereja-gerejanya.

USKUP ANGLIKAN MENGATAKAN BAHWA BEATLES LEBIH EFEKTIF DARIPADA ALKITAB DALAM MENJAWAB “PERTANYAAN- PERTANYAAN BESAR DALAM HIDUP.”
Nick Baines, uskup Anglikan dari Croydon, mengatakan bahwa musik Rock lebih efektif daripada Alkitab dalam hal mengkomunikasikan konsep-konsep theologi yang dalam (”Beatles Songs as Effective as the Bible,” newkerala.com, 19 Okt. 2008. Dalam bukunya Finding Faith, Baines mengatakan bahwa Alkitab telah menjadi “biasa” dan musik Rock “lebih masuk ke dalam jiwa daripada sekedar membaca sebuah buku kuno.” Baines merekomendasikan antara lain musiknya Eric Clapton, Bob Dylan, dan John Lennon, dan juga merekomendasikan memakai lagu-lagu Beatles dalam kebaktian gereja. Rowan Williams, Uskup Agung dari Canterbury, merekomendasikan bukunya Baines, dan menyebutnya “mendalam dan menantang.” Tidak heran ada begitu banyak atheis di Inggris, dengan gereja-negaranya yang begitu sesat.

MENGAPA DUNIA MENCINTAI U2?
Band rock `n roll U2 tetap menjabat sebagai salah satu band favorit dunia setelah lebih dari 20 tahun lalu pertama kali muncul dalam halaman depan majalah Rolling Stone edisi Maret 1985 dengan judul “Our Choice: Band of the Eighties.” Dunia mencintai U2 karena U2 berasal dari dunia, dan dunia mengenali miliknya sendiri. Baru-baru ini, Fox News melaporkan bahwa Bono berpesta dengan cewek-cewek remaja di sebuah perahu yacht di St. Tropez. Laporan itu, yang menyertakan sebuah foto Bono sedang bercengkerama dengan dua remaja wanita berpakaian bikini, menjelaskan, “Bono, Carmody, dan perempuan-perempuan berpesta sepanjang malam di atas yacht” (”Facebook Pictures Show Married U2 Singer Bono’s Rendezvoux with Sexy Teens,” Fox News, 27 Okt. 2008). Yesus Kristus mengatakan, “Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh. 15:19). Kekristenan samar-samar yang dikhotbahkan oleh Bono adalah ciptaannya sendiri. Saya telah membaca banyak sekali wawancara dengan U2, tetapi tidak pernah satu kalipun saya mendengar mereka memberitakan Injil kelahiran kembali melalui pertobatan dan iman dalam darah Yesus Kristus atau memperingatkan orang-orang yang tidak selamat akan neraka yang kekal. U2 tidak menegur kejahatan dan immoralitas. Cinta yang dinyanyikan oleh Bono adalah cinta dunia. Filosofi U2 adalah filosofi dunia. Perhatikan kalimat berikut dari lagu “Vertigo” dari album mereka How to Dismantle an Atomic Bomb: “Perasaan jauh lebih kuat daripada pikiran.” Ini merangkumkan filosofi rock & roll. Alkitab mengatakan bahwa kita harus hidup menurut hukum Allah, tetapi rock & roll mengatakan “hiduplah sesuai dengan perasaanmu.” Alkitab mengatakan bahwa hati itu lebih licik dari segala sesuatu, tetapi rock & roll berkata, “ikutilah hatimu.” Alkitab mengatakan bahwa kita hanya dapat mengenal Allah melalui doktrin yang benar dari pewahyuanNya dalam Kitab Suci, melalui pemikiran yang benar yang datang dari pengertian yang benar akan Firman Allah, tetapi rock & roll berkata, “perasaan lebih penting daripada pikiran.” Inilah mengapa dunia mencintai U2, dan ini juga alasannya mengapa orang-orang Injili dan Kharismatik mencintai U2. Lihatlah 2 Timotius 4:3-4.

APAKAH KASIH KARUNIA HANYA MEMBEBASKAN, ATAUKAH JUGA MENDISIPLINKAN?
Berikut ini adalah dari “Are Fundamentalists Legalists: A Reply to Charles Swindoll” oleh Ernest Pickering, almarhum direktur Baptist World Mission: “Gambaran yang diberikan oleh Chuck Swindoll [dalam bukunya Grace Awakening] adalah bahwa satu-satunya fungsi kasih karunia adalah untuk membebaskan. Ia terus menerus merayakan `kebebasan’ orang percaya, `pembebasan, ‘ dan `pelepasan’ dari ikatan-ikatan baik yang riil maupun yang dibayangkan. Kasih karunia memberi kita `izin untuk menjadi bebas’ (hal. 5). Kita memiliki `kasih karunia yang membebaskan’ (hal. 8). `Semua yang menerima kasih karunia menjadi “benar-benar merdeka”‘ (hal. 46). `Anda akan menjadi bebas’ (hal. 53). Anda seharusnya `menikmati kebebasan anda’ (hal. 132). Semua di atas hanyalah beberapa contoh. Dalam menulis bukunya itu, saudara kita sepertinya agak terobsesi dengan perbudakan besar yang menekan orang percaya. Setelah membaca bukunya, saya tidak dapat lepas dari pertanyaan: `Mengapakah saya tidak pernah merasakan beban besar “perbudakan” yang dia tuliskan ini?’ Saya dibesarkan di rumah yang beraliran `holiness’ ketat. Saya belajar di perguruan tinggi Kristen, dan banyak orang akan melihat perguruan tinggi itu memiliki aturan-aturan yang sangat mengikat. Saya telah melayani dan menjadi gembala dari gereja-gereja yang menerapkan standar moral yang tinggi sekali bagi para anggotanya dan juga pemimpinnya. Dalam tahun-tahun pelayanan saya, saya tidak pernah merasa bahwa saya ada dalam perbudakan atau saya disalahgunakan oleh orang lain. Saya tidak pernah merasa tidak nyaman di bawah aturan-aturan atau batasan-batasan itu. Sungguh menarik bahwa dalam tahun-tahun belakangan ini, hal ini menjadi masalah bagi banyak orang. Mengapa? Saya percaya ini adalah karena tekanan yang luar biasa dari zaman yang jahat ini di mana kita tinggal. Hidup yang kudus, yang saleh, dan yang terpisah, tidak lagi menjadi “style.” Hidup seperti ini dilihat sebagai ketinggalan zaman dan suatu `kesusahan.’ Kasih karunia Allah dipakai oleh banyak orang sebagai alasan untuk memperbolehkan orang Kristen melakukan hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan, dengan ide bahwa semuanya boleh-boleh saja. Ada pemimpin-pemimpin Kristen dan para pengikut mereka yang `menyerah’ kepada semangat zaman ini. Memang benar bahwa kasih karunia membebaskan kita, tetapi sama benarnya bahwa kasih karunia memperhambakan kita. Jika tidak demikian, maka Yakobus sungguh salah saat ia memperkenalkan diri sebagai “Yakobus, hamba [budak] Allah dan Tuhan Yesus Kristus’ (Yak. 1:1). Perjanjian Baru bukanlah semata-mata mengenai apa yang bisa kita lakukan, tetapi juga banyak berbicara mengenai apa yang tidak dapat kita lakukan. Penekanan `grace awakening’ menghilangkan aspek yang satu ini dari kasih karunia. Kasih karunia nyata secara penuh dalam Yesus Kristus. Kata “nyata” (Tit. 2:11) berfokus pada inkarnasi Kristus. Paulus sedang berargumen dalam surat Titus bahwa kehidupan yang saleh adalah mandat dari kebenaran Allah. Ia memberikan kepada kita pelajaran penting tentang kasih karunia yang tidak boleh dilupakan: `Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini’ (Tit. 2:11-12). Inilah yang kita sebut sebagai `pengendalian diri’ atau `kontrol’ dari kasih karunia. Kasih karunia tidak membiarkan kita untuk `berlari dengan liar,’ untuk `melakukan sesuai kehendak kita,’ tetapi ia memberi kita kekuatan untuk `mengatakan tidak’ kepada kefasikan sekitar kita dan untuk menghidupi kehidupan yang penuh pengendalian. Kasih karunia, dengan kata lain, bukan hanya membebaskan, tetapi juga mengendalikan. Seorang Kristen yang berjalan dalam kasih karunia dibebaskan dari kuasa dosa, tetapi berada di bawah kendali dan pembatasan dari Tuhan.”

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw (Graphe International Theological Seminary)

PENGANIAYA ATAS NAMA YESUS

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 12:53 am on Saturday, November 1, 2008

REFORMASI KEPALANG TANGGUNG
Pada 31 Oktober 1517, seorang rahib yang bernama Martin Luther memakukan 95 dalil yang bertentangan dengan kebijaksanaan Gereja Roma Katolik di gerbang gereja kota Wittenberg. Tentu Paus pada saat itu menjadi kalang kabut. Luther sampai pada kesimpulan bahwa Gereja Roma Katolik telah MENYIMPANG JAUH DARI KEBENARAN. Mereka mengajarkan jalan keselamatan yang melalui perbuatan manusia. Contoh yang paling konkrit pada saat itu ialah ‘surat pengampunan dosa’ yang diperjualbelikan.
Sayang sekali Luther tidak melihat bahwa akar permasalahannya ialah baptisan keselamatan (baptism regeneration), yaitu paham tahyul tentang baptisan yang dimulai jauh-jauh sebelumnya yang mengajarkan bahwa baptisan dapat melindungi seseorang dari gangguan iblis, dari sakit-penyakit, dan memastikan keselamatan.

Luther menyerukan agar kembali kepada iman. Nats Alkitabnya yang paling terkenal ialah Roma 1:17, ”Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman.’.”

Kaum Anabaptis yang sedang bersembunyi merasa sangat senang pada perjuangan Martin Luther. Mereka menyangka bahwa mereka mendapat teman baru di dalam peperangan iman. Banyak di antara mereka segera menggabungkan diri dengan Luther. Demikian juga para Anabaptis yang di Swiss. Mereka sangat bersukacita atas perjuangan Calvin dan Zwingli dan keluar dari persembunyian untuk menggabungkan diri dengan mereka.

Namun kemudian mereka sangat kecewa karena menyadari rupanya para reformator itu tidak sanggup melihat inti permasalahan yang menyebabkan berdirinya Satan’s Millenium. Rupanya baik Luther, Calvin, maupun Zwingli tidak menyadari bahwa kesalahpahaman tentang makna baptisan adalah awal penyebab dari malapetaka yang telah berlangsung ribuan tahun. Baik Luther, Calvin maupun Zwingli tetap membaptiskan bayi yang tidak mengerti apa-apa. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan itu berarti memasukkan orang-orang yang belum dilahirkan kembali ke dalam gereja. Mereka menganggap masalahnya bukan dari baptisan karena mereka tidak sanggup menyadari bahwa lebih gampang menghimbau orang yang belum dibaptis untuk bertobat dan menerima Kristus daripada orang yang telah dibaptiskan ke dalam gereja.

Yang lebih mengecewakan kaum Anabaptis lagi ialah ternyata para Reformator tidak mengerti apa perbedaan konsep Doktrin Gereja Lokal dengan Doktrin Gereja Universal. Mereka tidak sanggup melihat bahwa Gereja Roma Katolik menjadi sedemikian sesat itu gara-gara dikawinkan dengan negara oleh si Constantine.

Baik Luther, Calvin, maupun Zwingli adalah orang-orang yang dibaptis sejak bayi di Gereja Roma Katolik. Mereka sendiri belum pernah dibaptis dengan Baptisan Alkitabiah, yaitu baptisan yang didahului Pengakuan percaya (Kis 8:36-38). Kemudian mereka membaptiskan semua pengikut mereka dengan cara yang sama, yaitu yang mereka tiru dari Gereja Roma Katolik. Lalu kalau ada pengikut mereka yang menyadari kesalahan mereka dan ingin menggabungkan diri dengan para Anabaptis, salahkah kalau para Anabaptis meminta agar mereka mengaku percaya di depan jemaat dan kemudian membaptiskan mereka dengan baptisan Alkitabiah? Reformasi yang mereka lakukan ternyata sebuah reformasi yang kepalang tanggung.

GILIRAN MENJADI PENGANIAYA
Sesungguhnya apa yang dilakukan para reformator itu malu sekali untuk diceritakan. Para reformator menjadi marah sekali kepada kaum Anabaptis dan berusaha membunuh mereka. Oh..oh..oh.. darimana mereka belajar sikap membunuh orang yang tidak setuju dengan mereka? Kalau tidak salah, itu dari nenek moyang rohani mereka, yaitu Gereja Roma Katolik yang telah membunuh banyak orang. Bahkan Galileo seorang ilmuwan yang mengatakan bahwa Bumi ini bulat, dipenggal kepalanya oleh Gereja Katolik.
Reformator yang tercatat paling banyak membunuh Anabaptis ialah Zwingli. Ketika Zwingli mendengar bahwa pengikutnya yang meninggalkannya itu menggabungkan diri dengan Anabaptis dan mereka dibaptis ulang, ia sangat tersinggung dan marah sekali. Ia menganggap orang-orang Anabaptis tidak menghargai baptisannya. Zwingli mengumumkan bahwa barangsiapa yang dibaptis kedua kali, kepadanya akan dilaksanakan baptisan ketiga, yaitu ditenggelamkan ke dalam air.

Tulisan ini akan berubah dari booklet menjadi buku yang tebal sekali jika membicarakan semua Anabaptis yang dibunuh oleh Gereja Roma Katolik dan reformator. Orang pertama yang dibunuh oleh Zwingli ialah Conrad Grebel, seorang pengikut Zwingli yang kemudian menyadari bahwa iman harus mendahului baptisan. Orang berikut yang dibunuh ialah Felix Manz. Ia ditenggelamkan di sungai Limmat. Felix Manz, sesuai dengan keputusan pengadilan, dibawa terikat dari penjara Wellenberg melewati pasar ikan menuju sebuah perahu. Sepanjang jalan ia bersaksi kepada anggota dewan dan semua orang yang berdiri di pantai sungai Limmat, sambil memuji Allah karena walaupun ia seorang berdosa namun diizinkan untuk mati demi kebenaran. Kemudian ia menyerukan bahwa baptisan orang percaya adalah baptisan yang benar sesuai dengan firman Tuhan dan pengajaran Kristus. Suara ibunya terdengar dari jauh mengikuti arus sungai yang memohonnya dengan amat sangat agar ia tetap setia di saat-saat menghadapi pencobaan. Setelah mereka mengumumkan hukumannya, ia dinaikkan ke dalam perahu kemudian mengikuti arus hingga ditengah-tengah sungai Limmat, lalu mereka menurunkan jangkar. Ketika tangan dan kakinya diikat ia berseru dengan suara nyaring, ”In manus tuas, Domine, commendo spiritum meum” (ke dalam tanganMu, Tuhan, kuserahkan rohku). Beberapa saat kemudian air sungai yang dingin menutupi kepala Feliz Manz. Menurut catatan Bernhard Wyss, hukuman itu dijatuhkan pada 5 Januari 1527, hari Minggu, jam 3 sore.
Anabaptis lain korban pembunuh Zwingli ialah George Blaurock. Ia adalah seorang pelayan Anabaptis yang lebih efektif dari Greble dan Manz. Pada saat Felix Manz dihukum mati, George Blaurock hanya dihukum cambuk. Selanjutnya, dua setengah tahun kemudian ia dibakar hidup-hidup di sebuah tiang oleh kelompok Zwingli.

Para reformator berpikir bahwa dengan penganiayaan yang mereka lancarkan maka kaum Anabaptis akan menggabungkan diri dengan mereka. Mereka betul-betul tidak menarik pelajaran dari apa yang mereka alami dari Gereja Roma Katolik. Bagi para reformator baptisan itu bukan masalah besar yang perlu ditekankan dan diperdebatkan. Namun yang tidak dapat dijelaskan ialah, mengapa sesuatu yang mereka katakan tidak berarti itu bisa menyebabkan mereka membunuh orang?
Di pihak lain orang juga bertanya, mengapa kaum Anabaptis mau mati hanya demi beberapa perbedaan yang ”kecil”? Jawabannya, kecil bagi orang-orang yang tidak mengerti kebenaran, dan besar bagi yang sungguh-sungguh ingin mematuhi Tuhan. Kaum Anabaptis menyadari bahwa kalau gereja terus membaptiskan orang-orang yang belum dilahirbarukan, maka itu akan menjadi penyebab utama kesesatan gereja pada aspek lain di kemudian hari. Hal kedua ialah konsep sacral-societyyang menghasilkan perkawinan gereja dan negara. Itu adalah malapetaka bagi gereja yang tidak bisa dianggap sepele.

Munculnya konsep sacral-society dalam diri para reformator ialah karena menafsirkan gereja sebagai Israel rohani. Kalau gereja adalah Israel rohani maka cara Israel mengahadapi penyesat sebagaimana yang tertulis di dalam Taurat bisa diterapkan kepada orang-orang yang menentang penafsiran mereka. Konsep bahwa gereja adalah Israel rohani ini diciptakan untuk membenarkan baptisan bayi yang diargumentasikan sebagai pengganti sunat. Padahal firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa sunat jasmani itu digantikan dengan SUNAT HATI, bukan dengan baptisan (Roma 2:28-29).
Dengan konsep sacral-society para reformator mengawinkan gereja mereka dengan negara mereka. Calvin dan Zwingli mengawinkan gereja Presbyterian/Reform mereka dengan pemerintah Swiss, dan membunuh setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Luther mengawinkan gerejanya, Gereja Protestan, dengan pemerintah Jerman. Mereka membagi wilayah-wilayah kekuasaan gereja serta menyiksa bahkan membunuh orang-orang yang tidak setuju dengan mereka.

Sekalipun tidak tercatat bahwa Luther membunuh Anabaptis, namun ia tidak pernah mengkritik perbuatan Zwingli. Calvin teman Zwingli tidak menjatuhkan tangannya secara langsung seperti Zwingli, namun secara diam-diam ia menyetujuinya. Sikapnya yang tidak secara terang-terangan menentang Anabaptis itu mungkin dikarenakan ia mengawini janda seorang Anabaptis yang telah terbunuh di Holand, Idelette de Bure.

Servetus, bukan Anabaptis, melainkan seorang penentang Baptisan Bayi, dibakar oleh pemerintah kota Geneva yang dikendalikan oleh John Calvin. Sementara api menyiksanya ia berseru, ”Jesus, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!” (Yesus, Engkau putra Allah yang kekal, kasihanilah aku!). Hal itu sangat memilukan hati orang-orang yang menyaksikan. Namun Calvin menyetujui dan berusaha membela tindakan pembunuhan atas Servetus.

“Calvin felt it necessary, therefore, to come out with a public defense of the death-penalty for the heresy, in the spring of 1554. he appealed to the Mosaic law against idolatry and blasphemy,….”
Terjemahannya, “Selanjutnya Calvin merasa perlu memberikan pembelaan terhadap tindakan hukuman mati bagi penyesat yang terjadi pada musim semi 1554. Ia menerapkan hukum Musa untuk menghadapi penyembah berhala dan penghujat.”

Sekalipun para pengikut Calvin berusaha mencuci nama Calvin dari percikan darah orang-orang yang tidak menyetujui theologinya, namun bercak-bercak Darah Kaum Martir Yang Belum Kering tetap terlihat jelas. Ia merekomendasi bahkan berusaha membenarkan tindakan pembunuhan penentangnya dengan konsep sacral-society Perjanjian Lama. Di antara doktrin-doktrin Calvin yang salah, Doktrin Gereja (Ecclesiology)nya adalah yang paling parah karena ia tidak dapat keluar dari konsep gereja Katolik (universal) dan masyarakat suci (sacral-society) hasil penggabungan gereja dan negara yang diprotesnya. Ia tidak dapat melepaskan diri dari konsep sacral-society PL itu disebabkan karena penafsirannya bahwa gereja adalah Israel rohani.

Didalam konsep sacral-society, yang mana agama dan negara disatukan, maka musuh agama adalah musuh negara, dan sebaliknya. Karena Yudaisme PL ada dalam lingkup sacral-society, maka kita bisa mengerti mengapa ada perintah untuk membunuh para pengajar ajaran sesat dan yang menghujat. Tetapi Tuhan menginginkan agar Jemaat Perjanjian Baru tidak menerapkan sistem sacral-society, dengan mengatakan bahwa hukum Taurat dan masa para nabi itu berhenti pada saat pemunculan Yohanes Pembaptis (Matius 11:13). Oleh sebab itu sama sekali tidak dibenarkan untuk membunuh orang apapun alasannya.
Sikap yang Tuhan inginkan dari murid-murid Perjanjian BaruNya terhadap orang yang tidak percaya itu bukan membunuh mereka, melainkan menginjili mereka. Sedangkan kepada orang yang menentang, itu bukan dengan menyiksa mereka, melainkan menjelaskan kepada mereka kebenaran dan mendoakan mereka.

Penganiayaan terhadap kaum Anabaptis ternyata meluas seturut dengan berdirinya gereja-gereja yang dipersatukan dengan negara. Ketika gereja Anglikan (Episkopal) disatukan dengan pemerintah Inggris, maka menderitalah kaum Anabaptis di Inggris. Namun penganiayaan tidak membuat orang jera, melainkan membuat orang-orang berotak bertanya-tanya untuk mencari kebenaran di balik penganiayaan itu.

Benjamin Keach, seorang yang berhasil menulis 33 buku akhirnya menyadari iman kaum Anabaptis adalah iman Alkitabiah. Dialah yang mendirikan jemaat yang kemudian digembalakan CH. Spurgeon. Ketika pemerintah, pemilik gereja Episkopal, menyadari bahwa buku-bukunya mengandung pengajaran Anabaptis, akhirnya mereka menjatuhkan hukuman denda, penjara, dan sebelumnya di-pillory (dihadapkan di depan umum untuk dilempar dengan telor, batu dan lain sebagainya). Kesempatan ini dipakai Keach untuk berkhotbah kepada orang-orang yang datang menontoninya. Semua buku-bukunya dibakar dihadapannya, dan kemudian ia dipenjarakan berkali-kali.

John Bunyan, pengarang buku Perjalanan Seorang Musafir yang dikenal baik oleh orang Kristen Indonesia, menulis buku itu di dalam penjara Bedford, Inggris. Pemerintah Inggris ingin mengeluarkannya dari penjara jika ia mau berjanji tidak akan mengkhotbahkan doktrin Anabaptis. Rupanya Bunyan memilih tinggal di dalam penjara daripada tidak dizinkan mengkhotbahkan iman yang benar. 12 tahun lamanya ia dipenjarakan. Satu-satunya penghiburan yang berharga ialah putrinya yang buta yang selalu hadir menghiburkannya. Buku Perjalanan Seorang Musafir itu sebenarnya adalah cerita yang ditulisnya untuk menghibur putrinya.

Pembaca sekalian, Anabaptis tidak pernah membunuh siapapun, karena ketika ia membunuh untuk membenarkan pengajarannya, maka ia bukan seorang Anabaptis lagi. Yang dilakukan oleh seorang Anabaptis terhadap orang-orang yang tidak menyukai pengajarannya hanyalah berusaha menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mendoakan mereka agar Allah mencelikkan mata rohani mereka.

Sumber: PEDANG ROH: Jurnal Teologi, Sarana Pendidikan Teologi dan Pemberitaan Kebenaran oleh GITS, Edisi 57, Triwulanan Oktober-Desember 2008, Suhento Liauw (STh., M.R.E., D.R.E., Th.D)