DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

NORMA-NORMA MORALITAS SEKSUAL

Filed under: LOVE — dedewijaya at 5:35 am on Tuesday, November 11, 2008

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4)

Yang terutama orang percaya harus murni secara moral dan seksual (.2Kor 11:2; Tit 2:5; 1Pet 3:2). Kata “murni” (Yun. _hagnos_ atau _amiantos_) berarti bebas dari semua noda hal-hal yang cabul. Kata ini menekankan agar menahan diri dari segala tindakan dan pikiran yang merangsang keinginan yang tidak selaras dengan keperawanan atau janji-janji nikah seseorang. Kata ini juga menekankan agar mengendalikan diri dan menjauhi semua tindakan dan rangsangan seksual yang dapat menajiskan kemurnian seseorang di hadapan Allah. Hal itu termasuk menguasai tubuh kita sendiri dan “hidup dalam pengudusan dan penghormatan” (.1Tes 4:4), dan bukan “di dalam keinginan hawa nafsu” (.1Tes 4:5). Petunjuk alkitabiah ini berlaku baik bagi mereka yang hidup lajang maupun bagi mereka yang sudah menikah. Mengenai ajaran Alkitab soal moralitas seksual, perhatikan hal-hal berikut:

1) Hubungan sanggama hanya diizinkan bagi mereka yang sudah menikah dan disetujui serta diberkati Allah dalam keadaan itu saja ( Kej 2:24; Kid 2:7; 4:12]

Melalui pernikahan suami dan istri menjadi satu daging menurut kehendak Allah. Kesenangan jasmaniah dan emosional yang dihasilkan dalam hubungan pernikahan yang setia telah ditetapkan oleh Allah dan dihormati oleh-Nya.

2) Perzinahan, tindakan seksual yang tak bermoral, homoseksualitas, sensualitas, ketidaksucian, dan nafsu-nafsu yang hina dipandang sebagai dosa(Kel 20:14]

yang hebat di hadapan Allah karena merupakan pelanggaran terhadap hukum kasih dan pencemaran hubungan pernikahan. Dosa-dosa semacam itu dikutuk dalam Alkitab (.Ams 5:3]

dan menempatkan seseorang di luar kerajaan Allah (.Rom 1:24-32; .1Kor 6:9-10; Gal 5:19-21).

3) Tindakan seksual yang tak bermoral dan ketidaksucian bukan saja berupa perbuatan sanggama dan persetubuhan yang terlarang, tetapi juga meliputi setiap perbuatan pemuasan seksual dengan orang lain yang bukan pasangan nikahnya, yang dilaksanakan dengan menyingkapkan ketelanjangan orang tersebut. Ajaran kontemporer yang mengatakan bahwa hubungan seksual di antara kaum muda dan orang dewasa yang belum nikah tetapi sudah bertunangan dapat diterima sejauh tidak terjadi hubungan sanggama, merupakan ajaran yang bertentangan dengan kekudusan Allah dan norma kesucian Alkitab. Allah secara tegas melarang setiap bentuk “hubungan seksual dengan” (secara harfiah artinya “menyingkapkan ketelanjangan”) siapa saja yang bukan suami atau istri yang sah (.Im 18:6-30; .Im 20:11,17,19-21;Im 18:6]

4) Orang percaya harus menjalankan penguasaan diri dalam kaitan dengan semua hal seksual sebelum pernikahan. Membenarkan keintiman seksual pranikah dalam nama Kristus hanya berlandaskan suatu komitmen yang sungguh-sungguh atau yang hanya dirasakan kepada pasangannya secara terang-terangan mencemarkan norma-norma kudus dari Allah dengan cara-cara duniawi sehingga sesungguhnya membenarkan kedursilaan. Setelah menikah, keintiman seksual harus terbatas pada pasangan nikahnya saja. Alkitab menyebutkan penguasaan diri sebagai salah satu aspek buah Roh, kelakuan yang positif dan murni yang bertentangan dengan permainan seksual, pemuasan seksual, perzinaan dan ketidakmurnian. Komitmen iman seseorang terhadap kehendak Allah dalam hal kemurnian akan membuka jalan untuk menerima karunia penguasaan diri oleh Roh Kudus ini (.Gal 5:22-24).

5) Istilah-istilah Alkitab yang digunakan untuk tindakan seksual yang dursila, yang menggambarkan luas kejahatan itu, adalah sebagai berikut:

( a) Kedursilaan seksual (Yun. _porneia_) menggambarkan aneka ragam perbuatan seksual sebelum atau di luar pernikahan; istilah ini tidak terbatas pada perbuatan sanggama. Setiap kegiatan atau permainan seksual yang intim di luar hubungan pernikahan, termasuk menyentuh bagian-bagian kelamin atau menyingkapkan ketelanjangan seseorang, terangkum dalam istilah ini dan jelas merupakan pelanggaran terhadap norma-norma moral Allah bagi umat-Nya (lih. .Im 18:6-30; .Im 20:11-12,17,19-21; 1Kor 6:18; 1Tes 4:3).

( b) Sensualitas (Yun. _aselgeia_) menunjuk kepada ketiadaan prinsip moral, khususnya mengabaikan penguasaan diri dalam hal seksual yang menjaga kemurnian perilaku (1Tim 2:9]

mengenai perilaku yang senonoh). Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk menurutkan atau merangsang nafsu berahi sehingga dengan demikian mengambil bagian dalam tindakan yang tidak dibenarkan Alkitab (.Gal 5:19; Ef 4:19; 1Pet 4:3; 2Pet 2:2,18).

( c) Mengambil keuntungan dari orang (Yun. _pleonekteo_) berarti merampas kemurnian moral yang diinginkan Allah bagi orang itu dengan tujuan memuaskan nafsunya sendiri. Membangkitkan nafsu seksual di dalam diri orang lain yang tidak boleh dipuaskan secara benar berarti mengeksploitasi atau menarik keuntungan dari orang tersebut (.1Tes 4:6; bd. .Ef 4:19). (d) Nafsu (Yun. _epithumia_) adalah memiliki keinginan dursila yang akan dipenuhi jika kesempatan tersedia (.Ef 4:19,22; 1Pet 4:3; .2Pet 2:18; Mat 5:28]

KEYAKINAN AKAN KESELAMATAN

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 5:32 am on Tuesday, November 11, 2008

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1Yoh 5:13)

Setiap orang Kristen ingin memiliki keyakinan akan keselamatan yaitu kepastian bahwa pada saat Kristus datang kembali atau maut tiba, dia akan berjumpa dengan Tuhan Yesus di sorga (.Fili 1:23). Maksud Yohanes dengan menulis surat ini ialah supaya umat Allah boleh memiliki keyakinan itu (.1Yoh 5:13). Perhatikan bahwa sepanjang surat ini Yohanes tidak pernah menyatakan bahwa suatu pengalaman pertobatan di masa lampau merupakan keyakinan atau jaminan keselamatan. Menganggap bahwa kita memiliki hidup kekal hanya berdasarkan pengalaman yang lampau atau iman yang tidak hidup lagi adalah suatu kesalahan yang serius. Surat ini memberikan sembilan cara bagi kita untuk mengetahui apakah kita memiliki hubungan yang menyelamatkan dengan Yesus Kristus.

1) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita percaya “kepada nama Anak Allah” (.1Yoh 5:13; bd. .1Yoh 4:15; 5:1,5). Tidak ada hidup kekal atau keyakinan akan keselamatan tanpa iman sungguh-sungguh pada Yesus Kristus yang mengakui Dia sebagai Anak Allah, diutus untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat kita

2) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita menghormati Kristus sebagai Tuhan dalam kehidupan kita dan sungguh-sungguh berusaha untuk menaati perintah-Nya. “Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia” (.1Yoh 2:3-5; bd. .1Yoh 3:24; 5:2; Yoh 8:31,51; 14:21- 24; .Yoh 15:9-14; Ibr 5:9).

3) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita mengasihi Bapa dan Anak dan bukan dunia, dan jikalau kita mengalahkan pengaruh dunia. “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (.1Yoh 2:15-16; bd. .1Yoh 4:4-6; 5:4;

4) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita sudah biasa dan dengan tekun melakukan kebenaran dan bukan dosa. “Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang yang berbuat kebenaran, lahir daripada-Nya” (.1Yoh 2:29). Pada pihak lain, “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis” (.1Yoh 3:7-10;1Yoh 3:9]

5) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita mengasihi sesama saudara seiman. “Kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita … Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah” (.1Yoh 3:14,19; bd. .1Yoh 2:9-11; 3:23; 4:8,11-12,16,20; 5:1; .Yoh 13:34-35).

6) Kita memilki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita sadar bahwa Roh Kudus berdiam di dalam diri kita. “Dan demikianlah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita” (.1Yoh 3:24). Lagi, “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya” ( .1Yoh 4:13).

7) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita berusaha sungguh mengikuti teladan Yesus dan hidup seperti Dia, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (.1Yoh 2:6; bd. .Yoh 8:12).
8) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita percaya, menerima dan tetap tinggal di dalam “Firman hidup”, yaitu Kristus yang hidup (.1Yoh 1:1), dan dalam berita asli dari Kristus dan para rasul PB. “Dan kamu, apa yang telah kamu dengar dari mulanya, itu harus tetap tinggal di dalam kamu. Jika apa yang telah kamu dengar dari mulanya itu tetap tinggal dalam kamu, maka kamu akan tetap tinggal di dalam Anak dan di dalam Bapa” (.1Yoh 2:24; bd. .1Yoh 1:1-5; 4:6).

9) Kita memiliki keyakinan akan hidup kekal jikalau kita sungguh merindukan dan mengharapkan kedatangan Kristus untuk membawa kita bersama-Nya. “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada- Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (.1Yoh 3:2-3; bd. .Yoh 14:1-3).

CD SABDA 3.0

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH YANG MENGIJINKAN PENDERITAAN

Filed under: Uncategorized — dedewijaya at 5:24 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Kebebasan Memilih dapat Mengakibatkan Penderitaan

2. Penderitaan dapat Memperingatkan Kita akan Adanya Bahaya

3. Penderitaan Menyingkapkan Isi Hati Kita4. Penderitaan Membawa Kita ke Gerbang Kekekalan5. Penderitaan Melepaskan Ikatan Kita Atas Dunia Ini6. Penderitaan Memberi Kesempatan untuk Mempercayai Allah7. Allah Menderita Bersama Kita di Dalam Penderitaan Kita8. Penguatan dari Allah Lebih Besar Dibanding Penderitaan Kita9. Dalam Waktu Krisis Kita Saling Mendekatkan Diri Satu Sama Lain10. Allah Dapat Mengubah Penderitaan untuk Kebaikan Kita

1. KEBEBASAN MEMILIH DAPAT MENGAKIBATKAN PENDERITAAN

Orangtua yang mengasihi cenderung melindungi anak-anaknya dari penderitaan yang
tidak perlu. Tetapi orangtua yang bijaksana mengetahui bahwa perlindungan yang
berlebihan juga berbahaya. Mereka mengetahui bahwa kebebasan untuk memilih
adalah hal hakiki dalam keberadaan manusia, dan bahwa suatu dunia tanpa pilihan
akan lebih buruk daripada dunia tanpa penderitaan. Lebih buruk lagi suatu dunia
yang dihuni oleh orang yang dapat membuat pilihan salah tanpa merasakan derita
sedikitpun. Tak ada yang lebih berbahaya dibanding penipu, pencuri, atau
pembunuh yang tidak merasakan kerugian yang dilakukannya terhadap dirinya
sendiri dan orang lain. (.Kej 2:15-17)

2. PENDERITAAN DAPAT MEMPERINGATKAN KITA AKAN ADANYA BAHAYA

Kita tidak menyukai penderitaan, khususnya derita yang menimpa orang yang kita
cintai. Namun bila tidak ada rasa sakit, orang sakit tidak akan pergi ke dokter,
tubuh yang lelah tidak akan diberi istirahat, dan anak-anak akan menertawakan
nasihat. Tanpa perasaan resah dalam hati nurani, tanpa perasaan tidak puas
karena kebosanan hidup sehari-hari, atau tanpa perasaan hampa karena tidak
berarti, manusia akan kurang merindukan kepuasan yang seharusnya ditemukannya di
dalam Bapa yang kekal. Contoh Salomo, yang tergoda oleh kenikmatan dan mendapat
pelajaran melalui penderitaannya, memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang
paling bijaksana sekalipun cenderung untuk menjauhkan diri dari hal yang baik
dan dari Allah sampai akhirnya disadarkan oleh penderitaan yang diakibatkan oleh
pilihan-pilihannya yang berwawasan sempit (.Pen 1-12; Maz 78:34-35;
.Rom 3:10-18).

3. PENDERITAAN MENYINGKAPKAN ISI HATI KITA

Penderitaan sering disebabkan oleh orang lain. Namun penderitaan dapat
menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Kemampuan untuk mengasihi,
mengampuni, marah, iri hati, dan kesombongan yang terpendam akan muncul ke
permukaan didorong oleh penderitaan. Kekuatan dan kelemahan hati tidak ditemukan
ketika segalanya berjalan lancar tetapi ketika api penderitaan dan pencobaan
menguji karakter kita. Sebagaimana emas dan perak dimurnikan oleh api, dan
sebagaimana batu bara butuh waktu dan tekanan untuk menjadi berlian, demikianlah
hati manusia tersingkap dan berkembang dalam tempaan waktu dan situasi-kondisi.
Kekuatan karakter tampak bukan ketika segala sesuatu berjalan dengan baik tetapi
ketika sakit dan penderitaan datang menimpa (.Ayu 42:1-17; Rom 5:3-5;
.Yak 1:2-5; 1Pe 1:6-8).

4. PENDERITAAN MEMBAWA KITA KE GERBANG KEKEKALAN

Seandainya kematian adalah akhir segalanya, maka suatu kehidupan yang dipenuhi
penderitaan adalah tidak adil. Namun jika akhir kehidupan ini membawa kita ke
gerbang kekekalan, maka orang yang paling beruntung di dunia ini adalah mereka
yang menemukan, melalui penderitaan, bahwa hidup di dunia ini bukanlah
segalanya. Orang yang menemukan diri sendiri dan Allahnya yang kekal melalui
penderitaan adalah orang yang tidak menyia-nyiakan penderitaannya. Mereka telah
mengizinkan kemiskinan, kedukaan, dan kelaparannya untuk membawanya kepada Tuhan
kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang akan menemukan sukacita tak
berkesudahan seperti yang dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang miskin di
hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (.Mat 5:1-12;
.Rom 8:18-9).

5. PENDERITAAN MELEPASKAN IKATAN KITA ATAS DUNIA INI

Dengan berlalunya waktu, pekerjaan dan pemikiran kita akan semakin berkurang.
Tubuh kita semakin memburuk. Berangsur-angsur tubuh menjadi usang. Sendi-sendi
menjadi kaku dan nyeri. Mata semakin kabur. Pencernaan lambat. Tidur menjadi
sulit. Masalah semakin membesar sementara pilihan semakin sedikit. Namun, jika
kematian bukanlah akhir tetapi awal dari hari yang baru, maka masa tua juga
suatu berkat. Setiap penderitaan yang baru akan membuat dunia ini kurang menarik
dan membuat kehidupan yang akan datang lebih menarik. Dengan caranya sendiri,
penderitaan membuka jalan untuk kita meninggalkan dunia dengan tenang
(.Pen 12:1-14).

6. PENDERITAAN MEMBERI KESEMPATAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH

Penderita yang paling terkenal sepanjang masa adalah seorang laki-laki bernama
Ayub. Menurut Alkitab, Ayub kehilangan keluarganya karena “angin ribut,”
kekayaannya terbang dan hangus, dan tubuhnya menderita bisul-bisul yang
menyakitkan. Dalam kesemuanya itu, Allah tidak pernah memberitahu Ayub mengapa
hal itu terjadi. Ketika Ayub menanggung tudingan teman-temannya, Surga tetap
membisu. Ketika akhirnya Allah berbicara, Ia tidak memberitahukan Ayub bahwa
musuh utama-Nya, si Iblis, telah menguji motif Ayub dalam melayani Allah. Tuhan
juga tidak meminta maaf kepadanya karena Ia telah mengizinkan Iblis untuk
menguji kesetiaan Ayub terhadap-Nya. Malahan, Allah berbicara tentang kambing-kambing gunung yang melahirkan, singa-singa muda yang memburu mangsanya, dan burung-burung gagak di sarangnya. Dia juga berbicara tentang perilaku burung unta, kekuatan lembu hutan, dan langkah kaki kuda. Allah berbicara tentang keajaiban langit,
lautan, dan siklus musim-musim. Ayub diharap dapat menyimpulkan sendiri bahwa
jika Allah mempunyai kuasa dan kebijaksanaan untuk menciptakan alam semesta,
maka ada alasan untuk mempercayai Allah yang ini dalam masa-masa penderitaan
(.Ayu 1:1-42:17).

7. ALLAH MENDERITA BERSAMA KITA DI DALAM PENDERITAAN KITA

Tak seorang pun yang pernah menderita lebih daripada Bapa kita di Surga. Tak
seorangpun yang pernah membayar harga dosa dunia lebih mahal daripada Dia. Tak
seorangpun yang terus menerus sangat berduka ketika umat manusia semakin jahat.
Tak seorangpun pernah menderita seperti Dia yang membayar dosa-dosa kita di
dalam tubuh Putera-Nya sendiri, tubuh yang disalibkan. Tak seorang pun pernah
menderita lebih daripada Dia yang, ketika membentangkan tangan-Nya dan mati,
memperlihatkan betapa besar kasih-Nya kepada kita. Inilah Allah yang, dengan
menarik kita kepada Diri-Nya, meminta kita untuk mempercayai-Nya ketika kita
sedang menderita dan ketika orang-orang yang kita kasihi berkeluh-kesah di
hadapan kita (.1Pe 2:21; 3:18; 4:1).

8. PENGUATAN DARI ALLAH LEBIH BESAR DIBANDING PENDERITAAN KITA

Rasul Paulus memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan sumber penderitaannya yang
tidak jelas. Tetapi Tuhan malah berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” “Sebab itu,” kata
Paulus, “terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun
menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam
siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena
Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (.2Ko 12:9-10) Paulus
belajar bahwa dia lebih suka bersama Kristus dalam penderitaan daripada tanpa
Kristus dalam kesehatan yang baik dan keadaan yang menyenangkan.

9. DALAM WAKTU KRISIS KITA SALING MENDEKATKAN DIRI SATU SAMA LAIN

Tak seorang pun memilih sakit dan penderitaan. Namun ketika tidak ada pilihan
lain, kita tetap masih memiliki penghiburan. Bencana alam dan waktu krisis
membuka kesempatan untuk mempersatukan kita. Angin ribut, kebakaran, gempa bumi,
kerusuhan, penyakit, dan kecelakaan, semuanya mempunyai jalan untuk menyadarkan
kita. Tiba-tiba kita menyadari kefanaan kita dan bahwa manusia lebih penting
daripada benda. Kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan dan di atas
segalanya kita membutuhkan Allah. Setiap kali kita mendapatkan penghiburan Allah
di dalam penderitaan kita, kemampuan kita untuk menolong orang lain bertambah.
Inilah yang ada dalam pikiran Rasul Paulus ketika dia menulis, “Terpujilah
Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah
sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami,
sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam
penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”
(.2Ko 1:3-4)

10. ALLAH DAPAT MENGUBAH PENDERITAAN UNTUK KEBAIKAN KITA

Alkitab memberikan banyak contoh mengenai kebenaran ini. Dalam penderitaan Ayub,
kita melihat bahwa bukan hanya pemahamannya mengenai Allah menjadi lebih
mendalam, tetapi ia juga menjadi sumber penguatan bagi orang lain dalam setiap
generasi selanjutnya. Dalam penolakan, pengkhianatan, perbudakan, dan dimasukkan
ke dalam penjara tanpa bersalah, yang terjadi atas Yusuf, kita menyaksikan
seseorang yang akhirnya mampu berkata kepada mereka yang telah mencelakakannya,
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah
mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (.Kej 50:20) Ketika segala
sesuatu di dalam diri kita berteriak ke surga karena Allah mengizinkan kita
menderita, kita memiliki alasan untuk berharap bahwa kita akan mendapatkan hasil
abadi dan sukacita Yesus, yang di dalam penderitaan-Nya di kayu salib berteriak,
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (.Mat 27:46)

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika ketidakadilan dan penderitaan hidup membuat Anda tidak
yakin bahwa Allah di Surga peduli kepada Anda. Tetapi renungkanlah kembali
penderitaan Seseorang yang disebut oleh nabi Yesaya sebagai “Seorang yang penuh
kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.” (.Yes 53:3)
Renungkanlah punggung-Nya yang dicambuk, dahi-Nya yang berdarah, tangan dan
kaki-Nya yang berlubang paku, lambung-Nya yang ditikam, pergumulan-Nya yang
sangat berat di Taman Getsemani, dan tangis kepedihan-Nya karena ditinggalkan.
Renungkanlah pernyataan Kristus bahwa Dia menderita bukan untuk dosa-dosa-Nya melainkan untuk dosa-dosa kita. Untuk memberikan kepada kita kebebasan memilih, Dia membiarkan kita menderita. Namun Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan hukuman terakhir bagi semua dosa-dosa kita (.2Ko 5:21, 1Pe 2:24).

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd. (cd SABDA 3.0)

10 ALASAN PERCAYA ORANG KRISTEN DAPAT TAMPAK SEPERTI BUKAN KRISTEN

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 5:14 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Kekecewaan terhadap Allah

2. Kebingungan

3. Hubungan yang Berbahaya

4. Kebiasaan-Kebiasaan Lama yang tidak Berubah

5. Mengandalkan Diri

6. Tidak Berdoa

7. Kecerobohan

8. Hati yang tidak Teruji

9. Musuh yang tidak Tampak

10. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab

1. KEKECEWAAN TERHADAP ALLAH

Banyak orang Kristen mengatakan melalui tindakan mereka apa yang tidak berani diucapkan oleh mulut mereka. Bahkan ekspresi wajah mereka saja sudah menunjukkan kesuraman dan kebosanan. Perilaku demikian membuat orang sulit percaya bahwa iman mereka betul-betul memberi mereka kepuasan. Bagaimana mungkin orang lain diharapkan percaya kepada Allah yang bahkan tidak memenuhi harapan para pengikut-Nya? Alkitab mengatakan ada pengikut-pengikut Kristus yang tidak otentik. Sekilas mereka terlihat sungguh-sungguh, tetapi kenyataannya tidak. (Mat 7:21-23; 13:24-30; 1Yo 2:18-19) Namun adanya penyusup-penyusup yang berpura-pura ini bukanlah realitas satu-satunya. Alkitab tidak menyembunyikan kenyataan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman juga pernah kecewa terhadap Allah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan contoh orang-orang yang putus asa atau bahkan marah kepada Allah karena Dia membiarkan mereka menderita pada saat-saat mereka mengharapkan perlindungan dari Dia. (Bil 14:1-4; Maz 73)

2. KEBINGUNGAN

Pada saat tertekan, bahkan juga pada waktu makmur, orang Kristen sejati dapat
dibingungkan sehingga beralih dari keyakinan bahwa kesejahteraan utama mereka sesungguhnya tidak terletak di tangan orang lain atau keadaan. Karena gangguan dan kebingungan yang terus-menerus muncul, Alkitab menasihati umat Allah untuk senantiasa memperbarui pikiran mereka dengan cara mengingat apa yang telah Allah lakukan untuk mereka. (Rom 12:1-2) Kitab Suci mendorong orang-orang percaya untuk memelihara pengharapan dan iman mereka dengan mengasah ingatan mereka tentang apa yang telah mereka ketahui. (2 Pet 1:1-15) Alasannya jelas. Terkikisnya ingatan seringkali merusak karakter dan perilaku Kristiani. (Ul 6:10-12)

3. HUBUNGAN YANG BERBAHAYA

Yesus dikenal dari orang-orang yang berkumpul dengan-Nya. Dia makan dan minum dengan orang-orang yang dijauhi oleh para pemimpin agama. Tetapi Yesus makan dan minum dengan orang-orang demikian bukanlah karena Dia tertarik mengikuti cara hidup mereka. Dia melakukan hal itu untuk menjadi teman terbaik yang dapat dimiliki oleh seorang pendosa. Bila dilandasi oleh motivasi yang salah, hubungan seperti yang dilakukan oleh Yesus dapat menjadi sangat berbahaya. Tanpa tujuan-tujuan-Nya yang kuat dan penuh kasih, tuduhan bahwa Dia adalah “sahabat orang berdosa” akan
mempunyai efek yang jauh lebih merusak. Rasul-Nya sendiri, yakni Paulus, menulis mengenai hal tersebut: “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi.” (1 Kor 15:33-34) Bahkan Raja Salomo yang bijaksana membayar mahal untuk hubungan yang terlarang itu. (1 Ra 11:1-13) Kekalutan
yang dia alami membuat dia bertindak seperti seorang yang tidak pernah mengenal Allah (Pen 1-12).

4. KEBIASAAN-KEBIASAAN LAMA YANG TIDAK BERUBAH

Seorang Kristen sejati bisa saja telah mengambil keputusan-keputusan iman yang mengubah cara mereka berpikir tentang Allah dan tentang diri mereka, tetapi mereka belum dapat mengatasi pergumulan dengan egoisme mereka. Secara moral mereka juga tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Kecenderungan mereka untuk cinta-diri tak berubah sedikitpun. (.Rom 7:14-25) Nafsu-nafsu yang menarik mereka kepada perbuatan duniawi hampir sepasti gaya gravitasi. Bila orang Kristen sejati tidak lagi hidup di bawah pimpinan Roh Kudus dan Firman Allah, (.Gal 5:16-26) maka segera mereka akan kembali hidup mementingkan diri sendiri, seperti halnya layang-layang yang jatuh ke bumi karena terhentinya tiupan angin.

5. MENGANDALKAN DIRI

Allah meminta umat-Nya untuk mempercayai-Nya sesuai dengan cara-cara yang Dia tetapkan, bukan sesuai kemauan mereka. Dia menasihati mereka untuk tidak bergantung pada pengertian mereka sendiri, tetapi menggunakan pertimbangan dan pemikiran terbaik mereka untuk bersandar kepada Dia. Dia mengundang anak-anak-Nya untuk membiarkan Dia hidup di dalam mereka. Mereka yang melupakan prinsip hidup bersandar pada Allah seringkali masih menganggap diri mereka adalah orang Kristen sejati. Bahkan murid-murid Kristus pun belajar dengan cara menyakitkan tentang bahaya bersandar pada diri sendiri. Pada malam ketika Yesus ditangkap, Petrus, seorang murid yang paling dekat dengan-Nya dan seorang nelayan yang
paling keras kepala, mengumumkan bahwa dia siap mengikuti Guru-Nya menuju penjara atau pun kematian. (.Luk 22:33) Tetapi hanya dalam beberapa jam kemudian dia berkali-kali menyangkal bahwa dia pernah mengenal Yesus orang Galilea itu. Keyakinan dirinya yang keliru itu dicatat sebagai peringatan bagi kita.

6. TIDAK BERDOA

Orang Kristen yang berpura-pura biasanya terkenal munafik di dalam doa-doa
mereka. (.Mat 6:5-8) Orang Kristen sejati menggunakan doa bukan
untuk membuat orang lain terkesan tapi sebagai cara yang tulus untuk berterima kasih, mengakui dosa, dan meminta tuntunan dan pertolongan. Mereka tahu bahwa berdoa adalah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin bertumbuh dalam hubungan
pribadi dengan Allah. Bila para pengikut Kristus tidak memperlihatkan
ketergantungan di dalam doa, maka mereka akan bertindak persis seperti orang-orang lainnya. (.Yak 4:1-6) Yesus memperingatkan murid-murid-Nya mengenai kemungkinan terjadinya hal ini pada malam ketika Dia ditangkap. Di sela-sela pergumulan doa-Nya, Dia berkata kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah, .”( .Mat 26:41)

7. KECEROBOHAN

Raja Daud adalah seorang yang mempunyai iman sejati. Karena dia mencintai hukum-hukum Allah, maka dia berketetapan hati untuk menghindari kegagalan moral dan rohani.
(.Maz 119:11) Alkitab sendiri mengakui bahwa dia adalah seorang yang
berkenan di hati Allah (.Kis 13:22). Tetapi catatan kerohaniannya
yang gemilang tersebut tidaklah dapat mencegah Daud menjadi seorang penzinah dan
pembunuh. Suatu malam, ketika orang-orang pergi berperang untuknya, dan ketika
dia berdiri di atas sotoh rumahnya yang aman, dia menggunakan kekuasaan
jabatannya untuk mengambil istri orang lain. Dalam kejatuhan tersebut, Daud
belajar makna pernyataan ini: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh
berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh, .”( .1Ko 10:12)

8. HATI YANG TIDAK TERUJI

Sebagai pengajar hati manusia, Yesus mengingatkan kita bahwa motivasi yang tidak
diuji dapat menimbulkan aneka bentuk penipuan diri sendiri. Nabi Yeremia juga
mengakui bahaya dari “kegelapan batiniah” ketika dia menulis: “Betapa liciknya
hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang
dapat mengetahuinya?” (.Yer 17:9) Psikologi modern memperlihatkan
kecenderungan kita untuk menghindari rasa sakit emosional dengan pelbagai cara
pengalihan dan penyangkalan. Psikologi juga mencatat kebiasaan-kebiasaan hati
kita yang mencoba menumpulkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah
yang nyata maupun yang palsu. Bagaimanapun, ilmu jiwa tidak dapat mengubah hati
kita. Kita semua punya alasan untuk bergabung dengan Raja Daud dalam doanya,
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah
pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan
yang kekal, .”( .Maz 139:23-24)

9. MUSUH YANG TIDAK TAMPAK

Murid-murid Kristus mempunyai musuh rohani yang berusaha membingungkan mereka
dan mengaburkan pengaruh mereka. Musuh itu sedang berperang untuk melumpuhkan
mereka. Banyak orang yang telah menjadi korban. Tak terhitung jumlah orang-orang
Kristen sejati yang dibuat tidak efektif oleh musuh tersebut yang jauh lebih
halus dan pintar dari yang mereka kira. Memang dia tidak dapat membuat orang-orang
Kristen melakukan dosa, tetapi dia dan antek-anteknya terus-menerus mencari
kelemahan-kelemahan yang dapat dia jadikan sebagai jalan masuk ke dalam
kehidupan orang-orang Kristen sejati. (.Efe 4:27; 6:10-20) Seperti
binatang pemangsa, dia berkeliling mencari korban-korban yang mudah diserang.
(.1Pe 5:8)

10. KURANGNYA RASA TANGGUNG JAWAB

Seseorang tidak mungkin bertumbuh menjadi dewasa rohani dengan hanya melakukan apa yang alamiah. Mereka pun tidak akan menjadi semakin serupa dengan Kristus bila mereka dibiarkan berupaya sendiri. Bahkan orang Kristen terkuat sekalipun tidak mungkin dapat menjalankan hidup kekristenannya sendirian. Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya bukan saja untuk menobatkan orang-orang, tetapi juga untuk mendidik mereka agar hidup sesuai dengan kehendak-Nya. (Mat 28:19-20) Rasul Paulus menyamakan para pengikut Kristus dengan tubuh manusia yang anggota-anggotanya saling tergantung satu sama lain (1Ko 12). Memang saat ini banyak orang senang mengembangkan semangat kemandirian, tetapi sikap demikian tidaklah mencerminkan maksud Kristus yang sesungguhnya bagi gereja-Nya. Kristus memanggil orang bukan hanya untuk datang kepada-Nya, tetapi
juga kepada satu sama lain.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda meragukan kemurnian orang-orang gereja yang tidak bertindak seperti pengikut-pengikut Kristus. Namun adalah keliru bila kita menganggap bahwa mereka yang mengaku diri Kristen adalah Kristen palsu hanya karena tingkah-laku mereka saat ini tidak sesuai dengan kepercayaan mereka.

Berita baiknya adalah bahwa Allah menyelamatkan manusia berdasarkan kasih
karunia (kebaikan yang tidak layak kita terima) melalui kepercayaan kepada Anak-Nya. (Efe 2:8-10) Memang tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan orang Kristen sejati untuk hidup di dalam dosa, tetapi fakta bahwa Allah menyelamatkan manusia yang berdosa melawan Dia, sebelum dan sesudah mereka percaya kepada Anak-Nya, adalah suatu kabar baik bagi kita semua. Jika Allah dapat menyelamatkan orang-orang demikian, Dia dapat menyelamatkan kita pula. Dia menawarkan pengampunan dosa dan kehidupan kekal kepada semua orang yang mau mengakui betapa salahnya mereka telah hidup terpisah dari Dia. Dia menawarkan surga bagi semua orang yang mau percaya bahwa Kristus telah mati bagi dosa-dosa mereka, dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian untuk hidup di dalam siapa pun yang percaya kepadaNya. (.Rom 4:5)

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd. (cd SABDA 3.0)

10 ALASAN MEMPERCAYAI IMAN KRISTEN

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 5:10 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Pendirinya dapat Dipercaya2. Kitabnya dapat Dipercaya
3. Penjelasannya bagi Kehidupan
4. Kesinambungannya dengan Masa Lalu
5. Berita Utamanya sangat Mendasar
6. Kuasanya untuk Mengubah Kehidupan
7. Analisanya terhadap Sifat Dasar Manusia
8. Pandangannya terhadap Prestasi Manusia
9. Pengaruhnya terhadap Masyarakat
10. Keselamatan yang Ditawarkannya

1. PENDIRINYA DAPAT DIPERCAYA

Kristus mengklaim bahwa Dia datang dari surga untuk menggenapi nubuat, untuk
mati bagi dosa-dosa kita, dan untuk membawa semua orang percaya kepada Bapa-Nya.
Akal sehat kita akan berkata: Dia mungkin seorang pembohong, atau seorang gila,
atau seorang tokoh mitos, atau memang benar Dia adalah Tuhan yang datang dari
surga. Para pengikut-Nya di abad pertama telah menarik kesimpulan: Mereka
berkata bahwa mereka melihat-Nya berjalan di atas air, meredakan badai,
menyembuhkan orang lumpuh, memberi makan 5.000 orang dengan beberapa potong roti
dan ikan, hidup tanpa cela, mengalami kematian yang mengerikan, dan bangkit
kembali. Ketika beberapa pengikut Yesus tidak mau menerima ajaran-Nya dan
kemudian meninggalkan-Nya, Ia bertanya kepada murid-murid yang paling dekat
dengan-Nya apakah mereka ingin pergi juga. Petrus mewakili teman-temannya ketika
berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan
hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang
Kudus dari Allah.” (.Yoh 6:68-69)

2. KITABNYA DAPAT DIPERCAYA

Ditulis dalam periode waktu lebih dari 1.600 tahun oleh 40 penulis yang berbeda,
kitab yang menjadi sandaran iman Kristen ini mengisahkan satu cerita yang
dimulai dari penciptaan dan diakhiri pada ambang pintu kekekalan. Penemuan
arkeologi menunjang integritas catatannya baik yang bersifat sejarah maupun
geografis. Keakuratan penyalinan dan penurun-alihannya kepada kita telah
diperkuat oleh gulungan-gulungan naskah yang ditemukan di gua Qumran di tepi
Laut Mati. Alkitab bukan lahir di Timur atau di Barat, tapi di Timur Tengah-
tempat lahirnya peradaban-dan kitab ini tetap berbicara tidak hanya dengan
kuasa rohani tetapi dengan keakuratan nubuatan yang meyakinkan.

3. PENJELASANNYA BAGI KEHIDUPAN

Semua sistim keagamaan mencoba memberi makna bagi kehidupan kita. Mereka mencoba menjelaskan baik kerinduan kita pada makna kehidupan, maupun masalah
penderitaan, dan kematian yang tak dapat dihindari. Setiap agama berusaha
menerapkan keteraturan alam semesta ini ke dalam kehidupan individual manusia.
Tetapi hanya kekristenan yang merefleksikan perhatian yang sungguh-sungguh pada
hal-hal yang detil dalam kehidupan pelbagai jenis makhluk dan ekosistem alam
ini. Adalah Kristus yang berbicara mengenai Bapa yang memperhatikan jatuhnya
seekor burung pipit, Bapa yang bahkan dapat menghitung rambut di kepala kita.
(.Mat 10:29-31) Adalah Kristus yang menyatakan Allah yang betul-betul
memperhatikan ciptaan-Nya. Adalah Kristus yang menjadi manusia untuk merasakan
apa yang kita rasakan, menderita dan mati untuk menggantikan kita. Adalah
Kristus yang menyatakan Allah yang perhatian-Nya pada ciptaan-Nya serinci
seperti yang diperlihatkan oleh alam kita. (.Maz 19:1-6; Rom 1:16-25)

4. KESINAMBUNGANNYA DENGAN MASA LALU

Iman Kristen memiliki kesinambungan dengan akar nenek moyang kita yang terdalam.
Mereka yang percaya kepada Kristus menerima Sang Pencipta dan Tuhan yang sama
yang disembah oleh Adam, Abraham, Sara dan Salomo. Yesus tidak menolak masa
lalu. Dia adalah Allah dari masa lalu. (.Yoh 1:1-14) Ketika Ia
berada di antara manusia, Dia menunjukkan bagaimana hidup menurut rencana Allah
yang mula-mula. Ketika Dia mati, Dia menggenapi seluruh tata cara upacara korban
Perjanjian Lama. Dan ketika Dia bangkit dari kematian, Dia menawarkan
keselamatan yang menggenapkan janji Allah kepada Abraham bahwa melalui
keturunannya seluruh dunia akan diberkati oleh Allah. Iman Kristen bukanlah
sesuatu yang baru dalam Kristus. Dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu hanya
terdapat satu kisah. Itu adalah kisah Allah, dan kisah kita (.Kis 2:22-39;
.1Ko 15:1-8).

5. BERITA UTAMANYA SANGAT MENDASAR

Orang Kristen yang mula-mula tidak digerakkan oleh motivasi politik atau
religius. Berita utama mereka bukan masalah moral atau sosial. Mereka bukanlah
teolog atau filsuf sosial yang piawai. Mereka adalah saksi. Mereka
mempertaruhkan nyawa mereka untuk memberitahu dunia bahwa mereka telah
menyaksikan seorang manusia kudus mati, dan 3 hari kemudian hidup kembali di
tengah-tengah mereka (.Kis 5:17-42). Argumentasi mereka sangat
konkrit. Yesus disalibkan di bawah pemerintahan Gubernur Romawi, Pontius
Pilatus. Tubuh-Nya dikuburkan tertutup di dalam sebuah kuburan pinjaman.
Penjaga-penjaga ditempatkan untuk mencegah pencurian mayat. Tetapi 3 hari
kemudian kuburan itu kosong dan saksi-saksi yang ada mempertaruhkan nyawa mereka
untuk memberitakan bahwa Dia telah bangkit.

6. KUASANYA UNTUK MENGUBAH KEHIDUPAN

Tidak hanya murid-murid pertama yang mengalami perubahan dramatis, tetapi juga
salah seorang musuh mereka yang paling kejam. Paulus diubah dari seorang
pembunuh umat Kristen menjadi seorang pemberita utama iman Kristen.
(.Gal 1:11-24) Di kemudian hari ketika merenungkan perubahan yang
sama yang terjadi juga pada orang-orang lain, dia berkata: “Janganlah sesat!
Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri,
orang kikir, pemabuk, pemfitnah, dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam
Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi
kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah
dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
(.1Ko 6:9-11)

7. ANALISANYA TERHADAP SIFAT DASAR MANUSIA

Alkitab mengatakan, masalah masyarakat yang sesungguhnya adalah masalah hati.
Dalam jaman informasi dan teknologi ini, kegagalan karakter telah menghancurkan
keluarga, pemerintah, ilmu pengetahuan, industri, agama, pendidikan, dan
kesenian. Di dalam sistim masyarakat yang paling hebat sekalipun, reputasi
bangsa mereka dicoreng oleh permasalahan seperti prasangka rasial, kecanduan,
pelecehan, perceraian, dan penularan penyakit seksual. Banyak orang percaya
bahwa permasalahan manusia berakar pada ketidaktahuan kita, cara makan kita,
atau pemerintah kita. Tetapi Yesus berkata kepada generasi kita dan kepada semua
orang: “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan,
percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.”
(.Mat 15:19-20)

8. PANDANGANNYA TERHADAP PRESTASI MANUSIA

Setiap generasi senantiasa mengharapkan yang terbaik. Kita berperang untuk
mengakhiri semua peperangan. Kita mengembangkan teori-teori pendidikan yang akan
menghasilkan anak-anak yang penuh kesadaran dan tidak melakukan kekerasan. Kita
menciptakan teknologi yang akan membebaskan kita dari pekerjaan yang memperbudak
kita. Sekalipun demikian, saat ini kita justru begitu dekat dengan gambaran
Perjanjian Baru tentang tanda-tanda akhir jaman: peperangan, kabar perang, gempa
bumi, sakit-penyakit, kehilangan kasih, dan ibadah yang pura-pura.
(.Mat 24:5-31; 2Ti 3:1-5)

9. PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT

Seorang tukang kayu dari Nazaret telah mengubah dunia. Kalender dan dokumen yang
bertanggal adalah saksi bisu dari kelahiran-Nya. Pada atap rumah, kalung, dan
anting-anting, lambang Salib menjadi saksi kematian-Nya. Filsafat Barat, yang
menjadi dasar bagi moralitas sosial, metodologi ilmiah, dan etika kerja dalam
dunia industri, berakar pada nilai-nilai dasar Kristen. Lembaga-lembaga
kemanusiaan, baik di Barat maupun Timur, tidak dijiwai oleh nilai-nilai agama-agama
lain, ateisme, atau pun agnostisisme sekuler, tetapi oleh nilai-nilai yang
berasal dari Alkitab.

10. KESELAMATAN YANG DITAWARKANNYA

Agama-agama lain memiliki juruselamat yang tinggal dalam kuburan. Tidak ada
agama lain yang menawarkan kehidupan kekal sebagai suatu anugerah bagi mereka
yang percaya kepada Dia yang telah mengalahkan maut. Tidak ada agama lain yang
menawarkan jaminan pengampunan, kehidupan kekal, dan pengangkatan sebagai anak
dalam keluarga Allah dengan hanya memanggil dan percaya kepada Dia seperti
halnya seorang yang nyaris tenggelam memanggil dan mengandalkan seorang
penyelamat. (.Rom 10:9-13) Keselamatan yang ditawarkan Kristus tidak
tergantung pada apa yang telah kita lakukan untuk Dia, tetapi tergantung pada
penerimaan kita atas apa yang telah dikerjakan-Nya untuk kita. Keselamatan tidak
datang melalui upaya-upaya moral dan religius, tetapi pengakuan dosa; tidak
melalui prestasi iman, tetapi pengakuan kegagalan. Berbeda dengan sistim
keagamaan lain, Kristus meminta kita mengikuti-Nya bukan untuk mendapatkan upah
keselamatan tetapi sebagai ungkapan rasa syukur, cinta, dan kepercayaan kepada Dia yang telah menyelamatkan kita. (Efe 2:8-10)

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda masih ragu pada alasan perlunya percaya kepada Kristus. Namun ingatlah pernyataan Yesus bahwa kita tidak perlu mengatasi keraguan kita sendirian. Ia berkata, “Barangsiapa mau melakukan kehendak Allah, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diriKu sendiri.” (.Yoh 7:17)

Tetapi bila Anda sungguh-sungguh melihat perlunya percaya kepada Kristus,
ingatlah juga apa yang dikatakan Alkitab kepada keluarga Allah, “Sebab karena
kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efe 2:8-9) Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah
upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

(cd SABDA 3.0)

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 5:06 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Ketidakadilan dalam Kehidupan

2. Keindahan dan Keseimbangan

3. Pengalaman-Pengalaman Menjelang Ajal4. Suatu Tempat di Dalam Hati5. Kepercayaan yang Universal6. Allah yang Kekal7. Nubuat-Nubuat Perjanjian Lama8. Perkataan-Perkataan Kristus9. Kebangkitan Kristus10. Akibat-Akibat Praktis

1. KETIDAKADILAN DALAM KEHIDUPAN

Kita akan sulit percaya bahwa kehidupan ini benar-benar baik jika di balik
kuburan tidak ada apa-apa lagi sebagai kompensasi bagi masalah-masalah
ketidakadilan. Sementara sebagian orang kelihatannya ditakdirkan untuk
kebahagiaan, yang lainnya dilahirkan di dalam keadaan yang mengerikan. Jika kita
yakin tidak ada suatu apapun yang dapat menyeimbangkan ketidak-setaraan
pembagian penderitaan, maka banyak orang punya alasan untuk mengutuk hari
kelahiran mereka karena kehidupan sengsara yang mereka terima. (.Ayu 3:1-3)
Kita bisa menyetujui Raja Salomo, ketika pada suatu masa yang kelam dalam
kehidupannya, berkata, “Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah
matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang
menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan. Oleh
sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih
bahagia dari pada orang-orang hidup, yang sekarang masih hidup. Tetapi yang
lebih bahagia dari pada kedua-duanya itu kuanggap orang yang belum ada, yang
belum melihat perbuatan jahat, yang terjadi di bawah matahari,” (.Pen 4:1-3).

2. KEINDAHAN DAN KESEIMBANGAN

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang kelihatannya tidak sesuai dengan
masalah-masalah ketidakadilan dan penderitaan. Untuk segala sesuatu yang
menyakitkan dan tidak adil, ada keindahan dan keseimbangan. Untuk saat-saat
penuh ketakutan dan kekerasan, ada saat-saat penuh keharmonisan dan kedamaian.
Sementara tubuh-tubuh yang dimakan usia menyerah pada rasa sakit dan kelemahan,
anak-anak dan binatang-binatang muda dengan gembira bermain tanpa beban.
Kesenian manusia, dalam segala keagungannya, menyaingi burung-burung yang
beterbangan dan menyanyikan nyanyian pagi. Setiap saat matahari tenggelam dan
terbit memberikan suatu jawaban bagi kebutuhan alam untuk istirahat dan
pemulihan. Malam-malam gelap dan musim dingin yang beku datang dengan kesadaran
bahwa “semua ini juga akan berlalu.” Jika tidak ada apapun di balik kuburan,
pola alam yang indah ini sama sekali tidak lengkap.

3. PENGALAMAN-PENGALAMAN MENJELANG AJAL

Bukti klinis tentang kehidupan setelah kematian bersifat subyektif dan dapat
dipertanyakan. Seringkali kita sulit menilai arti dari “pengalaman-pengalaman di
luar tubuh,” misalnya, bertemu dengan sinar terang, terowongan panjang, atau
malaikat penuntun. Juga sulit untuk mengetahui bagaimana harus menanggapi mereka
yang berbicara tentang penglihatan-penglihatan tentang surga atau neraka ketika
mereka menjelang ajal. Apa yang kita ketahui adalah bahwa ada cukup banyak
pengalaman seperti ini untuk menciptakan suatu perpustakaan yang lumayan besar
untuk memuat topik ini. Secara keseluruhan, kumpulan dari bukti-bukti ini
menunjukkan bahwa ketika mendekati ajal, banyak orang yang merasakan mereka
bukan sedang menuju kepada akhir dari keberadaan mereka melainkan kepada awal
dari suatu perjalanan yang lain.

4. SUATU TEMPAT DI DALAM HATI

Hati manusia merindukan lebih dari apa yang dapat ditawarkan oleh kehidupan ini.
Setiap kita mengalami apa yang disebut oleh Raja Salomo sebagai “kekekalan di
dalam hati (kita),” (.Pen 3:11). Sekalipun sulit memahami maksud
Salomo, jelas bahwa ia sedang menunjuk pada kerinduan yang tak terhindarkan pada
sesuatu yang tidak dapat dipenuhi oleh dunia ini. Hal itu adalah suatu
kekosongan jiwa yang juga tidak dapat dihindari oleh Salomo. Untuk sesaat, ia
berusaha mengisi kekosongan batin tersebut dengan pekerjaan, alkohol, dan tawa.
Ia mencoba untuk memuaskan rasa rindu itu dengan filsafat, musik, dan hubungan
seksual. Tetapi kekecewaannya kian bertambah. Hanya ketika ia kembali pada
kepercayaan adanya penghakiman akhir dan kehidupan sesudah kematian, dia dapat
menemukan sesuatu yang cukup besar untuk memuaskan rasa rindunya pada makna
kehidupan (.Pen 12:14).

5. KEPERCAYAAN YANG UNIVERSAL

Sementara sebagian orang percaya pada ketidak-mungkinan mengetahui adanya
kehidupan sesudah kematian, kepercayaan kepada kekekalan adalah suatu fenomena
yang universal. Dari piramida-piramida Mesir sampai munculnya pemikiran Gerakan
Zaman Baru, orang dari segala zaman dan tempat telah percaya bahwa jiwa manusia
tetap hidup setelah kematian. Jika tidak ada kesadaran atau tawa atau penyesalan
di balik kubur, maka kehidupan telah membohongi hampir setiap orang dari Firaun
dari Mesir sampai Yesus dari Nazaret.

6. ALLAH YANG KEKAL

Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kekekalan. Sifat-sifat-Nya adalah
abadi. Alkitab yang sama memberitahu kita bahwa Allah menciptakan kita menurut
citra-Nya, dan bahwa rencana-Nya adalah untuk membawa anak-anak-Nya untuk masuk
ke dalam rumah-Nya yang kekal. Kitab Suci ini juga mengajarkan bahwa kematian
terjadi dalam kehidupan manusia karena nenek-moyang kita, yakni Adam dan Hawa,
telah melanggar larangan Allah. (.Kej 3:1-19) Implikasinya adalah
jika Allah membiarkan umat manusia hidup selamanya dalam kondisi memberontak
kepada Allah, kita akan memiliki kesempatan yang tak habis-habisnya untuk
mengembangkan diri menjadi ciptaan yang angkuh dan egois. Tetapi sebaliknya,
Allah mulai menyingkapkan suatu rencana yang pada akhirnya akan menghasilkan
pulangnya orang-orang ke rumah Allah yang kekal, yakni orang-orang yang memilih
hidup damai dengan Allah. (.Maz 90:1; Yoh 14:1-3)

7. NUBUAT-NUBUAT PERJANJIAN LAMA

Sebagian orang berargumentasi bahwa kekekalan adalah suatu pemikiran Perjanjian
Baru. Tetapi Daniel, seorang nabi Perjanjian Lama, telah berbicara tentang suatu
hari di mana mereka yang mati akan dibangkitkan, sebagian untuk mendapat hidup
kekal, dan sebagian lagi untuk mendapat kehinaan kekal. (.Dan 12:1-3)
Seorang penulis Mazmur juga berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Dalam
.Maz 73, seorang bernama Asaf menggambarkan bagaimana ia hampir
kehilangan imannya kepada Allah ketika ia memikirkan orang fasik yang mengalami
kemujuran sementara orang benar menderita. Tetapi kemudian ia berkata bahwa ia
masuk ke dalam tempat kudus Allah. Dari perspektif ibadah, ia tiba-tiba melihat
orang fasik berdiri pada tempat yang licin dari kefanaan mereka. Dengan
pemahaman yang baru, ia mengakui, “Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan
kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di
sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun
dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah
selama-lamanya,”. (.Maz 73:24-26)

8. PERKATAAN-PERKATAAN KRISTUS

Sedikit orang yang akan menuduh Yesus sebagai orang jahat atau seorang guru
palsu. Bahkan orang-orang atheis dan orang-orang beragama non-Kristen pun
biasanya menyebut Yesus dengan hormat dan kagum. Tetapi Yesus tidak berpura-pura
atau menyembunyikan kenyataan adanya kelanjutan hidup setelah kematian. Ia
berkata, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi
yang tidak berkuasa membunuh jiwa; tetapi takutlah terutama kepada Dia yang
berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka,”. (.Mat 10:28)
Yesus menjanjikan Firdaus kepada penyamun yang bertobat yang hampir mati di
sisi-Nya. Tetapi Ia juga menggunakan Lembah Hinom, suatu tempat pembuangan
sampah yang menjijikkan di luar Yerusalem, sebagai suatu simbol tentang apa yang
menanti mereka yang tidak mempedulikan penghakiman Allah. Menurut Yesus,
menghadapi kenyataan kehidupan setelah kematian adalah hal yang paling penting
dalam hidup. Misalnya, Ia berkata, jika sebelah mata menghalangi Anda dari
Allah, Anda memiliki alasan untuk membuang mata tersebut. “… lebih baik engkau
masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua
dicampakkan ke dalam neraka,”. (.Mar 9:47)

9. KEBANGKITAN KRISTUS

Tidak ada bukti yang lebih besar tentang adanya kehidupan setelah kematian dari
pada kebangkitan Yesus Kristus. Perjanjian Lama menubuatkan seorang Mesias yang
akan mengalahkan dosa dan yang mati bagi umat-Nya. (.Yes 53; Dan 9:26)
Para pengikut Yesus bersaksi bahwa itulah yang Dia lakukan. Ia dengan rela mati
di tangan orang-orang yang menyalibkan-Nya, dikuburkan dalam sebuah kuburan
pinjaman, dan 3 hari kemudian kuburan tersebut menjadi kosong. Para saksi
mengatakan bahwa mereka tidak hanya telah melihat kubur yang kosong tetapi juga
Kristus yang bangkit yang menampakkan diri kepada ratusan orang selama 40 hari
sebelum Dia naik ke surga (.Kis 1:1-11; 1Ko 15:1-8).

10. AKIBAT-AKIBAT PRAKTIS

Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian merupakan suatu sumber rasa aman,
optimisme, dan pemulihan rohani bagi seseorang. (.1Yo 3:2) Tidak ada suatupun yang menawarkan lebih banyak kekuatan dan dorongan dari pada keyakinan bahwa ada suatu kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang menggunakan masa sekarang untuk mempersiapkan hidup dalam kekekalan. Kepercayaan pada kesempatan-kesempatan yang tak terbatas dalam kekekalan telah memampukan banyak orang untuk mengorbankan nyawa mereka bagi kepentingan orang-orang yang dikasihi. Karena keyakinan-Nya pada kehidupan setelah kematian, maka Yesus mampu berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (.Mat 16:26)
Kebenaran ini pula yang mendorong martir Kristen, Jim Elliot, yang dibunuh oleh
orang-orang Indian Auca pada tahun 1956, untuk mengatakan, “Dia, yang memberikan
apa yang tidak dapat dijaganya untuk memperoleh apa yang tidak dapat diambil
darinya, bukanlah orang yang bodoh.”

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda secara jujur merasakan bahwa Anda belum
diyakinkan tentang kehidupan setelah kematian. Tetapi ingatlah bahwa Yesus
berjanji untuk memberikan pertolongan Ilahi kepada mereka yang ingin mengenal
kebenaran dan yang mau menaklukkan diri kepadanya. Ia berkata, “Barangsiapa mau
melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah,
entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri,”. (.Yoh 7:17)

Bila Anda yakin pada bukti adanya kehidupan setelah kematian, ingatlah Alkitab
berkata bahwa Kristus mati untuk melunasi hutang-hutang dosa kita, dan bahwa
semua orang yang percaya kepada-Nya akan menerima karunia pengampunan dan
kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha
kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka yang, melalui bukti-bukti tersebut,
percaya kepada-Nya.

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.(cd SABDA 3.0)

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KEBANGKITAN KRISTUS

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 5:04 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Hukuman Mati di Muka Umum Memastikan Kematian Yesus
2. Kubur Yesus Dijaga Ketat oleh Pemerintah
3. Sekalipun Dijaga, Kubur Yesus Ditemukan Kosong
4. Banyak Orang Mengklaim Bahwa Mereka Telah Melihat Dia Hidup
5. Rasul-Rasul-Nya Berubah secara Dramatis
6. Para Saksi Bersedia Mati untuk Keyakinan Mereka
7. Orang Yahudi yang Kristen Mengubah Hari Ibadahnya
8. Meski tidak Diharapkan Namun telah Diramalkan
9. Itulah Klimaks Yang Tepat untuk Kehidupan yang Menakjubkan
10. Itu Cocok dengan Pengalaman Mereka yang Percaya Kepada-Nya

1. HUKUMAN MATI DI MUKA UMUM MEMASTIKAN KEMATIAN YESUS

Selama perayaan Paskah Yahudi, Yesus digiring ke ruang pengadilan Romawi oleh
orang banyak yang marah. Ketika Yesus berdiri di hadapan Pilatus, gubernur
Yudea, para pemimpin agama mengajukan tuduhan terhadap-Nya karena Ia mengklaim
diri sebagai Raja orang Yahudi. Kumpulan orang itu menginginkan kematian-Nya.
Yesus dipukul, didera, dan dijatuhi hukuman mati di muka umum. Di suatu bukit di
luar Yerusalem Dia disalibkan di antara 2 penjahat. Teman-teman-Nya yang patah
hati dan musuh-musuh yang mencemooh-Nya menyaksikan kematian-Nya. Para serdadu
Romawi diutus untuk menuntaskan hukuman itu karena hari Sabat hampir tiba. Untuk
mempercepat kematian, mereka mematahkan kaki kedua penjahat. Tetapi ketika
mereka mendekati Yesus, mereka tidak mematahkan kaki-Nya karena dari pengalaman
mereka tahu bahwa Yesus sudah mati. Tetapi sebagai tindakan pencegahan akhir,
mereka menusukkan tombak ke lambung-Nya. Dengan demikian Ia tidak akan
menyusahkan mereka lagi.

2. KUBUR YESUS DIJAGA KETAT OLEH PEMERINTAH

Esok harinya, para pemimpin agama menghadap lagi ke Pilatus. Mereka mengatakan
Yesus telah meramalkan bahwa Dia akan bangkit dalam 3 hari. Untuk memastikan
bahwa murid-murid Yesus tidak dapat berkomplot di dalam cerita bohong tentang
Kebangkitan itu, Pilatus memerintahkan agar meterai resmi pemerintah Romawi
dibubuhkan di kuburan untuk memperingatkan para perampok kuburan. Untuk
menguatkan perintah itu, para serdadu berjaga-jaga di sana. Murid-murid yang
ingin mencuri tubuh Yesus akan diketahui mereka, sehingga hal itu tidak mudah
dilakukan. Para penjaga Romawi mempunyai alasan kuat untuk tetap berjaga-jaga,
karena hukuman bagi yang tertidur pada waktu tugas jaga adalah kematian.

3. SEKALIPUN DIJAGA, KUBUR YESUS DITEMUKAN KOSONG

Pada pagi hari sesudah hari Sabat, beberapa pengikut Yesus pergi ke kubur untuk
meminyaki tubuh-Nya. Tetapi ketika mereka tiba, mereka terkejut atas apa yang
mereka temukan. Batu yang sangat besar yang digunakan untuk menutup pintu masuk
kubur telah digulingkan dan tubuh Yesus telah lenyap. Ketika berita itu tersiar,
2 murid Yesus berlari tergesa-gesa ke pemakaman itu. Kubur telah kosong kecuali
kain kafan Yesus yang terlipat rapi di sana. Sementara itu, sebagian penjaga
telah pergi ke Yerusalem untuk memberitahu para pejabat Yahudi bahwa mereka
telah pingsan di hadapan makhluk adikodrati yang menggulingkan batu kuburan. Dan
ketika mereka siuman, kubur telah kosong. Para pejabat membayar para penjaga itu
dengan sejumlah besar uang untuk berbohong dan mengatakan bahwa para murid
mencuri tubuh Yesus ketika para serdadu itu tertidur. Mereka meyakinkan para
penjaga itu bahwa jika laporan tentang hilangnya tubuh Yesus itu sampai kepada
gubernur maka mereka akan mengetengahi untuk melindungi para penjaga itu.

4. BANYAK ORANG MENGKLAIM BAHWA MEREKA TELAH MELIHAT DIA HIDUP

Sekitar tahun 55 Masehi, Rasul Paulus menulis bahwa Kristus yang telah bangkit
dilihat oleh Petrus, keduabelas rasul, lebih dari 500 orang (banyak yang masih
hidup ketika Paulus menulis hal ini), Yakobus, dan dirinya sendiri.
(.1Ko 15:5-8) Dengan membuat pernyataan publik, dia memberi
kesempatan kepada para pengritik untuk menyanggah klaimnya ini. Tambahan pula,
Perjanjian Baru memulai sejarahnya dengan pengikut Kristus yang mengatakan bahwa
Yesus “menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak
tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang
menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” (.Kis 1:3)

5. RASUL-RASUL-NYA BERUBAH SECARA DRAMATIS

Ketika satu dari rasul-rasul terdekat Yesus meninggalkan dan mengkhianati Dia,
para rasul yang lain lari untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Bahkan
Petrus, yang sebelumnya telah bersikeras bahwa dia siap mati bagi gurunya,
menjadi takut dan menyangkal bahwa ia pernah mengenal Yesus. Tetapi para rasul
itu mengalami perubahan yang dramatis. Hanya dalam beberapa minggu kemudian
mereka berdiri berhadapan muka dengan orang-orang yang telah menyalibkan
pemimpin mereka. Semangat mereka seperti besi. Mereka tidak dapat dihentikan
dalam ketetapan hati mereka untuk mengorbankan segalanya bagi Dia yang mereka
sebut Juruselamat dan Tuhan. Bahkan setelah dipenjara, diancam, dan dilarang
bicara dalam nama Yesus, para rasul berkata kepada para pemimpin Yahudi, “Kita
harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.” (.Kis 5:29)
Setelah mereka dianiaya karena tidak menaati perintah dewan Yahudi, para rasul
yang dulunya pengecut itu “setiap hari… memberitakan Injil tentang Yesus yang
adalah Mesias.” (.Kis 5:42)

6. PARA SAKSI BERSEDIA MATI UNTUK KEYAKINAN MEREKA

Sejarah dipenuhi oleh para martir. Laki-laki dan perempuan yang tak terhitung
jumlahnya telah mati demi keyakinan-keyakinan mereka. Oleh karena itu, memang
bukan hal penting bila dikatakan bahwa para murid Yesus yang pertama bersedia
menderita dan mati bagi iman mereka. Namun tetaplah penting bahwa sementara
banyak orang bersedia mati untuk apa yang mereka yakini sebagai kebenaran, hanya
ada sedikit orang-seandainya ada-yang bersedia mati untuk apa yang mereka
tahu sebagai suatu kebohongan. Fakta psikologis ini penting karena murid-murid
Kristus tidak mati untuk keyakinan yang mereka pegang kuat yang mungkin saja
bisa salah. Mereka mati karena klaim mereka bahwa mereka telah melihat Yesus
hidup dan dalam keadaan baik setelah kebangkitan-Nya. Mereka mati demi klaim
mereka bahwa Yesus Kristus tidak hanya mati bagi dosa mereka, tetapi bahwa Dia
telah bangkit secara fisik dari kematian untuk memperlihatkan bahwa Dia tidak
seperti pemimpin agama lain yang pernah hidup.

7. ORANG YAHUDI YANG KRISTEN MENGUBAH HARI IBADAHNYA

Hari Sabat yang adalah untuk beristirahat dan beribadah merupakan prinsip hidup
orang Yahudi yang mendasar. Orang Yahudi yang tidak menghormati hari Sabat
bersalah karena melanggar hukum Musa. Namun orang Yahudi yang menjadi pengikut
Kristus mulai beribadah bersama orang percaya dari bangsa-bangsa lain pada hari
yang baru. Hari pertama dari minggu, yaitu hari di mana mereka percaya Kristus
telah bangkit dari kematian, menggantikan hari Sabat. Bagi seorang Yahudi hal
ini mencerminkan perubahan hidup yang besar. Hari yang baru itu, beserta dengan
upacara baptisan Yahudi yang diubah menjadi upacara masuk ke agama Kristen,
menegaskan bahwa mereka yang percaya pada kebangkitan Kristus telah siap untuk
lebih dari sekadar memperbarui agama Yahudi. Mereka percaya bahwa kematian dan
kebangkitan Kristus telah membuka jalan bagi suatu hubungan yang baru dengan
Allah. Jalan yang baru ini tidak didasarkan pada hukum Taurat, tetapi pada
Juruselamat yang menanggung dosa manusia dan memberikan kehidupan kepada mereka.

8. MESKI TIDAK DIHARAPKAN NAMUN TELAH DIRAMALKAN

Para murid sangat terkejut. Mereka mengharapkan Mesias mereka memulihkan
kerajaan Israel. Pikiran mereka terlalu tertuju pada kedatangan kerajaan
mesianik yang politis sehingga mereka tidak mengantisipasi peristiwa-peristiwa
yang perlu bagi keselamatan jiwa mereka. Mereka pasti berpikir bahwa Kristus
berbicara dalam bahasa simbolik ketika Dia terus menerus mengatakan bahwa Dia
harus pergi ke Yerusalem untuk mati dan dibangkitkan kembali dari kematian.
Ucapan itu memang berasal dari Dia yang sering berbicara dalam bahasa
perumpamaan, akibatnya mereka tidak memahami hal yang sudah jelas sampai
semuanya sudah terjadi. Dalam proses ini, mereka juga mengabaikan ramalan nabi
Yesaya tentang Hamba yang Menderita yang akan menanggung dosa Israel, seperti
domba dituntun ke pembantaian, sebelum Allah memperpanjang umur-Nya.
(.Yes 53:10)

9. ITULAH KLIMAKS YANG TEPAT UNTUK KEHIDUPAN YANG MENAKJUBKAN

Saat Yesus tergantung di kayu salib Romawi, orang banyak mencemooh Dia. Dia
menolong orang lain, tetapi dapatkah Dia menolong diri-Nya sendiri? Apakah
keajaiban tiba-tiba berakhir? Tampaknya ini merupakan suatu akhir yang tidak
diharapkan bagi orang yang memulai kehidupan publik-Nya dengan mengubah air
menjadi anggur. Selama 3 tahun pelayanan-Nya, Dia berjalan di atas air,
menyembuhkan orang sakit, mencelikkan orang buta, membuat orang tuli mendengar,
orang bisu berbicara, orang timpang berjalan, mengusir roh-roh jahat, meredakan
badai dahsyat, dan membangkitkan orang mati. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang tidak dapat dijawab orang yang bijaksana. Dia mengajarkan kebenaran-kebenaran
yang dalam dengan penjelasan yang paling sederhana. Dan Dia menghadapi orang-orang
munafik dengan kata-kata yang menelanjangi topeng mereka. Jika semua ini benar,
apakah kita akan terkejut bahwa musuh-musuh-Nya tidak dapat berkata-kata lagi?

10. ITU COCOK DENGAN PENGALAMAN MEREKA YANG PERCAYA KEPADA-NYA

Rasul Paulus menulis, “Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara
orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus
dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya,
yang diam di dalam kamu” (.Rom 8:11). Ini adalah pengalaman Paulus
yang hatinya secara dramatis diubah oleh Kristus yang telah bangkit. Ini juga
pengalaman banyak orang di seluruh dunia yang telah “mati” terhadap cara hidup
mereka yang lama sehingga Kristus dapat hidup melalui mereka. Kuasa rohani ini
tidak tampak pada diri orang yang mencoba untuk menambahkan kepercayaan kepada
Kristus ke dalam kehidupan lama mereka. Kuasa ini hanya terlihat pada orang yang
bersedia untuk “mati” terhadap kehidupan lama mereka untuk membuat ruang bagi
pimpinan Kristus. Kuasa ini hanya terlihat pada orang yang menanggapi bukti-bukti
kebangkitan Kristus yang begitu banyak dengan mengakui kekuasaan-Nya di dalam
hati mereka.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda secara jujur tidak yakin bahwa Kristus bangkit
dari kematian. Tetapi ingatlah bahwa Yesus menjanjikan pertolongan Allah kepada
mereka yang ingin berdamai dengan-Nya. Dia berkata, “Barangsiapa mau melakukan
kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku
berkata-kata dari diri-Ku sendiri.” (.Yoh 7:17)

Jika Anda sungguh-sungguh melihat bahwa Kebangkitan Kristus masuk akal, ingatlah
selalu apa yang dikatakan Alkitab bahwa Kristus telah mati untuk membayar harga
dari dosa-dosa kita, dan orang yang percaya dalam hatinya bahwa Allah telah
membangkitkan Kristus dari kematian akan diselamatkan (.Rom 10:9-10).
Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah atas usaha kita, melainkan
hadiah bagi semua orang yang terbukti menaruh kepercayaan mereka di dalam Dia.

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd. (cd SABDA 3.0)

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH MENJADI MANUSIA

Filed under: DOKTRIN ALLAH — dedewijaya at 4:58 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Seorang Perawan Mengandung
2. Seorang Nabi Perjanjian Lama Menubuatkan tentang Pribadi Allah-Manusia
3. Para Malaikat Mengumumkan Kelahiran Tersebut
4. Suatu Tanda Muncul di Langit
5. Waktunya Tepat
6. Yesus Mengklaim Diri-Nya Setara dengan Allah
7. Sahabat-Sahabat-Nya Menyembah Dia
8. Musuh-Musuh Yesus Menuduh Dia Menghujat Allah
9. Mujizat-Mujizat-Nya Mendukung Pernyataan-Pernyataan-Nya
10. Kepergian-Nya Lebih Besar/Agung daripada Kedatangan-Nya


1. SEORANG PERAWAN MENGANDUNG

Jika Maria berkata benar, maka bayinya tidak mempunyai ayah manusia. Ia
menyatakan bahwa seorang malaikat telah menampakkan diri kepadanya dan
memberitahu dia bahwa ia akan mengandung seorang putra dari Roh Allah, dan bahwa
anak ini, yang harus dinamainya Yesus, akan menjadi Putra Allah.
(.Luk 1:26-35) Jika Maria berbohong, maka malam kelahiran Yesus
tidaklah kudus, dan satu-satunya yang diam adalah kebenaran. Tetapi, bagaimana
kita bisa mengetahuinya? Bagaimana kita bisa menganggap serius suatu kisah yang
biasanya dianggap pantas ditertawakan karena tidak dipercayai. Jawabannya ada
dalam bagian selanjutnya. Jika tidak ada saksi-saksi ataupun bukti-bukti, kita
bisa mengabaikan pernyataan-pernyataan Maria. Jika kehidupan putranya sama saja
dengan kehidupan lainnya, pernyataannya tentang kelahiran dari seorang perawan
akan menjadi hal termudah untuk dihilangkan dari seluruh kisah.

2. SEORANG NABI PERJANJIAN LAMA MENUBUATKAN TENTANG PRIBADI ALLAH-MANUSIA

Apa yang kita ketahui adalah bahwa dalam abad ke-7 Sebelum Masehi, nabi Yesaya
menubuatkan tentang seorang Hamba Tuhan yang akan memerintah dunia pada hari-hari yang terakhir. Ia menggambarkan suatu hari di mana seluruh bumi akan berdamai
dan segala bangsa akan mendaki ke Yerusalem untuk menyembah Allah (.Yes 2).
Yesaya mengumumkan, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera
telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan
namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,
Raja Damai” (.Yes 9:6). Yesaya juga memberikan suatu nubuat
misterius yang hanya digenapi sebagian pada masa hidupnya. Nubuat tersebut
diawali dengan, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu
pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan
seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel” (.Yes 7:14).
Imanuel berarti “Tuhan beserta kita.”

3. PARA MALAIKAT MENGUMUMKAN KELAHIRAN TERSEBUT

Di padang para gembala di luar Betlehem, sekelompok saksi menjadi jembatan
antara Yesaya dan Maria. Menurut catatan Perjanjian Baru, (.Luk 2:8-14)
para gembala Yahudi yang ketakutan dikunjungi oleh seorang malaikat yang
mengumumkan kelahiran Mesias yang sudah lama dinanti-nantikan Israel. Malaikat
itu berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu
kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan
menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”
(.Luk 2:10-12). Sebagaimana yang diberitakan oleh para gembala, langit
dipenuhi dengan para malaikat yang memuji Allah dan berkata, “Kemuliaan bagi
Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia
yang berkenan kepada-Nya”

4. SUATU TANDA MUNCUL DI LANGIT

Menurut Perjanjian Baru, sebuah cahaya di langit memberikan kredibilitas
tambahan untuk Maria. Sekelompok orang Majus dari Timur mengikuti sebuah “tanda
menyerupai bintang” ke Betlehem, kota Yahudi. Yang mereka temukan adalah seorang
anak yang mereka percayai sebagai Mesias Yahudi yang telah lama dinantikan.
Selama ratusan tahun, para nabi Perjanjian Lama telah membicarakan tentang
“sebuah Bintang” dan “suatu Tongkat Kerajaan” yang akan muncul dari Israel.
(.Bil 24:17) Perjanjian Lama juga menubuatkan seorang pemimpin
Israel yang akan muncul dari Betlehem, seorang pemimpin “yang permulaannya sudah
sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (.Mik 5:2)

5. WAKTUNYA TEPAT

Banyak orang percaya bahwa orang Majus yang menyembah Yesus setelah kelahiran-Nya datang dari daerah Babilonia. Jika demikian, mereka mungkin saja memiliki
akses kepada nubuatan seorang nabi Yahudi bernama Daniel. Selama masa pembuangan di Babilonia 400 tahun sebelumnya, Daniel menerima suatu visi yang memungkinkan perhitungan kedatangan Mesias Yahudi. Menurut visi Daniel, dari perintah untuk membangun kembali bait suci (458 atau 444 Sebelum Masehi), 69 kali “tujuh” masa akan diikuti oleh kedatangan dan kematian Sang Mesias.
(.Dan 7:13-14; 9:24-27) Sebagian orang percaya bahwa nubuatan ini
memperkirakan jumlah hari yang tepat sampai masuknya Yesus ke Yerusalem. (Untuk
keterangan lebih lanjut, lihat terbitan RBC berjudul “The Daniel Papers”, Q1207)

6. YESUS MENGKLAIM DIRI-NYA SETARA DENGAN ALLAH

Sebagian orang menganggap bahwa Yesus tidak pernah mengklaim bagi diri-Nya
seperti apa yang dinyatakan oleh para pengikut-Nya. Namun kegemparan yang
meliputi kehidupan-Nya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh pernyataan
berulang-Nya tentang kesatuan-Nya dengan Allah. Yohanes, salah satu penulis
Injil, mengutip perkataan Yesus, “… sebelum Abraham jadi, AKU ADA” (.Yoh 8:58).
(Dalam .Kel 3:14, nama AKU ADA dipakai Allah untuk memperkenalkan
diri-Nya kepada Musa.) Yohanes juga mengutip Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa
adalah Satu” (.Yoh 10:30) dan “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga
mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia”
(.Yoh 14:7). Menurut Injil, Yesus berkata bahwa mengasihi atau membenci Dia, atau
menerima atau menolak Dia sama dengan mengasihi atau membenci, menerima atau
menolak Bapa-Nya di surga.

7. SAHABAT-SAHABAT-NYA MENYEMBAH DIA

Ketika Tomas, salah satu murid Yesus, melihat Kristus yang bangkit, ia
menyerukan, “Ya Tuhanku dan Allahku.” (.Yoh 20:28) Bertahun-tahun
kemudian, teman dekat dan pengikut Yesus, Yohanes, menuliskan, “Pada mulanya
adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan
tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan
…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (.Yoh 1:1-3, 14)
Sahabat lainnya, Petrus, dalam salah satu suratnya kepada gereja mula-mula,
menyebut para pembacanya sebagai “mereka yang bersama-sama dengan kami
memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus”.
(.2Pe 1:1)

8. MUSUH-MUSUH YESUS MENUDUH DIA MENGHUJAT ALLAH

Sebagian orang menganggap bahwa Yesus tidak pernah mengklaim bagi diri-Nya
seperti apa yang dinyatakan oleh para pengikut-Nya. Namun kegemparan yang
meliputi kehidupan-Nya dapat dijelaskan dengan sangat baik oleh pernyataan
berulang-Nya tentang kesatuan-Nya dengan Allah. Yohanes, salah satu penulis
Injil, mengutip perkataan Yesus, “… sebelum Abraham jadi, AKU ADA” (.Yoh 8:58).
(Dalam .Kel 3:14, nama AKU ADA dipakai Allah untuk memperkenalkan
diri-Nya kepada Musa.) Yohanes juga mengutip Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa
adalah Satu” (.Yoh 10:30) dan “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti
kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah
melihat Dia” (.Yoh 14:7). Menurut Injil, Yesus berkata bahwa mengasihi
atau membenci Dia, atau menerima atau menolak Dia sama dengan mengasihi atau
membenci, menerima atau menolak Bapa-Nya di surga.

9. MUJIZAT-MUJIZAT-NYA MENDUKUNG PERNYATAAN-PERNYATAAN-NYA

Ketika Tomas, salah satu murid Yesus, melihat Kristus yang bangkit, ia
menyerukan, “Ya Tuhanku dan Allahku.” (.Yoh 20:28) Bertahun-tahun
kemudian, teman dekat dan pengikut Yesus, Yohanes, menuliskan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan
tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan
…. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (.Yoh 1:1-3, 14)
Sahabat lainnya, Petrus, dalam salah satu suratnya kepada gereja mula-mula,
menyebut para pembacanya sebagai “mereka yang bersama-sama dengan kami
memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”
(.2Pe 1:1)

10. KEPERGIAN-NYA LEBIH BESAR/AGUNG DARIPADA KEDATANGAN-NYA

Sahabat-sahabat Yesus bisa saja ingin mempercayai bahwa Ia lebih dari seorang
manusia, tetapi musuh-musuhnya tidak. Pemimpin-pemimpin agama Israel
dipermalukan bila berpikir bahwa orang yang sama yang telah menuduh mereka
sebagai orang munafik, para pemimpin buta yang menuntun orang buta, juga akan
menyatakan bahwa Ia mengampuni dosa, berbicara tentang Allah sebagai Bapa-Nya,
dan bahkan berkata bahwa Ia adalah satu dengan Allah. Dalam lebih dari satu
kesempatan, para pemimpin Israel mengambil batu untuk membunuh Yesus sambil
berkata, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau,
melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya
seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” (.Yoh 10:33)

ANDA TIDAK SENDIRIAN bila Anda memiliki perasaan yang bercampur ketika Anda memikirkan tentang bukti yang mengelilingi kehidupan Yesus. Anda mungkin merasa terdorong untuk percaya bahwa Yesus adalah Putra Allah, tetapi Anda tidak yakin akan hubungan Anda dengan Dia. Jika memang demikian, yakinlah akan hal ini: Jika
Anda menerima Dia, Ia akan menerima Anda. Jika Anda mau menerima tawaran-Nya akan pengampunan, kehidupan kekal, dan adopsi/penerimaan ke dalam keluarga Allah, Ia akan menjadi Juruselamat, Guru, dan Tuhan Anda.

Bila Anda belum pernah menerima Yesus demikian, kami mendorong Anda untuk dengan teliti membaca ayat-ayat Perjanjian Baru dari .Rom 3:23 (yang berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa), .Rom 6:23 (yang berkata bahwa upah dosa ialah kematian rohani, keterpisahan dari Allah), dan Rom 10:13 (yang menjamin kita bahwa semua orang yang menyebut nama Tuhan Yesus akan diselamatkan). Untuk menerima karunia Allah, Anda dapat berdoa demikian: “Ya Allah, saya tahu bahwa saya adalah seorang berdosa. Saya tidak dapat menyelamatkan diri saya sendiri. Saya percaya Yesus mati di atas kayu salib untuk dosa-dosa saya. Saya percaya Ia bangkit dari kematian untuk menyatakan kehidupan-Nya melalui semua orang yang percaya kepada-Nya. Saya sekarang menerima Dia sebagai Juruselamat saya. Saya menerima tawaran-Mu akan pengampunan dan kehidupan kekal. Terima kasih, ya Bapa. Dalam nama Yesus saya berdoa. Amin.”

Silakan menghubungi kami untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang
bagaimana bertumbuh di dalam kehidupan Anda yang baru sebagai anak Allah. Juga, berdoa kepada Allah untuk memimpin Anda kepada suatu gereja yang dengan setia mengajarkan Alkitab dalam semangat kasih dan keserupaan dengan Kristus. Anda telah menerima hadiah terbesar, hadiah yang dibeli oleh Allah sendiri, dan ditunjukkan hanya untuk Anda.

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KEBERADAAN ALLAH

Filed under: DOKTRIN ALLAH — dedewijaya at 4:53 am on Tuesday, November 11, 2008

1. Iman yang tak Terhindarkan
2. Keterbatasan Ilmu Pengetahuan
3. Masalah-Masalah Evolusi
4. Kecenderungan-Kecenderungan Hati
5. Latar Belakang Kitab Kejadian
6. Bangsa Israel
7. Klaim-Klaim tentang Kristus
8. Bukti dari Mukjizat-Mukjizat
9. Detil-Detil dari Alam Semesta
10. Kenyataan dari Pengalaman


1. IMAN YANG TAK TERHINDARKAN

Setiap orang mempercayai sesuatu. Tidak seorangpun yang dapat menanggung tekanan dan masalah hidup tanpa beriman kepada sesuatu yang tak sepenuhnya dapat
dibuktikan. Orang atheis tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak ada. Orang
pantheis tidak dapat membuktikan bahwa segala sesuatu adalah Allah. Kaum
pragmatis tidak dapat membuktikan asumsi mereka bahwa sesuatu dianggap penting
karena bermanfaat bagi mereka. Orang agnotispun tidak dapat membuktikan bahwa
Allah tidak mungkin diketahui. Iman tidak dapat dihindari, sekalipun jika kita
memilih untuk hanya percaya pada diri kita sendiri. Sesungguhnya apa yang kita
putuskan adalah mengenai bukti yang kita anggap paling cocok, bagaimana kita
menafsirkan bukti tersebut, dan siapa atau apa yang kita ingin percayai.
(.Luk 16:16)

2. KETERBATASAN ILMU PENGETAHUAN

Metode ilmu pengetahuan terbatas oleh suatu proses yang terukur dan dapat
diulang, sehingga ia tidak dapat berbicara tentang asal usul kehidupan, makna
dan moralitas. Untuk menjawab hal-hal itu, ilmu pengetahuan bergantung pada
nilai dan keyakinan pribadi dari mereka yang menggunakan ilmu tersebut, dan
karena itu pula, ia sangat berpotensi baik untuk kebaikan maupun kejahatan. Ilmu
pengetahuan dapat digunakan untuk membuat vaksin atau racun, membuat tenaga
nuklir untuk tanaman atau persenjataan, untuk melestarikan lingkungan hidup atau
mencemarinya, bahkan untuk memuliakan Allah maupun melawan Allah. Ilmu
pengetahuan itu sendiri tidak mampu memberikan bimbingan moral atau nilai-nilai
untuk mengatur hidup kita. Apa yang dapat dilakukannya adalah memperlihatkan
kepada kita bagaimana cara kerja hukum alam, tetapi tidak dapat menjelaskan apa-apa
tentang asal-usulnya.

3. MASALAH-MASALAH EVOLUSI

Banyak orang berasumsi bahwa teori evolusi tentang kehidupan membuat Allah tidak
dibutuhkan. Pandangan demikian mengabaikan beberapa hal. Jika kita berasumsi
suatu saat nanti ilmuwan menemukan cukup banyak “rantai yang hilang” untuk
mengkonfirmasi bahwa kehidupan muncul dan berkembang secara bertahap dalam
rentang waktu yang panjang, hukum-hukum probabilitas tetap memperlihatkan bahwa
kita membutuhkan Sang Pencipta. Karena itu pula banyak ilmuwan yang percaya
kepada teori evolusi juga percaya bahwa alam semesta yang sedemikian besar dan
kompleks ini tidak “terjadi begitu saja.” Mereka mau tidak mau harus mengakui
kemungkinan, atau bahkan kepastian, adanya Perancang berintelijensi tinggi yang
menyediakan segala unsur untuk hidup dan yang menetapkan hukum-hukum agar semua unsur itu dapat berkembang.

4. KECENDERUNGAN-KECENDERUNGAN HATI

Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Pada saat mengalami kejutan
atau kesusahan mendadak, ketika berdoa atau mengumpat, seseorang biasanya
merujuk pada hal-hal yang ilahi. Mereka yang menganggap gejala ini sebagai
kebiasaan buruk atau penyimpangan sosial malah diperhadapkan pada banyak
pertanyaan yang tak terjawab. Menyangkal keberadaan Allah tidaklah dapat
menghilangkan misteri kehidupan. Walau kita mencoba mengeluarkan Allah dari
kehidupan sehari-hari, kita tidak akan dapat menghalau kerinduan kita kepada
kehidupan yang lebih baik dari kehidupan saat ini (.Pen 3:11). Ada sesuatu tentang kebenaran, keindahan, dan cinta yang membuat hati kita nyeri. Bahkan dalam kemarahan kita kepada Allah yang mengijinkan ketidak-adilan dan sakit-penyakit, kita sesungguhnya sedang menggunakan suatu kesadaran moral untuk berargumentasi bahwa kehidupan saat ini tidak berjalan sebagaimana seharusnya. (.Rom 2:14-15) Sekalipun tanpa sengaja, kita sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang lebih baik, bukannya yang lebih buruk, dari diri kita sendiri.

5. LATAR BELAKANG KITAB KEJADIAN

Dengan membaca sekilas, kata-kata pembukaan Alkitab tampaknya berasumsi bahwa
Allah itu ada. Bagaimanapun kitab Kejadian ditulis pada waktu tertentu dalam
sejarah. Musa menulis kalimat, “Pada mulanya Allah,” sesudah bangsa Israel
keluar dari Mesir. Dia menulis hal itu sesudah terjadinya pelbagai peristiwa
mujizat yang disaksikan oleh jutaan orang Israel dan Mesir. Dari kitab Keluaran
sampai kedatangan Mesias, Allah yang diceritakan Alkitab membuktikan diri-Nya
ada melalui peristiwa-peristwa yang dapat disaksikan di dalam waktu dan tempat
yang nyata. Siapapun yang meragukan klaim-klaim tersebut dapat mengunjungi
tempat-tempat dan orang-orang yang nyata untuk membuktikannya bagi diri mereka
sendiri.

6. BANGSA ISRAEL

Israel sering digunakan sebagai argumentasi untuk melawan Allah. Banyak orang
sulit percaya pada Allah yang bersikap memihak pada satu “umat pilihan.” Ada
lagi yang lebih sulit percaya pada Allah yang tidak melindungi “bangsa pilihan-Nya”
dari kamar-kamar gas Nazi di Auschwitz dan Dachau. Tetapi sesungguhnya semenjak
Perjanjian Lama, masa depan Israel telah dinubuatkan. Seperti nabi-nabi lain,
Musa menubuatkan bukan saja bahwa Israel akan memiliki tanah perjanjian, tetapi
bahwa mereka akan mengalami penderitaan yang tak terkira, tersebar ke seluruh
pelosok bumi, pertobatan mereka kepada Allah, dan pemulihan mereka pada akhir
jaman. (.Ula 28:1-34:12; Yes 2:1-5; Yeh 37:1-38:23)

7. KLAIM-KLAIM TENTANG KRISTUS

Banyak orang yang mulanya ragu pada keberadaan Allah telah kembali meyakinkan
diri mereka dengan pemikiran, “Jika Allah ingin kita percaya kepada-Nya, Dia
pasti akan menyatakan diri-Nya kepada kita.” Menurut Alkitab, itulah yang Allah
lakukan. Pada abad ke-7 SM, nabi Yesaya bernubuat bahwa Allah akan memberi umat-Nya suatu tanda. Seorang perawan akan melahirkan seorang Anak laki-laki yang akan
disebut “Allah beserta kita.” (.Yes 7:14; Mat 1:23) Bahwa Anak ini
juga akan disebut “Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (.Yes 9:5)
Dan bahwa Dia akan mati untuk dosa-dosa umat-Nya dan kemudian Dia akan melihat
hidup-Nya dihormati dan dipermuliakan (.Yes 53). Menurut Perjanjian
Baru, Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias. Di bawah pemerintahan Gubernur
Romawi yang bernama Pontius Pilatus, Dia disalibkan dengan tuduhan bahwa Dia
mengklaim diri-Nya sebagai Raja Israel dan bahwa Dia telah menyamakan Diri-Nya
setara dengan Allah. (.Yoh 5:18)

8. BUKTI DARI MUKJIZAT-MUKJIZAT

Sejumlah laporan dari para pengikut Yesus yang mula-mula sepakat bahwa Yesus
bukan hanya mengklaim diri sebagai Mesias yang sudah lama dinantikan. Para saksi
ini mengatakan bahwa Dia dipercaya oleh mereka karena Dia menyembuhkan orang
lumpuh, berjalan di atas air, kemudian secara sukarela mengalami kematian yang
menyakitkan dan yang tidak patut Dia terima, dan akhirnya Dia bangkit dari
kematian. (.1Ko 15:1-8) Yang paling tidak terbantah adalah klaim
mereka bahwa banyak saksi telah melihat dan berbicara dengan Kristus setelah
kubur-Nya ditemukan kosong dan sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri
Dia naik ke surga. Para saksi ini tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari
klaim-kaim yang mereka buat. Mereka tidak mengharapkan kekayaan harta-benda atau
kekuasaan. Bahkan banyak dari mereka yang mati martir, tetapi sampai akhir hayat
mereka tetap mengklaim bahwa Mesias yang dinantikan bangsa Israel telah hadir di
tengah mereka, bahwa Dia telah menjadi korban penebusan dosa, dan bahwa Dia
telah bangkit dari kematian untuk meyakinkan mereka bahwa Dia mampu membawa
mereka kepada Allah.

9. DETIL-DETIL DARI ALAM SEMESTA

Ada orang yang percaya kepada Allah tetapi tidak menganggap keberadaan-Nya
secara serius. Mereka beralasan bahwa Allah yang cukup besar untuk menciptakan
alam semesta ini pasti terlalu besar untuk memperhatikan kita. Sebaliknya Yesus
justru memperkuat apa yang alam ini hendak katakan melalui rancangan dan
detil-detilnya. Yesus memperlihatkan bahwa Allah cukup besar untuk
memperhatikan detil hidup kita yang paling kecil sekalipun. Dia berbicara
mengenai Allah yang tahu bukan saja setiap tindakan kita, tetapi juga motivasi
dan pikiran-pikiran dalam benak kita. Yesus mengajarkan bahwa Allah tahu jumlah
rambut di kepala kita, keinginan-keinginan hati kita, dan bahkan keadaan seekor
burung pipit yang terjatuh ke bumi. (.Maz 139; Mat 6)

10. KENYATAAN DARI PENGALAMAN

Alkitab berkata bahwa Allah merancang hidup kita sedemikian rupa sehingga kita
terdorong untuk mencari Dia (.Kis 17:26). Bagi mereka yang
sungguh-sungguh mencari Dia, Alkitab juga berkata bahwa Allah cukup dekat untuk
ditemukan (.Kis 17:27). Menurut Rasul Paulus, Allah adalah Roh yang
di dalam-Nya “kita hidup, kita bergerak, dan kita ada,” (.Kis 17:28).
Tetapi Alkitab juga sangat jelas mengajarkan bahwa kita harus menghampiri Allah
sesuai dengan cara-cara Allah, bukan menurut kemauan kita sendiri. Dia berjanji
untuk dapat ditemui, bukan oleh setiap orang, tetapi oleh mereka yang mengakui
kebutuhan mereka dan yang bersedia sungguh-sungguh percaya kepada Allah dan
bukan percaya kepada diri mereka sendiri.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda dapat mengakui keberadaan Allah tetapi ragu-
ragu apakah Anda dapat menerima klaim Yesus bahwa Dia adalah “Allah yang menjadi
manusia.” Orang dari Nazaret ini berjanji menolong mereka yang ingin melakukan
kehendak Allah. Dia berkata, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan
tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari Diriku
sendiri.” (.Yoh 7:17)

Jika Anda percaya pada bukti tentang Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kita
melalui Anak-Nya, Anda perlu mengingat perkataan Alkitab bahwa Kristus mati
untuk dosa-dosa kita, dan bahwa siapapun yang percaya kepada-Nya akan menerima
pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus
bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka, yang melalui bukti-bukti yang tersedia, mau percaya kepada Dia. (.Yoh 5:24; Rom 4:5;Efe 2:8-10)

© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd. (cd SABDA 3.0)

KEMURTADAN PRIBADI

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 12:54 am on Tuesday, November 11, 2008

“Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (Ibr 3:12)

Kemurtadan (Yun. apostasia) dipakai dua kali dalam PB sebagai kata benda (.Kis 21:21; 2 Tes 2:3) dan di dalam .Ibr 3:12 dalam bentuk kata kerja (Yun. _aphistemi_; dalam versi lain diterjemahkan sebagai “berbalik dari”). Istilah Yunani ini ditegaskan sebagai tindakan meninggalkan, berkhianat, memberontak, mengundurkan diri atau berbalik meninggalkan sesuatu yang dahulu diikuti.

1) Menjadi murtad berarti memutuskan hubungan keselamatan dengan Kristus atau mengundurkan diri dari persekutuan yang sangat penting dengan Dia dan iman yang sejati kepada-Nya

Dengan demikian kemurtadan pribadi hanya dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya sudah mengalami keselamatan, kelahiran baru, dan pembaharuan melalui Roh Kudus (bd. .Luk 8:13; Ibr 6:4-5); kemurtadan bukan sekedar tindakan menyangkal doktrin PB oleh mereka yang belum diselamatkan di dalam jemaat. Kemurtadan mungkin meliputi dua aspek yang berbeda namun berhubungan:

( a) kemurtadan teologis, yaitu: menolak semua atau sebagian dari ajaran asli Kristus dan para rasul (.1Tim 4:1; 2Tim 4:3), dan

( b) kemurtadan moral, yaitu: seseorang yang sebelumnya percaya kini tidak lagi tinggal di dalam Kristus dan sebagai gantinya memperbudak dirinya kepada dosa dan kebejatan lagi (.Yes 29:13; Mat 23:25-28; .Rom 6:15-23; 8:6-13).

2) Alkitab memberikan peringatan yang mendesak mengenai kemurtadan, dengan tujuan mengingatkan kita agar waspada terhadap bahaya meninggalkan kesatuan kita dengan Kristus dan mendorong kita untuk bertekun di dalam iman dan ketaatan. Maksud ilahi dari ayat-ayat peringatan ini jangan dilemahkan dengan pernyataan, “peringatan- peringatan ini bersifat sungguh-sungguh, tetapi kemungkinan terjadi kemurtadan secara aktual tidak ada.” Sebaliknya, kita harus memandang peringatan-peringatan ini sebagai mengacu kepada realitas masa percobaan kita sehingga kita harus betul-betul memperhatikannya jikalau kita ingin mencapai keselamatan pada akhirnya. Beberapa ayat PB yang berisi peringatan adalah: .Mat 24:4-5,11-13; Yoh 15:1-6; .Kis 11:21-23; 14:21-22; 1Kor 15:1- 2; Kol 1:21-23; 1Tim 4:1,16; .1Tim 6:10-12; 2Tim 4:2-5; Ibr 2:1-3; 3:6- 8,12-14; 6:4-6; .Yak 5:19-20; 2Pet 1:8- 11; 1Yoh 2:23-25.

3) Contoh-contoh kemurtadan yang sesungguhnya terjadi terdapat dalam .Kel 32:1-35; 2Raj 17:7-23; Mazm 106:1-48; Yes 1:2-4; Yer 2:1-9; .Kis 1:25; Gal 5:4; 1Tim 1:18-20; 2Pet 2:1,15,20-22; Yud 1:4,11-13; mengenai kemurtadan yang dinubuatkan akan terjadi di dalam gereja pada akhir zaman ini.

4) Langkah-langkah yang menuju kepada kemurtadan adalah sebagai berikut:

( a) Orang-orang percaya, melalui ketidakpercayaan, tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh kebenaran, nasihat, peringatan, janji, dan ajaran Firman Allah (.Mr 1:15; Luk 8:13; Yoh 5:44,47; .Yoh 8:46).

( b) Ketika kenyataan-kenyataan dunia ini menjadi semakin nyata dibandingkan dengan kenyataan-kenyataan Kerajaan Allah yang sorgawi, orang-orang percaya secara berangsur-angsur berhenti menghampiri Allah melalui Kristus (.Ibr 4:16; 7:19,25; 11:6).

( c) Melalui kelicikan dosa, orang percaya itu makin toleran terhadap dosa dalam kehidupan mereka sendiri (.1Kor 6:9-10; Ef 5:5; .Ibr 3:13). Mereka tidak lagi mengasihi keadilan atau membenci kefasikan ( “Ibr 1:9″).

( d) Karena degil hati (.Ibr 3:8,13) serta menolak jalan Allah ( .Ibr 3:10), orang-orang percaya ini berkali-kali mengabaikan suara dan teguran Roh Kudus (.Ef 4:30; 1Tes 5:19-22).

( e) Roh Kudus didukakan (.Ef 4:30; bd. .Ibr 3:7-8) dan api-Nya dipadamkan (.1Tes 5:19), bait-Nya dirusak (.1Kor 3:16). Karena itu akhirnya Ia meninggalkan orang yang dahulu percaya ( .Hak 16:20; Mazm 51:13; Rom 8:13; 1Kor 3:16-17; Ibr 3:14).

5) Jikalau kemurtadan berjalan terus tanpa dikendalikan, orang-orang percaya itu mungkin akhirnya mencapai titik di mana mereka tidak mendapat kesempatan lagi untuk kembali kepada Tuhan.

( a) Mereka yang pernah mengalami keselamatan namun kemudian dengan sengaja dan terus-menerus mengeraskan hati terhadap suara Roh (.Ibr 3:7-19), terus berbuat dosa dengan sengaja (.Ibr 10:26), serta menolak untuk bertobat dan kembali kepada Allah mungkin akan mencapai titik di mana mereka tidak bisa berbalik lagi sehingga tidak mungkin bertobat dan menerima keselamatan lagi (Ibr 6:4-6;”Ul 29:18″-21;”1Sam 2:25″;.”Ams 29:1″).

Kesabaran Allah ada batasnya (lih. 1Sam 3:11-14; Mat 12:31-32; .2Tes 2:9-11; Ibr 10:26-29,31; 1Yoh 5:16).

( b) Titik di mana orang tidak bisa bertobat lagi ini tidak dapat ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, satu-satunya pengaman untuk tidak terjerumus ke dalam kemurtadan akhir ditemukan dalam nasihat, “Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu” (.Ibr 3:7-8,15; 4:7)

6) Haruslah ditekankan bahwa sekalipun kemurtadan merupakan bahaya bagi semua orang percaya yang mulai hanyut dari iman (.Ibr 2:1-3) dan undur dari Allah (.Ibr 6:6), perbuatan itu tidak akan menjadi lengkap jikalau orang yang bersangkutan tidak dengan sengaja dan terus-menerus berbuat dosa terhadap suara Roh Kudus

(”Mat 12:31″ mengenai dosa terhadap Roh Kudus).

7) Mereka yang menjauhkan diri dari Allah karena hati yang tidak percaya (.Ibr 3:12) mungkin berpikir bahwa diri mereka masih Kristen namun ketidakacuhan mereka terhadap tuntutan-tuntutan Kristus dan Roh Kudus serta peringatan- peringatan Alkitab menunjukkan keadaan yang sebaliknya. Karena kemungkinan penipuan diri ini ada, Paulus mendesak agar semua orang yang mengaku diri sudah diselamatkan untuk “uji … dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak dalam iman. Selidikilah dirimu”( “2Kor 13:5″).

Mereka yang sungguh-sungguh mempunyai perhatian terhadap keadaan rohani dan hati mereka ingin berbalik kepada Allah dalam pertobatan memiliki bukti yang pasti bahwa mereka tidak melakukan kemurtadan yang tidak bisa diampuni. Alkitab dengan jelas menandaskan bahwa Allah tidak ingin seorang pun binasa ( .2Pet 3:9; bd. .Yes 1:18-19; 55:6-7) dan menyatakan bahwa Allah akan menerima kembali semua orang yang pernah mengalami kasih karunia yang menyelamatkan jikalau mereka bertobat dan kembali kepada-Nya (bd. .Gal 5:4 dengan .Gal 4:19; 1Kor 5:1-5 dengan .2Kor 2:5-11; juga lih. .Luk 15:11-24; Rom 11:20-23; .Yak 5:19-20; Wahy 3:14- 20; perhatikan contoh Petrus, .Mat 16:16; .Mat 26:74-75; Yoh 21:15-22).

( dari cd SABDA 3.0)

Next Page »