DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

CARA MENGENAL AJARAN SESAT

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 2:13 am on Thursday, November 13, 2008

(khotbah Dr. Suhento Liauw, posted by Andrew Liauw, M.Th)

Kita tahu bahwa ada banyak agama di muka bumi ini, bahkan jumlahnya tak terhitung.

Pertama, ada banyak agama yang tidak memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Allah. Allah yang berhikmat itu sanggup menulis dan Allah yang tidak sanggup menulis itu adalah Allah yang tidak berhikmat. Karena tidak memiliki kitab tertulis yang bisa dijadikan patokan pengajaran dan tuntunan kehidupan, maka tentu berakibat pada pengajaran dan kehidupan umat yang tidak menentu.

Agama yang tidak memiliki kitab tertulis itu meneruskan pengajarannya melalui mulut ke mulut, dan tentu sangat tidak standar. Tidak mungkin mendirikan doktrin yang pasti dan mantap dari cerita lisan, maka sudah tentu doktrin agama tersebut biasanya tidak jelas.

Karena doktrinnya tidak jelas maka umatnya tidak memiliki patokan pengajaran yang pasti, dan juga tidak memiliki tuntunan hidup yang pasti. Hal ini disebabkan karena umatnya bisa menulis tetapi Allahnya tidak bisa menulis. Sebenarnya tidak sulit bagi orang yang berakal sehat untuk menyimpulkan bahwa yang sedang disembah itu pasti bukan Allah yang maha tahu dan yang maha kuasa melainkan sekedar illah ciptaan oknum tertentu belaka.

Kedua, ada banyak agama yang memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Tuhan, tetapi isinya sangat sederhana, dan sangat ketinggalan. Ada banyak kitab suci yang isinya mengandung hal-hal yang sangat konyol, yaitu yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan fakta dan akal sehat. Sekalipun bertentangan dengan fakta dan akal sehat, namun dibela oleh umatnya mati-matian. Mereka siap membunuh orang yang berani menunjukkan kesalahan kitab mereka. Umatnya dengan leluasa menyerang kitab suci agama lain namun siap marah bahkan kalap ketika orang mencoba menunjukkan kesalahan kitab sucinya. Padahal kalau kitab yang diyakini mereka berasal dari Allah, maka biarkanlah kitab itu membela dirinya, atau biarkanlah Allah yang membela kitabNya, atau biarkanlah kebenaran itu sendiri mempertahankan dirinya.

Pendengar yang kami kasihi,
Kalau kita percaya akan keberadaan (existensi) Allah yang maha kuasa dan maha tahu yang menciptakan alam semesta, maka tentu kita percaya juga bahwa Allah tersebut adalah Allah yang penuh hikmat. HikmatNya melebihi para pendiri perusahaan, atau para pendiri negara, bahkan tentu lebih dari siapapun. Jadi kalau pendiri perusahaan tahu bahwa perusahaan memerlukan anggaran dasar, dan pendiri negara tahu bahwa negara memerlukan Undang-undang dasar, maka Allah tentu lebih tahu bahwa manusia memerlukan firman yang tertulis agar bisa dijadikannya patokan doktrin dan kehidupan.

Karena Allah ingin menyelamatkan manusia dan menuntun kehidupannya, maka Allah yang penuh hikmat dan tentu yang sanggup menulis itu berkepentingan agar umatnya memiliki firman yang tertulis.

Hanya dengan firman yang tertulislah jalan keselamatan itu pasti. Jalan keselamatan yang disampaikan secara lisan, atau melalui tradisi, dan lain sebagainya itu hanya akan menuntun manusia pada akhir yang mengerikan.

Allah pernah mendemonstrasikan bahwa Ia adalah Allah yang sanggup menulis dengan memerintahkan Musa naik ke atas bukit untuk menjemput sepuluh hukum yang ditulisNya.

Tetapi demi untuk mengecoh iblis Allah tidak menjatuhkan firmanNya dari langit atau memberikan firman yang lengkap kepada Musa, karena cara demikian pasti akan langsung ditiru oleh iblis yang akan juga memanggil hambanya dan memberikan firmannya, maka Allah memilih menggerakkan orang tertentu untuk menuliskan firmanNya. Firman Allah itu akhirnya ditulis seolah-olah itu adalah hukum, atau sejarah, atau dialok, atau surat pribadi yang berupa nasehat, dan lain sebagainya, sehingga sebelum dikanonkan iblis tidak menyadari bahwa suatu saat semua itu akan dikanonkan menjadi satu kanon firman Allah.

Setelah iblis menyadari bahwa ia membutuhkan juga kitab tertulis untuk menandingi firman Allah yang tertulis, maka ia sudah terlambat. Namun pasti iblis menganut faham lebih baik terlambat daripada sama sekali tidak, maka ia pun mulai menghasilkan kitab-kitabnya.

Allah menuliskan 39 kitab yang berisikan janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Tiga puluh sembilan kitab ini terdiri dari tiga kelompok kitab yaitu; kitab Torah yang adalah kitab hukum, dan Kethubim yang adalah kitab bacaan, dan Nabium yang adalah kitab para nabi.

Sekalipun namanya Torah, Kethubim, dan Nabium, namun inti kitab-kitab tersebut ialah menjanjikan seorang Juruselamat lengkap dengan ciri-cirinya. Itulah sebabnya kemudian keseluruhan kitab tersebut dinamakan kitab PERJANJIAN.

Baik orang Yahudi, yaitu penerima firman, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa kitab Perjanjian Lama adalah firman Allah. Tuhan Yesus dalam Luk.24:44 menunjukkan bahwa Ia tidak mengakui apokripa atau deuterokanonika sebagai firman Allah dengan hanya menunjuk Torah, Ketubhim, dan Nabium.

Sesudah Nabi Maleakhi, ada kurang lebih empat ratus tahun Allah tidak menurunkan firman atau tidak memerintahkan seorang nabi untuk menulis.

Akhirnya muncul Yohanes Pembaptis, pembuka jalan (forerunner), yang menyerukan bahwa Mesias atau Juruselamat yang dijanjikan telah tiba. Katanya, “lihatlah, Anak domba Allah yang menghapus dosa isi dunia.”

Juruselamat yang ditunjuk Yohanes, yaitu Yesus, menjalani kehidupan manusia, karena tujuan kedatanganNya ialah menyelamatkan manusia dengan menanggung dosa manusia. Hanya dengan cara demikian saja manusia bisa diselamatkan karena upah dosa ialah maut atau dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman.

Masa kehadiran Yesus di dunia adalah masa penggenapan atas semua yang telah dituliskan jauh sebelumnya di dalam kitab Perjanjian Lama. Menurut Rasul Yohanes ada banyak hal telah dikerjakan oleh Yesus, jika semuanya dituliskan maka akan terlalu banyak. Namun jika tidak dituliskan maka kita tidak tahu bahwa nubuatan kitab Perjanjian Lama tentang Juruselamat yang dijanjikan telah digenapi. Itulah sebabnya Tuhan menggerakkan para murid yang adalah saksi mata, dan penerima wahyu langsung, untuk menuliskan peristiwa yang mereka pernah saksikan dan juga menuliskan pengajaran bagi kehidupan pribadi orang percaya maupun jemaat.

Akhirnya Para Rasul menulis secara langsung, atau meminta murid mereka menulis. Namun sumber atau isinya tetap bersumber dari Rasul atau saksi mata, atau penerima langsung wahyu Allah.

Lukas memang bukan Rasul, tetapi isi Injilnya, sebagaimana dikatakannya pada beberapa ayat bagian awal, adalah hasil wawancara dengan Rasul-rasul. Demikian juga Markus, ia bukan rasul namun isi Injilnya bersumber dari Petrus.

Bagaimanakah prosesnya sehingga ada 27 kitab yang diterima ke dalam kanon firman Allah? Tentu tidak ada sebuah dewan atau suatu konsili yang berwenang menetapkan melainkan jemaat mula-mula yang penuh dengan Roh Kudus yang memutuskan untuk mereka sendiri.

Prosesnya ialah, misalnya surat Paulus untuk jemaat Korintus, itu ada di kota Korintus, dan surat Efesus ada di kota Efesus. Pada saat jemaat Korintus pergi ke Efesus mereka membaca surat Efesus dan menyalinnya dan membawa pulang ke Korintus sehingga di Korintus ada surat Korintus dan Efesus.

Melalui interaksi antar jemaat maka akhirnya perpustakaan jemaat semakin bertambah. Sangat mungkin jumlah kitab yang ada di antara jemaat-jemaat itu berbeda, tetapi yang jelas mereka tidak sembarangan menerima suatu kitab atau surat sebagai kebenaran firman Allah. Dan tercatat yang diakui adalah berkisar di antara 27 kitab yang kita miliki sekarang.

Karena Allah telah terang-terangan menunjukkan penyertaanNya terhadap Rasul-rasul, dengan memberi mereka kuasa untuk menghidupkan dan mematikan orang, maka jemaat juga yakin akan otoritas rasul. Oleh sebab itu semua kitab, atau surat yang menyandang nama atau diketahui bahwa surat itu ditulis oleh seorang Rasul atau dibacking oleh seorang Rasul, maka keabsahannya tidak diragukan sedikitpun.

Atau setidak-tidaknya, surat atau kitab tersebut telah beredar semasa seorang Rasul masih hidup sehingga rasul tersebut pernah membaca dan memberikan restu atasnya.

Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Rasul yang terakhir. Kitab Wahyu adalah kitab penutup yang ditulis oleh rasul terakhir. Sesudah menulis kitab Wahyu Rasul Yohanes meninggal dan tidak ada rasul lagi.

Oleh sebab itu kitab manapun yang muncul kemudian, artinya sesudah tidak ada rasul lagi yang memberi pengesahan, maka tidak bisa diterima lagi oleh jemaat sebagai firman Tuhan.

Memang akhirnya muncul banyak kitab APOKRIPA P.B. yang menyandang nama-nama beken, misalnya Injil Petrus, Injil Thomas, Injil Barnabas dan lain sebagainya. Tulisan-tulisan itu disebut APOKRIPA, artinya muncul diam-diam, atau menyusup masuk, karena munculnya secara diam-diam. Keabsahan mereka dipertanyakan karena muncul setelah rasul-rasul tidak ada. Kalau betul-betul Injil Petrus itu adalah tulisan Petrus, atau Injil Barnabas itu tulisan Barnabas, seharusnya sudah beredar sejak penulisnya masih hidup, bukan jauh setelah penulisnya tidak ada bahkan jauh setelah Rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes tidak ada.

Pendengar yang kami kasihi,
Jelas sekali bahwa 27 kitab Perjanjian Baru adalah kitab-kitab yang telah disahkan oleh Para Rasul dan telah diterima oleh jemaat mula-mula.

Allah telah menyelesaikan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia di muka bumi, yaitu firmanNya yang pasti. Tanpa firman tertulis, tidak ada kepastian firman Tuhan. Memang Allah berkali-kali berfirman secara lisan, baik kepada Abraham, Musa dan lain sebagainya. Tetapi kita tidak tahu apa yang dikatakan Allah jika itu tidak dituliskan dan tersimpan sampai generasi kita. Allah bahkan pernah memakai mimpi, visi, malaikat dan lain sebagainya untuk menyampaikan sesuatu kepada manusia. Tetapi semua itu bukan alat yang bisa dijadikan landasan pengajaran yang pasti, artinya yang bisa dijadikan landasan doktrin. Tidak ada anggaran dasar perusahan yang bersifat lisan, apalagi Undang-undang dasar sebuah negara.

Akhirnya dari bicara secara lisan, memakai undian, mimpi, visi, malaikat, dan lain sebagainya, Allah sampai pada pemakaian tulisan. Dan yang lebih indah lagi ialah semua tulisan yang masih terpencar itu akhirnya dikumpulkan menjadi sebuah kanon, atau sebuah alat ukur yang pasti, yang tidak boleh ditambah maupun dikurangi lagi.

Banyak orang bertanya; “apakah kebenaran Alkitab itu kebenaran yang absolut?” Jawabnya, tentu! Kalau kebenaran Alkitab itu relatif maka itu sama dengan tidak ada kebenaran. Lho, bukankah sangat tergantung pada tafsiran manusia? Ya…tafsiran manusia itu tidak absolut, tetapi kebenaran Alkitab itu absolut. Dengan kata lain, tafsiran yang paling dekat dengan Alkitablah yang paling absolut. Mari, kita bersama-sama memakai otak yang diberikan Allah kepada kita untuk merenungkan firmanNya yang absolut, agar kebenaran yang kita yakini adalah kebenaran yang absolut.

Allah memberikan kita otak untuk berpikir, dan juga memberikan kita firmanNya yang absolut untuk dipelajari dengan otak kita. Setiap orang boleh menafsirkan firman Tuhan yang absolut itu. Tentu tidak semua tafsiran itu yang dihasilkan absolut, tafsiran yang semakin dekat dengan Alkitab adalah penafsiran yang semakin absolut, karena Alkitab adalah kebenaran absolut.

Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut, melainkan kebenaran relatif, maka itu berarti Allah tidak pernah menurunkan kebenaran, melainkan membiarkan manusia mencari serta menentukan kebenaran mereka sendiri. Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut maka Yesus satu-satunya jalan keselamatan, juga bukan statemen yang absolut.

Memang iblis menjadi sangat takut dan gentar dengan Alkitab karena Alkitab adalah kebenaran Allah yang absolut. Karena dengan kebenaran absolut dari Allah itulah ia akan dihancurkan dengan tak berkutik.

Tetapi iblis bukan tipe oknum yang gampang menyerah. Ia berusaha keras agar manusia tidak menjadikan Alkitab kebenaran yang absolut.

Pertama, ia berusaha agar manusia menambahi kebenaran Alkitab dengan tradisi. Karena kalau manusia hanya mau berpatokan pada Alkitab saja, maka iblis kehilangan peluang untuk menanamkan pengaruhnya. Ia jugalah yang memunculkan berbagai kitab APOKRIPA untuk mengacaukan kanon, atau ukuran. Kalau ukuran kebenaran menjadi kacau, maka manusia akan kehilangan standar kebenaran serta akan semakin jauh dari kebenaran.

Saya sangat prihatin dengan teman-teman yang menyebut dirinya Kristen, namun tidak sanggup melihat usaha iblis untuk mengacaukan standar kebenaran. Semua doktrin akan kacau kalau landasan kebenarannya tidak ada kepastian. Allah telah memberikan firmanNya yang definite (pasti), namun iblis berusaha keras agar manusia berdiri, berjalan, bahkan duduk dalam firman yang indefinite (tidak pasti). Tentu kemudian mereka tergelincir, dan tidak bisa memahami doktrin yang benar atau yang alkitabiah, karena mereka telah keluar dari Alkitab.

Pendengar yang kami kasihi dalam Kristus,
Tiga puluh sembilan (39) kitab P.L. dan 27 kitab P.B. adalah satu-satunya firman Tuhan, dan di luar itu baik lisan maupun tertulis tidak ada firman Tuhan. Siapapun yang tidak memegang keyakinan demikian itu sama dengan tidak meyakini bahwa Allah telah menurunkan firmanNya yang pasti (definite). Dan kalau tidak ada firman yang pasti, maka tidak mungkin akan ada doktrin yang pasti, karena doktrin yang pasti itu harus yang disimpulkan dari firman yang pasti.

Itulah sebabnya Paulus menubuatkan dalam I Kor.13:8
bahwa Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Pertama, yang dimaksud pengetahuan di ayat tersebut itu jelas bukan akal sehat melainkan karunia berkata-kata dengan pengetahuan sebagaimana yang juga tertulis pada pasal 12:8. Sebab sampai di Sorga pun akal sehat kita, seperti dua tambah dua sama dengan empat, itu tidak akan lenyap.

Karunia bernubuat akan berakhir dan bahasa lidah akan berhenti itu bukan pada saat Paulus mengucapkan yang kira-kira tahun 50 an, melainkan nanti setelah Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu pasal 22:21, yang kira-kira tahun 95. Memang pada saat Paulus mengirim surat I Korintus, ia menasehatkan agar jemaat Korintus mengejar karunia, dan terutama karunia bernubuat karena karunia bernubuat adalah yang paling bermanfaat sebab nubuatan itu datang dari Allah atau wahyu Allah.

Tetapi itu terjadi sebelum Allah menghentikan proses pewahyuan. Setelah wahyu terakhir, yaitu kitab Wahyu 22:21 diturunkan, yaitu ketika rasul Yohanes menuliskan amin, dan titik, maka sejak saat itu Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Orang kristen yang berhikmat harus sanggup melihat bahwa Allah yang penuh hikmat telah menghentikan proses pewahyuan agar manusia memiliki standar firman Tuhan yang pasti. Jika Allah tidak menghentikan proses pewahyuan, maka itu berarti belum ada kepastian standar firman Tuhan.

Banyak orang tidak mengerti letak kesalahan dari mereka yang menggembar-gemborkan nubuatan masa kini. Bahkan ada yang lucu sekali, dimana di satu sisi mereka mengatakan bahwa mereka percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan, namun disisi lain mereka percaya bahwa masih ada proses pewahyuan yang menghasilkan nubuatan.

Pada sesi yang lalu telah saya katakan bahwa sesungguhnya hanya ada dua kategori kesesatan, yaitu; Keluar dari Alkitab dan salah menafsirkan Alkitab.
Yang pertama jauh lebih gampang diidentifikasi. Siapa saja yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY, baik tertulis maupun lisan, itu sudah keluar dari Alkitab.
Ada yang EXTRA BIBLICAL AUTHORITYnya berupa Deuterokanonika, tradisi, keputusan sidang ini dan itu, atau wahyu yang datang sesudah kitab Wahyu 22:21.

Extra biblical authority ini adalah penyebab utama penyesatan, atau penyebab utama terbentuknya doktrin yang tidak alkitabiah, karena doktrinnya tidak dilandaskan HANYA pada Alkitab, melainkan juga pada Extra Biblical Authority.

Oleh karena waktu, maka pada malam ini saya tidak sempat menguraikan tentang kategori kesesatan yang kedua, yaitu yang salah menafsirkan Alkitab. Selasa yang akan datang kami jadwalkan untuk membahas tentang cara menafsrian yang benar. Untuk malam ini anda telah mendapatkan penuntun sederhana namun sangat penting, yaitu bahwa yang alkitabiah itu ialah yang hanya percaya kepada Alkitab. Kekristenan model apapun, atau gereja merek apapun yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY atau otoritas di luar Alkitab baik tertulis maupun lisan, maka tandailah, itu pasti kekristenan yang sesat. Perhatikan, bukan mungkin sesat tetapi pasti sesat. Tentu bukan sesat dari pengajaran Dr. Liauw, melainkan sesat dari Alkitab.

Pendengar yang saya kasihi dalam Kristus,
Kalau anda dalam kondisi sedang mempercayai Alkitab plus, entah itu plus kitab tertentu, tradisi, hasil persidangan, atau pun nubutan lisan masa kini, maka dengan rendah hati saya nasehati anda bahwa jika anda ingin masuk Sorga dan mempercayai doktrin yang alkitabiah, buanglah yang plus itu, percayalah HANYA pada Alkitab saja. Bernubuat memang dianjurkan sebagaimana tertulis dalam I Kor.14 yang ditulis sekitar tahun 50-an, tetapi itu sebelum Allah menutup firmanNya, artinya sebelum tahun 95 ketika rasul Yohanes menulis Wahyu 22:21.

Allah telah memberikan manusia firman tertulis yang standar, dokumen hitam di atas putih, yang tidak ada salah, yang berisikan pengajaran moral yang tertinggi. Kalau ada Allah, dan kalau Ia adalah Allah yang berhikmat, maka tidak mungkin Ia tidak menuliskan dan membatasi firmanNya. Sebab, jika tidak ada batasan tentang yang mana firmanNya, maka itu sama dengan tidak ada firman Allah, atau tidak ada Allah.

Pikirkanlah sobat, masuk sorga itu penting, bahkan yang terpenting. Maukah malam ini anda menyatakan kepada Allah bahwa mulai malam ini anda mau percaya bahwa hanya Alkitab saja firman Allah, dan percaya hanya kepada Alkitab saja? Amin.

TIDAK PERNAH DENGAR INJIL TETAP AKAN MASUK NERAKA. LALU, SALAH SIAPA?

Filed under: INJIL — dedewijaya at 2:07 am on Thursday, November 13, 2008

Suhento Liauw, D.R.E., Th.D
Rektor GITS dan Gembala Jemaat GBIA Graphe
Sumber: buletin Pedang Roh Edisi 39 Tahun IX April-Mei-Juni 2004

PERTANYAAN UMUM
Sekalipun dunia dengan teknologi komunikasinya sudah sangat canggih,
namun tentu masih ada orang yang tinggal di hutan atau tempat yang
tak terjangkau Injil. Jika mereka meninggal, apakah ada pengampunan
khusus bagi mereka karena mereka belum pernah mendengar tentang
Injil? Atau bagaimanakah nasib penduduk negara-negara Arab yang
dilarang oleh pemerintahnya mendengarkan berita Injil? Pertanyaan-
pertanyaan demikian sering muncul dalam acara seminar Doktrin
tentang Keselamatan (Soteriology). Tentu kita harus melihat
jawabannya di dalam Alkitab.

INJIL YANG MURNI
Injil yang murni mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui
pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.
Rasul paulus dalam Roma 10:9-10 berkata, “sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu,
bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka
kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”

Dosa tidak dapat diselesaikan dengan apapun selain dihukumkan.
Itulah sebabnya Sang Juruselamat dijanjikan untuk menerima hukuman
atas seisi dunia. Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa
seisi dunia. Untuk itu secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa
bagi bayi, orang yang sakit jiwa sebelum akil balik, yang lahir
cacat mental dan sejenisnya dan meninggal, mereka pasti masuk Sorga
karena Yesus telah menanggung dosa seisi dunia. Tetapi jika manusia
bertumbuh dewasa, mencapai umur akil balik dan sehat mental, dan
melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa
bukan lagi karena ia keturunan Adam yang jatuh kedalam dosa,
melainkan kini ia menjadi orang berdosa atas perbuatannya sendiri.
Manusia dewasa yang berdosa, mutlak memerlukan berita Injil untuk
keselamatan jiwanya.

Sehubungan dengan kebenaran Alkitabiah ini, maka dapat disimpulkan
bahwa Calvinis (aliran Calvinis) sangat mungkin tidak pernah
mengalami peristiwa rohani yang dikatakan Rasul Paulus ini, karena
Calvinis tidak diselamatkan oleh bertobat dan percaya, melainkan
dipilih sejak dunia belum dijadikan. Calvinis mengurangi berita
Injil Keselamatan dari perlunya respon manusia menjadi hanya diam
menunggu pemilihan.

Kelompok yang menekankan keselamatan melalui baptisan juga tidak
mengalaminya karena melampaui atau menambahi berita Injil
Keselamatan dari tidak memerlukan tambahan baptisan menjadi
memerlukannya.

Injil yang pas takarannya ialah bertobat serta percaya kepada
Juruselamat yang telah menanggung dosa seisi dunia. Pada saat
seseorang mendengarkan dan percaya pada berita Injil yang menyatakan
dosa dan penghakiman, serta menunjukkan kebenaran di dalam penebusan
Sang Juruselamat, maka sesuai dengan janji firman Tuhan , pada saat itu Roh Kudus masuk ke dalam hatinya (Efesus 1:13)

PERLU PEMBERITAAN
Dalam Roma 10 Paulus menyatakan bahwa hanya orang yg berseru kepada nama Tuhan yg akan selamat, “tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yg memberitakan-Nya?” Silogisme Rasul Paulus ini membuktikan bahwa
predestinasi keselamatan itu tidak benar. Predestinasi hanya untuk tiang
penopang dan dasar kebenaran saja. Yakub dipilih dan Esau ditolak itu bukan
berhubungan dengan keselamatan melainkan berhubungan dengan pemilihan sebuah
bangsa sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran serta menghadirkan Mesias di
muka bumi. Sedangkan untuk mendapatkan keselamatan jiwa, jelas orang tersebut
harus percaya kepada Mesias, dan untuk percaya ia harus mendengar berita tentang
Sang Mesias. Berarti harus ada pengutusan orang untuk pergi memberitakan Injil.

Orang diselamatkan karena bertobat dan percaya kepada Injil, dan peristiwa ini
diawali dengan pengutusan penginjilan oleh jemaat/gereja lokal. Penginjil yg
memberitakan Injil mengumpulkan orang-orang yg telah diselamatkannya untuk
membentuk jemaat lokal dan kemudian jemaat lokal tersebut mengutus penginjil
lagi untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat lokal, sehingga semakin
banyak jemaat lokal didirikan dan semakin banyak penginjil diutus untuk pergi
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal. Sebuah siklus yg indah dan sangat
diingini Yesus Kristus.

Orang-orang yg tinggal di daerah yg terpencil perlu diutuskan penginjil untuk
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal agar mereka diselamatkan dan iman
mereka bertumbuh dalam sebuah jemaat lokal yg alkitabiah. Tanpa mendengarkan
Injil, manusia tidak mungkin diselamatkan. Manusia akan mati di dalam dosanya
dan akan masuk ke dalam neraka.

Pembaca mungkin langsung bertanya, kalau mereka masuk neraka, itu kesalahan siapa? Tentu ada banyak pihak yg bersalah atas kebinasaan sekelompok orang yg belum pernah mendengarkan berita Injil. Gereja yg tidak pernah mengutus penginjil untuk pergi memberitakan Injil harus mempertanggungjawabkan setiap
rupiah yg didepositokan atau yg menganggur, di hadapan Tuhan. Bahkan setiap
orang Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokannya, di
hadapan Tuhan. Dan setiap orang yg telah diselamatkan harus berdiri di hadapan
Tuhan untuk menjawab pertanyaan, mengapa ia tidak terlibat dalam pemberitaan
Injil.

MENGAPA PINDAH KE ARAB ?
Ada banyak pihak yg turut bersalah dalam kasus injil tidak sampai kepada
seseorang. Salah satunya juga ialah penyebab sampai ia berada di lokasi yg
terjangkau Injil. Mungkin bapa leluhurnya yg telah mengambil keputusan pindah
hingga ke lokasi tak terjangkau, ikut bersalah juga. Misalnya, jika seseorang
tergiur pada gaji yg tinggi, ia menerima pekerjaan di Arab Saudi. Karena ia
tidak diperbolehkan membawa Alkitab, maka lama-kelamaan imannya dan iman isteri
serta anak-anaknya semakin mundur. Tidak tertutup kemungkinan ia mendapatkan menantu yg namanya Abdullah atau Aminah. Dan kemudian sangat mungkin cucunya akan diberi nama Osama atau Aminah. Akhirnya mereka tidak pernah mendengar Injil Keselamatan yg akan menyelamatkan jiwa mereka. Siapakah yg bersalah atas kebinasaan mereka?

Betapa banyak orang Kristen yg pindah rumah tanpa mempertimbangkan aspek rohani keluarganya. Yang mereka hiraukan hanyalah sekolah untuk anak-anak mereka, pasar atau mall untuk berbelanja, dan berbagai fasilitas kebutuhan manusia jasmaniah. Biasanya mereka tidak peduli apakah di tempat tujuan mereka terdapat gereja lokal alkitabiah atau tidak. Mereka tidak mementingkan aspek rohani. Tidak patutkah kalau Tuhan muak terhadap orang-orang demikian? Dan kalau kebetulan di
dekatnya ada gereja alkitabiah, tentu tidak pernah disyukurinya, karena ia tidak
pernah mementingkannya. Bagi mereka kehadiran gereja adalah aspek optional,
bukan yg utama, dan kalau tidak ada pun tidak apa-apa.

PERLU GEREJA ALKITABIAH
Diperlukan berita Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yg telah melakukan
dosa secara sadar. Bahkan bukan sembarangan Injil, melainkan Injil yg
alkitabiah. Dan Injil yg alkitabiah hanya terdapat di dalam gereja yg
alkitabiah. Gereja yg sesat tidak mungkin memberitakan Injil yg
alkitabiah, melainkan Injil yg dikurangi dan ditambahi, yaitu Injil yg akan
menuntun manusia ke neraka (Ams.14:21).

Agar Injil yg alkitabiah ada di mana-mana, maka perlu didirikan jemaat lokal
alkitabiah di mana-mana. Contoh, oleh jemaat mula-mula yg alkitabiah, Injil
disampaikan kepada orang-orang Antiokhia, sehingga di Antiokhia didirikan sebuah
jemaat yg alkitabiah. Dan kemudian jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas
memberitakan Injil sehingga berdirilah jemaat-jemaat alkitabiah di seluruh Asia
Kecil. Pemberitaan Injil yg alkitabiah semestinya disertai pendirian jemaat
lokal yg alkitabiah. Jika seseorang hanya memberitakan Injil tanpa mendirikan
jemaat lokal, ia hanya melakukan separuh dari Amanat Agung.

Pemberitaan Injil tanpa pendirian jemaat lokal adalah pelayanan yg hanya
terfokus pada generasi kontemporer, tanpa memelihara Injil dan kebenaran untuk
generasi berikut. Karena tanpa jemaat lokal, maka orang yg diselamatkan oleh
Injil tidak memiliki tempat bersekutu, atau tempat mempraktekan semua perintah
Tuhan kepada orang yg telah diselamatkan-Nya.

MEMULIAKAN JEMAAT
Orang Kristen alkitabiah harus faham bahwa jemaat lokal alkitabiah
adalah tubuh Kristus. Orang Kristen lahir baru harus memuliakan
tubuh Kristus bukan memuliakan dirinya sendiri. Jika orang Kristen
lahir baru ingin berbuat baik, maka sepatutnya dilakukan melalui
jemaat agar jemaatlah yang dipuji bukan dirinya. Jika orang
Kristen lahir baru ingin melaksanakan perintah Tuhan, ia harus
melakukannya melalui jemaat bukan langsung dilakukan dirinya, agar
jemaatlah yg dimuliakan atau dipuji. Dan jika orang Kristen lahir
baru ingin memberitakan Injil, tentu ia harus melakukannya melalui
jemaat lokal alkitabiah. Ia bisa menerima pengutusan jika ia
menyumbangkan dirinya. Atau menyalurkan dana untuk penginjilan
melalui jemaat. Intinya, setiap orang Kristen lahir baru harus
menghitung dirinya ke dalam jemaat dalam segala tindakannya, agar
jemaat dimuliakan oleh segala perbuatannya. Tentu kalau ia
melakukan hal-hal buruk, nama jemaat akan tercela atau
dipermalukannya.

Jemaat lokal adalah pusat kehidupan orang Kristen lahir baru sebelum
ia ke Sorga. Jemaat lokal didirikan Tuhan sebagai institusi transit
menuju Sorga. Sebelum TKW dikirim ke luar negeri, biasanya mereka
ditampung, kemudian dilatih untuk menguasai berbagai ketrampilan,
baik bahasa maupun berbagai kecakapan. Demikian juga setiap orang
Kristen lahir baru yg menantikan kedatangan Tuhan. Jemaat lokal
alkitabiah adalah tempat bagi orang percaya untuk mempersiapkan diri
hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Betapa penting posisi gereja
lokal alkitabiah di mata Tuhan. Dan betapa penting gereja lokal
alkitabiah bagi manusia yg cinta kebenaran. Berbahagialah jika ada
mahasiswa GRAPHE yg mau memulai jemaat alkitabiah di daerah anda.
Dan kalau anda merindukan gereja alkitabiah dimulai di daerah anda,
berdoalah, dan hubungi GITS segera.

Tanpa gereja alkitabiah di dekat anda, sangat mungkin anak cucu anda
akan berakhir di neraka. Celakalah sebuah bangsa jika di dalamnya
tidak ada gereja alkitabiah, dan celakalah penduduk sebuah daerah
jika di sana tidak ada gereja yg alkitabiah.***(SELESAI)

DOMBA KORBAN

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:44 am on Thursday, November 13, 2008

Oleh: Dr. Suhento Liauw
Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)
Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE

————————————————————

Ide tentang Domba korban itu bukan sesuatu yang baru. Banyak orang
bahkan pernah menyaksikan sekumpulan domba atau kambing sedang
dipersiapkan untuk dijadikan korban.

Mengapa Mempersembahkan Korban?

Banyak pemimpin agama mengajar umat mereka untuk mempersembahkan
korban. Namun sering kali tidak mengajarkan alasan dan tujuan dalam
mempersembahkan korban. Akhirnya, mereka menghasilkan umat yang hanya
sekedar menurut saja, tanpa memahami makna perbuatan mereka sendiri

Sesungguhnya domba korban diperlukan manusia setelah umat manusia
jatuh ke dalam dosa. Allah pencipta langit dan bumi adalah Allah yang
maha suci, yang tidak bisa berkompromi dengan dosa atau kejahatan,
yang sekecil apapun. Ia pasti akan menjatuhkan penghukuman terhadap
siapa saja yang berbuat dosa. Ia tidak akan memandang amal mereka,
karena amal mereka tidak dapat menghapuskan dosa mereka, melainkan
hanya membuat mereka lebih terhormat di hadapan manusia. Tidak ada
amal yang dapat menghapuskan dosa! Manusia yang bodoh saja tahu,
bahwa orang yang telah melakukan pembunuhan itu perlu dihukum, bukan
disuruh berbuat amal, apa lagi Tuhan. Mungkinkah Tuhan yang sanggup
menciptakan langit dan bumi tidak memakai cara yang benar, melainkan
membiarkan manusia berdosa memakai amal untuk menutupi dosanya?

Sebagai contoh, kalau seseorang tertangkap mencuri sesuatu, maka ia
akan dijatuhkan hukuman terkurung di dalam penjara untuk suatu jangka
waktu. Setelah ia menjalankan penghukumannya, maka hutang dosanya
telah terlunaskan di hadapan hukum. Demikian juga prinsip hukum Tuhan
berlaku. Prinsip tata-hukum manusia itu pada hakekatnya berasal dari
prinsip tata-hukum Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberikan akal budi
kepada manusia.

Ide tentang korban itu dihasilkan dari prinsip penjatuhan hukuman.
Sama artinya dengan penjatuhan hukum denda terhadap orang yang
bersalah. Artinya, karena kesalahannya, seseorang perlu membayar
ganti rugi atau menerima penghukuman. Bisa berupa hukuman badan
(cambuk atau penjara), atau berupa hukuman materi (denda uang atau
barang). Orang-orang yang mempersembahkan sesajian itu sebenarnya
bermaksud datang untuk membayar ganti rugi kesalahannya secara
materi.

Adam dan Hawa tahu persis, bahwa Allah tidak mungkin berkompromi
terhadap dosa yang telah mereka perbuat. Karena mereka adalah orang
pertama yang jatuh ke dalam dosa, maka pasti mereka mengetahui, atau
setidaknya mereka mendengar tentang akibat dosa mereka, dan juga cara
untuk mendapatkan pengampunan. Setelah mereka mengetahui bahwa cara
untuk mendapatkan pengampunan itu ialah menjadikan seekor domba
sebagai korban pengganti mereka sementara menunggu “domba Allah” yang
sedang dipersiapkan, maka tentu mereka meneruskan ajaran itu kepada
anak cucu mereka.

Dalam cerita Kain dan Habel, terkandung makna bahwa pada prinsipnya
mereka tahu dengan jelas tentang jalan keselamatan. Tetapi rupanya
Kain tidak serius dalam menanggapi makna jalan keselamatan yang
diajarkan Allah. Sedangkan Habel lebih berhikmat, dan tulus, sehingga
dia menuruti tata-cara yang dikehendaki Allah.

Apa yang dilakukan oleh Kain itu hampir sama dengan tindakan orang-
orang yang mempersembahkan sesajian yang berupa makanan, buah-buahan,
dan berbagai benda materi lain. Mereka berpikir bahwa dengan
mengganti rugi secara materi maka dosa mereka akan diampuni. Atau,
hanya dengan motivasi untuk sekedar mempersembahkan apa yang ada pada
mereka tanpa menghiraukan kehendak Allah. Karena Kain seorang petani,
ya…dipersembahkannyalah hasil pertaniannya. Prinsip dan caranya
dikuti oleh kebanyakan manusia di dunia ini. Mereka seolah-olah
berkata, “Tuhan seharusnya mengerti keadaan saya dan menuruti jalan
dan cara saya.”

Namun Habel mempersembahkan domba yang tak bercacat. Tentu saja Tuhan
berkenan kepada persembahan Habel. Ia telah melakukan tepat seperti
kehendak Tuhan, yaitu seperti yang didengarnya dari orangtuanya.
Mereka harus percaya kepada Penyelamat yang akan dikirim Allah, dan
sebelum Penyelamat itu datang untuk menanggung dosa mereka, domba
adalah gambaranNya. Kain juga pasti mendengar hal yang sama, tetapi
mungkin karena dia tidak rela mematuhi perintah Tuhan, maka
dipilihnya jalan yang baik menurut pendapatnya.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka merasa sangat malu,
juga merasa segan untuk bertemu dengan Allah. Mereka menyadari akan
kesalahan mereka. Karena kesalahan mereka, Allah menyembelih seekor
binatang dan memakai kulit binatang itu untuk menutupi tubuh mereka.
Arti “korban” yang sebenarnya ialah “pihak yang menerima akibat atas
kesalahan pihak lain.” Kalau ia menerima akibat kesalahannya sendiri,
itu bukan korban, melainkan upah perbuatannya. Binatang korban adalah
binatang yang dibunuh untuk kesalahan seseorang. Ia dinamakan
binatang korban, karena tujuan kematiannya itu sebagai korban.

Allah telah menetapkan untuk memakai domba sebagai gambaran tentang
Sang Penyelamat yang akan dijadikan korban penghapus dosa. Allah
tidak memilih babi, anjing maupun ayam, apa lagi sayur-sayuran. Apa
makna dibalik ketetapan untuk memakai domba sebagai binatang korban?
Tentu karena domba memiliki sifat-sifat khusus yang cocok untuk
melambangkan Sang Penyelamat yang akan diutus. Dan, keadaan domba
yang tak bercacat melambangkan kesucian. Kalau tidak melambangkan
sesuatu, berarti binatang apa saja bisa dijadikan korban, sesuai
dengan apa yang dimiliki oleh seseorang. Domba yang tak bercacat itu
melambangkan bahwa Penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan
manusia dari penghukuman itu adalah pribadi yang tidak berdosa.

Orang yang mengorbankan domba atas dosanya, harus mempercayai janji
Allah, yaitu janji pengiriman seorang Penyelamat. Tanpa beriman
kepada Sang Penyelamat, sekalipun mereka mempersembahkan seribu ekor
domba, dosa mereka akan tetap tak terhapuskan. Sebab, kalau dosa
dapat terhapuskan hanya melalui penyembelihan domba, maka orang kaya
pasti akan lebih gampang masuk Surga, berhubung mereka memiliki lebih
banyak uang untuk membeli domba.

Tentu pertanyaan berikut akan muncul, “mengapakah manusia yang
berbuat dosa, tetapi domba yang menjadi korbannya?” Seharusnya,
karena manusia yang berdosa, maka manusia jugalah yang harus
menanggungnya, bukan domba. Benar, berikut ini ada beberapa prinsip
kebenaran yang harus diingat untuk mengerti rahasia illahi.

1. Pertama, setiap manusia yang berdosa pasti akan dihukum.

2. Kedua, manusialah yang harus menganggung dosa manusia, bukan
binatang.

3. Ketiga, orang berdosa tidak bisa menjadi penanggung dosa orang
lain, karena ia sendiri harus menanggung dosanya sendiri. Hanya orang
yang tidak berdosa yang dapat menjadi penanggung dosa orang lain.

4. Keempat, tidak ada orang benar di dunia ini. Satu orang pun tidak
ada. Benih dosa Adam dan Hawa telah diturunkan kepada setiap manusia
yang lahir dari mereka. Tanpa perlu diajar, semua manusia cenderung
berbuat dosa.

Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan dosa manusia. Yaitu melalui
seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menggantikan manusia
berdosa menerima penghukuman. Mungkinkah ada seorang manusia yang
tidak berdosa yang rela menanggung dosa orang lain? Mungkin ada orang
yang berani mati bagi seseorang yang sangat dikasihinya, bahkan ia
rela menanggung dosa kekasihnya di Neraka. Namun, jika ia sendiri
juga seorang berdosa, ia tidak layak menjadi penanggung dosa, karena
ia sendiri termasuk yang akan dihukum di Neraka. Hukuman yang
diterimanya di Neraka itu adalah porsi untuk dirinya, bukan porsi
orang lain yang ditanggungnya. Adakah orang yang tak berdosa yang
secara sukarela menyerahkan diri menjadi penanggung dosa?

Bagi manusia, hal itu mustahil. Karena ada beberapa syarat yang
menghalanginya. Syarat yang pertama, sang Penyelamat harus seorang
yang tak berdosa. Syarat kedua, harus dilakukan atas kesukarelaan
hatinya. Itu berarti, diperlukan seorang yang maha suci dan juga maha
kasih. Dari persyaratan-persyaratan tersebut di atas, jelas sekali
hanya Allah saja yang dapat melakukan semua itu.

Kita bersyukur sekali karena Dia telah merencanakan dan bahkan telah
bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa.
Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan
dengan sifat-sifatnya. Ia tidak bisa menolong orang miskin dengan
barang curian dari orang kaya. Karena tindakan mencuri bertentangan
dengan sifat kesucianNya. Allah dapat melakukan segala sesuatu dengan
satu syarat, yaitu yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Dia
adalah Allah yang maha kasih. Tetapi Dia juga Allah yang maha suci
dan maha adil.

Untuk menyelamatkan manusia berdosa dengan cara yang tidak
bertentangan dengan sifat-sifatNya, Allah menjelma menjadi manusia.
Manusia jelmaan Allah itu diberi nama Yesus, yang artinya
Juruselamat. Ketika Allah mempersiapkan Sang Penyelamat itu, Ia
memerintahkan manusia berdosa untuk percaya kepada janjiNya.

Sementara menunggu Sang Penyelamat, Allah memerintahkan manusia untuk
melakukan sesuatu yang menggambarkan proses penyelamatan itu dengan
iman. Sang Penyelamat digambarkan dengan domba yang tak bercacat, dan
setiap orang berdosa yang ingin diselesaikan dosanya harus menimpakan
dosanya ke atas domba itu.Jadi, mempersembahkan korban domba adalah
perbuatan yang menggambarkan program Allah untuk menyelamatkan
manusia. .

Yang Allah inginkan adalah domba yang tak bercacat, bukan babi, bukan
ayam dan juga bukan sayuran atau buah-buahan. Perintah untuk memakai
domba bukan tanpa alasan, melainkan dengan maksud yang sangat khusus,
yaitu untuk menggambarkan Sang Penyelamat yang direncanakan Allah.

Ribuan tahun telah dihabiskan untuk menapak jalan bagi Sang
Penyelamat. Itu sama sekali bukan karena ketidakmampuan Allah,
melainkan oleh karena maksud lain.

Salah satu alasan penundaan ialah, untuk menghindari pemalsuan yang
akan mencelakai manusia yang tidak berhati-hati. Allah memakai waktu
yang begitu panjang untuk menuliskan tanda-tanda Sang Penyelamat
sebelum kedatanganNya, agar orang-orang dapat mengenalNya dan iblis
tidak dapat memalsukanNya.

Untuk menghindari pemalsuan, Allah menyelipkan tanda-tanda tentang
Sang Penyelamat ke dalam catatan sejarah, lagu Zabur/Mazmur, dan
tulisan Nabi-nabi. Banyak orang tidak dapat melihat tanda-tanda itu,
terutama mereka yang mengabaikan masalah kerohanian. Tetapi bagi
mereka yang mempunyai kemauan untuk menyelidik, yaitu yang menganggap
bahwa keselamatan adalah hal penting, mereka dapat melihat tanda-
tanda itu dengan jelas. Bagi orang yang tidak menaruh perhatian, apa
boleh buat, karena jika dia tidak mau menyelamatkan dirinya, lebih
sulit lagi bagi orang lain untuk menyelamatkannya.

Allah sengaja menuliskan kitab-kitab itu secara cicilan, dan
dituliskan seolah-olah itu kitab hukum (Taurat), seolah-olah buku
nyanyian (Mazmur), dan seolah-olah kitab sejarah (Yosua-Ester). Iblis
tidak menyadari bahwa di dalamnya berisikan tanda-tanda Sang
Penyelamat yang dijanjikan Allah.

Berikut ini adalah beberapa tanda utama yang diberikan;

1. Ia akan dilahirkan dari keturunan Abraham/Ibrahim (Tertulis dalam
kitab Taurat pertama/Kejadian pasal 22 ayat 18). Tanda ini
mengecualikan orang lain yang bukan keturunan Ibrahim. Kalau ada
keturunan non-Ibrahim berkata bahwa dirinya adalah Sang Penyelamat
yang akan dikirim, jangan percaya! Sebab, di dalam Kitab Taurat telah
tertulis bahwa Sang Penyelamat adalah keturunan Ibrahim.

Perlu diketahui, bahwa semua tanda ditulis jauh sebelum Sang
Penyelamat datang. Jadi, tulisan itu bersifat nubuatan.

2. Agar semua orang bisa mengenal sang Penyelamat, Allah menambahkan
tanda-tanda lain. Antara lain; bahwa ia akan dilahirkan dalam
keluarga Daud (Tertulis dalam kitab II Samuel 7:13).

3. Selain lahir dari keluarga Daud, ia akan dilahirkan oleh seorang
perawan (Dalam kitab Yesaya 7:14).

4. Ia akan dilahirkan di kota Betlehem (Dalam kitab Mikha 5:1),

5. Ia akan dibunuh sebagai korban (Dalam kitab Yesaya 53:12).

Hal yang sangat mengagumkan ialah, ada sekitar tiga ratus tanda telah
dituliskan sebelum kedatanganNya. Kalau ditulis setelah kejadian,
banyak sejarahwan dapat melakukannya. Tetapi, menuliskan tanda-tanda
itu sebelum kejadian, itu membuktikan bahwa Allah ikut campur tangan
dalam penulisan kitab-kitab itu.

Kita tiba pada bagian yang terpenting. Setiap orang yang mau diampuni
dosanya, harus memakai cara yang ditetapkan Allah. Orang yang memakai
caranya sendiri, atau cara yang diajarkan oleh orang yang sebenarnya
tidak tahu, atau terjebak ke dalam cara yang diciptakan oleh iblis,
pasti akan berakhir seperti Kain. Ia ditolak oleh Allah. Kain tidak
percaya kepada Allah, oleh sebab itu ia tidak mau menuruti jalan yang
ditentukan Allah. Biasanya orang-orang seperti Kain tidak berusaha
mengetahui jalan yang benar. Kelihatannya dia tidak peduli, apakah
akan masuk Surga atau masuk Neraka.

Salomo berkata, “Ada jalan disangka orang lurus, tetapi ujungnya
menuju maut.” Oh, banyak sekali orang yang seperti Kain di dunia ini.
Tetapi orang-orang seperti Habel juga ada. Mereka menaruh perhatian
terhadap hal-hal rohani, suka menyelidik, dan ingin mengetahui jalan
yang benar. Mereka berusaha menyelidiki tanda-tanda yang Allah
berikan. Tentu mereka akan mendapatkannya, karena tanda yang telah
diberikan itu sangat jelas. Tanda-tanda itu bukan disediakan untuk
orang pintar atau terpelajar saja, melainkan untuk setiap orang yang
ingin diselamatkan dari penghukuman kekal di Neraka.

Disamping Allah berusaha keras untuk menyelamatkan manusia dari
penghukuman, iblis juga berusaha keras untuk menghalangi usaha itu.
Ia berusaha menyebarkan issue bahwa kitab Taurat, Zabur/Mazmur, dan
kitab yang ditulis oleh Nabi-nabi itu telah dipalsukan.

Seharusnya mereka berpikir sedikit. Kalau Allah sanggup menciptakan
langit dan bumi, tentu Dia juga sanggup menghindarkan kitab yang
telah diilhaminya dari pemalsuan. Seharusnya mereka juga berpikir
bahwa kalau seseorang menyatakan sesuatu palsu, seharusnya dia pernah
melihat atau memiliki yang asli. Kalau dia tidak pernah melihat atau
memiliki yang asli, ada kemungkinan tindakannya dilatarbelakangi
tujuan yang tidak murni. Celakanya, banyak orang hanya ikut saja,
tanpa berkeinginan untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Seharusnya
mereka tahu, bahwa tidak ada hal yang lebih penting dari hal ini.
Sekali mereka salah beriman, maka akan berakibat kekal di Neraka.

Alkitab maupun sejarah, bersama-sama membuktikan bahwa hanya ada satu
orang saja yang memenuhi semua tanda sebagai Penyelamat sebagaimana
tertulis dalam kitab Taurat, Zabur dan Para Nabi.

Tentu bukanlah suatu kebetulan kalau orang itu ternyata menggenapi
semua tanda yang ditulis oleh Musa, Daud, dan Nabi-nabi jauh
sebelumnya. Penghitungan tahun yang dipakai secara international,
yaitu 1995, adalah tahun yang dihitung mulai dari kelahiranNya.
Sebelum kelahiranNya, malaikat menampakkan diri kepada Maria untuk
memberitahukan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak.
Tentu dia sangat heran karena dia tahu bahwa dirinya belum menikah.
Tetapi malaikat menenangkannya sambil memberitahukannya bahwa itu
akan terjadi oleh Roh Allah, dan Anak itu akan disebut immanuel, yang
berarti Allah beserta kita.

KelahiranNya membawa penyertaan Allah kepada kita. Maria telah
bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf, yang secara hukum
bertindak sebagai ayah dari Anak yang akan lahir. Karena itu malaikat
datang dan memberitahu kepadanya, bahwa Anak itu harus diberi nama
Ihsou (baca Iesou). Ihsou adalah kata bahasa Yunani yang berarti
Penyelamat. Bahasa lain hanya mengambil bunyinya saja. Misalnya,
dalam bahasa Indonesia Ia dipanggil Yesus, orang Arab menyebutnya
Isa, bahasa Inggris menyebutnya Jesus, bahasa Tionghoa menyebutnya
Yeshu.

Tidak ada posisi netral. Kalau tidak mengakuiNya, berarti menolakNya.

Yesus Adalah Domba Allah
Ketika Yahya atau Yohanes, orang yang diutus Allah, melihat Yesus, ia
berseru, “Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh
1:29) Semua orang Yahudi yang mendengar, tahu bahwa Yohanes
menyamakan Yesus dengan domba korban yang diajarkan dalam kitab
Taurat, Zabur, dan Nabi-nabi. Ia menjelma menjadi manusia, menempati
posisi domba korban. Oleh sebab itu ketika Ia dituntut untuk
disalibkan, Ia sama sekali tidak membantah. Banyak orang tidak
mengerti makna penyaliban Yesus.

“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan
oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan
bagi kita ditimpakan kepadaNya…. Dia dianiaya, tetapi Dia
membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak
domba yang dibawa ke pembantaian..” (Yesaya 53:5, 7)

Siapa lagi yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya kalau bukan Yesus yang
dibawa untuk disalibkan? Sekali lagi, nabi Yesaya menulis semua ini
sekitar tujuh ratus tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Kitab nabi
Yesaya ada di antara mereka yang melaksanakan penyaliban.

Jalan Keselamatan Telah Tersedia

Segala sesuatu telah jelas. Maksud Allah memerintahkan orang yang
jatuh ke dalam dosa untuk mempersembahkan domba sebagai korban dosa
ialah karena Ia akan mengirim Yesus. Yesus, yang berarti Penyelamat
adalah manusia yang dilahirkan oleh Roh Allah.

Kita, yang hidup sesudah pelaksanaan pengorbanan domba Allah,
diperintahkan untuk beriman kepadaNya. Hanya melalui percaya
kepadaNya, manusia bisa diselamatkan dari penghukuman.

Orang-orang yang hidup sebelum penyalibanNya percaya pada Juruselamat
yang akan menanggung dosa mereka, sedangkan kita yang hidup sesudah
penyaliban, percaya pada Juruselamat yang telah menanggung dosa kita.
Abraham yang hidup dua ribu tahun sebelum penyalibanNya percaya
kepada Juruselamat yang akan menanggung dosanya, yang dilaksanakan
dua ribu tahun sesudah dia, sedangkan kita percaya kepada Juruselamat
yang telah menanggung dosa kita dua ribu tahun yang lalu.

Tidak ada satu orang pun dapat masuk ke Surga tanpa percaya kepada
Juruselamat yang telah ditentukan Allah, yaitu diriNya sendiri yang
menjelma menjadi manusia. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran
dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku” (Yoh 14:6).

Terimalah Hadiah Itu
Allah telah menyediakan dombaNya. Yesus disebut Anak Domba Allah yang
menanggung dosa isi dunia. Peristiwa penanggungan dosa juga telah
terlaksana. Siapapun yang masih mempersembahkan domba/ kambing korban
itu menyatakan diri menolak domba yang Allah sediakan. Perbuatan itu
mengandung arti, ingin tetap memakai cara simbolik, daripada yang
disimbolkannya. Atau, hanya sekedar melaksanakan upacara tanpa
memahami maknanya. Ingatlah! Domba Allah telah dikorbankan. Jangan
mengorbankan domba/kambing yang mengembek lagi. Itu adalah penghinaan
terhadap Domba Allah.

Sebagaimana Allah memerintahkan orang yang mempersembahkan korban
domba memegang kepala domba sebagai tanda percaya, demikian juga
setiap orang yang hidup sesudah peristiwa Penyaliban Domba Allah,
perlu meletakkan “tangan tanda percaya” pada Yesus. Tentu tidak
mungkin bagi kita untuk kembali ke saat penyaliban untuk meletakkan
tangan di kepalaNya. Yang dapat kita lakukan sekarang ialah,
menerimaNya ke dalam hati kita dengan iman.

Penghapusan dosa terjadi, kalau ada tindakan untuk menerima jasa
Penanggung dosa, serta penyerahan dosa kepada si Penanggung. Ini
adalah transaksi rohani yang dikerjakan dengan iman. Tindakan inilah
yang terpenting dalam seluruh kehidupan seseorang sejak ia dilahirkan
ke dalam dunia. Yesus yang telah mati disalib kemudian bangkit dari
kematian pada hari ke-tiga karena Ia adalah Allah. Ia maha hadir dan
maha tahu. Sekarang Ia ada di sini, di samping anda, serta sedang
menantikan keputusan anda.

1. Mengaku bahwa anda adalah orang berdosa yang membutuhkan jasa
pengorbananNya.

2. Menyatakan dengan kata-kata, bahwa anda menerimaNya sebagai
Penyelamat anda.

3. Nyatakan terima kasih anda atas pengorbananNya di kayu salib.

Kalau anda tidak menemukan kata-kata yang tepat, pertimbangkanlah
kata-kata berikut. Mungkin itu sesuai dengan isi hati anda. Kalau
sesuai, ucapkanlah.

Tuhan Yesus, saya sadar bahwa saya adalah orang berdosa yang akan
binasa. Saya sangat membutuhkan pengorbananMu. Saya menerima Engkau
sebagai Juruselamat saya pribadi. Engkaulah domba korban saya di
hadapan Allah. Terima kasih atas pengorbananMu. Saya berdoa dengan
segenap hati saya. Amin.

Pejamkanlah mata agar konsentrasi anda tidak terganggu, dan
ucapkanlah seluruh isi hati anda itu kepada Tuhan Yesus. Sekarang!

Hal-hal Yang Perlu Diingat

1. Sejak anda mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat anda, semua dosa anda telah ditanggung olehNya. Anda
adalah orang suci, dan menjadi anggota keluarga Allah. Anda adalah
Orang yang bersiap-siap untuk masuk Surga.

2. Karena anda adalah anggota keluarga Allah, maka Allah menyediakan
banyak berkat bagi anda. Anda perlu mengetahuinya. Untuk itu, bacalah
Alkitab mulai dari kitab Perjanjian Baru, catatan tentang kehidupan
dan pengajaran Tuhan Yesus.

3. Dapatkanlah anggota keluarga Allah yang lain sebagai saudara, agar
bisa saling membagi suka dan duka. Jadilah anggota sebuah gereja yang
mengajarkan kebenaran firman Tuhan agar anda dapat bertumbuh di dalam
iman.

SIAPAKAH KRISTEN FUNDAMENTALIS ITU?

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:34 am on Thursday, November 13, 2008

Oleh: Dr. Suhento Liauw
—————————

Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun 70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa pengertian.

Tahun 80-an setelah Stephen Tong mendirikan Reform, sebagian orang
Indonesia yang kurang informasi berpikir yang berbau Reform itulah
yang alkitabiah. Sesungguhnya siapakah Fundamentalis, Liberal,
Injili, dll. itu? Apakah ada perbedaannya jika kita menjadi salah
satu dari mereka? Ikutilah nasehat Yakobus, “tetapi apabila di antara
kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada
Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan
dengan tidak membangkit-bangkit (tidak menegur), maka hal itu akan
diberikan kepadanya (1:5).

Sejak zaman renaissance, setelah kekristenan pernah dikagetkan oleh
kesesatan Gereja Roma Katolik (GRK) yang sangat parah, ada kehausan
akan kebenaran yang alkitabiah. Pada saat itu muncul kelompok
puritant, dan berbagai kelompok yang tendensi theologisnya adalah
menuju ke kebenaran Alkitab yang murni. Semua yang dikatakan Alkitab
diyakini sebagai kebenaran absolut. Inilah KRISTEN FUNDAMENTALIS itu.

Tetapi pada akhir abad ke-19, muncul kelompok yang tidak lagi percaya
bahwa Alkitab adalah kebenaran absolut yang tidak ada salah. Fenomena
yang terhebat adalah terbitnya Alkitab bahasa Yunani Critical Text
oleh Brooke Foss Westcott (Bishop Gereja Anglican) dan John Anthony
Hort pada tahun 1881, yang isinya penuh kesalahan tetapi diyakini
sebagai yang lebih tepat. Menurut pengeditnya kesalahan memang pada
sang penulis (Matius, Paulus dll.), bukan masalah mutu manuskrip yang
mereka jadikan patokan. Sejak saat itu Liberalisme yaitu “sikap tidak
mempercayai Alkitab sebagai kebenaran absolut yang tidak ada salah”
melanda Eropa. Angin itu bertiup kencang dan yang pertama kali
ditumbangkan adalah para theolog Jerman.

Adu argumentasi yang tidak ada habis-habisnya antara kelompok
FUNDAMENTALIS dan LIBERAL terus berlanjut dan makin hari makin
sengit. Tahun 1909, dua orang kaya membiayai sebuah komisi yang
diketuai oleh beberapa orang dan terakhir oleh R.A.Torrey, menyusun
argumentasi mewakili kelompok FUNDAMENTALIS terhadap LIBERAL,
menghasilkan 12 volume buku yang berjudul The Fundamentals. (Buku ini
ada di STT GRAPHE). Pada saat itu oleh kedua orang kaya itu dicetak
300,000 set dan dibagi secara gratis kepada pengkhotbah siapa saja
yang menginginkannya. Peperangan doktrin tentu semakin seru dan bukan
hanya di Eropa dan Amerika melainkan juga hingga di ladang misi.

Tahun 1947, Harold Ockenga, Rektor pertama Fuller Theological
Seminary, mendirikan kelompok yang ia sebut INJILI, katanya untuk
menjembatani kelompok Fundamental dengan Liberal. Sejak saat itu
muncullah kelompok INJILI yang memposisikan diri di tengah-tengah.
Karena posisinya di tengah, maka kadang ia seperti Fundamental dan
kadang ia seperti Liberal (berubah-ubah warna seperti bunglon).
Kelompok Injili ini maju pesat karena didukung oleh Billy Graham yang
pada saat itu sudah sangat tergiur untuk menjadi mashyur. Selain itu
juga didukung oleh Carl F.H. Henry, yang mendirikan majalah
Christianity Today pada tahun 1955. Kelompok ini berkembang terutama
disebabkan oleh sikapnya yang seperti bunglon. Ia bisa diterima oleh
semua kelompok karena fleksibilitasnya yang tinggi.

Sementara itu Gerakan Kharismatik dimulai pada tahun 1886. Seorang
Pendeta Baptis yang bernama Richard G. Spurling dari Cokercreek,
Tennessee, merasa tidak puas dengan organisasi gerejanya sehingga ia
keluar dan berusaha mendirikan gereja sendiri. Setelah ia keluar, ia
memimpin sebuah kebangunan rohani yang disertai bahasa lidah.
Kemudian ia berhasil mendirikan gereja yang disebut Church of God
(Sidang Jemaat Allah). Tahun 1898 Charles F. Parham, yang dipanggil
bapak Gerakan Pentakosta Modern, mendirikan rumah penyembuhan Betel.
Kemudian tahun 1900 dia juga mendirikan Betel Bible College di
Topeka, Kansas. Sekolah Alkitab inilah yang dengan efektif
menyebarkan gerakan kharismatik bersama semua kelompoknya yang
percaya masih ada wahyu tambahan sesudah Alkitab (Wahyu 22:21).

Kesalahan terbesar kelompok ini ialah mengejar Extra Biblical
Authority (otoritas di luar Alkitab), yaitu mimpi, bahasa lidah,
nubuatan dan berbagai fenomenon. Mereka percaya Allah masih
menurunkan wahyu sesudah Wahyu 22:21. Dengan demikian berarti mereka
tidak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Mereka
tidak percaya bahwa diluar Alkitab tidak ada firman Allah baik
tertulis maupun lisan.

Kelompok Reform atau Presbyterian adalah kelompok yang dimulai oleh
John Calvin. Kelompok Refrom dan Lutheran bisa dilihat sebagai
kelompok yang sama yaitu kelompok Protestan karena kedua-duanya
melakukan protes dan keluar dari GRK dalam waktu yang hampi
bersamaan, atau setidaknya dalam suasana yang sama. Pada awal
reformasi hampir semua theolog Reform maupun Lutheran berpandangan
fundamental. Tetapi fakta menunjukan bahwa di Eropa dan Amerika
kelompok Lutheran dan Reform adalah yang paling cepat menjadi
Liberal. Boleh dikatakan bahwa Liberalisme itu muncul dari Lutheran
dan Reform. Mengapa?

Penyebab sebegitu lemahnya kelompok Reform dan Lutheran dalam
menghadapi godaan penyesatan itu sangat mungkin karena mereka hanya
mereformasi Doktrin Keselamatan (soteriology) tanpa mereformasi
Doktrin Gereja (Ecclesiology). Padahal kesesatan Doktrin Keselamatan
GRK itu dikarenakan kesesatan Doktrin Gerejanya. Tetapi baik Calvin
maupun Luther sama-sama masih tetap memungut banyak tradisi GRK
misalnya baptisan bayi dan baptisan percik serta sistem tata-ibadah
yang memakai Liturgi.

Baptisan percik sekalipun salah tetapi tidak sebahaya baptisan bayi
(pedo-baptism). Baptisan bayi menyebabkan orang yang belum lahir baru
menjadi anggota gereja sejak bayi dan bertumbuh sebagai anggota
gereja. Kalau semua orang telah menjadi anggota gereja melalui
kelahiran jasmani atau Kristen keturunan, tentu pasti suatu hari
gereja akan dipimpin oleh orang yang belum lahir baru, dan sekolah
theologi akan menghasilkan banyak theolog tanpa lahir baru (theolog
Kristen keturunan).

Sesuai dengan berjalannya waktu, makin hari akan makin banyak theolog
atau pemimpin gereja Reform, Lutheran dan Anglikan (episkopal), atau
yang membaptis bayi, yang menjadi Liberal.

Kelompok Baptis terhitung sebagai kelompok yang memiliki resistensi
tinggi terhadap Liberalisme. Kelihatannya rahasianya adalah tradisi
anna-baptist yang menjadi sokoh-gurunya. Tradisi Anna-baptist telah
berumur dua ribuan tahun. Sejak gereja dirusak dengan sistem Katolik
(universal/Am), sekelompok orang yang tidak rela membiarkan gereja
dirusak dari dalam, memisahkan diri. Mereka mempertahankan kemurnian
kekristenan sambil mengorbankan segala-galanya.

Gereja Roma Katolik sangat membenci mereka karena mereka membaptis
ulang orang dari GRK yang bertobat. Mereka diburu lebih dari memburu
binatang. Dan junmlah mereka yang telah dibunuh tidak sanggup
dihitung. Bahkan pada masa reformasi, mereka juga dibunuh oleh para
reformator, terutama Zwingli. Para reformator menganiaya anna-baptist
itu karena anna-baptist berkata bahwa mereka masih belum benar
sehingga orang Protestan yang mau bergabung dengan anna-baptist
diminta dibaptis ulang. Atas hal ini para reformator bukannya sadar
atas kesalahan mereka, malah tersinggung dan membunuh banyak anna-
baptis. John Bunyan, penulis buku Perjalanan Seorang Musafir,
dipenjarakan oleh gereja Anglikan selama 12 tahun, hingga meninggal,
hanya karena ia mengkhotbahkan pengajaran yang bertentangan dengan
gereja Anglikan, yaitu tidak oleh membaptis bayi dan gereja harus
dipisahkan dari negara. Setelah kebebasan beragama dijamin baik di
Eropa maupun di Amerika, anna-baptist keluar dan mendirikan gereja
yang bernama BAPTIS.

Akhirnya, kelompok gereja Baptislah yang kuat mempertahankan
Fundamentalisme, yaitu sikap mempertahankan Alkitab tanpa kompromi.
Namun demikian pada abad 20 ini banyak juga gereja Baptis yang
terhanyut oleh badai liberalisme. Terlebih lagi di Indonesia, dimana
banyak gereja Baptis kehilangan hakekat inti jati dirinya. Namun
kalau theolog Baptis saja terhanyut, anda bisa bayangkan apa yang
terjadi dengan kelompok lain, terutama yang tidak mereformasi Doktrin
Gerejanya.

Fundamentalis tentu bukan hanya orang Baptis saja. Dari kelompok lain
juga ada, cuma lebih banyak dari kelompok Baptis terutama baptis
yang alkitabiah. Bob Jones, Sr. pendiri Bob Jones University adalah
pendekar Fundamentalis dari gereja Methodis. Dr. Timothy Tow di
singapore adalah Fundamentalis dari gereja Presbytarian, dll.

Menurut hemat saya, tidak ada kelompok Kharismatik yang tergolong ke
dalam fundamentalis karena tidak mungkin benar untuk percaya bahwa
Alkitab satu-satunya firman Allah sambil mempercayai adanya wahyu
tambahan di luar Alkitab. Mereka tidak sadar bahwa dengan mempercayai
adanya nubuatan sesudah Alkitab selesai, itu artinya percaya bahwa
ada firman Allah di luar Alkitab. Biasanya mereka akan dengan lugu
berargumentasi bahwa I Kor.14:1 suruh bernubuat, tanpa menyadari
bahwa pada saat surat itu ditulis Alkitab belum final, atau Wahyu
22:21 belum ditulis.

Di Indonesia, Kristen Fundamentalis hampir tidak pernah dikenal. Dr.
Rod Bell, Sr. (ketua Fundamental Baptist Fellowship) bahkan berkata
kepada Dr. Suhento Liauw, “kalau nama Fundamentalis tidak harum di
negara anda, pakai istilah lain saja.” Tetapi Dr. Liauw tetap memakai
istilah Fundamentalis dan mempopulerkan istilah Kristen Fundamentalis
karena percaya bahwa orang-orang di Indonesia sudah cukup pintar dan
pasti dapat membedakan dan tahu bahwa Fundamentalis Kristen itu
adalah yang sangat teguh berpegang pada Alkitab, dan kalau seseorang
sangat teguh berpegang pada Alkitab itu pasti tidak mungkin menculik
orang seperti yang dilakukan Abu Sayaf. Justru karena sangat memegang
teguh Alkitablah kaum Fundamentalis telah dianiaya sepanjang masa
oleh berbagai kelompok yang tersinggung oleh ketegasan mereka.

Sepulang dari USA, Saya memperkenalkan Kristen Fundamentalis yang
berpegang teguh pada Alkitab. Alkitab adalah kebenaran firman Tuhan
yang absolut. Diluar Alkitab tidak ada firman Tuhan baik lisan maupun
tertulis. Orang Kristen lahir baru harus memiliki kerinduan untuk
mematuhi Alkitab apapun resikonya. Inilah seruan Dr. Liauw diantara
begitu banyak prinsip yang diperjuangkan oleh kaum Fundamentalis.

Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan hanya
dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran
itu ternyata membuat sebagian orang tersinggung, yang dapat kami
katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah
pendapat kami. Apakah mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan?
Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal
sehat, seharusnya tidak ada.

Siapakah Kristen Fundamentalis?
Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang teguh Alkitab
tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.***