DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

TRAGEDY of COMPROMISE (Pendahuluan)

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 12:05 am on Saturday, November 22, 2008

Penerjemah Hasan Karman, MM (sekarang Walikota Singkawang)

Dikatakan bahwa politik adalah “seni kompromi yang tinggi.” Mungkin ini benar dalam hal politik pragmatis, tetapi jelas tidak mungkin diterapkan di dalam theologi Kristen. Dahulu sejarah The National Association of Evangelicals (NAE/Persatuan Injili Nasional) menyandang semboyan, Kerjasama Tanpa Kompromi. Walau tidak banyak yang akan membantah ketepatan kata pertama yang digunakan untuk menggambarkan NAE, namun banyak pertanyaan serius akan muncul berkenaan dua kata yang terakhir.

Ada saat-saat kompromi merupakan hal yang bijak dan baik. Dalam pergaulan hidup sehari-hari, ada saat-saat ketika individu-individu atau kelompok-kelompok harus keluar dari sikap yang lebih ekstrim ke sikap yang lebih moderat. Suami dan isteri kadang-kadang harus saling mengalah. Komisi-komisi yang berusaha memecahkan masalah dan menentukan tujuan harus menerima persyaratan bersama. Orang-orang yang beritikad baik harus belajar untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi demi mencapai pemecahan yang dapat diterima bersama. Kompromi seperti ini adalah benar dan baik dan memperluas hubungan yang lebih harmonis antara sesama manusia. Dengan kata lain, tidak semua kompromi itu jahat.

Di lain pihak, ada kebenaran-kebenaran, keyakinan dan sikap-sikap tertentu yang tidak bisa dikompromikan. Martin Luther, ketika ditekan oleh musuh-musuh politis dan gerejawinya dengan tegas menolak untuk mengubah tulisannya dan berkata kepada lawan-lawannya, “Disinilah aku berdiri; Aku tidak bisa berbuat lain.” Athanasius, pembela keillahian Kristus yang sempurna dalam menghadapi kaum Arian yang menentangnya, diperingatkan oleh seorang rekannya, “Seluruh dunia menentang engkau.” Athanasius menjawab, “Kalau begitu aku akan melawan seluruh dunia.” Tidak ada kata kompromi baginya berkenaan dengan masalah yang demikian krusial itu.

Kompromi mengenai masalah-masalah keyakinan Kristen yang vital secara bertahap dapat membuat pribadi, gereja, atau institusi keluar dari pengajaran Firman Allah yang sehat. Injili Baru telah menjadi suara wanita penggoda yang menarik orang keluar dari jalan alkitabiah yang lurus menuju goncangan kehancuran rohani.

W.B. Riley, pemimpin fundamentalis terkemuka dan gembala yang lama melayani di First Baptist Church of Minneapolis, ketika membahas orang Yebus, orang Hewi, orang Amalek, dan berbagai kaum yang lain, memperingatkan bahwa yang paling berbahaya adalah “kaum yang di tengah-tengah.” Kelompok ini merupakan orang-orang yang tidak mau memihak dan tetap bersahabat dengan semua pihak. Dr. Bob Jones, Sr., menyamakan mereka dengan orang yang pada masa Perang Saudara (di Amerika) berusaha menyelamatkan jiwanya dengan memakai baju Konfederasi dan celana Union. Kaum Yankee menembak pada baju mereka, sedangkan kaum Pemberontak menembak di bagian celana mereka. Tidak ada kemenangan di dalam kekalahan. Tidak ada pemihakan pada kompromi.

Dalam buku ini, selain tidak ragu-ragu untuk menyebut nama, kami juga mengutamakan pembahasan prinsip. Nama-nama bisa berubah, dan pemimpin datang dan pergi, namun prinsip tetap sama.

Jelas dalam membahas masalah-masalah yang ada di hadapan kita, akan timbul ketidaksepakatan di antara kaum fundamentalis mengenai beberapa hal penafsiran. Namun meskipun ada ketidaksepakatan demikian, kaum fundamentalis sejati harus bersatu dalam bersikap menghadapi pengajaran Injili Baru yang tidak alkitabiah.

Ada yang mempertanyakan kelayakan sikap yang secara terbuka menentang kepercayaan dan praktek para sahabat seiman. Tetapi hal tersebut adalah preseden yang baik. Ketika Petrus, pemimpin besar gereja mula-mula, cacat dalam doktrin dan prakteknya, Rasul Paulus berkata, “… aku berterus-terang menentangnya, sebab ia salah” (Gal. 2: 11). Inilah saatnya untuk menghadapi orang-orang percaya yang sedang menyimpang dari kebenaran. Waktunya adalah sekarang.

Saya sangat berutang kepada isteri saya, Yvonne, karena menghabiskan waktu yang lama untuk menyunting, merevisi, dan mereproduksi naskah akhir buku ini. Dukungannya yang tiada henti merupakan pertolongan besar bagi saya. Penghargaan juga saya sampaikan kepada Ny. Dennis Whitehead, mantan sekretaris saya, yang mengetik draft yang pertama. Putera saya, Lloyd, ‘jagoan komputer’ dalam keluarga, yang sangat membantu dalam hal-hal teknis. Juga banyak terima kasih kepada staff terlatih di Bob Jones University Press dengan pekerjaan hebat dalam publikasi akhir buku ini.

APAKAH PETRUS PAUS YG PERTAMA?

Filed under: TEOLOGI — dedewijaya at 3:56 am on Tuesday, November 18, 2008

Perkataan Yesus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” telah menyebabkan badai perdebatan yang belum mereda selama berabad-abad. Gereja Katolik Roma menyatakan bahwa kata-kata ini membuktikan Petrus telah dijadikan lebih unggul daripada rasul-rasul lainnya dan penghormatan ini telah dialihkan kepada paus-paus Gereja Katolik Roma. Dan kesimpulannya, ketika berbicara tentang takhta Petrus, yaitu ex cathedra, maka ia tidak mungkin bersalah.

Kewenangan Paus tidak lagi diterima secara serius oleh umat Katolik seperti dulu. Ketika ia berbicara mengenai keburukan Keluarga Berencana atau dosa perceraian, perkataannya sering kali tidak dihiraukan oleh banyak orang Katolik, khususnya di Amerika Serikat. Dewasa ini banyak orang yang menganggap dirinya orang-orang Katolik yang baik tidak sependapat dengan paus mengenai peran wanita di dalam gereja dan bahkan mengenai aborsi. Namun ajaran resmi Katolik Roma yang menyangkut kewenangan gereja dalam persoalan-persoalan seperti itu masih tetap berlaku.

Bagaimanakah gagasan kepausan ini muncul dan mengapa?

Suatu Permulaan
Tahun 452 SM, ketika Attila, orang Hun, memimpin pasukan berkudanya menuju Sungai Donau dengan maksud menguasai bagian barat dari Kerajaan Romawi. Serangan yang mendadak melintasi pegunungan Alpen membawanya ke Italia bagian utara. Ia bergerak terus menuju Roma sampai ia berjumpa dengan suatu delegasi Romawi, yang memohonnya untuk meninggalkan daerah itu. Ia baru saja hendak mengabaikan mereka ketika ia mendengar bahwa Leo, uskup Roma, ada diantara rombongan itu, sebagai Kerajaan Romawi. Mereka saling berhadapan, seorang raja asing dan seorang pemimpin gereja yang memerintah. Menurut beberapa sejarawan, Attila sudah memutuskan bahwa ia tak dapat meneruskan usaha penaklukannya karena memburuknya keadaan pasukannya disebabkan perjalanan kaki yang jauh. Bagaimanapun juga, ia menyetujui permintaan Leo untuk menyelamatkan ibu kota. Hal ini menjadikan Leo lebih ulung, bukan saja sebagai seorang pemimpin agama, tetapi juga sebagai seorang politikus.

Apakah sangkut-pautnya dengan perkembangan kepausan? Leo, yang dikenal dalam sejarah sebagai Leo Agung, memanfaatkan kepercayaan yang makin kuat bahwa perkataan Kristus kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ dapat dipakai untuk para uskup Roma. Ini memberinya keunggulan dan wewenang yang ia butuhkan untuk memerintah.

Akan tetapi, mengapakah kehormatan ini harus diberikan kepada uskup Roma? Betapapun, gereja dimulai di Yerusalem, dan jemaat-jemaat penting lainnya terdapat di tempat-tempat seperti Antiokhia di Siria dan Efesus. Namun, ingatlah bahwa Roma adalah ibukota Kerajaan Romawi. Kota ini mempunyai kekuatan dan pengaruh politik, sebuah kota tempat orang-orang percaya mula-mula mendirikan sebuah gereja Kristen yang kuat. Beberapa perkiraan menetapkan jumlah orang-orang percaya di Roma sekitar 30 ribu orang. Di barat, baik gereja maupun kotanya tidak mempunyai saingan. Lagi pula, para penulis Kristen yang mula-mula mengatakan bahwa Petrus dan Paulus telah mendirikan gereja di Roma. Lalu timbullah pemikiran bahwa uskup Roma menjadi calon pengganti rasul-rasul tersebut.

Lalu kita harus memahami sesuatu tentang struktur gereja. Uskup-uskup bermunculan diberbagai bagian yang berbeda dari negeri itu, tetapi kadangkala mereka berkumpul bersama untuk bersidang dan mendiskusikan masalah-masalah gereja. Seperti yang dapat diduga, uskup dari gereja-gereja yang lebih penting mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Jadi beberapa uskup mulai menjalankan kekuasaan atas daerah-daerah geografis tertentu. Gerejka-gereja yaang lebih kecil mempunyai imam yang memberi laporan kepada uskup. Dengan demikian, Roma bertambah besar kewenangan dan kekuasaannya.

Akhirnya, semua ini mencapai puncaknya. Setelah Konstantinus menjadi kaisar pada tahun 312, ia memutuskan untuk memindahkan ibukota Kerajaan Romawi ke Roma Baru, yaitu Konstantinopel, sebuah kota yang ia namakan menurut namanya sendiri. Jadi, kekuatan politik beralih dari barat ke timur (Yunani ada di Timur dan melambangkan suatu garis pemisah di antara barat dan timur). Ketika Konstantinus mengatur Konsili yang terkenal pada tahun 325, maka itu diselenggarakan di Nicea, hanya beberapa mil dari Konstantinopel.

Persaingan di antara kedua kota itu berkembang. Suatu hari Kaisar dari Konstantinopel mengadakan sidang umum, seperti yang telah dilakukan oleh Konstantinus. Akan tetapi, ia mengundang uskup-uskup dari bagian timur kerajaan sedangkan uskup Roma diabaikan. Konsili ini menyelesaikan beberapa persoalan teologis, tetapi juga menyatakan bahwa wewenang uskup Konstantinopel berada pada peringkat kedua setelah uskup Roma karena Konstantinopel adalah “Roma Baru“.

Sementara itu, di “Roma Lama“, pernyataan ini ditafsirkan sebagai suatu tantangan terhadap wewenang uskup Roma. Maka  pada suatu sinode pada tahun berikutnya di Roma, uskup-uskup barat menandaskan, “Gereja Roma yang kudus harus lebih diutamakan daripada gereja-gereja lainnya, bukan berdasarkan keputusan sinode, tetapi karena kepadanya telah diberi keunggulan oleh perkataan Tuhan dan Penebus kita di dalam kitab Injil ketika Ia berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”

Demikianlah, suasana teologis ketika Leo menjadi uskup. Secara politik, kekuasaan Roma mulai berkurang dan karena itu alasan lama mengenai keunggulan gereja Roma oleh sebab kekuasaan dan pengaruh Roma kurang berpengaruh. Tetapi ini tak menjadi soal. Sekarang Roma dapat menuntut keunggulannya berdasarkan keunggulan Petrus. Dan karena kemerosotan politis kota itu, maka uskup sanggup menjalankan kekuasaan yang lebih besar.

Leo benar-benar menyadari kedudukan tinggi yang telah ia warisi. Jadi, pada hari pelantikannya ia menegaskan bahwa jabatannya yang baru meninggikan “kemuliaan Rasul Petrus yang kudus… dalam takhtanya, kuasanya dilangsungkan dan kewenangannya bersinar.“ Kristus berjanji untuk mendirikan gereja-Nya di atas Petrus, dan inilah penggenapan perkataan-Nya. Leo adalah seorang pengkhotbah dan organisator yang baik. Ia mengambil banyak prinsip pemerintahan Romawi dan menerapkannya kepada gereja. Organisasi gereja dibakukan di seluruh kerajaan.

Meskipun Leo telah berhasil mencegah serangan Attila orang Hun, ia tidak sanggup mencegah kaum Vandal yang menyerang Roma pada tahun 455. Di pintu gerbang kota Roma, Leo bertemu dengan Gaiseric, raja orang Vandal, yang telah membawa pasukannya sampai ke sebelah utara sungai Tiber. Leo memohon belas kasihan, tetapi kaum Vandal menjarah Roma selama 14 hari. Mereka menjarah istana-istana, menahan tawanan politik dan bahkan anggota-anggota dari kaum aristokrat sebagai sandera politik. Dengan kapal-kapal yang sarat dengan harta benda dan manusia, kaum Vandal berlayar menuju Kartago.

Uskup Leo menghibur penduduk dan menaikkan ucapan syukur kepada Allah. Oleh karena ia menjadi penengah kepada raja Vandal, suatu pembunuhan masal telah dihindari dan sebagian gereja-gereja terlindungi. Ia mengajak rakyat Roma untuk mengakui bahwa Allah telah melembutkan hati kaum barbar itu. Bruce Shelley dalam penelitiannya tentang sejarah gereja mengatakan bahwa Leo tidak menyebut dirinya dan ia tidak perlu melakukannya, meskipun ia telah menyelamatkan Roma untuk kedua kalinya. “Ia telah memakai gelar kafir yang kuno Pontifex Maximus, imam besar keagamaan di seluruh kerajaan, dan semua orang mengerti bahwa Leo-lah, bukan Kaisar, yang telah memikul tanggung jawab atas kota yang kekal itu. Petrus telah mulai berkuasa.“1

Setelah melompat beberapa abad ke depan, kita kembali melihat persaingan yang terjadi antara uskup Roma dan uskup Konstantinopel. Kedua bagian gereja ini berpisah semakin jauh. Berabad-abad telah berlalu sampai suatu hari pada tahun 1054, ketika suatu kebaktian akan dimulai di gereja Himat Kudus di Konstantinopel, dua orang wakil dari gereja Roma muncul dan meletakkan suatu bula paus (suatu pengumuman resmi dari paus) di atas Altar. Uskup Roma, secara resmi mengucilkan uskup Konstantinopel. Akan tetapi, uskup Konstantinopel tidak gentar. Bula itu akhirnya dibuang di jalan ketika seorang diaken gereja itu mendesak utusan dari Roma untuk membawanya kembali. Jadi blok timur dari Kekristenan memisahkan dirinya dari Roma. Peristiwa ini menjelaskan adanya Gereja Ortodoks Timur, yang menguatkan banyak ajaran agama (meskipun dengan berbagai perbedaan yang penting), tetapi menolak untuk menerima kekuasaan Paus.

Para Paus dan Kekuasaan Politik
Seperti yang telah kita simak, Leo Agung adalah uskup Roma pertama yang menjalankan kekuasaan politik dan kekuasaan rohani. Tetapi ia bukan yang terkahir. Untuk memahami kepausan kita harus menyadari bahwa agama menjadi kekuatan yang begitu besar selama Abad-Abad Pertengahan sehingga para paus sanggup menguasai baik dunia politik maupun dunia rohani. Dan dalam usaha untuk menyatukan keduanya para paus mengambil kepemimpinan.
Dengan bangkitnya Paus Gregorius Agung (tahun 540-606) kepausan memimpin di dalam pembakuan ibadah dan liturgi. Gregorius melepaskan kekayaan besar dan melayani umat dengan rendah hati. Ia menyebut dirinya ”hamba dari para hamba Allah.”
Di bawah kepemimpinannya, kekuasaan dan wilayah gereja makin meluas. Ketika suku Lombard menyerang Roma, Gregoriuslah yang mengerahkan bala tentara untuk mempertahankan Roma. Sekali lagi, kekuasaan rohani dan politik bersatu di dalam satu orang.
Gregorius paling dikenal karena nyanyiannya yang membakukan ibadah dalam gereja-gereja. Ia juga mendorong kecenderungan yang sedang berkembang untuk menganggap Misa sebagai pengorbanan tubuh dan darah Kristus. Pada zamannya, ia dicintai karena khotbah-khotbahnya yang relevan dan tafsirannya tentang kitab Ayub. Buku pedomannya tentang teologi pastoral yang berjudul The Book of Pastoral Rule mempunyai dampak yang besar di seluruh kerajaan.
Ia percaya pada api penyucian sebagai suatu tempat dimana jiwa-jiwa disucikan sebelum mereka masuk sorga. Teologinya tidak hanya diperoleh dari pengajaran Perjanjian baru dan para bapa gereja, tetapi juga dari takhyul yang sedang berlaku berkaitan dengan peninggalan dan doa kepada orang-orang suci. Ia percaya bahwa Misa bermanfaat baik bagi orang mati maupun bagi orang hidup. Ia mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh baik dengan iman maupun dengan perbuatan baik.
Pada umumnya, Gregorius dinggap sebagai paus yang pertama dari abad pertengahan. Karyanya menetukan arah gereja secara teologis, litugis, dan politis untuk tahun-tahun mendatang.
Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 799, Paus Leo III sedang memimpin suatu prosesi melaui jalan-jalan di Roma ketika ia ditarik dari kudanya dan dibawa ke suatu biara Yunani. Para pendukung Paus yang sebelumnya menuduh dia telah melakukan sumpah palsu dan perzinaan. Akan tetapi, pendukungnya sendiri menyelamatkannya dan membawanya kembali ke Basilika Santo Petrus. Leo III menyadari bahwa apabila ia hendak memerintah, ia harus mengisi suatu kekosongan politik dengan memahkotai seorang kaisar yang dapat memberikannya perlindungan. Maka ia memohon bantuan kepada raja dari Frank, Karel Agung.
Pada hari Natal tahun 800, Karel datang ke Basilika Santo Petrus untuk beribadah. Pada kesempatan itu paus mendekati Karel dengan sebuah mahkota di tangannya dan menaruh di kepalanya. Akhirnya, Kerajaan Roma yang sedang hancur akan dipersatukan kembali. Fakta bahwa kaisar telah dimahkotai oleh paus menunjukkan betapa kuatnya kekuasaan paus.
Karel Agung mempunyai kekuatan militer untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Ia melihat kekristenan menjadi pengaruh keagamaan yang dominan di dalam kerajaan. Ia percaya bahwa jiwa manusia cocok dengan gereja dan tubuh manusia cocok dengan negara. Demikianlah, gereja memerintah atas jiwa manusia dan negara atas tubuh mereka. Paus dan kaisar harus saling mendukung dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan Allah kepada mereka sementara mereka memperluas kekuasaannya bagi kebaikan umat manusia.
Karel Agung yang memegang pimpinan. Ia memperluas kekristenan di seluruh Kerajaan Romawi dan memulihkan hukum dan tata tertib. Ia memimpin kira-kira 50 kampanye untuk mengakhiri anarki di dalam kerajaannya dan memperluas perbatasannya. Ia juga memajukan kebudayaan dan pendidikan.

Perselisihan Antara Paus dan Kaisar
Adakalanya paus gagal dalam usahanya untuk mengendalikan pemimpin-pemimpin politik. Pada abad XI timbul perdebatan mengenai apakah para penguasa politik mempunyai kuasa untuk mengangkat pejabat-pejabat gereja. Di Jerman para bangsawan dan raja feodal telah mencengkeram cukup banyak kekuasaan sehingga mengendalikan gereja.
Ketika Paus Gregorius VII mulai berkuasa pada tahun 1073, ia bersikeras bahwa kekuasaan rohani lebih tinggi daripada para pemimpin politik. Ia mengancam akan mengucilkan setiap orang yang mendapatkan wewenangnya untuk melayani di dalam gereja dari para penguasa sipil. Hal ini mengakibatkan timbulnya pertikaian yang tajam antara dia dan kaisar, Henry IV. Paus menuduh Raja Henry melakukan simoni (menjualbelikan jabatan gereja). Jadi, Henry diperintahkan untuk menghadap paus. Sebaliknya Henry mengadakan suatu sinode untuk menyatakan bahwa paus tidak layak untuk memangku jabatannya. Sebagai pembalasan, Paus Gregorius mengucilkan Henry dan membebaskan seluruh rakyatnya dari kesetiaannya kepada kaisar.
Henry memutuskan bahwa sebaiknya ia mengubah sikapnya agar tidak kehilangan kekuasaannya; jadi ia datang menghadap Paus pada bulan Januari 1077 di Canossa, sebuah istana di pegunungan Italia. Kaisar mengenakan pakaian pertobatan, namun dipaksa untuk berdiri selama 3 hari di dalam salju dengan bertelanjang kaki, sambil memohon pengampunan. Akhirnya, kami mengutip perkataan Gregorius,  ”Kami melepaskan belenggu anatema (kutuk) dan pada akhirnya menerimanya ke dalam pangkuan Gereja Bunda Kudus.” Sekali lagi keunggulan paus diteguhkan. Kemudian Henry memperteguh kekuatannya dan kembali, kali ini ia menawan Gregorius.
Sementara abad demi abad berlalu, kekuasaan paus sebagian besar semakin bertambah, diperkuat karena kepemimpinan politik yang lemah di Eropa. Kemuliaan kaisar pada masa silam digantikan oleh kepemimpinan agama para paus. Mereka tidak hanya diakui sebagai kepala para raja dan pangeran. Orang percaya bahwa gereja memiliki 2 buah pedang, Firman Tuhan dan pedang baja. Kekuasaan politik yang bersifat sementara akan digunakan untuk memenuhi kehendak gereja yang Am. Dengan demikian negara akan membantu dalam penyelamatan manusia. Pemikiran bahwa kesatuan politik dapat seiring dengan anekaragam agama sama sekali belum timbul dalam pikiran para penguasa abad pertengahan.

Perang Salib
Pada tahun 1095, Paus Urbanus II memproklamasikan perang salib yang pertama untuk memerdekakan Tanah Suci yang diduduki oleh orang asing. Ia mendorong orang-orang Kristen untuk mengangkat salib dan memperoleh baik berkat-berkat rohani maupun wilayah bagi diri mereka sendiri. Ia berjanji bahwa barangsiapa yang pergi akan diberikan pengampunan untuk semua dosa mereka pada masa lalu. Jika seorang tak dapat pergi, ia dapat memberikan sumbangan keuangan dan mengutus seorang pengganti. Ia juga akan diampuni dosa-dosanya pada masa lalu.
Lebih dari 5000 orang mengadakan perjalanan itu dan merebut Kota Suci Yerusalem. Seorang saksi, yang merangkum semua itu dari perspektif teologis, menulis, ”Sungguh ini merupakan hukuman yang adil dan baik sekali dari Allah bahwa tempat ini harus dipenuhi dengan darah orang-orang yang tiak percaya, karena kota ini telah demikian lama menderita oleh karena perbuatan mereka yang menghujat Allah.” Tak pelak lagi, pauslah dan bukan kaisar, yang menyatukan kerajaan untuk melawan ancaman kekuatan dari orang-orang yang menjajahnya.

Paus Innocentius III (1198-1216) adalah seorang administrator yang cakap. Ia mengatakan bahwa vikaris Kristus lebih rendah daripada Allah, namun melebihi manusia. Ia memberi tahu para pangeran Eropa bahwa kepausan itu seperti matahari, sedangkan para raja seperti bulan, yang memperoleh kekuatannya dari matahari. Dibawah kepemimpinannya kekuasaan paus mencapai puncaknya. Paus sanggup menjaga agar para pangeran tetap patuh kepadanya dengan ancaman pengucilan. Dalam hal demikian orang yang dikucilkan secara langsung dilepaskan dari semua jabatan dan bahkan tidak akan dimakamkan secara Kristen. Apabila raja dari suatu negara tidak menaati Paus, seluruh wilayahnya akan ditempatkan di bawah interdict (larangan). Semua kebaktian umum di wilayah itu dihentikan kecuali baptisan dan perminyakan orang yang mau meninggal. Jadi, kekuasaan politik harus taat, kalau tidak akan dipecat dari kekuasaan.

Kekacauan di dalam Kepausan
Bagaimanapun juga, kekuasaan paus menghadapi perlawanan keras pada abad ke-14. Paus Bonifacius menentang Edward I dari Inggris dan Philip dari Prancis karena mereka mulai mengenakan pajak kepada para pejabat gereja di wilayahnya. Bonifacius mengeluarkan unamsanctam, pernyataan tegas yang paling ekstrem dari kekuasaan paus. Ia menyatakan bahwa setiap manusia harus tunduk kepada paus dari Roma. Philip menanggapi dengan mencoba menghadapkan paus ke pengadilan di Prancis dan menyuruh orang-orangnya menangkap paus ketika ia sedang berlibur di sebuah tempat kediaman musim panas. Paus dipenjarakan selama beberapa hari dan beberapa minggu kemudian mati karena merasa terhina.

Tak pelak lagi, Philip mendapat kemenangan. Dan ketika pengganti Bonifacius mati setelah pemerintahan yang singkat, maka pada tahun 1305 para kardinal memilih seorang Prancis, Klemen V, sebagai paus. Tetapi ia tidak pernah datang ke Roma, karena lebih suka memerintah dari Avignon di Prancis Selatan. Dengan demikian mulailah suatu periode 72 tahun dimana 6 paus, semuanya berkebangsaan Prancis, secara berturut-turut memerintah dari Prancis dan bukannya dari Kota yang dianggap Kekal. Para sejarawan menjuluki masa ini ”Tawanan di Babel” dari gereja.

Perpindahan ini menimbulkan kemarahan besar, terutama di Jerman dan Italia. Negara-negara ini menolak untuk memberi sokongan kepada kepausan dan karena itu paus-paus Prancis itu mengumpulkan uang dengan meminta bayaran dan pajak untuk memperoleh hak-hak istimewa gerejani. Bilamana seorang uskup diangkat, upahnya pada tahun pertama harus diberikan kepada paus. Surat-surat penghapusan siksa dijual. Surat-surat ini menganugerahkan keuntungan-keuntungan rohani yang mencakup dari pengampunan dosa sampai perlindungan dalam perang.

Akhirnya, ketika kepausan pindah kembali ke Roma pada tahun 1377, para kardinal, yang kebanyakannya orang Prancis, mengalah kepada tekanan dan memilih seorang paus berkebangsaan Italia, Urbannus VI. Akan tetapi, kurang dari 6 bulan kemudian, mereka menyesali keputusan mereka karena Urbanus VI meremehkan mereka. Mereka membalas dengan mengatakan bahwa mereka terpaksa memilih dia karena tekanan Roma. Dengan demikian mereka menyatakan bahwa tindakan mereka sendiri tidak sah. Mereka memilih seorang paus baru, Klemens VII. Ia memutuskan bahwa ia akan pindah ke Avignon.

Dalam pada itu, paus yang telah diturunkan dari takhtanya, menanggapi dengan mengangkat suatu dewan kardinal yang baru dan melanjutkan pemerintahannya dari Roma. Inilah awal dari apa yang dalam sejarah dikenal sebagai ”Skisma besar”, yang bertahan selama 39 tahun. 2 Paus memerintah secara serempak, masing-masing menyatakan berhak untuk mengucilkan yang lain. Umat harus memilih siapa yang akan mereka anut. Italia utara, sebagian besar Jerman, Skandinavia, dan Inggris mengikuti paus di Roma; Prancis, Spanyol, Skotlandia dan Italia Selatan setia kepada paus di Avignon.

Pada tahun 1409, sekelompok kardinal dari kedua golongan yang bersaingan ini berkumpul untuk menyelesaikan pertentangan itu. Mereka memberhentikan kedua paus yang ada dan mengangkat seorang paus yang baru, Aleksander V. Akan tetapi, kedua paus yang lain itu tidak mau menerima keputusan konsili tersebut. Pada waktu itu gereja mempunyai 3 Paus, yang masing-masing menyatakan menjadi pengganti Petrus yang sah, serta menyebut saingannya itu Antikristus. Masing-masing menjual surat penghapusan siksa untuk mendapatkan cukup uang untuk memerangi saingannya.

Pada tahun 1414, kaisar mengadakan suatu persidangan di kota Kontans. Para utusan hadir berdasarkan perwakilan geografis dan mereka mempunyai kekuasaan cukup untuk menyuruh salah seorang dari ketiga paus itu mengundurkan diri dan memberhentikan keuda paus yang lain. Mereka memilih seorang paus baru, Martin V, dan akhirnya kedua paus itu menerima realitas keadaan itu dan melepaskan kekuasaan mereka sebagai paus.

Perpecahan telah berakhir, tetapi suatu masalah baru timbul, Paus Martin V tidak mengakui semua tindakan konsili yang telah memilih dia kecuali satu—yaitu keputusan mereka untuk memilih dia sebagai paus. Alasannya: dengan memilih seorang paus baru dan memberhentikan yang lain, sebenarnya Konsili di Kontans itu menegaskan bahwa sebuah konsili mempunyai kekuasaan atas Paus. Hal ini tidak dapat dibiarkan oleh Paus yang baru itu.

Jadi, sekali lagi paus dianggap yang tertinggi. Seperti yang dikatakan oleh Shelley, sekali lagi paus tidak dapat memutuskan apakah ia pengganti Petrus atau pengganti Kaisar.

Paus Tidak Mungkin Bersalah
Sementara pengaruh kepausan bertambah besar, demikian pula pengabdian yang diharapkan kepada ajaran-ajarannya. Sebagaimana Petrus adalah yang pertama di antara para rasul, demikianlah uskup Roma menjadi yang pertama di antara para uskup. Pada tahun 1647, Paus Innocentius X menolak gagasan bahwa Petrus dan Paulus bersama-sama menjadi kepala gereja sebagai suatu ajaran sesat. Kenyataan bahwa Paulus “berterang-terangan menentang“ Petrus (Gal 2:11) tidak meniadakan posisi Petrus yang tertinggi; bahkan, Roma menganggap bahwa Paulus menegur Petrus justru karena kekuasaan Petrus yang tinggi di dalam gereja mengahruskan ia ditegur.

Pernyataan bahwa Paus tidak mungkin bersalah diulang pada Konsili Vatikan yang pertama tahun 1870. ditandaskan bahwa “jikalau seorang menyangkal bahwa…Petrus yang kudus mempunyai pengganti-pengganti yang abadi dalam Keunggulannya atas gereja yang Am, biarlah ia terkutuk.“2 Selanjutnya konsili ini menegaskan bahwa paus mempunyai yuridiksi penuh dan tertinggi atas seluruh gereja, bukan saja dalam iman dan moral, tetapi juga dalam disiplin gereja dan dalam pemerintahan gereja.

Khususnya, ini berarti bahwa paus lebih berkuasa daripada semua uskup bersama-sama. Kami mengutip perkataan Ludwig Ott, seorang teolog Roma Katolik, yang mengatakan bahwa paus memiliki “kekuasaan tertinggi di dalam Gereja, artinya, tak ada yuridiksi yang memiliki kekuasaan yang lebih besar atau sama besar. Kekuasaan paus melebihi kekuasaan tiap uskup tersendiri dan juga semua uskup lain bersama-sama. Oleh karena itu, para uskup secara kolektif (terlepas dari paus), tidak sederajat atau tidak lebih tinggi daipada paus.“ Kami mengutip Ott kembali, “Jadi, paus dapat memutuskan secara mandiri setiap persoalan yang berada di bawah ruang lingkup yuridiksi gereja tanpa persetujuan uskup-uskup yang lain atau bagian-bagian lain dari gereja.“3

Doktrin ini mendapat perlawanan keras dari dalam gereja sendiri. Seorang teolog terkemuka, Dollinger, yang telah mengajar teologi selama 47 tahun, dikucilkan pada tahun 1871 karena perlawanannya terhadap dogma ini. Secara tepat ia mengomentari bahwa kepercayaan seperti itu meniadakan kebutuhanakan konsili dan uskup, karena mereka tak dapat menolak keputusan paus. Ia menulis mengenai para uskup,“Jika mereka ingin mengukuhkan keputusan paus…ini bagaikan membawa lentera-lentera untuk membantu matahari pada tengah hari.“ Demikianlah, dengan memberikan yuridiksi penuh dan karunia tak mungkin bersalah kepada paus, konsili telah menutup kemungkinan untuk menilai pengajaran-pengajarannya menurut Alkitab. Bila Paus berbicara ex cathedra, ia dapat mengganti Alkitab. Semua protes dibungkamkan.

Meskipun tidak ada bukti sejarah langsung bahwa Petrus pernah berada di Roma, gereja percaya bahwa ia mati di sana dan bahwa Basilika Santo Petrus yang asli telah dibangun di atas makamnya.

Bagaimana tentang keunggulan Petrus, pemindahan wewenangnya kepada uskup Roma, dan ajaran bahwa paus tak mungkin bersalah? Apakah ini merupakan ajaran Perjanjian Baru? Ataukah ada alasan-alasan lain yang absah untuk mempercayai doktrin-doktrin ini?

Kepausan dan Perjanjian Baru
Ketika Kristus berkata kepada Petrus,“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku,“ jelaslah Ia bermaksud mengemukakan suatu permainan kata—kata Petrus berarti batu. Tetapi kita harus memperhatikan bahwa ada dua kata Yunani yang berbeda yang digunakan di sini.“Engkau adalah Petrus [Petros] dan di atas  batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.“ Karena petra adalah sebongkah batu, kemungkinan Kristus sedang memikirkan dirinya sendiri. Di bagian lain dari Perjanjian Baru, Ia disebut sebagai dasar gereja.

Akan tetapi, bagi kepentingan diskusi ini marilah kita mengatakan bahwa memang Petruslah yang Ia maksudkan. Para teolog Katolik Roma akan menguatkan bahwa gereja didirikan di atas dasar Kristus dan Petrus. Tetapi meskipun hal ini diterima selaku benar, 3 pertanyaan muncul. Pertama, adakah bukti dalam Alkitab bahwa wewenang Petrus dapat dipindahkan? Kedua, adakah sesuatu yang mengemukakan bahwa wewenang ini telah dipindahkan kepada uskup-uskup Roma? Dan ketiga, adakah sesuatu dalam Perjanjian Baru  yang menunjukkan bahwa Petrus tak mungkin bersalah dalam pernyataan-pernyataannya dan bahwa karunia itu juga telah dilimpahkan pada uskup-uskup Roma?

Ludwig Ott, teolog Katolik sekali lagi berada dalam posisi yang tidak menguntungkan karena harus mengakui bahwa keunggulan Petrus tidak terungkap dengan jelas di dalam perkataan Kristus, tetapi bahwa kesimpulan itu dapat diambil dari sifat  dan tujuan kepausan. Sedangkan untuk kepercayaan bahwa wewenang Petrus dapat dipindahkan atau bahwa itu telah dilimpahkan kepada para uskup Roma, ia tak mengutip ayat Alkitab sama sekali.

Dan bagaimana tentang ketidakmungkinan berbuat salah? Ott mengakui bahwa para bapak gereja tidak mengatakan bahwa paus tidak mungkin bersalah namun hal itu tersirat dalam beberapa pernyataan mereka. Sedangkan sebagai bukti dari Kitab Suci, ia mengacu kepada fakta bahwa Kristus telah memberikan wewenang kepada Petrus untuk mengikat dan melepaskan (Mat 16:18-20). Bagaimanapun juga, kita harus memperhatikan bahwa hal ini tidak hanya diberikan kepada Petrus, melainkan kepada semua rasul dalam mat 18:18 dan Yoh 20:23. Petrus diberikan Kunci Kerajaan Sorga karena ia dipilih untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (Kis 2, 10, 15). Namun, ayat itu tidak menyebutkan bahwa hak istimewa ini dapat dipindahkan/diteruskan kepada orang lain.

Bahwa Petrus dapat berbuat salah cukup jelas dalam Surat Galatia, di mana Paulus berkata bahwa ia menegur Petrus di depan umum karena mencemarkan kemurnian Injil. Di bawah tekanan beberapa orang Yahudi, Petrus kembali kepada kebiasaan makan dari Perjanjian Lama. Paulus mengnggap hal ini tidak sesuai dengan Injil yang menolak perbedaan-perbedaan seperti itu dan menawarkan keselamatan baik bagi orang bukan Yahudi maupun orang Yahudi. Paulus menulis, “Aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah“ (Galatia 2:11).

Di dalam Perjanjian Baru posisi kepemimpinan yang tertinggi adalah penatua atau penilik jemaat (uskup/bishop). Kata-kata ini dipertukartempatkan di banyak bagian Alkitab. Tetapi tak disebut sama sekali bahwa seorang uskup menjalankan wewenang atas gereja-gereja lain, apalagi bahwa seseorang menuntut kekuasaan atas seluruh kekristenan. Para penatua (uskup) dari tiap gereja lokal hanya bertanggung jawab atas jemaatnya sendiri. Bahaya dari melimpahkan otoritas yang berlebihan kepada satu orang adalah jika ia melakukan kesalahan, gereja-gereja lain turut berbuat salah bersamanya.

Kendati suatu konsili dapat diadakan, tetapi konsili itu tidak mengikat gereja-gereja lain. Misalnya, konsili gereja yang pertama bersidang di Yerusalem dan dipimpin oleh Yakobus (bukan Petrus, meskipun ia hadir); namun kesimpulan-kesimpulannya dipersembahkan kepada gereja-gereja lain sebagai sesuatu yang “berkenan“ bukan sebagai sesuatu yang harus diikuti tanpa mempedulikan apakah gereja-gereja yang lain sependapat atau tidak. Yang jelas ialah bahwa kesimpulan setiap konsili haruslah diuji dengan Kitab Suci sebelum suatu keputusan diambil untuk mengikutinya (Kis 15:22-29).

Dapatkah kesatuan terpelihara tanpa adanya seseorang sebagai kepala? Umat Kristen mengatakan bahwa Kristus adalah Satu-satunya Kepala gereja dan kesatuan harus didasarkan pada doktrin-doktrin Kitab Suci saja.

Tulisan-tulisan Perjanjian Baru yang berbicara dengan paling jelas tentang kepemimpinan Kristus dan wewenang yang sejajar dari semua orang percaya di hadapan Allah telah ditulis oleh Petrus. Ia memperkenalkan Kristus sebagai batu penjuru (I Pet 2:6). Dengan kejelasan yang sama ia mengajarkan bahwa setiap orang percaya adalah imam di hadapan Allah (I Pet 2:4-7). Sedangkan untuk jabatan penatua atau uskup, ia menasihatkan supaya mereka “Gembalakanlah kawanan domba Allah… jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu“ (I Pet 5:2-3). Ia tidak mengharapkan bahwa seorang penatua atau uskup akan memperluas wewenangnya atas satu gereja, apalagi atas semua gereja. Hanya Kristus yang mempunyai wewenang seperti itu. Tuntutan paus harus dinilai dengan mengingat pernyataan Petrus sendiri.

Catatan kaki:
1. Bruce Shelley, Church History in Plain Language (Waco, Texas: Word Books, 1982), 158
2. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma (St. Louis: B. Herder Books Co., 1954), 282
3. Ibid., 285.

Sumber Pustaka: Erwin W. Lutzer, Teologi Kontemporer, Malang: Gandum Mas, cetakan ke-3, 2005, page 49-63. (www.gandumas.com)

GURU-GURU PALSU

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:14 am on Monday, November 17, 2008

“Sebab Mesias-Mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan.” (Mrk 13:22)

GAMBARAN

Orang percaya dewasa ini harus menyadari bahwa di dalam gereja-gereja masa kini mungkin sekali ada pekerja Firman Allah yang sikap dan hidupnya sama dengan guru-guru bejat yang mengajarkan Taurat Allah pada zaman Yesus (.Mat 24:11,24). Yesus mengingatkan bahwa tidak semua orang yang mengaku percaya pada Kristus adalah orang yang sungguh-sungguh percaya, demikian pula tidak semua penulis Kristen, utusan gerejani, gembala sidang, penginjil, pengajar, penatua, dan pekerja gereja benar-benar menjadi hamba Allah.

1) Secara lahiriah para rohaniwan ini “tampak benar di mata orang” ( .Mat 23:28). Mereka datang “dengan menyamar seperti domba” ( .Mat 7:15). Mungkin saja mereka melandaskan berita mereka atas Firman Allah dan menyatakan standar tinggi yang benar. Mereka mungkin kelihatan sangat memperhatikan pekerjaan dan Kerajaan Allah dan memperlihatkan perhatian besar terhadap keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang sambil mengaku bahwa mereka mengasihi orang banyak. Mereka mungkin tampak sebagai hamba Allah yang sungguh-sungguh, pemimpin rohani yang patut dihargai, dan diurapi oleh Roh Kudus. Mereka bahkan kelihatan sangat berhasil dan banyak orang mengikut mereka (Mat 24:11,24; 2 Kor 11:13-15, Mat 7:21-23]

2) Sekalipun demikian, orang-orang ini sangat mirip dengan nabi palsu dalam PL (Ul 13:3; 1Raj 18:40; Neh 6:12;Yer 14:14; Hos 4:15] dan orang Farisi dalam PB. Di dalam kehidupan mereka yang sesungguhnya, yaitu yang tidak tampak kepada umum, mereka dipenuhi “rampasan dan kerakusan” ( .Mat 23:25), “penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran” ( .Mat 23:27), “penuh kemunafikan dan kedurjanaan” (.Mat 23:28). Kehidupan mereka di balik pintu yang terkunci menyangkut hal-hal seperti hawa nafsu, kebejatan, perzinahan, kerakusan, dan kegemaran yang memusat pada diri sendiri.

3) Penipu lihai ini memperoleh kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja melalui dua cara.

( a) Beberapa guru/pengkhotbah palsu mengawali pelayanan mereka dengan kesungguhan hati, kebenaran, kemurnian, dan iman yang sungguh-sungguh kepada Kristus. Kemudian karena kesombongan dan keinginan mereka yang tak bermoral, kasih dan pengabdian mereka kepada Kristus semakin memudar. Sebagai akibatnya, hubungan mereka terputus dengan Kerajaan Allah (.1Kor 6:9-10; Gal 5:19-21; .Ef 5:5-6) sehingga mereka menjadi sarana Iblis sementara masih menyamar sebagai pelayan kebenaran (lih. .2Kor 11:15).

( b) Guru-guru/pengkhotbah palsu lainnya tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Iblis telah menanamkan mereka di dalam gereja sejak awal pelayanan mereka (.Mat 13:24-28,36-43) sambil menggunakan kecakapan dan karisma mereka serta membantu dalam keberhasilan mereka. Siasat Iblis ialah menempatkan mereka dalam kedudukan yang berpengaruh di dalam gereja agar mereka dapat merusak pekerjaan Kristus. Iblis mengetahui bahwa pada saat perbuatan mereka ketahuan, Injil dan nama Kristus akan sangat dipermalukan.

CARA-CARA MENGUJI.

Empat belas kali dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengingatkan murid-Nya agar waspada terhadap pemimpin-pemimpin yang akan menyesatkan (.Mat 7:15; 16:6,11; 24:4,24; Mr 4:24; 8:15; 12:38-40; 13:5; .Luk 12:1; 17:23; 20:46; 21:8). Di tempat lain orang percaya dinasihati untuk menguji pengajar, pengkhotbah, dan pemimpin di dalam gereja (.1Tes 5:21; 1Yoh 4:1). Langkah-langkah berikut ini dapat dipergunakan untuk menguji guru palsu atau nabi palsu.

1) Perhatikan watak mereka. Adakah mereka itu berdoa dengan tekun serta mengabdi kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh? Apakah mereka sudah menyatakan buah Roh (.Gal 5:22-23), mengasihi orang berdosa (.Yoh 3:16), membenci kefasikan dan mengasihi kebenaran (Ibr 1:9] serta gigih menentang dosa (.Mat 23:1-39; Luk 3:18-20)?

2) Perhatikan motivasi mereka. Pemimpin Kristen yang sejati akan berusaha melakukan empat hal:

( a) menghormati Kristus (.2Kor 8:23; Fili 1:20);

( b) memimpin gereja kepada pengudusan (.Kis 26:18; 1Kor 6:18; .2Kor 6:16-18);

( c) menyelamatkan orang yang terhilang (.1Kor 9:19-22); dan

( d) memberitakan serta mempertahankan Injil Kristus dan ajaran para rasul (Fil 1:16; Yud 1:3]

3) Ujilah buah dalam kehidupan dan berita. Buah atau hasil pelayanan pekerja palsu ini sering kali terdiri atas orang bertobat yang tidak sepenuhnya menyerah kepada segenap Firman Allah (Mat 7:16]

4) Perhatikan tingkat ketergantungan pada Alkitab. Ujian ini sangat menentukan. Apakah mereka percaya dan mengajar bahwa penulisan asli dari PL dan PB sepenuhnya diilhami oleh Allah sehingga kita harus tunduk kepada seluruh ajarannya (.2Yoh 1:9-11;

Jika tidak, dapat dipastikan bahwa baik mereka maupun berita yang mereka sampaikan tidak berasal dari Allah.

5) Akhirnya, ujilah kejujuran mereka berkenaan dengan uang Tuhan. Apakah mereka menolak untuk mengambil banyak uang untuk diri mereka, mengatur semua keuangan dengan jujur dan penuh tanggung jawab, dan berusaha memajukan pekerjaan Tuhan dengan cara-cara yang sesuai dengan standar PB untuk para pemimpin (1Tim 3:3; 6:9-10)? Haruslah disadari bahwa kendatipun segala usaha orang percaya yang setia dalam menilai kehidupan dan berita seseorang, akan ada guru-guru palsu di dalam gereja, yang dengan bantuan Iblis, tetap tidak diketahui hingga tiba saatnya Allah memutuskan untuk menyingkapkan keadaan mereka yang sesungguhnya.
(cd SABDA 3.0)

BAPTISAN MENYELAMATKAN?

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 12:51 am on Monday, November 17, 2008

Apakah Baptisan menyelamatkan? Tidak cukupkah hanya karena Iman saja (Sola Fide)? Apakah Keselamatan perlu ditambah dengan syarat baptisan, ordonansi/peraturan yang diperintahkan Tuhan atau istilah yg terlanjur salah kaprah “Sakramen”.

Bila sepintas membaca bagian Alkitab, seakan-akan ada ayat-ayat yang mengajarkan bahwa Baptisan dapat menyelamatkan. 4 Ayat utama semacam itu ialah, “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”

(Mrk 16:16); “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus.” (Kis 2:38); “Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!” (Kis 22:16); dan “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan” (I Ptr 3:21). Ayat2 di atas dari Terjemahan Baru-2 untuk PB LAI.

Tetapi dalam semua hal ini, iman harus ada terlebih dulu. Urutannya menurut Alkitab ialah pertobatan, kepercayaan, baptisan. Pernyataan Yohanes Pembaptis, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan” (Mat 3:11) memiliki susunan kalimat Yunani yang sama dengan perkataan Petrus, “…memberi dirimu dibaptis… untuk pengampunan dosamu” (Kis 2:38). Pastilah, Yohanes menganggap bahwa pertobatan terjadi lebih dahulu; dan demikian juga, pengampunan terjadi lebih dahulu sebelum baptisan. Alkitab sangat jelas bahwa penyucian dari dosa bukanlah hasil baptisan (Kis 15:9; I Yoh 1:9), tetapi bahwa tindakan baptisan itu berkaitan erat sekali dengan tindakan iman sehingga sering kali keduanya diungkapkan sebagai satu tindakan. Saucy mengatakan,

Berkat-berkat Injil diterima oleh iman. Sekalipun demikian, ketika iman yang menyelamatkan tersebut dilanjutkan secara objektif melalui baptisan, maka Tuhan memakai tindakan tersebut untuk memperkuat kenyataan keselamatan yang telah diterima oleh iman sebelumnya. Iman seseorang dikuatkan pada saat itu diungkapkan secara terang-terangan, dan tindakan-tindakan penyelamatan itu dimeteraikan dan disahkan secara lebih mendalam lagi di dalam hati orang percaya itu. (Saucy, The Church in God’s Program, p 198)

Baptisan bukan saja melambangkan penyatuan orang yang bertobat dengan Kristus, baptisan juga merupakan sarana lahiriah untuk menyatakan bahwa orang yang bertobat itu sudah diterima menjadi anggota jemaat lokal. Pada waktu ia menjadi anggota tubuh Kristus, ia juga harus menghubungkan diri dengan jemaat lokal. Bila seseorang menanggapi panggilan keselamatan, maka sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Perjanjian Baru, ia harus dibaptis dan secara resmi menjadi anggota masyarakat Kristen (Kis 2:41).

Sumber: Teologi Sistematika, Henry Clarence Thiessen, Gandum Mas, p 499-500, cet II, 1993

Kis 16:31 berkata “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Dan Paulus bukan berkata: “Percayalah dan Baptislah… maka engkau akan selamat” seandainya Baptisan menyelamatkan, Paulus pasti akan mengatakan dengan tegas dan jelas.

KNOWING GOD dan TEOLOGI DISPENSASI

Filed under: Current Affairs — dedewijaya at 12:39 am on Monday, November 17, 2008

Bulan November ini saya mendapat kejutan dengan menjadi pemenang ke-2 dari angket majalah BAHANA. Pegawai di toko Buku Bethania menanyakan apa hadiahnya. Saya menjelaskan bahwa hadiahnya tidak lain yaitu Sebuah buku berjudul Knowing God karya J.I. Packer, 1 kaset, dan 1 T-Shirt yang bertulis GET FOCUS! Untuk pertama kalinya saya memenangkan angket BAHANA setelah 2 kali dalam 2 tahun berturut-turut mengirim angket ini.

Sebelumnya pada bulan September saya juga memenangkan hadiah berlangganan gratis 6 edisi Renungan Harian Manna Sorgawi setelah mengisi angket pertanyaan juga. Saudara saya mendapatkan hadiah buku Rahasia Berjalan di Atas Air. Sampai bulan ini saya masih dikirimkan gratis Manna Sorgawi, renungan harian yang saya anggap paling favorit diantara banyak renungan harian lainnya. Manna Sorgawi sangat menarik karena berisi renungan setiap hari, ada bagian pendalaman Alkitab, ada humor, ada doa dan doa syafaat, kata-kata bijak, kata mutiara, pelajaran khusus dan juga kesaksian serta insert cover depan bergambar perkakas dalam Alkitab beserta sejarah dan ceritanya. Yang saya sukai yaitu Cover bergambar gedung-gedung gereja selama 2 tahun dari 2007-2008, ini saya koleksi karena akan berguna di masa yang akan dating untuk pembuatan dan penulisan buku tentang Profil 101 Gereja-Gereja di Indonesia.

Sebelum mendapat hadiah dari BAHANA, saya sudah pernah meminjam buku KNOWING GOD dari penginjil saya di gereja, dan sebuah kejutan bahwa buku ini saya dapatkan dengan cuma-cuma. Sekiranya diuangkan, total hadiah yang saya dapatkan sebagai pemenang BAHANA mungkin 100 ribu rupiah.

Menurut J.I Packer dalam prakata tahun 1993, dia sangat meragukan bahwa bukunya ini akan ada banyak peminatnya. Namun ternyata dia salah. Sampai hari ini sudah diterjemahkan dalam 12 bahasa dan terjual lebih dari 1 juta kopi, ternyata buku ini telah menjadi buku penunjang pertumbuhan rohani di dunia kekristenan. J.I Packer merasa takjub dan terheran-heran, dan tertunduk untuk terus mengucap syukur kepada Allah.

Pada awalnya ketika meminjam buku ini, begitu membacanya, saya tidak bersemangat meneruskan untuk membaca buku ini. Bagi saya, yang suka dengan buku bersifat pengajaran atau doktrin, buku ini tidak singkat, padat dan jelas, atau langsung pada sasaran, namun bersifat devosional dan mengajak merenung tentang Doktrin Allah.

Berbeda ketika mendapat hadiah buku ini, mungkin karena menganggap hadiah sebagai sebuah hadiah, maka saya mencoba untuk membaca lebih jauh buku yang tampak sangat baru dari cetakan ke-4 tahun 2008 ini. Dan ternyata, entah bagaimana, saya menjadi tertarik dan membaca bab demi bab, serta mencoba menguji diri dengan menjawab pertanyaan di setiap bab yang ada. Hasilnya sungguh menarik, saya memberi warna dengan stabilo saya di buku Knowing God tersebut. Sebagai Tuntunan Praktis untuk Mengenal Allah yang dilengkapi dengan panduan studi pribadi dan diskusi kelompok, memang harus diakui buku ini dapat menolong kita sebagai Orang Kristen untuk belajar Mengenal Allah dengan gaya kupasan buku yang berbeda dari buku-buku Doktrin. Saya mencoba membandingkan dengan buku Teologi Sistematika Louis Berkhof, tentu tidak berimbang karena gaya penulisan dan sasaran pembacanya tampaknya berbeda. Lebih baik dibandingkan dengan buku Teologi Sistematika karya Charles Caldwell Ryrie, seorang Teolog Dispensasi yang saya kagumi– selain Alm. John Flipse Walvoord (disingkat John F. Walvoord), Dispensationalist yang sangat menekuni masalah Eskatologi yang menulis buku yang tebal Pedoman Lengkap Nubuat Alkitab diterbitkan oleh Kalam Hidup Bandung), Cyrus Ingersoll Scofield (yang dikenal dari Alkitab KJV/AV 1611 dengan komentari dari C.I. Scofield, Alkitab ini dikenal dengan nama Alkitab Scofield, dari beliau jugalah Teologi Dispensasi terus berkembang), Henry Clarence Thiessen (alm) dengan bukunya Teologi Sistematika yang diterbitkan Gandum Mas—dengan bahasa awam dan gaya penyajian dan penulisan untuk orang awam namun tetap sistematis, Ryrie mampu membuat sebuah buku Teologi Sistematika yang Doktrinal menjadi buku yang enak dibaca dan mudah dipahami. Buku ini berjudul Teologi Dasar 1&2: Panduan Populer untuk Memahami Kebenaran Alkitab yang juga diterbitkan Andi Offset, saat ini sudah memasuki cetakan ke-8 sejak 1992.

Nah, buku-buku yang saya sebutkan di atas sesungguhnya sangat menarik untuk dibaca dan digali oleh pembaca awam manapun. Bagi anda yang ingin mengenal Allah dengan bentuk gaya devosional, buku J.I. Packer bisa jadi alternatif pilihan anda dan bagi anda yang mau belajar Teologi Sistematika dari sudut pandang Teologi Dispensasi, buku-buku di atas bisa jadi buku utama anda. Patut diingat, seorang Dispensationalist pasti Premillenium dalam Eskatologinya. Namun seorang yang menganut Premillenium dalam Eksatologi (doktrin Akhir Zaman)-nya, belum tentu seorang Dispensationalist.

CARA MENGENAL AJARAN SESAT

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 2:13 am on Thursday, November 13, 2008

(khotbah Dr. Suhento Liauw, posted by Andrew Liauw, M.Th)

Kita tahu bahwa ada banyak agama di muka bumi ini, bahkan jumlahnya tak terhitung.

Pertama, ada banyak agama yang tidak memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Allah. Allah yang berhikmat itu sanggup menulis dan Allah yang tidak sanggup menulis itu adalah Allah yang tidak berhikmat. Karena tidak memiliki kitab tertulis yang bisa dijadikan patokan pengajaran dan tuntunan kehidupan, maka tentu berakibat pada pengajaran dan kehidupan umat yang tidak menentu.

Agama yang tidak memiliki kitab tertulis itu meneruskan pengajarannya melalui mulut ke mulut, dan tentu sangat tidak standar. Tidak mungkin mendirikan doktrin yang pasti dan mantap dari cerita lisan, maka sudah tentu doktrin agama tersebut biasanya tidak jelas.

Karena doktrinnya tidak jelas maka umatnya tidak memiliki patokan pengajaran yang pasti, dan juga tidak memiliki tuntunan hidup yang pasti. Hal ini disebabkan karena umatnya bisa menulis tetapi Allahnya tidak bisa menulis. Sebenarnya tidak sulit bagi orang yang berakal sehat untuk menyimpulkan bahwa yang sedang disembah itu pasti bukan Allah yang maha tahu dan yang maha kuasa melainkan sekedar illah ciptaan oknum tertentu belaka.

Kedua, ada banyak agama yang memiliki kitab tertulis yang diyakini firman Tuhan, tetapi isinya sangat sederhana, dan sangat ketinggalan. Ada banyak kitab suci yang isinya mengandung hal-hal yang sangat konyol, yaitu yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan fakta dan akal sehat. Sekalipun bertentangan dengan fakta dan akal sehat, namun dibela oleh umatnya mati-matian. Mereka siap membunuh orang yang berani menunjukkan kesalahan kitab mereka. Umatnya dengan leluasa menyerang kitab suci agama lain namun siap marah bahkan kalap ketika orang mencoba menunjukkan kesalahan kitab sucinya. Padahal kalau kitab yang diyakini mereka berasal dari Allah, maka biarkanlah kitab itu membela dirinya, atau biarkanlah Allah yang membela kitabNya, atau biarkanlah kebenaran itu sendiri mempertahankan dirinya.

Pendengar yang kami kasihi,
Kalau kita percaya akan keberadaan (existensi) Allah yang maha kuasa dan maha tahu yang menciptakan alam semesta, maka tentu kita percaya juga bahwa Allah tersebut adalah Allah yang penuh hikmat. HikmatNya melebihi para pendiri perusahaan, atau para pendiri negara, bahkan tentu lebih dari siapapun. Jadi kalau pendiri perusahaan tahu bahwa perusahaan memerlukan anggaran dasar, dan pendiri negara tahu bahwa negara memerlukan Undang-undang dasar, maka Allah tentu lebih tahu bahwa manusia memerlukan firman yang tertulis agar bisa dijadikannya patokan doktrin dan kehidupan.

Karena Allah ingin menyelamatkan manusia dan menuntun kehidupannya, maka Allah yang penuh hikmat dan tentu yang sanggup menulis itu berkepentingan agar umatnya memiliki firman yang tertulis.

Hanya dengan firman yang tertulislah jalan keselamatan itu pasti. Jalan keselamatan yang disampaikan secara lisan, atau melalui tradisi, dan lain sebagainya itu hanya akan menuntun manusia pada akhir yang mengerikan.

Allah pernah mendemonstrasikan bahwa Ia adalah Allah yang sanggup menulis dengan memerintahkan Musa naik ke atas bukit untuk menjemput sepuluh hukum yang ditulisNya.

Tetapi demi untuk mengecoh iblis Allah tidak menjatuhkan firmanNya dari langit atau memberikan firman yang lengkap kepada Musa, karena cara demikian pasti akan langsung ditiru oleh iblis yang akan juga memanggil hambanya dan memberikan firmannya, maka Allah memilih menggerakkan orang tertentu untuk menuliskan firmanNya. Firman Allah itu akhirnya ditulis seolah-olah itu adalah hukum, atau sejarah, atau dialok, atau surat pribadi yang berupa nasehat, dan lain sebagainya, sehingga sebelum dikanonkan iblis tidak menyadari bahwa suatu saat semua itu akan dikanonkan menjadi satu kanon firman Allah.

Setelah iblis menyadari bahwa ia membutuhkan juga kitab tertulis untuk menandingi firman Allah yang tertulis, maka ia sudah terlambat. Namun pasti iblis menganut faham lebih baik terlambat daripada sama sekali tidak, maka ia pun mulai menghasilkan kitab-kitabnya.

Allah menuliskan 39 kitab yang berisikan janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Tiga puluh sembilan kitab ini terdiri dari tiga kelompok kitab yaitu; kitab Torah yang adalah kitab hukum, dan Kethubim yang adalah kitab bacaan, dan Nabium yang adalah kitab para nabi.

Sekalipun namanya Torah, Kethubim, dan Nabium, namun inti kitab-kitab tersebut ialah menjanjikan seorang Juruselamat lengkap dengan ciri-cirinya. Itulah sebabnya kemudian keseluruhan kitab tersebut dinamakan kitab PERJANJIAN.

Baik orang Yahudi, yaitu penerima firman, bahkan Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa kitab Perjanjian Lama adalah firman Allah. Tuhan Yesus dalam Luk.24:44 menunjukkan bahwa Ia tidak mengakui apokripa atau deuterokanonika sebagai firman Allah dengan hanya menunjuk Torah, Ketubhim, dan Nabium.

Sesudah Nabi Maleakhi, ada kurang lebih empat ratus tahun Allah tidak menurunkan firman atau tidak memerintahkan seorang nabi untuk menulis.

Akhirnya muncul Yohanes Pembaptis, pembuka jalan (forerunner), yang menyerukan bahwa Mesias atau Juruselamat yang dijanjikan telah tiba. Katanya, “lihatlah, Anak domba Allah yang menghapus dosa isi dunia.”

Juruselamat yang ditunjuk Yohanes, yaitu Yesus, menjalani kehidupan manusia, karena tujuan kedatanganNya ialah menyelamatkan manusia dengan menanggung dosa manusia. Hanya dengan cara demikian saja manusia bisa diselamatkan karena upah dosa ialah maut atau dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman.

Masa kehadiran Yesus di dunia adalah masa penggenapan atas semua yang telah dituliskan jauh sebelumnya di dalam kitab Perjanjian Lama. Menurut Rasul Yohanes ada banyak hal telah dikerjakan oleh Yesus, jika semuanya dituliskan maka akan terlalu banyak. Namun jika tidak dituliskan maka kita tidak tahu bahwa nubuatan kitab Perjanjian Lama tentang Juruselamat yang dijanjikan telah digenapi. Itulah sebabnya Tuhan menggerakkan para murid yang adalah saksi mata, dan penerima wahyu langsung, untuk menuliskan peristiwa yang mereka pernah saksikan dan juga menuliskan pengajaran bagi kehidupan pribadi orang percaya maupun jemaat.

Akhirnya Para Rasul menulis secara langsung, atau meminta murid mereka menulis. Namun sumber atau isinya tetap bersumber dari Rasul atau saksi mata, atau penerima langsung wahyu Allah.

Lukas memang bukan Rasul, tetapi isi Injilnya, sebagaimana dikatakannya pada beberapa ayat bagian awal, adalah hasil wawancara dengan Rasul-rasul. Demikian juga Markus, ia bukan rasul namun isi Injilnya bersumber dari Petrus.

Bagaimanakah prosesnya sehingga ada 27 kitab yang diterima ke dalam kanon firman Allah? Tentu tidak ada sebuah dewan atau suatu konsili yang berwenang menetapkan melainkan jemaat mula-mula yang penuh dengan Roh Kudus yang memutuskan untuk mereka sendiri.

Prosesnya ialah, misalnya surat Paulus untuk jemaat Korintus, itu ada di kota Korintus, dan surat Efesus ada di kota Efesus. Pada saat jemaat Korintus pergi ke Efesus mereka membaca surat Efesus dan menyalinnya dan membawa pulang ke Korintus sehingga di Korintus ada surat Korintus dan Efesus.

Melalui interaksi antar jemaat maka akhirnya perpustakaan jemaat semakin bertambah. Sangat mungkin jumlah kitab yang ada di antara jemaat-jemaat itu berbeda, tetapi yang jelas mereka tidak sembarangan menerima suatu kitab atau surat sebagai kebenaran firman Allah. Dan tercatat yang diakui adalah berkisar di antara 27 kitab yang kita miliki sekarang.

Karena Allah telah terang-terangan menunjukkan penyertaanNya terhadap Rasul-rasul, dengan memberi mereka kuasa untuk menghidupkan dan mematikan orang, maka jemaat juga yakin akan otoritas rasul. Oleh sebab itu semua kitab, atau surat yang menyandang nama atau diketahui bahwa surat itu ditulis oleh seorang Rasul atau dibacking oleh seorang Rasul, maka keabsahannya tidak diragukan sedikitpun.

Atau setidak-tidaknya, surat atau kitab tersebut telah beredar semasa seorang Rasul masih hidup sehingga rasul tersebut pernah membaca dan memberikan restu atasnya.

Kita tahu bahwa kitab Wahyu adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Rasul yang terakhir. Kitab Wahyu adalah kitab penutup yang ditulis oleh rasul terakhir. Sesudah menulis kitab Wahyu Rasul Yohanes meninggal dan tidak ada rasul lagi.

Oleh sebab itu kitab manapun yang muncul kemudian, artinya sesudah tidak ada rasul lagi yang memberi pengesahan, maka tidak bisa diterima lagi oleh jemaat sebagai firman Tuhan.

Memang akhirnya muncul banyak kitab APOKRIPA P.B. yang menyandang nama-nama beken, misalnya Injil Petrus, Injil Thomas, Injil Barnabas dan lain sebagainya. Tulisan-tulisan itu disebut APOKRIPA, artinya muncul diam-diam, atau menyusup masuk, karena munculnya secara diam-diam. Keabsahan mereka dipertanyakan karena muncul setelah rasul-rasul tidak ada. Kalau betul-betul Injil Petrus itu adalah tulisan Petrus, atau Injil Barnabas itu tulisan Barnabas, seharusnya sudah beredar sejak penulisnya masih hidup, bukan jauh setelah penulisnya tidak ada bahkan jauh setelah Rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes tidak ada.

Pendengar yang kami kasihi,
Jelas sekali bahwa 27 kitab Perjanjian Baru adalah kitab-kitab yang telah disahkan oleh Para Rasul dan telah diterima oleh jemaat mula-mula.

Allah telah menyelesaikan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia di muka bumi, yaitu firmanNya yang pasti. Tanpa firman tertulis, tidak ada kepastian firman Tuhan. Memang Allah berkali-kali berfirman secara lisan, baik kepada Abraham, Musa dan lain sebagainya. Tetapi kita tidak tahu apa yang dikatakan Allah jika itu tidak dituliskan dan tersimpan sampai generasi kita. Allah bahkan pernah memakai mimpi, visi, malaikat dan lain sebagainya untuk menyampaikan sesuatu kepada manusia. Tetapi semua itu bukan alat yang bisa dijadikan landasan pengajaran yang pasti, artinya yang bisa dijadikan landasan doktrin. Tidak ada anggaran dasar perusahan yang bersifat lisan, apalagi Undang-undang dasar sebuah negara.

Akhirnya dari bicara secara lisan, memakai undian, mimpi, visi, malaikat, dan lain sebagainya, Allah sampai pada pemakaian tulisan. Dan yang lebih indah lagi ialah semua tulisan yang masih terpencar itu akhirnya dikumpulkan menjadi sebuah kanon, atau sebuah alat ukur yang pasti, yang tidak boleh ditambah maupun dikurangi lagi.

Banyak orang bertanya; “apakah kebenaran Alkitab itu kebenaran yang absolut?” Jawabnya, tentu! Kalau kebenaran Alkitab itu relatif maka itu sama dengan tidak ada kebenaran. Lho, bukankah sangat tergantung pada tafsiran manusia? Ya…tafsiran manusia itu tidak absolut, tetapi kebenaran Alkitab itu absolut. Dengan kata lain, tafsiran yang paling dekat dengan Alkitablah yang paling absolut. Mari, kita bersama-sama memakai otak yang diberikan Allah kepada kita untuk merenungkan firmanNya yang absolut, agar kebenaran yang kita yakini adalah kebenaran yang absolut.

Allah memberikan kita otak untuk berpikir, dan juga memberikan kita firmanNya yang absolut untuk dipelajari dengan otak kita. Setiap orang boleh menafsirkan firman Tuhan yang absolut itu. Tentu tidak semua tafsiran itu yang dihasilkan absolut, tafsiran yang semakin dekat dengan Alkitab adalah penafsiran yang semakin absolut, karena Alkitab adalah kebenaran absolut.

Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut, melainkan kebenaran relatif, maka itu berarti Allah tidak pernah menurunkan kebenaran, melainkan membiarkan manusia mencari serta menentukan kebenaran mereka sendiri. Kalau Alkitab bukan kebenaran absolut maka Yesus satu-satunya jalan keselamatan, juga bukan statemen yang absolut.

Memang iblis menjadi sangat takut dan gentar dengan Alkitab karena Alkitab adalah kebenaran Allah yang absolut. Karena dengan kebenaran absolut dari Allah itulah ia akan dihancurkan dengan tak berkutik.

Tetapi iblis bukan tipe oknum yang gampang menyerah. Ia berusaha keras agar manusia tidak menjadikan Alkitab kebenaran yang absolut.

Pertama, ia berusaha agar manusia menambahi kebenaran Alkitab dengan tradisi. Karena kalau manusia hanya mau berpatokan pada Alkitab saja, maka iblis kehilangan peluang untuk menanamkan pengaruhnya. Ia jugalah yang memunculkan berbagai kitab APOKRIPA untuk mengacaukan kanon, atau ukuran. Kalau ukuran kebenaran menjadi kacau, maka manusia akan kehilangan standar kebenaran serta akan semakin jauh dari kebenaran.

Saya sangat prihatin dengan teman-teman yang menyebut dirinya Kristen, namun tidak sanggup melihat usaha iblis untuk mengacaukan standar kebenaran. Semua doktrin akan kacau kalau landasan kebenarannya tidak ada kepastian. Allah telah memberikan firmanNya yang definite (pasti), namun iblis berusaha keras agar manusia berdiri, berjalan, bahkan duduk dalam firman yang indefinite (tidak pasti). Tentu kemudian mereka tergelincir, dan tidak bisa memahami doktrin yang benar atau yang alkitabiah, karena mereka telah keluar dari Alkitab.

Pendengar yang kami kasihi dalam Kristus,
Tiga puluh sembilan (39) kitab P.L. dan 27 kitab P.B. adalah satu-satunya firman Tuhan, dan di luar itu baik lisan maupun tertulis tidak ada firman Tuhan. Siapapun yang tidak memegang keyakinan demikian itu sama dengan tidak meyakini bahwa Allah telah menurunkan firmanNya yang pasti (definite). Dan kalau tidak ada firman yang pasti, maka tidak mungkin akan ada doktrin yang pasti, karena doktrin yang pasti itu harus yang disimpulkan dari firman yang pasti.

Itulah sebabnya Paulus menubuatkan dalam I Kor.13:8
bahwa Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Pertama, yang dimaksud pengetahuan di ayat tersebut itu jelas bukan akal sehat melainkan karunia berkata-kata dengan pengetahuan sebagaimana yang juga tertulis pada pasal 12:8. Sebab sampai di Sorga pun akal sehat kita, seperti dua tambah dua sama dengan empat, itu tidak akan lenyap.

Karunia bernubuat akan berakhir dan bahasa lidah akan berhenti itu bukan pada saat Paulus mengucapkan yang kira-kira tahun 50 an, melainkan nanti setelah Rasul Yohanes menuliskan kitab Wahyu pasal 22:21, yang kira-kira tahun 95. Memang pada saat Paulus mengirim surat I Korintus, ia menasehatkan agar jemaat Korintus mengejar karunia, dan terutama karunia bernubuat karena karunia bernubuat adalah yang paling bermanfaat sebab nubuatan itu datang dari Allah atau wahyu Allah.

Tetapi itu terjadi sebelum Allah menghentikan proses pewahyuan. Setelah wahyu terakhir, yaitu kitab Wahyu 22:21 diturunkan, yaitu ketika rasul Yohanes menuliskan amin, dan titik, maka sejak saat itu Allah tidak menurunkan wahyu lagi. Orang kristen yang berhikmat harus sanggup melihat bahwa Allah yang penuh hikmat telah menghentikan proses pewahyuan agar manusia memiliki standar firman Tuhan yang pasti. Jika Allah tidak menghentikan proses pewahyuan, maka itu berarti belum ada kepastian standar firman Tuhan.

Banyak orang tidak mengerti letak kesalahan dari mereka yang menggembar-gemborkan nubuatan masa kini. Bahkan ada yang lucu sekali, dimana di satu sisi mereka mengatakan bahwa mereka percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Tuhan, namun disisi lain mereka percaya bahwa masih ada proses pewahyuan yang menghasilkan nubuatan.

Pada sesi yang lalu telah saya katakan bahwa sesungguhnya hanya ada dua kategori kesesatan, yaitu; Keluar dari Alkitab dan salah menafsirkan Alkitab.
Yang pertama jauh lebih gampang diidentifikasi. Siapa saja yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY, baik tertulis maupun lisan, itu sudah keluar dari Alkitab.
Ada yang EXTRA BIBLICAL AUTHORITYnya berupa Deuterokanonika, tradisi, keputusan sidang ini dan itu, atau wahyu yang datang sesudah kitab Wahyu 22:21.

Extra biblical authority ini adalah penyebab utama penyesatan, atau penyebab utama terbentuknya doktrin yang tidak alkitabiah, karena doktrinnya tidak dilandaskan HANYA pada Alkitab, melainkan juga pada Extra Biblical Authority.

Oleh karena waktu, maka pada malam ini saya tidak sempat menguraikan tentang kategori kesesatan yang kedua, yaitu yang salah menafsirkan Alkitab. Selasa yang akan datang kami jadwalkan untuk membahas tentang cara menafsrian yang benar. Untuk malam ini anda telah mendapatkan penuntun sederhana namun sangat penting, yaitu bahwa yang alkitabiah itu ialah yang hanya percaya kepada Alkitab. Kekristenan model apapun, atau gereja merek apapun yang percaya pada EXTRA BIBLICAL AUTHORITY atau otoritas di luar Alkitab baik tertulis maupun lisan, maka tandailah, itu pasti kekristenan yang sesat. Perhatikan, bukan mungkin sesat tetapi pasti sesat. Tentu bukan sesat dari pengajaran Dr. Liauw, melainkan sesat dari Alkitab.

Pendengar yang saya kasihi dalam Kristus,
Kalau anda dalam kondisi sedang mempercayai Alkitab plus, entah itu plus kitab tertentu, tradisi, hasil persidangan, atau pun nubutan lisan masa kini, maka dengan rendah hati saya nasehati anda bahwa jika anda ingin masuk Sorga dan mempercayai doktrin yang alkitabiah, buanglah yang plus itu, percayalah HANYA pada Alkitab saja. Bernubuat memang dianjurkan sebagaimana tertulis dalam I Kor.14 yang ditulis sekitar tahun 50-an, tetapi itu sebelum Allah menutup firmanNya, artinya sebelum tahun 95 ketika rasul Yohanes menulis Wahyu 22:21.

Allah telah memberikan manusia firman tertulis yang standar, dokumen hitam di atas putih, yang tidak ada salah, yang berisikan pengajaran moral yang tertinggi. Kalau ada Allah, dan kalau Ia adalah Allah yang berhikmat, maka tidak mungkin Ia tidak menuliskan dan membatasi firmanNya. Sebab, jika tidak ada batasan tentang yang mana firmanNya, maka itu sama dengan tidak ada firman Allah, atau tidak ada Allah.

Pikirkanlah sobat, masuk sorga itu penting, bahkan yang terpenting. Maukah malam ini anda menyatakan kepada Allah bahwa mulai malam ini anda mau percaya bahwa hanya Alkitab saja firman Allah, dan percaya hanya kepada Alkitab saja? Amin.

TIDAK PERNAH DENGAR INJIL TETAP AKAN MASUK NERAKA. LALU, SALAH SIAPA?

Filed under: INJIL — dedewijaya at 2:07 am on Thursday, November 13, 2008

Suhento Liauw, D.R.E., Th.D
Rektor GITS dan Gembala Jemaat GBIA Graphe
Sumber: buletin Pedang Roh Edisi 39 Tahun IX April-Mei-Juni 2004

PERTANYAAN UMUM
Sekalipun dunia dengan teknologi komunikasinya sudah sangat canggih,
namun tentu masih ada orang yang tinggal di hutan atau tempat yang
tak terjangkau Injil. Jika mereka meninggal, apakah ada pengampunan
khusus bagi mereka karena mereka belum pernah mendengar tentang
Injil? Atau bagaimanakah nasib penduduk negara-negara Arab yang
dilarang oleh pemerintahnya mendengarkan berita Injil? Pertanyaan-
pertanyaan demikian sering muncul dalam acara seminar Doktrin
tentang Keselamatan (Soteriology). Tentu kita harus melihat
jawabannya di dalam Alkitab.

INJIL YANG MURNI
Injil yang murni mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui
pertobatan dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.
Rasul paulus dalam Roma 10:9-10 berkata, “sebab jika kamu mengaku
dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu,
bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka
kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”

Dosa tidak dapat diselesaikan dengan apapun selain dihukumkan.
Itulah sebabnya Sang Juruselamat dijanjikan untuk menerima hukuman
atas seisi dunia. Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa
seisi dunia. Untuk itu secara akal sehat dapat disimpulkan bahwa
bagi bayi, orang yang sakit jiwa sebelum akil balik, yang lahir
cacat mental dan sejenisnya dan meninggal, mereka pasti masuk Sorga
karena Yesus telah menanggung dosa seisi dunia. Tetapi jika manusia
bertumbuh dewasa, mencapai umur akil balik dan sehat mental, dan
melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia menjadi orang berdosa
bukan lagi karena ia keturunan Adam yang jatuh kedalam dosa,
melainkan kini ia menjadi orang berdosa atas perbuatannya sendiri.
Manusia dewasa yang berdosa, mutlak memerlukan berita Injil untuk
keselamatan jiwanya.

Sehubungan dengan kebenaran Alkitabiah ini, maka dapat disimpulkan
bahwa Calvinis (aliran Calvinis) sangat mungkin tidak pernah
mengalami peristiwa rohani yang dikatakan Rasul Paulus ini, karena
Calvinis tidak diselamatkan oleh bertobat dan percaya, melainkan
dipilih sejak dunia belum dijadikan. Calvinis mengurangi berita
Injil Keselamatan dari perlunya respon manusia menjadi hanya diam
menunggu pemilihan.

Kelompok yang menekankan keselamatan melalui baptisan juga tidak
mengalaminya karena melampaui atau menambahi berita Injil
Keselamatan dari tidak memerlukan tambahan baptisan menjadi
memerlukannya.

Injil yang pas takarannya ialah bertobat serta percaya kepada
Juruselamat yang telah menanggung dosa seisi dunia. Pada saat
seseorang mendengarkan dan percaya pada berita Injil yang menyatakan
dosa dan penghakiman, serta menunjukkan kebenaran di dalam penebusan
Sang Juruselamat, maka sesuai dengan janji firman Tuhan , pada saat itu Roh Kudus masuk ke dalam hatinya (Efesus 1:13)

PERLU PEMBERITAAN
Dalam Roma 10 Paulus menyatakan bahwa hanya orang yg berseru kepada nama Tuhan yg akan selamat, “tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia,jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak
ada yg memberitakan-Nya?” Silogisme Rasul Paulus ini membuktikan bahwa
predestinasi keselamatan itu tidak benar. Predestinasi hanya untuk tiang
penopang dan dasar kebenaran saja. Yakub dipilih dan Esau ditolak itu bukan
berhubungan dengan keselamatan melainkan berhubungan dengan pemilihan sebuah
bangsa sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran serta menghadirkan Mesias di
muka bumi. Sedangkan untuk mendapatkan keselamatan jiwa, jelas orang tersebut
harus percaya kepada Mesias, dan untuk percaya ia harus mendengar berita tentang
Sang Mesias. Berarti harus ada pengutusan orang untuk pergi memberitakan Injil.

Orang diselamatkan karena bertobat dan percaya kepada Injil, dan peristiwa ini
diawali dengan pengutusan penginjilan oleh jemaat/gereja lokal. Penginjil yg
memberitakan Injil mengumpulkan orang-orang yg telah diselamatkannya untuk
membentuk jemaat lokal dan kemudian jemaat lokal tersebut mengutus penginjil
lagi untuk memberitakan Injil dan mendirikan jemaat lokal, sehingga semakin
banyak jemaat lokal didirikan dan semakin banyak penginjil diutus untuk pergi
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal. Sebuah siklus yg indah dan sangat
diingini Yesus Kristus.

Orang-orang yg tinggal di daerah yg terpencil perlu diutuskan penginjil untuk
memberitakan Injil dan membangun jemaat lokal agar mereka diselamatkan dan iman
mereka bertumbuh dalam sebuah jemaat lokal yg alkitabiah. Tanpa mendengarkan
Injil, manusia tidak mungkin diselamatkan. Manusia akan mati di dalam dosanya
dan akan masuk ke dalam neraka.

Pembaca mungkin langsung bertanya, kalau mereka masuk neraka, itu kesalahan siapa? Tentu ada banyak pihak yg bersalah atas kebinasaan sekelompok orang yg belum pernah mendengarkan berita Injil. Gereja yg tidak pernah mengutus penginjil untuk pergi memberitakan Injil harus mempertanggungjawabkan setiap
rupiah yg didepositokan atau yg menganggur, di hadapan Tuhan. Bahkan setiap
orang Kristen harus mempertanggungjawabkan setiap rupiah yg didepositokannya, di
hadapan Tuhan. Dan setiap orang yg telah diselamatkan harus berdiri di hadapan
Tuhan untuk menjawab pertanyaan, mengapa ia tidak terlibat dalam pemberitaan
Injil.

MENGAPA PINDAH KE ARAB ?
Ada banyak pihak yg turut bersalah dalam kasus injil tidak sampai kepada
seseorang. Salah satunya juga ialah penyebab sampai ia berada di lokasi yg
terjangkau Injil. Mungkin bapa leluhurnya yg telah mengambil keputusan pindah
hingga ke lokasi tak terjangkau, ikut bersalah juga. Misalnya, jika seseorang
tergiur pada gaji yg tinggi, ia menerima pekerjaan di Arab Saudi. Karena ia
tidak diperbolehkan membawa Alkitab, maka lama-kelamaan imannya dan iman isteri
serta anak-anaknya semakin mundur. Tidak tertutup kemungkinan ia mendapatkan menantu yg namanya Abdullah atau Aminah. Dan kemudian sangat mungkin cucunya akan diberi nama Osama atau Aminah. Akhirnya mereka tidak pernah mendengar Injil Keselamatan yg akan menyelamatkan jiwa mereka. Siapakah yg bersalah atas kebinasaan mereka?

Betapa banyak orang Kristen yg pindah rumah tanpa mempertimbangkan aspek rohani keluarganya. Yang mereka hiraukan hanyalah sekolah untuk anak-anak mereka, pasar atau mall untuk berbelanja, dan berbagai fasilitas kebutuhan manusia jasmaniah. Biasanya mereka tidak peduli apakah di tempat tujuan mereka terdapat gereja lokal alkitabiah atau tidak. Mereka tidak mementingkan aspek rohani. Tidak patutkah kalau Tuhan muak terhadap orang-orang demikian? Dan kalau kebetulan di
dekatnya ada gereja alkitabiah, tentu tidak pernah disyukurinya, karena ia tidak
pernah mementingkannya. Bagi mereka kehadiran gereja adalah aspek optional,
bukan yg utama, dan kalau tidak ada pun tidak apa-apa.

PERLU GEREJA ALKITABIAH
Diperlukan berita Injil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa manusia yg telah melakukan
dosa secara sadar. Bahkan bukan sembarangan Injil, melainkan Injil yg
alkitabiah. Dan Injil yg alkitabiah hanya terdapat di dalam gereja yg
alkitabiah. Gereja yg sesat tidak mungkin memberitakan Injil yg
alkitabiah, melainkan Injil yg dikurangi dan ditambahi, yaitu Injil yg akan
menuntun manusia ke neraka (Ams.14:21).

Agar Injil yg alkitabiah ada di mana-mana, maka perlu didirikan jemaat lokal
alkitabiah di mana-mana. Contoh, oleh jemaat mula-mula yg alkitabiah, Injil
disampaikan kepada orang-orang Antiokhia, sehingga di Antiokhia didirikan sebuah
jemaat yg alkitabiah. Dan kemudian jemaat Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas
memberitakan Injil sehingga berdirilah jemaat-jemaat alkitabiah di seluruh Asia
Kecil. Pemberitaan Injil yg alkitabiah semestinya disertai pendirian jemaat
lokal yg alkitabiah. Jika seseorang hanya memberitakan Injil tanpa mendirikan
jemaat lokal, ia hanya melakukan separuh dari Amanat Agung.

Pemberitaan Injil tanpa pendirian jemaat lokal adalah pelayanan yg hanya
terfokus pada generasi kontemporer, tanpa memelihara Injil dan kebenaran untuk
generasi berikut. Karena tanpa jemaat lokal, maka orang yg diselamatkan oleh
Injil tidak memiliki tempat bersekutu, atau tempat mempraktekan semua perintah
Tuhan kepada orang yg telah diselamatkan-Nya.

MEMULIAKAN JEMAAT
Orang Kristen alkitabiah harus faham bahwa jemaat lokal alkitabiah
adalah tubuh Kristus. Orang Kristen lahir baru harus memuliakan
tubuh Kristus bukan memuliakan dirinya sendiri. Jika orang Kristen
lahir baru ingin berbuat baik, maka sepatutnya dilakukan melalui
jemaat agar jemaatlah yang dipuji bukan dirinya. Jika orang
Kristen lahir baru ingin melaksanakan perintah Tuhan, ia harus
melakukannya melalui jemaat bukan langsung dilakukan dirinya, agar
jemaatlah yg dimuliakan atau dipuji. Dan jika orang Kristen lahir
baru ingin memberitakan Injil, tentu ia harus melakukannya melalui
jemaat lokal alkitabiah. Ia bisa menerima pengutusan jika ia
menyumbangkan dirinya. Atau menyalurkan dana untuk penginjilan
melalui jemaat. Intinya, setiap orang Kristen lahir baru harus
menghitung dirinya ke dalam jemaat dalam segala tindakannya, agar
jemaat dimuliakan oleh segala perbuatannya. Tentu kalau ia
melakukan hal-hal buruk, nama jemaat akan tercela atau
dipermalukannya.

Jemaat lokal adalah pusat kehidupan orang Kristen lahir baru sebelum
ia ke Sorga. Jemaat lokal didirikan Tuhan sebagai institusi transit
menuju Sorga. Sebelum TKW dikirim ke luar negeri, biasanya mereka
ditampung, kemudian dilatih untuk menguasai berbagai ketrampilan,
baik bahasa maupun berbagai kecakapan. Demikian juga setiap orang
Kristen lahir baru yg menantikan kedatangan Tuhan. Jemaat lokal
alkitabiah adalah tempat bagi orang percaya untuk mempersiapkan diri
hidup bersama Tuhan selama-lamanya. Betapa penting posisi gereja
lokal alkitabiah di mata Tuhan. Dan betapa penting gereja lokal
alkitabiah bagi manusia yg cinta kebenaran. Berbahagialah jika ada
mahasiswa GRAPHE yg mau memulai jemaat alkitabiah di daerah anda.
Dan kalau anda merindukan gereja alkitabiah dimulai di daerah anda,
berdoalah, dan hubungi GITS segera.

Tanpa gereja alkitabiah di dekat anda, sangat mungkin anak cucu anda
akan berakhir di neraka. Celakalah sebuah bangsa jika di dalamnya
tidak ada gereja alkitabiah, dan celakalah penduduk sebuah daerah
jika di sana tidak ada gereja yg alkitabiah.***(SELESAI)

DOMBA KORBAN

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:44 am on Thursday, November 13, 2008

Oleh: Dr. Suhento Liauw
Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)
Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE

————————————————————

Ide tentang Domba korban itu bukan sesuatu yang baru. Banyak orang
bahkan pernah menyaksikan sekumpulan domba atau kambing sedang
dipersiapkan untuk dijadikan korban.

Mengapa Mempersembahkan Korban?

Banyak pemimpin agama mengajar umat mereka untuk mempersembahkan
korban. Namun sering kali tidak mengajarkan alasan dan tujuan dalam
mempersembahkan korban. Akhirnya, mereka menghasilkan umat yang hanya
sekedar menurut saja, tanpa memahami makna perbuatan mereka sendiri

Sesungguhnya domba korban diperlukan manusia setelah umat manusia
jatuh ke dalam dosa. Allah pencipta langit dan bumi adalah Allah yang
maha suci, yang tidak bisa berkompromi dengan dosa atau kejahatan,
yang sekecil apapun. Ia pasti akan menjatuhkan penghukuman terhadap
siapa saja yang berbuat dosa. Ia tidak akan memandang amal mereka,
karena amal mereka tidak dapat menghapuskan dosa mereka, melainkan
hanya membuat mereka lebih terhormat di hadapan manusia. Tidak ada
amal yang dapat menghapuskan dosa! Manusia yang bodoh saja tahu,
bahwa orang yang telah melakukan pembunuhan itu perlu dihukum, bukan
disuruh berbuat amal, apa lagi Tuhan. Mungkinkah Tuhan yang sanggup
menciptakan langit dan bumi tidak memakai cara yang benar, melainkan
membiarkan manusia berdosa memakai amal untuk menutupi dosanya?

Sebagai contoh, kalau seseorang tertangkap mencuri sesuatu, maka ia
akan dijatuhkan hukuman terkurung di dalam penjara untuk suatu jangka
waktu. Setelah ia menjalankan penghukumannya, maka hutang dosanya
telah terlunaskan di hadapan hukum. Demikian juga prinsip hukum Tuhan
berlaku. Prinsip tata-hukum manusia itu pada hakekatnya berasal dari
prinsip tata-hukum Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberikan akal budi
kepada manusia.

Ide tentang korban itu dihasilkan dari prinsip penjatuhan hukuman.
Sama artinya dengan penjatuhan hukum denda terhadap orang yang
bersalah. Artinya, karena kesalahannya, seseorang perlu membayar
ganti rugi atau menerima penghukuman. Bisa berupa hukuman badan
(cambuk atau penjara), atau berupa hukuman materi (denda uang atau
barang). Orang-orang yang mempersembahkan sesajian itu sebenarnya
bermaksud datang untuk membayar ganti rugi kesalahannya secara
materi.

Adam dan Hawa tahu persis, bahwa Allah tidak mungkin berkompromi
terhadap dosa yang telah mereka perbuat. Karena mereka adalah orang
pertama yang jatuh ke dalam dosa, maka pasti mereka mengetahui, atau
setidaknya mereka mendengar tentang akibat dosa mereka, dan juga cara
untuk mendapatkan pengampunan. Setelah mereka mengetahui bahwa cara
untuk mendapatkan pengampunan itu ialah menjadikan seekor domba
sebagai korban pengganti mereka sementara menunggu “domba Allah” yang
sedang dipersiapkan, maka tentu mereka meneruskan ajaran itu kepada
anak cucu mereka.

Dalam cerita Kain dan Habel, terkandung makna bahwa pada prinsipnya
mereka tahu dengan jelas tentang jalan keselamatan. Tetapi rupanya
Kain tidak serius dalam menanggapi makna jalan keselamatan yang
diajarkan Allah. Sedangkan Habel lebih berhikmat, dan tulus, sehingga
dia menuruti tata-cara yang dikehendaki Allah.

Apa yang dilakukan oleh Kain itu hampir sama dengan tindakan orang-
orang yang mempersembahkan sesajian yang berupa makanan, buah-buahan,
dan berbagai benda materi lain. Mereka berpikir bahwa dengan
mengganti rugi secara materi maka dosa mereka akan diampuni. Atau,
hanya dengan motivasi untuk sekedar mempersembahkan apa yang ada pada
mereka tanpa menghiraukan kehendak Allah. Karena Kain seorang petani,
ya…dipersembahkannyalah hasil pertaniannya. Prinsip dan caranya
dikuti oleh kebanyakan manusia di dunia ini. Mereka seolah-olah
berkata, “Tuhan seharusnya mengerti keadaan saya dan menuruti jalan
dan cara saya.”

Namun Habel mempersembahkan domba yang tak bercacat. Tentu saja Tuhan
berkenan kepada persembahan Habel. Ia telah melakukan tepat seperti
kehendak Tuhan, yaitu seperti yang didengarnya dari orangtuanya.
Mereka harus percaya kepada Penyelamat yang akan dikirim Allah, dan
sebelum Penyelamat itu datang untuk menanggung dosa mereka, domba
adalah gambaranNya. Kain juga pasti mendengar hal yang sama, tetapi
mungkin karena dia tidak rela mematuhi perintah Tuhan, maka
dipilihnya jalan yang baik menurut pendapatnya.

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka merasa sangat malu,
juga merasa segan untuk bertemu dengan Allah. Mereka menyadari akan
kesalahan mereka. Karena kesalahan mereka, Allah menyembelih seekor
binatang dan memakai kulit binatang itu untuk menutupi tubuh mereka.
Arti “korban” yang sebenarnya ialah “pihak yang menerima akibat atas
kesalahan pihak lain.” Kalau ia menerima akibat kesalahannya sendiri,
itu bukan korban, melainkan upah perbuatannya. Binatang korban adalah
binatang yang dibunuh untuk kesalahan seseorang. Ia dinamakan
binatang korban, karena tujuan kematiannya itu sebagai korban.

Allah telah menetapkan untuk memakai domba sebagai gambaran tentang
Sang Penyelamat yang akan dijadikan korban penghapus dosa. Allah
tidak memilih babi, anjing maupun ayam, apa lagi sayur-sayuran. Apa
makna dibalik ketetapan untuk memakai domba sebagai binatang korban?
Tentu karena domba memiliki sifat-sifat khusus yang cocok untuk
melambangkan Sang Penyelamat yang akan diutus. Dan, keadaan domba
yang tak bercacat melambangkan kesucian. Kalau tidak melambangkan
sesuatu, berarti binatang apa saja bisa dijadikan korban, sesuai
dengan apa yang dimiliki oleh seseorang. Domba yang tak bercacat itu
melambangkan bahwa Penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan
manusia dari penghukuman itu adalah pribadi yang tidak berdosa.

Orang yang mengorbankan domba atas dosanya, harus mempercayai janji
Allah, yaitu janji pengiriman seorang Penyelamat. Tanpa beriman
kepada Sang Penyelamat, sekalipun mereka mempersembahkan seribu ekor
domba, dosa mereka akan tetap tak terhapuskan. Sebab, kalau dosa
dapat terhapuskan hanya melalui penyembelihan domba, maka orang kaya
pasti akan lebih gampang masuk Surga, berhubung mereka memiliki lebih
banyak uang untuk membeli domba.

Tentu pertanyaan berikut akan muncul, “mengapakah manusia yang
berbuat dosa, tetapi domba yang menjadi korbannya?” Seharusnya,
karena manusia yang berdosa, maka manusia jugalah yang harus
menanggungnya, bukan domba. Benar, berikut ini ada beberapa prinsip
kebenaran yang harus diingat untuk mengerti rahasia illahi.

1. Pertama, setiap manusia yang berdosa pasti akan dihukum.

2. Kedua, manusialah yang harus menganggung dosa manusia, bukan
binatang.

3. Ketiga, orang berdosa tidak bisa menjadi penanggung dosa orang
lain, karena ia sendiri harus menanggung dosanya sendiri. Hanya orang
yang tidak berdosa yang dapat menjadi penanggung dosa orang lain.

4. Keempat, tidak ada orang benar di dunia ini. Satu orang pun tidak
ada. Benih dosa Adam dan Hawa telah diturunkan kepada setiap manusia
yang lahir dari mereka. Tanpa perlu diajar, semua manusia cenderung
berbuat dosa.

Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan dosa manusia. Yaitu melalui
seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menggantikan manusia
berdosa menerima penghukuman. Mungkinkah ada seorang manusia yang
tidak berdosa yang rela menanggung dosa orang lain? Mungkin ada orang
yang berani mati bagi seseorang yang sangat dikasihinya, bahkan ia
rela menanggung dosa kekasihnya di Neraka. Namun, jika ia sendiri
juga seorang berdosa, ia tidak layak menjadi penanggung dosa, karena
ia sendiri termasuk yang akan dihukum di Neraka. Hukuman yang
diterimanya di Neraka itu adalah porsi untuk dirinya, bukan porsi
orang lain yang ditanggungnya. Adakah orang yang tak berdosa yang
secara sukarela menyerahkan diri menjadi penanggung dosa?

Bagi manusia, hal itu mustahil. Karena ada beberapa syarat yang
menghalanginya. Syarat yang pertama, sang Penyelamat harus seorang
yang tak berdosa. Syarat kedua, harus dilakukan atas kesukarelaan
hatinya. Itu berarti, diperlukan seorang yang maha suci dan juga maha
kasih. Dari persyaratan-persyaratan tersebut di atas, jelas sekali
hanya Allah saja yang dapat melakukan semua itu.

Kita bersyukur sekali karena Dia telah merencanakan dan bahkan telah
bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa.
Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan
dengan sifat-sifatnya. Ia tidak bisa menolong orang miskin dengan
barang curian dari orang kaya. Karena tindakan mencuri bertentangan
dengan sifat kesucianNya. Allah dapat melakukan segala sesuatu dengan
satu syarat, yaitu yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Dia
adalah Allah yang maha kasih. Tetapi Dia juga Allah yang maha suci
dan maha adil.

Untuk menyelamatkan manusia berdosa dengan cara yang tidak
bertentangan dengan sifat-sifatNya, Allah menjelma menjadi manusia.
Manusia jelmaan Allah itu diberi nama Yesus, yang artinya
Juruselamat. Ketika Allah mempersiapkan Sang Penyelamat itu, Ia
memerintahkan manusia berdosa untuk percaya kepada janjiNya.

Sementara menunggu Sang Penyelamat, Allah memerintahkan manusia untuk
melakukan sesuatu yang menggambarkan proses penyelamatan itu dengan
iman. Sang Penyelamat digambarkan dengan domba yang tak bercacat, dan
setiap orang berdosa yang ingin diselesaikan dosanya harus menimpakan
dosanya ke atas domba itu.Jadi, mempersembahkan korban domba adalah
perbuatan yang menggambarkan program Allah untuk menyelamatkan
manusia. .

Yang Allah inginkan adalah domba yang tak bercacat, bukan babi, bukan
ayam dan juga bukan sayuran atau buah-buahan. Perintah untuk memakai
domba bukan tanpa alasan, melainkan dengan maksud yang sangat khusus,
yaitu untuk menggambarkan Sang Penyelamat yang direncanakan Allah.

Ribuan tahun telah dihabiskan untuk menapak jalan bagi Sang
Penyelamat. Itu sama sekali bukan karena ketidakmampuan Allah,
melainkan oleh karena maksud lain.

Salah satu alasan penundaan ialah, untuk menghindari pemalsuan yang
akan mencelakai manusia yang tidak berhati-hati. Allah memakai waktu
yang begitu panjang untuk menuliskan tanda-tanda Sang Penyelamat
sebelum kedatanganNya, agar orang-orang dapat mengenalNya dan iblis
tidak dapat memalsukanNya.

Untuk menghindari pemalsuan, Allah menyelipkan tanda-tanda tentang
Sang Penyelamat ke dalam catatan sejarah, lagu Zabur/Mazmur, dan
tulisan Nabi-nabi. Banyak orang tidak dapat melihat tanda-tanda itu,
terutama mereka yang mengabaikan masalah kerohanian. Tetapi bagi
mereka yang mempunyai kemauan untuk menyelidik, yaitu yang menganggap
bahwa keselamatan adalah hal penting, mereka dapat melihat tanda-
tanda itu dengan jelas. Bagi orang yang tidak menaruh perhatian, apa
boleh buat, karena jika dia tidak mau menyelamatkan dirinya, lebih
sulit lagi bagi orang lain untuk menyelamatkannya.

Allah sengaja menuliskan kitab-kitab itu secara cicilan, dan
dituliskan seolah-olah itu kitab hukum (Taurat), seolah-olah buku
nyanyian (Mazmur), dan seolah-olah kitab sejarah (Yosua-Ester). Iblis
tidak menyadari bahwa di dalamnya berisikan tanda-tanda Sang
Penyelamat yang dijanjikan Allah.

Berikut ini adalah beberapa tanda utama yang diberikan;

1. Ia akan dilahirkan dari keturunan Abraham/Ibrahim (Tertulis dalam
kitab Taurat pertama/Kejadian pasal 22 ayat 18). Tanda ini
mengecualikan orang lain yang bukan keturunan Ibrahim. Kalau ada
keturunan non-Ibrahim berkata bahwa dirinya adalah Sang Penyelamat
yang akan dikirim, jangan percaya! Sebab, di dalam Kitab Taurat telah
tertulis bahwa Sang Penyelamat adalah keturunan Ibrahim.

Perlu diketahui, bahwa semua tanda ditulis jauh sebelum Sang
Penyelamat datang. Jadi, tulisan itu bersifat nubuatan.

2. Agar semua orang bisa mengenal sang Penyelamat, Allah menambahkan
tanda-tanda lain. Antara lain; bahwa ia akan dilahirkan dalam
keluarga Daud (Tertulis dalam kitab II Samuel 7:13).

3. Selain lahir dari keluarga Daud, ia akan dilahirkan oleh seorang
perawan (Dalam kitab Yesaya 7:14).

4. Ia akan dilahirkan di kota Betlehem (Dalam kitab Mikha 5:1),

5. Ia akan dibunuh sebagai korban (Dalam kitab Yesaya 53:12).

Hal yang sangat mengagumkan ialah, ada sekitar tiga ratus tanda telah
dituliskan sebelum kedatanganNya. Kalau ditulis setelah kejadian,
banyak sejarahwan dapat melakukannya. Tetapi, menuliskan tanda-tanda
itu sebelum kejadian, itu membuktikan bahwa Allah ikut campur tangan
dalam penulisan kitab-kitab itu.

Kita tiba pada bagian yang terpenting. Setiap orang yang mau diampuni
dosanya, harus memakai cara yang ditetapkan Allah. Orang yang memakai
caranya sendiri, atau cara yang diajarkan oleh orang yang sebenarnya
tidak tahu, atau terjebak ke dalam cara yang diciptakan oleh iblis,
pasti akan berakhir seperti Kain. Ia ditolak oleh Allah. Kain tidak
percaya kepada Allah, oleh sebab itu ia tidak mau menuruti jalan yang
ditentukan Allah. Biasanya orang-orang seperti Kain tidak berusaha
mengetahui jalan yang benar. Kelihatannya dia tidak peduli, apakah
akan masuk Surga atau masuk Neraka.

Salomo berkata, “Ada jalan disangka orang lurus, tetapi ujungnya
menuju maut.” Oh, banyak sekali orang yang seperti Kain di dunia ini.
Tetapi orang-orang seperti Habel juga ada. Mereka menaruh perhatian
terhadap hal-hal rohani, suka menyelidik, dan ingin mengetahui jalan
yang benar. Mereka berusaha menyelidiki tanda-tanda yang Allah
berikan. Tentu mereka akan mendapatkannya, karena tanda yang telah
diberikan itu sangat jelas. Tanda-tanda itu bukan disediakan untuk
orang pintar atau terpelajar saja, melainkan untuk setiap orang yang
ingin diselamatkan dari penghukuman kekal di Neraka.

Disamping Allah berusaha keras untuk menyelamatkan manusia dari
penghukuman, iblis juga berusaha keras untuk menghalangi usaha itu.
Ia berusaha menyebarkan issue bahwa kitab Taurat, Zabur/Mazmur, dan
kitab yang ditulis oleh Nabi-nabi itu telah dipalsukan.

Seharusnya mereka berpikir sedikit. Kalau Allah sanggup menciptakan
langit dan bumi, tentu Dia juga sanggup menghindarkan kitab yang
telah diilhaminya dari pemalsuan. Seharusnya mereka juga berpikir
bahwa kalau seseorang menyatakan sesuatu palsu, seharusnya dia pernah
melihat atau memiliki yang asli. Kalau dia tidak pernah melihat atau
memiliki yang asli, ada kemungkinan tindakannya dilatarbelakangi
tujuan yang tidak murni. Celakanya, banyak orang hanya ikut saja,
tanpa berkeinginan untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Seharusnya
mereka tahu, bahwa tidak ada hal yang lebih penting dari hal ini.
Sekali mereka salah beriman, maka akan berakibat kekal di Neraka.

Alkitab maupun sejarah, bersama-sama membuktikan bahwa hanya ada satu
orang saja yang memenuhi semua tanda sebagai Penyelamat sebagaimana
tertulis dalam kitab Taurat, Zabur dan Para Nabi.

Tentu bukanlah suatu kebetulan kalau orang itu ternyata menggenapi
semua tanda yang ditulis oleh Musa, Daud, dan Nabi-nabi jauh
sebelumnya. Penghitungan tahun yang dipakai secara international,
yaitu 1995, adalah tahun yang dihitung mulai dari kelahiranNya.
Sebelum kelahiranNya, malaikat menampakkan diri kepada Maria untuk
memberitahukan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak.
Tentu dia sangat heran karena dia tahu bahwa dirinya belum menikah.
Tetapi malaikat menenangkannya sambil memberitahukannya bahwa itu
akan terjadi oleh Roh Allah, dan Anak itu akan disebut immanuel, yang
berarti Allah beserta kita.

KelahiranNya membawa penyertaan Allah kepada kita. Maria telah
bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf, yang secara hukum
bertindak sebagai ayah dari Anak yang akan lahir. Karena itu malaikat
datang dan memberitahu kepadanya, bahwa Anak itu harus diberi nama
Ihsou (baca Iesou). Ihsou adalah kata bahasa Yunani yang berarti
Penyelamat. Bahasa lain hanya mengambil bunyinya saja. Misalnya,
dalam bahasa Indonesia Ia dipanggil Yesus, orang Arab menyebutnya
Isa, bahasa Inggris menyebutnya Jesus, bahasa Tionghoa menyebutnya
Yeshu.

Tidak ada posisi netral. Kalau tidak mengakuiNya, berarti menolakNya.

Yesus Adalah Domba Allah
Ketika Yahya atau Yohanes, orang yang diutus Allah, melihat Yesus, ia
berseru, “Lihatlah anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh
1:29) Semua orang Yahudi yang mendengar, tahu bahwa Yohanes
menyamakan Yesus dengan domba korban yang diajarkan dalam kitab
Taurat, Zabur, dan Nabi-nabi. Ia menjelma menjadi manusia, menempati
posisi domba korban. Oleh sebab itu ketika Ia dituntut untuk
disalibkan, Ia sama sekali tidak membantah. Banyak orang tidak
mengerti makna penyaliban Yesus.

“Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan
oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan
bagi kita ditimpakan kepadaNya…. Dia dianiaya, tetapi Dia
membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutNya seperti anak
domba yang dibawa ke pembantaian..” (Yesaya 53:5, 7)

Siapa lagi yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya kalau bukan Yesus yang
dibawa untuk disalibkan? Sekali lagi, nabi Yesaya menulis semua ini
sekitar tujuh ratus tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Kitab nabi
Yesaya ada di antara mereka yang melaksanakan penyaliban.

Jalan Keselamatan Telah Tersedia

Segala sesuatu telah jelas. Maksud Allah memerintahkan orang yang
jatuh ke dalam dosa untuk mempersembahkan domba sebagai korban dosa
ialah karena Ia akan mengirim Yesus. Yesus, yang berarti Penyelamat
adalah manusia yang dilahirkan oleh Roh Allah.

Kita, yang hidup sesudah pelaksanaan pengorbanan domba Allah,
diperintahkan untuk beriman kepadaNya. Hanya melalui percaya
kepadaNya, manusia bisa diselamatkan dari penghukuman.

Orang-orang yang hidup sebelum penyalibanNya percaya pada Juruselamat
yang akan menanggung dosa mereka, sedangkan kita yang hidup sesudah
penyaliban, percaya pada Juruselamat yang telah menanggung dosa kita.
Abraham yang hidup dua ribu tahun sebelum penyalibanNya percaya
kepada Juruselamat yang akan menanggung dosanya, yang dilaksanakan
dua ribu tahun sesudah dia, sedangkan kita percaya kepada Juruselamat
yang telah menanggung dosa kita dua ribu tahun yang lalu.

Tidak ada satu orang pun dapat masuk ke Surga tanpa percaya kepada
Juruselamat yang telah ditentukan Allah, yaitu diriNya sendiri yang
menjelma menjadi manusia. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran
dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak
melalui Aku” (Yoh 14:6).

Terimalah Hadiah Itu
Allah telah menyediakan dombaNya. Yesus disebut Anak Domba Allah yang
menanggung dosa isi dunia. Peristiwa penanggungan dosa juga telah
terlaksana. Siapapun yang masih mempersembahkan domba/ kambing korban
itu menyatakan diri menolak domba yang Allah sediakan. Perbuatan itu
mengandung arti, ingin tetap memakai cara simbolik, daripada yang
disimbolkannya. Atau, hanya sekedar melaksanakan upacara tanpa
memahami maknanya. Ingatlah! Domba Allah telah dikorbankan. Jangan
mengorbankan domba/kambing yang mengembek lagi. Itu adalah penghinaan
terhadap Domba Allah.

Sebagaimana Allah memerintahkan orang yang mempersembahkan korban
domba memegang kepala domba sebagai tanda percaya, demikian juga
setiap orang yang hidup sesudah peristiwa Penyaliban Domba Allah,
perlu meletakkan “tangan tanda percaya” pada Yesus. Tentu tidak
mungkin bagi kita untuk kembali ke saat penyaliban untuk meletakkan
tangan di kepalaNya. Yang dapat kita lakukan sekarang ialah,
menerimaNya ke dalam hati kita dengan iman.

Penghapusan dosa terjadi, kalau ada tindakan untuk menerima jasa
Penanggung dosa, serta penyerahan dosa kepada si Penanggung. Ini
adalah transaksi rohani yang dikerjakan dengan iman. Tindakan inilah
yang terpenting dalam seluruh kehidupan seseorang sejak ia dilahirkan
ke dalam dunia. Yesus yang telah mati disalib kemudian bangkit dari
kematian pada hari ke-tiga karena Ia adalah Allah. Ia maha hadir dan
maha tahu. Sekarang Ia ada di sini, di samping anda, serta sedang
menantikan keputusan anda.

1. Mengaku bahwa anda adalah orang berdosa yang membutuhkan jasa
pengorbananNya.

2. Menyatakan dengan kata-kata, bahwa anda menerimaNya sebagai
Penyelamat anda.

3. Nyatakan terima kasih anda atas pengorbananNya di kayu salib.

Kalau anda tidak menemukan kata-kata yang tepat, pertimbangkanlah
kata-kata berikut. Mungkin itu sesuai dengan isi hati anda. Kalau
sesuai, ucapkanlah.

Tuhan Yesus, saya sadar bahwa saya adalah orang berdosa yang akan
binasa. Saya sangat membutuhkan pengorbananMu. Saya menerima Engkau
sebagai Juruselamat saya pribadi. Engkaulah domba korban saya di
hadapan Allah. Terima kasih atas pengorbananMu. Saya berdoa dengan
segenap hati saya. Amin.

Pejamkanlah mata agar konsentrasi anda tidak terganggu, dan
ucapkanlah seluruh isi hati anda itu kepada Tuhan Yesus. Sekarang!

Hal-hal Yang Perlu Diingat

1. Sejak anda mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat anda, semua dosa anda telah ditanggung olehNya. Anda
adalah orang suci, dan menjadi anggota keluarga Allah. Anda adalah
Orang yang bersiap-siap untuk masuk Surga.

2. Karena anda adalah anggota keluarga Allah, maka Allah menyediakan
banyak berkat bagi anda. Anda perlu mengetahuinya. Untuk itu, bacalah
Alkitab mulai dari kitab Perjanjian Baru, catatan tentang kehidupan
dan pengajaran Tuhan Yesus.

3. Dapatkanlah anggota keluarga Allah yang lain sebagai saudara, agar
bisa saling membagi suka dan duka. Jadilah anggota sebuah gereja yang
mengajarkan kebenaran firman Tuhan agar anda dapat bertumbuh di dalam
iman.

SIAPAKAH KRISTEN FUNDAMENTALIS ITU?

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:34 am on Thursday, November 13, 2008

Oleh: Dr. Suhento Liauw
—————————

Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun 70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa pengertian.

Tahun 80-an setelah Stephen Tong mendirikan Reform, sebagian orang
Indonesia yang kurang informasi berpikir yang berbau Reform itulah
yang alkitabiah. Sesungguhnya siapakah Fundamentalis, Liberal,
Injili, dll. itu? Apakah ada perbedaannya jika kita menjadi salah
satu dari mereka? Ikutilah nasehat Yakobus, “tetapi apabila di antara
kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada
Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan
dengan tidak membangkit-bangkit (tidak menegur), maka hal itu akan
diberikan kepadanya (1:5).

Sejak zaman renaissance, setelah kekristenan pernah dikagetkan oleh
kesesatan Gereja Roma Katolik (GRK) yang sangat parah, ada kehausan
akan kebenaran yang alkitabiah. Pada saat itu muncul kelompok
puritant, dan berbagai kelompok yang tendensi theologisnya adalah
menuju ke kebenaran Alkitab yang murni. Semua yang dikatakan Alkitab
diyakini sebagai kebenaran absolut. Inilah KRISTEN FUNDAMENTALIS itu.

Tetapi pada akhir abad ke-19, muncul kelompok yang tidak lagi percaya
bahwa Alkitab adalah kebenaran absolut yang tidak ada salah. Fenomena
yang terhebat adalah terbitnya Alkitab bahasa Yunani Critical Text
oleh Brooke Foss Westcott (Bishop Gereja Anglican) dan John Anthony
Hort pada tahun 1881, yang isinya penuh kesalahan tetapi diyakini
sebagai yang lebih tepat. Menurut pengeditnya kesalahan memang pada
sang penulis (Matius, Paulus dll.), bukan masalah mutu manuskrip yang
mereka jadikan patokan. Sejak saat itu Liberalisme yaitu “sikap tidak
mempercayai Alkitab sebagai kebenaran absolut yang tidak ada salah”
melanda Eropa. Angin itu bertiup kencang dan yang pertama kali
ditumbangkan adalah para theolog Jerman.

Adu argumentasi yang tidak ada habis-habisnya antara kelompok
FUNDAMENTALIS dan LIBERAL terus berlanjut dan makin hari makin
sengit. Tahun 1909, dua orang kaya membiayai sebuah komisi yang
diketuai oleh beberapa orang dan terakhir oleh R.A.Torrey, menyusun
argumentasi mewakili kelompok FUNDAMENTALIS terhadap LIBERAL,
menghasilkan 12 volume buku yang berjudul The Fundamentals. (Buku ini
ada di STT GRAPHE). Pada saat itu oleh kedua orang kaya itu dicetak
300,000 set dan dibagi secara gratis kepada pengkhotbah siapa saja
yang menginginkannya. Peperangan doktrin tentu semakin seru dan bukan
hanya di Eropa dan Amerika melainkan juga hingga di ladang misi.

Tahun 1947, Harold Ockenga, Rektor pertama Fuller Theological
Seminary, mendirikan kelompok yang ia sebut INJILI, katanya untuk
menjembatani kelompok Fundamental dengan Liberal. Sejak saat itu
muncullah kelompok INJILI yang memposisikan diri di tengah-tengah.
Karena posisinya di tengah, maka kadang ia seperti Fundamental dan
kadang ia seperti Liberal (berubah-ubah warna seperti bunglon).
Kelompok Injili ini maju pesat karena didukung oleh Billy Graham yang
pada saat itu sudah sangat tergiur untuk menjadi mashyur. Selain itu
juga didukung oleh Carl F.H. Henry, yang mendirikan majalah
Christianity Today pada tahun 1955. Kelompok ini berkembang terutama
disebabkan oleh sikapnya yang seperti bunglon. Ia bisa diterima oleh
semua kelompok karena fleksibilitasnya yang tinggi.

Sementara itu Gerakan Kharismatik dimulai pada tahun 1886. Seorang
Pendeta Baptis yang bernama Richard G. Spurling dari Cokercreek,
Tennessee, merasa tidak puas dengan organisasi gerejanya sehingga ia
keluar dan berusaha mendirikan gereja sendiri. Setelah ia keluar, ia
memimpin sebuah kebangunan rohani yang disertai bahasa lidah.
Kemudian ia berhasil mendirikan gereja yang disebut Church of God
(Sidang Jemaat Allah). Tahun 1898 Charles F. Parham, yang dipanggil
bapak Gerakan Pentakosta Modern, mendirikan rumah penyembuhan Betel.
Kemudian tahun 1900 dia juga mendirikan Betel Bible College di
Topeka, Kansas. Sekolah Alkitab inilah yang dengan efektif
menyebarkan gerakan kharismatik bersama semua kelompoknya yang
percaya masih ada wahyu tambahan sesudah Alkitab (Wahyu 22:21).

Kesalahan terbesar kelompok ini ialah mengejar Extra Biblical
Authority (otoritas di luar Alkitab), yaitu mimpi, bahasa lidah,
nubuatan dan berbagai fenomenon. Mereka percaya Allah masih
menurunkan wahyu sesudah Wahyu 22:21. Dengan demikian berarti mereka
tidak percaya bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Mereka
tidak percaya bahwa diluar Alkitab tidak ada firman Allah baik
tertulis maupun lisan.

Kelompok Reform atau Presbyterian adalah kelompok yang dimulai oleh
John Calvin. Kelompok Refrom dan Lutheran bisa dilihat sebagai
kelompok yang sama yaitu kelompok Protestan karena kedua-duanya
melakukan protes dan keluar dari GRK dalam waktu yang hampi
bersamaan, atau setidaknya dalam suasana yang sama. Pada awal
reformasi hampir semua theolog Reform maupun Lutheran berpandangan
fundamental. Tetapi fakta menunjukan bahwa di Eropa dan Amerika
kelompok Lutheran dan Reform adalah yang paling cepat menjadi
Liberal. Boleh dikatakan bahwa Liberalisme itu muncul dari Lutheran
dan Reform. Mengapa?

Penyebab sebegitu lemahnya kelompok Reform dan Lutheran dalam
menghadapi godaan penyesatan itu sangat mungkin karena mereka hanya
mereformasi Doktrin Keselamatan (soteriology) tanpa mereformasi
Doktrin Gereja (Ecclesiology). Padahal kesesatan Doktrin Keselamatan
GRK itu dikarenakan kesesatan Doktrin Gerejanya. Tetapi baik Calvin
maupun Luther sama-sama masih tetap memungut banyak tradisi GRK
misalnya baptisan bayi dan baptisan percik serta sistem tata-ibadah
yang memakai Liturgi.

Baptisan percik sekalipun salah tetapi tidak sebahaya baptisan bayi
(pedo-baptism). Baptisan bayi menyebabkan orang yang belum lahir baru
menjadi anggota gereja sejak bayi dan bertumbuh sebagai anggota
gereja. Kalau semua orang telah menjadi anggota gereja melalui
kelahiran jasmani atau Kristen keturunan, tentu pasti suatu hari
gereja akan dipimpin oleh orang yang belum lahir baru, dan sekolah
theologi akan menghasilkan banyak theolog tanpa lahir baru (theolog
Kristen keturunan).

Sesuai dengan berjalannya waktu, makin hari akan makin banyak theolog
atau pemimpin gereja Reform, Lutheran dan Anglikan (episkopal), atau
yang membaptis bayi, yang menjadi Liberal.

Kelompok Baptis terhitung sebagai kelompok yang memiliki resistensi
tinggi terhadap Liberalisme. Kelihatannya rahasianya adalah tradisi
anna-baptist yang menjadi sokoh-gurunya. Tradisi Anna-baptist telah
berumur dua ribuan tahun. Sejak gereja dirusak dengan sistem Katolik
(universal/Am), sekelompok orang yang tidak rela membiarkan gereja
dirusak dari dalam, memisahkan diri. Mereka mempertahankan kemurnian
kekristenan sambil mengorbankan segala-galanya.

Gereja Roma Katolik sangat membenci mereka karena mereka membaptis
ulang orang dari GRK yang bertobat. Mereka diburu lebih dari memburu
binatang. Dan junmlah mereka yang telah dibunuh tidak sanggup
dihitung. Bahkan pada masa reformasi, mereka juga dibunuh oleh para
reformator, terutama Zwingli. Para reformator menganiaya anna-baptist
itu karena anna-baptist berkata bahwa mereka masih belum benar
sehingga orang Protestan yang mau bergabung dengan anna-baptist
diminta dibaptis ulang. Atas hal ini para reformator bukannya sadar
atas kesalahan mereka, malah tersinggung dan membunuh banyak anna-
baptis. John Bunyan, penulis buku Perjalanan Seorang Musafir,
dipenjarakan oleh gereja Anglikan selama 12 tahun, hingga meninggal,
hanya karena ia mengkhotbahkan pengajaran yang bertentangan dengan
gereja Anglikan, yaitu tidak oleh membaptis bayi dan gereja harus
dipisahkan dari negara. Setelah kebebasan beragama dijamin baik di
Eropa maupun di Amerika, anna-baptist keluar dan mendirikan gereja
yang bernama BAPTIS.

Akhirnya, kelompok gereja Baptislah yang kuat mempertahankan
Fundamentalisme, yaitu sikap mempertahankan Alkitab tanpa kompromi.
Namun demikian pada abad 20 ini banyak juga gereja Baptis yang
terhanyut oleh badai liberalisme. Terlebih lagi di Indonesia, dimana
banyak gereja Baptis kehilangan hakekat inti jati dirinya. Namun
kalau theolog Baptis saja terhanyut, anda bisa bayangkan apa yang
terjadi dengan kelompok lain, terutama yang tidak mereformasi Doktrin
Gerejanya.

Fundamentalis tentu bukan hanya orang Baptis saja. Dari kelompok lain
juga ada, cuma lebih banyak dari kelompok Baptis terutama baptis
yang alkitabiah. Bob Jones, Sr. pendiri Bob Jones University adalah
pendekar Fundamentalis dari gereja Methodis. Dr. Timothy Tow di
singapore adalah Fundamentalis dari gereja Presbytarian, dll.

Menurut hemat saya, tidak ada kelompok Kharismatik yang tergolong ke
dalam fundamentalis karena tidak mungkin benar untuk percaya bahwa
Alkitab satu-satunya firman Allah sambil mempercayai adanya wahyu
tambahan di luar Alkitab. Mereka tidak sadar bahwa dengan mempercayai
adanya nubuatan sesudah Alkitab selesai, itu artinya percaya bahwa
ada firman Allah di luar Alkitab. Biasanya mereka akan dengan lugu
berargumentasi bahwa I Kor.14:1 suruh bernubuat, tanpa menyadari
bahwa pada saat surat itu ditulis Alkitab belum final, atau Wahyu
22:21 belum ditulis.

Di Indonesia, Kristen Fundamentalis hampir tidak pernah dikenal. Dr.
Rod Bell, Sr. (ketua Fundamental Baptist Fellowship) bahkan berkata
kepada Dr. Suhento Liauw, “kalau nama Fundamentalis tidak harum di
negara anda, pakai istilah lain saja.” Tetapi Dr. Liauw tetap memakai
istilah Fundamentalis dan mempopulerkan istilah Kristen Fundamentalis
karena percaya bahwa orang-orang di Indonesia sudah cukup pintar dan
pasti dapat membedakan dan tahu bahwa Fundamentalis Kristen itu
adalah yang sangat teguh berpegang pada Alkitab, dan kalau seseorang
sangat teguh berpegang pada Alkitab itu pasti tidak mungkin menculik
orang seperti yang dilakukan Abu Sayaf. Justru karena sangat memegang
teguh Alkitablah kaum Fundamentalis telah dianiaya sepanjang masa
oleh berbagai kelompok yang tersinggung oleh ketegasan mereka.

Sepulang dari USA, Saya memperkenalkan Kristen Fundamentalis yang
berpegang teguh pada Alkitab. Alkitab adalah kebenaran firman Tuhan
yang absolut. Diluar Alkitab tidak ada firman Tuhan baik lisan maupun
tertulis. Orang Kristen lahir baru harus memiliki kerinduan untuk
mematuhi Alkitab apapun resikonya. Inilah seruan Dr. Liauw diantara
begitu banyak prinsip yang diperjuangkan oleh kaum Fundamentalis.

Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan hanya
dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran
itu ternyata membuat sebagian orang tersinggung, yang dapat kami
katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah
pendapat kami. Apakah mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan?
Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal
sehat, seharusnya tidak ada.

Siapakah Kristen Fundamentalis?
Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang teguh Alkitab
tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.***

NORMA-NORMA MORALITAS SEKSUAL

Filed under: LOVE — dedewijaya at 5:35 am on Tuesday, November 11, 2008

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.” (Ibrani 13:4)

Yang terutama orang percaya harus murni secara moral dan seksual (.2Kor 11:2; Tit 2:5; 1Pet 3:2). Kata “murni” (Yun. _hagnos_ atau _amiantos_) berarti bebas dari semua noda hal-hal yang cabul. Kata ini menekankan agar menahan diri dari segala tindakan dan pikiran yang merangsang keinginan yang tidak selaras dengan keperawanan atau janji-janji nikah seseorang. Kata ini juga menekankan agar mengendalikan diri dan menjauhi semua tindakan dan rangsangan seksual yang dapat menajiskan kemurnian seseorang di hadapan Allah. Hal itu termasuk menguasai tubuh kita sendiri dan “hidup dalam pengudusan dan penghormatan” (.1Tes 4:4), dan bukan “di dalam keinginan hawa nafsu” (.1Tes 4:5). Petunjuk alkitabiah ini berlaku baik bagi mereka yang hidup lajang maupun bagi mereka yang sudah menikah. Mengenai ajaran Alkitab soal moralitas seksual, perhatikan hal-hal berikut:

1) Hubungan sanggama hanya diizinkan bagi mereka yang sudah menikah dan disetujui serta diberkati Allah dalam keadaan itu saja ( Kej 2:24; Kid 2:7; 4:12]

Melalui pernikahan suami dan istri menjadi satu daging menurut kehendak Allah. Kesenangan jasmaniah dan emosional yang dihasilkan dalam hubungan pernikahan yang setia telah ditetapkan oleh Allah dan dihormati oleh-Nya.

2) Perzinahan, tindakan seksual yang tak bermoral, homoseksualitas, sensualitas, ketidaksucian, dan nafsu-nafsu yang hina dipandang sebagai dosa(Kel 20:14]

yang hebat di hadapan Allah karena merupakan pelanggaran terhadap hukum kasih dan pencemaran hubungan pernikahan. Dosa-dosa semacam itu dikutuk dalam Alkitab (.Ams 5:3]

dan menempatkan seseorang di luar kerajaan Allah (.Rom 1:24-32; .1Kor 6:9-10; Gal 5:19-21).

3) Tindakan seksual yang tak bermoral dan ketidaksucian bukan saja berupa perbuatan sanggama dan persetubuhan yang terlarang, tetapi juga meliputi setiap perbuatan pemuasan seksual dengan orang lain yang bukan pasangan nikahnya, yang dilaksanakan dengan menyingkapkan ketelanjangan orang tersebut. Ajaran kontemporer yang mengatakan bahwa hubungan seksual di antara kaum muda dan orang dewasa yang belum nikah tetapi sudah bertunangan dapat diterima sejauh tidak terjadi hubungan sanggama, merupakan ajaran yang bertentangan dengan kekudusan Allah dan norma kesucian Alkitab. Allah secara tegas melarang setiap bentuk “hubungan seksual dengan” (secara harfiah artinya “menyingkapkan ketelanjangan”) siapa saja yang bukan suami atau istri yang sah (.Im 18:6-30; .Im 20:11,17,19-21;Im 18:6]

4) Orang percaya harus menjalankan penguasaan diri dalam kaitan dengan semua hal seksual sebelum pernikahan. Membenarkan keintiman seksual pranikah dalam nama Kristus hanya berlandaskan suatu komitmen yang sungguh-sungguh atau yang hanya dirasakan kepada pasangannya secara terang-terangan mencemarkan norma-norma kudus dari Allah dengan cara-cara duniawi sehingga sesungguhnya membenarkan kedursilaan. Setelah menikah, keintiman seksual harus terbatas pada pasangan nikahnya saja. Alkitab menyebutkan penguasaan diri sebagai salah satu aspek buah Roh, kelakuan yang positif dan murni yang bertentangan dengan permainan seksual, pemuasan seksual, perzinaan dan ketidakmurnian. Komitmen iman seseorang terhadap kehendak Allah dalam hal kemurnian akan membuka jalan untuk menerima karunia penguasaan diri oleh Roh Kudus ini (.Gal 5:22-24).

5) Istilah-istilah Alkitab yang digunakan untuk tindakan seksual yang dursila, yang menggambarkan luas kejahatan itu, adalah sebagai berikut:

( a) Kedursilaan seksual (Yun. _porneia_) menggambarkan aneka ragam perbuatan seksual sebelum atau di luar pernikahan; istilah ini tidak terbatas pada perbuatan sanggama. Setiap kegiatan atau permainan seksual yang intim di luar hubungan pernikahan, termasuk menyentuh bagian-bagian kelamin atau menyingkapkan ketelanjangan seseorang, terangkum dalam istilah ini dan jelas merupakan pelanggaran terhadap norma-norma moral Allah bagi umat-Nya (lih. .Im 18:6-30; .Im 20:11-12,17,19-21; 1Kor 6:18; 1Tes 4:3).

( b) Sensualitas (Yun. _aselgeia_) menunjuk kepada ketiadaan prinsip moral, khususnya mengabaikan penguasaan diri dalam hal seksual yang menjaga kemurnian perilaku (1Tim 2:9]

mengenai perilaku yang senonoh). Termasuk di dalamnya kecenderungan untuk menurutkan atau merangsang nafsu berahi sehingga dengan demikian mengambil bagian dalam tindakan yang tidak dibenarkan Alkitab (.Gal 5:19; Ef 4:19; 1Pet 4:3; 2Pet 2:2,18).

( c) Mengambil keuntungan dari orang (Yun. _pleonekteo_) berarti merampas kemurnian moral yang diinginkan Allah bagi orang itu dengan tujuan memuaskan nafsunya sendiri. Membangkitkan nafsu seksual di dalam diri orang lain yang tidak boleh dipuaskan secara benar berarti mengeksploitasi atau menarik keuntungan dari orang tersebut (.1Tes 4:6; bd. .Ef 4:19). (d) Nafsu (Yun. _epithumia_) adalah memiliki keinginan dursila yang akan dipenuhi jika kesempatan tersedia (.Ef 4:19,22; 1Pet 4:3; .2Pet 2:18; Mat 5:28]

« Previous PageNext Page »