DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

PAHLAWAN-PAHLAWAN KRISTUS

Filed under: KHOTBAH — dedewijaya at 1:31 am on Monday, December 1, 2008
oleh:Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min.
Nats: 1 Tawarikh 11:10-12:33
Dalam suasana Natal ini sekali lagi saya mau mengajak kita membaca firman Tuhan dari 1 Tawarikh pasal 11 dan 12. Kalau saya bacakan bagian ini mungkin saudara akan segera tertidur karena ada begitu banyak nama-nama yang disebutkan dan sepertinya tidak ada cerita di sini. Tetapi kita akan melihat butir-butir mutiara yang begitu indah di dalam bagian ini.
Di sini tertulis, “Inilah kepala-kepala para pahlawan yang mengiringi Daud, yang telah memberi dukungan yang kuat kepadanya, bersama-sama seluruh Israel guna mencapai kedudukan raja dan yang mengangkat dia sebagai raja, seperti yang difirmankan Tuhan mengenai Israel..” Jadi jelas dia menduduki kedudukan raja seperti yang difirmankan Tuhan mengenai Israel . Pahlawan-pahlawan Daud yang ditunjukkan di sini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dengan jelas sekali berjuang mati-matian. Dengan lelah mereka berjuang untuk berperang dengan mempertaruhkan segala-galanya dan mereka tidak melihat ke kiri dan kanan. Inilah karakter-karakter di dalam diri pahlawan yang menyatakan bagaimana mereka berjuang dengan lelah di dalam mendukung Daud. Mereka berperang bagi Tuhan. Pertanyaan kita di sini, bagaimana pahlawan-pahlawan dengan karakter mereka ini?
1.Orang-orang yang gagah berani.
Sepintas lalu kelihatannya orang-orang yang mendukung Daud ini adalah orang-orang yang luar biasa, mempunyai suatu kemampuan yang luar biasa. Mereka sangat hebat, mereka terampil dan mereka sangat berani untuk berperang menerobos pasukan-pasukan musuh. Mereka bukan nekad, tetapi benar-benar mempunyai satu motivasi yang murni di dalam pelayanan. Mereka sungguh-sungguh mendukung Daud. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa Daud ini adalah orang yang dipilih Tuhan, maka itu sebabnya mereka dengan berani mempertaruhkan segala-galanya untuk berjuang dan mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai kehendak Tuhan.
Pada waktu kita memikirkan sifat yang seperti ini, di zaman ini di tengah-tengah tantangan yang kita sedang hadapi maka kita sekarang perlu berpikir di manakah sebenarnya orang-orang yang betul-betul sebagai pahlawan-pahlawan yang berani di tengah-tengah dunia ini? Di manakah pahlawan-pahlawan iman yang berkata sebagai orang Kristen yang benar-benar mempertaruhkan hidupnya berjuang bagi Tuhan, bukan menjadi orang Kristen yang hanya menikmati berkat-berkat Tuhan, tetapi menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar tangguh untuk berperang? Di sini yang saya maksudkan dengan keberanian adalah dengan segala kemampuan yang ada pada kita yang berbeda-beda berani kita berikan demi untuk mendukung pekerjaan Tuhan yang kita mengerti sebagai satu kehendak Allah sesuai dengan firman-Nya. Maka itu sebabnya mereka menyatakan keberanian mereka. Di manakah pahlawan-pahlawan yang begitu berani?
Dari sejak dulu kita lihat memang pekerjaan Tuhan membutuhkan orang-orang yang mempunyai suatu niat dan hati yang berani berkorban. Omong kosong kita berkata kita berani berkorban diri, omong kosong kita mengatakan bahwa kita berani mengorbankan hidup kita jikalau apa yang Tuhan percayakan kepada kita tidak berani kita berikan untuk Tuhan. Di sini perlu kita pikirkan baik-baik pengorbanan Allah pada waktu memberikan Anak-Nya yang tunggal dengan luar biasa itu bukan diresponi dengan semacam perasaan yang emosional, dengan kita merasa begitu syahdu merayakan Natal, tetapi tidak ada hati yang terbakar untuk Tuhan. Itu omong kosong merayakan Natal .
2. Orang-orang yang berhikmat.
Kemudian kita melihat dukungan yang kedua dari pahlawan Daud di 1 Tawarikh 12:32 “dari bani Isakhar, orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat oleh orang Israel …” Inilah orang-orang yang bukan saja menyatakan keberanian mereka, tetapi ini adalah orang-orang yang Tuhan berikan hikmat untuk menilai zaman, untuk mengerti akan zaman ini dan tahu apa yang harus diperbuatnya. Ini penting sekali. Mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Kita ingat bagaimana Yesus Tuhan pernah mengeritik dengan tajam sekali dan berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Kamu dapat menilai bagaimana cuaca, hari akan panas atau akan hujan, tetapi kamu tidak dapat menilai zaman ini..” Tetapi orang-orang yang mendukung Daud ini hebat sekali, mereka menilai zaman dan tahu apa yang harus diperbuat. Berarti ada hikmat untuk mengerti di tengah-tengah situasi yang seperti ini apa yang harus kita perbuat. Situasi dunia belum pernah dan tidak akan pernah menjadi lebih baik, tetapi kita perlu tahu bukan hanya dengan keberanian, tetapi perlu tahu apa yang harus kita perbuat.
Orang-orang Kristen yang dibutuhkan pada hari ini adalah orang-orang Kristen yang mempunyai hikmat untuk mengerti dan tahu apa yang harus diperbuatnya di tengah zaman ini. Saudara mungkin berada di tempat ini merasa semuanya berjalan dengan aman dan baik, tetapi Kekristenan di seluruh dunia ini bukan berada dalam keadaan yang aman. Bagaimana kita sebagai satu bagian dari Gereja yang kudus dan am ini, satu Gereja di mana orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan harus mempunyai hikmat, bukan cuma berani. Karena hari ini ada banyak orang yang juga berani, ada banyak orang yang begitu bersemangat, tetapi sayang sekali tidak punya hikmat. Maka itu sebabnya Paulus berkata, “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang yang tidak bijaksana, tetapi hendaklah kamu jadi bijaksana. Jangan kamu menjadi bodoh dan tidak mengerti, tetapi mengertilah akan kehendak Allah.” Ini satu hal yang saya kira merupakan hal yang sungguh-sungguh serius sekali. Perhatikan ini adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mereka berani berjuang, inilah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mempunyai hikmat, tahu apa yang harus diperbuat. Sayang sekali kalau saya harus berkata, banyak orang Kristen di Indonesia ikut kebaktian ramainya bukan main, tetapi maaf kalau saya berkata terlalu banyak yang bodoh, tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Rasanya puas bagi diri sendiri, mempunyai banyak pergumulan lalu datang kebaktian merasa diberkati, senang dan ada damai lalu pulang, kemudian berhenti sampai di sana . Kalau Yesus lahir hanya untuk kepentingan diri kita sendiri diselamatkan, kalau Yesus lahir hanya supaya kita menikmati kehidupan ini dan merasakan berkat-berkat- Nya, alangkah malangnya kita ini dan alangkah tidak bernilainya kelahiran Kristus. Yesus lahir untuk keselamatan dunia ini. Kita mendapatkan keselamatan itu, kita juga terpanggil untuk supaya menjadi berkat bagi banyak orang. Menilai zaman ini dengan hikmat dan bukan dengan bodoh. Bukan sekadar dengan semangat yang berkobar-kobar tetapi dengan hikmat untuk tahu apa yang harus diperbuat.
Saya mau menantang saudara untuk berpikir apa yang harus saudara perbuat bagi zaman ini bagi gereja saudara dan bagi kehidupan saudara. Apa yang harus saudara perbuat? Jangan cuma datang ke gereja hanya untuk berdoa minta usaha supaya lebih baik. Jangan datang ke gereja dan berdoa minta Tuhan memberkati diri saudara, hanya itu yang saudara doakan. Tetapi hendaklah mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan di tengah-tengah zaman ini. Tuhan membutuhkan orang-orang seperti ini.
3. Orang-orang yang tidak bercabang hati.
Dan yang ke tiga dari pahlawan-pahlawan ini ada di 1 Tawarikh 12:33, “..dari Zebulon orang-orang yang sanggup berperang dengan berbagai senjata, 50.000 orang yang siap memberi bantuan dengan tidak bercabang hati.” Betapa luar biasa kerajaan Daud ini, didukung oleh orang-orang yang berani, tetapi bukan orang-orang bodoh. Orang-orang berani tetapi juga berhikmat yang tahu apa yang harus diperbuat dan sekarang mereka dilengkapi dengan orang-orang yang tidak bercabang hati. Ada integritas yang jelas sekali dalam kehidupan mereka. Kesetiaan, loyalitas yang tidak bercabang hati, siap memberi bantuan, siap untuk melayani, siap untuk melakukan kehendak Allah. Ini adalah yang dikatakan di sini. Betapa indahnya tonggak-tonggak di dalam kerajaan Daud. Mereka mendukungnya dengan keberanian, hikmat bijaksana, dan betul-betul dengan tidak bercabang hati. Bagi saya hal yang ketiga ini serius sekali. Terlalu banyak orang-orang yang berkata sebagai orang Kristen tetapi bercabang hati. Di manakah pahlawan-pahlawan Kristus yang tidak bercabang hati pada zaman ini? Itu yang Tuhan butuhkan. Bercabang hati adalah hal yang menjadi kebencian bagi Tuhan. Yakobus berkata, “sucikan hidupmu, kuduskan hatimu dan jangan bercabang hati.” Di tengah-tengah tantangan dunia ini terlalu gampang kita kemudian punya hati bercabang. Di tengah-tengah merayakan Natal sekalipun banyak kali kita bercabang hati. Bukan untuk kemuliaan nama Tuhan tetapi untuk kenikmatan kita sendiri. Di mana integritas Kekristenan kalau demikian?
Daud didukung oleh orang-orang yang luar biasa, yang tidak bercabang hati, siap memberikan bantuan kapan saja diperlukan dan mereka melakukannya dengan tidak bercabang hati. Mengapa? Karena mereka tahu Daud adalah raja yang diurapi oleh Allah. Mereka tahu kerajaan Israel itu adalah seturut dengan kehendak Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan di situlah mereka mengambil bagiannya. Dan kenapa mereka begitu berani? Satu ayat kunci yang kita baca tadi: Tuhan yang memberikan mereka kemenangan. Bukan soal mereka, tetapi di sini Tuhan memberikan mereka kemenangan yang besar. Mereka tahu mereka itu disertai oleh Tuhan. Dalam Yesaya 9 yang kita baca tadi jelas sekali terlihat theological connectionnya, “…kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini..” Di sini bukan soal cemburu yang kita mengerti, tetapi gairah dan semangat yang luar biasa, keinginan yang dalam yang dinyatakan Tuhan yang akan menggenapkannya. Daud sebagai raja didukung, dan Allah menggenapkan rencana keselamatan melalui siapa? Jelas sekali melalui Anak Daud itu yang dijanjikan di sini dan kerajaan-Nya yang tidak berkesudahan di sini ditujukan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Kecemburuan Tuhan Allah sendiri yang akan menggenapkannya. Dan kerajaan Daud itu menuju kepada kerajaan Allah, Yesus sebagai Raja dan itulah yang kita rayakan, Yesus yang bukan lagi di palungan tetapi Yesus sebagai Raja di dalam kerajaan Allah yang oleh kecemburuan Tuhan itu digenapkan. Betapa kita lihat satu hal yang luar biasa. Kalau orang-orang ini bisa setia kepada raja Daud, di sini ada Raja yang di atas segala raja yaitu Yesus Kristus. Kalau mereka boleh setia kepada Daud, berapa banyak orang-orang Kristen yang kemudian boleh setia kepada Tuhan, Raja yang di atas segala raja.
Kemudian kita lihat yang terakhir, cerita tadi kita lihat sebagai satu perenungan, bukan penafsiran. Waktu itu Daud merindukan air yang ada dari sumur Betlehem. Daud pada waktu itu seperti sedang homesick, seperti kita bicara mau makan soto Sulung yang di Surabaya . Orang yang sudah lama di luar negeri mulai pikir rujak cingur yang ada di Malang itu enaknya bukan main. Yang lain sudah mau pulang ke Jakarta berpikir, bakmi Gajah Mada itu enak sekali. Daudpun demikian. “Oh alangkah indahnya kalau ada orang yang mengambilkan air dari sumur yang di Betlehem itu.” Padahal orang Filistin ada di sana . Pahlawan-pahlawan ini tidak ada yang mengkomando. Mereka terobos pertahanan orang Filistin, ambil air itu demi Daud dan membawanya kepada Daud. Tetapi Daud tidak berani minum. “Bagaimana aku minum air ini? Saya tidak layak menerimanya. Ini bukan air, ini darah.” Dan ia persembahkan air itu kepada Tuhan. Kenapa? Yang layak menerima korban seperti ini, Daud tahu, bukan aku tetapi Dia yaitu Raja yang di atas segala raja, yang lahir di Betlehem. Dialah yang layak untuk menerima segala sesuatu itu. Dan kalau Daud mengatakan, oh betapa rindu aku untuk minum air dari Betlehem itu, apa kata Tuhan Yesus? “Barangsiapa yang haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Yesus memanggil. Tetapi pertanyaannya, berapa banyak orang yang bisa datang ke Air yang Hidup itu? Bagaimana mereka bisa datang kalau tidak ada orang yang membawanya? Di manakah pahlawan-pahlawan iman yang seperti pendukung Daud, bisa membawa orang datang kepada Air Hidup itu? Kita tidak perlu menerobos tentara Filistin untuk mengambil air, tetapi kita dibutuhkan sebagai orang-orang yang akan membawa orang lain kepada Kristus yang berkata, barangsiapa haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Pada waktu saya merenung sampai di sini hati saya tergugah. Di hadapan Tuhan saya menangis, dan hati saya memang bertanya, di tengah sekian banyak orang yang berteriak haus di tengah dunia ini, yang tidak punya pengharapan, di tengah-tengah orang yang sedang minum air mata dalam pergumulan kehidupan ini, di manakah pahlawan-pahlawan Kristus yang rela berkorban membawa mereka kepada Air Hidup itu? Di manakah orang Kristen yang bukan cuma berpuas diri, tetapi rela dengan sungguh-sungguh, dengan berani dan tidak bercabang hati, dengan hikmat untuk membawa orang-orang itu datang kepada Tuhan. Yesus mengundang orang-orang datang kepada-Nya, tetapi pertanyaannya adalah: siapa yang membawa orang-orang itu? Siapa yang rela menembus tantangan untuk membawa orang-orang itu kepada Tuhan? Itulah pertanyaannya bagi kita. Saya berkata hari ini, omong kosong kita bicara Natal , kalau Natal itu tidak menjadi bagian bagi orang lain. Kalau kita kemudian tidak membawa arti Natal Air Hidup itu bagi orang lain. Kalau kita tidak bisa bawa orang lain datang kepada Tuhan Yesus maka kita tahu Natal tidak ada arti apa-apa lagi. Kalau pahlawan-pahlawan itu bisa mendukung Daud, di manakah pahlawan-pahlawan iman pada hari ini? Saudara dan saya untuk rela membawa orang-orang yang haus, dapati mereka, yang sedang minum air mata menghadapi Natal untuk mereka datang ke Air Hidup, menerima-Nya, dan mempunyai hidup yang berkelimpahan. Betapa manisnya Natal itu kalau didukung oleh orang-orang yang sungguh sebagai pahlawan-pahlawan di dalam Tuhan. (Kz)
Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Buby N. Ticoalu di Kebaktian Natal di Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Sydney, Australia tanggal 7 Desember 2003.
Profil Pdt. Dr. Buby N. Ticoalu:
Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min. adalah Dosen Theologi Praktika dan Perjanjian Baru di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dari SAAT Malang; Master of Arts in Religion (M.A.R.) dan Doctor of Ministry (D.Min.) dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
“”Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
(1Sam. 16:7b)

BERITA MINGGUAN WAY OF LIFE

Filed under: News — dedewijaya at 12:51 am on Monday, December 1, 2008

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (GITS) Jak-Ut

HOMOSEKSUAL NGAMUK

Setelah diluluskannya undang-undang Proposition 8 di Kalifornia, yang
melarang pernikahan homoseksual, para homoseks mempertunjukkan semangat anti-Kristen mereka yang tidak toleran. Pada tanggal 16 November, ada demonstrasi di 300 kota di seluruh Amerika. Dengan memfitnah keyakinan
Kristiani melawan homoseksual sebagai “kebencian,” para pemrotes membawa
berbagai papan yang bertuliskan “Don’t Spread H8.” Para pemrotes terkadang
menggunakan kekerasan dan menargetkan orang-orang Mormon, Gereja Katolik, Injili, Pantekosta, dan yang lainnya yang mendukung pelarangan itu. Para homoseks mengklaim bahwa kasus mereka adalah kasus hak asasi, dengan slogan-slogan seperti “Gay adalah kulit hitam yang baru,” walaupun
sebagian besar orang kulit hitam dan Hispanik mendukung larangan
Kalifornia atas “pernikahan” sama jenis. Beratus-ratus aktivis homoseksual
yang ganas menargetkan gereja Rick Warren Saddleback Church pada tanggal 9
November, walaupun dia dan istrinya telah sengaja menyatakan “toleransi”
mereka akan kerusakan moral para homoseks dan juga menyatakan sedia untuk bekerja dengan mereka untuk membangun “kerajaan Allah.” Cindy Gorman,
seorang resepsionis gereja tersebut mengatakan bahwa ia menerima lusinan
telpon yang marah-marah dan yang mengancam. Mereka mengatakan, “Kalian
dalam bahaya” (”Homosexuals Protest Warren’s Church,” CNSNews.com, 14 Nov. 2008). Dalam sebuah protes di Palm Springs, California, seorang wanita 69
tahun yang memikul sailb Styrofoam diludahi dan dipukul kepalanya. Salib
itu dirobek dari tangannya dan diinjak-injak hingga hancur. Insiden ini
tertangkap oleh video dari KPSP-TV-Chanel 2, yaitu afiliasi CBS di Palm
Springs, dan dimasukkan dalam YouTube (Ibid., CNSNews.com) . Wanita itu
memberitahu koran Desert Sun bahwa “mereka seperti kumpulan anjing.”
Tanggal 14 November, beratus-ratus homoseksual menyerang sebuah grup
Kristen di Distrik Castro, San Francisco, sambil menyerukan kata-kata
kotor, menyiram mereka dengan kopi panas, memukul salah satu dari mereka
di kepala dengan Alkitab, menendang mereka, dan mengancam akan membunuh mereka (”Sparks Fly as `Gay’ Activist Mob Swarms Christians,”
WorldNetDaily, 17 Nov. 2008). Para Kristen itu bahkan bukan sedang
berkhotbah, melainkan hanya berdoa dan menyanyikan himne. Pada tanggal 9
November, para pemrotes homoseksual yang berafiliasi dengan Bash Back,
mengganggu jalannya sebuah kebaktian di Mount Hope Church di Lansing,
Michigan, yang masuk denominasi Sidang Jemaat Allah. Para aktivis
(homoseks) tersebut membunyikan alarm kebakaran, menggantung banner dari
balkon, melempar selebaran dan kondom dan confetti, sambil meneriaki para
anggota jemaat, menampilkan sebuah salib merah muda yang terbalik, dan
menggunakan sebuah megafon untuk menyerukan slogan-slogan seperti “Yesus homo” (”Gay Rights Protesters Disrupt Sunday Service,” Lansing State
Journal, 12 Nov. 2008; “Gay Anarchist `Action’ Hits Church,” Lansing City
Pulse, 11 Nov. 2008). Dua orang lesbian berdiri di mimbar dan berciuman.
Para pemrotes lainnya, yang menyebut diri mereka sendiri sebagai “fags,”
lari bolak-balik di lorong gereja. Selebaran-selebaran yang mereka
lemparkan menyatakan, “Kami spesialis dalam mengkonfrontasi homofobia,
transfobia, dan sebuah bentuk opresi lainnya.” Departemen sheriff
berespons, tetapi seolah-olah tidak serius, sebagaimana tipikal dalam
kekacauan yang disebabkan oleh homoseksual; mereka tidak menahan
siapa-siapa atau mengajukan tuntutan. Jika orang Kristen yang melakukan
semua itu dalam sebuah rally homoseksual, maka anda bisa pasti mereka akan
ditangkap dan dituntut undang-undang “kebencian,” and media akan menyoroti kelakuan seperti itu di depan publik 24 jam sehari. Pada tahun 2004,
sebelas orang Kristen dalam organisasi Repent America ditangkap dan
dituntut dengan berbagai kejahatan, hanya karena mereka melakukan protes
terhadap sebuah “Outfest” (semacam festival) homoseksual di Philadelphia.

OBAMA MENOLAK DOKTRIN ALKITAB TENTANG NERAKA
Dalam sebuah wawancara dengan Cathleen Falsani dari Chicago Sun Times,
Barack Obama dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak membaca Alkitab
ataupun berdoa secara reguler. Ia curiga terhadap dogma dan kepastian, dan
merasa bahwa “agama paling baiknya harus disertai dosis keraguan yang
besar” (”Obama’s Fascinating Interview with Cathleen Falsani,” BeliefNet,
11 Nov., 2008). Ia percaya bahwa Yesus adalah seorang guru yang hebat,
bahwa dosa adalah “keluar dari jalur nilai-nilai pribadi saya,” dan bahwa
surga bisa saja “sekarang ini atau nanti.” Ia tidak “berani berasumsi tahu
apa yang akan terjadi setelah saya mati.” Walaupun ia mengklaim menolak
dogmatisme agama, tetapi ia secara dogmatis menolak doktrin tentang
neraka. Ia menolak “kepercayaan bahwa orang yang tidak menerima Yesus
Kristus sebagai juruselamat pribadi mereka akan pergi ke neraka.” Ia
mengatakan, “Saya sulit untuk percaya bahwa Allah saya akan memasukkan
empat per lima dunia ini ke dalam neraka. Saya tidak dapat membayangkan
Allah saya akan membiarkan seorang anak kecil Hindu di India yang tidak
pernah berinteraksi dengan iman Kristen untuk dibakar selamanya. Itu
bukanlah bagian dari kepercayaan agama saya.” Obama meninggekan pemimpin agama Hindu, Gandhi, sebagai “contoh hebat akan seorang rohaniwan yang
mendalam” dan mengatakan bahwa FoxNews dan acara bincang-bincang radio
“kadang-kadang berbahayan.” Barack Obama adalah presiden Amerika pertama
yang beraliran New Age. Oleh sebab itulah ia didukung oleh Oprah Winfrey
dan dalam pidato penerimaannya ia berbicara penuh dengan filosofi New Age.
Tak diragukan lagi, ia akan membawa kemajuan bagi segala gerakan
anti-Kristen, termasuk homoseksualitas, environmentalism, feminisme,
aborsi, globalisme, sosialisme, dan Islam. “Toleransi” yang dia bawakan
merangkul semua pihak kecuali orang-orang percaya Alkitabiah, dan
ketidaksukaannya akan dogmatisme ternyata tidak berlaku bagi dogmatisme
menolak pengajaran-pengajar an Alkitab.