DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

KETIKA SESAL TAK LAGI BERGUNA

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 8:08 pm on Tuesday, December 9, 2008

Dari pernikahanku dengan Kania, kami memiliki seorang putri yang diberi nama Kamila. Kamila tumbuh menjadi anak yang lincah. Suatu kali Kamila merengek-rengek minta dibelikan bola dan aku membelikannya. Disuatu siang, saat menjemput Kamila dari sekolah, aku melihat putriku begitu asyik menendang bola hingga ke tengah jalan. Tatkala melihat sebuah truk akan menabraknya, aku berlari untuk menyelamatkannya. Seketika truk bermuatan pasir itu menghantam tubuhku hingga aku tak sadarkan diri. Waktu sadar kedua kakiku sudah diamputasi. Tanpa kaki aku tak bisa lagi bekerja, karena aku bekerja sebagai pengantar barang ke rumah para konsumen.

Setelah peristiwa itu perekonomian keluargaku morat-marit. Uang pesangon dan tabungan kami segera ludes. Kania akhirnya memutuskan pergi ke Malaysia untuk bekerja. Setelah setahun pergi, Kania tak pernah lagi memberi kabar. Dengan segala keprihatinan aku bekerja serabutan dengan menggunakan tanganku. Suatu kali Kamila mengatakan bahwa dia juga ingin menjadi TKI ke Malaysia. Aku pun tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja. Hampir 3 tahun sudah Kamila di sana, dia tidak pernah telat mengirimiku uang. Dia tidak suka pada sikap tuannya yang sudah 4 kali menikah.

Kamila bilang dia ingin pulang karena dia sering diganggu. Aku senang mengetahui itu, tetapi aku sangat terkejut saat mendapat surat yang mengabarkan bahwa Kamilaku diancam hukuman mati karena telah membunuh tuannya. Aku pergi ke Malaysia karena Kamila ingin aku ada di sisinya di saat-saat terakhirnya. Kamila sangat kurus. Saat aku masuk ia memelukku erat, seolah tak ingin melepasku. “Bapak, Iya takut,” katanya lirih. Ternyata lelaki tua itu ingin meniduri Kamila, tapi Kamila mendorongnya hingga ia terjatuh dari jendela kamar dan mati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena istri lelaki itu menuntut Kamila dihukum mati. Aku sudah berusaha menemui wanita itu, tapi ia tak sudi menemuiku.

Saat Kamila menjalani hukuman gantung, wanita itu hadir. Seorang petugas mengatakan bahwa ia ada dibelakangku, tapi aku tak ingin melihatnya. Setelah jenazah puteriku diturunkan, wanita itu berjalan menghampiri jenazah. Aku mendongakkan kepalaku dan dengan mataku yang samar oleh air mata, aku melihat wajah yang kukenal. “Kania….” “Mas Har, kau….” ”Kau…, kau membunuh anakmu sendiri, Kania!” “Dia….Iya?” serunya getir. “Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin menjadi pemain bola….” “Tidak….tidak…,” kata Kania, ia mengguncang tubuh Kamila sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangan Kamila. “Terima kasih Mama,” itulah isinya. Ternyata Kamila tahu bahwa majikannya adalah ibunya sendiri.

Ada kalanya penyesalan sama sekali tak berguna, karena itu biarlah kita belajar menjadi lebih bijak, berlapang dada dan penuh pengampunan dalam menjalani hidup yang penuh ujian ini.

DOA

Tuhan, seringkali aku mengeraskan hatiku sehingga hidupku semakin pahit. Mampukan aku untuk hidup bijak dan penuh pengampunan dalam menjalani hidup yang penuh ujian ini.

Kata-kata bijak: Jika kita terus berupaya berlaku benar dan mengampuni, tidak akan ada penyesalan yang fatal dalam hidup ini.

Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.

Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.

(Amsal 3:21-23; 14:17)

(Sumber: Manna Sorgawi, Selasa, 13 Januari 2009)

AMSAL 23:23Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

KEBAIKAN MENIKAH MENURUT PANDANGAN AGUSTINUS

Filed under: LOVE — dedewijaya at 3:23 am on Monday, December 8, 2008

Hali Daniel Lie, M.Ag, M.Th.

(Dosen STT Bandung dan BLBS, saat ini studi mandarin ke China, Januari 2009 come back to Indonesia again, S.Th di STT Bandung, M.Th di SAAT Malang)

Status hidup menikah ditanggapi secara berbeda-beda oleh agama-agama. Sebagian besar umat manusia memandang pernikahan sebagai sesuatu yang wajar, alamiah dan sudah sepatutnya demikian. Ini merupakan pandangan yang umum. Akan tetapi, tidak sedikit kalangan tertentu yang memandang rendah pernikahan. Mereka melihat pernikahan sebagai sesuatu yang kotor, rendah dan jauh dari hidup kudus. Biasanya, yang disoroti adalah seks. Sikap negatif ini biasanya langsung ditindaklanjuti dengan menganjurkan kehidupan selibat atau membujang. Pandangan-pandangan yang serupa muncul pula di antara orang-orang Kristen tertentu.

Melalui tulisan ini kita hendak menggali konsep pernikahan melalui sudut pandang seorang bapa gereja besar bernama Agustinus. Pandangan Agustinus fair dan objektif adanya. Hal ini terbukti melalui tulisan-tulisannya seperti: Holy Virginity (Sancta Virginitate) , On the Good of Widowhood (De Bono Viduitatis) dan On the Good of Marriage (De Bono Conjungali). 1

Melalui tema-tema yang dia tulis ini kita bisa mengetahui bahwa Agustinus menghargai baik mereka yang membujang, menjanda & tentunya juga yang menduda, maupun mereka yang menikah. Dia peduli baik kepada mereka yang menikah maupun yang tidak menikah. Bukunya On the Good of Marriage secara khusus membahas tentang topik nikah an sich. Salah satu tujuan penulisan buku ini ialah dalam rangka menjawab orang-orang yang terlalu mengagung-agungkan kesucian hidup berselibat sampai-sampai mendevalusi nilai-nilai pernikahan.2

Melalui On the Good of Marriage Agustinus hendak mengangkat dan menempatkan kembali status menikah dalam terang kebenaran Firman Tuhan, tanpa dilebih-lebihkan dan tidak pula dikurang-kurangi.
Di dalam buku itu Agustinus menguraikan tiga kebaikan dari status hidup menikah. Tiga kebaikan menikah itu berturut-turut terdiri dari beranak cucu (pleros), kesetiaan (fidei) dan sakramen (sacramentum) . 3

Selanjutnya marilah kita mengikuti penguraian Agustinus atas tiga kebaikan pernikahan ini satu demi satu.

BERANAK CUCU (PLEROS)
Agustinus mengawali risalahnya ini dengan mengingatkan pembacanya bahwa manusia itu adalah makhluk sosial adanya. Beginilah beliau memulai bukunya dengan mengatakan:
Forasmuch as each man is a part of the human race, and human nature is something social, and hath for a great and natural good, the power also of friendship; on this account God willed to create all men out of one, in order that they might be held in their society not only by likeness of kind, but also by bond of kindred. Therefore the first natural bond of human society is man and wife.4

Natur manusia sebagai makhluk sosial ini mendorong individu-individu untuk membentuk masyarakat. Kesatuan masyarakat yang paling asli, alamiah dan sederhana dimulai melalui pembentukan keluarga atau rumah tangga.

Secara formal sebuah rumah tangga baru terbentuk pada saat dilangsungkannya pernikahan. Dengan disaksikan oleh keluarga dan sanak famili kedua belah pihak, sepasang pria-wanita itu berikrar membentuk sebuah keluarga. Status kedua orang itu yang sebelumnya adalah buyung & upik dalam bahasa Minangkabau, atau ucok & butet dalam bahasa Batak, sejak pernikahan telah berubah status menjadi sepasang suami dan istri.
Tuhan sendirilah yang menggariskan pernikahan dengan menciptakan laki-laki dan perempuan. Di dalam penciptaan Tuhan sekaligus memberikan perintah kepada dua manusia mula-mula: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi…” Perintah untuk beranak cucu berulang-ulang dikutip dan ditegaskan oleh Agustinus melalui berbagai ayat yang berbeda. 5

Mulai dari pasal yang paling awal dari Alkitab, Kejadian 1, konsep pernikahan dan beranak cucu sudah ditegaskan. Bahkan, konsep itu sudah ada sebelum manusia jatuh ke dalam dosa di mana kejatuhan manusia baru terjadi di dalam Kejadian 3. Jadi, beranak cucu bukanlah konsekuensi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Setelah melahirkan anak, status pasangan suami-istri itu bertambah satu lagi, yakni menjadi ayah dan ibu. 6

Status ini masih dapat diperpanjang terus. Setelah anak-anak besar lalu menikah sampai melahirkan anak pula, maka ayah dan ibu itu mendapatkan satu status baru lagi, yakni kakek dan nenek. Setiap status ini tidak dapat tidak selalu melibatkan pernikahan dan beranak cucu.
Pernikahan merupakan amanat Ilahi yang universal dan terawal. Jadi, lembaga pernikahan itu sendiri baik adanya. Demikian pula dengan beranak cucu yang tercakup di dalam pernikahan. Bagi Agustinus, perlu dicatat di sini, bahwa walaupun sebuah pernikahan tidak disertai dengan melahirkan anak, hal itu sedikit pun tidak mengurangi kebaikan dari pernikahan. Pernikahan telah diinstitusikan oleh Allah sendiri pada masa yang paling awal, yakni dalam catatan penciptaan.

KESETIAAN (FIDEI)
Tatkala melangsungkan upacara pernikahan, kedua belah pihak, sang pria dan si wanita, saling mengucapkan janji. Mereka bersumpah setia satu terhadap yang lainnya, baik sehat maupun sakit, baik suka maupun duka, baik kaya maupun miskin. Sumpah setia itu diikrarkan di hadapan Tuhan dan sesama manusia.

Seksualitas merupakan salah satu aspek yang tak terpisahkan di dalam pernikahan. Di sini, seorang suami dan seorang istri saling melayani satu sama lain. Dengan demikian mereka memenuhi tanggung jawabnya masing-masing. Dalam penjelasan yang panjang lebar tentang perkawinan, Rasul Paulus menegaskan: “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya” (1 Kor. 7:3). Bagi Agustinus saling memenuhi kewajiban merupakan “a mutual service”7 yang memang sudah sepantasnya demikian. Kesetiaan pun dituntut di dalam hubungan seksualitas. Bukan tidak mungkin di dalam sebuah pernikahan terjadi percabulan dan perzinahan. Agustinus tidak menutup-nutupi kenyataan ini. Akan tetapi, seandainya pun terjadi percabulan dan perzinahan di dalam suatu pernikahan, itu bukanlah berarti pernikahan menjadi tidak baik atau kekurangan nilai kebaikannya. Menurut Agustinus, yang benar adalah, percabulan dan perzinahan merupakan dosa dari orang-orang yang  melakukan perbuatan tersebut.8
Kedua dosa ini sering disinggung oleh Agustinus di dalam buku de Bono Conjungali.

Membahas kebaikan menikah, Agustinus banyak mengutip tulisan rasul Paulus di dalam perikop 1 Korintus 7. Dia menyinggung hampir setiap ayat di dalam perikop ini. Dalam seluruh kitab PL & PB, perikop yang panjang lebar dan terlengkap mengupas perkawinan adalah tulisan Paulus tersebut. Bersamaan dengan berjalannya waktu, pasangan yang menikah tersebut saling melatih dan memupuk kesetiaan. Pernikahan menuntut sekaligus melatih pria dan wanita untuk saling berlaku setia satu sama lainnya. Mencermati zaman kita sekarang, adanya Pria Idaman Lain, Wanita Idaman Lain, perselingkuhan merupakan bukti konkret telah hilangnya apa yang Agustinus sebut sebagai kesetiaan. Kesetiaan patut dipertahankan dan dijaga oleh kedua belah pihak.

SAKRAMEN (SACRAMENTUM)
Sakramen yang dimaksudkan di sini jangan diasosiasikan dengan upacara sakramen yang diselenggarakan di dalam gereja-gereja Katolik dan Protestan. Adapun istilah sakramen yang dipakai oleh Agustinus di sini mengandung pengertian pertalian atau ikatan pernikahan. Sebagaimana yang sudah digariskan dalam Alkitab, seumur hidup mereka suami dan istri terikat menjadi satu, hanya maut yang akan memisahkan mereka berdua.
Sewaktu menguraikan bagian ini Agustinus tidak melewatkan untuk menyinggung tentang perceraian. Baginya, Alkitab tidak pernah mengajarkan perceraian. Agustinus tidak lupa membahas pemberian surat cerai pada zaman Musa melalui perspektif yang Yesus sendiri ajarkan di dalam Matius.9

Dia menegaskan kembali jawaban Yesus di dalam Mat.19:8. Beginilah Agustinus menjelaskannya:
And something like this custom, on account of hardness of the Israelites, Moses seems to have allowed, concerning a bill of divorcement. In which matter there appears rather a rebuke, than an approval of divorce.10

Musa mengizinkan perceraian di kalangan orang Israel dengan memberikan surat cerai. Hal ini sama sekali tidak boleh diartikan bahwa Musa setuju dengan konsep perceraian. Kenyataannya, Musa terpaksa berhubung dengan kekerasan hati atau ketegaran hati orang-orang Israel. Perlu kita ingat bahwa Agustinus menguasai bahasa latin dengan baik sekali. Besar kemungkinan sakramen yang dia maksudkan tidak lain dari apa yang dikatakan oleh Paulus di dalam Efesus 5:32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.”
Dalam Alkitab berbahasa Latin “rahasia ini besar” diterjemahkan dengan memakai istilah magnum sacramentum. 11

Di dalam perikop ini rasul Paulus sedang menguraikan hubungan antara suami dan istri di dalam ikatan atau pertalian pernikahan. Uraian Paulus mengenai hubungan antara suami dengan istri kemudian beralih kepada hubungan antara Yesus Kristus dengan jemaat-Nya. Oleh karena itu, menurut Agustinus pernikahan mengajarkan kepada kita semua satu hal yang melampaui pernikahan itu sendiri, yakni relasi antara orang-orang percaya dengan Yesus Kristus.12

Orang-orang percaya merupakan mempelai wanita sementara Yesus Kristus adalah Sang mempelai pria. Pernikahan menjadi tanda atau simbol yang hidup yang bisa menolong kita untuk memahami hubungan antara Kristus dengan jemaat
———— ——— ——— ——— ——— ——— -

1 Lihat di dalam daftar lengkap karya Agustinus, Mary Inez Bogan, penerj., The
Fathers of the Church 60: Saint Augustine The Retractations (Washington: Catholic University of America, 1968) 166; “Augustine’s Works” Augustine through the Ages: An Encyclopedia (Grand Rapids: Eerdmans, 1999) xxxv - il.
2 John Gibb & James Innes, penerj., Nicene and Post-Nicene Father of Christian
Church, Vol. VII; by Augustine, Philip Schaff, ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1888) 398; The Retractations, 166..
3 On the Good of Marriage 32, 412; David G. Hunter, “Marriage” Augustine through the Ages: An Encyclopedia (Grand Rapids: Eerdmans, 1999) 535-536; David G. Hunter, “De Bono Conjungali” Augustine through the Ages: An Encyclopedia (Grand Rapids: Eerdmans, 1999), hl. 110.
4 Augustine, “On the Good of Marriage” Nicene and Post-Nicene Father of Christian Church, trans by C. L. Cornish, VII: 399.
5 On the Good of Marriage 1-3, hl. 400.
6 Ibid., 3: 400.
7 Ibid., 3: 401.
8 Ibid., 5: 401.
9 Ibid., 7, hl. 402.
10 Ibid.
11 Hunter, “Marriage” Augustine through the Age, 536.
12 On the Good of Marriage 21, 408 & 32, 412

PENGANGKATAN/RAPTURE JEMAAT

Filed under: KHOTBAH — dedewijaya at 3:09 am on Monday, December 8, 2008

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diterjemahkan Dr. Eddy Peter Purwanto

1 Thessalonians 4:15-17

02-19-84
Anda sedang bergabung di First Baptist Church di Dallas. Dan ini adalah gembala kami, yang akan membawakan Firman Tuhan dengan tema: Pengangkatan/ Raptur Jemaat. Ini adalah seri khotbah doktrinal tentang eskatologi yang kedua – doktrin akhir zaman, atau Kedatangan Tuhan kita yang kedua – Pengangkatan/ Raptur Jemaat.

Mari kita membaca 1 Tesalonika 4, mulai ayat 13:
“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan – ini adalah wahyu dari Allah sendiri – kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah – parakaleo, asal kata “Paraclete,”sebutan untuk Roh Kudus – seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (1 Tesalonika 4:13-18)

Setiap pasal dari 1 dan 2 Tesalonika banyak mengacu kepada deskripsi tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Dan pasal ini – 1 Tesalonika 4 – menjelaskan tentang Raptur atau hari pengangkatan umat Allah, jemaat Tuhan, ketika Ia datang untuk milik kepunyaan-Nya.

Seorang sarkastik yang setengah atheis berkata kepada kami berhubungan dengan apa yang tertulis dalam Alkitab. Ia berkata, “Tidak ada kata “rapture” dalam Alkitab.”

Yah, kalau di dalam King James Version, itu benar. Dalam King James Version tidak ada kata “rapture,” sama halnya juga tidak ada kata “Trinity” atau banyak deskriptif ekklesiastikal penting lainnya – walaupun kata Trinitas tidak ada dalam Alkitab, namun Trinitas itu ada dalam Alkitab.

Sebagai contoh dalam 2 Korintus 13:14 berbunyi: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus — Pribadi pertama —, dan kasih Allah – Pribadi kedua – , dan persekutuan Roh Kudus – Pribadi ketiga – menyertai kamu sekalian.” Bukankah ini Trinitas. Ini adalah penyataan tentang pribadi Allah, yaitu esensi Allah: tiga pribadi dalam satu – Trinitas – walaupun kata itu tidak pernah digunakan dalam Alkitab.

Begitu juga dengan kara “rapture.” Kata “rapture” ini tidak ada dalam Alkitab. Namun ini adalah terjemahan dari kata Yunani “harpazo.” Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang yang masih hidup pada waktu Tuhan turun dari sorga, orang-orang percaya yang masih hidup ini akan di harpazo, atau diangkat.

Apakah arti kata harpazo ini? Ini digunakan juga dalam 2 Korintus 12:4. Kata ini berarti “melarikan dengan cepat.” Ini juga berarti “membawa pergi secara tiba-tiba.” Dan saya harus menerjemahkan kata harpazo ini dengan kata “menculik.” Dan ini digunakan dalam 2 Korintus ketika Paulus berkata, “Ia tiba-tiba diangkat (harpazo) ke Firdaus.” Dan di sini ia mengatakan bahwa ketika Kristus datang kembali orang-orang percaya yang masih hidup akan di-harpazo.

Dan dalam Alkitab bahasa Inggris, King James Version, kata ini diterjemahkan “caught up” atau “diangkat.” Paulus menggunakan kata “Ia di- harpazo – ia diangkat kepada Allah.” Dan dalam perikop ini, generasi umat Tuhan yang masih hidup ketika Tuhan datang akan diangkat menyongsong Tuhan di angkasa.

Jerome, dalam terjemahan Alkitab bahasa Latinnya, yaitu Vulgata, menerjemahkan kata ini dengan kata “rapere,” asal kata “rapture” dalam bahasa Inggris. Ini adalah istilah teologi yang baik, sehingga Anda dengan mudah dapat memahami secara mendalam keagungan kata ini dari penyataan Firman Allah.

Paulus berkata, “Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan.” Ini adalah sesuatu yang Tuhan kita singkapkan kepada kita. Maksud dari perkataan ini sangatlah jelas, ketika ia berkata, “dengan Firman Tuhan” – ini berhubungan dengan pengangkatan atau raptur umat Allah. Perjanjian Lama dari awal sampai akhir dipenuhi dengan nubuatan tentang kedatangan sang Mesias yaitu Kristus. Namun mereka tidak pernah dapat melihat berhubungan dengan kedatangan kedua yang dibicarakan di sini.

Dalam nafas yang sama, dalam kalimat yang sama, kadang-kadang dalam klausa yang sama, mereka berbicara tentang kemuliaan kedatangan Tuhan kita: sebagai Hamba yang menderita dan Raja yang memerintah. Mereka tidak pernah dapat membedakan kedua fase kedatangan Tuhan kita ini.

Pada saat kedatangan-Nya yang pertama, Ia lahir dari anak dara untuk mati demi menanggung dosa kita, untuk menebus umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Namun, Ia juga akan datang sebagai Raja yang akan memerintah atas seluruh ciptaan Allah: segala sesuatu yang ada di sorga dan di bumi dan di bawah bumi, di abusos, di dunia orang mati, di seluruh alam semesta. Ia akan datang menjadi Raja dan Tuhan atas segala sesuatu.

Namun nabi-nabi dalam Perjanjian Lama yang secara terus menerus menubuatkan, memberitahukan sebelumnya tentang kedatangan Tuhan Mesias ini, mereka tidak pernah dapat melihat perbedaan dari kedua kedatangan-Nya itu. Dan mereka tidak pernah melihat masa yang disisipkan, masa transisi, masa antara kedua kedatangan-Nya itu. Yang ada dalam pikiran mereka, hanya ada satu kedatangan yang agung.

Fakta sesungguhnya tentang kedua kedatangan-Nya ini menjadi rahasia yang tersimpan dalam hati-Nya. Paulus berbicara tentang itu. Ia menyebutnya musterion, “misteri, rahasia yang tidak disingkapkan” kepada para nabi P.L. namun yang kemudian disingkapkan kepada rasul-rasul- Nya yang suci. Dan Yesus mulai membentangkannya ketika Ia ada di sini, di bumi ini.

Apa yang para nabi Perjanjian Lama bicarakan berhubungan dengan kedatangan Tuhan kita sebagai Raja yang agung dan berkuasa dan yang akan memerintah direfleksikan dan ditunjukkan dalam pengharapan para rasul dan murid-murid Kristus. Ketika mereka membaca Kitab Suci Perjanjian Lama, secara alami mereka menantikan satu penampakan dari Tuhan yang agung sebagai Mesias, Kristus.

Sehingga pada kedatangan Tuhan Yesus yang pertama, pada waktu kedatangan-Nya yang pertama, pada waktu kehadiran-Nya ang pertama, pada waktu parousia-Nya yang pertama, pada waktu Ia ada di sana, mereka menunggu penggenapan nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama. Mereka menanti Tuhan Yesus yang adalah Mesias yang akan memerintah atas seluruh ciptaan Allah dan atas seluruh bumi. Mereka mengharapkan Dia akan meruntuhkan kekuasaan Romawi dan memerdekakan Israel. Mereka sedang mencari Yehuda yang diagungkan di antara semua suku dan bangsa-bangsa di dunia.

Dan mereka – murid-murid itu – sedang berharap untuk dapat menjadi para menteri dalam kerajaan millennial mesianik dari Tuhan Yesus Kristus yang agung itu. Tiap-tiap murid ada yang ingin duduk di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. Dan ada juga yang ingin menjadi Menteri Keuangan. Dan setiap murid ingin memiliki tugas dan jabatan dalam kabinet kerajaan Allah. Itulah apa yang diharapkan para rasul pada waktu itu.

Dan ketika Yesus mulai berbicara kepada mereka tentang kematian-Nya, mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka menjadi ragu dan takut. Dan ketika akhirnya mereka melihat Yesus Kristus dibunuh, dan mereka melihat Dia mati, setiap pengharapan yang pernah mereka miliki untuk ikut memerintah dalam kerajaan mesianik binasa dalam debu tanah. Dan dalam keputus-asaan yang teramat dalam yang sulit untuk kita fahami akhirnya mereka menundukkan kepala mereka dalam kekalahan.

Namun, ada wahyu baru yang kemudian datang kepada mereka. Paulus berkata, “Aku berkata dengan Firman Tuhan.” Ada sesuatu yang baru datang. Sesuatu yang tidak pernah diisyaratkan dalam Perjanjian Lama. Dan tidak pernah dilihat oleh seorang nabipun.

Matius 16:18, Yesus berbicara tentang jemaat. Itu adalah pertama kalinya dunia mendengar kata jemaat: “Aku akan mambangun jemaat-Ku.” Pada saat hati para murid hancur dan larut dalam dukacita, yaitu ketika Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa Ia akan dibunuh dan meninggalkan mereka, Yohanes 14:1-3, Yesus berkata:

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

Dan itulah apa yang Paulus maksudkan ketika ia berkata, “Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan” [I Tes. 4:15]. “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” [Yohanes 14:3].

Itu adalah musterion yang agung, rahasia yang Allah simpan dalam hati-Nya sampai kemudian Ia menyingkapkannya kepada rasul-rasul- Nya yang kudus. Dan ketika pewahyuan penuh dibuat, ada panggilan Allah dari langit, dan orang-orang mati di dalam Kristus yang pertama akan bangkit, dan kemudan akan ada pemuliaan bagi orang-orang kudus yang masih hidup yang akan diangkat bersama dengan orang-orang mati yang telah dibangkitkan untuk berjumpa dengan Tuhan di angkasa dan untuk bersama dengan Dia selama-lamanya.

PERTAMA, KEBANGKITAN ORANG PERCAYA YANG TELAH MENINGGAL

Pertama, ia berkata, akan ada kebangkitan orang mati. Ada kata yang kita terjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata Yunani ek. Ini berari “keluar dari antara orang mati.”

Ketika orang mengacu kepada kebangkitan orang Kristen, itulah cara Alkitab mengatakannya, dan itu adalah kebangkitan dari antara orang mati. Artinya hanya orang-orang kudus di dalam Kristus yang dijelaskan dalam Alkitab sebagai “tidur dalam Yesus.” Itu tidak pernah mengacu kepada orang yang tidak percaya. Orang-orang yang tidur di dalam Yesus adalah orang-orang yang telah jatuh ke dalam pelukan hangat dan kasih-Nya. Seperti sebuah lagu mengatakan:

Kami beristirahat

Dalam pelukan Yesus

Dalam lengan Tuhan kita.

Mereka sedang tidur dalam Yesus. Mereka tidak mati. Mereka masih hidup dalam keadaan yang terberkati: dalam hadirat Allah, di firdaus. Dan ketika Anda tidur, itu hanya untuk sementara. Anda tidur untuk bangun. Dan orang-orang kudus yang telah mati akan dibangkitkan kembali. Dan dalam Kitab Wahyu, itu disebut sebagai kebangkitan yang pertama. Itu adalah kebangkitan keluar dan dari antara orang mati.

Kebangkitan kedua, kebangkitan terakhir adalah bagi orang-orang yang tidak percaya yang dibangkitkan untuk dihakimi di Tahta Putih Allah yang Besar, mereka adalah orang-orang yang akan dihakimi menurut perbuatan mereka dan akan dihukum untuk selama-lamanya di Neraka dan lautan api.

Namun orang-orang yang dibangkitkan pada kebangkitan pertama ini dibangkitkan keluar dari antara orang mati. Dan mereka mendengar panggilan Allah yang datang dari tempat tinggi, dari sorga. Jika orang yang tidak percaya tidak mendengar panggilan Allah dalam hidup ini, ia tidak ingin mendengar panggilan Allah kepada orang-orang kudus-Nya untuk bangkit dari antara orang mati.

Hal kedua berhubungan dengan ini adalah: ia berkata di sini bahwa akan ada generasi yang masih hidup setelah orang-orang ini dibangkitkan dari antara orang mati dan mereka akan diubahkan dengan mengenakan tubuh kemuliaan. Orang-orang percaya yang masih hidup pada waktu Tuhan datang akan diangkat – harpazo, rapere, raptured – bersama dengan mereka untuk berjumpa dengan Tuhan di angkasa.

Dan Paulus berkata bahwa itu adalah misteri yang lain. Dalam 1 Korintus 15:51-52, Paulus berkata:

“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.”

Ada suatu generasi – ini adalah misteri yang disingkapkan di sini, yang sebelumnya tersimpan dalam hati Allah, sebagai rahasia – akan ada generasi yang tidak akan pernah merasakan kematian. Mereka tidak akan pernah merasakan dukacita. Mereka tidak akan pernah menangis. Mereka akan diangkat ke dalam kemuliaan.

Oh, saudaraku, seperti lagu ini mengatakan:

Oh, betapa sukacitanya, oh, betapa senangnya

Kita akan pergi tanpa melalui kematian.

Tiada sakit, tiada kesedihan,

Tiada kengerian, tiada tangis,

Diangkat ke angkasa

Berjumpa dengan Tuhan di udara

Ketika Yesus datang untuk milik kepunyaan-Nya

Itu adalah misteri kedua yang agung. Kita akan diangkat untuk berjumpa dengan Tuhan di udara.

Dan kemudian Paulus menulis bahwa Tuhan kita akan turun dari Sorga. Dan sebanyak tiga kali ia menggunakan preposisi ‘en’ di sini:

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan berseru dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” [I Tes. 4:16-17] – cetak miring ada dalam KJV.

Jadi Paulus berkata, ketika Tuhan turun, Ia datang dengan berseru: keleuo. Terjemahan yang tepat untuk kata ini adalah “dengan seruan perintah.” Dan itu selalu berarti demikian: dengan seruan perintah.

Ini adalah kata Yunani klasik dan Anda dapat menemukannya dalam literatur Yunani klasik. Umumnya kata keleuo untuk menunjukkan suatu seruan perintah yang ditujukan kepada para tentaranya: ini adalah suatu perintah. Seorang laksamana akan memerintah orangnya di armada itu – keleuo – dengan seruan perintah. Seorang kusir yang sedang mengendalikan kuda-kudanya akan keleuo. Dengan seruan perintah kuda-kuda itu akan berjalan menarik keretanya.

Persis seperti itulah penggunakan kata itu di sini. Tuhan datang dengan seruan perintah yang berotoritas – Tuhan atas segala sesuatu.

Apakah Anda pernah memikirkan ini? Dalam Yohanes 11, ketika Yesus berdiri di depan kuburan, dan sungguh saya katakan kepada Anda, jika Yesus tidak menyebut nama Lazarus ketika ia berkata, “Keluarlah dari kubur itu,” maka seluruh orang mati akan keluar dari kubur mereka untuk bertemu dengan Yesus. Dengan seruan perintah, Tuhan akan turun dari sorga, dan orang-orang yang mati di dalam Kristus yang pertama akan bangkit.

KEDUA, PENGHULU MALAIKAT BERSERU

Apakah Anda memperhatikan hal kedua: “pada waktu penghulu malaikat berseru”? Hanya ada satu penghulu malaikat dalam Alkitab yaitu Mikael. Dan Mikael selalu dilukiskan sebagai musuh berat Setan yang memiliki kuasa kematian.

Ketika Musa mati, Mikael bertengkar dengan Setan berhubungan dengan atau untuk merebutkan tubuh Musa. Apa yang Setan inginkan terhadap tubuh Musa? Untuk menunjukkan tubuh itu kepada Israel dengan mengatakan: “Ini adalah sahabat terbaik Allah, yang telah berbicara muka dengan muda dengan Tuhan Allah, sebagai manusia yang telah melihat Dia. Melihat Dia. Namun kini ia telah mati. Kuasa kematian adalah milikku,” kata Setan.

Dan Mikael bertengkar dengan dia. Dalam Kitab Nabi Daniel, Daniel sang negarawan, ketika di Babilonia dan Persia ia melihat pembinasaan terhadap umat Allah, namun Mikael yang menjadi pembela mereka dan pemenang.

Dan dalam Kitab Wahyu 20 dijelaskan bahwa ada perang di Sorga. Mikael dan para malaikatnya berperang melawan Setan – Naga – dan para malaikatnya. Dan Setan tidak dapat mengalahkannya.

Dan Mikael, yang memenangkan pertempuran itu, berseru dari sorga dan atas seluruh bumi dan dunia orang mati: “Setan telah dikalahkan. Ia yang memiliki kuasa atas maut dan kubur telah dihancurkan untuk selama-lamanya.” Itulah suara penghulu malaikat, Mikael. “Kita telah menang. Kita telah menang. Kita telah menang.”

KETIGA, TENTANG SANGKAKALA ALLAH

“Dan dengan sangkakala Allah.” Itu adalah dimana saya telah mulai memikirkan tentang Daud, tentang sangkakala-sangkaka la Allah.

Di seluruh Alkitab, Anda akan sering bertemu tentang sangkakala-sangkaka la ini. Mereka meniup sangakakala ketika mereka mengitari Yerikho dan kemudian tembok-tembok rubuh. Mereka meniup sangkakala itu pada permulaan Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashanah, pesta peniupan sangkakala-sangkaka la. Dan mereka meniup sangkakala-sangkaka la pada setiap tahun Yobel – tahun kelima puluh, setelah tujuh kali tujuh, setelah tahun yang ke empat puluh sembilan, tahun Yobel. Itu ditandai dengan peniupan sangkakala-sangkaka la.

Dalam Injil Matius pasal dua puluh empat, dan Wahyu pasal pertama dan keempat, keagungan dan kemuliaan Allah diumumkan dengan peniupan sangkakala-sangkaka la.

Dan dalam Alkitab, ada dua suara sangkakala yang besar. Yang pertama, Anda akan menemukan dalam Kitab Yesaya 27, ketika Allah meniupkan sangkakala untuk mengumpulkan kembali seluruh Israel ke tanah air mereka, yaitu pada saat seluruh Israel diselamatkan. Peniupan sangkakala besar yang kedua adalah untuk mengumpulkan umat Allah yang ada di sini: Ketika Allah meniup sangkakala dan itu adalah pada saat umat Allah bangkit dari kematian, untuk diubah dan diberikan tubuh kemuliaan dan untuk bersama dengan Tuhan mereka selama-lamanya.

Selanjutnya, Rasul Paulus, dalam perikop ini, ia menyebutkan tentang “nafiri terakhir” itu:

“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah” (I Korintus 15:51-52).

Jadi apakah maksudnya itu: “Nafiri yang terakhir?” [dalam bahasa Inggris “trumpet” yang diterjemahkan “sangkakala” dalam I Tesalonika 4:16 dan diterjemahkan “nafiri” dalam I Korintus 15: 52]. Yah, saya telah membaca dan membaca dan membaca, dan ada banyak sekali pemikiran dan penafsiran yang diusulkan tentang apakah artinya “pada waktu bunyi nafiri yang terakhir.” Namun, satu-satunya penafsiran yang paling tepat menurut saya adalah ini: ini berhubungan dengan peniupan sangkakala oleh pasukan (legium) Romawi. Sangkakala pertama, ketika itu dikumandangkan, sebagai tanda para prajurit harus pergi ke tenda dan membongkar tendanya. Itulah sangkakala pertama. Sangkakala kedua dikumandangkan ketika ia harus kembali ke barisan. Dan sangkakala ketiga dikumandangkan ketika ia harus kembali berbaris.

Itulah sangkakala terakhir. Itu adalah panggilan untuk umat Allah. Itu adalah saat mereka harus naik dan bergabung dengan Tuhan.

Saudaraku yang terkasih! Jemaat disebut ekklesia, “orang-orang yang dipanggil keluar.” Kata yang memiliki arti yang persis sama dengan itu. Orang yang dipanggil keluar – ekklesia, ek-kaleo – orang yang dipanggil keluar.

Jemaat dipanggil keluar untuk berkumpul menjadi jemaat Tuhan. Allah telah memanggil kita untuk memperoleh keselamatan. Allah telah memanggil kita untuk memuji dan bersukacita. Allah telah memanggil kita untuk suatu sukacita dan kemuliaan.

Dan suatu hari nanti, Allah akan memanggil kita kepada Dirinya sendiri. Dan kita akan diangkat untuk berjumpa dengan Tuhan dan bersama dengan Dia selama-lamanya. Itulah nafiri atau sangkakala ketiga dan yang terakhir: ketika Allah akan memanggil kita keluar dari kubur dan dari dunia ini untuk bersama dengan Dia selama-lamanya.

Selanjutnya, Paulus menulis, dan ia menyimpulkan wahyu yang agung ini dengan kata ini: “Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini” (I Tesalonika 4:17-18).

Selanjutnya, ijinkan saya untuk menerjemahkan seperti tafsiran kebanyakan orang tentang perkataan ini: “Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.” Saudaraku yang terkasih, segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian dan penghakiman dan dunia ini membuat kita seringkali takut untuk menghadapinya.

Namun, Oh, saudaraku: “Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.” Sebagain itu akan mengacu kepada fakta bahwa kita akan hidup kembali. Kita akan hidup kembali.

Saya kira, orang yang telah terjerat dalam bisnis dunia ini, mereka tidak berpikir tentang kematian. Namun saudaraku, selama saya hidup di dunia ini dan telah melayani Tuhan sejak umur 17 tahun, 55 tahun yang lalu. Saya hidup di dunia kematian.

“Hiburkanlah seorang akan yang lain”: Sebagian itu mengacu kepada pewahyuan bahwa kita akan hidup bersama kembali. Keterpisahan karena kematian bersifat sementara. Kita akan dikumpulkan kembali dan bersama untuk selama-lamanya.

“Hiburkanlah seorang akan yang lain”: Sebagian, saya kira, itu adalah sorga dan kemuluaan yang akan dinyatakan di dalam kita. Namun, kebanyakan, saya kira, itu adalah apa yang Paulus tulis di sini: “Kita akan bersama dengan Tuhan untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, hiburkanlah seorang akan yang lain.” Kita akan bersama dengan Yesus untuk selama-lamanya.” Kita akan bersama dengan Yesus untuk selama-lamanya.

Anda tahu, kira-kira ada 14 kata yang berbeda dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan “dengan” atau “with.” Namun, salah satunya menunjukkan kedekatan, keintiman, persekutuan yang penuh kasih atau afeksi. Dan itulah kata yang diterjemahkan “bersama dengan” di sini. Dalam kata Yunani, itu adalah sun.

Sebagi contoh, kata Yunani untuk penderitaan adalah pathos. Dan ketika Anda menggabungkan kata itu menjadi sumpathos, kata itu diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi “sympathy.” Seseorang yang dapat turut merasakan kelemahan atau luka batin yang Anda alami: simpatik. Itulah maksud kata sun di sini, bersama dengan Tuhan – suatu persekutuan yang erat dengan Yesus.

Suatu kali saya mendengar tentang seseorang yang diselamatkan dengan begitu luar biasa. Dan pada hari itu ketika saya baru menginjak remaja, mereka bersaksi di kebaktian Rabu malam. Seperti kita, kita selalu membuka ruang kesaksian setiap kebaktian Rabu malam.

Jadi orang yang telah diselamatkan atau dipertobatkan dengan ajaib ini, ia bersaksi, dan ia berkata, “Ketika saya mati dan ketika saya pergi ke Sorga, yang pertama kali saya ingin lihat adalah Tuhan saya. Saya ingin melihat Yesus.

Hari-hari telah berlalu dan bapaknya terkasih yang luar biasa itu meninggal. Dan mereka berkata, “Anda masih ingin yang pertama melihat Yesus?”

“Ya,” jawabnya.

Kemudian, ibunya meninggal, yaitu ibu yang sangat ia kasihi. “Anda masih ingin yang pertama melihat Yesus?”

“Ya,” jawabnya.

Kemudian, anak lelakinya yang merupakan impiannya dan anak yang paling dikasihinya meninggal. Dan mereka bertanya, “Apakah Anda masih ingin melihat Yesus yang pertama?”

“Ya,” jawabnya.

Dan kemudian, istrinya yang sangat dicintainya meninggal. Dan mereka berkata kepadanya, “Anda masih ingin yang pertama melihat Yesus? Anda masih ingin melihat Yesus terlebih dahulu?”

Bagi seseorang yang telah diselamatkan dengan ajaib, dan yang mengasihi Tuhan, yang sun atau bersama Tuhan dalam segala suka dukanya. Anda tahu, rasul dengan terus terang mengatakan bahwa kematian telah memisahkan kita dari Dia, klimaks yang luar biasa dari Roma 8 adalah:

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerint ah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39).

Kematian tidak akan memisahkan kita. Dan kita tidak akan dipisahkan dari Yesus dalam hidup ini. Ia berkata, “Saya akan bersama denganmu, bahkan sampai akhir zaman.”

Ia bersama dengan kita. Jika Anda telah melaksanakan amanat, misi bagi Yesus, dengarkanlah dan Anda akan mendengar kaki Tuhan kita melangkah mendekat di belakang Anda. Jika Anda pernah diharu-birukan atau disakiti atau dihancurkan, Anda akan mendengar suara-Nya berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau melupakanmu untuk selama-lamanya.”

Dan ketika kita menghadapi hari terakhir itu, itu akan menjadi hari Yesus yang akan berdiri bersama dengan kita dan menguatkan kita: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

Tahukah Anda, saya berpikir banyak kali, ketika waktu kematian saya tiba, itu akan menjadi kesempatan terbesar saya untuk menunjukkan kepada semua orang yang kepada mereka saya telah berkhotbah selama lebih dari 40 tahun – itu akan menjadi kesempatan terbesar saya untuk menunjukkan iman prajurit Yesus, anak Allah: untuk mati secara berjaya dalam lengan Kristus. Oh Tuhan! Kemudian Ia akan bersama dengan saya.

Dan satu hal lain: “Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” – kita dan Dia.

1 Yohanes 3:2 berkata: “Apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” Kita akan menjadi seperti Dia.

Dan Ia akan seperti kita dan kita akan bersama dengan Dia. Kita seperti Dia, dan Dia seperti kita. Dan kita akan bersama dengan Dia.

Dalam halaman-halaman sejarah yang saya baca, ketika Alexander Agung menaklukkan Imperium Persia, keluarga Darius menjadi tawanan komandan militer Yuhani tersohor itu. Dan ia datang menengoknya. Ia datang untuk melihat keluarga Darius yang ada dalam penjara itu.

Dan ketika Alexander dan Faustian melangkah masuk ke penjara, ibu Darius berpikir bahwa Faustian adalah Alexander. Dan ia membungkuk hormat kepadanya.

Ketika ia mengetahui bahwa ia salah orang, ia meminta maaf kepada Alexander, dan berkata, “Saya pikir ia adalah Anda dan mohon maafkan saya.”

Dan Alexander menjawab, “Nyonya, Anda tidak membuat kesalahan. Karena Faustian adalah Alexander.” Ia adalah Alexander yang lain. Mereka begitu dekat, sebagai sahabat karib yang begitu dekat.

Apakah Anda mengetahu hal pasti yang akan terjadi dengan Yohanes: Rasul Yohanes? Dalam Kitab Wahyu 22:8-9, Yohanes berkata:

“Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. Tetapi ia berkata kepadaku: “Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!””

Malaikat itu juga seperti Yesus, sehingga ketika Yohanes melihatnya dan mendengarkannya, kemudian ia tersungkur untuk sujud menyembah dia.

Seperti itulah kita. Dan Ia seperti kita. Kita akan bersama dengan Tuhan. Kita akan seperti Dia. Dan Dia akan seperti kita.

“Pak Pendeta, bagaimana hal seperti itu dapat terjadi?”

Saya akan menjelaskan kepada Anda bagaimana itu bisa terjadi: Tuhan kita adalah gembala yang agung, namun Ia bukan gembala tanpa kita: domba-dombanya. Tuhan kita adalah Raja yang agung, namun Ia bukan Raja tanpa kita: warga kerajaan-Nya. Ia adalah Juruselamat yang agung, namun Ia bukan Juruselamat tanpa kita: orang-orang kudus-Nya. Ia adalah mempelai laki-laki yang agung, namun Ia bukan mempelai tanpa kita: mempelai perempuan-Nya. Ia adalah Penebus yang agung, namun Ia bukan penebus yang agung tanpa kita, umat tebusan-Nya. Ia adalah Tuhan yang akan datang, namun Ia bukan Tuhan yang akan datang tanpa kita, karena untuk kitalah Ia datang. Kita adalah tubuh-Nya. Kita adalah kepenuhan-Nya. Kita adalah kemuliaan-Nya. Kita adalah mahkota sukacita-Nya: Yesus dan saya.

Terpujilah namanya untuk selama-lamanya! Kita akan berhenti sampai di sini, dan akan melanjutkannya Minggu depan. Berbahagialah hati Anda! Pada saat kita berdiri dan menyanyikan lagu pujian. Saya berkata kepada Anda yang kepadanya Roh Kudus telah berbicara, serahkanlah hidup Anda bersama dengan kami dalam persekutuan jemaat terkasih ini. Kami beribu-ribu kali mengucapkan selamat datang! Selamat datang!

Mungkin saat ini ada yang mau mengaku secara terbuka kepada semua orang tentang iman Anda di dalam Tuhan Yesus Kristus dan mau mengatakan: “Hari ini juga, saya mau menerima Engkau menjadi Juruselamat saya.” Silahkan maju ke depan!

http://www.wacriswe ll-indo.org/ eskatologi% 202.htm

SEMANGKUK MIE

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 3:50 am on Friday, December 5, 2008

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah , Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata ” Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” Ya , tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana malu malu. ” Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu, ” jawab si pemilik kedai. ” Silahkan duduk , aku akan memasakkan bakmi untukmu.”

Tak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. ” Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai. “Tidak apa-apa, aku hanya terharu”, jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi? Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah, Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri”, katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata ” Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih padanya? Dan kau malah bertengkar dengannya .” Ana terhenyak mendengar hal tersebut.

Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah , ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita ( keluarga ) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Bagaimanapun kita tidak boleh melupakan jasa orang tua kita. Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja, tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir. Apakah kita mau menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita? (milist)

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah didalam Tuhan.

SEJARAH BAPTIS (Bag 3)

Filed under: BAPTIS — dedewijaya at 5:05 am on Wednesday, December 3, 2008

PERJUANGAN MELAWAN PENYELEWENGAN

Pada mulanya tercapai kesatuan didalam doktrin-doktrin dan praktek-praktek yang fundamental. Selangkah demi selangkah beberapa gereja mulai menyimpang dari jalur-jalur yang lama dan mencari-cari berbagai temuan. Disiplin menjadi lemah dan pribadi-pribadi berpengaruh yang dulunya tidak ditoleransi, diperbolehkan untuk mengambil bagian didalam kehidupan pelayanan. Waktu berubah dan beberapa gereja juga berubah seiring dengan waktu. Diantara mereka ada yang telinganya gatal dan mereka mengejar hal-hal yang baru. Dogma tentang baptisan yang menyelamatkan pada mulanya diterima banyak kalangan, sehingga orang lebih suka mencuci dosa mereka didalam air daripada didalam darah Kristus. Para pelayan menjadi ambisius dengan kuasa dan menginjak-injak independensi gereja. Mereka menyesuaikan diri dengan kebiasaan duniawi dan kesenangan masyarakat.

Namun masih ada gereja yang tetap tidak menyeleweng, dan ada orang-orang setia yang angkat suara untuk menentang penyelewengan terhadap praktek-praktek yang telah diajarkan oleh para rasul. Sebuah catatan yang berasal dari antara beberapa reformator mula-mula yang menyampaikan protes dan berseru kepada orang agar kembali kepada kesederhanaan Injil disampaikan dibawah ini.

Chevalier Christian Charles Bunsen, ketika menjadi duta besar Prusia untuk London, yang berjalan didalam terang dan menghirup udara dari zaman yang lebih murni, melakukan perjamuan Tuhan dengan jemaat mula-mula. Ia menyampaikan perkataan-perkataan berikut ini dengan sungguh-sungguh:

Hilangkanlah kelalaian, kesalahpahaman, dan kepalsuan, maka kebenaran yang jelas akan tinggal tetap; syukur kepada Tuhan, janganlah setan yang terselubung; namun biarlah keindahan terang illahi dengan kebenaran yang kekal! Singkirkanlah rintangan yang memisahkan kita dari kerukunan jemaat mula-mula - yang aku maksudkan, bebaskan diri kalian dari surat rumusan, kanon yang diterbitkan belakangan dan abstraksi yang berdasarkan tradisi - dan bergeraklah dengan tanpa belenggu didalam lautan iman yang tak terbatas; maka engkau memelihara persekutuan dengan semangat para pahlawan Kristen purba; dan engkau dapat menelusuri arus persatuan yang bergulir selama delapanbelas abad meskipun menghadapi batu cadas dan pasir sedot (Bunsen, Hippolytus, 4).

Protes pertama untuk memisahkan diri dari penyelewengan yang berkembang pada masa itu adalah gerakan jemaat Montanist. Pemimpinnya, Montanus, merupakan seorang Phrygian yang muncul sekitar tahun AD. 156. Pendukung Montanisme yang paling terkemuka adalah Tertullian, yang mendukung dan mempertahankan pandangan mereka. Mereka mempertahankan bahwa ilmu pengetahuan dan seni, segala pendidikan atau bentuk kesenangan duniawi, harus dihindari, karena hal-hal tersebut merupakan milik paganisme (pemberhalaan). Mahkota kehidupan adalah kemartiran. Kehidupan religius mereka dipertahankan dengan keras. Mengenai dosa kekal, gereja seharusnya mempertahankan dirinya dengan mengeluarkan orang yang melakukannya, karena kekudusan jemaat jelas merupakan kekudusan para anggota jemaatnya. Dengan prinsip-prinsip demikian, tidak mungkin mereka akan terhindar dari konflik dengan Kekristenan yang populer pada masa itu. Hakekat pendirian dari jemaat-jemaat tersebut adalah untuk kehidupan yang berdasarkan Roh. Ia bukan merupakan sebuah bentuk baru Kekristenan; tetapi merupakan sebuah pemulihan atas jemaat lama, yang dilakukan oleh jemaat purba dalam menghadapi penyelewengan nyata dari Kekristenan pada masa itu. Gereja lama menuntut pemurnian; gereja baru telah melakukan kompromi dengan dunia, dan dengan sukarela menyesuaikan diri dengan dunia, oleh karena itulah mereka akan memutuskan hubungan dengan gereja baru (Moeller, Montanisme in Schaff-Herzog Encyclopaedia, III, 1562).

Pendirian mereka bukan hanya merupakan salah satu doktrin saja seperti halnya dengan disiplin. Mereka menuntut yang telah “menyeleweng” dari iman yang benar harus dibaptis ulang, karena mereka telah menyangkal Kristus dan harus dibaptis sebagai orang baru. Mengenai catatan ini, mereka disebut dengan istilah ‘Anabaptis’ (”Anabaptists”), dan beberapa prinsip mereka muncul kembali didalam Anabaptism (Schaff, History of the Christian Church, II, 427). Baptisan bayi belum menjadi sebuah dogma, dan kita mengetahui bahwa hal tersebut ditolak oleh para Montanist. Tertullian berpendapat bahwa hanya orang dewasa saja yang harus dibaptis. Para Montanist sangat dalam akar imannya, dan musuh mereka mengakui bahwa mereka menerima keseluruhan Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pandangan mereka benar mengenai Bapa, Putera dan Roh Kudus (Epiphanius, Hoer, XLVIII, 1). Mereka menolak keuskupan dan hak uskup yang menyatakan memegang kuasa kunci surga.

Gerakan tersebut menyebar dengan sangat cepat melalui Asia Kecil dan Afrika Utara, dan dalam suatu jangka waktu tertentu di Roma sendiri. Ia sangat menarik perhatian kaum moralis yang keras, kaum pemegang disiplin yang tegas, dan lebih-lebih orang-orang Kristen yang memiliki pikiran yang saleh. Montanisme berhak untuk menyatakan wahyu illahi karena keteguhan mereka memegang disiplin. Montanisme telah menyebabkan kegemparan di Asia Kecil sebelum penutupan abad kedua, sehingga diadakan beberapa kali sidang untuk menentangnya, dan akhirnya semua gerakan tersebut secara resmi dilarang. Namun Montanisme berlangsung terus selama berabad-abad, dan akhirnya dikenal dengan nama beraneka ragam (Eusebius, The Church History, 229 catatan 1 oleh Dr. McGiffert). Di Phrygia kaum Montanist berhubungan dengan, dan barangkali didalam persekutuan yang sebenarnya dengan kaum Paulician. Kita tahu bahwa mereka masih ada pada tahun 722 (Theophanes, 617, Bond edition).

Kebangkitan gereja Novatian merupakan singkapan lain atas perselisihan lama antara disiplin yang lemah dan yang keras. Pada tahun 250 Novatian menentang keras pemilihan Cornelius sebagai gembala jemaat di Roma. Novatian menyatakan bahwa dia tidak menginginkan jabatan tersebut untuk dirinya, namun dia membela kemurnian jemaat. Pemilihan Cornelius tetap berlangsung, dan Novatian membawa banyak jemaat dan hamba-hamba Tuhan bersamanya untuk memprotes. Gerakan Novatian yang sangat luas dapat dipelajari didalam karangan para penulis yang menentangnya, dan beberapa bagian dari kerajaan Romawi dimana mereka tumbuh subur.

Gereja-gereja tersebut terus berkembang dengan subur di banyak bagian daerah Kristen selama enam abad (Walch, Historie der Ketzereyen, II, 220). Dr. Robinson menelusuri perkembangannya sampai masa Reformasi dan kebangkitan gerakan Anabaptis. “Banyak sekali yang mengikuti contohnya (Novatian),” katanya, “dan semua jemaat Kerajaan Puritan diangkat dan bertumbuh subur selama dua ratus tahun berikutnya. Sesudah itu, ketika undang-undang memaksa mereka untuk bersembunyi di sudut-sudut, dan menyembah Tuhan secara pribadi, mereka dikenal dengan nama yang beraneka ragam, dan pergantian mereka berlangsung terus sampai masa Reformasi” (Robinson, Ecclesiastical Researches, 126, Cambridge, 1792).

Mengenai catatan tentang kemurnian hidup mereka, mereka disebut dengan nama Cathari, yaitu ‘yang murni’. “Masih ada hal yang lebih lagi,” menurut Mosheim, “mereka membaptis ulang orang yang datang kepada mereka, seperti misalnya orang Katolik” (Mosheim, Institutes of Ecclesiastical History I, 203, New York, 1871). Oleh karena mereka membaptis orang yang berasal dari kelompok lain yang datang kepada mereka, mereka disebut dengan sebutan Anabaptis. Sidang Lateran keempat menetapkan bahwa orang yang dibaptis ulang tersebut harus dihukum mati. Karena itu, Albanus, seorang hamba yang bersemangat, dan yang lainnya, dihukum mati. Menurut Robinson, mereka adalah “Baptis trinitarian”. Mereka mempertahankan independensi jemaat; dan mengakui persamaan martabat dan otoritas dari semua gembala.

Kaum Donatist muncul di Numidia pada tahun 311, dan segera menyebar luas di Afrika. Mereka mengajarkan bahwa gereja (jemaat) harus menjadi sebuah tubuh yang kudus. Crespin, seorang sejarawan Perancis, mengatakan bahwa mereka memegang pandangan sebagai berikut:

Pertama, demi kemurnian anggota jemaat, dengan menegaskan bahwa tak seorangpun boleh diterima kedalam jemaat, kecuali orang-orang yang jelas-jelas percaya dan orang-orang kudus. Kedua, demi kemurnian disiplin jemaat. Ketiga, demi independensi tiap-tiap gereja. Keempat, mereka membaptis kembali orang yang baptisan pertamanya pantas diragukan. Akibatnya mereka diberi sebutan baptis ulang dan Anabaptis.

Perjuangan Melawan Penyelewengan
Dalam karya awal sejarahnya, David Benedict, sang sejarawan Baptis, menulis banyak sekali peringatan mengenai karakter denominasi Donatist. Ia dengan dekat mengikuti pernyataan-pernyataan penulis-penulis lain didalam karya sejarahnya; namun pada hari-hari akhirnya ia masuk kedalam sumber-sumber asli dan menghasilkan sebuah buku luar biasa yang berjudul “History of the Donatists” (Sejarah Kaum Donatist) [Pawtucket, 1875]. Didalam buku itu ia menarik diri dari posisi yang tidak memihak dan menggolongkan mereka sebagai kaum Baptis. Ia benar-benar dengan bebas menunjukkan sejak masa Augustine dan Optatus yang sezaman, bahwa kaum Donatist menolak baptisan bayi dan berjemaat didalam bentuk kepemerintahannya.

Dr. Heman Lincoln tidak setuju dengan beberapa kesimpulan Dr. Benedict dan menyebutnya aneh. Namun mengenai mereka memegang beberapa prinsip baptis, ia tidak meragukannya. Ia mengatakan:

Terbukti bahwa kaum Donatist didalam beberapa periode sejarah mereka, melaksanakan banyak prinsip yang tak dapat dibantah berhubungan dengan Baptis modern. Didalam sejarahnya yang kemudian, setelah mengalami disiplin penganiayaan yang jahat, mereka menegakkan kemerdekaan kesadaran yang absolut, pemisahan gereja dengan negara, dan keanggotaan jemaat yang sudah lahir baru, sebagai kebenaran-kebenaran yang utama. Prinsip-prinsip yang mereka pertahankan dengan memikul kemartiran tersebut seiring dengan praktek selam (baptis) yang seragam, membawa mereka kedalam kesamaan yang dekat dengan kaum Baptis (Lincoln, The Donatists, dalam The Baptist Review, 358, Juli 1880).

Ini merupakan posisi konservatif yang ekstrim. Barangkali Dr. Lincoln meremehkan warna yang diberikan oleh musuh-musuh Donatist yang menyebabkan pertentangan, dan tentu saja ia tidak memberikan penghargaan yang layak tentang masalah baptisan bayi yang dinyatakan Augustine didalam posisinya menghadapi mereka. Diakui bahwa beberapa kalangan Donatist terlalu menekankan efisiensi (ketepatgunaan) baptisan dan menyetujui keuskupan. Namun hal ini hanya merupakan masalah kontroversi yang tidak terlalu menarik, dan tidak kita perhatikan disini.

Gubernur Henry D’Anvers menekankan dengan sungguh-sungguh:
Buku Augustine yang ketiga dan keempat yang menentang para Donatist menunjukkan bahwa kaum Donatist menolak baptisan bayi, dimana disitu Augustine mempertahankan argumentasi baptisan bayi untuk menentang mereka dengan semangat berapi-api, menekankan argumentasi-argumentasi yang keras (D’Anvers, A Treatise on Baptism, 223, London, 1674).

Augustine menyebut kaum Donatist sebagai Anabaptis (Migne, Patrologia, Latin, XLII). Menurut Optatus, bentuk baptisan adalah selam. Lucas Osiander, Profesor dan rektor Universitas Tubingen, menulis sebuah buku untuk menentang Anabaptis pada 1605, dimana ia mengatakan: “Kaum Anabaptis modern kita adalah sama dengan kaum Donatists dahulu” (Osiander, Epist. cent. 16, hal. 175, Wittenberg, 1607). Namun para moralis yang keras tersebut tidak menggolongkan mereka sebagai Anabaptis; karena pikiran mereka bahwa ada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan dan yang menjadi milik mereka sendiri (Albaspinae, Observat. In Optatus, i). Mereka tidak memperhatikan baptisan yang lain, dan berpendapat bahwa kaum Donatist secara salah telah dinamakan sebagai Anabaptis.

Kaum Donatist berjuang untuk kebebasan berpikir (kesadaran), dan mereka ditentang oleh kuasa penganiaya dari Gereja Negara. Menurut Neander, mereka merupakan “bagian gereja yang paling penting dan berpengaruh yang harus kita sebutkan pada periode tersebut” (Neander, General History of the Christian Religion and Church, III, 258). Kemudian ia melanjutkan:

Bahwa yang membedakan kasus pada masa kini adalah reaksi, yang berasal dari esensi gereja Kristen, dan ditimbulkan, dalam hal ini, oleh kejadian yang pelik yang berhadapan dengan perpaduan antara unsur-unsur gerejawi dan politis, dimana untuk pertama kalinya, gagasan Kristen yang bertentangan dengan agama kepausan negara, pertama-tama telah membuat orang sadar, menjadi obyek pertikaian didalam gereja Kristen sendiri, — gagasan-gagasan yang berhubungan dengan hak azasi manusia yang universal dan tidak dapat diganggu-gugat; yang berhubungan dengan kebebasan berpikir; yang berhubungan dengan hak untuk bebas memilih keyakinan agama.

Karena itulah Penilik (Uskup) Donatus dari Carthage pada tahun 347 menolak komisaris kerajaan, Paulus dan Marcarius dengan suara bulat: “Quid est imperatori cum ecclesia ?” (Optatus, Milev., De Schismati Donat. 1, iii, c.3). Dan memang benar bahwa kaisar seharusnya tidak ada hubungannya dengan pengendalian gereja. Penilik Donatist Petilian di Afrika menentang tulisan Augustine, naik banding kepada Kristus dan para rasul yang tidak pernah menganiaya. Katanya, “Apakah engkau mengira telah melayani Tuhan dengan membunuh kami dengan tanganmu ? Engkau salah, jika engkau, manusia fana yang malang, berpikir demikian; Tuhan tidak menggantung orang hanya karena orang itu imam. Kristus mengajar kita untuk menahan diri terhadap kesalahan, bukan dengan membalasnya.” Penilik Donatist Gaudentius mengatakan: “Tuhan mengangkat para nabi dan para nelayan, bukan para pangeran dan tentara untuk menyebarkan iman.”

Posisi orang-orang Kristen tersebut bukan hanya sebagai sebuah protes, namun merupakan sebuah seruan. Ia merupakan sebuah protes menentang penyelewengan dan keduniawian yang berkembang dari gereja-gereja yang telah dengan menyedihkan menyeleweng dari iman didalam doktrin dan disiplin; ia merupakan sebuah seruan, karena menyerukan dengan keras untuk kembali kepada kemurnian hidup dan kesederhanaan para rasul. Semua itu dilakukan melalui masa kegelapan, namun suara mereka tidak bisa dibungkam, dan tidak berkurang orang yang berdiri di pihak Tuhan. Mereka difitnah, menderita dengan sabar; dicaci, namun mereka tidak membalas; dan warisan dari mereka adalah kebebasan berpikir bagi dunia. Segala pujian bagi para martir Tuhan.>

Buku-buku untuk bacaan dan referensi lebih lanjut:

Fisher, 59, 58, 109, 141, 142.

Schaff, II, 415-421; 849-853.

The Ante-Nicene Fathers, diedit oleh Roberts dan Donaldson, Vol. III dan IV, karya Tertullia

SEJARAH BAPTIS (Bag 2)

Filed under: BAPTIS — dedewijaya at 4:43 am on Wednesday, December 3, 2008

JEMAAT (GEREJA) PURBA

Periode gereja purba (100-325 AD) sangat tidak jelas. Banyak bahan yang telah hilang; kebanyakan bahan yang tersisa telah ditambahi oleh para penulis dan penerjemah Kepausan Abad Pertengahan; dan kebanyakan telah diliputi kontroversi. Karena itu, peringatan harus diperhatikan sungguh-sungguh sebelum sampai pada kesimpulan yang tetap. Generalisasi terburu-buru terhadap kesalahan doktrinal yang meliputi seluruh Kekristenan dan gereja harus diterima dengan kewaspadaan yang tinggi. Tuduhan yang aneh dan mengerikan terhadap orang-orang Kristen mulai menjadi biasa. Kerahasiaan pertemuan kebaktian mereka dianggap kebencian yang disengaja karena tidak tahan menghadapi terang, bukan karena penyebab yang sebenarnya, yakni karena ketakutan terhadap penganiayaan. Orang-orang Yahudi khususnya getol membuat-buat dan menyebarkan kisah-kisah demikian. Dengan cara demikian, nama orang Kristen didiskreditkan.

Namun tentu saja pada masa-masa awal setelah kematian rasul Yohanes, orang-orang Kristen hidup sederhana dan rajin. Isaac Taylor, yang secara khusus menulis untuk menentang penilaian tahyul yang berlebihan pada masa patristik (zaman Bapak-bapak gereja purba), memberikan sebuah gambaran yang bagus atas kehidupan orang Kristen mula-mula. Ia mengatakan:

Saudara-saudara kita pada masa gereja mula-mula mengundang rasa hormat kita, misalnya kasih; karena semangat iman mereka yang mantap didalam hal-hal yang tidak terlihat dan kekal; kerapkali kesabaran mereka yang taat dibawah tekanan kesalahan yang paling menyedihkan; keberanian mereka mempertahankan pernyataan iman yang baik di hadapan filosofi yang bermuka masam, tirani sekuler, dan tahyul yang hebat; pemisahan mereka dari dunia dan penyangkalan diri yang menyakitkan; pelayanan mahal mereka yang tanpa pamrih dan sulit; kemurahan hati mereka dalam menyumbang, semuanya tidak bisa ditandingi; perhatian mereka yang seksama dan hormat kepada Alkitab; dan jasa yang satu ini, jika mereka tidak mempunyai jasa yang lain, adalah merupakan tingkat yang tertinggi, dan mereka patut dimuliakan dan hormat syukur dari gereja-gereja modern. Betapa sedikitnya pembaca Alkitab masa kini yang memikirkan apa yang harus dibayar orang-orang Kristen abad kedua dan ketiga hanya untuk menyelamatkan dan menyembunyikan harta karun suci tersebut dari kemarahan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (Taylor, Ancient Christianity, I, 37).

Sebuah gambaran yang paling indah dan menyedihkan diberikan oleh penulis Epistola ad Diognetum pada masa awal abad kedua. Ia mengatakan:

Orang Kristen bukan berbeda dengan orang lain karena perbedaan negara, bahasa, maupun institusi-institusi sipilnya. Perbedaan itu adalah karena mereka tidak hanya tinggal di kota mereka sendiri, atau menggunakan suatu bahasa yang khas, maupun menjalani sebuah bentuk kehidupan yang luar biasa. Mereka tinggal di kota-kota Yunani atau di kota-kota barbar, seperti yang kemudian terjadi; mereka mengikuti cara berpakaian di negara itu, makanan, dan hal-hal kehidupan lainnya. Namun mereka tetap menampilkan perilaku paradoks yang sangat baik dan diakui. Mereka tinggal di tanah kelahiran mereka, namun seperti orang asing. Mereka mengambil bagian dalam segala hal sebagai warga negara; dan mereka menderita segala sesuatu sebagai orang yang asing. Setiap negara asing adalah tanah air bagi mereka, dan setiap tanah kelahiran merupakan tanah yang asing bagi mereka. Seperti orang lain, mereka menikah; mereka memiliki anak, namun mereka tidak mencampakkan keturunan mereka. Mereka memiliki makan bersama, namun bukan memiliki isteri bersama. Mereka adalah daging, namun tidak hidup berdasarkan daging. Mereka hidup di atas bumi, namun menjadi warga surgawi. Mereka taat kepada hukum yang ada, namun mengatasi hukum dengan hidup mereka. Mereka mengasihi semua orang, namun dianiaya oleh semua orang. Mereka tidak dikenal, namun mereka dikutuk. Mereka dibunuh namun diberi hidup. Mereka miskin namun membuat banyak orang menjadi kaya. Mereka kekurangan, namun didalam segala hal mereka berkelimpahan. Mereka dicemooh, namun dimuliakan didalam cemoohan. Mereka difitnah, namun dibenarkan. Mereka dikutuk, tetapi mereka memberkati. Mereka menerima caci-maki, namun mereka memberi hormat. Mereka berbuat baik, namun dihukum seperti orang yang berbuat jahat. Ketika dihukum, mereka bersukacita bagai dihidupkan. Oleh orang Yahudi mereka diserang seperti orang asing, dan dianiaya oleh orang Yunani; dan penyebab kebencian yang tak terkatakan oleh musuh-musuhnya.

Singkatnya, jika Roh benar-benar ada didalam tubuh, maka orang Kristen ada di dunia. Roh tersebar melalui semua anggota tubuh, dan orang Kristen tersebar di seluruh kota dunia. Roh tinggal didalam tubuh, namun Ia bukan berasal dari tubuh; demikian juga orang Kristen tinggal di dunia, tetapi bukan berasal dari dunia. Roh, tidak kelihatan, terus berjaga-jaga didalam tubuh yang kelihatan; demikian juga orang Kristen terlihat hidup di dunia, karena kekudusan mereka tidak terlihat. Daging membenci dan melawan Roh, namun menderita karenanya hanya karena ia menolak kesenangan daging; dan tanpa alasan dunia membenci orang Kristen hanya karena mereka menolak kesenangannya. Roh mengasihi daging dan anggota yang membencinya; demikian juga orang Kristen mengasihi orang-orang yang membenci mereka. Roh menyertai tubuh, namun mempertahankan kesatuan bersama; sehingga orang Kristen tertawan di dunia seperti didalam penjara; namun mereka mengetahui dunia. Roh yang kekal tinggal didalam tubuh yang tidak kekal; demikian juga orang Kristen tinggal didalam dunia yang korup, tetapi mencari surga yang tak dapat menyeleweng. Roh baik sekali untuk membatasi makanan dan minuman; dan orang Kristen terus bertambah meski disiksa setiap hari. Bagian yang telah ditetapkan Allah bagi orang Kristen di dunia, tidak dapat direbut lagi dari mereka (Epistola ad Diognetum, bab 5 dan 6, hal. 69 sq. Otto. Lips., 1852).

Melalui seluruh masa ini tak diragukan bahwa banyak gereja yang tetap berdiri di atas kebenaran Perjanjian Baru. Semakin mereka bersungguh-sungguh setia kepada prinsip-prinsip Alkitab, semakin kecil kemungkinan sejarah yang mencatat tentang sikap mereka itu. Hanya para bidat dan hal-hal yang tidak wajar yang menarik perhatian dan dicatat didalam sejarah pada masa itu.

“Selama tiga abad pertama Tuhan menempatkan Kekristenan didalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan yang memungkinkan mereka menunjukkan kekuatan moral dan memenangkan dunia hanya dengan persenjataan rohani. Sampai pada kekuasaan Constantine, ia malah tidak memiliki eksistensi legal didalam Kerajaan Romawi, bahkan pada awalnya ditolak sebagai sebuah sekte Yahudi, kemudian difitnah, dilarang, dianiaya sebagai sebuah pembaharuan yang berkhianat, dan siapa yang menerimanya akan ditangkap dan dihukum mati. Namun, ia bukan menawarkan belas kasihan yang rapuh, seperti yang dilakukan oleh Islam sesudahnya, yang mengarah kecenderungan hati untuk menyeleweng, tetapi menentang gagasan-gagasan mutakhir orang Yahudi dan orang-orang kafir, mereka demikian menuntut pertobatan dan percaya yang tidak bisa ditawar-tawar, penyangkalan diri dan penyangkalan terhadap dunia, yang menurut Tertullian lebih diutamakan dan dijauhi oleh kelompok baru itu dengan lebih mengasihi kehidupan daripada mengasihi kesenangan. Kekristenan yang berasal dari Yahudi itu, dan kemiskinan dan kesia-siaan mayoritas penganutnya melukai kesombongan Yunani dan Roma” (Schaff, History of the Christian Church, I, 148).

Meskipun kesulitan-kesulitan yang luar biasa tersebut, Kekristenan mengalami kemajuan. Rintangan-rintangan itu mendapat pertolongan didalam pemeliharaan Tuhan. Penganiayaan menyebabkan kemartiran, dan kemartiran menjadi daya tarik. Tertullian berseru kepada orang-orang kafir: “Segala kejahatan licik kalian tidak menyelesaikan apa-apa; semua itu hanya merupakan sebuah daya tarik kepada kelompok ini. Semakin kami dihancurkan, semakin bertambah jumlah kami. Darah orang Kristen merupakan benih mereka.” Kesungguhan moral orang Kristen sungguh berbeda dengan penyelewengan yang sedang berlaku pada masa itu, dan sementara ia menolak pikiran yang sembrono dan yang menggiurkan, ia tidak pernah gagal mempengaruhi dengan kuat pikiran yang terdalam dan mulia. Kemajuan ini menyebar kedalam setiap bagian kerajaan. “Kami adalah kaum dari masa lalu,” kata Tertullian, “namun kami telah mengisi setiap tempat milikmu - kota, pulau, kastil, desa, perkumpulan, ditengah-tengah perkemahanmu, suku-bangsamu, sekutumu, istana, senat, dan forum. Kami tinggalkan engkau di kuil-kuilmu saja. Engkau boleh menghitung musuh-musuhmu, namun didalam satu propinsi saja kami lebih besar jumlahnya.”

Meskipun demikian, bahkan sebelum rasul terakhir meninggal, banyak bidat yang berbahaya dan menyedihkan yang tumbuh didalam gereja-gereja Kristen. Sebuah kecenderungan konstan yang meninggalkan kebenaran seperti yang dengan jelas dinyatakan di beberapa bagian didalam Alkitab. Kecenderungan terhadap Firman Tuhan tersebut telah dicatat oleh rasul Paulus, dan didalam beberapa Suratnya, ia menentang kesalahan tersebut. Tidak lama setelah kematian rasul terakhir, beberapa bidat yang berbahaya merangkak masuk kedalam gereja (jemaat), dan didukung oleh banyak orang yang terpelajar dan terhormat.

Tidak dapat dipahami bahwa semua, atau bahkan kebanyakan kesalahan doktrinal yang ditemukan kemudian didalam sejarah Katolik Roma, ditemukan didalam periode ini. Bukan hal itu yang dimaksud. Misalnya, pemujaan terhadap Maria dan patung-patung (berhala), transubstansiasi, kesempurnaan Paus, dan Konsep Kesucian Maria (Immaculate Conception) semuanya muncul kemudian. Kecenderungan tersebut lebih mengecilkan tuntutan untuk bertobat dan iman, eksperimen agama, dan lebih menekankan kepada tanda-tanda dan simbol-simbol luar. Hal tersebut mengkhayalkan bahwa simbol luar dapat menggantikan kasih karunia didalam. Titik penyimpangan kemungkinan dapat terlihat jelas didalam ekspresi keselamatan melalui baptisan, dan kecenderungan beberapa gereja terhadap keuskupan, dan mengesampingan kesederhanaan demokratis.

Salah seorang yang paling awal mengangkat suara untuk menentang penyelewengan tersebut berasal dari Gembala dari Hermas (Shepherd of Hermas). Sang Gembala mengatakan:

Adat-istiadat telah menjadi duniawi; disiplin diperlonggar; Gereja bagaikan seorang wanita tua yang sakit-sakitan yang tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri; para pemimpin dan yang dipimpin sama-sama kendor, dan banyak diantaranya menyeleweng, iri hati, serakah, munafik, suka bertengkar, pemfitnah, penghujat, penghina wanita, mata-mata, pembelot, pemecah-belah. Para pengajar yang pantas masih kurang, namun banyak nabi-nabi palsu, sombong, yang berhasrat mengejar jabatan keuskupan/kepausan, dimana hal terpenting didalam kehidupan bukan diletakkan kepada kekudusan dan keadilan, namun kepada perselisihan untuk mendapatkan posisi komando tersebut. Kini hari kemurkaan sudah diambang pintu; penghukuman akan sangat mengerikan; Tuhan akan mengganjar setiap orang sesuai dengan perbuatannya masing-masing.

Salah satu kesalahan yang paling awal dan paling menyakitkan adalah dogma tentang baptisan yang menyelamatkan (baptismal regeneration). Kesalahan ini dalam suatu bentuk dan lainnya telah merusak kehidupan dan sejarah yang penuh warna dari semua masa Kekristenan. Hal tersebut bermula sejak awal dan virusnya dapat ditelusuri pada masa ini, bukan saja diantara para ritualis, namun juga didalam standar orang-orang Kristen alkitabiah. Tertullian terpengaruh untuk menentang baptisan bayi itu, dan dalam keadaan yang lain, hal tersebut menjadi asal yan menakutkan dari bidat tersebut.

Walau demikian, gereja-gereja tetap bebas dan independen. Pada waktu itu belum ada uskup-uskup metropolitan, serta jabatan dan otoritas seorang paus belum dikenal. Roma pada masa itu tidak memiliki otoritas besar didalam dunia Kristen. “Kepausan Roma”, kata Kardinal Newman,”tidak mendapat perhatian besar pada seluruh masa penganiayaan. Lama sesudah itu, ia bukan satu-satunya pemegang otoritas. Tokoh besar dari Dunia Barat adalah St. Augustine; ia bukan seorang pengajar sempurna, namun membentuk intelektual Eropa” (John Henry Newman, Apologia pro Vita sua, 407, London, 1864). Dean Stanley menambahkan dengan tepat: “Telah ada para pejabat di keuskupan Konstantinopel, Aleksandria, dan Canterbury yang telah menciptakan banyak pengaruh didalam pemikiran Kekristenan dengan ucapan dibandingkan dengan paus manapun” (Stanley, Christian Institutions, 241, New York, 1881).

Namun ada sebuah kecenderungan yang menentang sentralisasi. Sebagaimana para gembala mengemban hak yang tidak dijamin kepadanya dengan Alkitab, beberapa gembala metropolitan menggunakan suatu otoritas yang tidak semestinya atas beberapa gereja yang lebih kecil. Kemudian gereja-gereja dari beberapa kota mencari dukungan dan perlindungan kepada para gembala dari kota-kota yang lebih besar. Akhirnya Roma, pusat politik dunia, menjadi pusat agama juga. Ketika itu, gembala di Roma menjadi Paus universal. Semua itu berkembang dengan lambat dan memerlukan berabad-abad untuk perwujudannya.

Gregorius Agung (AD. 590-604) merupakan “Paus pertama yang baik” dan bersama dengannya mulailah “perkembangan kepausan yang absolut” (Schaff, History of the Christian Church, I, 15). Pertumbuhan kepausan merupakan sebuah proses sejarah. Lama sebelum itu, para uskup di Roma telah membuat pernyataan-pernyataan arogan atas gereja-gereja yang lain. Hal ini khususnya dinyatakan oleh Leo I (AD. 440-461). Semua itu diakui oleh Hefele.

Ia mengatakan:

Namun hal tersebut jangan disalah-mengerti, karena para uskup Roma tidak menerapkan wewenang kepausan dengan sepenuhnya di setiap tempat di Barat; yaitu di beberapa propinsi, uskup-uskup sederhana ditahbiskan tanpa disertai kerjasamanya (Hefele, I, 383).

Garis Kepausan Abad Pertengahan yang absolut berawal pada masa Gregorius.

“Kekristenan di Roma,” kata Gregorovius, “menyeleweng dalam waktu yang sangat singkat; dan hal ini tidak mengherankan, karena lahan dimana benih doktrinnya ditaburkan telah busuk dan paling tidak cocok dibandingkan dengan lahan lainnya untuk menghasilkan buah yang baik … Karakter orang Roma tidak berubah seperti dahulu, karena baptisan tidak dapat mengubah semangat pada masa itu” (Gregorovius, Storia della citta di Roma nel Medio Evo, I, 155).

Gregorius menolak sebutan “Uskup Universal”. “Aku tidak menjunjung hal itu sebagai sebuah kehormatan,” katanya, “dimana hal tersebut membuat saudara-saudaraku kehilangan kehormatannya. Kehormatanku adalah kekuatan yang solid dari saudara-saudaraku… Namun tidak akan ada lagi hal ini: menyeleweng dari firman yang menyebabkan kesombongan dan melukai kasih (kemurahan)” (Gregory, Ep. 30, III, 933). Walaupun demikian, secara sepihak konsep jemaat yang independen dan lokal, dengan satu dan lain cara telah dicampakkan; dan banyak kalangan Kristen terpanggil untuk menderita oleh hirarkhi yang jahat dan kerapkali tidak mengenal Tuhan.

Baptisan atas orang-orang percaya terus dipertahankan didalam jemaat. Bukan mempertahankan khasiat yang dianggap eksis didalam baptisan, baptisan bayi berkembang dengan lambat. Bahkan setelah pertama kali muncul, ia ditentang oleh banyak kalangan, dan dalam jangka waktu yang panjang hal tersebut tidak dipraktekkan.

Para penulis yang dikenal sebagai Bapak-bapak Apostolik, Clement, Barnabas, Ignatius dan Gembala dari Hermas, semuanya menuntut iman sebagai bagian dari orang yang akan dibaptis. Clement tidak menyebut baptisan didalam Suratnya kepada jemaat Korintus; tetapi ia mendesak para orangtua untuk “membiarkan anak-anaknya mengambil bagian didalam pelatihan Kristen” (Migne, Patrologiae gr., I, 255).

Barnabas mengatakan: “Tandai bagaimana Ia menggambarkan sekaligus, baik air maupun salib. Karena firman ini mengimplikasikan, diberkatilah mereka yang menempatkan kepercayaan mereka didalam salib, yang telah dibaptis didalam air; karena kataNya, mereka akan menerima upah bila tiba saatnya” (Migne, Patrologiae gr., II, 755).

Ignatius didalam tulisannya kepada Polycarpus sebagai berikut: “Jadilah baptisanmu sebagai baju zirah, dan iman sebagai tombak, dan kasih sebagai ketopong, dan kesabaran sebagai persenjataan lengkap” (Ibid, V, 847). Perintah baptisan adalah sebagai peringatan yang tidak termasuk baptisan bayi.

Dan Gembala dari Hermas berbicara mengenai mereka yang “telah mendengarkan firman, dan ingin dibaptis didalam nama Tuhan” (Ibid, Patrologiae gr., II, 906).

Para Bapak Apostolik menuntut iman harus mendahului baptisan, oleh karena itu mereka tidak mengenal baptisan bayi. Dr. Charles W. Bennett, profesor Theologi Sejarah di Garrett Biblical Institute, Methodist, mengatakan: “Bapak-bapak Apostolik tidak memberikan keterangan yang positif sehubungan dengan praktek gereja pada masa mereka yang berkaitan dengan baptisan bayi” (Bennett, Christian Archaeology, 391, New York, 1889).

Setelah generasi kedua Bapak-bapak Apostolik, Justin Martyr, AD. 114-168, kadang-kadang dikutip sebagai pendukung baptisan bayi. Setelah menghubungkan dengan sifat-sifat jahat manusia dan kebiasaan buruk manusia, Justin menyatakan bahwa, agar kita tidak menjadi anak-anak yang terpaksa dan bodoh, melainkan dapat menjadi anak-anak yang dipilih dan yang mengerti, dan didalam baptisan bisa memperoleh pengampunan dosa yang dahulu pernah diperbuat, yang dinyatakan didalam dia yang memilih untuk dilahirkan kembali, dan telah menyesali dosa-dosanya, nama Allah Bapa dan Tuhan semesta alam; Ia yang menyucikan pribadi orang yang telah dibersihkan hanya dengan menyerukan namaNya saja (Migne, VI, 419).

Kini secara umum jelas diakui bahwa Justin hanya mengenal baptisan orang-orang dewasa, meskipun ia percaya baptisan itu menyelamatkan.

Perikop terkenal dari Iranaeus adalah sebagai berikut:
Karena Dia datang untuk menyelamatkan semua orang melalui diriNya, semua orang kukatakan, yang melalui Dia dilahirkan kembali didalam Tuhan - bayi-bayi, dengan demikian bayi-bayi disucikan; seorang anak bagi kanak-kanak, dengan demikian menyucikan mereka yang ada didalam usia ini, dalam waktu yang sama menjadi contoh bagi orang-orang muda, dan dengan demikian menyucikan mereka bagi Tuhan (Migne, VII, 783).

Perikop ini barangkali terlalu buru-buru. Namun sama sekali tidak ada bukti hal tersebut mengacu kepada baptisan. Dr. Karl R. Hagenbach, profesor di Universitas Basel selama 50 tahun, mengatakan bahwa perikop ini tidak “memberikan suatu bukti yang tegas. Ia hanya mengekspresikan gagasan yang indah bahwa Yesus adalah Penebus bagi segala usia; namun ia tidak mengatakan bahwa Ia menebus anak-anak dengan baptisan air” (Hagenbach, History of Doctrines, 200, New York, 1869).

Origen, 185-254 AD., dikutip sehubungan dengan baptisan bayi. Perkataannya adalah sebagai berikut:
Dalam pertimbangan ini, dapat ditambahkan, bahwa dapat ditanya mengapa, karena baptisan dari jemaat diberikan untuk pengampunan dosa, baptisan diberikan menurut ketaatan jemaat, bahkan juga anak-anak (parvulis); karena anugerah baptisan akan kelihatan berlebihan jika anak-anak tidak memerlukan pengampunan dan diikutsertakan (Migne, XII, 492).

Perasaan yang sama ditemukan dalam uraiannya mengenai Surat Roma.
Tulisan asli dalam bahasa Yunani Origen sudah tidak ada lagi, dan hanya tinggal perkataan Origen yang diterjemahkan oleh Rufinus dan Jerome didalam bahasa Latin. Terjemahan ini diketahui tidak dapat dipercaya, dan diakui bahwa gagasan pada masa berikutnya dengan bebas dimasukkan kedalam tulisan Origen. Anak-anak (parvulis) yang dimaksud tersebut bukanlah ‘bayi’, karena didalam tulisan yang sama, kata ini digunakan untuk menggambarkan Yesus pada usia 12 (Migne, XIII, 1849). Apa yang bisa dinyatakan adalah bahwa Origen merujuk kepada baptisan anak-anak, bukan bayi, sebagai sebuah tradisi apostolik. Hal tersebut tidak terlalu berbobot, jika mengingat bahwa Origen merujuk kepada sejumlah hal yang berasal dari tradisi apostolik yang bahkan sama sekali tidak pernah disebutkan didalam Alkitab.

Bukti jelas yang paling awal atas baptisan bayi ditemukan didalam tulisan Tertullian yang menentangnya ( 185 AD.). Bukti langsung pertama yang mendukung baptisan bayi ditemukan pada tulisan Cyprian, didalam Sidang di Carthage, di Afrika tahun 253 AD. Didalam tulisan kepada salah seorang bernama Fidus, Cyprian mengambil alasan bahwa bayi harus segera dibaptis setelah lahir (Epistle of Cyprian, LVIII, 2). Namun pendapat ini tidak berdasarkan Alkitab dan tidak diterima oleh kalangan Kristen.

Sidang jemaat mula-mula semuanya menolak baptisan bayi. Sidang di Elvira atau Grenada, 305 AD., mewajibkan penundaan baptisan selama 2 tahun (Hefele, History of the Councils, I, 155,Edinburgh, 1871). Sidang di Laodikia yang dilaksanakan pada tahun 360 AD., mensyaratkan mereka yang akan “dibaptis harus menghafalkan pengakuan iman didalam hati dan menyatakannya” (Hefele, II, 319). Sidang di Konstantinopel menetapkan bahwa calon yang akan dibaptis harus “tinggal suatu waktu yang lama didalam pelajaran Alkitab sebelum mereka menerima baptisan” (Ibid. II, 368). Dan Sidang di Carthage, tahun 398 AD. menetapkan bahwa “katekisasi harus dilakukan dan disiapkan untuk baptisan” (DuPin, Bibliotheque universelle, c. 4, 282).

Banyak orang Kristen yang sangat terkemuka, meski lahir dari orang tua Kristen, tidak dibaptis saat masih bayi. Jumlah kalangan ini sangat banyak, dan rinciannya demikian banyak, namun hanya bisa disebutkan sedikit saja. Daftar jumlah tersebut termasuk sejarawan ternama Eusebius, kaisar Constantine Agung, Ephrem Syrus, dan Agustinus Agung.

Basil Agung lahir pada tahun 329 AD. dalam sebuah keluarga kaya dan saleh, dimana nenek-moyangnya dikenal sebagai para martir. Ibu dan neneknya adalah orang Kristen dan 4 saudara laki-laki dan 5 saudara perempuannya merupakan orang Kristen terkenal. Ia dibaptis pada usia 26. Dalam sebuah perikop luar biasa, 380 AD., ia dengan terus terang menyatakan penyimpangan zaman-zaman itu. Ia mengatakan:

Apakah engkau keberatan dan mengembara serta menunda baptisan? Padahal sejak kecil engkau telah dikatekisasi didalam Firman, dan engkau belum juga mengenal kebenaran? Setelah demikian lama mempelajarinya, belumkah engkau mengetahuinya? Engkau adalah pengembara sepanjang hidupmu. Seorang peragu sampai tua. Kapan engkau akan menjadi seorang Kristen? Kapan akan kami melihat engkau menjadi bagian dari kami? Tahun lalu engkau menunggu sampai tahun ini; dan kini engkau berpikir untuk menanti sampai tahun berikutnya. Perhatikanlah, bahwa dengan mengatakan kepada diri sendiri engkau akan hidup lebih lama, maka engkau tidak sungguh-sungguh mendambakan pengharapanmu. Apakah engkau tahu perubahan apakah yang akan terjadi besok? (Migne, XXXI, 1514).

Semua ini menunjukkan bahwa orang Kristen mula-mula terus membaptis berdasarkan pengakuan iman; dan bahwa baptisan bayi tidak menghasilkan tempat pijakan yang permanen sampai berabad-abad setelah masa para rasul.

Baptisan bayi tidak berkembang secara mendadak. Augustine, Uskup dari Hippo-Regius, Afrika Utara (353-430 AD.) bukan orang pertama yang melaksanakannya; meskipun bukan dirinya saja yang membaptis bayi, namun ia merupakan pembela pertama dan yang paling kuat. Ia mengembangkan argumentasi theologis didalam pembelaannya. Sidang di Mela, Numidia, 416 AD., yang terdiri dari 15 anggota dan dibawah pimpinan Augustine, menetapkan:

Juga, merupakan hal yang menyenangkan bagi para uskup untuk memerintahkan bahwa terkutuklah barangsiapa yang menolak bahwa bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya untuk dibaptis atau mengatakan bahwa baptisan dilaksanakan untuk penghapusan atas dosa-dosa mereka sendiri, tetapi bukan karena dosa asal yang diturunkan dari Adam, dan ditebus dengan penyucian kelahiran kembali (Wall, The History of Infant Baptism, I, 205).

Ini merupakan sebuah fakta yang bernada nubuatan masa depan bahwa sidang pertama yang mendukung praktek baptisan bayi yang disertai kutukan terhadap mereka yang tidak setuju dengan keputusan sidang. Selanjutnya ketetapan itu menunjukkan adanya penentang baptisan bayi pada masa itu, dan bahwa ritual baptisan bayi bukan merupakan kebiasaan universal pada masa-masa itu.

Ketentuan yang pertama yang dijadikan sebagai rujukan untuk mendukung baptisan bayi di Eropa, ditetapkan oleh Sidang Spanyol di Gerunda, 517 AD. Sidang tersebut terdiri atas 7 orang yang menganut 10 ketentuan. Patokan yang mencakup butir yang berkenaan disini adalah Pasal V:

Namun mengenai anak-anak kecil yang baru lahir, dengan sukacita kami tentukan, bahwa jika, sebagaimana biasanya, mereka lemah dan tidak minum air susu ibunya, meskipun pada hari yang sama dimana mereka lahir (jika mereka dipersembahkan, jika mereka dibawa) mereka boleh dibaptis.

Ketentuan itu merupakan instruksi katekisasi biasa yang mesti mendahului baptisan. Dalam kasus bayi sakit, karena ketakutan mereka akan terhilang karena mati sebelum dibaptis, maka mereka harus dibaptis selagi masih bayi. Tidak ada ketentuan yang dibuat untuk baptisan bayi yang kondisi kesehatannya baik. Juga terdapat keraguan apakah Sidang ini memang pernah dilangsungkan.

Charlemagne, 789 AD., mengeluarkan hukum pertama di Eropa untuk membaptis bayi. Ia terbelenggu perang yang sulit dihindarkan dengan orang Saxon, karena jenderalnya yang berani, Windekind, selalu mendapat sumber untuk mengalahkan rancangannya. Pada akhirnya sang kaisar berhasil menemukan sebuah cara yang mematahkan semangat Windekind, yakni dengan memisahkan pasukan darinya, dan hal ini benar-benar mengakhiri perang. Ini dilakukan dengan menhindarkan seluruh bangsa dari sebuah pilihan yang mengerikan; dibunuh oleh pasukan, atau menerima hidup dengan syarat mengaku sebagai orang Kristen dengan dibaptis; dan hukum-hukum yang keras masih tetap berlaku didalam kumpulan peraturan kerajaan ini, dimana mereka diharuskan, “dengan ancaman siksa kematian, untuk membaptis diri mereka, dan dengan denda yang berat untuk membaptis anak-anak mereka pada tahun kelahiran mereka”.

Bahwa hal ini merupakan penafsiran yang benar dari sikap jemaat mula-mula bukanlah merupakan bayang-bayang keraguan. Semua sejarawan menguatkan pendirian ini. Beberapa orang yang sangat ahli dikutip disini.

Dr. Adolph Harnack dari Universitas Berlin menilai masa pasca apostolik demikian:

Tidak diperoleh petunjuk mengenai baptisan bayi pada masa itu; iman pribadi sajalah yang merupakan syarat yang diperlukan (Harnack, History of Dogma, I, 20 catatan 2).

Kemudian ia melanjutkan:
Ketidakjelasan menyeluruh terjadi sehubungan pelaksanaan baptisan anak yang dilakukan Jemaat, yang walaupun ia berasal dari gagasan bahwa upacara ini sangat diperlukan untuk keselamatan, namun bukan merupakan sebuah bukti bahwa pandangan tahyul mengenai Baptisan telah meningkat. Pada masa Irenaerus (II, 22, 4), dan Tertullian (de bapt. 18), pembaptisan anak telah menjadi sangat umum dan didasarkan kepada Mat. 19: 14. Kita tidak memiliki kesaksian apa-apa mengenai hal itu sejak awal mulanya( Ibid, II, 142).

Dan akhirnya ia menyimpulkan bahwa hal tersebut dibangun pada abad kelima untuk pemakaian umum. Penyerapan tersebut berjalan paralel seiring dengan kehancuran kekafiran (Ibid, II, 142).

Prof. H.G. Wood dari Universitas Cambridge mengatakan:
Seperti yang dikatakan oleh Harnack, kita ada didalam “ketidakjelasan menyeluruh ketika Gereja menerima praktek tersebut”. Rujukan baptisan anak abad ketiga yang jelas menafsirkannya dari sudut dosa asal, dan jika penerimaan praktek ini berdasarkan penafsiran ini, hampir boleh dipastikan ia merupakan perkembangan abad kedua yang lalu … Rujukan kepada dosa asal didalam tulisan Clement dari Roma atau para penulis yang lebih awal dari Cyprian tidak dapat dipegang untuk mengimplikasikan sebuah pengetahuan tentang baptisan bayi. Selanjutnya, gagasan bayi perlu dibaptis demi pengampunan dosa adalah bertentangan dengan semua yang sudah diketahui oleh orang Kristen mula-mula mengenai masalah anak-anak … Bahkan pada abad ketiga, baptisan bayi tidak bisa digambarkan sebagai kebiasaan Gereja. Bahwa Gereja mengizinkan orangtua membawa bayi-bayi mereka untuk dibaptis adalah jelas; bahwa adalah mungkin saja beberapa pengajar dan penatua yang mendorong mereka melakukan hal tersebut, meskipun tidak ada alasan untuk memperkirakan posisi Tertullian yang khas tersendiri. Tetapi baptisan bayi bukan diperintahkan pada masa itu, atau dimasukkan sebagai perintah didalam Gereja (Encyclopaedia of Religion and Ethics, II).

Dr. F.C. Conybeare mengatakan bahwa “hal yang utama adalah bahwa orang harus dibaptis atas kehendak bebasnya sendiri”. Lebih lanjut ia mengatakan:

Atas dasar tersebut adalah dibenarkan transisi sebuah baptisan yang dimulai sebagai sebuah perbuatan pentahbisan-diri yang tanpa disuruh-suruh menjadi sebuah opus operandum. Kita tidak mengetahui pasti berapa lama hal ini terjadi sebelum baptisan bayi menjadi biasa didalam Gereja Byzantium … Perubahan terjadi lebih cepat didalam Kekristenan Latin dibandingkan dengan Kekristenan Yunani, dan didalam Kekristenan Armenia dan Georgia lebih lama lagi (Encyclopaedia Britannica, edisi ke-11, Bab tentang Baptisan).

Andre Lagarde mengatakan:
Sampai abad keenam, bayi-bayi hanya dibaptis ketika mereka ada didalam bahaya maut. Pada masa itu, praktek tersebut memperkenalkan pelaksanaan baptisan, meskipun mereka tidak sakit (Lagarde, Latin Church in the Middle Ages, 37).

Fakta-fakta ini semuanya menentang gagasan bahwa baptisan bayi merupakan praktek gereja-gereja purba. Ketika diperkenalkan, ia menghadapi perlawanan yang terbesar, dan hanya dibawah kutukan dan dengan todongan pedang, maka baptisan bayi dapat ditekankan kepada orang-orang Kristen yang tidak mau menerimanya; dan sikap intoleran mengikuti sejarahnya sampai kini.

Tentang bentuk baptisan yang dipraktekkan didalam gereja-gereja purba sedikitpun tidak ada keraguan. Dapat dipastikan bahwa cara selam merupakan ketentuan yang universal, dipelihara dengan baik oleh beberapa orang yang teraniaya.

Terdapat 6 gambaran terperinci atau ritual baptisan yang diturunkan kepada kita. Semuanya diketahui oleh gereja-gereja dan kesemuanya menggambarkan cara selam. Keenam gambaran tersebut dikenal dengan nama Egyptian Acts(Gebhardt dan Harnack, Texts and Researches, VI, c.4 (28);
TheCanon Hipolyte, abad ketiga (Hipolyte, Buku VII, (29); TheApostolic Constitutions or Canons, dalam versi bahasa Yunani, Koptik, dan Latin, 350-400 AD.;
Cyril of Jerusalem, 286 AD. (Migne XXXIII, 43);
Ambrose of Milan, 397 AD.(Bunsen, Analecta, II, 465), dan
Dionysius Areopagita, 450 AD. Ritual-ritual tersebut dipergunakan dengan luas didalam gereja-gereja dan menggambarkan praktek universal dengan cara selam.

Tentang praktek cara selam terdapat bukti di Afrika, Palestina, Mesir, Antiokhia dan Konstantinopel, serta di Kapadokia. Bagi orang Roma, kita memiliki kesaksian delapan ratus tahun tentang penggunaan cara selam. Tertullian menjadi saksi untuk abad kedua (Tertullian, De Bapt., c. 4); Leo Agung pada abad kelima (Fourth Letter to the Bishop of Sicily); Paus Pelagius pada abad keenam (Epist. Ad Gaudent); Theodulf dari Orleans pada abad kedelapan; dan pada abad kesebelas, orang-orang Roma menerapkan kepada subyek tersebut dengan selam “hanya dengan sekali” (Canisius, Lectiones Antiq., III, 281). Contoh-contoh ini menjawab cara yang digunakan orang Italia tersebut.

Ada juga kesaksian dari monumen Kristen mula-mula. Pada mulanya orang Kristen dibaptis di sungai-sungai dan mata air. Hal ini, menurut Walafrid Strabo, dilakukan dengan sangat sederhana (Migne, CXIV, 958). Kemudian oleh karena penganiayaan, orang-orang Kristen menyembunyikan diri; Catacombe-catacombe dilengkapi dengan banyak contoh tempat pembaptisan. Dr. Cote yang tinggal bertahun-tahun di Roma, dan dengan seksama meneliti masalah baptisan, mengatakan: “Pada masa kegelapan kekuasaan penganiayaan terhadap orang Kristen Roma purba, ditemukan tempat perlindungan yang dibuat tergesa-gesa di Catacombe-catacombe dimana mereka membangun tempat-tempat pembaptisan untuk melaksanakan upacara selam” (Cote, Archaelogy of Baptism, 151, London, 1876). Walaupun gambaran singkat mengenai tempat pembaptisan tidak bisa diuraikan disini, namun orang yang tidak dengan seksama mempelajari masalah tersebut akan terkejut dengan jumlah dan luasnya.

Kemudian ketika kebebasan beragama Kristen dijamin, banyak gereja yang didirikan. Pada mulanya tempat pembaptisan merupakan sebuah struktur tersendiri, terpisah dengan tempat kebaktian; namun kemudian menjadi kebiasaan untuk menempatkan tempat baptisan didalam gereja itu sendiri. Tempat-tempat pembaptisan demikian didirikan hampir di seluruh negeri dimana agama Kristen tersebar. Hal ini terutama di Italia. Cote memberikan daftar yang tak kurang dari 66 tempat pembaptisan didalam negeri itu saja (Cote, Baptisteries, 110). Setidak-tidaknya sampai pada abad kedelapan dan kesembilan tempat pembaptisan terus digunakan sepenuhnya di Italia. Tempat-tempat pembaptisan dibangun di Italia paling tidak sampai abad keempatbelas, sementara cara selam diteruskan di Kathedral Milan sampai berakhirnya abad kedelapanbelas.

Tempat-tempat pembaptisan tersebut dihiasi dan tentu saja penuh dengan emblem, mosaik dan lukisan yang ditujukan untuk memperjelas bentuk baptisan. Apa yang disebut dengan Seni Kristen ditemukan didalam catacombe-catacombe, terdapat pada interior gereja dan pada perlengkapan mebel dan peralatan. Gambaran yang paling lama bukan bertanggal sebelum masa Kaisar Constantine (Parker, The Archaelogy of Rome, XII, 11, Oxford, 1877); banyak yang secara terus menerus diperbaiki, dan beberapa diantara yang paling terkenal terus berubah sedemikian rupa sehingga kehilangan karakter aslinya (Crowe dan Cavalcaselle, History of Painting in Italy, I, 22). Tidak diperoleh kesimpulan yang pasti dari sumber ini, namun pengajaran dari semua karya seni mula-mula itu mengindikasikan cara selam sebagai bentuk baptisan. Gambar-gambar tersebut menunjukkan pemandangan sungai, orang yang akan dibaptis berdiri didalam air, dan keadaan sekitarnya semua menunjukkan pelaksanaan baptisan yang primitif. Pendapat para profesor arkheologi dari universitas-universitas besar secara bulat menyatakan bahwa gambar-gambar kuno mengenai baptisan didalam catacombe-catacombe tersebut dan di tempat-tempat lainnya, menunjukkan ritual itu dilaksanakan dengan cara selam (Lihat Christian’s Baptism in Sculpture and Art, Louisville, 1907).

Baptisan dengan cara curah merupakan perkembangan yang lamban. Kemungkinan penyebutan cara curah yang paling awal ditemukan didalam Teaching of the Twelve Apostles yang terkenal (Bryennios, Didacha ton Dodeka Apostolon, Konstantinopel, 1883), yang menurut berbagai pendapat dinyatakan sebagai berasal dari abad yang pertama dari tujuh abad lainnya.

Novatian (250 AD.) menyampaikan kasus pertama yang tercatat mengenai baptisan kilinis atau baptisan untuk orang sakit (clinic baptism). Ketika terbaring sakit, ia dicurahkan air yang sebanyak-banyaknya, namun baptisannya dengan jelas disebut sebagai “pembatasan” atau “pengganti” (Eusebius, The Church History, 289, New York, 1890). Pencurahan hanyalah sekedar merupakan pengganti selam. Perancis merupakan negeri pertama yang mengijinkan baptisan dengan cara pencurahan demi menikmati kesehatan penuh (Wall, The History of Infant Baptism, I, 576). Hukum pertama untuk baptisan percik diberlakukan dengan cara sebagai berikut: “Paus Stephen III, ketika dibawa dari Roma oleh Astulphus, Raja dari Lombards pada tahun 753, melarikan diri kepada Pepin, yang baru saja merampas tahta Perancis. Waktu tinggal disana, para biarawan Cressy di Brittany berkonsultasi dengannya, menanyakan apakah alkitabiah jika pada saat dibutuhkan, baptisan dilaksanakan dengan menuangkan air ke atas kepala bayi. Stephen menjawab bahwa hal tersebut alkitabiah” (Edinburgh Encyclopedia, III, 236). Namun sampai pada 1311 AD., Sidang di Ravenna menetapkan: “Baptisan harus dilaksanakan dengan tiga kali percik atau selam” (Labbe dan Cossart, Sacrosancta Concilia, II, B, 2, 1586, Paris, 1671). Segera setelah itu, pemercikan menjadi sebuah kebiasaan di Perancis.

Selama 13 abad pertama, cara selam merupakan praktek yang normal di kalangan Kristen.

Kata Dollinger, “Baptisan dengan cara selam terus menjadi praktek yang umum Gereja sampai pada abad keempatbelas” (Dollinger, The History of the Church, II, 294, London, 1840-42). Cara selam dipraktekkan di beberapa bagian Jerman pada abad keenambelas. Di Inggris selam dipraktekkan selama 1.600 tahun.

Pada saat kelahiran Yesus, kebebasan beragama tidak dikenal di dunia. Bahkan negara-negara republik purba juga tidak pernah mengenalnya. Socrates dengan segala heroisme moralnya, tidak pernah Jemaat (Gereja) Purba membangkitkan asumsi tersebut, bahwa kefasikan akan dihukum dengan maut. Dalam pembelaannya dihadapan para para hakim, ia berkata:

Kewajibanku adalah meyakinkan anda, jika aku bisa; namun anda telah bersumpah untuk mengikuti pendirian sendiri didalam menghakimi sesuai hukum - bukan membuat hukum tunduk kepada kehendak anda. Dan itu adalah kewajiban anda untuk berbuat demikian. Karena itu, jangan memaksa aku tampil dengan tidak hormat dengan merujuk kepada diri sendiri dan tidak beriman dalam penghormatan kepada anda, khususnya ketika aku sendiri membantah tuduhan yang diajukan oleh Miletus, bahwa aku hidup tidak saleh (Grote, History of Greece, VIII, 656).

Semua negeri penyembah berhala setuju bahwa negara mempunyai hak untuk mengatur segala masalah yang berhubungan dengan agama; dan warganya harus tunduk.

Sejak semula orang Kristen mengakui dan mendukung kebebasan agama. Darah penganiayaan ditaruh didepan doktrin ini. Tertullian dengan tegas mengatakan kepada para penyembah berhala bahwa setiap orang memiliki hak azasi yang tidak dapat dihapus untuk menyembah Allah menurut kesadarannya sendiri. Kalimat-kalimatnya adalah sebagai berikut:

Namun, itu merupakan hak azasi manusia yang fundamental, sifat yang istimewa, bahwa setiap manusia seharusnya menyembah menurut keyakinan masing-masing; agama seseorang tidak boleh membahayakan maupun menolong orang lain. Pasti tidak ada bagian agama yang memaksa agama - dimana kehendak bebas dan bukan paksaan yang menuntun kita - bahkan pengorbanan diri merupakan syarat bagi yang rela. Engkau tidak bisa menyumbangkan ibadah yang sungguh-sungguh kepada dewa-dewamu dengan memaksa kami berkorban. Karena mereka tidak akan berkenan atas persembahan dari orang-orang yang tidak rela, kecuali mereka dijiwai oleh suatu semangat pertikaian, yang merupakan sesuatu yang sama sekali tidak mengenal Tuhan (Tertullian, ad Scapulam, c. 2).

Justin Martyr menegaskan pendapat yang serupa (Apol., I, c. 2, 4, 12), dan kemudian Lactantius mengatakan:
Agama tidak bisa dipaksa dengan kekuasaan; masalah tersebut harus diselesaikan dengan pembicaraan, bukan dengan serangan, sehingga kehendak dapat tersentuh. Penyiksaan dan kesalehan sangat berbeda; kebenaran juga tidak mungkin bersatu dengan kekerasan, atau keadilan dengan kekejaman. Tidak ada yang lebih penting selain kehendak bebas untuk beragama (Lactantius, Instit. div., V, 20).

Dr. Baur dalam menanggapi pernyataan tersebut, mengatakan:
Sungguh luar biasa bagaimana para Pembela Kristen tertua mempertahankan iman Kristen yang diarahkan untuk menegaskan pengajaran kebebasan iman Protestan dan kesadaran sebagai sifat yang melekat atas pengertian agama dalam menghadapi lawan-lawan penyembah berhala mereka (Baur, Gesch. Der Christl. Kirche, I, 428).

Hase mengatakan:
Dengan demikian gereja membuktikan, bahwa pada masa kekuasaan yang sewenang-wenang tanpa batas, para pencari kemerdekaan dan orang-orang kudus menanggung akibatnya mewakili masyarakat (Hase, Church History, bagian 117, hal. 161, edisi 7).

Hal ini hampir boleh dikatakan bukan sebuah pendirian doktrinal Protestan, namun lebih tepat dikatakan sebagai milik kaum Baptis. Kaum Protestan malah telah siap untuk menganiaya.

Ketika Constantine setelah memenangkan pertempuran di Jembatan Milvian, Tiber, 27 Oktober 312 menjadi kaisar, ia mengeluarkan sebuah keputusan toleransi. Pengumuman resmi Milan yang terkenal itu dikeluarkan oleh Constantine dan Licinius. Karena pentingnya, maka hukum tersebut ditranskripsikan secara lengkap, sebagai berikut:

Karena sudah lama dirasakan bahwa kebebasan agama tidak bisa disangkal, namun sebaliknya harus dijamin berdasarkan pertimbangan dan keinginan setiap pribadi untuk melaksanakan kewajiban agamanya sesuai pilihannya masing-masing, kami telah memberikan perintah bahwa setiap orang, baik orang-orang Kristen maupun yang lainnya, harus memelihara iman sekte dan agamanya masing-masing. Namun karena didalam hukum yang direvisi ini, dimana kebebasan tersebut dijamin, banyak dan berbagai syarat kelihatan jelas ditambahkan, beberapa diantaranya kemungkinan terjadi setelah mengalami sedikit kemunduran ketaatan. Ketika aku, Constantine Augustus, dan aku, Licinus Augustus, datang dalam keadaan yang lebih menguntungkan ke Milan dan mempertimbangkan segala sesuatu mengenai kepentingan dan kemakmuran masyarakat, kami menetapkan antara lain, atau pertama-tama, membuat keputusan-keputusan demikian yang dilihat dari banyak segi adalah untuk kepentingan setiap orang; yakni seperti misalnya harus memelihara penghormatan dan kekudusan dihadapan Allah. Kami memutuskan untuk menjamin kebebasan orang-orang Kristen maupun siapa saja untuk mengikuti agama yang mereka pilih, bahwa apapun bentuk illah surgawi yang ada, itu adalah baik bagi kita dan semua orang yang hidup dibawah pemerintahan kita.

Oleh karena itu, kami telah memutuskan, dengan alasan yang benar dan tulus, bahwa kebebasan tidak boleh ditolak oleh siapapun, untuk memilih dan mengikuti ketaatan agama orang-orang Kristen, namun sebaliknya bagi setiap orang, kebebasan diberikan untuk mencurahkan pikirannya kepada agama tersebut yang sesuai bagi dirinya, agar supaya Allah dapat dinyatakan kepada kita didalam segala sesuatu sesuai pemeliharaan dan kemurahanNya. Sudah seharusnya kami menuliskan bahwa ini merupakan sukacita kami, bahwa keadaan-keadaan yang sepenuhnya telah dihapuskan, yang terkandung didalam surat kami terdahulu mengenai orang-orang Kristen yang dikirim karena ketekunan anda semua, segala hal yang kelihatan sangat bengis dan bertentangan dengan kelembutan kami harus dihapuskan, dan bahwa kini setiap orang yang ingin mematuhi agama Kristen boleh melaksanakannya tanpa mengalami penganiayaan. Kami telah memutuskan untuk menyampaikan hal ini sepenuhnya merupakan hak anda, sehingga anda mengetahui bahwa kami telah menjamin kebebasan dan kemerdekaan penuh kepada orang-orang Kristen yang sama ini untuk menekuni agama mereka sendiri.

Oleh karena hal tersebut telah dijamin dengan tanpa syarat kepada mereka, ketekunan anda memahami bahwa kebebasan juga dijamin bagi orang lain yang berkeinginan untuk mematuhi ibadah agama mereka sendiri; hal ini jelas sesuai dengan ketenteraman zaman kita, sehingga setiap orang harus memiliki kebebasan untuk memilih dan menyembah allah apa saja yang mereka sukai. Kami memutuskan agar kita tidak melihat lagi cara apapun untuk mendiskriminasikan menentang golongan agama apapun. Dan kami memutuskan masih dalam kaitan dengan orang Kristen, bahwa tempat-tempat mereka, dimana mereka dulunya biasa berkumpul, sehubungan dengan surat terdahulu yang dikirim karena ketekunan anda dimana perintah yang berbeda diberikan, jika terjadi bahwa ada orang yang telah membelinya, baik dengan perbendaharan kami maupun berasal dari siapa saja, maka harus dipulihkan kembali kepada orang Kristen yang dimaksud tanpa menuntut uang atau sejenisnya, dan tidak boleh ditunda atau ragu-ragu. Jika ada orang menerima tempat-tempat yang dimaksud sebagai hadiah, maka mereka harus mengembalikan secepat mungkin kepada orang Kristen yang sama; dengan pengertian yang sama bahwa jika mereka yang membeli tempat-tempat tersebut, atau mereka yang telah menerimanya, menuntut sesuatu pengganti, maka mereka dapat menyampaikannya kepada hakim di wilayah itu, sehingga keputusan dapat ditetapkan bagi mereka dengan pengampunan dari kami. Segala ini akan dijamin kepada masyarakat Kristen langsung demi kepentingan anda dan tanpa ditunda sedikitpun. Dan oleh karena orang Kristen yang dimaksud bukan saja dikenal memiliki tempat-tempat dimana mereka biasa berkumpul, namun juga tempat-tempat yang lain, yang bukan saja menjadi milik pribadi-pribadi diantara mereka, namun seluruh masyarakat secara keseluruhan, yaitu milik masyarakat Kristen, anda akan diberi kuasa bahwa semua itu, berdasarkan hukum yang telah kami nyatakan di atas, akan dikembalikan, tanpa ragu-ragu, kepada orang-orang Kristen yang dimaksud; yaitu kepada masyarakat dan jemaat mereka; ketentuan yang disebutkan di atas tentu saja harus ditaati, sehingga mereka yang mengembalikannya dengan tanpa syarat, seperti yang telah kami katakan sebelumnya, boleh mendapat anugerah dari kami. Didalam semua ini, demi kepentingan masyarakat Kristen yang disebutkan di depan, anda harus menggunakan ketekunan sepenuhnya, sehingga akhirnya kuasa kami dapat dipenuhi dengan segera, dan dalam hal ini juga, dengan grasi kami, keputusan dapat ditetapkan demi ketenteraman bersama dan umum. Karena dengan cara inilah, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Allah bermurah hati menuntun kita seperti yang telah kita alami dalam banyak hal, yang pasti akan terus berlangsung dari waktu ke waktu. Dan agar tujuan kemurahan ordinansi ini dapat diketahui semua, diharapkan apa yang telah kami tulis akan diterbitkan dimana-mana oleh anda dan disampaikan kepada semua orang, sehingga kemurahan ordinansi kita tidak akan diabaikan oleh siapapun (Eusebius, The Church History, X, 5).

Tentang ketetapan ini Mason berkata:
Hal itu merupakan pengumuman yang paling pertama dari doktrin yang pada masa kini dianggap sebagai tanda dan prinsip kemasyarakatan, dasar dari kebebasan yang solid, karakteristik politik modern. Dengan kalimat yang bersemangat dan tajam ia menyatakan kemerdekaan kesadaran yang sempurna, pilihan agama yang tidak dapat dibendung (Mason, Persecution of Dioclesian, 327).

Sebuah agama yang dipaksakan sama sekali bukan merupakan agama. Sayangnya para penerus Constantine sejak masa Theodosius Agung (385-395) memaksakan agama Kristen dengan melarang agama lain; dan bukan itu saja, mereka juga memaksakan apa yang disebut orthodoksi dengan melarang setiap bentuk perbedaan pendapat, yang akan dihukum sebagai seorang penjahat yang menentang negara. Kebebasan yang absolut untuk beragama dan beribadah berdasarkan fakta yang logis adalah hal yang mustahil dalam sistim negara-gereja. Pemerintah kerajaan Roma terlalu absolut untuk membebaskan pengawasan terhadap agama, sehingga maklumat Constantine hanya berlangsung sementara saja. Selanjutnya, kekuasaan keuskupan bangkit masuk menyesuaikan diri dengan sistim monarkhi. Banyak uskup dan biarawan merupakan “orang yang berpakaian hitam, serakus gajah, dan yang tak terpuaskan hausnya, namun menyembunyikan sensualitas mereka dibawah kemuraman yang artifisial”.

Tetesan darah pertama dengan tuduhan bidat yang tumpah dari seorang tokoh Kristen dilakukan oleh Maximus, 385 AD., di kota Treves, Spanyol. Perbuatan ini disetujui oleh para uskup, kecuali gereja-gereja Kristen, namun mereka gentar ketakutan.>

Buku-buku untuk bacaan dan rujukan lebih lanjut:

Fisher, 45-48.

Schaff, II, 198-306.

John T. Christian, Baptism in Sculpture and Art.

Northcote dan Brownlow (Roman Catholics), Roma Sotterranea, 3 volume.

Philip Schaff, The Teaching of the Twelve Apostles.

The Ante-Nicene Fathers, diedit oleh Roberts dan Donaldson.

SEJARAH BAPTIS (Bag 1)

Filed under: BAPTIS — dedewijaya at 4:22 am on Wednesday, December 3, 2008

JEMAAT (GEREJA) PERJANJIAN BARU

Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan pekerjaan di atas bumi dan sebelum terangkat ke dalam kemuliaan, Ia memberikan amanat kepada murid-muridNya sebagai berikut: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28: 18-20). Sehubungan dengan amanat ini Yesus memberikan otoritas kepada jemaatNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.

Sebuah jemaat Perjanjian Baru adalah sekelompok orang percaya yang sudah dibaptis yang secara sukarela menggabungkan diri bersama untuk memelihara (mempertahankan) ordinansi dan pemberitaan Injil Yesus Kristus.

Karakteristik istimewa jemaat ini jelas membekas di dalam Perjanjian Baru.

Jemaat tersebut merupakan sebuah perkumpulan sukarela dan independen di antara jemaat-jemaat (gereja-gereja) lainnya. Jemaat tersebut bisa saja, dan dimungkinkan untuk berafiliasi dengan jemaat-jemaat lain di dalam hubungan persaudaraan; tetapi ia harus tetap independen dari segala campur-tangan luar, dan hanya bertanggungjawab kepada Kristus, yang adalah pemberi hukum tertinggi dan sumber dari segala otoritas. Dari sejak awal para pengajar dan para jemaat secara bersama-sama melaksanakan urusan gereja.

Dalam pengertian Perjanjian Baru, tidak ada organisasi yang merupakan sebuah Gereja (Jemaat) Umum atau Nasional, yang meliputi sebuah wilayah negara yang luas, yang terdiri atas sejumlah besar organisasi setempat (lokal). Jemaat (gereja) dalam pengertian alkitabiah selalu merupakan sebuah organisasi yang independen dan lokal. Gereja-gereja (jemaat-jemaat) yang bersaudara “dipersatukan hanya karena ikatan iman dan belas kasih. Independensi dan persamaan membentuk tubuh internal mereka” (Edward Gibbon, The History of the Decline and Fall of the Roman Empire, I, 554, Boston, 1854). Gibbon, yang selalu artistik dalam melakukan pembahasan, melanjutkan: “Begitulah lembutnya dan sama kedudukannya dimana orang Kristen diperintah lebih dari seratus tahun setelah wafatnya para rasul. Setiap kumpulan membentuk sendiri sebuah kelompok terpisah dan independen yang berasal dari, untuk dan kepada kepentingan mereka sendiri; dan bahkan bagian dari kelompok yang paling jauh inipun mempertahankan hubungan yang akrab, mutual (saling menguntungkan), mengadakan hubungan surat-menyurat dan utusan-utusan, kalangan Kristen belum berhubungan dengan kumpulan legislatif atau atasan apapun” (Ibid., 558).

Para pejabat gereja yang pertama, adalah para gembala, yang biasa disebut penatua (elder) atau penilik (bishop), dan kedua, para diaken. Mereka adalah para pelayan yang terhormat yang merupakan orang yang merdeka. Para gembala tidak memiliki otoritas yang lebih tinggi dari saudara-saudara yang lain, dan hanya karena pelayananlah, mereka memperoleh tingkat kehormatan yang baik.

Para penulis Episkopal yang kemudian, seperti Jacob dan Hatch, tidak mengambil sistim dari bentuk kepemerintahan alkitabiah yang mula-mula, namun selalu menyatakan bentuk kepemerintahan jemaat (yang mereka anut berasal dari jemaat) yang mula-mula, dan mengatakan bahwa episkopasi (kepenatuan/kepenilikan) adalah perkembangan yang kemudian. Di dalam Perjanjian Baru, penatua dan penilik merupakan nama berbeda untuk menggambarkan jabatan yang sama. Dr. Lightfoot, Penilik dari Durham, di dalam sebuah diskusi yang sangat melelahkan membahas tentang masalah ini, mengatakan:

Jelas, bahwa pada akhir Masa Kerasulan, dua golongan yang lebih rendah dari ketiga lapisan pelayanan tersebut benar-benar tidak dapat dipungkiri dan tersebar luas; namun bekas atau jejak episkopasi, demikian sebutan yang lebih pantas, sangat sedikit dan tidak jelas… Episkopasi dibentuk oleh golongan presbyterian untuk meninggikan posisi; dan gelar tersebut, yang tadinya biasa bagi semua orang, menjadi sebuah gelar yang bergengsi yang lebih tepat dikatakan sebagai pemimpin mereka (Lightfoot, Commentary on Philippians, 180-276).

Dean Stanley menggambarkan pandangan yang serupa. Ia mengatakan :

Sesuai ketentuan jemaat (gereja) yang tegas yang berasal dari jemaat mula-mula, hanya terdapat dua golongan, yakni penilik dan diaken (Stanley, Christian Institutions, 210).

Richard B. Rackham (The Acts of the Apostles cii), AD. 1912, berpendapat mengenai kata ‘penilik’ (episcopos):

Kita bisa langsung mengatakan bahwa belum diperoleh pengertian yang pasti seperti yang tercantum di dalam surat Ignatius (tahun 115 AD), maupun pada masa kini, yakni mengenai patokan tunggal mengenai kepenilikan. Dari Kis. 20: 28, Tit. 1: 6-7, dan dibandingkan dengan 1 Tim. 3: 2f, dapat kita simpulkan bahwa episcopos (penilik) jelas adalah sebuah sinonim dari kata presbyter (penatua), dan bahwa kedua jabatan tersebut adalah identik (sama).

Knowling (The Expositors Greek Testament, II, 435-437) meninjau tulisan semua ahli, Hatch (Smith and Cheetham, Dictionary of Christian Antiquities, II, 1700), Harnack (Gebhardt and Harnack, Clement of Rome, edisi revisi, 5), Steinmetz, dsb., menyimpulkan sebagai berikut:

Perikop yang satu ini (Kis. 20: 28) juga sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ‘presbyter’ dan ‘bishop’ pada mulanya secara praktis adalah identik (sama).

Jerome, pada akhir abad keempat, mengingatkan para penilik bahwa mereka menerima posisi yang lebih tinggi di atas para penatua, bukan karena institusi dari Allah seperti halnya dengan penggunaan posisi tersebut di dalam jemaat; karena sebelum pecah kontroversi di dalam gereja, tidak didapati adanya perbedaan di antara keduanya, kecuali bahwa presbyter (penatua) merupakan istilah yang berkenaan dengan usia, dan bishop (episcopos = penilik) merupakan istilah yang berkenaan dengan status (martabat) resminya; namun ketika manusia terdorong oleh Setan untuk mendirikan kelompok dan sekte dan bukannya hanya mengikut Kristus, kita sebut saja mereka kelompok Paulus, kelompok Apolos, atau kelompok Kefas, yang sepakat mengangkat salah seorang dari para penatua sebagai pimpinan dari penatua-penatua lainnya, sehingga di bawah pengawasan universalnya terhadap gereja-gereja, ia boleh membunuh benih-benih yang ingin memisahkan diri (Hieron. Comm. ad Tit. 1: 7). Para penulis agung dari Gereja Yunani setuju dengan Jerome di dalam mempertahankan identitas asli para penilik dan penatua seperti di dalam Perjanjian Baru. Mereka antara lain adalah Chrysostom (Hom.i. Ef. ad Fil. 1: 11); Theodoret (ad Fil. 1: 1); Ambrosiaster (ad Ef. 4: 11); dan kaum pseudo-Augustinian (Questions V et NT. qu. 101).

Terdapat dua ordinansi di dalam gereja yang sederhana pada masa itu, yakni Baptisan dan Perjamuan Tuhan. Baptisan merupakan pengakuan iman di dalam Kristus dari segi luarnya. Karena baptisan menyatakan sebuah kepercayaan di dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus, yang diikuti oleh kebangkitan semua orang percaya melalui Roh yang kekal.

Hanya orang percaya saja yang boleh dibaptis dan melalui sebuah pengakuan iman di dalam Yesus Kristus. Gereja/Jemaat terdiri atas orang-orang percaya atau orang-orang kudus. Di dalam Perjanjian Baru para anggota disebut sebagai “dikasihi Allah, yang dipanggil untuk menjadi orang-orang kudus”; dikuduskan di dalam Yesus Kristus”; “setia di dalam Kristus”; “dipilih Allah, kudus, dan dikasihi .” Syarat keanggotaan tersebut adalah pertobatan, iman, benar, dan diawali dengan baptisan yang melambangkan perubahan hidup.

Sehubungan dengan hal ini, menarik untuk dicatat bahwa semua Pengakuan Iman Pedobaptis (gereja yang melaksanakan baptisan bayi/kanak-kanak) hanya memasukkan orang-orang percaya di dalam definisi anggota jemaat yang sebenarnya. Definisi jemaat berikut ini dikutip dari Pengakuan Iman Augsburg dari Gereja Lutheran. Ia boleh dikatakan hampir mewakili yang lainnya. Pengakuan itu berbunyi:

Berbicara yang sebenarnya, bahwa gereja Kristus adalah sebuah jemaat anggota Kristus; yaitu orang-orang kudus, yang sungguh-sungguh percaya dan taat kepada Kristus sebagaimana mestinya.

Sedemikian universalnya definisi gereja ini di dalam semua Pengakuan Iman sehingga Kostlin, seorang Profesor Theologi di Halle mengatakan: “Pengakuan Reformed menggambarkan Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya atau orang-orang kudus, dan memelihara keberadaannya diatas pengajaran Firman yang murni” (Kostlin, Schaff-Herzog Religious Encyclopedia, I, 474).

Definisi di atas, diterapkan secara konsisten, tidak termasuk baptisan bayi, karena bayi belum bisa percaya, yang di dalam Perjanjian Baru selalu merupakan sebuah prasyarat untuk dibaptis. Pengajaran Perjanjian Baru sangat jelas mengenai masalah ini. Yohanes Pembaptis memberi syarat kepada mereka yang akan dibaptis agar sudah bertobat, beriman, melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam kehidupan yang benar (Mat. 3: 2; Kis. 19: 4). Yesus melakukan pemuridan terlebih dahulu dan kemudian membaptis mereka (Yoh. 4: 1), dan memberikan perintah khusus bahwa pengajaran harus mendahului baptisan (Mat. 28: 19). Di dalam pengajaran para rasul, pertobatan mendahului baptisan (Kis. 2: 38); para petobat dipenuhi dengan sukacita, dan hanya orang dewasa saja (laki-laki maupun wanita) yang dibaptis (Kis. 8: 6, 8, 12). Tidak ada catatan atau kesimpulan yang mengimplikasikan bahwa baptisan bayi dilakukan oleh Yesus maupun rasul-rasulnya.

Ini secara umum diakui oleh para ahli.

Dollinger, seorang ahli Katolik, Profesor di bidang Sejarah Gereja di Universitas Munich, mengatakan: “Tidak ada bukti atau tanda-tanda di dalam Perjanjian Baru bahwa para rasul membaptis bayi atau memerintahkan bayi-bayi dibaptis” (John Joseph Ignatius Dollinger, The First Age of the Church, II, 184).

Dr. Edmund de Pressence, seorang Senator Perancis dan Protestan mengatakan: “Tidak ada fakta positif yang mendukung praktek (baptisan bayi) yang dapat dikemukakan dari Perjanjian baru; bukti-bukti sejarah yang dinyatakan tidak meyakinkan” (Pressence, Early Years of Christianity, 376, London, 1870).

Banyak penulis buku yang membahas baptisan bayi akan langsung menegaskan bahwa hal tersebut tidak disebutkan di dalam Perjanjian Baru. Disini hanya akan dikutip salah satu penulis tersebut. Joh. W.F. Hofling, seorang Profesor Theologi Lutheran di Erlangen mengatakan: “Kitab Suci tidak memberikan bukti sejarah bahwa kanak-kanak dibaptis oleh para rasul” (Hofling, Das Sakrament der Taufe, 99, Erlangen, 1846, 2 vol.).

Sedikit sekali ahli pada masa kini yang akan keliru mengenai masalah ini. “Encyclopedia of Religion and Ethics” yang diedit oleh Profesor James Hastings dan Profesor Kirsopp Lake dari Universitas Leyden mengatakan: “Tidak ada indikasi baptisan bayi di dalam Perjanjian Baru”.

“Real Encyklopadia fur Protestantiche Theologie und Kirche” (XIX, 403, edisi ketiga), ensiklopedi Jerman yang hebat, mengatakan:

Praktek baptisan bayi tidak dapat dibuktikan pada masa kerasulan dan sesudah kerasulan. Kita memang sering mendengar tentang baptisan seisi rumah, seperti di dalam Kis. 16: 34; 18: 8; 1 Kor. 1: 16. Namun perikop terakhir yang dikutip, 1 Kor. 7: 14, tidak mendukung anggapan bahwa baptisan bayi adalah suatu kebiasaan pada masa itu. Karena jika memang demikian tidak mungkin Paulus kemudian menulis “Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar”.

Kepala Sekolah Robert Rainy, New College, Edinburgh, seorang Presbyterian, mengatakan:

Baptisan mensyaratkan beberapa perintah Kristen, dan didahului dengan puasa. Ia menandakan pengampunan dosa masa lalu, dan merupakan titik balik kehidupan baru di dalam Kekristenan dan dengan inspirasi tujuan dan maksud Kristen. Ia merupakan ‘meterai’ seseorang yang tidak akan diganggu-gugat (Rainy, Ancient Catholic Church, 75).

Bentuk baptisan adalah masuk ke dalam air, atau menyelam ke dalam air. Yohanes membaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 5); dan ia membaptis di Ainon, dekat Salim “sebab disitu banyak air” (Yoh. 3: 23). Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 9), dan Ia “masuk ke dalam air” dan “keluar dari air” (Mat. 3: 16). Perikop-perikop simbolis (Rom. 6: 3, 4; Kol. 2: 12), yang menggambarkan baptisan sebagai sebuah penguburan dan kebangkitan yang dengan jelas menyatakan bahwa cara selam merupakan pelaksanaan baptisan Perjanjian Baru.

Istilah ini memang merupakan makna perkataan Yunani baptizein. Perkataan tersebut didefinisikan oleh Liddell dan Scott, yakni kosa kata sekuler Yunani yang digunakan di semua sekolah tinggi dan universitas, sebagai “menyelam atau di bawah air”. Seluruh pakar menyetujui pandangan ini. Prof. R.C. Jebb, Litt. D., University of Cambridge, mengatakan: “Saya tidak tahu apakah ada yang mempunyai wewenang dalam kosa kata Yunani-Inggris yang mengubah kata tersebut menjadi bermakna ‘memercik’ atau ‘menetes/mencurah/menuang’. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pengertian tersebut bukan berasal dari kata tersebut di dalam kesusasteraan Yunani” (Letter to the Author, 23 September, 1898). Dr. Adolf Harnack, University of Berlin, mengatakan: “Tidak diragukan bahwa baptisan berarti selam. Tidak ditemukan bukti bahwa kata tersebut mempunyai arti yang lain di dalam Perjanjian Baru dan di dalam kepustakaan Kristen yang paling lamapun” (Schaff, The Teaching of the Twelve, 50).

Dr. Dosker, Profesor Sejarah Gereja dari Presbyterian Theological Seminary, Louisville, mengatakan:
Setiap sejarawan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi yang lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun sejarah mengenai bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptizo berarti menyelam, baik di dalam kesusasteraan Yunani maupun dalam Alkitab bahasa Yunani, kecuali jika secara nyata menunjukkan pemakaian yang berubah makna (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176, Philadelphia, 1921).

Tidak ada yang lebih pasti daripada jemaat-jemaat Perjanjian Baru yang secara seragam melaksanakan cara selam.
Selanjutnya Perjamuan Tuhan menunjukkan kematian Juruselamat sampai Ia datang kembali. Ia merupakan sebuah peringatan kekal atas tubuh yang dihancurkan dan darah yang tercurah dari Tuhan yang telah bangkit. Di dalam Alkitab, Perjamuan Tuhan selalu didahului oleh pelaksanaan baptisan, dan tidak ada catatan mengenai orang yang mengambil bagian Perjamuan yang belum dibaptis sebelumnya. Bahwa baptisan harus mendahului Perjamuan Tuhan diakui para pakar dari semua kelompok.

Dr. William Wall menyimpulkan dari seluruh bidang sejarah yang membahas masalah ini ketika mengatakan: “Karena tidak ada jemaat yang pernah melaksanakan Perjamuan kepada orang sebelum mereka dibaptis… Sebab dari semua kemustahilan yang pernah terjadi, tak satupun yang pernah mempertahankan bahwa seseorang harus mengambil bagian di dalam Perjamuan sebelum ia dibaptis” (Wall, The History of Infant Baptism, I, 632, 638, Oxford, 1862).

Kaum Baptis selalu menuntut bahwa ordinansi tersebut merupakan simbol dan bukan sakramen (alat yang menguduskan). Memang itulah inti pendirian mereka.

Presiden E.Y. Mullins secara singkat menyatakan sejarah pendirian Baptis sebagai berikut:

Mereka memandang garis besar unsur-unsur rohani Kekristenan dengan semangat dan kejernihan yang tinggi. Sama pentingnya seperti semangat dan kejernihan bentuk-bentuk yang kelihatan dari luar. Bagi mereka kelihatannya pokok kehidupan Kekristenan seakan-akan tergantung kepada bagaimana mempertahankan unsur-unsur rohani dan seremonial di tempatnya masing-masing. Tentu saja sejarah Kristen meneguhkan pandangan mereka. Bentuk-bentuk dan upacara bagaikan tangga. Kita dapat naik dan turun di atasnya. Jika kita menempatkannya sebagai simbol, maka jiwa-jiwa hidup diatas kebenaran yang disimbolkan. Jika kita mengubahnya menjadi sakramen, jiwa-jiwa kehilangan pokok kehidupannya sendiri, yaitu perjamuan rohani dengan Tuhan. Suatu upacara agama yang bersifat luar melahirkan pengertian pokoknya dari konteks dimana ia ditempatkan, dari sistim umum dimana ia membentuk bagian. Jika sebuah upacara dibentuk dalam konteks sistim kebenaran rohani, ia dapat menjadi sebuah unsur yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kebenaran-kebenaran tersebut. Jika ia dibentuk didalam konteks sistim sakramen, ia bisa dan akan menjadi sebuah alat yang mengaburkan kebenaran dan memperhambakan jiwa. Persepsi nilai upacara sebagai simbol dan bahayanya sebagai sakramen inilah yang menjiwai kaum Baptis didalam pembelaan yang kuat terhadap penafsiran rohani atas ordinansi Kekristenan (McGlothlin, Infant Baptism Historically Considered, 7).

Gereja mula-mula merupakan badan-badan misi. Mereka diwajibkan untuk menyampaikan Amanat Agung yang diberikan Tuhan kita. Sebagai ketaatan kepada program misi yang direncanakan oleh Tuhan, murid-murid dalam beberapa generasi mengabarkan Injil kepada dunia-dunia yang dikenal.

Jemaat mula-mula pertama dibentuk oleh Yesus dan para rasulNya; dan setelah pembentukan jemaat yang pertama itu, semua jemaat (gereja) yang lain harus mencontoh jemaat tersebut. Jemaat-jemaat tersebut dibentuk untuk diteruskan di dunia ini sampai kerajaan-kerajaan di bumi ini menjadi Kerajaan Allah, digenapi di dalam Kristus. Nubuatan penuh dengan karakter Kerajaan Kristus yang kekal (Dan. 2: 44-45). Yesus menegakkan maksud yang sama di dalam jemaatNya dan menyampaikan janji tersebut kepada segala zaman. Ia berkata: “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16: 18). Kata jemaat disini tak diragukan lagi dipakai di dalam pengertiannya yang biasa dan literal sebagai sebuah lembaga lokal; dan satu-satunya perikop dimana hanya ditemukan di dalam Matius (18: 17), sehingga harus diberi pengertian yang sama. Banyak sekali pakar yang mendukung pendapat bahwa perikop ini merujuk kepada jemaat (gereja) Kristus yang lokal dan kelihatan (Meyer, Critical and Exegetical Handbook to the Gospel of Matthew).

Pengertian kritis atas kata tersebut tidak berbeda jauh dari pengertian ini (Thayer, Greek-English Lexicon of the New Testament, 197). Kata ‘jemaat’ digunakan oleh Tuhan dan para rasul tidak begitu bertentangan dengan Theokrasi Yahudi, seperti sinagoga Yahudi, karena sinagoga selalu bersifat lokal (Cremer, Biblico-Theological Lexicon of the New Testament Greek, 330-331). Katolik Roma selalu menolak eksistensi jemaat rohani yang universal (Alzog, Universal Church History, I, 108-109). Sampai pada Reformasi Jerman praktis tidak ada pengertian jemaat yang lain. Ketika Luther dan lainnya memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma, sebuah penafsiran baru atas perikop ini diterima untuk disesuaikan dengan pandangan yang baru; sehingga mereka meyakini bahwa Matius 16: 18 hanya menunjuk kepada kemenangan akhir Kekristenan. Namun jelas penafsiran ini jauh dari yang dimaksudkan oleh Tuhan.

Paulus menyampaikan sebuah janji yang besar: “Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Ef. 3: 21). Ellicott menerjemahkan perikop ini: “Kepada semua generasi dari zaman segala zaman.” Kemuliaan Kristus akan eksis dalam segala zaman didalam jemaat. Oleh karena itu, jemaat harus eksis dalam segala zaman. Bahkan orang-orang yang ditebus di dalam surga digambarkan didalam Alkitab sebagai sebuah jemaat.

Penulis percaya bahwa di dalam setiap zaman sejak Yesus dan para rasul, telah ada kumpulan orang percaya, jemaat, yang secara substansial mempertahankan prinsip-prinsip Perjanjian Baru seperti yang kini dinyatakan oleh kaum Baptis. Tidak ada rekayasa di dalam halaman-halaman ini yang meniru warisan para penilik, seperti yang direkayasa Katolik Roma, yang menelusuri kembali ke zaman para rasul. Rekayasa tersebut adalah “bekerja di dalam api untuk kesia-siaan belaka”, dan meneruskan sebuah pandangan yang salah mengenai sifat Kerajaan Kristus, dan kedaulatan Allah yang bekerja di atas bumi. Yesus sendiri ketika menjawab permintaan kaum Farisi yang ditujukan kepadaNya (Luk. 17: 20-24), membandingkan KerajaanNya dengan kilat, memancarkan sinarnya dengan kedaulatan tertinggi yang tak tertahankan dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain. Dan gambaran ini sesuai dengan urusan Allah di dalam kerajaan rohani. Dimanapun terdapat orang-orang yang dipilih Allah, maka ketika waktuNya tiba , Ia akan mengirimkan Injil untuk menyelamatkan mereka, dan jemat-jemaat yang sesuai kehendakNya akan diatur (William Jones, The History of the Christian Church, XVII, Philadelphia, 1832).

Perjanjian Baru mengakui kesederhanaan yang demokratis, bukan sebuah monarkhi yang hirarkhis. Tidak ada kekacauan, namun yang ada adalah pernyataan prinsip-prinsip yang kekal. Tidak ada isyarat yang menyatakan tidak adanya kesinambungan jemaat, tetapi adanya kesinambungan jemaat itu sudah pasti, namun penekanan kita adalah bahwa hal ini bukan merupakan perhatian yang dominan pada masa kerasulan. Penekanan tidak diletakkan kepada suksesi baptisan, atau golongan jemaat yang berdasarkan sejarah. Beberapa rasul merupakan murid dari Yohanes Pembaptis (Yoh. 1: 35), tetapi tidak ada catatan tentang pembaptisan yang lainnya, meski mereka telah dibaptis. Paulus, sang misionari besar, dibaptis oleh Ananias (Kis. 9: 17-18), tetapi tidak diketahui siapa yang membaptis Ananias. Tidak diketahui secara pasti asal-usul jemaat di Damaskus (Damsyik). Jemaat di Antiokhia merupakan pusat misionari luar yang besar, tetapi sejarah asal-usulnya tidak diberikan dengan jelas. Jemaat Roma telah ada ketika Paulus menulis surat kepada mereka. Kebisuan terjadi di seluruh Perjanjian Baru, namun terdapat semacam pengulangan yang konstan, keteguhan kepada doktrin-doktrin fundamental, dan sebuah pernyataan prinsip. Hal tersebut menandai seluruh masa kerasulan dan untuk hal tersebut, setiap masa sejak masa tersebut mempertahankannya.

Pengulangan tersebut diakui, bahkan juga ketika kesalahan diketahui. Murid-murid ingin Yesus menegur seseorang yang bukan pengikut Tuhan (Mrk. 9: 40), tetapi Yesus menolak melakukannya. Jemaat Korintus tidak sempurna di dalam melaksanakan perintah Tuhan dan di dalam kehidupan. Para pengajar Yudaisme terus menerus menodai Injil, dan Yohanes sang Penginjil, dalam hari-hari terakhirnya, memerangi kesalahan busuk, tetapi doktrin-doktrin agung tentang karya penebusan Kristus, percaya dan pertobatan, baptisan atas orang-orang yang sudah percaya, kemurnian jemaat, pembebasan jiwa, dan jaminan atas kebenaran-kebenaran, diakui dimana-mana. Kadang-kadang prinsip-prinsip ini ditentang dan orang yang mempertahankannya dianiaya, seringkali mereka ini dikaburkan; kadang-kadang mereka didukung oleh orang-orang yang tidak terpelajar, dan pada waktu yang lain didukung oleh para lulusan universitas yang brilian, yang seringkali mencampur-adukkan kebenaran dengan spekulasi-spekulasi filosofis; namun selalu, biasanya dibawah keadaan-keadaan yang sangat bervariasi, prinsip-prinsip ini muncul ke permukaan.

Gereja (jemaat-jemaat) Baptis memiliki ikatan organisasi yang paling ramping, dan kepemerintahannya yang kuat tidak berdasarkan pemerintahan mereka. Mereka seperti sungai Rhone, yang kadang-kadang mengalir sebagai sungai yang lebar dan dalam, namun kadangkala tersembunyi di dalam pasir. Namun meskipun demikian, ia tidak pernah kehilangan kesinambungan atau eksistensinya. Ia hanya tersembunyi selama suatu masa tertentu. Jemaat Baptis bisa menghilang dan muncul lagi dengan cara yang paling tidak dapat diduga. Penganiayaan dimana-mana dengan pedang dan api, dapat menyebabkan prinsip-prinsip mereka yang hampir punah menjadi tampil lagi, ketika dengan sebuah cara yang sungguh sangat ajaib Allah membangkitkan beberapa orang, atau sekelompok martir untuk menyatakan kebenaran.

Jejak-jejak kaum Baptis yang berabad-abad dapat dengan lebih mudah ditelusuri melalui darah daripada melalui baptisan. Ia lebih merupakan sebuah silsilah penderitaan daripada sebuah suksesi penilik; sebuah prinsip kemartiran, bukan sebuah keputusan dogmatik dari majelis-majelis; sebuah penghubung

kasih emas, bukan sebuah rantai suksesi besi, yang dengan sambil berusaha menggoyang mata rantai hubungannya kembali kepada para rasul, telah mengakibatkan sejumlah kaum Baptis yang protes diikat pada tiang pembakaran daripada menyatakan kebenaran Perjanjian Baru. Meskipun demikian, adalah suksesi kerajaan yang benar, bahwa di setiap masa kaum Baptis telah mendukung kebebasan bagi semua orang, dan mempertahankan bahwa Injil Anak Allah memerdekakan setiap orang di dalam Yesus Kristus.

Ó Hasan Karman, 2005

Buku-buku untuk bacaan lebih lanjut dan rujukan:

George P. Fisher (Congregationalist), A History of the Christian Church, hal. 1-44.

Philip Schaff (Presbyterian), History of the Christian Church, Vol. 1.

John Alzog (Katolik Roma), Manual of Universal Church History, 4 volume.

Thomas J. Conant (Baptis), The Meaning and Use of Baptizein.

John T. Christian, Immersion, the Act of Christian Baptism.

Edwin Hatch, The Organization of the Early Christian Churches.

Rudy Habibie dan Rudy Chaerudin, Sukses Mana?

Filed under: MOTIVATION — dedewijaya at 4:06 am on Wednesday, December 3, 2008

For your inspiration.
Cantik bukan segalanya. Pintar bukan segalanya.
Yang penting bagaimana cara kita memaksimalkan kelebihan dalam diri.

Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke jurusan Bahasa. Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi justru ke jurusan Bahasa.

Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum sekolah, beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi “budaya” kolonial Belanda. Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat2.

Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist, arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter dsb yang asyik dengan science di laboratorium(pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa). Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah ambil jurusan Kurikulum jadi patah semangat karena kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir
tidak ada hubungannya dengan kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah. Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin parlemen, kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P&K atau tenaga marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat ini, masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol. Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak tentang kesuksesan.

Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja mengadakan seminar anak-anak. Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi(Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.
- Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat dan bisa menjadi presiden.
- Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi
juara bulu tangkis kelas dunia.
- Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV
- Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan
dan punya banyak salon kecantikan di beberapa kota .
- Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering
tampil memandu acara memasak di TV.

Sewaktu Kak Seto bertanya “Rudy yang mana yang palingsukses menurut kalian?”
Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie”
Sewaktu ditanyakan “Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy Habibie?”
Anak-anakpun menjawab “Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi presiden, dsb”
Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana yang paling tidak sukses?” Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin”
Ketika ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan orang yang sukses?”

Anak-anakpun menjawab “Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak”
Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat
Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang
dari karya-karya besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan “enjoy”.
Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya. Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan juga orang tua/keluarga). Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan. Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai kesuksesan di “bidangnya”. Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih menyukai pelajaran menggambar dari pada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak
yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang
pintar menggambar/melukis. Anak-anak yang suka ngobrol,kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi politisi atau negotiator yang baik. Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa
yang ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat.
Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada kekuatan kita dari pada “wasting time” bersungut-sungut, hanya memikirkan kelemahan kita.

Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika.
Penyanyi tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

Kitapun meyakini bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

Sumber: Milist

PAHLAWAN-PAHLAWAN KRISTUS

Filed under: KHOTBAH — dedewijaya at 1:31 am on Monday, December 1, 2008
oleh:Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min.
Nats: 1 Tawarikh 11:10-12:33
Dalam suasana Natal ini sekali lagi saya mau mengajak kita membaca firman Tuhan dari 1 Tawarikh pasal 11 dan 12. Kalau saya bacakan bagian ini mungkin saudara akan segera tertidur karena ada begitu banyak nama-nama yang disebutkan dan sepertinya tidak ada cerita di sini. Tetapi kita akan melihat butir-butir mutiara yang begitu indah di dalam bagian ini.
Di sini tertulis, “Inilah kepala-kepala para pahlawan yang mengiringi Daud, yang telah memberi dukungan yang kuat kepadanya, bersama-sama seluruh Israel guna mencapai kedudukan raja dan yang mengangkat dia sebagai raja, seperti yang difirmankan Tuhan mengenai Israel..” Jadi jelas dia menduduki kedudukan raja seperti yang difirmankan Tuhan mengenai Israel . Pahlawan-pahlawan Daud yang ditunjukkan di sini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dengan jelas sekali berjuang mati-matian. Dengan lelah mereka berjuang untuk berperang dengan mempertaruhkan segala-galanya dan mereka tidak melihat ke kiri dan kanan. Inilah karakter-karakter di dalam diri pahlawan yang menyatakan bagaimana mereka berjuang dengan lelah di dalam mendukung Daud. Mereka berperang bagi Tuhan. Pertanyaan kita di sini, bagaimana pahlawan-pahlawan dengan karakter mereka ini?
1.Orang-orang yang gagah berani.
Sepintas lalu kelihatannya orang-orang yang mendukung Daud ini adalah orang-orang yang luar biasa, mempunyai suatu kemampuan yang luar biasa. Mereka sangat hebat, mereka terampil dan mereka sangat berani untuk berperang menerobos pasukan-pasukan musuh. Mereka bukan nekad, tetapi benar-benar mempunyai satu motivasi yang murni di dalam pelayanan. Mereka sungguh-sungguh mendukung Daud. Kenapa? Karena mereka tahu bahwa Daud ini adalah orang yang dipilih Tuhan, maka itu sebabnya mereka dengan berani mempertaruhkan segala-galanya untuk berjuang dan mempertahankan apa yang mereka yakini sebagai kehendak Tuhan.
Pada waktu kita memikirkan sifat yang seperti ini, di zaman ini di tengah-tengah tantangan yang kita sedang hadapi maka kita sekarang perlu berpikir di manakah sebenarnya orang-orang yang betul-betul sebagai pahlawan-pahlawan yang berani di tengah-tengah dunia ini? Di manakah pahlawan-pahlawan iman yang berkata sebagai orang Kristen yang benar-benar mempertaruhkan hidupnya berjuang bagi Tuhan, bukan menjadi orang Kristen yang hanya menikmati berkat-berkat Tuhan, tetapi menjadi orang-orang Kristen yang benar-benar tangguh untuk berperang? Di sini yang saya maksudkan dengan keberanian adalah dengan segala kemampuan yang ada pada kita yang berbeda-beda berani kita berikan demi untuk mendukung pekerjaan Tuhan yang kita mengerti sebagai satu kehendak Allah sesuai dengan firman-Nya. Maka itu sebabnya mereka menyatakan keberanian mereka. Di manakah pahlawan-pahlawan yang begitu berani?
Dari sejak dulu kita lihat memang pekerjaan Tuhan membutuhkan orang-orang yang mempunyai suatu niat dan hati yang berani berkorban. Omong kosong kita berkata kita berani berkorban diri, omong kosong kita mengatakan bahwa kita berani mengorbankan hidup kita jikalau apa yang Tuhan percayakan kepada kita tidak berani kita berikan untuk Tuhan. Di sini perlu kita pikirkan baik-baik pengorbanan Allah pada waktu memberikan Anak-Nya yang tunggal dengan luar biasa itu bukan diresponi dengan semacam perasaan yang emosional, dengan kita merasa begitu syahdu merayakan Natal, tetapi tidak ada hati yang terbakar untuk Tuhan. Itu omong kosong merayakan Natal .
2. Orang-orang yang berhikmat.
Kemudian kita melihat dukungan yang kedua dari pahlawan Daud di 1 Tawarikh 12:32 “dari bani Isakhar, orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat oleh orang Israel …” Inilah orang-orang yang bukan saja menyatakan keberanian mereka, tetapi ini adalah orang-orang yang Tuhan berikan hikmat untuk menilai zaman, untuk mengerti akan zaman ini dan tahu apa yang harus diperbuatnya. Ini penting sekali. Mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Kita ingat bagaimana Yesus Tuhan pernah mengeritik dengan tajam sekali dan berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Kamu dapat menilai bagaimana cuaca, hari akan panas atau akan hujan, tetapi kamu tidak dapat menilai zaman ini..” Tetapi orang-orang yang mendukung Daud ini hebat sekali, mereka menilai zaman dan tahu apa yang harus diperbuat. Berarti ada hikmat untuk mengerti di tengah-tengah situasi yang seperti ini apa yang harus kita perbuat. Situasi dunia belum pernah dan tidak akan pernah menjadi lebih baik, tetapi kita perlu tahu bukan hanya dengan keberanian, tetapi perlu tahu apa yang harus kita perbuat.
Orang-orang Kristen yang dibutuhkan pada hari ini adalah orang-orang Kristen yang mempunyai hikmat untuk mengerti dan tahu apa yang harus diperbuatnya di tengah zaman ini. Saudara mungkin berada di tempat ini merasa semuanya berjalan dengan aman dan baik, tetapi Kekristenan di seluruh dunia ini bukan berada dalam keadaan yang aman. Bagaimana kita sebagai satu bagian dari Gereja yang kudus dan am ini, satu Gereja di mana orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan harus mempunyai hikmat, bukan cuma berani. Karena hari ini ada banyak orang yang juga berani, ada banyak orang yang begitu bersemangat, tetapi sayang sekali tidak punya hikmat. Maka itu sebabnya Paulus berkata, “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang yang tidak bijaksana, tetapi hendaklah kamu jadi bijaksana. Jangan kamu menjadi bodoh dan tidak mengerti, tetapi mengertilah akan kehendak Allah.” Ini satu hal yang saya kira merupakan hal yang sungguh-sungguh serius sekali. Perhatikan ini adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mereka berani berjuang, inilah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan mempunyai hikmat, tahu apa yang harus diperbuat. Sayang sekali kalau saya harus berkata, banyak orang Kristen di Indonesia ikut kebaktian ramainya bukan main, tetapi maaf kalau saya berkata terlalu banyak yang bodoh, tidak mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Rasanya puas bagi diri sendiri, mempunyai banyak pergumulan lalu datang kebaktian merasa diberkati, senang dan ada damai lalu pulang, kemudian berhenti sampai di sana . Kalau Yesus lahir hanya untuk kepentingan diri kita sendiri diselamatkan, kalau Yesus lahir hanya supaya kita menikmati kehidupan ini dan merasakan berkat-berkat- Nya, alangkah malangnya kita ini dan alangkah tidak bernilainya kelahiran Kristus. Yesus lahir untuk keselamatan dunia ini. Kita mendapatkan keselamatan itu, kita juga terpanggil untuk supaya menjadi berkat bagi banyak orang. Menilai zaman ini dengan hikmat dan bukan dengan bodoh. Bukan sekadar dengan semangat yang berkobar-kobar tetapi dengan hikmat untuk tahu apa yang harus diperbuat.
Saya mau menantang saudara untuk berpikir apa yang harus saudara perbuat bagi zaman ini bagi gereja saudara dan bagi kehidupan saudara. Apa yang harus saudara perbuat? Jangan cuma datang ke gereja hanya untuk berdoa minta usaha supaya lebih baik. Jangan datang ke gereja dan berdoa minta Tuhan memberkati diri saudara, hanya itu yang saudara doakan. Tetapi hendaklah mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan di tengah-tengah zaman ini. Tuhan membutuhkan orang-orang seperti ini.
3. Orang-orang yang tidak bercabang hati.
Dan yang ke tiga dari pahlawan-pahlawan ini ada di 1 Tawarikh 12:33, “..dari Zebulon orang-orang yang sanggup berperang dengan berbagai senjata, 50.000 orang yang siap memberi bantuan dengan tidak bercabang hati.” Betapa luar biasa kerajaan Daud ini, didukung oleh orang-orang yang berani, tetapi bukan orang-orang bodoh. Orang-orang berani tetapi juga berhikmat yang tahu apa yang harus diperbuat dan sekarang mereka dilengkapi dengan orang-orang yang tidak bercabang hati. Ada integritas yang jelas sekali dalam kehidupan mereka. Kesetiaan, loyalitas yang tidak bercabang hati, siap memberi bantuan, siap untuk melayani, siap untuk melakukan kehendak Allah. Ini adalah yang dikatakan di sini. Betapa indahnya tonggak-tonggak di dalam kerajaan Daud. Mereka mendukungnya dengan keberanian, hikmat bijaksana, dan betul-betul dengan tidak bercabang hati. Bagi saya hal yang ketiga ini serius sekali. Terlalu banyak orang-orang yang berkata sebagai orang Kristen tetapi bercabang hati. Di manakah pahlawan-pahlawan Kristus yang tidak bercabang hati pada zaman ini? Itu yang Tuhan butuhkan. Bercabang hati adalah hal yang menjadi kebencian bagi Tuhan. Yakobus berkata, “sucikan hidupmu, kuduskan hatimu dan jangan bercabang hati.” Di tengah-tengah tantangan dunia ini terlalu gampang kita kemudian punya hati bercabang. Di tengah-tengah merayakan Natal sekalipun banyak kali kita bercabang hati. Bukan untuk kemuliaan nama Tuhan tetapi untuk kenikmatan kita sendiri. Di mana integritas Kekristenan kalau demikian?
Daud didukung oleh orang-orang yang luar biasa, yang tidak bercabang hati, siap memberikan bantuan kapan saja diperlukan dan mereka melakukannya dengan tidak bercabang hati. Mengapa? Karena mereka tahu Daud adalah raja yang diurapi oleh Allah. Mereka tahu kerajaan Israel itu adalah seturut dengan kehendak Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang dan di situlah mereka mengambil bagiannya. Dan kenapa mereka begitu berani? Satu ayat kunci yang kita baca tadi: Tuhan yang memberikan mereka kemenangan. Bukan soal mereka, tetapi di sini Tuhan memberikan mereka kemenangan yang besar. Mereka tahu mereka itu disertai oleh Tuhan. Dalam Yesaya 9 yang kita baca tadi jelas sekali terlihat theological connectionnya, “…kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini..” Di sini bukan soal cemburu yang kita mengerti, tetapi gairah dan semangat yang luar biasa, keinginan yang dalam yang dinyatakan Tuhan yang akan menggenapkannya. Daud sebagai raja didukung, dan Allah menggenapkan rencana keselamatan melalui siapa? Jelas sekali melalui Anak Daud itu yang dijanjikan di sini dan kerajaan-Nya yang tidak berkesudahan di sini ditujukan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Kecemburuan Tuhan Allah sendiri yang akan menggenapkannya. Dan kerajaan Daud itu menuju kepada kerajaan Allah, Yesus sebagai Raja dan itulah yang kita rayakan, Yesus yang bukan lagi di palungan tetapi Yesus sebagai Raja di dalam kerajaan Allah yang oleh kecemburuan Tuhan itu digenapkan. Betapa kita lihat satu hal yang luar biasa. Kalau orang-orang ini bisa setia kepada raja Daud, di sini ada Raja yang di atas segala raja yaitu Yesus Kristus. Kalau mereka boleh setia kepada Daud, berapa banyak orang-orang Kristen yang kemudian boleh setia kepada Tuhan, Raja yang di atas segala raja.
Kemudian kita lihat yang terakhir, cerita tadi kita lihat sebagai satu perenungan, bukan penafsiran. Waktu itu Daud merindukan air yang ada dari sumur Betlehem. Daud pada waktu itu seperti sedang homesick, seperti kita bicara mau makan soto Sulung yang di Surabaya . Orang yang sudah lama di luar negeri mulai pikir rujak cingur yang ada di Malang itu enaknya bukan main. Yang lain sudah mau pulang ke Jakarta berpikir, bakmi Gajah Mada itu enak sekali. Daudpun demikian. “Oh alangkah indahnya kalau ada orang yang mengambilkan air dari sumur yang di Betlehem itu.” Padahal orang Filistin ada di sana . Pahlawan-pahlawan ini tidak ada yang mengkomando. Mereka terobos pertahanan orang Filistin, ambil air itu demi Daud dan membawanya kepada Daud. Tetapi Daud tidak berani minum. “Bagaimana aku minum air ini? Saya tidak layak menerimanya. Ini bukan air, ini darah.” Dan ia persembahkan air itu kepada Tuhan. Kenapa? Yang layak menerima korban seperti ini, Daud tahu, bukan aku tetapi Dia yaitu Raja yang di atas segala raja, yang lahir di Betlehem. Dialah yang layak untuk menerima segala sesuatu itu. Dan kalau Daud mengatakan, oh betapa rindu aku untuk minum air dari Betlehem itu, apa kata Tuhan Yesus? “Barangsiapa yang haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Yesus memanggil. Tetapi pertanyaannya, berapa banyak orang yang bisa datang ke Air yang Hidup itu? Bagaimana mereka bisa datang kalau tidak ada orang yang membawanya? Di manakah pahlawan-pahlawan iman yang seperti pendukung Daud, bisa membawa orang datang kepada Air Hidup itu? Kita tidak perlu menerobos tentara Filistin untuk mengambil air, tetapi kita dibutuhkan sebagai orang-orang yang akan membawa orang lain kepada Kristus yang berkata, barangsiapa haus baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Pada waktu saya merenung sampai di sini hati saya tergugah. Di hadapan Tuhan saya menangis, dan hati saya memang bertanya, di tengah sekian banyak orang yang berteriak haus di tengah dunia ini, yang tidak punya pengharapan, di tengah-tengah orang yang sedang minum air mata dalam pergumulan kehidupan ini, di manakah pahlawan-pahlawan Kristus yang rela berkorban membawa mereka kepada Air Hidup itu? Di manakah orang Kristen yang bukan cuma berpuas diri, tetapi rela dengan sungguh-sungguh, dengan berani dan tidak bercabang hati, dengan hikmat untuk membawa orang-orang itu datang kepada Tuhan. Yesus mengundang orang-orang datang kepada-Nya, tetapi pertanyaannya adalah: siapa yang membawa orang-orang itu? Siapa yang rela menembus tantangan untuk membawa orang-orang itu kepada Tuhan? Itulah pertanyaannya bagi kita. Saya berkata hari ini, omong kosong kita bicara Natal , kalau Natal itu tidak menjadi bagian bagi orang lain. Kalau kita kemudian tidak membawa arti Natal Air Hidup itu bagi orang lain. Kalau kita tidak bisa bawa orang lain datang kepada Tuhan Yesus maka kita tahu Natal tidak ada arti apa-apa lagi. Kalau pahlawan-pahlawan itu bisa mendukung Daud, di manakah pahlawan-pahlawan iman pada hari ini? Saudara dan saya untuk rela membawa orang-orang yang haus, dapati mereka, yang sedang minum air mata menghadapi Natal untuk mereka datang ke Air Hidup, menerima-Nya, dan mempunyai hidup yang berkelimpahan. Betapa manisnya Natal itu kalau didukung oleh orang-orang yang sungguh sebagai pahlawan-pahlawan di dalam Tuhan. (Kz)
Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Buby N. Ticoalu di Kebaktian Natal di Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Sydney, Australia tanggal 7 Desember 2003.
Profil Pdt. Dr. Buby N. Ticoalu:
Pdt. Buby N. Ticoalu, D.Min. adalah Dosen Theologi Praktika dan Perjanjian Baru di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dari SAAT Malang; Master of Arts in Religion (M.A.R.) dan Doctor of Ministry (D.Min.) dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.
Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio
“”Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”
(1Sam. 16:7b)

BERITA MINGGUAN WAY OF LIFE

Filed under: News — dedewijaya at 12:51 am on Monday, December 1, 2008

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary (GITS) Jak-Ut

HOMOSEKSUAL NGAMUK

Setelah diluluskannya undang-undang Proposition 8 di Kalifornia, yang
melarang pernikahan homoseksual, para homoseks mempertunjukkan semangat anti-Kristen mereka yang tidak toleran. Pada tanggal 16 November, ada demonstrasi di 300 kota di seluruh Amerika. Dengan memfitnah keyakinan
Kristiani melawan homoseksual sebagai “kebencian,” para pemrotes membawa
berbagai papan yang bertuliskan “Don’t Spread H8.” Para pemrotes terkadang
menggunakan kekerasan dan menargetkan orang-orang Mormon, Gereja Katolik, Injili, Pantekosta, dan yang lainnya yang mendukung pelarangan itu. Para homoseks mengklaim bahwa kasus mereka adalah kasus hak asasi, dengan slogan-slogan seperti “Gay adalah kulit hitam yang baru,” walaupun
sebagian besar orang kulit hitam dan Hispanik mendukung larangan
Kalifornia atas “pernikahan” sama jenis. Beratus-ratus aktivis homoseksual
yang ganas menargetkan gereja Rick Warren Saddleback Church pada tanggal 9
November, walaupun dia dan istrinya telah sengaja menyatakan “toleransi”
mereka akan kerusakan moral para homoseks dan juga menyatakan sedia untuk bekerja dengan mereka untuk membangun “kerajaan Allah.” Cindy Gorman,
seorang resepsionis gereja tersebut mengatakan bahwa ia menerima lusinan
telpon yang marah-marah dan yang mengancam. Mereka mengatakan, “Kalian
dalam bahaya” (”Homosexuals Protest Warren’s Church,” CNSNews.com, 14 Nov. 2008). Dalam sebuah protes di Palm Springs, California, seorang wanita 69
tahun yang memikul sailb Styrofoam diludahi dan dipukul kepalanya. Salib
itu dirobek dari tangannya dan diinjak-injak hingga hancur. Insiden ini
tertangkap oleh video dari KPSP-TV-Chanel 2, yaitu afiliasi CBS di Palm
Springs, dan dimasukkan dalam YouTube (Ibid., CNSNews.com) . Wanita itu
memberitahu koran Desert Sun bahwa “mereka seperti kumpulan anjing.”
Tanggal 14 November, beratus-ratus homoseksual menyerang sebuah grup
Kristen di Distrik Castro, San Francisco, sambil menyerukan kata-kata
kotor, menyiram mereka dengan kopi panas, memukul salah satu dari mereka
di kepala dengan Alkitab, menendang mereka, dan mengancam akan membunuh mereka (”Sparks Fly as `Gay’ Activist Mob Swarms Christians,”
WorldNetDaily, 17 Nov. 2008). Para Kristen itu bahkan bukan sedang
berkhotbah, melainkan hanya berdoa dan menyanyikan himne. Pada tanggal 9
November, para pemrotes homoseksual yang berafiliasi dengan Bash Back,
mengganggu jalannya sebuah kebaktian di Mount Hope Church di Lansing,
Michigan, yang masuk denominasi Sidang Jemaat Allah. Para aktivis
(homoseks) tersebut membunyikan alarm kebakaran, menggantung banner dari
balkon, melempar selebaran dan kondom dan confetti, sambil meneriaki para
anggota jemaat, menampilkan sebuah salib merah muda yang terbalik, dan
menggunakan sebuah megafon untuk menyerukan slogan-slogan seperti “Yesus homo” (”Gay Rights Protesters Disrupt Sunday Service,” Lansing State
Journal, 12 Nov. 2008; “Gay Anarchist `Action’ Hits Church,” Lansing City
Pulse, 11 Nov. 2008). Dua orang lesbian berdiri di mimbar dan berciuman.
Para pemrotes lainnya, yang menyebut diri mereka sendiri sebagai “fags,”
lari bolak-balik di lorong gereja. Selebaran-selebaran yang mereka
lemparkan menyatakan, “Kami spesialis dalam mengkonfrontasi homofobia,
transfobia, dan sebuah bentuk opresi lainnya.” Departemen sheriff
berespons, tetapi seolah-olah tidak serius, sebagaimana tipikal dalam
kekacauan yang disebabkan oleh homoseksual; mereka tidak menahan
siapa-siapa atau mengajukan tuntutan. Jika orang Kristen yang melakukan
semua itu dalam sebuah rally homoseksual, maka anda bisa pasti mereka akan
ditangkap dan dituntut undang-undang “kebencian,” and media akan menyoroti kelakuan seperti itu di depan publik 24 jam sehari. Pada tahun 2004,
sebelas orang Kristen dalam organisasi Repent America ditangkap dan
dituntut dengan berbagai kejahatan, hanya karena mereka melakukan protes
terhadap sebuah “Outfest” (semacam festival) homoseksual di Philadelphia.

OBAMA MENOLAK DOKTRIN ALKITAB TENTANG NERAKA
Dalam sebuah wawancara dengan Cathleen Falsani dari Chicago Sun Times,
Barack Obama dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak membaca Alkitab
ataupun berdoa secara reguler. Ia curiga terhadap dogma dan kepastian, dan
merasa bahwa “agama paling baiknya harus disertai dosis keraguan yang
besar” (”Obama’s Fascinating Interview with Cathleen Falsani,” BeliefNet,
11 Nov., 2008). Ia percaya bahwa Yesus adalah seorang guru yang hebat,
bahwa dosa adalah “keluar dari jalur nilai-nilai pribadi saya,” dan bahwa
surga bisa saja “sekarang ini atau nanti.” Ia tidak “berani berasumsi tahu
apa yang akan terjadi setelah saya mati.” Walaupun ia mengklaim menolak
dogmatisme agama, tetapi ia secara dogmatis menolak doktrin tentang
neraka. Ia menolak “kepercayaan bahwa orang yang tidak menerima Yesus
Kristus sebagai juruselamat pribadi mereka akan pergi ke neraka.” Ia
mengatakan, “Saya sulit untuk percaya bahwa Allah saya akan memasukkan
empat per lima dunia ini ke dalam neraka. Saya tidak dapat membayangkan
Allah saya akan membiarkan seorang anak kecil Hindu di India yang tidak
pernah berinteraksi dengan iman Kristen untuk dibakar selamanya. Itu
bukanlah bagian dari kepercayaan agama saya.” Obama meninggekan pemimpin agama Hindu, Gandhi, sebagai “contoh hebat akan seorang rohaniwan yang
mendalam” dan mengatakan bahwa FoxNews dan acara bincang-bincang radio
“kadang-kadang berbahayan.” Barack Obama adalah presiden Amerika pertama
yang beraliran New Age. Oleh sebab itulah ia didukung oleh Oprah Winfrey
dan dalam pidato penerimaannya ia berbicara penuh dengan filosofi New Age.
Tak diragukan lagi, ia akan membawa kemajuan bagi segala gerakan
anti-Kristen, termasuk homoseksualitas, environmentalism, feminisme,
aborsi, globalisme, sosialisme, dan Islam. “Toleransi” yang dia bawakan
merangkul semua pihak kecuali orang-orang percaya Alkitabiah, dan
ketidaksukaannya akan dogmatisme ternyata tidak berlaku bagi dogmatisme
menolak pengajaran-pengajar an Alkitab.

« Previous Page