DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

BERLINDUNG DI BALIK PAYUNG FANTASI

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 9:07 am on Friday, February 27, 2009

Kepada Para Calvinis dan para murid Pdt. Stephen Tong

Teologi Reformed/Calvinis saya samakan dengan judul lagu “Payung Fantasi” yang dinyanyikan dengan nuansa Jazz yang kental oleh Shelomita and Opustre Big Band, liriknya adalah sebagai berikut:

Lenggang menorak menarik hati serentak Hei hei siapa dia

Wajah sembunyi di balik payung fantasi Hei hei siapa dia

Payung Fantasi arah ke mana dituju hei hei tunggu dulu

Bolehkah aku melihat sari wajahmu, bolehkan sayang?

Siapa gerangan dinda, bidadari dari surga

Ataukah burung kenari membawa harapan pelipur hati

Payung Fantasi menempeli sinar pagi hei hei cantik dia

Boleh kupandang wajahmu secantik bintang bolehkah kupandang?

Siapakah gerangan pula cend’rawasih dari bola

Ataukah si bintang siang pembawa pelipur rasa bahagia

Ketika membaca judul lagu ini, angan saya melayang memikirkan Teologi Reformed/Calvinis, saya tersentak dengan kata Payung Fantasi, seorang yang menganut Teologi Reformed/Calvinis bagaikan seseorang yang berlindung di balik Payung Fantasi. Karena “Payung Fantasi” maka orang yang berpegang teguh pada Teologi Reformed/Calvinis bagaikan percaya pada Filsafat Logis yang kait-mengait namun TIDAK BENAR pada kenyataannya karena menabrak ayat-ayat Alkitab dan mengabaikan ayat-ayat Alkitab serta menafsirkan secara salah ayat-ayat Alkitab yang lain, sehingga tidak menghasilkan harmonisasi dan satu penafsiran yang utuh dan benar dari semua ayat-ayat Alkitab.

Lewis Sperry Chafer, pendiri dan Rektor pertama Dallas Theological Seminary, salah seorang yang sangat merasa dari 5 point Calvinisme yang disebut TULIP, point ke-3 yaitu Limited Atonement adalah salah satu dari 5 poin Calvinisme yang paling sulit untuk dipertahankan sehingga banyak dari mereka membuang poin ini dan menjadi Four-points Calvinist, karena terlalu sulit bagi mereka untuk melawan terlalu banyak ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus Kristus menebus dosa semua manusia.

komentar saya di beberapa milist yang tidak diapprove oleh Moderator milist “M” (beberapa milister bertanya dan meminta penjelasan, saya menjawab namun tidak diapprove, saya menyadari itu hak moderator)

Btw Jika anda TAHU KEBENARAN, anda dituntut juga untuk Hidup dalam KEBENARAN dan Mengajarkan KEBENARAN. Salam. Trims. I Have a Dream nya Martin Luther King Jr, sudah lumayan terpenuhi di USA apalagi Obama udah jadi Presiden. GBU Fren.

Saya mengikuti Seminar2 Calvinist yg diadakan MRII Yogja dan terlibat aktif dalam diskusi dan tanya jawab pada sesi pertanyaan, mulai dari Predestinasi, Amilenium, baptisan Bayi, dll. cukup banyak sumber di Internet dan buku2 Momentum yg bisa saya baca dan koleksi.

Dulu percaya TULIP, berasal dari gereja yg termasuk Pemuja Pak Tong (meski bukan GRII), lalu berubah percaya hanya point 1&5, lalu cuma percaya Point 5, lalu MENOLAK SEMUANYA setelah merasa diyakinkan dengan apa yg Alkitab ajarkan berbeda dari yg diajarkan para CALVINIS meskipun sama2 mengutip Ayat2 Alkitab yg dianggap mendukung pandangan CALVINIS. John CALVIN tidak pernah mengajarkan dan tidak pernah percaya LIMITED ATONEMENT berdasarkan kutipan Langsung Norman L Geisler dari buku John Calvin. jadi ngapain susah2 percaya TULIP kalo point 3 sudah TIDAK ALKITABIAH. kan TULIP itu rantai, kalo buang 1, putuslah semua. Gitu z kok repot.

Dr. Norman L. Geisler, sang Apologet, sudah memaparkan dengan sangat baik mengapa dia menolak 5 point TULIP yg TIDAK ALKITABIAH baginya.

saya bergumul cukup lama dengan KALVINISME, karena saya tahu ada orang2 Kristen yg hidupnya juga Menjadi berkat dan Tulus Hati. Namun coba pikir, jika suatu hari anda bisa diyakinkan bahwa KALVINISME baik Predestinasi ala John Calvin dan TULIP ala Para CALVINIS, ternyata TIDAK BENAR. apa yg bisa anda simpulkan?

Saya setuju dengan Dr. Laurence M. Vance, dalam bukunya THE OTHER SIDE of CALVINISM setebal hampir 800 halaman, bahwa KALVINISME adalah BIDAT TERBESAR sepanjang sejarah Gereja, karena hampir semua jenis aliran gereja tersusupi paham KALVINISME. Bayangkan ??? hampir semua gereja sudah tersusupi paham KALVINISME dan katakan ternyata SALAH TOTAL, gimana???

Wow bagi saya ini sungguh2 mencengangkan dan sangat mengkhawatirkan, dulu saya termasuk kategori yg setuju dengan kata orang2, TEOLOGI REFORMED/CALVINIS pasti Alkitabiah, kalo bukan Reformed/Calvinis berarti pasti tidak Alkitabiah, weleh2 nekad juga orang2/Teolog yg berkata sperti ini.

Kaum Baptis di USA juga disusupi paham2 Calvinisme, padahal secara Teologi sebenarnya jauh berbeda.

kepada teman2 di milist Sayap CALVINIS, mohon bersabar, sampai point TULIP selesai semua dibahas di milist ini atau bisa dibaca di blog saya (www.kristenfundamental.co.cc, www.dedewijaya.co.c, www.dedewijaya.blogspot.com).

Mari bagi teman2, baca saja dulu sajian CALVINISME dari kami, kalo perlu tonton dan download di YOUTUBE, 9 Video Apologet, Dr. Norman L Geisler tt “WHY I AM NOT A 5 Point TULIP CALVINISM” di http://www.youtube.com/watch?v=d9n_NUoslp0 ada 9 seri.

Mohon email2 saya di Approve sama Moderator, supaya tidak mis, kirain saya tidak menjawab pertanyaan email2 teman2.

Makin hari makin belajar Teologi & Alkitab, saya makin takut dengan pengajaran2 gereja2 hari2 ini,

www.kristenfundamental.co.cc

————————————————————————————–

For a brief assessment of Reformed theology, see

George W. Zeller, The Dangers of Reformed Theology (Middletown: The Middletown Bible Church, n.d.);

for a major critique, see

Good, Are Baptists Reformed?

The Other Side of Calvinism, Laurence M. Vance, Pensacola: Vance Publications, 2002

What Love Is This? Calvinism’s Misrepresentation of God, Dave Hunt, Sisters: Loyal Publishing, Inc., 2002

(istri Dave Hunt mengusulkan judul What Love Is This? Sedangkan tadinya Dave Hunt berpikir untuk memberi judul Calvinism’s Misrepresentation of God)

Chosen but Free, Norman L. Geisler.

Why I am Not Calvinist?

http://lionofjudah.tribulationforces.com/questionable/calvinism.html

for a comprehensive analysis of Covenant theology, see

Renald E. Showers, There Really is a Difference (Bellmawr: The Friends of Israel Gospel Ministry, 1990).

AMSAL 23:23Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

www.kristenfundamental.co.cc (memuat 25 artikel Doktrinal/Pengajaran Fundamental)

http://kristen-fundamental.blogspot.com (memuat 25 artikel Doktrinal/Pengajaran Fundamental)

www.wayoflife.org (Ribuan Artikel) dikelola DR. David Cloud

www.graphe-ministry.org (Website GBIA GRAPHE, bisa download JURNAL TEOLOGI BULETIN PEDANG ROH terbaru, dikelola oleh Gembala GBIA Graphe Suhento Liauw, D.R.E., Th.D dan putra beliau, DR. Steven Einstain Liauw, D.R.E. (Dekan Akademik Graphe International Theological Seminary = GITS atau STT Graphe, satu-satunya STT Fundamental dan paling Alkitabiah yang saya tahu hingga saat ini), pembicara seminar spesialisasi DOKTRIN, anda bisa membeli dan mempelajari buku-buku beliau dari web atau langsung datang ke gereja dan TB GRAPHE di Sunter Podomoro, JAKUT atau memesan via website, berikan juga komentar anda di Buku Tamu/Guest Book di website)

KESALAHAN TULIP: LIMITED ATONEMENT (Bag. 2-Ending)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 8:55 am on Friday, February 27, 2009

Argument Alkitab Kalvinis Berkenaan Dengan Limited Atonement

Rasionalisasi dari total depravity dan unconditional election Kalvinis merujuk kepada limited atonement, yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Kristus mati untuk sebagian manusia. Untuk menyokong argumennya, Kalvinis akan mencomot ayat-ayat untuk memaksakan pemahaman mereka, contohnya:
- Matius 1:21 “menyelamatkan umatNya
- Mat 20:28 “banyak orang
- Mat 26:28 “ditumpahkan bagi banyak orang”
- Yohanes 10:15 “nyawaNya bagi domba-dombaNya
- Kis 20:28 “bagi jemaat Allah
- Efesus 5:25 “jemaat
- Ibrani 9:28 “Kristus menanggung banyak dosa manusia”

Setelah mencomot ayat-ayat di atas, Kalvinis akan berteriak dan menyatakan bahwa Kristus mati untuk sekelompok orang dan bukan untuk semua orang.

Pemahaman yang Alkitabiah:

Apakah di antara ayat-ayat di atas ada kata “hanya!” Tentu tidak ada! Di setiap ayat tadi tidak ada kata “hanya” Dengan demikian tidak tertutup kemungkinanYesus juga menebus semua orang. Dalam Matius1:21, ini mengacu kepada Israel bukan kepada orang pilihan. Domba itu selalu identik dengan Israel dan tidak semua Israel diselamatkan.

Galatia 2:19 “Sebab aku telah mati oleh hukum taurat untuk hukum taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus” Apakah penebusan hanya untuk Paulus saja? Tidak! Jadi logika pemaksaan dalam argumentasi alkitab versi Kalvinis ini salah dan tidak alkitabiah.

Jika kita mau membuka hati kita untuk mempelajari firman Tuhan dengan saksama, justru semua ayat di atas menguatkan argumentasi Kristus mati untuk semua manusia. Mengapa? Dari beberapa ayat yang dikutip tadi dikatakan bahwa Kristus mati untuk umatNya, darahNya ditumpahkan untuk banyak orang, nyawaNya bagi domba-dombaNya, bagi jemaat Allah, dan juga untuk Paulus, yang berarti Kristus mati untuk semua orang. Bukankah hal ini justru menekankan bahwa Kristus mati untuk semua orang?

Memang kata “banyak” belum berarti “semua” tetapi kata “banyak” dengan “semua” tidak harus bertentangan. “Semua” itu pasti banyak, tetapi kata “banyak” belum tentu semua. Analogi: Seorang guru berkata kepada murid-muridnya, “Besok semua remedial.” Lalu guru itu berkata kepada orang ketiga: “Besok banyak siswa yang remedial.”

Roma 5:15 “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya, atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” Kata “semua orang” sebenarnya “banyak orang”(πολλοι) yang bisa juga berarti semua. Roma 5:19 “jadi sama seperti ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” Kata “semua orang menjadi benar” memiliki pengertian yang sama dengan “banyak orang menjadi benar” dengan kata πολλοι. Jadi, manusia dibenarkan pada saat percaya kepada Yesus Kristus, maka kata”banyak” sama dengan semua orang yang telah percaya.

Masalah Kata “Dunia”

Menurut pemahaman Kalvinis kata dunia memiliki beberapa pengertian. Dengan mengutip Lukas 2:1 Kaisar mensensus seluruh dunia, tapi nyatanya hanya sekitar wilayah kekuasaan kaisar Agustinus saja dan tidak sampai ke daratan China. Jadi, kata “dunia” di dalam Alkitab memiliki beberapa pengertian, yaitu:
1. Dunia di sini adalah dunia orang pilihan.
2. Dunia, mengacu kepada dunia eskatologi, dimana seluruh dunia akan percaya kepada Yesus.
3. Dunia secara etnis, mengasihi “orang pilihan” dari segala etnis bukan Israel saja.
4. Dunia secara geografi, “orang pilihan” dari segala tempat.

Memang kata “dunia” bisa untuk beberapa pengertian. Tetapi bukan seperti yang Kalvinis paksakan, bahkan terkadang kata “dunia” mempunyai pengertian yang bertentangan dengan Allah. Dunia ini adalah dunia dalam pengertian umum, yang mana mereka (Kalvinis) menambahi kata “orang-orang pilihan” yang tidak ada dalam Alkitab. Ini adalah penambahan yang dilakukan oleh kelompok Kalvinis untuk memaksakan konsep mereka ke dalam Alkitab.

Pemahaman yang Alkitab Mengenai Kata Dunia

I Yoh 2:2 “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Ini adalah ayat yang menakutkan bagi Kalvinis secara khusus yang percaya Limited Atonement. Bukan dosa kita saja tetapi dosa seluruh dunia. Ada kontras antara kata “kita” dan “dunia.” Dengan demikian kematian Yesus Kristus adalah untuk orang pilihan dan orang lain.

Bagi Kalvinis ”kata “kita” di situ adalah hanya para rasul dan seluruh dunia adalah orang-orang percaya di dunia. Tetapi apakah benar kata “kita” hanya untuk para rasul? Secara konteks kata “kita” tidak mendukung konsep Kalvinis, karena dalam 1 Yoh 1:9 kata kita adalah untuk orang-orang percaya. 1 Yoh 1:10 juga menunjukkan “kita” adalah orang percaya.

Bahkan di dalam Surat 1 Yohanes kurang lebih ada sekitar 21 kali kata kosmos/dunia muncul, tetapi tidak ada satupun yang mengacu kepada orang pilihan. Justru kata “dunia” di sini lebih menekankan kontras rohani dengan system duniawi. Jadi apa alasan kita untuk percaya bahwa kata “dunia” dalam 1 Yoh 2:2 adalah untuk orang-orang pilihan? Apakah ini tidak lebih dari suatu pemaksaan konsep oleh Kalvinis? Jika telusuri lagi dalam Surat 1 Yohanes, terutama ketika kita membaca 1 Yoh 5:19 kata “dunia” jelas-jelas mengacu kepada orang-orang yang tidak percaya dunia ini berada di bawah kuasa si jahat”

Beberapa ayat yang menyatakan bahwa penebusan Kristus untuk semua manusia.

• Yesaya 53:6 “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”
• 2 Korintus 5:14 “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.”
• 1 Timotius 2:6 “yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.”
• 1 Timotius 4:10 “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.” Ayat ini secara gamblang menggambarkan penebusan dan aplikasi dari penebusan tersebut. Hal ini sangat jelas karena ada kontras yang begitu nyata antara semua manusia dan orang percaya. Kristus mati untuk semua manusia, tetapi aplikasi dari penebusan itu adalah ketika kita percaya.
• Ibrani 2:9 “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.”

Ayat-ayat yang Menyatakan Bahwa Kristus Mati untuk Orang-orang yang Akan Binasa

• Ibrani 10:29 “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina kasih karunia?
• 2 Petrus 2:1 ”Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.”

Kesimpulan:

Jika ada Kalvinis yang tidak percaya Limited Atonement untuk apa Allah pilih dan tentukan siapa yang masuk dan tidak ke dalam Surga? Dan bila ada Kalvinis tidak percaya poin Limited Atonement, maka ia menjadi tidak konsisten dengan poin-poin Kalvinis yang lain, TULIP. Bila Anda mempercayai bahwa Allah menebus semua manusia, maka poin Total Depravity dan Unconditional Election menjadi tidak sah atau tidak benar (tidak berlaku atau gugur) karena konsekuensi dari Total Depravity dan Unconditional Election adalah Limited Atonement. Ini adalah adalah sistem yang logis menurut Kalvinis tetapi bukan menurut Alkitab.

http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/limited-atonement-bag-2-end.html

KESALAHAN TULIP: LIMITED ATONEMENT (Bag. 1)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 8:55 am on Friday, February 27, 2009

Limited Atonement atau sering dikenal dengan penebusan terbatas adalah pemahaman Kalvinis yang percaya bahwa Yesus Kristus tidak menanggung semua dosa manusia karena sifat penebusan itu terbatas hanya untuk orang-orang pilihan. Mengapa? Karena ini adalah konsekuensi dari teori Total Depravity dan Unconditional Electionnya Kalvinis. Manusia yang total hancur, tidak bisa merespon dan tidak bisa percaya, maka dalam penyelamatan manusia, Allah harus memilih manusia tanpa melihat kondisinya (unconditional election) dan ternyata Allah hanya memilih sebagian dari manusia yang total inability itu sesuai dengan kehendakNya, yang mana Ia suka Ia pilih dan sebaliknya yang tidak disukaiNya dibiarkan masuk neraka. Akhirnya muncullah teori penebusan yang terbatas, yakni penebusan hanya untuk orang pilihan saja.

Beberapa hal yang harus diperhatikan berkenaan dengan Limited Atonement Kalvinis ini;

1. Limited Atonement tidak terlalu berpengaruh dalam sistematika teologi Kalvinis, asalkan tetap berpegang teguh pada poin kedua, Unconditional Election.
2. Kalau Limited Atonement salah, maka Unconditional Election menjadi kurang tajam.
3. Point Limited Atonement ini yang paling sulit mereka pertahankan. Banyak kalangan Kalvinis yang tidak mau memegang poin ini (kalangan Baptis Kalvinis, kecuali Kalvinis Reformed), karena banyak ayat yang mengatakan “kematian Yesus untuk semua manusia.”

Berikut saya akan menuliskan beberapa argument Kalvinis berkenaan dengan Limited Atonoment. Argumen ini akan dibagi menjadi dua bagian besar, yang pertama adalah argumentasi berdasarkan logis, dan yang kedua adalah argumentasi berdasarkan alkitab.

Argumen Logis:

1. Kalau Allah menebus semua manusia, seharusnya semua manusia selamat.
2. Kalau Yesus Kristus mati menanggung semua dosa manusia, dan ternyata ada yang tidak selamat, maka Allah tidak fair dan Allah telah menghukum 2 kali. Artinya dosa pertama sudah ditanggungkan kepada Yesus, tetapi pada akhir zaman manusia dihukum lagi di Neraka. Ini berarti 2 kali penghukuman.
3. Penebuasan kalian (non Kalvinis) adalah penebusan yang tidak menyelamatkan. Karena semua telah ditebus, tetapi ternyata tidak semua selamat. Selain itu, hanya bisa menyelamatkan kalau ada andil manusia untuk percaya.
4. Analogi Adam I dan Kristus sebagai Adam ke II. Adam jatuh dan semua keturunannya menjadi orang berdosa, bukan berpotensi untuk berdosa, tetapi menjadi orang berdosa. Demikian juga Yesus Adam ke-II bukan berpotensi untuk menyelamatkan, tetapi Ia menyelamatkan orang pilihan itu.
5. Apakah tidak percaya Yesus itu dosa? Bila ya! Bukankah Yesus telah menanggung semua dosa manusia termasuk dosa ketidakpercayaannya? Inilah alasan Allah hanya memilih orang-orang pilihan saja.

Jawaban untuk Argumen Logis Kalvinis

1. Satu hal yang gagal Kalvinis lihat dan tekankah adalah penebusan adalah satu hal dan aplikasi penebusan adalah hal yang berbeda. Singkatnya kita harus bisa membedakan antara penebusan dan aplikasinya.

Penebusan Kristus : Ketersediaan penebusan bersifat universal
Aplikasi : Bersifat pribadi, melalui percaya

Bagi Kalvinis tidak ada perbedaan antara Penebusan dan Aplikasi Penebusan. Tetapi apakah benar demikian? Ketika Tuhan Yesus tersalib, ia menyediakan keselamatan untuk dosa dunia (universal), tetapi untuk memperolehnya bersifat personal atau secara pribadi.

Sebab jika tidak ada perbedaan antara penebusan dan aplikasi untuk ‘orang-orang pilihan’ seharusnya waktu lahir mereka tidak terlahir sebagai orang berdosa karena sudah menerima penebusan dan aplikasinya. Bukan berarti saya percaya universalisme tetapi melalui hal ini saya ingin menekankan adanya perbedaan antara penebusan dengan aplikasinya.

Untuk lebih memahami hal ini kita dapat mengingat peristiwa domba korban ketika bangsa Israel akan keluar dari tanah Mesir.

- Menyembelih domba (penebusan)
- Menaruh darah di ambang pintu (aplikasinya)

Dari hal ini kita dapat melihat bahwa dalam Domba paskah penebusan dan aplikasinya berbeda. Sekalipun domba itu sudah mati, mereka harus mengoles darahnya di ambang pintu. Jika darahnya tidak di oleskan di ambang pintu, maka anak-anak pertama mereka akan binasa seperti bangsa Mesir. Ini tidak hanya berlaku untuk bangsa Israel saja, setiap orang yang tidak menghendaki anak sulungnya mati, maka ia harus memotong domba dan mengoles darahnya di ambang pintu. Sekalipun domba mereka sembelih, tetapi jikalau mereka tidak mengoleskan darah domba itu di ambang pintu anak-anak mereka juga akan meninggal. Namun setelah itu, ternyata banyak yang binasa ketika keluar dari tanah Mesir.

2. Kematian Kristus sama sekali tidak bergantung jumlah manusia. Analogi Kalvinis mengenai hal ini tidak benar. Satu hal yang harus kita ingat, analogi logika manusia belum tentu benar, karena kebenaran tidak hanya bergantung kepada logika. Logika memang bisa membantu dalam menemukan kebenaran, tetapi logika bukanlah sumber kebenaran. Bila bergantung pada analogi, maka ini bisa berakibat buruk, karena tergantung analogi siapa dan apa? Bisa saja kita ganti analoginya menjadi suatu ketersediaan bukan penghukuman. Misalnya analogi “ketersediaan” Allah menyedikan beras untuk semua orang agar tidak kelaparan, tetapi ada yang tidak mengambil beras, maka ia sendiri yang akan mengalami kelaparan dan Allah sama sekali tidak menghukumnya dua (2) kali.

3. Konsep penebusan kalian (non Kalvinis) tidak menyelamatkan karena aplikasi dan penebusannya itu terpisah? Penebusan Kristus memang tidak bergantung dari aplikasinya tetapi aplikasi adalah syarat supaya keselamatan untuk manusia. Analoginya tuan A memberi mobil kepada seseorang agar ia bisa bekerja (itu adalah anugerah dari tuan A). Ketika ia menerima mobil itu, maka saat itu juga ia memperoleh aplikasinya, yakni ketika ia menggunakan mobil yang sudah disediakan tuan A.

4. Ada perbedaan antara keturunan Adam I dan Adam ke II. Keturunan Adam I terjadi secara otomatis melalui persetubuhan manusia secara biologis, tetapi keturunan Adam ke II harus melalui kelahiran kembali, yakni percaya kepada Yesus Kristus.

5. Yesus mati untuk dosa ketidakpercayaan juga? Satu hal yang Kalvinis tidak tahu, bahwa: penebusan dan aplikasi itu berbeda. Bagaimana supaya dosa ketidakpercayaan itu ditanggung, maka orang tersebut harus percaya.

John Owen (Kalvinis) menyatakan: Orang-orang pilihan secara aktual diselamatkan → ditebus → dibenarkan saat Kristus disalibkan. Penebusan terjadi, bukan pada saat Allah membuka jalan agar mereka bisa lewat kalau mau atau seperti Allah membuka pintu supaya mereka bisa masuk bila mau. Tetapi Allah menyelamatkan mereka, karena Allah telah menentukan mereka selamat.

Jika yang diamini oleh Kalvinis benar, bahwa penebusan terjadi ketika Kristus mati, maka seharusnya semua orang pilihan tidak lahir dalam dosa. Lalu bagaimana dengan orang-orang Perjanjian Lama? Hal ini tidak dapat mereka jelaskan.

Jadi yang alkitabiah adalah penebusan dan aplikasinya berbeda. Ketika Kristus mati, Ia membawa penebusan untuk semua manusia. Namun aplikasi dari penebusan itu terjadi ketika manusia percaya kepada Tuhan sebagai satu-satunya juruselamat mereka.

Postingan selanjutnya akan membahas argumen alkitab kalvinis mengenai limited atonement

Sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/limited-atonement-bag-1.html

MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

Filed under: RENUNGAN — dedewijaya at 4:54 am on Wednesday, February 25, 2009

Salah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: “Jangan menghakimi!” Gereja-gereja Fundamental, seperti Graphe, sering dicap sebagai gereja yang “menghakimi gereja lain.” Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik salah dalam pengajaran keselamatan mereka, kita dituduh sebagai orang yang “sok menghakimi.” Atau ketika menunjukkan kepada seorang “hamba Tuhan” wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi “pendeta,” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain!”

Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah “menghakimi” dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:

1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi
Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus memberikan perintah tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

2. Arti Kata “Menghakimi”
Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.
Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Krino (dan kata-kata yang diturunkan darinya) terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menilai” (dari kata anakrino, 1 Kor. 2:15), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15).
Jadi, sebenarnya, “menghakimi” yang berasal dari kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”
Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi. ” Mereka sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi. ”
Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman. ” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman. ” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.
Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan) . Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu
Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal “menghakimi” adalah Matius 7:1, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.
Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:15). “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Hal ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.

Ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang yang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, “menghakimi” seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.
Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual) , orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.

Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.

4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman
Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata “menghakimi” adalah “memutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,” maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?
Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk “menyatakan kesalahan,” dan “menegor” (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.

Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:12-13).

Masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi/dinilai oleh orang percaya, karena “manusia rohani menilai segala sesuatu” (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi.” Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIM ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

by Dr. Steven E. Liauw (Buletin GITS)

AMSAL 23:23 Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.

KESALAHAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 5-Ending)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 4:47 am on Wednesday, February 25, 2009

Ayat-ayat Kalvinis yang berhubungan dengan Unconditional Election:

1. “Umat Allah” Kis 18:9-10

Argumen Kalvinis mengatakan bahwa Paulus menginjil di situ karena ada orang-orang pilihan di kota itu, jadi tinggal dikotbahin saja. Apakah benar demikian? Dikatakan bahwa mereka sudah menjadi umat Allah sebelum Paulus memberitakan Injil. Selain itu, jikalau mereka sudah pasti masuk Surga, bagaimana kalau Paulus tidak datang ke sana untuk memberitakan Injil? Jika kita pelajari dengan saksama, kata “umatKu”di sini bukan menunjuk kepada orang-orang yang belum percaya tetapi mengacu kepada orang-orang yang sudah diselamatkan, sebab di sana ada Akwila, Titius, Yustus, Krispus dan keluarga dan yang lainnya.

2. “Domba-domba Allah” Yoh 10:14-16,26

Dalam kacamata Kalvinis, kata “domba” merujuk kepada orang-orang pilihan.
Ada kesalahan besar yang dilakukan oleh Kalvinis dalam hal ini karena:
- Tidak ada penetapan siapa yang jadi domba dan siapa yang tidak jadi domba. Setiap orang yang mendengar suaraNya dan mengikutiNya adalah dombaNya.
- Selain itu, ada pengertian domba yang tidak mendukung konsep Kalvinis seperti yang tercatat dalam Matius 10:6, di mana “ada domba yang hilang.” Jika domba sama dengan umat pilihan, mengapa ada domba yang hilang? Apakah umat pilihan juga ada yang terhilang?
- Domba tidak mengacu pada umat pilihan, tetapi lebih merujuk kepada bangsa Israel. Selain karena ada domba yang hilang, ada juga domba yang dihancurkan seperti yang tercatat dalam Yehezkiel 34:16 “domba yang kuat dan gemuk akan Aku hancurkan” (ada kesalahan dalam penerjemahan LAI, LAI menggunakan kata Aku lindungi tetapi yang benar adalah Aku hancurkan.)

3. Masalah kata “memberikan,” dan “diberikan”

Yohanes 6:37,39 ”Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu dan barang siapa datang kepadaKu, ia tidak akan kubuang. 39 “dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”
Semua yang diberikan kepada Anak dalam kamus Kalvinis Allah pemilihan tanpa syarat (unconditional election). Pemahaman ini muncul karena Kalvinis tidak melihat dan mengartikan ayat ini dengan melihat ayat yang lain. Seperti ayat Yoh 6:40 “Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku bangkitkan pada akhir zaman.” Sangat jelas, bahwa orang yang diberikan Bapa kepada Yesus adalah orang yang percaya kepada Anak. Kalvinis selalu memaksa Alkitab untuk mendukung pendapatnya yang salah demi Augustinus dan John Calvin, “bapa” yang mereka anggap benar.

Yohanes 17:6,12 “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaKu dari dunia. Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu. 12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yakni namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam kitab suci.” Sangat menarik untuk dipelajari karena apa yang telah diberikan kepada Yesus ada juga yang binasa!

Selain itu, sangat jelas pasal 17 ini membahas mengenai kerasulan dan bukan untuk orang percaya, karena ada satu rasul yang binasa dan itu bukan untuk orang percaya. Karena konteksnya Yesus sedang berdoa kepada kedua belas rasulNya. Kata “mereka ini” mengacu kepada 12 rasul, dan lanjutan doa Yesus adalah untuk orang-orang hasil pemberitaan mereka.

“Dia yang yang telah ditentukan” dalam ayat 12 ini ada kesalahan penerjemahan. Kata ditentukan tidak ada dalam bahasa asli. Dalam bahasa Yunani απολυω (apoluo) artinya menghancurkan dan απολειας (apoleias), artinya kehancuran dan ό υίος απολειας (ho huios apoleias) artinya putra kehancuran. Selain dari dia adalah “anak kehancuran”harusnya timbul pertanyaan kenapa ia menjadi anak kehancuran? Karena ia (Yudas Iskariot) memang akan menggenapi hal negatif (menyerahkan Yesus) yang timbul dari hatinya sendiri, bukan Allah yang menentukan demikian dari semula sejak kekekalan. Sebab jika Allah telah menentukan Yudas untuk melakukan hal ini, maka seharusnya ia mendapat reward.


Konsep Pemilihan yang Alkitabiah

Alkitab memang mengajarkan tentang pemilihan, tetapi pemilihan yang bagaimana? Apakah sama dengan yang didengungkan oleh Kalvinis yang percaya bahwa pemilihan Allah adalah pemilihan yang tanpa melihat kondisi (pemilihan secara acak) ataukah pemilihan yang Allah maksudkan di dalam Alkitab adalah pemilihan yang bersyarat (conditional election).

Konsep pemillihan dalam Efesus 1:1-13

Salah satu ayat favorit Kalvinis masalah pemilihan tanpa melihat kondisi adalah Efesus 1:4. Dimana dikatakan bahwa Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Dalam pemahaman Kalvinis, manusia dipilih (1:4) ditentukan (1:5) sesuai dengan kerelaan kehendakNya (1:11) kemudian dimeteraikan Roh Kudus (1:13). Lalu Kalvinis akan berkata, bukankah di dalam satu perikop ini menunjukkan pemilihan yang unconditional?

Pemahaman yang Alkitabiah:

Dalam perikop ini memang ada konsep pemilihan, tetapi konsep pemilihan yang sama sekali berbeda dengan konsep pemilihan Kalvinis. Dalam pemandangan Kalvinis pemilihan bersifat unconditional sedangkan jika kita mempelajari keseluruhan Alkitab, maka kita akan menemukan konsep pemilihan yang Conditional. Begitu juga ketika kita mempelajari keseluruhan Efesus pasal 1 ini kita akan menemukan tema besar perikop ini adalah “Di dalam Kristus.” Yang adalah syarat mutlak di dalam pemilihan. Hal ini membuktikan pemilihan itu bersyarat (conditional) dan keselamatan itu bersyarat.

Dalam ayat 3 “dalam Kristus” semua berkat diperoleh “melalui Kristus” sebab di dalam Kristus Allah memilih.

Di dalam ayat 4 sangat jelas menekankan “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih…” Hal ini sangat jelas menekankan Allah memilih karena Kristus telah ada di dalam kita berbeda dengan konsep Kalvinis yang menyatakan bahwa Allah memilih supaya kita ada di dalam Kristus. Bahkan jika kita pelajari lagi ayat 4 kita akan menemukan bahwa tujuan utama di dalam pemilihan bukanlah untuk di dalam Kristus tetapi untuk menjadi kudus dan tak bercacat.

Singkatnya, ada syarat di dalam pemilihan, yaitu di dalam Kristus. Jika kita lihat secara konteks juga, terlihat jelas bahwa konsep di dalam Kristus lebih sentral dibandingkan konsep pemilihan. Ketika kita membaca ayat 13 kita juga akan menemukan bahwa pemeteraian Roh Kudus berlaku untuk orang yang di dalam Kristus. “Di dalam Dia (Kristus) kamu juga……Di dalam Dia (Kristus) kamu juga…..” Sangat jelas terlihat bahwa konsep pemilihan yang Alkitabiah adalah karena kita telah ada di dalam Kristus, bukan dipilih untuk ada di dalam Kristus, dimana tujuan dari pemilihan itu adalah supaya kita menjadi kudus dan tak bercacat.

Kalvinis akan berdalih dan menyatakan bahwa seseorang sudah berada di dalam Kristus sejak dunia belum dijadikan. Apakah benar demikian? Jika apa yang diyakini oleh Kalvinis ini benar, maka banyak orang pilihan yang terhilang, tersesat dan sebagainya. Selain itu, jika kita lanjutkan di dalam Efesus 2:1-3 kita akan melihat bahwa sebelum Paulus percaya ia adalah orang yang harus dimurkai, mati di dalam dosa. Paulus sendiri merasa diri bagian dari kebinasaan (lihat ayat 3). Tetapi setelah ia percaya, ia tidak ada lagi di bawah murka Allah.

Ayat yang berkaitan dengan hal ini adalah di dalam 2 Timotius 1:9 “orang pilihan ada di dalam Kristus sebelum permulaan zaman” Ayat ini menjelaskan Allah di dalam foreknowledge sudah menetapkan kasih karunia untuk setiap orang yang ada di dalam Kristus (bukan menetapkan orang untuk di dalam Kristus tetapi menetapkan kasih karunia untuk mereka yang berada di dalam Kristus). Sebab jika konsep Kalvinis benar, bagaimana dengan dosa Adam “bukankah mereka keturunan Adam yang berada dalam kematian? Bukankah Adam berada dalam bahaya kebinasaan?

Di dalam Roma 16:7 ”Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.” Menjadi kristen dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya adalah εν χριστο (enkristo) yang berarti DI DALAM KRISTUS. Jadi, Andronikus telah menjadi Kristen atau di dalam Kristus sebelum Paulus diselamatkan. Ayat ini membuktikan Paulus belum berada di dalam Kristus sebelum ia percaya. Intinya pemilihan itu harus ada di dalam Kristus.

Konsep Pemilihan dalam Roma 8:28-30

Roma 8:28-30 adalah salah satu perikop favorit Kalvinis di dalam mempertahankan iman mereka. Sekilas di dalam ayat-ayat ini seolah-olah ada mata rantai yang tidak terputuskan. Siapa yang dipilih ditentukan dari semula. Mereka dipanggil (tidak bisa ditolak) → dibenarkan (justification)→ dimuliakan (gloryrification). Skema besarnya adalah: Election → Predestination→ Irresistible Grace→ Perseverence.

Pemahaman yang Alkitabiah:

Dalam ayat ini kata προγινωσκω (proginosko) dalam bentuk tenses aorist (προεγνω) artinya”barang siapa yang telah diketahui dari semula” bukan dipilih sebelumnya tanpa kondisi. Jadi barang siapa yang percaya kepada Kristus, Allah sudah mengetahuinya dari semula karena Ia Mahatahu dan karena manusia (yang bersangkutan akan percaya kepada Kristus bukan karena Allah paksa tetapi yang timbul dari hati manusia itu sendiri). Untuk mengingat silahkan lihat pembahasan sebelumnya dalam Efesus 1 masalah DI DALAM KRISTUS!

Di dalam I Petrus 1:2 dikatakan, “Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita dan yang dikuduskan oleh Roh supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya…” LAI melakukan kesalahan terjemahan kata “κατα προγνωσιν-kata prognosin” (orang-orang yang dipilih) harusnya “menurut pengetahuan Allah yang semula.”. Jadi pemilihan yang alkitabiah adalah pemilihan berdasarkan pengetahuan Allah, bukan pemilihan yang tanpa syarat, acak, dan hoki-hokian. Suatu pemilihan yang berdasarkan pengetahuan Allah akan hal-hal yang akan terjadi.

Bagaimana dengan kata “menentukan menjadi anak-anakNya sesuai dengan kerelaanNya (ayat 11)? Bagaimana dengan II Timotius 2:9 “berdasarkan keputusan Allah, menurut kerelaan kehendakNya sebelum permulaan zaman” Permasalahan ini terjawab dalam I Korintus 1:21. Terlihat jelas bagaimana di dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

Yang harus dipahami adalah tidak ada masalah dengan konsep kerelaan, keputusan, kehendak, dsb. Namun yang harus diperhatikan bahwa adalah keputusanNya dan kerelaanNya bahwa setiap orang percaya pasti akan diselamatkan. Apakah Allah yang berdaulat tidak boleh berbuat demikian? Tentu saja boleh! Dan inilah kasih karunia Allah. Sebab jika Anda percaya tetapi Allah tidak memberikan anugerah, maka itu PERCUMA! Semakin kita mendalami kebenaran firman Tuhan, kita dapat melihat dan membaca dengan jelas bahwa konsep keselamatan jelas untuk setiap orang percaya. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa:
Keputusan Allah: Manusia akan selamat dengan percaya kepada Yesus Kristus
Kehendak Allah: Supaya semua manusia percaya kepada Yesus Kristus.
Perkenanan Allah: Supaya kita selamat dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Dalam hal ini terbukti bahwa Alkitab tidak pernah mengajarkan pemilihan yang unconditional. Dalam Yohanes 5:21 “sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya.” Anak menghidupkan barang siapa yang dikehendakiNya. Kata “barang siapa dalam hal ini adalah mereka yang “percaya kepadaNya.” Tentu Tuhan Yesus tidak akan sembarangan membangkitkan orang. Dia hanya membangkitkan siapa yang percaya kepadaNya. Jadi Yesus membangkitkan seseorang bukan tanpa kondisi atau unconditional seperti yang Kalvinis imani, tetapi dengan syarat, yakni percaya kepadaNya.

Konsep Pemilihan Tidak hanya untuk Keselamatan

Kata “pemilihan” tidak selalu untuk keselamatan, tetapi bisa juga untuk pelayanan. Contoh kasus dalam Matius 22:14 “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih” Sebenarnya Kalvinis tidak pantas memakai ayat ini. Sebab kalau Allah yang memanggil kenapa hanya sedikit yang dipilih? Bukankah dalam konsep Kalvinis dipilih dulu setelah itu baru dipanggil. Bukankah inilah pemahaman utama dari Irresistible Grace. Bila Allah telah memilih mereka dan menetapkan mereka seharusnya tidak bisa menolak panggilan itu karena mereka sudah ditetapkan untuk dipanggil. Tetapi mengapa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih? ANEH BUKAN MAIN!

Jika kita menelusuri keseluruhan Alkitab, tidak ada didapati satu ayat atau satu orangpun “dipilih untuk percaya.” Hal lain yang cukup menarik untuk dipelajari adalah urut-urutan konsep iman Kalvinis: Dipilih → dibenarkan → dilahirbarukan → percaya. Timbul pertanyaan manakah yang lebih dahulu, percaya kepada Tuhan baru Roh Kudus masuk ke dalam hati kita atau Roh Kudus sudah ada dalam hati kita baru percaya? Atau dengan kata lain percaya dulu baru dibenarkan atau dibenarkan dulu baru percaya? Jika kita melihat skema iman Kalvinis kita akan menemukan bahwa Roh Kudus ada dalam hati kita baru bisa percaya. Suatu konsep yang sangat bertentangan dengan Efesus 1:13, yaitu ketika kita percaya akan dimeteraikan dengan Roh Kudus. Saya percaya bahwa sebelum Roh Kudus masuk dalam hati manusia, Ia sudah bekerja dalam dalam kehidupan manusia, baik itu melalui penyataan umum maupun melalui penyataan khusus. Karena Tugas Roh Kudus salah satunya adalah menginsafkan dunia akan dosa (Yohanes 16:8). Tetapi Roh Kudus akan masuk ke dalam hati manusia ketika manusia itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya secara pribadi atau ketika kita percaya (Efesus 1:13).

Efesus 1:4 “Sebab di dalam Dia Allah telah memlih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya.” Kita dipilih di sini bukan untuk percaya, tetapi supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan Allah. Allah telah menentukan, bahwa barang siapa percaya akan diangkat menjadi anak-anakNya. Ini adalah berkat dari percaya. Allah tahu sebelumnya siapa yang akan percaya, maka Ia menjanjikan berkat-berkat yang merupakan efek dari iman percaya seseorang.

2 Tesalonika 2:13 “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai” Ayat ini sama sekali tidak Unconditional, sebab di dalamnya kita menemukan Allah memilih orang untuk diselamatkan dengan dua syarat, yaitu di dalam Roh yang menguduskan dan di dalam kebenaran yang kamu percayai. Kebenaran apa yang mereka percayai? Tentu kebenaran yang menyatakan, bahwa Kristus telah menebus dosa seisi dunia dan barang siapa yang percaya kepadaNya pasti selamat.

Roma 11:1-4 “umat yang dipilih” dalam ayat ini bukan berbicara masalah pemilihan keselamatan, tetapi merujuk pada pemilihan bangsa yang menurunkan Mesias. Suatu bangsa yang akan eksis sampai tibanya masa tribulasi. Apakah semua Israel akan diselamatkan? Tidak! Lihat dalam Roma 10:1-3 dan dalam Roma 1:7 “Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya” apa yang dikejar oleh Israel? Roma 9:31,32 “Tetapi: bahwa Israel sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidak sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan.” Israel mengejar kebenaran dengan melakukan hukum Taurat bukan percaya kepada Mesias yang Allah utus kepada mereka. Jadi mengejar dengan iman adalah untuk memperoleh keselamatan. Dalam ayat ini ada perbedaan perbuatan dengan iman. Menurut Alkitab iman itu bukan perbuatan, tetapi menurut Kalvinis iman itu adalah perbuatan sekalipun timbul dari pendengaran akan firman Kristus. Akibatnya mereka mengklaim bahwa orang yang percaya, yang bisa merespon atau orang yang dapat percaya mereka sebut synergisme. Ada Kalvinisme mengatakan, bahwa dalam hal iman manusia tidak ada andil sama sekali. Allahlah yang menaruh iman kepada orang yang Ia kehendaki secara unconditional supaya selamat. Jika demikian Allah jugalah secara aktif dan unconditional tidak memberi iman kepada orang yang Ia tidak sukai. Bila demikian siapakahkah yang salah bila manusia masuk neraka? Secara logika dan tata bahasa, jikalau mengikuti pemahaman Kalvinis, manusia masuk ke neraka adalah karena Allah tidak memberikan iman kepada manusia berdosa itu.

Saya percaya bahwa keselamatan itu dari Allah dan tanpa bantuan atau andil manusia. Manusia diperintahkan Allah untuk percaya atau meresponi keselamatan yang telah Ia sediakan dengan iman. Iman bukanlah perbuatan, tetapi dengan imanlah seseorang dapat dibenarkan Allah dan itu (iman) di hadapan Allah bukan sebuah perbuatan (Roma 4:1-5 ada pekerjaan yang bukan perbuatan, yakni Iman).

Galatia 1:15 ”tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya,” pemilihan dalam kandungan yang sama dengan Yeremia adalah pemilihan bukan untuk keselamatan, tetapi pemilihan untuk tugas pelayanan.

Hal yang membingungkan kalangan Kalvinis,

1. Apakah semua bayi yang meninggal sebelum akil baliq masuk Surga atau Neraka? Jika semua masuk surga, apakah dasar alkitabiahnya? Jika hal ini dikaitkan dengan konsep pemilihan dan reprobat? Apakah bayi orang pilihan masuk Surga, bayi yang bukan orang pilihan masuk Neraka? Jikalau demikian, berarti pemilihan itu bersifat kondisional. Mengapa? Karena bayi masuk bergantung kepada kondisi orangtuanya, apakah dia orang pilihan atau bukan?
2. Bagaimana dengan malaikat? Apakah ada malaikat yang terpilih dan malaikat non pilihan?

Dalam sistematika teologia Kalvinis malaikat dipercaya yang dipilih dan ada juga yang tidak. Tetapi dalam pemilihan malaikat sifatnya Supralapsarianisme. Yang menjadi permasalahan, banyak orang Kalvinis tidak berani berdiri dalam posisi ini.

Sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/unconditional-election-bag-5-end

MANUSIA AKHIR ZAMAN

Filed under: AKHIR ZAMAN — dedewijaya at 10:51 am on Monday, February 23, 2009

Kotbah Dr. Suhento Liauw
Minggu, 6 Juli 2003
Kebaktian Pagi
Nats: II Timotius 3:1-5

Saudara yang terkasih dalam Tuhan, Paulus menuliskan kepada Timotius mengenai ciri-ciri manusia akhir zaman. Mengapakah ada daftar yang sedemikian buruk mengenai manusia akhir zaman? Jikalau kita membaca perikop ini, saya dapat meraba apa yang Paulus maksudkan. Apakah penyebab utama sehingga manusia sedemikian rusaknya? Sebenarnya ada dua penyebab utama yang mengakibatkan mereka demikian. Penyebab yang paling dasar sekali adalah mereka tidak peduli pada hal-hal rohani. Mereka lebih memperhatikan dan menghargai hal-hal jasmani karena bagi mereka itu adalah segala-galanya.

Memang uang memegang peranan penting, tetapi jikalau kita menempatkan uang di atas hal rohani, maka kita sudah melakukan suatu kesalahan di hadapan Allah. Siapakah di muka bumi ini yang tidak memerlukan uang? Tidak ada seorang pun yang dapat lepas darinya. Siapakah orang di muka bumi ini yang berani berkata bahwa dia tidak memerlukan materi? Kita semua memerlukan pakaian, sepatu, dan berbagai materi lainnya. Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang tidak memerlukan materi. Tetapi persoalannya adalah ketika dua hal di hadapkan pada kita, pilihan kita akan mencerminkan isi hati kita.

Di akhir ayat kedua dikatakan bahwa manusia akhir zaman tidak mempedulikan masalah agama. Mereka tidak peduli mati masuk surga atau neraka. Padahal tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tidak pernah tidak mendengar ada orang yang meninggal atau tidak menyadari bahwa meninggal adalah sesuatu yang pasti. Kita satu kali pasti mati hanya kita tidak tahu kapan waktunya kita mati. Sementara itu Paulus kataka bahwa manusia akhir zaman tidak peduli sama sekali akan hal itu. Karena tidak peduli akan hal itu segala macam kejahatan mereka lakukan. Anggota jemaat kita, Saudara Fendi, ditabrak mobil, namun mobil tersebut pergi begitu saja. Fendi kemudian mengejarnya dengan tangan yang berlumuran darah. Namun apa yang terjadi? Ternyata yang di dalam mobil itu ada dua orang Kopasus. Yang aneh adalah bukannya mereka meminta maaf tetapi mereka meminta ganti rugi karena Fendi adalah Chinese. Sungguh bejat sekali. Tetapi Fendi mempunyai falsafah kekristenan yang baik sekali, ia berkata, “Tidak apa-apa karena uang itu akan mereka bawa masuk ke neraka.”

Manusia di muka bumi ini, jikalau ia tidak merenungkan masalah surga dan neraka, mereka bisa berpikir apa saja serta melakukan apapun. Seorang paman berusia 27 tahun membunuh keponakannya karena ibunya lebih memperhatikan keponakannya yang masih kecil itu dari pada dirinya. Itulah gambaran kehidupan mereka yang menyepelekan masalah rohani. Mereka mempunyai prinsip hidup buatlah apa yang disukai dan akibatnya tidak perlu dipikirkan. Merampok, memperkosa, mencuri lakukan saja. Paman yang membunuh keponakannya tidak menyesal dan berkata bahwa dia paling akan dihukum tujuh tahun penjara saja. Dari jawabannya dia mempunyai pemahaman bahwa membunuh keponakannya bukanlah sebuah kerugian besar karena hanya dihukum tujuh tahun saja.

Tersangka yang membunuh Teo Eloway, dituntut oleh jaksa tiga setengah tahun. Mungkin hakim bisa saja memutuskan dua tahunan saja dengan pertimbangan belum pernah dihukum dan punya anak istri dan lain sebagainya. Jikalau manusia itu tahu resikonya ringan dia berani berbuat apa saja. Tetapi mengapakah ada orang yang tidak berbuat kejahatan sedikitpun, sekalipun tidak mendapat ancaman di muka bumi ini? Karena dia tahu kebenaran firman Tuhan. Dia tahu jika dia berbuat jahat akan menghadap penghakiman. Saudaraku, kadang-kadang kita melihat kejahatan di kanan kiri kita, tetapi satu hal yang menghiburkan adalah karena Tuhan menyiapkan suatu penghakiman yang adil untuk kita. Karena dia adalah hakim yang adil.

Mengapakah orang Kristen dilarang untuk membalas kejahatan? Karena sikap kita yang tidak membalas kejahatan adalah sikap kita yang percaya kepada Tuhan. Mengapa rakyat Indonesia jika diperlakukan jahat langsung membalasnya tanpa melapor kepada polisi? Hal itu terjadi karena rakyat Indonesia tidak percaya dengan kinerja pemerintah mengadili dengan adil. Sama halnya prinsip itu diterapkan dalam kehidupan kita. Sehingga setiap perbuatan jahat maupun ketidakadilan yang menimpa kita, kita dapat berkata bahwa hal itu tidak mungkin akan luput dari penghakiman Tuhan. sebab walaupun pemerintah tutup mata, pendilan bisu dan tuli, pemuka agama acuh tak acuh, tokoh masyarakat apatis, kita masih mempunyai Tuhan yang adil. Seberapapun kita ditindas dan dianiaya, kita tetap bersandar kepadaNya karena kita tahu bahwa ada suatu penghakiman yang adil dari Tuhan.

Sejarah mencatat bagaimana gereja Katolik sudah membunuh annabaptis tak terhitung jumlahnya. Mereka dibakar, disalibkan, dikuliti, bahkan pernah di suatu masa, ada satu kampung yang disinyalir ada orang annabaptis di dalamnya, gereja Katolik memperintahkan untuk membunuh semua orang yang ada di kampung itu termasuk yang bukan annabaptis juga dengan suatu pandangan yang dicetuskan oleh uskupnya, “Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya!” Sehingga satu kampung dibantai semuanya. Mengapakah annabaptis tidak melawan? Mereka tidak melawan karena mereka percaya ada Allah yang adil. Mereka percaya ada pemerintahan yang kekal yang memiliki kekuatan tak terbatas yang pasti suatu hari akan menghakimi dengan seadil-adilnya. Percaya pada itu maka kita tidak melawan. Jikalau kita membalas, sebenarnya kita tidak percaya kepada Tuhan.

Jemaatku yang terkasih di dalam Tuhan, membaca list ini, manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Apakah yang dimaksud dengan orang yang beribadah secara simbolik atau lahiriah namun tidak menghayati kekuatan yang dijanjikan itu? Artinya, jikalau kita sungguh-sungguh mengerti bahwa Tuhan memberikan upah yang besar bagi yang sungguh-sungguh setia sampai mati, maka janji itu baginya tentu selalu terngian-ngiang terus. Hal ini tidak ubahnya dengan orang yang dijanjikan uang seratus juta rupiah untuk menjaga rumahnya selama satu bulan saja. Dia diperintahkan untuk mengatur dan membersihkan rumah itu serta menjaga rumah itu sebaik-baiknya. Tentu di dalam dia melakukan tugas itu, dia selalu teringat akan janji itu sehingga timbul suatu kerinduan yang sangat akan janji itu. Janji itu benar-benar dihayati olehnya maka dia akan menjaga rumah itu sebaik-baiknya. Di dalam Alkitab terdapat banyak janji, himbauan, dan dorongan dari Tuhan. Tetapi sungguhkah kita sedemikian menyakini apa yang dijanjikan Tuhan di dalam firmanNya? Ataukah kita hanya membaca sambil lalu tanpa menghayatinya. Inilah yang disebut dengan mereka yang memungkiri kekuatannya.
Contoh sederhana mengenai hal ini dapat kita temukan dalam Matius 6:25-34. Dikatakan bahwa:

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Pernahkah ketika kita membaca perikop ini kita meragukan janji Allah ini? Apakah janji itu dapat dipegang erat-erat? Tuhan mengatakan di bagian lain bahwa janji Tuhan itu seperti emas yang teruji yang dileburkan dalam tujuh kali dapur peleburan di tanah. Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya.
Memang benar bahwa hal-hal materi itu biasanya dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Tetapi yang ditekankan dalam bagian ini adalah dimanakah kita melabuhkan hati kita. Seandainya Anda disuruh untuk memilih antara masalah rohani dan jasmani dan Anda diharuskan memilih salah satu dari keduanya, apakah yang akan Anda pilih? Mungkin ketika hal ini ditanyakan di gereja semua akan menjawab bahwa mereka akan mengutamakan masalah rohani. Apalagi ketika baru selesai mendengarkan penguraian kebenaran firman Tuhan ini. Namun hal itu akan berbeda jika itu terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Pada saat itu manakah yang akan kita pilih?

Mengapakah kita lebih sering menggunakan hari Minggu sebagai saat untuk pindah rumah? Mengapakah banyak orang Kristen yang merasa adalah lebih baik pindah rumah pada hari Minggu dibandingkan dengan hari-hari lain? Mereka melakukan ini karena berpikir adalah sangat sulit untuk meminta izin dari pimpinan kantornya sedangkan Tuhan itu dapat dinomorduakan. Sehingga hari Minggu tidak kebaktian karena dia pindah rumah. Seolah-olah dia menganggap Tuhan itu lebih gampang. Tuhan disepelekan sama sekali. Jujur kata sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita lebih mengutamakan masalah jasmani dari pada masalah rohani dalam hidup ini. Memang dalam gereja semua angkat tangan ketika ditanyakan masalah ini. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari hal itu sangat berbeda. Urusan rohani dinomorduakan dan dianggap sebagai hal “cingcay” saja.

Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka itu beribadah namun memungkiri kekuatannya. Dalam arti kata mereka memang mempercayai Allah Mahakuasa, Allah adalah Pribadi tertinggi yang paling dihormatid dari segala-galanya, tetapi sebenarnya mereka memungkiri kekuatannya. Sesuatu yang sebenarnya sangat tidak mungkin.

Jemaatku, kadang-kadang kita perlu tenggelam dalam renungan, “Tuhan, sejak aku mengenalMu, sejak Engkau memperkenalkan kasih karuniaMu kepadaku, adakah aku makin hari makin mempercayaiMu? Adakah makin hari aku makin menghormati dan mengasihiMu? Tuhan, adakah kerohanian saya makin hari makin maju? Adakah keberanian bagiku untuk menjawab keinginanMu dalam hidupku. Adakah aku sungguh-sungguh untuk melayaniMu?”

Dulu saya mempunyai keinginan untuk menjadi orang kaya. Saya bekerja seperti orang gila saja. Anda dapat bayangkan, dari jam 7 pagi sampai jam 12 mengajar di SD Maranatha di Sintang. Setelah itu pulang ke rumah untuk makan kemudian buru-buru pergi kerja lagi di CV Pembangunan Jaya sampai jam 5 sore. Setelah itu pulang untuk makan malam dan mandi lalu pergi kerja lagi sebagai sales asuransi sampai jam 10 malam. Saat itu saya mulai berpikir bahwa Suhento pasti akan menjadi orang kaya. Saya mulai menabung supaya punya modal untuk membuka usaha sendiri. Saat itu saya sudah mempunyai modal yang lumayan besar. Saya bisa membeli Corolla DX seharga tujuh setengah juta karena saya mempunyai uang sembilan jutaan. Sampai suatu hari ada teman yang datang untuk meminjam uang dari saya dengan jaminan bunga yang cukup besar. Sebagai jaminan dia memberikan sertifikat rumahnya sebagai jaminan. Beberapa bulan kemudian ternyata dia kabur entah kemana namun itu tidak masalah karena saya memiliki serifikat rumahnya. Akhirnya kami pun pindah ke rumah tersebut. Belum lama kami tinggal di sana, tiba-tiba petugas bank datang untuk menyita rumah tersebut dan mereka juga mempunyai sertifikat atas rumah tersebut. Saat itu sangat sulit untuk menang perkara melawan bank akhirnya rumah itu pun disita oleh bank.

Hal itulah yang membuat kami duduk termenung berlinangan air mata. “Tuhan, sekarang Engkau mau kami berbuat apa?” Karena sebelumnya saya sudah sering berkotbah keliling dan akhirnya kamipun bertekad untuk menjadi hambaNya. Mulai saat itu saya mulai merenungkan hal ini. Saya mau mempercayai semua janji Tuhan. Bahwa janji Tuhan itu benar. Bukan masalah tidak perlu masalah materi, tetapi intinya mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya.

Dengan tanggungan dua orang anak saya memutuskan untuk sekolah teologi. Tanpa ada sponsor sama sekali dan tidak ada yang bisa dijadikan sandaran. Hanya bersandarkan pada janji Tuhan saja kami maju terus. Cobalah kita bertanya kepada diri kita sendiri, di dalam kita mengikut Tuhan, apakah makin hari kita makin maju. Pernahkah kita bertanya kepada Tuhan apakah yang diinginkannya di dalam kehidupan kita? Sebenarnya pengalaman saya bisa menjadi guru bagi Anda. Tidak perlu menunggu uang kita diambil orang barulah sadar. Ketika saya merenungkan hal ini, kadang-kadang saya tersenyum sendiri dan berkata, “Tuhan, kadang Engkau memimpin orang dengan membuatnya syok berat.”

Kasih karunia Tuhan begitu besar dalam hidup kita. Marilah kita semakin maju di hadapan Tuhan. Baik itu secara kerohanian kita, pemahaman kita, maupun kasih kita kepadaNya. Makin maju di dalam Tuhan ini dapat ditandai dengan makin mempercayai janji Tuhan dan memegang erat janjiNya. Semakin yakin jika kita berjalan bersama Tuhan pasti akan berjalan dengan baik. Tetapi itu bukan berarti kita lepas tangan. Paulus mengajarkan kepada kita melalui surat yang ia tuliskan kepada jemaat di Efesus, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” (Efesus 4:28) Jadilah orang Kristen yang mau bekerja dan mau menolong orang lain. Terapkan apa yang Tuhan Yesus katakan, lebih bahagia memberi dari pada menerima. Amin!

Sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/manusia-akhir-zaman.html

KESALAHAN TULIP: TOTAL DEPRAVITY (Bag. 3)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 10:48 am on Monday, February 23, 2009
Dapatkah Kalvinisme mengatakan, bahwa mereka adalah kelompok yang menjunjung Allah dan merendahkan manusia dengan konsep:

• Manusia tidak bebas berbuat baik
• Manusia tidak bebas percaya kepada Allah
• Manusia tidak bisa merespon kepada Allah

Bukankah konsekuensi dari konsep ini, bahwa Allah adalah Pribadi yang sangat bodoh:

1. Memberi perintah untuk memenuhi bumi ini kepada mayat.
2. Memerintahkan manusia untuk percaya, tetapi jelas-jelas manusia itu tidak bisa percaya karena mati secara rohani, tidak bisa merespon dantidak bisa percaya.
3. Meminta pertanggunganjawab kepada manusia yang mati, yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Bukankah Kalvinisme menempatkan Allah pada posisi yang sangat tidak sopan dan sangat menghina Allah karena ternyata Allah orang Kristen adalah Allah yang kurang kerjaan yang meminta pertanggunganjawab kepada mayat. Dapatkah Anda bayangkan bila Tuhan memberi perintah kepada mayat untuk: bekerja, beranak cucu, bertobat, percaya dan masih banyak lagi. Dan kalau manusia yang seperti mayat itu tidak melakukannya, maka Tuhan akan menghukum mayat-mayat yang tidak mengikuti atau melaksanakan perintahNya akan masuk Neraka.

Maukah Anda memiliki Allah seperti itu?

Untuk apa semua ayat yang ada dalam Alkitab menginstruksikan manusia untuk:

• Percayalah
• Bertobatlah
• Mari kita berperkara
• Kamu harus mempertanggungjawabkan
• Marilah datang kepadaKu (Mat 11:28)

Dalam pengertian umum, bebas itu minimal ada dua pilihan. Tetapi dalam pengertian Kalvinis bebas itu hanya bebas percaya, secara khusus kepada mereka yang sudah Allah pilih dari semula (kekekalan).

Padahal manusia bebas sebebas-bebasnya, tetapi dalam pelaksanaanya Allah dapat intervensi. Misalnya seseorang yang ingin meledakkan sebuah mall, dia bebas melakukannya, tetapi dalam hal ini Allah dapat mengintervensi supaya hal ini terjadi atau Allah tidak menginjinkannya.

Dalam pemahaman Kalvinis, manusia tidak mempunyai kehendak bebas yang berhubungan dengan keselamatan dan menuduh mereka yang menekankan manusia bisa beriman percaya keselamatan karena usaha. Padahal usaha tidak sama dengan iman.

Contoh: kita menerima rumah lengkap dengan segala perabotannya. Ketika kita menerimanya kita tidak berjasa(atau melakukan suatu usaha) tetapi itu adalah hadiah yang diberikan kepada kita sehingga kita layak untuk menerima kunci atau rumah itu.

Dalam Roma 9:16, bahwa benar kita selamat bukan karena usaha, dan perlu diingat percaya itu bukan usaha, tetapi sikap iman yang menerima anugrah keselamatan yang telah Allah sediakan. Ayat ini bukan dibuat percaya seperti yang diyakini oleh Kalvinis. Iman dan Usaha dalam Alkitab itu berbeda.

Dalam konsep Kalvinis iman adalah anugrah yang Allah berikan kepada manusia, bukan sesuatu yang timbul dari manusia sebagai respon dari pendengaran akan firman Kristus (Roma 10:17).
Roma 4:5 “Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.”

Yang tidak bekerja tetapi yang percaya kepada Dia dihitung Allah sebagai Kebenaran. Dalam ayat ini nyata, bahwa percaya itu bukan sebuah pekerjaan. Di sinilah salah satu kesalahan Kalvinis yang sangat fatal menyamakan Percaya/iman itu sama dengan usaha. Hal ini mengakibatkan Allahlah yang melakukan segala sesuatunya kepada manusia termasuk menaruh iman ke dalam hati manusia agar ia percaya. Bila tidak demikian, maka manusia itu tidak akan pernah dan tidak mungkin percaya.

Analogi-analogi yang sering Kalvinis pakai:

1. Allah Mahakudus, tidak bisa berbuat dosa. Allah hanya bisa berbuat yang baik karena memang itu sifatNya. Manusia berbuat dosa karena itu memang sifatnya. Maka kesimpulan Kalvinis adalah manusia tidak bisa berbuat baik dan tidak bisa merespon kepada Allah.

2. Adam pra-dosa bisa berbuat baik dan jahat (bebas), tetapi Adam memilih yang jahat. Adam kedua (Yesus) hanya bisa berbuat yang baik. Hal ini didukung oleh ayat-ayat: matius 7:17-18,”pohon yang baik menghasilkan buah yang baik dan sebaliknya. Matius 12:34-35, “orang yang baik mengeluarkan yang baik dari perbendaharaanya dan sebaliknya.”

Ini adalah analogi yang salah.

Adam dan Yesus. Bagaimana dengan orang yang percaya atau orang yang dipilih menurut konsep Kalvinis, apakah mengikuti Adam atau Kristus? Bila mengikuti Kristus, bagaimana dengan kehidupan Kristus. Apakah Ia pernah melakukan dosa atau kesalahan? Bila tidak! Maka seharusnya setiap orang pilihan tidak akan pernah sekalipun melakukan yang salah atau berbuat dosa. Tetapi adakah diantara Kalvinis yang berani mengatakan, bahwa ia tidak pernah melakukan kesalahan sekalipun? Ini mustahil dan tidak akan ada seorangpun yang lolos dari kesalahan.

Inilah yang menjadi kesimpulan Alkitab mengenai kebobrokan manusia:

Bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa dan memiliki posisi orang berdosa yang hatinya cenderung jahat (bobrok). Tetapi kebobrokan manusia ini tidak sampai membawa kepada ketidakmampuan total. Kebobrokan manusia masih bisa diimbangi dengan Kasih Karunia Allah melalui taurat yang di taruh Allah dalam hati manusia secara umum. Hal ini terbukti bahwa manusia yang tidak percaya kepada Kristuspun tidak dengan sembarangan melakukan hal yang jahat atau tindakan moralitas yang bejat. Hati nurani manusia masih hidup yang mencegah melakukan sesuatu yang jahat, baik di mata manusia maupun di mata Allah. Misalnya mencuri, memperkosa, membunuh, menipu dll.

Bukti manusia itu bisa berbuat baik adalah bukti kasih karunia Allah kepada setiap manusia. Kain anak Adam, manusia pertama menjadi contoh bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengalahkan dosa. Kejadian 4:7 “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan mata. Ia sangat menggoda engkau tetapi, engkau harus berkuasa atasnya.” Allah masih memberikan kasih karunia kepada manusia untuk melawan dosa. Ini adalah bukti nyata yang dilakukan oleh manusia yang tidak percaya kepada Allah.

Manusia yang tidak percaya kepada Tuhan dapat menimbang yang baik dan yang jahat dalam hatinya, ini sering disebut (Common Grace) atau Anugrah Umum. Dalam Yohanes 16:8-15 Allah memberikan Roh Kudus untuk menginsafkan dunia akan dosa. Dunia di sini mengacu kepada seluruh manusia yang berada di dunia tanpa terkecuali. Roh Kudus tetap bekerja sekalipun Dia tidak masuk ke dalam hati seseorang. Roh Kudus hanya mendiami hati orang yang percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat.

Kebobrokan yang Alkitab ajarkan tidak menghilangkan kehendak bebas manusia dan selalu ada pilihan. Kehendak bebas yang sejati memiliki minimal (2) dua pilihan. Contoh: Yosua 24:15 “Tetapi jika kamu anggap tidak baik beribadah kepada TUHAN, tetapi pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu beribadah.” Dalam Roma 6:16 “menyerahkan diri menjadi hamba kebenaran.”Ada pilihan bagi manusia yang memiliki kehendak bebas. Manusia bebas untuk beribadah kepada siapa saja yang ia percayai, dan bebas untuk memperhambakan dirinya kepada siapa yang ia kehendaki, tanpa Allah pernah paksa. Tetapi dalam kenyataan Allah menginginkan manusia itu beribadah kepadaNya, tetapi tidak memaksakan kehendakNya.

Menjadi pertimbangan lainnya adalah perintah Allah kepada manusia untuk melakukan perintahNya. Bila Allah memberikan perintah kepada manusia membuktikan manusia itu mampu untuk melakukannya. Seperti dalam Yesaya 45:22 “berpalinglah kepadaKu dan berilah dirimu diselamatkan.” Matius :28 “marilah kepadaKu yang letih lesu dan berbeban berat” Wahyu 22:17 “Barang siapa mau?” bagaimana dengan pernyataan-pernyataan Alkitab yang memberikan kepada manusia pilihan untuk datang atau tidak dan untuk percaya atau tidak. Apakah Allah akan memanggil mereka yang sudah Ia tentukan untuk tidak datang? Apakah Allah akan memerintahkan manusia untuk percaya sementara Allah itu telah menentukan ia tidak percaya? Apakah Allah sedang memanggil mayat yang sama sekali tidak dapat merespon, tidak dapat mendengar dan tidak dapat bergerak? Mungkinkah Allah yang Mahabenar, Maha kasih, Mahakudus akan melakukan tindakan yang demikian? Apakah Allah sedang mempermainkan manusia supaya bertobat dan percaya kepadaNya, tetapi Allah itu sendiri juga telah menentukan untuk tidak bertobat dan percaya kepadaNya?

Sungguh aneh Allah yang ada dalam konsep Kalvinis. Bila demikian apakah Kalvinis sedang memposisikan Allah pada tempat yang sesungguhnya atau mereka sedang memposisikan Allah pada posisi yang sangat rendah sekali? Bila demikian mereka sedang menghina Allah dengan mencoba mempertentangkan sifat-sifat Allah Maha benar, Maha Kudus, Maha Kasih dan Maha Adil. Allah dapat melakukan segala sesuatu asalkan tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Allah tidak mungkin memilih sebagian masuk Surga dan Ia memilih sebagian masuk Neraka tanpa syarat.

Pemilihan masuk Surga yang tanpa syarat sebagai bukti kasihNya, maka konsekuensi dari itu Allah juga telah memilih sebagian tanpa syarat masuk ke Neraka. Mungkinkah hal ini akan Allah lakukan? Bila Ia dapat memilih siapa yang bisa masuk Surga tanpa syarat, dan memilih siapa yang masuk Neraka tanpa syarat, maka hal ini bertentangan dengan sifat-sifatNya. Bila Allah dapat menolong seluruhnya kenapa tidak semua Ia tolong?

Allah yang Kalvinis beritakan bukanlah Allah yang sesuai dengan Alkitab.


Sumber : Semua tulisan ini di dapat dalam mata kuliah Kalvinisme di GITS.  (http://gbiasemarang.blogspot.com)

KESALAHAN TULIP: TOTAL DEPRAVITY (Bag. 2)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 10:45 am on Monday, February 23, 2009
Pandangan Kalvinis lainnya:

1. Kehendak manusia tidak ada hubungannya dengan keselamatan.

Yoh 1:12-13 “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang tidak diperanakkan bukan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki, melainkan dari Allah.”

2. Roma 9:16 “Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah”.

Dalam konsep Kalvinis, bahwa kelompok orang yang percaya akan adanya kehendak bebas manusia untuk percaya dan menolak Yesus mengajarkan Synergisme, atau kerja sama antara Allah dan manusia supaya manusia selamat.

Konsep Total Depravity Kalvinisme bukanlah meninggikan Allah, tetapi merendahkan Allah. Karena dalam konsep Kalvinis manusia itu tidak bebas, maka konsekuensinya manusia itu sama dengan robot. Seolah-olah Allah sedang berurusan dengan robot yang harus mengerti dan memuliakan Dia. Apakah Allah memberi tanggungjawab moral kepada robot? Atau bagaimana mungkin Allah meminta pertanggunganjawab dari mayat yang jelas-jelas tidak bisa mendengar, merasa dan berkomunikasi.

Sebenarnya Kalvinis sedang mengajarkan TOTAL INABILITY, yakni ketidakmampuan total dari manusia. Total Depravity memang diajarkan Alkitab. Roma 3:10″tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” Tetapi Alkitab tidak mengajarkan ketidakmampuan total yang Kalvinis ajarkan. Mereka sering memanipulasi Pengkotbah 7:20 “sesungguhnya di Bumi tidak ada orang yang saleh, yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa.” Ayat ini memang benar tidak ada kesalahan di dalamnya. Tetapi kesalehan dan perbuatan baik yang Pengkotbah maksud adalah kebenaran manusia yang mampu membenarkan dirinya di hadapan Allah sehingga ia layak menerima keselamatan atau layak masuk Sorga.

  • Dalam Alkitab banyak referensi yang mana manusia mampu melakukan yang baik, bukan hanya bisa melakukan hal yang bobrok saja. Hal ini sangat didukung Alkitab dan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Contoh nyata adalah orang Muslim, Budha, Hindu, mereka tidak melakukan pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, tindakan yang anarkis setiap hari atau setiap waktu. Mereka masih melakukan hal-hal yang benar dan positif secara manusia. Ini membuktikan, bahwa manusia yang bukan pilihan bisa melakukan perbuatan yang baik. Jadi manusia itu tidak mati total seperti mayat dalam konsep Kalvinis. Bukan berarti manusia tidak bisa berbuat baik.
  • Dalam Luk 6:33 “sebab jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” Dalam konteks nats ini, Tuhan Yesus membuat perbandingan etika orang yang percaya dengan yang tidak. Dan dalam pernyataan yang tegas, bahwa orang jahat saja bisa melakukan perbuatan yang baik. Mungkin dapat kita ambil contoh seorang perampok yang menolong temannya di rumah sakit yang sedang sekarat dengan membiayai seluruh pengobatannya. Bukankah ia sedang melakukan tindakan kemanusiaan? Atau contoh klasik dalam dunia perfilman pahlawan Robin Hood yang merampasi orang-orang kaya dan membagi-bagikan hasilnya kepada orang miskin. Bukankah dia menjadi dewa penolong di dalam benak orang-orang yang ia tolong? Dan dalam ayat ini Tuhan menjelaskan, bahwa orang orang berdosa sama dengan orang yang tidak percaya kepada Allah, tetapi masih bisa melakukan hal baik, bukan yang bobrok melulu.
  • Dalam Matius 7:12 “apa yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” dalam ayat ini juga Tuhan sedang berbicara di dapan umum yang sebagian besar adalah orang-orang yang tidak percaya, bahkan kelak akan menyalibkan Dia. Tuhan menghimbau untuk melakukan hal yang baik, agar datang yang baik. Tentu Tuhan tidak akan memerintahkan hal demikian jika manusia tidak sanggup untuk melaukan hal yang baik. Tentulah Allah tidak akan memerintahkan manusia secara umum berbuat baik kepada sesama, jikalau hanya orang pilihan saja yang mampu melakukan yang baik dan benar.

Dalam hal ini, Kalvinis salah mengerti ayat-ayat dalam Roma 3:10 dan Pengkotbah 7:20. Memang manusia tidak dapat membenarkan dirinya di hadapan Allah dengan segala perbuatan baiknya. Kalvinis sepertinya tidak bisa membedakan:

  • Ada perbuatan benar
  • Ada perbuatan yang membenarkan

Dua hal ini yang Kalvinisme salah pengertian karena pada dasarnya perbuatan baik manusia tidak dapat membenarkan dirinya di hadapan Allah.

Ef 2:1 “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu,”
Kolose 2:13 “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita.”

Dalam konsep Kalvinis, bahwa manusia itu sama seperti Lazarus yang mati, tidak bisa mendengar suara Tuhan. Mereka sering memakai Yoh 8:43 untuk membuktikan bahwa manusia berdosa yang tidak dipilih tidak dapat mendengar suara Tuhan. Ayat ini sering Kalvinis pakai sebagai ayat kunci poin total depravity.

Kalvinis menerapkan Mati rohani sama dengan mati Jasmani. Dalam pengertian Kalvinis mati berarti tidak bisa berbuat apa-apa.

Ini adalah konsep yang salah

Secara logika, orang yang mati rohani seharusnya juga tidak bisa melakukan apa yang secara rohani Salah dan Benar. Bukti Alkitab bahwa konsep Kalvinis salah adalah dalam Luk 15:24 “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” Ayat ini membuktikan anak yang secara rohani mati, tetapi ia masih dapat melakukan hal atau keputusan yang baik untuk kembali kepada bapaknya. Jadi defenisi mati menurut Kalvinis tidak lengkap dan mengakibatkan kesalahan yang sangat membahayakan kekristenan.

Roma 6:2 ‘Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

Dalam ayat ini orang percaya juga mati. Ayat ini sekaligus membuktikan, bahwa manusia masih bisa melakukan dosa, sekalipun ia telah mati bagi dosa. Artinya orang yang di dalam Kristus juga masih bisa jatuh dalam dosa. Ini sangat bertentangan dengan konsep Kalvinis, bahwa orang pilihan hanya bebas percaya dan otomatis hanya bebas berbuat baik. Adakah kaum Kalvinis yang merasa diri sudah dipilih hanya bebas berbuat baik saja? Dapatkah anda hitung berapa pelanggaran yang telah anda perbuat dalam minggu ini? Bukankah seharusnya kaum Kalvinis menjadi manusia-manusia yang suci, tak bercela karena hanya bebas berbuat baik?

Ini konsep theologia yang dipungut dari luar kebenaran Alkitab yang sangat dijunjung tinggi, tetapi sangat tidak masuk akal!!!

sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com

KESALAHAN TULIP: TOTAL DEPRAVITY (Bag. 1)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 10:43 am on Monday, February 23, 2009
Ini adalah awal dari ajaran Calvin. Ini adalah doktrin yang “sangat menjunjung Allah dan merendahkan menusia”. Alasannya adalah:

* Bila manusia dijunjung, maka Allah direndahkan. (Teori Kalvinis ini sebenarnya sangat merendahkan Allah dan juga manusia.)
* Manusia itu sudah bobrok Roma 3:10-18
* Manusia bukan hanya bobrok tetapi “mati” seperti orang mati. Efesus 2:1

Dari ayat-ayat ini Kalvinis melangkah dari Total Depravity ke Total Inability.

Total Inability adalah :

* Ketidakmampuan manusia untuk merespon kepada Allah, Yoh 6:43-44, Yoh 8:42-4
* Ketidakmampuan manusia untuk berbuat baik sama sekali
* Ketidakmampuan manusia untuk percaya kepada Allah seperti Lazarus yang mati.

Kalvinisme merasa menjunjung Monergisme yang berasal dari dua kata Yunani μονος = satu, εργον = pekerjaan, artinya Allah bekerja sendiri, tanpa bantuan pihak lain. Calvin memiliki kepercayaan bahwa Allah mampu menyelamatkan tanpa bantuan ciptaanNya. Ya benar! Saya tidak meragukan hal itu. Tetapi ada tanggungjawab manusia untuk merespon kepada Kasih karunia yang telah Ia sediakan bagi manusia secara umum. Penebusan adalah tanggungjawab Allah atau jalan keselamatan Allah yang melakukan, tetapi manusia harus melangkah dengan iman.

Argumen Kalvinis dalam Yoh 8:34-35 “ Setiap manusia sudah berbuat dosa dan ia adalah hamba dosa dan tetap tinggal dalam dosa, itulah sebabnya dia tidak bisa berbuat baik. Akibatnya ada beberapa analogi yang mereka pakai dalam hal ini:

* Manusia memiliki sifat dosa, Yeremia 13:23 “dapatkah orang Ethopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya?”
* Roma 8: 5-8 Orang yang hidup di dalam daging tidak berkenan kepada Allah
* I Kor 2:14 Manusia tidak mampu mengerti hal-hal yang dari Allah.
* Yoh 6:43-47 Manusia tidak bisa datang dan mendengar Allah.
* Yoh 8:42 Orang yang tidak dipilih tidak bisa percaya kepada Kristus.
* Yoh 8:47 hanya orang yang dipilih saja yang bisa percaya.

Kalvinis percaya kehendak bebas manusia, tetapi berbeda dengan kehendak bebas dalam pengertian umum. Kehendak bebas dalam pengertian Kalvinis adalah “manusia bebas hanya percaya saja, secara khusus bagi mereka yang sudah dipilih dari semula. Konsekuensinya mereka yang tidak percaya, hanya bebas menolak Yesus atau mereka bebas untuk tidak percaya, tetapi untuk percaya mereka tidak bebas atau tidak bisa sama sekali.

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa manusia hanya bebas melakukan yang baik dan setelah manusia jatuh dalam dosa manusia hanya bisa melakukan yang jahat atau dosa saja.

Ada beberapa analogi yang mereka pakai untuk membela konsep ini.

* Allah Kudus dan bebas melakukan yang baik saja karena itu sudah sifatNya.
* Manusia yang berdosa bebas melakukan dosa, karena itu sudah sifatnya.
* Manusia bebas menolak Allah, tetapi tidak bebas percaya
* Adam manusia pertama bebas melakukan yang baik dan buruk sebelum ia jatuh ke dalam dosa. Tetapi ia memilih yang buruk dan setelah ia jatuh, ia tidak bebas untuk memilih yang baik.
* Adam kedua yaitu Yesus Kristus hanya bisa memilih yang baik

Counter untuk ayat-ayat ini:

1. Apa itu bobrok total (Total Depravity) menurut Alkitab?
2. Apakah orang-orang yang sudah bobrok total selalu melakukan hal-hal yang bobrok saja?

Tidak..! Buktinya ada banyak manusia yang bisa melakukan kebaikan atau hal-hal yang baik. Contoh mereka yang tidak mengenal Tuhan saja mereka masih bisa, bahkan sering melakukan kebaikan supaya mereka bisa masuk Sorga (menurut kepercayaan mereka), sekalipun itu tidak mungkin. Dapat juga kita lihat manusia tidak saling membunuh atau tidak melulu melakukan kejahatan yang secara moral salah. Ini menunjukkan bahwa manusia yang belum percaya tidak terus-menerus dan harus melakukan yang buruk atau yang jahat.

Contoh dalam Alkitab Matius 7:11 “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anaknya, apalagi Bapamu yang di Sorga.” Ayat ini memberi penjelasan yang baik, bahwa orang yang jahat saja menurut kaca mata Tuhan masih bisa melakukan perbuatan baik. Ia tidak melulu melakukan yang jahat sekalipun ia adalah orang berdosa/bukan orang pilihan.

Bobrok total tidak harus sebobrok-bobroknya atau selalu melakukan yang jahat. Roma 2:15 ”Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum taurat ada tertulis dalam hati mereka, dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Dalam ayat ini memberitahukan bahwa orang yang tidak percaya juga memiliki hukum Taurat dalam hati nurani mereka dan mereka ini bukan orang pilihan, tetapi ada moralitas dalam hidup mereka. Ini merupakan kasih karunia kepada manusia tanpa terkecuali baik yang percaya maupun yang tidak percaya.

Hal ini memberitahu kepada kita, bahwa total depravity dalam konsep Alkitab berbeda dengan konsep Kalvinisme. Yang jahat dalam Alkitab adalah yang sesuatu yang tidak sesuai dengan standar Allah. Manusia bisa saja melakukan sesuatu yang baik dan benar tetapi tidak sesuai dengan standart Allah. Ini adalah kebenaran yang relatif, tergantung siapa yang menilai.

Pekerjaan yang baik menurut standard Allah ada dalam Yoh 6:28-29, yakni Percaya kepada Yesus Kristus yang diutus Allah.

Dalam Alkitab tidak ada satu ayatpun yang mengatakan manusia tidak bisa percaya kepada Allah. (BERSAMBUNG)

Sumber : Semua tulisan ini di dapat dalam mata kuliah Kalvinisme di GITS.

KESALAHAN TULIP: UNCONDITIONAL ELECTION (Bag. 4)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 10:39 am on Monday, February 23, 2009

Ayat-ayat yang Berhubungan Dengan Election dan Reprobation

Roma 9:10-16
Argumen Kalvinis: Lihat dalam perikop ini Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau sebelum mereka lahir. Allah sudah menetapkan Yakub untuk selamat dan Esau untuk kebinasaan sejak dalam kekekalan. Karena Allah menetapkan Yakub selamat, maka secara otomatis Esau ditolak atau tidak dipilih oleh Allah.

Argumen Alkitabiah: Ini (penafsiran Kalvinis) adalah penafsiran yang sangat buruk. Kita harus melihat konteks Roma 9:1-10 agar jelas makna ayat 10-16. Dari konteks ini didapati beberapa hal:

1. Roma Pasal 9-11 merupakan suatu kesesatuan yang berbicara mengenai Israel sebagai bangsa pilihan.
2. Awal pasal 9, terlihat jelas bahwa Paulus memiliki beban besar untuk bangsa Israel agar mereka diselamatkan (Roma 10:1-3). Ini membuktikan, bahwa Paulus tidak percaya akan penetapan Allah seperti yang dipercayai Kalvinis (election and reprobation). Di mana ada yang ditetapkan masuk Surga dan ditetapkan masuk Neraka. Timbul pertanyaan, untuk apa Paulus terbeban kalau toh pada ujungnya orang itu tidak diselamatkan karena sudah ditentukan. Tetapi Paulus sangat terbeban agar bangsa Israel diselamatkan . untuk apa Paulus berdoa mati-matian untuk Israel, sementara Allah telah menetapkan mereka sejak kekekalan untuk binasa. Pasal 9-11 justru membantah konsep Kalvinis
3. Roma 9:10-16 adalah pemilihan jalur Mesias (Roma 9:5). Roma 9:6-9 sekalipun mereka (Israel) menurunkan Mesias, tetapi tidak semua mereka akan menjadi nenek moyang Mesias secara daging. Kata “bukan hanya itu saja” menyambung ayat 10-18. jadi ayat 11-18 tidak lepas dari ayat 1-10. ini adalah bukti bahwa pasal ini tidak menceriterakan mengenai keselamatan yang sudah Allah tentukan dari semula, tetapi ini adalah jalur Mesias. Masih dalam Roma 9:12 bila dibandingkan dengan PL Yakub dan Esau bukanlah pemilihan secara individu, tetapi suatu bangsa. Jadi ayat ini tidak berbicara mengenai individu, tetapi representatif suatu bangsa. Yakub mewakili bangsa Israel dan Esau mewakili bangsa Edom. Dalam Kejadian 25:23 “Dua bangsa ada dalam rahimmu dan suku bangsa yang akan muncul. Ini semakin jelas bahwa ini bicara suatu bangsa yang akan muncul. Bila secara pribadi (individu) Yakub malah menjadi hamba Esau, dan selama hidup Esau tidak pernah menjadi hamba Yakub. Ini membuktikan ayat-ayat ini menjelaskan atau mengacu kepada suatu bangsa. Yakub akan menjadi lebih kuat (tuan) dan Esau (Edom) lebih lemah (hamba). Jadi perikop ini sama sekali tidak berbicara keselamatan Yakub dan kebinasaan Esau.
4. Roma 9:13 bukan mendahului 9:11. Perkataan ini dikutip dari Maleakhi 1:2-3. Dan perlu diperhatikan, perkataan ini keluar bukan sejak dalam kandungan tetapi setelah mereka menjadi bangsa. Dalam kacamata Kalvinis, mereka akan mengatakan bahwa ini membuktikan pemilihan secara semena-mena atau tutup mata (secara acak). Padahal ada pemilihan yang tidak acak dan itu bukan berdasarkan perbuatan, yaitu IMAN. Menurut Kalvinisme ketika seseorang merespon firman Allah dan mengimaninya, maka itu dianggap perbuatan. Itu sesuai dengan konsep mereka, bahwa iman itu bukan timbul dari pendengaran akan firman Allah, tetapi iman itu Allah taruh di hati orang-orang pilihan. Konsekuensi dari Allah yang menaruh iman kepada seseorang baru ia percaya adalah manusia masuk nereka karena Allah tidak memberi iman kepadanya. Ingat Roma 4:2-5, ketika kita menerima hadiah, itu bukanlah hasil pekerjaan kita, tetapi itu adalah murni pemberian. Dan manusia dituntut untuk percaya (beriman) kepada Tuhan.

Tidak cukup sampai di situ saja, Kalvinis akan mengutip Roma 9:15 dan mengatakan bahwa Allah bebas menaruh belas kasihan kepada siapa saja.

Memang benar Allah bebas menaruh belas kasihan kepada siapa Ia menaruh belas kasihan. Ayat ini tidak salah, tetapi Allah cukup jelas kepada siapa Ia bermurah hati. Allah membuat syarat “Aku bermurah hati kepada siapa yang percaya dan beriman kepada Kristus” Allah menentukan syarat untuk memperoleh anugerah dariNya.

Tidak tergantung kepada kehendak orang. Ya! Kita tidak bisa berkehendak “sesuka hati menentukan bagaimana supaya kita selamat” Bila Allah menghendaki cara A untuk menyelamatkan manusia, maka manusia tidak berhak menentukan atau memilih di luar cara Allah dan bila itu dilakukan manusia, maka ia menyalahi aturan Tuhan. Allah dalam kehendakNya menyatakan bahwa keselamatan hanya diperoleh ketika kita percaya dan menerima Tuhan sebagai juruselamat kita.

Roma 9:17-18, ayat ini sering Kalvinis pakai bahwa Firaun salah satu contoh yang Allah tentukan untuk binasa. Tetapi jika perhatikan, sama sekali tidak ada perkataan yang mengindikasikan reprobasi.

Beralih ke masalah mengeraskan hati, harusnya timbul pertanyaan, “Mengapa Allah mengeraskan hati Firaun?” Jika kita membaca dalam Keluaran 3:19 “Allah tahu Firaun tidak akan membiarkan Israel pergi begitu saja” Kel 5:2 “tetapi Firaun berkata; Siapakah Tuhan itu sehingga harus kudengarkan firmanNya untuk membiarkan Israel pergi? Tidak kenal aku Tuhan itu dan tidak juga akan aku membiarkan bangsa Israel pergi” Dalam Keluaran 4:21b “tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak akan membiarkan bangsa itu pergi” Sangat jelas di dalam hati Firaun memang sudah ada keinginan untuk melawan kehendak Tuhan.

Benar bahwa Allah mengeraskan hati Firaun karena Allah tahu lebih dahulu, bahwa Firaun menolak Allah. Intinya Firaun mengeraskan hatinya hal ini terbukti dalam Kel 7:13; 8:15,19,32 sampai tulah yang ketujuh ia masih mengeraskan hatinya.

Kesimpulan mengenai hal ini:

1. Firaun mengeraskan hatinya! Kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah mengeraskan hatinya lebih dahulu, kalau Firaun tidak mengeraskan hatinya dari awal, maka ia pasti melepaskan bangsa Israel.
2. Allah bisa mengeraskan hati Firaun karena Firaun memang akan mengeraskan hatinya. Setiap tulah selesai ia merasa lega dan ia terus mengeraskan hatinya. Bisa saja ia berfikir, bahwa tulah itu sudah berhenti dan tidak datang lagi.
3. Bila Firaun sudah ditetapkan untuk binasa, maka untuk apa Allah mengeraskan hatinya?
4. Analogi “keraskan.” Kita harus ingat bahwa zaman dahulu yang bisa keras itu adalah batu bata yang dibuat dari tanah lalu dibakar, maka terjadilah “kekerasan.” Artinya sesuatu yang sudah memiliki bentuknya, bukan berarti belum berbentuk sebelumnya. Allah tidak mengubah bentuk, Firaun sudah memiliki bentuk hati yang keras dan ketika ia mendengar firman Allah, ia mengeraskan hatinya.

Roma 9:19-24 Mengenai Tukang Periuk dan Tanah Liat.

Dalam pemandangan Kalvinis ada orang-orang yang Tuhan bentuk untuk kemurkaan, yaitu “benda-benda yang Allah persiapkan untuk binasa.” Orang-orang yang Tuhan persiapkan untuk kemurkaan adalah orang reprobat (non-pilihan) dan orang-orang yang diciptakan untuk tujuan yang mulia adalah orang-orang pilihan.

Counter untuk ayat ini: Kata Yunani untuk benda adalah “skewos”. Hal yang sama kita temukan dalam 2 Timotius 2:20 “Ada benda-benda untuk tujuan mulia dan kurang mulia.” Dan jika perhatikan ternyata seseorang bisa berusaha untuk menjadi perabot yang mulia, bukan secara acak. Ada syarat untuk menjadi perabot yang mulia, yaitu ia harus menyucikan dirinya dari hal-hal yang duniawi. Seseorang bisa menjadi benda yang mulia dengan menjaga dirinya. Allah berhak menentukan apa saja, tetapi bukan yang bertentangan dengan sifat-sifatNya. Allah memberi syarat agar menjadi perabot yang mulia dengan menjaga kesucian hidup.

Dalam Roma 9:22-23 sangat menarik untuk dipelajari, sebab ada perbedaan kata “disiapkan” dalam bahasa Yunaninya. Dalam ayat 23 kata “yang telah dipersiapkan sebelumnya” dalam Yunaninya adalah “pro hetoimazen” yang mempunyai pengertian Allah yang mempersiapkan. Sedangkan dalam ayat 22 kata “dipersiapkan” adalah “katertismena” yang artinya “yang cocok, pantas untuk kebinasaan.” Baik dalam KJV, interlinier dan lexicon mendukung pengertian ini. Artinya orang-orang itu pantas untuk binasa dan bukan Allah yang menentukan kebinasaan mereka. Pantas dan cocok binasa karena ia tidak percaya kepada Kristus (Yoh 6:29).

Lalu biasanya akan muncul pertanyaan, “Mengapa Allah tidak langsung menghancurkan orang-orang durhaka dan Iblis?” Karena tindakan-tindakan Iblis dapat meningkatkan iman orang percaya dan untuk menambah kekayaan dan kemuliaan yang Allah akan berikan.

Efesus 2:3 “ kita adalah orang-orang yang harus dimurkai” apa bedanya dengan benda-benda kemurkaan dalam Roma 9:22-23? Bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada Kristus adalah benda-benda yang harus dimurkai.

Sumber: http://gbiasemarang.blogspot.com/2009/02/unconditional-election-bag-4.htm

« Previous PageNext Page »