DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 5-Ending)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:26 am on Monday, April 20, 2009

B. Ayat-Ayat Alkitab yang Disalahgunakan Kalvinis

Dalam usaha mereka untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, Kalvinis mencoba untuk memakai berbagai ayat Alkitab. Kita akan melihat, apakah ayat-ayat yang mereka pakai sungguh mengajarkan premis dasar Kalvinisme.

1. Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.

Jawab: Kesalahan Kalvinis adalah tidak memperhatikan konteks dan juga mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Jika Allah menentukan tangan orang dalam suatu kasus pembunuhan tidak disengaja, apakah berarti Allah menentukan segala sesuatu? Sama sekali tidak. Kalau memperhatikan konteks, justru perikop ini membuktikan sebaliknya! Jika membaca dari ayat 12-13, ada dua jenis pembunuhan yang Tuhan diskusikan. Di ayat 12, Tuhan mengatur tentang pembunuhan yang disengaja: “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Barulah di ayat 13, ada aturan tentang pembunuhan yang tidak disengaja.

Coba dipikir dengan baik-baik, dan baca ayat 12 dan 13 dalam satu konteks. Orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya, artinya tangannya ditentukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!

Apakah ini membuktikan Allah menetapkan segala sesuatu? Sama sekali tidak! Ayat 12 dan 13 sedang menjelaskan perbedaan dua kasus. Pembunuh di ayat 12, harus dihukum mati, karena membunuh dengan sengaja. Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!

2. Daniel 11:36 “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi.” Ada Kalvinis yang ingin memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Allah menetapkan dosa. Raja dalam Daniel 11:36 ini (antikristus), jelas melakukan dosa. Kalvinis lalu mengambilfrase “apa yang telah ditetapkan akanterjadi,” untuk membuktikan bahwa dosa itu telah Allah tetapkan.

Jawab: Kalvinis melihat ayat ini dari kacamata bias doktrinnya sendiri. Padahal, jika dibaca secara normal, justru ayat ini mengajarkan bahwa perbuatan si raja jahat ini tidak ditentukan. Bagian awal ayat ini berkata, “raja itu akan berbuat sekehendak hati.” Apakah ini kurang jelas? Perbuatannya berasal dari kehendak dia sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung.

3. Kisah Para Rasul 4:27-28 “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dansuku-suku bangsa Israelmelawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Ini adalah perwakilan dari beberapa ayat lain, tentang kematian dan penyaliban Yesus, yang Kalvinis pakai. Argumen mereka cukup jelas, yaitu bahwa penyaliban Yesus telah Allah tentukan. Ini, bagi Kalvinis, membuktikan bahwa Allah menetapkan terjadinya dosa.

Jawab: Sekali lagi, Kalvinis membaca ayat ini dengan presuposisi doktrin mereka. Oleh karena itu mereka mendapatkan Allah menetapkan dosa disini. Padahal Allah yang mahakudus benci kepada dosa, masakan merencanakan dan mengharuskan dosa? Kalau ayat ini dibaca dengan netral, sama sekali tidak mengajarkan Kalvinisme. Ayat ini berbunyi: “telah berkumpul….bangsa-bangsa….. untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula.” Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).” Ada perbedaan antara dua kalimat tersebut.

Kehendak untuk menyalibkan Yesus berasal dari manusia itu sendiri, tidak pernah ditetapkan oleh Allah. Mereka punya pilihan untuk menerima Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyalibkanNya. Allah yang mahatahu, memasukkan kehendak manusia-manusia jahat ini dalam rencana penyelamatanNya, sehingga Ia menentukan bahwa Yesus memang akan mereka salibkan. Jadi, Allah tidak menetapkan mereka harus menyalibkan Yesus. Allah tahu mereka mau menyalibkanNya (darikehendak mereka sendiri), dan Allah memutuskan, dalam kuasa dan kehendakNya, agar kemauan mereka tercapai, dan Yesus disalibkan.

Sebuah ilustrasi dapat membantu memberikan contoh dalam kehidupan nyata. Kepolisian Jakarta telah lama berusaha membongkar jaringan perampok toko emas. Suatu ketika, mereka mendapatkan info akurat (foreknowledge), bahwa para perampok akan beraksi di toko tertentu. Karena ingin menangkap para penjahat secara basah, para polisi memutuskan untuk tidak menghalangi niat para perampok, melainkan memasang jebakan. Akhirnya para perampok beraksi, dan di tengah perampokan mereka, mereka ditangkap oleh polisi. Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi. Para polisi pun punya kemampuan untuk membatalkan perampokan, misalnya dengan menempatkan banyak penjaga ekstra ditoko itu. Namun, untuk tujuan tertentu (menangkap basah para perampok), para polisi sengaja membiarkan para perampok untuk melakukan kejahatan mereka. Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan. Tetapi, jelas bukan polisi yang menetapkan mereka untuk merampok. Demikianlah, Allah mempergunakan kejahatan manusia, untuk tujuanNya sendiri. Pembaca silakan melihat lagi bagian pembahasan bagaimana Allah mengendalikan sejarah tanpa menentukan tindakan manusia.

4. Matius 10:29-30 “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Menurut Kalvinis, ayat ini mendukung konsep bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Jawab: Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan, bahwa non-Kalvinis percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Tetapi ini berbeda dengan menentukan segala hal. Banyak ayat yang Kalvinis kutip hanya menyatakan bahwa Allah menetapkan hal ini dan hal itu, tetapi tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

Bahwa jumlah rambut di kepala kita diketahui oleh Tuhan, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menetapkan segala tindakan kita. Diperlukan lompatan logika yang luar biasa untuk bisa menyimpulkan hal seperti itu dari ayat ini. Hidup matinya pipit berada di tangan Tuhan. Saya sungguh mengaminkan hal ini! Jangankan pipit, hidup matinya manusia pun ada di tangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menentukan segala pikiran, tindakan, dan keputusan manusia.

5. Yeremia 4:28 “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Saya akan mengutip argumen Asali dari ayat ini:

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.42

Jadi, Asali mengatakan bahwa ayat ini membuktikan pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Asali juga menyatakan bahwa jika Tuhan bernubuat tentang sesuatu hal, berarti hal itu sudah Ia tentukan lebih dahulu.

Jawab: Ayat ini sama sekali tidak membuktikan bahwa semua pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Kalau seorang dosen berkata, “Seluruh kelas akan berkabung karena ujian yang akan saya berikan, sebab aku telah mengatakannya, aku telah merancangnya, aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Apakah ini membuktikan bahwa semua pengetahuan dosen itu berasal dari penentuannya? Tentu tidak!

Tentu ada banyak hal yang Allah tentukan, dan Allah tahu akan hal-hal itu. Ada banyak nubuat yang memang berasal dari ketentuan Tuhan. Tetapi tidak kurang juga nubuat yang tidak berasal dari ketentuan Tuhan, melainkan Tuhan memberitahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Contohnya, dalam 1 Samuel 23:12, Allah menubuatkan apa yang akan orang-orang Kehila lakukan jika Daud tinggal di Kehila. Pada kenyataannya, Daud tidak tinggal di Kehila, jadi itu bukanlah penentuan Tuhan. Nubuat (pengetahuan) ini bukanlah sesuatu yang Allah tentukan dulu!

6. Efesus 1:11 “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya, diartikan oleh Kalvinis untuk mendukung premis mereka bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Jawab: Ayat inisama sekalitidak mengatakanbahwa Allahmenentukansegala sesuatu. Jikalau dikatakan bahwa “Allah bekerja di dalam segala sesuatu,” maka non-Kalvinis sama sekali tidak akan protes, karena itulah bunyi ayat ini. Allah memang bekerja dalam segala sesuatu. Segala tindakan dan keputusan manusia, haruslah melalui izin Allah, apakah dapat tercapai atau tidak. Seperti sudah diilustrasikan, seseorang bisa saja berniat untuk membunuh. Maksud pembunuhan tersebut tidak Allah tetapkan melainkan keluar dari hati orang yang jahat itu. Tetapi, Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah bisa menggagalkan niat pembunuhan itu, atau Allah bisa membiarkan niat pembunuhan itu untuk melaksanakan rencanaNya. Allah bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya! Ayat ini sama sekali tidak harus mendukung bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu.

Catatan Kaki

1 John Gill, A Body of Doctrinal and Practical Divinity (Paris: Baptist Standard Bearer, 1987), hal. 174.

2 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

3 Louis Berkhof, Systematic Theology, hal 100, dikutip oleh Asali.

4 David S. West, dalam “The Baptist Examiner Forum II,” The Baptist Examiner, 18 Maret 1989, hal. 5.

5 Timothy Tow dan Jeffrey Khoo, Theology for Every Christian (Singapura: Far Eastern Bible College, 2007), hal. 42.

6 Philip Melanchton, dikutip oleh Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination (Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1932), hal. 15.

7 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 234.

8 R. C. Sproul, Chosen by God, hal. 26-27.

9 Arthur Pink, The Sovereignty of God, revised ed. (Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1961) hal. 147.

10 Ibid., hal. 249.

11 Edwin H. Palmer, The Five Points of Calvinism, enlarged ed., Grand Rapids: Baker Book House, 1980, hal. 82.

12 Asali, ibid.

13 Adalah kebiasaan Kalvinis, untuk mengelompokkan semua orang yang bertentangan dengan dirinya sebagai “Arminian.” Ini adalah taktik tentunya. Dengan demikian, mereka hanya perlu menjelek-jelekkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Arminian. Orang akan ngeri dengan “Arminianisme,” dan mengaku Kalvinis hanya agar tidak disebut Arminian. Padahal, kelompok Non-Kalvinis berasal dari berbagai spektrum. Banyak yang memiliki pengajaran yang berbeda dengan James Arminius.

14 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 44.

15 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396, dikutip oleh Asali.

16 Benjamin Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

17 Webster’s New World Dictionary, ed. 3, New York: Simon & Schuster, 1988, s.v. free will.

18 Budi Asali, dalam “Kedaulatan / penetapan Allah dan Kebebasan / tanggung jawab manusia,” artikel yang didapatkan penulis lewat email.

19 Asali, ibid.

20 Charles Spurgeon, dikutip dari Budi Asali.

21 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 45.

22 Kita akan melihat di bagian berikutnya bahwa sebenarnya logika Boettner (dan Kalvinis) salah di sini. Kemahatahuan Allah tidak harus berarti bahwa Ia menentukan segala sesuatu.

23 Suatu doktrin yang juga ditentang oleh Kalvinisme. Tetapi lihat 1 Yoh. 2:2, Ibrani 2:9, Yoh. 1:29, dll.

24 Asali, ibid.

25 Ini hanyalah cetusan praktis dari Kalvinisme. Sebenarnya, yang paling sentral adalah: Kalvinisme hanya akan membuat manusia untuk berharap, “Semoga saya termasuk orang pilihan.”

26 Webster’s New World Dictionary, s.v. sovereign.

27 Kata “sovereign” juga tidak ditemukan dalam KJV.

28 Tentu kehendak bebas manusia berbeda dengan kehendak bebas Allah. Kehendak bebas Allah tidak dihalangi oleh apapun juga selain sifat-sifat Allah sendiri. Kehendak bebas manusia, selain dihalangi oleh sifat-sifat manusia itu sendiri, juga dapat dihalangi oleh kehendak bebas pribadi lain. Misalnya, penjahat yang dipenjara bisa saja ingin lepas, tetapi ia dihalangi oleh tembok yang dibangun oleh orang-orang lain.

29 Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination, hal. 42.

30 William G. T. Shedd, Dogmatic Theology, vol. I, hal. 396.

31 Sekilas sepertinya kata “pasti” dan “harus” adalah sinonim. Tetapi ada perbedaan konotasi antara kedua kata ini.

32 Louis Berkhof, Theologi Sistematika, diterjemahkan oleh Yudha Thianto (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), vol. 1, hal. 192.

33 William Lane Craig, The Only Wise God (Grand Rapids: Baker Book House, 1987), hal. 74.

34 Terjemahan literal. Dalam ITB, “foreknowledge” diterjemahkan “rencana,” memperlihatkan bahwa para penerjemah ITB telah dipengaruhi oleh Kalvinisme.

35 Pink, The Sovereignty of God, hal. 57.

36 Sekali lagi penerjemah ITB menunjukkan bias Kalvinis mereka. Dalam ITB, ayat ini berbunyi “Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula.” Padahal, kata “dipilih” berasal dari proegno (mengetahui sebelumnya), dan semua terjemahan Inggris yang kompeten menerjemahkannya sebagai “foreknew” atau “foreknow” atau “know before.”

37 Warfield, Biblical and Theological Studies, hal 281.

38 James Arminius, The Works of James Arminius, diedit oleh James Nichols dan William Nichols (Grand Rapids: Baker Book House, 1986) vol. 2, hal. 160.

39 Charles Hodge, Systematic Theology (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1989), vol. I, hal. 547.

40 Oleh LAI diterjemahkan “rencanaNya,” yang tidak berdasar sama sekali. Terjemahan Bahasa Inggris dengan konsisten memakai “foreknowledge,” yang baiknya diterjemahkan “pra-pengetahuan” Tuhan.

41 James O. Wilmoth dan David S. West, dikutip dalam Laurence M. Vance, The Other Side of Calvinisme (Vance Publications: Pensacola, Florida, 2002), rev. ed., hal. 276.

42 Asali, ibid.

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 4)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:25 am on Monday, April 20, 2009

D. Allah yang Mengendalikan Sejarah

Tidak ada orang yang benar-benar percaya pada Alkitab yang akan meragukan bahwa Allah maha berdaulat. Demikian pula tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti kebenaran dapat meragukan bahwa Allah mengontrol sejarah. Perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis sebenarnya bukanlah masalah apakah Allah berdaulat atau tidak. Perselisihan juga bukan pada poin apakah Allah mengendalikan sejarah atau tidak. Baik Kalvinis maupun non-Kalvinis percaya akan hal-hal tersebut. Permasalahannya adalah, apakah Allah yang berdaulat harus menentukan segala tindakan makhlukNya? Apakah Allah mengendalikan sejarah dengan cara menentukan segala tindakan makhlukNya?

Kita sudah melihat di bagian yang lebih awal, bahwa tidak ada suatu hal pun dalam definisi “kedaulatan” yang mengharuskan Allah untuk menentukan segala tindakan makhlukNya. Ide ini tidak inheren dalam makna “kedaulatan,” melainkan adalah suatu pilihan filosofis dari kaum Kalvinis. Lalu bagaimana dengan pengendalian atas sejarah?

Banyak sekali bukti dan contoh kasus dalam Alkitab, bahwa Allah memegang kendali penuh atas perjalanan sejarah. Nubuat-nubuat yang terdapat dalam Alkitab adalah salah satu contoh kendali Tuhan. Pada saat yang sama, Allah tidak menentukan tindakan-tindakan makhluk-makhlukNya, karena terbukti Ia masih meminta pertanggungan jawab makhluk-makhluk itu. Lalu, bagaimanakah Tuhan mengendalikan sejarah?

Pertama, walaupun Allah tidak menentukan segala sesuatu, tetapi Ia menentukan banyak hal. Jelaslah bahwa Allah yang menentukan semua hukumalamyang berlaku. Segala tindakan penciptaan Allah adalah keputusanNya sendiri. Banyak Kalvinis berpikir, bahwa karena non-Kalvinis menentang penentuanAllahatas segala sesuatu, maka kami tidak percaya Allah menentukan apa-apa. Ini tidak benar! Saya percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Yang tidak Allah tentukan adalah keputusan-keputusan makhluk-makhluk yang berkehendak bebas. Mengapa Allah tidak menentukannya? Karena Allahlah yang pada awalnya menentukan mereka berkehendak bebas, yang berarti Allah ingin mereka sendiri yang memutuskan. Namun saya percaya bahwa hal-hal lain di luar kehendak bebas makhluk ciptaan Tuhan, ditentukan oleh Tuhan. Penulis Amsal mengakui kebenaran ini dengan pernyataan berikut: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Ams. 16:33). Bukan hanya jatuhnya undian, saya percaya bahwa setiap tetes hujan yang turun, diatur oleh Tuhan untuk mengenai titik tanah yang tertentu, baik itu melalui hukum alam maupun intervensi khususNya. Setiap batu yang berguling, Tuhan tentukan trayektorinya, baik melalui hukum alam maupun intervensi khususnya. Hal-hal ini tidak berkaitan dengan kehendak bebas makhluk ciptaan, dan Allah memang menentukan hal-hal ini. Dengan jalan demikian, kita bisa memahami salah satu cara yang Tuhan pakai untuk mengendalikan sejarah, tanpa menentukan keputusan manusia. Kita melihat bagaimana undian telah Tuhan pakai sepanjang sejarah untuk mengendalikan jalannya sejarah (kisah Yunus, juga Nebukadnezar di dalam Yeh. 21:18-22).

Kedua, walaupun Allah tidak menentukan keputusan manusia, Allah menentukan apakah keputusan itu bisa sampai atau tidak. Alkitab selalu menyuruh manusia untuk memilih yang baik, menentukan yang benar, dan memutuskan secara bertanggung jawab. Ini adalah bukti implisit bahwa Allah tidak menentukan itu semua bagi manusia. Manusialah yang membuat berbagai keputusan bagi dirinya sendiri. Namun demikian, Allah dapat menentukan apakah keputusan manusia itu akan sampai atau tidak. Seseorang bisa saja memutuskan untuk membunuh temannya. Itu adalah keputusannya sendiri. Jika kita percaya bahwa Allah mahakudus, dan juga percaya bahwa manusia bertanggung jawab, kita tidak dapat mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, Tuhan menentukan apakah keputusan orang tadi untuk membunuh akan terlaksana atau tidak. Tuhan bisa mengintervensi dengan berbagai cara. Orang itu bisa saja terkena serangan jantung atau tertimpa kecelakaan sebelum sempat melaksanakan niatnya. Intinya, Tuhan bisa memastikan bahwa niatnya tidak kecapaian. Oleh sebab itulah penulis Amsal berkata, “Banyaklah rancangan dihati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21). Bukan berarti bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Justru ayat ini mengajarkan bahwa rancangan dalam hati tiap individu adalah rancangan dia sendiri. Itu keputusannya! Tetapi, Allah bisa mengintervensi sehingga niatnya tidak kesampaian, melainkan rencana Tuhan yang jadi!

Jadi, jelaslah bahwa segala sesuatu adalah atas izin Tuhan, tetapi bukan segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan. Ada perbedaan antara mengizinkan sesuatu dengan menetapkan sesuatu. Mengizinkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari pihak lain. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Allah mengizinkan dosa (untuk sementara waktu), dan Allah tidak bertanggung jawab atas dosa. Tetapi, jika Allah menentukan harus ada dosa, maka Allah bertanggung jawab akan dosa.

Berdasarkan pemahaman ini, kita juga mengerti mengapa Tuhan selalu melihat hati, lebih daripada hal-hal eksternal. TuhanYesus berkata bahwa: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Niat dan pikiran berzinah adalah keputusan orang itu, Tuhan tidak menentukannya. Tetapi belum tentu ada kesempatan dan peluang bagi dia untuk melakukan zinah itu. Walau dia tidak pernah berzinah secara fisik, di hadapan Tuhan dia sudah berzinah, karena Tuhan tahu pikiran dan niatnya. Dalam kondisi dan dengan peluang yang tepat, dia tentunya sudah berzinah.

Walaupun Allah tidak menentukan tindakan dan keputusan manusia, Allah senantiasa melakukan berbagai intervensi, agar rencanaNya jadi. Allah tidak pernah menentukan agar orang-orang Sodom menjadi sangat jahat. Itu adalah keputusan mereka. Tetapi, Allah mengintervensi agar kejahatan mereka tidak merusak rencanaNya. Tuhan menghancurkan Sodom dengan hujan belerang. Kita perlu mengucap syukur karena Allah kita mengendalikan sejarah dan senantiasa turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Ketiga, rencana Allah dan intervensi yang Allah lakukan bekerja sama dengan kemahatahuan Allah. Kalvinis sering memakai kasus penyaliban Yesus Kristus untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan bahkan dosa. Hodge mengajarkan bahwa “Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan, Alkitab mengajarkan dosa ditentukan lebih dulu merupakan pengajaran Alkitab.”39

Tentu tidak ada orang Kristen yang menyangkal bahwa Allah sudah merencanakan penyelamatan melalui kematian AnakNya, sejak kekekalan bahkan. Ada banyak ayat yang mengajarkan tentang rencana Tuhan ini. Petrus pernah berkhotbah tentang Yesus: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, 40 telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23). Apakah ini berarti Allah menentukan tindakan orang-orang Israel yang menyalibkan Yesus? Sama sekali tidak ! Ini adalah asumsi Kalvinis. Kalau anda tidak memiliki bias Kalvinis, anda tidak akan mendapatkan dari ayat-ayat ini bahwa Allahlah yang membuat mereka menyalibkan Yesus! Justru ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja sama dengan kemahatahuanNya.

Orang Israel menyalibkan Yesus atas dasar keinginan mereka sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Allah, karena Allah mahatahu. Tuhan memutuskan untuk datang ke dalam dunia dalam waktu yang tepat dan dalam kondisi yang tepat. Dan Allah tahu apa tindakan manusia dalam tiap kondisi. Oleh karena itu, Allah dapat merencanakan penyaliban Kristus, tanpa memaksa manusia atau menentukan pilihan manusia. Dengan kata lain, Allah tahu bahwa jika Kristus lahir di zaman tertentu, lalu mengajarkan pengajaran-pengajaran yang benar, lalu melakukan segala yang Kristus lakukan, maka para tua-tua dan imam-imam akan berniat untuk membunuh Yesus. Niat itu sama sekali tidak ditentukan Allah, melainkan adalah keputusan dan tanggung jawab manusia. Yang Allah tentukan adalah bahwa niat mereka bisa tercapai dalam kondisi dan waktu yang tepat, dan mereka berhasil menyalibkan Yesus. Jadi, Allahtidak menentukan dosa terbesar dalam sejarah,Allah mengizinkannya. Dengan kata lain, niat dosa manusia, yang datang dari manusia itu sendiri, Tuhan pergunakan untuk maksud dan tujuan Tuhan!

Hal ini bisa menjawab pertanyaan, mengapa Allah mengizinkan dosa? Tuhan memiliki maksud dan tujuanNya sendiri. Walaupun dosa tidak disebabkan oleh Tuhan, dan tidak ditentukan oleh Tuhan, tetapi untuk sementara waktu Tuhan membiarkan dosa. Selalu ada tujuan dibaliknya. Dalam kasus penyaliban Yesus, kita melihat bagaimana Allah menggunakan dosa manusia untuk justru mendatangkan keselamatan. Sama sekali bukan Tuhan yang menentukan dosa itu, melainkan Tuhan “memelintir dosa itu” untuk tujuanNya. Dalam kasus Yusuf dan saudara-saudaranya, Yusuf bisa mengambil kesimpulan: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merekarekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 50:20). Dari ayat ini, sama sekali tidak ada indikasi bahwa kejahatan kakak-kakak Yusuf adalah atas penentuan Tuhan. Justru ayat ini mengajarkan konsep yang kita bahas di bagian ini, bahwa dengan kemahatahuanNya dan kemahakuasaanNya, Tuhan memperhitungkan dosa sedemikian rupa dalam rencanaNya, agar dosa itu memainkan peran dalam rencana Tuhan.

Untuk mengulangi sekali lagi, kejahatan manusia dan Iblis tidak Tuhan tentukan. Namun, kejahatan mereka Tuhan izinkan, dan Tuhan pakai untuk maksudNya yang baik. Oleh karena itulah dalam Wahyu dikatakan: “Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi” (Wah. 17:17).

Sebagai kesimpulan, saya dapat mengatakan bahwa Allah yang berdaulat tidaklah perlu menentukan segala sesuatu. Lebih lanjut lagi, karena Allah mahatahu, karena Ia adalah Pencipta, karena Ia mahakuasa, Ia tidak perlu menentukan pilihan-pilihan manusia agar dapat mengendalikan alam semesta ini.

E. Kedaulatan Mana Yang Lebih Agung?

Kalvinis banyak menggunakan konsep “kedaulatanAllah” untuk menakut-nakuti non-Kalvinis. Seolah-olah hanya Kalvinis-lah yang percaya dengan sungguh-sungguh akan kedaulatan Tuhan. Seolah-olah, jika Tuhan tidak menentukan segala sesuatu, maka Tuhan kehilangan kendali atas alam semesta ciptaanNya.

Tetapi kita telah melihat, bahwa tidak benar demikian. Definisi “kedaulatan” itu sendiri sama sekali tidak memerlukan penentuan atas segala sesuatu. Kita juga telah melihat bagaimana Allah tetap memegang kendali atas segala sesuatu, walaupun Ia memberikan kehendak bebas pada manusia. Pertanyaan yang muncul justru adalah sebagai berikut: Kedaulatan versi mana yang lebih agung? Kedaulatan Allah versi Kalvinis, di mana Allah menentukan segalanya? Atau kedaulatan versi Alkitab, di mana ada kehendak bebas manusia (yang tidak ditentukan Allah)?

Manakah yang lebih hebat dan agung, (1) bahwa rencana Allah terlaksana karena Allah menentukan segala sesuatu, atau (2) bahwa rencana Allah terlaksana walaupun banyak makhluk bebas yang menentangNya, namun tetap rencanaNya yang menang? Manakah yang lebih hebat, berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang segala aspeknya anda tentukan, atau berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang terdiri dari pribadi-pribadi bebas lainnya? Manusia dan Iblis dalam skema Kalvinis, telah ditentukan oleh Allah segala pikiran dan tindakan mereka. Bahwa lalu segalanya berjalan sesuai dengan rencana Allah tidaklah mengherankan. Yang kita herankan adalah justru jika segalanya ditentukan Allah, mengapa masih terjadi banyak dosa dan kekacauan. Jika seseorang berhasil mengendalikan 100 robot yang dia buat, untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini bukan hal yang mengagumkan. Toh segalanya tinggal di program. Tetapi, ketika seorang guru berhasil mengendalikan 100 siswa untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini adalah suatu hal yang hebat. 100 siswa ini bisa menentang atau mengikuti keinginan guru tersebut. Jadi, kedaulatan mana yang lebih hebat dan agung? Kedaulatan di mana semuanya sudah ditentukan, atau kedaulatan di mana ada makhluk-makhluk bebas, bahkan banyak yang menentang Allah, tetapi pada akhirnya semuanya sesuai dengan rencana Allah?

Jikalau saya mengambil ilustrasi sebuah permainan catur, konsep Kalvinis dapat digambarkan dengan seorang yang bermain catur sendirian. Dia menggerakkan buah-buah putih dan juga buah-buah hitam. Dia menentukan segala sesuatu. Serangan musuh, dia yang tentukan, tangkisannya juga dia yang tentukan. Bisa saja pemain solo ini melakukan acting, dan seolah-olah memerankan dua orang yang sedang bertarung. Tetapi pada dasarnya, dialah yang menentukan setiap langkah. Jikalau permainan ini berakhir dengan kemenangan bagi pihak yang dia pilih, maka tidak ada seorangpun yang perlu kagum. Ini adalah hal yang mendasar. Jika anda menentukan segala sesuatu maka hasil akhir pastilah sesuai keingian anda, ini adalah hukum alam.

Bandingkan dengan konsep yang Alkitabiah. Kembali ke ilustrasi catur, kali ini ada seorang grandmaster yang hebat sekali, melawan pemain yang riil. Lawannya benar-benar berniat mengalahkan sang grandmaster, dan sama sekali tidak ada kolusi. Kolusi saja tidak ada, jadi sang grandmaster sama sekali tidak menentukan langkah-langkah musuhnya. Namun, kemampuan dan penguasaan sang grandmaster begitu jauh di atas lawannya, sehingga ia dapat membaca semua gerakan lawannya itu. Ia benar-benar mengendalikan permainan. Ia menyerang dan bertahan sesuai keinginannya. Bahkan ia memakai gerakan-gerakan musuhnya untuk kepentingannya sendiri. Musuhnya mungkin menggerakkan buah caturnya untuk menyerang, tetapi sang grandmaster tahu, bahwa justru langkah itu bisa dipakai dalam rencananya sendiri.

Dalam kisah mitos Cina, ada seorang pecatur yang legendaris. Kehebatannya terkenal ke mana-mana sehingga raja pun ingin menjajalnya. Jeleknya, raja ini punya sifat yang sombong. Dia merasa dirinya paling hebat dan mestinyamampu mengalahkan siapapun. Namun demikian, raja tidak mau pecatur legendaris ini mengalah daripadanya. Oleh karena itu, dia membuat suatu peraturan. Sang grandmaster catur tidak boleh kalah dari padanya, dan jika kalah maka sang grandmaster akan dibunuh.

Pertandingan catur antara raja melawan grandmaster pun di mulai. Sebenarnya mudah bagi sang grandmaster untuk mengalahkan raja yang sombong itu. Tetapi si grandmaster tahu sifat raja itu. Kalau dia menang, maka raja yang sombong ini pasti akan membunuhnya juga. Sedangkan kalau dia kalah, maka raja telah mengeluarkan titah untuk membunuhnya. Akhirnya, setelah berpikir, pecatur hebat itu memutuskan untuk mengendalikan permainan sedemikian rupa, sehingga hasil akhir adalah remis. Pada awalnya, raja tidak sadar, karena permainan sang grandmaster seolah-olah serius. Karena penasaran, raja mengulangi permainan berkali-kali dan hasilnya selalu remis. Akhirnya setelah semua permainan berakhir remis, raja itu sadar betapa hebat pecatur itu sebenarnya. Pecatur itu dapat mengendalikan hasil-akhir dari permainan, walaupun raja berusaha keras untuk mengalahkannya!

Memang, ilustrasi catur tentu tidak sempurna untuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan ciptaanNya. Tetapi, konsep Kalvinis bahwa Allah menentukan segala sesuatu, tercermin pada kasus seorang pecatur yang bermain sendirian. Sama sekali tidak ada keagungan! Dan jika pada akhirnya manusia dan malaikat memuji dan menyembah Allah, atas dasar penentuan Allah, ini pun tidak memuaskan. Manusia saja tidak akan puas jika dipuji-puji oleh komputer atau robot yang telah diprogram. Itulah sebabnya Allah menciptakan makhluk yang bebas, yang serupa dan segambar dengan Dia, yang dapat membuat keputusan atas dasar dirinya sendiri. Makhluk-makhluk yang bebas ini, membawa kemuliaan kepada Allah pencipta mereka, ketika mereka atas keputusan mereka sendiri menyembah dan memuji Allah.

Kedaulatan mana yang lebih agung? Skema mana yang lebih menunjukkan kehebatan dan kekuasaan Allah atas ciptaanNya? Pecatur yang bermain sendirian dan menentukan segala sesuatu sendiri? Oh, teman-teman Kalvinisku, tidak dapatkah anda melihat, bahwa Kalvinisme justru membuat kedaulatan Allah menjadi tidak agung sama sekali?

VI. Pengajaran Alkitab

Walaupun sudah cukup banyak ayat-ayat yang kita lihat dalam pembahasan sejauh ini, bagian ini akan secara spesifik membahas berbagai ayat yang berhubungan dengan kedaulatan Tuhan, kebebasan manusia, dan apakah Tuhan menentukan segala sesuatu atau tidak.

A. Alkitab Mengajarkan Bahwa Allah Tidak Menentukan Segala Sesuatu

Ada banyak alasan dari Alkitab, mengapa Allah tidak mungkin menentukan segala sesuatu. Mari kita perhatikan satu persatu alasan-alasan di bawah ini.

Pertama, Allah sendiri menyatakan bahwa Dia tidak menentukan segala sesuatu! Mengenai praktek penyembahan berhala dan pengorbanan anak yang ditiru oleh orang Israel dari bangsa-bangsa sekitar mereka, Allah berkata: “Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku” (Yer. 19:5). Jikalau Tuhan tidak pernah memerintahkannya, dan bahkan tidak pernah timbul dalam hati Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan menentukannya? Mustahil! Justru dosa yang sangat biadab ini muncul dari hati manusia yang jahat, bukan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa hal ini tidak pernah timbul dalam hatiNya! Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!

Kedua, sifat Allah yang mahakudus tidak memungkinNya menentukan dosa! Poin ini telah dibahas sebelumnya, jadi hanya akan disinggung sekilas saja. Allah yang “kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3) dan yang “membenci kefasikan” (Maz. 45:8), tidak mungkin menetapkan dan mengharuskan adanya kefasikan dan dosa.

Ketiga, Allah tidak bermain sandiwara! Berbicara melalui Yesaya kepada kaum Israel, Tuhan berkata, “Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau ditempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes. 45:19). Nyatanya, banyak keturunan Yakub yang tidak mencari Tuhan! Apakah Tuhan menentukan mereka untuk tidak mencariNya, lalu memberi perintah untuk mencariNya? Itu sandiwara! Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bermain seperti itu. Tuhan tidak menetapkan ketidakpercayaan Israel. Jelas, Tuhan tidak menetapkan segala sesuatu.

Keempat, jika Allah menentukan segala sesuatu, manusia tidak bertanggung jawab! Inijuga telah dibahas dibagian sebelumnya. Tentang Yudas, Tuhan Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!” (Luk 22:22). Kalvinis sering salah mengartikan kata “telah ditetapkan,” dan menyimpulkan bahwa pengkhianatan Yudas ditetapkan oleh Allah. Tetapi ayat ini tidak berkata bahwa tindakan Yudas ditetapkan Tuhan. Ayat ini mengajarkan bahwa adalah ketetapan Allah agar Yesus diserahkan dan disalibkan. Silakan lihat lagi bagian pembahasan tentang bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah. Melalui kemahatahuan dan intervensi Allah (kelahiran Yesus, dll), Tuhan tahu bahwa imam-imam kepala akan memutuskan untuk membunuh Yesus. Hal ini Tuhan pakai dalam rencanaNya bagi keselamatan manusia. Jadi, penyaliban Yesus memang adalah menurut rencana dan maksud Allah. Allah bukan menetapkan maksud jahat manusia, Allah menetapkan bahwa maksud jahat mereka boleh terlaksana! Tuhan bukan menetapkan bahwa Yudas akan menjual Yesus, tetapi Tuhan menetapkan bahwa niat jahatnya itu dapat terlaksana, sesuai rencana Tuhan. Jika Tuhan yang menetapkan Yudas untuk menjualnya, dan Yudas tidak punya pilihan lain, maka di manakah keadilan perkataan Yesus: “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Kelima, Alkitab mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dirinya sendiri! Daud berkata kepada Salomo: “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Taw. 28:9). Salomo diperintahkan untuk beribadah dengan rela hati. Kerelaan hati mengimplikasikan bahwa tindakan itu adalah atas dasar keinginan sendiri, bukan dipaksa atau ditentukan oleh orang lain. Kerelaan hati yang telah ditentukan oleh Tuhan adalah konsep yang kontradiktif. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kerelaan seseorang (e.g. Ezra 7:13; Hakim 5:2).

Ada juga ayat-ayat tentang kehendak manusia. Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal didalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Apakah Tuhan telah menetapkan kehendak kita, lalu menyuruh kita untuk meminta sesuai dengan “kehendak” yang telah ditetapkan itu? Apakah ini tidak terdengar aneh bagi anda? Pembacaan Alkitab yang normal, dan pengalaman hidupsehari-hari memberitahu kita bahwa kehendak kita sungguh adalah kehendak kita sendiri, bukan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Kalvinis juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini, keputusan-keputusan manusia seolah-olah adalah keputusannya sendiri. Hanya saja, menurut mereka sebenarnya keputusan itu telah ditetapkan dalam “dekrit rahasia” Allah. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang memberitahu para Kalvinis “rahasia” ini, karena sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

Keenam, Alkitab mengajarkan bahwa doa dapat mengubah keadaan! Kebanyakan orang Kristen yang berdoa, percaya bahwa doanya dapat membawa perubahan dalam dunia ini. Tetapi, jika segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, maka bagaimana mungkin doa dapat membawa perubahan? Oleh sebab itulah, James O. Wilmoth, seorang Kalvinis, berkata: “Kita tahu bahwa Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi. Ia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan maksud kehendakNya sendiri. Sulit untuk merekonsiliasi doa dengan kehendak Allah yang tidak berubah.” David West berkata, “Doa tidak mengubah apapun, doa juga tidak mengubah Allah atau pikiranNya.”41

Bandingkanlah dengan ayat-ayat Alkitab seperti berikut:

Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali roti tidak kumakan dan air tidak kuminum karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. (Ul. 9:18-20)

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 3)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:24 am on Monday, April 20, 2009

B. Tidak Konsisten Secara Praktis

Walaupun penerapan Kalvinisme yang konsisten akan membawa seseorang kepada Fatalisme, tetapi pada kenyataannya mayoritas Kalvinis bukanlah Fatalis. Tidak peduli betapa tidak mampunya para Kalvinis menjelaskan bagaimana manusia bisa bebas dalam skema theologi mereka, toh banyak Kalvinis tetap mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab. Asali berkata: “Tetapi seperti saudara sudah lihat, sekalipun saya percaya dan mengajarkan kedaulatan Allah / penentuan Allah, tetapi saya tidak mengajarkan untuk hidup secara apatis / acuh tak acuh dan tak bertanggung jawab!”24

Terhadap hal ini, saya justru mengucap syukur. Hal ini adalah apa yang dapat kita sebut ketidakkonsistenan yang menguntungkan (felicitous inconsistency). Artinya, jika Kalvinis konsisten dengan premis dasar mereka, mereka akan menjadi Fatalis yang tidak memiliki inisiatif sama sekali. Tetapi untunglah mereka tidak konsisten di sini! Sehingga walaupun teori mereka menuntut kehidupan yang menghalalkan segala sesuatu atau yang sama sekali tidak berinisiatif, namun pada prakteknya mereka berfungsi rata-rata sama dengan manusia lain pada umumnya.

Bahwa banyak Kalvinis yang masih berfungsi normal, bukan berarti Kalvinisme tidak bermasalah. Di bagian Pendahuluan, kita sudah melihat contoh orang atheis. Jika atheisme benar, maka penerapannya secara konsisten akan membuat manusia menjadi tidak bermoral sama sekali. Nyatanya, banyak orang atheis yang masih bermoral (moral relatif), malah banyak menyumbang sana sini untuk acara-acara kemanusiaan. Apakah itu berarti atheisme membangkitkan moralitas? Sama sekali tidak! Moralitas yang ditunjukkan seorang atheis adalah sisa-sisa kebenaran ilahi yang sudah sedemikian terpatri dalam sanubari manusia, sehingga sulit untuk dihilangkan begitu saja. Walaupun dalam pikirannya dia menolak Allah (dan juga sebagai konsekuensinya menolak segala aturan moral), tetapi hati nuraninya belum bisa menerapkan itu dalam perilakunya. Atheismenya belum sempat mengikis habis kebenaran ilahi universal bahwa manusia bertanggung jawab kepada Pribadi di atasnya.

Demikian juga dengan Kalvinisme. Bahwa masih banyak Kalvinis yang hidup secara bertanggung jawab, bukanlah karena Kalvinisme membangkitkan rasa tanggung jawab bagi para pemegangnya. Sebaliknya, Kalvinisme yang konsisten memimpin kepada Fatalisme. Justru di sini para Kalvinis melakukan ketidakkonsistenan yang menguntungkan! Rasa tanggung jawab dalam diri seorang Kalvinis adalah kebenaran ilahi universal yang sudah terpatri dalam sanubarinya, dan yang belum sempat dikikis habis oleh Kalvinisme yang dianut secara intelektual.

Sebenarnya, Kalvinisme yang konsisten sama sekali tidak adekuat untuk dijadikan pedoman praktek kehidupan manusia. Saya akan mencoba untuk memperlihatkan kelemahan Kalvinisme dalam praktek hidup sehari-hari. Sebelumnya saya mengajak pembaca untuk mengingat bahwa Kalvinisme percaya;

1. Allah telah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan dan pikiran manusia, dalam dekrit rahasia di kekekalan lampau

2. Manusia pasti melakukan seperti yang Allah dekritkan, tidak dapat menyimpang dari itu.

Untuk menghindari Fatalisme, Kalvinis berkata: “Jangan hidup berpedomankan kepada ketetapan rahasia Allah, itu adalah rahasia. Hiduplah berpedomankan kepada Firman Allah!” Saya senang ketika siapapun juga mengajarkan umat untuk hidup berpedomankan kepada Firman Allah. Tetapi, sambil Kalvinis menghimbau umatnya untuk hidup sesuai Firman Tuhan, premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah seruan tersebut. Seseorang yang mempercayai premis dasar Kalvinisme dengan serius, walaupun dihimbau untuk taat Alkitab, akan bergumul dengan pikiran-pikiran berikut:

1. “Walaupun saat ini saya seolah-olah dapat memilih untuk taat Firman Tuhan atau untuk membangkang, sebenarnya pilihan saya sudah ditentukan oleh Tuhan sejak kekekalan.”

2. “Kalau saya membangkangi Firman Tuhan, saya akan dihukum. Tetapi kalau misalnya Tuhan memang sudah menetapkan saya untuk membangkang, saya tidak bisa melawan itu. Semoga Tuhan tidak menetapkan saya untuk membangkang!” Apakah pembaca dapat melihat, bahwa Kalvinisme yang diimani secara konsisten menimbulkan suatu harapan yang aneh: “Semoga saya bukan telah ditetapkan untuk membangkang!”25

3. Ketika melakukan introspeksi, atau mengilas kembali masa lalu, seorang Kalvinis sah-sah saja berpikir demikian: “Apa yang tadi saya lakukan memang bertentangan dengan Firman Tuhan. Saya sungguh menyesal…..Tetapi, bukankah itu sudah ditentukan Tuhan? Artinya, saya tidak mungkin taat tadi. Guru Kalvinis saya mengajarkan bahwa apapun yang terjadi didunia tidak lepas dari ketetapan dan rencana Tuhan. Apa saya perlu menyesali suatu rencana Allah dalam hidup saya? Saya rasa saya tidak perlu menyesal lagi, saya hanya perlu terima saja bahwa Allah telah menentukan bahwa tadi saya tidak taat dalam hal ini.” Apakah menurut pembaca skenario ini terlalu mengada-ada? Coba renungkan, bukankah premis dasar Kalvinisme berpotensi untuk menimbulkan pikiran-pikiran seperti demikian? Kepercayaan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu juga tidak dapat secara adekuat mengajari orang percaya perihal doa dan penginjilan. Jika Allah sudah menentukan segala sesuatu, maka doa-doa kita sama sekali tidak mengubah sesuatu apapun. Demikian juga dengan penginjilan. Seiring dengan doktrin Unconditional Election juga (yang belum dibahas), Allah sudah menentukan siapa yang masuk Surga dan siapa yang masuk neraka. Kalau begitu, usaha penginjilan orang percaya tidak akan menambahi atau mengurangi hal ini.

Bukan berarti Kalvinis tidak mengajariorang untuk berdoa atau menginjil. Mereka berkata bahwa orang percaya perlu berdoa dan menginjil karena itu adalah perintah Allah bagi kita. Namun seberapa efektifkah seruan ini jika dibandingkan dengan konsep Alkitab bahwa doa kita benar-benar mengubah situasi? Seberapa efektifkah seruan Kalvinis untuk menginjil karena itu adalah keharusan, dibandingkan seruan untuk menginjil karena usaha penginjilanmu membuat perbedaan bagi jiwa-jiwa yang terhilang?

Tidak usah jauh-jauh, kita bisa melihat ilustrasi seorang salesman. Katakanlah ada dua salesman di dua perusahaan berbeda. Perusahaan pertama memberi gaji tetap kepada salesman mereka. Jadi, berapapun hasil penjualan sang salesman, gajinya sama. Sebaliknya, di perusahaan kedua, salesman diberi gaji tetap yang kecil, tetapi insentif yang besar untuk setiap penjualan yang dia hasilkan. Menurut anda, salesman mana yang akan lebih tinggi penjualannya? Saya rasa saya tidak perlu menjawab lagi, anda sudah mengerti. Itulah sebabnya hampir semua perusahaan kini memakai sistem yang kedua.

Dapatkah pembaca memahami, bahwa seruan Kalvinis untuk berdoa, menginjil, ataupun bentuk ketaatan lainnya, diperlemah oleh premis dasar mereka sendiri? Saya sama sekali tidak menyangkal bahwa Kalvinis masih berdoa. Saya tidak meragukan bahwa ada Kalvinis yang menginjil. Tetapi mereka berdoa dan menginjil, bukan karena mereka Kalvinis (because of their Calvinism), melainkan walaupun mereka Kalvinis (in spite of their Calvinism). Jika ada Kalvinis yang rajin menginjil, saya mengucap syukur untuk hal itu. Tetapi kerajinannya menginjil bukanlah karena ia seorang Kalvinis. Kalau dia bukan Kalvinis, dia bisa lebih rajin lagi menginjil. Mungkin ada Kalvinis yang berkata, “Kalvinisme tidak melemahkan semangat saya menginjil.” Terlepas dari benar tidaknya pernyataan dia, apakah dia yakin bahwa semua Kalvinis yang lain tidak melemah, padahal premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah semangat menginjil?

V. Kedaulatan Allah yang Alkitabiah

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk melihat kedaulatan Allah yang Alkitabiah, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan “kedaulatan.” Webster menjelaskan bahwa kata “sovereign” (Indonesia: berdaulat), memiliki arti:26

1 above or superior to all others; chief; greatest; supreme 2 supreme in power, rank, or authority

3 of or holding the position of a ruler; royal; reigning 4 independent of all others 5 …

1 Di atas atau superior dibanding semua yang lain; pemimpin; yang terbesar; tertinggi 2 tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas 3 memegang posisi seorang penguasa; rajani; bertahta 4 independen terhadap semua yang lain 5 …

Jadi, dapat kita lihat bahwa “kedaulatan” berhubungan dengan “kuasa,” “pemerintahan” dan “otoritas.” Dari definisi “kedaulatan” tidak ada suatu keharusan bahwa pribadi yang berdaulat menentukan segala sesuatu. Berikut ini kita akan menggali beberapa hal berhubungan dengan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia.

A. Kedaulatan Allah Konsisten Dengan Sifat-SifatNya

Allah adalah pribadi yang mahakuasa dan maha berdaulat. Tidak ada orang Kristen lahir baru yang meragukan kedua sifat Allah tersebut. Walaupun demikian, satu hal yang perlu diingat, kedaulatan dan kekuasaan Allah tidak berarti Allah tidak dibatasi. Memang, tidak ada suatu hal pun atau suatu makhluk pun yang dapat membatasi Allah di luar dari Allah sendiri. Tetapi, Allah dibatasi oleh sifat-sifatNya sendiri. Walaupun Allah mahakuasa dan berdaulat, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat Allah lakukan. Sebagai contoh, Allah tidak dapat berdosa, bukan karena halangan dari luar, tetapi karena itu bertentangan dengan sifatNya yang mahakudus. Allah tidak bisa membuat diriNya sendiri tidak eksis, karena sifat Allah adalah mahaada. Sekali lagi, kemahakuasaan dan kedaulatan Allah akan selalu konsisten dengan segala sifatNya yang lain.

Manusia patut mengucap syukur bahwa Allah bukan saja mahakuasa dan maha berdaulat, tetapi juga mahakasih, mahaadil, mahakudus, dan maha penyayang. Oleh karena itu, segala sesuatu yang Allah perbuat melalui kuasa dan kedaulatanNya, pastilah mencerminkan kasih, keadilan, dan kekudusanNya. Jika Allah hanya mahakuasa dan maha berdaulat, tanpa disertai sifat kasih dan kudusNya, maka Allah tidak lebih dari Saddam Hussein yang omnipotent! Bagi pribadi yang demikian, semakin banyak kuasanya, justru semakin berbahaya. Tentu, kalau Allah benar-benar tidak mahakasih atau benar-benar tidak mahakudus, kita tidak bisa protes, karena Dia toh adalah Allah yang menciptakan kita. Kita hanya tinggal tunggu nasib saja! Tetapi puji syukur, Allah menyatakan diriNya dalam Alkitab, dan Ia menyatakan diriNya sebagai Allah yang mahakudus dan mahakasih.

Karena kedaulatan Allah pastilah konsisten dengan sifat-sifatNya yang lain, maka Allah tidak mungkin menetapkan dosa. Kalau Allah menetapkan dosa, maka Allah adalah sumber dosa dan penyebab dosa. Ini tidak mungkin terjadi karena Allah adalah mahakudus. Kalau ada satu sifat Allah yang paling banyak disinggung dalam Alkitab, maka pastinya bukanlah kedaulatanNya, melainkan kekudusanNya. Dalam Alkitab (Indonesia Terjemahan Baru), kata “kudus” dan turunannya, muncul 1008 kali dalam 878 ayat! Sebaliknya, kata “daulat” dalam segala bentuk tidak dapat ditemukan dalam Alkitab Indonesia.27 Kata “kuasa” hanya muncul 562 kali, sudah termasuk segala jenis “kuasa,” bahkan kuasa kejahatan sekalipun. Sedangkan tidak mungkin ada “kekudusan” kejahatan. Setiap kali kata “kudus” dipakai secara positif, pastilah berbicara mengenai Allah atau hal-hal (benda maupun pribadi) yang berkaitan dengan Allah atau yang dikhususkan untuk Allah. Ini pun belum menghitung penggunaan kata “suci.” Jangan salah! Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa Allah maha berdaulat. Pemazmur berkata, “Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri” (Maz. 66:6-7). Tetapi, manusia tidak ada hak sedikit pun, demisuatu definisi “kedaulatan”yang salah, membuat Allah sebagai pribadi yang menetapkan, mendekritkan, danmerencanakansegala dosa yang ada, yang adalah pelanggaran terhadap kekudusanNya!

Ketika Yesaya diizinkan untuk melihat takhta Tuhan, dia menyaksikan para Serafim saling berteriak, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.” Penglihatan akan kekudusan Tuhan begitu melanda dan melingkupi Yesaya, sehingga ia menganggap dirinya celaka karena dosa-dosanya. Minimal 2600 tahun setelah Yesaya, Rasul Yohanes, dalam penglihatannya akan masa depan, melihat kata-kata yang sama tentang kekudusan Tuhan masih dinyanyikan di hadapan takhta Allah (Wah. 4:8). Apakah kita harus percaya, bahwa Allah yang sedemikian Maha Kudus, yang tidak memperbolehkan dosa sekecil apapun untuk menghampiri takhtaNya, ternyata adalah pribadi yang menyebabkan segala dosa yang pernah ada? Ini tidak kurang dari penghujatan! Ini adalah skandal! Oh, wahai teman-temanku Kalvinis, mengapakah anda tidak dapat melihat hal ini?

B. Allah Menciptakan Makhluk dengan Kehendak Bebas

Jika Allah tidak menetapkan adanya dosa, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: kalau begitu dari manakah datangnya dosa dan kejahatan? Bukankah di masa kekekalan lampau hanya ada Allah saja? Kalau pada mulanya hanya ada Allah, bukankah berarti segala sesuatu berasal dari Allah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab jika kita mengerti bahwa Allah selain menciptakan berbagai benda dan hal, juga menciptakan makhluk-makhluk yang Dia berikan kehendak bebas. Manusia adalah salah satu makhluk yang Dia berikan kehendak bebas tersebut. Allah jelas memiliki kehendak bebas, itu adalah salah satu sifatNya. Oleh karena itu, ketika Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupaNya, manusia mewarisi sifat-sifat Allah sampai tingkat tertentu. Manusia sadar diri, manusia memiliki perasaan, manusia dapat berkomunikasi, dan manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Allah.28

Banyak pihak yang mencoba untuk mengadu “kedaulatan Allah” dengan “kehendak bebas manusia.” Mereka merasa bahwa kalau manusia memiliki kehendak bebas, maka manusia bisa memilih untuk menentang Allah, dan itu berarti Allah tidak berdaulat penuh. Tetapi ini adalah logika yang salah. Ingat bahwa kehendak bebas manusia diberikan oleh Allah sendiri. Apakah Allah yang berdaulat itu tidak boleh memutuskan untuk memberikan kehendak bebas kepada salah satu ciptaanNya? Seseorang yang berdaulat tidak berarti ia harus menentukan segala sesuatu. Seorang raja yang paling berdaulat sekalipun, memiliki hak untuk mendelegasikan banyak hal kepada bawahannya. Ia bisa berkata kepada seorang pegawainya: “Coba kamu yang kendalikan seluruh pasukan kita.” Walaupun pengendalian pasukan adalah hak raja, tetapi raja memutuskan untuk membiarkan pegawainya yang mengendalikan. Kita bisa juga katakan bahwa sang pegawai mengendalikan pasukan berdasarkan otoritas yang diberikan raja padanya. Raja yang tidak boleh mendelegasikan apapun, melainkan harus menentukan segalanya, justru dia bukanlah raja yang berdaulat!

Demikianlah kita lihat Allah yang adalah raja atas seluruh alam ciptaan, Ia mendelegasikan kepengurusan laut dan bumi kepada manusia. Dan Ia pula yang memberikan kepada manusia kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk memilih suatu tindakan atau sikap. Dengan kehendak bebas itu, manusia bisa memilih dari banyak pilihan tindakan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Jelas pertimbangan-pertimbangan manusia dipengaruhi oleh banyak hal di sekelilingnya, tetapi tidak ditentukan oleh apapun selain dirinya sendiri. Jadi, tidak ada pertentangan antara “kedaulatan Allah” dengan “kebebasan manusia,” karena Allah secara berdaulat memberikan kepada manusia kemampuan untuk memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Dengan kata lain, kebebasan manusia adalah kebebasan yang diberikan oleh Allah. Karena Allah yang memberikan kebebasan tersebut, maka Allah juga membiarkan manusia untuk memilih sendiri, dan tidak menentukan segalanya bagi manusia. Di sinilah perbedaan pandangan Alkitab dengan pandangan Kalvinis. Ada Kalvinis yang menolak bahwa manusia punya kehendak bebas. Kalvinis-Kalvinis lain di satu sisi menerima kehendak bebas manusia, tetapi di sisi lain menyatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Menurut saya, jenis Kalvinis yang pertama lebih jujur pada premis dasar mereka. Nah, apa kata Alkitab?

Alkitab penuh dengan bukti implisit maupun eksplisit bahwa manusia diciptakan dengan kehendak bebas. Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa Allah ada. Kedua fakta ini diterima secara implisit dan sudah dianggap benar oleh para penulis Alkitab. Setiap kali ada himbauan dalam Firman Tuhan, itu adalah bukti implisit bahwa manusia dapat memilih. Setiap kali para penulis Alkitab memaparkan argumen, itu adalah bukti bahwa mereka mencoba untuk menyodorkan pertimbangan-pertimbangan kepada intelek para pembaca, agar pembaca membuat keputusan yang benar. Ini adalah bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Bahkan Allah sendiri berkata: “Marilah, baiklah kita berperkara” (Yes. 1:18). Tuhan berusaha untuk meyakinkan manusia agar memilih yang baik. Ini adalah bukti kuat bahwa Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia. Tetapi, bukankah Tuhan itu berdaulat dan dapat menentukan apa yang akan dipilih oleh manusia? Benar! Tetapi Tuhan yang berdaulat itu telah memutuskan untuk membiarkan manusia yang memilih sendiri. Dan Tuhan konsisten dengan keputusanNya, sehingga Ia hanya akan meyakinkan manusia, bukan menentukan bagi manusia. Tentu manusia akan mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan Tuhan suatu hari.

Bahkan kisah pencobaan di taman Eden pun merupakan bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Perintah Tuhan kepada manusia untuk tidak makan dari buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat adalah bukti bahwa minimal ada dua pilihan! Dan fakta bahwa Tuhan sangat marah dan kecewa saat Adam dan Hawa makan buah itu, membuktikan bahwa Tuhan tidak menetapkan demikian. Hanya seorang yang telah dicuci otak oleh Kalvinisme yang dapat menyimpulkan dari Kejadian pasal 2 dan 3, bahwa Allah telah menetapkan Adam untuk jatuh ke dalam dosa!

Alkitab penuh dengan bukti implisit akan kehendak bebas manusia. Namun Alkitab juga mengandung pernyataan-pernyataan langsung tentang kehendak manusia tersebut. Ada banyak ayat tentang “kehendak manusia.” Yonatan pernah berkata kepada Daud demikian, “Apapun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu” (1 Sam. 20:4). Tuan dalam perumpamaan Yesus membuat pernyataan yang sangat menarik: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?” (Mat. 20:15). Ayat-ayat ini membuktikan bahwa keputusan manusia mengalir dari hatinya sendiri bukan ditentukan oleh pribadi lain. Kalvinis ingin agar kita percaya bahwa telah terjadi suatu sandiwara kosmik yang besar, tanpa disadari oleh para pemainnya. Manusia mengira ia menentukan keputusan-keputusannya sendiri, dan Alkitab pun mengacu kepada kehendak hati manusia, tetapi suatu hari nanti akan nyata bahwa ternyata kehendak hati itu telah ditentukan Tuhan! Satu-satunya yang kurang dari skenario ini adalah dukungan Alkitab. Anda tidak akan menemukan satu petunjuk pun dari Alkitab bahwa Allah telah menentukan segala keputusan, perasaan, dan tindakan manusia. Sebaliknya, dalam kasus-kasus tertentu, justru Allah yang mengikuti kehendak manusia. Demikianlah pemazmur mengumandangkan kebenaran ini: “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka” (Maz. 145:19). Apakah kita harus percaya, sebagaimana pengajaran Kalvinis, bahwa Allah menentukan dulu kehendak orang-orang itu, lalu membiarkan orang-orang itu merasa bahwa mereka berkehendak dari diri mereka sendiri, dan lalu menyatakan bahwa Dia mengikuti kehendak mereka? Saya tidak percaya bahwa Allah menipu kita dengan sandiwara kosmik seperti itu! Itu bertentangan dengan kesaksian Alkitab! Kalau Allah menentukan segala sesuatu, maka adalah olok-olok bagi Allah untuk menyuruh manusia memilih. Tuhan, melalui Yosua, pernah menantang orang Israel: “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos. 24:15). Bukankah ini semua suatu sandiwara besar jika ternyata Tuhan telah menentukan siapa yang akan memilih Dia, dan siapa yang memilih ilah lain? Bukankah olok-olok jika kemudian Tuhan memarahi mereka yang melaksanakan ketetapanNya sendiri untuk memilih ilah lain? Bukankah bertentangan dengan keadilan Tuhan jika kemudian Tuhan menghukum orang-orang yang tidak dapat berbuat lain daripada rencana rahasiaNya? O, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah engkau melihat, betapa Kalvinisme menjatuhkan karakter Tuhan?

C. Kemahatahuan yang Benar-Benar Mahatahu

Kalvinis menganggap bahwa kemahatahuan Allah adalah benteng yang kuat bagi doktrinnya. Mereka mengumandangkan bahwa jika seseorang menerima kemahatahuan Allah, maka ia harus juga percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Boettner bahkan berkata: “Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu.”29

Kita sudah melihat di bagian sebelumnya, bagaimana Kalvinis mengkaitkan kemahatahuan Allah dengan doktrinnya. Berikut ini saya kutip lagi penjelasan dari bagian sebelumnya:

Walaupun Non-Kalvinis mempercayai Allah mahatahu, Kalvinis memiliki pengertian yang lain tentang kemahatahuan. Kalvinis percaya bahwa jika Allah mahatahu, berarti Allah menentukan segala sesuatu. Logika Kalvinis berjalan seperti ini:

“Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu mahatahu (1Sam 2:3 - “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu”), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu” (Budi Asali).

Saya akan memperjelas lagi dengan mengambil suatu contoh kasus imajiner, yaitu seorang bernama Budi yang suatu hari tertentu memilih untuk memakai baju merah. Allah sudah mengetahui bahwa Budi akan memakai baju merah pada hari itu. Pengetahuan Allah akan hal ini sudah sejak kekekalan lampau. Dan, pengetahuan Allah tentu tidak dapat salah atau gagal, karena Ia Allah dan Ia Mahatahu. Jadi, menurut filosofi Kalvinis, Budi tidak memiliki pilihan lain. Kalau Budi pada hari itu memilih baju biru, maka pengetahuan Allah menjadi salah, dan ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, walaupun tampaknya seolah-olah Budi menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih baju merah dari berbagai pilihan berwarna-warni baju di lemari, menurut Kalvinis sebenarnya Budi sudah ditetapkan untuk memilih baju merah, dan bahwa Budi tidak bisa memilih baju warna lain karena Allah sudah tahu dia akan pilih merah, dan pengetahuan Allah tidak bisa salah.

Lebih lanjut lagi, Kalvinis mengajarkan bahwa Allah mahatahu karena Allah telah menetapkan segala sesuatu! Kita sudah mengutip Shedd yang berkata, “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.”30

Di sinilah letak kesalahan dari Kalvinisme. Mereka membuat suatu asumsi filosofis bahwa:

1. Allah mengetahui lebih dahulu sama dengan Allah menentukan lebih dahulu

2. Pengetahuan Allah menyebabkan hal yang diketahui untuk terjadi

Padahal, tidak ada dukungan Alkitab, dukungan logis, ataupun dukungan praktis untuk asumsi tersebut. Dalam dunia nyata, bukanlah pengetahuan seseorang akan peristiwa yang membuat suatu peristiwa terjadi. Adalah peristiwa yang menimbulkan pengetahuan. Untuk menyederhanakan, kita mulai dengan contoh pengetahuan manusia pada umumnya (pasca-kejadian / post-knowledge). Misalnya kemarin terjadi gempa bumi di Surabaya. Saya yang di Jakarta, setelah membaca koran, menjadi tahu akan peristiwa tersebut. Tentu tidak ada seorangpun yang cukup gila untuk menegaskan bahwa karena saya tahu akan peristiwa tersebut, maka sayalah yang telah menyebabkan/menentukan terjadinya gempa bumi.

Nah, hal yang sama dapat kita lihat dalam hal pengetahuan awal Allah (pra-kejadian / fore-knowledge). Memang ada perbedaan dalam hal waktu mengetahui. Allah mengetahui sebelumnya, sedangkan manusia mengetahui setelahnya. Tetapi, kita masih berurusan dengan hal yang sama, yaitu pengetahuan! Dan bagaimanakah hubungan “pengetahuan” dengan “peristiwa”? Sebagaimana dalam post-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya, demikian juga dalam fore-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya. Perbedaannya hanyalah dari sudut waktu. Dalam postknowledge, pengetahuan terjadi setelah peristiwa, dalam foreknowledge, pengetahuan terjadi sebelum peristiwa. Tetapi, dalam kedua-duanya, “pengetahuan” tidak menyebabkan “peristiwa,” melainkan sebaliknya.

Tetapi bagaimanakah “peristiwa” dapat menyebabkan “pengetahuan” yang sudah ada sebelum peristiwa itu? Bagi manusia memang tidak mungkin, tetapi Allah berada di luar waktu. Istilah “fore” dan “post” knowledge adalah demi memudahkan manusia untuk mengerti, karena manusia berada dalam waktu. Allah berada di luar waktu. Allah melihat

garis waktu bagaikan seseorang yang berada ditempat tinggimemperhatikan banyak kendaraan di jalanan yang panjang. Sedangkan manusia yang berada di dalam waktu, bagaikan salah satu mobil di jalan tersebut, yang sedang “menjalani waktu.” Kapanpun sebuah peristiwa terjadi dalam garis waktu, Allah tahu akan peristiwa itu, bahkan di luar dari waktu.

Jadi, urutan logis (bukan urutan kronologis) yang terjadi adalah:

1. Allah memutuskan untuk memberikan kehendak bebas pada manusia (di luar waktu)

2. Allah menempatkan manusia dalam garis waktu (dalam waktu)

3. Manusia memilih dengan kehendak bebasnya (dalam waktu)

4. Allah tahu pilihan manusia tersebut (di luar waktu)

Kita lihat bahwa fakta Allah mengetahui suatu tindakan manusia, bukan berarti Allah menentukan tindakan tersebut. Manusialah yang menentukan tindakannya, dan Allah tahu akan tindakan itu. Foreknowledge Allah dapat saya ilustrasikan dengan rekaman video. Misalnya saya merekam sebuah pertandingan sepakbola. Lalu saya mempertunjukkan rekaman itu kepada teman saya yang tidak sempat menonton. Bagi dia, seolah-olah hasil rekaman saya itu terjadi “live” karena dia belum tahu apa yang terjadi. Bagisaya, seolah-olah saya punya “foreknowledge”akan pertandingan itu. Kalau teman saya tidak tahu bahwa itu adalah rekaman (menyangka sedang menonton “live”), maka dia akan heran bahwa saya bisa mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Saya bisa menceritakan alur permainan, keputusan wasit, gol-gol yang tercipta pada menit yang tepat, cidera yang terjadi, dan lain sebagainya. Tetapi, setinggi apapun kekaguman dia pada kehebatan pengetauan saya, tidak mungkindia berpendapat bahwa “pengetahuan” sayalah yang menyebabkan semuanya terjadi seperti yang saya katakan. Juga tidak ada orang waras yang akan mengatakan bahwa saya tahu apa yang terjadi karena saya telah menentukan semua itu. Faktanya adalah, walaupun saya sudah “tahu” apa yang terjadi, tetapi “peristiwa” itulah yang membuat saya tahu, bukan “pengetahuan” saya yang menimbulkan “peristiwa.”

Dalam kasus Allah, pengetahuanNya adalah sempurna dan tidak mungkin salah. Oleh karena itu, apapun yang Allah ketahui lebih dahulu, PASTI terjadi. Saya mengaminkan pernyataan ini! Tetapi tidak berarti Allah telah menentukannya. Walaupun segala sesuatu sudah PASTI, segala sesuatu TIDAKLAH HARUS.31 Kalau segala sesuatu itu HARUS, berarti manusia tidak punya pilihan. Ini adalah konsep Kalvinis, bahwa Allah mengetahui dengan cara menentukan. Tetapi Allah telah memberi kebebasan bagi manusia. Manusia itu memilih, dan Allah tahu akan pilihan itu. Bukan Allah yang memilih bagi dia, tetapi Allah tahu pilihan dia.

Sebagai ilustrasi, saya ambil contoh lagi tokoh Budi yang memilih warna baju. Dalam konsep Kalvinis, Allah menentukan Budi untuk memilih baju merah. Ia tidak punya pilihan yang riil sebenarnya. Dari sudut pra-pengetahuan Allah, tindakan Budi sudah PASTI sekaligus HARUS. Tetapi dalam konsep Alkitabiah, Tuhan tidak menentukan bagi Budi. Budi benar-benar punya pilihan, apakah merah atau biru. Karena Budi memilih Merah, Allah tahu akan hal itu (di luar waktu). Sehingga, sebelum Budi memilih pun, dari sudut pra-pengetahuan Allah, sudah PASTI dia memilih merah. Tetapi Budi TIDAK HARUS memilih merah. Kalau Budi memilih biru, maka pengetahuan Allah menjadi “Budi akan memilih biru.” Sekalilagi, maka sejak kekalsudah PASTI Budimemilih biru, walaupun ia TIDAK HARUS memilih biru.

Jadi kita lihat, “peristiwa” pemilihan oleh Budi, menyebabkan “pengetahuan” Allah akan pilihan Budi, walaupun pengetahuan (di luar waktu) itu sebelum peristiwa (dalam waktu).

Gagal untuk memahami perbedaan antara PASTI dan HARUS, menyebabkan pernyataan seperti berikut dari Berkhof: “Telah ditentukan bahwa orang Ibrani harus menyalibkan Yesus.” 32 Ini adalah posisi Kalvinis, manusia HARUS melakukan yang sudah ditetapkan. Tetapi seperti telah kita lihat, jika mereka “harus,” berarti mereka tidak bisa dan tidak boleh melakukan yang lain. Itu berarti mereka tidak bebas dan tidak bertanggung jawab. Seorang non-Kalvinis yang Alkitabiah dapat mengatakan: “Berdasarkan pra-pengetahuan Tuhan yang sempurna dan tak dapat salah, orang-orang Ibrani PASTI menyalibkan Yesus, tetapimereka TIDAK HARUS menyalibkanNya.” Artinya, orang-orang Ibrani bisa saja memilih untuk tidak menyalibkan Yesus. Opsi itu riil dan terbuka bagi mereka! Tetapi Tuhan tahu dengan pasti pilihan mereka, sejak kekekalan.

William Lane Craig memberikan pengertian yang sangat baik sekali tentang hubungan antara kemahatahuan Allah dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia: “Dari pra-pengetahuan (foreknowledge) Allah tentang suatu aksi yang bebas, seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa aksi itu akan terjadi, bukan bahwa aksi itu harus terjadi. Agen yang melakukan aksi tersebut memiliki kekuatan untuk menahan diri (dari aksi tersebut), dan jika agen tersebut melakukan seperti itu, maka pra-pengetahuan Allah tentunya menjadi berbeda. Agen-agen (pelaku-pelaku) tidak bisa berlaku sedemikian rupa sehingga Allah mengetahui mereka melakukan suatu tindakan, namun mereka tidak melakukan tindakan itu. Tetapi ini bukanlah suatu batasan terhadap kebebasan mereka. Mereka bebas untuk melakukanatau tidak melakukan, dan yang mana pun yang mereka pilih, Allah akan sudah mengetahuinya. Karena pengetahuan Allah, walaupun secara kronologis adalah sebelum aksi tersebut, namun secara logis adalah setelah aksi tersebut dan ditentukan oleh aksi itu. Oleh karena itu, pra-pengetahuan ilahi dan kebebasan manusia tidaklah saling bertentangan.”33

Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pengetahuan Allah berasal dari penentuan Allah. Ini hanyalah suatu asumsi dasar Kalvinisme. Pink berusaha untuk menggunakan Kisah Para Rasul 2:23 untuk membuktikan asumsi Kalvinisme tersebut.

Him, being delivered by the determinate counseland foreknowledge of God, ye have taken, and by wicked hands have crucified and slain:

Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.34 Pink bersikukuh bahwa pra-pengetahuan Allah didasarkan pada dekrit-dekrit Allah, dan meminta kita untuk “perhatikan urutannya: pertama adalah maksud Allah (dekritNya), dan kedua pra-pengetahuanNya.”35 Berdasarkan urutan ini, Pink mengajarkan bahwa dekrit Allah menyebabkan Allah tahu. Tetapi ini logika yang kacau. Hanya karena “maksud” lebih dulu disebut dari “pra-pengetahuan,” sama sekali tidak membuktikan bahwa yang satu mendasari yang lain. Bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebut “pra-pengetahuan” duluan? Roma 8:29 berbunyi: “Sebab semua orang yang diketahuiNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”36 Ayat ini justru mengajarkan bahwa prapengetahuan Allah menjadi dasar dari penentuanNya. Artinya, Allah menentukan berbagai hal dalam dunia, bukan secara sembarangan, tetapi berdasarkan hal-hal yang Allah ketahui.

Mazmur 139, salah satu pasal yang paling indah menggambarkan kemahatahuan Tuhan, tidak mendukung sama sekali konsep Kalvinis. Dalam Mazmur ini, Daud menjelaskan:

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Kata-kata Daud sama sekali tidak mencerminkan bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan. Justru sebaliknya! Tuhan “menyelidiki” dan “mengenal” Daud. Ini berarti Tuhan tidak menentukan pikiran-pikiran Daud. Kalau Tuhan menentukan pikiran Daud, maka tidak perlu lagi “diselidiki”! Tuhan juga “memeriksa” Daud. Semua kata-kata yang dipakai menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas (diciptakan Tuhan demikian), dan menentukan pikiran dan pilihannya sendiri. Tetapi pengetahuan Tuhan sedemikian hebat, sehingga hal-hal yang paling rahasia pun, yang hanya ada dalam pikiran Daud, adalah terbuka bagi pengetahuan Tuhan!

Saking hebatnya pengetahuan Tuhan, Daud berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (139:6). Ini sangat kontras dengan konsep Kalvinis. Sekali lagi saya mengutip Shedd: “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” Saya rasa prapengetahuan ala Kalvinis sama sekali tidak mengesankan. Kalau perlu menentukan dulu, baru bisa tahu, itu saya juga bisa, bahkan anak-anak juga bisa! Sekali lagi, sama sekali tidak ada yang spektakuler mengenai pengetahuan yang harus menentukan dulu untuk bisa tahu. Coba kita perjelas dengan ilustrasi sehari-hari.

“Saya adalah seorang dosen, dan tentunya memiliki kuasa untuk menentukan banyak hal di dalam kelas. Suatu hari, saya memutuskan untuk memberikan ujian mendadak kepada para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak siap untuk ujian tentunya kaget sekali. Mungkin pula ada yang protes. Tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak akan terkesan bila saya mengatakan, ‘saya sudah tahu bahwa hari ini akan ada ujian.’ So what!!?? Ya jelaslah sang dosen tahu, toh dia yang memutuskannya! Sebaliknya, bila ternyata salah satu mahasiswa, karena kepintarannya menganalisa gerak-gerik, pola mengajar, dan pola pikir saya, ternyata dapat mengetahui bahwa akan ada ujian mendadak hari itu, maka itu adalah pengetahuan yang cukup spesial.”

Tidak mungkin Daud terkesan dan berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” jika ternyata pengetahuan itu adalah karena suatu penentuan. Bahkan bisa dipertanyakan, apakah “pengetahuan karena penentuan” bisa disebut sebagai keMAHAtahuan. Sebagaimana telah dikutip sebelumnya, Warfield mewakili para Kalvinis untuk menjelaskan tentang pengetahuan Allah: “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri.”37 Mengetahui kehendak sendiri sama sekali tidak ajaib! Pribadi yang hanya tahu apa yang telah ia tentukan, sebenarnya bahkan tidak masuk kategori mahatahu. Kalvinis, karena semangat mereka mempertahankan premis dasar “Allah menentukan segala sesuatu,” justru malah menyerang kemahatahuan Tuhan sendiri!

Arminius, tokoh yang paling banyak diserang oleh Kalvinis, justru memiliki pandangan tentang kemahatahuan yang jauh lebih baik. Tentang Allah, Arminius menegaskan:

“Ia tahu segala hal yang mungkin, apakah mengenai kapabilitas Allah ataupun makhluk; dalam kapabilitas aktif maupun pasif; dalam kapabilitas tindakan, atau imajinasi, atau ucapan: Ia tahu segala sesuatu yang dapat eksis, dalam hal hipotesis apapun: Ia tahu hal-hal lain di luar diriNya, baik yang harus maupun yang tergantung, baik atau buruk, umum atau khusus, masa depan, masa kini dan masa lampau, agung ataupun tercela: Ia tahu hal-hal yang substansial maupun segala jenis yang tak disengaja; aksi dan emosi, modus dan keadaan segala hal; kata-kata dan perbuatan eksternal, pikiran-pikiran internal, pertimbangan-pertimbangan, maksud rencana, dan keputusan-keputusan, dan entitas akal budi, apakah kompleks atau sederhana.”38

James Arminius justru mengakui kemahatahuan Tuhan yang lebih komplit daripada Kalvinis. Secara tradisional, umat Kristiani percaya bahwa Allah tahu segala sesuatu, termasuk apa yang disebut “middle knowledge.” Allah memiliki “middle knowledge,” yang berarti bahwa Allah bukan hanya tahu semua apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tetapi Allah juga tahu semua yang MUNGKIN terjadi. Jadi, walaupun Allah sudah tahu tentang perzinahan Daud dengan Batsyeba, dan segala konsekuensinya, misalnya kekacauan keluarga Daud karena contoh buruk yang ia berikan, dan juga pemberontakan anaknya dan penasihatnya, Allah juga tahu, apa yang akan terjadi jika saja Daud tidak berzinah dengan Batsyeba! Allah tahu tentang semua konsekuensi, semua pilihan orang-orang lain disekitar Daud, jika saja Daud memilih untuk melakukan hal lain! Jadi, Allah bukan saja tahu apa yang benar-benar terjadi, Allah bahkan tahu tentang segala kemungkinan! Itulah sebabnya, dalam Alkitab, banyak sekali referensi tentang pengetahuan Allah “jika” sesuatu hal terjadi, padahal hal tersebut tidak terjadi. Contoh:

Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (Mat. 11:21-24)

Pernyataan Tuhan Yesus ini adalah contoh yang sangat baik. Tirus, Sidon, dan Sodom tidak bertobat. Oleh karena itu tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa Allah menentukan mereka bertobat. Namun, Tuhan tahu, bahwa jika dikota-kota itu terjadi mujizat-mujizat tertentu, mereka tentunya telah bertobat. Ini adalah salah satu perikop yang membuktikan bahwa Tuhan bukan hanya tahu hal-hal yang Ia tentukan! Ia tahu segala kemungkinan. Ia tahu apa yang makhluk akan lakukan dalam segala kondisi dan situasi. Perikop lain yang mengilustrasikan kebenaran ini ada dalam kitab 1 Samuel:

Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah akudengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” (1 Sam. 23:9-12).

Pada waktu itu, Daud sedang bersembunyi dari Saul di sebuah kota bernama Kehila. Saul rupanya mendapat kabar bahwa Daud berada di sana, dan Saul berniat untuk membawa pasukan dan mengepung Daud di Kehila. Namun rencana itu bocor ke telinga Daud, sehingga Daud bertanya kepada Tuhan: “Apakah orang-orang Kehila akan menyerahkan aku kepada Saul?” Tentu pertanyaan iniadalah dengan asumsibahwa Daud terus berada di Kehila. Pada kenyataannya, Daud akhirnya segara keluar dari Kehila. Walaupun demikian, Tuhanbisa tahu dengan pasti, bahwa jika Daud berada di Kehila, orang-orang kota itu akan menyerahkan Daud kepada Saul. Ini adalah suatu kondisi hipotetis, dan tidak pernah terjadi. Tetapi demikianlah kemahatahuan Tuhan, sedemikian ajaib, sehingga Ia tahu segala kemungkinan dan Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh makhluk-makhlukNya dalam segala jenis kondisi. Jelaslah bahwa Tuhan bukan hanya tahu apa yang Ia tetapkan! Tuhan bukan hanya tahu apa yang menjadi kehendakNya sendiri!

Kalau mau direnung-renungkan, pernyataan Warfield bahwa “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri,” sebenarnya adalah pengakuan Kalvinis bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas! Dengan satu kalimat ini, Warfield menerangkan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Kalvinis, tidak pedulibetapa gigihnya mereka berusaha menyangkalinya, yaitu bahwa segala “kehendak” makhluk adalah sebenarnya “kehendak Allah.” Tanpa sadar (atau mungkin dengan sadar), Warfield menegaskan bahwa makhluk tidak memiliki kehendak sendiri, melainkan dikendalikan oleh “kehendak Allah.”

Jadi, usaha Kalvinis untuk memakai kemahatahuan Allah untuk mendukung premis dasarnya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu, justru membawa dua dampak. Pertama, ia semakin memperlihatkan posisi Kalvinis sebenarnya, bahwa manusia hanyalahpion-pionpintar yang melakukansegenap “dekrit Allah” sambilberpikir danmerasa bahwa ia melakukannya atas keinginan sendiri. Kedua, ia justru memperlemah kemahatahuan Tuhan sendiri. Oh, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah kalian melihat, bahwa “allah” yang hanya bisa tahu apa yang ia tentukan, dan hanya tahu kehendaknya sendiri, bukanlah Allah yang Mahatahu dalam Alkitab?

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 2)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:23 am on Monday, April 20, 2009

III. Konsekuensi Pandangan Kalvinisme

Logika dan Alkitab mengajarkan kita bahwa untuk segala tindakan dan kepercayaan, pasti ada konsekuensi yang mengikuti. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Oleh sebab itulah kita mengajari anak-anak kita bahwa tindakan mereka akan membawa konsekuensi. Kalau mereka nakal, kita pukul atau hokum untuk mengajarkan konsekuensi negative untuk tindakan seperti itu. Sebaliknya kalau mereka melakukan yang baik, kita beri insentif. Ini kita lakukan, karena kita ingin menanamkan pada anak-anak bahwa tindakan dan perilaku mereka akan membawa konsekuensi.

Sebagai contoh lain, Alkitab selalu mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman, pasti akan menghasilkan buah. Iman sejati selalu diikuti oleh pekerjaan baik. Memang ada orang yang tidak memiliki buah walaupun mengklaim diri percaya pada Tuhan Yesus. Tentunya mereka ini tidak benar-benar percaya.

Demikian juga dengan Kalvinisme. Jika premis dasar Kalvinisme benar, yaitu bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sejak kekekalan, bahkan dosa, dan bahwa kemahatahuan Allah (yang adalah karena penetapanNya) menyebabkan manusia tidak memiliki pilihan lain selain apa yang Allah tetapkan itu, maka:

A. Manusia Tidak Memiliki Kehendak Bebas

Jika Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, termasuk tindakan, pikiran, dan keputusan semua makhlukNya, sebagaimana diajarkan Kalvinisme, maka secara logis tidak ada satupun makhluk yang memiliki kehendak bebas. Manusia pun tidak memiliki kehendak bebas. Bahkan, kalau mau dipikirkan secara konsisten, maka kita tidak bisa mengatakan, “keputusan Budi untuk memakai baju merah.” Keputusan itu bukanlah keputusan Budi, melainkan keputusan atau ketetapan Allah. Budi hanyalah agen pelaksana ketetapan Allah.

Jika diteruskan secara logis dan konsisten, maka premis dasar Kalvinisme (Allah menetapkan segala sesuatu) menjadikan seluruh ciptaan Allah dan seluruh rangkaian peristiwa sejak penciptaan hingga kekekalan nanti, sebagai sebuah sandiwara atau film yang sudah dinaskahkan. Setiap kata-kata, tindakan, dan aksi, telah dinaskahkan sesuai dengan keinginan sutradara. Manusia, anda dan saya, hanyalah salah satu pemain, yang tidak dapat melakukan apapun selain dari yang telah dinaskahkan (didekritkan sejak kekekalan). Lebih parah lagi, seorang aktor masih memiliki ruang improvisasi, tetapi Kalvinis menyatakan bahwa hal yang terkecil pun sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Dengan kata lain, manusia tidak lebih dari robot, yang harus melakukan ketetapan Allah. Kalau ada yang protes, saya hanya perlu mengingatkan bahwa adalah Kalvinis (John Gill) yang mengatakan: “Pendeknya, segala sesuatu tentang semua individu di dunia, yang pernah ada, yang ada, atau yang akan ada, semuanya sesuai dengan dekrit-dekrit Allah, dan menurut pada dekrit-dekrit itu.” Kalau manusia membuat robot, tentunya segala tindakan, perkataan, dan sifat dari robot itu, adalah sesuai dengan programnya. Bukankah ini sama dengan deskripsi Kalvinis, bahwa segala tindakan, perkataan, dan segala sesuatu mengenai individu, sesuai dan menurut pada “dekrit” (program) Allah?

Allah tentu jauh lebih canggih dari manusia, sehingga kalau Allah membuat robot, dia bisa membuat robot itu memiliki perasaan dan kesadaran diri. Tidakkah pandangan Kalvinis membuat manusia masuk ke dalam kategori robot-robot canggih? Robot yang sadar diri dan memiliki perasaan. Robot yang berpikir bahwa ia memilih sesuatu, yang mengira bahwa ia memutuskan berbagai hal, tetapi yang bagaimanapun juga adalah robot karena ia tidak bisa melakukan selain dari “program”nya (dekrit Allah).

Kalvinis sering membantah dan mengatakan bahwa dia percaya manusia punya kehendak bebas. Budi Asali berkata, “…Allah menentukan segala-galanya, dan itu berarti bahwa Allah juga menentukan bahwa orang itu akan melakukan tindakan itu secara bebas.” Dalam kalimat lain, Asali memperjelas, “Sekalipun Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi saat dosa itu terjadi, manusia melakukan dosa itu dengan kemauannya sendiri! Ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak dibuang!”

Tetapi permasalahannya adalah, Kalvinis memiliki suatu definisi“bebas” yang aneh. Walaupun tindakan itu sudah ditetapkan Allah, dan manusia tidak bisa melakukan selain dari ketetapan itu, manusia masih dikatakan “bebas.” Webster mendefinisikan “free will” (Indonesia: kehendak bebas) sebagai berikut:17

freedom of decision or of choice between alternatives

kebebasan pengambilan keputusan atau memilih antara alternatif-alternatif

Jadi, jelaslah bahwa “ kehendak bebas” berarti dapat memilih antara dua atau lebih alternatif. Jika tidak bisa memilih alternatif lain, maka tidak ada kebebasan. Argumen Kalvinis bahwa “walaupun Allah menentukan, tetapi manusia melakukannya dengan kemauan sendiri,” adalah suatu tipuan! Menurut Kalvinis, segalanya ditentukan Allah. Jadi, kemauan orang itupun ditentukan Allah! Orang itu mau melakukan suatu tindakan, karena Allah menetapkan bahwa dia mau! Dia tidak bisa tidak mau! Dia tidak punya pilihan! Dia tidak bisa mau melakukan apapun selain yang Allah tetapkan! Apakah manusia seperti ini bisa dikatakan memiliki kehendak bebas? Tidak mungkin, kecuali anda meredefinisi “bebas”! Yang paling baik yang bisa dikatakan Kalvinis adalah: Allah menciptakan manusia yang merasa bebas, mengira dirinya bebas, dan bahkan seolah-olah bebas, tetapi sebenarnya, semua tindakan, perasaan, pilihan, pikirannya, telah ditentukan Allah dalam dekrit-dekrit rahasia sejak kekekalan.

Jelas sekali bahwa Kalvinisme yang konsisten membawa kepada konsekuensi bahwa manusia tidak bebas. Kalvinisme sendiri mencoba untuk membenturkan antara kebebasan Allah dengan kemahatahuan Allah. Kalau Allah mahatahu, kata Kalvinis, artinya manusia tidak bisa memilih selain dari yang diketahui Allah. Jadi, Kalvinis sendiri sebenarnya mengakui bahwa manusia tidak bebas! Tetapi dengan tarikan nafas lain, dia mau mengatakan manusia itu bebas! Ini namanya berbicara dolak-dalik, atau bisa juga disebut tidak konsisten!

B. Manusia Tidak Bertanggung Jawab Atas Tindakannya

Jika Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk tindakan dan pikiran makhluk-makhluk ciptaanNya, dan makhluk-makhluk itu tidak dapat melakukan selain yang ditetapkan Allah, maka makhluk-makhluk itu tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka. Ini sebenarnya adalah konsekuensi yang mudah dimengerti dan mengalir secara logis dari konsekuensi yang pertama. Manusia yang telah ditentukan segala tindakan, pikiran, dan kemauannya, sejak kekekalan, adalah manusia yang tidak bebas dan bisa disamakan dengan robot. Manusia yang telah diprogram ini (telah didekritkan segala sesuatu tentang dirinya), dan yang tidak dapat bertindak selain sesuai programnya (dekrit), tentunya tidak bertanggung jawab atas isi “program” (dekrit) tersebut.

Sebenarnya manusia mengerti akan hal ini dengan amat jelas. Bahkan Kalvinis pun mengerti akan hal ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada seorang Kalvinispun yang akan menyalahkan gerbong kereta api ketika kereta api menabrak orang. Kereta api itu hanya dapat berjalan di rel yang dibuat untuknya. Ia tidak dapat menyimpang ke kiri atau ke kanan. Walaupun gerbong kereta api itulah yang bergerak sepanjang rel, dan walaupun gerbong kereta api itulah yang menabrak, tetapi ia sama sekali tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi. Semuanya sudah ditentukan oleh oknum lain di luar dirinya. Oleh karena itu, Kalvinis yang se-Hyper apapun, tidak akan menuntut gerbong kereta api ke pengadilan. Jika ada pihak yang harus dituntut, maka itu adalah orang yang mengendalikan kereta itu, yang memilihkan rel baginya, dan yang mengatur kecepatannya. Ini membawa kita kepada konsekuensi yang ketiga.

C. Allah Bertanggung Jawab Atas Tindakan CiptaanNya

Jika Allah menentukan segala sesuatu, maka Allahlah yang bertanggung jawab atas segala sesuatu! Ini adalah pernyataan yang sederhana namun benar! Ingat bahwa adalah Kalvinis sendiri yang ngotot bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dari hal besar hingga hal remeh. Mereka bersikukuh mengatakan bahwa Allah menentukan segala tindakan dan pikiran manusia. Mereka bahkan bangga dengan doktrin yang mengajarkan bahwa Allah menentukan Adam untuk berdosa! Jika Kalvinisme itu konsisten, maka mereka harus juga mengajarkan bahwa Allah bertanggung jawab atas segala tindakan itu, dan bahwa Allah bertanggung jawab atas dosa.

Jangankan mengendalikan seluruh dan setiap detil kehidupan seseorang, membuat kebijaksanaan yang mempengaruhi orang lain saja harus bertanggung jawab. Jika saya sebagai dosen membuat keputusan bahwa mahasiswa saya tidak boleh ada yang membaca buku, maka saya harus bertanggung jawab ketika mahasiswa saya semuanya tidak lulus. Ini barulah suatu kebijaksanaan umum. Betapa besarnya lagi tanggung jawab seorang dosen yang punya kuasa untuk membuat mahasiswanya rajin atau malas, yang dapat mengatur bagaimana mereka menghabiskan setiap waktu mereka, yang dapat menentukan setiap langkah mereka, yang dapat mengontrol setiap pilihan dan kemauan mereka!

Manusia yang memiliki akal sehat tidak dapat menerima alasan seorang pengendara mobil yang menabrak mati pejalan kaki, yang lalu menyalahkan mobilnya. Memang mobil itulah yang menabrak, bukan tubuh si pengendara, tetapi mobil itu dikendalikan setiap gerakannya oleh sang pengendara. Semua orang tahu, bahwa oknum yang mengendalikan, mengontrol, dan menetapkan adalah yang harus bertanggung jawab. Hakim yang masih waras tidak mungkin menyalahkan mobilnya, melainkan pengontrol mobil. Ah, Kalvinis tersenyum di sini! “Analogi anda salah total,” kata mereka, “karena mobil benda mati yang tidak berkehendak, sedangkan manusia itu hidup dan berkehendak. Bahkan dosa itu dilakukan dengan senang hati oleh manusia dengan bebasnya!”

Tetapi sekali lagi kita perlu mengkaji, bagaimanakah bisa dikatakan bahwa manusia melakukan itu dengan bebas, jika dia tidak bisa melakukan yang lain? Bagaimanakah itu bisa dikatakan bebas jika sudah ditentukan? Ini adalah kontradiksi. Mengenai bahwa manusia melakukan dosa dengan senang hati, kita perlu mengingatkan Kalvinis, bahwa menurut doktrin mereka, itupun telah ditetapkan oleh Allah. Jika Allah menetapkan segala sesuatu, maka Allah menetapkan manusia untuk melakukan dosa, dan untuk melakukan dosa itu dengan senang hati. Kalvinis mengajarkan bahwa hati manusia senang akan dosa karena sudah bobrok total. Tetapi mengapakah manusia bobrok total? Karena ia sejak awal jatuh ke dalam dosa. Tetapi mengapakah ia jatuh ke dalam dosa? Karena Allah menentukannya. Oleh karena itu, Kalvinis tidak bisa mengajarkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, sekaligus membebaskan Allah dari tanggung jawab terhadap dosa. Hal tersebut adalah kontradiksi.

IV. Penolakan Kalvinis Akan Konsekuensi Kalvinisme

A. Tidak Konsisten Secara Logis

Kita telah melihat di atas, bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Kalvinisme, yang mengajukan premis dasar bahwa Allah menentukan segala sesuatu, juga tidak terlepas dari hukum sebab-akibat ini. Mereka tidak bisa berkata: “Karena kami Kalvinis, kami tidak perlu menerima konsekuensi logis dari premis dasar kami.”

Namun demikian, mayoritas Kalvinis menolak konsekuensi logis dari kepercayaan mereka sendiri. Mereka tetap mempertahankan bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, segala tindakan dan pikiran manusia, namun tidak mau mengakui bahwa dengan demikian manusia tidak bebas. Mereka kekeh bahwa manusia bebas, walaupun segala sesuatu tentang manusia telah ditentukan sebelumnya. Lebih lanjut lagi, Kalvinis tetap mempersalahkan manusia, walaupun manusia itu hanyalah melakukan apa yang ditetapkan. Budi Asali, misalnya, mengatakan: “Pada waktu manusia berbuat dosa, ia tetap bertanggung jawab terhadap Allah akan dosanya itu, artinya ia tetap akan dihukum karena dosanya itu…… Karena itu jangan sembarangan berbuat dosa, apalagi dengan alasan bahwa dosa itu sudah ditentukan oleh Allah!”18

Jadi, Kalvinis mengajarkan bahwa manusia akan dihukum karena melakukan sesuatu yang Allah tentukan! Ini hanya logis dalam dunia Kalvinis. Dalam dunia nyata, ini sama sekali tidak logis. Seorang Jenderal yang baik tidak akan menghukum prajurit bawahannya yang hanya menjalankan instruksi Jenderal itu sendiri, tidak peduli apakah prajurit itu senang atau tidak senang ketika melakukan perintah itu. Anda ada di dunia nyata atau di dunia imajiner Kalvinis?

Coba kita ambil kasus kejatuhan Adam ke dalam dosa. Kita telah mengutip tokoh-tokoh Kalvinis yang menegaskan bahwa adalah ketentuan Allah agar Adam jatuh ke dalam dosa. Dalam tarikan nafas yang sama, para Kalvinis mengatakan bahwa Adam, danjuga segala anak cucu Adam, harus bertanggung jawab atas dosa Adam tersebut! Apakah anda bisa melihat keanehan di sini? Supaya Adam tidak dihukum, artinya dia harus tidak boleh jatuh ke dalam dosa! Sedangkan Allah menentukan supaya Adam berdosa. Artinya, supaya Adam tidak dihukum, dia harus melawan keputusan Allah (yang tidak bisa dilawan). STOP! Sebentar dulu, bukannya justru orang yang melawan keputusan Allah itu yang dihukum? Tetapi kalau Adam mengikuti keputusan Allah, dia jatuh dalam dosa, dan dia harus dihukum! Kalau Adam tidak mengikuti keputusan Allah, bukankah itu melawan Allah juga? Dan bukankah itu dosa juga? Artinya, mengikuti keputusan Allah atau tidak mengikuti keputusan Allah, Adam harus kena hukum. Tetapi kita harus ingat bahwa ini hipotetis, karena menurut Kalvinis, sebenarnya Adam tidak bisa tidak melakukan keputusan Allah. Jadi, pada intinya, Allah sudah menetapkan Adam dan seluruh manusia untuk dihukum. Dosa hanyalah cara Tuhan membenarkan hukuman tersebut!

Bukan hanya itu saja, premis Kalvinis bahwa Allah menetapkan segala sesuatu juga menciderai pribadi Allah sendiri. Allah jelas-jelas menyuruh Adam untuk tidak makan buah terlarang di tengah taman Eden tersebut (Kej. 2:16-17). Namun Kalvinis ingin meyakinkan kita, bahwa Allah menentukan Adam untuk melanggar perintahNya sendiri. Tidak berhenti sampai di sana, lalu Allah menghukum dan menyalahkan Adam karena telah melaksanakan apa yang Allah tetapkan dalam dekrit yang tak dapat Adam lawan. Kalau hal yang sama dilakukan oleh manusia, kita semua tidak akan ragu-ragu untuk memvonisnya sebagai pribadi yang sangat licik dan jahat. Apakah itu Allah yang anda percayai? Saya katakan bahwa Allah dalam Alkitab tidak berlaku seperti itu! Oleh karena itulah saya katakan bahwa “allah” Kalvinis berbeda dengan Allah saya. Dan oleh sebab itu pulalah saya katakan bahwa Kalvinisme adalah serangan terhadap pribadi Allah itu sendiri!

Tetapi, apakah Kalvinis mau mengikutiaturan logika dalam hal ini? Jawabannya adalah tidak. Mayoritas Kalvinis tidak mau menerima konsekuensi bahwa premis dasar mereka membuat manusia menjadi robot-robot canggih (yang punya kesadaran diri, bahkan yang merasa melakukan tindakan itu atas “kehendaknya” dan “kemauannya” sendiri, tetapi yang sebenarnya telah ditentukan segala-galanya, termasuk “kehendak” dan “kemauan” tersebut). Kalvinis tidak mau mengakui bahwa ajaran mereka membuat manusia lepas dari tanggung jawab dosa. Justru, teman-teman mereka yang mau menerima konsekuensi Kalvinisme, mereka cap sebagai “Hyper” Kalvinis. Sebenarnya, Hyper-Calvinist hanyalah orang-orang yang secara konsisten menerapkan premis dasar Kalvinisme bahwa Allah menetapkan segala sesuatu. Lalu apa jawab mereka terhadap ketidakkonsistenan logis yang muncul?

Asali mewakili para Kalvinis dengan jawaban: “Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini.”19 Asali bukan satu-satunya Kalvinis yang melarikan diri dari logika dengan cara demikian. Spurgeon berkata, “Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan….Saya tidak yakin bahwa disurga kita akan bisa mengetahuidimana tindakanbebas manusia dankedaulatanAllah bertemu, tetapikeduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggungjawab.” 20 Jadi, Spurgeon berkata bahwa bahkan di Surga pun mungkin kita tidak akan bisa menjelaskan kontradiksi antara kebebasan manusia dan kedaulatan Allah! Apakah tidak lebih baik untuk berkesimpulan bahwa justru konsep kedaulatan Allah Kalvinislah yang salah? Perlukah kita ngotot sedemikian rupa hanya untuk mempertahankan suatu filosofi?

Jika sedang mengargumentasikan poin-poin mereka, Kalvinis senang sekali menggunakan logika. Bahkan mereka menuntut bahwa kita, non-Kalvinis, harus mengikuti alur logika yang mereka sampaikan. Sebagai contoh, ketika sedang mengargumentasikan bahwa kemahatahuan Allah berarti manusia tidak memiliki pilihan, Boettner berkata: “Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu.”21,22

Saya menekankan frase “kekonsistenan yang logis dari Calvinisme.” Kalau begitu, Boettner, mengapa tidak melanjutkan logika yang konsisten itu dan menyimpulkan bahwa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Allah secara pasti, maka manusia tidak bebas? Mengapa tidak menggunakan logika yang telah diberikan Tuhan dan menyimpulkan bahwa jika manusia ditentukan untuk berdosa, maka berarti manusia tidak perlu dihukum, karena ia sekedar melakukan dekrit Tuhan? Di manakah kekonsistenan yang logis dari Calvinisme itu saat berhadapan dengan konsekuensi dari pengajaran mereka sendiri? Mereka begitu ngotot dengan logika di satu sisi, tetapi ketika pengajaran mereka tidak konsisten, mereka mencariperlindungan dibalik “misteri,” “rahasia Allah yang tidak dapat diselami,” “dua hal yang tidak dapat dijelaskan,” “dua hal yang nampak bertentangan tetapi pasti ada penjelasannya,” atau bahkan “dua hal yang bahkan di Surga pun belum tentu bisa kita jelaskan”! Bukankah semua ini adalah pengakuan bahwa pengajaran mereka tidak konsisten, tetapi mereka tidak mau menerimanya?

Mungkin ada Kalvinis yang akan berkata: “Mungkin tidak masuk logika kita, tetapi ALLAH BISA membuat manusia yang sudah ditentukan segala-galanya, tetapi yang sekaligus bebas. Apakah anda tidak percaya bahwa ALLAH BISA melakukan itu?” Pertanyaan semacam ini mengingatkan saya akan pertanyaan-pertanyaan jebakan ala atheis. Atheis tidak percaya bahwa ada Allah yang mahakuasa, sehingga mereka sering menantang dengan pertanyaan, seperti: Jika Allah mahakuasa, bisakah Allah menciptakan batu yang begitu besar sehingga Ia sendiri tidak bisa angkat? Tentu ini pertanyaan jebakan. Jawabannya adalah: Allah bisa membuat batu seperti apapun, dan Dia bisa mengangkat semua batu itu. Batu yang begitu besar sehingga tidak dapat Allah angkat, tidak bisa eksis bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Atau ada pertanyaan jebakan lagi yang seperti ini: Jika Allah mahakuasa, bisakah Ia menciptakan sebuah segitiga yang bersisi empat? Tentu ini adalah pertanyaan jebakan juga. Ini tidak ada hubungannya dengan “kuasa” tetapi dengan definisi. Sebuah segitiga yang bersisi empat adalah sesuatu yang sudah bertentangan dengan definisi dirinya, jadi tidak mungkin eksis bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Demikian juga dengan pertanyaan: Bukankah Allah bisa menciptakan manusia yang tidak bebas (ditentukan segalanya) yang memiliki sifat bebas? Saya bukan meragukan kemampuan Tuhan. Tetapi, sama seperti pertanyaan-pertanyaan jebakan di atas, ini bukan masalah kuasa. Ini masalah definisi. Makhluk yang “tidak bebas sekaligus bebas” tidak eksis secara definisi bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Ia mirip dengan segitiga yang bersisi empat.

Kadang-kadang orang Kalvinis, demi menyelamatkan doktrin mereka yang bahkan mereka akui sendiri tidak harmonis (tidak konsisten), mencoba untuk mengatakan bahwa ada banyak doktrinAlkitab lain yang juga tidak harmonis. Saya akan mengutip lagi Asali sebagai representatif dari Kalvinis. Untuk membela ketidakharmonisan doktrin kedaulatan Allah versi Kalvinis, Asali mengatakan:

“Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu mahakasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia mahakasih dan mahatahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal itu, termasuk orang Arminian, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin ini kita tidak mau bersikap sama?”

Walaupun Asali mungkin tidak senang dengan kesimpulan saya ini, tetapi pada intinya dia seolah ingin mengatakan: “banyak kok doktrin Alkitab yang tidak harmonis (tidak ada orang yang bisa harmoniskan). Jadi kalau Kalvinisme tidak harmonis, tidak apa-apa!” Tetapi benarkah banyak doktrin dalam Alkitab tidak harmonis? Saya menolak hal semacam itu! Alkitab adalah kitab yang paling konsisten dan harmonis!

Saya bisa mengerti, mengapa Asali merasa sulit untuk mengharmoniskan kemahatahuan Allah dengan sifatNya yang mahakasih. Karena kedua hal ini memang tidak konsisten jika dilihat dari sudut Kalvinisme! Allah sudah tahu banyak orang akan masuk neraka. Tapi Kalvinis mengatakan bahwa Allah tahu karena Allah menentukan. Jadi, “allah” Kalvinis menentukan manusia masuk neraka! Memang sulit untuk melihat bagaimana “allah” yang demikian bisa mahakasih. Seharusnya, Asali dan Kalvinis lainnya tidak mencoba menggunakan poin ini untuk mendukung ketidakkonsistenan mereka dalam hal kedaulatan Allah. Seharusnya mereka melihat kontradiksi ini sebagai bukti lain bahwa Kalvinisme memang tidak adekuat untuk menggambarkan realita Alkitab.

Jika kita tilik lebih lanjut, perbandingan antara kedua hal ini pun sebenarnya tidak setara. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh. 4:6), dan bahwa Allah mahatahu (Maz. 139 misalnya), dan bahwa ada neraka (Wahyu 20:14-15). Tetapi, tidak ada satu ayatpun yang mengajarkan bahwa “Allah menentukan segala sesuatu sejak kekekalan dalam dekrit-dekrit rahasia.” Tentu kita akan melihat dan membahas berbagai ayat yang dipakai Kalvinis di bagian-bagian berikut.

Sebenarnya, bahwa Allah mahatahu sekaligus mahakasih, sama sekali tidak bertentangan jika kita tidak beranggapan Allah menentukan segala sesuatu. Allah memberikan manusia pilihan (kehendak bebas), dan mereka bisa memilih untuk menentang Allah atau percaya pada Allah. Allah bahkan menjadimanusia dan matibagisemua orang (baik yang menentang maupun percaya),23 dan itu membuktikan kasihNya. Tetapi, Allah bukan hanya mahakasih, tetapi juga mahaadil, dan mahakudus. Setiap manusia yang menentang Allah dan tidak diselesaikan dosanya oleh Yesus, dihukum secara kekal dalam Neraka. Mengapa Allah tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk Surga? Karena Allah tidak ingin disembah hanya oleh “robot” yang ditentukan untuk percaya. Allah ingin ada pribadi-pribadi yang dapat memilih dengan bebas, yang pada akhirnya memilih untuk menyembah Allah. Karena ada pilihan yang bebas (dengan konsekuensi masing-masing yang sudah diumumkan sebelumnya), maka Allah tidak berlawanan dengan kasihNya jika Ia menghukum mereka yang menentangNya. Ini karena bukan Allah yang menetapkan pilihan tersebut, melainkan pribadi yang bersangkutan.

Masalah timbul ketika sifat-sifat Allah didefinisikan menurut manusia. Manusia mengatakan bahwa “kasih” tidak mungkin menghukum. Tetapi ini adalah definisi yang salah. Jika definisi ini dipakai, maka sifat Allah yang “mahakasih” akan bertentangan dengan “kekudusan” dan “keadilan”Nya. Karena ada ketidakharmonisan, kita perlu merevisi premis dasar kita. Ternyata, kasih bukan tidak dapat menghukum.

Demikian juga dengan kedaulatan Allah. Manusia (Kalvinis) berkata bahwa “Allah yang berdaulat menentukan segala sesuatu.” Tetapi, ini menjadi bertentangan dengan sifat Allah yang kudus (tidak mungkin menentukan manusia untuk berdosa) danjuga keadilanNya (tidak mungkin menghukum manusia yang hanya menjalankan dekrit). Seharusnya ada kerendahan hati di sini untuk introspeksi: kalau begitu, mungkin premis dasarnya salah. Barangkali, Allah yang berdaulat tidak perlu menentukan segala sesuatu!

KEDAULATAN ALLAH DAN KEBEBASAN MANUSIA YANG ALKITABIAH (Bag 1)

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 7:22 am on Monday, April 20, 2009

Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

I. Pendahuluan

Salah satu hal yang secara paling mendasar mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dunia ini, adalah konsepnya tentang Allah. Beritahukan pada saya, apa yang seseorang percayai tentang Allah, maka saya dapat memprediksikan apa pendapat orang tersebut dalam berbagai hal, dan bahkan bagaimana orang tersebut akan bertindak dalam berbagai situasi. Tentu ada ruang yang lebar untuk variasi individu, tetapi pandangan seseorang tentang Allah berada pada poros inti moralitas dan filosofinya.

Seorang atheis, misalnya, bahkan tidak percaya ada Allah. Oleh karena itu, atheis yang konsisten, tidak akan memiliki moralitas yang absolut. Ada atheis yang tidak memiliki moralitas sama sekali dan menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi jika atheisme diimani secara konsekuen sampai pada kesimpulan akhirnya. Jika tidak ada Allah, maka manusia hanyalah binatang lainnya, dan tidak ada konsep benar atau salah. Oleh karena itu, mereka berlaku tidak lebih dari binatang yang pintar, melakukan apapun juga yang diingini tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun. Dalam hal ini, tindakan mereka bahkan bisa lebih kejam dari binatang, karena binatang cukup puas dengan mempertahankan hidup dan eksistensi mereka, sedangkan manusia yang tidak bermoral dikuasai oleh nafsu yang tidak pernah mengenal cukup.

Tentu banyak atheis yang tidak seperti itu. Mereka masih memiliki moralitas, walaupun moralitas yang relatif. Walaupun secara intelektual mereka menolak eksistensi Allah, tetapi karena alasan-alasan lain (rasa kemanusiaan, tenggang rasa, budi pekerti yang dipelajari sejak kecil, dll), mereka mempertahankan sejenis moralitas. Tetapi ini tidak berarti bahwa atheisme dapat menghasilkan moralitas. Moralitas pada seorang atheis adalah sisa-sisa kebenaran ilahi yang universal, yang belum terkikis habis oleh atheisme itu, yang masih ada pada individu tersebut. Ia bermoral bukan karena ia atheis. Sebaliknya, ia bermoral walaupun ia seorang atheis, karena dia belum mau menerima konsekuensi logis dari atheisme. Dapat kita katakan bahwa ia adalah seorang atheis dalam teori, tetapi belum atheis dalam praktek, minimal belum sepenuhnya. Ada ketidakkonsistenan antara apa yang ia percayai dengan apa yang ia lakukan, tetapi ketidakkonsistenan yang menguntungkan.

Bagaimana dengan orang-orang yang percaya ada Allah? Apakah mereka semua ini sama? Tentu tidak! Tanpa perlu mengupas tentang deisme, pantheisme, panentheisme, atau yang lainnya yang sudah pasti akan membawa penganutnya ke pandangan yang berbeda-beda, bahkan di kalangan theis sekalipun (percaya Allah sebagai pribadi yang immanen dan transenden), ada perbedaan cara berpikir yang cukup luas, tergantung kepada konsep dia tentang pribadi Allah.

Ketika seseorang menekankan bahwa Allah adalah mahakasih, tanpa melihat aspek lain dari sifat-sifat Allah, maka ia akan sampai kepada kesimpulan yang salah. Banyak orang senang dengan Allah yang mahakasih, tetapi tidak mau Allah yang mahakudus atau Allah yang mahaadil. Mereka merasionalisasikan: Allah yang mahakasih tentu tidak akan mengirim orang ke neraka untuk selama-lamanya!

Tetapi rasionalisasi seperti ini sungguh salah. Ada dua kesalahan yang terjadi. Kesalahan PERTAMA adalah merasionalisakan sifat Allah dengan mengabaikan pernyataan jelas Alkitab. Banyak sekali ayat Alkitab yang menyatakan bahwa manusia yang berdosa dan menolak kasih karunia penyelamatan Allah, akan binasa untuk selama-lamanya dalam neraka. Matius, misalnya, mencatat peringatan Yesus bahwa lebih baik masuk Surga dalam kondisi timpang dan buta daripada dengan tubuh lengkap, tersesat dan masuk ke dalam api yang kekal (Mat. 18:8). Jadi, pernyataan kaum universalis bahwa semua manusia akan masuk Surga, bertentangan dengan pernyataan jelas dalam Alkitab. Seharusnya, bagi orang yang sungguh menjunjung tinggi Alkitab sebagai standar, adanya pernyataan jelas dalam Alkitab menjadi pandu yang berotoritas.

Seharusnya terjadi pemikiran seperti berikut: “Jika Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang tidak bertobat akan masuk neraka untuk selama-lamanya, maka pemikiran awal saya (bahwa Allah yang mahakasih tidak mungkin mengirim orang ke neraka) adalah salah. Saya harus merevisi ulang premis dasar pemikiran saya.” Ini adalah sikap yang benar. Tetapi sayang, yang biasanya terjadi adalah pemelintiran ayat-ayat kitab Suci untuk mendukung pemikiran dasar seseorang. Bukannya berpikir bahwa ada yang salah dengan premis dasar (karena bertentangan dengan ayat-ayat jelas Alkitab), yang bersangkutan justru sibuk mencoba menjelaskan ayat-ayat Alkitab itu agar masuk ke dalam konsep dia.

Kesalahan KEDUA adalah terlalu menekankan satu sifat Allah, tanpa melihat sifat-sifat Allah yang lain. Ketika seseorang berjalan tanpa membiarkan Alkitab mengoreksi premis dasarnya, maka tidak mungkin dihindari dia akan berlebihan menekankan salah satu sifat Allah. Penekanan yang berlebihan ini justru membuat pengertiannya akan sifat Allah tersebut menjadi salah.

Sang universalis terlalu menekankan tentang kasih Allah, sehingga mengabaikan kekudusan Allah dan keadilan Allah. Manusia yang berdosa tidak dapat berkenan kepadaAllah yang mahakudus, dan tidak mungkin masuk Surga tanpa ada penyelesaian dosa terlebih dahulu. Allah yang adil tidak mungkin tidak menjalankan hukumNya sendiri, bahwa dosa harus dihukum. Kita bisa melihat bahwa menekankan satu sifat Allah di atas sifat-sifatNya yang lain akan menghasilkan pemahaman tentang Allah yang timpang. Allahnya sang universalis, bukan lagimenjadi Allah yang mahakasih, melainkan

Allah yang lemah, yang tidak berani menjalankan hukumNya sendiri. Kasih yang demikian juga bukanlah kasih yang sejati, karena kasih yang sejati selalu harmonis dengan kebenaran.

Semua pendahuluan di atas mengantar saya kepada topik inti dari tulisan ini, yaitu kedaulatan Allah dan hubungannya dengan kebebasan manusia. Dalam kekristenan ada satu kelompok yang banyak berbicara mengenai “kedaulatan Allah,” yaitu kelompok Kalvinis. Kalvinis membuat premis dasar dari pemahaman mereka akan “kedaulatan Allah.” Menurut mereka, karena Allah berdaulat, maka Allah pastilah telah menetapkan segala sesuatu. Segala sesuatu artinya adalah segala sesuatu. Jadi, setiap tindakan manusia maupun malaikat, setiap pikiran manusia maupun malaikat, telah ditentukan oleh Tuhan. Lebih lanjut lagi, Tuhan sudah menentukan darisemula, bahkan sebelumpenciptaan, bahwa Dia akan menciptakan sebagian manusia untuk diselamatkan, dan Dia akan menciptakan sebagian manusia untuk dibinasakan. Keselamatan atau kebinasaan ditentukan oleh Allah tanpa pertimbangan apapun di luar diri Allah! Lebih lanjut lagi, sesuai dengan pemilihan keselamatan/kebinasaan itu, Allah hanya akan menyediakan keselamatan bagi yang terpilih selamat. Dan Allah akan memaksakan (memberi tanpa dapat ditolak) “kasih karunia”Nya kepada orang-orang yang terpilih untuk selamat ini.

Kalvinis menegaskan bahwa setiap orang yang percaya bahwa Allah berdaulat harus sampai pada kesimpulan yang sama dengan mereka. Jikalau tidak, maka anda tidak benar-benar percaya bahwa Allah berdaulat! Oleh karena itulah saya terbeban untuk menulis tentang topik ini. Motivasi saya bukanlah untuk menyerang pribadi-pribadi tertentu.

Saya tidak membenci satu orang Kalvinis pun, bahkan saya memiliki teman-teman baik di antara para Kalvinis. Motivasi saya adalah kebenaran. Saya tidak tahan melihat Allah yang saya sembah dan kasihi, digambarkan dengan sedemikian salah. Saya merinding melihat bagaimana loyalitas terhadap suatu dogma telah membuat banyak orang yang brilian dan baik menentang kata-kata jelas dari Alkitab. Saya ingin menggambarkan kedaulatan Allah yang sebenarnya dari dalam Alkitab.

Tidak pernah dalam mimpi saya sekalipun, saya berpikir bahwa karya tulis saya akan membuat semua Kalvinis berubah. Orang yang telah menggolongkan dirinya dalam suatu kelompok, cenderung sulit untuk melihat segala sesuatu dengan netral. Tujuan utama saya adalah orang-orang yang masih sedang menyelidiki dan mencari. Jika anda ingin tahu tentang kedaulatanAllah, kebebasan manusia, dan keselamatan, maka harapan saya buku ini bisa bermanfaat dalam anda mempelajari Alkitab. Ingatlah bahwa Alkitab adalah standar tertinggi. Tetapi bagi para Kalvinis yang masih rela untuk menguji sistem yang telah mereka yakini selama ini, saya yakin buku ini juga akan bermanfaat. Saya minta untuk membaca karya tulis ini dengan hati yang terbuka, yang siap untuk menguji setiap premis dasar, membandingkannya dengan Alkitab. Sesudah menyelesaikan buku ini, setuju atau tidak setuju, adalah kebebasan anda! Tetapi suatu hari nanti, kita semua akan berdiri di hadapan Allah, mempertanggungjawabkan bagaimana kita menggunakan kebebasan yang telah Ia anugerahkan itu.

II. Kedaulatan Allah menurut Kalvinis

A. Allah Menetapkan Segala Sesuatu

Premis dasar dari Kalvinisme menegaskan bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang menetapkan segala sesuatu. Dengan kata lain, setiap perbuatan, tindakan, maupun pikiran semua makhluk hidup, telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Ini adalah premis dasar dari Kalvinisme. Untuk membuktikan bahwa Kalvinis sungguh percaya seperti itu, kita akan melihat kutipan pengajaran berbagai tokoh Kalvinis.

John Gill berkata, “Pendeknya, segala sesuatu tentang semua individu di dunia, yang pernah ada, yang ada, atau yang akan ada, semuanya sesuai dengan dekrit-dekrit Allah, dan menurut pada dekrit-dekrit itu; lahirnya berbagai manusia ke dalam dunia, waktu terjadinya, semua hal-hal yang terjadi berhubungan dengan itu; semua peristiwa dan kejadian yang dialami manusia, sepanjang hidup mereka; tempat tinggal mereka, posisi mereka, panggilan hidup mereka, dan pekerjaan mereka; kondisi mereka berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kesulitan dan kemakmuran; kapan mereka akan meninggalkan dunia, dan semua hal yang berkaitan dengan itu; semuanya sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.”1 (Penambahan penekanan oleh saya)

Semua orang Kristen lahir baru percaya bahwa Allah memiliki rencana dalam hidup tiap-tiap individu. Semua orang percaya yakin bahwa waktu kelahiran ataupun kematian ada di tangan Tuhan. Semua orang beriman juga mengakui bahwa segala hal yang dia nikmati dalam hidupnya adalah berkat-berkat Tuhan. Tetapi Kalvinis tidak puas sampaidisitu. Kalvinis menegaskan bahwa semua yang terjadi dalam hidup seseorang, termasuk tindakannya, pikirannya, kesukaan-kesukaannya, pilihan-pilihannya, semuanya telah ditetapkan oleh Tuhan sejak kekekalan dalam dekrit-dekrit rahasia. Untuk memastikan bahwa benar inilah yang dipercayai Kalvinis, kita lihat lagi beberapa kutipan.

Budi Asali berkata, “Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu.”2 Berkhof memperjelas posisi Reformed: “Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi…”3 (Penambahan penekanan oleh saya)

Sampai disini kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada Kalvinis: “Apakah segala sesuatu yang dimaksud di sini benar-benar berarti segala sesuatu?” Pertanyaan ini penting, karena Kalvinis sering memiliki interpretasi sendiri mengenai kata “segala” atau “semua.” Ketika Alkitab mengatakan bahwa Yesus mati bagi “semua manusia,” Kalvinis

bersikukuh bahwa “semua” yang dimaksud adalah “semua orang pilihan.” Jangan-jangan, maksud Kalvinis adalah bahwa Allah menetapkan “segala sesuatu yang pilihan saja.” Tetapi kita dipuaskan oleh para Kalvinis bahwa memang mereka percaya Allah menetapkan segala sesuatu tanpa kecuali.

David West berkata, “Allah menetapkan sejak awal segala sesuatu, baik yang beranimasi (bergerak/hidup), maupun yang tidak beranimasi (diam/mati). DekritNya mencakup semua malaikat, baik yang baik maupun yang jahat.”4

Tow dan Khoo memperjelas: “Dengan kuasa yang tak terbatas dan hikmat yang tak terbatas, Allah telah sejak kekekalan lampau, memutuskan dan memilih dan menetapkan segala peristiwa yang terjadi tanpa kekecualian, sampai dengan Kekekalan yang akan datang.”5 Melanchthon menghilangkan segala keraguan kita dengan berkata bahwa “Segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketetapan ilahi; bukan hanya pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan secara eksternal, tetapi bahkan juga pikiran-pikiran yang kita pikirkan secara internal.”6

B. Allah Menetapkan Dosa

Satu hal yang mengganggu saya ketika merenungkan pernyataan-pernyataan Kalvinis bahwa “Allah menetapkan segala sesuatu,” adalah masalah dosa. Kalau Allah menetapkan segala sesuatu, maka berarti Ia menetapkan juga semua dosa yang pernah diperbuat, yang sedang diperbuat, dan yang akan diperbuat. Ini berarti bahwa Allah-lah yang menetapkan agar Adam dan Hawa makan buah yang Ia larang. Bukankah lucu bila Allah melarang mereka makan buah itu, tetapi Ia pula yang menetapkan agar mereka makan buah itu?

Lebih mengerikan lagi adalah pemikiran bahwa Allah yang menetapkan semua pembunuhan yang pernah terjadi. Jika Allah menetapkan segala sesuatu, maka tindakan semua pemerkosa ditentukan oleh Allah. Sesuai dengan pernyataan Melanchthon, bahwa Allah menentukan “…juga pikiran-pikiran yang kita pikirkan secara internal,” maka semua benci, iri hati, kesombongan, pikiran kotor, hawa nafsu, pikiran perzinahan, juga terjadi karena ditetapkan demikian dalam dekrit Allah.

Apakah anda terganggu dengan semua itu? Saya tahu bahwa saya terganggu, karena saya tidak bisa membayangkan bahwa Allah yang MAHAKUDUS menetapkan satu dosa pun untuk terjadi, jangankan semua dosa yang pernah dan akan ada! Oleh karena itu, saya berulang mengecek, apa benar itu yang dipercayai para Kalvinis?

Boettner menegaskan: “Bahkan kejatuhan Adam, dan melaluinya kejatuhan umat manusia, bukanlah suatu kebetulan atau kecelakaan, tetapi sudah ditetapkan demikian dalam keputusan rahasia Allah.”7 (Penambahan penekanan oleh saya)

Perhatikan bahwa Kalvinis bukan hanya berbicara mengenai “mengizinkan dosa.” Kalvinis berbicara mengenai “menetapkan dosa.” Ada perbedaan yang besar antara “menetapkan” dan “mengizinkan.” Ada Kalvinis yang mencoba untuk menyamarkan doktrin mereka dengan menggunakan bahasa “izin.” R. C. Sproul, agak bingung membedakan antara “menentukan” dengan “mengizinkan.” Dia berkata, “ Jika Ia [Allah] mengizinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengizinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengizinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. … Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar izinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengizinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri.”8

Kalau Kalvinis hanya mengatakan bahwa “Allah mengizinkan dosa,” maka saya setuju! Mengizinkan dosa berbeda dengan menetapkan dosa. Memberi izin berarti bahwa kehendak untuk melakukan berasal dari pribadi lain, dan pihak pemberi izin melakukan supervisi. Menetapkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari yang menetapkan itu. Kalvinis-kalvinis lain lebih jujur dan dengan terus terang menyatakan bahwa Allah menetapkan dosa.

Arthur Pink membuat jelas bagi kita: “Jelaslah bahwa adalah kehendak Allah dosa harus masuk ke dalam dunia, sebab kalau tidak demikian maka ia [dosa] telah tidak masuk, karena tidak ada sesuatupun yang terjadi selain yang telah didekritkan Allah sejak kekal. Lebih lanjut lagi, masalah ini lebih dari sekedar memberi izin semata, karena Allah hanya mengizinkan apa yang Ia kehendaki.”9 (Penambahan penekanan oleh saya)

Pink melanjutkan, “Bukan hanya mataNya [Allah] yang mahatahu melihat Adam memakan buah yang terlarang itu, tetapi Ia telah mendekritkan sebelumnya bahwa ia [Adam] harus melakukannya.”10 Palmer menegaskan, “Adalah Alkitabiah untuk mengatakan bahwa Allah telah menetapkan dosa. Jika dosa berada di luar rencana Allah, maka tidak ada satupun hal penting dalam kehidupan yang dikuasai oleh Allah.”11 (Penambahan penekanan oleh saya)

Kutipan terakhir dari Palmer mengandung permainan kata-kata yang cukup berbahaya. Tidak ada orang lahir baru yang mengajarkan bahwa “dosa berada diluar rencana Allah.” Saya percaya bahwa dosa sangat diperhitungkan oleh Allah dalam rencanaNya. Sekali lagi, ini berbeda dengan mengatakan bahwa Allah menetapkan dosa. Jika saya sudah tahu bahwa besok akan hujan, maka hujan bisa ada dalam perencanaan saya, tanpa sedikitpun dapat dikatakan bahwa saya menetapkan hujan. Oleh karena itu, penggunaan kata “rencana” harus diperjelas. Kalvinis percaya bahwa Allah menetapkan dosa, jadi mereka percaya bahwa Allah merencanakan dosa. Merencanakan dosa tentu berbeda dengan sekedar “dosa ada dalam rencana Allah.”

Jadi, janganlah ada Kalvinis yang marah jika saya berkata, “allahnya Kalvinis adalah allah yang merencanakan dosa, dan yang mengharuskan manusia berbuat dosa.” Kalau anda Kalvinis, dan anda shock dengan pernyataan ini, maka anda belum tahu pengajaran Kalvinis yang sejati. Terus terang pertama kali saya mempelajari Kalvinisme, saya juga shock dengan deklarasi demikian. Tetapi setelah saya selidiki pengajaran tokoh-tokoh Kalvinis itu sendiri, saya dapatkan bahwa benar demikian. Dan sebelum saya dapat protes terhadap deklarasi mereka, para Kalvinis menyuguhkan dulu suatu premis lain lagi: “Kalau Allah mahatahu, itu berarti Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk dosa.”

C. Allah Tahu Karena Allah Menetapkan

Semua orang Kristen lahir baru tentunya percaya bahwa Allah memiliki sifat mahatahu. Allah tahu segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Allah tahu tentang segenap perbuatan, kejadian, peristiwa, bahkan pikiran, perasaan, dan hal-halyang paling tersembunyisekalipun. Bukan hanya itu saja, Allah juga tahu semua kemungkinan yang bisa terjadi, dan semua alternatif dari realita.

Walaupun Non-Kalvinis mempercayai Allah mahatahu, Kalvinis memiliki pengertian yang lain tentang kemahatahuan. Kalvinis percaya bahwa jika Allah mahatahu, berarti Allah menentukan segala sesuatu. Logika Kalvinis berjalan seperti ini:

“Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu mahatahu (1 Sam 2:3 - “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu”), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu.”12

Saya akan memperjelas lagi dengan mengambil suatu contoh kasus imajiner, yaitu seorang bernama Budi yang suatu hari tertentu memilih untuk memakai baju merah. Allah sudah mengetahui bahwa Budi akan memakai baju merah pada hari itu. Pengetahuan Allah akan hal ini sudah sejak kekekalan lampau. Dan, pengetahuan Allah tentu tidak dapat salah atau gagal, karena Ia Allah dan Ia mahatahu. Jadi, menurut filosofi Kalvinis, Budi tidak memiliki pilihan lain. Kalau Budi pada hari itu memilih baju biru, maka pengetahuan Allah menjadi salah, dan ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, walaupun tampaknya seolah-olah Budi menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih baju merah dari berbagai pilihan berwarna-warni baju di lemari, menurut Kalvinis sebenarnya Budi sudah ditetapkan untuk memilih baju merah, dan bahwa Budi tidak bisa memilih baju warna lain karena Allah sudah tahu dia akan pilih merah, dan pengetahuan Allah tidak bisa salah.

Sedemikian yakinnya Kalvinis akan jalur logika dan kesimpulan ini, sehingga Boettner berkata, “Kecuali Arminianisme13 menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan dihadapan kekonsistenan logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu.”14

Bukan hanya itu, Kalvinis juga menyimpulkan bahwa Allah mahatahu karena Ia menetapkan segala sesuatu. Shedd berkata, “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” 15 Warfield menambahkan, “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri.” 16 Baik anda Kalvinis maupun Non-Kalvinis, anda perlu membaca dan meresapi apa makna dari pernyataan Kalvinis: Allah tidak bisa tahu suatu peristiwa jika Ia tidak menentukan peristiwa itu. Bukankah ini justru mengecilkan kemahatahuan Tuhan?

Sampai dengan titik ini, saya belum memberikan ayat-ayat Alkitab ataupun argumen-argumen untuk menyatakan kesalahan posisi Kalvinis. Sampai dengan titik ini, tujuan utama saya adalah untuk menjelaskan pada anda, apa yang sebenarnya Kalvinis percayai. Oleh karena itulah saya tidak sekedar menjelaskan dengan kata-kata saya sendiri, tetapi mengutip langsung darisumber-sumber Kalvinis. Boettner, Melanchthon, Pink, Sproul, Palmer, Warfield, Shedd, adalah nama-nama besar Kalvinis. Mereka diakui oleh dunia sebagai Kalvinis. Masih banyak lagi tokoh Kalvinis yang akan saya kutip nanti. Tetapi saya ingin anda tahu bahwa saya tidak mengada-ada atau melakukan misrepresentasi terhadap pengajaran Kalvinis.

Nah, sebelum saya menjelaskan letak kesalahan dari premis dasar Kalvinisme, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat konsekuensi dari premis dasar Kalvinisme. Saya ingin tahu, jika seseorang memegang pandangan Kalvinisme ini secara konsisten, apa yang akan terjadi.

MEMBACA ALKITAB MENYEHATKAN

Filed under: HEALTHY — dedewijaya at 10:38 pm on Sunday, April 19, 2009

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Dr. Jeffrey Leven dan Dr. David Larsen (”Washington Times”, 30 Juli 1996), ternyata apabila seseorang rajin membaca Alkitab secara teratur, maka hal itu bukan saja berfaedah bagi kerohaniannya, tetapi juga berdampak baik buat kesehatan tubuhnya.

Keduanya telah melakukan penelitian selama berbulan-bulan terhadap lebih dari 600 orang. Dan dari hasil penelitian mereka, disimpulkan bahwa ternyata mereka yang rajin membaca Alkitab secara teratur :
* Mempunyai tekanan darah yang stabil.
* Mempunyai tingkat stres (depresi) yang lebih kecil.
* Lebih sedikit ditemukan penderita penyakit jantung.
* Jarang yang kecanduan obat-obatan, narkoba, maupun alkohol.
* Jarang terjadi perceraian dalam pernikahannya.
* Secara umum memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik.
Jangan membaca Alkitab tanpa kita sendiri tidak menyadari akan apa makna dan manfaatnya. Bacalah Alkitab karena anda mengasihi Yesus dan ingin lebih lagi mengenal akan jalan-jalan-Nya.

“Semua tulisan yang diilhamkan Allah (seperti Alkitab), memang berguna untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

————————————————————
KS - ILT
2Tim 3:16 Semua kitab diilhami Elohim dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran, untuk perbaikan, untuk pendidikan dalam kebenaran,

Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
————————————————————–
KS - ILT
FiL 4:8 Selebihnya hai saudara-saudara, apa saja yang benar, apa saja yang mulia, apa saja yang adil, apa saja yang suci, apa saja yang menyenangkan, dan apa saja yang patut dipuji, sekiranya ada suatu kebajikan dan sekiranya ada suatu pujian, pikirkanlah hal-hal itu.
from: Vina Marbun, milist.

150 Fakta Terunik di Dunia

Filed under: JOKE / HUMOR — dedewijaya at 3:33 am on Sunday, April 19, 2009

1. Dari seluruh kata dalam bahasa Inggris, kata ’set’ punya definisi paling banyak.
2. Rata-rata tiap orang ketawa 10 kali sehari.
3. Mata burung Onta lebih besar dari otaknya.
4. “French Kiss” kalo di Perancis namanya “English Kiss”.
5. “Almost” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang disusunmengikuti urutan alfabet.
6. “Rhythm” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang tidakmengandung huruf vokal.
7. Horatio Nelson, salah seorang Admiral (Jenderal Angkatan Laut) legendaris di Inggris seumur hidupnya tidak pernah menemukan carauntuk menyembuhkan mabuk laut yang dideritanya.
8. Tahun 1386, seekor babi dihukum gantung di depan publik di Peranciskarena membunuh anak kecil.
9. Kecoak bisa hidup selama beberapa minggu tanpa kepala.
10. Queue adalah satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yang dapatdibaca dengan cara yang sama ketika empat huruf terakhir dihilangkan.
11. Kumbang itu rasanya kaya apel, tawon kaya pine nuts (sejeniskacang) , kalo cacing kaya daging babi goreng.
12. Di setiap benua pasti ada kota bernama “Rome”.
13. Jantung berdetak lebih dari 100.000 kali per hari.
14. Kerangka Jeremy Bentham selalu hadir di setiap pertemuan pentingdi University of London.
15. Tulang paha manusia lebih kuat daripada dinding semen..
16. Kita tidak bisa bunuh diri dengan cara menahan napas.
17. Orang bertangan kanan rata-rata hidup 9 tahun lebih lama dari yangkidal.
18. Seperempat tulang di tubuh ada di kaki.
19. Kuku jari tangan tumbuh 4 kali lebih cepat dari kuku jari kaki.
20. Debu di rumah kita paling banyak terbentuk dari sel kulit mati.
21. Tulang iga bergerak sekitar 5 juta kali setahun,seiring nafas.
22. Gajah satu-satunya mamalia yang tidak bisa lompat.
23. Diperkirakan taun 2080 penduduk dunia bakal mencapai 15 miliar jiwa.
24. Mata cewek berkedip 2 kali lebih banyak dari cowok.
25. Adolf Hitler adalah seorang vegetarian dan cuman punya satu testis.
26. Madu adalah satu-satunya makanan yang ga bisa basi.
27. Bulan yang dimulai dengan hari Minggu bakalan selalu punya “Fridaythe 13th.”
28. Coca-Cola tanpa pewarna, aslinya hijau.
29. Rata-rata jantung landak berdetak 300 kali per menit.
30. Lebih banyak orang terbunuh tiap tahun karena sengatan lebahdaripada digigit ular.
31. Sebatang isi pensil (pensil kayu) bisa dipake menulis sepanjang 35mil atau menulis 50.000 kata.
32. Alergi terhadap makanan/minuman yang paling banyak diderita orangadalah alergi terhadap susu sapi.
33. Sidik lidah tiap orang tidak ada yang sama.
34. Transfusi darah pertama dilakukan tahun 1667, ketika Jean-Baptistementra nsfusikan daah sebanyak 2 pint (sekitar 1 liter) dari domba keorang..
35. 6 bahasa resmi PBB: English, French, Arabic, Chinese, Russian andSpanish.
36. Bumi atau “Earth” adalah satu-satunya planet di tata surya yangdiberi nama bukan dari nama dewa.
37. Sendawa atau bersin di gereja di Nebraska, USA, adalah melanggarhukum.
38. Kita dilahirkan dengan 300 tulang, tapi ketika dewasa tinggal 206.
39. Beberapa cacing bakal makan dirinya sendiri jika kelaparan.
40. Lumba lumba tidur dengan satu mata terbuka.
41. Tidak mungkin manusia bisa bersin dengan mata terbuka.
42. Potongan permen karet di dunia tertua umurnya 9.000 tahun.
43. Rekor penerbangan terlama seekor ayam adalah 13 detik.
44. Queen Elizabeth I menyatakan bahwa dia adalah teladan kebersihan.Dia mandi 1 kali tiap 3 bulan. Baik membutuhkan atau tidak.
45. Slug punya 4 hidung.
46. Burung hantu adalah satu-satunya burung yang bisa lihat warna biru.
47. Charles Osborne mengalami cegukan selama 69 tahun!
48. Jerapah bisa ngorek kuping sendiri dengan lidahnya yang panjangnya21 inci.
49. Onta punya 3 kelopak mata untuk melindungi matanya dari pasir gurun.
50. Posisi mata keledai memungkinkannya melihat keempat kakinya setiapsaat.
51. Sebelum Masehi bahasa inggrisnya adalah B.C (Before Christ). Setelah Masehi adalah A.D (Anno Domini)
52. Ikan hiu kehilangan gigi lebih dari 6000 buah setiap tahun, dan gigi barunya tumbuh dalam waktu 24 jam
53. Julius Caesar tewas dengan 23 tikaman
54. Nama mobil Nissan berasal dari bahasa jepang Ni : 2 dan San : 3. Nissan : 23
55. Jerapah dan tikus bisa bertahan hidup lebih lama tanpa air dari pada unta
56. Perut memproduksi lapisan lendir setiap dua minggu agar perut tidak mencerna organnya sendiri.
57. 98% dari perkosaan dan pembunuhan dilakukan oleh keluarga dekat atau teman korban.
58. Semut dapat mengangkat beban 50 kali tubuhnya
59. Deklarasi Kemerdekaan Amerika ditulis diatas kertas marijuana
60. Titik diatas huruf i disebut ‘title’
61. Sebutir kismis yang dijatuhkan kedalam gelas berisi sampanye segar akan bergerak naik turun dalam gelas
62. Benjamin Franklin anak bungsu dari orangtua bungsu keturunan ke 5 dalam keluarga bungsu.
63. Triskaidekaphobia adalah ketakutan pada 13. Paraskevidekatriaph obia adalah ketekukan pada hari jumat tanggal 13 (bisa terjadi antara 1-3 kali setahun). di Italia, 17 adalah angka sial. di Jepang angka sial adalah 4
64. Lidah jerapah panjangnya sekitar 50 cm
65. Mulut menghasilkan 1 liter ludah setiap hari
66. Kita bernafas kira-kira 23.000 kali setiap hari
67. Kata ZIP (kode pos) adalah kepanjangan dari ‘Zoning Improvement Plan’.
68. Coca-Cola mengandung Coca (yang merupakan zat aktif pada kokain) dari tahun 1885 sampai 1903.
69. Rata-rata kita bicara 5000 kata tiap hari (walaupun 80% nya kita bicara pada diri sendiri)
70. Seandainya kuota air dalam tubuh kita berkurang 1%, kita langsung merasa haus
71. 4 simbol raja pada kartu remi melambangkan 4 raja yang etrkenal di jaman masing-masing: Sekop = David/Raja Daud ; Keriting = Alexander the Great/Iskandar Agung ; Hati = Charlemagne/ Raja Prancis ; Wajik =Julius Caesar
72. Seumur hidup kita meminum air sebanyak kurang lebih 75.000 liter
73. Setiap orang, termasuk kembar identik, sidik jari dan tekstur lidahnya tidak ada yang sama.
74. Titik merah pada 7-Up logo berasal dari penemunya yang bermata merah. Dia seorang albino.
75. Pria kehilangan 40 helai rambut tiap hari. wanita 70 helai.
76. Tanda ’save’ pada Microsoft Office programs menunjukan gambar floppy disk dengan shutter terbalik
77. Albert Einstein dan Charles Darwin,keduanya menikah dengan sepupu pertama mereka (Elsa Löwenthal dan Emma Wedgewood).
78. Unta punya 3 kelopak mata.
79. Sehelai rambut di kepala kita mempunyai masa tumbuh 2 sampai 6 tahun sebelum diganti dengan rambut baru
80. Seseorang masih akan sadar selama 8 detik setelah dipenggal
81. Otot yang bekerja paling cepat ditubuh kita adalah otot dikelopak mata yang membuat kita berkedip. kita bisa berkedip 5kali dalam sedetik
82. Coklat dapat membunuh anjing,karena langsung mempengaruhi jantung dan susunan syarafnya
83. Tanpa dicampur ludah di dalam mulut, kita tidak akan merasakan rasa makanan
84. Kuku jari tangan tumbuh 4kali lebih cepat daripada kuku kaki
85. 13% orang di dunia adalah kidal
86. Hampir semua lipstik mengandung sisik ikan
87. Bayi yang baru lahir berat kepalanya 1/4 dari berat tubuhnya
88. Kita sebenarnya melihat dengan otak. mata hanya berupa kamera yang mengirim data ke otak. 1/4 bagian dari otak digunakan untuk mengatur kerja mata
89. Kalajengking bisa dibunuh dengan menyiramnya dengan cuka,mereka akan murka dan menyengat dirinya sendiri
90. Tahun 1830an saus tomat biasa dijual sebagai obat.
91. Tiga monyet bijak punya nama: Mizaru (See no evil), Mikazaru (Hear no evil), and Mazaru (Speak no evil).
92. India mempunyai Undang-undang hak untuk sapi
93. Jika bersin terlalu keras dapat meretakkan tulang iga. JIka mencoba menahan bersin, bisa mengalami pecah pembuluh nadi di kepala dan leher trus mati . jika memaksa mata terbuka saat bersin, bola mata bisa meloncat keluar.
94. Nama negara Filipina berasal dari nama Raja Phillip
95. Saudi Arabia berasala dari nama Raja Saud
96. Anak-anak mempunyai 20 gigi awal. Orang dewasa punya 32
97. Karena langkanya logam, piala Oscars yang dibagikan pada perang dunia ke II terbuat dari kayu
98. Setiap Siklus 11 tahun, kutub magnet pada matahari bertukar tempat. Siklus ini makan “Solarmax”.
99. Ada 318,979,564, 000 kemungkinan kombinasi pembukaan pertama pada catur.
100. Ada lebih dari 300 bakteri pembentuk karang gigi
101. Macan adalah anggota terbesar dalam keluarga kucing
102. Nomer “172″ dapat ditemukan pada uang kertas 5 dollar amerika, pada gambar semak-semak dibawah Lincoln Memorial.
103. Pohon kelapa membunuh 150 orang tiap tahun. Lebih banyak daripada hiu
104. Pada poster film ‘Pretty Woman’ Julia Robets terlalu pendek untuk bisa sejajar dengan Richard Gere. Maka digunakan model Shelley Michelle sebagai tubuh Julia.
105. Daerah kutub kehilangan matahari selama 186 hari dalam setahun
106. Kode Telephone Internasional untuk Antartica adalah 672.
107. Bom pertama sekutu dijatuhkan di Berlin pada perang dunia ke II. Membunuh satu-satunya gajah di Kebun Binatang Berlin.
108. Rata-rata hujan jatuh dengan kecepatan 7 mil per jam
109. Butuh 10 tahun bagi Leonardo Da Vinci untuk melukis Mona Lisa.Lukisan itu tidak ditandai dan di beri tanggal. Leonardo dan Mona mempunya susunan tulang yang persis sama dan menurut sinar X, ada 3 versi lukisan dibawah lukisan itu.
110. Nama dari kembar gemini adalah Castor dan Pullox
111. Gerakan Bruce Lee sangat cepat sehingga mereka harus melambatkan filam agar kita bisa melihat semua gerakannya.
112. Satu kilo dari berat badan kita mengandung 7000 kalori
113. Darah sama kental dengan air laut
114. Air laut di samudra Atlantik lebih asin dari pada di samudra Pasifik
115. Topeng tokoh Michael Myers di film horor ‘Helloween’ sebenernya topeng tokoh Captain Kirk (Star Trek) yang di cat putih, karena kurang dana
116. Nama asli butterfly (kupu-kupu) adalah flutterby.
117. Bayi lahir setiap 7 detik
118. Satu dari 14 wanita Amerika berambut pirang asli. Prianya hanya satu dari 17
119. The Olympic adalah saudara dari kapal Titanic, dan melayani dengan selamat selama 25 tahun.
120. Saat Titanic karam, 2228 orang ada di dalamnya. Hanya 706 yang selamat
121. Di Amerika, seseorang didiagnosa menderita AIDS tiap 10 menit. Di Afrika, seseorang meninggal karena AIDS tipa 10 menit
122. Sampai usia 6 bulan, bayi bisa menelan dan bernapas secara bersamaan. Orang dewasa tidak bisa
123. Alasan kenapa diiklan jam kebanyakan jarum menunjuk pukul 10.10, karena jam seperti sedang tersenyum
124. Tiap tahun bulan menjauh 3.82 cm dari bumi
125. Saat kita bertahan hidup dan tidak ada bahan makanan, sabuk kulit dan sepatu keds adalah makanan terbaik untuk dimakan karena mengandung cukup gizi untuk hidup sementara.
126. Dalam satu tetes air mengandung 50 juta bakteri
127. Dengan menaikan kaki pelan2 dan berbaring tenang dengan punggung lurus, kita tidak akan tenggelam di pasir hisap.
128. Satu dari 10 orang hidup di suatu pulau
129. Memakan seledri membuang kalori lebih banyak dari pada kalori yang terkandung dalam seledri itu sendiri
130. Lobster dapat hidup selama 100 tahun
131. Permen karet tidak dijual di Disney Land
132. Mangunyah permen karet saat mengupas bawang mencegah kita menangis
133. Rahang kucing gak bisa bergerak kekiri dan kanan
134. Nama Artic (kutub utara) berarti beruang dalam bahasa Yunani (Arktos), dan memang beruang kutub hanya ada di kutub utara
135. Jika kira berdiri di dasar sumur, kita bisa melihat bintang walaupun di siang hari
136. Suara yang kita dengar dari dalam kerang bukan suara ombak laut, tapi suara aliran darah dalam kepala kita.
137. Orang lbh banyak yang menderita ketakutan pada ruang terbuka (kenophobia) daripada ketakukan pada ruang tertutup (claustrophobia) .
138. Tehnik mengaduk terbaik bukan dengan gerakan memutar, tapi dengan gerakan huruf W
139. Adegan band yang terus bermain musik saat Titanic tenggelam adalah kisah nyata
140. Buku Guinness Book of Records memegang rekor sebagai buku yang paling banyak dicuri dari perpustakaan
141. 35% dari orang yang ikut kontak jodoh lewat internet, sudah menikah
142. CocaCola dulu berwarna hijau
143. Secara fisik, babi tidak bisa melihat ke langit
144. Semua beruang kutub kidal
145. Kelelawar selalu belok kiri jika terbang keluar gua
146. Jim Henson pertama kali memakai kata “Muppet”. Kombinasi dari “marionette” dan “puppet.”
147. Gajah satu-satunya hewan berkaki empat yang tidak bisa meloncat
148. The Michelin man (figur berbaju dan bertopi putih diiklan Michelin) bernama Mr. Bib. nama aslinya Bibendum pada iklan pertama tahun 1896.
149. Kita tidak bisa menjilat siku kita sendiri
150. Kata “lethologica” menggambarkan saat dimana kita tidak bisa mengingat apa yang kita inginkan.

COWOK IDENTIK NGGAK SETIA, WHY ?

Filed under: LOVE — dedewijaya at 3:53 am on Thursday, April 16, 2009
Cowok Identik Nggak Setia ? Hem, didengar para cowok nih, gatal di telinga. Pasti semua pada unjuk gigi sambil nyanyi lagu dankdut jaman dulu ; tidak semua laki-lakiiiiiiiiiii….bersalah pada mu (cewek)……contohnya akuuuuu (isi sendiri namamu)………hehehe

Sebenarnya, nggak semua cowok itu nggak bisa setia. Pastilah diantara jutaan cowok di dunia ini, masih banyak juga yang setia kog. Namun, kebanyakan para cewek bilang, cowok itu identik nggak setia or kurang setia pada pasangan. Delapan dari sepuluh orang cewek bilang, kalo cowoknya tuh gampang pindah ke lain hati alias mulai ngelirik cewek lain karena ada beberapa penyebab. Antara lain :

Long Distance

Contoh kasus : Yusuf tadinya sudah berkomitmen bakal setia pada Rani yang sedang menempuh kuliah di Malaysia. Tapi, setelah 2 bulan perpisahan, karena jarak jauh, Yusuf mulai ragu dengan kesetiaannya. Dia lupa komintmennya dan mulai tertarik pada cewek lain yang dekat dengannya. Yusuf mulai bingung dan bimbang, apalagi dia juga tidak tahu apakah Rani juga bisa setia padanya selama di Malaysia.

Mengapa?

Karena cinta itu terkadang timbul karena perasaan, karena sering ngobrol dan bertemu, akhirnya timbullah rasa suka. Ini kesalahan terbesar yang kadang tidak disadari dalam membangun hubungan. Jadi, kalau tidak bertemu maka perasaanya akan hilang. Alasan lainnya karena komunikasi.

Salah satu dasar dalam membangun hubungan adalah komunikasi. Otomatis karena jarak jauh, komunikasi diantara keduanya tidak selancar waktu bertemu. Sekalipun jaman sekarang ini sudah banyak alat untuk berkomunikasi. Komunikasi terputus karena jarak jauh, dampaknya tidak bisa setia. Lagian, cowok lebih merasa nyaman saat pacarnya ada didekatnya.

Warning buat cowok – Cewek

Kalo emang tidak bisa pacaran jarak jauh, mending putus aja dan dibicarakan baik-baik. Dari pada nggak bisa setia yang akhirnya selingkuh! Lain lagi kalo hubungannya emang sudah serius dan berencana untuk menikah, maka cobalah untuk pegang komitmen.

Tapi kalo masih sekolah atau kuliah, mending bersahabat aja deh.
Lebih enak dan tidak menyakiti satu dengan yang lain. Nggak mau kan, disebut pecundang atu pengecut? Kalo emang tidak bisa long distance lebih baik jujur aja.

Cowok butuh di dengar

Contoh Kasus : Roni punya pacar yang selalu punya banyak masalah dan hampir setiap bertemu, Roni selalu jadi pendengar yang baik. Tapi waktu Roni punya masalah, si cewek justru sibuk dengan masalahnya sendiri. Akhirnya, setiap ada masalah, Roni tidak bisa mengungkapakan pada pacarnya. Tapi ketika ada salah satu cewek lain mendengar masalahnya, Roni langsung menaruh simpati.

Mengapa?

Karena cowok tidak mengerti bahwa, salah satu kebutuhan cewek adalah bicara banyak. Adakalanya, cowok ingin memberitahukan masalahnya dan bicara sesuatu yang dirasakannya. Tapi sayangnya, terkadang cewek tidak menyadari bahwa pasangannya juga ingin berbagi perasaan dengannya. Nah kalo sudah begini, cowok bakal mencari orang yang bisa dipercaya dan membuatnya merasa nyaman.

Warning buat para cewek dan cowok

Buat para cewek-cewek jangan egois dunk! Harus tahu kapan waktunya didengarkan dan kapan waktunya menjadi pendengar. Komunikasi itu dibutuhkan dua arah, jadi harus sama-sama mengerti. Buat para cowok juga harus mengerti bahwa, kebutuhan bicara cewek lebih banyak dari pada cowok. Karena sudah menjadi kodrat cewek untuk bicara lebih banyak.

Kecantol Cewek yang Lebih Perhatian

Contoh Kasus : Terkadang cowok itu gampang banget kecantol cewek lain karena dia merasa lebih diperhatikan dibandingkan pacarnya.

Mengapa?

Tidak mungkin ada asap kalo tidak ada api, jadi kenapa cowok gampang kecantol orang yang lebih perhatian itu dikarenakan cowok itu selalu merasa kesepian, saat ada cewek lain lebih perhatian dan mau menjadi teman curhatnya maka perasaan cowok itu gampang terpaut. Orang yang kesepian cenderung mencari penerimaan. Apalagi si cewek itu membuatnya merasa nyaman.

Warning buat cowok dan cewek

Buat cowok saat merasa kesepian jangan datang kepada manusia! Tapi datang kepada Tuhan dunk. kesepian jalan keluarnya bukan meminta hikmat kepada manusia tapi meminta hikmat dari Tuhan.

Sering Dibandingkan dengan Cowok Lain

Contoh Kasus : cowok paling nggak suka, apabila ceweknya membanding-bandingkannya dengan teman cowoknya.

Mengapa?
Karena kebutuhan pria itu ingin dihormati. Kalo cowok sering dibandingkan dengan yang lain, berarti dia tidak dihormati. Itu sebabnya cowok tidak suka kalo dia dibandingkan dengan orang lain.

Warning buat cewek

Pahamilah kebutuhan cowok, mereka cenderung ingin dihormati dan dikagumi. Mahkluk cowok satu-satunya diciptakan jadi gak perlu membanding-bandingkan dengan yang lain.

Cewek banyak nuntut dan sok ngatur

Contoh Kasus : Terkadang cowok gak suka kalo dia diatur. Apalagi kalo si cewek nuntut macam-macam.

Mengapa?

Karena hubungannya didasari oleh keinginan daging. Pada dasarnya, semua orang tidak suka diatur. Cowok tidak mau diatur karena memang mereka adalah mahkluk yang egois, mereka merasa bahwa derajatnya paling tinggi.

Warning buat cowok dan cewek :

Ingat! Wanita dan pria diciptakan sejajar dihadapan Tuhan. Makanya, wanita diciptakan dari Tulang rusak, bukan dari tulang kaki Tulang rusuk bebicara tentang kesejajaran. Jadi harus selalu menyadari fungsi masing-masing. Cowok diciptakan sebagai pelindung dan cewek diciptakan sebagai penolong.

Pada dasarnya, gak ada alasan cowok itu tidak bisa setia. Kalau berani membangun hubungan ya berarti harus setia dunk . Contah di atas hanya sebagai alasan karena merasa tidak puas hanya pada satu pasangan. Cowok tidak bisa setia coz tidak menyadari fungsinya sebagai pelindung.

Cowok tidak bisa setia diibaratkan seperti Monyet ^0^. Saat diberikan pisang ditangan kanannya, lalu diberikan juga tangan kirinya, maka dia tidak mau melepaskan yang ditangan kanannya. Dari berbagai pendapat para cowok mengatakan, lebih memilih selingkuh karena dia masih bimbang dengan yang baru, dapat diartikan bahwa cowok seperti ini sama dengan cowok pecundang.

Untuk itu, bagi yang sudah komitmen dalam menjalankan hubungan harus menyadari fungsi masing-masing pribadi. Kalau cowok fungsinya sebagai pelindung, sedang cewek sebagai penolong. Kesetiaan harus sudah dipupuk sejak masa pacaran. Kesetiaan adalah seseorang yang penuh iman, menyerahkan komintmen pada pasangannya.

Jadi, dalam membangun hubungan itu tidak cukup hanya dengan perasaan, tapi komitmen yang paling utama. Walau dalam membangun hubungan banyak kekurangan pada pasangan, dan mungkin tidak sesuai dengan harapan, tapi kalo punya iman dan saling komitmen, maka masalah apapun pasti dapat diatasi. Sama seperti kita dengan Yesus, walau kadang kita tidak setia tapi Yesus tetap setia. Gimana para cowok? Siap menunjukkan kesetiaan?!

(Salmon Hutasoit) dari Milist Youthhouse.

Download pdf RESPON DEBAT KALVINISME

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 3:22 am on Wednesday, April 15, 2009

kedaulatan-allah-pandangan-alkitabiah

Berita Mingguan 11 April 2009

Filed under: News — dedewijaya at 1:14 am on Monday, April 13, 2009

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes
Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw
Graphe International Theological Seminary
Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin- subscribe@ yahoogroups. com

CURAHAN KEBENCIAN TERHADAP FUNDAMENTALIS YANG DISPENSASIONAL

Orang-orang Injili banyak berbicara mengenai kasih dan persatuan, tetapi ada satu kelompok Kristen yang tidak masuk dalam kasih sayang mereka, yaitu para fundamentalis alkitabiah. Gembala sidang Gereja Saddleback, Rick Warren, menyamakan Kristen fundamentalis dengan fundamentalis Islam dan menyebutnya “salah satu musuh terbesar abad 21″ (”The Purpose Driven Pastor,” The Philadelphia Inquirer, 8 Jan. 2006). Dalam wawancaranya dengan Larry King Live pada 2 Desember 2006, Warren mengatakan: “Ada berbagai macam fundamentalis, Larry, dan mereka semuanya didasarkan pada rasa takut.” Ketika dia muncul di Pew Forum, Warren menyebut fundamentalisme sebagai “kekristenan yang sangat legalistik dan sempit” (konferensi dua tahunan Faith Angle milik Pew Forum tentang agama, politik dan kehidupan publik, 23 Mei 2005). Brian McLaren, seorang tokoh besar dalam gerakan emerging church, menyebut peperangan theologis yang diperjuangkan oleh para fundamentalis sebagai “salah arah” dan memprediksikan anak-anak dan cucu-cucu mereka akan menolak fundamentalisme (Finding Our Way Again: The Return of the Ancient Practices, hal. 133). Mark Driscoll dari Gereja Mars Hill di Seattle, menyamakan fundamentalis dengan para Farisi, menyebut mereka “arogan, membenarkan diri sendiri, menghakimi,” “orang-orang gila,” dan “legalis-legalis tua yang mau berdebat soal Alkitab King James” (The Radical Reformission, hal. 140; The Relevant Church, hal. 25). Semua komentar itu masih kalah jauh dibandingkan dengan komentar-komentar berikut di PlanetPreterist. com, mengenai artikel saya (Cloud) “The Emerging Church Is Coming.” “Cloud adalah seorang tukang teriak yang masih berpegangan pada kapal Titanic fundamentalisme sementara ia tenggelam ke bawah gelombang. Semakin cepat mereka tenggelam dan kehilangan pengaruh publik mereka [semakin baik].’” “Sungguh menyenangkan dan membahagiakan melihat para Kristen fundamentalis dispensasional lenyap sambil menendang-nendang dan berteriak-teriak. ” “Fundamentalisme adalah anti-Kristus. ” Serangan Injili terhadap fundamentalisme adalah praktek kemunafikan. Mereka mengatakan bahwa kita tidak boleh memakaikan label pada orang lain, tetapi mereka dengan cepat memakaikan label pada fundamentalis. Mereka mengatakan bahwa kita tidak boleh bersifat menghakimi, tetapi mereka menghakimi dengan ganas terhadap fundamentalis. Mereka mengklaim lebih memiliki kasih Kristiani, tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan kasih kepada para fundamentalis. Mereka mengejek standar dan aturan-aturan fundamentalis, tetapi mereka juga memiliki banyak standar dan aturan.

EL SHADDAI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN ASPEK FEMINIM DARI ALLAH

William Young, penulis buku The Shack, mengklaim bahwa adalah pantas untuk menggambarkan Allah sebagai wanita karena Alkitab, menurut dia, menggambarkan Allah dengan istilah-istilah feminim. Ia mengutip nama El Shaddai sebagai sebuah contoh, mengklaim bahwa nama itu menggambarkan Allah sebagai “yang berpayudara. ” Faktanya, kata Ibrani “shaddai” dalam Perjanjian Lama, diterjemahkan “Yang Mahakuasa” (Almighty dalam KJV) dan tidak ada hubungannya dengan payudara. Kata ini berasal dari “shadad,” yang artinya “tegap, yaitu (secara figuratif) berkuasa (pasif, tidak dapat ditembus)” (Strong). Berikut ini adalah ulasan dari George Pember: “Untuk mendukung doktrin (jenis kelamin pada Allah) yang baru disebut, tokoh theosophist tertentu telah menciptakan derivat baru untuk kata Ibrani Shaddai, yang dalam terjemahan kita telah dengan benar ditulis sebagai “Yang Mahakuasa.” Mereka mengira bahwa kata ini berhubungan dengan kata shad, yang merujuk kepada payudara seorang wanita. Tetapi derivasi seperti itu tidaklah mungkin, dan, sepanjang pengetahuan kami, tidak pernah diajukan oleh seorang ahli yang netral. Lebih dari satu orang ahli Kristen kini telah termakan oleh derivasi Theosophis akan kata Shaddai, dan menjelaskan bahwa arti kata itu adalah “berdada-penuh, ” dan lalu “makmur.” Penggunaan salah satu sebutan Allah yang paling agung dengan cara yang sangat melecehkan seperti itu, seharusnya membuat mereka tertegun” (The Church, the Churches, and the Mysteries).

DENOMINASI PROTESTAN MENOLAK UNTUK MENDISIPLINKAN GEMBALA SIDANG ATHEIS
Gereja Protestan di Belanda menolak untuk mendisiplinkan seorang gembala sidang yang sudah mengaku atheis. Klass Hendrikse mempublikasi sebuah buku pada bulan November 2007, berjudul “Mempercayai Allah yang Tidak Eksis: Manifesto Seorang Gembala Atheis.” Walaupun demikian, denominasinya mengatakan bahwa mereka tidak akan masuk ke proses pendisiplinan, karena hanya akan menimbulkan “diskusi berkepanjangan tentang makna dari kata-kata yang pada akhirnya tidak akan memberikan banyak kejelasan” (”Church Authorities Not to Discipline,” ENI, 27 Maret 2009). Gereja Protestan di Belanda dibentuk tahun 2004 dari merger antara Lutheran dengan Reformed.

GENERASI DIVA

Berikut ini disadur dari Newsweek, 30 Maret 2009: “Anak-anak perempuan hari ini sudah keluar masuk salon sebelum mereka masuk SD. Lupakan saja meminta mama untuk memotong rambutnya, anak-anak kelas 4 SD kini ada di pasaran potong rambut $50; dan ketika mereka sudah di SMA, highlights seharga $150 adalah standarnya. Anak-anak usia lima tahun kini memiliki hari spa dan pesta pedicure. Dan bukannya mencukur bulu kaki mereka dengan cara lama – yaitu dengan cukuran 99 sen dari toko – remaja-remaja kini melakukan terapi laser, prosedur kosmetik yang paling umum untuk rentang umur itu. Jika trend-trend ini berlanjut, saat remaja anda nanti mencapai umur mau menggunakan Botox, dia akan sudah menghabiskan ribuan dolar untuk hal-hal kecantikan yang dulunya hanya untuk `Beverly Hills, 90210,’ bukan untuk anak SMA biasa. Dibesarkan dalam lingkungan tontonan reality show dan program-program selebriti, anak-anak perempuan mulai dari usia dua tahun sudah menggunakan produk kecantikan, mereka menghabiskan semakin banyak uang tetapi semakin merasa diri jelek. Empat tahun lalu, sebuah survey oleh NPD Group memperlihatkan bahwa, rata-rata, wanita mulai menggunakan produk kecantikan sejak umur 17. Hari ini, rata-ratanya adalah 13 tahun – dan itu pasti masih terlalu tua. Menurut perusahaan riset pasar, Experian, 43 persen anak usia 6-9 tahun, sudah menggunakan lipstick atau lip gloss; 38 persen menggunakan produk hair-styling, dan 12 persen menggunakan kosmetik lainnya….. Menurut penelitian Newsweek terhadap trend-trend kecantikan yang paling umum, pada saat anak perempuan yang sekarang berusia 10 tahun menginjak usia 50, dia akan telah menghabiskan hampir $300,000 hanya untuk rambut dan wajahnya…. ..Kombinasi dari teknologi baru dan internet bertanggung jawab -minimal sebagian - untuk perubahan sikap ini. Iklan-iklan tentang fashion terakhir, tips-tips makeup dan produk-produk kecantikan disirkulasikan dengan kecepatan dan keganasan yang hanya ditemukan di milenium ini – yaitu di jutaan iklan, papan pesan, dan halaman-halaman Facebook.”

MATEMATIKA SEMUT
Berikut ini disadur dari Creation Moments,  http://www.creation moments.net/ radio/transcript .php?t=2183: “Bisakah semut berhitung? Sepertinya begitu! Ketika seekor semut pemandu menemukan benda makanan yang terlalu besar untuk diangkatnya, tetapi yang sungguh enak, pemandu tersebut akan kembali ke sarang untuk mendapatkan bantuan. Para ilmuwan telah menemukan bahwa para semut nampaknya menakar pekerjaan yang harus dilakukan sehingga mereka kembali dengan jumlah bantuan yang pas. Seorang ilmuwan memotong belalang mati menjadi tiga bagian. Bagian kedua dua kali lebih besar dari bagian pertama, dan bagian ketiga dua kali lebih besar dari bagian kedua. Ia lalu meninggalkan bagian-bagian tersebut di lokasi-lokasi yang berbeda, di mana para semut dapat menemukannya. Ia memperhatikan ketika setiap potongan ditemukan oleh seekor semut pemandu, diinspeksi, dan tiap pemandu kembali ke sarang untuk pertolongan. Ketika pemandu tersebut kembali lagi dengan bala bantuan, sang ilmuwan menghitung jumlah semut yang bekerja pada tiap potongan belalang. Potongan yang paling kecil dikerjakan oleh 28 semut, dan pada potongan yang dua kali lebih besar daripadanya ada 44 semut yang bekerja, hampir dua kali lebih banyak dari potongan yang kecil. Dan berapa banyakkah menurut anda semut yang bekerja di potongan yang dua kali lebih besar dari potongan kedua? Kalau anda menggandakan 44 menjadi 88, maka anda hanya beda satu dari jawabannya! Ya, ada 89 semut yang bekerja untuk membawa potongan yang terbesar kembali ke sarang.

Next Page »