DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

DISIPLIN ANAK

Filed under: LOVE — dedewijaya at 6:11 am on Monday, June 8, 2009

Amsal 3:11-12; 13:24; 15:20; 17:21, 25; 19:18; 22:6, 15; 23:13-14; 29:15, 17.

Kitab Amsal adalah manual pendisiplinan anak dari Tuhan. Kita telah melihat bahwa kitab ini dituliskan bagai “anakku” dan “anak-anakku.” Kitab ini berisi banyak sekali petunjuk untuk membantu orang tua mendidik anak-anak, dan juga menunjukkan mereka bagaimana caranya menerapkan rotan pendisiplinan ketika diperlukan. Ada lebih banyak informasi yang benar tentang membesarkan anak dalam satu kitab kecil Amsal ini dibandingkan semua buku “psikologi anak” yang pernah ditulis. Saat ini kita tidak akan membahas pendidikan anak secara umum, tetapi secara khusus tentang pendisiplinan anak dan pemakaian rotan.

1. ALASAN UNTUK MELAKUKAN DISIPLIN ANAK

Rotan atau tongkat adalah obat yang keras. Apakah memang diperlukan? Alkitab tidak membiarkan kita menebak-nebak mengapa kita perlu mendisiplinkan anak-anak kita dengan cara yang keras.

ALASAN PERTAMA UNTUK DISIPLIN ADALAH SIFAT DARI ANAK (”Kebodohan melekat pada hati orang muda,” Amsal 22:15).

Ia memiliki sifat orang berdosa dan secara alami akan tidak taat dan mengikuti jalan kebodohan dari pada jalan hikmat (Ams. 22:15). Filosofi dan teknik pendidikan anak yang benar dimulai dengan mengerti sifat dari seorang anak. Psikologi anak modern dimulai dengan ide bahwa manusia pada dasarnya adalah baik dan mencoba untuk mengembangkan kebaikan dasar itu. Alkitab mulai dengan poin bahwa manusia memiliki sifat jatuh dalam dosa dan bermaksud untuk membawa mereka kepada pertobatan dan kelahiran kembali melalui instrumen Hukum Allah dan Injil Yesus Kristus, dan memacu mereka kepada pertumbuhan rohani melalui alat-alat seperti persekutuan, penyerahan diri, ketaatan, dan pemisahan.

Alasan lain untuk disiplin adalah karena apa akan terjadi jika seorang anak tidak didisiplinkan.

Anak-anak yang tidak mendapat didikan disiplin yang benar akan berlanjut dalam arah kebodohan yang secara alami ia miliki (Ams. 22:15). Kebodohan hanya dapat diusir dengan pendidikan yang saleh dan penerapan tongkat didikan.

Anak-anak yang tidak didisiplinkan dengan benar akan mendatangkan duka dan malu kepada orang tuanya (Ams. 17:21, 25; 29:15). Tidak banyak hal yang lebih menyakitkan dan membuat putus asa para orang tua dibandingkan seorang anak yang menyimpang dan memberontak.

ALASAN LAIN KITA HARUS MENDISIPLINKAN ANAK-ANAK KITA ADALAH KARENA APA YANG AKAN TERJADI JIKA SEORANG ANAK DIDIDIK DENGAN BENAR

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar akan berjalan di jalur hikmat dan bukan kebodohan (Ams. 22:6)

Janji Allah dalam Amsal 22:6 adalah bahwa anak yang dididik sedemikian rupa, tidak akan menyimpang dari didikan tesebut dan dari jalan yang benar ketika dia menjadi dewasa. Ini tidak berarti bahwa anak yang dididik sedemikian tidak akan pernah memberontak terhadap didikannya dan tidak pernah menyimpang. Hanya berarti bahwa jika ia memberontak, ia akan bertobat dan kembali kepada hikmat “ketika ia tua.” Juga tidak berarti bahwa setiap anak yang dididik sedemikian rupa akan menjadi hamba Kristus yang berapi-api, karena kita tahu bahwa tingkat dedikasi seseorang kepada Kristus adalah masalah keputusan pribadi. Tetapi kita yakin bahwa ayat ini memang berarti bahwa seorang anak yang dididik sedemikian tidak akan tersesat dan menolak kasih karunia Yesus Kristus dan iman kepada Allah yang hidup. Allah berkata tentang Abraham: “Sebab Aku telah mengenal dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya” (Kej. 18:19). Kita tahu bahwa anak Abraham, Ishak, berjalan menurut jejak iman ayahnya dan tidak berpaling kepada berhala-berhala.

Ada sebagian orang yang tidak percaya bahwa Amsal 22:6 adalah sebuah janji, tetapi kita tidak dapat mengerti bagaimana mungkin ini bukan suatu janji, dan suatu janji yang sedemikian menguatkan bagi orang tua yang secara serius mendidik anaknya. Tetapi, bagaimana denagn orang tua yang sepertinya membesarkan anaknya dalam jalan Kristus, tetapi mereka memberontak dan pergi kepada dunia, dan tidak pernah berhubungan dengan Kristus? Kita semua mungkin pernah tahu kasus-kasus yang demikian. Apakah artinya Amsal 22:6 bukanlah sebuah janji yang sejati? Jawaban saya terhadap tantangan seperti ini adalah bahwa ada banyak cara orang tua Kristen dapat gagal walaupun tampak dari luar mereka membesarkan anaknya dengan benar, dan kegagalan-kegagalan tersebut dapat menghancurkan efek dari pendidikan mereka. Kurangnya kasih, keduniawian, kemunafikan, tidak memakai tongkat didikan, dan mengasihi dunia adalah lima hal utama yang dapat “merusakkan kebun” sehingga buah dari rumah tangga itu pahit, bukannya manis, dan pendidikan anak-anak gagal.

Setelah orang tua yang bijaksana melakukan yang terbaik untuk mendidik seorang anak dalam jalan yang seharusnya, maka imannya bukanlah pada pendidikan yang ia berikan, tetapi kepada Allah penuh belas kasihan dan karunia yang mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan yang dipanggil sesuai dengan rencanaNya (Rom. 8:28).

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar luput dari neraka (Ams. 23:13-14, terjemahan Indonesia “dunia orang mati”). Ayat ini mengandung janji yang berharga, dan tentunya Firman Tuhan dapat dipercaya.

Tentunya ini tidak berarti, bahwa seorang anak dapat diselamatkan di luar Injil Yesus Kristus. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa orang yang percaya pada Kristus memiliki hidup yang kekal, dan mereka yang tidak percaya dalam Kristus tidak akan melihat hidup (Yoh. 3:36). Tuhan Yesus mengatakan kepada Nikodemus yang beragama bahwa kecuali seorang dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah (Yoh. 3:3).

Apa yang diajarkan oleh Ams. 23:13-14, dalam terang kebenaran Perjanjian Baru, adalah bahwa orang tua Kristen berhikmat yang mendisiplinkan anak-anaknya dengan benar dan mengajarkan pada mereka Injil, akan memiliki sukacita melihat mereka diselamatkan. Hal ini mirip dengan janji dalam Kis. 16:31, ketika Paulus dan Barnabas memberitahu kepala penjara Filipi, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau DAN SEISI RUMAHMU.” Keluarga seseorang tidak secara otomatis diselamatkan ketika ia sendiri diselamatkan, tetapi dengan percaya pada Kristus, seorang individu berada dalam posisi siap memaparkan keluarganya kepada Injil.

Disiplin yang benar dan pemakaian tongkat didikan mempersiapkan anak untuk keselamatan dengan cara mengajar padanya pertobatan dari dosa dan hormat kepada otoritas.

Anak-anak yang didisiplinkan dengan benar akan memberikan ketentraman dan sukacita kepada orang tuanya (Ams. 29:17). Hal ini seharusnya menjadi motivasi yang kuat bagi para orang tua untuk melakukan apapun yang perlu dilakukan demi mendidik anak mereka dalam jalan Tuhan. Tidak ada yang dapat lebih menentramkan hati orang tua Kristen dan menyukakan mereka selain tahu bahwa anak-anak mereka berjalan dengan Kristus, dan tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk itu.

2. CARA YANG BENAR PENDISIPLINAN ANAK

DISIPLIN HARUS DIMULAI AWAL (Ams. 13:24; 19:18). Kata “pada waktunya” Amsal 13:24 berarti sejak awal. Lihat Kejadian 26:31 dan 2 Tawarik 26:15. Disiplin harus dimulai sejak seorang anak dapat mengerti apa yang hendak dikomunikasikan oleh orang tuanya, dan ini biasanya dalam bebarapa bulan pertama. Jika disiplin tidak dimulai awal, maka bisa menjadi terlambat, dan anak tidak anak merespon dengan benar. Sang anak harus didisiplinkan “selama ada harapan.” Waktu yang terbaik untuk mendidik seorang remaja adalah ketika dia masih kanak-kanak.

DISIPLIN HARUS DIPAKAI DALAM KONTEKS PENDIDIKAN YANG BENAR (Ams. 22:6)

Koreksi dan penggunaan tongkat hanyalah sebagian kecil dari pendidikan seorang anak. Orang tua harus melancarkan program pendidikan penuh waktu untuk mendidik seorang anak dalam jalan yang seharusnya, dan dalam konteks pendidikan yang demikian, jika seorang anak tidak mau taat, maka ia harus dikoreksi dengan tongkat. Tetapi bukan hanya pengoreksian seorang anak yang akan membuat dia berjalan di jalan yang benar ketika ia dewasa, tetapi adalah mendidik dia dalam jalan tersebut, dan ini termasuk semua yang terlibat dalam pendidikan, contohnya, mengembangkan hubungan yang dekat dengan dia, mengajarinya Alkitab, membangun dalam dirinya karakter yang bermoral, menjangkau hatinya dengan kebenaran, mendidik dia tentang bahaya-bahaya yang menantinya di dunia, dll.

Pendidikan harus membawa seorang anak dalam jalan yang benar. Ia harus diajar “dalam jalan yang patut baginya.” Hal ini tidak mengacu pada jalan alami seorang anak, tetapi kepada jalan Tuhan. Kata Ibrani yang diterjemahkan “didiklah” (hanak) berarti “mempersempit.” Hal ini mengacu pada tindakan mempersempit jalan seorang anak sehingga berpadanan dengan jalan Allahyang sempit dan membatasinya dengan Firman Allah sehingga ia tidak masuk ke jalan yang lebar yang menuju kepada kebinasaan (Mat. 7:13-14).

DISIPLIN HARUS MEMPERGUNAKAN TONGKAT DENGAN EFEKTIF (Ams. 23:13-14, 24; 29:15).

Tongkat disebut empat kali dalam Amsal dalam hubungannya dengan disiplin seorang anak. Benda ini adalah instrumen disiplin yang patut dalam Alkitab. Sebuah tongkat bukanlah tangan orang tua, dan juga bukan ikat pinggang, bukan cambuk, juga bukan sebuah tinju, bukan tempelengan, bukan tendangan, bukan makian, juga bukan ancaman. Kamus Webster tahun 1828 mendefinisikan sebuah `tongkat’ (rod dalam bahasa Inggris) adalah “cabang atau batang panjang dari tumbuhan kayu manapun; sebuah cabang, atau akar dari semak-semak….” Lihat Kej. 30:37 dan Yer. 1:11. Generasi Amerika yang dulu menyebut tongkat ini “tree switch.” Nenek dari pihak ibu saya menggunakan rotan dari pohon-pohon yang tumbuh sekitar rumah dia di Florida tengah, dan rotan-rotan itu sedemikian efektif sehingga semua anak-anaknya menyatakan iman dalam Kristus saat dewasa dan semua memiliki keluarga yang sukses tanpa perceraian.

Tongkat tidak boleh ditahan-tahan (”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya,” Ams. 13:24). Ini berarti takut menggunakan tongkat.

Tongkat tidak digunakan ketika ia ditinggalkan sama sekali. Banyak orang tua yang menggantikan tongkat dengan trik-trik manipulasi psikologi. Alkitab mengatakan bahwa orang tua yang demikian sebenarnya tidak mengasihi anak-anak mereka.

Tongkat tidak dipakai dengan semestinya ketika ia tidak diterapkan ketika seharusnya dipakai. Ada orang tua yang sudah mulai menggunakan tongkat didikan dengan benar, tetapi kemudian mereka mengendur. Ada juga yang memakai tongkat sesekali, tetapi mereka tidak melakukannya dengan konsisten setiap kali hal itu diperlukan. Jangan tertipu. Firman Allah berkata, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya…” Ada banyak hal yang akan menggoda orang tua untuk tidak menggunakan tongkat, seperti tangisan anaknya (Ams. 19:18), keletihan fisik, ketidaksabaran dengan kemajuan disiplin yang pelan, interferensi dari teman maupun keluarga yang bermaksud baik tetapi salah, dan frustrasi mental, tetapi jika tongkat tidak digunakan ketika seharusnya ia digunakan, anak tidak akan mendapat disiplin yang patut.

Tongkat tidak digunakan dengan seharusnya ketika ia tidak digunakan kepada sebagian anak-anak. Cukup sering terjadi bahwa orang tua lebih tegas terhadap anak pertama dibandingkan anak-anak yang lahir setelahnya. Cukup sering bagi orang tua yang mendapat anak pada umur lanjut untuk tidak menggunakan tongkat.

Tongkat harus digunakan ketika anak itu memberontak (Ams. 22:15; 23:13). Tongkat yang alkitabiah adalah tongkat pengoreksian. Tongkat tidak boleh dipakai semata-mata karena orang tua frustrasi dengan sang anak; ia dipakai untuk mengoreksi seorang anak yang menolak untuk mendengarkan perintah-perintah dan instruksi verbal. Ia dipakai untuk menekankan pentingnya ketaatan yang sejati dan yang cepat. Ia dipakai untuk mengoreksi ketidaktaatan dan pemberontakan.

Tongkat harus dipakai dengan kekuatan yang cukup agar memberikan koreksi pada anak (Ams. 23:13). Tongkat adalah untuk tujuan memukul. Seharusnya ada rasa sakit, dan seharusnya rasa sakitnya cukup untuk menyampaikan pesan yang diinginkan dan menghasilkan penyerahan hari yang nyata. Jika tongkat telah dipakai tetapi anak masih tetap dalam ketidaktaatan, maka artinya ia belum dipakai dengan kekuatan atau persistensi yang cukup. Orang tua sering gagal dalam poin yang satu ini. Mereka menggunakan tongkat sedikit, tetapi tidak cukup untuk membawa hasil yang diinginkan, dan mereka lalu berpikir bahwa metode ini tidak bekerja. Problemnya bukan pada tongkat; problemnya adalah penyalahgunaannya, dan penggunaan yang inkonsisten dan setengah hati. Saya masih ingat teman Kristen yang memiliki seorang anak lelaki dua tahun yang ekstra besar dan ekstra pemberontak. Ibunya akan “merotan” dia dengan memberikan beberapa pukulan pada popoknya yang tebal dengan tangannya, dan anak itu secara literal tertawa dan berlanjut pada kenakalan dan pemberontakannya. Tidak heran, ketika anak itu mendekati umur remaja, ia tidak dapat dikendalikan lagi. Penggunaan yang alkitabiah akan tongkat tentunya dapat menghentikan pemberontakan yang menakutkan itu dari awalnya dan menyelamatkan keluarga tersebut dari banyak sakit hati dan juga menyelamatkan anak itu dari banyak kesedihan. Kebodohan yang terikat pada hati seorang anak harus diusir, dan hal ini memerlukan kekuatan yang benar, dan ketetapan yang teguh dan ketekunan yang mantap (Ams. 22:15).

Tongkat harus dipakai daripada memberikan perintah dan ancaman berulang-ulang. Banyak orang tua yang masuk ke dalam perangkat memberitahu anaknya “jangan” berulang kali, dan memperingatknnya dan mengancamnya, daripada dengan tenang dan cepat dan konsisten menggunakan tongkat untuk mendidik anak agar taat pada perintah yang pertama. Jika ia tidak taat setelah SATU perintah, ia harus dipukul dengan rotan hingga ia taat. Jika ia diberikan banyak perintah sebelum ia dipukul dengan rotan, maka sebenarnya ia diajar untuk TIDAK taat, dan ia sedang mendidik orang tuanya, bukan sebaliknya. Ia belajar bahwa orang tuanya tidak benar-benar sepenuh hati ketika mereka memberinya perintah, atau bahkan ketika mereka memperingatkannya, karena mereka membiarkan dia melakukan banyak aksi ketidaktaatan.

DISIPLIN HARUS DILAKUKAN DENGAN ALASAN YANG BENAR DAN DENGAN SEMANGAT YANG BENAR (Ams. 3:11-12; 13:24: 22:6).

Jika orang tua tidak memiliki motivasi dan semangat yang benar ketika menggunakan tongkat, maka ia tidak akan berhasil dan dapat menghasilkan kebalikan dari ketaatan yang saleh. Motivasi yang benar adalah keinginan untuk mendidik anak tersebut, sehingga ia akan berada di jalan yang benar, dan semangat yang benar adalah semangat mengasihi. Jika motivasi dan semangatnya adalah amarah, atau dendam, atau iri hati, atau frustrasi, atau keinginan untuk mencelakai atau hal-hal kedagingan lainnya, tongkat akan lebih berbahaya daripada bermanfaat. Saya menyesal saya tidak mengerti hal-hal ini dengan lebih baik ketika saya masih orang tua muda dan anak-anak saya masih kecil, tetapi kini saya memahaminya karena kasih karunia Allah, dan saya mendorong para orang tua muda untuk melaksanakan disiplin anak dalam semangat yang benar. John G. Paton, misionari tersohor ke kepulauan Hibrida Baru, yang menderita amat sangat demi Kristus dan memenangkan banyak pemburu manusia kepada Kristus, dalam biografinya menggambarkan pendidikan dan disiplin yang ia terima sebagai seorang anak. Ia tumbuh besar di rumah tangga yang bahagia tetapi sangat rohani, dan disiplin sangat efektif dalam hidup setiap dari sebelas anak di rumah tangga itu. Setelah menggambarkan bagaimana keluarga menghabiskan hari minggu mereka dan bagaimana anak-anak dengan hati-hati diajarkan doktrin Alkitab sepanjang minggu, dan bagaimana ayahnya menggunakan tongkat didikan ketika diperlukan, ia mengamati: “Tentu saja, jika orang tua tidak saleh, dan tulus, dan penuh kasih, – jika seluruh kejadian itu dari kedua pihak hanyalah sekedar suatu pekerjaan, atau lebih buruk lagi, sesuatu yang munafik dan palsu, – hasilnya pastilah jauh berbeda! Tuhan kiranya menolong rumah tangga di mana semua hal ini dilakukan hanya dengan kekuatan semata dan bukan dengan kasih!” (John G. Paton: Missionary to the New Hebrides, 1891).

DISIPLIN SEHARUSNYA DILAKUKAN SAMBIL BERPIKIR TENTANG KEKEKALAN (”maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu,” Ams. 22:6; “engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati,” Ams. 23:14).

Orang tua tidak boleh berpikiran pendek. Dengan memikirkan masa depan, orang tua dapat melihat melampaui air mata sang anak dan melampaui keletihan dan ketidaksabarannya sendiri, melihat kepada hari saat anak telah dewasa dan bahkan melampaui itu kepada hari sang anak meninggalkan dunia ini dan masuk ke surga atau ke neraka.

(Disadur dari Way of Life Ministry)

NATAL BULAN JUNI

Filed under: HARI BESAR KRISTIANI — dedewijaya at 6:09 am on Monday, June 8, 2009
Jika ada yang bertanya, mengapa merayakan Natal di bulan Juni, artikel berikut dapat memberikan jawabnya.

Natal Tanpa Salju, Tetapi Ada Domba di Padang dan Para Gembala

Sebelum Constantine berhasil menjadi kaisar Roma, orang Kristen sangat dianiaya. Kaisar-kaisar Roma sebelumnya tidak puas sekedar dihormati sebagai kaisar. Mereka menuntut dihormati sebagai Tuhan. Tentu orang Kristen tidak bisa memberi penghormatan kepada manusia sebagai Tuhan. Maka timbullah iri hati di dalam para kaisar sehingga mereka membenci orang Kristen.

Kaisar Nero adalah yang paling gila dan paling membenci orang Kristen. Saking gilanya, ia ingin menikmati api unggun sambil menggubah syair. Timbul ide untuk membakar kota Roma sebagai api unggun raksasa sambil menggubah syair dan lagu. Ketika pembakaran terjadi, rakyat yang kehilangan rumah menjadi marah, dan mereka menuju istana untuk melawan kaisar. Namun dengan penuh percaya diri, ia tampil dan memfitnah bahwa orang Kristenlah yang membakar kota Roma.

Tuduhan ini betul-betul dimakan oleh penduduk Roma yang tidak pakai otak. Dan sejak saat itu (+ AD 65) orang Kristen dianiaya secara intensif di seluruh Roma. Rumah dan tanah mereka direbut, demikian juga dengan harta bergerak mereka. Orang Kristen yang statusnya diketahui tetangga harus segera menyembunyikan diri. Sedangkan yang belum diketahui statusnya harus pintar berkamuflase.

Selanjutnya satu demi satu kaisar bertindak serupa sampai Constantine menang dan naik tahta. Malam sebelum peperangan dahsyat untuk memperebutkan tahta ia melihat suatu penglihatan. Kalau ia benar melihat penglihatan, tentu bukan dari Tuhan karena proses pewahyuan telah berhenti. Setelah kemenangannya ia mengumumkan bahwa ia menjadi orang Kristen. Sangat mungkin ia menyadari bahwa orang Kristen telah menjadi mayoritas sehingga demi politik, daripada memusuhi orang Kristen lebih baik memanfaatkan mereka.
Ketika iblis menghantam kekristenan dari luar, kekristenan semakin berkembang, dan kemurnian motivasi, kebenaran doktrin, serta keagungan moral kekristenan bersinar bagaikan lampu sorot jutaan watt. Orang Kristen semakin bertambah sekalipun tanpa gedung untuk kebaktian. Tentu mereka tidak berkumpul untuk berdoa seperti orang Kristen di Jakarta berkumpul untuk berdoa di Senayan, apalagi bercita-cita untuk mendirikan gedung gereja besar (menara Babel).

Ketika Constantine menjadi kaisar, sepertinya iblis ubah taktik, dari menyerang dari luar, menjadi menyerang dari dalam. Edict of Milan diumumkan Constantine pada tahun 313, yaitu sepuluh tahun setelah ia naik tahta (303). Isinya adalah harta orang Kristen yang pernah dirampas harus dikembalikan. Kaisar mengumumkan bahwa dirinya menjadi Kristen sekalipun ia tidak mau dibaptis sampai saat mendekati ajalnya.

Karena kaisar menjadi Kristen, maka semua penjilat ikut-ikutan menjadi Kristen. Bahkan para pelayan kuil pun tanpa bertobat segera menjadi Kristen. Tentu kebe-basan berjemaat dan berbakti yang diberikan sangat disyukuri orang Kristen yang telah menderita berabad-abad. Namun penyimpangan doktrinal tidak bisa dihindarkan. Mulai saat itu dibangunlah gedung-gedung gereja yang megah, lagi pula dibuatlah patung-patung tokoh-tokoh Alkitab. Ditetapkan juga hari-hari raya kekristenan.

Tanggal 25 Desember adalah hari raya penyembahan dewa matahari. Karena pada tanggal itu posisi matahari berada tepat di garis lintang selatan, dan Eropa pada puncak musim dingin, sehingga mereka sangat mengharapkan musim panas. Tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari tanda setia dewa matahari untuk menggeser posisi matahari kembali ke Eropa, sehingga musim semi akan segera tiba. (Silakan membacanya di berbagai Encyclopedia).
Sejak saat itu perayaan untuk dewa matahari, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Desember digeser menjadi perayaan untuk misa Yesus. Termasuk ditetapkannya hari penyaliban yang sebenarnya hari Rabu bukan hari Jumat.

Lalu Kapan Kristus Lahir?

Sumber yang tak terbantahkan ialah Alkitab. Dalam Injil Lukas 1:10 memberitahukan kepada kita bahwa pada saat Zakaria, ayah Yohanes Pembaptis, mendapat undian bertugas sebagai imam untuk masuk ke Bait Suci, di luar seluruh umat berkumpul. Dalam hukum Taurat ditetapkan hanya tiga hari raya dimana orang Israel berkumpul semua di Yerusalem. Yang paling menonjol tentunya adalah hari Paskah yang jatuh pada sekitar bulan Maret-April (bulan pertama Yahudi). Di Lukas 1:26, dikatakan bahwa Gabriel mendatangi Maria pada bulan keenam. Bulan keenam disini bisa mengacu pada bulan keenam orang Yahudi, atau bulan keenamnya kehamilan Elizabeth. Atau bisa saja kedua hal di atas kebetulan sama, yaitu jika Zakaria memang bertugas pada bulan pertama orang Yahudi. Sepertinya hal itulah yang terjadi.

Jika Yohanes Pembaptis dikandung pada sekitar bulan Maret-April, dimana Luk 1:26 berkata pada bulan ke-enam malaikat datang kepada Maria di Nazaret, berarti Yesus Kristus mulai dikandung pada sekitar bulan September-Oktober. Selanjutnya sebagaimana biasa (alamiah) Maria mengandung Yesus Kristus selama sembilan bulan sehingga perkiraan yang lebih alkitabiah adalah Yesus Kristus dilahirkan pada sekitar bulan Juni-Juli.
Jadi, inilah keterangan Alkitab yang kita peroleh untuk menjejaki saat kelahiran Yesus Kristus. Orang Kristen alkitabiah harus lebih percaya pada keterangan Alkitab daripada tradisi dan segala informasi lain yang terkontaminasi serta bias.

Secara Akal Sehat

Alkitab juga memberi keterangan kepada kita bahwa pada saat menjelang kelahiran Kristus Kaisar Agustus memerintahkan sensus. Tentu Tuhanlah yang menggerakkannya untuk mengeluarkan perintah itu karena Nabi Mikha telah menulis bahwa Mesias akan lahir di kota Betlehem (Mik. 5:1). Tanpa perintah sensus mungkin Kristus akan dilahirkan di kota Nazaret. Dan hal ini akan menjadi masalah besar.

Sistem sensus zaman kuno tersebut mengharuskan setiap orang kembali ke kota atau kampung kelahirannya. Perintah ini akan menyebabkan pergerakan manusia dalam jumlah besar. Dan ternyata tidak bisa diwakilkan atau hanya kepala rumah tangga saja yang datang. Maria dalam keadaan hamil tua ternyata harus mengikuti sensus.
Masuk akalkah Tuhan menggerakkan kaisar Agustus memerintahkan sensus pada musim dingin (Desember)? Betapa sulitnya orang zaman itu melakukan perjalanan di musim dingin. Bahkan beberapa kali rasul Paulus menghentikan perjalanannya karena terhalang musim dingin.

Sekalipun katakanlah bahwa kaisar Agustus itu sinting, mungkinkah ia rela menanggung resiko dibenci oleh rakyat seluruh kekaisarannya karena memerintahkan orang untuk kembali ke kota kelahirannya pada musim dingin? Secara akal sehat rasanya sulit untuk percaya bahwa sensus itu dilakukan pada bulan Desember. Dan sangatlah masuk akal kalau sensus itu dilaksanakan pada musim panas atau menjelang musim panas yaitu sekitar bulan Juni atau Juli.

Keterangan lain dari Alkitab ialah adanya penggembalaan domba di padang rumput pada saat Kristus dilahirkan. Seharusnya mereka yang di wilayah empat musim tahu persis bahwa pada bulan Desember itu musim dingin dan tidak ada padang rumput yang menghijau, melainkan layu bahkan tempat tertentu tertutup salju. Ketika penulis berada di Virginia, USA, sungguh telah menyaksikan bahwa pada tanggal 25 Desember tidak ada padang rumput, bahkan tidak ada orang yang berjalan di luar rumah. Kalau kita lihat peta, posisi Israel hampir sama dengan posisi Virginia. Memang, di kota Betlehem secara geografis tidak sering terjadi salju. Tetapi, tetap saja kenyataannya, sangat tipis kemungkinan ada domba yang bermalam di padang terbuka pada musim dingin.

Kapankah mulai ada aktivitas penggembalaan? Tentu setelah musim semi, saat itu rumput tumbuh dengan subur. Terlebih setelah memasuki musim panas setelah matahari menyinari rumput-rumput. Bagi gembala saat itu tidak terlalu dingin untuk berada di padang rumput. Itulah sebabnya dari keterangan Alkitab tentang keberadaan para gembla dapat dipastikan itu di bulan Juni-Juli.

Mengenai Orang Majus

Siapakah orang Majus yang dari Timur itu? Saking ingin diperhitungkan nenek moyangnya terlibat, ada pendeta Tionghoa yang menafsirkan orang Majus itu dari Tiongkok. Waw, jauh sekali. Padahal pada zaman itu belum tentu saling tahu menahu keberadaan masing-masing antara orang di Tiongkok orang di Timur Tengah.

Mereka melihat bintang. Mengapa mereka tahu bahwa bintang itu sebuah tanda kelahiran raja Yahudi? Dari pada menafsir secara liar, apakah ada bagian Alkitab yang bisa menjelaskan hal ini?

Dalam kitab Bilangan tercatat seorang nabi yang bernama Bileam. Apakah ia nabi dari Allah yang benar? Kelihatannya begitu, karena ia takut akan Allah dan memang ada komunikasi antara Bileam dengan Allah.

Ingat, pada zaman sebelum Taurat diturunkan, adalah zaman keimamatan ayah. Pada zaman itu tiap-tiap ayah adalah imam bagi keluarganya. Ada banyak ayah yang keimamatannya tidak berfungsi dengan baik dan ada ayah yang aktivitas keimamatannya melampaui keluarga-nya sehingga menjadi imam komunitas seperti ayah mertua Musa, Yitro. Ayub diperkirakan hidup pada zaman itu, dan ia berfungsi baik sebagai imam bagi keluarganya.
Bileam termasuk dalam kategori Yitro dan Ayub, demikian juga mertua Yusuf yang di Mesir. Mereka adalah orang-orang yang masih percaya pada Allah yang benar namun dengan pengertian yang sangat minim karena belum diturunkannya wahyu tertulis yang bisa menjadi patokan kebenaran yang sifatnya definit dan permanen.

Dalam kitab Bilangan pasal 24:17, Tuhan memelintir mulut Bileam sehingga ia mengucapkan firman yang bukan kutuk melainkan nubuatan tentang kedatangan Sang Mesias. Katanya, “Aku melihat dia (Mesias) tetapi bukan sekarang; Aku memandang dia tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab dan menghancurkan semua anak Set.

Ingat, Bileam adalah seorang yang dihinggapi Roh Allah. Kata-katanya diterima sebagai kebenaran terlebih oleh orang Moab. Pastilah apa yang telah terjadi antara Balak dan Bileam menjadi buah bibir turun-temurun. Sangatlah gampang untuk menafsirkan nubuatan Bileam bahwa nanti akan datang seorang pemimpim bangsa Yahudi yang memiliki kemampuan membinasakan semua anak Set. Nubuatan Bileam mengenai seorang yang akan datang, “aku melihatnya tetapi bukan sekarang,” Seorang pemimpin yang kelahirannya ditandai dengan bintang.

Sangatlah masuk akal untuk menafsirkan bahwa orang Majus dari Timur itu adalah orang Moab yang telah sangat terkesan dengan nubuatan Bileam, orang yang semua perkataannya sangat mereka hormati. Lagi pula Bileam sendiri tentu lebih terkesan lagi karena ia rasakan sendiri bagaimana ia terkendali secara illahi dalam mengucapkan nubuatan tersebut.

Ia pasti akan mengulanginya dan menegaskannya kepada masyarakat bahwa jika mereka melihat bintang yang ajaib maka itu sebuah pertanda kelahiran seorang raja Yahudi yang akan menguasai seluruh dunia. Terhadap dia lebih baik kita mengantar upeti daripada mencari gara-gara.

Orang Majus dari Timur sesungguhnya adalah orang Moab yang jarak perjalanannya tidak sampai berbulan-bulan, apalagi bertahun-tahun. Kelihatannya perjalanan mereka hanya dalam hitungan hari atau paling-paling hitungan minggu. BERARTI PERJALANAN MEREKA ITU DI SAAT MUSIM PANAS.

Tentu beberapa hari sesudah melahirkan, Maria sudah pindah dari kandang ke rumah. Karena sesudah mendaftarkan diri, banyak orang telah pulang ke kota masing-masing lagi sehingga sudah ada tempat. Dan ketika orang majus datang Yusuf dan Maria sudah tinggal di rumah bukan di kandang lagi.

Tidak masuk akal untuk berlama-lama di Betlehem karena rumah mereka ada di Nazaret. Jadi tidak mungkin orang Majus datang terlalu lama setelah kelahiran Yesus. Mereka paling-paling menunggu keadaan Maria pulih dari melahirkan. Gembala yang telah mendapat kabar dari malaikat tentu sudah bercerita kemana-mana. Namun mungkin reputasi mereka hanyalah gembala sehingga masyarakat tidak percaya sepenuhnya.

Ketika orang Majus datang secara rombongan dan waktunya sore-sore karena perjalanan dari Yerusalem, agak menyita perhatian masyarakat, sehingga mereka mulai percaya pada keajaiban kelahiran putra Maria. Namun tentu sulit bagi sanak famili mereka untuk menerima bahwa bayi itu adalah Mesias. Dan kini datang rombongan orang asing menyembah dan memberi hadiah.

Tanpa mereka sempat bertanya-tanya atau mewawancarai Yusuf dan Maria, malamnya malaikat perin-tahkan agar mereka segera berangkat ke Mesir. Besoknya mereka tidak melihat pasangan itu lagi, dan celakanya datang pasukan Herodes untuk membunuh bayi mereka dari dua tahun kebawah.

Diambilnya patokan dua tahun kebawah tentu hanya karena Herodes tidak mau kecolongan lagi. Bisa juga karena ia tidak percaya keterangan orang Majus yang telah membohonginya. Semua fakta ini menunjukkan bahwa Yesus Kristus tidak dilahirkan pada bulan Desember melainkan sekitar Juni-Juli. Tidak ada salju, melainkan para gembala dan domba. Memang, ada penafsiran lain yang memungkinkan tentang waktu kelahiran Yesus, karena Alkitab tidak mengatakan secara persis sekali, tetapi yang jelas Yesus tidak dilahirkan pada bulan Desember.