DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

SINYAL YANG SALAH

Filed under: FUNDAMENTAL — dedewijaya at 1:45 am on Thursday, July 30, 2009

Kejatuhan Manusia

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tidak bisa hidup bersama Allah yang maha kudus di Sorga yang maha kudus. Di dalam hati manusia pernah muncul keinginan jahat untuk menyamakan dirinya dengan Allah. Manusia pernah menyangsikan Allah dan mempercayai iblis. Kejahatan ini harus dihukumkan baru bisa selesai. Sifat kemahaadilan Allah tidak bisa membiarkan kesalahan tanpa mendapatkan penghukuman. Penghukuman yang telah diumumkan Allah ialah hukuman mati.

Namun karena kasih Allah yang sangat besar, Ia merencanakan untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan. Adam dan Hawa harus mengaku salah dan menyesali kesalahan (bertobat), dan percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan kirim Juruselamat untuk menggantikan mereka dihukumkan. Mereka pernah tidak percaya kepada Allah. Selanjut­nya jika mereka mau dosa mereka terhitung ditanggungkan pada Sang Juruselamat maka mereka harus percaya. Mereka harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Dan sebagai tanda percaya mereka harus melakukan ibadah simbolik yang menggambarkan penghukuman yang akan dijatuhkan kepada Sang Juruselamat dengan menyembelih seekor binatang di atas mezbah sambil mengaku salah. Ibadah ini akan selalu mengingatkan mereka pada janji Allah.

Ayah Pemberi Sinyal Pertama

Seorang ayah harus mengajarkan kebenaran ibadah simbolik sederhana ini kepada anak-anaknya. Demikianlah praktek ibadah simbolik ini diteruskan dari satu generasi ke generasi berikut agar mereka ingat terus pada janji Allah. Ayah harus memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa dosa mereka harus diakui dan disesali (bertobat) dan mereka harus percaya kepada janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juru­selamat untuk dihukumkan menggantikan mereka.

Kalau seorang ayah mengajarkan konsep yang salah, itu sama artinya memberi sinyal yang salah kepada anak­anaknya sehingga mereka tersesat. Pada zaman itu ayah adalah tiang penopang dan dasar kebenaran bagi anak-anaknya. Secara rohani mereka berjalan berpandukan pada sinyal yang diberikan oleh ayah mereka. Kalau sinyal dari sang ayah salah, maka tersesatlah anak-anaknya. Itulah yang mung-kin dialami oleh Nimrod dari kakeknya Ham.

Bangsa Israel Pemberi Sinyal Untuk Semua Bangsa

Setelah manusia tersebar ke berbagai penjuru dunia, maka Allah membangun sebu­ah bangsa untuk memberi sinyal yang tepat kepada bangsa lain. Allah akan menggenapi janjiNya untuk mengirim Juruselamat. Setiap manusia yang ingin dosanya diperhitungkan telah selsai terhukumkan harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan. Ia harus percaya bahwa Sang Juruselamat AKAN menggantikannya dihukumkan atas semua dosanya.

Seluruh rangkaian ibadah simbolik yang dipusatkan di Kemah Kudus, dan kemudian di Bait Kudus yang dibangun Salomo, adalah upacara pengingat akan janji Allah bahwa Ia telah berjanji untuk mengirim Juruselamat. Sang Juruselamat akan dihukumkan untuk menanggung dosa seisi dunia (Yoh.1:29), dan setiap orang yang percaya kepadaNya maka Allah akan menghitung dia sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman. Juruselamat telah menggantikannya dihukumkan. Kebenaran ini adalah sinyal yang harus dipancarkan bangsa Yahudi kepada semua bangsa di muka bumi.

Jika bangsa Israel lalai maka bangsa­-bangsa lain akan sesat dan celaka karena si­nyalnya ternyata menyesatkan. Itulah sebab­nya Allah sangat marah ketika bangsa Yahudi tidak setia pada peran mereka. Seluruh rang­kaian ibadah lengkap dengan keimamatan Harun yang didirikan adalah acara simbolik yang sedang dipakai Allah untuk mengajar­kan kebenaran hakekat yang akan datang (Ibr.10:1-3). Itulah sebabnya juga Allah sangat marah kepada Saul yang tidak setia pada aturan (doktrinal) bahwa hanya imam yang boleh membakar korban. Dosa Daud bersangkut paut dengan moral, sedangkan dosa Saul bersangkut paut dengan doktrin keselamatan.

Kesalahan moral memang dosa, namun dosa seisi dunia telah ditanggung Yesus Kris­tus. Manusia yang berdosa secara moral hanya perlu mengaku salah dan menyesali­nya. Kesalahan doktrinal akan menyebabkan kebinasaan, akan menyebabkan penyimpang­an iman, bahkan akan menyesatkan banyak orang yang mendengarkannya, karena akan menyebabkan manusia salah mengerti program penyelamatan dari Allah. Tuhan marah pada Saul dan Tuhan benci setiap raja yang menyebabkan kesalahan doktrinal (menuntun kepada kesesatan). Bangsa Israel ditunjuk sebagai pemberi sinyal, kalau sinyalnya salah maka bangsa lain akan sesat.

Jemaat Lokal Pemberi Sinyal Zaman Perjanjian Baru

Tugas bangsa Israel sebagai pemberi sinyal bagi bangsa lain selesai pada saat Yohanes muncul mengumumkan kedatangan Sang Juruselamat (Luk.16:16, mat.11:13). Zaman ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat telah digenapi dengan datangnya Sang Jurselamat. “Saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:23).

Kini Tuhan membangun jemaatNya yang tidak dikuasai sekalipun oleh alam maut (Mat.16:18) dan ditargetkan akan tersebar ke seluruh muka bumi (Kis.1:8). Tuhan memakai jemaat memberitakan tentang kedatangan Sang Juruselamat kepada setiap manusia, bahkan dihiperbolkan hingga setiap makhluk (Mark.16:15-16). Setiap orang yang percaya dididik untuk menjadi murid dengan didahului sebuah upacara yang menandakan Injil yang telah menyelamatkan mereka, yaitu diselamkan ke dalam air (Mat.29:19-20, Rom.6:3-4). Setelah itu maka terbentuklah kawanan “domba” yang perlu digembalakan dengan penuh kasih kepada Tuhan (Yoh.21:15-17). Kumpulan domba Allah ini juga disebut jemaat Perjanjian Baru, Tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15). Jemaat inilah yang ditugaskan untuk memberi sinyal yang benar kepada dunia tentang keselamatan jiwa tiap-tiap manusia. Jemaat harus memberitakan Injil keselamatan yang setepat-tepatnya agar setiap manusia yang mendengar dan percaya bisa mendapatkan kepastian masuk Sorga. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun karena kesalahan kecil pasti akan berkembang menjadi kesalahan besar. Dan Injil yang telah salah tidak akan dapat menyelamatkan pendengarnya lagi.

Betapa pentingnya posisi jemaat lokal di zaman Perjanjian Baru ini. Ia sama dengan posisi ayah pada zaman Adam hingga hukum Taurat diturunkan, dan juga sama posisinya dengan bangsa Yahudi dari Taurat diturunkan hingga Yohanes tampil. Zaman ayah sebagai imam dan tiang penopang adalah zaman family-altar, sekarang bukan zaman family-altar. Kelompok “abba-love” yang ingin mempertahankan posisi keimamatan ayah lahir ketelatan. Jika mereka ingin memperta­hankan keimamatan ayah semestinya mereka lahir pada zaman Abraham. Bahkan sejak Harun ditetapkan sebagai imam, keimamatan ayah dihentikan, itulah sebabnya sejak penetapan Harun tidak ada lagi ayah yang memberkati anak-anaknya seperti seorang imam seperti yang dilakukan Yakub (Kej.49). Tentu seorang ayah boleh bahkan harus berdoa kiranya Tuhan memberkati anak-­anaknya.

Iblis Mengacaukan Sinyal

Sebagaimana ia telah lakukan baik terhadap para ayah dari zaman Adam hingga zaman Musa, dan mengacaukan bangsa Israel dari sejak di gunung Sinai hingga tampilnya Yohanes, demikian jugalah Iblis tidak tinggal diam membiarkan jemaat Tuhan bertugas memberi sinyal yang tepat kepada dunia.

Seandainya para ayah sejak Adam kokoh mempertahankan kebenaran yang disampai­kan Allah kepada mereka, setia melakukan ibadah simbolik sederhana sambil mengaku salah dan percaya kepada Juruselamat yang dijanjikan, maka peristiwa Nuh tidak perlu terjadi. Tetapi Kain sengaja membangkang secara doktrinal dengan mempersembahkan hasil tanaman bukan binatang yang bisa mencurahkan darah. Allah menetapkan binatang (domba) sebagai simbol Sang Juruselamat yang dijanjikan. Namun Kain berusaha menggantikannya dengan benda lain (hasil tanaman).

Setelah ditegur Kain bukannya bertobat, malahan membunuh adiknya. Seterusnya keturunan Kain merusak bumi dengan pembangkangan mereka dan menghasilkan manusia bejat pada zaman Nuh. Untunglah Nuh masih setia, dan tetap melakukan ibadah simbolik yang Tuhan perintahkan. Bahkan ketika kapalnya mendarat di gunung Ararat, hal pertama yang Nuh lakukan ialah men­dirikan sebuah mezbah dan mempersem­bahkan seekor binatang halal (domba).Tetapi cucu Ham yang bernama Nimrod menguasai bumi dan memimpin penentangan kepada Sang Pencipta. Sebagai penghukuman, Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga manusia tersebar sesuai kelompok bahasa masing-masing.

Sejak Allah mendirikan sebuah bangsa sebagai pemancar sinyal kepada segenap bangsa yang tersebar, iblis tidak berdiam diri. Bahkan pada hari peresmian mereka sebagai bangsa, ketika Musa dan Yoshua sedang menjemput UUD (Taurat) di atas bukit, di bawah iblis memanfaat situasi dan menyebab­kan dosa yang sangat besar, yaitu pembuatan dan penyembahan lembu emas.

Ketika Allah memilihkan sebuah lokasi, yaitu Timur Tengah, tempat yang paling strategis untuk memancarkan sinyal ke Eropa, Afrika dan Asia, iblis berusaha menggagalkan sehingga mereka tertunda 40 tahun. Namun akhirnya mereka memasuki tanah Kanaan dan bertugas memancarkan sinyal dari Allah. Ibadah simbolik yang berpusat pada Kemah Suci sesungguhnya adalah rangkaian ibadah pengingat akan janji Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk menyelesaikan dosa manusia. Semua orang yang percaya pada janji Allah harus bertobat dan meman­dang ke depan, kepada Sang Juruselamat yang akan datang sambil dengan setia melakukan ibadah simbolik yang menggambarkanNya.

Pada zaman Salomo adalah puncak kesuksesan bangsa Yahudi memancarkan kebenaran dan kebesaran Jehovah ke segala arah. Ratu negeri Syeba yang nun jauh dari Selatan mendapat sinyal dan datang ke Yerusalem, selain mengagumi Salomo tentu termasuk mengagumi ibadah simbolik dan semua pengajaran para nabi.

Raja Yerobeam yang seharusnya tetap setia kepada Allah karena telah mendapatkan sebagian besar kerajaan Daud, ternyata malah memimpin sepuluh suku menyembah berha­la. Zaman raja Manasye adalah zaman yang paling dahsyat penyimpangannya. Bangsa Israel yang sepatutnya memberi sinyal tentang Sang Pencipta langit dan bumi, yang dipanggil Jehovah dengan janji penyelamat­an yang direncanakan malah memberi sinyal yang salah.

Seandainya bangsa Israel sukses meman­carkan kebenaran, maka Sidharta Gautama akan mendapat penerangan (buddha) melalui mengunjungi Yerusalem seperti Ratu Syeba. Kong Fu Tse akan mendengar tentang hukum Taurat, hukum pertama di bumi yang sangat lengkap. Dan para filsuf Yunani sepatutnya tidak berfilsafat secara ngacok memperta­nyakan makna kehidupan dan mempertanya­kan asal-usul kehidupan. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Sayang sekali bangsa israel banyak kali gagal memancarkan sinyal dengan benar sehingga bangsa-bangsa kehilangan arah. Hanya segelintir orang yang SANGAT AMAT mencintai kebenaran, yang walaupun sinyal-nya agak kacau namun karena mereka berusaha mengamati dengan sangat seksama sehingga masih menemukan arah. Mereka adalah sida-sida dari Etiopia, Kornelius seorang komandan pasukan yang berbangsa Romawi dan lain-lain.

Iblis Mengacaukan Sinyal Gereja

Kalau iblis mengacaukan ayah pada zaman ayah berfungsi sebagai penopang kebenaran, dan mengacaukan bangsa Israel saat bangsa itu sebagai tiang kebenaran, mungkinkah ia akan diam dan tidak mengutak-atik jemaat lokal di masa jemaat lokal berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (I Tim.3:15)?Mustahil!

Hal pertama yang iblis lakukan dalam rangka mengacaukan gereja adalah mengacaukan pemahaman antara doktrin dan kehidupan sehari-hari. iblis berusaha mengen dalikan pengajar di gereja untuk memberi perhatian lebih besar pada topik kasih daripada pengajaran. Betul sekali, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu

saling mengasihi” (Yoh.13:34-35). Tetapi tentu tidak boleh lupa perkataan Tuhan, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerde kakan kamu” (Yoh.8:31-32). Dan juga perintah Tuhan dalam Amanat Agung, “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat.28:20).

Tidak ada satu denominasi kekristenan pun yang berani mengabaikan kasih karena itu jelas-jelas perintah yang tertera di dalam Alkitab. Namun banyak yang salah menerapkannya, misalnya yang terang-terangan salah seperti yang diajarkan The Children of God. Namun banyak denominasi gereja salah menerapkan kasih jika lebih menekankan kasih di luar doktrin yang benar. Bahkan lebih salah lagi jika mementingkan kasih sambil mengabaikan doktrin. Kasih tanpa doktrin kekristenan yang alkitabiah sesungguhnya bukan lagi kasih kekristenan melainkan Buddhisme. Bahkan kelompok Buddha telah sedemikian mengekspos kasih hingga mendirikan stasiun TV yang bernama DAAI (kasih besar).

Ketika orang Kristen bingung antara memancarkan kasih (charity) atau doktrin keselamatan alkitabiah, maka kesuksesan iblis mulai terlihat. Orang Kristen dan organisasi Kristen mengumpulkan dana untuk menolong masyarakat miskin dunia ketiga (Negara Islam) dengan mematuhi tekanan pemerintah untuk hanya memberi bantuan tanpa berita Injil, maka iblis mulai tertawa. Iblis membisikan “terima sumbangannya, jangan percaya pada Tuhannya. Sambut makanan yang diberikan dan tutup telinga terhadap Injilnya.” Itulah yang terjadi di Afrika bahkan di Aceh dan di mana-mana.

Kasih yang benar, yang alkitabiah, memberi kebutuhan yang terutama bersamaan dengan kebutuhan lainnya. Kebutuhan utama ialah keselamatan jiwa, kesempatan berdamai dengan Allah. Doktrin alkitabiah adalah paket kasih yang tak terpisahkan, bahkan komposisi utama dalam seluruh paket kasih kekristenan.

Dalam perjalanan sejarah, gereja telah berkali-kali menyimpang. Bahkan di saat Rasul-rasul masih hidup, di Galatia telah berdiri gereja “Advent” yang menggabungkan kekristenan dengan Yudaisme. Oleh Kaisar Konstantin iblis juga telah berhasil menjadi kan kekristenan agama gabungan dengan memasukkan konsep penyembahan dewa matahari dan dewa-dewi Yunani. Hasilnya doktrin GEREJA ROMA yang AM memancarkan sinyal yang kacau selama seribu tahun lebih. Agustinus pendiri Gereja Roma yang Am mengajarkan bayi harus dibaptis untuk menghilangkan dosa asalnya. Dan ia menciptakan acara Perjamuan Kudus yang bermanfaat untuk keselamatan. Ini pengajaran yang sangat sesat yang di kemudian hari diadopsi oleh John Calvin. Baik Agustinus maupun John Calvin telah memancarkan sinyal yang menyesatkan.

Kelompok Kristen Nestorian yang berkembang di wilayah Jazirah Arabiah juga sangat sesat sehingga memberi sinyal yang salah. Kalau tidak, pasti Muhammad menga minkan ketritunggalan Allah. Dan seandainya Kristen Nestorian mengerti bahwa proses pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu 22:21, maka keluarga Muhammad pasti mengerti bahwa tidak ada wahyu tambahan yang turun pada abad ke-6, dan bahwa Alkitab adalah satu-satunya firman Allah. Kesalahan Nestorian yang percaya Allah yang satu pribadi kini diperbarui dan dipromosikan kelompok Saksi Jehova, dan keyakinan proses pewahyuan yang masih berjalan dikembang­ kan kelompokKharismatik.

Kini, di abad 21 muncul ribuan denomi­nasi dengan segala macam ragam penafsiran. Tentu fenomena ini akan sangat mempersulit manusia menemukan kebenaran, karena begitu banyak pengajaran yang harus disortir. Namun sesungguhnya apapun keadaannya, manusia yang ingin masuk Sorga tetap bertanggung jawab untuk menilai mana yang benar untuk diyakininya. Seperti seorang kapten yang sedang berada di tengah lautan kehidupan, menyadari bahwa iblis mendirikan begitu banyak mercusuar palsu, itu sama sekali tidak berarti ia lepas tanggung jawab untuk menyandarkan kapalnya di pelabuhan dengan selamat. Memang fenomena itu akan sangat menyulitkannya sehingga ia harus mengerahkan segenap konsentrasinya untuk mendeteksi mercusuar yang benar dari yang palsu. Dan apa jadinya jika ia putus asa dan dengan sembarangan menabrakkan kapal kehidupannya? Celaka! Hati-hati, saya sama sekali tidak memaksudkan seseorang selamat oleh usaha dirinya atau kepintaran dirinya menjalankan kapal kehidupannya. Anugerah keselamatan sepenuhnya dari Allah, manusia tidak berjasa sedikitpun melainkan hanya menerima saja. Namun sekalipun hanya menerima, jika iblis juga berlagak sebagai, Allah dan menawarkan anugerah keselamatan semu, maka orang yang akan selamat adalah yang menerima anugerah keselamatan asli dari Allah yang asli.

Banyak orang Kristen, bahkan penyampai Firman dan Gembala Jemaat yang bingung serta putus asa, berkata bahwa kita tidak mau berbicara tentang doktrin. Gereja kami tidak mau bicara tentang doktrin. Aneh bukan? Apakah artinya yang dibicarakan gerejanya adalah dongeng nenek tua?

Apa yang membedakan satu agama dengan yang lain? Doktrin! Apa yang membedakan satu denominasi dengan yang lain? Doktrin! Dan apa yang membedakan satu gereja dengan yang lain? DOKTRIN! Seorang Gembala atau Pengkhotbah harus mempelajari doktrin dan harus membanding­kan berbagai doktrin dan menghakimi dengan Alkitab serta memutuskan yang menurutnya paling benar, dan memancarkannya. Gereja atau jemaat adalah tiang penopang dan dasar kebenaran, adalah pemancar sinyal kebenaran (mercusuar) ke sekelilingnya. Dunia menga­mati sinyal-sinyal yang dipancarkan gereja. Bayangkan, kalau gereja menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan kepadanya, dengan tidak peduli hal doktrinal sehingga bertindak sembarangan. Ia tidak mau bahkan tidak tertarik hal doktrinal, namun tetap terus memancarkan sinyal. Sudah pasti sinyalnya Kristen akan menyesatkan banyak orang. Renung­kanlah!

CALVINISME: SINYAL YANG MENYESATKAN

Filed under: CALVINISME — dedewijaya at 1:43 am on Thursday, July 30, 2009

Terlalu banyak hal negatif mengenai Calvinisme yang bisa ditulis sehingga mustahil bisa dilakukan dalam sebuah artikel singkat dalam buletin ini. Namun agar pembaca bisa mengerti sedikit alasan Lawrence M. Vance, Ph.D mengatakan bahwa Calvinisme adalah wabah terdahsyat yang menimpa kekristenan, maka kita hanya akan membahas beberapa kesalahan utama Calvinisme, dan sisanya anda dipersilakan melihat di SINI dan berbagai situs lain.

John Calvin mengajarkan bahwa Allah dalam SATU dekrit telah menetapkan segala sesuatu tanpa kecuali. Tanpa perlu memiliki kemampuan berpikir yang terlalu canggihseseorang sudah dapat menyimpulkan berarti termasuk menetapkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, menetapkan seorang gadis diperkosa lima orang, menetapkan kakek atau ayah seseorang tidak masuk sorga. Allah juga telah menetapkan seseorang ditipu, menetapkan seseorang bangkrut, menetapkan kerusuhan 14 Mei 1998, serta menetapkan toko atau rumah seseorang dibakar. Inilah inti dari ajaranPREDESTINASI dari Calvinisme.

Bahkan John Calvin membuat pernyataan:

“Again, I ask: whence does it happen that Adam’s fall irremediably involved so many peoples, together with their infants offspring, in eternal death unless because it so pleased God? Here their tongues, otherwise to loquacious, must become mute. The decree is dreadful indeed, I confess. Yet no one can deny that God foreknew what end man was to have before he created him, and consequently foreknow because he do ordained by his decree. [John Calvin, Institutes of the Christian Religion. Ed. by John T. Mcneil. Trans. by Ford Lewis Battles (Philadelphia: The westminster Press, 1960), p.995 (III.xxi.5).]

(Terjemahan bebas) Lagi, saya bertanya: darimana itu terjadi bahwa kejatuhan Adam yang tak dapat diperbaiki melibatkan begitu banyak orang, bersama bayiketurunan mereka dalam binasa kekal kecuali karena itu sangat dikenan Allah? Di sini lidah mereka yang suka berbicara harus tak berbunyi… Dekrit itu memang mengerikan, saya mengakuinya. Namun tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa Allah tahu dulu akhir seseorang sebelum Ia menciptakannya, dan secara konsekuen tahu dulu karena Ia yang menetapkannya dengan dekritNya.

Jelas kita tidak menyangkal bahwa Allah maha tahu sehingga Ia tahu dari kekal hinggakekal. Namun sama sekali tidak adakebenarannya bahwa Allah tahu karena Allahtelah menetapkannya. Kita percaya bahwaAllah tahu ada banyak kejahatan akan terjadidan Allah tahu bahwa Adam dan Hawa akan jatuh ke dalam dosa, tetapi bukan Allah yang menetapkan mereka berdosa dan berbagaikejahatan yang terjadi. Semua kejahatanterjadi karena ketetapan Allah menciptakanmanusia yang bisa berpikir, sadar diri, danberkehendak bebas. John Calvin memfitnah Allah dengan menyatakan bahwa Allahsenang Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Seharusnya Allah sangat tidak senang bahkan Allah tidak senang manusia jatuh ke dalam dosa. Allah bahkan benci kepada kecongkakan (Amos 6:8).

Karena konsep Calvinis percaya bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu termasuk menetapkan niat jahat dan segala perbuatan jahat, maka muncul penolakan akal sehat dari manusia yang bisa berpikir. Sehingga kita sering mendengar orang berkata, “jika ada Allah, mengapa ada banyak kejahatan?” Pertanyaan ini timbul sebagai akibat Calvinisme, sebab jika Allah mengontrol segala sesuatu, dan manusia tidak berpikir, dan tidak berkehendak bebas, sementara kejahatan sedemikian pekat, maka tinggal dua kemungkinan yaitu tidak ada Allah, atau adaAllah, tetapiAllah yang jahat.

Akhirnya, daripada percaya ada Allah yang jahat, yang menetapkan berbagai kejahatan, lebih tidak seram dan lebih masuk akal untuk percaya tidak ada Allah sama sekali. Inilah sebabnya mengapa Calvinisme menjadi faktor yang menghancurkan kekristenan di Eropa, dan kini sedang menghancurkan kekristenan di Amerika. Calvinisme telah menyemai benih atheisme bahkan lebih buruk lagi menyemai benih kebencian kepada Allah. Ternyata Allahnya Calvinis sakit jiwa karena sebelum Iamenciptakan manusia Ia telah berketetapan manusia itu jatuh ke dalam dosa dan kemudian Ia menetapkan untuk menyelamatkan sebagian mereka demi kesenangannya dan membiarkan sebagian binasa tanpa sebab.

Predestinasinya John Calvin mengajarkan bahwa Allah telah menetapkan sejumlah orang masuk Sorga dan sejumlah yang lain ke Neraka secara unconditional (tanpa sebab). Secara akal sehat bisa ditarik kesimpulan bahwa jumlah orang Papua yang akan masuk Sorga sudah fixed, tidak akan bertambah atau berkurang lagi. Ketetapan ini dilakukan di dalam kekekalan sebelum ada orang Papua bahkan sebelum penciptaanAdam.

Dari pengajaran demikian bisakah kita simpulkan bahwa segala usaha dan kerajinan untuk memberitakan Injil di tanah Papua adalah usaha sia-sia? Para Calvinis berseru Tidak! Kan kita tidak tahu siapa yang dipilihdan siapa yang tidak! Baik, sekalipun kita tidak tahu siapa dipilih dan siapa yang tidak, kalau kita tidak beritakan Injil, apakah itu akan mengurangi orang Papua masuk Sorga? Kalau jawabannya ‘tidak’ berhubung telah ditetapkan dalam kekekalan, lalu bukankah usaha pemberitaan Injil itu pekerjaan tambahan yang sesungguhnya tidak perlu?

Kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia yang diberi akal budi, kesadaran diri dan kehendak bebas. Untuk apa? Allah ingin disembah oleh makhluk yang bisa membuat keputusan dari dirinya. Tidak ada orang yang ingin dipuji robot, tetapi mau dipuji manusia yang bisa memilih menentang atau memuji.

Akhirnya manusia jatuh ke dalam dosa, yaitu memutuskan sesuatu yang jahat terhadap Allah. Karena manusia berdosa maka harus ada penghukuman atas dosa. Dan hukumannya telah Allah umumkan yaitu mati. Itulah sebabnya manusia harus mati dan terpisah dari Allah. Namun Allah berjanji untuk mengirim Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan manusia. Adam dan Hawa yang berdosa harus mengaku salah dan menyesali kesalahan mereka dan percaya kepada Juruselamat yang akan datang untuk menggantikan mereka dihukumkan.

Setiap orang di zaman PL yang mau masuk Sorga harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang akan datang. Dan setiap orang PB yang mau masuk Sorga harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang sudah datang. Itulah sebabnya pada zaman PL berita tentang Juruselamat yang akan datang sangat penting, demikian juga berita tentang Juruselamat yang sudah datang dan dihukumkan penting bagi manusia zaman PB.

Pengajaran Calvinisme adalah sinyal yang salah yang menyesatkan manusia, dan menghancurkan gereja. Saksi Jehovah,Mormon, dan semua bidat ditahan di luar gereja, namun Calvinisme dibawa masuk.Itulah sebabnya Lawrence Vance berkatabahwa Calvinisme adalah wabah terhadap kekristenan. Dengan College dan Seminary Reformed, serta gereja Reformed, Calvinisme ini disebarkan ke seluruh dunia.

Lalu pendukung Calvinisme berkata bahwa saya memfitnah mereka. Benarkah ?Bukankah yang saya kutip adalah pernyataan John Calvin sendiri bahwa Allah menetapkan segala sesuatu dalam satu dekrit dan Allahmenetapkan bahkan senang dengan kejatuhan Adam? Mengapa anda tidak enak ketika pernyataan Calvin diekspos dan ditarik konsekuensi logisnya jika itu benar? Bukan­kah anda seharusnya bangga atas pernyataanCalvin bahwa Allah senang Adam jatuh ke dalam dosa? Ada juga yang berseru, anda tidak mengerti Calvinisme, anda salah mengerti Calvinisme! Kalau begitu, benar sekali kata Dave Hunt bahwa Calvinisme, adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti karena sangat kontradiktif, dan sangat ber­tentangan dengan akal sehat. Ia hanya bisa diyakini secara membabi buta. Dan saya tidak rela menjadi babi yang buta karena saya manusia yang berakal budi. Apakah anda juga manusia yang berakal budi, berkesadaran diri, dan berkehendak bebas? Renungkanlah!***