DENGAN TULISAN MEWARNAI DUNIA DAN MENGUBAH DUNIA

Fundamental, Baptist, Independent, Dispensasi, Premilenium-Pretribulasi

SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT? (Bag 3-Ending)

Filed under: DOKTRIN KESELAMATAN — dedewijaya at 5:08 am on Saturday, August 29, 2009

8. Perikop-Perikop Lain Dijelaskan

Jadi, bagaimana dengan semua ayat-ayat yang katanya mengajarkan bahwa seseorang yang telah diselamatkan tidak dapat meninggalkan iman? Rupanya, setelah penyelidikan yang mendalam, saya dapatkan bahwa tidak ada ayat yang menyatakan bahwa seorang yang sudah selamat tidak dapat meninggalkan imannya. Ayat-ayat yang biasanya dipakai untuk mengajarkan hal ini hanya dapat dipakai demikian jika dibaca dengan asumsi dan pemikiran theologis tertentu. Nah, berikut ini beberapa ayat yang disalahgunakan:

• “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Yohanes 10:27-29.

Ayat ini sama sekali tidak menyulitkan posisi saya, bahkan adalah perikop yang begitu menguatkan saya. Karena ayat seperti inilah saya dapat memiliki kepastian keselamatan. Saya ada dalam tangan Yesus, dan juga dalam tangan Bapa, dan tidak ada seorangpun, atau suatu kuasapun yang dapat merebut saya keluar.

Amin!!

Namun, perhatikan, bahwa ayat ini sama sekali tidak berkata bahwa kalau saya sendiri mau keluar, maka saya tidak bisa. Argumen yang sering diajukan adalah seperti ini: “Akankah Allah membiarkan seorang yang telah diselamatkan untuk keluar? Jika anda memiliki seorang anak yang anda kasihi, akankah anda melepaskan dia dari genggaman tangan anda?” Argumen seperti ini kedengarannya indah dan menggugah perasaan, tetapi sama sekali tidak memiliki dasar Alkitab. Firman Tuhan di bagian lain membuat sangat jelas bahwa saya dapat meninggalkan iman jika saya memilih untuk melakukannya, seperti dalam 1 Timotius 4:1. Allah tidak pernah memaksa seseorangpun untuk menerima Dia, dan Allah juga tidak memaksa seseorangpun untuk tetap beriman.

Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, yang berarti manusia dapat benar-benar memilih Allah atau memilih untuk tidak taat. Karena Allah jugalah yang menciptakan manusia dengan kehendak bebas itu, Ia akan konsisten pada rencanaNya untuk membiarkan manusia membuat keputusan. Tentunya ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang, tetapi pada akhirnya, keputusan yang ia ambil adalah keputusan atas kehendak bebasnya. Demikian juga dalam hal keselamatan. Allah tidak melanggar kehendak bebas yang Ia berikan pada manusia, dan tidak memaksa siapapun untuk diselamatkan.

Kalau demikian, Allah juga tidak akan menghilangkan kehendak bebas manusia setelah dia diselamatkan, dan memaksa dia untuk tetap percaya pada Kristus.

Lalu bagaimana dengan kasih Kristus? Bagaimana mungkin Allah, yang mengasihi orang percaya, membiarkan mereka meninggalkan iman? Sekali lagi, ini argumen yang emosional, dan bukan Alkitabiah.

Dalam Alkitab, kasih Allah adalah kasih yang tidak memaksa siapapun. Kasih tidak dapat dipaksakan. Yohanes 3:16, misalnya, mendeklarasikan bahwa Allah mengasihi seluruh dunia, sedemikan kasihNya, sehingga Ia mengirim Kristus untuk mati bagi dunia. Namun, faktanya adalah sebagian besar dunia, yang toh dikasihi Allah itu, akan binasa selama-lamanya, karena mereka menolak kasih Allah itu dan tidak mau percaya. Kalau demikian adanya, mengapa sulit bagi kita untuk melihat bahwa walaupun Allah mengasihi kita sedemikian rupa sebagai orang percaya, tetapi jika kita tidak beriman lagi pada AnakNya, maka kita akan binasa?

Perhatikan juga, dalam perikop ini, siapakah yang aman di tangan Yesus? Adalah domba-dombaNya. Siapa yang tidak dapat direbut? Domba-domba. Kepada siapakah Yesus sedang berikan hidup yang kekal? Domba-domba. Siapa domba? Apa kriteria domba? Menurut Yoh. 10:26, domba adalah mereka yang percaya! Jadi, yang aman dalam tangan Yesus, adalah yang merupakan domba, yaitu mereka yang percaya!

Mereka yang tidak percaya, bukan domba, dan janji keamanan ini tentu bukan untuk mereka. Mungkin argumen lain yang terkadang muncul adalah: mengapakah ada orang yang sudah sungguh selamat mau meninggalkan iman lagi? Sejujurnya, saya juga tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ada orang yang sudah selamat ada yang mau meninggalkan iman. Namun, saya tidak boleh membiarkan perasaan saya untuk mendikte doktrin saya, karena Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kemurtadan akan terjadi, dan orang akan meninggalkan iman. Dalam hal ini saya juga teringat, bahwa Adam dan Hawa, saat di taman Eden, waktu itu belum memiliki sifat dosa, tetapi toh dapat juga memilih perkataan Iblis daripada perkataan Tuhan.

• “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang” Roma 8:35-39

Ayat ini juga merupakan ayat yang sangat menghibur saya. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, dan saya katakan Amin!! Tetapi, kita tidak dapat membangun doktrin hanya berdasarkan sebagian ayat-ayat Alkitab, kita harus melihat keseluruhan kesaksian Firman Tuhan.

Ayat-ayat lain dengan jelas menunjukkan bahwa keselamatan kita miliki dengan syarat iman/percaya, dan juga mengajarkan kemungkinan kita meninggalkan iman itu. Dan sambil saya mempelajari ayat ini, saya dapatkan bahwa yang disebut hanyalah kekuatan di luar diri saya sendiri, dan tidak ada dari mereka yang dapat menghalangi saya dari kasih Kristus. Tidak ada satu bagian pun dari ayat ini yang mengatakan bahwa saya tidak dapat menolak kasih itu. Kasih yang tidak dapat ditolak itu seperti konsep kacau tentang Kasih Karunia yang Tak Dapat diTolak (Irresistible Grace) milik Kalvinis. Jadi, tidak ada apapun, tidak orang, tidak benda, tidak kuasa manapun, yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, tetapi saya harus tetap menerima kasih itu melalui iman. Hal ini sesuai dengan pengajaran Yudas 1:21: “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, tetapi kita harus tinggal dalam kasih itu, melalui iman kepadaNya.

• “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1:5

Sungguh mengejutkan bahwa ada orang yang berani memakai ayat ini untuk mendukung posisi “sekali selamat tetap selamat” (SSTS). Kita dipelihara dalam kekuatan Allah! Amin! Saya tidak akan komplain apa-apa tentang ayat ini. Jika saya harus memelihara diri saya sendiri, saya tidak akan selamat bahkan untuk satu detik. Tetapi, itu tidak berarti saya tidak punya tanggung jawab. Tanggung jawab saya adalah untuk percaya pada Kristus, atau dengan kata lain, beriman. Ayat ini toh mengajarkan hal itu juga, “dipelihara…karena imanmu.” Jadi, iman adalah syarat yang Allah berikan. Yang memelihara tetap Allah, dengan memakai kekuatanNya. Tidak bisa itu dilakukan dengan kekuatan Allah. Tetapi, Allah mengatakan bahwa saya harus percaya, barulah Ia mau memelihara saya.

• “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30.

Ayat ini sama sekali tidak mendukung doktrin “berbuat apapun tidak akan terhilang” jika kita sudah memiliki konsep yang Alkitabiah tentang keselamatan yang bersyarat pada iman. Yang diajarkan oleh ayat ini adalah bahwa Roh Kudus adalah jaminan kita, bahwa sebagai orang percaya kita akan diselamatkan. Roh Kudus adalah “uang muka,” boleh dibilang, dari kemuliaan yang menanti kita. Roh Kudus adalah juga bukti dari iman kita (Ef. 1:13), dan kita menerima Roh Kudus saat kita percaya.

Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman. Tidak ada juga di ayat ini dikatakan bahwa Allah sendiri tidak dapat mencabut meterai itu, misalnya karena orang yang bersangkutan tidak memiliki iman, karena toh iman adalah syarat awal agar seseorang dimeteraikan.

Kita harus berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan analogi dalam Alkitab. Ayat ini mengajarkan bahwa kita dimeteraikan. Di tempat lain, Ia mengajarkan bahwa kita harus tetap memegang iman, kalau tidak kepercayaan awal kita menjadi sia-sia (1 Kor. 15:2). Jadi, kita tidak boleh membuat kesimpulan yang manusiawi dan salah bahwa: “sekali dimeteraikan, tetap dimeteraikan.” Hal itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi diasumsikan begitu saja. Sebuah meterai efektif untuk melawan otoritas dari luar yang berusaha masuk. Tidak boleh ada orang yang tidak berotoritas membuka meterai itu. Tetapi, dia yang pada awalnya menaruh meterai itu, maka secara alami ia memiliki hak untuk membuka meterai itu jika memang ada alas an untuk melakukannya.

Mempelajari Galatia pasal 3 sungguh adalah pengalaman yang membukakan mata rohani saya. Galatia adalah surat yang spesial berhubungan dengan topik yang sedang kita bahas ini. Orang-orang Galatia sedang dalam bahaya meninggalkan iman mereka yang mula-mula, dan mengikuti suatu Injil palsu (menambahkan sunat). Paulus menyadari bahayanya kesesatan seperti itu, dan dengan cepat menulis surat ini untuk memperingatkan mereka. Dalam Galatia pasal 5, ia memperingatkan mereka, bahwa jika mereka percaya pada sunat, maka Kristus sama sekali tidak berguna bagi mereka. Untuk memperkuat peringatan ini, ia katakan bahwa mereka akan lepas dari Kristus. Bagi pikiran yang belum terpengaruh oleh doktrin manapun, surat Galatia ini jelas mengajarkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam Kristus, dan sedang menerima berkat penebusan Kristus melalui iman, dapat lepas dari Kristus, dan kehilangan segala berkat dalam Kristus, jika ia meninggalkan iman sejatinya yang semula.

Tetapi, perhatikan apa yang diajarkan Galatia pasal 3 tentang Roh Kudus. Perhatikan penekanan pada kata “iman.” Dalam 6 pasal kitab Galatia, kata “iman” atau “beriman” muncul 23 kali. Dalam Galatia 3:14, ”oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Dalam Galatia 3:11, “orang yang benar akan hidup oleh iman.” Jelas sekali, bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita, oleh kasih karunia Allah, hanya jika kita memiliki iman. Lebih mengena lagi adalah pertanyaan ini oleh Paulus: “Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Gal. 3:2-4) Jadi, orang yang mulai dengan Roh, waktu mereka beriman dan percaya pada Injil yang benar. Kini, ada bahaya mereka percaya Injil yang palsu, dan jika demikian mereka akan mengakhirinya dalam daging. Jadi, apa kesimpulan pengajaran Alkitab tentang Roh Kudus? Bahwa Roh Kudus adalah meterai bagi kita dengan syarat iman. Hal ini konsisten dengan semua aspek pengajaran tentang keselamatan lainnya.

• “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:2.

Pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat menunjuk pada ayat ini dan berkata, “Yesuslah yang membawa iman kita pada kesempurnaan.” Jadi, menurut mereka, iman kita tidak tergantung pada diri kita sendiri, dan karenanya kita tidak bisa meninggalkan iman.

Pemikiran seperti ini sungguh salah. Jika kita menerapkan logika ini, maka sungguh berbahaya. Jika iman kita sungguh adalah urusan Yesus saja, dan tidak ada tanggung jawab kita, untuk apa dalam Alkitab ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita untuk beriman? Ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita tetap pada iman. Bukankah Yesus yang beriman untuk kita? Nah, disinilah terlihat kebodohan dari pemikiran seperti ini. Tidak ada orang lain yang dapat beriman untuk orang lain. Ayat ini mengajarkan doktrin bahwa Yesuslah yang memungkinkan adanya iman. Tanpa Yesus, manusia bahkan tidak dapat memilih antara percaya Yesus atau tidak. Tanpa Yesus, tidak ada objek yang dapat kita imani. Yesus pulalah yang memberikan kita kekuatan untuk terus beriman, dan memungkinkan iman kita bertumbuh. Jika kita memegang teguh iman kita, itu adalah karena Yesus! Tetapi tidak berarti kita tidak punya tanggung jawab untuk tinggal dalam iman. Juga tidak berarti kita tidak dapat memilih untuk keluar dari iman.

• “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6.

Ini adalah argumen favorit lainnya dari pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat yang sebenarnya gagal untuk berurusan dengan inti permasalahan. Keyakinan Paulus adalah bahwa Yesus akan menyelesaikan apa yang Ia mulai, dalam hal keselamatan. Tuhan Yesus telah memulai pekerjaan yang baik di antara orang Korintus. Tetapi apakah pekerjaan baik yang Yesus mulai itu dimulai dengan syarat tertentu? Ya, kesaksian Alkitab jelas, dan Filipi 1:5 juga membuatnya jelas, bahwa persekutuan orang Filipi dalam berita Injil adalah syarat pekerjaan baik yang telah mulai.

Nah, jika awal dari pekerjaan yang baik itu bersyarat (yaitu bahwa seseorang harus percaya untuk diselamatkan), maka tidak ada alasan untuk menolak bahwa penerusan keselamatan itu hingga pada hari Kristus Yesus juga bersyarat. Yang jelas, ayat ini tidak sedang berbicara masalah persyaratan. Ayat ini mengajarkan aspek bahwa Allah akan melakukan bagianNya. Janji Allah adalah: jika kamu percaya Kristus, kamu akan diselamatkan. Allah akan menepati janjiNya itu. Itulah yang diajarkan ayat ini, dan yang merupakan keyakinan Paulus. Allah tidak akan tiba-tiba berubah pikiran. Ia akan menyelamatkan mereka yang beriman. Ia akan meneruskan pekerjaan baik itu. Tetapi, tentunya, jika orang itu tidak beriman lagi, maka Allah sama sekali tidak terikat untuk menyelamatkan dia.

Yang penting untuk diingat adalah, bahwa ayat seperti ini dan yang lainnya, tidak menghilangkan ayat-ayat lain yang mengajarkan bahwa kita harus tinggal dalam iman untuk diselamatkan. Kita harus membangun doktrin kita atas semua ayat, bukan hanya sebagian ayat Alkitab.

9. Keyakinan akan Keselamatan

Pendukung SSTS secara rutin menuduh apa yang saya percayai (Jaminan Kekal Bersyarat) sebagai posisi yang tidak menawarkan keamanan (jaminan) dan tidak ada keyakinan akan selamat. Hal ini tidak benar. Tentunya, jaminan dan keyakinan saya berbeda dengan yang dimiliki SSTS. SSTS mendapatkan jaminan dan keyakinan dari doktrin mereka, yang telah kita lihat adalah tidak Alkitabiah. Jadi, mereka mendapatkan jaminan dari doktrin buatan manusia. Saya sudah sering mendengar mereka berkata, “Saya tahu saya pasti ke Surga, karena saya sudah diselamatkan umur sekian (10 tahun misalnya) dan sekali selamat, tetap selamat.”

Tetapi, ini adalah jaminan yang palsu. Dalam skenario terburuk, bisa saja orang itu suatu hari menyangkal Kristus dan menolakNya, sambil berpikir, “toh saya masih diselamatkan.”

Jaminan yang Alkitabiah adalah seperti yang ada dalam 1 Yohanes 5:13. Bagaimanakah seseorang dapat tahu bahwa ia memiliki hidup yang kekal? Apakah karena “sekali selamat tetap selamat”? Tidak!!

Jaminan yang Alkitabiah berkata, “kamu yang percaya [sedang percaya, present tense] kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Jadi, rahasia jaminan Alkitabiah adalah percaya (saat ini, present tense). Jika saya menguji diri sendiri, dan saya sekarang adalah seorang yang beriman (bukan bahwa dulu saya pernah beriman), maka saya memiliki hidup yang kekal. Pendukung SSTS mungkin tidak suka jaminan yang seperti ini, tetapi inilah jaminan dan keyakinan yang kita dapatkan dalam Alkitab.

Untuk membandingkan: SSTS memiliki jaminan yang didasarkan pada doktrin mereka “sekali selamat tetap selamat.” Saya, di lain sisi, memiliki jaminan karena posisi saya yang saat ini percaya dalam Kristus.

10. Argumen-Argumen Lain Melawan Jaminan Kekal Tak Bersyarat

A. Orang Kristen mula-mula, sebelum Agustinus yang sangat Kalvinistik, tidak percaya doktrin “jaminan kekal tak bersyarat.” Berikut ini ada beberapa kutipan dari Irenaeus, Cyprian, dan Tertullian:

Irenaeus (120-205 AD), Adv. Haer. 4,27,2 ,”Christ will not die again on behalf of those who now commit sin because death shall no more have dominion over Him…. Therefore we should not be puffed up…. But we should beware lest somehow, after [we have come to] the knowledge of Christ, if we do things displeasing to God, we obtain no further forgiveness of sins but rather be shut out from His kingdom” (Heb. 6:4-6).

“Kristus tidak akan mati lagi bagi merea yang sekarang melakukan dosa karena maut tidak akan lagi berkuasa atas Dia….oleh karena itu kita jangan sombong…..tetapi kita harus berjaga-jaga, agar jangan, setelah [kita memiliki] pengenalan akan Kristus, jika kita melakukan hal-hal yang mendukakan Allah, kita tidak mendapatkan pengampunan dosa, tetapi tertutup dari kerajaanNya.” (Ibrani 6:4-6)

Cyprian (200-258 AD), Unity of the Church, sec. 21 , “It is written, ‘He who endures to the end, the same shall be saved’ [Matt. 10:22]. So whatever precedes the end is only a step by which we ascend to the summit of salvation. It is not the final point wherein we have already gained the full result of the ascent.”

“Ada tertulis, ‘Ia yang bertahan sampai akhirnya, ia akan diselamatkan’ [Mat. 10:22]. Jadi, apapun yang terjadi sebelum akhirnya hanyalah satu jenjang yang kita naiki untuk mencapai puncak keselamatan. Itu bukanlah titik akhir di mana kita telah mendapatkan hasil penuh dari pendakian.”

Tertullian (140-230 AD), On Repentance ch. 6 , “Some people act as though God were under an obligation to bestow even on the unworthy His intended gift. They turn His liberality into slavery…. For do not many afterwards fall out of grace? Is not this gift taken away from many?”

“Ada orang yang bertindak seolah Allah wajib untuk memberikan KaruniaNya bahkan pada mereka yang tidak layak. Mereka mengubah kemurahanNya menjadi perbudakan…Karena bukankah banyak yang akhirnya jatuh dari kasih karunia? Bukankah anugerah ini diambil dari banyak orang?”

Hal ini mendukung teori bahwa doktrin SSTS berasal dari pengaruh Kalvinis.

B. Ada begitu banyak ayat yang mengajarkan bahwa orang percaya harus memiliki iman hingga pada akhirnya. Mereka yang bertahan hingga akhir akan diselamatkan.

“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 10:22, lihat juga Mar. 13:13.

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 24:13

“…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Wah. 2:10

C. Kemungkinan bahwa nama seseorang dapat dihapuskan dari buku kehidupan berarti orang itu dapat meninggalkan iman.

“Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan [dalam bahasa aslinya “buku kehidupan] dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wah. 22:19)

“Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” (Wah. 3:5).

“Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” (Kel. 32:32-33)

D. Yang mana yang lebih baik: Mengajarkan orang Kristen bahwa mereka harus memegang iman mereka dengan teguh (pengajaran yang Alkitabiah), atau mengajarkan orang Kristen bahwa tidak peduli apapun juga yang mereka lakukan, mereka akan masuk surga? Dalam hal ini, saya memperhatikan suatu dampak yang sudah dapat diperkirakan: gereja-gereja yang mengajarkan SSTS tidak menekankan pada anggota mereka untuk tetap beriman. Hal ini wajar, karena tidak ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal itu, karena mentalitasnya adalah “toh mereka tidak mungkin meninggalkan iman.” Tetapi, para Penulis Alkitab memiliki pandangan yang berbeda. Banyak sekali ayat yang menghimbau kita untuk bertahan dalam iman, untuk bertahan hingga akhirnya, memegang teguh iman, dsb. Paulus beberapa kali khawatir, bahwa jika orang-orang yang dia menangkan meninggalkan iman, maka segala jerih payahnya menjadi sia-sia. Mentalitas para Penulis Alkitab berbeda jauh dari pada pengajar SSTS.

E. Kita tidak percaya Irresistible Grace (Kasih Karunia yang Tidak Dapat Ditolak). Istilah Kasih Karunia berkontradiksi dengan istilah “tidak dapat ditolak.” Namun demikian, para pendukung SSTS, pada hakekatnya berkata, “Setelah seseorang diselamatkan, maka kasih karunia baginya menjadi tidak dapat ditolak.” Ini adalah suatu ketidak-konsistenan!

SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT? (Bag 2)

Filed under: DOKTRIN KESELAMATAN — dedewijaya at 5:06 am on Saturday, August 29, 2009

4. Semua Berkat yang Terkait dengan Keselamatan Adalah Milik Saya Karena Saya Ada Dalam Kristus Banyak pendukung “sekali selamat tetap selamat” (SSTS), menggunakan argumen-argumen yang bersifat emosional, yang sesungguhnya tidak lulus jika dicermati secara Alkitabiah. Mereka menggunakan argumen seperti: “Agar saya dapat kehilangan keselamatan saya, saya harus merebut jiwa saya sendiri dari tangan Allah, membongkar meterai Roh Kudus, menyangkal bahwa saya anak Allah, membatalkan kewargaan saya di surga, dan lain-lain.” Argumen seperti ini menunjukkan salah pengertian yang mendalam tentang gambaran yang sebenarnya di mata Allah.

Alkitab mengatakan bahwa semua berkat yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus! “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef. 1:3). Bacalah Efesus 1:1-14, dan penekanan perikop itu adalah tentang apa yang kita miliki “dalam Kristus,” termasuk semua berkat, pemilihan kita, status kita sebagai anak, penebusan, pengampunan dosa, dan meterai Roh Kudus. Kita memiliki semua ini bukan karena kehebatan kita sendiri ataupun karena kita layak, tetapi karena kita berhubungan dengan Kristus. Dengan kata lain, ketika Allah Bapa melihat kita, Ia melihat kita sebagai anak-anakNya, bukan karena sesuatu dalam diri kita sendiri, tetapi karena kita terhubung dengan Kristus. Baca Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Perhatikan kata “jika”!! Jika kamu milik Kristus, kamu memiliki semua janji Allah. Jadi, barangsiapa tidak ada di dalam Kristus, maka ia tidak memiilki janji-janji itu. Pertanyaannya ialah, bagaimanakah kita bisa berada dalam Kristus atau terhubung dengan Kristus? Jawabannya adalah dengan iman!!

Kristus disebut Adam kedua. Kita terhubung dengan Adam pertama melalui proses kelahiran, dan kita akan mati karena hubungan kita kepada Adam pertama itu. Kita dapat terhubung pada Adam Kedua, bukan melalui kelahiran, tetapi melalui iman (kelahiran kembali). Jadi, kondisi berada dalam Kristus, itu bergantung pada iman kita padaNya. Jika kita tidak memiliki iman, kita tidak ada dalam Kristus. Mereka yang beriman adalah mereka yang ada dalam Kristus. Efesus 3:17 sangat jelas, “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Alkitab penuh dengan referensi bahwa kita berada dalam Kristus, atau terhubung dengan Kristus, melalui iman.

Jadi, sungguh adalah kesalahpahaman jika ada yang berkata, “kamu tidak dapat terhilang lagi, karena kamu adalah anak Allah, kamu memiliki kewargaan surga, dll.” Argumen seperti ini seolah-olah menyatakan bahwa semua berkat tersebut adalah sesuatu yang melekat pada diri saya karena diri saya sendiri. Tetapi Alkitab berkata bahwa di luar Kristus, kita bukanlah apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh. 15:4-5). Jadi, jauh lebih Alkitabiah untuk melihat semua berkat tersebut bukan melekat pada diri orang itu, tetapi berkat-berkat tersebut datang karena ia ada “dalam Kristus.” Jadi, jika seseorang lepas dari Kristus (karena tidak beriman) maka hubungannya dengan Kristus akan hilang, dan demikian juga semua berkat keselamatan. Seseorang yang adalah warga surga, ia warga surga karena ia ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, ia bukan warga surga lagi. Seseorang yang dimeteraikan Roh Kudus, ia dimeteraikan karena ia percaya (beriman), dan ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, maka meterai tersebut dicabut dari dirinya. Dapatkah seorang yang sudah percaya lepas dari Kristus? Jawabannya, menurut Alkitab adalah YA yang lantang, lihat Galatia 5:1-6 (sudah dikutip di atas), dan juga Yohanes 15:4-9: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.”

Pertama-tama, perhatikan perintah untuk tinggal di dalam. Yesus mengatakan semua ini kepada orang yang sudah percaya. Mereka sudah “ada dalam Kristus,” barulah bisa ada perintah untuk “tinggal di dalam.” Jika orang percaya tidak mungkin tidak “tinggal,” maka tidak akan ada perintah untuk “tinggal.” Adanya suatu perintah, tentunya berarti bahwa ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu. Jika seorang tidak tinggal dalam Kristus (yaitu terus percaya padaNya), maka ia diperhadapkan pada penghakiman yang digambarkan dengan kata-kata “dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Ini adalah acuan pada hukuman kekal. Keith Piper mencoba untuk mengelak dengan berkata bahwa yang dikumpulkan untuk dibakar adalah perbuatan orang tersebut, bukan orangnya sendiri. Jadi, menurut Piper, yang terbakar adalah “perbuatannya,” bukan orangnya. Pemikiran seperti ini salah dalam minimal tiga hal. Pertama, konteks perikop ini bukan berbicara mengenai perbuatan seseorang, perikop ini berbicara mengenai ranting, yang diidentifikasi dalam perikop sebagai orang yang percaya pada Kristus. Jadi, bukan perbuatan yang disorot di sini, tetapi orangnya.

Kedua, ranting tersebut dikatakan “dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering.” Jelas, yang dibuang adalah ranting, dan bukan buah (perbuatan). Ranting menjadi kering karena tidak lagi ada dalam pokok yang benar, yaitu Kristus. Ketiga, jika apa yang dikatakan Piper benar, bahwa orang yang bersangkutan masih masuk surga maka lucu sekali akan ada orang yang “di luar Kristus,” tetapi masuk surga. Ide seperti itu sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

5. Janji-janji dalam Alkitab selalu bersyarat pada Iman

Masih berhubungan dengan argumen di poin sebelumnya, ingat bahwa semua yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus. Kita berada dalam Kristus karena kita percaya padaNya (beriman padaNya). Jadi, semua janji dalam Alkitab sebenarnya bersyarat pada percaya! Nah, percaya macam apa yang dimaksud?

Mayoritas janji-janji Allah yang tercatat dalam Alkitab, menggunakan kata kerja present tense ketika mengacu pada “percaya” yang mendatangkan hidup kekal. Beberapa contoh cukup:

• “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:15)

• “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

• “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh. 5:24)

• “Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (John 6:35)

• “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh. 6:40)

• “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yoh. 10:27-28)

Semua kata kerja yang dicetak tebal di atas adalah dalam bentuk present tense. Sebagaimana diketahui oleh semua murid Yunani, present tense berarti aksi yang terus menerus. Jadi, keselamatan itu bersyarat, bukan pada iman yang hanya sekali waktu, tetapi iman yang terus menerus pada Yesus.

6. Manusia Tidak Kehilangan Kehendak Bebas Ketika Ia Percaya

Doktrin SSTS pada dasarnya menghilangkan kehendak bebas dari manusia ketika ia menjadi percaya. Ironisnya, kehendak bebas ini hanya dihilangkan dalam hal keselamatan. Pendukung SSTS akan mengakui bahwa ada kehendak bebas dalam semua aspek kehidupan lainnya (seorang Kristen dapat mundur imannya, dapat melakukan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan), tetapi sama sekali tidak punya kehendak bebas dalam hal menolak iman yang pernah ia terima.

Pendukung SSTS mencoba untuk memaksakan bahwa orang yang percaya itu permanen percaya, dengan mengutip ayat-ayat seperti Yoh. 5:24,

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”

Nah, kata mereka, ayat ini memproklamirkan bahwa orang percaya “tidak turut dihukum.” Tetapi mereka lupa bahwa ayat ini memberikan janji tersebut kepada orang percaya. Sebagai perbandingan, mari kita lihat Yohanes 3:36: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Kalau kita bandingkan:

Yohanes 5:24 Yohanes 3:36

barangsiapa….percaya barangsiapa….tidak taat [tidak percaya]

tidak tidak

turut dihukum akan melihat hidup

Picirilli menyatakan: Secara grammatis, jika [pernyataan] yang pertama berarti bahwa keadaan orang percaya tidak dapat berubah, maka [pernyataan] kedua juga berarti bahwa keadaan orang yang tidak percaya juga tidak dapat diubah.

Sebenarnya, kedua perikop ini tidak sedang berbicara tentang itu [apakah keadaannya dapat diubah] … Setiap janji tersebut berlaku dengan kuasa yang sama pada mereka yang terus menetap pada keadaan yang digambarkan [percaya atau tidak percaya].

Hal yang sama dapat dikatakan tentang semua janji bahwa orang percaya “tidak akan binasa.” Saya kutip lagi satu pemikiran:

“Tidak ada yang berani mengatakan, bahwa karena orang yang tidak percaya dinyatakan tidak akan melihat hidup, maka ia secara permanen terikat tanpa pengharapan pada kondisi itu. Sebenarnya, adalah benar bahwa sebagai seorang yang tidak percaya, ia tidak akan melihat hidup, tetapi jika ia kemudian menjadi percaya, maka ia akan melihat hidup. Nah, kalau kata-kata “tidak akan melihat hidup” yang diterapkan pada orang yang tidak percaya, ternyata tidak dilanggar jika orang tidak percaya tadi menjadi percaya dan akhirnya melihat hidup, maka mana kontradiksinya jika seorang percaya dikatakan “tidak akan binasa,” tetapi jika ia menjadi tidak percaya, maka ia binasa? Faktanya, sebagai seorang percaya, selama ia tetap percaya, ia tidak akan binasa.”

Pada akhirnya:

• Jika seseorang dapat menerima atau menolak Kristus sebelum ia diselamatkan, mengapa, kapan, dan bagaimanakah ia kehilangan kehendak bebas itu? Jawaban Alkitabiah adalah bahwa ia tidak kehilangan kehendak bebas itu dan masih dapat meninggalkan iman.

• Jika keselamatan itu bersyarat pada awalnya (seseorang harus percaya Kristus), sejak kapan, mengapa, dan bagaimanakah sifat keselamatan itu tiba-tiba berubah menjadi tidak bersyarat kemudian? Jawaban Alkitabiah sekali lagi adalah bahwa keselamatan masih bersyarat pada iman.

7. Ada begitu banyak Firman Tuhan yang mendukung Kemungkinan Meninggalkan Iman

Perikop-perikop ini terbagi menjadi beberapa kategori:

A. Perikop yang dengan jelas mengacu pada kejadian meninggalkan iman

• 1 Tim. 4:1

• 1 Tim. 1:18-20

• 2 Tim. 2:16-18

B. Perikop yang memperingatkan bahaya murtad atau meninggalkan iman (yang berarti ada kemungkinannya)

• Ibr. 6:4-6

• Ibr. 10:19-39

• 2 Pet. 2:20-22

• Yoh. 15:1-9

• Ibr. 12:25

• 2 Tim. 2:11-13

• 2 Yoh 1:9

C. Perikop tentang keselamatan yang diperoleh atas syarat iman yang terus menerus

• Kolose 1:21-23

• 1 Kor. 15:1-4

• Ibr. 3:6, 14

• Ibr. 10:38

• Gal. 5:1-6

Ijinkan saya untuk memotong sebentar di sini untuk menunjukkan suatu poin kebenaran yang sangat penting.

Dalam sebuah dokumen, katakanlah sebuah kontrak, atau surat persetujuan antara dua pihak, maka jika suatu syarat dinyatakan dengan jelas di salah satu bagian kontrak atau persetujuan tadi, syarat itu berlaku dan mengikat, walaupun hanya satu kali dinyatakan!!

Di bawah ini saya berikan suatu contoh fiktif, yaitu sebuah surat imajiner dari seorang raja kepada rakyatnya:

Rakyatku yang ku kasihi, saya menulis untuk memberitahukan kalian suatu kabar baik. Untuk memperingati ulang tahunku yang kelima puluh, yang akan jatuh satu bulan dari sekarang, saya telah memutuskan untuk membagikan banyak hadiah dan berkat. Hadiah dan berkat ini adalah bagi semua yang turut memperingati ulang tahunku. Anda harus memakai pita yang akan saya bagikan dalam satu bulan ini.

Barangsiapa yang memakai pita, maka ia berhak atas semua hadiah dalam pesta ulang tahun saya. Apa saja hadiah yang saya sediakan? Bagi semua kalian yang berhutang uang pada negara, maka saya telah mempersiapkan uang pribadi saya untuk melunasi hutangmu. Ketahuilah bahwa dana saya tidak terbatas, dan saya dapat membayar hutang semua orang. Selain itu, orang yang ikut merayakan ulang tahun saya juga akan saya pekerjakan di pabrik saya. Saya ingin tegaskan, bahwa saya akan memberi gaji yang sangat bagus untuk pekerja pabrik saya. Lowongan pekerjaan tidak akan habis. Ingat, jangan takut akan semua hutangmu, karena saya akan bayarkan itu semua. Hadiah saya juga termasuk hak untuk menikmati taman saya yang indah setiap hari. Kalian juga boleh memanggil saya dengan panggilan khusus, yaitu Tuan yang Baik. Sungguh, kalian mendapatkan hadiah yang sedemikian hebat. Ingat, bahwa kalian harus memakai pitaku hingga akhirnya, jika tidak sia-sia saja kalian mendapat pita. Tetapi saya menulis kepada semua pemakai pitaku, bahwa kalian dapat tahu dengan pasti, bahwa hutang kalian semua telah dibayarkan untuk selama-lamanya.

Nah, ini hanyalah suatu surat imajiner yang pendek. Saya bukan ingin mengatakan bahwa surat ini persis sama menggambarkan keselamatan yang kita terima dari Allah, tetapi surat fiktif ini membuat sebuah poin. Walaupun janji sang Raja banyak sekali, dan sangat indah dalam dokumen ini, juga ada syarat (memakai dan terus memakai pita) yang dinyatakan dengan jelas. Jadi, tidak peduli ada berapa janji yang diberikan dan diulangi lagi setelah ini, syarat itu berlaku, walaupun syarat mungkin tidak disebut ulang bersama tiap janji.

Hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Alkitab adalah satu dokumen. Jika Allah dengan tegas menyatakan syarat keselamatan dalam minimal satu bagian Alkitab, maka syarat tersebut berlaku pada semua janji Alkitab mengenai keselamatan. Nyatanya, dalam Alkitab lebih indah lagi: Allah menyatakan syarat yang Ia tuntut untuk mendapatkan keselamatan yang Ia sediakan, bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berulang-ulang kali. Syarat yang dimaksud adalah iman, dan bukan iman yang hanya bertahan satu detik, satu hari, satu tahun, tetapi iman yang terus sampai akhirnya. Juga, sama sekali tidak masuk akal untuk berkata, “ya, sekali saya beriman, saya tidak bisa kehilangan iman itu.” Kalau demikian, mengapa Allah berulang kali memperingatkan orang percaya!! tentang tanggung jawab mereka untuk tetap tinggal dalam iman? Jika seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman, maka sama sekali tidak perlu untuk memperingatkan dia tentang hal itu. Mengapa perlu memperingatkan seorang anak untuk tidak melompat terlalu tinggi hingga sampai ke bulan? Wah, itu hal yang konyol, anda berkata, mungkin bahkan dalam kategori membohongi anak kecil. Ya, memang benar demikian. Karena tidak mungkin ia melompat sampai ke bulan. Allah juga tidak menipu orang percaya dengan cara memperingatkan kita tentang hal yang tidak mungkin terjadi. Allah tidak memberikan peringatan palsu.

D. Perikop yang memerintahkan kita untuk tinggal dalam Kristus atau memegang teguh iman kita (yang berarti ada kemungkinan tidak mentaati perintah ini)

• Yohanes 15:4-6

• Yudas 1:21

• Wahyu 2:10

• Matius. 10:22

• Ibrani 10:35

E. Perikop yang menyatakan kekhawatiran Paulus bahwa jerih payahnya akan sia-sia (karena bahaya bahwa mereka yang telah ia menangkan bagi Kristus meninggalkan iman)

• Filipi 2:15-16

• 1 Tesalonika 3:5

• Galatia 1:6; 4:9-11

Ada begitu banyak ayat yang jelas mengajarkan kemungkinan murtad, atau meninggalkan iman, atau menolak Kristus setelah pernah menerima Dia. Lalu mengapakah banyak orang menentang doktrin ini? Ya, sebenarnya karena mereka sudah diajarkan doktrin yang bertentangan. Mereka telah diajarkan berbagai ayat yang seolah-olah mendukung SSTS, dan SSTS sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga mereka menolak untuk melihat bukti yang begitu banyak menentang SSTS. Sama seperti seorang Kalvinis yang telah dicekoki dengan doktrin Limited Atonement (bahwa Yesus mati bukan untuk semua manusia).

Ketika kita menunjukkan pada mereka ayat-ayat yang mengajarkan bahwa “Yesus mati untuk semua manusia,” apa respons mereka biasanya? Mereka akan berkata, “Semua tidak berarti semua.”

Pendukung SSTS mempertunjukkan pola yang sama. Ketika kita menunjukkan kepada mereka ayat yang berkata, “murtad,” mereka berkata, “ya, murtad tidak berarti murtad….tapi mereka belum pernah percaya.” “Lepas dari Kristus” itu bukan artinya mereka belum pernah percaya Kristus. Jadi, mereka mendefinisikan ulang kata “murtad,” dan pengertian “lepas dari Kristus,” bertentangan dengan aturan bahasa yang berlaku. Cara menafsir seperti ini tidak jujur terhadap fakta Alkitab, dan datang dari pikiran yang mati-matian membela kepercayaan yang sudah dipegang. Apakah yang akan anda pertahankan? Saya lebih suka mempertahankan kebenaran, walaupun itu berarti mengubah kepercayaan saya.

SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT? (Bag 1)

Filed under: DOKTRIN KESELAMATAN — dedewijaya at 5:03 am on Saturday, August 29, 2009

Mengenai Apakah Seseorang Yg Sudah Diselamatkan

Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang

Dr. Steven E. Liauw

Ini adalah sebuah topik yang diperdebatkan dengan sengit dalam kalangan orang Kristen. Maka tidak mengherankan bahwa masing-masing pandangan memiliki pendukung setia, dan diskusi biasanya berlangsung dengan semangat dan berapi-api. Namun demikian, kita harus selalu mengingat bahwa yang kita cari adalah kebenaran, bukan sekedar suatu cara untuk mempertahankan pendapat atau doktrin kita.

Seharusnya kita sebagai orang percaya selalu menjadi hamba kebenaran, sebagaimana Paulus katakan: “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2 Kor. 13:8). Jika anda hanya mencari cara untuk membenarkan apa yang anda selama ini percayai, atau apa yang diajarkan pada anda, maka mata anda tidak akan pernah terbuka. Saya sendiri pernah diajar dan pernah percaya bahwa “sekali diselamatkan, kamu tidak bisa meninggalkan iman.” Saya berusaha untuk mempertahankan ajaran ini mati-matian, sampai akhirnya saya tidak dapat lagi menutup mata pada banyaknya bukti Alkitab bahwa hal tersebut tidak benar. Nah, berikut ini adalah rangkuman dari penyelidikan saya mengenai topik ini, dari Alkitab.

Pertama-tama, marilah kita memperhatikan beberapa hal mendasar mengenai keselamatan. Saya akan paparkan ini dalam bentuk poin-poin, dan setiap poin akan membangun di atas poin sebelumnya, sehingga kebenaran tentang hal ini dipaparkan bukan saja secara Alkitabiah, tetapi juga sistematis.

1. Keselamatan adalah karena Kasih Karunia Allah, dan didapatkan melalui Iman

Pertama-tama, saya berasumsi bahwa anda bukanlah seorang Hiper-Kalvinis. Seorang Hiper-Kalvinis meyakini bahwa manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab dalam hal keselamatannya. Hiper- Kalvinis (walaupun banyak yang mengajarkan Hiper-Kalvinisme, jarang ada yang mau mengaku sebagai Hiper-Kalvinis) percaya bahwa Allah menyelamatkan manusia dengan cara memaksa kehendak manusia

tersebut (manusia tidak punya kehendak bebas), dengan Irresistible Grace (Kasih Karunia yang tak dapat ditolak). Jadi, pada intinya, menurut mereka sebagian manusia dibuat menjadi percaya oleh Allah karena mereka orang pilihan, sedangkan yang lainnya tidak dapat percaya karena mereka non-pilihan.

Puji syukur pada Tuhan, mayoritas pembaca Alkitab yang masih waras, dapat melihat bahwa Allah menuntut tanggung jawab manusia untuk bertobat dan percaya pada Yesus Kristus sebagai syarat mendapatkan keselamatan yang telah Kristus sediakan karena kasih karuniaNya. Oleh sebab itulah, Efesus 2:8-9 menyatakan dua hal sebagai komponen kunci dalam keselamatan, yaitu kasih karunia dan iman. Kasih karunia adalah komponen dari pihak Allah, dan iman adalah komponen dari manusia. Agar seseorang diselamatkan, Allah harus memberikan kasih karuniaNya (yang sudah Ia lakukan), dan orang tersebut harus percaya atau dengan kata lain beriman. Ingat bahwa iman bukanlah “membantu Allah” dalam proses keselamatan, tetapi adalah menerima kasih karunia Allah.

2. Iman adalah syarat keselamatan, bukan perbuatan

Kepala penjara Filipi bertanya, “apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Paulus menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.” Ini tidak berarti bahwa kita diselamatkan karena perbuatan atau pekerjaan. Seseorang harus percaya (beriman) untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan (termasuk di dalamnya pendamaian dari dosa, pembenaran, kelahiran kembali, dan seluruh paket keselamatan) disediakan untuk semua umat manusia oleh Kristus (1 Yohanes 2:2), tetapi hanya diterapkan kepada mereka yang percaya (Yoh. 3:16).

Jadi, mengatakan bahwa “engkau harus percaya (beriman) untuk dapat diselamatkan,” bukanlah Keselamatan-karena-usaha. Hal ini jelas terlihat dari Roma 4:2-9. Karena iman Abraham, Allah memperhitungkannya sebagai orang benar, dan iman ini tidak sama dengan “perbuatan.” Harus diperjelas di sini, bahwa iman adalah syarat keselamatan bukan dasar keselamatan. Iman tidak membuat kita layak masuk surga, tetapi adalah syarat yang Allah sendiri tentukan untuk mendapatkan keselamatan yang berdasar pada kasih karuniaNya dan pekerjaan Yesus Kristus yang telah selesai di kayu salib.

3. Karena Iman adalah Syarat untuk mendapatkan Keselamatan, maka Iman juga adalah Syarat untuk Tetap dalam Keselamatan

Pertanyaannya berpusat di poin ini. Alkitab cukup jelas, bahwa ada syarat untuk mendapatkan keselamatan – iman! Nah, kalau begitu, adakah syarat untuk tetap di dalam keselamatan ini? Jika kita menyelidiki Alkitab, maka jawabannya jelas: ada, yaitu – iman!

Beberapa ayat Firman Tuhan yang mengajarkan hal ini dengan sangat jelas:

• “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” (1 Kor. 15:2)

• “tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.” (Ibrani 3:6)

• “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (Ibrani 3:14)

• “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

• “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” (Kol. 1:22-23)

Sungguh mengherankan bagi saya bahwa ada orang-orang yang berani berkata bahwa tidak ada syarat untuk mendapatkan janji-janji keselamatan Allah dan berkat-berkat dalam keselamatan! Alkitab sangat jelas. Kata “jika” dan “asal” tidak terlalu sulit dimengerti. Toh mereka hanya terdiri dari empat huruf, dan kata-kata itu mengindikasinya adanya suatu syarat!! 1 Korintus 15:2 berkata, “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” Bagian mana dari ayat ini yang sulit untuk dimengerti?

Paulus mengajarkan bahwa orang Kristen harus tetap percaya pada Injil yang telah ia beritakan, agar keselamatan yang telah mereka terima tetap diterapkan pada mereka. Jika mereka tidak percaya lagi, maka kepercayaan mereka yang pertama akan sia-sia. Pengajaran ini sedemikian jelas, sehingga orang yang hendak menolaknya harus melakukan akrobatik penafsiran sedemikian rupa untuk memutarbalikkan artinya.

Alkitab mengajarkan hal ini dengan begitu jelas, saya sering rindu semua doktrin diajarkan sejelas ini dalam Alkitab. Jadi, iman bukan hanya syarat untuk mendapatkan keselamatan, tetapi juga adalah syarat untuk tetap dalam keselamatan, dan menerima fase akhir dari keselamatan kita: kemuliaan di Surga bersama Kristus!

Nah, orang-orang yang percaya “sekali selamat tetap selamat” (SSTS, tanpa peduli orang itu beriman atau tidak), mereka akan mengatakan bahwa apa yang percaya adalah “keselamatan karena usaha manusia.”

Tetapi hal ini tidak benar. Syarat keselamatan adalah iman, bukan usaha!! Dan Alkitab membedakan antara keduanya. Ada orang yang mengajarkan bahwa kalau anda jatuh dalam dosa, maka keselamatanmu hilang.

Pengajaran ini juga bertentangan dengan Alkitab! Satu-satunya cara kehilangan keselamatan adalah dengan meninggalkan iman yang telah menyelamatkanmu! Semua dosamu telah diperdamaikan oleh Yesus! Jadi, tidak ada dosa yang dapat membuat kita terhilang lagi. Tetapi, Allah menuntut iman agar pendamaian ini diterapkan pada setiap individu. Iman adalah syaratnya. Jika kita melangkah keluar dari iman, maka hak kepada hidup yang kekal dibatalkan, sebagaimana diajarkan dengan jelas dari perikop berikut:

• “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.

Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” (Gal. 5:1-5)

• “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

• “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibrani 6:4-6)

• “yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” (2 Tim. 2:18)

• “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Petrus 2:20-22)

Jadi, penyelidikan yang jujur dan terbuka atas Firman Tuhan, menempatkan iman sebagai syarat mendapatkan dan terus di dalam keselamatan, dan hal ini membuka kemungkinan bagi mereka yang sudah selamat (sudah memiliki iman) untuk meninggalkan iman (dan terhilang).

Pendukung SSTS suka menunjuk pada ayat-ayat yang mengandung janji-janji yang indah dari Allah, dan mengatakan bahwa pada ayat-ayat ini tidak tercantum adanya syarat. Sebenarnya, harus dimengerti bahwa Alkitab itu adalah satu kitab. Allah tidak perlu mengulangi hal yang sama dalam setiap ayat. Jika sudah jelas tercantum dalam ayat-ayat yang kita bahas di atas, bahwa tinggal dalam iman (tetap percaya Yesus) adalah syarat untuk keselamatan, maka Allah tidak perlu mengulangi syarat ini setiap kali Ia memberikan sebuah janji. Sekali syarat itu sudah dinyatakan dengan jelas di minimal satu perikop (dan dalam Alkitab terdapat banyak), maka syarat itu tentunya berlaku pada semua perikop dalam Alkitab. (Bersambung)

RAHASIA ILAHI DARI KEKAL HINGGA KEKAL

Filed under: DOKTRIN ALKITAB, FUNDAMENTAL — dedewijaya at 2:57 am on Thursday, August 27, 2009

PENJELASAN RAHASIA ILLAHI

Kata rasul Paulus, “…bagaimana rahasiaNya dinyatakan kepadaku…Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus…untuk memberitakan ….dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, … supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Ef.3:3, 8-11).

Rasul Paulus menyebut pengajarannya sebagai rahasia yang sebelumnya tersembunyi berabad-abad. Itulah sebabnya saya menyebut rangkaian penjelasan ini Rahasia Illahi Dari Kekal Hingga Kekal. Ini adalah sebuah kesimpulan yang

ditarik berdasarkan ayat-ayat Alkitab dan akal sehat (common-sense). Otak kita adalah ciptaan Tuhan, dan Alkitab adalah firman Tuhan. Agama yang paling masuk akal (make-sense) adalah yang paling benar, dan kekristenan yang paling

alkitabiah seharusnya paling masuk akal demikian sebaliknya. Selidikilah, kalau ada masalah, silakan hubungi GITS. Urutan penjelasannya diberi nomor agar sistematis dan rapi serta gampang dimengerti.

[1] Pertama adalah garis zaman. Kita melihat perjalanan waktu/zaman seperti menarik sebuah garis lurus.

[2] Penciptaan. Allah menciptakan alam semesta. Bersama alam semesta Ia menciptakan dua makhluk yang berkepribadian, diberi kemampuan berpikir, serta kehendak bebas, yaitu malaikat dan manusia. Allah tidak ingin disembah oleh

robot melainkan oleh pribadi yang berkehendak bebas. Mereka bisa memilih mentaati atau menentangNya. Jika dari hati mereka yang bebas timbul pilihan mentaati Allah, itulah kenikmatan bagi Sang Pencipta. Kemudian Allah menempatkan pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik-jahat di taman Eden sebagai simbol alternatif bagi mereka. Jika mereka mau bersikap positif terhadap Allah, mereka bisa mengekspresikan dengan memakan buah pohon kehidupan.

Namun jika mereka memilih bersikap negatif terhadap Allah mereka akan mengekspresikan dengan memakan buah pohon pengetahuan baik-jahat. Kehendak bebas yang diberikan kepada malaikat dan manusia adalah ketetapan Allah dan tidak bisa diubah karena Allah tidak bisa menyangkal diriNya (II Tim.2:13). Sebagai pribadi, bukan robot tentu memiliki resiko. Dan sekalipun ada resiko kita tetap lebih senang menjadi pribadi daripada diciptakan sebagai robot.

[3] Dalam hati sejumlah malaikat timbul niat jahat terhadap Allah, dan mereka ingin menghancurkan Allah. Tentu mereka akan dihukum dan sebelum penghukuman dijatuhkan, untuk membedakan mereka dari malaikat yang masih setia mereka diberi sebutan baru yaitu iblis. Mereka tahu ada makhluk lain yang berakal budi yang bisa dihasut untuk memihak mereka. Hawa dihasut sehingga lebih percaya pada perkataan iblis daripada perkataan Allah, sehingga memakan buah pengetahuan baik-jahat, sehingga timbul niat jahat di hatinya. Inilah momen kejatuhan manusia ke dalam dosa. Mereka lebih percaya iblis daripada Allah.

[4] Manusia berdosa tidak bisa masuk Sorga, karena Sorga adalah tempat yang maha kudus. Manusia berdosa tidak bisa menghampiri Allah karena Allah adalah pribadi yang maha kudus. Karena manusia lebih percaya perkataan iblis maka ia akan dihukumkan bersama-sama dengan iblis. Hukumannya ialah mati sebagaimana kata Allah bahwa jika mereka makan buah pengetahuan baik & jahat, maka mereka akan mati.

[5] Jika manusia ingin masuk Sorga maka dosa manusia harus diselesaikan.

[6] Dosa tidak dapat diselesaikan dengan amal, ibdadah atau usaha manusia. Kalau usaha manusia bisa menyelesaikan dosa, maka itu berarti manusia akan masuk Sorga oleh jasanya. Usaha manusia tidak mungkin menyelesaikan dosa manusia. Hampir semua agama mengajarkan cara penyelesaian dosa yang intinya adalah usaha manusia.

[7] Alkitab mengajarkan bahwa dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman. Rom.6:23 “upah dosa ialah maut”. Inilah inti perbedaan antara kekristenan dengan semua agama di muka bumi. Hampir semua agama mengajarkan cara penyelesaian dosa yang intinya adalah usaha manusia. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa dosa diselesaikan dengan penghukuman.

[8] Karena Allah mengasihi manusia, dan dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman, berarti manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya. Allah berjanji akan mengirim Juruselamat, yang lahir dari perempuan yang akan sanggup menghancurkan kepala ular ( pernyataan simbolik mengalahkan iblis).

[9] Karena dosa hanya selesai jika dihukumkan, maka direncanakan kedatangan Sang Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan manusia yg telah jatuh ke dalam dosa.

[10] Sang Juruselamat akan dihukumkan menanggung dosa manusia (Adam), dan Adam harus bertobat, menyesali sikapnya yang lebih percaya pada iblis, dan untuk diselamatkan Adam harus percaya janji Allah. Kalau Adam mau dosanya dihitung dihukumkan pada Sang Juruselamat yang AKAN DATANG, maka ia harus percaya kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG ITU.

[11] Sebagai tanda (simbol) bahwa Adam percaya, maka ia harus membangun sebuah mezbah dan menyembeli seekor binatang yang mensimbolkan Sang Juruselamat di mezbah itu. Habel melakukan tepat seperti pengajaran ayahnya (Adam) tetapi Kain membangkang dengan tidak memakai binatang (domba) melainkan memakai hasil tanaman. Jelas hasil tanaman tidak bias menggambarkan Sang Juruselamat.

[12] Ayah berfungsi sebagai imam, dan juga sebagai Tiang Penopang & Dasar Kebenaran (TPDK) bagi keluarganya. Zaman dari kejatuhan hingga Taurat diturunkan adalah zaman keimamatan ayah, atau zaman famili altar. Ketika semakin banyak ayah yang jahat sehingga tidak mengingatkan anak mereka pada janji Allah maka pada zaman Nuh manusia menjadi jahat sehingga dimusnahkan.

Untung Nuh masih ingat akan janji Allah sehingga sekeluarnya ia dari bahtera, hal pertama yang dilakukannya ialah membangun mezbah dan mempersembahkan korban binatang (domba). Tetapi sampai zaman Nimrod manusia jahat lagi karena mereka melupakan janji Allah. Akhirnya Allah memutuskan mendirikan sebuah bangsa yang akan bertugas menjaga ibadah simbolik yang akan mengingatkan manusia pada janjinya. Abraham dipilih, dan melaluinya muncullah bangsa Yahudi. Dan mereka dipersiapkan melalui menjadi budak selama 400 th di Mesir.

[13] Mereka dibawa keluar setelah dibunuh seekor anak domba yang darahnya dipoleskan di kusen pintu. Akhirnya mereka sampai di gunung Sinai. Di situlah mereka diresmikan sebagai sebuah bangsa yang bertugas menjaga ibadah simbolik yang sifatnya mengingatkan manusia akan janji Allah. Taurat diturunkan sebagai Undang-Undang Dasar, dan kemah ibadah simbolik didirikan. Keimamatan ayah dihentikan dan digantikan oleh keimamatan Harun. Fungsi ayah sebagai TPDK digantikan oleh bangsa Israel. Zaman famili altar berakhir.

[14] Zaman keimamatan Harun, dan zaman bangsa Israel sebagai TPDK berlangsung sampai Yohanes tampil (Luk.16:16, Mat.11:13).

[15] Ibadah simbolik di zaman keimamatan Harun dibuat lebih komplit dan lebih rapi. Bangsa Israel bertanggung jawab menyerukan kepada bangsa lain tentang janji Allah untuk mengirim Juruselamat bagi manusia. Bangsa Israel bertanggung jawab menuntun semua bangsa menantikan Sang Juruselamat.

[16] Harun dan keturunnya sebagai imam dan bangsa Israel secara keseluruhan sebagai Tiang Penopang & Dasar Kebenaran (TPDK).

[17] Kemudian Yohanes datang dan menunjuk Sang Juruselamat (Yoh.1:29). Dialah orang yang memperkenalkan Sang Juruselamat yang dijanjikan Allah sejak Adam & Hawa. Anak Domba Allah yang akan menghapus dosa isi dunia.

[18] Penyaliban Kristus itu adalah penghukuman atas dosa seisi dunia yang telah disimbolkan dengan penyembelihan domba (I Pet.1:18-19, I Yoh.2:2, Ibr.2:9).

[19] Setiap manusia (dari Adam hingga manusia terakhir) yang bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat, seluruh dosanya akan dihitung Allah telah terhukumkan pada diri Sang Juruselamat.

[20]&[21] Orang Perjanjian Lama (misalnya Adam) akan selamat melalui bertobat dan beriman kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG. Sedangkan yang di Perjanjian Baru (misalnya anda) akan selamat melalui bertobat dan beriman kepada Juruselamat YANG SUDAH DATANG. Bertobat artinya mengaku diri berdosa dan telah menyesali dosa. Percaya bahwa diri anda yang seharusnya dihukumkan tetapi Sang Juruselamat TELAH dihukumkan menggantikan anda.

[22] Orang percaya PL tidak bisa langsung masuk Sorga karena penebusan mereka di masa depan, mereka harus menunggu kedatangan Sang Juruselamat. Orang percaya PB yang meninggal akan langsung masuk Sorga karena penebusan telah terjadi di masa lalu. Orang PB hanya perlu bertobat dan mengaminkan bahwa Sang Juruselamat telah dihukumkan menggantikannya, dan ia kini hidup menggantikannya (hidup bagiNya).Hanya orang yang setuju Yesus mati baginya, dan ia hidup bagi Yesus, pasti akan masuk Sorga. Setuju Yesus mati baginya namun tidak setuju hidup bagi Yesus itu tidak fair. Orang yang setuju hidup bagi Yesus tentu masih bisa jatuh ke dalam dosa, namun tidak hidup di dalam dosa.

[23] & [24] Hukum Taurat digenapkan bukan dibatalkan dan seluruh paket ibadah simbolik yang terkandung dalam hukum Taurat selesai tugasnya.

[25] & [26] Paket ibadah simbolik seperti nama Jehova, hari Sabat, makanan yang diharamkan, penyakit kusta yang mensimbolkan kutukan, rituil ibadah di Bait Allah, semuanya telah selesai tugasnya. Itulah sebabnya di PB tidak dipakai nama Jehova, dan tidak perlu menghormati Allah melalui menghormati suatu hari tertentu (Sabat). Dan tidak ada makanan yang haram

lagi (Mrk.7:19).

[27] Ibadah jasmaniah, rituil, dan simbolik selesai tugasnya karena yang disimbolkan telah tiba (Anak domba Allah). Selanjutnya manusia disuruh beribadah secara hakekat, rohaniah, dan kebenaran (Ibr.10:1, Yoh.4:23).

Tidak ada keterikatan pada postur tubuh, waktu maupun tempat. Tidak diperlukan tempat ibadah karena kita beribadah dengan hati sehingga itu terjadi kapan saja (setiap saat), dan dimana saja. Kita memasuki zaman ibadah hakekat sampai hari pengangkatan [28] & [29]. Kita harus meninggalkan ibadah simbolik PL [30], dan masuk ke dalam zaman ibadah hakekat [31],

yaitu ibadah yang dilakukan dengan hati bukan dengan badan, dan kesucian yang dituntut adalah kesucian hati bukan badan [32] & [33].

[34] Keimamatan Harun dihentikan dan kini setiap orang percaya adalah imam, bahkan imamatan yang rajani (I Pet.2:9). Tidak boleh ada jabatan iman atau praktik keimamatan. Tidak boleh memberkati orang atau diberkati orang.

Zaman famili altar sudah selesai [35]. Tidak boleh ada yang angkat tangan di akhir kebaktian untuk memberkati orang, karena itu adalah praktik keimamatan. Dan yang benar adalah peneguhan nikah bukan pemberkatan nikah.

Jemaat lokal berfungsi sebagai TPDK menggantikan posisi Israel [36].

[37] Mulai hari pengangkatan sampai Tuhan datang mendirikan kerajaanNya adalah hari kesusahan Yakub yang akan berlangsung 7 tahun. Sesudahnya Tuhan akan datang beserta malaikat dan orang-orang yang sudah terangkat untuk mendirikan Kerajaan 1000 tahun. Di akhir masa kerajaan 1000 tahun penduduknya dan orang-orang yang tidak percaya akan diadili. Setiap orang percaya akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, dan akan bersama Tuhan selamanya (Yoh.14:1-3).

Demikianlah penjelasan ringkas Rahasia Ilahi dari kekal hingga kekal yang didasarkan pada ayat-ayat Allkitab. Tuhan kiranya memberkati dan menuntun anda kepada kebenaranNya yang sejati. Tentu jika anda lapar dan haus akan kebenaran (Mat.5:6).

10 HAL YANG MEMBUAT TUKUL ARWANA SUKSES

Filed under: MOTIVATION — dedewijaya at 3:53 am on Saturday, August 15, 2009

 

Tukul Arwana - Siapa sih yang ga kenal dia? yaps, sosok pelawak yang karirnya melambung tinggi ibarat “Superman” lewat acara Talk Show EMPAT MATA lalu acara ini berubah menjadi BUKAN EMPAT MATA ini sepintas memang terlihat biasa-biasa saja.. Namun jangan salah dulu, sesuai dengan guyonan dia “Casingnya boleh kurang bagus, tapi dalamnya bagus donk”., Ya,gue setuju banget dengan dia. Terbukti, dia sudah berhasil menghasilkan milyar-an rupiah dari lawakan-lawakan dia yang segar tersebut. Ada beberapa sikap positif yang bisa kita tiru dari pribadi seorang Tukul Arwana ini.

1. Menghargai Orang Lain
Seseorang yang sudah sukses cenderung berperilaku sombong, kurang menghargai orang lain, dan maunya dihormati. Tukul tidaklah demikian. Ia memiliki prinsip positive thinking, tidak pernah merendahkan orang lain atau pun mengecilkan orang lain. Sebaliknya ia lebih suka membesarkan (hati) orang lain dan menghormati orang lain. Menurut Tukul, kesombongan itu akan menjadi bumerang bagi diri sendiri dan akan merugikan diri sendiri.

2. Bekerja Keras
Rahasia sukses Tukul yang lain adalah ia mau bekerja keras dalam menjalankan setiap pekerjaannya. Ia juga sangat menjunjung tinggi kejujuran. Seperti diungkapkan oleh Alex, Tukul adalah salah seorang perantau yang rajin dan sangat menjunjung tinggi kerja keras dan kejujuran. Terbukti, selama tiga tahun menjadi sopir pribadinya, Alex tidak sedikit pun pernah dikecewakan, Tukul juga sangat disiplin dan menghargai waktu. Ia selalu berusaha tepat waktu dalam menjalankan setiap pekerjaannya. Hal ini telah diakui oleh para mitra kerjanya. Tujuannya tidak lain agar mitra kerja Tukul selalu puas dan mau menggunakan jasanya lagi.

3. Belajar Dan Terus Belajar
Tukul merasa bahwa dirinya bukanlah berasal dari kalangan serba cukup dan bukan dari keluarga yang mempunyai banyak fasilitas maka ia merasa harus terus belajar. Semangat belajar Tukul sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat tatkala ia bekerja sebagai sopir pribadi Alex Sukamto. Mantan majikannya ini sempat heran dengan kemauan belajar Tukul yang sangat tinggi.

Seperti pernah diceritakan Alex bahwa setiap gajian, Tukul selalu menyisakan uang untuk beli buku. Alex tidak menyangka bahwa seorang sopir seperti Tukul ternyata mempunyai hobi membaca buku. Lebih mengherankan lagi, buku-buku yang dibacanya adalah tentang psikologi, politik dan lain-lain., Tukul mengakui bahwa dirinya memang tidak pintar. Ia biasa-biasa saja, tetapi ia senang membaca bacaan apa saja. Ia juga senang mengobrol bertukar pikiran. Dari kegiatan membaca atau mengobrol inilah ia bisa mendapatkan ilmu dan kemudian dijadikannya bekal untuk masa depan., Di tengah kesibukannya yang cukup padat, ia selalu berusaha menyempatkan diri untuk membaca. Ia sadar bahwa bacaan akan membuatnya tidak terbelakang. Ilmu yang semakin bertambah diyakini akan semakin menambah kemampuan dirinya sehingga ia mampu menjadi seorang penghibur sejati.

4. Hidup Itu Harus Ber-proses
Mas Tukul yakin betul bahwa hidup itu merupakan sebuah proses. Tidak ada ceritanya hidup langsung sukses, langsung kaya, atau langsung ngetop tanpa melalui sebuah proses. Mas Tukul sangat memegang prinsip bahwa yang terpenting dalam hidup adalah proses. Dan ia telah membuktikannya dengan menjalani sebuah proses yang cukup panjang, berliku dan tidak sedikit ia harus menghadapi tantangan yang begitu berat., Berjuang dengan butiran kristal keringat tentu berbeda dengan mereka yang meraih kesuksesan dengan cara instan. Mas Tukul sudah sangat kenyang diremehkan, dicaci dan dicibir. Namun, semuanya ia lalui, ia jalani tanpa menyimpan dendam. Ia jalan dari kampung ke kampung, dari panggung ke panggung yang lain dengan penuh keyakinan suatu saat bisa meraih kesuksesan. Ternyata, sukses itu akhirnya datang juga.

5. Tidak Memilih-milih Pekerjaan
Tawaran pentas tidak pernah dipilih-pilih. Di mana pun dan kapan pun tawaran itu ada maka akan dijalaninya dengan penuh rasa tanggung jawab dan sikap profesional. Barangkali dari sikap inilah banyak tawaran justru mengalir dan membawa rezeki., Sementara di kalangan artis, tindakan selektif dalam memilih tawaran job sudah biasa. Bila dipertimbangkan untung ruginya tidak seimbang maka tawaran tersebut akan ditolak. Hal ini tidak pernah dialami Tukul.

6. Ikhlas Dan Serius Mengerjakan Segala Hal
Tukul tidak pernah merasa gengsi atau rendah diri mengerjakan pekerjaan apa pun. Mulai menjadi sopir omprengan, sopir pribadi, kerja di tukang pembuatan pompa, menjadi model figuran, menjadi pembawa acara dan lain-lain. Semuanya dikerjakan dengan tingkat keseriusan tinggi., Teguh, salah seorang yang biasa mengatur jadwal kegiatan Tukul, pernah mengatakan, “Bisa dibilang Mas Tukul paling semangat kalau dengar ada kerjaan. Apa saja pasti dia kerjakan.

7. Sukses adalah “Kristalisasi Keringat”
Sering melihat penampilan tukul di TV..? kalau begitu anda pasti sering mendengar kalimat ini bukan? dan dia membuktikannya. . salut…

8. Percaya Diri
Tidak perlu di ragukan lagi tingkat kepercayaan diri dari sosok Tukul ini. Percaya diri disertai ambisi dan target membuat Tukul bisa mendapat tempat tersendiri di kalangan selebritas indonesia .

9. Menerima Kekurangan Dan Memaksimalkan Kelebihan
Ini yang saya suka dari mas tukul ini.. dia tidak melihat kekurangannya sebagai batu sandungan, namun dia melihatnya sebagai pendongkrak untuk memaksimalkan kelebihan.

10. Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda
Tukul sudah mengalami beberapa kali kegagalan dalam hidupnya. Namun hal itu tidak membuat nya jera ataupun putus asa. Semangat dan kreatifitasnya memang boleh diacungi dua jempol.. sukses selalu..

IBSC TV Presenter

Sumber: Email Milis

Berita Mingguan 15 Agustus 2009

Filed under: News — dedewijaya at 9:33 pm on Friday, August 14, 2009

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

 

DISIPLIN GEREJA: SEBUAH PRAKTEK YANG SEDANG HILANG

Disiplin gereja adalah praktek yang sedang hilang di kebanyakan denominasi. “Para ahli,” memperkirakan bahwa hanya 10-15% dari gereja-gereja “Protestan Injili” di Amerika mempraktekkan disiplin (”Banned from Church,” Wall Street Journal, 18 Jan. 2008), tetapi saya curiga bahwa angka inipun sudah tergolong tinggi. Dalam sebuah laporan tentang disiplin gereja tahun lalu, Wall Street Journal mengklaim bahwa ada “suatu gerakan yang berkembang” untuk mengembalikan disiplin gereja, tetapi kami tidak melihat ada bukti untuk hal ini. Laporan tersebut menyebutkan First Baptist Church dari Muscle Shoals, Alabama (Southern Baptist), yang mengeluarkan lima hingga tujuh anggota dalam setahun karena “pola-pola yang jelas dan tak terbantahkan akan dosa-dosa yang disengaja,” tetapi kejadian seperti ini adalah pengecualian yang jarang terjadi. Dean Register, mantan presiden dari Mississippi Baptist Convention, mengatakan: “Sangatlah tidak lazim bagi gereja-gereja Southern Baptist untuk mengambil tindakan pendisiplinan terhadap seorang individu” (The Sun Herald, Biloxi, Mississippi, 13 Sept. 1998). Tidak dapat diragukan bahwa pengamatan tersebut akurat pada waktu itu, dan kita tidak memiliki bukti bahwa keadaan telah berubah. Di seluruh negeri, ada orang-orang tanpa moral yang tidak pernah bertobat dan juga penyesat-penyesat yang masih terdaftar sebagai anggota gereja-gereja Southern Baptist. Tokoh-tokoh Southern Baptist yang terkenal, seperti Billy Graham (yang menyangkal bahwa api neraka itu literal dan yang telah menyerahkan banyak sekali petobat-petobat di KKR-KKRnya kepada serigala-serigala rohani) dan Bill Clinton (seorang pezinah serial) tidak didisiplinkan. Lebih dari satu juta Freemasons, orang-orang yang satu kuk dengan organisasi penyembah berhala yang bertentangan dengan 2 Korintus 6, adalah anggota dari jemaat-jemaat Southern Baptist. Dalam pengalaman saya, banyak gereja-gereja Baptis Independen mempraktekkan disiplin, tetapi banyak juga yang tidak. Saya tidak tahu persentasenya, tetapi saya tahu bahwa Firman Allah mengharuskan gereja menjalankan disiplin terhadap anggota yang berdosa atau mengajarkan kesesatan (1 Korintus 5; Titus 3).

 

IMAM MUSLIM MENGATAKAN BAHWA TUJUAN MEREKA ADALAH MENJAJAH SELURUH DUNIA SECARA ISLAM

Hafiz Mohammad Saeed, seorang imam Muslim di Pakistan, mengatakan pada bulan Februari tahun ini, “Kami membenci deomkrasi. Kami mau Islam menjajah seluruh dunia. Islam tidak memperbolehkan demokrasi atau pemilihan umum” (”Couble Standards in Pakistan’s Anti-terror Campaign,” Hinduonnet.com, 5 Agustus 2009). Saeed menyebut para pemimpin Pakistan sebagai “agen-agen Yahudi.” Seorang imam Muslim lainnya yang berbasis di Pakistan, Maulana Mohammad, setuju dengan Saeed, dan mengatakan bahwa “tidak ada ruang bagi demokrasi dalam Islam.”


SANHEDRIN YAHUDI MENYERUKAN PEMBANGUNAN KEMBALI BAIT YERUSALEM

Sanhedrin Yahudi, yang dibentuk kembali pada tahun 2004 setelah kekosongan selama 1600 tahun, sedang menyerukan pembangunan kembali bait Yerusalem sebagi jalan menuju perdamaian dunia dan keharmonisan agama. “Karena perasaan tanggung jawab kolektif terhadap perdamaian dunia dan semua umat manusia, kami merasa waktunya tepat untuk menyerukan kepada Dunia dan memberitahu bahwa ada jalan keluar bagi semua orang. Hal ini terpatri dalam sebuah panggilan kepada semua umat manusia: Kita semua adalah anak-anak dari satu ayah, keturunan Adam, dan semua umat manusia adalah satu keluarga. Damai di antara bangsa-bangsa akan tercapai melalui pembangunan rumah Allah, dan di sana semua oarang akan melayani sebagaimana dinubuatkan oleh Raja Salomo dalam doa-doanya saat pembukaan Bait Suci yang pertama….. Ia tentunya tidak menginginkan darah ciptaanNya tercurah, tetapi lebih menginginkan kasih dan damai di antara semua manusia” (”Sanhedrin Rabbis Meet with Adnan Oktar, 1 Juli 2009, thesanhedrin. org). Momen pengeluaran pernyataan ini adalah pertemuan Sanhedrin dengan penulis Muslim yang berpengaruh, Adnan Oktar, yang juga dikenal sebagai Harun Yahya. Oktar, yang juga ingin melihat bait Yahudi itu dibangun kembali, mengatakan bahwa bait itu bisa dibangun kembali dalam hanya satu tahun. Sepetinya hal itulah yang akan terjadi. Setelah itu bait tersebut akan dinajiskan oleh berhala-berhala Antikristus, dan Kesusahan Besar akan bergulir. Tanpa diragukan lagi, Antikristus akan membawa kegembiraan yang besar saat ia memulai program damainya, tetapi semua itu adalah delusi: “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin mereka pasti tidak akan luput” (1 Tes. 5:3).

 

APAKAH JAMINAN KESELAMATAN BERARTI PEMBUNUH MASAL YANG “PERCAYA” DISELAMATKAN?

Dalam blog-blognya, George Sodini, seorang pembunuh massal, mengklaim bahwa dia diajarkan di gereja: “kamu bisa saja melakukan pembunuhan massal dan tetap masuk surga” (”LA Fitness shooter once attended Plum’s Tetelestai church,” Tarentum Valley News Dispatch, Pittsburgh, 6 Agus 2009). Pada tanggal 4 Agustus, Sodini menembaki para wanita di sebuat pusat fitness, membunuh tiga orang dan melukai sembilan lainnya, sebelum menembak dirinya sendiri. Ia mengklaim ikut kebaktian di Tetelestai Christian Chruch di Pittsburgh selama 13 tahun. Gembala sidang senior dari gereja ini, Alan Rick Knapp, ditahbiskan oleh R.B. Thieme, Jr., gembala sidang yang sudah pensiun dari Berachah Church di Houston, Texas. Thieme mengajarkan banyak doktrin yang aneh dan sesat, termasuk bahwa orang percaya tidak dapat mengerti Alkitab dari diri mereka sendiri dan bahwa adalah menghabiskan waktu untuk belajar Alkitab tanpa seorang guru. Thieme tidak dengan benar menekankan bahwa keselamatan yang sejati adalah peristiwa yang mengubah hidup dan bahwa mereka yang tidak memberikan bukti Alkitabiah akan hal itu berarti bukan orang percaya yang sejati. Salah satu doktrin Thieme adalah “Rebound” (bangkit lagi). Seorang mantan anggota jemaatnya menjelaskan, “Rebound, pada intinya, adalah suatu ide yang sama sekali salah. ‘Rebound dan terus maju,’ memberikan alasan bagi ribuan anggota Berachah untuk bertindak secara bebas dalam perselingkuhan, menghujat nama Tuhan, dan dosa-dosa lain. Akui semua itu di pagi hari, kembali lagi ke perkumpulan, dan terus maju….” (”Interesting Former Thiemite Testimony, 23 Juli 2008, http://thiemite. blogspot. com). Saya telah membaca khotbah Thieme tentang “Rebound,” dan berbeda dengan rasul Paulus, Thieme tidak pernah mengatakan kepada orang-orang yang mengaku pecaya itu tetapi yang hidup dalam dosa bahwa mereka perlu mengecek diri sendiri, “apakah kamu tetap tegak di dalam iman” (2 Kor. 13:5). Jack Richard, seorang diaken di gereja Tetelestai, memberitahu pers bahwa Sodini ada di Surga, karena “mengaku beriman dalam Yesus sebagai Juruselamat berarti kamu akan memiliki keselamatan kekal yang penuh” (”Once Saved, Always Saved,” Valley News Dispatch, 8 Agus. 2009). Richard salah. Walaupun Alkitab mengajarkan bahwa orang percaya sejati dalam Kristus memiliki hidup yang kekal, Alkitab juga sering memperingatkan bahwa banyak yang mengakui Kristus tidaklah sungguh-sungguh diselamatkan. Ada perbedaan yang serius antara pengakuan dengan kepemilikan. “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik” (Tit. 1:16). Ayat ini adalah tulisan nisan yang cocok untuk George Sodini, yang blog-blognya penuh dengan caci maki, kekotoran moral, amarah yang pahit, dan kebencian yang membunuh.

Editor:

Ada dua ekstrim yang harus dijauhi:

1.      Mengajarkan bahwa manusia tidak bisa memiliki jaminan keselamatan. Padahal Alkitab jelas-jelas menjamin keselamatan mereka yang percaya (1 Yoh. 5:13; Roma 5:9).

2.      Memberi jaminan keselamatan terlalu cepat atau tanpa pengertian. Banyak orang yang ketika seolah-olah berdoa bertobat, langsung digaransi “pasti masuk surga.” Sebaliknya, kita harus mengatakan, sebagaimana Alkitab, bahwa “kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:13). Dengan demikian, apakah dia memiliki hidup yang kekal atau tidak, tergantung apakah dia sungguh percaya atau tidak. Seorang pemberita Injil juga perlu menyampaikan bahwa iman percaya yang sungguh akan membawa perubahan hidup. Selain itu, Paulus juga memperingatkan agar seseorang tidak meninggalkan iman percaya tersebut. “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:2)

INDONESIA MENGGUGAT JILID II? (Bag 2)

Filed under: KWIK KIAN GIE — dedewijaya at 9:56 pm on Thursday, August 13, 2009

Siapa Kaum Neolib?

Orang-orang yang menganut faham bahwa campur tangan pemerintah haruslah sekecil mungkin adalah kaum neolib; mereka tidak bisa mengelak terhadap campur tangannya pemerintah, sehingga tidak bisa lagi mempertahankan liberalisme mutlak dan total, tetapi toh harus militan mengkerdilkan pemerintah untuk kepentingan korporatokrasi. Jadi walaupun yang liberal mutlak, yang total, yang laissez fair laissez aller dan laissez fair laissez passer, yang cut throat competition dan yang survival of the fittest mutlak sudah tidak bisa dipertahankan lagi, kaum neolib masih bisa membiarkan kekayaan alam negara kita dihisap habis oleh para majikannya yang kaum korporatokrat dengan dukungan Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF.

Boediono perlu melakukan soul searching yang mendalam

Meledaknya debat tentang neolib tidak dapat dipisahkan dari persepsi yang dimiliki sangat banyak orang bahwa Boediono adalah personifikasi dari aliran neolib di Indonesia. Bahkan beliaulah yang dewasa ini dianggap sebagai pemimpin kaum neolib Indonesia, yang dianggap sama dan sebangun dengan kelompok yang terkenal dengan sebutan “The Barkeley Mafia”.

Tidak hanya itu, banyak yang mempunyai dugaan dan perasaan bahwa dipilihnya Boediono sebagai calon wakil presiden adalah hasil desakan dari “kekuatan dari luar”. Istilah ini yang dipakai oleh Boediono sendiri dalam pidatonya, yang merasa selayaknya menggugat penjajahan yang masih ada dalam abad ke 21 ini, baik yang dari luar maupun yang dari dalam.

Dugaan ini bertambah besar setelah Boediono menyatakan kepada The Jakarta Post tanggal 25 Mei 2009 bahwa penerimaannya sebagai calon wakil presiden adalah karena adanya arus besar yang tidak mampu ditolaknya (Boediono said his nomination was a “big stream” he could not resist”).

Karena itu, untuk kepentingan seluruh bangsa yang bagian terbesarnya sedang sangat menderita kemiskinan, kebodohan, kurang sehat jasmani dan rohaninya, keterbelakangan, apakah betul bahwa dirinya didorong oleh kekuatan asing untuk menerima pencalonannya sebagai wakil presiden?

Untuk kepentingannya sendiri juga, rasanya sangat perlu beliau memberikan penjelasan yang sejujurnya dan masif kepada rakyat yang akan melakukan pilihannya pada tanggal 8 Juli 2009.

Apakah dalam karirnya yang panjang dalam kedudukan yang tinggi di birokrasi, Boediono ikut berperan dalam segala sesuatu yang tergambarkan dalam tulisan ini?

Boediono berkarir dalam kedudukan sangat tinggi dalam kepemimpinan negara, yaitu berturut-turut sebagai Direktur Bank Indonesia, Menteri/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Gubernur BI, dan sekarang Calon Wakil Presiden RI untuk periode 2009-2014.

Banyak yang menilai bahwa Boediono ikut berperan cukup besar dalam segala sesuatu yang digambarkan dalam tulisan ini. Maka rasanya beliau perlu menjelaskannya kepada rakyat, karena posisinya sebagai calon wakil presiden dengan kemungkinan sangat besar akan terpilih.

Bagaimana gambaran penjajahan dan siapa para pelakunya?

Dengan jelas dikatakan dalam pidato Boediono bahwa di abad 21 ini penjajahan masih ada. Sayang seribu sayang bahwa dia tidak menjelaskan tentang apa dan bagaimana penjajahan zaman sekarang itu?

Karena itu, izinkanlah saya menjelaskannya dari pengenalan orang lain yang mempelajarinya dengan seksama dan menurut saya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, yaitu yang ditulis oleh John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rulers of the World.”

Saya kutip seakurat mungkin dengan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh saya sendiri sebagai berikut.

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonoom Indonesia yang top”.

“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam ….. pasar yang besar.”

Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi : pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan : ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan. Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.

Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah “korporatokrasi”, paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya captain of industries atau para korporatokrat. (bersambung)

INDONESIA MENGGUGAT JILID II?

Filed under: KWIK KIAN GIE — dedewijaya at 9:52 pm on Thursday, August 13, 2009

Menjabarkan Pidato Proklamasi Calon Wakil Presiden Boediono

Oleh Kwik Kian GiePleidooi Ir. Soekarno dan Deklarasi Dr. Boediono

Setelah Ir. Soekarno (bersama-sama dengan Gatot Mangkupradja, Maskun Sumadiredja dan Soepriadinata) ditangkap pada tanggal 29 Desember 1929, mereka diadili oleh landraad di Bandung yang berlangsung antara tanggal 18 Agustus 1930 sampai tanggal 22 Desember 1930. Pada hari itu, Soekarno dan kawan-kawan dijatuhi hukuman penjara 4 tahun dengan tuduhan melanggar pasal 169 dan 153 bis Wetboek van Strafrecht. Pidato pembelaannya Bung Karno menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan judul “Indonesie klaagt aan” atau “Indonesia menggugat”.

Pada tanggal 15 Mei 2009 Dr. Boediono berpidato di Bandung dalam rangka memproklamasikan dirinya sebagai calon wakil presiden dalam pemilihan tahun 2009. Antara lain dikatakan olehnya :”Bapak Presiden yang saya hormati dan para hadirin, di awal abad ke-20 Bung Karno di kota Bandung ini menyatakan Indonesia menggugat. Waktu itu Indonesia menggugat penjajahan yang menjadikan negara terbelenggu dan merasa kerdil. Di awal abad ke-21 ini, Indonesia juga selayaknya menggugat. Kini yang kita gugat adalah penjajahan oleh kekuatan dari luar dan dari dalam.”

Jelas Boediono menganggap Indonesia sekarang masih dijajah yang menurutnya selayaknya harus digugat. Implikasinya jelas, yaitu kalau nanti dia terpilih sebagai Wakli Presiden, dia akan menggugat kekuatan dari luar dan dari dalam. Ada dua hal yang perlu dijelaskan.

Beberapa pertanyaan

Siapa kekuatan dari luar yang sedang menjajah Indonesia, dan siapa pula kekuatan dari dalam ? Apakah kekuatan luar dan kekuatan dalam ini menjajah Indonesia secara sendiri-sendiri ataukah bersama-sama dalam sebuah konspirasi, di mana elit bangsa Indonesianya yang menjadi mitra dari luar bertindak sebagai pengkhianat kepada bangsanya sendiri?

Sejak kapan Indonesia dijajah dengan tanggal pidatonya sebagai titik tolak, yaitu tanggal 15 Mei 2009. Apakah mulai tanggal itu Indonesia dijajah dalam bentuk yang ada dalam benak Boediono, ataukah sebelumnya sudah. Kalau sebelumnya sudah, siapa kiranya yang menjajah dan siapa kiranya kroni dan kompradornya para penjajah yang berbangsa Indonesia (kekuatan dari dalam) ? Boediono tentu dapat mengenalinya dengan akurat karena dia cukup lama menjadi orang di dalam lingkungan puncak kekuasaan.

Persamaan Bung Karno dengan Boediono

Boediono menyamakan dirinya dengan Bung Karno. Bung Karno menggugat penjajahan oleh pemerintah Hindia Belanda yang menjajah Indonesia secara fisik, dengan bayonet, bedil, peluru dan meriam, armada laut dan sebagainya.

Boediono juga ingin menggugat penjajahan zaman sekarang yang tentunya berbentuk lain. Apa bentuknya tidak dijelaskan. Sangat mungkin bentuk penjajahan yang ada dalam benak Boediono sama dengan yang ditulis oleh Jenderal Ryamizard Ryacudu dalam bukunya yang berjudul ”Perang Modern”.

Intinya ialah bahwa dalam zaman modern sekarang ini, hakikat penjajahan bangsa mangsa oleh bangsa penjajah tidak perlu dilakukan dengan sebutir pelurupun, apalagi pasukan dan armada perang. Caranya dengan membentuk elit bangsa mangsa yang dijadikan mitranya atau kroni atau kompradornya. Mereka dibantu supaya senantiasa memegang kendali kebijakan ekonomi yang sesuai dengan kehendak bangsa penjajah, seperti yang digambarkan oleh John Pilger, Bradley Simpson, Jeffrey Winters, John Perkins dan 12 perusak ekonomi yang “mengaku dosa” dalam buku “A Game as old as Empire”. Para kroni ini diyakinkan bahwa kebijakan haruslah seliberal mungkin, membangun proyek-proyek raksasa dengan hutang dari negara-negara penjajah supaya mereka bisa memperoleh pendapatan bunga dan laba mark up yang tinggi. Implikasi politiknya supaya senantiasa dicengkeram dan didikte kebijakannya yang senantiasa menguntungkan korporatokrasi negara penjajah. PDB dinaikkan oleh beberapa investor asing raksasa tanpa trickle down effect pada yang miskin. Inikah yang oleh Boediono disebut dengan kata-kata “penjajah dari dalam negeri” yang mungkin bekerja sama dengan penjajah dari luar?

Boediono menyamakan dirinya dengan Bung Karno yang sama-sama ingin menggugat atas nama bangsa Indonesia. Yang digugat juga sama, yaitu penjajahan. Pernyataannya sama-sama diucapkan di kota Bandung. Tempat ini begitu pentingnya buat Boediono sehingga implisit di dalam pidatonya kota Bandung dianggap sebagai faktor yang menyamakannya dengan Bung Karno. Saya menduga tujuan atau target penjajahan oleh kekuatan penjajah yang ada dalam benak Bung Karno dan Boediono sama, yaitu penghisapan kekayaan bangsa Indonesia oleh bangsa asing, yang dibantu oleh kroni dan komprador bangsa Indonesia sendiri. Merendahkan dan melecehkan martabat bangsa Indonesia; Boediono memakai istilah “yang membuat kita merasa terpuruk dan tidak bisa bangkit”. Yang perlu diperjelas siapa kroni dan komprador bangsa Indonesia sendiri?

Perbedaan-perbedaannya

Yang berbeda, Ir. Soekarno langsung menghadapi hakim ketua Mr. Siegenbeek van Heukelom dengan jaksa penuntutnya seorang Indonesia yang ketika itu berstatus inlander dan bernama R. Sumadisurja. Boediono menyatakan kehendaknya menggugat kaum penjajah zaman sekarang. Kehendaknya ini baru dimintakan izin dari “Bapak Presiden”, sebutan yang dipakainya dalam bagian dari pidatonya yang menggunakan istilah “Indonesia Menggugat”. Bung Karno dijatuhi hukuman penjara, Boediono ditepuki tangan.

Bung Karno seorang inlander yang tidak mungkin bergaul dengan kekuatan asing pada strata yang sama. Boediono His Excellency Prof. Dr. Boediono yang anggota Dewan Gubernur Bank Dunia.

Perjuangan Bung Karno membawanya keluar masuk penjara dan pembuangan. Boediono tidak pernah masuk penjara. Menjadi tersangka saja tidak pernah. Perilaku Bung Karno tidak pernah diarahkan menjadi Presiden RI. Dia berjuang supaya Indonesia merdeka dengan pengorbanan apa saja. Gugatannya sudah menjadi kenyataan dan merupakan pengorbanan luar biasa buat dirinya, yang akhirnya memang memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Boediono baru memberi pernyataan bahwa penjajahan di abad ke 21 sekarang ini selayaknya digugat. Jelas juga bahwa pernyataan tersebut dikemukakan justru untuk dipilih menjadi wakil presiden. Itupun tidak jelas siapa penjajahnya dari luar dan siapa penjajahnya yang dari dalam negeri sendiri. Lantas apakah betul dia akan menggugat penjajahan masih harus dibuktikan.

Bung Karno hanya berjuang dan berjuang. Karena tindakannya itu seluruh bangsa Indonesia menganggapnya sebagai natural leader, sehingga dia menjadi Presiden RI yang baru merdeka. Boediono tidak demikian. Gugatannya terhadap kaum penjajah justru sebelum dia melakukan apa-apa. Gugatannya baru sebagai propaganda untuk dirinya supaya dipilih sebagai wakil presiden di bulan Juli 2009 mendatang.

Bung Karno dan Pak Harto berbuat sangat banyak, sehingga rakyat menganggapnya sebagai para pemimpinnya. Boediono lain. Dia adalah calon wakil presiden yang dalam kampanye pemilihan pilpres tidak boleh mempunyai rasa rendah hati, tidak boleh humble. Dalam kampanye nanti dia harus berkeliling Indonesia mengatakan kepada rakyat Indonesia : “Wahai rakyatku, aku ini orang hebat yang akan menggugat penjajahan dan memberantas korupsi, mereformasi birokrasi. Maka pilihlah aku sebagai wakil presidenmu.”

Apa Neoliberalisme Itu?

Dengan dipilihnya Boediono sebagai cawapres-nya SBY, diskusi tentang “neolib” menjadi marak. Namun diskusinya tidak memberikan gambaran yang jelas. Liberalisme adalah faham yang sangat jelas digambarkan oleh Adam Smith dalam bukunya yang terbit di tahun 1776 dengan judul “An inquiry into the nature and the causes of the wealth of nations”. Buku ini sangat terkenal dengan singkatannya “The wealth of nations” dan luar biasa pengaruhnya. Dia menggambarkan pengenalannya tentang kenyataan hidup. Intinya sebagai berikut. Manusia adalah homo economicus yang senantiasa mengejar kepentingannya sendiri guna memperoleh manfaat atau kenikmatan yang sebesar-besarnya dari apa saja yang dimilikinya. Kalau karakter manusia yang egosentris dan individualistik seperti ini dibiarkan tanpa campur tangan pemerintah sedikitpun, dengan sendirinya akan terjadi alokasi yang efisien dari faktor-faktor produksi, pemerataan dan keadilan, kebebasan, daya inovasi dan kreasi berkembang sepenuhnya. Prosesnya sebagai berikut.

Kalau ada barang dan jasa yang harganya tinggi sehingga memberikan laba yang sangat besar (laba super normal) kepada para produsennya, banyak orang akan tertarik memproduksi barang yang sama. Akibatnya supply meningkat dan ceteris paribus harga turun. Kalau harga turun sampai di bawah harga pokok, ceteris paribus supply menyusut dengan akibat harga meningkat lagi. Harga akan berfluktuasi tipis dengan kisaran yang memberikan laba yang sepantasnya saja (laba normal) bagi para produsen. Hal yang sama berlaku buat jasa distribusi.

Buku ini terbit di tahun 1776 ketika hampir semua barang adalah komoditi yang homogeen (stapel producten) seperti gandum, gula, garam, katoen dan sejenisnya. Lambat laun daya inovasi dan daya kreasi dari beberapa produsen berkembang. Ada saja di antara para produsen barang sejenis yang lebih pandai, sehingga mampu melakukan diferensiasi produk. Sebagai contoh, garam dikemas ke dalam botol kecil praktis yang siap pakai di meja makan. Di dalamnya ditambahi beberapa vitamin, diberi merk yang dipatenkan. Dia mempromosikan garamnya sebagai sangat berlainan dengan garam biasa. Konsumen percaya, dan bersedia membayar lebih mahal dibandingkan dengan harga garam biasa. Produsen yang bersangkutan bisa memperoleh laba tinggi tanpa ada saingan untuk jangka waktu yang cukup lama. Selama itu dia menumpuk laba tinggi (laba super normal) yang menjadikannya kaya.

Karena semuanya dibolehkan tanpa pengaturan oleh pemerintah, dia mulai melakukan persaingan yang mematikan para pesaingnya dengan cara kotor, yang ditopang oleh kekayaannya. Sebagai contoh, produknya dijual dengan harga yang lebih rendah dari harga pokoknya. Dia merugi. Kerugiannya ditopang dengan modalnya yang sudah menumpuk. Dengan harga ini semua pesaingnya akan merugi dan bangkrut. Dia tidak, karena modalnya yang paling kuat. Setelah para pesaingnya bangkrut, dengan kedudukan monopolinya dia menaikkan harga produknya sangat tinggi.

Contoh lain : ada kasus paberik rokok yang membeli rokok pesaingnya, disuntik sangat halus dengan cairan sabun. Lantas dijual lagi ke pasar. Beberapa hari lagi, rokoknya rusak, sehingga merknya tidak laku sama sekali, paberiknya bangkrut. Yang digambarkan oleh Adam Smith mulai tidak berlaku lagi. Karena apa saja boleh, pengusaha majikan mulai mempekerjakan sesama manusia dengan gaji dan lingkungan kerja yang di luar perikemanusiaan. Puncaknya terjadi dalam era revolusi industri, yang antara lain mengakibatkan bahwa anak-anak dan wanita hamil dipekerjakan di tambang-tambang. Wanita melahirkan dalam tambang di bawah permukaan bumi. Mereka juga dicambuki bagaikan binatang. Dalam era itu seluruh dunia juga mengenal perbudakan, karena pemerintah tidak boleh campur tangan melindungi buruh.

Dalam kondisi seperti ini lahir pikiran-pikiran Karl Marx. Banyak karyanya, tetapi yang paling terkenal menentang Adam Smith adalah Das Kapital yang terbit di tahun 1848. Marx menggugat semua ketimpangan yang diakibatkan oleh mekanisme pasar yang tidak boleh dicampuri oleh pemerintah. Marx berkesimpulan bahwa untuk membebaskan penghisapan manusia oleh manusia, tidak boleh ada orang yang mempunyai modal yang dipakai untuk berproduksi dan berdistribusi dengan maksud memperoleh laba. Semuanya harus dipegang oleh negara/pemerintah, dan setiap orang adalah pegawai negeri.

Dunia terbelah dua. Sovyet Uni, Eropa Timur, China, dan beberapa negara menerapkannya. Dunia Barat mengakui sepenuhnya gugatan Marx, tetapi tidak mau membuang mekanisme pasar dan kapitalisme. Eksesnya diperkecil dengan berbagai peratutan dan pengaturan. Setelah dua sistem ini bersaing selama sekitar 40 tahun, persaingan dimenangkan oleh Barat.
Maka tidak ada lagi negara yang menganut sistem komunisme a la Marx-Lenin-Mao. Semuanya mengadopsi mekanisme pasar dan mengadopsi kaptalisme dalam arti sempit, yaitu dibolehkannya orang per orang memiliki kapital yang dipakai untuk berproduki dan berdistribusi dengan motif mencari laba. Tetapi kapital yang dimilikinya harus berfungsi sosial. Apa artinya dan bagaimana perwujudannya ? Sangat beragam. Keragaman ini berarti juga bahwa kadar campur tangannya pemerintah juga sangat bervariasi dari yang sangat minimal sampai yang banyak sekali. (bersambung)

Dont Miss It: Kongres Kristen Fundamental 17-20 Agt

Filed under: News — dedewijaya at 4:48 am on Saturday, August 8, 2009

bertempat di GITS Seminary, Info lengkap bisa dibaca di SINI dan Jadwal acara lengkap di SINI

Kongres Fundamentalis Kristen Indonesia

17-20 Agustus 2009 di Graphe, Jakarta
Jl. Danau Agung 2, No. 5-7
Sunter, Jakarta Utara 14360, INDONESIA

Silakan menghubungi: Yuliana, GITS (021 6471-4156)

Berita Mingguan 8 Agustus 2009

Filed under: News — dedewijaya at 4:46 am on Saturday, August 8, 2009

Sumber: Way of Life Ministry, Friday Church News Notes

Penerjemah: Dr. Steven E. Liauw

Graphe International Theological Seminary

(Didistribusikan dengan gratis, dengan mencantumkan informasi sumber di atas)

Untuk berlangganan, kirim email ke: gits_buletin-subscribe@yahoogroups.com

REVEREND IKE, PENGKHOTBAH BAPTIS YANG SESAT, MENINGGAL

Frederick Eikerenkoetter II, yang lebih dikenal sebagai Reverend Ike, meninggal pada tanggal 28 Juli pada usia 74 tahun. Ia mendirikan United Church Science of Living Institute yang bermarkas di kota New York, dan membangun suatu kerajaan jutaan dolar melalui pesan kemakmurannya yang tidak malu-malu, yang ia sebut “psikologi gambar-diri positif,” “ilmu pengetahuan tentang hidup,” atau “thinkonomics. ” Pada puncak kesuksesannya di tahun 1970an, ia memiliki audiens sebanyak 2,5 juta orang (”Reverend Ike,” New York Times, 29 Juli 2009). Pada tahun 1980an, ada seseorang yang mengirimi kami kaset video dari salah satu acara televisi Reverend Ike, yang isinya sungguh mengagetkan. Acara yang direkam itu lengkap dengan fitur seorang yang berjalan di atas api, dan setelah orang itu menunjukkan kebolehannya, Reverend Ike dengan semangat mengumumkan, “Orang ini berjalan di atas api; Yesus berjalan di atas air; Reverend Ike berjalan di atas UANG!!!” Pada akhir acara itu, ia menyuruh salah satu putranya untuk menjawab telepon sementara ia sendiri melempar-lempar sebuah koin yang ditulisi “keberuntungan” di satu sisi dan “berkat” di sisi lain. Sementara ia melempar-lempar koin itu ia menghimbau para pendengarnya untuk menelpon dan memberi sumbangan agar mereka dapat diberkati, sambil ia berkata, “Kalian tidak bisa rugi dengan hal-hal yang saya lakukan ini!” Hal yang tersedih mengenai Reverend Ike adalah bahwa ayahnya seorang gembala sidang Baptis dan dia pernah menjadi asisten ayahnya pada masa remajanya. Namun demikian, entah di suatu titik mana, dia menolak Injil keselamatan yang Alkitabiah melalui darah Kristus, dan ia menolak jalur pelayanan Kristiani yang menuntut pengorbanan diri, “merasa bahwa pesan tradisional Kristen terlalu sempit,” dan bertekad untuk sukses besar dengan injil kemakmuran versinya sendiri. Ia memang sukses menjadi kaya, tetapi seperti yang dikatakan Yesus, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat 16:26). (Banyak dari doktrin Reverend Ike sepertinya diadaptasi dari Norman Vincent Peale).

HOMOSEKSUAL DICANANGKAN UNTUK MENJABAT PENILIK DI GEREJA EPISKOPAL

Seorang homoseksual dan seorang lesbian adalah bagian dari enam orang kandidat untuk jabatan penilik di Gereja Episkopal di Los Angeles, California. John Kirkley dari San Francisco dan Mary Glasspoll dari Baltimore, yang dicanangkan tanggal 2 Agustus, akan menghadapi pemilihan di bulan Desember, saat mana dua dari antara enam orang kandidat akan dipilih. J. Bruno, penilik dari wilayah Los Angeles berkata, “Saya mengukuhkan setiap dan semua dari kandidat-kandidat ini, dan saya senang dengan keragaman yang luas yang mereka tawarkan di wilayah ini” (”Gay, Lesbian Priests among Bishop Nominees,” Los Angeles Times, 3 Agustus 2009). Agar tidak ketinggalan dalam perlombaan melanggar Firman Tuhan, Wilayah Episkopal Minnesota juga telah mencanangkan seorang lesbian ke daftar tiga orang kandidatnya untuk jabatan penilik. Yudas berkata, ” Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus. 4 Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus” (Yudas 1:3-4).


PROMISE KEEPER MASIH MENYERUKAN PERSATUAN

Bill McCartney, pendiri dari Promise Keeper 20 tahun silam, masih mencoba untuk membangkitkan organisasi tersebut dari kematian perlahan yang terjadi satu dekade terakhir. McCartney mundur pada tahun 2003, tetapi dia tahun ini masuk lagi ke jajaran pengurus, dan pada awal Agustus, sebuah acara Promise Keeper di stadium Boulder, Colorado, menjaring 10.000 orang. McCartney mengklaim bahwa dia telah “menerima panggilan yang jelas dari Allah untuk memulai lagi pelayanan ini” (”Promise Keepers Return,” Christian Post, 3 Agus. 2009), dan bahwa dia masih mendorong “persatuan gereja.” Di Boulder, McCartney berdoa, “Tuhan, Engkau tidak datang kembali demi sebuah gereja yang terpecah. Engkau datang kembali demi sebuah gereja di mana hati semua orang terjalin bersama.” Ini adalah suatu ketidaktahuan mengenai nubuat-nubuat dalam Alkitab sendiri mengenai perjalanan zaman gereja. Para Rasul memperingatkan bahwa “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan” (2 Tim. 3:13). Perjalanan zaman gereja adalah peningkatan kesesatan. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4:3-4). Sungguh tidak mungkin untuk tetap setia kepada kebenaran Firman Allah dan pada saat yang sama menciptakan persatuan semua orang yang mengaku Kristen di zaman yang penuh kesesatan ini. Tuhan Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk. 18:8). Jawaban yang Alkitabiah adalah “tidak banyak”!

SEPARASI DAN PENDIDIKAN ANAK

Berikut ini disadur dari Training Your Children to Turn out Right, sebuah buku yang sangat bagus oleh David Sorenson (Northstar Ministries, 1820 W. Morgan St., Duluth, MN 55811, 218-726-0209, www.northstarminist ries.com, dhs.northstar@ charter.net) — “Semakin dekat keluarga Kristen dengan dunia, semakin besar kemungkinannya dunia mendapatkan anak-anak mereka. Anda bermain dengan api, dan yang paling rugi adalah anak-anak anda. Dunia adalah sistemnya Setan. Ia dapat didefinisikan sebagai masyarakat dan kebudayaan orang-orang fasik…..Banyak orang tua Kristen bisa saja mengklaim menjauhkan diri dari dunia, tetapi mereka masih suka bernakal-nakalan dengan hal-hal yang ada dalam dunia. Hal-hal duniawi adalah umpan yang Setan pakai untuk menangkap anak-anakmu. Hati-hati!.. …Selama bertahun-tahun, saya dengan taat menerima prinsip separasi dengan cara yang acuh tak acuh. Saya tahu Alkitab mengajarkan bahwa kita seharusnya kudus. Tumbuh besar di keluarga gembala sidang Baptis fundamental, saya tahu semua standar “tidak boleh begini dan tidak boleh begitu, karena itu duniawi.” Namun, sedikit demi sedikit Tuhan membuka mata saya kepada sisi praktis dan kasih Allah dalam hal prinsip separasi. Ketika saya menjadi orang tua, saya menjadi sadar akan suatu spektrum yang baru – betapa praktisnya prinsip separasi dalam hal membesarkan anak-anak saya…..Dalam Ulangan 5:29, Allah Yehovah berbicara langsung melalui Musa kepada Israel, “Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya! ” Saya mulai mengerti bahwa prinsip-prinsip dan perintah-perintah dalam Firman Allah bagi umatNya, bukanlah “Janganlah begini…Janganlah begitu” yang asal-asalan. Semuanya adalah untuk kebaikan kita dan terutama untuk kebaikan anak-anak kita.” (Training Your Children to Turn Out Right, 1995, hal. 91, 94).

Next Page »